Anda di halaman 1dari 6

BAB II

TEORI DASAR

Komposit terbentuk dari susunan lamina membentuk laminat. Lamina adalah lapisan tipis
suatu material yang menyusun komposit. Tebal suatu lamina sama dengan ketebalan dimana
plane stress dan plane strain terjadi. Laminat adalah tumpukan 2 atau lebih lamina dengan
orientasi tertentu. Ilustrasi gambarnya di bawah ini :

Sumber : http://www.fao.org/docrep/007/ad416e/ad416e05.htm
Setiap lamina punya system koordinat yang disebut sistem koordinat lamina. Sistem
koordinat lamina adalah sistem koordinat yang menunjukan sifat material dalam lamina dengan
notasi sumbu x, y, z. Selain itu system koordinat laminat juga menunjukan sifat komposi secara
keseluruhan (laminat) akibat dari pengaruh orientasi penyusunan lamina-lamina dengan notasi
berupa 1, 2, 3.

Jenis-jenis laminat berdasarkan orientasi lamina adalah :


1. Laminat simetri adalah lamina yang mempunyai sifat atau karakteristik mid-plane nya
mempunyai jarak yang sama dengan setiap lamina dan cerminan lamina tersebut.
Contohnya 0,90,45,45,90,0. Gambarnya dibawaha ini :

(0 ,9 0 )s
2. Laminat asimetris atau tidak simetris

(0 ,9 0 )s
adalah lamina yang tiap laminanya dengan

orientasi tertentu tidak mempunyai jarak yang sama dengan cerminannya terhadap midplane. Contohnya 0,90,45,0,90,45.
3. Laminat antisimetris adalah laminat yang mempunyai susunan orientasi berkebalikan
terhadap mid-planenya. Contohnya , laminat yang terdiri dari 2 lamina dikatakan laminat
antisimetris jika susunan laminatnya : a/(-a) berarti susunannya 90,-90.
4. Laminat cross ply adalah laminat yang disusun dengan urutan 0/90/90/0 untuk laminat
simetris atau 0/90/0/90 untuk laminat tidak simetris.
Setiap lamina merasakan suatu tegangan berupa stress in plane dan stress out plane. Stress in
plane adalah semua tegangan yang terjadi pada lamina. Tegangan yang termasuk kategori stress
in plane adalah tegangan normal dan geser. Stress out plane adalah suatu tegangan yang berada
di luar bidang lamina. Tegangan yang termasuk kategori stress out plane adalah momen bending
dan momen puntir.
Selain itu jenis pembebanan lainnya adalah pembebanan higrotermal. Pembebanan
higrothermal terjadi karena kemampuan material penyusun komposit yang mungkin berbeda
dalam respon perubahan volume terhadap temperature. Sementara itu, kemampuan material
dalam penyerapan air juga dapat menyebabkan pembebanan higrotermal.
Praktikum teori laminat klasik diperlukan dan didapatkan beberapa konstanta teknik.
Konsatanta teknik ini dapat menunjukan sifat mekanik dari material laminat. Konstantakonstanta yang diperlukan adalah :

a) =. Menggambarkan kemampuan material untuk berubah volumenya akibat pengaruh


temperatur
b) = Menggambarkan kemampuan material untuk berubah volumenya akibat
penyerapan uap air
c) E= Modulus Elastisitas
d) G= Modulus geser
e) v= poisson ratio
Dalam teori laminat klasik terdapat 2 kriteria kegagalan yaitu :
1. First Ply Failure (FPF)
Kriteria kegagalan komposit saat satu lamina di dalam laminat mengalami kegagalan
pertama kali akibat pembebanan. Bila hal ini terjadi, belum tentu seluruh laminat itu
akan langsung mengalami kegagalan, tapi lamina-lamina lain akan mengalami
kegagalan secara bertahap. Daerah yang berwarna gelap adalah first ply failure
envelope.
FC 90

FPF

FC 0

Sumber :
http://help.solidworks.com/2013/English/SolidWorks/cworks/r_Guidelines_for_Selec
ting_Failure_Criterion_2.htm?id=2fe459a2e2594ea3a764e8d90aea4de0
2. Last Ply Failure (LPF)
Kriteria kegagalan komposit berupa kegagalan seluruh laminatnya karena sudah tidak
mampu lagi menerima pembebanan Daerah dari failure loci pada lapisan lapisan yang
telah mengalami degradasi disebut last ply failure. LPF tidak selalu merupakan
kegagalan terakhir dari suatu laminat. Untuk menentukan kegagalan terakhir dari
suatu laminat kita harus memperhitungkan LPF dan FPF envelope.

