Anda di halaman 1dari 5

1.

2.

3.

4.

5.
6.

7.

Kelenjar adalah organ tubuh yang mempunyai fungsi utama yang menghasilkan substansi yang
secara fisiologi sangat berguna.
SIFAT-SIFAT HORMON

Bekerja secara spesifik pada organ, bagian tubuh tertentu atau aktivitas tertentu, misalnya
insulin untuk mengatur kadar gula darah

Dihasilkan tubuh dalam jumlah yang sangat sedikit tetapi memiliki pengaruh besar terhadap
aktivitas tertentu dalam tubuh, misal jika tubuh kekurangan beberapa miligram hormon
Somatotrophin maka pertumbuhan akan terhambat secara nyata

Bekerja lambat, pengaruh hormon tidak spontan seperti pada pengaturan oleh syaraf. Seperti
hormon Testoteron yang berpengaruh terhadap perkembangan kelamin skunder pria

Sebagai senyawa kimia, hormon tidak dihasilkan setiap waktu. Hormon diproduksi hanya
apabila dibutuhkan
Kelenjar terdiri dari
a. Kelenjar eksokrin : ada duktus, sekresi di alirkan melalui duktus ke tempat bekerjanya Mis.
Kelenjar keringat ,kelenjar saliva dan lain lain.
b. Kelenjar endokrin : tidak ada Duktus, sekresi mengalir langsung ke dalam aliran darah dan
dapat memberikan efek menyebar luas, mensekresikan lebih dari satu jenis hormon,
konsentrasi hormon dalam sirkulasi adalah rendah , memiliki persendian pembuluh darah
yang banyak.
Kelenjar Endokrin sistem kontrolkelenjar tanpa saluran (DUCTLESS)
Respon sistem Endokrin Bersifat lambat : menit ,jam,bulan atau tahun
Komunikasi sistem endokrin melalui media yaitu HORMON.hormon bertindak sebagai
pembawa pesan melalui aliran darah ke berbagai sel dan menerjemah kan pesan sebagai
tindakan.
KELENJAR HORMON ATAU KELENJAR ENDOKRIN menghasilkan hormon yang
melakukan sistem pengaturan tubuh secara kimiawi.
SIFAT-SIFAT HORMON
1. Bekerja secara spesifik pada organ, bagian tubuh tertentu atau aktivitas tertentu, misalnya
insulin untuk mengatur kadar gula darah
2. Dihasilkan tubuh dalam jumlah yang sangat sedikit tetapi memiliki pengaruh besar terhadap
aktivitas tertentu dalam tubuh, misal jika tubuh kekurangan beberapa miligram hormon
Somatotrophin maka pertumbuhan akan terhambat secara nyata
3. Bekerja lambat, pengaruh hormon tidak spontan seperti pada pengaturan oleh syaraf. Seperti
hormon Testoteron yang berpengaruh terhadap perkembangan kelamin skunder pria
4. Sebagai senyawa kimia, hormon tidak dihasilkan setiap waktu. Hormon diproduksi hanya
apabila dibutuhkan
KELENJAR HIPOFISE
Sebagai Master of Gland, memiliki pengaruh yang kuat terhadap organ dan
kelenjar hormon lainnya
TERDIRI ATAS 3 LOBUS : Lobus Anterior,Intermediet, dan posterior
Kelenjar hipofise Kelenjar yang terletak dibawah Hipothalamus otak tengah.
Kelenjar Hipofise dibagi menjadi, Hipofise bagian Anteprior dan Hipofise bagian
Superior

Anterior
POSTERIOR
KELENJAR TYROID DAN PARATYROID
Kelenjar Tyroid dan Paratyroid terletak di leher.
Pada bayi dan anak anak, kelenjar ini belum berfungsi dengan baik.
Kelenjar Tyroid menghasilkan hormon Tiroksin, sedangkan Paratyroid menghasilkan hormon
Parathormone (PTH)

Kelenjar Tyroid berfungsi menghasilkan hormon : Tiroksin, Triiodo,tironon ,Kalsitonin


