Anda di halaman 1dari 6

ASI EKSKLUSIF

Upaya peningkatan gizi dan kesehatan merupakan bagian yang sangat penting
dalam meningkatkan kualitas dan taraf hidup serta kecerdasan dan kesejahteraan rakyat
pada umumnya dan upaya tersebut perlu dilaksanakan sedini mungkin sejak bayi dalam
kandungan. Salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam peningkatan
kualitas manusia adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI). Pemberian ASI semaksimal
mungkin merupakan kegiatan penting dalam pemeliharaan anak dan persiapan generasi
penerus di masa depan.1
Diperkirakan 80% dari jumlah ibu yang melahirkan ternyata mampu
menghasilkan air susu dalam jumlah yang cukup untuk keperluan bayinya secara penuh
tanpa makanan tambahan. Selama enam bulan pertama. Bahkan ibu yang gizinya kurang
baikpun sering dapat menghasilkan ASI cukup tanpa makanan tambahan selama tiga
bulan pertama.2
Sayangnya, pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih sangat memprihatinkan.
Akibat dari pemberian ASI dan pemberian makanan tambahan yang salah, sekitar 6,7 juta
balita atau 27,3 persen dari seluruh balita di Indonesia menderita kurang gizi dan
sebanyak 1,5 juta diantaranya menderita gizi buruk.3
Survei Demografi Kesehatan Indonesia Tahun 1997 dan 2002 menunjukkan
pemberian ASI kepada bayi satu jam setelah kelahiran menurun dari 8 persen menjadi 3,7
persen. Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan menurun dari 42,2 persen menjadi
39,5 persen, sedangkan penggunaan susu formula meningkat tiga kali lipat dari 10,8
persen menjadi 32,5 persen.Pada tahun 2002 – 2003, pemberian ASI eksklusif pada bayi
berumur 2 bulan hanya 64 persen. Persentase ini kemudian menurun cukup tajam
menjadi 46 persen pada bayi berumur 2 – 3 bulan dan 14 persen pada bayi berumur 4 – 5
bulan.3
Hasil penelitian yang dilakukan di Biro Konsultasi Anak di Rumah Sakit UGM
Yogyakarta tahun 1976 menunjukkan bahwa anak yang disusui sampai dengan satu tahun
50,6%. Sedangkan data dari survei Demografi Kesehatan Indonesia (SKDI) tahun 1991
bahwa ibu, yang memberikan ASI pada bayi 0-3 bulan yaitu 47% diperkotaan dan 55%
dipedesaan (Depkes 1992) dari laporan SKDI tahun 1994 menunjukkan bahwa ibu-ibu
yang memberikan ASI EKSLUSIF kepada bayinya mencapai 47%, sedangkan pada
repelita VI ditargetkan 80%.3
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr.Moh. Efendi di R.S. Umum Dr.
Kariadi Semarang tahun 1977 didapatkan pemberian ASI setelah umur 2 bulan 31,6%,
ASI + Susu botol 15,8% dan susu botol 52,6%. Sedangkan sebelumnya yaitu pada umur
1 bulan masih lebih baik yaitu 66,7% ASI dan 33,3% susu botol, dalam hal ini tampaknya
ada pengaruh susu botol lebih besar.4
Juga hasil penelitian Dr. Parma dkk di Rumah Sakit Umum Dr. M. Jamil Padang
tahun 1978 -1979 di dapatkan bahwa lama pemberian ASI saja sampai 4-6 bulan pada ibu
yang karyawan adalah 12,63% dan pada ibu rumah tangga sebanyak 21,27%. Apabila
dilihat dari pendidikannya ternyata 75% dari ibu-ibu yang berpendidikan tamat SD telah
memberikan makanan pendamping ASI yang terlalu dini pada bayi.5

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Air Susu Ibu (ASI) dan ASI eksklusif


Air Susu Ibu atau (ASI) adalah susu yang diproduksi oleh manusia untuk
konsumsi bayi dan merupakan sumber gizi utama bayi yang belum dapat mencerna
makanan padat dan merupakan makanan yang mutlak untuk bayi yaitu pada usia 0-6
bulan pertama kehidupannya. ASI mengandung semua zat gizi yang diperlukan oleh bayi
dengan komposisi yang sesuai dengan kebutuhan bayi. Sedangkan ASI Ekslusif adalah
perilaku dimana hanya memberikan Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sampai umur 4
(empat) bulan tanpa makanan dan ataupun minuman lain.8

