Anda di halaman 1dari 33

GENERATOR

Makalah
Disusun guna memenuhi tugas Analisis Sistem Tenaga

Disusun Oleh :
Brahmantya Adi Benaya

NIM.1331120066

Dhiva Ayu Samudra

NIM.1331120079

Fahim Rosyad M.

NIM 1331120076

Katon Wahyu

NIM.1231120083

Vinona Alfionita

NIM.1331120057

D3-2A
Program Studi Teknik Listrik
Jurusan Teknik Elektro
Politeknik Negeri Malang
2015

Kata Pengantar

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas


rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan
makalah yang berjudul Generator.
Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas mata
kuliah Analisa Sistem Tenaga Listrik yang di bimbing oleh Dosen
Bpk. B.E. Pras
Dalam Penulisan makalah ini, kami pihak penulis merasa masih
banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan
maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki
penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat
penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan
pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi
penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amiin.

Malang, 31 Maret 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata
pengantar ............................................................................................i
Daftar
isi ......................................................................................................ii
Bab I
PENDAHULUAN ..................................................................................1
A Latar
belakang .................................................................................... ....1
B. Tujuan
penulisan .................................................................................... 2
C. Manfaat
penulisan ...................................................................................2
Bab II
ISI........................................................................................................ 3
A. Pengertian dan Fungsi
Generator.3
B. Faktor-faktor keandalan
generator..4
C. Sistem Eksitasi
Generator.5
D. Rangkaian Ekuivalen
Generator.....8
E. Name Plate
Generator..11
F. Operasi Parallel Generator
Sinkron..13
G. Gangguan
Generator..16
H. Pola Pengamanan Sistem
Generator24
Bab III Pertanyaan dan Jawaban
A. Pertanyaan
B. Jawaban
Bab III Kesimpulan dan
Saran ........................................................................25
A.
Kesimpulan ............................................................................................ ..

..25
Daftar
pustaka ........................................................................................... ....26

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Generator sinkron merupakan komponen yang sangat penting
dalam sistem
tenaga listrik karena berperan dalam penyediaan energi listrik
yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat secara umum baik
industri, perkantoran, maupun
konsumen

rumah

tangga.

Energi

listrik

sudah

menjadi

kebutuhan yang vital bagi


masyarakat secara umum. Hampir selama 24 jam setiap harinya
konsumen

membutuhkan dan memakai energi listrik untuk berbagai


macam penggunaan.
Tetapi permasalahan penyediaan energi listrik dewasa ini
sudah menjadi
suatu hal yang perlu diperhatikan. Hal tersebut dikarenakan
seringnya terjadi
kekurangan penyediaan energi listrik terutama di Indonesia.
Kurangnya penyediaanenergi listrik tersebut mengakibatkan
kontinuitas produksi dari industri-industri menjadi terganggu,
kualitas kinerja setiap instansi perkantoran yang menggunakan
energi listrik menjadi berkurang, demikian juga pada konsumen
rumah tangga.Oleh karena itu, industri-industri, perkantoran
maupun konsumen rumah tangga menyediakan pembangkitan
energi listrik sendiri ataupun menyediakan generator cadangan.
Sehingga dapat dipastikan di Indonesia, penyediaan energi listrik
sendiri ataupun generator cadangan jumlahnya sangat banyak.
Perlu diketahui bahwa generator cadangan yang dipakai
untuk penyediaan energi listrik merupakan generator yang
dirancang oleh pabrik untuk melayani kondisi beban yang
seimbang. Sehingga untuk kondisi yang tidak ideal ataupun
kondisi beban yang tidak seimbang maka perlu diketahui
bagaimana

kondisi

generator

cadangan

tersebut.Sistem

pembangkitan milik Perusahaan Listrik Negara (PLN) memiliki


konfigurasi dimana generator selalu terhubung ke jaringan
transmisi lewat trafo penaik tegangan kemudian ke trafo
penurun tegangan dan diteruskan ke pusat beban melalui
jaringan

distribusi.

Sedangkan

pembangkitan

energi

listrik

sendiri berupa generator cadangan memiliki konfigurasi yang


langsung terhubung ke pusat beban tanpa melalui trafo. Dan
perlu diketahui bahwa beban terpasang yang dipasok oleh
generator

cadangan

umumnya

dalam

kondisi

seimbang.

