Anda di halaman 1dari 15

PENGENALAN JENIS-JENIS PLANKTON

Oleh :
Nama
NIM
Kelompok
Asisten

: Rafta Firmana Adhiem


: B0A014014
:V
: Adi Cahya Nugraha

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK BUDIDAYA PAKAN ALAMI

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PROGRAM STUDI D III PENGOLAHAN SUMBERDAYA
PERIKANAN DAN KELAUTAN
PURWOKERTO
2015

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Plankton adalah organisme yang baik tumbuhan maupun hewan yang
umumnya berukuran relatif kecil, hidup melayang-layang di badan perairan, tidak
mempunyai daya gerak walaupun memiliki alat gerak, daya gerak relatif lemah
sehingga distribusonya sangat dipengaruhi oleh daya gerak air. Berdasarkan daur
hidupnya plankton dibagi menjadi tiga kelompok yaitu, holoplankton,
meroplankton, dan tikoplankton. Holoplankton yaitu organisme akuatik yang
seluruh daur hidupnya bersifat planktonik. Meroplankton ialah organisme akuatik
yang seluruh daur hidupnya bersifat planktonik. Tikoplankton ialah bukan
merupakan plankton sejati (Nybakken, 1992).
Plankton adalah pakan alami dan utama bagi larva ikan, crustacea seperti
udang serta merupakan salah satu faktor pembatas bagi organisme budidaya.
Plankton di kelompokkan atas phytoplankton dan zooplankton. Phitoplankton
dibedakan atas phitoplankton coklat (brown algae) dan phytoplankton hijau (green
algae). Phitoplankton dibedakan atas phitoplankton coklat (brown algae) dan
phytoplankton hijau (green algae). Pakan ini hidup bebas diberbagai perairan, baik
perairan tawar, payau maupun laut dan mampu berkembang dengan secara cepat.
Pemberian plankton dalam jumlah besar pada larva tidak memungkinkan
dilakukan dengan penangkapan atau penyaringan air laut bebas mengingat
ketersediaannya di alam sangat terbatas dan membutuhkan waktu yang cukup
lama sehingga tidak efisien. Oleh karena itu perlu dilakukan budidaya atau kultur
plankton untuk mendapatkan plankton dalam jumlah besar (Brotowidjoyo, 1995)
Permasalahan ketersediaan pakan alami biasanya terjadi pada kegiatan
budidaya. Jumlah pakan alami sangat tergantung pada faktor manusia yang
memelihara, baik dari jumlah, jenis, maupun waktu pemberiannya. Fitoplankton
merupakan dasar dalam mata rantai ekosistem perairan yang dapat dimanfaatkan
langsung sebagai pakan hidup untuk pakan organisme budidaya. Sampai saat ini
terdapat lebih dari 40 spesies phytoplankton yang telah berhasil di budidayakan
guna memenuhi kebutuhan pakan alami untuk kegiatan budidaya ikan dan
crustacea (Coutteau, 1996)

1.2 Tujuan
Mahasiswa mampu mengenal beberapa jenis plankton yang dapat
digunakan sebagai pakan alami ikan yang terdapat di kolam budidaya, sawah, dan
sungai.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Plankton adalah organisme yang melayang-layang pada badan air dan


