Anda di halaman 1dari 64

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR BUDIDAYA TANAMAN


Media Tanam dan Bahan Tanam

Nama

: Fanani Dwi Kamaluddin

Kelas

: L2

Nim

: 145040201111009

Asisten Praktikum : Ramadan Primadana


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Dalam mengawali budidaya tanaman dibutuhkan media tanam dan bahan
tanam. Keberadaan media tanam ini tidak dapat dipisahkan dari bahan tanam. Media
tanam dapat diartikan sebagai tempat tumbuh tanaman. Bahan tanam digunakan
untuk mengawali proses budidaya.
Media tanam dapat berupa tanah dan bukan tanah. Pemilihan media tanam
harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman yang akan ditanam. Media tanam
berperan dalam penyediaan unsur hara dan air bagi tanaman, juga sebagai tempat
menopang pertumbuhan akar tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh dengan tegak.
Selain media tanam pemilihan bahan tanam juga harus diperhatikan.
Pemilihan bahan tanam dapat menetukan keberhasilan proses budidaya. Bahan tanam
dapat diartikan sebagai sesuatu yang kita tanam. Bahan tanam dapat berupa biji,benih
dan bibit. Penggunaan jenis bahan tanam harus disesuaikan dengan karakteristik
tanaman dan media tanam.

1.2.Tujuan
Adapun tujuan diadakan praktikum media tanam dan bahan tanam ini antara lain
sebagai berikut :
1. Mengetahui pengertian media tanaman
2. Mengetahui pengertian bahan tanam
3. Mengetahui fungsi media tanam
4. Mengetahui macam-macam media tanam
5. Mengetahui syarat media tanam yang baik
6. Mengetahui pengertian perkecambahan
7. Mengetahui pengertian benih, bibit, dan biji
8. Mengetahui macam-macam tipe perkecambahan
9. Mengetahui pengertian perbanyakan vegetatif dan generatif
10. Mengetahui macam-macam perkembangbiakan vegetatif
11. Mengetahui keuntungan dan kerugian perbanykan vegetatif dan generatif
12. Mengetahui faktor yang mempengaruhi keberhasilan perbanyakan vegetatif
dan generatif

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1.

Pengertian Media Tanam


Media tanam dapat didefinisikan sebagai kumpulan bahan atau substrat

tempat tumbuh benih yang disebarkan atau ditanam. Media tanam banyak macam
ragamnya, dapat merupakan campuran dari bermacam-macam bahan atau satu jenis
bahan saja asalkan memenuhi beberapa persyaratan, antara lain cukup baik dalam
memegang air, bersifat porous sehingga air siraman tidak menggenang (becek), tidak

bersifat toksik (racun) bagi tanaman, dan yang paling penting media tanam tersebut
cukup mengandung unsur-unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman.
(Widarto, 1996)
2.2.

Pengertian Bahan Tanam


Bahan tanam adalah dari pohon yang digunakan untuk memperbanyak

tanaman, baik untuk perbanyakan vegetatif maupun perbanyakan generatif. Bahan


tanam harus berasal dari pohon induk yang sehat dan telah diketahui silsilahnya,
mudah dikembangkan produktivitas tinggi, berbatang kekar tumbuh normal serta
memiliki perakaean kuat dan rimbum.
(Redaksi Agromedia, 2010)
2.3.

Fungsi Media Tanam


1. Tempat berdiri tegak tanaman
Cukup kuat memegang tanaman agar tetap tegak (media cukup berat atau
diperlukan penyangga) Ada keseimbangan ukuran tanaman dan BD (Bulk
Density = Kerapan Massa) media.
2. Suplai Nutrisi/Hara
Total suplai dibatasi oleh ukuran wadah.Oleh karena itu media seharusnya
memeliki CEC yg tinggi.pH dalam keadaan optimum.

3. Tempat Suplai Air


Porositas yg baik akan menyediakan air dan oksigen yg cukup bagi
pertumbuhan tanaman.Aerasi yg baik akan memperlancar respirasi dan
menjamin pergerakan CO2 untuk dapat keluar dari media.
(Bambang, 2010)
2.4.

Macam-Macam Media Tanam


2.4.1. Media Tanam Organik
1. Pupuk kandang
Pupuk kandang yang baik digunakan adalah pupuk kandang matang yang
telah terfermentasi dengan baik. Tandanya warna cenderung kehitaman, dan
teksturnya lebih remah dibanding pupuk kandang mentah. Penggunaan pupuk
kandang yang masih mentah akan berakibat buruk pada tanaman.

Pupuk kandang yang banyak digunakan umumnya adalah pupuk kandang


kambing, karena disamping mengandung unsur Nitrogen yang cukup, karena
bentuknya yang berupa butiran, membuat pupuk kandang kambing lebih awet
dan tidak mudah hancur apabila terkena siraman air.
Kelebihan penggunaan pupuk kandang sebagai komponen media tanam
adalah menjamin ketersediaan unsur hara bagi tanaman, walaupun tanpa
tambahan pupuk kimia. Sedangkan kekurangan pupuk kandang adalah,
apabila tidak disterilisasi dengan baik, maka pupuk kandang cenderung
mengandung bibit penyakit dan hama bagi tanaman. Selain itu penggunaan
pupuk kandang secara berlebihan sering membuat tampilan keseluruhan
tanaman dan pot menjadi kurang indah, apalagi kalau tanaman ditempatkan
didalam ruangan (indoor).

Gambar media tanam pupuk kandang:

2. Sekam mentah
Selain sekam bakar, sekam mentah juga bisa digunakan sebagai komponen
media tanam. Kelebihan sekam mentah sebagai media tanam, selain bersifat

porous dan mampu menahan air, adalah kaya akan vitamin B. Keunggulan
terakhir ini umumnya tidak dimiliki oleh komponen media tanam lain.
Kelemahan sekam mentah adalah sifatnya yang terlalu berongga, sehingga
kurang kuat dalam memegang tanaman.
Gambar media tanam sekam padi:

3. Serbuk gergaji
Serbuk gergaji juga dapat digunakan sebagal media tanam. Media ini
memiliki kelehihan mampu menyerap air, kandungan unsur haranya juga
cukup tinggi terutama bila sudah membusuk. Namun Penggunaan serbuk
gergaji sebagai media tidak ekonomis karena cara mendapatkannya cukup
sulit dan kondisi media tidak terlalu porous. Media serbuk gergaji baik bila
digabungkan dengan media pasir.
Gambar media tanam serbuk gergaji:

(Prihmantoro et al., 2001)


2.4.2. Media Tanam Anorganik
1. Pasir malang

Pasir malang adalah pasir yang berasal dari lava gunung berapi. Sifat pasir
malang yang memiliki rongga-rongga halus membuat pasir malang menjadi
ringan dan sangat porous. Pasir malang juga mampu memegang tanaman
dengan baik, sehingga menjadi pilihan utama bagi pekebun dan hobiis
tanaman yang menyukai iklim dan media tanam kering seperti Adenium,
Euphorbia dan Sansevieria.
Pasir malang yang paling baik, umumnya yang bertekstur halus dan
seragam. Untuk itu sebelum digunakan, pasir malang sebaiknya disaring
menggunakan saringan kawat untuk mendapatkan pasir malang yang seragam.
Sebaiknya hindari penggunaan pasir malang yang berukuran besar dan
bertekstur sangat kasar. Selain relatif lebih sulit untuk mengaturnya didalam
pot, pasir malang kasar juga beresiko melukai akar dan batang tanaman,
sehingga bisa menyebabkan kebusukan. Disamping itu pasir malang yang
besar dan kasar juga kurang indah dipandang mata. Kelemahan lain dari
penggunaan pasir malang adalah sangat miskin unsur hara, sehingga
pemupukan teratur menjadi suatu keharusan, untuk mencegah tanaman
kekurangan unsur hara.
Gambar media tanam pasir:

2. Tanah liat
Tanah liat merupakan jenis tanah yang bertekstur paling halus dan lengket
atau berlumpur. Karakteristik dari tanah liat adalah memiliki poripori
berukuran keeil (pori-pori mikro) yang lebih banyak daripada pori-pori yang
berukuran besar (pori-pori makro) sehingga memiliki kemampuan mengikat
air yang eukup kuat. Pori-pori mikro adalah pori-pori halus yang berisi air

kapiler atau udara. Sementara pori-pori makro adalah pori-pori kasar yang
berisi udara atau air gravitasi yang mudah hilang. Ruang dari setiap pori-pori
mikro berukuran sangat sempit sehingga menyebabkan sirkulasi air atau udara
menjadi lamban.
Pada dasarnya, tanah liat bersifat miskin unsur hara sehingga perlu
dikombinasikan dengan bahan-bahan lain yang kaya akan unsur hara.
Penggunaan tanah liat yang dikombinasikan dengan bahan-bahan lain seperti
pasir dan humus sangat cocok dijadikan sebagai media penyemaian, eangkok,
dan bonsai.

Gambar media tanah liat:

(Rukmana, 2000)
2.5.