Sehingga

generator

cadangan

yang

yang

tidak

terhubung

langsung dengan pusat beban yang sudah diinteroneksi harus


mampu melayani beban yang tidak seimbang dengan baik
B. TUJUAN PENULISAN

Untuk mengetahui dan memahami pengertian dan fungsi

dari generator
Untuk mengetahui dan memahami faktor-faktor keandalan

dari generator
Untuk mengetahui dan memahami system eksitasi pada

generator
Untuk mengetahui dan memahami Rangkaian ekuivalen

pada generator
Untuk mengetahui dan memahami Name plate yang

tertera pada generator


Untuk mengetahui dan memahami Operasi Parallel pada

generator sinkron
Untuk mengetahui dan memahami gangguan-gangguan

pada generator
Untuk mengetahui dan memahami pola pengamanan
system pada generator

C. MANFAAT PENULISAN

Dapat mengetahui dan memahami pengertian dan fungsi

dari generator
Dapat mengetahui dan memahami faktor-faktor keandalan

dari generator
Dapat mengetahui dan memahami system eksitasi pada

generator
Dapat mengetahui dan memahami Rangkaian ekuivalen

pada generator
Dapat mengetahui dan memahami Name plate yang
tertera pada generator

Dapat mengetahui dan memahami Operasi Parallel pada

generator sinkron
Dapat mengetahui dan memahami gangguan-gangguan

pada generator
Dapat mengetahui dan memahami pola pengamanan
system pada generator

BAB II ISI

D. PENGERTIAN & FUNGSI GENERATOR


Generator adalah alat untuk mengubah energi mekanik
menjadi

energi

listrik.

Tidak

ada

generator

yang

bisa

menghasilkan energi listrik tanpa adanya energi lain. Contohnya


generator dengan bahan pemutar adalah gas alam dengan
tekanan tinggi. Dengan tekanan yang tinggi, gas alam akan
terbakar

dan

memutar

prime

mover

(turbin

gas)

yang

tersambung pada poros yang sama dengan generator. Sehingga


generator bisa menghasilkan energi listrik. Dari pengertian di
atas, fungsi generator adalah mengubah energi mekanik menjadi
energi listrik. Hasil dari perubahan inilah yang disalurkan ke
beban-beban.
Proses perubahan energi mekanik menjadi energi listrik
dikenal sebagai konversi energi elektromekanis. melibatkan
medan magnet yang berfungsi sebagai media perantara. Input
ke mesin pembangkit dapat berasal dari sejumlah sumber energi.
Misalnya, dalam generasi tenaga listrik skala besar, batubara

dapat menghasilkan uap yang menggerakkan poros mesin.


Biasanya, untuk proses thermal tersebut, hanya sekitar 1/3
energi mentah (yaitu, dari batubara) diubah menjadi energi
mekanik. Langkah terakhir dari konversi energi cukup efisien,
dengan efisiensi mendekati 100%.

E. FAKTOR-FAKTOR KEANDALAN GENERATOR


Untuk menentukan keandalan generator, faktor-faktor yang
sering digunakan adalah load factor dan capacity factor.

Load Factor
Load Factor atau faktor beban adalah Beban rata-rata
untuk suatu periode tertentu dibagi dengan beban puncak
untuk periode yang sama.
Faktor beban= Beban ratarata / Beban puncak
Beban rata-rata adalah jumlah produksi kWh dalam selang
waktu tertentu dibagi jumlah jam dalam selang waktu yang
sama.
Beban puncak adalah beban sesaat atau beban rata-rata
pada interval tertentu. Biasanya menggunakan interval 15
menit atau 30 menit.

Capacity Factor

Capacity Factor atau Faktor Kapasitas adalah perbandingan


antara total produksi kWh dan daya terpasang dalam
selang waktu yang sama. Biasanya selang waktu yang
digunakan adalah setahun.
Faktor kapasitas= Total kWh / (Daya terpasang x jumlah
jam)
Parameter lain yang digunakan untuk menentukan keandalan
generator, yaitu:

Availability Factor
Availability Factor
perbandingan

atau

antara

Faktor

energi

Ketersedian

tersedia

dibagi

adalah
beban

terpasang.
Faktor ketersediaan= Energi tersedia / Beban terpasang

Utility Factor
Utility Factor atau Faktor Penggunaan adalah perbandingan
antara daya saat beban puncak dibagi daya terpasang.
Faktor Penggunaan= Daya saat Beban Puncak / Daya
Terpasang

Forced Outage Rate (FOR)


