Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Fenomena kekerasan semakin marak dalam kehidupan bermasyarakat.
Sebagian individu dapat mengatasi pengalaman akan kekerasannya, namun
sebagian besar mencari solusi kepada pihak lain atau mencari jalur hukum
untuk memperoleh penyelesaian yang lebih baik. Walaupun demikian, masih
banyak individu yang tidak melaporkan kejadian kekerasan yang mereka
alami. Hal ini dapat terkait adanya perasaan malu untuk memperoleh bantuan,
atau malu akan sanksi sosial dari masyarakat setempat.
Bentuk kekerasan yang banyak terjadi di masyarakat adalah kekerasan
fisik, tetapi masyarakat sendiri tidak menyadari bahwa penghinaan, cemooh
dan kata-kata kasar merupakan bagian dari kekerasan verbal. Efek kekerasan
fisik dan verbal akan menyakitkan bagi individu yang mengalaminya, dan
dapat saja menimbulkan trauma. Trauma yang terjadi pada korban kekerasan
akan berbeda, begitu pula dengan aspek penganganannya yang berbeda, hal ini
terkait dengan aspek kepribadian dan kondisi psikologis seseorang.
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan
tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri,
orang lain maupun lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan
perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif. (Stuart dan Sundeen, 1995).
Perilaku kekerasan/amuk dapat disebabkan karena frustasi, takut,
manipulasi atau intimidasi. Perilaku kekerasan merupakan hasil konflik
emosional yang belum dapat diselesaikan. Perilaku kekerasan juga
menggambarkan

rasa

tidak

aman,

kebutuhan

akan

perhatian

dan

ketergantungan pada orang lain.


Pasien jiwa yang mengalami perilaku kekerasan umumnya tidak dapat
mengendalikan kemarahannya dengan baik. Sehingga emosinya sangat labil
dan membahayakan orang-orang yang ada di sekitarnya.
Namun pada pasien jiwa dengan perilaku kekerasan yang sudah mampu
bekerja sama dengan perawat hendaknya diajarkan tentang perilaku kekerasan
yang pasien alami, mulai dari stimulasi penyebab kemarahannya, tanda dan
gejala kemarahannya, yang dilakukannya saat marah atau perilaku

kekerasannya, dan akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukannya dan juga
cara mencegah perilaku kekerasan baik dengan cara kegiatan fisik, interaksi
sosial, kegiatan spiritual maupun dengan cara patuh minum obat agar perilaku
kekerasan yang dilakukannya dapat terkendali dengan baik.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Klien dapat mengendalikan perilaku kekerasan yang biasa dilakukannya
1.2.2

Tujuan Khusus
a. Klien dapat mengenal perilaku kekerasan yang biasa dilakukannya.
b. Klien dapat mencegah perilaku kekerasan melalui kegiatan fisik.
c. Klien dapat mencegah perilaku kekerasan melalui interaksi sosial.
d. Klien dapat mencegah perilaku kekerasan melalui kegiatan spiritual
yang biasa dilakukannya.
e. Klien dapat mencegah perilaku kekerasan dengan cara patuh minum
obat.

BAB II
ISI

1.1 STRATEGI PELAKSANAAN PERILAKU KEKERASAN


A. Gambaran Kasus
Nn.A berumur 20 tahun yang bertempat tinggal di jalan Tembalang
Selatan VII No.6, Semarang. Ia dibawa ke RSJD Dr Amino Gondohutomo
Semarang pada tanggal 6 Juni 2012 , dengan alasan ibu klien mengatakan
bahwa Nn.A sering berteriak, marah-marah dan memukul dirinya sendiri.