Komposisi Air Susu Ibu


ASI memiliki komposisi yang berbeda-beda dari hari ke hari.
1. Kolostrum.
Kolostrum merupakan cairan pertama yang berwarna kekuning-kuningan (lebih
kuning dibandingkan susu matur). Cairan ini dari kelenjar payudara dan keluar pada hari
kesatu sampai hari keempat-tujuh dengan komposisi yang selalu berubah dari hari kehari.
Kolostrum mengandung zat anti infeksi 10-17 kali lebih banyak dibandingkan ASI matur.
Selain itu, kolostrum dapat berfungsi sebagai pencahar yang ideal untuk membersihkan
zat yang tidak terpakai dari usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran
pencernaan makanan bayi bagi makanan yang akan datang.
2. ASI Transisi (Peralihan).
ASI transisi diproduksi pada hari ke-4 sampai 7 hari ke-10 sampai 14. Pada masa
ini kadar protein berkurang, sedangkan kadar karbohidrat dan lemak serta volumenya
semakin meningkat.
3. ASI Mature. 6
ASI mature merupakan ASI yang diproduksi sejak hari ke-14 dan seterusnya
dengan komposisi yang relatif konstan. Pada ibu yang sehat dan memiliki jumlah ASI
yang cukup, ASI ini merupakan makanan satu-satunya yang paling baik bagi bayi sampai
umur enam bulan. Berikut ini adalah kandungan yang terdapat dalam ASI

1) Taurin adalah sejenis asam amino kedua yang terbanyak dalam ASI yang
berfungsi sebagai neuro-transmitter dan berperan penting untuk proses maturasi
sel otak.
2) Decosahexanoic Acid (DHA) dan Arachidonic Acid (AA) adalah asam lemak tak
jenuh rantai panjang (polyunsaturated fatty acids) yang diperlukan untuk
pembentukan sel-sel otak yang optimal. Jumlah DHA dan AA dalam ASI sangat
mencukupi untuk menjamin pertumbuhan dan kecerdasan anak
3) Selain mengandung protein yang tinggi, ASI memiliki perbandingan antara Whei
dan Casein yang sesuai untuk bayi. Rasio Whei dengan Casein merupakan salah
satu keunggulan ASI dibandingkan dengan susu sapi. ASI mengandung whey
lebih banyak yaitu 65:35. Komposisi ini menyebabkan protein ASI lebih mudah
diserap. Sedangkan pada susu sapi mempunyai perbandingan Whey :Casein
adalah 20 : 80, sehingga tidak mudah diserap.

Volume Produksi ASI

Hasil penyelidikan Suhardjo yang dikutip oleh Yeni Yenrina dan Diah Krisnatuti
(2002), volume ASI dari waktu ke waktu berubah, yaitu:
1) Enam bulan pertama : 500-700 ml ASI/ 24 jam
2) Enam bulan kedua : 400-600 ml ASI/ 24 jam
3) Setelah satu tahun : 300-500ml ASI/ 24 jam
Dalam kondisi normal kirakira 100 ml ASI pada hari kedua setelah melahirkan, dan
jumlahnya akan meningkat sampai kira-kira 500 ml dalam minggu kedua. Secara normal,
produksi ASI yang efektif dan terus-menerus akan dicapai pada kira-kira 10-14 hari
setelah melahirkan. Selama beberapa bulan berikutnya bayi yang sehat akan
mengkonsumsi sekitar 700-800 ml ASI setiap 24 jam.8
Volume ASI yang dapat dikonsumsi bayi dalam satu kali menyusui selama sehari
penuh sangat bervariasi. Ukuran payudara tidak ada hubungannya dengan volume air
susu yang dapat diproduksi, meskipun umumnya payudara yang berukuran sangat kecil,
terutama yang ukurannya tidak berubah selama masa kehamilan, hanya memproduksi
sejumlah kecil ASI. Emosi seperti tekanan (stress) atau kegelisahan merupakan faktor
penting yang mempengaruhi jumlah produksi ASI selama minggu-minggu pertama
menyusui.8

Mamfaat ASI Eksklusif10

Kolostrum mengandung zat kekebalan terutama IgA untuk melindungi bayi dari berbagai
penyakit infeksi terutama diare. Immunoglobulin A (Ig.A) dalam kolostrum atau ASI
kadarnya cukup tinggi. Sekretori Ig.A tidak diserap tetapi dapat melumpuhkan bakteri
patogen E. coli dan berbagai virus pada saluran pencernaan.