Forced Outage Rate (FOR) adalah perbandingan antara
jumlah jam gangguan dalam suatu unit dan total jam kerja
ditambah gangguan yang terjadi. Biasanya waktu yang
digunakan adalah setahun.
FOR= Jumlah jam gangguan / (jumlah jam gangguan +
jumlah jam kerja normal)

F. SISTEM EKSITASI PADA GENERATOR

1) Pengertian eksitasi
Penguatan medan atau disebut eksitasi adalah
pemberian

arus

listrik

untuk

membangkitkan

menguatkan kutub magnet pada generator. Dengan


mengatur besar kecil arus listrik tersebut, kita dapat
mengatur besar tegangan output generator atau dapat
juga mengatur besar daya reaktif yang diinginkan pada
generator yang sedang paralel dengan sistem jaringan
besar (infinite bus)
Fungsi utama dari eksitasi adalah membuat kutub
magnet pada generator, biasanya magnet pada rotor.
Fungsi lainnya adalah mengatur tegangan keluaran dari
generator.
tegangan

Jadi

dengan

generator

mengatur

juga

bisa

eksitasi,

diatur.

Alat

output
untuk

mengatur tegangan pada generator bernama AVR


(automatic voltage regulator). Alat ini termasuk alat
digital, jadi harus menggunakan bantuan CT dan PT
sebagai sensor.
2) Macam-macam sistem eksitasi
Berdasarkan Sumber
1. Sistem Eksitasi Statik, adalah sistem eksitasi yang
disuplai oleh rectifier. Sumbernya berasal dari output
generator itu sendiri, dari Sistem itu sendiri, atau trafo.
Intinya, sumbernya adalah sesuatu yang tidak berputar.

2. Sistem

Eksitasi

Dinamik/Rotatic,

adalah

sistem

eksitasi yang disuplai oleh mesin berputar. Bisa dari


generator DC atau Generator AC mandiri.
Berdasarkan ada tidaknya sikat arang
1. Brush

Type,

menyuplai
commutator

menggunakan

DC
dan

ke

sikat

arang

rotor.Membutuhkan
sikat

sebagai

untuk
slipring,

media.

Tipe

inimembutuhkan maintenance berkala.


2. Brushless
untuk

Type, tidak menggunakan sikat arang

meyuplai

commutator

dan

DC.
sikat

Tidakmembutuhkan
sebagai

media.

tidakmembutuhkan maintenance berkala.

slipring,
Tipe

ini

Jenis-Jenis Exciter
1. Pilot Exciter, Exciter yang paling awal menyuplai
tegangan ke exciter utama(main exciter). Prinsipnya,
Pilot exciter ini adalah generator yang rotornya berupa
magnet permanen dan seporos dengan Generator
utama.

Tidak

seperti generator utama yang saat

putaran awal tidak menghasilkan listrik, pilot exciter


akan

langsung

menghasilkan

listrik

saat

turbin

berputar.
2. Main Exciter, atau sering disebut exciter utama, adalah
exciter yang menyuplai DC ke rotor pada sebuah
generator. Biasanya sudah sepaket dengan AVR

G. RANGKAIAN EKUIVALEN GENERATOR

Rangkaian Ekuivalen Generator 1-fasa kutup silindris


Tegangan induksi Ea dibangkitkan pada kumparan jangkar
Generator. Tegangan ini biasanya tidak sama dengan tegangan
yang muncul pada terminal generator. Tegangan induksi ini
dianggap sama dengan tegangan output terminal generator
hanya ketika tidak ada arus jangkar yang mengalir pada
generator (generator tanpa beban). Beberapa faktor yang
menyebabkan

perbedaan

antara

tegangan

induksi

dengan

tegangan terminal ini adalah:


1. Distorsi medan magnet pada celah udara oleh mengalirnya
arus pada stator,
disebut reaksi jangkar.
2. Induktansi sendiri dari kumparan jangkar.
3. Resistansi dari kumparan jangkar.
4. Efek bentuk rotor kutub salient pole.
Karena semua faktor di atas mempengaruhi tegangan
keluaran

pada

terminar

generator,

maka

faktor-faktor

itu

dimasukan dalam menganalisa rangkaian ekuivalen generator


agar diperoleh hasil pendekatan yang lebih baik. Bila generator
yang digunakan adalah generator 1-fasa, maka kumparan
jangkar generator hanya membangkitkan gelombang AC 1-fasa,
sedangkan bila generator yang digunakan adalah generator 3-