Sebelumnya sekitar 3 bulan yang lalu klien pernah dibawa oleh


keluarganya ke paranormal dengan alasan yang sama, karena keluarga klien
berpikir bahwa anaknya di guna-guna oleh kekasihnya, setelah di bawa
kesana ternyata klien tidak kunjung sembuh. Pada akhirnya keluarga klien
mengatakan bahwa klien mengalami gangguan jiwa sejak ia diputuskan dan
dapat perlakuan kasar dari kekasih nya yang sudah menjalin hubungan sekitar
3 tahun.
B. Proses keperawatan
1. Kondisi klien
a. Data subyektif :
1) Klien mengungkapkan perasaannya seperti marah dan jengkel
kepada orang lain, ingin membunuh, ingin membak Aar atau
mengacak-acak lingkungannya.
2) Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang. Klien suka
membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika
sedang kesal atau marah. Riwayat perilaku kekerasan atau
gangguan jiwa lainnya.
b. Data objektif :
1) Klien lebih suka mengamuk, merusak dan melempar barangbarang,

melakukan tindakan kekerasan pada

orang-orang

disekitarnya.
2) Mata merah, wajah agak merah. Nada suara tinggi dan keras,
bicara menguasai. Ekspresi marah saat membicarakan orang,
pandangan tajam. Merusak dan melempar barang barang.
C. Tujuan Umum
Klien dapat mengontrol atau mencegah perilaku kekerasan baik secara
fisik, sosial atau verbal, spiritual, dan terapi psikoformatika.
D. Tujuan Khusus
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya.
2. Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan.
3. Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan.
4. Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang dapat dilakukan.
5. Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
6. Klien dapat menyebutkan cara mengontrol perilaku kekerasan.
3

7. Klien dapat mempraktekkan cara mengontrol perilaku kekerasan.


E. Pengkajian
1. Pengertian
Perilaku kekerasan adalah sesuatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk
melukai seseorang secara fisik maupun psikologis. Berdasarkan definisi
ini maka perilaku kekerasan dapat dilakukan secara verbal, diarahkan
pada diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Perilaku kekerasan dapat
terjadi dalam dua bentuk yaitu saat sedang berlangsung perilaku
kekerasan atau riwayat perilaku kekerasan.
2. Tanda dan Gejala
Data perilaku kekerasan yang dapat diperoleh melalui observasi atau
wawancara tentang perilau berikut ini:
a) Muka merah dan tegang
b) Pandangan tajam
c) Mengatupkan rahang yang kuat
d) Jalan mondar-mandir
e) Mengepalkan tangan
f) Bicara kasar
g) Suara tinggi, menjerit atau berteriak
h) Mengancam secara verbal atau fisik
i) Merusak barang atau benda
j) Tidak mempunyai kemampuan mencegah atau mengontrol perilaku
kekerasan
k) Melempar atau memukul benda/orang lain
3. Diagnosa Keperawatan
Resiko mencelakai dirinya sendiri, orang lain, dan lingkungan yang
berhubungan dengan perilaku kekerasan.
4. Tindakan Keperawatan
a) Tujuan
1. Pasien dapat mengidentifikasikan penyebab perilaku kekerasan
2. Pasien dapat mengidentifikasikan tanda-tanda perilaku kekerasan
3. Pasien dapat menyebutkan jenis perilaku kekerasan yang pernah
dilakukannya
4. Pasien dapat menyebutkan akibat dari perilaku kekerasan yang
dilakukannya
5. Pasien dapat menyebutkan cara mencegah/mengontrol perilaku
kekerasannya

