Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peningkatan program ASI eksklusif merupakan salah satu bentuk usaha
pemerintah dalam hasil pencapaian Millenium development Goalas (MDGs) pada
tahun 2014 mengenai prevalensi gizi kurang dan gizi buruk , Fakta di Indonesi
amenunjukan bahwa cakupan ASI ekslusif sebagai salahsatu peningkatan gizi bayi
cenderung menurun pda 3 tahun terakhir ini (Depkes, 2011).
Manajemen Laktasi adalah suatu upaya yang dilakukan oleh ibu untuk
menunjang keberhasilan menyusui, Manajemen laktasi dimulai pada masa
kehamilan, setelah persalinan, dan masa menyusui bayi. Pada ibu bekerja ruang
lingkup manajemen laktasi periode postnatal meliputi ASI eksklusif, cara
menyusui, memeras ASI, menyimpan ASI peras, dan memberikan ASI peras.
(Siregar, 2009)
World Health Organization (WHO) merekomendasikan pamberian ASI
Eksklusif sekurang-kurangnya selama 6 bulan pertama kehidupan dan dilanjutkan
dengan makanan pendamping sampai usia 2 tahun, rekomendasi serupa juga oleh
American Academy of Pediatrics (AAP), Academy of Breasfeeding Medicine
demikian pula oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) (Suradi,dkk,2010).
Pencapaian ASI Eksklusif masih kurang, hal ini berdasarkan data yang
diperoleh dari profil kesehatan kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah tahun
2008 menunjukkan cakupan pemberian ASI eksklusif hanya sekitar 28,96%,
terjadi sedikit peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2007 yang mencapai
27,35%. Angka ini dirasakan masih sangat rendah bila dibandingkan dengan
target pencapaian ASI eksklusif tahun 2010 sebesar 80%. (Dinkes, 2008).
Beberapa hal yang menghambat pemberian ASI eksklusif diantaranya
adalah : rendahnya pengetahuan ibu dan keluarga lainnya mengenai manfaat ASI
dan cara menyusui yang benar, kurangnya pelayanan konseling laktasi dan
dukungan dari petugas kesehatan, faktor sosial budaya, gencarnya pemasaran susu
formula, dan faktor ibu yang bekerja.(Dinkes,2008).

B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan referat ini adalah untuk memberikan informasi ilmiah
mengenai laktasi meliputi anatomi payudara fisiolofi payudara, definisi laktasai,
manfaat laktasi dan manajemen laktasi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Laktasi
Laktasi adalah bagian terpadu dari proses reproduksi yang memberikan
makanan bayi secara ideal dan alamiah serta merupakan dasar biologik dan
psikologik yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. Air susu ibu(ASI) merupakan
makanan yang ideal bagi pertumbuhan neonates (Nugroho, 2011).
Komponen yang terkandung didalam ASI sebagai sumber nutrisi untuk
pertumbuhan dan perlindungan pertama terhadap infeksi. Proses pembentukan air
susu merupakan suatu proses yang kompleks melibatkan hipotalamus, dan
payudara yang telah dimulai saat fetus sampai pada paska persalinan. ASI yang
dihasilkan memiliki komponen yang tidak sama,dengan terjadinya kehamilan
pada wanita akan berdampak pada pertumbuhan payudara dan proses
pembentukan air susu (Laktasi). Laktasi adalah keseluruhan proses enyusui,mulai
dari ASI di produksi sampai bayi manghisap dan menelan (Prasetyono, 2009).
Laktasi adalah suatu seni yang harus di pelajari kembali tanpa diperlukan
alat-alat khusus dan biaya yang mahal, yang diperlukan adalah kesabaran, waktu,
pengetahuan tentang menyusui dan dukungan dari berbagai pihak khususnya
suami (Roesli, 2005).
B. Anatomi payudara
Kelenjar mammae (payudara) dimiliki oleh kedua jenis kelamin. Kelenjar
ini menjadi fungsional saat pubertas untuk merespons estrogen pada perempuan
dan pada laki-laki biasanya tidak berkembang. Saat kehamilan, kelenjar mammae
mencapai perkembangan puncaknya dan berfungsi untuk produksi susu (laktasi)
setelah melahirkan bayi (Sloane, 2004).
1. Struktur
Setiap payudara merupakan elevasi dari jaringan glandular dan adipose
yang tertutup kulit pada dinding anterior dada. Payudara terletak diatas otot
pektoralis mayor dan melekat pada otot tersebut melalui selapis jaringan ikat.
Variasi ukuran payudara bergantung pada variasi jumlah jaringan lemak dan
jaringan ikat dan bukan pada jumlah glandular aktual(Sloane, 2004).
3

a. Jaringan glandular terdiri dari 15 sampai 20 lobus mayor, setiap lobus


dialiri duktus laktiferusnya sendiri yang membesar menjadi sinus
lakteferus (ampula).
b. Lobus-lobus dikelilingi jaringan adipose dan dipisahkan oleh ligament
suspensorium cooper (berkas jaringan ikat fibrosa).
c. Lobus mayor bersubdivisi menjadi 20 sampai 40 lobulus, setiap lobulus
kemudian bercabang menjadi duktus-duktus kecil yang berakhir di alveoli
sekretori.
d. Puting memiliki kulit berpigmen dan berkerut membentang keluar sekitar
1 cm sampai 2 cm untuk membentuk aerola
2. Suplai darah dan aliran cairan limfatik payudara
a. Suplai arteri ke payudara berasal dari arteri mammaria internal, yang
merupakan cabang arteri subklavia. Konstribusi tambahan berasal dari
cabang arteri aksilari toraks. Darah dialirkan dari payudara melalui vena
dalam dan vena supervisial yang menuju vena kava superior.
b. Aliran limfatik dari bagian sentral kelenjar mammae, kulit, puting, dan
aerola adalah melalui sisi lateral menuju aksila. Dengan demikian, limfe
dari payudara mengalir melalui nodus limfe aksilar.
C. Fisiologi Laktasi
Laktasi adalah bagian terpadu dari proses reproduksi yang memberikan
makanan bayi secara ideal dan alamiah serta merupakan dasar biologik dan
psikologik yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. Air susu ibu(ASI) merupakan
makanan yang ideal bagi pertumbuhan neonates (Nugroho, 2011).
Komponen yang terkandung didalam ASI sebagai sumber nutrisi untuk
pertumbuhan dan perlindungan pertama terhadap infeksi. Proses pembentukan air
susu merupakan suatu proses yang kompleks melibatkan hipotalamus, dan
payudara yang telah dimulai saat fetus sampai pada paska persalinan. ASI yang
dihasilkan memiliki komponen yang tidak sama,dengan terjadinya kehamilan
pada wanita akan berdampak pada pertumbuhan payudara dan proses
pembentukan air susu (Laktasi). Laktasi adalah keseluruhan proses enyusui,mulai
dari ASI di produksi sampai bayi manghisap dan menelan (Prasetyono, 2009).