Kelenjar Paratiroid menghasilkan hormon Parathormon

Tiroksin berfungsi mengatur kecepatan pertumbuhan dan metabolis-me, Triiiodotironin


mengatur kecepatan metabolisme karbohidrat, Kalsitonin mengatur kadar kalsium dalam darah
Parathormone berfungsi mengatur fosfat dan kalsium plasma darah
9. KELENJAR PINEAL
Terletak diatas kelenjar Hipofise. Menghasilkan hormon
Melatonin yang berfungsi mengatur sekresi yang dilakukan
Oleh Corpus Lutheum dan mengaktifkan sel melanosit menghasilkan melatonin untuk warna kulit
10. KELENJAR ADRENAL
8.

Terletak diatas Ginjal. Terdiri atas 2 bagian, yaitu : Korteks


Adrenal dan Medula Adrenal.
Bagian medula menghasilkan hormon Epinefrin dan Norephinefrin, sedngakan bagian Korteks
menghasilkan hormon Kortisol, Androgen dan Aldosteron
Adrenal menghasilkan hormon yang berfungsi membantu keseimbangan kimia, mengatur
metabolisme dan mengatur nutrisi kelenjar lain
11. KELENJAR PANCREAS
Pankreas selain menghasilkan enzim pencernaan juga menghasilkan hormon Insulin dan
Glukagon. Hormon ini dihasilkan oleh sel-sel bagian Langerhans
Hormon Insulin berperan penting dalam pengaturan penyimpanan gula dalam darah,
sedangkan Glukagon berperan dalam meningkatkan kadar gula dalam darah
12. KELENJAR TESTIS ( PADA PRIA )
Kelenjar Testis terletak di bagian inistitial testis. Kelenjar ini dibentuk oleh sel-sel leydig dan
menghasilkan horrmon Ralaksin dan Testosteron
Hormon Relaksin berperan Dalam mengatur relaksasi Otot-otot yang berkaitan dengan sifat
kelamin
Hormon Testosteron berperan penting dalam pengaturan pembentukan sperma dan ciri kelamin
skunder pria
13. KELENJAR OVARIUM
Didalam ovarium terdapat kelenjar ovari yang menghasilkan hormon Estrogen dan Progesteron
Hormon estrogen berperan penting dalam mengatur siklus menstruasi dan mengatur sistem
reproduksi
Hormon Progesteron berperan penting dalam mengatur siklus menstruasi, perkembangan
ovum dan ciri kelamin skunder wanita
14. DIABETES MILITUS
Diabetes Melitus merupakan suatu kelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan
kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. Glukosa secara normal bersirkulasi dalam jumlah
tertentu dalam darah. Glukosa dibentuk di hati dari makanan yang dikonsumsi (Smeltzer, 2002) .

Tipe Diabetes Melitus


Klasifikasi Diabetes Melitus menurut American
Diabetes Association (1997) sesuai anjuran Perkumpulan
Endokrinologi Indonesia (PERKENI) adalah:
Diabetes Melitus tipe 1:
Akibat destruksi sel beta, biasanya menjurus ke defisiensi insulin absolut
Diabetes Melitus tipe 2:
Terjadi akibat penurunan sensitivitas terhadap insulin (resistensi insulin) atau akibat
penurunan jumlah produksi insulin
Diabetes Melitus tipe lain :
Defek genetik fungsi sel beta
Defek genetik kerja insulin
Penyakit eksokrin pankreas
Endokrinopati
Karena obat/zat kimia
Infeksi
Sebab imunologi yang jarang
Sindrom genetik yang lain yang berkaitan dengan
Diabetes Melitus
Diabetes Melitus Gestasional
A. Patofisiologi
Diabetes Melitus tipe 1
Terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel beta pankreas telah
dihancurkan oleh proses autoimun. Glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan
dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia postprandial
(sesudah makan).
Diabetes Melitus tipe 2

Terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin, yaitu: resistensi insulin dan
gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan
sel. Sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor

Resistensi insulin pada Diabetes Melitus tipe 2 disertai dengan penurunan reaksi intrasel, dengan
demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan
(Askandar, 2006).
B. Manifestasi klinis
Diagnosis Diabetes Melitus tipe 2 ditandai dengan adanya gejala berupa polifagia, poliuria,
polidipsia, lemas dan berat badan turun. Gejala lain yang mungkin dikeluhkan penderita adalah
kesemutan, gatal, mata kabur dan impotensi pada pria serta pruritus vulva pada wanita
C. Penatalaksanaan

Edukasi

Terapi gizi medis

Latihan jasmani

Intervensi farmakologis
15. HIPERTEROID

Hipotiroid adlh keadaan yang ditandai dg terjadinya hipofungsi tiroid yg berjalan lambat dan
diikuti oleh gejala gejala kegagalan tiroid
A. Etiologi

Malfungsi kelenjar tiroid, hipofise atau hipotalamus

Tiroiditis otoimun (tiroiditis Hashimoto)

Riwayat hipertiroid ygmenjalani terapi radioiodium, pembedahan/ preparat antitiroid

Terapi radiasi untuk penanganan kanker kepala dan leher


B. Klasifikasi

Hipotiroid primer
> 95% kasus hipotiroid dan biasanya mengacu pada disfungsi kelenjar tiroid itu sendiri

Hipotiroid sekunder
Disfungsi tiroid disebabkan oleh kegagalan hipofise, hipotalamus atau keduanya

Hipotiroid tersier
Ditimbulkan oleh kelainan hipotalamus yang mengakibatkan sekresi TSH tidak adekuat akibat
penurunan stimulasi oleh TRH
C. Pemeriksaan Diagnostik
Tes fungsi tiroid
T3, T4 serum
Tes T3 ambilan resin
Tes TSH
Radio immunoassay
Tes Tirotropin Releasing Hormon
Ambilan Iodium radioaktif
Pemindai radio atau Pemundai- Skinntilasi Tiroid
Tes fungsi tiroid yg lain: reflek tendon achilles, kadae serum, EKG, enzim otot,SGPT, LDH dan kreatine
kinase, USG, pemindai CT dan MRI
D. Penatalaksanaan
Lepotiroksin sintetik (syntrhroid atau levotroid) mrpkn preparat terpilih pengobatan hipotiroid dan
supresi penyakit goiter non toksik. Dosis didasarkan pada konsentrasi TSH dlm serum darah
Hipotiroid berat dan koma mixedemia penetalaksanaanya mencakup pemeliharaan fungsi vital : gas
darag arteri, Penggunaan pulse oksimetri, larutan glukosa pekat jika terdapat hipoglikemia
Koma mixedemia : hormon tiroid(syntroid) secara intravena sampai kesadaran klien pulih
Terapi kortikosteroid apabila disretai adrenokortikal
Terapi kardiak
16. HEPATITIS
Hepatitis adalah peradangan atau inflamasi pada hepar yang umumnya terjadi akibat infeksi
virus, tetapi dapat pula disebabkan oleh zat-zat toksik. Hepatitis berkaitan dengan sejumlah
hepatitis virus dan paling sering adalah hepatitis virus A, hepatitis virus B, serta hepatitis virus C
(Sue hanclif, 2000: 105).
A.

