Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK 1

PENENTUAN BERAT MOLEKUL BERDASARKAN PENGUKURAN


MASSA JENIS GAS

Nama

: Dewi Adriana Putri

NIM

: 121810301053

Kelompok / Kelas

:2/B

Asisten

: Yuliani

Fak / Jurusan

: FMIPA / Kimia

LABORATORIUM KIMIA FISIK


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2015

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum penentuan berat molekul berdasarkan pengukuran massa jenis
gas adalah menetukan berat molekul senyawa volatil berdasarkan pengukuran massa jenis gas
dan mengaplikasikan persamaan gas ideal.
1.2 Latar Belakang
Zat yang berwujud gas, partikel-partikel penyusunnya akan bergerak secara acak.
Jarak antara partikel-partikel relatif jauh lebih besar daripada ukuran-ukuran partikel,
sehingga gaya tarik-menarik antarpartikel sangat kecil. Senyawa volatil merupakan
senyawa yang mudah menguap menjadi gas bila terjadi peningkatan suhu
(umumnya 100oC) maupun pada keadaan standar. Zat yang bermacam-macam
memiliki massa jenis atau berat jenis yang berbeda-beda begitupun dengan senyawa volatil.
Massa jenis merupakan salah satu ciri untuk mengetahui kerapatan suatu zat. Penentukan
berat molekul senyawa volatil dapat diukur berdasarkan pengukuran massa jenis gas.
Berat molekul didefinisikan sebagai massa suatu zat dalam tiap mol, yang merupakan
perhitungan jumlah massa atom relatif penyusunnya. Massa molekul dapat dihitung
dengan menjumlahkan massa atom relatif unsur-unsur penyusun molekul
tersebut. Massa molekul dapat diukur dengan berbagai cara, contohnya
yaitu menggunakan spektrum massa dengan alat Victor Meyer atau pengukuran untuk
zat

yang

mudah

menguap

dapat

dilakukan

dengan

menurunkan

persamaan gas ideal dengan menentukan massa jenis, tekanan dan suhu
zat terlebih dahulu.
Penentuan berat molekul dari suatu cairan yang bersifat mudah menguap akan
menghasilkan data yang variatif tergantung keadaan sisten dan lingkungannya. Percobaan ini
dilakukan untuk mendapatkan data berat molekul dari suatu zat yaitu etanol dan kloroform
berdasarkan persamaan gas ideal, dengan terlebih dahulu menentukan kerapatan atau massa
jenis dari senyawa volatil tersebut. Praktikum ini penting untuk dilakukan karena dengan
percobaan menenukan berat molekul suatu zat maka akan dapat mengamati pengaruh keadaan
sistem dan lingkungan misalnya pengaruh suhu dan tekanan.
1.3 Tinjauan Pustaka
1.3.1 Material Safety Data Sheet (MSDS)
a) Air
Air mempunyai rumus kimia H2O. Air tidak memiliki efek mutagenik,
racun, dan karsinogenik. Air berwujud cair. Tidak berbau dan berasa. Berat
molekul dari air 18,02 g/mol. Warna dari air tidak berwarna, pH air 7