fasa, maka kumparan jangkar generator akan membangkitkan


gelombang AC 3-fasa yang masing-masing berbeda fasa 1200.
Rangkaian

ekivalen

generator

sangat

bermanfaat

digunakan untuk menganalisa kondisi generator tanpa harus


mengoperasikan

generator

secara

nyata,

sehingga

dapat

diketahui bentuk karakteristik generator dalam berbagai kondisi


tanpa merusak generator. Apabila karakterisitik generator telah
diketahui tanpa harus mengoperasikan generator, maka dapat
direncanakan dengan baik beban yang cocok yang dapat
diberikan pada generator. Bentuk rangkaian ekuivalen generator
1-fasa diperllihatkan pada gambar 1.23.

Gambar 1.23 Rangkaian ekivalen generator 1-fasa


Dalam keadaan berbeban arus jangkar akan mengalir dan
mengakibatkan terjadinya reaksi jangkar. Reaksi jangkar besifat
reaktif, karena itu dinyatakan sebagai reaktansi, dan disebut
reaktansi magnetisasi akibat pengaruh reaktansi jangkar (Xar ).
Pada generator sinkron kutup silindris, kuat medan yang terjadi
merata di sekitar permukaan kutub, sehingga pengaruhnya
terhadap kumparan jangkar juga akan merata. Karena kuat
medan yang merata, maka Reaktansi ini (Xar) dapat dijumlahkan
langsung bersama-sama dengan reaktansi fluks bocor pada

kumparan jangkar (Xa ) yang kemudian dikenal sebagai reaktansi


sinkron (Xs).
Hubungan besarnya tegangan yang dibangkitkan generator ini
(Ea) terhadap reaktansi sinkron ini dan tegangan terminal
generator diperlihatkan pada persamaan persamaan sebagai
berikut.
Ea = Ia. (Ra + jXs) + V (1.12)
Xs = Xar + Xa (1.13)
yang mana:
Ea

tegangan

induksi

pada

jangkar

yang

dibangkitkan

generator (satuan Volt)


V = tegangan terminal output generator (atau boleh dibuat Vt,
satuan Volt))
Ra = resistansi jangkar (satuan Ohm)
Xs = reaktansi sinkron (satuan Ohm)
Ia = arus yang melewati jangkar generator (satuan Ampere)
Dari penjabaran rumus di atas terlihat bahwa tegangan
keluaran generator sangat dipengaruhi oleh besarnya arus
eksitasi

dan

jenis

beban

generator.

Makin

besar

beban

generator, maka makin besar pula drop tegangan yang terjadi


pada kumparan generator.

H. NAMEPLATE GENERATOR

GENERATOR ASINKRON 3 FASA

2100

dihasilkan generator
M/C NO. 62106152 : Nomer serial
Stator Volts 600 V : Tegangan pada kumparan stator 600V
Rotor Volts 3300 V : Tegangan pada kumparan rotor 3300V
ST/RT CONN / : hubungan belitan stator adalah delta

dan hubungan belitan rotor adalah bintang


Duty S1 : kerja yang berkelanjutan, beroperasi pada beban

konstan
Mounting IM B3 : dua bearing dengan kaki pada dasarnya

dan poros berbentuk silinder


RPM 1812 : generator diputar oleh prime mover dengan

kW/2815

HP

merupakan

kecepatan putar 1812 rpm

daya

output

yang

Cooling IC 616 : pendinginan menggunakan udara-udara

Stator Amps 2190 A : Arus pada kumparan stator 2190A


Rotor Amps 375 A : Arus pada kumparan rotor 375A
Power factor 0,92 : Generator memiliki power factor 0,92
Frequency 60 Hz : generator yang bekerja pada frekuensi

sistem 60 Hz
INSL CLASS H : kelas insolasi pada generator memiliki tipe
H

Type MRL063D04
Ambient -30 / 500C : panduan bahwa suhu ruang untuk
ruang

tertutup

maupun

terbuka

pemakaian

motor

maksimum 40.C
Altidude 1000 M : Tinggi diatas permukaan laut yang harus

di perhatikan jika memasang generator


Enclosure IP54 / IP23 SR : generatornya di dalam sangkar
dimana memiliki kode proteksi IP 54 = 5 : terlindung

terhadap endapan debu dan : terlindung dari cipratan air.


