Anda di halaman 1dari 16

A.

Definisi Tumor Otak


Neoplasma sistem saraf pusat (SSP) mencakup neoplasma yang berasal dari
dalam otak, medulla spinalis, atau meningen, serta tumor metastatik yang berasal dari
tempat lain. Neoplasma SSP primer sedikit berbeda dengan neoplasma yang timbul di
tempat lain, dalam artian bahwa bahkan lesi yang secara hitologis jinak, dapat
menyebabkan kematian karena penekanan terhadap struktur vital. Selain itu, berbeda
dengan neoplasma yang timbul di luar SSP, bahkan tumor otak primer yang secara
histologis ganas jarang menyebar kebagian tubuh lain (Kumar et al., 2007).
Pada kasus kanker, terdapat sekumpulan sel normal atau abnormal yang tumbuh
tak terkontrol membentuk massa atau tumor. Pada saat tumor otak terjadi, pertumbuhan
sel yang tidak diperlukan secara berlebihan menimbulkan penekanan dan kerusakan
pada sel-sel lain di otak dan mengganggu fungsi otak bagian tersebut. Tumor tersebut
akan menekan jaringan otak sekitar dan menimbulkan tekanan oleh karena tekanan
berlawanan oleh tulang tengkorak, dan jaringan otak yang sehat, serta area sekitar
saraf. Sebagai hasilnya, tumor akan merusak jaringan otak (Cook & Freedman, 2012).
Tumor otak intrakranial dapat diklasifikasikan menjadi tumor otak benigna dan
maligna. Tumor otak benigna umumnya ektra-aksial, yaitu tumbuh dari meningen, saraf
kranialis, atau struktur lain dan menyebabkan kompresi ekstrinsik pada substansi otak.
Meskipun dinyatakan benigna secara histologis, tumor ini dapat mengancam nyawa
karena efek yang ditimbulkan. Tumor maligna sendiri umumnya terjadi intra-aksial yaitu
berasal dari parenkim otak. Tumor maligna dibagi menjadi tumor maligna primer yang
umumnya berasal dari sel glia dan tumor otak maligna sekunder yang merupakan
metastasis dari tumor maligna di bagian tubuh lain (Ginsberg, 2011).
Pada pasien tumor otak yang berusia tua dengan atrofi otak, kejadian edema
otak jarang menimbulkan peningkatan tekanan intra kranial, mungkin dikarenakan ruang
intrakranial yang berlebihan. Hal ini dapat menjelaskan tidak adanya papiledema pada
pasien berusia tua. Muntah lebih sering terjadi pada anak-anak dibandingkan dengan
dewasa dan biasanya berhubungan dengan lesi di daerah infratentorial (Kaal & Vecht,
2004).

B. Etiologi
Penyebab tumor hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti, walaupun
telah banyak penyelidikan yang dilakukan. Adapun faktor-faktor yang perlu ditinjau, yaitu:
a

Herediter
Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali

pada meningioma, astrositoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada anggotaanggota sekeluarga. Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-Weber yang dapat
dianggap sebagai manifestasi pertumbuhan baru, memperlihatkan faktor familial
yang jelas. Selain jenis-jenis neoplasma tersebut tidak ada bukti-buakti yang kuat
untuk memikirkan adanya faktor-faktor hereditas yang kuat pada neoplasma.
b

sisa-sisa sel embrional ( Embrionic Cell Rest )


Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan

yang mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh. Tetapi ada
kalanya sebagian dari bangunan embrional tertinggal dalam tubuh, menjadi ganas
dan merusak bangunan di sekitarnya. Perkembangan abnormal itu dapat terjadi
pada kraniofaringioma, teratoma intrakranial dan kordoma.
c

Radiasi
Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat

mengalami perubahan degenerasi, namun belum ada bukti radiasi dapat memicu
terjadinya suatu glioma. Pernah dilaporkan bahwa meningioma terjadi setelah
timbulnya suatu radiasi.
d

Virus
Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar yang

dilakukan dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi virus dalam proses
terjadinya neoplasma, tetapi hingga saat ini belum ditemukan hubungan antara
infeksi virus dengan perkembangan tumor pada sistem saraf pusat.
e

Substansi-substansi karsinogenik
Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan.

