Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

LATAR BELAKANG
Mastoiditis akut (MA) merupakan salah satu komplikasi intratemporal Otitis

media (OM) yang tidak tertangani dengan baik. Mastoiditis adalah segala proses
peradangan pada sel- sel mastoid yang terletak pada tulang temporal. Lapisan epitel
dari telinga tengah adalah sambungan dari lapisan epitel mastoid air cells yang
melekat di tulang temporal. Mastoiditis dapat terjadi secara akut maupun kronis.1,2
Biasanya timbul pada anak-anak atau orang dewasa yang sebelumnya telah
menderita infeksi akut pada telinga tengah. Gejala-gejala awal yang timbul adalah
gejala-gejala peradangan pada telinga tengah, seperti demam, nyeri pada telinga,
hilangnya sensasi pendengaran, bahkan kadang timbul suara berdenging pada satu sisi
telinga (dapat juga pada sisi telinga yang lainnya). 2
Pada saat belum ditemukan-nya antibiotik, mastoiditis merupakan penyebab
kematian pada anak-anak serta ketulian/hilangnya pendengaran pada orang dewasa.
Jika tidak di obati, infeksi bisa menyebar ke sekitar struktur telinga tengah, termasuk
di antaranya otak, yang bisa menyebabkan infeksi yang serius. Saat ini, terapi
antibiotik ditujukan untuk pengobatan infeksi telinga tengah sebelum berkembang
menjadi mastoiditis, yang akhirnya bisa menyebabkan kematian. 3
Sebuah hasil pencitraan diagnostik merupakan sebuah referensi yang paling
berharga bagi ahli bedah kepala dan leher atau otolaryngologist, yang sangat
dibutuhkan dari pasien. Karena banyaknya bagian pendukung dan struktur dalam dari
sebuah kepala dan leher yang pemeriksaannya bukan hanya sekedar pemeriksaan
yang bersifat topografi (anatomi atau penentuan letak struktur) saja, tetapi juga
memerlukan pemeriksaan yang bersifat fisiologi. Beberapa pasien mungkin hanya
memerlukan pencitraan dignostik konvensional seperti film tipis sinar-X, atau
beberapa justru membutuhkan pencitraan dengan teknologi tinggi untuk memperoleh
hasil terbaik demi rencana terapi yang akan dia jalani nantinya. 3

1 | Mastoiditis Akut

BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1. DEFINISI
Otitis media (OM) khususnya yang kronik (otitis media supurasi kronik) adalah
infeksi telinga tengah yang ditandai oleh sekret telinga aktif atau berulang di telinga
tengah yang keluar melalui perforasi membran timpani yang kronik. OMSK yang
sukar disembuhkan dapat menyebabkan komplikasi luas. Umumnya penyebaran
bakteri merusak struktur di sekitar telinga atau telinga tengah itu sendiri. Komplikasi
ini bisa hanya otore yang menetap, mastoiditis, labirintitis, paralisis saraf fasialis
sampai komplikasi serius seperti abses intrakranial atau trombosis. Walau dalam
praktek kejadian komplikasi ini rendah, pengobatan harus secepat dan seefektif
mungkin untuk menghindari komplikasi. 1
Mastoiditis adalah inflamasi mastoid yang diakibatkan oleh suatu infeksi pada
telinga tengah, dan jika tak diobati dapat terjadi osteomielitis. Mastoiditis adalah
segala proses peradangan pada sel- sel mastoid yang terletak pada tulang temporal.
Mastoiditis akut (MA) merupakan perluasan infeksi telinga tengah ke dalam
pneumatic system selulae mastoid melalui antrum mastoid. 1,2

2 | Mastoiditis Akut

2.2. ANATOMI TELINGA


Telinga merupakan organ pendengaran sekaligus juga organ keseimbangan.
Telinga terdiri atas 3 bagian yaitu telinga luar, tengah dan dalam. 2,4,5,6

Gambar 1. Anatomi Telinga 3

a. Telinga Luar
Telinga luar terdiri atas aurikula dan meatus akustikus eksternus. Aurikula
disusun oleh tulang rawan elastin yang ditutupi oleh kulit tipis yang melekat erat pada
tulang rawan. Lekuk daun telinga yang utama ialah heliks dan antiheliks, tragus dan
antitragus, dan konka. 2,5,6

3 | Mastoiditis Akut

Gambar 2. Teling Luar 3

Meatus akustikus eksternus berbentuk huruf S, dengan panjangma kira-kira 2,53 cm, diameternya bervariasi yaitu lateral biasanya lebih lebar dari medial. Meatus
akustikus ekstenus terdiri dari Dua bagian yaitu bagian lateral dan medial. Bagian
lateral adalah pars kartilagenus yaitu 1/3 luar merupakan lanjutan dari aurikulum,
mempunyai rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar serumenalis serta kulit melekat erat
dengan perikondrium. Bagian medial adalah pars osseus yaitu 2/3 medial merupukan
bagian dari os temporalis, tidak berambut, ada penyempitan di istmus yaitu kira kira 5
mm dari membran timpani. Pada 2/3 bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar
serumen.2,4,5,6,7