1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

Etiologi Hepatitis

Menurut Price dan Wilson (2005: 485) Secara umum hepatitis disebabkan oleh virus. Beberapa virus yang telah ditemukan
sebagai penyebabnya, berikut ini.
Virus hepatitis A (HAV)
Virus hepatitis B (HBV)
Virus hepatitis C (HCV)
Virus hepatitis D (HDV)
Virus hepatitis E (HEV)
Hepatitis F (HFV)
Hepatitis G (HGV)
Namun dari beberapa virus penyebab hepatitis, penyebab yang paling dikenal adalah HAV (hepatitis A) dan HBV (hepatitis
B). Kedua istilah tersebut lebih disukai daripada istilah lama yaitu hepatitis infeksiosa dan hepatitis serum, sebab kedua
penyakit ini dapat ditularkan secara parental dan nonparental (Price dan Wilson, 2005: 243). Hepatitis pula dapat
disebabkan oleh racun, yaitu suatu keadaan sebagai bentuk respons terhadap reaksi obat, infeksi stafilokokus, penyakit
sistematik dan juga bersifat idiopatik (Sue hincliff, 2000: 205).
B. Patofisiologi Hepatitis
Yaitu perubahan morfologi yang terjadi pada hati, seringkali mirip untuk berbagai virus yang berlainan. Pada kasus yang klasik,
hati tampaknya berukuran basar dan berwarna normal, namun kadang-kadang agak edema, membesar dan pada palpasi terasa
nyeri di tepian. Secara histologi. Terjadi kekacauan susunan hepatoselular, cedera dan nekrosis sel hati dalam berbagai derajat,
dan peradangan periportal. Perubahan ini bersifat reversibel sempurna, bila fase akut penyakit mereda. Namun pada beberapa
kasus nekrosis, nekrosis submasif atau masif dapat menyebabkan gagal hati fulminan dan kematian (Price dan Daniel, 2005: 485).
C. Manifestasi Klinis Hepatitis
Menurut Arif mansjoer (2001: 513) Manifestasi klinis merupakan suatu gejala klinis tentang suatu penyakit yang diderita
oleh pasien. Berikut adalah gejala klinis dari penyakit hapatitis.
1) Stadium praikterik berlangsung selama 4-7 hari. Pasien mengeluh sakit kepala, lemah, anoreksia, mual, muntah, demam,
nyeri pada otot, dan nyeri di perut kanan atas. Urin menjadi lebih cokelat.
2) Stadium ikterik yang berlangsung selama 3-6 minggu. Ikterus mula-mula terlihat pada sclera,kemudian pada kulit seluruh
tubuh.keluhan-keluhan berkurang, tetapi pasien masih lemah, anoreksia, dan muntah. Tinja mungkin berwarna kelabu atau
kuning muda. Hati membesar dan nyeri tekan.

3) Stadium pascaikterik (rekonvalesensi). Ikterus mereda, warna urin dan tinja menjadi normal lagi. Penyembuhan pada anakanak lebih cepat dari orang dewasa, yaitu pada akhir bulan kedua, karena penyebab yang biasanya berbeda.
Menurut Sriana azis (2002: 232) Gejala-gejala klinis lain yang dapat dilihat, sebagai berikut.
a) Gejala yang ditimbulkan oleh virus A, B, C, D, E, dan virus lain-lain meliputi letih, lesu, lemas dan mata menjadi
kuning, urin seperti teh, rasa tidak enak di perut dan punggung, hati bengkak, bangun tidur tetap letih, lesu, dan lainlain. Bila sakitnya berkepanjangan dapat berubah menjadi kronis dan berkelanjutan menjadi kanker.
b) Virus B dan C cenderung menjadi kronis (menahun atau gejala menjadi tetap ada sampai 6 bulan), bila dibiarkan hati
menjadi keriput (sirosis) kemudian menjadi kanker. Komplikasi sirosis meliputi muntah darah, kanker hati dan koma.
c) Virus C tidak mempunyai gejala awal langsung akut.
d) Gagal hepatitis meliputi sindrom kholaemi : tremor, refleks berlebihan, kejang otot, gerakan khoreiform, kejangkejang, kemudian meninggal.
D. PENATALAKSANAAN
F. Penatalaksanaan
Menurut Arif mansjoer (2001: 515) Dalam penatalaksanaan untuk penderita hepatitis dapat harus dilakukan sesuai dengan
sifat-sifat dari hepatitis.
1) Hepatitis Akut
Terdiri dari istirahat, diet, dan pengobatan medikamentosa.
a) Istirahat
Pada periode akut dan keadaan lemah diharuskan untuk istirahat. Istirahat mutlak tidak terbukti dapat mempercepat
penyembuhan. Kekecualian diberikan kepada mereka dengan umur tua dan keadaan umum yang buruk.
b) Diet
Jika pasien mual, tidak nafsu makan atau muntah-muntah sebaiknya di berikan infus. Jika sudah tidak mual lagi, diberikan
makanan yang cukup kalori ( 30 35 kalori/kg BB ) dengan protein cukup ( 1 gr/kg BB ). Pemberin lemak sebenarnya
tidak perlu dibatasi.
c) Medikalmentosa
Kortikosteroid tidak diberikan bila untuk mempercepat penurunan bilirubin darah. Kortikosteroid dapat digunakan pada
kolestatis yang berkepanjangan, dimana transamenase serum sudah kembali normal tetapi bilirubin masih tinggi. Pada
keadaan ini dapat diberikan prednisone 3 x 10 mg selama 7 hari kemudian dilakukan tapering off.
(i) Berikan obat obat yang bersifat melindungi hati.
(ii) Antibiotic tidak jelas kegunaannya.
(iii) Jangan diberikan antiemetic. Jika perlu sekali dapat diberikan golongan fenotiazin.
(iv) Vitamin K diberikan pada kasus dengan kecenderungan perdarahan. Bila pasien dalam keadaan prekoma atau koma,
penanganan seperti koma hepatik.
2)