Syarat Media Tanam yang Baik


Media tanam diartikan sebagai wadah atau tempat tinggal tanaman. Sebagai

tempat tinggal yang baik, media tanam harus dapat mendukung pertumbuhan dan

kehidupan tanaman. OIeh karena itu, idealnya suatu media tanam harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut.
1. Dapat dijadikan sebagai tempat berpijak tanaman.
2. Memiliki kemampuan mengikat air dan menyuplai unsur hara yang
dibutuhkan tanaman.
3. Mampu mengontrol kelebihan air (drainase) serta memiliki sirkulasi dan
ketersediaan udara (aerasi) yang baik.
4. Dapat mempertahankan kelembapan di sekitar akar tanaman.
5. Tidak mudah lapuk atau rapuh.
Media tanam dikatakan berfungsi sebagai tempat berpijak jika tanaman dapat
melekatkan akarnya dengan baik. Namun, untuk pertumbuhan akar tanaman yang
sempurna, media tanam harus didukung oleh drainase dan aerasi yang memadai.
Drainase yang lancar menjadikan akar-akar tanaman lebih leluasa bernapas sehingga
lebih optimal dalam menyerap unsur-unsur hara yang dibutuhkan. Sementara aerasi
yang memadai sangat dibutuhkan oleh akar untuk bernapas sehingga asupan oksigen
dapat tercukupi. Kekurangan oksigen pada tanaman dapat menyebabkan kematian
akar (root dieback).
Tidak semua bahan untuk media tanam memenuhi semua persyaratan di atas.
OIeh karena itu, untuk memperoleh hasil yang sempuma, alternatif pemecahannya
adalah dengan mengombinasikan beberapa bahan yang disesuaikan dengan jenis
tanaman yang ingin ditanam. Hal itu disebabkan setiap jenis bahan media memiliki
pengaruh yang berbeda-beda pada setiap tanaman.
Pada umumnya, semua jenis media tanam membutuhkan keberadaan air. Air
berfungsi untuk mengangkut unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman dan
mempertahankan tekanan turgor tanaman. Frekuensi pemberian air pada media tanam
harus dilakukan dengan efektif dan efisien. Efektivitas dan efisiensi pemberian air
bukan berarti membiarkan media tergenang air (kecuali tanaman hias air) karena
dapat menyebabkan tanaman mengidap penyakit busuk akar atau busuk batang.
Namun, kelembapan di sekitar akar juga harus tetap terjaga karena akan berpengaruh
terhadap daya absorpsi air dan unsur hara.
(Redaksi PS, 2007)

2.6.

Pengertian Perkecambahan
Perkecambahan merupakan suatu proses pertumbuhan dari biji setelah

mengalami masa dormansi bila kondisi-kondisi sekelilingnya memungkinkan banyak


faktor yang berpengaruh dalam merangsang maupun memacu proses perkecambahan
ini, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Beberapa faktor tersebut antara lain
ketersediaan air, suhu udara (gas-gas) dan cahaya.
(Novijanto, 1996)
2.7.

Pengertian Benih, Bibit, Dan Biji


1. Benih
Yang dimaksud dengan benih ialah biji tanaman yang dipergunakan untuk
keperluan dan pengembangan usaha tani, memiliki fungsi agronomis atau
merupakan komponen agronomi. Sebagai komponen agronomi masalah benih
ini lebih berorientasi pada penerapan norma-norma ilmiah, jadi lebih bersifat
teknologis.
(Kartasapoetra, 1986)
Benih merupakan simbol dari suatu permulaan, yang merupakan inti dari
kehidupan dari alam semesta dan paling penting adalah kegunaanya sebagai
penyambung dari kehidupan tanaman. Benih disini adalah tanaman yang
digunakan untuk tujuan pertanaman, sehingga masalah teknologi benih berada
dalam ruang lingkup agronomi. Agronomi disini dapat diartikan sebagai suatu
gugus ilmu pertanian yang mempelajari pengelolaan lapangan produksi
dengan segenap unsur alam (iklim, tanah, air), tanaman, hewan dan manusia
untuk mencapai produksi tanaman secara maksimal.
(Viera, 2001)
2. Bibit
Sampai sekarang pengertian bibit masih sering dirancukan dengan pengertian
benih (seed) dan tanaman induk (parent stock). Banyak orang yang tertukar
untuk mengistilahkan bibit pada benih. Pengertian bibit juga sering tertukar
dengan tanaman induk penghasil benih atau bibit. Pengertian bibit yang
dimaksud ialah tanaman kecil (belum dewasa) yang berasal dari pembiakan

generatif (dari biji), vegetatif, kultur jaringan, atau teknologi perbanyakan


lainnya. Selain itu, bibit juga dapat diperoleh dari kombinasi cara-cara
perbanyakan tersebut.
Bibit merupakan salah satu penentu keberhasilan budidaya tanaman. Budidaya
tanaman sebenarnya telah dimulai sejak memilih bibit tanaman yang baik,
karena bibit merupakan obyek utama yang akan dikembangkan dalam proses
budidaya selanjutnya. Selain itu, bibit juga merupakan pembawa gen dari
induknya yang menentukan sifat tanaman setelah berproduksi. Oleh karena itu
untuk memperoleh tanaman yang memiliki sifat tertentu dapat diperoleh
dengan memilih bibit yang berasal dari induk yang memiliki sifat tersebut.
(Setiawan, 1999)
3. Biji
Salah satu bagian tanaman yang berfungsi sebagai unit penyebaran (dispersal
unit) perbanyakan tanaman secara alamiah.
(Wirawan dan Wahyuni, 2002)
2.8.Macam-macam Tipe Perkecambahan
Perkecambahan biji dapat dibekan menjadi 2, yaitu :
1. Epigeal
Perkecambahan epigeal adalah apabila terjadi pembentangan ruas batang di
bawah daun lembaga atau hipokotil sehingga mengakibatkan daun lembaga
dan kotiledon terangkat ke atas tanah, misalnya pada kacang hijau
(Phaseoulus radiatus).
Gambar perkecambahan epigeal:

2. Hipogeal
Perkecambahan hipogeal adalah apabila terjadi pembentangan ruas batang
teratas (epikotil) sehingga daun lembaga ikut tertarik ke atas tanah, tetapi

kotiledon tetap di bawah tanah. Misalnya pada biji kacang kapri (Pisum
sativum)
Gambar perkecambahan hipogeal:

(Pratiwi et al., 2006)


2.9.Pengertian Perbanyakan Vegetatif dan Generatif
1. Perbanyakan vegetatif
Perbanyakan vegetatif adalah perbanyakan dengan menggunakan bagian
vegetatif tanaman,misalnya bagian cabang,ranting,mata tunas,akar cabang
atau

anakan.

Perbanyakan

vegetative

dilakukan

dengan

cara

setek,cangkok,tempel mata atau dengan menyambung. Perbanyakan ini hanya


dilakukan pada tanaman-tanaman yang sulit diperbanyak dengan biji.
(Joesoef,1989)
2. Perbanyakan generatif
Perbanyakan generatif adalah memperbanyak tanaman melalui biji yang
dihasilkan lewat perkawinan atau pada tanaman disebut dengan penyerbukan.
(Suwanto dan andoko, 2007)
2.10.
Macam-macam Perkembangbiakan Vegetatif
2.10.1. Secara Alami
1. Membelah Diri
Perkembangbiakan dengan cara membelah diri terjadi pada tumbuhan
tingkat rendah, yaitu tumbuhan yang bersel satu. Tumbuhan yang membelah
diri akan membagi tubuhnya menjadi dua bagian yang sama secara langsung.
Sel anaknya ada yang segera memisahkan diri dari induknya, dan ada yang
tetap menempel pada tubuh induknya hingga membentuk kelompok. Contoh
tumbuhan yang berkembang biak dengan membelah diri adalah volvox.
Gambar tumbuhan membelah diri:

2. Spora
Spora adalah inti sel yang berubah fungsi menjadi alat perkembangbiakan.
Pada tumbuhan paku, spora dibentuk pada daun. Spora terletak di dalam kotak
spora (sporangium) yang berkumpul di dalam sorus. Sorus adalah kumpulan
kotak spora. Sorus terletak di bagian tepi di bawah daun, berupa bintik-bintik
kecoklatan. Daun yang dapat menghasilkan spora disebut daun fertil (subur).
Jika sporangium pecah, spora keluar dan jatuh di tempat yang cocok.
Spora tersebut akan tumbuh dan berkembang menjadi tumbuhan paku baru.
Gambar spora:

3. Rizoma (Akar Tinggal)


Rizoma (akar tinggal) adalah batang yang tumbuh mendatar di dalam
tanah yang menyerupai akar. Ciri-ciri rizoma (akar tinggal) adalah sebagai
berikut.
1. Bentuk seperti akar, beruas-ruas seperti batang.
2. Pada setiap ruas terdapat daun yang berubah menjadi sisik.
3. Pada setiap ketiak sisik (daun) terdapat mata tunas.

Contoh tumbuhan yang berkembang biak dengan rizoma (akar tinggal)


adalah jenis jahe-jahean (jahe, kunyit, kunci, kencur, temu lawak).

Gambar rizoma:

4. Umbi Lapis
Umbi lapis adalah bagian dari pelepah daun yang berfungsi sebagai
cadangan makanan dan bentuknya berlapis-lapis. Di bagian pangkalnya
terdapat batang berbentuk cakram dan beruasruas. Pada bagian ketiak daun
terdapat tunas sebagai calon individu baru yang disebut siung. Contoh
tumbuhan yang berkembang biak dengan umbi lapis adalah bawang merah
dan bawang putih.
Gambar umbi lapis:

5. Umbi batang
Kentang dan ketela rambat merupakan tumbuhan yang berkembang biak
dengan umbi batang. Umbi batang adalah bagian batang yang tumbuh di
dalam tanah dan berfungsi untuk menyimpan cadangan makanan, terutama
berupa zat tepung. Pada kulit umbi terdapat mata tunas dan jika lingkungan
sesuai akan tumbuh menjadi tunas baru.
Gambar umbi batang:

6. Umbi Akar
Umbi akar adalah akar yang berubah fungsi untuk menyimpan cadangan
makanan terutama zat tepung. Ciri-ciri umbi akar adalah:
1. Umbi tidak berbuku-buku.
2. Umbi tidak memiliki mata tunas.
3. umbi tidak memiliki kuncup dan daun.

