Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1
2.1.1

Kontrasepsi mantap wanita


Pengertian kontrasepsi mantap wanita
Kontrasepsi mantap wanita adalah suatu metode kontrasepsi yang bertujuan

untuk menghentikan kemampuan reproduksi wanita secara permanen yang


dilakukan dengan cara oklusi bilateral tuba fallopii sehingga ovum dan sperma
tidak dapat bersatu.1,2 Kontrasepsi mantap wanita disebut juga dengan Medis
Operatif Wanita (MOW).15 Kontrasepsi mantap wanita menjadi metode
kontrasepsi yang paling efektif bagi pasangan yang tidak menginginkan anak
lagi.2,3 Metode kontrasepsi ini merupakan metode yang paling aman dengan
komplikasi dan mortalitas yang rendah.2
2.1.2 Kelebihan dan kekurangan kontrasepsi mantap wanita
Kontrasepsi mantap wanita memiliki beberapa kelebihan diantaranya
metode kontrasepsi ini sangat efektif. Efektifitas kontrasepsi mantap wanita lebih
dari 99%.16 Kehamilan dapat terjadi pada 5 dari 1000 wanita yang menggunakan
kontrasepsi mantap wanita selama satu tahun.3 Efektivitas kontrasepsi mantap
wanita ini dapat mencegah kehamilan yang berisiko. Kontrasepsi mantap wanita
dapat dilakukan pada ibu menyusui karena tidak mempengaruhi produksi air susu
ibu. Selain itu, penggunaan kontrasepsi mantap wanita tidak mempengaruhi
kenyamanan saat hubungan seksual, tidak berefek pada produksi hormon ovarium
serta tidak memiliki efek samping dalam jangka panjang. Pembedahan yang
dilakukan sederhana dan menggunakan anastesi lokal.1 Penggunaan kontrasepsi
mantap wanita dapat mencegah pelvic inflamatory disease3 dan kanker
ovarium.1,3,17-19

6
Kekurangan kontrasepsi mantap wanita adalah sifatnya yang permanen dan
memungkinkan terjadinya penyesalan dikemudian hari. Tindakan operasi
kontrasepsi mantap wanita harus dilakukan oleh dokter yang terlatih. Setelah
tindakan biasanya klien merasa pusing, mual, lemas dan nyeri abdomen selama
satu sampai tiga hari.1 Komplikasi dapat terjadi walaupun kemungkinannya kecil
seperti perdarahan, infeksi dan abses.1,3 Kontrasepsi mantap wanita tidak dapat
melindungi penggunanya dari infeksi menular seksual.1
2.1.3 Indikasi dan kontraindikasi kontrasepsi mantap wanita
Ibu yang tidak menginginkan anak lagi atau meminta melakukan
kontrasepsi mantap wanita setelah mendapatkan konseling tentang kontrasepsi
serta mengisi surat persetujuan tindakan medis merupakan indikasi kontrasepsi
mantap wanita.2,20 Konseling adalah proses komunikasi dimana satu orang
membantu individu lain, pasangan atau kelompok untuk mengidentifikasi
kebutuhan mereka serta membuat suatu pilihan dan keputusan.2 Konselor harus
menyampaikan informasi lengkap dan objektif tentang keuntungan, keterbatasan
berbagai metode kontrasepsi, jangka waktu efektif kontrasepsi, angka kegagalan,
efek samping, komplikasi dan kesesuaian mekanisme kerja kontrasepsi dengan
karakteristik dan keinginan klien.3,21
Setelah klien mengerti tentang kontrasepsi mantap wanita dan konsekuensi
dari tindakan tersebut, klien harus menandatangani surat persetujuan tindakan
medis (informed consent). Informed consent adalah persetujuan yang diberikan
oleh klien atau keluarganya atas dasar informasi dan penjelasan mengenai
tindakan medis yang akan dilakukan terhadap klien tersebut. Setiap tindakan
medis yang mempunyai risiko harus mendapatkan persetujuan tertulis yang
ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan yaitu klien yang