4 | Mastoiditis Akut

b. Telinga Tengah
Telinga tengah atau rongga telinga adalah suatu ruang yang terisi udara yang
terletak di bagian petrosum tulang pendengaran. Telinga tengah berbentuk seperti
kubah dengan enam sisi. Ruang ini berbatasan di sebelah posterior dengan ruangruang udara mastoid dan disebelah anterior dengan faring melalui tuba Eustachius.
Epitel yang melapisi rongga timpani dan setiap bangunan di dalamnya merupakan
epitel selapis gepeng atau kuboid rendah, tetapi di bagian anterior pada pada celah
tuba eustachius epitelnya selapis silindris bersilia. 2,4,5,6
Telinga tengah mempunyai atap. lantai, dinding anterior, dinding posterior,
dinding lateral dan dinding medial. Atap dibentuk oleh lempeng tipis tulang, yang
disebut tegmen tympani, yang merupakan bagian dari pars petrosa ossis temporalis.
Lantai dibentuk di bawah oleh lempeng tipis tulang, yang mungkin tidak lengkap dan
mungkin sebagian diganti oleh jaringan fibrosa. Lempeng ini memisahkan cavum
tympani dari bulbus superior vena jugularis interna. Pada bagian dinding anterior
terdapat tuba eustachius. Di bagian dinding posterior terdapat sebuah lubang besar
yang tidak beraturan, yaitu aditus ad antrum. Dinding lateral dibentuk oleh membrana
timpani. Batas dalam berturut-turut dari atas ke bawah kanalis semi sirkularis
horizontal, kanalis fasialis, tingkap lonjong (oval window), tingkap bundar (round
window) dan promontorium. 2,4,6
Di bagian dalam rongga ini terdapat tiga jenis tulang pendengaran yaitu tulang
maleus, inkus dan stapes. Ketiga tulang ini merupakan kompak tanpa rongga sumsum
tulang. Tulang maleus melekat pada membran timpani. Tulang maleus dan inkus
tergantung pada ligamen tipis di atap ruang timpani. Lempeng dasar stapes melekat
pada tingkap celah oval (fenestra ovalis) pada dinding dalam. 2,4,6

5 | Mastoiditis Akut

Gambar 3. Teling Tengah 5

Ada dua otot kecil yang berhubungan dengan ketiga tulang pendengaran. Otot
tensor timpani terletak dalam saluran di atas tuba auditiva. tendonya berjalan mulamula ke arah posterior kemudian mengait sekeliling sebuah tonjol tulang kecil untuk
melintasi rongga timpani dari dinding medial ke lateral untuk berinsersi ke dalam
gagang maleus. Tendon otot stapedius berjalan dari tonjolan tulang berbentuk piramid
dalam dinding posterior dan berjalan anterior untuk berinsersi ke dalam leher stapes.
Otot-otot ini berfungsi protektif dengan cara meredam getaran berfrekuensi tinggi.
2,4,6,10

Membran timpani memisahkan meatus acusticus externus dan telinga tengah


Membran timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga
dengan diameter kira-kira 1 cm. Bagian atas disebut pars flaksida sedangkan bagian
bawah pars tensa. 2,4,5,6

6 | Mastoiditis Akut

Pars flaksida hanya berlapis dua, yaitu bagian luar ialah lanjutan epitel kulit
liang telinga dan bagian dalam dilapisi oleh sel kubus bersilia. pada pars fleksida
terdapat daerah yang disebut atik. Ditempat ini terdapat aditus ad antrum, yaitu
lubang yang menghubungkan telinga tengah dengan antrum mastoid. Pars tensa
mempunyai satu lapis lagi ditengah, yaitu lapisan yang terdiri dari serat kolagen dan
sedikit serat elastin yang berjalan secara radier dibagian luar dan sirkuler dibagian
dalam. Serat inilah yang menyebabkan refleks cahaya. Refleks cahaya terletak
dikuadran anterior inferior. Bayangan penojolan bagian bawah maleus pada membran
timpani disebut umbo. Dari umbo bermula suatu refleks cahaya (cone of light) ke
arah bawah yaitu pada pukul 7 untuk membran timpani kiri dan pukul 5 untuk
membran timpani kanan. 2,4,5,6
Membran timpani dibagi dalam 4 kuadran, dengan menarik garis searah
dengan prosessus longus maleus dan garis yang tegak lurus pada garis itu di umbo,
sehingga didapatkan bagian superior-antetior, superior-posterior, inferior-anterior
serta inferior-posterior. untuk menyatakan letak perforasi membran timpani. 2,4,5,6