Jika umbi akar ditanam, maka akan tumbuh tunas baru dari bagian yang
merupakan sisa batang. Contoh tumbuhan yang berkembang biak dengan
umbi akar adalah ketela pohon, wortel, dan bunga dahlia.
Gambar umbi akar:

7. Tunas
Tunas adalah kuncup yang tumbuh pada ujung batang atau ketiak daun.
Tumbuhan dikatakan berkembang biak dengan tunas apabila tunas dari
tumbuhan induk tumbuh menjadi tumbuhan baru. Contoh tumbuhan yang
berkembang biak dengan tunas adalah bambu dan pisang.
Gambar tunas:

8. Tunas Daun (tunas adventif)


Tunas yang tumbuh pada daun disebut tunas adventif. Pada tepi daun
terdapat tunas yang dapat tumbuh bila diletakkan di tanah gembur. Contoh
tumbuhan yang dapat berkembang biak dengan tunas daun adalah cocor bebek
dan begonia.
Gambar tunas daun:

(Handoyo, 2011)
2.10.2. Secara Buatan
1. Cangkok
Mencangkok

merupakan

usaha

untuk

memperbanyak

(mengembangbiakkan) tumbuhan dengan cara membuat akar baru pada


bagian batang. Batang yang telah tumbuh akarnya dapat dipotong dan ditanam
menjadi tanaman baru.
Pada umumnya jenis-jenis tumbuhan yang biasa dicangkok adalah
tanaman buah-buahan, seperti jambu, mangga, jeruk, dan belimbing. Selain
itu tanaman hias juga ada yang dapat dicangkok, misalnya bunga nusa indah,
melati, dan soka.
Syarat tumbuhan yang akan dicangkok antara lain:
1.
2.
3.
4.

Tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda.


Ukurannya tidak terlalu besar.
Batangnya lurus.
Cabang berwarna cokelat muda dan kulitnya mulus.

Gambar cangkok:

2. Setek
Setek merupakan cara memperbanyak tanaman dengan menanam
potongan bagian tertentu dari tanaman. Terdapat 3 macam setek, yaitu setek
batang, setek daun, dan setek akar.
1. Setek Batang
Setek batang yaitu memperbanyak tanaman dengan cara menanam
potongan-potongan batang atau ranting yang ada mata tunasnya. Contoh
setek batang yaitu pada tanaman ketela pohon, tebu, sirih, dan bunga
sepatu.
Gambar setek batang:

2. Setek Daun
Setek daun yaitu memperbanyak tanaman dengan cara menanam
potongan atau helaian daun. Contoh tanaman yang dapat disetek daunnya
adalah: cocor bebek, begonia, dan sania.
Gambar setek daun:

3. Setek akar

Setek akar yaitu memperbanyak tanaman dengan cara menanam


potongan-potongan akar. Contoh setek akar yaitu pada tumbuhan sukun
dan kersen.

Gambar setek akar:

.
3. Merunduk
Merunduk adalah memperbanyak tanaman dengan cara membengkokkan
sebagian batang atau ranting dan memendamkannya ke dalam tanah. Contoh
tumbuhan yang berkembang biak dengan cara merunduk adalah apel dan
bugenvil.
Gambar merunduk:

4. Okulasi (Menempel)
Okulasi atau menempel adalah cara memperbanyak tanaman dengan
menempelkan tunas muda pada ranting atau batang tanaman induk. Tujuan
okulasi adalah menggabungkan dua sifat tanaman yang berbeda sehingga
mendapatkan tanaman yang sifatnya lebih baik dari induknya. Contoh
tanaman yang biasa diokulasi adalah jeruk, rambutan, dan durian.

Gambar okulasi:

5. Kopulasi (Menyambung atau Mengenten)


Kopulasi

disebut

juga

mengenten

atau

menyambung

yaitu

menggabungkan batang bawah dan batang atas dari tanaman yang berbeda
sehingga diperoleh tanaman baru. Tujuan kopulasi sama dengan okulasi yaitu
menggabungkan dua sifat tanaman yang berbeda tetapi masih satu keluarga.
Contoh kopulasi antara lain tanaman terung disambung dengan tomat. Contoh
buah-buahan yang biasa dikopulasi adalah mangga dan durian.

Gambar kopulasi:

6. Kultur jaringan
Yaitu perbanyakan tanaman yang dilakukan dengan cara mengambil
jaringan tertentu dari suatu tanaman(tunas,akar,daun) dan dikembangkan
dalam media khusus.

Gambar kultur jaringan:

(Handoyo, 2011)
2.11.

Keuntungan Dan Kerugian Perbanyakan Vegetatif dan Generatif

Cara perbanyakan tanaman dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu perbanyakan
generatif dan perbanyakan vegetatif:
1. Perbanyakan generatif (biji)
Keuntungan:
1. Sistem perakaran lebih kuat.

2. Lebih mudah diperbanyak.


3. Jangka waktu berbuah lebih panjang.
Kelemahan:
1. Waktu untuk mulai berbuah lebih lama.
2. Sifat turunan tidak sama dengan induk.
3. Ada banyak jenis tanaman produksi benihnya sedikit atau benihnya sulit
untuk berkecambah.
2. Cara perbanyakan vegetatif
Keuntungan:
1. Lebih cepat berbuah.
2. Sifat turunan sesuai dengan induk.
3. Dapat digabung sifat-sifat yang diinginkan.

Kelemahan:
1. Perakaran kurang baik.
2. Lebih sulit dikerjakan karena membutuhkan keahlian tertentu.
3. Jangka waktu berbuah lebih pendek.
(Purnomosidhi et al., 2012)
2.12.Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Perbanyakan Vegetatif Dan
Generatif
1. Perbanyakan generatif (perkecambahan)
Faktor internal:
1. Kemasakan benih
Benih yang dipanen sebelum tingkat kemasakan fisiologisnya tercapai,
tidak mempunyai viabilitas tinggi. Diduga pada tingkatan tersebut benih
belum memiliki cadangan makanan yang cukup dan juga pembentukan
embrio yang belum sempurna.
2. Ukuran benih
Di dalam jaringan penyimpanannya, benih memiliki karbohidrat, protein,
lemak dan mineral. Bahan-bahan ini diperlukan sebagai bahan baku dan
energi bagi embrio pada saat perkecambahan. Diduga bahwa benih yang

berukuran besar dan berat mengandung cadangan makanan lebih banyak


dibandingkan dengan benih yang kecil, mungkin pula embrionya lebih besar.
3. Dormansi
Benih dikatakan dormansi apabila benih tersebut sebenarnya hidup tetapi
tidak berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan yang secara umum
dianggap telah memenuhi persyaratan bagi suatu perkecambahan atau juga
dapat dikatakan dormansi benih menunjukkan suatu keadaan dimana benihbenih sehat (viabel) namun gagal berkecambah ketika berada dalam kondisi
yang secara normal baik untuk berkecambah, seperti kelembaban yang cukup,
suhu dan cahaya yang sesuai.
4. Hormon
Tidak semua hormon tumbuhan (fitohormon) bersifat mendukung proses
perkecambahan, adapula beberapa fitohormon yang menghambat proses
perkecambahan. Fitohormon yang berfungsi merangsang pertumbuhan
perkecambahan antara lain : Auksin, yang berperan untuk : Mematahkan
dormansi biji dan akan merangsang proses perkecambahan biji. Perendaman
biji dengan auksin dapat membantu menaikkan kuantitas hasil panen serta
dapat memacu proses terbentuknya akar.
Giberelin, yang berperan dalam mobilisasi bahan makanan selama fase
perkecambahan. Pertumbuhan embrio selama perkecambahan bergantung
pada persiapan bahan makanan yang berada di dalam endosperma. Untuk
keperluan kelangsungan hidup embrio maka terjadilah penguraian secara
enzimatik yaitu terjadi perubahan pati menjadi gula yang selanjutnya
ditranslokasikan ke embrio sebagai sumber energi untuk pertumbuhannya.
Peran giberelin diketahui mampu meningkatkan aktivitas enzim amilase.
Sitokinin, yang akan berinteraksi dengan giberelin dan auksin untuk
mematahkan dormansi biji. Selain itu, sitokinin juga mampu memicu
pembelahan sel dan pembentukan organ.
Fitohormon yang berfungsi sebagai penghambat perkecambahan antara
lain : Etilene, yang berperan menghambat transportasi auksin secara basipetal

dan lateral. Adanya etilen dapat menyebabkan rendahnya konsentrasi auksin


dalam jaringan. Meskipun begitu, pada tanaman, etilene juga mampu
menstimulasi perpanjangan batang, koleoptil dan mesokotil. Asam absisat
(ABA), yang bersifat menghambat perkecambahan dengan menstimulasi
dormansi benih. Selain itu, asam absisat akan menghambat proses
pertumbuhan tunas.
Faktor ksternal:
1. Air
Air salah satu syarat penting bagi berlangsungnya proses perkecambahan
benih. Fungsi air pada perkecambahan biji antara lain; Air yang diserap oleh
biji berguna untuk melunakkan kulit biji dan menyebabkan pengembangan
embrio dan endosperma hingga kulit biji pecah atau robek. Air juga berfungsi
sebagai fasilitas masuknya oksigen ke dalam biji melalui dinding sel yang diimbibisi oleh air sehingga gas dapat masuk ke dalam sel secara difusi. Selain
itu, air juga berguna untuk mengencerkan protoplasma sehingga dapat
mengaktifkan sejumlah proses fisiologis dalam embrio seperti pencernaan,
pernapasan, asimilasi dan pertumbuhan. Proses-proses tersebut tidak akan
berjalan secara normal, apabila protoplasma tidak mengandung air yang
cukup. Air juga Sebagai alat transportasi larutan makanan dari endosperma
kepada titik tumbuh pada embryonic axis, yang mana diperlukan untuk
membentuk protoplasma baru.
2. Temperatur
Temperatur merupakan syarat penting yang kedua bagi perkecambahan
benih. Tetapi ini tidak bersifat mutlak sama seperti kebutuhan terhadap air
untuk perkecambahan, dimana biji membutuhkan suatu level hydration
minimum yang bersifat khusus untuk perkecambahan.
Dalam proses perkecambahan dikenal adanya tiga titik suhu kritis yang
berbeda yang akan dialami oleh benih. Dan tiga titik suhu kritis tersebut
dikenal dengan istilah suhu cardinal yang terdiri atas pertama, suhu minimum,
yakni suhu terkecil dimana proses perkecambahan biji tidak akan terjadi