7
bersangkutan dalam keadaan sadar dan sehat mental. Persetujuan tindakan medis
pada kontrasepsi mantap wanita juga harus ditandatangani oleh suami.1
Kontrasepsi mantap wanita dapat dilakukan pada ibu dengan usia lebih dari
26 tahun, paritas lebih dari dua, yakin telah mempunyai besar keluarga yang
sesuai dengan keinginan serta paham dan secara sukarela setuju dengan prosedur
kontrasepsi mantap wanita. Kontrasepsi mantap wanita juga dapat dilakukan pada
ibu dimana kehamilan akan menimbulkan risiko kesehatan yang serius.1
Umumnya, tidak ada kondisi medis yang secara mutlak menjadi
kontraindikasi kontrasepsi mantap wanita. World Health Organization (WHO)
membagi persyaratan medis dalam menggunakan kontrasepsi mantap wanita ke
dalam empat kategori yaitu kategori A, B, C dan D. Kategori A berarti tidak ada
alasan medis yang merupakan kontraindikasi dilakukannya kontrasepsi mantap
wanita seperti pascapersalinan kurang dari 7 hari dan lebih dari 42 hari, pascaabortus tanpa komplikasi, riwayat kehamilan ektopik dan hipertensi dalam
kehamilan. Kategori B berarti tindakan kontrasepsi mantap wanita dapat
dilakukan tetapi dengan persiapan dan kewaspadaan khusus. Ibu yang obesitas
dengan indeks massa tubuh lebih dari 30 kg/m2, ibu dengan hipertensi terkontrol,
anemia dengan kadar hemoglobin 7-10g% termasuk ke dalam kategori B.22
Tindakan kontrasepsi mantap wanita ditunda sampai kondisi medis tersebut
dapat dikoreksi digolongkan ke dalam kategori C. Beberapa kondisi medis yang
termasuk kategori C seperti pada keadaaan hamil, pascapersalinan (7 sampai 41
hari), eklampsi, perdarahan antepartum dan pascakeguguran, trauma berat pada
genital pascapersalinan dan pascakeguguran, sepsis pascakeguguran dan infeksi
nifas serta perdarahan pervaginam yang tidak diketahui penyebabnya. Kategori D

8
berarti kontrasepsi mantap wanita dilakukan oleh tenaga yang sangat
berpengalaman dan tersedia perlengkapan anastesi dan fasilitas penunjang
lainnya. Kondisi medis yang tergolong ke dalam kategori D seperti ruptur uteri,
hipertensi lebih dari 160/100 mmHg atau hipertensi dengan penyakit vaskular,
penyakit jantung iskemik, diabetes melitus dengan komplikasi dan perlekatan
uterus karena pembedahan atau infeksi terdahulu.22
2.1.4

Waktu pelaksanaan kontrasepsi mantap wanita


Waktu pelaksanaan kontrasepsi mantap wanita sangat menentukan lokasi

insisi pada abdomen karena berhubungan dengan letak tuba fallopii.17,20


Kontrasepsi mantap wanita dapat dilakukan pascapersalinan, pascakeguguran dan
masa interval.1,2,18,21,23
1. Pascapersalinan
Kontrasepsi mantap wanita dilakukan dalam 7 hari setelah melahirkan.
Waktu terbaik adalah dalam 48 jam pascapersalinan. Tinggi fundus uteri
diperkirakan berada di atas atau di bawah umbilicus. Tuba fallopii berada pada
1,5-2 cm dari fundus sehingga insisi dilakukan pada subumbilicus. Jika dilakukan
dalam 3-7 hari pascapersalinan, tuba fallopii sulit dicapai dari insisi subumbilicus
karena involusi dari uterus.2,18,21 Minilaparotomi merupakan prosedur yang aman
dan mudah dilakukan pascapersalinan.18,21
Keuntungan medis kontrasepsi mantap wanita pascapersalinan berupa
perawatan setelah operasi bersamaan dengan perawatan pascapersalinan, insisi
kecil sekitar 1,5-3 cm dan tuba fallopii mudah dicapai serta menggunakan anestesi
lokal. Selain itu, pemeriksaan yang kurang nyaman seperti dalam masa interval
tidak perlu dilakukan yakni pemeriksaan bimanual, posisi litotomi, pemasangan
tenakulum dan insersi manipulator uterus.21