Kini telah diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik seperti methylcholanthrone,
nitroso-ethyl-urea. Ini berdasarkan percobaan yang dilakukan pada hewan
C. Patofisiologi
Tumor otak menyebabkan gangguan neurologis progresif yang disebabkan oleh
dua faktor yaitu gangguan fokal oleh tumor dan kenaikan tekanan intrakranial (TIK).
Gangguan fokal terjadi apabila terdapat penekanan pada jaringan otak dan infiltrasi atau
infasi langsung pada parenkim otak dengan kerusakan jaringan neuron.

Perubahan suplai darah akibat tekanan yang ditimbulkan tumor yang tumbuh
menyebabkan nekrosis jaringan otak. Akibatnya terjadi kehilangan fungsi secara akut
dan dapat dikacaukan dengan gangguan serebrovaskuler primer.
Serangan kejang sebagai manifestasi perubahan kepekaan neuron akibat
kompresi, invasi, dan perubahan suplai darah ke dalam jaringan otak. Peningkatan TIK
dapat diakibatkan oleh beberapa faktor seperti bertambahnya massa dalam tengkorak,
edema sekitar tumor, dan perubahan sirkulasi CSS. Tumor ganas menyebabkan edema
dalam jaringan otak yang diduga disebabkan oleh perbedaan tekanan osmosis yang
menyebabkan penyerapan cairan tumor. Obstruksi vena dan edema yang disebabkan
oleh kerusakan sawar di otak, menimbulkan peningkatan volume intracranial dan
meningkatkan TIK.
Peningkatan TIK membahayakan jiwa jika terjadi dengan cepat. Mekanisme
kompensasi memerlukan waktu berhari-hari ataupunn berbulan-bulan untuk menjadi
efektif dan oleh karena itu tidak berguna apabila tekanan intracranial timbul cepat.
Mekanisme kompensasi ini meliputi menurunkan volume darah intrakranial, menurunkan
volume CSS, menurunkan kandungan cairan intrasel, dan mengurangi sel-sel parenkim
otak. Kenaikan tekanan yang tidak diatasi akan mengakibatkan herniasi unkus
serebellum.
Herniasi unkus timbul jika girus medialis lobus temporalis bergeser ke inferior
melalui insisura tentorial karena adanya massa dalam hemisfer otak. Herniasi menekan
mesensefalon, menyebabkan hilangnya kesadaran dan menekan saraf ke-3. Pada
herniasi serebellum, tonsil serebellum tergeser ke bawah melalui foramen magnum oleh
suatu massa posterior.
Kompresi medulla oblongata dan terhentinya pernapasan terjadi dengan cepat.
Perubahan fisiologis lain yang terjadi akibat peningkatan intrakranial yang cepat adalah
bradikardia progresif, hipertensi sistemik, dan gangguan pernapasan.( Batticaca,
Fransisca.B. 2008)

D. Manifestasi Klinis
1. Gejala tumor otak secara umum

Gejala klinis pada tumor otak secara umum dikenal dengan istilah trias klosis
tumor otak, yaitu:
a

Nyeri kepala
Nyeri kepala merupakan gejala tersering, dapat bersifat dalam, terus-

menerus, tumbuh, dan kadang-kadang hebat sekali. Nyeri paling hebat pada pagi
hari dan lebih berat saat beraktivitas sehingga dapat meningkatkan TIK pada saat
membungkuk, batuk, dan mengejan pada saat BAB. Nyeri kepala dapat berkurang
bila diberi aspirin dan kompres air dingin di daerah yang sakit. Lokasi yang sering
menimbulkan nyeri terjadi di 1/3 daerah tumor dan 2/3 di dekat atau di atas tumor.
b