selama periode waktu perkecambahan. Bagi kebanyakan benih tanaman,


termasuk kisaran suhu minimumnya antara 0 5oC. Jika benih berada di
tempat yang bersuhu rendah seperti itu, maka kemungkinan besar benih akan
gagal berkecambah atau tetap tumbuh namun dalam keadaan yang abnormal.
Kedua, suhu optimum yakni suhu dimana kecepatan dan persentase biji
yang berkecambah berada pada posisi tertinggi selama proses perkecambahan
berlangsung. Temperatur ini merupakan temperatur yang menguntungkan bagi
berlangsungnya perkecambahan benih. Suhu optimum berkisar antara 26,5
35oC. Serta yang ketiga adalah suhu maksimum, yakni suhu tertinggi dimana
perkecambahan masih mungkin untuk berlangsung secara normal. Suhu
maksimum umumnya berkisar antara 30 40oC. Suhu diatas maksimum
biasanya mematikan biji, karena keadaan tersebut menyebabkan mesin
metabolisme biji menjadi non aktif sehingga biji menjadi busuk dan mati.
3. Oksigen
Faktor

oksigen

berkaitan

dengan

proses

respirasi.

Pada

saat

perkecambahan berlangsung, proses respirasi akan meningkat disertai dengan


meningkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan karbon dioksida, air dan
energi yang berupa panas. Terbatasnya oksigen yang dapat dipakai akan
mengakibatkan terhambatnya proses perkecambahan benih.
Perkecambahan biji dipengaruhi oleh komposisi udara sekitarnya.
Umumnya biji akan berkecambah pada kondisi udara yang mengandung 20%
O2 dan 0,03% CO2 memiliki kemampuan untuk berkecambah pada keadaan
yang kurang oksigen. Biji dapat berkecambah baik di tempat dengan
kelembaban tinggi, bahkan bisa berkecambah 4 5 cm di bawah permukaan
air, hanya saja yang lebih dahulu akan keluar bukan radikel melainkan
plumulanya.
4. Cahaya
Hubungan antara pengaruh cahaya dan perkecambahan benih dikontrol
oleh suatu sistem pigmen yang dikenal sebagai fitokrom, yang tersusun dari
chromophore dan protein. Chromophore adalah bagian yang peka pada

cahaya. Fitokrom memiliki dua bentuk yang sifatnya reversible (bolak-balik)


yaitu fitokrom merah yang mengabsorbsi sinar merah dan fitokrom infra
merah yang mengabsorbsi sinar infra merah.
Bila pada benih yang sedang berimbibisi diberikan cahaya merah, maka
fitokrom merah akan berubah menjadi fitokrom infra merah, yang mana
menimbulkan reaksi yang merangsang perkecambahan. Sebaliknya bila
diberikan cahaya infra merah, fitokrom infra merah akan berubah menjadi
fitokrom merah yang kemudian menimbulkan reaksi yang menghambat
perkecambahan. Dalam keadaan tanpa cahaya, dengan adanya oksigen dan
temperatur yang rendah, proses perubahan itu akan berlangsung lambat. Pada
keadaan di alam, cahaya merah mendominasi cahaya infra merah sehingga
pigmen fitokrom diubah ke bentuk fitokrom infra merah yang aktif.
(Sutopo, 2002)
2. Perbanyakan vegetatif alami
1. Faktor Suhu / Temperatur Lingkungan
Tinggi rendah suhu menjadi salah satu faktor yang menentukan tumbuh
kembang, reproduksi dan juga kelangsungan hidup dari tanaman. Suhu yang
baik bagi tumbuhan adalah antara 22 derajat celcius sampai dengan 37 derajad
selsius. Temperatur yang lebih atau kurang dari batas normal tersebut dapat
mengakibatkan pertumbuhan yang lambat atau berhenti
2. Faktor Kelembaban / Kelembapan Udara
Kadar air dalam udara dapat mempengaruhi pertumbuhan serta
perkembangan tumbuhan. Tempat yang lembab menguntungkan bagi
tumbuhan di mana tumbuhan dapat mendapatkan air lebih mudah serta
berkurangnya penguapan yang akan berdampak pada pembentukan sel yang
lebih cepat.
3. Faktor Cahaya Matahari
Sinar matahari sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk dapat melakukan
fotosintesis (khususnya tumbuhan hijau). Jika suatu tanaman kekurangan
cahaya matahari, maka tanaman itu bisa tampak pucat dan warna tanaman itu

kekuning-kuningan (etiolasi). Pada kecambah, justru sinar mentari dapat


menghambat proses pertumbuhan.
4. Faktor Hormon
Hormon pada tumbuhan juga memegang peranan penting dalam proses
perkembangan dan pertumbuhan seperti hormon auksin untuk membantu
perpanjangan sel, hormon giberelin untuk pemanjangan dan pembelahan sel,
hormon sitokinin untuk menggiatkan pembelahan sel dan hormon etilen untuk
mempercepat buah menjadi matang.
(Rochiman, 1973)
3. Perbanyakan vegetatif buatan
Faktor Intern:
1. Dormansi bahan tanam (dapat dipecahkan dengan pemberian kelembaban
tinggi)
2. ZPT (dapat memacu pertumbuhan akar dan tunas)
Faktor Ekstern:
1. Suhu (bahan tanam tidak tahan dengan suhu tinggi)
2. Kelembaban (pada awal masa tanam dibutuhkan kelembaban yang tinggi)
3. Cahaya (pada awal pertumbuhan tunas dan akar dibutuhkan cahaya yang
tidak banyak, maka perlu diberi naungan)
4. Jamur dan bakteri (biasanya sangat peka terhadap keadaan yang lembab,
bahan tanam yang terlukai sangat rawan terhadap serangan jamur dan
bakteri sehingga menyebabkan kebusukan)
(Mangoendidjojo, 2003)

BAB III BAHAN DAN METODE PELAKSANAAN


3.1.Alat dan Bahan
3.1.1. Alat
Sekop

Botol air mineral


Timba
Polibag
Penggaris

Pisau
Tipex
Alat tulis
Modul DBT
Kamera
3.1.2. Bahan
Pasir
Sekam mentah
Pupuk kandang
Tanah
Serbuk gergaji
Benih jagung
Benih kacang hijau
Pegagan
Sansevieria
Ubi jalar
Air
Furadan 3 G
3.2.Cara Kerja

: Untuk mencampur dan mengisi polibag


dengan media tanam
: Untuk menyiram tanaman
: Untuk wadah mengambil media tanam
: Untuk tempat media dan bahan tanam
: Untuk mengukur kedalaman media tanam dan
tinggi tanaman
: Untuk memotong bahan tanam
: Untuk memberi tanda pada polibag
: Untuk mencatat hasil dari pengamatan
: Untuk acuan dalam kegiatan praktikum
: Untuk mendokumentasikan objek praktikum
: Sebagai media tanam
: Sebagai media tanam
: Sebagai media tanam
: Sebagai media tanam
: Sebagai media tanam
: Sebagai bahan tanam generatif
: Sebagai bahan tanam generatif
: Sebagai bahan tanam vegetatif
: Sebagai bahan tanam vegetatif
: Sebagai bahan tanam vegetatif
: Untuk menyiram tanaman
: Untuk melidungi benih dari serangan hama