Gambar 4. Membran Timpani 7

7 | Mastoiditis Akut

Prosessus mastoid sering disebut juga ujung mastoid (mastoid tip), merupakan
suatu tonjolan di bagian bawah tulang temporal yang dibentuk oleh prosesus
zigomatikus di bagian anterior dan lateralnya serta pars petrosa tulang temporal di
bagian ujung dan posteriornya.8,11,12
Pneumatisasi mastoid mulai setelah bayi lahir dan hampir lengkap pada usia 3
atau 4 tahun, kemudian berlangsung terus sampai usia dewasa. Pneumatisasi tersebut
saling berhubungan dan drainasenya menuju aditus ad antrum. Proses pneumatisasi
ini bervariasi dari orang ke orang sehingga terdapat 3 tipe pneumatisasi, yaitu
pneumatik, hampir seluruh proses mastoid terisi oleh pneumatisasi. pada tipe
sklerotik tidak terdapat pneumatisasi sama sekali, pada tipe diploik pneumatisasi
kurang berkembang. Ada juga yang membagi menjadi 4 tipe pneumatisasi yaitu
pneumatik, diploik, campuran dan sklerotik. Pada tipe pneumatik, hampir seluruh
proses mastoid terisi oleh pneumatisasi. Pada tipe diploik hampir selalu prosesus
mastoid terisi oleh lapisan diplo (tabula media). Pada tipe campuran, terjadi campuran
pneumatisasi dan diplo. Pada yang skilerotik tidak terjadi pneumatisasi maupun
lapisan diplo. 8,13
Rongga mastoid berbentuk seperti piramid bersisi tiga dengan puncak
mengarah ke kaudal. Atap mastoid adalah fossa kranii media. Dinding medial adalah
dinding lateral kranii posterior. Pada dinding anterior mastoid terdapat aditus ad
antrum. Tonjolan kanalis semisirkularis Interalis menonjol ke dalam antrum. Di
bawah kedua patokan ini berjalan saraf fasialis dalam kanalis tulangnya untuk keluar
dari tulang temporal melalui foramen stilomadtoideus di ujung anterior krista yang
dibentuk oleh insersio otot digastrikus. Dinding lateral mastoid adalah tulang
subkutan yang dengan mudah di palpasi di posterior aurikula. 6
Dari kavum timpani ada hubungan melalui aditus ad antrurn ke antrum
mastoideum ialah ruangan pertama dan terbesar dari sel-sel mastoideus. Antrum
mastoid terletak di belakang cavum timpani di dalam pars petrosa ossis temporalis
dan berhubungan dengan telinga tengah melelui aditus. Sel sel mastoid terletak di
sebelah luar suatu lempeng tulang yang biasanya dijumpai pada pertemuan prosesus
antrum os petrosa dan prosesus timpani os skuama (sutura petroskuamosa) yang
dikenal dengan nama septum Korner. 2,5,6

8 | Mastoiditis Akut

Dinding inferior berlubang-lubang, menghubungkan antrum dengan cellulae


mastoidea. Cellulae mastoidea adalah suatu seri rongga yang saling berhubungan di
dalam processus mastoideus, yang di atas berhubungan dengan antrum dan cavum
timpani. Cellulae mastoidea seluruhnya berhubungan dengan kavum timpani. Dekat
antrum sel-sel kecil, makin ke perifer sel-selnya bertembah besar oleh karena itu bila
terjadi radang pada sel-sel mastoid. drainase tidak begitu baik sehingga terjedi radang
pada mastoid yang disebut mastoiditis apabila terjadi terus menerus akan
berkomplikasi menjadi abses mastoid. 4,7
c. Telinga dalam
Telinga dalam adalah suatu sistem saluran dan rongga di dalam pars petrosum
tulang temporalis. Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua
setengah lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis.
Ujung atau puncak koklea disebut helikotrema menghubungkan perilimfe skala
timpani dengan skala vestibuli. 2,4
Kanalis semisirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan membentuk
lingkaran yang tidak lengkap. Pada irisan melintang koklea tampak skala vestibuli
sebelah atas, skala timpani di sebelah bawah dan skala media (duktus koklearis)
diantaranya. Skala vestibuli dan skala timpani berisi perilimfe, sedangkan skala
media berisi endolimfe. Hal ini penting untuk pendengaran. Dasar skala vestibuli
disebut sebegai membran vestibuli (Reissner's membrane) sedangkan dasar skala
medie adalah membran basalis. Pada membren ini tarletak organ Corti.2
Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang disebut membran
tektoria, dan pada membran basal melekat sel rambut yang terdiri dari sel rambut
dalam, sel rambut luar dan kanalis corti, yang membentuk organ corti.