Laktasi adalah suatu seni yang harus di pelajari kembali tanpa diperlukan
alat-alat khusus dan biaya yang mahal, yang diperlukan adalah kesabaran, waktu,
pengetahuan tentang menyusui dan dukungan dari berbagai pihak khususnya
suami (Roesli, 2005).
Payudara wanita mengalami tiga jenis perubahan yang dipengaruhi oleh
hormon. Perubahan pertama dimulai dari masa hidup anak melalui masa pubertas
sampai menopause. Sejak pubertas, estrogen dan progesteron menyebabkan
berkembangnya duktus dan timbulnya sinus. Perubahan kedua, sesuai dengan
daur haid. Beberapa hari sebelum haid, payudara akan mengalami pembesaran
maksimal, tegang, dan nyeri. Oleh karena itu pemeriksaan payudara tidak
mungkin dilakukan pada saat ini. Perubahan ketiga terjadi pada masa hamil dan
menyusui. Saat hamil payudara akan membesar akibat proliferasi dari epitel
duktus lobul dan duktus alveolus, sehingga tumbuh duktus baru. Adanya sekresi
hormon prolaktin memicu terjadinya laktasi, dimana alveolus menghasilkan ASI
dan disalurkan ke sinus kemudian dikeluarkan melalui duktus ke puting susu
(Sjamsuhidajat, R., dan De Jong, W., 2005).
1. Keadaan yang dapat meningkatkan hormon Air susu ibu dan hormon prolaktin
Setiap kali bayi menghisap payudara akan merangsang ujung saraf
sensoris disekitar payudara sehingga merangsang kelenjar hipofisis bagian depan
untuk menghasilkan prolaktin. Prolaktin akan masuk ke peredaran darah
kemudian ke payudara menyebabkan sel sekretori di alveolus (pabrik ASI)
menghasilkan ASI(Siregar, 2009).
Prolaktin akan berada di peredaran darah selama 30 menit setelah dihisap,
sehingga prolaktin dapat merangsang payudara menghasilkan ASI untuk minum
berikutnya. Sedangkan untuk minum yg sekarang, bayi mengambil ASI yang
sudah ada.
Makin banyak ASI yang dikeluarkan dari gudang ASI (sinus laktiferus),
makin banyak produksi ASI. Dengan kata lain, makin sering bayi menyusui makin
banyak ASI diproduksi. Sebaliknya, makin jarang bayi menghisap, makin sedikit
payudara menghasilkan ASI. Jika bayi berhenti menghisap maka payudara akan
berhenti menghasilkan ASI.

Prolaktin umumnya dihasilkan pada malam hari, sehingga menyusui pada


malam hari dapat membantu mempertahankan produksi ASI. Hormon prolaktin
juga akan menekan ovulasi (fungsi indung telur untuk menghasilkan sel telur),
sehingga menyusui secara eksklusif akan memperlambat kembalinya fungsi
kesuburan dan haid. Oleh karena itu, menyusui pada malam hari penting untuk
tujuan menunda kehamilan.
2. Air susu ibu dan refleks oksitosin (Love reflex, Let Down Reflex)
Hormon oksitosin diproduksi oleh bagian belakang kelenjar hipofisis.
Hormon tersebut dihasilkan bila ujung saraf disekitar payudara dirangsang oleh
isapan. Oksitosin akan dialirkan melalui darah menuju ke payudara yang akan
merangsang kontraksi otot di sekeliling alveoli (pabrik ASI) dan memeras ASI
keluar dari pabrik ke gudang ASI. Hanya ASI di dalam gudang ASI yang dapat
dikeluarkan oleh bayi dan atau ibunya (Roesli,2005).
Oksitosin dibentuk lebih cepat dibanding prolaktin. Keadaan ini
menyebabkan ASI di payudara akan mengalir untuk dihisap. Oksitosin sudah
mulai bekerja saat ibu berkeinginan menyusui (sebelum bayi menghisap). Jika
refleks oksitosin tidak bekerja dengan baik, maka bayi mengalami kesulitan untuk
mendapatkan ASI. Payudara seolah-olah telah berhenti memproduksi ASI,
padahal payudara tetap menghasilkan ASI namun tidak mengalir keluar.
Efek penting oksitosin lainnya adalah menyebabkan uterus berkontraksi
setelah melahirkan. Hal ini membantu mengurangi perdarahan, walaupun kadang
mengakibatkan oksitosin Beberapa keadaan yang dianggap dapat mempengaruhi
(meningkatkan) produksi hormon oksitosin :
a. Perasaan dan curahan kasih sayang terhadap bayinya.
b. Celotehan atau tangisan bayi
c. Dukungan ayah dalam pengasuhan bayi, seperti menggendong bayi ke
ibu saat akan disusui atau disendawakan, mengganti popok dan
memandikan bayi, bermain, mendendangkan bayi dan membantu
pekerjaan rumah tangga
d. Pijat bayi

Beberapa keadaan yang dapat mengurangi produksi hormon oksitosin


a. Rasa cemas, sedih, marah, kesal, atau bingung
b. Rasa cemas terhadap perubahan bentuk pada payudara dan bentuk
tubuhnya, meniggalkan bayi karena harus bekerja dan ASI tidak
mencukupi kebutuhan bayi.
c. Rasa sakit terutama saat menyusui
3. Pada bayi terdapat 3 refleks sebagai mekanisme menyusui yaitu:
a. Reflek mencari ( Rooting Reflex }
Payudara ibu yang menempel pada pipi atau daerah sekeliling mulut
merupakan rangsangan yang menimbulkan reflek mencari pada bayi. Ini
menyebabkan kepala bayi berputar menuju putting susu yang menempel tadi
diikuti dengan membuka mulut dan kemudian putting susu ditarik masuk ke
dalam mulut.
b. Reflek menghisap ( Sucking Reflex )
Putting susu yang sudah masuk ke dalam mulut dengan bantuan lidah,
putting susu ditarik lebih jauh dan rahang rnenekan kalang payudara
dibelakang putting susu yang pada saat itu sudah terletak pada langit - langit
keras. Dengan tekanan bibir dan gerakan rahang secara berirama, maka gusi
akan menjepit kalang payudara dan sinus laktiferus, sehingga air susu akan
mengalir ke puting susu, selanjutnya bagian belakang lidah menekan putting
susu pada langit - langit yang mengakibatkan air susu keluar dari putting susu.
Cara yang dilakukan oleh bayi, tidak akan menimbulkan cedera pada putting
susu.
c. Reflek menelan (swallowing reflek )
Pada saat air susu keluar dari putting susu, akan disusul dengan
gerakan menghisap yang ditimbulkan oleh otot - otot pipi, sehingga
pengeluaran air susu akan bertambah dan diteruskan dengan mekanisme
menelan masuk ke lambung. Keadaan akan berbeda bila bayi diberi susu botol
dimana rahang mempunyai peranan sedikit di dalam menelan dot botol, sebab
susu mengalir dengan mudah dari lubang dot. Dengan adanya gaya berat, yang
disebabkan oleh posisi botol yang dipegang kearah bawah dan selanjutnya
7

dengan adanya isapan pipi, yang semuanya ini akan membantu aliran susu,
sehingga tenaga yang diperlukan oleh bayi untuk menghisap susu menjadi
minimal.
Kebanyakan bayi - bayi yang masih baru lahir belajar menyusu pada
ibunya, kemudian dicoba pada susu botol yang bergantian, maka bayi tersebut
akan menjadi bingung puting. Sehingga sering bayi menyusu pada ibunya,
cara menyusu seperti menghisap dot botol, keadaan ini berakibat kurang baik
dalam pengeluaran air susu ibu. Oleh karena itu, jika bayi terpaksa tidak bisa
langsung disusui oleh ibunya pada awal kehidupan, sebaiknya bayi diberi
minum melalui sendok, cangkir, atau pipet, sehingga bayi tidak mengalami
bingung puting.