Menyiapkan alat dan bahan


Memasukkan media kedalam polibag

Menanam bahan tanam

Vegetatif

Generaif

Pegaggan

Sansevieria

Ubi jalar

Jagung

Kacang hijau

Memilih
tanaman
utama
pegagan

Memotong
daun
sansevieria
10 cm,
membentuk
huruf V

Memotong
batang ubi
jalar 20 cm

Menanam 3
biji jagung
dikedalam 2
cm

Menanam 3
biji jagung
dikedalam 2
cm

Menanam
stolon
pegagan
di media
tanam

Menanam
dimedia
tanam 45
menghadap
utara atau
selatan

Menanam
di media
tanam,
membentuk
huruf U

Melakukan enam kali pengulangan pada media tanam yang berbeda


Penyiraman dilakukan setiap hari atau tergantung kebutuhan air dan curaah hujan
Melakukan pengamatan dan mencatat hasil
Dokumentasi
3.3.Analisa Perlakuan
Pertama-tama sebelum melakukan praktikum, menyiapkan alat dan bahan
terlebih dahulu. Menyiapkan 6 jenis media tanam, ada yang dicampur, seperti tanah

dengan pupuk kandang serta tanah dengan pasir dan ada juga yang tidak dicampur
seperti tanah, pasir, arang sekam, dan serbuk gergaji. Perbedaan media tanam ini
digunakan untuk mengetahui media tanam mana yang cocok untuk tanaman yang
akan ditanam yang dapat bermanfaat dalam meningkatkan hasil produktivitas.
Selanjutnya 6 jenis media tanam tadi dimasukkan atau ditempatkan ke dalam
polibag hitam dengan masing-masing diameter 20 cm. Pengisian media tanam ke
dalam polibag ini diisi media tanam 4/5 dari tinggi polibag dengan menyisakan kirakira 5 cm dari atas polibag. Hal ini dimaksudkan agar polibag lebih rapi dan lebih
mudah untuk pengamatannya, serta agar tanaman yang di tanam tidak mudah
diserang hama atau serangga pengganggu, karena ada batas 5 cm tadi dari atas
polibag. Setelah itu, setiap perlakuan media tanam diulang sebanyak 6 kali, untuk 6
jenis media tanam yang sudah disiapkan.
Setelah semua media tanam siap, selanjutnya memasukkan media tanam
kedalam polibag.. Pada praktikum ini, didapatkan 2 jenis bahan tanam, yaitu bahan
tanam vegetatif dan bahan tanam generatif. Pada bahan tanam vegetatif bahan yang
digunakan adalah stolon pegagam, stek daun sansevieria, dan stek batang ubi jalar,
sedangkan pada bahan tanam generatif, bahan yang digunakan adalah benih jagung
dan benih kacang hijau.
Pada penanaman benih dilakukan dengan memasukkan benih kedalam setiap
media tanam yang sudah disiapkan sedalam 2 cm, tepat ditengah polibag, yang
kemudian ditutupi dengan media tanam itu. Penanaman dilakukan dikedalaman 2 cm
bertujauan agar mengurangi resiko benih gagal berkecambah dan busuk karena tidak
bisa keluar kepermukaan tanah. Pada setiap lubang ditanami 3 benih, serta sebelum
benih ditanam diberi pestisida Furadan 3 G terlebih dahulu. Penggunaan pestisida ini
dimaksudkan agar benih tidak mudah dimakan atau diserang oleh hama.
Pada penanaman bahan tanam vegetatif mempunyai perlakuan khusus antara
lain; stek batang ubi jalar dipotong sepanjang 20 cm. Selanjutnya menananm batang
dengan membentuk huruf U pada batang yang sudah di ambil 3 helai daunnya.
Batang ditanam dengan kedalaman kurang lebih 3 cm. Pemangkasan daun bertujuan
untuk mempercepat tumbuhnya tunas daun yang baru. Batang ditanam membentuk

huruf U dimaksudkan agar batang banyak membentuk akar, akar dapat menghasilkan
ubi. Pada daun sansevieria di potong 10 cm sehingga membentuk huruf V, hal ini
bertujuan untuk memperluas daerah tumbuh akar-akar baru, akar berfungsi menyerap
unsure hara dan air yg digunakan untuk metabolism tanaman sanseviera. Kemudian
ditanam menghadap utara atau selatan. Hal ini bertujuan agar tanaman selalu
mendapat sinar matahari. Stolon pegagan ditanam sedalam kurang lebih 3 cm. Cara
memilih bibit pegagan yaitu dengan memilih tanaman utama pada pegagan agar
menghasilkan tunas atau stolon yang baru disekitar tanaman utama.
Selanjutnya pada setiap bahan tanam ditanam pada 6 jenis media tanam yang
telah disiapkan. Setelah selesai menanam, semua bagian atas polibag dilipat untuk
menjaga kerapian. Penyiraman tanaman dilakukan setiap hari atau jika hari hujan,
tidak perlu dilakukan penyiraman. Pengamatan bisa dilakuakan dua hari sekali atau
satu minggu sekali. Setelah diamati kemudian didokumentasikan.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.

Data Hasil Pengamatan

4.1.1. Ubi jalar


4.1.1.1.
Tabel pengamatan ubi jalar
Tabel 1. Tinggi tanaman ubi jalar
Media

Tinggi Tanaman (cm)


7 hst

14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

42 hst

Tanah

12,5

18,7

24

24

24

26,5

Pasir

11,5

13,6

16,5

23,6

30,4

37

Tanah +
Pasir

13,5

14,2

15,5

22,4

27,3

31,5

Sekam

5,2

5,8

6,6

15,4

18,5

18,5

10,5

11,3

12

16.8

23,5

26,7

12,5

12,5

18,5

26,5

31,5

35 hst

42 hst

Serbuk
gergaji
Tanah +
Kandang

Tabel 2. Jumlah daun tanaman ubi jalar


Media

Jumlah Daun
7 hst

14 hst

21 hst

28 hst

Tanah

12

13

15

19

Pasir

12

13

10

11

12

11

Tanah +
Pasir

11

13

16

Sekam

12

16

15

13

13

14

15

18

22

12

14

15

19

18

Serbuk
gergaji
Tanah +
Kandang

Tabel 3. Awal muncul tunas


Media

Saat Bibit Muncul Tunas

Tanah

7 hst

Pasir

4 hst

Tanah + Pasir

7 hst

Tanah + Kandang

11 hst

Sekam

7 hst

Serbuk Gergaji

4 hst

4.1.1.2.

Grafik pengamatan ubi jalar

Grafik 1. Tinggi tanaman ubi jalar

Tinggi Tanaman Ubi Jalur


40
35
30
25
tinggi tanaman (cm)

20
15
10
5
0
7 hst

14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

Tanah

Pasir

Tanah + Pasir

Sekam

Serbuk gergaji

Tanah + Kandang

42 hst

Grafik 2. Jumlah daun tanaman ubi jalar

Jumlah Daun Tanaman Ubi Jalar


25
20
15
jumlah daun

10
5
0
7 hst

14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

Tanah

Pasir

Tanah + Pasir

Sekam

Serbuk gergaji

Tanah + Kandang

Grafik 3. Awal muncul tunas

42 hst

Awal Bibit Muncul Tunas tanaman ubi jalar (hst)


12
10
8
6
4
hst 2
0

11
7

Awal bibit muncul tunas tanaman ubi jalar (hst)

4.1.2. Kacang hijau


4.1.2.1.
Tabel pengamatan kacang hijau
Tabel 4. Tinggi tanaman kacang hijau
Media

Tinggi Tanaman (cm)


7 hst

14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

42 hst

Tanah

6,4; 8,1;
7,9

7; 8,2; 8

22; 16;
17,3;

11.5; 14;
12

13; 15;
12.5

18; 18,5;
12,5

Pasir

5,6; 3,8

6,1; 4,5

13; 9

10; 8,6

12; 10

20; 16

Tanah +
Pasir

4,7; 4,8;
7,2

7; 7,3; 7,5

17; 12;
13.2;

8.5; 9.4;
8.2

12; 13; 12

16,5;
17,5; 22

Sekam

2,7; 2

4.8

5,5

Serbuk
gergaji

3; 2,6; 3,1

6,2; 2,8;
4,1

9.5; 3,5;
5,3

6,4; 4,5;
6.2

7; 5,5; 7

10; 6,5; 9;

Tanah +
Kandang

6,3; 6,2;
7,2; 7,8

8; 10; 8,5;
7,9

21; 15,9;
13,4

11; 13,5;
11,2; 13

14; 16;
14; 15;

23,5;
27,5; 18;
24;

Tabel 5. Jumlah daun tanaman kacang hijau


Media

Jumlah Daun
7 hst

14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

42 hst

Tanah

14

21

2; 2; 3

2;2;3

4;3;4

Pasir

13

3; 3

4;3

5;4

Tanah +
Pasir

21

3; 2; 3

4;2;3

4;4;4

Sekam

27

3; 2; 2;

3;3;2

4;4;4

11

41

2; 3; 3; 3;

3;4;3;
4

5;4;4;
4

Serbuk
gergaji
Tanah +
Kandang

Tabel 6. Wantu benih berkecambah


Media

Saat Benih Berkecambah

Tanah

4 hst

Pasir

4 hst

Tanah + Pasir

4 hst

Tanah + Kandang

4 hst

Sekam

4 hst

Serbuk Gergaji

4 hst

Tipe perkecambahan

4.1.2.2.

: Epigeal

Grafik pengamatan kacang hijau

Grafik 4. Tinggi tanaman kacang hijau

Tinggi Tanaman Kacang Hijau


25
20
15
tinggi tanaman (cm)

10
5
0
7 hst

14 hst

21 hst

27 hst

35 hst

Tanah

Pasir

Tanah + Pasir

Sekam

Serbuk gergaji

Tanah + Kandang

42 hst

Grafik 5. Jumlah daun tanaman kacang hijau

Jumlah Daun Tanaman Kacang Hijau


45
40
35
30
25
jumlah daun 20
15
10
5
0
7 hst

14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

Tanah

Pasir

Tanah + Pasir

Sekam

Serbuk gergaji

Tanah + Kandang

42 hst

Grafik 6. Waktu benih berkecambah

Awal Benih Berkecambah Tanaman Kacang Hijau (hst)


4.5
4
3.5
3
2.5
2
1.5
1
hst 0.5
0

Awal benih berkecambah tanaman kacang hijau (hst)

4.1.3. Jagung
4.1.3.1.
Tabel pengamatan tanaman jagung
Tabel 7. Tinggi tanaman jagung
Media

Tinggi Tanaman (cm)


7 hst

14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

42 hst

Tanah

Pasir

8,7

13

20

15

17

18,5

Tanah +
Pasir

11

21

16

19,5

22,4

Sekam

6,2

10

24

11,6

14,5

17

8.2

15,8

27

34,5

37,5

40,5

Serbuk
gergaji
Tanah +
Kandang

Tabel 8. Jumlah daun tanaman jagung


Media

Jumlah Daun
7 hst

14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

42 hst

Tanah

Pasir

Tanah +
Pasir

Sekam

Serbuk
gergaji
Tanah +
Kandang

Tabel 9. Waktu benih berkecambah


Media

Saat Benih Berkecambah

Tanah

Pasir

4 hst

Tanah + Pasir

7 hst

Tanah + Kandang

7 hst

Sekam

7 hst

Serbuk Gergaji

Tipe perkecambahan

4.1.3.2.