6. Pasien dapat mencegah/mengontrol perilaku kekerasannya secara


fisik, spiritual, sosial, dan terapi psikofarmaka
b) Tindakan
1. Bina hubungan saling percaya
Dalam membina hubungan saling percaya perlu dipertimbangkan
agar pasien merasa aman dan nyaman saat berinteraksi dengan
kita. Tindakan yang harus kita lakukan dalam rangka membina
hubungan saling percaya adalah :
a. Mengucapkan salam Terapeutik
b. Berjabat tangan
c. Menjelaskan tujuan interaksi
d. Membuat kontrak topik, waktu dan tempat setiap kali bertemu
pasien
2. Diskusikan bersama pasien penyebab perilaku kekerasan saat ini
dan yang lalu.
3. Diskusikan perasaan pasien jika terjadi penyebab perilaku
kekerasan
a. Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara fisik
b. Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara
psikologis
c. Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara sosial
d. Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara spiritual
e. Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara
intelektual
4. Diskusikan bersama pasien perilaku kekerasan yang biasa
dilakukan pada saat marah secara:
a. Verbal
b. Terhadap orang lain
c. Terhadap diri sendiri
d. Terhadap lingkungan
5. Diskusikan bersama pasien akibat perilakunya
6. Diskusikan bersama pasien cara mengontrol perilaku kekerasan
secara:
a. Fisik: Pukul kasur dan bantal,tarik nafas dalam
b. Obat
c. Social/Verbal:menyatakan secara asertif rasa marah nya
d. Spiritual: sholat/berdoa sesuai keyakinan pasien
7. Latih pasien mengontrol perilaku kekerasan secara fisik:
a. Latihan nafas dalam dan pukul kasur atau boneka
b. Susun jadwal latihan dalam dan pukul kasur atau boneka
8. Latih pasien mengontrol perilaku kekerasan secara sosial/verbal

a. Latih mengungkapkan rasa marah secara verbal: menolak


dengan baik, meminta dengan baik, mengungkapkan perasaan
dengan baik
b. Susun jadwal latihan mengungkapkan rasa marah secara verbal
9. Latih mengontrol erilaku kekerasan secara spiritual:
a. Latih mengontrol marah secara spritual: sholat,doa
b. Buat jadwal latihan sholat, berdoa
10. Latih mengontrol perilaku kekerasan dengan patuh minum obat:
a. Latih pasien minum obat secara teratur dengan prinsip lima
benar (benarnama pasien, benar nama obat, benar cara minum
obat, benar waktu minum obat, dan benar dosis obat) disertai
penjelasan gunaobat dan akibat berhenti minum obat.
b. Susun jadwal minum obat secara teratur
11. Ikut sertakan pasien dalam Terapi Aktifitas Kelompok Stimulasi
Persepsi mengontrol perilaku kekerasan
5. Proses Pelaksanaan
Sesi 1 : Membina hubungan saling percaya, identifikasi penyebab
perasaan marah, tanda dan gejala yang dirasakan, perilaku
kekerasan yang dilakukan, akibatnya serta cara mengontrol secara
fisik I
A. Tujuan
1. Pasien dapat mengidentifikasikan penyebab perilaku kekerasan
2. Pasien dapat mengidentifikasikan tanda-tanda perilaku
kekerasan
3. Pasien dapat menyebutkan jenis perilaku kekerasan yang pernah
dilakukannya
4. Pasien dapat menyebutkan akibat dari perilaku kekerasan yang
dilakukannya
5. Pasien dapat menyebutkan cara mencegah/mengontrol perilaku
kekerasannya
6. Pasien dapat mencegah/mengontrol perilaku kekerasannya
secara fisik I
B. Langkah kegiatan
1. Persiapan
1) Masalah utama
2) Pertemuan ke
3) Hari/tanggal
4) Jam

: Perilaku Kekerasan
:I
: 7 Juni 2012
: 09.00 WIB

2. Orientasi
a. Salam terapeutik
- Salam dari terapis kepada klien.
Assalamualikum mbak. Waah hari ini mbak kelihatan
segar sekali.
b. Perkenalkan nama dan panggilan terapis (pakai papan nama).
Perkenalkan nama saya Pramudya Yopalika bisa di panggil
Lika saya perawat yang dinas di ruangan ini mbak. Hari ini
saya dinas pagi dari jam 08.00-13.00. Saya yang akan merawat
mbak di Rumah sakit ini. Nama mbak siapa? Senang nya di
panggil apa?

c. Evaluasi/validasi
- Menanyakan perasaan klien saat ini.
Bagaimana perasaan mbak A hari ini ? Masih ada
perasaan kesal atau marah di hati mbak A?

d. Kontrak
1) Topik
Baiklah kita akan berbincang-bincang sebentar ya mbak
A tentang perasaan marah mbak A, apakah mbak A
bersedia?