(netral). Titik didih air 100oC, massa jenis air 1. Tekanan uap air 2,3 kPa
(Yazid, 2005).
b) Kloroform
Kloroform adalah nama umum untuk triklorometana (CHCl3). Wujud klorfom pada
suhu ruang berupa cairan namun mudah menguap. Kloroform dikategorikan bahan yang
berbahaya karena dapat menyebabkan iritasi kulit, mata, dan saluran pernapasan. Karena
sifatnya yang mudah menguap, maka uapnya dapat menyebabkan rasa sakit dan iritasi pada
mata. Apabila pada saat melakukan percobaan terkena dampaknya maka harus segera
dilakukan pertolongan pertama untuk meminimalisir dampaknya. Karakteristik dari klorofom
yaitu memiliki berat molekul sebesar 119,38 g/mol dengan densitas sebesar 1,48 g/cm 3. Titik
leleh dan titik didihnya sebesar -63,50C dan 61,20C. Titik didih 61oC, titik leleh
-63,5oC, massa jenis zat 1,484 dengan kelarutan dalam air 0,8 gram/100 mL air pada
suhu 20oC. (Yazid, 2005).
c) Etanol
Etanol berwujud cair dan tidak berwarna dengan aroma seperti alcohol. Berat molekul
etabol 46,08 g mol-1 dan dapat mendidih pada suhu 78o C serta meleleh pada suhu -117 o C
kelarutan bahan mudah bercampur, massa jenis 0.790 g/mL @20 oC, berat
molekul 46.0414 g/mol. Etanol cenderung mudah larut dalam air, baik air dingin
maupun air panas. Etanol berbahaya bila terjadi kontak langsung dengan mata dan kulit.
Penanganan yang dapat dilakukan bila terjadi kontak langsung dengan etanol yaitu bila terjadi
kontak langsung dengan mata, mata segera dibasuh dengan air selama 15 menit dengan
mata terbuka. Penanganan bila terjadi kontak langsung dengan kulit harus segara menyiran
bagian kulit yang kena cairan dengan air yang banyak dan segera menutupi bagian kulit, serta
melepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi. Penanganan bila terhirup yaitu segera
pindah ke tempat dengan udara yang lebih segar, bila tidak bernapas maka diberi napas buatan
atau bantuan oksigen. Penangan bila tertelan yaitu jangan memberikan apapun melalui mulut
kepada orang yang tidak sadar dan segera hubungi dokter (Yazid, 2005).
1.3.2

Dasar teori
Gas terdiri dari atas molekul-molekul yang bergerak ke segala arah dengan kecepatan

yang sangat tinggi. Molekul-molekul gas ini selalu bertumbukan dengan molekul-molekul
yang lain atau dengan dinding bejana. Tumbukan terhadap dinding bejana ini yang
menyebabkan adanya tekanan. Volume dari molekul-molekul gas sangat kecil bila
dibandingkan dengan volume yang ditempati oleh gas tersebut sehingga terdapat banyak
ruang kosong antara molekul-molekulnya. Hal ini yang menyebabkan gas mempunyai rapatan
yang lebih kecil daripada cairan atau padatan (Sukardjo, 1990).

Sifat gas adalah molekul-molekulnya sangat berjauhan satu sama


lain sehingga hampir tidak ada gaya tarik menarik atau tolak menolak
antar

molekul

sehingga

gas

akan

mengisi

seluruh

ruang

yang

ditempatinya. Sifat gas ideal adalah:


a. Tidak ada gaya tarik menarik di antara molekul-molekulnya
b. Volume dari molekul-molekul gas sendiri diabaikan
c. Tidak ada perubahan energy dalam (internal energy = E) pada
pengembangan
(Respati, 1999).
Densiti dari gas dipergunakan untuk menghitung berat molekul suatu gas, ialah dengan
cara membendungkan suatu volume gas yang akan dihitung berat molekulnya dengan berat
gas yang telah diketahui berat molekulnya (sebagai standar) pada temperatur atau suhu dan
tekanan yang sama. Densiti gas diidenfinisikan sebagai berat gas dalam gram per liter dan
untuk menentukan berat molekul ini maka ditimbang sejumlah gas tertentu kemudian diukur
PV dan T-nya sesuai dengan hukum gas ideal (Atkins, 1996).
Gas ideal dinyatakan dengan persamaan yang sederhana yaitu PV = nRT, sehingga gas
sejati dapat dinyatakan dengan persamaan yang lebih kompleks dengan tekanan yang tinggi
dan temperatur yang rendah. Penentuan berat molekul suatu gas secara teliti dengan hukum
gas ideal dipergunakan pada tekanan yang rendah, tetapi akan terjadi kesulitan. Kesulitan
tersebut terjadi bila tekanan rendah maka suatu berat dari gas akan mempunyai volume yang
sangat besar. Kerapatan yang didefinisikan dengan W/V berkurang tetapi perbandingan
kerapatan dan tekanan d/p atau W/pV akan tetap, sebab berat total W tetap dan bila gas
dianggap gas ideal PV juga tetap sesuai dengan persamaan berikut :
PV = R T
M = R T = (d/p)o R T
(Respati, 1999)
Kerapatan gas dipergunakan untuk menghitung berat molekul suatu gas, ialah dengan
cara membandingkan suatu volume gas yang akan dihitung berat molekulnya dengan berat
gas yang telah diketahui berat molekulnya (sebagai standar) pada suhu dan tekanan yang
sama. Kerapatan gas diidenfinisikan sebagai berat gas dalam gram per liter. Berat molekul
ditentukan dengan menimbang sejumlah gas tertentu kemudian diukur PV dan T-nya. Berikut
menurut persamaan gas ideal :
P V = n R T dimana n = m/(BM)
sehingga,
P V = (m/BM) RT
dengan mengubah persamaan
P(BM) = (m/V) RT = R
di mana:
BM : Berat molekul
P : Tekanan gas