D. Komponen Gizi ASI


Komposisi ASI tidak sama dari waktu ke waktu, hal ini berdasarkan
stadium laktasi. Komposisi ASI dibedakan menjadi 3 macam : (Perinasia,
2011)
1. Kolostrum
ASI yang dihasilkan pada hari pertama sampai hari ketiga setelah bayi
lahir. Kolostrum merupakan cairan yang agak kental berwarna kekuningkuningan, lebih kuning dibanding dengan ASI mature, bentuknya agak
kasar karenan mengandung butiran lemak dan sel-sel epitel, dengan kasiat
kolostrum sebagai berikut :
a. Sebagai pembersih selaput usus BBL sehingga saluran pencernaan
siap untuk menerima makanan
b. Mengandung kadar protein yang tinggi terutama gama globulin
sehingga dapat memberikan perlindungan tubuh terhadap infeksi
c. Mengandung zat antibodi sehingga mampu melindungi tubuh bayi
dari berbagai penyakit infeksi untuk jangka waktu sampai dengan 6
bulan.
2. ASI masa transisi
ASI yang dihasilkan mulai dari hari ke-4 sampai hari ke-10
3. ASI mature
ASI yang dihasilkan mulai dari hari ke-10 sampai seterusnya

Untuk lebih jelas perbedaan kadar gizi yang dihasilkan kolostrum, ASI
transisi dan ASI mature dapat dilihat pada tebel berikut ini : (Desi, 2008)
Tabel 1. Komposisi kandungan ASI
Kandungan
Energi (Kg kla)
Laktosa (gr/100 ml)
Lemak (gr/100 ml)
Protein (gr/100 ml)
Mineral (gr/100 ml)
Imunoglobulin :
Ig A (mg/100 ml)
Ig G (mg/100 ml)
Ig M (mg/100 ml)
Lisosim (mg/100 ml)
Laktoferin

Kolostrum
57,0
6,5
2,9
1,195
0,3
335,9
5,9
17,1
14,2-16,4
420-520

Transisi
63,0
6,7
3,6
0,965
0,3
-

ASI Matur
65,0
7,0
3,8
1,324
0,2
119,6
2,9
2,9
24,3-27,5
250-270

Tabel 2. Perbedaan komposisi ASI, susu sapid an susu formula


Komposisi/ 100 ml
Kalori
Protein
Lactalbumin (%)
Kasein (%)
Air (ml)
Lemak (gr)
Karbohidrat
Ash (gr)

ASI
matur
75
1,2
80
20
87,1
4,5
7,1
0,1

Susu
sapi
69
3,5
18
82
87,3
3,5
4,9
0,72

Susu formula
67
1,5
60
40
90
3,8
6,9
0,34

Mineral
Na
K
Ca
P
Mg
Fe
Zn
Vitamin
A (iu)
C (mg)
D (iu)
E (iu)
Thiamin (mg)
Riboflavin (mg)

16
53
33
14
4
0,05
0,15
182
5
2,2
0,08
0,01
0,04

50
144
128
93
13
Trace
0,04
140
1
42
0,04
0,04
0,03

21
69
46
32
5,3
1,3
0,42
210
5,3
42
0,04
0,04
0,06
9

Niacin (mg)
Ph
Bacteria iontent

0,2
Alkaline
Sterile

0,17
Acid
Nonsterile

0,7
Acid
sterile

E. ASI Eksklusif
1. Pengertian
ASI eksklusif atau lebih tepat pemberian ASI (Air Susu Ibu) secara
eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI saja, sejak usia 30 menit post natal
(setelah lahir) sampai usia 6 bulan, tanpa tambahan cairan lain seperti:
susu formula,sari buah, air putih, madu, air the, dan tanpa tambahan
makanan padat seperti buah-buahan, biskuit, bubur susu, bubur nasi dan
nasi tim (Perinasia 2011)
2. Manfaat ASI
Bagi Bayi
a. ASI sebagai nutrisi
ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan
komposisi yang seimbang dan disesuaikan dengan kebutuhan
pertumbuhan bayi. ASI adalah makanan bayi yang paling sempurna
baik kualitas maupun kuantitasnya.melalui penatalaksanaan menyusui
yang benar, ASI sebagai makanan tunggal akan cukup memenuhi
kebutuhan tumbuh bayi normal sampai usia 6 bulan.
ASI meningkatkan daya tahan tubuh bayi (Perinasia, 2011).
b. ASI sebagai kekebalan
Bayi baru lahir secara alamiah mendapatkan zat kekebalan dari
ibunya melalui plasenta, tetapi kadar zat tersebut akan cepat sekali
menurun segera setelah bayi lahir, padahal bayi sampai usia beberapa
bulan tubuh bayi belum dapat membentuk sendiri zat kekebalan secara
sempurna. Oleh karena itu, kadar zat kekebalan di dalam tubuh bayi
menjadi rendah. Hal ini akan tertutupi jika bayi menkonsumsi ASI.
ASI mengandung zat kekebalan yang akan melindungi bayi dari
bahaya penyakit dan infeksi, seperti: diare, infeksi telinga, batuk,

10

pilek, dan penyakit alergi (Roesli, 2000;Depkes 2001). Angka


morbiditas dan mortalitas bayi yang diberi ASI eksklusif jauh lebih
kecil dibanding bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif
(Perinasia, 2011).
c. ASI meningkatkan kecerdasan bayi
Bulan-bulan pertama kehidupan bayi sampai dengan usia 2
tahun adalah periode dimana terjadi pertumbuhan otak yang sangat
pesat. Periode ini tidak akan terulang lagi selama masa tumbuh
kembang anak. Oleh karena itu kesempatan ini hendaknya
dimanfaatkan sebaik-baiknya agar otak bayi dapat tumbuh optimal
dengan kualitas yang optimal. Pertumbuhan otak adalah faktor utama
yang mempenmgaruhi perkembangan kecerdasan. Sementara itu
pertumbuhan otak sangat dipengaruhi oleh nutrisi yang diberikan
kepada bayi baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Nutrisi
utama untuk pertumbuhan otak antara lain: Taurin, Lactosa, DHA,
AA, Asam Omega-3, dan Omega-6. Semua nutrisi yang dibutuhkan
untuk itu, bisa didapatkan dari ASI (Perinasia, 2011)
d. ASI meningkatkan jalinan kasih sayang
Pada waktu menyusu, bayi berada sangat dekat dalam dekapan
ibunya. Semakin sering bayi berada dalam dekapan ibunya,maka bayi
akan semakin merasakan kasih sayang ibunya. Ia juga akan merasa
aman, tentram, dan nyaman terutama karena masih dapat mendengar
detak jantung ibunya yang telah dikenalnya sejak dalam kandungan.
Perasaan terlindungi dan disayangi inilah yang akan menjadi dasar
perkembangan emosi bayi dan membentuk ikatan yang erat antara ibu
dan bayi.
Selain 4 manfaat pokok di atas, ada beberapa manfaat lain
pemberian ASI bagi bayi yaitu Asi mudah dicerna karena mengandung
enzi pencernaan sehingga bayi yang diberi ASI tidak mengalami
obstipasi (sembelit), dan ASI tidak memberatkan fungsi saluran

11

pencernaan dan ginjal yang belum sempurna. ASI juga menunjang


perkembangan motorik sehingga bayi ASI eksklusif akan lebih cepat
bisa jalan, membantu pembentukan rahang yang bagus, meningkatkan
daya penglihatan dan kepandaian bicara, mencegah obesitas
(kegemukan) pada bayi, dan mencegah anemia akibat kekurangan zat
besi. Selain itu, ASI mengurangi resiko terkena penyakit diabetes,
kanker pada anak, dan diduga mengurangi kemungkinan menderita
penyakit jantung (Perinasia, 2011).
Manfaat Menyusui Bagi Ibu
a. Mengurangi pendarahan dan anemia setelah melahirkan serta
mempercepat

pemulihan rahim ke bentuk semula (Dewi, 2007)

Menyusui bayi segera setelah melahirkan akan meningkatkan


kadar oksitosin di dalam tubuh ibu. Oksitosin berguna untuk proses
konstriksi/penyempitan

pembuluh

darah

di

rahim

sehingga

pendarahan akan lebih cepat berhentisehingga kemungkinan


terjadinya perdarahan dapat berkurang. Hal ini juga dapat
mengurangi terjadinya anemia pada ibu. Selain itu kadar oksitosin
yang meningkat juga sangat membantu mempercepat rahim kembali
mendekati ukuran seperti sebelum hamil. (Dewi, 2007)
b. Menjarangkan kehamilan
Menyusui/memberikan ASI pada bayi merupakan cara
kontrasepsi alamiah yang aman, murah, dan cukup berhasil. (Dewi,
2007)
c. Lebih cepat langsing kembali
Menyusui memerlukan energi yang besar. Tubuh ibu akan
mengambil sumber energi dari lemak-lemak yang tertimbun selama
hamil terutama di bagian paha dan lengan atas, sehingga berat badan
ibu yang menyusui akan lebih cepat kembali ke berat badan semula.
(Dewi, 2007)
d. Mengurangi kemungkinan menderita kanker