2) Waktu
Berapa

lama

mbak

kita

berbincang-bincang?

Bagaimana kalau 20 menit?

3) Tempat

Dimana enaknya kita duduk berbincang-bincang mbak A?


Apakah di taman atau disini saja? Bagaimana kalau disini
saja mbak A?

3. Tahap kerja
a. Mendiskusikan penyebab marah.
Apa yang menyebabkan mbak A itu merasa marah? Apakah
sebelumnya mbak A pernah marah? Terus penyebabnya apa?
Samakah dengan sekarang? Oh iya jadi ada 2 penyebab
marahnya ya mbak A?

b. Mendiskusikan tanda dan gejala yang dirasakan klien saat


terpapar oleh penyebab marah sebelum perilaku kekerasan
terjadi.

Pada saat mbak A marah itu ada, seperti pada saat pacar mbak
A memukul mbak A, apa yang mbak A rasakan?(tunggu respon

klien)
Apakah mbak A merasakan kesal kemudian dada mbak A
berdebar-debar,mata melotot,rahang terkatup dan tangan
mengepal?

c. Mendiskusikan perilaku kekerasan yang pernah dilakukan


klien

(verbal, merusak lingkungan, mencederai/memukul

orang lain, dan memukul diri sendiri.


Setelah itu apa yang mbak A lakukan? Oh. Iya, jadi mbak
A memukul tubuh mbak A sendiri dan berteriak? Apakah
dengan cara itu pacar mbak A akan meminta maaf ke
mbak A? Iya, tentu tidak. Apa kerugian cara yang mbak A
lakukan? Betul, badan mbak A jadi terasa sakit kan?
Menurut mbak A ada cara yang lain yang lebih baik
tidak? Maukah mbak A belajar cara mengungkapkan
kemarahan dengan baik tanpa menimbulkan kerugian?
d. Melakukan bermain peran/simulasi untuk perilaku kekerasan
yang tidak berbahaya (terapis mengajarkan dan memberi
contoh

untuk

melakukan

cara

yang

baik

untuk

menghilangkan rasa marah)


Ada beberapa cara untuk mengontrol kemarahan mbak A.
Salah satunya adalah dengan cara fisik. Jadi melalui

kegiatan fisik disalurkannya marah.


Ada beberapa cara, bagaimana kalau kita belajar satu
cara dulu ya? Mau ya mbak A? Begini caranya mbak A,
kalau tanda-tanda marah tadi sudah mbak A rasakan
maka mbak A berdiri, lalu tarik napas dari hidung, tahan
sebentar, lalu keluarkan atau tiup secara perlahan-lahan
melalui mulut seperti mengeluarkan kemarahan. Ayo coba
lagi mbak A, tari hidung, bagus mbak A hebat.. tahan, dan
tiup melalui mulut. Nah, lakukan 5 kali. Bagus sekali
mbak A, mbak A sudah bisa melakukannya. Bagaimana
perasaannya sekarang?

Nah, sebaiknya latihan ini mbak A lakukan secara rutin,


sehingga bisa sewaktu-waktu rasa marahitu muncul mbak
A sudah terbiasa melakukan nya.

4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
Bagaimana perasaan mbak A setelah berbincang-bincang

tentang kemarahan mbak A?