V : Volume gas
T : Suhu absolute
R : Tetapan gas ideal
: Massa jenis
(Respati, 1999).
Hukum gabungan gas untuk suatu sampel gas menyetakan bahwa perbandingan PV/T
adalah konstan. Gas-gas real (nyata) seperti metana (CH 3) dan oksigen sebetulnya saat
dilakukan pengukuran secara cermat, ternyata hal ini tidak benar. Gas hipotesis yang dianggap
akan mengikuti hukum gabungan gas pada berbagai suhu dan tekanan disebut gas ideal.
Semua gas akan menempati keadaan ideal pada tekanan yang relatif rendah termasuk pada
tekanan atmosfer serta suhu yang tinggi, sehingga hukum gas gabungan dapat dipakai untuk
segala macam gas yang digunakan (Brady, 1999).
Persamaan gas ideal bersama-sama dengan massa jenis gas dapat digunakan untuk
menentukan berat molekul senyawa volatil. Hal ini menjelaskan konsep gas ideal yakni gas
yang akan mempunyai sifat sederhana yang sama dibawah kondisi yang sama (Haliday,
1978).
Penentuan berat molekul dari senyawa volatil dapat diukur dengan menggunakan alat
Victor Meyer. Alat Victor Meyer diciptakan oleh seorang ilmuan kimia yang berkebangsaan
Jerman pada tahun 1848-1897. Alat tersebut digunakan untuk menentukan rapat uap zat cair
atau zat padat yang mudah menguap. Cara kerja alat tersebut yaitu sejumlah sampel yang
telah ditimbang dimasukkan ke dalam tabung reaski kecil dan ditutup. Tabung reaksi kecil
tersebut di masukkan ke dasar tabung yang panjang yang dikelilingi oleh suhu tetap dengan
suhu diatas titik didih sampel. Tabung panjang tersebut kemudian ditutup. Sampel tersebut
kemudian menguap dan uapnya menekan udara dalam tabung ke pipa samping menuju ke
dalam tabung pengumpulan yang berskala. Volume uap sampel kemudian dapat diukur
(Hadiat, 1996).

Gambar 1.1 Alat Victor Meyer


(Hadiat, 1996).

BAB 2. METODOLOGI PERCOBAAN


2.1 Alat dan Bahan
2.1.1
2.1.2

Alat
Erlenmeyer
Gelas piala
Aluminium Foil
Karet gelang
Neraca Analitik
Jarum
Penangas air
Termometer
Kaki tiga dan kassa
Bahan

Air

Etanol

Kloroform

2.2 Prosedur Kerja


diambil erlenmeyer 100 mL yang bersih dan kering.
5 mL- cairan
Ditutup dengan aluminium foil, lalu dikencangkan
volatil
dengan karet gelang
- ditimbang erlenmeyer dengan aluminium foil dan karet
gelang dengan neraca analitik
- ditempatkan bahan pada erlenmeyer kemudian ditutup
dengan aluminium foil dan dikencangkan kembali
dengan karet gelang supaya kedap udara kemudian
ditimbang
- dibuat lubang kecil pada aluminium foil dengan jarum
agar uap dapat keluar
- dipanaskan erlenmeyer dalam penangas air (gelas
kimia berisi air yang dipanaskan dengan bunsen) dan
diisi air hingga dibawah aluminium foil
- dibiarkan erlenmeyer dalam penangas air sampai
semua cairan volatil menguap dan dicatat suhu
penangas air tersebut
- diangkat erlenmeyer dari penangas setelah semua
cairan volatil menguap dan didinginkan erlenmeyer
kemudian dikeringkan bagian luarnya
- ditimbang erlenmeyer yang telah dingin

dengan

menggunakan neraca analitik (jangan dilepas tutup


aluminium foil)
- ditentukan volume erlenmeyer dengan mengisi air
Hasil
sampai penuh dan diukur massa air yang terdapat
didalam erlenmeyer dan diukur suhu air.