: Hipogeal

Grafik pengamatan tanaman jagung

Grafik 7. Tinggi tanaman jagung

Tinggi Tanaman Jagung

tinggi tanaman (cm)

45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
7 hst

14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

Tanah

Pasir

Tanah + Pasir

Sekam

Serbuk gergaji

Tanah + Kandang

42 hst

Grafik 8. Jumlah daun tanaman jagung

Jumlah Daun Tanaman Jagung


9
8
7
6
5
jumlah tanaman 4
3
2
1
0
7 hst

14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

Tanah

Pasir

Tanah + Pasir

Sekam

Serbuk gergaji

Tanah + Kandang

42 hst

Grafik 9. Waktu benih berkecambah

Awal Benih Berkecambah Tanaman Jagung (hst)


8
7
6
5
4
3
2
hst 1
0

4
0

Awal benih berkecambah tanaman jagung (hst)

4.1.4. Sansevieria
4.1.4.1.
Tabel pengamatan tanaman sansevieria
Tabel 10. Tinggi tunas tanaman sansevieria
Media

Tinggi Tunas (cm)


7 hst

14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

42 hst

Tanah

Pasir

Tanah +
Pasir

Sekam

Serbuk
gergaji
Tanah +
Kandang

Tabel 11. Jumlah tunas tanaman sansevieria


Jumlah Daun

Media
7 hst

14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

42 hst

Tanah

Pasir

Tanah +
Pasir

Sekam

Serbuk
gergaji
Tanah +
Kandang

Tabel 12. Awal muncul tunas


Media

Saat Bibit Muncul Tunas

Tanah

Pasir

Tanah + Pasir

Tanah + Kandang

Sekam

Serbuk Gergaji

Tabel 13. Panjang akar

Media

Panjang Akar (cm)

Tanah

Pasir

5,5

Tanah + Pasir

Tanah + Kandang

Sekam

Serbuk Gergaji

4.1.4.2.

Grafik pengamatan tanaman sansevieria

Grafik 10. Tinggi tunas tanaman sansivera

Tinggi Tunas Tanaman Sansevieria

tinggi tunas (cm)

1
0.9
0.8
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
7 hst

14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

Tanah

Pasir

Tanah + Pasir

Sekam

Serbuk gergaji

Tanah + Kandang

Grafik 11. Jumlah tunas tanaman sansevieria

42 hst

Jumlah Tunas Tanaman Sansevieria


1
0.9
0.8
0.7
0.6
jumlah daun 0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
7 hst

14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

Tanah

Pasir

Tanah + Pasir

Sekam

Serbuk gergaji

Tanah + Kandang

42 hst

Grafik 12. Awal muncul tunas

Awal Bibit Muncul Tunas Tanaman Sansevieria (hst)


1
0.9
0.8
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
hst 0.2
0.1
0

Awal bibit muncul tunas tanaman sansevieria (hst)

Grafik 13. Panjang akar tanaman sansevieria

Panjang Akar Tanaman Sansevieria


9
8
7
6
5
4
3
2
1
0

cm

5.5
3

Panjang akar tanaman sansevieria

4.1.5. Pegagan
4.1.5.1.
Tabel pengamatan tanaman pegagan
Tabel 14. Jumlah stolon tanaman pegagan
Media

Jumlah Stolon
7 hst

14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

42 hst

Tanah

Pasir

Tanah +
Pasir

Sekam

--

Serbuk
gergaji
Tanah +
Kandang

Tabel 15. Jumlah daun tanaman pegagan


Media

Jumlah Daun
7 hst

14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

42 hst

Tanah

21

Pasir

11

17

Tanah +
Pasir

10

Sekam

12

18

42

Serbuk
gergaji
Tanah +
Kandang

Tabel 16. Panjang tanaman pegagan


Media

Panjang Tanaman (cm)


7 hst

14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

42 hst

Tanah

1,5; 0,8

2; 1,3; 0,3

2,5; 2

6,2; 3,5

7,4

8,5

Pasir

15

17

17

17

17

19

Tanah +
Pasir

0,5; 0,3;
0,2;

0,8; 0,7;
0,5

1; 0,6

2,5; 1,5

4; 2,8

4,5; 3,4

Sekam

2; 0,3

1,5; 0,5

11

11

0,2

0,6

6,5

7,5

9,2

11; 3,5

10; 5

11; 6,2

11; 6,5

11; 7

12; 7

Serbuk
gergaji
Tanah +
Kandang

Tabel 17. Jumlah tanaman pegagan


Jumlah Tanaman

Media

7 hst

14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

42 hst

Tanah

Pasir

Tanah +
Pasir

Sekam

Serbuk
gergaji
Tanah +
Kandang

4.1.5.2 Grafik pengamatan tanaman pegagan


Grafik 14. Jumlah stolon tanaman pegagan

Jumlah Stolon Tanaman Pegagan


4.5
4
3.5
3
2.5
jumlah stolon
2
1.5
1
0.5
0
7 hst

14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

Tanah

Pasir

Tanah + Pasir

Sekam

Serbuk gergaji

Tanah + Kandang

42 hst

Grafik 15. Jumlah Daun Tanaman pegagan

Jumlah Daun Tanaman Pegagan


45
40
35
30
25
jumlah daun 20
15
10
5
0
7 hst

14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

Tanah

Pasir

Tanah + Pasir

Sekam

Serbuk gergaji

Tanah + Kandang

42 hst

Grafik 16. Panjang Tanaman pegagan

Panjang Tanaman Pegagan

panjang tanaman (cm)

20
18
16
14
12
10
8
6
4
2
0
7 hst

14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

Tanah

Pasir

Tanah + Pasir

Sekam

Serbuk gergaji

Tanah + Kandang

42 hst

Grafik 17. Jumlah tanaman pegagan

Jumlah Tanaman Pegagan


9
8
7
6
5
jumlah tanaman 4
3
2
1
0
7 hst

14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

Tanah

Pasir

Tanah + Pasir

Sekam

Serbuk gergaji

Tanah + Kandang

42 hst

4.2.Pembahasan
4.2.1. Ubi jalar
Pada tanaman ubi jalar, setalah dilakukan pengamatan selama 6 minggu,
hasilnya adalah ubi jalar dapat tumbuh pada semua media tanam. Akan tetapi, selama
6 minggu pengamatan terjadi kesalahan dalam pencatatan data pengamatan pada
minggu ke-1 sampai minggu ke-3 karena kesimpangsiuran orang yang mencatat.
Akibatnya data minggu ke-1 sampai minggu ke-3 menjadi hilang. Pengamatan
dilakukan kembali pada minggu ke-4 sampai minggu ke-6. Hasilnya, pada media
tanam pasir pertembuhan tanaman ubi jalar paling tinggi. Pada media tanam tanah
dicampur pasir dan tanah dicampur pupuk kandang pertumbuhan tanaman ubi jalar
cukup baik dari pada media tanam tanah dan kompos. Tinggi tanaman ubi jalar paling
rendah pada media sekam. Hal ini sesuai dengan literature, dimana menurut
Suparman (2007), tanah yang cocok untuk tanaman ubi jalar ini adalah tanah yang
mengandung pasir, kadar lempungnya ringan dan longgar, kondisinya gembur,
sehingga udara dan air dalam tanah dapat saling bergantian dengan lancar. Dengan

demikian begitu umbi berkembang tanpa mengalami hambatan. Pada tanah yang
berat sebenarnya dapat juga ditanami ubi jalar namun harus diolah dan diberi
campuran pasir kompos dan pupuk organic, supaya tanah jadi longgar. Menurut
Rukmana (2000), Sifat pasir malang yang memiliki rongga-rongga halus membuat
pasir malang menjadi ringan dan sangat porous. Pasir malang juga mampu
memegang tanaman dengan baik, sehingga menjadi pilihan utama bagi pekebun
dan hobiis tanaman yang menyukai iklim dan media tanam kering. Hal ini membuat
tanaman ubi jalar dapat tumbuh paling tinggi pada media tanam pasir.
Pada media tanam serbuk geraji, jumlah daun tanaman ubi jalar paling banyak
begitu juga pada media tanam tanah dan tanah dicampur pupuk kandang memiliki
cukup banyak daun. Hal ini sesuai dengan literature, dimana menurut Suparman
(2007), tanaman ubi jalar tidak memilih tanah, karenanya tanaman ini tidak begitu
mementingkan kesuburan tanah, sebagaimana tanaman-tanaman palawija lainnya.
Artinya, tanaman ubi jalar tidak perlu ditanam pada tanah yang sangat subur penuh
dengan nutrisi tanah. Justru jika ditanam di tanah yang sangat subur yang tumbuh
lebat hanya daunnya sedangkan hasilnya hanya sedikit dan kecil-kecil. Sedangkan
media tanam serbuk gergaji, menurut Prihmantoro et al. (2001), kandungan unsur
haranya juga cukup tinggi terutama bila sudah membusuk. Akibatnya media tanam
serbuk gergaji memiliki jumlah daun paling banyak diantara media lain
Menurut Rukmana (1997), Meskipun tanaman ubi jalar tahan terhadap
kekeringan, fase awal pertumbuhan memerlukan ketersediaan air tanah yang
memadai. Seusai tanam, tanah atau nguludan tempat pertanaman ubi jalar harus
diairi, selama 15-30 menit hinggantanah cukup basah, kemudian airnya dialirkan
keseluruh pembuangan. Pengairan berikutnya masih diperlukan secara kontinu hingga
tanaman ubi jalar berumur 1-2 bulan. Berdasarkan data pengamtan, justru media
tanam pasir dan serbuk gergaji, tunas ubi jalar muncul paling awal yaitu 4 hari setelah
tanam. Sedangkan, pasir dan serbuk gergaji memiliki sifat mudah melepas air karena
memiliki pori-pori yang besar. Pada penanaman di polibang ini, kemampuan media
tanam memegang air tidak berpengaruh pada awal munculnya tunas. Awal munculnya
tunas lebih dipengaruhi oleh kandungan unsur hara yang ada di media tanam.