9
2. Pascakeguguran
Kontrasepsi mantap wanita dilakukan dalam satu minggu setelah
keguguran.1,17 Fundus uteri berada sama tinggi atau melampaui tepi atas simfisis
sehingga insisi akan dilakukan pada 2-2,5 cm dari tepi atas simfisis.21 Prosedur
yang bisa dilakukan adalah minilaparotomi dan laparoskopi.18
3. Masa interval
Prosedur ini umumnya dilakukan setelah haid (dalam 7 hari setelah haid),
klien yang sedang menggunakan salah satu alat kontrasepsi atau suatu kondisi
dimana kemungkinan hamil dapat disingkirkan. Lokasi dan jenis insisi, sama
dengan kontrasepsi mantap wanita pascakeguguran tetapi proses untuk mencapai
tuba menggunakan elevator uterus agar tuba dapat terlihat.2,3,18,21
2.1.5

Persiapan pre-operatif
Anamnesis dilakukan untuk mengetahui identitas klien dan keluarga,

riwayat obstetrik dan riwayat pemakaian kontrasepsi. Perlu ditanyakan riwayat


penyakit sekarang dan riwayat penyakit dahulu, riwayat operasi khususnya
abdomen dan pelvis, riwayat alergi obat dan pengobatan yang sedang dijalani.21
Pemeriksaan fisik terdiri dari berat badan dan tinggi badan, suhu, nadi,
tekanan darah, pemeriksaan jantung dan paru, pemeriksaan abdomen,
pemeriksaan kulit pada daerah insisi dan pemeriksaan lain sesuai dengan hasil
anamnesis. Pemeriksaan terhadap komplikasi pascapersalinan dan
pascakeguguran harus dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya
kontraindikasi.2 Kontrasepsi mantap wanita yang dilakukan pada masa interval
perlu dilakukan pemeriksaan pelvis dan fiksasi uterus.1 Kontrasepsi mantap pada
wanita dapat dilakukan tanpa pemeriksaan laboratorium.3

10
2.1.6

Prosedur kontrasepsi mantap wanita


Langkah pertama yang harus dilakukan adalah konseling prabedah dengan

menanyakan jumlah anak dan riwayat obstetri serta mempelajari catatan medik
untuk kemungkinan kontraindikasi. Langkah selanjutnya yang perlu dilaksanakan
pada kontrasepsi mantap wanita yang dilakukan pada masa interval adalah
pemeriksaan pelvis dan fiksasi uterus sedangkan kontrasepsi mantap wanita yang
dilakukan pascapersalinan tidak diperlukan pemeriksaan ini.1
Prosedur kontrasepsi mantap wanita dapat dikelompokan menjadi 2 yaitu
prosedur untuk mencapai tuba fallopii dan prosedur oklusi tuba fallopii.18
1. Prosedur untuk mencapai tuba fallopii
a. Abdominal
Terdiri dari minilaparotomi, laparoskopi dan laparotomi. Minilaparotomi
merupakan laparotomi sederhana dengan menggunakan insisi kurang dari 5 cm.
Insisi subumbilikus dilakukan pada kontrasepsi mantap wanita pascapersalinan
sedangkan insisi suprapubik digunakan untuk prosedur yang dilakukan pada masa
interval dan pascakeguguran.2,18 Minilaparotomi memiliki beberapa keuntungan.
Pertama, minilaparotomi dapat dilakukan pada masa interval, pascapersalinan dan
pascakeguguran dengan menggunakan anastesi lokal sehingga tidak hanya dapat
dilakukan oleh dokter spesialis tetapi juga dapat dilakukan oleh dokter umum
yang telah mengikuti pelatihan. Kedua, minilaparotomi merupakan prosedur yang
aman dan efektif sehingga tidak meningkatkan lama rawatan di rumah sakit.18
Laparoskopi menggunakan endoskopi yang dimasukan melalui insisi
sebesar 1-1,5 cm pada subumbilicus. Prosedur ini dapat dilakukan pada masa
interval dan aborsi inkomplit trimester pertama.2,3,21 Jika dibandingkan dengan
minilaparotomi, komplikasi dengan prosedur laparoskopi lebih besar.18