Mual dan muntah


Mual (nausea) dan muntah (vomit) terjadi sebagai akibat rangsangan pusat

muntah pada medulla oblongata. Sering terjadi pada anak-anak dan berhubungan
dengan peningkatan TIK yang disertai pergeseran batang otak. Muntah dapat
terjadi tanpa didahului mual dan dapat proyektil.
c

Papil edema
Papil

edema

disebabkan

oleh

stress

vena

yang

menimbulkan

pembengkakan papilla saraf optikus. Bila terjadi pada pemeriksaan oftalmoskopi


(funduskopi), tanda ini mengisyaratkan terjadi tekanan TIK. Kadang disertai
gangguan penglihatan, termasuk pembesaran bintik buta dan amaurosis fugaks
(saat-saat di mana penglihatan berkurang. ( Batticaca, Fransisca.B. 2008)
2. Gejala spesifik tumor otak yang berhubungan dengan lokasi:
a Lobus frontal
1) Menimbulkan gejala perubahan kepribadian
2) Bila tumor menekan jaras motorik menimbulkan hemiparese kontra lateral,
kejang fokal
3) Bila menekan permukaan media dapat menyebabkan inkontinentia
4) Bila tumor terletak pada basis frontal menimbulkan sindrom foster kennedy
5) Pada lobus dominan menimbulkan gejala afasia

Lobus parietal
1) Dapat menimbulkan gejala modalitas sensori kortikal hemianopsi homonym
2) Bila terletak dekat area motorik dapat timbul kejang fokal dan pada girus
angularis menimbulkan gejala sindrom gerstmanns
Lobus temporal

1) Akan menimbulkan gejala hemianopsi, bangkitan psikomotor, yang


didahului dengan aura atau halusinasi
2) Bila letak tumor lebih dalam menimbulkan gejala afasia dan hemiparese
3) Pada tumor yang terletak sekitar basal ganglia dapat diketemukan gejala
d

choreoathetosis, parkinsonism.
Lobus oksipital
1) Menimbulkan bangkitan kejang yang dahului dengan gangguan penglihatan
2) Gangguan penglihatan yang permulaan bersifat quadranopia berkembang
menjadi hemianopsia, objeckagnosia
Tumor di ventrikel ke III
Tumor

biasanya

bertangkai

sehingga

pada

pergerakan

kepala

menimbulkan obstruksi dari cairan serebrospinal dan terjadi peninggian


tekanan intrakranial mendadak, pasen tiba-tiba nyeri kepala, penglihatan kabur,
dan penurunan kesadaran
f

Tumor di cerebello pontin angie


1) Tersering berasal dari N VIII yaitu acustic neurinoma
2) Dapat dibedakan dengan tumor jenis lain karena gejala awalnya berupa
gangguan fungsi pendengaran
3) Gejala lain timbul bila tumor telah membesar dan keluar dari daerah pontin

angel
Tumor Hipotalamus
1) Menyebabkan gejala TTIK akibat oklusi dari foramen Monroe
2) Gangguan fungsi hipotalamus menyebabkan gejala:

gangguan

perkembangan seksuil pada anak-anak, amenorrhoe,dwarfism, gangguan


h

cairan dan elektrolit, bangkitan


Tumor di cerebelum
1) Umumnya didapat gangguan berjalan dan gejala TTIK akan cepat terjadi
disertai dengan papil udem
2) Nyeri kepala khas didaerah oksipital yang menjalar keleher dan spasme
dari otot-otot servikal

Tumor fosa posterior


1) Diketemukan gangguan berjalan, nyeri kepala dan muntah disertai dengan
nystacmus, biasanya merupakan gejala awal dari medulloblastoma. (Bram

Al Azri:2013)
Tumor batang otak
Tumor pada batang otak bisa menyebabkan mudah goyah dan kesulitan dalam
berjalan, otot-otot muka melemah, penglihatan buram, kesulitan berbicara, dan
menelan.