12

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa menyusui akan


mengurangi kemungkinan terjadinya kanker payudara dan akan
mengurangi resiko ibu terkena penyakit kanker indung telur. (Dewi,
2007)
e. Lebih ekonomis dan murah
ASI adalah jenis makanan bermutu yang murah dan
sederhana yang tidak memerlukan perlengkapan menyusui sehingga
dapat menghemat pengeluaran. Bayi yang diberi ASI eksklusif
mempunyai daya tahan tubuh yang kuat, sehingga bayi akan
terhindar dari berbagai macam penyakit dan infeksi. Hal tersebut
akan menghemat pengeluaran untuk berobat ke dokter atau rumah
sakit. (Dewi, 2007)
f. Tidak merepotkan dan hemat waktu
ASI sangt mudah diberikan tanpa harus menyiapkan atau
memasak air, juga tanpa harus mencuci botol.ASI mempunyai suhu
yang tepat sehingga dapat langsung diminumkan pada bayi, tanpa
perlu khawatir terlalu panas atau dingin. ASI dapat diberikan kapan
saja, dimana saja dan tidak perlu takut persediaan habis. (Dewi,
2007)
g. Portabel dan praktis
ASI mudah di bawa kemana-mana (portabel), siap kapan saja
dan dimana saja bila dibutuhkan. Pada saat berpergian tidak perlu
membawa peralatan untuk membuat susu dan tidak perlu membawa
alat listrik untu memasak atau menghangatkan susu serta tidak perlu
takut basi karena ASI di dalam payudara ibu tidak akan pernah basi.
h. Memberi kepuasan kepada ibu
Ibu yang berhasil memberikan ASI eksklusif akan merasa
puas, bangga dan bahagia yang mendalam(Dewi, 2007)
F. Manajemen Laktasi
1. Pengertian

13

Manajemen laktasi merupakan segala daya upaya yang dilakukan


untuk membantu ibu mencapai keberhasilan dalam menyusui bayinya. Usaha
ini

dilakukan

terhadap

ibu

dalam

tahap,yaitu

pada

masa

kehamilan(antenatal), sewaktu ibu dalam persalinan sampai keluar rumah sakit


(perinatal), dan pada masa menyusui selanjutnya sampai anak berumur 2
tahun(postnatal) (Perinasia, 2011).
Manajemen laktasi adalah suatu upaya yang dilakukan oleh ibu, ayah
dan keluarga untuk menunjang keberhasilan menyusui (Prasetyono, 2009) .
Dan ruang lingkup manajemen laktasi dimulai pada masa kehamilan,setelah
persalinan,dan masa menyusui bayi.
2. Periode Manajemen laktasi
a. Masa kehamilan (Antenatal)
Hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen laktasi sebelum
kelahiran adalah
1) Ibu mencari informasi tentang keunggulan ASi, manfaat menyusui
bagi ibu dan bayi, serta dampak negative pemberian susu formula.
2) Ibu memeriksakan kesehatan tubuh pada saat kehamilan kondisi
putting payudara,dan memantau kenaikan berat badan saat hamil.
3) Ibu melakukan perawatan payudara sejak kehamilan berumur 6 bulan
hingga ibu siap untuk menyusui, ini bermaksut agar ibu mampu
memproduksi dan memberikan ASI yang mencukupi kebutuhan bayi.
4) Ibu senantiasa mencari informasi tentang gisi dan makanan ambahan
sejak kehamilan trimester ke-2.makanan tambahan saat hamil
sebanyak 1 1/3 kali dari makanan yang dikonsumsi sebelum hamil
(Prasetyono, 2009).
b. Masa persalinan (Perinatal)
1) Masa persaliinan merupakan masa yang paling penting

dalam

kehidupan bayi selanjutnya,bayi harus menyusui yang baik dan benar


baik posisi maupun cara melekatkan bayi pada payudara ibu.

14

2) Membantu ibu kontak langsung dengan bayi selama 24 jam agar


menyusui dapat dilakukan tanpa jadwal.
3) Ibu nifas diberi kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 IU) dalam
waktu 2 minggu setelah melahirkan (Prasetyono, 2009).
c. Masa menyusui (Postnatal)
Hal yang perlu diperhatikan dalam menejemen laktasi setelah
kelahiran adalah:
1) Setelah bayi mendapatkan ASI pada minggu pertama kelahiran,ibu
harus menyusui bayi secara eksklusif selama 4 bulan pertama setelah
bayi lahir dan saat itu bayi hanya di beri ASI tanpa makanan tambahan.
2) Ibu mencari informasi yang tentang gisi makanan ketika masa
menyusui agar bayi tumbuh sehat.
3) Ibu harus cukup istirahat untuk menjaga kesehatannya

dan

menenangkan pikiran serta menghindarkan diri dari kelelahan yang


berlebihan agar produksi ASI tidak terhambat.
4) Ibu selalu mengikuti petunjuk petugas kesehatan(merujuk posyandu
atau puskesmas). Bila ada masalah dalam proses menyusui.
5) Ibu tetap memperhatikan gisi/makanan anak,terutama pada bayi usia 4
bulan (Prasetyono, 2009).

3. Manfaat laktasi
Jika seorang ibu memberika air susu ibu (ASI) kepada bayinya , hal ini
dapat menguntungkan baik bagi bayinya mapun ibu, antara lain :
a. Manfaat ASI bagi bayi
1) Sebagai makanan tunggal untuk memenuhi

semua kebutuhan

pertumbuhan bayi sampai usia 6 bulan.


2) Meningkatkan daya tahan tubuh karena mengandung berbagai zat anti
kekebalan sehingga akan lebih jarang sakit.
3) Melindungi anak dari serangan alergi.

15

4) Mengandung asam lemak yang diperlukan untuk pertumbuhan otak


sehingga bayi lebih pandai.
5) Meningkatkan daya penglihatan dan kepandaian berbicara.
6) Membantu pembentukan rahang yang bagus.
7) Menunjang perkembangan motorik sehiingga bayi akan cepat bisa
berjalan (Roesli, 2005).
b. Manfaat ASI bagi ibu
1) Mengurangi perdarahan setelah melahirkan.
2) Mengurangi terjadinya anemia
3) Menjarangkan kehamilan
4) Mengecilkan rahim.
5) Ibu lebih cepat mengalami penurunan berat badan
6) Mengurangi kemungkinan menderita kanker
7) Lebih ekonomis dan murah
8) Tidak merepotkan dan hemat waktu
9) Lebih praktis dan portable
10) Memberi kepuasan bagi ibu tersendiri(Roesli, 2005)
c. Manfaat ASI bagi lingkungan
1) Mengurangi bertambahanya sampah dan polusi di dunia
2) Tidak

menambah

polusi

udara

karena

pabrik-pabrik

yang

mengeluarkan asap.
d. Manfaat ASI bagi negara
1) Penghemat devisa untuk membeli susu formula dan perlengkapan
menyusui
2) Penghematan untuk biaya sakit terutama sakit muntahmuntah, mencret
dan sakit saluran nafas
3) Penghematan obat-obatan,tenaga dan sarana kesehatan.
4) Menciptakan generasi penerus bangsa yang tangguh dan berkualitas
untuk membangun Negara.