BAB 3. HASIL DAN DATA PENGAMATAN


3.1 Hasil
Berdasarkan praktikum penentuan berat molekul yang berdasarkan pengukuran massa
jenis gas, diperoleh hasil sebagai berikut:
a. Etanol
No.

Data

1.

Massa erlenmeyer +

1
35,20 g

Erlenmeyer
2
35,49 g

2.

aluminium foil + karet gelang


Massa erlenmeyer +

34,40 g

35,66 g

35,69 g

0,2 g
65,746 g
87oC
92oC
1 atm

0,17 g
65,708 g
86oC
92oC
1 atm

0,13 g
65,516 g
88oC
92oC
1 atm

Erlenmeyer
2
35,485 g

3
35,587 g

3
35,56 g

aluminium foil + karet gelang


3.
4.
5.
6.
7.

+ C2H5OH
Massa C2H5OH
Massa air
Suhu dalam erlenmeyer
Suhu penangas air
Tekanan atmosfer

b. Kloroform
No.

Data

1.

Massa erlenmeyer +

1
35,277 g

2.

aluminium foil + karet gelang


Massa erlenmeyer +

35,536 g

35,754 g

35,839 g

0,259 g
100,25 g
34,607 g
65,645 g

0,269 g
100,005 g
34,783 g
65,222 g

0,252 g
100,577 g
34,916 g
65,661 g

aluminium foil + karet gelang


3.
4.
5.
6.

+ CHCl3
Massa CHCl3
Massa erlenmeyer + air
Massa erlenmeyer kosong
Massa air

7.
8.
9.

90oC
92oC
1 atm

Suhu dalam erlenmeyer


Suhu penangas air
Tekanan atmosfer

86oC
92oC
1 atm

87oC
92oC
1 atm

c. Standart deviasi
V
(mL)
3
3
3
3
3
3

Ulangan
Etanol 1
Etanol 2
Etanol 3
Kloroform 1
Kloroform 2
Kloroform 3

BM
(g/mol)
55,03
54,91
55,38
144,13
143,46
142,91

BMratarata

(g/mol)
55,11
143,5

BM
BMrata-rata
-0,08
0,2
0,27
0,63
-0,004
-0,059

(BM- BMrata-rata ) 2
n-1

Presisi

0,244

99,6%

0,447

99,7%

BAB 4. PEMBAHASAN
Senyawa volatil adalah senyawa yang mudah menguap, memiliki titik didih yang
rendah dan tekanan uap yang tinggi. Contoh dari senyawa volatil ini yaitu kloroform (CHCl3)
dan karbontetraklorida (CCl4). Senyawa ini menguap pada tekanan dan temperatur tertentu
atau memiliki tekanan uap yang tinggi pada temperatur ruang. Kloroform merupakan
salah satu contoh senyawa volatil karena memiliki tititk didih sebesar
61oC. Percobaan ini bertujuan untuk dapat menentukan berat molekul senyawa volatil
berdasarkan pengukuran massa jenis gas dengan menggunakan persamaan gas ideal. Senyawa
volatil yang digunakan pada percobaan ini yaitu etanol dan kloroform.
Percobaan ini menggunakan 3 erlenmeyer. Erlenmeyer selanjutnya
ditimbang dengan penutup aluminium foil yang ditutup erat dengan karet
gelang didapat massanya sebesar 35,20 g, 35,49 g dan 35,56 g.
Ditambahkan etanol sebanyak 5 mL kedalam labu erlenmeyer dan ditutup
rapat kembali dengan alumunium foil dan karet gelang, Erlenmeyer yang
sudah ditambahkan etanol, ditutup kembali dengan aluminium foil dan
karet gelang (sehingga kedap udara), lalu diberi lubang dengan jarum.
Lubang