Hepatitis Kronik
Menurut Arif Mansjoer (2001: 515) Obat yang dinilai bermanfaat untuk pengobatan hepatitis kronik adalah interferon
(IFN). Obat tersebut adalah suatu protein selular stabil dalam asam yang diproduksi oleh sel tubuh kita akibat rangsangan
virus atau akibat induksi mikroorganisme, asam nukleat, anti gen, mitogen, dan polimer sintetik. Interferon mempunyai
efek antivirus, imunomodulasi, dan antiproliferatif.
G. Jenis-jenis Hepatitis

1. Hepatitis A
Dikenal dengan hepatitis infeksiosa, rute penularan adalah melalui kontaminasi oral-fekal, HVA terdapat
dalam makanan dan air yang terkontaminasi. Potensi penularan infeksi hepatitis ini melalui sekret saluran cerna. Umumnya
terjadi didaerah kumuh berupa endemik. Masa inkubasi : 2-6 minggu, kemudian menunjukkan gejala klinis. Populasi paling
sering terinfeksi adalah anak-anak dan dewasa muda.
2. Hepatitis B
Penularan virus ini melalui rute trnfusi darah/produk darah, jarum suntik, atau hubungan seks. Golongan yang
beresiko tinggi adalah mereka yang sering tranfusi darah, pengguna obat injeksi; pekerja parawatan kesehatan dan
keamanan masyrakat yang terpajan terhadap darah; klien dan staf institusi untuk kecatatan perkembangan, pria
homoseksual, pria dan wanita dengan pasangan heteroseksual, anak kecil yang terinfeksi ibunya, resipien produk darah
tertentu dan pasien hemodialisa. Masa inkubasi mulai 6 minggu sampai dengan 6 bulan sampai timbul gejala klinis.
3. Hepatitis C
Dahulu disebut hepatitis non-A dan non-B, merupakan penyebab tersering infeksi hepatitis yang ditularkan
melalui suplai darah komersial. HCV ditularkan dengan cara yang sama seperti HBV, tetapi terutama melalui tranfusi darah.
Populasi yang paling sering terinfeksi adalah pengguna obat injeksi, individu yang menerima produk darah, potensial risiko
terhadap pekerja perawatan kesehatan dan keamanan masyarakat yang terpajan pada darah. Masa inkubasinya adalah
selama 18-180 hari.
4. Hepatitis D
Virus ini melakukan koinfeksi dengan HBV sehingga infeksi HBV bertambah parah. Infeksi oleh HDV juga
dapat timbul belakangan pada individu yang mengedap infeksi kronik HBV jadi dapat menyebabkan infeksi hanya bila
individu telah mempunyai HBV, dan darah infeksius melalui infeksi HDV. Populasi yang sering terinfeksi adalah pengguna
obat injeksi, hemofili, resipien tranfusi darah multipel (infeksi hanya individu yang telah mempunyai HBV). Masa
inkubasinya belum diketahui secara pasti. HDV ini meningkatkan resiko timbulnya hepatitis fulminan, kegagalan hati, dan
kematian
5. Hepatitis E
Virus ini adalah suatu virus RNA yang terutama ditularkan melalui ingeti air yan tercemar. populasi yang
paling sering terinfeksi adalah orang yang hidup pada atau perjalanan pada bagian Asia, Afrika atau Meksiko dimana
sanitasi buruk, dan paling sering pada dewasa muda hingga pertengahan.
6. Kemungkinan hepatitis F dan G

