Anda di halaman 1dari 32

Laporan Praktikum

Mikrobiologi Pangan

Hari/Tgl
: Kamis, 04 Juni 2015
PJ Praktikum
: Ir. CC. Nurwitri, DAA
Asisten Praktikum: Embun Novita, A.Md
Revita, A.Md

PERTUMBUHAN MIKROBA
(Pengaruh Oksigen, Suhu, pH, Tekanan Osmotik dan Jenis Nutrisi)

Kelompok 8 / B P1
Alfina Syaikani

(J3E114047)

Dania Syamsunita

(J3E214099)

Widiawati

(J3E114020)

SUPERVISOR JAMINAN MUTU PANGAN


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pertumbuhan secara umum dapat didefisinikan sebagai pertambahan secara
teratur semua komponen didalam sel hidup. Dengan demikian pertambahan ukuran
yang diakibatkanoleh bertambahnya air atau karena penumpukan lemak, bukan
merupakan pertumbuhan. Pertumbuhan makhluk hidup dapat juga ditinjau dari 2
sudut, yakni pertumbuhan individu (sel) dan pertumbuhan kelompok sebagai satu
populasi.
Pertumbuhan pada bakteri didefinisikan sebagai pertumbuhan berat sel.
Karena berat sel relatif sama pada setiap siklus sel, maka pertumbuhan dapat di
definisikan sebagai pertambahan jumlah sel. Mempelajari pertumbuhan bakteri
merupakan faktor terpenting dalam mengetahui beberapa aspek fisiologi suatu bakteri
(Purwoko, 2007).
Di alam/lingkungan sekitar kita terdapatberbagai jenis mikroba. Mikroba yang
dijumpai di pangan adalah kapang, bakteri, dan khamir. Pertumbuhan kapang
memerlukan kondisi yang aerobic. Sedangkan pertumbuhan bakteri dipengaruhu oleh
beberapa factor, diantaranya kadar air, adanya oksigen, suhu keasaman, dan beberapa
faktor lainnya. Baktei dapat digolongkan sebagai bakteri asam laktat, bakteri psikrofil
atau termofil, bakteri pembentuk spora, dan sebagainya. Kapang, bakteri, maupun
khamir dapat menyebabkan kerusakan pada berbagai bahan panganatau produk
olahannya. Namun demikian, dalam kondisi terkendali maka cukup banyak mikroba
yang berperan dalam fermentasi pangan.
Karakteristik pertumbuhan mikroba adalah pertumbuhan mikroba merupakan
pertambahan jumlah sel mikroba, pertumbuhan mikroba berlangsung selama nutrisi
masih cukup tersedia. Pertumbuhan mikroba dapat diukur dengan melihat kenaikan
biomassa atau jumlah sel, selama pertumbuhan, mikroba menghasilkan metabolit
primer/sekunder berupa produk.

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk melatih mahasiswa agar mampu
mengenali perbedaan morfologi kapang, bakteri, dan khamir. Serta untuk melatih
mahasiswa agar mampu mengenali sifat-sifat pertumbuhan mikroba pada berbagai
kondisi pertumbuhan mikroba.

BAB II
METODOLOGI
a. Alat dan Bahan
- Alat
Bunsen
Jarum ose
Gelas obyek dan gelas penutup
Aquades steril
Inkubator
Mikroskop
Rak tabung
- Bahan
Kapang
3 tabung agar miring PDB
2 tabung agar miring PDB pH 3,5,7,dan 8
1 tabung agar miring APDA + 10% NaCl
Gliserol 10%
Bakteri
3 tabung Nutrient Broth
2 tabung Lactose broth + tabung durham
2 tabung BGLBB + tabung durham
Larutan H2O2 3%
1 tabung Nutrienth Broth pH 3,5,7,9.
Khamir
2 agar cawan PDA
2 tabung Lactose broth + tabung durham
2 tabung sari buah + 10%+ tabung durham
2 tabung sari buah + tabung durham
2 tabung Sucrose broth (5%,20%,40% sukrosa) + tabung
durham
2 cawan PDB + 0% NaCl
2 cawan PDB + 1% NaCl
2 cawan PDB + 5% NaCl
2 cawan PDB + 10% NaCl
2 cawan PDB + 15% NaCl
1 tabung PDB pH 3,5,7,dan 9.
b. Prosedur Percobaan
1 Percobaan untuk kapang