Iya jadi ada 2 penyebab mbak A marah ya, yang pertama
karena mbak A sering di pukuli oleh kekasih mbak A dan
yang kedua yaitu mbak A sering di putusin tanpa alasan
yang jelas. Lalu perasaan setelah mbak A dapat
perlakuan itu, mbak A merasa kesal dan marah dan
mengakibatkan mbak A sering memukul diri mbak A

sendiri untuk mrnghindari rasa kesal.


b. Tindak lanjut
Nanti selama saya tidak ada, ingat-ingat lagi ya mbak A
penyebab marah mbak A yang lalu, apa yang mbak A
lakukan kalau marah yang belum kita bahas dan jangan
lupa ya mbak A latihan napas dalamnya. Sekarang kita
buat jadwal latihan nya ya mbak A, berapa kali sehari
mbak A mau latihan napas dalam? Mau jam berapa saja
mbak A?
c. Kontrak yang akan datang
Baik, bagaimana kalau 2 jam lagi saya datang dan kita
latihan cara yang lain untuk mencegah/mengontrol
marah. Tempatnya disini saja ya mbak A. selamat
beristirahat ya mbak A Assalamualaikum..
SP 2 Pasien: Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara fisik
ke-2
a. Evaluasi latihan nafas dalam
b. Latih cara fisik ke-2: pukul kasur dan bantal
c. Susun jadwal kegiatan harian cara kedua

A. Tujuan
Pasien dapat mencegah/mengontrol perilaku kekerasannya secara
fisik II
B. Langkah kegiatan
1. Persiapan
1) Masalah utama
2) Pertemuan ke
3) Hari/tanggal
4) Jam

: Perilaku Kekerasan
: II
: 7 Juni 2012
: 11.00 WIB

2. Orientasi
a. Salam terapeutik
Assalamualaikum mbak A, sesuai dengan janji saya dua
jam yang lalu sekarang saya datang lagi
b. Perkenalkan nama
Masih ingat ya mbak A nama saya? Ya benar sekali, saya
perawat Lika
c. Evaluasi/validasi
Bagaimana perasaan mbak A saat ini, adakah hal yang
menyebabkan mbak A marah dan kesal?
d. Kontrak
1) Topik
Baik, sekarang kita akan belajar cara mengontrol
perasaan marah dengan kegiatan fisik untuk cara yang
kedua
2) Waktu
Mau berapa lama mbak A? Bagaimana kalau 20 menit?
3) Tempat

Dimana enaknya kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau


di taman?

3. Tahap kerja
Nanti kalau ada yang menyebabkan mbak A marah dan
muncul perasaan kesal, berdebar-debar, mata melotot, selain

napas dalam mbak A bisa melakukan pukul kasur dan bantal


Sekarang mari mbak A kita latihan memukul kasur dan
bantal. Mari kita ke kamar mbak A, dimana kamarnya? Jadi
nanti kalau mbak A kesal dan ingin marah, langsung ke kamar
dan lampiaskan kemarahan dengan memukul kasur dan bantal

10

ya mbak A. Ayo mbak A coba lakukan, pukul kasur dan bantal.

Ya, mbak A bagus sekali melakukannya.


Tadi jika mbak A ingin marah dapat dilampiaskan kemana
mbak A? Ya benar sekali, kekesalan dapat dilampiaskan ke

kasur atau bantal


Nah selain napas dalam, cara inipun dapat dilakukan secara
rutin jika mbak A merasakan marah. Kemudian setelah
melakukannya, jangan lupa dirapikan lagi tempat tidurnya.

4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
Bagaimana perasaan mbak A setelah melakukan latihan
cara menyalurkan marah tadi?
b. Tindak lanjut
Ayo, sudah ada berapa cara yang kita latih? Coba mbak A

sebutkan lagi? Bagus sekali!


Mari kita masukkan ke jadwal sehari-hari mbak A, Pukul
kasur mau jam berapa? Bagaimana kalau setiap mbak A
bangun tidur? Baik, jadi jam 05.00 pagi dan jam 16.00
sore. Nanti kalau ada perasaan marah yang tiba-tiba
menyerang mbak A, bisa gunakan kedua cara tadi ya
mbak A. Sekarang kita buat jadwalnya ya mbak A, mau
berapa kali sehari mbak A latihan memukul kasur dan

bantal serta tarik nafas dalam ini?


e. Kontrak yang akan datang
Besok pagi kita akan latihan cara mengontrol marah
dengan belajar bicara yang baik. Mau jam berapa mbak
A? Baik, jam 10 pagi ya. Selamat istirahat mbak A,
Assalamualaikum.