11
Laparotomi dilakukan dengan insisi lebih dari 5 cm dengan anastesi umum
maupun anastesi regional. Prosedur ini meningkatkan lama rawatan dan
komplikasi yang lebih besar dibanding minilaparotomi. Kontrasepsi mantap
wanita dengan prosedur laparotomi hanya dilakukan bersamaan dengan seksio
cesaria atau operasi ginekologi. Prosedur laparotomi juga dilakukan pada wanita
dengan obesitas dan perlengketan tuba fallopii akibat infeksi atau operasi
sebelumnya.2,18
b. Transvaginal
Akses untuk mencapai tuba fallopii melalui vagina dengan insisi kecil pada
forniks posterior menggunakan alat (culdoscope) maupun dengan visualisasi
secara langsung (culpotomy). Pendekatan ini tidak direkomendasikan karena
memiliki angka infeksi dan angka kegagalan yang lebih tinggi.2,18,23
c. Transcervical (histereskopi)
Sterilisasi dengan menggunakan histereskop untuk melihat ostium tuba dan
menutupnya. Prosedur ini sedang dalam penelitian.17,18,23

2. Prosedur oklusi tuba fallopii


Ada empat metode dalam oklusi tuba fallopii yaitu ligasi dan eksisi,
menggunakan alat seperti klip dan ring, elektrokuagulasi2,15,18 serta menggunakan
zat kimia.15,18
Ada beberapa teknik yang digunakan pada metode ligasi dan eksisi, diantaranya:
a. Teknik Pomeroy
Teknik ini sederhana, mudah dan paling banyak digunakan di dunia.
Pengikatan tuba menggunakan benang yang cepat diserap. Lokasi reseksi parsial
pada pars isthmica. Angka kegagalan teknik ini berkisar antara 0,3-1,2%.18,21,23

12
Bila lokasi reseksi tepat pada pars isthmica dan bagian yang diangkat tidak
melebihi dari 2,5 cm, maka prosedur dan pemulihan fungsi transportasi melalui
rekanalisasi akan mudah dan baik.21
b. Teknik Parkland/Uchida
Tuba bagian isthmika diikat pada 2 tempat dengan jarak 2,5 cm. Setelah
diikat tuba dipotong di antara kedua ikatan tersebut. Pemotongan dilakukan pada
2 mm dari simpul sehingga panjang tuba yang direseksi parsial adalah sekitar 2
cm.18,21,23
c. Teknik Irving
Teknik ini diawali dengan membebaskan tuba dari mesosalping, kemudian
potong di bagian tengah. Tunggul tuba dekat fimbriae diikat dan kemudian
ditanamkan ke dalam mesosalping. Tunggul dekat pangkal tuba diikat kemudian
ditarik dan ditanamkan ke dalam miometrium korpus uteri bagian belakang. 18,21,23
Angka kegagalan teknik ini sangat rendah tetapi upaya rekanalisasi sangat
sulit.18,21
d. Teknik Kroener
Teknik Kroener disebut juga dengan fimbriektomi dimana dilakukan
pengikatan pada bagian distal tuba dan eksisi fimbriae.18,21,23 Angka kegagalan
dengan teknik ini sekitar 2-3 % dan prosedur rekanalisasi sulit untuk dilakukan.21
Oklusi tuba fallopii menggunakan alat seperti klip dan ring untuk memblok
tuba tanpa melakukan eksisi. Metode ini biasanya digunakan bersamaan dengan
laparoskopi.17,18 Elektrokoagulasi adalah tindakan membakar suatu segmen dari