pergerakannya sangat dipengaruhi oleh arus. Ukuran plankton sangat bervariasi
tergantung pada jenis dan penggolongan plankton namun umumnya mempunyai
ukuran mikroskopik. Ukuran yang sangat kecil inilah sehingga untuk mempelajari
plankton dipelajari metode khusus yang berbeda dengan penelitian terhadap
organisme lain umumnya (Kasim dan Wanurgaya, 2009).
Penggolongn plankton Secara fungsional, plankton digolongkan menjadi
empat golongan utama, yaitu fitoplankton, zooplankton, bakterioplankton, dan
virioplankton. Berdasarkan ukuran plankton terbagai atas megaplankton (20-200
cm), makroplankton (2-20 cm) dan mesoplankton (0,2-20 mm). Berdasarkan daur
hidupnya plankton dibagi menjadi holoplankton, meroplankton dan tikoplankton.
Berdasarkan sebaran horizontal yaitu plankton neritik dan plankton oseanik,
sedangkan penggolongan plankton berdasarkan sebaran vertikal yaitu meliputi
epiplankton, mesoplankton dan hipoplankton (Nontji, 2008).
Secara garis besar plankton plankron dapat dibedakan menjadi dua
golongan, yakni phytoplankton dan zooplankton. Fitoplankton merupakan hewan
nabati yang berukuran mikroskopik dan bergerakannya sangat dipengaruhi oleh
arus, mampu membuat makanannya sendiri dengan cara proses fotosintesis karena
mereka mengandung klorofil dalam selnya. Dengan kemampuan tersebut
fittoplankton menempati urutan pertama dalam rantai makanan sebagai produser
primer pada perairan terbuka. Zooplankton yaitu plankton hewani yang bersifat
herbivora tidak dapat mebuat makanannya sendiri dan akan memakan fitoplankton
secara lansung, dari golongan karnivora memakan golongan herbivora (Sulawesty,
2008).
Fitoplankton merupakan salah satu komponen penting dalam suatu
ekosistem karena memiliki kemampuan untuk menyerap langsung energi matahari
melalui proses fotosintesa guna membentuk bahan organik dari bahan-bahan
anorganik yang lazim dikenal sebagai produktivitas primer. Fitoplankton mampu
membuat ikatan-ikatan organik yang komplek (glukosa) dari ikatan-ikatan
anorganik sederhana, karbondioksida (CO2) dan air (H2O). Energi matahari

diabsorbsi oleh klorofil untuk membantu berlangsungnya reaksi kimia yang


terjadi dalam proses fotosintesis tersebut (Widyorini, 2009).
Zooplankton memainkan berperan penting sebagai pemangsa yang
mengontrol populasi fitoplankton dan bakteri. Zooplankton dapat mempengaruhi
struktur komunitas secara langsung melalui pemangsaan selektif atau secara tidak
langsung melalui regenerasi nutrient. Berbagai studi telah menunjukkan
penurunan biomassa fitoplankton tergantung dari densitas dan ukuran zooplankton
pemangsa (Evendi, 2011).

III.

MATERI DAN CARA KERJA

2.1 Materi
Alat yang digunakan dalam acara praktikum teknik budidaya pakan alami
adalah ember volume 10 liter, planktonet, botol sampel, mikroskop, tissue, cover
glass, dan object glass.
Bahan yang digunakan adalah air sampel, larutan lugol, dan larutan
formalin.
2.2 Cara Kerja
1. Ember volume 10 liter dan planktonet disiapkan.
2. Air sampel diambil minimal sebanyak 100 liter (10 X pengambilan), tiap
pengambilan dilakukan penyaringan dengan plankton net.
3. Air yang berada pada botol plankton net dipindahkan kedalam botol
sampel dan ditambahkan larutan lugol serta larutan formalin 4%
kemudian dimasukan kedalam freezer atau pendingin.
4. Air sampel diambil menggunakan pipet tetes kemudian diteteskan pada
objek glass dan ditutup dengan cover glass.
5. Jenis-jenis plankton yang terdapat pada botol sampel diamati
menggunakan mikroskop.
6. Warna dan bentuk plankton dicocokan dengan buku identifikasi.
7. Nama plankton yang ditemukan ditulis dalam lembar kerja.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Tabel 3.1 identifikasi jenis-jenis plankton


No
1
2
3
4
5
6

Kelas
Chlorophyceae
Branchiopoda
Zygnematophyceae
Bacillariphyceae
Bacillariphyceae
Euglenophyceae

Genera
Microspora
Daphnia
Spirogyra
Gyrosigma
Melosira
Euglena

Spesies
Microspora sp.
Daphnia sp.
Spirogyra sp.
Gyrosigma sp.
Melosira varians
Euglena acus