IP 23 SR = 2 terlindung terhadap benda lain dengan ukuran

12 mm dam 3 : terlindung dari semburan air yang halus


YEAR OF MFG 2006 : tahun saat generator di
Standard IEC 60034

I. OPERASI PARALEL GENERATOR SINKRON

Pendistribusian listrik harus dilakukan dengan cara yang


efisien dan dapat diandalkan dengan biaya yang wajar dengan
sedikit jumlah gangguan. Efisien yang dimaksud adalah
generator harus beroperasi tidak hanya pada efisiensi
maksimum, tetapi efisiensi harus maksimum pada atau dekat
beban penuh. Dalam permintaan kebutuhan energi listrik dapat
berfluktuasi dari beban cahaya ke beban berat dan sebaliknya
beberapa
kali
dalam
sehari,
hampir
mustahil
untuk
mengoperasikan generator tunggal pada efisiensi maksimum
sepanjang waktu.
Istilah "handal" menyiratkan bahwa konsumen tidak harus
sadar kerugian pada listrik setiap saat. Sebuah generator tunggal
tidak dapat menjamin operasi yang handal karena kemungkinan
kegagalan atau sengaja dimatikan (off) untuk periodik
pemeriksaan. Oleh karena itu, generator tunggal memasok
beban variabel tidak bisa sangat efisien, hemat biaya,
dan dapat diandalkan.
Untuk menjamin keandalan dan kontinuitas pelayanan
listrik, penting untuk menghasilkan tenaga listrik di lokasi pusat
di mana beberapa generator dapat dihubungkan secara paralel
untuk memenuhi permintaan listrik. Ketika permintaan adalah
beban penerangan, beberapa generator dapat off sementara
generator lainnya beroperasi pada efisiensi maksimum. Saat
permintaan meningkat, generator lain dapat masuk pada
jaringan tanpa menyebabkan gangguan layanan. Tidak hanya
semua generator di satu lokasi yang terhubung secara paralel ke
saluran umum dikenal sebagai infinite bus tapi mungkin ada
banyak pembangkit listrik memakai infinite bus yang sama.

Dengan demikian, hampir tak ada perubahan baik dalam


tegangan maupun frekuensi infinite bus. Oleh karena itu,
persyaratan berikut harus dipenuhi sebelum menghubungkan
generator ke infinite bus
1. Tegangan (line to line) masuk harus sama dengan
konstan tegangan infinite bus
2. Frekuensi generator yang masuk harus persis sama
dengan
yang
ada
pada
infinite bus
3. Urutan fase generator yang masuk harus identik
dengan urutan fase infinite bus
Gambar dibawah ini menunjukkan wiring diagram
untuk operasi paralel dari dua generator.

Generator A sudah terhubung ke infinite bus dan


mensuplai beban. Untuk memenuhi permintaan
beban yang meningkat, generator A perlu paralel
dengan generator B
Langkah 1: Generator B dijalankan pada atau mendekati
kecepatan no load seperti yang tertera pada name plate,
dan arus eksitasi dinaikkan dan diatur ke tingkat di mana
tegangan tanpa beban yang hampir sama dengan jaringan.
Tegangan tanpa beban diperiksa dengan menempatkan
voltmeter antara dua baris generator yang masuk, seperti

yang ditunjukkan pada gambar ketika pemutus sirkuit pada


posisi posisi terbuka.
Langkah 2: Untuk memverifikasi urutan fase, tiga lampu
terhubung asimetris seperti yang ditunjukkan. Ketika urutan
fase generator B sama dengan generator A (atau jaringan),
lampu L1 akan gelap sementara dua lampu lain bersinar
cerah. Jika urutan fasa tidak tepat, tiga lampu menjadi
terang atau gelap secara bersamaan.
Langkah 3: Bila urutan fasa sudah tepat dan frekuensi yang
masuk pada generator persis sama dengan yang ada pada
jaringan, lampu L1 akan tetap gelap sementara yang lain
lampu tetap terang
Setiap ketidakcocokan kecil dalam frekuensi memaksa tiga lampu
untuk berubah dari gelap ke terang secara berurutan. Selain
lampu, sebuah alat yang disebut synchroscope juga yang
digunakan untuk memeriksa kondisi sinkron, yang terhubung di
salah satu fase. Synchroscope terhubung di fase R. Synchroscope
mengukur sudut fase antara fase yang masuk dari generator B
dan jaringan.