Antibodi pada ASI :

a) Laktoferin yaitu sejenis protein yang merupakan komponen zat kekebalan


yang mengikat zat besi di saluran pencernaan.
b) Lysosim, enzym yang melindungi bayi terhadap bakteri (E. coli dan
salmonella) dan virus. Jumlah lysosim dalam ASI 300 kali lebih banyak daripada
susu sapi.
c) Sel darah putih pada ASI pada 2 minggu pertama lebih dari 4000 sel per
mil. Terdiri dari 3 macam yaitu: Brochus-Asociated Lympocyte Tissue (BALT)
antibodi pernafasan, Gut Asociated Lympocyte Tissue (GALT) antibodi saluran
pernafasan, dan Mammary Asociated Lympocyte Tissue (MALT) antibodi
jaringan payudara ibu.
d) Faktor bifidus, sejenis karbohidrat yang mengandung nitrogen, menunjang
pertumbuhan bakteri lactobacillus bifidus. Bakteri ini menjaga keasaman flora
usus bayi dan berguna untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang merugikan.

2.) Jumlah kolostrum yang diproduksi bervariasi tergantung dari hisapan bayi pada
hari-hari pertama kelahiran. Walaupun sedikit namun cukup untuk memenuhi
kebutuhan gizi bayi. Oleh karena itu kolostrum harus diberikan pada bayi.

2) Kolostrum mengandung protein,vitamin A yang tinggi dan mengandung karbohidrat


dan lemak rendah, sehingga sesuai dengan kebutuhan gizi bayi pada hari-hari pertama
kelahiran.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi ASI.7


1) Makanan atau asupan gizi ibu
2) Ketentraman Jiwa dan Pikiran
Ibu yang selalu dalam keadaan gelisah, kurang percaya diri, rasa tertekan dan berbagai
bentuk ketegangan emosional, mungkin akan gagal dalam menyusui bayinya.
Pada ibu ada 2 macam, reflek yang menentukan keberhasilan dalam menyusui
bayinya, reflek tersebut adalah reflek Prolaktin dan Let-down Refleks (Refleks Milk
Ejection) refleks ini membuat memancarkan ASI keluar.
3) Pengaruh persalinan dan klinik bersalin
Ada pengaruh yang kurang baik terhadap kebiasaan memberikan ASI pada ibu-ibu
yang melahirkan di rumah sakit atau klinik bersalin lebih menitik beratkan upaya agar
persalinan dapat berlangsung dengan baik, ibu dan anak berada dalam keadaan
selamat dan sehat sedangkan masalah pemberian ASI kurang mendapat perhatian
sering makanan pertama yang diberikan justru susu buatan atau susu sapi. Hal ini
memberikan kesan yang tidak mendidik pada ibu, dan ibu selalu beranggapan bahwa
susu sapi lebih dari ASI.
4) Penggunaan alat kontrasepsi yang mengandung estrogen dan progesteron.
Bagi ibu yang dalam masa menyusui tidak dianjurkan menggunakan kontrasepsi pil
yang mengandung hormon estrogen, karena hal ini dapat mengurangi jumlah
produksi ASI bahkan dapat menghentikan produksi ASI secara keseluruhan.
5) Perawatan Payudara
Perawatan fisik payudara menjelang masa laktasi perlu dilakukan, yaitu dengan
mengurut payudara selama 6 minggu terakhir masa kehamilan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Kardjati, Sri,dkk.1999.Aspek Kesehatan Dan Gizi Balita.Yayasan Obor
Indonesia,Jakarta.
2. Winarno F.G. 1990. Gizi dan Makanan Bagi Bayi dan Anak Sapihan. Sinar Harapan,
Jakarta.
3. Depkes RI, 1997. Petunjujk Pelaksanaan Peningkatan ASI Ekslusif. Jakarta.
4. Suharyono dan Ebrahim G.Z. 1977. Air Susu Ibu. Yayasan Essentia Medika, Yogyakarta.
5. Sjahmien Moehji. 2002. Pemeliharaan Gizi Bayi dan Balita. Jakara: Bhratara
6. Utami Roesli. 2000. Mengenal ASI Eksklusif. Jakarta: PT Elex Komputindo
7. Siregar, Arifin.2004.Pemberian ASI eksklusif dan Faktor-Faktor yang
mempengaruhinya.
8. Deddy Muchtadi. 1996. Gizi untuk Bayi: ASI, Susu Formula dan Makanan
Tambahan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan..
9. ______86% Bayi di Indonesia tidak Diberi ASI Eksklusif.2008
www.indonesia.go.id
10. Diah Krisnatuti dan Rina Yenrina. 2000. Menyiapkan Makanan Pendamping
ASI.Jakarta: Puspa Swara