13
tuba fallopii dengan arus listrik frekuensi tinggi atau dengan panas sehingga
terjadi oklusi dari tuba fallopii. Oklusi tuba fallopii dengan elektrokoagulasi
sangat efektif dan cepat tetapi memerlukan alat yang mahal dan risiko morbiditas
luka bakar tinggi. Oklusi tuba fallopii menggunakan zat kimia dilakukan dengan
cara memasukan zat kimia tersebut melalui servik ke dalam utero-tubal junction.15
2.1.7

Pasca-operasi
Setelah tindakan operasi kontrasepsi mantap wanita dilakukan, pemeriksaan

tekanan darah dan nadi dilakukan setiap 15 menit. Lakukan pemeriksaan romberg
sign dimana pasien diminta berdiri dengan mata tertutup. Pasien dapat
dipulangkan bila telah tampak stabil.1 Sebelum pulang, pasien diberikan
penjelasan agar istirahat di rumah selama 1-2 hari untuk mengurangi risiko
terjadinya komplikasi dan dapat melakukan aktivitas ringan setelah 2-3 hari serta
aktivitas seperti biasa dapat dimulai setelah 1 minggu termasuk hubungan seksual.
Pasien diminta untuk menjaga luka agar tetap bersih dan kering, mandi setelah 24
jam dan menjaga pakaian tetap kering.1,3
Pasien dapat merasakan nyeri bahu dan rasa tidak nyaman di perut yang
dirasakan selama 24-48 jam karena penumpukan gas di dalam rongga peritonium.
Untuk mengurangi nyeri dapat diberikan analgetik (ibuprofen) setiap 4-6 jam. 1,23
Beritahu pasien untuk segera memeriksakan diri jika terdapat gejala seperti
demam lebih dari 38oC, pusing, nyeri perut menetap atau meningkat, keluar cairan
atau darah dari tempat insisi. Kontrol ulang setelah 1 minggu pascatindakan dan
kontrol lanjutan seminggu kemudian1,3
2.1.8

Komplikasi tindakan kontrasepsi mantap wanita

14
Komplikasi dari kontrasepsi mantap wanita dapat berupa infeksi

pada

daerah insisi, perdarahan intraperitonium yang biasanya terjadi pada kontrasepsi


mantap wanita dengan teknik laparoskopi, infeksi pelvis, tromboembolus,
peritonitis, perforasi uterus dan vesica urinaria serta kehamilan ektopik.2,3,24
2.2 Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil tahu setelah seseorang melakukan
pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Sebagian besar pengetahuan manusia
diperoleh melalui mata dan telinga.25-27 Pengetahuan merupakan domain yang
sangat penting dalam pembentukan perilaku karena perilaku yang didasari
pengetahuan akan bertahan lama dibandingkan perilaku yang tidak didasari
pengetahuan.26,27
Pengetahuan mempunyai 6 tingkatan yaitu:
a. Tahu
Tahu diartikan mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.
Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk
mengukur orang tahu apa yang dipelajari menggunakan kata menyebutkan,
menguraikan, mendefinisikan dan menyatakan.
b. Memahami
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara
benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikannya. Orang
yang telah paham terhadap objek atau materi dapat menjelaskan, menyebutkan
contoh dan menyimpulkan.
c. Aplikasi
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah dipelajari pada kondisi yang sebenarnya.
d. Analisis
Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan materi atau objek
ke dalam komponen-komponen di dalam satu struktur organisasi dan memiliki