Pengaruh Suhu Pertumbuhan


Satu jarum ose spora kapang digoreskan pada tiga agar miring PDB

Diinkubasikan pada suhu


Diinkubasikan
50 C selamapada
2 hari
suhu
Diinkubasikan
300 C selama
pada
2 hari
suhu 550 C selama 2 hari

oba diamati dan nyatakan secara relatif (berilah skor -, +, ++, atau +++) adanya pertumbuhan mikroba serta

Pertumbuhan kapang pada suhu 300 C dapat digunakan sebagai kontrol untuk uji lainnya.

Pengaruh pH
Satu jarum ose spora kapang masing-masing digoreskan pada dua agar miring
PDB pH 3, 5, 7, dan 8.

Kedua tabung diinkubasikan pada suhu 30 0C selama 2 hari.

Pertumbuhan mikroba diamati dan nyatakan secara relatif ( berilah skor -, +, ++,
atau +++) adanya pertumbuhan mikroba serta pembentukan spora.

Pengaruh aw ( penambahan garam)

Satu jarum ose spora kapang digoreskan pada satu agar miring APDA + 10%
NaCl dan APDA + 0% NaCl

Kedua tabung diinkubasikan pada suhu 30 0 C selama 2 hari.

Pertumbuhan mikroba diamati dan nyatakan secara relatif ( berilah skor -, +, ++,
atau +++) adanya pertumbuhan mikroba serta pembentukan spora.

Morfologi kapang
Gelas obyek, ditetesi dengan sedikit gliserol 10%

Kapang diambil dengan menggunakan jarum ose, diletakkan di atas


gliserol

Morfologi kapang diamati di bawah mikroskop (perbesaran 100


kali dan 400 kali)

2 Percobaan untuk bakteri


Pengaruh suhu pertumbuhan

Satu jarum ose kultur bakteri diinokulasikan pada ketiga tabung NB

Diinkubasikan pada suhu


Diinkubasikan
50 C selamapada
2 hari
suhu
Diinkubasikan
300 C selama
pada
2 hari
suhu 550 C selama 2 hari

mikroba diamati dan nyatakan secara relatif (berilah skor -, +, ++, atau +++) adanya pertumbuhan mikroba ser

Pemecahan laktosa dan pembentukan gas

m ose kultur bakteri diinokulasikan pada dua tabung Lactose broth (+ tabung durham), dan satu tabung BGLBB (

Diinkubasikan pada suhu 50 C selama 2 hari Diinkubasikan pada suhu 300 C selama 2 hari

ruhan dan pembentukan gas di dalam tabung durham. Nyatakan secara relatif ( berilah skor -, +, ++, atau +++

Uji katalase

Gelas obyek ditetesi dengan akuades steril

Sedikit kultur bakteri diambil ( digunakan jarum ose) lalu disebarkan


di atas air steril pada gelas obyek tersebut sehingga bakterinya
tersuspensi

Suspensi bakteri ditetesi dengan larutan H2O2 3%

Gelembung udara diamati (terbentuknya oksigen) yang menandakan


adanya uji katalase positif
Pengaruh pH
Satu jarum ose bakteri masing-masing digoreskan pada dua agar miring PDB
pH 3, 5, 7, dan 8.

Kedua tabung diinkubasikan pada suhu 30 0C selama 2 hari.

Pertumbuhan mikroba diamati dan nyatakan secara relatif ( berilah skor -, +, ++,
atau +++) adanya pertumbuhan mikroba serta pembentukan spora.

3 Percobaan untuk khamir


Pembentukan pseudomiselium
Satu jarum ose suspensi khamir digoreskan pada agar cawan PDA dengan metode
goresan langsung

Diambil gelas penutup dan disterilkan dahulu dengan menyemprotkan etanol kemudian
dilewatkan api

Gelas penutup diletakkan di atas bekas goresan khamir pada agar cawan PDA

Cawan petri ditutup dan diinkubasikan pada suhu 30oC selama 7 hari

Pembentukan pseudomiselium diamati di sekeliling gelas penutup dengan menggunakan


mikroskop pada perbesaran total 100x atau perbesaran 400x

Pengaruh pH khamir
Satu jarum ose spora kapang masing-masing digoreskan pada dua agar miring
PDB pH 3, 5, 7, dan 8.