9 | Mastoiditis Akut

Gambar 5. Telinga Dalam 8

Hubungan antara Telinga Tengah dan Tulang Mastoid


Telinga tengah yang terisi udara dapat dibayangkan sebagai suatu kotak dengan
enam sisi. Dinding posteriornya lebih luas daripada dinding anterior sehingga kotak
tersebut berbentuk baji. Promontorium pada dinding medial meluas ke lateral ke arah
umbo dari membran timpani sehingga kotak tersebut lebih sempit pada bagian
tengah.1,3,7,10
Dinding superior telinga tengah berbatasan dengan lantai fosa kranii media.
Pada bagian atas dinding posterior terdapat aditus ad antrum tulang mastoid dan di
bawahnya adalah saraf fasialis. Otot stapedius timbul pada daerah saraf fasialis dan
tendonnya menembus melalui suatu piramid tulang menuju ke leher stapes. Saraf
korda timpani timbul dari saraf fasialis di bawah stapedius dan berjalan ke lateral
depan menuju inkus tetapi di medial maleus, untuk keluar dari telinga tengah lewat
sutura petrotimpanika. Korda timpani kemudian bergabung dengan saraf lingua1is

10 | Mastoiditis Akut

dan menghantarkan serabut-serabut sekretomotorik ke ganglion submandibularis dan


serabut-serabut pengecap dari dua pertiga anterior lidah. 3,7,10

Gambar 6. Letak tulang mastoid pada telinga tengah 5

Dasar telinga tengah adalah atap bulbus jugularis yang di sebelah superolateral
menjadi sinus sigmodeus dan lebih ke tengah menjadi sinus transversus. Keduanya
adalah a1iran vena utama rongga tengkorak. Cabang aurikularis saraf vagus masuk ke
telinga tengah dari dasarnya. Bagian bawah dinding anterior adalah kanalis karotikus.
Di atas kanalis ini, muara tuba eustacius dan otot tensor timpani yang menempati
daerah superior tuba kemudian membalik, melingkari prosesus kokleariformis dan
berinsersi pada leher maleus. 3,7,10

11 | Mastoiditis Akut

Gambar 7. Letak Tulang mastoid di antara tulang-tulang sekitarnya 6

Dinding lateral dari telinga tengah adalah dinding tulang epitimpanum di bagian
atas, membrana timpani, dan dinding tulang hipotimpanum di bagian bawah.
Bangunan yang paling menonjol pada dinding medial adalah promontorium yang
menutup lingkaran koklea yang pertama. Saraf timpanikus berjalan melintas
promontorium ini. Fenestra rotundum terletak di posteroinferior dari promontorium,
sedangkan kaki stapes terletak pada fenestra ovalis pada batas posterosuperior
promontorium. Kanalis falopii bertulang yang dilalui saraf fasialis terletak di atas
fenestra ovalis mulai dari prosesus kokleariformis di anterior hingga piramid
stapedius di posterior. 1,3,7,10
Rongga mastoid berbentuk seperti piramid bersisi tiga dengan puncak
mengarah ke kaudal. Atap mastoid adalah fosa kranii media. Dinding medial adalah

12 | Mastoiditis Akut

dinding lateral fosa kranii posterior. Sinus sigmoideus terletak di bawah duramater
pada daerah ini. Pada dinding anterior mastoid terdapat aditus ad antrum. Tonjolan
kanalis semisirkularis lateralis menonjol ke dalam antrum. Di bawah ke dua patokan
ini berjalan saraf fasialis dalam kanalis tulangnya untuk keluar dari tulang temporal
melalui foramen stilomastoideus di ujung anterior krista yang dibentuk oleh insersio
otot digastrikus. Dinding lateral mastoid adalah tulang subkutan yang dengan mudah
dapat dipalpasi di posterior aurikula. 7,14
Dengan demikian, jika terjadi infeksi pada telinga tengah, akan sangat mudah
menjalar ke tulang mastoid, yang disebut mastoiditis. Proses mastoiditis yang
berkelanjutan inilah yang akan menyebabkan terjadinya abses mastoid. 7,14,15