15
kaitan satu sama lain. Kemampuan analisis dapat dilihat dari penggunaan kata
kerja seperti menggambarkan, membedakan dan mengelompokkan.
e. Sintesis
Sintesis menunjukkan suatu kemampuan untuk menghubungkan bagianbagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Sintesis merupakan suatu
kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
f. Evaluasi
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu

materi atau objek. Penilaian ini

didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria
yang telah ada.25-27
Pengetahuan dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor
internal yang mempengaruhi pengetahuan adalah pendidikan, pekerjaan dan umur.
Pendidikan sangat erat hubungannya dengan pengetahuan karena pendidikan
diperlukan untuk mendapatkan informasi. Semakin tinggi tingkat pendidikan
seseorang semakin mudah untuk menerima informasi. Umur juga mempengaruhi
pengetahuan seseorang yang dikaitkan dengan pengalaman dan kematangan jiwa.
Selain faktor internal, faktor eksternal seperti lingkungan dan sosial budaya ikut
mempengaruhi pengetahuan seseorang.28
Pengetahuan mengenai kontrasepsi dipengaruhi oleh umur, pendidikan dan
pendapatan. Sepertiga dari ibu yang buta huruf mengetahui kontrasepsi modern
sedangkan kelompok ibu yang berpendidikan sekolah menengah keatas, tiga
perempatnya mengetahui kontrasepsi modern. Semakin tinggi pendapatan semakin
tinggi pengetahuan mengenai kontrasepsi modern. 70 % ibu yang berpendapatan
tinggi mengetahui kontrasepsi modern, berkurang menjadi 50% dan 33% pada
pendapatan sedang dan rendah.11 Pengaruh media massa juga berhubungan dengan
pengetahuan wanita usia subur mengenai kontrasepsi.29

16
Pengetahuan dapat diukur dengan menggunakan metode wawancara atau
angket dengan menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek
penelitian.25-27 Menurut Arikunto pengetahuan dapat dikategorikan menjadi
pengetahuan baik (76%-100%), pengetahuan cukup (56%-75%) dan pengetahuan
kurang (kurang dari 56%).28
2.3 Sikap
Sikap adalah reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap
suatu stimulus atau objek yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang
bersangkutan. Sikap merupakan predisposisi perilaku dan kesiapan untuk bereaksi
terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai bentuk penghayatan objek tersebut.
Oleh karena itu, manifestasi sikap tidak dapat dilihat secara langsung.26,27
Menurut Allport sikap terdiri dari 3 komponen pokok. Pertama kepercayaan
atau keyakinan, ide dan konsep terhadap suatu objek (kognitif). Kedua, kehidupan
emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek (afektif). Ketiga,
kecenderungan untuk bertindak (konatif). 25-27,30
Sikap terdiri dari berbagai tingkatan, sebagai berikut:
a. Menerima
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus
yang diberikan (objek).
b. Merespon
Merespon yang berarti memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan
dan menyelesaikan tugas yang diberikan.
c. Menghargai
Menghargai diartikan subjek atau seseorang memberi nilai yang positif
terhadap objek atau stimulus, dalam arti membahasnya dengan orang lain, bahkan
mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain merespon.
d. Bertanggung jawab
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala
risiko merupakan sikap yang paling tinggi.25-27
Pembentukan sikap dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, pengaruh orang
lain yang diangggap penting, pengaruh kebudayaan, media massa, lembaga