Gambar 4.1

Gambar 4.2

Gambar 4.3

Gambar 4.4

Gambar 4.5

Gambar 4.6

3.2 Pembahasan
Plankton merupakan organisme yang berukuran kecil yang hidupnya
terombang-ambing oleh arus di perairan bebas atau plankton merupakan
mikroorganisme yang hidup di dalam air. Pergerakan plankton di pengaruhi oleh
arus, hidupnya melayang-layang dan gaya geraknya sangat kecil. Distribusi
plankton cukup luas, mulai dari muara sungai hingga samudra, mulai dari perairan
tawar hingga asin, bahkan dari perairan tropis hingga kutub. Mereka terdiri dari
mahkluk-mahkluk yang hidupnya sebagai hewan (zooplankton) dan sebagai
tumbuh-tumbuhan (phytoplankton) (Hutabarat dan Stewart, 1986)
Fitoplankton memegang peranan yang sangat penting dalam suatu
perairan. Fungsi ekologisnya sebagai produsen primer dan awal mata rantai dalam
jaringan makanan menyebabkan fitoplankton sering dijadikan skala ukuran
kesuburan suatu ekosistem. Berdasarkan struktur tropik level , pada kebanyakan
ekosistem fitoplankton terutama dikomsumsi oleh zooplankton disamping larva
hewan tingkat tinggi lainnya. Fitoplankton dan zooplankton memiliki kedekatan
hubungan ekologis yaitu pemangsaan (grazing), selanjutnya zooplankton
dikomsumsi oleh konsumen yang lebih tinggi seperti larva dan hewan muda dari
berbagai organisme termasuk kepiting bakau (Asiah, 2002).
Plankton merupakan makanan alami larva organisme perairan.Produsen
utama di perairan adalah fitoplankton, sedangkan yang berperan sebagai
konsumen larva ikan, udang, kepiting, dan sebagainya adalah zooplankton
(Dianthani Dhani, 2003). Fitoplankton merupakan organisme berklorofil yang
pertama ada di dunia dan merupakan sumber makanan bagi zooplankton sebagai
konsumen primer, maupun organisme aquatik lainnya, sehingga populasi
zooplankton maupun populasi konsumer dengan tingkat tropik yang lebih tinggi
secara umum mengikuti dinamika populasi fitoplankton. Fitoplankton adalah
tumbu-tumbuhan air yang mempunyai ukuran sangat kecil dan hidup melayang
dalam air. Fitoplankton mempunyai peranan sangat penting dalam ekosistem
perairan, sama pentingnya dengan peran tumbuh-tumbuhan hijau yang lebih tinggi
tingkatannya di ekosistem daratan. Fitoplankton adalah produsen utama (Primary
producer) zat-zat organik dalam ekosistem perairan. Seperti tumbuh-tumbuhan

hijau yang lain, fitoplankton membuat ikatan-ikatan organik kompleks dari bahan
organik sederhana melalui proses fotosintesa (Hutabarat dan Stewart, 1986).
Daerah pesisir merupakan ekosistem yang paling produktif di dunia,
dicontohkan oleh fakta bahwa habitat pesisir menyediakan makan dan reproduksi
tanah sekitar 90% dari laut fitoplankton tangkapan ikan dunia adalah salah satu
komponen biologis awal dari mana energi yang ditransfer ke organisme yang
lebih tinggi melalui makanan rantai fitoplankton kelimpahan dan komposisi dalam
suatu ekosistem perairan diatur oleh berbagai faktor abiotik atau fisikokimia
seperti pH, cahaya, suhu, salinitas, kekeruhan dan nutrisi (Panda, 2012).
Selain itu, pentingnya peranan mereka sebagai produsen utama dalam
jaring makanan dan berikutnya keseimbangan ekologis, fitoplankton merupakan
indikator yang berguna dari kualitas air. Komunitas fitoplankton laut biasanya
terdiri dari beberapa kelompok taksonomi dan berkontribusi terhadap produksi
primer dan interaksi antara tingkat trofik. Populasi fitoplankton merupakan
kekayaan hayati dari badan air, yang merupakan link penting dalam rantai
makanan (Panda, 2012).
Identifikasi adalah pemberian tanda-tanda pada golongan hewan,
tumbuhan ataupun hal lainnya. Bergantung pada tujuannya, umumnya analisis
plankton yang mudah dilakukan adalah pengukuran biomassa (berat kering, berat
basa, atau volume plankton) dan pencacahan plankter. Masing-masing cara
tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pengukuran biomassa bertujuan
untuk mengetahui banyaknya plankton secara kuantitatif tanpa mengidentifikasi.
Ini merupakan cara yang praktis dan sederhana namun kurang teliti karena sering
terbawa materi lain di luar plankton. Saat pertumbuhannya setiap jenis
fitoplankton mempunyai respon yang berbeda terhadap perbandingan nutrien yang
terlarut dalam badan air. Oleh karena itu perbandingan nutrien, khususnya
nitrogen, fosfor dan silikat terlarut sangat menentukan dominasi suatu jenis
fitoplankton di perairan (Garno, 2008)
Menurut Sachlan (1982), fitoplankton dikelompokan ke dalam 5 divisi
yaitu: Cyanophyta, Crysophyta, Pyrrophyta, Chlorophyta dan Euglenophyta
(hanya hidup di air tawar). Kecuali Euglenophyta semua kelompok fitoplankton
ini dapat hidup di air tawar dan air laut. Menurut Nontji (2008), fitoplankton yang

