Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ANALITIK II

PENENTUAN KADAR KONSENTRASI KLORIDA


DENGAN METODE VOLHARD
SENIN, 7 APRIL 2014

KELOMPOK 2:
FIKAAMALIA
GILANG YUDA PRATAMA
WIDYA MULYANA PUTRI
YAYAT KARYATI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN ILMUPENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014

I.

ABSTRAK
Pada praktikum kali ini akan dibahas tentang penentuan kadar bromida
dengan metode volhard. Metode volhard didasari oleh pengendapan dari perak
tiosanat dalam larutan asam nitrit. Metode volhard ini merupakan
pembentukan kompleks berwarna. Pada praktikum ini digunakan 10 ml
larutan NaBr yang kemudian ditmbahkan

AgNO3 sebanyak 15 mL dan

ditambahkan lagi 5 tetes FeCl3 sebagai indikator hingga larutan berwarna


kuning dengan endapan berwarna hijau. Lalu dititrasi dengan KSCN sebanyak
6,75 ml yang tidak sudah diketahui konsentrasinya. Berdasarkan perhitungan
ternyata kadar konsentrasi bromide yang terkandung yaitu KSCN sebesar 0,2
N.

II.

INTRODUCTION
Titrasi-titrasi yang melibatkan reaksi pengendapan tidak berjumlah
banyak dalam analisis titrimetrik seperti titrai-titrasi yang terlibat dalam reaksi
redoks atau asam basa. Titrasi semacam ini biasanya dibatasi pada
pengendapan ion perak dengan anion-anion seperti halogen dan tiosianat
(R.A.Day,JR & A.L. Underwood, 1998:223).
Metode volhard didasari oleh pengendapan dari perak tiosianat dalam
larutan asam nitrit, dengan ion besi (III) dipergunakan untuk mendeteksi
kelebihan ion tiosianat:
Ag+ + SCN- AgSCN(s)
Fe3+ + SCN- FeSCN2+ (merah)
Metode ini dapat digunakan untuk titrasi langsung perak dengan larutan
standar tiosianat untuk titrasi tidak langsung dari ion-ion klorida,bromide dan
iodide. Dalam titrasi tidak langsung, kelebihan dari perak standar
ditambahkan

dan

kemudian

dittrasi

dengatiosianat.

Metode

volhard

dipergunakan secara luas untuk perak dan klorida mengingat titrasinya dapat
dijalankan dalam larutan asam (Underwood, 2002:228).
Pengendapan mungkin adalah metode yang paling sering dipakai
dalam praktik analisis kualitatif. Timbulnya endapan sebagai suatu hasil
regensia tertentu dapat dipakai sebagai uji terhadap suatu ion tertentu. Namun
pengendapan dapat juga digunakan untuk pemisahan. Untuk melakukan hal
ini suatu regensia yang sesuai ditambahkan, yang membentuk endapan
(endapan-endapan) dengan hanya satu atau beberapa ion yang ada dalam
larutan. Setelah penambahan reagensia dalam jumlah yang sesuai endapan
disaring dan dicuci. Kemudahan suatu endapan disaring dan dicuci tergantung
senagian besar struktur morfologi endapan yaitu pada bentuk dan ukuran
Kristal-kristalnya (Vogel,1985:89).
Metode ini digunakan dalam penentuan ion Cl-, Br -, dan I- dengan
penambahan larutan standar AgNO3. Indikator yang dipakai adalah
Fe3+dengan titran NH4CNS, untuk menentralkan kadar garam perak dengan
titrasi kembali setelah ditambah larutan standar berlebih. Kelebihan AgNO3
dititrasi dengan larutan standar KCNS, sedangkan indikator yang digunakan
adalah ion Fe3+ dimana kelebihan larutan KCNS akan diikat oleh ion Fe3+
membentuk warna merah darah dari FeSCN (Pinilih, 2007).
Metode ini digunakan untuk menentukan kandungan perak dalam
suasana asam dengan larutan standar kalium atau amonium tiosianat berlebih.
Kelebihan tiosianat dapat ditetapkan secara jelas dengan garam besi (III) nitrat
atau besi (III) amonium sulfat sebagai indikator yang membentuk warna
merah dari kompleks besi (III) tiosianat dalam suasana asam nitrat 0,5 1,5
N. Titrasi ini harus dilakukan dalam suasana asam, sebab ion besi (III) akan
diendapkan menjadi Fe(OH)3 jika suasananya basa, sehingga titik akhir tidak
dapat diamati (Kepala Laboratorium Pendidikan Kimia, 2011).