Kedua tabung iinkubasikan pada suhu 300C selama 7 hari.

Pertumbuhan mikroba diamati dan nyatakan secara relatif ( berilah skor -, +, ++,
atau +++) adanya pertumbuhan mikroba serta pembentukan spora.

Fermentasi khamir
Satu jarum ose kultur/suspensi khamir diinokulasikan masing-masing ke dalam:

1 tabung yang berisi sari buah ditambah gula 10% + durha


1 tabung yang
1 tabung
berisi LB+durham
yang berisi sari buah tanpa gula + durham

Tabung diinkubasikan pada suhu 300 C selama 7 hari.

rtumbuhan khamir diamati ditandai dengan adanya kekeruhan, endapan, pembentukan gas, dan perubahan ba

Dinyatakan secara relatif ( berilah skor -, +, ++, atau +++) adanya pertumbuhan mikroba.

Dibandingkan dengan kontrol medium yang tidak diinokulasi dengan khamir

Ketahanan terhadap gula dan garam


Satu jarum ose kultur/suspensi khamir diinokulasikan masing-masing ke dalam:

1 tabung PDB + 0% NaCl

1 tabung Sucrose broth (5% sukrosa) + tabung1Durham


tabung PDB + 1% NaCl

1 tabung Sucrose broth (20% sukrosa) + tabung Durham


1 tabung PDB + 5% NaCl
1 tabung Sucrose broth (40% sukrosa) + tabung Durham
1 tabung PDB + 10% NaCl
1 tabung PDB + 15% NaCl

Tabung diinkubasikan pada suhu 300 C selama 7 hari.

tumbuhan khamir diamati ditandai dengan adanya kekeruhan, endapan, pembentukan gas, dan perubahan bau

Dinyatakan secara relatif ( berilah skor -, +, ++, atau +++) adanya pertumbuhan mikroba.

BAB 3
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Percobaan Kapang
Kelompok
Pengaruh Suhu
0
5
300
550
kapang
C
C
laru tempe C
1
++
-

Pengaruh pH
5 7 8

+
+
+

+
+
+
+

+
+
+
+

Pengaruh Aw
APDA +
APDA + NaCl
NaCl 0%
10%
+
0
++

++

Table 1. Pengaruh Suhu, pH, dan Aw pada Pertumbuhan Kapang

2. Percobaan Bakteri
Kelompok
Pengaruh Suhu
SA
50C
+
+
-

4
5
6

300C
++
+
++

550C
-

Pengaruh pH

3
-

5
+
+
+

7
++
++
++

Uji
Katalase

Pemecahan
Laktosa T
=300C

+
+
+

8
++
++
++

Table 2. Pengaruh Suhu, pH, Aw, Uji Katalase dan Pemecahan Laktosa pada Pertumbuhan Bakteri

3. Percobaan Khamir
Kelompok

Sari buah tanpa gula


Gas
Endapan
+
++
+
-

7
8

Fermentasi Khamir
Sari buah gula 10%
Gas
Endapan
+
++
+
++

Gas

LB
Endapan

Table 1. Pengaruuh Fermentasi Khamir pada Pertumbuhan Khamir

Kelompo
k
7
8

SB
5%

SB
20%

SB
40%

Ketahanan Gula dan Garam


PDB + PDB + PDB +
0%
1%
5%
NaCl
NaCl
NaCl
++
++
+
++
+

PDB +
10%
NaCl
-

Table 2. Pengaruh Ketahanan Gula dan Garam pada Pertumbuhan Khamir

Kelompok

Pengaruh pH

PDB
+15%
NaCl
-

7
8

++
++

++
++

++
++

++
++

Table 3. Pengaruh pH pada Pertumbuhan Khamir

Keterangan : (0)
(-)