SP 3 Pasien : Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara


sosial/verbal:

11

a. Evaluasi jadwal harian untuk dua cara fisik


b. Latihan mengungkapkan rasa marah secara verbal: menolak dengan
baik, meminta dengan baik, mengungkapkan perasaan dengan baik.
c. Susun jadwal latihan mengungkapkan marah secara verbal
A. Tujuan
Pasien dapat mencegah/mengontrol perilaku kekerasannya secara
sosial/verbal
B. Langkah kegiatan
1. Persiapan
1) Masalah utama: Perilaku Kekerasan
2) Pertemuan ke : III
3) Hari/tanggal : 8 Juni 2012
4) Jam
: 10.00 WIB
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
Assalamualaikum mbak A, sesuai dengan janji saya
kemarin sekarang kita bertemu lagi
b. Perkenalkan nama
Masih dengan saya ya mbak A, perawat Lika
c. Evaluasi/validasi
Bagaimana mbak A? Apakah sudah dilakukan latihan
nafas dalam dan pukul kasur bantal? Apa yang dirasakan
setelah latihan secara teratur?
d. Kontrak
1) Topik
Bagaimana kalau sekarang kita latihan cara bicara
untuk mencegah marah?
2) Waktu
Berapa lama mbak A kita akan berbincang-bincang?
Bagaimana kalau 15 menit?
3) Tempat
Dimana enaknya kita berbincang-bincang? Di tempat
yang sama atau berbeda? Baiklah kalau begitu di
tempat yang sama saja ya mbak A?
3. Tahap kerja

12

Sekarang kita latihan cara bicara yang baik untuk mencegah


marah. Kalau marah sudah dusalurkan melalui tarik nafas
dalam atau pukul kasur dan bantal, dan sudah lega, maka
kita perlu bicara dengan orang yang membuat kita marah.
Ada tiga caranya mbak A:
1) Meminta dengan baik tanpa marah dengan nada suara
yang rendah serta tidak menggunakan kata-kata kasar.
Kemarin mbak A bilang penyebab marahnya karena
diputusin tidak jelasm oleh pcarnya. Coba mbak A tanya
dengan baik: Apa yang salah dengan saya sehingga
kamu meninggalkan saya begitu saja?. Coba mbak A
praktekkan, bagus sekali mbak A.
2) Menolak dengan baik, jika ada yang menyuruh dan mbak
A tidak ingin melakukannya, katakan: Maaf saya tidak
bisa melakukannya karena sedang ada kerjaan. Coba
mbak A praktekkan. Bagus mbak A
3) Mengungkapkan perasaan kesal, jika ada perlakuan
orang lain yang membuat kesal mbak A dapat
mengatakan: Saya jadi marah karena perkataanmu itu.
Coba praktekkan. Ya bagus.

4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
Bagaimana perasaan mbak A setelah kita bercakap-cakap
tentang cara mengontrol marah dengan baik tadi?
b. Tindak lanjut
Coba mbak A sebutkan lagi cara bicara yang baik yang

telah kita pelajari!


Bagus sekali, sekarang mari kira masukkan dalam jadwal.
Berapa kali sehari mbak A mau latihan bicara yang baik?

Bisa kita buat jadwalnya?


Coba masukkan dalam jadwal sehari-hari, misalnya

meminta obat, uang, dll. Bagus nanti kita coba ya mbak A.


c. Kontrak waktu yang akan datang
Bagaimana kalau tiga jam lagi kita ketemu lagi?
13

Nanti kita akan bicarakan cara lain untuk mengatasi rasa


marah mbak A yaitu dengan cara ibadah, mbak A setuju?
Mau dimana mbak A? Disini lagi? Baik sampai nanti ya
mbak A. Assalamualaikum.