16

e. Manfaat ASI bagi keluarga


1) Aspek ekonomi: ASi tidak perlu dibeli dan membuat bayi jarang sakit
sehingga dapat mengurangi biaya berobat
2) Aspek psikologis: menjarangkan kelahiran,dan mendekatkan hubungan
bayi dengan keluarga.
3) Aspek kemudahan : Sangat praktis sehingga dapat di berikan dimana
saja dan kapan saja dan tidak merepotkan orang lain.
G. Teknik dan Keterampilan Menyusui
1. Keberhasilan menyusui
Untuk memaksimalkan manfaat menyusui, bayi sebaiknya disusui
selama 6 bulan pertama. Beberapa langkah yang dapat menuntun ibu agar
sukses menyusui secara eksklusif selama 6 bulan pertama, antara lain :
a. Biarkan bayi menyusu sesegera mungkin setelah bayi lahir terutama
dalam 1 jam pertama (inisiasi dini), karena bayi baru lahir sangat aktif
dan tanggap dalam 1 jam pertama dan setelah itu akan mengantuk dan
tertidur. Bayi mempunyai refleks menghisap (sucking reflex) sangat
kuat pada saat itu. Jika ibu melahirkan dengan operasi kaisar juga dapat
melakukan hal ini (bila kondisi ibu sadar, atau bila ibu telah bebas dari
efek anestesi umum). Proses menyusui dimulai segera setelah lahir
dengan membiarkan bayi diletakkan di dada ibu sehingga terjadi kontak
kulit kulit. Bayi akan mulai merangkak untuk mencari puting ibu dan
menghisapnya. Kontak kulit dengan kulit ini akan merangsang aliran
ASI, membantu ikatan batin (bonding) ibu dan bayi serta perkembangan
bayi.
b. Yakinkan bahwa hanya ASI makanan pertama dan satu-satunya bagi
bayi anda. Tidak ada makanan atau cairan lain (seperti gula, air, susu
formula) yang diberikan, karena akan menghambat keberhasilan proses
menyusui. Makanan atau cairan lain akan mengganggu produksi dan
suplai ASI, menciptakan bingung puting, serta meningkatkan risiko
infeksi
17

c. Susui bayi sesuai kebutuhannya sampai puas. Bila bayi puas, maka ia
akan melepaskan puting dengan sendirinya.
2. Keterampilan menyusui
Agar proses menyusui dapat berjalan lancar, maka seorang ibu
harus mempunyai keterampilan menyusui agar ASI dapat mengalir dari
payudara ibu ke bayi secara efektif. Keterampilan menyusui yang baik
meliputi posisi menyusui dan perlekatan bayi pada payudara yang tepat.
Posisi menyusui harus senyaman mungkin, dapat dengan posisi
berbaring atau duduk. Posisi yang kurang tepat akan menghasilkan
perlekatan yang tidak baik. Posisi dasar menyusui terdiri dari posisi badan
ibu, posisi badan bayi, serta posisi mulut bayi dan payudara ibu
(perlekatan/ attachment). Posisi badan ibu saat menyusui dapat posisi
duduk, posisi tidur terlentang, atau posisi tidur miring.
Saat menyusui, bayi harus disanggah sehingga kepala lurus
menghadap payudara dengan hidung menghadap ke puting dan badan bayi
menempel dengan badan ibu (sanggahan bukan hanya pada bahu dan
leher). Sentuh bibir bawah bayi dengan puting, tunggu sampai mulut bayi
terbuka lebar dan secepatnya dekatkan bayi ke payudara dengan cara
menekan punggung dan bahu bayi (bukan kepala bayi). Arahkan puting
susu ke atas, lalu masukkan ke mulut bayi dengan cara menyusuri langitlangitnya. Masukkan payudara ibu sebanyak mungkin ke mulut bayi
sehingga hanya sedikit bagian areola bawah yang terlihat dibanding aerola
bagian atas. Bibir bayi akan memutar keluar, dagu bayi menempel pada
payudara dan puting susu terlipat di bawah bibir atas bayi.
3. Posisi tubuh yang baik dapat dilihat sebagai berikut:
a. Posisi muka bayi menghadap ke payudara (chin to breast)
b. Perut/dada bayi menempel pada perut/dada ibu (chest to chest)
c. Seluruh badan bayi menghadap ke badan ibu hingga telinga bayi
membentuk garis lurus dengan lengan bayi dan leher bayi
d. Seluruh punggung bayi tersanggah dengan baik
e. Ada kontak mata antara ibu dengan bayi
18

f. Pegang belakang bahu jangan kepala bayi


g. Kepala terletak dilengan bukan didaerah siku
4. Posisi menyusui yang tidak benar dapat dilihat sebagai berikut :
a. Leher bayi terputar dan cenderung kedepan
b. Badan bayi menjauh badan ibu
c. Badan bayi tidak menghadap ke badan ibu
d. Hanya leher dan kepala tersanggah
e. Tidak ada kontak mata antara ibu dan bayi
f. C-hold tetap dipertahankan
5. Cara Bayi menghisap ASI secara efektif
Agar bayi dapat menghisap secara efektif, maka bayi harus
mengambil cukup banyak payudara kedalam mulutnya agar lidahnya dapat
memeras sinus laktiferus. Bayi harus menarik keluar atau memeras
jaringan payudara sehingga membentuk puting buatan/ DOT yang
bentuknya lebih panjang dari puting susu. Puting susu sendiri hanya
membentuk sepertiga dari puting buatan/ DOT. Hal ini dapat kita lihat
saat bayi selesai menyusui. Dengan cara inilah bayi mengeluarkan ASI
dari payudara. Hisapan efektif tercapai bila bayi menghisap dengan
hisapan dalam dan lambat. Bayi terlihat menghentikan sejenak hisapannya
dan kita dapat mendengar suara ASI yang ditelan.
6. Tanda perlekatan bayi dan ibu yang baik
a. Dagu menyentuh payudara
b. Mulut terbuka lebar
c. Bibir bawah terputar keluar
d. Lebih banyak areola bagian atas yang terlihat dibanding bagian
bawah
e. Tidak menimbulkan rasa sakit pada puting susu
Jika bayi tidak melekat dengan baik maka akan menimbulkan luka
dan nyeri pada puting susu dan payudara akan membengkak karena ASI
tidak dapat dikeluarkan secara efektif. Bayi merasa tidak puas dan ia ingin
menyusu sering dan lama. Bayi akan mendapat ASI sangat sedikit dan
berat badan bayi tidak naik dan lambat laun ASI akan mengering.
19

7. Tanda perlekatan ibu dan bayi yang tidak baik :


a. Dagu tidak menempel pada payudara
b. Mulut bayi tidak terbuka lebar- Bibir mencucu/ monyong
c. Bibir bawah terlipat kedalam sehingga menghalangi pengeluaran ASI
oleh lidah
d. Lebih banyak areola bagian bawah yang terlihat
e. Terasa sakit pada putting
8. Perlekatan yang benar adalah kunci keberhasilan menyusui
a. Bayi datang dari arah bawah payudara
b. Hidung bayi berhadapan dengan puting susu
c. Dagu bayi merupakan bagian pertama yang melekat pada payudara
(titik pertemuan)
d. Puting diarahkan ke atas ke langit-langit bayi
e. Telusuri langit-langit bayi dengan putting sampai didaerah yang tidak
ada tulangnya, diantara uvula (tekak) dengan pangkal lidah yang
lembut
f. Putting susu hanya 1/3 atau dari bagian dot panjang yang
terbentuk dari jaringan payudara
9. Cara bayi mengeluarkan ASI
a. Bayi tidak mengeluarkan ASI dari payudara seperti mengisap
minuman melalui sedotan
b. Bayi mengisap untuk membentuk dot dari jaringan payudara
c. Bayi mengeluarkan ASI dengan gerakan peristaltik lidah menekan
gudang ASI ke langit-langit sehingga ASI terperah keluar gudang
masuk kedalam mulut
d. Gerakan gelombang lidah bayi dari depan ke belakang dan menekan
dot buatan ke atas langit-langit
e. Perahan efektif akan terjadi bila bayi melekat dengan benar sehingga
bayi mudah memeras ASI
20

10. Lama bayi menyusui


Lamanya menyusu berbeda-beda tiap periode menyusu. Rata-rata
bayi menyusu selama 5-15 menit, walaupun terkadang lebih. Bayi dapat
mengukur sendiri kebutuhannya. Bila proses menyusu berlangsung sangat
lama (lebih dari 30 menit) atau sangat cepat (kurang dari 5 menit)
mungkin ada masalah. Pada hari-hari pertama atau pada bayi berat lahir
rendah (kurang dari 2500 gram), proses menyusu terkadang sangat lama
dan hal ini merupakan hal yang wajar. Sebaiknya bayi menyusu pada satu
payudara sampai selesai baru kemudian bila bayi masih menginginkan
dapat diberikan pada payudara yang satu lagi sehingga kedua payudara
mendapat

stimulasi

yang

sama

untuk

menghasilkan

ASI.