E. Komplikasi Tumor Otak


1. Edema Serebral

Peningkatan cairan otak yang berlebih yang menumpuk disekitar lesi


sehingga menambah efek masa yang mendesak (space-occupying). Edema
Serebri dapat terjadi ekstrasel (vasogenik) atau intrasel (sitotoksik).
2. Hidrosefalus
Peningkatan intracranial yang disebabkan oleh ekspansin massa dalam
rongga cranium yang tertutup dapat di eksaserbasi jika terjadi obstruksi pada
3.
4.
5.
6.

aliran cairan serebrospinal akibat massa.


Herniasi Otak
Peningkatan intracranial yang terdiri dari herniasi sentra, unkus, dan singuli.
Epilepsi
Metastase ketempat lain (Febri : 2012)

F. Pathway (terlampir)
G. Pemeriksaan Diagnostik Tumor Otak
1. CT scan dan MRI
Memperlihatkan semua tumor intrakranial dan menjadi prosedur investigasi
awal ketika penderita menunjukkan gejala yang progresif atau tanda-tanda penyakit
otak yang difus atau fokal, atau salah satu tanda spesifik dari sindrom atau gejalagejala tumor. Kadang sulit membedakan tumor dari abses ataupun proses lainnya.
2. Foto polos dada
Dilakukan untuk mengetahui apakah tumornya berasal dari suatu metastasis
yang akan memberikan gambaran nodul tunggal ataupun multiple pada otak.
3. Pemeriksaan cairan serebrospinal
Dilakukan untuk melihat adanya sel-sel tumor dan juga marker tumor. Tetapi
pemeriksaan ini tidak rutin dilakukan terutama pada pasien dengan massa di otak
yang besar. Umumnya diagnosis histologik ditegakkan melalui pemeriksaan patologi
anatomi, sebagai cara yang tepat untuk membedakan tumor dengan proses-proses
infeksi (abses cerebri).
4. Biopsi stereotaktik
Dapat digunakan untuk mendiagnosis kedudukan tumor yang dalam dan
untuk memberikan dasar-dasar pengobatan dan informasi prognosis.
5. Angiografi Serebral
Memberikan gambaran pembuluh darah serebral dan letak tumor serebral.
6. Elektroensefalogram (EEG)
Mendeteksi gelombang otak abnormal pada daerah yang ditempati tumor dan
dapat memungkinkan untuk mengevaluasi lobus temporal pada waktu kejang.
(Nn:2013)

H. Penatalaksanaan Tumor Otak


1. Medis
Faktor faktor prognostik sebagai pertimbangan penatalaksanaan medis

a.
b.
c.
d.
e.

Usia
General Health
Ukuran Tumor
Lokasi Tumor
Jenis Tumor
Untuk tumor otak ada tiga metode utama yang digunakan dalam

penatalaksaannya, yaitu
a) Surgery
Terapi Pre-Surgery :
1)
2)

Steroid adalah Menghilangkan swelling, contoh dexamethasone


Anticonvulsant adalah Untuk mencegah dan mengontrol kejang, seperti

3)

carbamazepine
Shunt adalah Digunakan untuk mengalirkan cairan cerebrospinal
Pembedahan

merupakan

pilihan

utama

untuk

mengangkat

tumor.

Pembedahan pada tumor otak bertujuan untuk melakukan dekompresi dengan cara
mereduksi efek massa sebagai upaya menyelamatkan nyawa serta memperoleh
efek paliasi. Dengan pengambilan massa tumor sebanyak mungkin diharapkan pula
jaringan hipoksik akan terikut serta sehingga akan diperoleh efek radiasi yang
optimal.