F C 9 0 d e g ra d e d

LPF

F C 0 d e g ra d e d

Sumber : http://classes.mst.edu/civeng120/lessons/failure/theories/index.html
Dalam aplikasinya, kegagalan pada laminat bisa terjadi secara FPF. Kemudian setelah itu
baru laminat gagal secara LPF. Namun ada juga laminat yang gagal langsung secara LPF, tanpa
mengalami kegagalan secara FPF.
Di dalam praktikum ini, kami menggunakan program GENLAM. Dengan program
tersebut, kita dapat mendapatkan sifat-sifat komposit dalam bentuk matriks kekakuan. Matriks
kekakuan menghubungkan deformasi yang terjadi akibat gaya yang diberikan. Dimensi panjang
dan lebar pelat laminat mempunyai unit panjang, sedangkan tebal laminat didefinisikan dari tebal
yang dimiliki oleh tebal lapisan. Oleh sebab itu matriks kekakuan absolut memiliki dimensi.
Matriks kekakuan dinormalisasi terhadap ketebalan laminat.
Matriks kekakuan absolut memiliki format sebagai berikut:
N i Aij
M B
i ij

Bij 0j

Dij j

keterangan :

N = beban-beban yang bekerja pada bidang (in-plane loads) di arah 1, 2 atau 6.

M = momen akibat bending atau puntir (bending or torsional moments)

0 = regangan pada bidang (in-plane deformations)

A = matriks kekakuan bidang (in-plane stiffness matrix) yang menghubungkan

= kelengkungan (curvatures)

beban dan regangan yang bekerja pada bidang.

D = matriks kekakuan bending (flexural stiffness matrix) yang menghubungkan


momen dengan kelengkungan.

B = matriks kekakuan kopel (coupling stiffness matrix)

Dalam aplikasinya, kegagalan pada laminat bisa terjadi secara FPF. Kemudian setelah itu
baru laminat gagal secara LPF. Namun ada juga laminat yang gagal langsung secara LPF, tanpa
mengalami kegagalan secara FPF. Dalam software GENLAM inipun kita juga bisa mengetahui
kegagalan apa yang terjadi pada laminat. Skema perhitungan dalam Teori Laminat Klasik:

M a t e r a l p r o p e r tie s

L a m in a te s ta c k in g s e q u e n c e

[S ], [C ]
A
N
A
N
E

[T ]

s b o lu te s tiffn e s s m a t r ix
o r m a lis e d s t iff n e s s m a t r ix
b s o lu t e c o m p lia n c e m a t r ix
o r m a lis e d c o m p lia n c e m a tr ix
n g in e e r in g c o n s ta n ts
L o a d s a n d m o m e n ts
H y g r o t h e r m a l lo a d s
G lo b a l s t r e s s e s
G lo b a l s t r a in s
P ly s tr e s s e s ( 1 , 2 )
[T ]
P ly s tr a in s ( x , y )
[S ], [C ]
P ly s tr e s s e s ( x ,y )
F a ilu r e c r ite r io n
F a ilu r e ?

Sumber : http://www.google.com/patents/US5554430
Ada 2 jenis pembebanan pada program GENLAM ini yaitu
a. Pembebanan mekanik

Pembebanan yang diberikan kepada material komposit dari luar, seperti beban tarik,
beban geser, atau momen lentur.
b. Pembebanan higrotermal
Pembebanan ini ditentukan oleh temperatur operasi dan kadar penyerapan uap air.
Meskipun tidak terkena pembebanan mekanik, namun suatu komposit polimer
(terutama yang menggunakan matriks dari polimer komposit) dapat mengalami
penurunan kekuatan mekanik dan perubahan pada modulus elastisitasnya akibat
penyerapan ai