dapat tertangkap dengan planktonet standar adalah fitoplankton yang memiliki


ukuran 20 m. Fitoplankton yang bisa tertangkap dengan jaring umumnya
tergolong dalam tiga kelompok utama yakni diatom, dinoflagellata dan alga biru
(Cyanophyceae).
Pengambilan sempel air dilakukan di kolam salah satu rumah warga di
Karangwangkal, pengambilan sempel dilakukan pada hari Selasa, 22 September
2015 pukul 07.00 WIB. Secara fisik peraiaran pada kolam pembenihan terlihat
hijau dengan sumber cahaya yang masuk kedalam air dan adanya saluran
pemasukan dan pengeluaran air. Ikan yang terdapat pada kolam pembenihan ini
terdapat berbagai jenis ikan antara lain ikan nila, ikan mas, dan ikan gurame.
Plankton yang didapat pada perairan tersebut adalah Microspora sp., Daphnia sp.,
Euglena acus., Spirogyra sp., Gyrosigma sp., Melosira varians.
Klasifikasi Microspora sp. menurut Prasetyo (1987) sebagai berikut:
Divisio

: Chlorophyta

Class

: Chlorophyceae

Ordo

: Ulotrichales

Famili

: Microsporaceae

Genus

: Microspora

Spesies

: Microspora sp.
Microspora banyak ditemukan di kolam air tawar, filamen koloni tidak

bercabang. Dindingselnya berebentuk seperti huruf H sehingga protoplasama


berada dalam sambungan huruf H. Dinding sel ini dari selulose, tapi lapisan
terluar di filamen tersusun dari pektin. Pada pembelahan sel terjadi pembentukan
lapisan selulose tipis menyelubungi protoplasma anak yang disusul dengan
penambahan tangan-tangan huruf-huruf H yang juga dari selulose (Prasetyo,
1987)
Klasifikasi Daphnia sp. menurut Delbaere dan Dhert (1996) sebagai
berikut :
Phylum

: Arthopoda

Class

: Branchiopoda

Ordo

: Cladocera

Famili

: Daphnidae

Genus

: Daphnia

Spesies

: Daphnia sp.
Daphnia adalah filum Arthropoda yang hidup secara umum di perairan

tawar. Spesies-spesies dari genus Daphnia ditemukan mulai dari daerah tropis
hingga arktik dengan berbagai ukuran habitat mulai dari kolam kecil hingga danau
luas. Dari lima puluh spesies genus ini di seluruh dunia, hanya enam spesies yang
secara normal dapat ditemukan di daerah tropika. Salah satunya adalah spesies
Daphnia magna (Delbaere & Dhert, 1996)
Klasifikasi Euglena acus menurut Roger (1988) sebagai berikut:
Phylum

: Protozoa

Class

: Flagellata

Ordo

: Euglenida

Famili

: Euglenaceae

Genus

: Euglena

Spesies

: Euglena acus
Memiliki bentuk tubuh menggelendong dengan ujung berbentuk

meruncing, tubuhnya dilapisi dengan pelikel, memiliki dua buah atau lebih flagel
(satu bulu cambuk panjang dan satu bulu cambuk pendek) yang muncul dari
bagian lubang apikal, plastida berbentuk pipih dan seperti pita, dan memiliki
stigma yang tampak jelas (bintik mata berwarna merah) yang berfungsi untuk
membedakan antara gelap dan terang (Roger, 1988)
Klasifikasi Spirogyra sp. menurut Nontji (2009) sebagai berikut:
Phylum

: Chlorophyta

Class

: Zygnematophyceae

Ordo

: Zygnematales

Famili

: Zygnemataceae

Genus

: Zygnematales

Spesies

: Spirogyra sp.
Spirogyra memiliki bentuk benang. Panjang sel sampai beberapa kali

lebarnya. Dinding lateral sel terdiri dari tiga lapis. Lapisan terluar dari
pektose, dan dua lapisan dalam dari selulose. Pada beberapa spesies, lapisan
pektose tipis, tapi kebanyakan tebal, yaitu antara 10-15 mikron. Dinding

transversal tersusun dari 3 lapis: yang tengah merupakan lamela dari pektose, dan
dua lapisan di kiri dan kanan lamela tersusun dari selulose (Nontji, 2009)
Klasifikasi Gyrosigma sp.menurut Soelisetiono (2009) sebagai berikut:
Divisio