Ketika frekuensi generator A dan B sudah sama dan urutan


fasenya sudah tepat, perbedaan fasa antara dua fase R harus
nol. Hal ini sesuai dengan posisi vertikal ke atas dari jarum
synchroscope. Rotasi searah jarum jam (atau fast) synchroscope
ini menunjukkan bahwa fase R generator B mendahului fase
jaringan. Dengan kata lain, frekuensi (dan karena itu kecepatan)
dari generator B sedikit lebih besar dari infinite bus, dan
sebaliknya untuk rotasi berlawanan. Kecepatan diubah dengan

mengontrol masukan mekanik untuk generator. Selanjutnya


generator B siap untuk dimasukkan ke dalam sistem dengan
menutup pemutus sirkuit ketika :
(a)Tegangan listrik yang masuk dari generator
dengan infinite grid

B adalah sama

(b)Lampu L1 gelap, sementara dua lampu lain yang cerah


(c)Jarum synchroscope yang menunjuk vertikal ke atas (posisi
perbedaan sudut nol ).
Setelah pemutus sirkuit tertutup, generator B akan menyala.
Pada saat ini, tidak menerima atau memberikan daya. Hal ini
disebut sebagai tahap mengambang generator.

G.

1.

A.

GANGGUAN GENERATOR

Gangguan Internal

Gangguan Fasa Stator

Gangguan fasa ke fasa pada stator baik gangguan


dua fasa maupun tiga fasa dideteksi menggunakan relay
arus lebih (OCR). OCR harus mampu mendeteksi arus
urutan negatif, karena setiap gangguan fasa-fasa akan
timbul arus urutan negatif. Jika tidak diisolir, arus lebih akibat
gangguan pasti menyebabkan overheat pada lilitan stator.
Jika panas berlebih yang timbul melebihi batas kemampuan

isolasi dan winding stator maka dapat terjadi kegagalan pada


stator.

OCR memperoleh sinyal masukan dari tiga buah CT. Pada


kondisi
normal,
arus
masingmasing fasa (urutan positif)
memiliki besar yang sama namun berbeda sudut 120 0.
Gangguan dua fasa atau tiga fasa akan menyebabkan besar
arus
setiap fasa tidak sama. Gangguan tiga fasa dapat
mengakibatkan besar arus yang mengalir mencapai 6-7 kali
arus nominal. Seting relay berdasarkan pada kemungkinan
arus gangguan fasa-fasa yang paling kecil yaitu gangguan
dua fasa. Pada kenyataan di lapangan, menggunakan nilai
setting arus sekitar 12,8% nilai nominal per fasa atau dengan
kata lain lebih kecil dari nilai gangguan satu fasa ke tanah.
Fungsi proteksi fasa-fasa stator G60 memiliki tiga jenis elemen
yaitu :
satu elemen Phase Time Overcurrent
dua elemen Phase Instantaneous Overcurrent
satu elemen Phase Directional Overcurrent

B.

Gangguan Tanah Stator

Untuk mendeteksi gangguan


melibatkan tanah pada stator

hubung

singkat

yang

digunakan
Ground
OCR.
Ground
OCR
harus
mampu
mendeteksi arus urutan nol, karena setiap gangguan hubung
tanah pasti menghasilkan arus urutan nol Ganguan hubung
tanah adalah gangguan yang paling banyak terjadi. Arus lebih

dalam
rangkaian
medan
atau
gangguan
pada
AVR
(Automatic
Voltage
Regulator).
Untuk
menghindari
ini
generator harus trip apabila rangkaian medan terbuka. Prinsip
pendeteksian
gangguan
hilang
eksitasi
berdasarkan
perubahan pada impedansi terminal generator dan berada
pada stator. Perubahan besaran impedansi terminal generator
adalah karena perubahan arus stator (naik), maka tegangan
terminal akan turun. Untuk mendeteksi gangguan hilang
eksitasi digunakan offset mho relay. Dua offset mho relay
biasa digunakan sebagai proteksi hilang eksitasi. Relay 1
digunakan sebagai alarm
peringatan sedangkan relay 2
digunakan sebagai sinyal trip pada kondisi hilang eksitasi.