2.3 FISIOLOGI TELINGA


a. Pendengaran
Mendengar adalah kemampuan untuk mendeteksi tekanan vibrasi udara tertentu
dan menginterpretasikannya sebagai bunyi. Telinga mengkonversi energi gelombang
tekenan menjadi impuls syaraf, dan korteks serebri mengkonversi impuls ini menjadi
bunyi. Bunyi memiliki frekuensi amplitude dan bentuk gelombang. Frekuensi
gelombang bunyi adalah kecepatan osilasi gelombang udara per unit waktu.2,4
Telinga manusia dapat menangkap frekuensi yang bervariasi dari sekitar 20
sampai 18.000 Hertz (Hz). Satu hertz adalah satu siklus per detik. Amplitudo adalah
ukuran energi atau intensitas fluktuasi tekanan. Gelombang bunyi dengan amplitude
yang berbeda di interpretasikan sebagai perbedaan dalam kekerasan. Ukuran bunyi
dalam decibel (dB). 2,4
Gelombang bunyi ditangkap oleh aurikulum dan ditransmisikan ke dalam
meatus akustikus eksternus kemudian bergerak menuju kanalis akustikus eksternus ke
arah membran timpani. Gelombang bunyi menyebabkan vibrasi membran timpani.
Sifat membrane adalah aperiodis yang tidak memiliki frekuensi alaminya sendiri
tetapi mengambil karakteristik vibrasi yang terjadi. 2,4
Getaran tersebut menggetarkan membran timpani diteruskan ke telinga tengah
melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran melalui

13 | Mastoiditis Akut

daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membaran timpani
dengan fenestra ovale. Muskulus stapedius dan tensor timpani berkontraksi secara
reflektorik sebagai respons terhadap bunyi yang keras. Kontraksi akan menyebabkan
membran timpani menjadi tegang osikular lebih kaku dan dengan demikian
mengurangi transmisi suara. 2,4,5
Energi getar yang telah diamplifikasikan ini diteruskan ke stapes yang akan
menggerakan fenestra ovale sehingga perilimfa pada skala vestibuli bergerak.
Getaran menggerakkan membrana Reissner mendorong endolimfa sehingga akan
menimbulkan gerakan relatif antara membran basilaris dan membran tektoria. 2,5
Proses ini merupakan rangsangan mekanik yang menyebabkan defleksi
seterosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi penglepasan ion
bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulken proses depolarisasi sel-sel
rambut sehingga melepaskan neurotransmiter ke dalam sinaps yang akan
menimbulkan potensial aksi pada auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius
sampai ke korteks pendengaran di lobus temporalis. 2,5

b. Keseimbangan
Keseimbangan dan orientasi tubuh seseorang terhadap lingkungan di
sekitarnya tergantung pada input sensorik dari reseptor vestibuler di labirin, organ
visual dan proprioseptif Reseptor keseimbangan terdiri dari macula yaitu reseptor
keseimbangan statis yang terdapat di utrikulus dan sakulus manakala krista ampularis
yaitu reseptor keseimbangan dinamis yang terdapat pada kanal semisirkular, bereaksi
terhadap gerekan rotasi pada sumbu bidang. 2,5
Gerakan atau perubahan kepala dan tubuh akan menimbulkan perpindahan
cairan endolimfa di labirin dan selanjutnya silia sel rambut akan menekuk. Tekukan
silia menyebabkan permeabilitas membran sel berubah, sehingga ion kalsium akan
masuk ke dalam sel yang menyebabkan terjadinya proses depolarisasi dan akan
merangsang

penglepasan

neurotransmitter

eksitator

yang

selanjutnya

akan

meneruskan impuls sensoris melalui saraf aferen kc pusat keseimbangan di otak.


Sewaktu berkas silia terdorong ke arah berlawanan, maka terjadi hiperpolarisasi. 2,5

14 | Mastoiditis Akut

Organ vestibuler berfungsi sebagai transduser yang mengubah energi mekanik


akibat rangsangan Otolit dan gerakan endolimfa di dalam kanalis semisirkularis
menjadi energi biolistrik, sehingga dapat memberi informasi mengenai perubahan
posisi tubuh akibat percepatan linier atau percepatan sudut. Dengan demikian dapat
memberi informasi mengenai semua gerak tubuh yang sedang berlangsung. 2,5
2.4. ETIOLOGI
Mastoiditis terjadi karena Streptococcus hemoliticus / pneumococcus. Selain
itu kurang dalam menjaga kebersihan pada telinga seperti masuknya air ke dalam
telinga serta bakteri yang masuk dan bersarang yang dapat menyebabkan infeksi
traktus respiratorius. Pada pemeriksaan telinga akan menunjukkan bahwa terdapat
pus yang berbau busuk akibat infeksi traktus respiratorius. 2
Mastoiditis adalah hasil dari infeksi yang lama pada telinga tengah, bakteri
yang didapat pada mastoiditis biasanya sama dengan bakteri yang didapat pada
infeksi telinga tengah. Bakteri gram negatif dan St. aureus adalah beberapa bakteri
yang paling sering didapatkan pada infeksi ini. Seperti telah disebutkan diatas, bahwa
keadaan-keadaan yang menyebabkan penurunan dari sistem imun dari seseorang juga
dapat menjadi faktor predisposisi mastoiditis. Pada beberapa penelitian terakhir,
hampir sebagian dari anak-anak yang menderita mastoiditis, tidak memiliki penyakit
infeksi telinga tengah sebelumnya. Bakteri yang berperan pada penderita anak-anak
ini adalah S. Pnemonieae. 2
Seperti semua penyakit infeksi, beberapa hal yang mempengaruhi berat dan
ringannya penyakit adalah faktor tubuh penderita dan faktor dari bakteri itu sendiri.
Dapat dilihat dari angka kejadian anak-anak yang biasanya berumur di bawah dua
tahun, pada usia inilah imunitas belum baik. Beberapa faktor lainnya seperti bentuk
tulang, dan jarak antar organ juga dapat menyebabkan timbulnya penyakit. Faktorfaktor dari bakteri sendiri adalah, lapisan pelindung pada dinding bakteri, pertahanan