yang

diberikan

haruslah

sekecil

mungkin

agar

gas

hasil

penguapan senyawa volatilnya tidak banyak yang ikut keluar. Erlenmeyer


direndam dalam gelas beaker yang diisi air dan dipanaskan sampai suhu
100 C. Suhu pada penangas tidak dapat mencapai 100 C, suhu yang
paling tinggi yang dapat dicapai adalah berkisar di 92C. Hal ini tidak
dipermasalahkan karena titik didih etanol sekitar 78C, jadi dengan suhu
penangas yang di 92C, etanol sudah dapat teruapkan. Jadi begitu
penangas mencapai suhu 92C, erlenmeyer tersebut dimasukkan kedalam
penangas tersebut untuk diuapkan. Pada proses penguapan etanol, suhu
air diukur sehingga didapat perubahan suhu air dalam penangas air
sebesar 87o C, 86o C, dan 88oC. Penurunan suhu pada air dalam penangas
disebabkan oleh suhu air diserap oleh etaol dalam erlenmeyer yang
digunakan oleh etanol untuk membantu proses penguapan.
Prosedur selanjutnya yaitu erlenmeyer diangkat setelah etanol
tepat menguap semua, jika pengambilannya terlambat atau terlalu lama
maka

dapat

mengakibatkan

uap

etanol

akan

keluar

dan

hilang.

Erlenmeyer kemudian didinginkan menggunakan tisu yang diberi air


supaya zat yang masih dalam fase gas dapat berubah menjadi fase cair

sehingga didapat data yang lebih akurat. Setelah erlenmeyer dingin


kemudian ketiga erlemeyer ditimbang, untuk penutup aluminium foil tidak
boleh dilepas dahulu. Didapat massa sesudah penguapan sebesar 35.4 g,
35,66 g, dan 35,69 g. dan massa etanol yang diperoleh yaitu sebesar 0.2 g, 0.17 g dan
0.13 g. Hasil pengukuran dari tiga erlenmeyer menghasilkan massa uap
etanol yang berbeda-beda. Hal ini diakibatkan oleh pemberian ukuran
lubang pada penutup yang tidak sama atau karena sudah ada uap etanol
yang keluar dan hilang sehingga mengurangi uap yang ada. Besarnya
lubang yang diberikan pada penutup aluminium foil mempengaruhi proses
keluarnya gas pada ketiga erlenmeyer yang dapat mengganggu proses
kesetimbangan dalam erlenmeyer. Semakin besar lubang diberikan pada
penutup erlenmeyer, makin banyak uap kloroform yang lepas keluar
sehingga tidak terperangkap dalam erlenmeyer.
Prosedur selanjutnya yaitu ditambahkan air pada erlenmeyer sampai
penuh, hal ini bertujuan untuk mengetahui massa erlenmeyer dan air.
Massa air dari hasil penimbangan diperoleh sebesar 65.746 g, 65.708 g, dan
65.516 g yang merupakan hasil rata-rata dari tiga kali penimbangan. Hasil data-data ini
dapat digunakan untuk mengetahui besar volume air. Volume air dapat

dicari menggunakan rumus

m
v , dimana

(massa jenis) diketahui

bernilai 0.9957 g mL-1, m (massa) didapat dari hasil pengurangan massa


erlenmeyer yang ditambah air dengan massa erlenmeyer kosong. Hasil
perhitungan didapat volume rata-rata sebesar 0.0659 L.
Nilai volume yang diperoleh, dapat digunakan untuk mencari berat
molekul senyawa volatil. BM (berat molekul) dapat ditentuka dengan

rumus
yang

BM =

mRT
V P , BM dengan satuan g/mol diperoleh dari massa (m)

diperoleh

dari

massa

erlenmeyer

setelah

proses

penguapan

kloroform dikurangi massa erlenmeyer dengan penutup alumunium


foil+karet gelang. Suhu (T) merupakan suhu akhir ketika etanol menguap.
P yang digunakan adalah tekanan normal yang bernilai 1 atm dan R
(konstanta gas) bernilai 0,082 L atm K -1mol-1. Diperoleh hasil berat molekul
yaitu 55.03 g/mol, 54.91 g/mol, dan 55.38 g/mol. Berat molekul rata-rata yang
diperoleh yaitu 55.11 g/mol. Data dari literatur menyebutkan bahwa, berat

