Anda di halaman 1dari 5

Tektonik Aktif

Oleh: Emi Sukiyah

Fenomena tektonik masa lampau dicerminkan oleh terbentuknya struktur geologi,


seperti perlipatan lapisan batuan, kekar dan sesar, sedangkan fenomena tektonik masa
kini diindikasikan oleh terjadinya gempabumi (Stewart & Hancock, 1994). Salah satu
teori tektonik yang kini banyak dianut adalah teori Tektonik Lempeng. Pada prinsipnya,
teori Tektonik Lempeng mengemukakan bahwa kerak bumi terdiri atas lempeng benua
dan lempeng samudera yang selalu bergerak. Hampir seluruh fenomena bencana dan
potensi alam (pusat gempabumi, saluran gempabumi, potensi sumberdaya mineral,
sumberdaya energi, dll.) dapat dijelaskan oleh teori tersebut.
Teori Tektonik Lempeng mendasari para ahli geologi dalam membahas dinamika
wilayah Indonesia, diantaranya adalah Hamilton (1979) dan Katili (1980). Secara geologi
wilayah Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik, yaitu lempeng Eurasia,
Indo-Australia dan Pasifik. Kondisi tersebut mengakibatkan tatanan geologi di wilayah
Indonesia sangat kompleks.
Tektonik seringkali berasosiasi dengan morfotektonik yang menyangkut karakter
bentangalam yang berhubungan dengan tektonik aktif (Doornkamp, 1986).

Dalam

perkembangannya, karakteristik bentangalam secara kuantitatif turut memperkaya


pemahaman tentang morfotektonik. Pada skala lokal dan regional fenomena tektonik
dapat dikenali dari bentangalam yang khas, seperti gawir, bentuk lembah, kelurusan
perbukitan, kelurusan sungai, pola pengaliran, dll. (Tabel 1).

Bull dan McFadden (1977; dalam Doornkamp, 1986) melakukan studi aktivitas
tektonik sepanjang Sesar Garlock di Kalifornia menggunakan indeks sinusitas muka
gunung (mountain-front sinuosity index) yang didefinisikan sebagai berikut:

Smf = Lmf/Ls

.................................................................................................... (1)

dengan Lmf = panjang muka gunung dan Ls = panjang proyeksi muka gunung ke bidang
datar (Gambar 1). Bila Smf mendekati 1 maka terjadi peningkatan kelurusan mendekati
ideal dan menunjukkan indikasi adanya pengangkatan (uplift) aktif. Sinusitas yang
meningkat mencerminkan kerja pengaliran air atau sungai (stream) yang memotong
dinding gunung (mountain-plains boundary). Berdasarkan indeks tersebut, selanjutnya
dikembangkan klasifikasi derajat aktivitas tektonik (Tabel 2).

Lmf
I-------------------------I
Ls

Gambar 1.

Prosedur pengukuran indeks sinusitas

Wells dkk (1988; dalam Stewart & Hancock, 1994) mengemukakan beberapa
indeks geomorfik yang dapat menjadi acuan untuk menentukan derajat aktivitas tektonik,
yaitu Vf (Valley floor-valley height ratio), V ratio (Valley cross-section), SL (Streamgradient index), dll (Tabel 3).

Tabel 1. Beberapa kriteria morfotektonik dan referensinya (Doornkamp, 1986)


No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.

Kriteria morfotektonik
Gawir sesar, pematang gunung (shutter
ridges), jajaran danau
Taji dan faset (spur and facets)
Pemisahan teras sungai
Deformasi kipas aluvial
Perubahan elevasi garis pantai
Pembumbungan permukaan yang relatif
datar (warping of planation surfaces)
Pembalikan sungai
Perubahan pola sungai
Kemunculan terumbu koral
Pergeseran bangunan buatan manusia
Tatanan gua terkekarkan
Respon kanal aliran (stream channel)
Perubahan hilir dalam sinusitas sungai
Laju sedimentasi
Pengaturan kerikil fluvial-glasial (fluvioglacial gravel)
Kekuatan pertumbuhan tanaman
Morfologi tanah dan alterasi mineral
Morfologi lereng gawir

Referensi
Cotton (1948)
Thornburry (1954)
Lensen (1968)
Bull (1964, 1977)
Matsuda dkk (1978)
Doornkamp & Temple (1966)
Wayland (1929)
Teale (1950)
Bloom dkk (1974, 1979)
Rogers & Nason (1971)
Lange (1970)
Cooke & Mortimer (1971)
Adams (1980)
Lofgren & Rubin (1975)
Sharma dkk (1980)
Babcock (1971)
Douglas (1980)
Palmer & Henyey (1971),
Wallace (1977)
Balling (1980)

19. Analisis rekaman penduga pasang


Tabel 2. Klasifikasi derajat aktivitas tektonik berdasarkan indeks sinusitas
muka gunung (Doornkamp, 1986)
Kelas

Smf

1,2-1,6

Aktivitas
tektonik
Tektonik aktif

Keterangan

Berasosiasi dengan bentangalam kipas aluvial,


cekungan pengaliran memanjang, dasar lembah
menyempit, kemiringan lereng curam.
2
1,8-3,4
Tektonik
Berasosiasi dengan bentangalam kipas aluvial,
menengah
cekungan pengaliran melebar, kemiringan lereng
sampai lemah curam, dasar lembah lebih lebar daripada dataran
banjirnya.
3
2,0-7,0 Tektonik tidak Berasosiasi dengan bentangalam muka gunung
aktif
pediment dan embayments, kemiringan lereng
curam hanya pada lapisan batuan yang resisten,
sistem lembah sedikit lebar dan terintegrasi.
Keterangan: Smf = indeks sinusitas muka gunung

Tabel 2.3 (landscape)

Berdasarkan hasil penelitian di daerah Curugagung Kabupaten Subang Jawa


Barat, Sukiyah (1993) menyimpulkan bahwa identifikasi kawasan rentan terhadap
deformasi secara kuantitatif juga dapat dilakukan melalui analisis kelurusan dari foto
udara. Semakin banyak kelurusan saling berpotongan pada suatu kawasan maka akan
semakin rentan lahan di kawasan tersebut terhadap deformasi. Hasil uji statistik terhadap
data arah kelurusan dan arah segmen sungai menunjukkan bahwa pola pengaliran di
kawasan tersebut dikontrol oleh tektonik.
Di samping melalui analisis morfotektonik, kajian tektonik suatu kawasan juga
dapat dilakukan dengan memahami karakteristik morfometri DAS. Strahler (1964; dalam
Mulyo, 2003 & Verstappen,1983) menyatakan bahwa suatu DAS yang memiliki rasio
cabang sungai atau bifurcation ratio (Rb) kurang dari 3 atau lebih dari 5 diindikasikan
telah mengalami deformasi akibat pengaruh tektonik. Berkaitan dengan hal tersebut,
Sukiyah (2005) dan Sukiyah dkk (2006) telah melakukan penelitian tentang tektonik aktif
di kawasan Cekungan Bandung dengan pendekatan morfometri DAS. Hasil penelitian
menunjukkan tidak ada keseragaman nilai rasio cabang sungai pada seluruh bagian suatu
DAS. Fenomena tersebut mengindikasikan bahwa peran struktur aktif pada suatu
deformasi DAS dapat terjadi hanya di bagian hulu, di bagian tengah atau di bagian hilir.
Secara statistik, disimpulkan pula bahwa ada implikasi nyata antara deformasi lahan
dengan tingkat erosi di kawasan tersebut.