15 | Mastoiditis Akut

terhadap antibiotik dan kekuatan penetrasi bakteri terhadap jaringan keras dan lunak
dapat berperan pada berat dan ringannya penyakit.2

2.5. DIAGNOSIS & CIRI KLINIS


Pasien mungkin memiliki gejala unik dari mastoiditis akut dan kronis.
Mastoiditis akut umumnya timbul setelah episode baru atau terjadi bersamaan dengan
otitis media akut (AOM) dan sering menyebabkan demam.

Gambar 8. Mastoiditis dengan abses subperiosteum. Perhatikan hilangnya


lekukan kulit dan abses yang menonjol. 3

Presentasinya bervariasi menurut usia dan tahap infeksi.

16 | Mastoiditis Akut

Penyakit kronis, yang dapat subklinis, sering terjadi sekunder pada


pengobatan sebagian AOM dengan antibiotik.

Otorrhea yang berlangsung lebih dari 3 minggu adalah tanda yang paling
konsisten yang menunjukkan bahwa proses kronis yang melibatkan
mastoideus telah terjadi.

Demam bisa ditemukan. Suhu pasien dapat tinggi.


o Demam dapat tak henti-hentinya pada mastoiditis akut dan mungkin
berhubungan dengan AOM terkait.
o Demam yang menetap, terutama jika pasien mendapatkan antimikroba
yang memadai dan tepat, adalah umum pada mastoiditis akut.

Nyeri dapat dilaporkan.


o Nyeri terlokalisir jauh di dalam atau di belakang telinga dan biasanya
lebih buruk pada malam hari.
o Nyeri yang menetap adalah tanda peringatan penyakit mastoideus.
Temuan ini mungkin sulit untuk mengevaluasi pada pasien muda.

Kehilangan pendengaran dapat terjadi.


o Hal ini biasa terjadi dengan semua proses melibatkan celah-tengah
telinga.
o Lebih dari 80% pasien tidak memiliki riwayat otitis media yang
berulang.

17 | Mastoiditis Akut

Gejala nonspesifik (paling umum diamati pada bayi) termasuk kehilangan


nafsu makan dan iritabilitas. 5

Pemeriksaan Fisik
Temuan pada mastoiditis akut dan kronis termasuk penebalan periosteal, abses
subperiosteal, otitis media, dan tonjolan nipplelike (seperti puting) dari membran
timpani pusat. Menentukan adanya penebalan periosteal memerlukan perbandingan
dengan bagian telinga yang lain. Perubahan posisi dari daun telinga ke arah bawah
dan ke luar (terutama pada anak-anak <2 tahun) atau ke atas dan ke luar (pada anakanak <2 tahun) dapat ditemukan. Abses subperiosteal merubah posisi aurikel ke
lateral dan melenyapkan lipatan kulit postauricular. Jika lipatan tetap ada, proses ini
terjadi di lateral periosteum. Otitis media terlihat pada pemeriksaan dengan otoskop.
Tonjolan nipplelike dari membran timpani sentral mungkin ada, ini biasanya
disertai rembesan nanah. Infeksi ringan persisten ( mastoiditis tersembunyi) dapat
terjadi pada pasien dengan otitis media rekuren atau efusi telinga persisten. Kondisi
ini dapat menyebabkan demam, sakit telinga, dan komplikasi lain.
Tanda-tanda mastoiditis akut adalah sebagai berikut:

Bulging membran timpani yang erythematous

Eritema, tenderness, dan edema di atas area mastoid

Fluktuasi postauricular

Tonjolan dari aurikula

Pengenduran dinding kanalis posterosuperior

Demam (terutama pada anak-anak <2 tahun)

18 | Mastoiditis Akut

Otalgia dan nyeri retroauricular (terutama pada anak-anak <2 tahun)


Temuan pada mastoiditis kronis mungkin konsisten dengan komplikasi ekstensi

ke luar prosesus mastoideus dan periosteum yang mengelilinginya atau dengan


komplikasi lain intratemporal seperti lumpuh wajah.
Tanda-tanda meliputi:

Membran timpani terinfeksi atau normal


Demam berulang atau persisten
Tidak adanya tanda-tanda eksternal dari peradangan mastoideus
Pemeriksaan neurologis umumnya menghasilkan temuan nonfocal. Namun,

keterlibatan saraf kranialis dapat terjadi pada penyakit lanjut.