Masukan relay berupa besaran arus diukur pada pada


masing-masing fasa dan besaran tegangan yang dideteksi
oleh dua VT. Pada saat impedansi terukur lebih kecil dari nilai
setting maka relay akan mengirim sinyal ke circuit breaker
generator untuk trip. Relay yang digunakan umumnya
bersifat instantaneous dengan setting sudut phasa . Prinsip
kerja deteksi hilang eksitasi G60 sesuai dengan karakteristik
kurva offset mho relay berikut ini :

saat terjadi terjadi gangguan rotor ke tanah maka


impedansi terukur akan berubah menjadi lebih kecil. Relay
gangguan ini umumnya digunakan setting 2000 , jika
impedansi terukur > 2000 maka relay akan mengirimkan
sinyal
trip
kepada
breaker generator.
Kapasitor
pada
rangkaian diperlukan untuk blocking arus dari stator agar
tidak mengalir ke relay sehingga dideteksi sebagai gangguan.
Proteksi gangguan tanah pada rotor menggunakan G60
terdapat pada sistem kontrol eksitasi (EX2100) yaitu Field
Ground Detector, terpisah dengan G60 Relay. Seting yang
digunakan berdasarkan besaran impedansi terukur yaitu hasil
perbandingan tegangan sumber dan aliran arus. Nilai yang
terbaca akan dikirim kepada processor (DSP) melalui fiber
optik untuk diolah berdasarkan program ataupun setting. Saat
prosessor mendeteksi adanya gangguan hubung singkat tanah
pada rotor maka prosessor akan mengirmkan sinyal kepada
breaker exciteruntuk trip.
C.

Gangguan Tanah Rotor

Hubung tanah dalam sirkuit rotor, yaitu hubung


singkat antara konduktor rotor dengan badan (body) rotor
yang berakibat menimbulkan ketidakseimbangan fluksi yang
dihasilkan rotor dan selanjutnya dapat menimbulkan getaran
(vibrasi) berlebihan dalam generator dan dapat merusak
rotor secara fatal. Gangguan ini dideteksi oleh relay rotor
hubung tanah. Karena sirkuit rotor adalah sirkuit arus searah,
maka gangguan rotor hubung tanah tidak dapat dideteksi
dengan Ground Fault Relay.
Gangguan
ini
dideteksi

menggunakan relay impedansi. Berikut


gangguan satu fasa ke tanah pada rotor :

rangkaian

proteksi

Relay rotor hubung tanah merupakan serangkaian


komponen yang terdiri dari sumber tegangan kotak frekuensi
rendah dan relay impedansi. Sumber tegangan kotak dengan
amplitudo 40 V AC, frekuensi 4 Hz. Impedansi diukur
berdasarkan perbandingan antara tegangan sumber gelombang
kotak dengan arus rotor.

2.

Kondisi Operasi Abnormal

a.

Loss of Excitation

b.

Generator - Motoring

Jika input mekanis prime mover dihilangkan sementara saat


generator dalam pelayanan, maka
Gelombang GGL rotor akan cenderung menggerakkan rotor,
seperti motor induksi. Hal ini berbahaya untuk turbin uap dan
hidro ( pada PLTU dan PLTA )
.Pada turbin uap, hal itu dapat menyebabkan panas yang
berlebihan sementara di turbin hidro itu akan menyebabkan
kavitasi dari turbin. Otomotif generator dapat dideteksi dengan
relay daya balik . memiliki sensitivitas 0,5% dari nilai output daya
dengan waktu tunda kira kira 2 detik.

c.

Over Voltage

Bagaimana ?
Pada nilai nominalnya, proteksi beban lebih harus lebih mudah.
Pertama , kita harus meningkatkan alarm jika tegangan lebih di
atas 110 % dari nilai rating. Akan ada sebuah short berikutnya
jika berlanjut untuk 1 menit apa lebih. Tegangan lebih yang
sangat besar dari urutan 120% dari nilai rating atau diatasnya,
akan menyebabkan trip kurang lebih 6 detik
Mengapa ?
Tegangan terminal generator dikontrol oleh regulator tegangan
otomatis ( AVR ). Jika arus beban
( I ) pada generator mengurangi , AVR secara otomatis akan
mengurangi arus medan sehingga dapat mengurangi terbuka
sirkuit emf E untuk menjaga konstan tegangan terminal V.
Namun , hilangnya sekering VT , operasi tidak benar atau
setting AVR dll dapat menyebabkan tegangan lebih yang
merugikan generator . Steady state lebih
tegangan akan menyebabkan kejenuhan besi , baik untuk
generator dan transformator unit yang terhubung. ini
akan menyebabkan arus magnetizing besar , pola fluks tidak
dapat diterima , over-heating , yang dapat merusak
daya aparatur . Oleh karena itu , generator harus dilindungi
terhadap tegangan lebih .
V/f Protection
Selama start- up atau shut down , kecepatan generator akan
menyimpang secara signifikan dari
Kecepatan nominal. Sesuai persamaan emf ( E = 4.44fm N ) ,
overfluxing inti bukan hanya konsekuensi dari
lebih tegangan sehubungan dengan tegangan nominal .
Sebaliknya overfluxing terjadi ketika V / f ratio melebihi nya
nilai nominal . Oleh karena itu , tegangan lebih perlindungan
diimplementasikan setelah normalisasi tegangan terminal oleh
frekuensi generator .

d.