molekul etanol
g/mol.
Hasil

sebesar 46.0414 g/mol. Selisihnya yaitu sebesar 9.068

berat

molekul

yang

didapat

akan

membantu

untuk

menentukan efisiensi. Efisiensi dapat dihitung menggunakan rumus


=

BM percobaan
BM standar

. Nilai BM standar yang berasal dari berat molekul etanol

yaitu 46.0414 g/mol. Nilai efisiensi menurut literatur ditulis dengan satuan
persen (%). Nilai efisiensinya yaitu 119.8%. Nilai efisiensi yang diperoleh
melebihi 100%. Nilai efisiensi tidak logis karena melebihi 100%. Kesalahan hasil
percobaan dengan berat molekul standar bisa dimungkinkan karena adanya uap air yang
masih ada pada erlenmeyer, uap etanol juga dimungkinkan ada yang keluar dari erlenmeyer.
Sumber kesalahan utama dari percobaan ini yaitu ketidaktepatan pengamatan pada saat cairan
telah menguap semua atau belum dapat mengakibatkan kesalahan dalam perhitungan. Jika
masih ada cairan yang belum menguap atau masih ada cairan yang tersisi dalam erlenmeyer,
maka dapat mengakibatkan kesalahan dalam perhitungan massa jenis gas dan pada akhirnya
mengakibatkan kesalahan pada perhitungan berat molekul.
Bahan yang kedua yang digunakan yaitu kloroform dengan
perlakuan yang sama seperti etanol. Massa ketiga Erlenmeyer kosong
adalah 34.607 g, 34.783 g dan 34.916 g. massa Erlenmeyer dengan
penutup aluminium foil dan karet adalah 35.277 g, 35.485 g, dan 35.578
g. 3mL kloroform diisikan ke dalam Erlenmeyer dan ditutup kembali
dengan aluminium foil dan karet. Kemudian diletakkan dalam penangas air
yang suhunya 92C. Hal ini tidak dipermasalahkan karena titik didih
kloroform sekitar 61C, jadi dengan suhu penangas yang di 92C,
kloroform sudah dapat teruapkan.
Pada proses penguapan kloroform, suhu air diukur sehingga didapat
perubahan suhu air dalam penangas air sebesar 90o C, 86o C, dan 87oC.
Penurunan suhu pada air dalam penangas disebabkan oleh suhu air
diserap oleh kloroform dalam erlenmeyer yang digunakan oleh kloroform
untuk

membantu

proses

penguapan.

Erlenmeyer

diangkat

setelah

kloroform tepat menguap semua, jika pengambilannya terlambat atau


terlalu lama maka dapat mengakibatkan uap etanol akan keluar dan
hilang, kemudian didinginkan menggunakan tisu yang diberi air supaya zat
yang masih dalam fase gas dapat berubah menjadi fase cair sehingga
didapat data yang lebih akurat. Kemudian ditimbang dan didapat

massanya sebesar 35.536 g, 35.754 g, da 35.839 g dan massa kloroform yang


diperoleh yaitu sebesar 0.259 g, 0.269 g dan 0.252 g. Hasil pengukuran dari tiga
erlenmeyer menghasilkan massa uap kloroform yang berbeda-beda. Hal
ini diakibatkan oleh pemberian ukuran lubang pada penutup yang tidak
sama atau karena sudah ada uap etanol yang keluar dan hilang sehingga
mengurangi uap yang ada. Air ditambahkan pada erlenmeyer sampai
penuh, hal ini bertujuan untuk mengetahui massa erlenmeyer dan air.
Massa air dari hasil penimbangan diperoleh sebesar 65.645 g, 65.222 g, dan
65.661 g yang merupakan hasil rata-rata dari tiga kali penimbangan pada masing-masing
erlenmeyer.
Dari sini volume air dapat dicari menggunakan rumus

m
v , Hasil

perhitungan didapat volume rata-rata sebesar 0.0658 L. Nilai volume yang


diperoleh, dapat digunakan untuk mencari berat molekul senyawa volatil

dengan rumus

BM =

mRT
V P , Diperoleh hasil berat molekul yaitu 144.13 g/mol,

143.46 g/mol, dan 142.91 g/mol. Berat molekul rata-rata yang diperoleh yaitu
143.5 g/mol. Data dari literatur menyebutkan bahwa, berat molekul etanol
sebesar 119,38 gram/mol. Selisihnya yaitu sebesar 24.12 g/mol. Selisih yang
didapat terlalu jauh sehingga berat molekul hasil percobaan tidak dapat
diterima.
Hasil berat molekul yang didapat akan digunakan untuk menentukan

efisiensi. menggunakan rumus

BM percobaan
BM standar

. Nilai efisiensi yangg

didapat yaitu 119.6%. Nilai efisiensi yang diperoleh melebihi 100%. Nilai
efisiensi tidak logis karena melebihi 100%. Kesalahan hasil percobaan dengan berat molekul
standar bisa dimungkinkan karena adanya uap air yang masih ada pada erlenmeyer, uap
kloroform juga dimungkinkan ada yang keluar dari erlenmeyer yang mengakibatkan
kesalahan dalam perhitungan massa jenis gas dan pada akhirnya mengakibatkan kesalahan
pada perhitungan berat molekul.
Standard deviasi etanol dan kloroform dapat dihitung dengan persamaan