Diperolehnya

banyak

jaringan

tumor

akan

memudahkan

evaluasi

histopatologik, sehingga diagnosis patologi anatomi diharapkan akan menjadi lebih


sempurna. Namun pada tindakan pengangkatan tumor jarang sekali menghilangkan
gejala-gelaja yang ada pada penderita.
b) Radiotherapy
Radioterapi merupakan salah satu modalitas penting dalam penatalaksanaan
proses keganasan. Berbagai penelitian klinis telah membuktikan bahwa modalitas
terapi pembedahan akan memberikan hasil yang lebih optimal jika diberikan
kombinasi terapi dengan kemoterapi dan radioterapi.
Sebagian besar tumor otak bersifat radioresponsif (moderately sensitive),
sehingga pada tumor dengan ukuran terbatas pemberian dosis tinggi radiasi
diharapkan dapat mengeradikasi semua sel tumor. Namun demikian pemberian
dosis ini dibatasi oleh toleransi jaringan sehat disekitarnya. Semakin sedikit jaringan
sehat yang terkena maka makin tinggi dosis yang diberikan. Guna menyiasati hal ini
maka diperlukan metode serta teknik pemberian radiasi dengan tingkat presisi yang
tinggi.

Glioma dapat diterapi dengan radioterapi yang diarahkan pada tumor


sementara metastasis diterapi dengan radiasi seluruh otak. Radioterapi juga
digunakan dalam tata laksana beberapa tumor jinak, misalnya adenoma hipofisis.
c) Chemotherapy
Pada kemoterapi dapat menggunakan powerfull drugs, bisa menggunakan
satu atau dikombinasikan. Tindakan ini dilakukan dengan tujuan untuk membunuh
sel tumor pada klien. Diberikan secara oral, IV, atau bisa juga secara shunt.
Tindakan ini diberikan dalam siklus, satu siklus terdiri dari treatment intensif dalam
waktu yang singkat, diikuti waktu istirahat dan pemulihan. Saat siklus dua sampai
empat telah lengkap dilakukan, pasien dianjurkan untuk istirahat dan dilihat apakah
tumor berespon terhadap terapi yang dilakukan ataukah tidak. (Febri : 2012)
2) Diet
Pengobatan tumor otak tidak hanya memerlukan dokter yang ahli dan obat yang
mujarak tetapi juga makanan yang sehat. Berikut beberapa kandungan makanan yang
disarankan beserta alasannya:
a. Omega-3 yang dapat ditemukan di ikan (salmon, tuna dan tenggiri) bermanfaat
dalam menguransi resistensi tumor pada terapi. Omega-3 juga membantu
mempertahankan dan menaikan daya tahan tubuh dalam menghadapi proses
pengobatan tumor otak seperti kemotrapi.
b. Omega-9 yang ada di minyak zaitun pun dapat meningkatkan sistem kekebalan
tubuh sekaligus mengurangi pembengkakan dan menguransi sakit saat
pengobatan tumor otak.
c. Serat dari roti gandum, sereal, buah segar, sayur dan suku kacang-kacangan
membantu Anda mengatur tingkat gula. Sel kanker cenderung mengkonsumsi
gula 10-15 kali lipat daripada sel normal sehingga semakin meradang. Agar bisa
mengatur gula dengan baik, disarankan mengkonsumsi 4-5 porsi sayur dan 1-2
porsi buah segar. Selain mengatur kadar gula, serat dapat menurunkan peluang
sembelit.
d. Folic acid yang dikenal sebagai vitamin B9 atau Bc bisa mencegah menyebarnya
sehinga bisa membantu pengobatan tumor otak atau bagian lainnya. Vitamin B9
dapat ditemukan di sayuran dengan daun hijau tua (bayam, asparagus dan daun
selada), kacang polong, kuning telur dan biji bunga matahari.
e. Antioksidan memang dikenal sebagai salah satu senjata untuk membantu
pengobatan tumor otak. Antioksidan dapat di temukan di keluarga beri (strawberi,

rasberi dan blueberi), anggur, tomat, brokoli, jeruk, persik, apricot, bawang putih,
gandum, telur, ayam, kedelai dan ikan.
Makanan yang harus dihindari penderita kanker dan tumor otak adalah Gula
dan karbohindrat harus dihindari karena mereka merupakan makanan utama sel
kanker. Pada saat pengobatan brain tumor and cancer, sel-sel kanker yang ada di
dalam tubuh akan mengkonsumsi 10-15 kali lipat gula. Gula yang dikonsumsi akan
menjadi energy para sel kanker yang mempercepat perkembangan mereka.
(Nn:2012)
I.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN TUMOR OTAK

PENGKAJIAN
1.

Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan dan kesehatan


a.
b.
c.
d.
e.
f.

2.

Pola nutrisi metabolic


a.
b.
c.
d.
e.

3.

Perubahan pola berkemih dan buang air besar (Inkontinensia)


Bising usus negative

Pola aktifitas dan latihan


a.
b.
c.
d.
e.

5.

Riwayat epilepsy
Nafsu makan hilang
Adanya mual, muntah selama fase akut
Kehilangan sensasi pada lidah, pipi dan tenggorokan
Kesulitan menelan (gangguan pada refleks palatum dan Faringeal)

Pola eliminasi
a.
b.

4.

Riwayat keluarga denga tumor


Terpapar radiasi berlebih.
Adanya riwayat masalah visual-hilang ketajaman penglihatan dan diplopia
Kecanduan Alkohol, perokok berat
Terjadi perasaan abnormal
Gangguan kepribadian / halusinasi

Gangguan tonus otot terjadinya kelemahan otot, gangguan tingkat kesadaran


Resiko trauma karena epilepsy
Hamiparase, ataksia
Gangguan penglihatan
Merasa mudah lelah, kehilangan sensasi (Hemiplefia)

Pola tidur dan istirahat


Susah untuk beristirahat dan atau mudah tertidur

6.

Pola persepsi kognitif dan sensori


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.

7.

Pola persepsi dan konsep diri


a.
b.

8.

Pusing
Sakit kepala
Kelemahan
Tinitus
Afasia motorik
Hilangnya rangsangan sensorik kontralateral
Gangguan rasa pengecapan, penciuman dan penglihatan
Penurunan memori, pemecahan masalah
Kehilangan kemampuan masuknya rangsang visual
Penurunan kesadaran sampai dengan koma.
Tidak mampu merekam gambar
Tidak mampu membedakan kanan/kiri

Perasaan tidak berdaya dan putus asa


Emosi labil dan kesulitan untuk mengekspresikan

Pola peran dan hubungan dengan sesame


a.
b.

Masalah bicara
Ketidakmampuan dalam berkomunikasi ( kehilangan komunikasi verbal/ bicara
pelo)

9.

Reproduksi dan seksualitas


a.
b.

Adanya gangguan seksualitas dan penyimpangan seksualitas


Pengaruh/hubungan penyakit terhadap seksualitas

10. Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress


a.
b.
c.
d.
e.
f.

Adanya perasaan cemas,takut,tidak sabar ataupun marah


Mekanisme koping yang biasa digunakan
Perasaan tidak berdaya, putus asa
Respon emosional klien terhadap status saat ini
Orang yang membantu dalam pemecahan masalah
Mudah tersinggung

11. Sistem kepercayaan


Agama yang dianut, apakah kegiatan ibadah terganggu

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.

DP Pre-Operasi

2.

a.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual,

b.

muntah dan tidak nafsu makan / pertumbuhan sel-sel kanker


Nyeri kepala berhubungan dengan proses pertumbuhan sel-sel kanker pada

c.

otak/mendesak otak.
Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan gangguan pergerakan dan

d.

kelemahan.
Kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan kerusakan sirkulasi

e.

serebral.
Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan, perubahan peran,

f.

perubahan citra diri


Kurang pengetahuan tentang kondisi dan penanganan penyakit berhubungan

g.

dengan kurangnya informasi


Kecemasan berhubungan dengan rencana pembedahan

DP Post-Operasi
a.
b.

Nyeri yang berhubungan dengan efek dari pembedahan


Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan, perubahan peran,

c.

perubahan citra diri.


Kurang pengetahuan tentang tumor otak yang berhubungan dengan ketidaktahuan

d.

tentang sumber informasi


Kecemasan yang berhubungan dengan penyakit kronis dan masa depan yang
tidak pasti.

RENCANA KEPERAWATAN
1.