Baru ada sedikit kasus yang dilaporkan tentang hepatitis F. Saat ini para pakar belum sepakat hepatitis F
merupakan penyakit hepatitis yang terpisah. Sedangkan hepatitis G gejala serupa hepatitis C, seringkali infeksi bersamaan
dengan hepatitis B dan/atau C. Tidak menyebabkan hepatitis fulminan ataupun hepatitis kronik. Penularan melalui transfusi
darah jarum suntik.
H. Penyebab dan Cara Penularan Hepatitis
1. Hepatitis A
Hepatitis A pada umumnya dapat di tulari melalui mulut, misalnya melalaui gelas atau sendok bekas yang di
pakai penderita hepatitis A. Kadang kadang dapat juga melalui keringat penderita atau melalui jarum suntik bekas yang di
pakai pada penderita pengdapa hepatitis A.
2. hepatitis B
Hampir semua jenis virus hepatitis dapat menyerang manusia. Pada ibu hamil bila terserang virus ini dapat
menularkan pada bayinya yang ada dalam kandungan atau waktu menyusui bayi itu. Bentuk penularan seperti inilah yang
banyak di jumpai pada penyakit hepatitis B. Pada saat ini jenis hepatitis yang paling banyak di pelajari ialah hepatitis B
dan telah dapat pula di cegah melalui vaksinasi. Walaupun infeksi virus ini jarang terjadi pada populasi orang dewasa,
kelompok tertentu dan orang yang memiliki cara hidup tertentu berisiko tinggi. Kelompok ini mencakup:
- Imigran dari daerah endemis hepatitis b
- pengguna obat IV yang sering bertukar jarum dan alat suntik
- pelaku hubungan seksual dengan banyak orang atau dengan orang yang terinfeksi
- pria homoseksual yaang secara seksual aktif
- pasien rumah sakit jiwa
- narapidana pria
- pasien hemodialisis dan penderita hemofilia yang menerima produk tertenu dari plasma
- kontak serumah denag karier hepatitis
- pekerja sossial di bidang kesehatan, terutama yang banyak kontak dengan darah
3. hepatitis C
Penularan hepatitis C dan Delta pada orang dewasa bisa terjadi melalui kontak seksual dan bisa pula melalui makanan
dan minuman, suntikan ataupun transfusi darah. Virus hepatitis C juga berbahaya karena sebagian besar penyakit Hepatitis
C dapat berkembang menjadi kronis/menahun dan menjadi pengidap yang selanjutnya akan menjadi sumber infeksi bagi
orang sekitarnya.
4. Hepatitis Delta dan hepatitis E
Hepatitis delata dan hepatitis e didduga penularannya melalui mulut, tetapi belum ada penelitian yang lebih
mendalam.
I.

TANDA GEJALA
badanya terasa panas, mual dan kadang-kadang muntah, setelah beberapa hari air seninya berwarna seperti teh tua,
kemudian matanya terlihat kuning, dan akhirnya seluruh kulit tubuh menjadi kuning. penderita hepatitis virus mula

J.

Pencegahan
Pencegahan terhadap hepatitis virus ini adalah sangat penting karena sampai saat ini belum ada obat yang
dapat membunuh virus, sehingga satu-satunya jalan untuk mencegah hepatitis virus adalah dengan vaksinasi, tetapi pada
saat ini baru ada vaksin hepatitis B saja, karena memang Hepatitis B sajalah yang paling banyak diselidiki baik mengenai
perjalanan penyakitnya maupun komplikasinya.