(BM- BMrata-rata ) 2
n-1

. Standart deviasi etanol sebesar 0.244 dan kloroform sebesar 0.447.

standart deviasi berfungsi memperlihatkan pola sebaran data, dan variasi sebaran antar data.
SD dapat menggambarkan seberapa jauh bervariasinya data. Jika nilai SD jauh lebih besar
dibandingkan nilai mean, maka nilai mean merupakan representasi yang buruk dari
keseluruhan data. Sedangkan jika nilai SD sangat kecil dibandingkan nilai mean, maka nilai
mean dapat digunakan sebagai representasi dari keseluruhan data. Besarnya ketidakpresisian

dapat dihitung dengan

I=

GM
x100%
GMrata-rata

dan kepresisian dapat dihitung dengan K =

100% -I. Ketidakpresisian etanol sebesar 0.4 % dan kloroform sebesar 0.3 %. Kepresisian
etanol sebesar 99.6% dan kloroform sebesar 99.7%. ketidakpresisian dan presisi digunakan
untuk mengetahui dekat perbedaan nilai pada saat dilakukan pengulangan pengukuran atau
sejauh mana pengulangan pengukuran dalam kondisi yang tidak berubah mendapatkan hasil
yang sama. Dari sini dapat diketahui pada bahan kloroform memiliki kepresisian yang lebih
besar dari etanol. Nilai akurasi etanol 55.11 g/mol 0,244 = 54.866 atau 55.354 dan nilai
akurasi kloroform 143.5 g/mol 0,447 = 143.5 g/mol atau 143.947.

BAB 5. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari percobaan penentuan berat molekul berdasarkan pengukuran massa
jenis gas adalah berat molekul etanol yang didapat setelah percobaan adalah 55.11g/mol,
sedangkan menurut literatur sebesar 46.08 g/mol. Berat molekul kloroform dari hasil
percobaan sebesar 143.5g/mol sedangkan menurut literatur sebesar 119.38 g/mol.

5.2 Saran
Sebaiknya praktikan lebih teliti dan berhati-hati dalam melakukan praktikum agar
tidak terjadi kesalahan yang dapat mempengaruhi hasil percobaan dan agar hasil percobaan
yang didapat lebih sesuai dengan literatur.

DAFTAR PUSTAKA
Atkins, P.W.1996. Kimia Fisik Jilid I Edisi IV. Jakarta: Erlangga.
Brady, J E.1999. Kimia Universitas Jilid 1 Edisi Kelima. Jakarta : Binarupa Aksara.
Hadiat. 1996. Kamus Pengetahuan Alam: untuk Umum dan Pelajar. Jakarta : Balai Pustaka.
Halliday dan Resnick. 1978. Fisika Jilid I. Jakarta : Erlangga.

Respati. 1999. Dasar - Dasar Ilmu Kimia Untuk Universitas. Yogyakarta : PT Rineka Cipta.
Sukardjo. 1990. Kimia Fisika. Yogyakarta : Rineka Cipta.
Tim Kimia Fisik. 2015. Penuntun Praktikum Kimia Fisik I. Jember :
Universitas Jember.
Yazid, E. 2005. Kimia Fisika untuk Paramedis. Yogyakarta : Andi Offset.