Diagnosa Keperawatan Pre-Operasi

a.

Dp 1. Nyeri berhubungan dengan proses pertumbuhan sel-sel kanker

1)

Tujuan : Nyeri berkurang sampai hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan

2)

Hasil yang diharapkan : Nyeri berkurang sampai dengan hilang

3)

Rencana Tindakan :
a)

Kaji karakteristik nyeri, lokasi, frekfensi

Rasional : mengetahui tingkat nyeri sebagai evaluasi untuk intervensi selanjutnya


b)

Kaji faktor penyebab timbul nyeri (takut , marah, cemas)

Rasional : dengan mengetahui faktor penyebab nyeri menentukan tindakan untuk


mengurangi nyeri

c)

Ajarkan tehnik relaksasi tarik nafas dalam

Rasional : tehnik relaksasi dapat mengatsi rasa nyeri


d)

Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik

Rasional : analgetik efektif untuk mengatasi nyeri


b.

Dp 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual,

muntah dan tidak nafsu makan.


1)

Tujuan : Kebutuhsn nutrisi dapat terpenuhi setelah dilakukan keperawatan

2)

Hasil yang diharapkan:

a)

Nutrisi klien terpenuhi

b)

Mual berkurang sampai dengan hilang.

3)

Rencana tindakan:
a)

Hidangkan makanan dalam porsi kecil tapi sering dan hangat.

Rasional : Makanan yang hangat menambah nafsu makan.


b)

Kaji kebiasaan makan klien.

Rasional : Jenis makanan yang disukai akan membantu meningkatkan nafsu makan
klien.
c)

Ajarkan teknik relaksasi yaitu tarik napas dalam.

Rasional : Tarik nafas dalam membantu untuk merelaksasikan dan mengurangi mual.
d)

Timbang berat badan bila memungkinkan.

Rasional : Untuk mengetahui kehilangan berat badan.


e)

Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian vitamin

Rasional : Mencegah kekurangan karena penurunan absorsi vitamin larut dalam lemak
c.

DP 3. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan gangguan pergerakan dan

kelemahan.
1)

Tujuan : Gangguan mobilitas fisik teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan

2)

Kriteria Hasil : Pasien mendemonstrasikan tehnik / prilaku yang memungkinkan

dilakukannya kembali aktifitas.


3)

Rencana tindakan :
a)

Kaji derajat mobilisasi pasien dengan menggunakan skala ketergantungan

( 0-4 )
Rasional

: seseorang

dalam

semua

kategori

sama-sama

mempunyai

resiko

kecelakaan.
b)

Letakkan pasien pada posisi tertentu untuk menghindari kerusakan karena

tekanan.
Rasional : Perubahan posisi yang teratur meningkatkan sirkulasi pada seluruh tubuh.
c)

Bantu untuk melakukan rentang gerak

Rasional :Mempertahankan mobilisasi dan fungsi sendi


d)

Tingkatkan aktifitas dan partisipasi dalam merawat diri sendiri sesuai kemampuan

Rasional : Proeses penyembuhan yang lambat sering kali menyertai trauma kepala,
keterlibatan pasien dalam perencanaan dan keberhasilan.
e)

Berikan perawatan kulit dengan cermat, masase dengan pelembab.

Rasional : Meningkatkan sirkulasi dan elastisitas kulit

d.

Dp 4. Kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan kerusakan sirkulasi

serebral.
1)

Tujuan : Klien dapat membuat metode komunikasi dimana kebutuhan dapat di

ekspresikan
2)

Kriteria Hasil :

a)

Mengindikasikan pemahaman tentang masalah komunikasi

b)

Membuat metode komunikasi dimana kebutuhan dapat diekspresikan

c)

Menggunakan sumber-sumber dengan tepat

3)

Intervensi :
a)

Kaji tipe/derajat disfungsi seperti pasien tidak tampak memahami kata atau

mangalami kesulitan berbicara atau membuat pengertian sendiri


Rasional : Membantu menentukan daerah dan derajat kerusakan serebral yang terjadi
dan kesulitan pasien dalam bebrapa atau seluruh tahap proses komunikasi.
b)