: Chrysophyta

Class

: Bacillariphyceae

Ordo

: Pennales

Famili

: Gyrosigmaceae

Genus

: Gyrosigma

Spesies

: Gyrosigma sp.
Kromatofora: hijau kekuningan sampai coklat keemasan. Hal ini

disebabkan oleh karoten dan xantofil yang predominan. Susunan tubuh uniseluler
dengan bentuk dasar bilateral simitris. Reproduksi secara aseksual dengan
pembelahan sel dan pembentukan auxuspora (Sulisetiono, 2009).
Klasifikasi Melosira varians menurut Prasetyo (1967) sebagai berikut:
Divisio

: Bacillariophyta

Class

: Bacillariophyceae

Ordo

: Centrales

Famili

: Melosiraceae

Genus

: Melosira

Spesies

: Melosira varians
Hidup di air tawar, air laut, dan tanah yang basah Bentuk sel bilateral dan

sentrik, dinding sel terdiri dari pektin dengan suatu panser yang terdiri atas kersik
disebelah luarnya, panser kersik tidak menutup seluruh sel, terdiri atas dua bagian
yang merupakan wadah dan penutup. Terdapat inti dan kromotofora yang
berwarna kuning-coklat yang mengandung klorofil-a, karotin, santofil, dan
karonitoid yang menyerupai fikosantin (Prasetyo, 1967)

V. KESIMPULAN

Praktikum yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa:


Plankton yang terdapat diperairan kolam yang kami teliti adalah
Microspora sp., Daphnia sp., Euglena acus., Spirogyra sp., Gyrosigma sp.,
Melosira varians.

DAFTAR PUSTAKA

Asiah, Nur. 2002. Budidaya Kepiting Bakau. Jakarta: Bumi Aksara


Brotowidjoyo, M.D., Tribowono, D., dan Mulbyanto. 1995. Pengantar
Lingkungan Perairan dan Budidaya Air. Yogyakarta: Liberty
Coutteu, P. 1996. Manual on the Production and Use of Live for Aquaculture.
FAO Fishery Technical Paper, No 31. Rome
Delbaere, S., dan Dhert, M. 1996. A Text Book of Algae. Jakarta: Vikas Publishing
Dianthani, Dhani, 2003. Identifikasi Jenis Plankton di Perairan Muara Badak,
Kalimantan Timur. Program Pasca Sarjana. Bogor: Institut Teknologi
Bogor.
Evendi, E. 2011. Pemodelan Peran Zooplankton dalam Siklus Nitrogen di Teluk
Lampung. Bandar Lampung: Fakultas Pertanian Universitas Lampung.
Garno, Yudhi Soetrisno. 2008. Kualitas Air dan Dinamika Fitplankton di Perairan
Pulau Harapan. Jurnal Hidrosfir Indonesia. Vol. 3(2), pp. 87-94.
Hutabarat, S., dan Stewart,

M.E. 1985. Pengantar Oseanografi. Jakarta:

Universitas Indonesia Press.


Kasim, M., dan Wanurgaya. 2009. Penuntun Praktikum Planktonologi. Kendari:
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Halueo
Nontji, A. 2008. Plankton Laut. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama

Panda, Swaati.S., dan Dhal, N.K. 2012. Phytoplankton Diversity in Response to


Abiotic Factors Along Orissa Coast, Bay of Bengal. International Journal
of Enviromental Science. Vol 2(3)
Prasetyo, I. 1967. Beberapa Genus Alga Air Tawar Sistematika dan Deskripsi.
Malang: Fakultas MIPA, IKIP Malang.
Roger, N., dan Anderson. 1988. Marine Geology. Canada: Stimultaneously.
Sachlan, M. 1982. Planktonologi. Semarang: Fakultas Peternakan dan Perikanan,
Universitas Diponegoro.
Soelistiono. 2009. Bahan Serahan Alga. Malang: Universitas Islam Negeri
Malang
Sulawesty, F. 2008. Komposisi Atom Epifit di Perairan Busan. Kalimantan
Selatan: Warta Limnologi
Widyorini, N. 2009. Pola Struktur Komunitas Fitoplankton Berdasarkan
Kandungan Pigmennya di Pantai Jepara. Semarang: Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro. Jurnal Saintek Perikanan.
Vol 2, pp.69-75.