LEMBAR PERHITUNGAN
1. Etanol (3 mL)
a. Volume erlenmeyer
1 Suhu 28 tetapi menggunakan massa jenis air pada suhu 30 .

m
v
m
65,746 g
v
66,03cm 3 0,06603L
3
0,9957 g / cm

Suhu 28 tetapi menggunakan massa jenis air pada suhu 30 .


v

m
65,708 g

65,99cm 3 0,06599 L
3
0,9957 g / cm

Suhu 28 tetapi menggunakan massa jenis air pada suhu 30 .


v

m
65,516 g

65,798cm 3 0,065798 L
3
0,9957 g / cm
0,06603L 0,06599 L 0,065798 L
0,0659 L
3

Volume rata-rata erlenmeyer =


b. Faktor koreksi

PV nRT
m
PV
RT
BM
PVBM 1atm 0,0659 L 46,0 g / mol 3,03 g
m

0,123g
RT
0,08206 L.atm / mol.K 301K
24,7
c. Perhitungan berat molekul etanol
m
RT
BM
mRT 0,123 g 0,08206 L.atm / mol.K 360 K
1.BM

55,03g / mol
pv
1atm 0,06603L
pv

2.BM

mRT 0,123 g 0,08206 L.atm / mol.K 359 K

54,91g / mol
pv
1atm 0,06599 L

3.BM

mRT 0,123 g 0,08206 L.atm / mol.K 361K

55,38 g / mol
pv
1atm 0,065798 L

55,03 g / mol 54,91g / mo 55,38 g / mol


55,11g / mol
3

BM rata-rata

2. Kloroform (3 mL)

a. Volume erlenmeyer
1. Suhu 28 tetapi menggunakan massa jenis air pada suhu 30 .
m
v
m
65,645 g
v
65,93cm 3 0,06593L
3
0,9957 g / cm

2. Suhu 28 tetapi menggunakan massa jenis air pada suhu 30 .


v

m
65,222 g

65,503cm 3 0,065503L
0,9957 g / cm 3

3. Suhu 28 tetapi menggunakan massa jenis air pada suhu 30 .


v

m
65,661g

65,94cm 3 0,06594 L
3
0,9957 g / cm

0,06593L 0,065503L 0,06594 L


0,0658 L
3
Volume rata-rata erlenmeyer =
b. Faktor koreksi

PV nRT
m
PV
RT
BM
PVBM
1atm 0,0658L 120 g / mol 7,896 g
m

0,319 g
RT
0,08206 L.atm / mol.K 301K
24,7
c. Perhitungan berat molekul kloroform
m
RT
BM
mRT 0,319 g 0,08206 L.atm / mol.K 363K
1.BM

144,13g / mol
pv
1atm 0,06593L
pv

2.BM

mRT 0,319 g 0,08206 L.atm / mol.K 359 K

143,46 g / mol
pv
1atm 0,065503L

3.BM

mRT 0,319 g 0,08206 L.atm / mol.K 360 K

142,91g / mol
pv
1atm 0,06594 L

=
BM rata-rata

144,13 g / mol 143,46 g / mo 142,91g / mol


143,5 g / mol
3

Efisiensi
Pada etanol:
=

BM percobaan
55,11 g/mol
x 100% =
x100% =119,8%
BM standar
46,0 g/mol

Pada kloroform
=

BM percobaan
143,5 g/mol
x 100% =
x100% =119,6%
BM standar
120 g/mol

Standar deviasi
BM

BMrata-rata

BM

(BM

(g/mol)

(g/mol)

BMrata-rata

BMrata-rata)2

V (mL)

Ulangan

3
3
3

1
2
3

55,03
54,91
55,38

3
3
3

1
2
3

144,13
143,46
142,91

55,11

-0,08
0,2
0,27

143,5

0,63
-0,004
-0,059

I = ketidakpresisian
Pada etanol
I=

GM
0,244
x100%=
x100%=0,4%
GMrata-rata
55,11

Pada kloroform
I=

GM
0,447
x100%=
x100%=0,3%
GMrata-rata
143,5

K = kepresisian
Pada etanol
K = 100% - I = 100% - 0,4% = 99,6%
Pada kloroform
K = 100% - I = 100% - 0,3% = 99,7%
Pada etanol nilai akurasi:

0,0064
0,04
0,0729
0,1193
0,3969
1,6x10-5
3,5x10-3
0,4004

(BM- BMrata-rata ) 2
n-1
0,244

0,447

Nilai akurasi = BM rata-rata standart deviasi


= 55.11 g/mol - 0,244 = 54.866 atau = 55.11 g/mol + 0,244= 55.354
Pada kloroform nilai akurasi:
Nilai akurasi = BM rata-rata standart deviasi
= 143.5 g/mol - 0,447 = 143.053 atau = 143.5 g/mol + 0,244= 143.947

Anda mungkin juga menyukai