11. Lama bayi menyusui


Susui bayi sesering mungkin sesuai dengan kebutuhan bayi,
sedikitnya lebih dari 8 kali dalam 24 jam. Awalnya bayi menyusu sangat
sering, namun pada usia 2 minggu frekuensi menyusu akan berkurang.
Bayi sebaiknya disusui sesering dan selama bayi menginginkannya bahkan
pada malam hari. Menyusui pada malam hari membantu mempertahankan
suplai ASI karena hormon prolaktin dikeluarkan terutama pada malam
hari. Bayi yang puas menyusu akan melepaskan payudara ibu dengan
sendirinya, ibu tidak perlu menyetopnya.
12. Cara menilai Kecukupan ASI
a. Asi akan cukup bila posisi dan perlekatan benar
b. Bila buang air kecil lebih dari 6 kali sehari dengan warna urine yang
tidak pekat dan bau tidak menyengat
c. Berat badan naik lebih dari 500 gram dalam sebulan dan telah
melebihi berat lahir pada usia 2 minggu
d. Bayi akan relaks dan puas setelah menyusu dan melepas sendiri dari
payudara ibu

21

H. Manajemen Laktasi pada Ibu Bekerja


Manajemen laktasi pada ibu bekerja adalah upaya yang dilakukan ibu
mencapai keberhasilan dalam menyusui bayinya khususnya pada ibu bekerja
1. Teknik yang dianjurkan antara lain
a. Sebelum berangkat kerja ibu tetap menyusui bayinya
b. ASI yang berlebihan dapat diperas atau di pompa,kemudian disimpan
dilemari pendingin untuk diberikan pada bayi saat ibu bekerja.
c. Selama ibu bekerja ASi dapat diperas atau di pompa dan di simpan di
lemari pendingin di tempat kerja,atau diantar pulang.
d. Bayi dapat di titipkan ke tempat penitipan bayi apabila kantor atau
instansi menyediakan tempat.
e. Setelah ibu di rumah,perbanyak menyusui yaitu saat malam hari
Perawat bayi dapat membawa bayi ketempat ibu bekerja bila
memungkinkan.
f. Ibu dianjurkan untuk istirahat, minum cukup,makan dengan gizi cukup
untuk menambah produksi ASI (Taufan, 2011).
2. ASI Perah
ASI perah adalah ASI yang diambil dengan cara diperas dari
payudara untuk kemudian disimpan dan nantinya akan diberikan untuk
bayi (Roesli, 2005)
Cara memerah ASI dengan tangn dan jari secara manual adalah
a. Cara yang pertama ibu dianjurkan untuk mengambil sebuah mangkuk
atau gelas yang bersih dan diisi dengan air mendidih kedalamnya,lalu
biarkan tertutup selama beberapa menit,setelah itu ditiriskan.
b. Mencuci tangan ibu dengan air dan sabun.
c. Ibu dianjurkan untuk duduk dan berdiri di tempat yang terang dan
nyaman dan dekatkan mangkok ke payudara ibu
d. Memegang payudara dengan meletakkan ibu jari diatas areola sampai
putting susu, dan jari telunjuk tepat di bawahnya.
e. Menekan dengan lembut payudara diantara ibu jari dan jari telunjuk ke
belakang kearah tulang dada
f. Diteruskan dengan menekan ibu jari dan jari telunjuk serta
melepaskannya secara bergantian,setelah dilakukan berulangulang ASI
akan mulai mengalir
3. Cara penyimpanan ASI

22

ASI adalah cairan hidup, selain makanan ASI mengandung zat anti
infeksi, cara penyimpanan ASI perah akan menentukan kualitas anti
infeksi dan makana yang terkandung dalam ASI (Roesli, 2005).
a. Anti infeksi yang terkandung dalam ASI membantu ASI tetap segar
dalam waktu yang lebih lama karena akan menghambat pertumbuhan
bakteri jahat dalam ASI perah yang disimpan.
b. Setelah di cairkan ASI harus habis dalam waktu 1 jam, dan sisa ASI
tidak boleh dimasukkan lagi dalam lemari es
c. Tulis jam, hari dan tanggal saat diperah.
4. Lama penyimpanan ASI
a. Dalam ruangan dengan suhu 27-32oC kolostrum dapat disimpan
selama 12 jam.
b. ASI bisa bertahan pada suhu ruangan atau di udara luar selama 6-8
jam
c. ASI bisa bertahan dalam termos es selama 24 jam
d. ASI dapat bertahan 6 bulan pada freezer (Roesli, 2005).
5. Cara memberikan ASI perah
a. Pangku bayi dengan posisi setengah duduk di pangkuan ibu
b. Tempelkan tepi cangkir/sendok kecil berisi ASI perah,pada bibir
bawah bayi sehingga ASI menyentuh bibir bayi dan akan meminum
dengan dorongan lidahnya.
c. Jangan menuangkan ASI kedalam mulut bayi,pegang saja cangkir atau
sendok diatas bibir bayi dan biarkan bayi meminumnya sendiri
d. Jika bayi merasa cukup kenyang ia akan menutup mulutnya .
6. Cara memberikan ASI yang sudah didinginkan
a. ASI dipanaskan dengan cara membiarkan botol di aliri air panas yang
bukan mendidih yang keluar dari keran.
b. Merendam botol di dalam baskom atau mangkok yang berisi air panas
atau bukan mendidih.
c. Ibu tidak boleh memanaskan botol dengan cara mendidihkannya
dalam panci atau alat pemanas lainnya kecuali menggunakan alat
khusus untuk memanaskan botol berisi simpanan ASI.
d. Susu yang sudah di panaskan tidak bisa di simpan lagi
7. Masalah laktasi pada ibu bekerja
Semua ibu harus memberikan ASI eksklusif kepada bayinya,saat
ini diketahui bahwa fenomena yang terjadi ibu yang bekerja banyak yang

23

tidak menyusui bayinya sampai mendapatkan ASI eksklusif.karena ibu-ibu


yang bekerja memiliki pemikiran yaitu (Syarifah, 2008) :
A. Ibu mengkhawatirkan dan beranggapan bahwa ASI-nya tidak
mencukupi kebutuhan bayi saat ibu bekerja.
B. Saat ini sebagian besar ibu bekerja menghentikan menyusui bayinya
dikarenakan alasan pekerjaan yang memakan waktu lama.
C. Ibu menganggap susu formula lebih praktis dan terjangkau, lebih
mudah didapat sehingga ibu yang bekerja tidak terlalu khawatir
(Syarifah, 2008).
I. Penyulit Laktasi
1. Putting susu nyeri
Umumnya ibu akan merasa nyeri pada waktu awal menyusui. Perasaan
sakit ini akan berkurang setelah ASI keluar. Bila posisi mulut bayi dan
puting susu ibu benar, perasaan nyeri akan hilang.
Cara menangani :
a. Pastikan posisi ibu menyusui sudah benar.
b. Mulailah menyusui pada puting susu yang tidak sakit guna membantu
mengurangi sakit pada puting susu yang sakit.
c. Segera setelah minum, keluarkan sedikit ASI oleskan di puting susu
dan biarkan payudara terbuka untuk beberapa waktu sampai puting
susu kering.
Hal-hal yang harus dilakukan untuk mencegah rasa nyeri puting susu
ketika menyusui :
a. Santai ketika menyusui, harus santai dan tenang saat menyusui. Hal
ini akan membantu meningkatkan aliran air susu ibu. Meletakkan kain
basah yang hangat pada payudara atau mengambil shower hangat
untuk mengguyur payudara setelah menyusui.
b. Jangan menarik isapan bayi sebelum bayi benar-benar selesai
menetek, memastikan bayi tidak lagi menetek sebelum melepaskan
dari payudara. Untuk menghentikan bayi dari anak susuan, melalui
sudut mulut bayi memasukkan jari ke dalam mulutnya. Ini akan