SP 4

Pasien : Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara

spiritual
a. Diskusikan hasil latihan mengontrol perilaku kekerasan secara fisik
dan sosial/verbal
b. Latihan sholat/berdoa
c. Buat jadual latihan sholat/berdoa
A. Tujuan
Pasien dapat mencegah/mengontrol perilaku kekerasannya secara
spiritual

B. Langkah kegiatan
1. Persiapan
1) Masalah utama: Perilaku Kekerasan
2) Pertemuan ke : IV
3) Hari/tanggal : 8 Juni 2012
4) Jam
: 13.00 WIB
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
Assalamualaikum mbak A, sesuai dengan janji saya dua
jam yang lalu sekarang saya datang lagi.
Baik, yang mana yang mau dicoba?
b. Perkenalkan nama
Bertemu lagi dengan saya ya mbak A, perawat Lika
c. Evaluasi/validasi
Bagaimana mbak A, latihan apa yang sudah dilakukan?
Apa yang dirasakan setelah melakukan latihan secara
teratur? Bagus sekali, bagaimana rasa marahnya?
Apakah sudah berkurang?

14

d. Kontrak
1) Topik
Bagaimana kalau sekarang kita latihan cara lain untuk
mencegah marah yaitu dengan ibadah?
2) Waktu
Berapa lama kita akan berbincang-bincang?
Bagaimana kalau 15 menit?
3) Tempat
Dimana kita akan berbincang-bincang? Bagaimana
kalau di tempat tadi?

3. Tahap kerja
Coba ceritakan kegiatan ibadah yang biasa mbak A lakukan?

Bagus. Yang mana yang mau kita coba?


Nah, kalau mbak A sedang marah coba mbak A langsung
duduk dan tarik napas dalam. Jika tidak reda juga marahnya
rebahkan badan agar rileks. Jika tidak reda juga, ambil air

wudhu kemudian sholat.


Mbak A bisa melakukan sholat secara teratur untuk

meredakan kemarahan.
Coba mbak A sebutkan sholat 5 waktu? Bagus. Mau coba
yang mana? Coba sebutkan langkah-langkah yang harus kita
lakukan sebelum sholat. Ya baik sekali mbak A.

4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
Bagaimana perasaan mbak A setelah kita bercakap-cakap
tentang cara yang ketiga ini?
b. Tindak lanjut
Jadi sudah berapa cara yang kita pelajari untuk

mengontrol marah? Bagus.


Mari kita masukkan kegiatan ibadah pada jadwal
kegiatan mbak A. Mau berapa kali mbak A sholat? Baik
kita masukkan sholat...... dan ........ (sesuai kesepakatan
pasien).

15

Coba mbak A sebutkan lagi cara ibadah yang dapat

dilakuakan bila tiba-tiba mbak A merasa marah.


Setelah ini coba mbak A lakukan jadwal sholat sesuai

jadwal yang kita buat tadi.


c. Kontrak waktu yang akan datang
Besok kita ketemu lagi ya mbak A, nanti kita bicarakan
cara keempat mengontrol rasa marah, yaitu dengan patuh
minum obat.. Mau jam berapa mbak A? Seperti sekarang
saja, jam 1 siang setelah makan bagaimana? Baiklah

kalau begitu.
Nanti kita akan membicarakan cara penggunaan obat
yang benar untuk mengontrol rasa marah bapak, setuju
mbak A? Kalau begitu sampai jumpa. Assalamualaikum

SP 5 Pasien : Latihan mengontrol perilaku kekerasan dengan obat


a.