4.2.2. Kacang hijau


Pada tanaman kacang hijau, setalah dilakukan pengamatan selama 6 minggu,
hasilnya adalah kacang hijau dapat tumbuh pada semua media tanam. Akan tetapi,
selama 6 minggu pengamatan terjadi kesalahan dalam pencatatan data pengamatan
pada minggu ke-1 sampai minggu ke-3 karena kesimpangsiuran orang yang mencatat.
Akibatnya data minggu ke-1 sampai minggu ke-3 menjadi hilang. Pengamatan
dilakukan kembali pada minggu ke-4 sampai minggu ke-6. Hasilnya, pada media
tanam tanah dicampur pupuk kandang pertembuhan tanaman kacang hijau memiliki
rata-rata ketinggian paling tinggi dan ada 4 benih yang berkecambah. Hal ini
didukung oleh Fachruddin (2000) yang menyatakan bahwa Tanaman kacang hijau
dapat tumbuh hampir pada semua jenis tanah yang banyak mengandung bahan
organik, dengan drainase yang baik. Namun demikian, tanah yang paling cocok bagi
tanarnan kacang hijau ialah tanah liat berlempung atau tanah lempung. Sedangkan
media tanam sekam pada pengamatan 42 hari setelah tanam mengalami kematian.
Hal ini disinyalir akibat sekam kurang kuat dalam memegang tanaman. Menurut
Prihmantoro et al. (2001), kelemahan sekam mentah adalah sifatnya yang terlalu
berongga, sehingga kurang kuat dalam memegang tanaman. Hal ini berpengaruh
pada jumlah daun, membuat jumlah daun kacang hijau di media sekam sulit untuk
tumbuh. Akibatnya pada 35 hari setelah tanam, tidak ada daun yang tumbuh di media
tanam sekam. Sedangkan media tanam lain rata-rata memiliki jumlah daun 4.
Dari hasil pengamatan selama 6 minggu, kacang hijau tumbuh saat 4 hari
setelah tanam di semua media tanam. Jadi media tanam tidak mempengaruhi
perkecambahan benih kacang hijau. Tipe perkecambahan pada tanaman
kacang

hijau

muculnya

adalah

kotiledon

pertumbuhan

epigeal.
ke

memanjang.

Hal

tersebut

permukaan

tanah

Menurut

pratiwi

ditandai

dengan

karena

adanya

et

(2006),

al.

perkecambahan epigeal adalah apabila terjadi pembentangan ruas batang di bawah


daun lembaga atau hipokotil sehingga mengakibatkan daun lembaga dan kotiledon
terangkat ke atas tanah, misalnya pada kacang hijau (Phaseoulus radiatus).

4.1.3. Jagung
Pada praktikum ini, penanaman jagung pada keenam media
tanam, terdapat dua media tanam yang tidak tumbuh sama sekali.
Media tanam itu adalah media tanah dan serbuk gergaji. Sampai
akhir praktikum pada

media tanah dan serbuk gergaji tidak

menunjukkan adanya tanda-tanda akan tumbuh. Hal ini berbeda


dengan literatur,dimana menurut menurut Astawan (2009), jagung
tidak membutuhkan persyaratan yang khusus, hampir berbagai
macam tanah dapat diusahakan untuk pertanaman jagung. Ketidak
sesuaian ini bisa dikarenakan kesalahan prosedur penanaman atau
karena ketidak sesuaian suhu media tanam untuk memulai
perkecambahan. Menurut Aak (1993) suhu optimum untuk memulai
perkecambahan jagung adalah 18C-21C, dimana pada suhu
tersebut terjadi proses biochemis yang melarutkan makanan dan
pada tahap ini pernafasan semakin giat yang menghasilkan tenaga.
Pada media tanam yang lain pertumbuhan berlangsung dengan
baik.
Media tanam yang pertaman kali berkecambah adalah pasir,
yaitu pada 4 hari setelah tanam. Sedangkan pada media sekam,
tanah dicampur pupuk kandang, dan tanah dicampur pasir mulai
berkecambah pada saat 12 hari setelah tanam. padahal menurut
Aak (1993) tanaman jagung mulai berkecambah pada 4 sampai 5
hari setelah tanam, dan muncul kepermukaan tanah pada enam
sampai sepuluh hari. Pada perkembangan pertumbuhan tinggi
tanaman jagung hampir semua media menunjukkan hasil yang
terus meningkat. Tanaman jagung di media tanam tanah dicampur
pupuk kandang memiliki pertumbuhan paling tinggi diantara media
yang lain. Kelebihan penggunaan pupuk kandang sebagai komponen media tanam

adalah menjamin ketersediaan unsur hara bagi tanaman, walaupun tanpa tambahan
pupuk kimia (Prihmantoro et al., 2001).
Pada

tanaman

jagung

tipe

perkecambahannya

adalah

hipogeal. Hal tersebut ditandai dengan adanya pertumbuhan


memanjang

pada

menumbus

bijinya

epikotil

biji

dan keluar

yang
ke

menyababkan

permukaan

tanah,

plumula
namun

kotiledonya akan tetap dibawah tanah. Menurut Pratiwi et al. (2006)


perkecambahan hipogeal adalah apabila terjadi pembentangan ruas batang teratas
(epikotil) sehingga daun lembaga ikut tertarik ke atas tanah, tetapi kotiledon tetap di
bawah tanah. Misalnya pada biji kacang kapri (Pisum sativum).
4.2.3. Sansevieria
Pada praktikum ini, sansevieria yang digunakan adalah jenis sansevieria
trifasciata. Menurut Redaksi Agronedia (2007) memiliki karakteristik daun tebal
berair dengan helaian tegak yang menyatu di pangkal rimpang, tidak berduri, dan
ujung daun menincing. Perbanyakan vegetatif yang digunakan adalah stek batang.
Menurut Tahir dan Sitanggang (2008) menyatakan bahwa stek daun merupakan cara
termudah untuk memperbanyak tanaman sansevieria. Daun yang disetek sebaiknya
yang sudah tua, yakni daun bagian paling bawah dari tanaman sansevieria. Perlu
diketahui, cara setek daun dapat menghasilkan tanaman yang berbeda dengan
induknya, baik dari segi warna maupun bentuk. Penanaman stek daun sansevieria
sampai akhir praktikum dari semua media tanam tidak menunjukan adanya tanda
tanda kemunculan tunas baru. Menurut Tahir dan Sitanggang (2008) menyatakan
bahwa media tanam untuk semua jenis perbanyakan vegetatif berupa campuran dan
pasir, humus, sekam bakar, dan pakis dengan perbandingan 2:1:1:1. Untuk jenis S.
trifasciata dan S. hahnii, akar keluar setelah 23 minggu, dan anak ari (tunas)
muncul 34 minggu kemudian. Untuk jenis Iainnya, akar tumbuh 35 minggu dan
tunas muncul 68 minggu sampai 3 bulan sejak penanaman. Jenis sansevieria
berdaun tebal prosesnya lebih lama dibandingkan dengan jenis berdaun tipis atau
tidak begitu tebal. Tunas tanaman yang tidak tumbuh mungkin disebabkan ketidak

sesuaian media tanam dengan tanaman sansevieria. Sedangkan untuk akar sansevieria
dapat tumbuh di semua media tanaman, media tanah dan serbuk gergaji memiliki akar
paling panjang diantara media lain.
4.2.4. Pegagan
Pada praktikum ini, penaman pegagan pada keenam media tanam tidak
menunjukkan hasil yang memuaskan. Karena hampir semua tanaman tidak dapat
tumbuh stolon, kecuali pada media pasir. Hal ini dapat terjadi karena ketidak sesuaian
bibit yang digunakan. Karena pada saat praktikum bibit yang digunakan terinjakinjak. Jadi, kita menggunakan bibit seadanya, ada yang berupa stolon, ada juga
berupa tanaman induk. Kita kurang tahu tentang bagian-bagian pegagan. Winarto dan
Maria Surbakti (2003) menyatakan bahwa sebelum melakukan penanaman, terlebih
dahulu kita harus mempersiapkan bibit pegagan. Bibit harus berasal dan tanaman
yang benar-benar sehat, kuat, serta tidak terserang hama dan penyakit. Secara umum,
pegagan dapat dikembangbiakkan dengan menggunakan biji dan stolon. Namun,
dalam praktiknya, orang Iebih sering melakukannya dengan cara memisahkan stolon.
Biasanya stolon yang diambil untuk bibit sudah berakar di setiap ruasnya. Panjang
bibit berupa stolon minimum 3 ruas.
Media tanam tanah dicampur pupuk kandang, rata-rata lebih unggul dari
media-media lain. Untuk jumlah daun dan jumlah tanaman, media tanah dicampur
pupuk kandang memiliki daun dan tanaman paling banyak diantara media lain.
Kecuali panjang tanaman, di media pasir panjang tanaman pegagan paling panjang
dari media lain, diikuti media tanah dicampur pupuk kandang. Hal ini sesuai dengan
literatur, dimana menurut Darwati dan Pribadi Makmun (2012), Pegagan