17
pendidikan dan lembaga agama serta faktor emosional. Pengalaman pribadi harus
meninggalkan kesan yang kuat agar menjadi dasar pembentukan sikap. Sikap akan
lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi terjadi dengan melibatkan
faktor emosi sehingga penghayatan akan pengalaman lebih mendalam dan lebih
lama berbekas.30
Pengaruh orang lain yang dianggap penting merupakan komponen sosial
yang ikut mempengaruhi sikap. Orang-orang yang biasanya dianggap penting
adalah orang tua, orang dengan status sosial yang lebih tinggi, teman sebaya,
guru, istri dan suami. Individu cenderung memiliki sikap yang searah dengan
orang yang dianggap penting untuk menghindari konflik dengan orang tersebut.30
Kebudayaan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap,
begitu juga dengan media massa. Media massa menyampaikan informasi baru
yang memberikan landasan kognitif baru bagi terbentunya perilaku. Informasi
yang kuat akan memberikan dasar afektif dalam menilai hal yang disampaikan
sehingga terbentuklah sikap kearah tertentu. Lembaga pendidikan dan lembaga
agama mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap melalui menanaman
konsep moral dalam diri individu yang akan membentuk kepercayaan. Tidak
semua sikap terbentuk dari faktor lingkungan dan pengalaman pribadi. Sikap
dapat terbentuk dari emosi individu.30
Pengukuran sikap dilakukan dengan cara langsung dan tidak langsung.
Pengukuran sikap secara langsung dengan menanyakan bagaimana pendapat atau
pernyataan responden terhadap suatu objek.25-27 Pengukuran secara langsung dapat
juga dilakukan dengan menggunakan Skala Likert dimana pernyataan dijawab
dengan kata setuju atau tidak setuju dan diberi skor. Jika pernyataan positif sangat
setuju diberi skor lima, setuju diberi skor empat, netral skornya tiga, tidak setuju
skornya dua dan sangat tidak setuju skornya satu. Jika pernyataan negatif maka

18
sangat setuju diberi skor satu, setuju diberi skor dua, netral skornya tiga, tidak
setuju skornya empat dan sangat tidak setuju skornya lima. 25,31 Sikap dapat
dikategorikan menjadi sikap positif, sikap netral dan sikap negatif.30
2.4 Hubungan pengetahuan dan sikap terhadap pemakaian kontrasepsi
mantap wanita
Pengetahuan berhubungan dengan pemakaian kontrasepsi mantap wanita.
Penelitian yang dilakukan oleh Narzary di India pada tahun 2009 mendapatkan
bahwa pengetahuan tentang kontrasepsi mempengaruhi pemakaiannya.11
Penelitian Setiabudi yang menghubungkan pengetahuan tentang keluarga
berencana terhadap pemakaian kontrasepsi mantap wanita ternyata memiliki
hubungan yang bermakana dengan nilai p=0,029.13 Murti dalam penelitiannya
mendapatkan bahwa ibu yang mengetahui tentang kontrasepsi 29% memakai
kontrasepsi mantap wanita, sedangkan ibu yang tidak mengetahui tentang
kontrasepsi tidak ada yang menggunakan kontrasepsi mantap wanita.12
Setiabudi juga mendapatkan hubungan yang bermakna (p=0,000) antara
sikap terhadap pemakaian kontrasepsi mantap wanita. Responden yang bersikap
negatif terhadap kontrasepsi mantap wanita tidak ada yang menjadi akseptor
kontrasepsi mantap wanita, tetapi responden yang bersikap netral seperlimanya
Umur
memakai
kontrasepsi mantap wanita. Responden yang bersikap positif semuanya
Pendidikan
menjadiPekerjaan
akseptor kontrasepsi mantap wanita.13
Pengetahuan
Pendapatan
2.5 Kerangka
teori
Kerangka
teori pada penelitian ini adalah:
Media massa
Lingkungan
Sosial budaya

Pemakaian
kontrasepsi mantap wanita
Pengalaman pribadi
Pengaruh orang lain yang di anggap penting
Pengaruh kebudayaan
Media massa
Sikap
Lembaga pendidikan
dan agama
Emosional

19

Gambar 2.1 Kerangka teori

2.6

Kerangka konsep
Kerangka konsep pada penelitian ini adalah:

Pengetahuan
Sikap

Pemakaian
kontrasepsi mantap wanita

20
Gambar 2.2 Kerangka konsep