Anda di halaman 1dari 5

PENYIDIKAN TINDAK PIDANA KEHUTANAN

Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur
dalam undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu
membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya (Pasal 1
angka 2 KUHAP).
Penyidik adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia atau pejabat pegawai negeri sipil
tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan, (Pasal
1 angka 1 KUHAP) ketentuan ini dipertegas lagi oleh Pasal 6 ayat (1) KUHAP yang
menyebutkan bahwa penyidik adalah:
1. Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia.
2. Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang.
PPNS KEHUTANAN
Untuk penyidikan tindak pidana kehutanan menurut ketentuan Pasal 77 ayat (1) UndangUndang Nomor 41 Tahun 1999 menyebutkan bahwa selain pejabat penyidik kepolisian negara
Republik Indonesia, pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang lingkup tugas dan tanggung
jawabnya meliputi pengurusan hutan, diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana
dimaksud dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
Dari ketentuan di atas tersurat bahwa penyidik polri lebih diutamakan untuk melakukan
penyidikan, Menurut saya hal ini jelas inkonsistensi dengan ketentuan Pasal 107 KUHAP
bahwa untuk tindak pidana kehutanan penyidik polri tidak perlu repot-repot melakukan
Penyidikan, cukup memberikan petunjuk dan bantuan kepada PPNS, menerima laporan
dilakukannya penyidikan dari PPNS dan penyerahan berkas perkara dari PPNS untuk
diteruskan ke Penuntut Umum , itulah manfaatnya ada PPNS; agar Penyidik Polri dapat lebih
fokus pada penyidikan Tindak Pidana Umum. dari ketentuan Pasal 77 ayat (1) UU kehutanan
terkesan bahwa Kementerian kehutanan tidak confident dengan PPNSnya.
Menurut saya karena tindak pidana kehutanan merupakan tindak pidana special bukan general
maka akan lebih pas jika dalam UU kehutanan ketentuan yang menunjuk pejabat yang
berwenang melakukan penyidikan tindak pidana kehutanan berbunyi:
"Penyidikan tindak pidana kehutanan dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil
Kehutanan",
kemudian dalam penjelasannya atau ayat berikutnya dijelaskan
"bahwa dalam hal tidak ada PPNS Kehutanan atau PPNS Kehutanan Tidak Mampu atau
merupakan tindak pidana lain bukan merupakan tindak pidana kehutanan penyidikan
diserahkan kepada Penyidik Polri"
PPNS Kehutanan adalah pejabat pegawai negeri sipil tertentu dalam lingkup instansi
kehutanan pusat dan daerah yang oleh undang-undang diberi wewenang khusus penyidikan di
bidang kehutanan dan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. (Peraturan
Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004)

Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil Kehutanan merupakan pegawai Negeris Sipil instansi
kehutanan pusat atau daerah, yang oleh dan atas kuasa undang-undang memiliki wewenang
khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud pada Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990
tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Undang-Undang Nomor
41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan (Pasal 38 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun
2004).
Untuk dapat diangkat menjadi Pejabat Pegawai Negeri Sipil (PPNS) calon harus memenuhi
persyaratan sbb:
1. masa kerja sebagai pegawai negeri sipil paling singkat 2 (dua) tahun;
2. berpangkat paling rendah Penata Muda/golongan III/a;
3. berpendidikan paling rendah sarjana hukum atau sarjana lain yang setara;
4. bertugas dibidang teknis operasional penegakan hukum;
5. sehat jasmani dan rohani yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter pada
rumah sakit pemerintah;
6. setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan
Pekerjaan pegawai negeri sipil paling sedikit bernilai baik dalam 2 (dua) tahun
terakhir;
7. mengikuti dan lulus pendidikan dan pelatihan dibidang penyidikan
Selain memenuhi persyaratan tersebut di atas calon pejabat PPNS harus mendapat pertimbangan
Kapolri dan Jaksa Agung; Calon pejabat PPNS yang telah memenuhi persyaratan diangkat oleh
menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan dibidang hukum dan hak asasi manusia
atas usul dari pimpinan kementerian yang membawahi PNS tersebut; Sebelum menjalankan
jabatannya, calon pejabat PPNS wajib mengucapkan sumpah menurut agamanya dihadapan
menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan dibidang hukum dan hak asasi manusia
atau pejabat yang ditunjuk. (PP No. 58 tahun 2010)
KUHAP tidak memberikan wewenang secara rinci kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil
(PPNS) sebagaimana penyidik polri di atas, Pasal 7 ayat (2) KUHAP menyebutkan bahwa PPNS
mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masingmasing.
Kewenangan PPNS kehutanan dalam melaksanakan penyidikan tindak pidana bidang kehutanan
disebutkan secara limitatif dalam Pasal 77 ayat (2) Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999, yaitu
bahwa PPNS berwenang untuk:
1. Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan yang berkenaan
dengan tindak pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan;

2. Melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana


yang menyangkut hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan;
3. Memeriksa tanda pengenal seseorang yang berada dalam kawasan hutan atau
wilayah hukumnya;
4. Melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti tindak pidana yang
menyangkut hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku;
5. Meminta keterangan dan barang bukti dari orang atau badan hukum sehubungan
dengan tindak pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan;
6. Menangkap dan menahan dalam koordinasi dan pengawasan penyidik Kepolisian
Negara Republik Indonesia sesuai dengan KUHAP;
7. Membuat dan menandatangani berita acara;
8. Menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti tentang adanya
tindak pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan.
Sedangkan Kewenangan PPNS kehutanan dalam melaksanakan penyidikan tindak pidana bidang
KSDAHE disebutkan secara limitatif dalam Pasal 39 ayat (3) Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1990 yaitu:
1. Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan yang berkenaan
dengan tindak pidana dibidang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan
Ekosistemnya;
2. Melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana di
bidang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya;
3. Memeriksa tanda pengenal seseorang yang berada dalam kawasan suaka alam dan
Kawasan Pelestarian Alam;
4. Melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti tindak pidana di bidang
Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya;
5. Meminta keterangan dan barang bukti dari orang atau badan hukum sehubungan
dengan tindak pidana di bidang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan
Ekosistemnya;
6. Membuat dan menandatangani berita acara;

7. Menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti tentang adanya


tindak pidana di bidang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya
Menurut saya kewenangan PPNS sebagaimana disebutkan dalam undang-undang kehutanan
kurang lengkap karena tidak mengadopsi ketentuan-ketentuan yang mendasar bagi penyidik
untuk melakukan penyidikan yaitu tidak diberikannya kewenangan secara tegas oleh undangundang untuk melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian perkara; menyuruh
berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka; memanggil orang
untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi; dan mendatangkan orang ahli yang
diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara.
Mari kita bandingkan dengan kewenangan PPNS bea dan cukai (dep Keuangan):
1. menerima laporan atau keterangan dari seseorang tentang adanya tindak pidana di
bidang Kepabeanan;
2. memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;
3. meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan dengan tindak pidana di bidang
Kepabeanan;
4. melakukan penangkapan dan penahanan terhadap orang yang disangka melakukan
tindak pidana di bidang Kepabeanan;
5. meminta keterangan dan bukti dari orang yang sangka melakukan tindak pidana
di bidang Kepabeanan;
6. memotret dan/atau merekam melalui media audiovisual terhadap orang, barang,
sarana pengangkut, atau apa saja yang dapat dijadikan bukti adanya tindak pidana
di bidang Kepabeanan;
7. memeriksa catatan dan pembukuan yang diwajibkan menurut Undang-undang ini
dan pembukuan lainnyayang terkait;
8. mengambil sidik jari orang;
9. menggeledah rumah tinggal, pakaian, atau badan;
10. menggeledah tempat atau sarana pengangkut dan memeriksa barang yang terdapat
di dalamnya apabila dicurigai adanya tindak pidana di bidang Kepabeanan;
11. menyita benda-benda yang diduga keras merupakan barang yang dapat dijadikan
sebagai bukti sehubungan dengan tindak pidana di bidang Kepabeanan;
12. memberikan tanda pengaman dan mengamankan apa saja yang dapat dijadikan
sebagai bukti sehubungan dengan tindak pidana di bidang Kepabeanan;

13. mendatangkan tenaga ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan


pemeriksaan perkara tindak pidana di bidang Kepabeanan;
14. menyuruh berhenti orang yang disangka melakukan tindak pidana di bidang
Kepabeanan serta memeriksa tanda pengenal diri tersangka;
15. menghentikan penyidikan;
16. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di
bidang Kepabeanan menurut hukum yang bertanggung jawab (Pasal 112 ayat (2)
Undang-undang No. 16 tahun 1995 tentang Kepabeanan)
dari jumlah item kewenangannya saja 2 kali lipat lebih banyak jumlahnya daripada kewenangan
yang dimiliki PPNS Kehutanan
Namun demikian sahabat2 PPNS tidak perlu pesimis untuk melakukan penyidikan terhadap
tindak pidana kehutanan, terbukti bahwa saya saja yang lemah pengetahuan dan pengalaman
penyidikan saja dapat menyelesaikan proses penyidikan tindak pidana kehutanan
PPNS Kehutanan dalam melaksanakan kewenangannya sebagai penyidik tidak menjadi
subordinasi dari penyidik polri tetapi hanya di bawah koordinasi dan pengawasan penyidik polri,
adapun bentuk koordinasi dan pengawasannya telah diatur dalam Pasal 107 KUHAP yaitu:
1. Untuk kepentingan penyidikan penyidik polri memberi petunjuk dan bantuan
penyidikan kepada PPNS (Pasal 107 ayat (1));
2. Dalam hal suatu peristiwa yang patut diduga merupakan tindak pidana sedang
dilakukan penyidikan oleh PPNS kemudian ditemukan bukti yang kuat untuk
diajukan kepada penuntut umum maka PPNS melaporkan hal ini kepada penyidik
polri (Pasal 107 ayat (2)), dalam ketentuan KUHAP tidak disebutkan bahwa
PPNS harus memberitahukan (melaporkan) dimulainya penyidikan kepada
penuntut umum hal ini diatur dalam Pasal 77 ayat (3) Undang-Undang Nomor 41
Tahun 1999;
3. Dalam hal perkara pidana telah selesai disidik oleh PPNS, maka hasil
penyidikannya diserahkan kepada penuntut umum melalui penyidik polri (Pasal
107 ayat (3)), untuk penyerahan berkas perkara ini juga diatur dalam ketentuan
Pasal 77 ayat (3) undang-undang kehutanan yang menyebutkan bahwa PPNS
memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyerahkan hasil penyidikannya
kepada penuntut umum sesuai ketentuan KUHAP.
4. Dalam hal PPNS menghentikan penyidikan maka penghentian penyidikan
tersebut harus diberitahukan kepada penyidik polri dan penuntut umum. (Pasal
109 ayat (3) KUHAP)