Perhatikan kesalahan dalam komunikasi dan berikan umpan balik

Rasional : Pasien mungkin kehilangan kemampuan untuk memantau ucapn yang


keluar dan tidak menyadari bahwa komunikasi yang diucapkan tidak nyata.
c)

Minta pasien untuk mengikuti perintah sederhana

Rasional : menilai adanya kerusakan motorik


d)

Katakan secara langsung pada pasien, bicara perlahan dan tenang

Rasional : menurunkan kebingungan/ansietas selama proses komunikasi dan respon


pada informasi yang lebih banyak pada satu waktu tertentu.
e.

DP 5. Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan, perubahan peran,

perubahan citra diri.


1)

Tujuan : Gangguan harga diri teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan

2)

Kriteria Hasil : Klien dapat percaya diri dengan keadaan penyakitnya.

3)

Intervensi:
a)

Kaji respon, reaksi keluarga dan pasien terhadap penyakit dan penanganannya.

Rasional : Untuk mempermudah dalam proses pendekatan.


b)

Kaji hubungan antara pasien dan anggota keluarga dekat.

Rasional : Support keluarga membantu dalam proses penyembuhan.


c)

Libatkan semua orang terdekat dalam pendidikan dan perencanaan perawatan di

rumah.
Rasional : Dapat memudahkan beban terhadap penanganan dan adaptasi di rumah.
d)

Berikan waktu/dengarkan hal-hal yang menjadi keluhan.

Rasional : Dukungan yang terus menerus akan memudahkan dalam proses adaptasi.

f.

DP 6. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan penanganan penyakit

berhubungan dengan kurangnya informasi.


1)

Tujuan : Pengetahuan pasien bertambah mengenai kondisi dan penanganan penyakit

setelah dilakukan tindakan keperawatan


2)

Kriteria Hasil : Pasien mengerti penyebab ginjal dan komplikasinya.

3)

Rencana Keperawatan:
a)

Kaji pemahaman pasien, keluarga mengenai penyebab gagal ginjal dan

penanganannya.
Rasional : Instruksi dasar untuk penyuluhan lebih lanjut.
b)

Jelaskan fungsi renal dan konsekuensinya sesuai dengan tingkat pemahaman

klien.
Rasional : Menambah pengetahuan pasien.
c)

Bantu pasien untuk mengidentifikasi cara-cara memahami perubahan akibat

penyakit.
Rasional : Pasien dapat melihat bahwa kehidupannya tidak harus berubah.

DAFTAR PUSTAKA
Ovedoff, David. 2002. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Binarupa Aksara. Jakarta.
The Oncology Group. 2003. Cancer Management : A Multidiciplinary Approach. Oncology.
News Interantional. New York.
Curr Top Med Chem. 2005. 5(12) : 1151-1170. Combining Cytotoxic and Immune-Mediated
Gene Therapy to Traet Brain Tumors.
Neuro-oncol. 2005. 10. 1215/S1152851704000584. Well-differentiated Neurocytoma : What
Is The Best Avialable Treatment?
Batticaca, Fransisca B. 2008. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan System
Persyarafan. Jakarta : Salemba Medika.
Febri. 2012. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan System Persyarafan. Jakarta :
Salemba Medika.
Judha, Mohamad. 2011. Sistem Persyarafan dalam Asuhan Keperawatan. Yogyakarta :
Gosyen Publising.
Pearce, Evelyn C. 2009. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : Gramedia
Pustaka Utama.
Sylvia A. Price.1995.Patofisiologi, konsep klinik proses- proses penyakit ed. 4. Jakarta :
EGC
Tucker, Susan Marti dkk. 2007. Standart Keperawatan Pasien Perencanaan Kolaborasi &
Intervensi Keperawatan. Jakarta : EGC.
Wilkinson, Judith M. 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan : diagnosis NANDA,
intervensi NIC, criteria hasil NOC. Jakarta : EGC.