III. MATERIALS AND METHODH


Materials
a. Gelas ukur
b. Gelas kimia
c. Labu erlenmayer
d. Corong
e. Statif dan klem
f. Larutan NaBr
g. Larutan AgNO3
h. Larutan KSCN
i. Larutan FeCl3

Methodh
a. Masukkan sampel NaBr sebanyak 10 ml kedalam labu erlenmeyer

b. Reaksikan dengan larutan AgNO3 15 mL sampai larutan terdapat


endapan berwarna hijau

c. Teteskan larutan FeCl3 sebanyak 5 tetes sebagai indikator

d. Titrasi lah dengan larutan KSCN sampai larutan berwarna merah


(mencapai titik equivalen)

IV.

RESULT AND DISCUSION


Result
Volume AgNO3 pada titrasi ke-1

15 mL

Volume AgNO3 pada titrasi ke-2


Volume KSCN pada titrasi ke-1
Volume KSCN pada titrasi ke-2
Volume NaBr pada titrasi ke-2

total KSCN

total KSCN

total KSCN

= 6,75 mL

total AgNO3

total AgNO3

total AgNO3

= 15 Ml

VAgNO3.NAgNO3 = V KSCN.N KSCN


15 x 0,1

= 6,75 x N KSCN

N KSCN

= 0,2

VAgNO3.NAgNO3 = VNaBr.NNaBr
15 x o,1

= 10 x NNaBr

NNaBr

= 0,15

Reaksi:
Ag+ + SCN- AgSCN(s)

15 mL
6,5 mL
7 mL
10 Ml

Fe3+ + SCN- FeSCN2+ (merah)


Discusion
Pada percobaan kali ini, kita akan menentuan kadar bromida dari sampel
larutan NaBr. Pada percobaan kali ini, menggunakan metode argentometri
dengan menerapkan prinsip metode Volhard. Metode volhard adalah metode
yang digunakan dalam penentuan ion Cl-, Br -, dan I- dengan penambahan
larutan standar AgNO3.
Pada praktikum ini, kita dapat mengetahui penentuan titik ekivalen
berdasarkan Metode Volhard. Metode Volhard sering disebut juga reaksi
balik.Dalam buku analisis kimia kuantitatif di sebutkan bahwa yang dimaksud
dengan metode volhard adalah menentukan titik ekivalen bedasarkan endapan
yang terbentuk dari perak tiosianat berwarna merah pekat dan ion Fe 3+ sebagai
indikatornya.
Pada percobaan ini digunakan 10 ml larutan NaBr yang kemudian ditmbahkan
AgNO3 sebanyak 15 mL dan ditambahkan lagi 5 tetes FeCl3 sebagai indikator,
ion Fe3+ dimana kelebihan larutan KCNS akan diikat oleh ion Fe3+ membentuk
warna merah darah dari FeSCN. Lalu dititrasi dengan KSCN sebanyak 6,75
ml yang tidak sudah diketahui konsentrasinya, sampai larutan berwarna
kuning dengan endapan berwarna hijau. Berdasarkan perhitungan ternyata
konsentrasi bromide yang terkandung yaitu KSCN sebesar 0,2 N.

V.

CONCLUTION
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan:
a. Metode volhard adalah metode yang digunakan dalam penentuan ion
Cl-, Br -, dan I- dengan penambahan larutan standar AgNO3

b. Indikator yang digunakan adalah ion Fe3+ dimana kelebihan larutan


KCNS akan diikat oleh ion Fe3+ membentuk warna merah darah dari
FeSCN
c. Konsentrasi dari KSCN adalah 0,2 N

VI.

REFERENSI
Underwood, A.L. dan JR,R.A.Day. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif
edisi keenam. Jakarta; Erlangga
Vogel. 1985. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro
Edisi Kelima. Jakarta : PT. Kalman Media Pustaka Agung
Kepala Laboratorium Pendidikan Kimia. 2011. Panduan Penulisan
Laporan

Praktikum.http://diploma.chemistry.uii.ac.id/kuliah

%20online/PANDUAN%20PENULISAN%20LAPORAN
%20PRAKTIKUM.pdf Diakses pada tanggal 18 April 2014 Pukul 18:40 WIB.
Pinilih,

I.,

dkk.

2007.

Argentometri.

http://www.e-

bookspdf.org/view/aHR0cDovL2ltYW1zYW1vZHJhLmZpbGVzLndvcmRw
cmVzcy5jb20vMjAwOC8wMi9taWNyb3NvZnQtd29yZC1hcmdlbnRvbWV0
cmkucGRm/TGFwb3JhbiBQcmFrdGlrdW0gS2ltaWEgQW5hbGl0aWsgRGF
zYXIgUGVyY29iYWFuIEl2 . Diakses pada tanggal 18 April 2014 Pukul
18:15 WIB.