Tanda-tanda meliputi:

Palsy dari saraf abducens (saraf kranial VI)

Palsy dari saraf wajah (saraf kranial VII)

Rasa nyeri dari keterlibatan cabang oftalmik dari saraf trigeminal. 5

Diagnosis
Diagnosis mastoiditis ditegakkan melalui gejala klinis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang radiologi yang menunjukkan mastoiditis baik foto polos
mastoid Schuller maupun CT scan mastoid. Dengan CT scan bisa dilihat bahwa air
cell dalam prosesus mastoideus terisi oleh cairan (dalam keadaan normal terisi oleh
udara) dan melebar.7,8,9
Pemeriksaan penunjang yang dapat diminta adalah, pemeriksaan kultur
mikrobiologi, hitung sel darah merah dan sel darah putih yang menandakan adanya

19 | Mastoiditis Akut

infeksi, pemeriksaan cairan sumsum untuk menyingkirkan adanya penyebaran ke


dalam ruangan di dalam kepala. Pemeriksaan lainnnya adalah CT-scan kepala, MRIkepala dan foto polos kepala. 2

Pemeriksaan Laboratorium

Spesimen dari sel-sel mastoid yang diperoleh selama operasi dan cairan
myringotomy, ketika diperoleh, harus dikirim untuk kultur bakteri aerobik dan
anaerobik, jamur, mikobakteri dan basil tahan asam.
o Jika membran timpani sudah perforasi, saluran eksternal dapat
dibersihkan, dan sampel cairan drainase segar diambil.
o Ketelitian adalah penting untuk mendapatkan cairan dari telinga
tengah dan bukan saluran eksternal.
o Kultur dan pengujian kepekaan terhadap isolat dapat membantu dalam
memodifikasi terapi inisial antibiotik.
o Hasil kultur yang dikumpulkan dengan benar untuk bakteri aerobik
dan anaerobik sangat membantu untuk pilihan terapi definitif.
o Pewarnaan Gram dari spesimen awalnya dapat membimbing terapi
antimikroba empiris.

Kultur darah harus diperoleh.

Pemeriksaan darah rutin dan laju sedimentasi dihitung untuk mengevaluasi


efektivitas terapi seterusnya.

Pemeriksaan LCS untuk evaluasi jika dicurigai perluasan proses ke


intrakranial. 5

20 | Mastoiditis Akut

2.6. TATALAKSANA
Biasanya gejala umum berhasil, diatasi dengan pemberian antibiotik, kadang
diperlukan miringotomi. Jika terdapat kekambuhan akibat nyeri tekan persisten,
demam, sakit kepala, dan telinga mungkin perlu dilakukan mastoidektomi.
Pengobatan dengan obat-obatan seperti antibiotik, anti nyeri, anti peradangan dan
lain-lainnya adalah lini pertama dalam pengobatan mastoiditis. Tetapi pemilihan anti
bakteri harus tepat sesuai dengan hasil test kultur dan hasil resistensi. Pengobatan
yang lebih invasif adalah pembedahan pada mastoid. Bedah yang dilakukan berupa
bedah terbuka, hal ini dilakukan jika dengan pengobatan tidak dapat membantu
mengembalikan ke fungsi yang normal. 2,7,8,15
Pengobatan berupa antibiotika sistemik dan operasi mastoidektomi. Meliputi dua hal
penting:1
1. Pembersihan telinga (menyedot/mengeluarkan debris telinga dan sekret)
2. Antibiotika baik peroral, sistemik ataupun topikal berdasarkan pengalaman
empirik dari hasil kultur mikrobiologi. Pemilihan antibiotika umumnya
berdasarkan efektifitas kemampuan mengeliminasi kuman (mujarab),
resistensi, keamanan, risiko toksisitas dan harga. Pengetahuan dasar tentang
pola mikroorganisme pada infeksi telinga dan uji kepekaan antibiotikanya
sangat penting

2.7. KOMPLIKASI
Mortalitas dan Morbiditas
Mastoiditis, ketika berlanjut di luar 2 tahap pertama dianggap sebagai
komplikasi otitis media. Komplikasi dari mastoiditis adalah perluasan lebih lanjut di
dalam atau di luar mastoideus itu sendiri. Komplikasi yang umum terjadi termasuk