dapat

tumbuh hampir di semua tempat. Pegagan dapat tumbuh pada ketinggian antara
0 2.500 m dari permukaan laut. Pegagan merah tumbuh subur di tempat
terbuka dan dapat hidup di tanah dengan kandungan hara sedikit. Pegagan hijau
dapat tumbuh di tempat terbuka atau ternaungi, biasanya tumbuh di sawah atau
di antara rerumputan. Pegagan hijau menyukai tanah yang memiliki kandungan
bahan organik tinggi, aerase baik, dan agak lembab. Apabila pegagan ditanam di

dalam pot/polibeg, sebaiknya pot/polibeg berdiameter 15 cm. Media tanam yang


digunakan kaya akan bahan organik dan gembur, dapat berupa campuran tanah
dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1. Media tanam sekam pada pengamatan
35 hari setelah tanam mengalami kematian. Hal ini kemungkinan terjadi karena
kekurangan air akbat cuaca yang terlalu panas. Hal ini didukung oleh Winarto dan
Maria Surbakti (2003) menyatakan bahwa ketersediaan air di media tanam mutlak
diperlukan terutama saat tanaman masih muda. Air sangat membantu proses
pertumbuhan vegetatif tanaman pegagan.

BAB V PENUTUP
5.1.Kesimpulan
Pada praktikum in, telah dilakukan penanaman berbagai macam bahan tanam
dengan menggunakan berbagai media tanam yang berbeda. Media tanam yang
digunakan seperti tanah, campuran tanah dan pupuk kandang, campuran tanah dan
pasir, sekam padi,dan serbuk gergaji. Sedangkan bahan tanam yang digunakan adalah
benih jagung, benih kacang hijau, stolon pegagan, stek batang ubi jalar, dan stek daun
sansevieria. Pada setiap tanaman yang yang ditanam pada media tanam yang berbeda
menunjukkan hasil yang berbeda pula. Pada penanaman ubi jalar, semua media
menunjukkan pertumbuhan yang bagus dimana media yang terbaik adalah media
pasir, diikuti media campuran tanah dan pasir dan media camppuran tanah dan pupuk
kandang. Pada penanaman kacang hijau media dengan stabilitas kenaikan tertinggi
adalah media campuran tanah dan pupuk kandang. Pada penananam jagung media
campuran tanah dan pupuk kandang menunjukkan partumbuhan yang paling stabil
dan terus meningkat. Sedangkan pada media tanah dan serbuk gergaji jagung sama
sekali tidak tumbuh. Pada penanaman sanseviera tidak dapat dibandingkan media
mana yang terbaik, karena semua tanaman tidak dapat tumbuh tunas. Akan tetapi,
pada media tanah dan serbuk gergaji memiliki akar terpanjang diantara media lain

Pada penaman pegagan tidak dapat dibandingkan, karena terjadi kesalahan pada
teknik penanamannya. Namun, ada stolon yang tumbuh pada media pasir.
5.2.Saran dari hasil pembahasan
1. Ubi jalar
Media tanam terbaik untuk penanaman ubi jalar adalah media pasir, karena
kaondisinya ringan dan longgar, sehingga udara dan air dalam media tersebut
dapat saling bergantian dengan lancar. Pasir mengandung unsure hara yang
sedikit.
2. Jagung
Media tanam terbaiik untuk penanaman kacang hijau adalah media campuran
tanah

dan

pupuk

kandang,

karena

dalam

praktikum

menunjukkan

pertumbuhan yang stabil dan terus meningkat. Selain itu media tanam
alternative yang bisa digunakan untuk proses budidaya kacang tanah adalah
media campuran tanah dan pasir dan media pasir.
3. Jagung
Media terbaik untuk penanaman jagung berdasarkan praktikum adalah media
campuran tanah dan pupuk kandang, dimana dari awal penanaman
menunjukkan konsistensi pertumbuhan yang optimal.
4. Sansevieria
Pada tanaman sansevieria tidak dapat dibandingkan media mana yang terbaik
karena semua tanaman tidak ada yang tumbuh tunas. Akan tetatapi, media
tanah dan serbuk gergaji memilik akar terpanjang. jadi, berdasarkan
praktikum media terbaik adalah media tanah dan serbuk gergaji.
5. Pegagagan
Pada pegagan tidak dapat dibandingkan setiap media karena hampir semua
tidak muncul stolon dan terjadi kesalahan teknis pada saat penanaman.
Namun, media pasir dapat tumbuh stolon. jadi berdasarkan praktikum media
terbaik adalah media pasir.

DAFTAR PUSTAKA
Aak. 1993. Teknik bercocok tanam Jagung. Yoggyakarta: kanisius
Astawan. 2009. Sehat Dengan Hidangan Kacang Dan Biji-bijian. Jakarta: Penebar
Swadaya
Bambang, Santoso. 2010. Menejemen Pembibitan Dan Produksi Hortikultura.
Mataram: Unram Press
Darwati, Iren & E.R. Pribadi Makmun. 2012. Budidaya Dan Pasca Panen Pegagan
(Centella asiatica). Balittro: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Balai Penelitian Tanaman
Rempah dan Obat
Fachruddin, Lisdiana. 2000. Budi Daya Kacang Kacangan. Yogyakarta: Kanisius
Handoyo, Luisa Diana. 2011. Perkembangbiakan Tumbuhan. Yogyakarta: Universitas
Sanata Dharma Press
Joesoef, M. 1989. Penuntun Berkebun Jeruk. Jakarta : Bharata

Kartasapoetra Ance, G. 1986. Teknologi Benih Pengolahan Benih dan Tuntunan


Praktikum. Jakarta: Bina Aksara
Mangoendidjojo, W. 2003. Dasar-Dasar Pemuliaan Tanaman. Yogyakarta: Kanisius
Novijanto, N. 1996. Pengaruh Suhu dan Lama Perendaman Terhadap Mutu
Kecambah Kacang Hijau. Agri Journal. 3(2):30
Pratiwi, et al. (2006). Biologi untuk SMA Kelas X. Jakarta : Erlangga
Prihmantoro, Heru & Yovita Hety Indriani. 2001. Hidroponik Sayuran Semusim
Untuk Bisnis Dan Hobi. Jakarta: Penebar Swadaya
Purnomosidhi P, Tarigan J, Surgana M, Roshetko JM. 2012. Teknik Perbanyakan
Vegetatif. Bogor: Lembar Informasi AgFor No 2

Redaksi Agromedia. 2007. Buku Pintar Tanaman Hias. Jakarta: Agromedia Pustaka

Redaksi Agromedia. 2010. Kunci Sukses Memperbanyak Tanaman. Jakarta:


Agromedia Pustaka

Redaksi Ps. 2007. Media Tanam Untuk Tanaman Hias. Depok: Penebar Swadaya

Rochiman, K. dan S. S. Harjadi. 2002. Perkembangbiakan Vegetatif. Bogor: IPB


press

Rukmana, Rahmat. 1997. Ubi jalar: budi daya dan pascapanen. Yogyakarta:
Kanisius

Rukmana, Rahmat. 2000. Teknik Perbanyakan Tanaman Hias. Yogyakarta: Kanisius

Setiawan, A.I. 1996. Kiat Memilih Bibit Tanaman Buah. Jakarta: Penebar Swadaya

Suparman. 2007. Bercocok Tanam Ubi Jalar. Jakarta : Azka Mulia Media

Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Suwanto, Mahardi & Agus Andoko. 2007. Membuat Adenium Tampil Indah
Menawan. Jakarta: Agromedia Pustaka

Tahir, M. I. dan M. Sitanggang. 2008. 165 Sansevieria Eksklusif. Jakarta: Agromedia


Pustaka.

Viera. R.D. , D.M. Tekrony , D.B. Egli & M. Rucker. 2001. Electrical conductivity of
Soybean seeds sfter storage in several environments. Seed Science and
Technology. 599-608

Widarto, L. 1996. Perbanyakan Tanaman Dengan Biji, stek, Cangkok, Sambung,


Okulasi dan Kultur Jaringan. Yogyakarta: Kanisius

Winarto, W.P & Maria Surbakti. 2003. Khasiat Dan Mafaat Pegagan, Tanaman
Penambah Daya Ingat. Jakarta: Agromedia Pustaka

Wirawan, B. dan S. Wahyuni, 2002. Memproduksi Benih Bersertifikat. Jakarta:


Penebar Swadaya

LAMPIRAN

Gambar dokumentasi proses pemasukan media tanam ke dalam polibag

Media dimasukkan kedalam polibag dengan menyisahkan 5cm

Bagian atas polibag dilipat agar terkesan rapi

Gambar dokumentasi pengamatan setiap minggu

Pertumbuhan tanaman pada 21 hari setelah tanam

Tanaman tumbuh dengan baik, namun ada beberapa tanaman yang tidak tumbuh pada
media tanam tertentu

Gambar dokumentasi penyiraman dan perawatan setiam minggu

Penyiraman air pada seluruh tanaman, hal ini bertujuan agar tanaman memperoleh
asupan air yang digunakan untuk metabolisme tanaman

Daun ubi jalar terdapat lubang-lubang akibat serangan ulat. Maka dilakukan
pengendalian secara mekanik yaitu dengan menangkap ulat, ulat tersebut dibunuh
agar tidak kembali memakan daun ubi jalar.