Unbalanced Operation

Sering kali, sebuah generator terhubung ke sistem


menggunakan transformer delta / bintang. Lilitan delta di sisi
generator, mengikat urutan nol dari mengalir melalui belitan
fasa. Namun arus urutan positif dan negatif akan menemukan
jalan ke lilitan stator mereka. Arus urutan positif tidak dapat
membedakan antara kondisi operasi yang seimbang dan tidak
seimbang. Pada sisi lain, arus urutan negatif dengan jelas
menunjukkan ketidak normalan. Oleh karena itu itu bisa dipakai
sebagai pembeda efektif untuk operasi tidak seimbang. Arus
urutan negatif mencipatakan sebuah gelombang magnetomotive
force (GGL) yang arahnya berlawanan dengan arah rotasi rotor.
Oleh karena itu, itu melawan arus kedua induksi rotor di rotor,
yang mana dapat menyebabkan over heating yang parah dan
akhirnya, mencairkan wedges di celah udara. Standar ANSI telah
menetapkan bahwa batasnya dapat dinyatakan dengan

i22 dt=k

di mana

i2

mengalir arus urutan negatif. Perancang

mesin menetapkan konstanta k. Ini dapat dikisaran 5 50.


Inverse-time relai over current di eksitasi oleh urutan negatif
dapat digunakan untuk proteksi ini.

H.

POLA PENGAMANAN GENERATOR

a.

Relay Arus Lebih


Relay berdasarkan kenaikan arus yang melewatinya dan

juga berdasarkan setting waktu yang ditentukan. Biasa bekerja


sebagai pengaman hubung singkat and beban lebih pada
generator.
b.

Relay differensial

Relay yang cara kerjanya membandingkan arus pada sisi


primer dan sisi sekunder generator. Jika terjadi gangguan di
dalam daerah kerja differensial maka arus kedua sisi akan saling
menjumlah dan rele memberi perintah kepada circuit breaker
untuk memutuskan arus
c.

Relay stator hubung tanah


Relay

yang

berfungsi

untuk

mendeteksi

gangguan

pentanahan atau grounding pada generator.


d.

Relay daya Balik


Relay yang berfungsi untu mendeteksi aliran daya balik

aktif yang masuk pada generator. Sehingga mencegah generator


bertindak sebagai motor.
e.

Relay Tegangan Lebih


1. Relay terpasang di titik netral generator atau trafo tegangan yang di
hubungkan segitiga terbuka untuk mendeteksi gangguan stator hubungan
tanah.
2. Relay terpasang pada terminal generator untuk mendeteksi tegangan
lebih.

f.

Relay Penguatan Hilang


Relay Untuk mendeteksi kehilangan medan penguat generator.

g.

Relay rotor hubung tanah


Relay untuk mendeteksi hubung singkat antara konduktor

rotor dengan badan rotor dimana dapat menimbulkan distorsi


medan magnet yang dihasilkan rotor dan selanjutnya dapat
menimbulkan getaran ( vibrasi ) berlebihan dalam generator.
h.

Relay arus urutan negative

Untuk mendeteksi arus urutan negatif yang disebabkan oleh


beban tidak seimbang pada batas-batas yang tidak diizinkan

Berikut adalah contoh konfigurasi relay pada sebuah generator :

BAB III

PENUTUPAN

A. KESIMPULAN
Generator sinkron adalah alat yang digunakan untuk mengubah energy mekanik
untuk diubah menjadi listrik bolak balik (AC). Generator ini terdiri dari dua
bagian, yaitu rotor dan stator. Rotor adalah bagian genertor yang bergerak, seperti
kumparan. Sedangkan Stator adalah bagian generator yang diam, seperti magnet
permanen, cincin, dan sikat/terminal.

DAFTAR PUSTAKA

AC Power System Hand Book


Investigation on Generator Loss of Excitation
Generator dan Exciter Basic
Control and Configuration of Generator Excitation System as
Current main stream
SPLN 52-2 1985 Pola Pengamanan Sistem Generator
IEC 60034
PUIL 2000