Evaluasi jadwal kegiatan harian pasien untuk cara mencegah

marah yang sudah dilatih.


b. Latih pasien minum obat secara teratur dengan prinsip lima benar
(benar nama pasien, benar nama obat, benar cara minum obat,
benar waktu minum obat, dan benar dosis obat) disertai penjelasan
guna obat dan akibat berhenti minum obat.
c. Susun jadual minum obat secara teratur
A. Tujuan
Pasien dapat mencegah/mengontrol perilaku kekerasannya secara
terapi psikofarmaka
B. Langkah kegiatan
1.
1) Masalah utama
2) Pertemuan ke
3) Hari/tanggal
4) Jam
2.

Persiapan
: Perilaku Kekerasan
:V
: 9 Juni 2012
: 13.00 WIB

Orientasi
a. Salam terapeutik
Assalamualaikum mbak A, sesuai dengan janji saya
kemarin kita bertemu lagi.

16

b. Perkenalkan nama
Sudah hafal dengan nama saya kan mbak A? Ya benar,
saya perawat Lika
c. Evaluasi/validasi
Bagaimana mbak A, sudah dilakukan latihan tarik nafas
dalam, pukul kasur bantal, bicara baik serta sholat? Apa
yang dirasakan setelah melakukan latihan secara teratur?
Coba kita cek kegiatan yang sudah mbak A lakukan.
d. Kontrak
1) Topik
Bagaimana kalau sekarang kita bicara dan latihan
tentang cara minum obat yang benar untuk mengontrol
rasa marah?
2) Waktu
Berapa lama mbak A mau kita berbincang-bincang?
Bagaimana kalau 15 menit?
3) Tempat
Dimana kita akan berbincang-bincang? Bagaimana
kalau di tempat kemarin?
3.

Tahap kerja
Mbak A sudah dapat obat dari dokter?
Berapa macam obat yang mbak A minum? Warna apa saja?

Coba sebutkan. Bagus! Jam berapa mbak A minum? Bagus!


Obatnya ada tiga macam mbak A, yang warna oranye
namanya CPZ gunanya agar pikiran tenang, yang putih ini
namanya THP agar rileks dan tegang, dan yang merah jambu
ini namanya HLP agar pikiran teratur dan rasa marah
berkurang. Semuanya ini harus mbak A minum 3 kali seharu

jam 7 pagi, jam 1 siang, dan jam 7 malam.


Bila nanti setelah meminum obat ini mulut mbak A terasa
kering,

untuk

membantu

mengatasinya

mbak

A bisa

menghisap-hisap es batu.
Apabila mata mbak A terasa berkunang-kunang sebaiknya

istirahat dan jangan beraktivitas dulu.


Nanti di rumah sebelum minum obat ini mbak A lihat dulu
label di kotak obat apakah benar nama mbak A tertulis disitu,

17

berapa dosis yang harus diminum, jam berapa saja harus


diminum. Baca juga apakah nama obatnya sudah benar?
Disini minta obantnya pada suster kemudian cek lagi apakah

benar obatnya.
Jangan pernah

menghentikan

minum

obat

sebelum

berkonsultasi dengan dokter ya mbak A, karena dapat terjadi


kekambuhan.
4.

Tahap terminasi
a. Evaluasi
Bagaimana perasaan mbak A setelah kita bercakap-cakap
tentang cara minum obat yang benar?
b. Tindak lanjut
Coba mbak A sebutkan lagi jenis obat yang mbak A

minum! Bagaimana cara minum obat yang benar? Bagus.


Nah sudah berapa cara mengontrol perasaan marah yang
kita

pelajari?

kegiatannnya

Sekarang
dengan

kita

minum

tambahkan
obat.

laksanakan semua dengan teratur ya.


c. Kontrak waktu yang akan datang
Baik, besok kita ketemu kembali
sejauhmana

mbak

jadwal

Jangan

untuk

melaksanakan

lupa

melihat

kegiatan

dan

sejauhmana dapat mencegah rasa marah. Sampai


berjumpa besok mbak A. Assalamualaikum.

18

Anda mungkin juga menyukai