21 | Mastoiditis Akut

kehilangan pendengaran dan perluasan dari proses infeksi di luar sistem mastoideus,
mengakibatkan komplikasi intrakranial atau ekstrakranial.
Komplikasi lainnya termasuk berikut ini :

Perluasan posterior ke sinus sigmoid, menyebabkan trombosis

Perluasan ke tulang oksipital, yang mengakibatkan osteomyelitis calvaria atau


abses Citelli

Perluasan superior ke fosa kranial posterior, ruang subdural, dan meninges

Perluasan anterior ke akar zygomatic

Perluasan lateral membentuk abses subperiosteal

Perluasan inferior membentuk abses Bezold

Perluasan medial ke apex petrous

Keterlibatan intratemporal saraf wajah dan / atau labirin. 5

BAB III
KESIMPULAN

22 | Mastoiditis Akut

Mastoiditis adalah segala proses peradangan pada sel- sel mastoid yang terletak
pada tulang temporal. Mastoiditis akut (MA) merupakan perluasan infeksi telinga
tengah ke dalam pneumatic system selulae mastoid melalui antrum mastoid.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik maupun
pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis ditemukan adanya keluhan seperti keluarnya
cairan dari telinga, demam, nyeri pada telinga, hilangnya pendengaran. Pada
pemeriksaan fisik

ditemukan eritema/kemerahan dan lunak pada belakang daun

telinga, dan abnormalitas dari membrane timpani.


Pada pemeriksaan otoskopi membran timpani biasanya merah, menonjol, kasus.
Pada mastoiditis kronik, membrane, timpani perforasi, kemerahan edema, dan
sensitive pada retroaurikular.
Pemeriksaan radiologi Ct-Scan

dilakukan untuk menilai perluasan dari

mastoiditis. Magnetic Resonance Imaging (MRI) bagus dalam menilai jaringan lunak
dan mastoid serta komplikasinya.
Terapi mastoiditis dapat berupa terapi medikamentosa yaitu pemberian
antibiotika, maupun terapi dengan operasi yaitu mastoidektomi. Keberhasilan terapi
tergantung sudah adakah komplikasi atau keterlibatan intrakranial.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

23 | Mastoiditis Akut

1. Nagel. Patrick, Gurkov. Roben. Dasar Dasar Ilmu THT. Penerbit buku kedokteran
EGC. Jakarta. 2009. Hal: 12-16
2. Soepardi. Efiaty Arsyad, Iskandar. Nurbaiti. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung - Tenggorokan - Kepala Leher. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Jakarta. 2001. Hal: 49-73
3. Cody. Thane R, Kern. Eugene B, pearson. Bruce W. Penyakit Telinga, Hidung Dan
Tenggorokan. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta. 2009. Hal: 104-118
4. BalIenger. John Jacob. Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher.
Binarupa Aksara. Jakarta. 1997. Hal: 404-430
5. Adams. George L, Boihes. lawrence R, Higler. Peter A. Boies Buku Ajar Penyakit
THT. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta. 1997. Hal: 88-117
6. Ludman . Harold, Bradley. Palrick J. ABC Telinga, Hidung, Dan Tenggorok.
Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta. 2009. Hal: 1-10
7. Iskandar. Nurbaiti, Soepardi. Efiaty Arsyad. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 1991.
Hal: 17-38
8. Iskandar. Nurbaiti. Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok untuk Perawat.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 1993. Hal:22-29
9. Broek. P Van Den, Debruyne F, FCC11.5. L, Martes H.A.M. Buku Saku Ilmu
Kesehatan Teuggorok, Hidung dan Telinga. Penerbit buku kedokteran EGC.
Jal.rta. 2010. Hal: 56-67
10. Helmi. Otitis Media Supuratif Kronis. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Jakarta 2005. Hal 1-68
11. R. Acharya, B. Tulachan. Journal Acute Mastoiditis With Facial Nerve Paralysis In
Acute Myeloid Leukemia. 2011.
12. Ozkaya. Halit, Akcan Abdullah Baris, Aydemir Gokhan. Mastoiditis in
childhood: Review of the literature. Department of Pediatrics, Gata
Haydarpasa Teaching Hospital, Uskudar, Istanbul, Turkey. November. 2011.
13. Dragoslava R Djeric, Miljan M Folic, Srbislav R Blazic, Igor B Djoric.
Journal Acute Mastoiditis in children as Persisting Problem. februari. 2014.
14. A. Ravi kumar, Senthil .K, Prasanna Kumar. S, Gopinath, Gaurav Bambha.
Primary Tubercular Mastoiditis - A Rare Presentation. November. 2007.
15. Tony E O'Connor, Christopher F Perry and Francis J Lannigan. Complications
of otitis media in indigenous and non-Indigenous children. Vo1ume 191
Number 9. November. 2009

24 | Mastoiditis Akut

25 | Mastoiditis Akut