24

melepaskan isapan bayi dari payudara dan dapat dengan mudah


mengangkat atau menarik bayi dari puting susu.
c. Mencari posisi yang nyaman saat menyusui
Karena tidak nyaman saat menyusui bisa membuat cemas, dan
mengurangi atau menghentikan aliran susu. Belajar posisi menyusui
yang nyaman dan benar. Menggunakan salah satu jari dari posisi
tersebut setiap kali menyusui bayi. Jika bayi tidak dalam posisi yang
tepat ia mungkin memiliki masalah dalam penghisapan. Bayi mungkin
tidak mendapatkan cukup susu dan menyedit dengan keras. Hal ini
dapat menyebabkan sakit atau mengubah bentuk puting untuk
beberapa menit.
d. Memastikan mulut bayi santai saat menyusui, jika bayi menyusu
terlalu keras maka puting menjadi sakit, anda perlu membuat santai
mulut bayi. Untuk melakukan ini ibu perlu memijat rahang bawah
telinga bayi. Stroke adalah gerakan untuk beristirahat dan melebarkan
mulut bayi. Ibu dapat menarik perlahan-lahan bayi ke bawah
menggunakan jari. Hal ini memungkinkan istirahatnya lidah, gusi dan
puting susu. Tarik kepala bayi sehingga rahangnya ada di belakang
puting susu, dengan cara ini susu dapat terjepit dan tidak akan cukup
susu mengalir keluar.
e. Menggunakan perangkat untuk menyusui dengan benar, membaca
petunjuk yang ada pada saat menggunakan perangkat dan menjaga
selalu tetap bersih. Jika ada alat yang menyebabkan cedera pada
payudara, maka penggunaannya harus dihentikan. Ibu mungkin
memerlukan bantuan untuk mempelajari bagaimana cara penggunaan
alat. Cedera ini meningkatkan risiko untuk kerusakan dan infeksi
puting.
2. Putting susu lecet
Puting susu terasa nyeri bila tidak ditangani dengan benar akan menjadi
lecet.

Umumnya

menyusui

akan

menyakitkan

kadang-kadang

mengeluarkan darah. Puting susu lecet dapat disebabkan oleh posisi

25

menyusui yang salah, tapi dapat pula disebabkan oleh trush (candidates)
atau dermatitis.
Cara menangani :
a. Cari penyebab puting lecet (posisi menyusui salah, candidates atau
dermatitis)
b. Obati penyebab puting susu lecet terutama perhatikan posisi
menyusui
c. Kerjakan semua cara-cara menangani susu nyeri diatas tadi
d. Ibu dapat terus memberikan ASInya pada keadaan luka tidak begitu
sakit
e. Olesi puting susu dengan ASI akhir (hind milk), jangan sekali-kali
memberikan obat lain, sperti krim, salep, dan lain-lain
f. Puting susu yang sakit dapat diistirahatkan untuk sementara waktu
kurang lebih 1x24 jam, dan biasanya akan sembuh sendiri dalam
waktu sekitar 2x24 jam
g. Selama puting susu diistirahatkan, sebaiknya ASI tetap dikeluarkan
dengan tangan, dan tidak dianjurkan dengan alat pompa karena nyeri
h. Cuci payudara sehari sekali saja dan tidak dibenarkan untuk
menggunakan dengan sabun
i. Bila sangat menyakitkan, berhenti menyusui pada payudara yang
sakit untuk sementara untuk memberi kesempatan lukanya
menyembuh
j. Keluarkan ASI dari payudara yang sakit dengan tangan (jangan
dengan pompa ASI) untuk tetap mempertahankan kelancaran
pembentukan ASI
k. Berikan ASI perah dengan sendok atau gelas jangan menggunakan
dot
l. Setelah terasa membaik, mulai menyusui kembali mula-mula dengan
waktu yang lebih singkat
m. Bila lecet tidak sembuh dalam 1 minggu rujuk ke puskesmas.
3. Payudara bengkak

26

Pada hari-hari pertama (sekitar 2-4 jam), payudara sering terasa


penuh dan nyeri disebabkan bertambahnya aliran darah ke payudara
bersamaan dengan ASI mulai diproduksi dalam jumlah banyak.
Penyebab Bengkak
a. Posisi mulut bayi dan puting susu ibu salah
b. Produksi ASI berlebihan
c. Terlambat menyusui
d. Pengeluaran ASI yang jarang
e. Waktu menyusui yang terbatas
Perbedaan payudara penuh dan payudara bengkak :
Payudara Penuh
Rasa berat pada payudara, panas

Payudara Bengkak
Payudara oedema, sakit, puting

dan keras. Bila diperiksa ASI

susu kencang, kulit mengkilat

keluar dan tidak demam

walau tidak merah, dan bila


diperiksa/diisap ASI tidak keluar.
Badan biasa demam setelah 24 jam
Untuk mencegah maka
diperlukan :menyusui dini,
perlekatan yang baik, menyusui
on demand. Bayi harus lebih
sering disusui. Apabila terlalu
tegang atau bayi tidak dapat
menyusu sebaiknya ASI
dikeluarkan terlebih dahulu, agar
ketegangan menurun.

Merangsang refleks oksitosin


a. Kompres panas untuk mengurangi rasa sakit
b. Ibu harus rileks
c. Pijat leher dan punggung belakang (sejajar daerah payudara)
d. Pijat ringan pada payudara yang bengkak (pijat pelan-pelan kearah
tengah)
27

e. Stimulasi payudara dan putting


f. Kompres dingin pasca menyusui, untuk mengurangi oedema
g. Memakai BH yang sesuai
h. Bila terlalu sakit dapat diberikan obat analgetik
Cara mengatasinya :
a. Susui bayinya semau dia sesering mungkin tanpa jadwal dan tanpa
batas waktu
b. Bila bayi sukar menghisap, keluarkan ASI dengan bantuan tangan
atau pompa ASI yang efektif
c. Sebelum menyusui untuk merangsang refleks oksitosin dapat
dilakukan : kompres hangat untuk mengurangi rasa sakit, massage
payudara, massage leher dan punggung
d. Setelah menyusui, kompres air dingin untuk mengurangi oedema.
4. Mastitis atau Abses payudara
Mastitis adalah peradangan pada payudara. Payudara menjadi merah,
bengkak kadangkala diikuti rasa nyeri dan panas,suhu tubuh meningkat.
Di dalam terasa ada masa padat (lump) dan diluarnya kulit menjadi
merah. Kejadian ini terjadi pada masa nifas 1-3 minggu setelah persalinan
diakibatkan oleh sumbatan saluran susu yang berlanjut. Keadaan ini
disebabkan kurangnya ASI dihisap/dikeluarkan atau pengisapan yang
tidak efektif. Dapat juga karena kebiasaan menekan payudara dengan jari
atau karena tekanan baju/BH.
Tindakan yang dapat dilakukan :
a. Kompres hangat/panas dan pemijatan
b. Rangsangan oksitosin, dimulai pada payudara yang tidak sakit yaitu
stimulasi puting susu, pijat leher, punggung, dll
c. Pemberian antibiotik : Flucloxacilin atau erythromycin selama 7-10
hari

28

d. Bila perlu bisda diberikan istirahat total dan obat untuk penghilang
rasa nyeri
e. Kalau terjadi abses sebaiknya tidak disusukan karena mungkin perlu
tindakan bedah.
J. Kontraindikasi Menyusui
1. Menyususi Pada Ibu yang Menderita Hepatitis B
2. Menyusui pada ibu yang menderita HIV AIDS
3. Menyusui pada ibu yang sedang kemoterapi pada kanker payudara
4. Menyusui pada ibu yang menggunakan implant pada payudaranya.
(Roesli, 2005)

BAB III
RINGKASAN

29

Laktasi adalah bagian terpadu dari proses reproduksi yang memberikan


makanan bayi secara ideal dan alamiah serta merupakan dasar biologik dan
psikologik yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. Air susu ibu(ASI) merupakan
makanan yang ideal bagi pertumbuhan neonates. Laktasi memiliki banyak sekali
manfaat baik untuk bayi, ibu, lingkungan, keluarga maupun negara. Oleh sebab
itu, diperlukan promosi kesehatan mengenai pentingnya laktasi dan tata cara serta
manajemen laktasi yang benar dan tepat.

DAFTAR PUSTAKA

30

Adiningsih, N. U. (2004). Wacana peringatan 13 tahun ratifikasi konvensi hak


anak 25 agustus tentang ASI: hak anak yang terabaikan.
Http://www.surya.co.id/25082003/12c.phtml. Dibuka tanggal 20
Agustus 2015
Agampodi, B,S., Thilini, C,A., & Avanthi, S. 2009. Exclusive Breastfeeding in Sri
Lanka : Problems of Interpretation of Reported Rates. International
Breastfeeding Journal.
American Academy of Pediatric. 2012.Breastfeeding and the Use of Human Milk(Vol
129, Number 3),.Washington,DC : Author
Amosu, M.A., Adenike, M.D., Adebo, M,T.,&Abraham,O,B. 2011.A Study of the
Knowledge and Support Level of Breast-feeding Amongthe Workers in
Formal Employment in South-Western Nigeria.Archives of Applied
Science Research.Scholars Research Library.
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka
Cipta.
Ayu, Rosita. 2011. Faktor-Faktor yang berhubungan dengan Pemberian ASI Eksklusif
di Kecamatan Salawu dan Sukahening Kabupaten Tasikmalaya Tahun
2010. Jurnal Penelitian. Tasikmalaya : Stikes Respati.
Azwar, S. 2011. Metodologi Penelitian. Jakarta :RinekaCipta.
Bobak., Lowdermilk., Jensen. 2005. Keperawatan Maternita Edisi 4. Alih Bahasa:
Maria A, Wijayarini., Dr.Peter I, Anugerah. Jakarta : EGC.
Cadwell,K., Cindy Turner. 2011. Manajemen Laktasi. Alih Bahasa: Estu Tiar.
Jakarta : EGC.
Depkes. RI. 2005. Kebijakan Departemen Kesehatan tentang Peningkatan
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Pekerja Wanita. Jakarta: Pusat Kesehatan
Kerja Depkes RI.
Desi, Ariyana. 2008. Tingkat Pengetahuan tentang Penyimpanan ASI pada Ibu
Bekerja di Asrama Polisi Kalisari Semarang Kecamatan Semarang
Selatan.Jurnal Keperawatan. FIKKES. Volume 1 No. 2 Maret 2008..
Dewi, Rosiana. 2007. Mengatasi Konflik Peran sebagai Karyawan dan Ibu Rumah
Tangga pada Tenaga Kerja Wanita di Indonesia. Jurnal Kesehatan.
Volume XXIII No. 2 April Juni 2007.
Dinas Kesehatan. 2008. Profil Kesehatan Jawa Tengah.

31

Dyah. 2009. Pemodelan Kuantitatif untuk Analisis Faktor Penentu Praktik Pemberian
ASI Eksklusif pada Ibu Bekerja di Instansi Universitas Jenderal
Soedirman Purwokerto.
Elmiyasna, K. 2009. Kajian Pemberian ASI Eksklusif Kaitannya dengan Pendidikan
dan Pekerjaan Ibu Menyusui di Puskesmas Nanggalo Padang.
Vol.1.No.1.Padang
Fayed,S., Almorsy, E., Fathi, N., Wahby, I. 2012. The Effect of Maternal Employment
on Breast Feeding Practice Among Egyptian Children.Journal of
American Science
Hidayat, A.A. 2011. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisa Data.
Jakarta.
Karyati, Utami . 2009. Hubungan Pengetahuan tentang Manajemen Laktasi Ibu
Primipara dengan Teknik Laktasi di Ruang Post Partum RSU Kota
Surakarta. Skripsi, Surakarta : UMS.
Khrist, G, Josefa. 2011. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pemberian ASI
Eksklusif pada Ibu (Studi Kasus di Wilayah Kerja Puskesmas
Manyaran, Kecamatan Semarang Barat. Artikel Penelitian. Semarang:
Program Pendidikan Sarjana Kedokteran. Fakultas Kedokteran.
Universitas Diponegoro.
Kristiyanasari, W. 2009.ASI, Menyusui dan Sadari.Yogjakarta : NuhaMedika.
Mensah,A,O. 2011. The Influence of Workplace Facilities on Lactating Working
MothersJob Satisfaction and Organizational Commitment: A Case
Study of Lactating Working Mothers in Accra,
Ghana(Vol.6,No.7.Interrnational Journal of Business and Management.
Mubarak W.I,. Chayatin, N. 2009. Ilmu Keperawatan Komunitas Pengantar dan
Teori. Jakarta: Salemba Medika.
Musiroh. 2010. Hubungan Tingkat Pendidikan dan Pengetahuan Ibu tentang
Pemberian ASI dengan Pola Pemberian ASI pada Ibu yang Mempunyai
Bayi Usia 0-1 tahun di Desa Kembangkelor Pacet Mojokerto. Surabaya.
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Notoatmodjo, S. 2007. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
32

Perinasia. 2009. Bahan Bacaan Manajemen Laktasi, Cetakan ke 2, Program


Manajemen Laktasi. Jakarta :Perinasia
Proverawati, A., Eni, R. 2010. Kapita Selekta ASI dan Menyusui. Yogyakarta : Nuha
Medika.
Purwanti, H.S. 2004. Konsep Penerapan ASI Eksklusif. Jakarta : EGC.
Rahayu, A. 2007. Karakteristik Ibu yang Memberikan ASI Eksklusif Terhadap Status
Gizi Bayi ( Vol.33,No.3. Jurnal : Univrsitas Lambung Mangkurat
Riwidikdo, H. 2010. Statistik Kesehatan. Yogyakarta: Mitra Cendikia Pres.
Roesli, U. 2005. Mengenal ASI eksklusif. Jakarta : PT. Pustaka Pembangunan
Swadaya Nusantara.
Sarbini, D,. Listyani,H. 2008. Hubungan Tingkat Pendapatan Keluarga dan
Pendidikan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif di Kecamatan Jebres
Kotamadya Surakarta. Jurnal Kesehatan (Vol. 1,No,2) : UMS
Setyowati, Exsi. 2007. Hubungan Pengetahuan Kesehatan Tentang Asi Eksklusif
Dengan Kemampuan Memberikan Pendidikan Kesehatan Asi Eksklusif
pada Ibu Prenatal di Puskesmas II Kartasura. Skripsi, Surakarta :
UMS.
Singh, B. 2010. Knowledge, Attitude and Practice of Breast Feeding - A Case Study.
ISSN 1450-216X Vol.40 No.3. European Journal of Scientific Research.
Siregar, A. 2009. Pemberian ASI Ekskusif dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya.
Jurnal : Universitas Sumatra Utara.
Sugiyono. 2012. Statistika untuk Penelitian. Bandung :Alfabeta.
Suradi, R. 2010. Ikatan Dokter Anak Indonesia :Indonesia Menyusui. Badan
Penerbit : IDAI
Wawan, Dewi. 2011. Teori dan Pengukuran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku
Manusia. Yogyakarta: Nuha Medika

33