= tidak ada media


= Tidak Ada

(+)
= Sedikit
(+) (+) = Banyak

B. Pembahasan
3.1 Percobaan untuk Kapang
Pada pengamatan kapang, dilakukan pengamatan pengaruh media terhadap
suhu pertumbuhan, pengaruh Ph, pengaruh Aw, dan morfologinya. Kapang tempe
dapat digolongkan ke dalam mikroba yang bersifat mesofilik, yaitu dapat tumbuh
baik pada suhu ruang (25-30C).
3.1.1 Pengaruh Suhu Pertumbuhan
Pada pengamatan pengaruh suhu, media yang digunakan adalah PDB yang
akan disimpan pada suhu 5oC, 30oC, dan 55oC. Pada media PDB yang disimpan pada
suhu 5oC dan 55oC pertumbuhan kapang tidak terlihat (-), sedangkan pada PDB yang
disimpan pada suhu 30oC pertumbuhan kapang terlihat banyak (++). Hal tersebut
dilihat dari PDB yang lebih keruh dari PDB yang disimpan pada suhu 5 oC maupun
suhu 55oC. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada suhu 30oC kapang dapat tumbuh
optimum .
3.1.2 Pengaruh Aw (Penambahan Garam)
Pada pengamatan pengaruh Aw , setelah suspensi kapang digores pada agar
cawan APDA (Acidified Potato Dextrose Agar) tanpa NaCl dan APDA (Acidified
Potato Dextrose Agar) yang ditambahkan NACl 10%, media agar disimpan pada suhu
30C yang disimpan selama 2 hari. Pada pengamatan di suhu 30C, semua cawan
menunjukan adanya pertumbuhan mikroba. Namun pada cawan yang berisi media
APDA (Acidified Potato Dextrose Agar) saja jumlah kapang yang tumbuh lebih
banyak dibandingkan dengan cawan yang berisi APDA (Acidified Potato Dextrose
Agar) yang ditambahkan NACl 10%.

Tanda-tanda pertumbuhan mikroba dapat

dilihat dari adanya bercak-bercak putih pada media agar. Dari hasil tersebut dapat
disimpulkan, kapang akan optimal pertumbuhannya pada media APDA (Acidified
Potato Dextrose Agar) tanpa ditambahkan NaCl 10%.

3.1.1 Pengaruh pH
Kapang mempunyai kisaran pH pertumbuhan yang luas, yaitu 1.5-11. Pada
pengamatan pengaruh pH terhadap pertumbuhan kapang, media yang digunakan
adalah PDB dengan pH 3, pH 5, Ph 7, dan pH 8. pH 3 ini mewakili kondisi
lingkungan asam kuat, pH 5 mewakili kondisi asam lemah, pH 7 mewakili kondisi
netral sedangkan pH 8 mewakili kondisi lingkungan yang basa. Setelah suspensi
kapang digores pada media cair PDB, media cair ini disimpan pada suhu 30C setelah
2 hari kemudian dilakukan pengamatan selama 1 minggu. Pada media PDB pH 3, dari
ketiga kelompok tidak ada pertumbuhan mikroba yang terlihat karena media PDB
yang digunakan terlihat sedikit keruh, pada pH 5 hasil dari pengamatan ketiga
kelompok pertumbuhan kapang ada namun tidak banyak karena PDB yang digunakan
tidak terlalu keruh, dan pada pH 7 dan pH 8 pertumbuhan kapang cukup banyak yang
dapat dilihat dari kekeruhan PDB, pertumbuhan kapang di pH ini cenderung lebih
cepat karena PDB yang digunakan lebih keruh dari pH yang lain. Dari hal ini dapat
disimpulkan bahwa kapang lebih cepat tumbuh pada pH 7 atau 8. Berdasarkan pHnya mikroba dapat dikelompokan menjadi 3 yaitu mikroba asidofil adalah kelompok
mikroba yang dapat hidup tumbuh baik pada pH 6,0 8,0 pada pH 2,0

5,0,

mikroba mesofil (neutrofil) adalah kelompok mikroba yang dapat hidup pada pH 5,5

8,0, dan mikroba alkafil adalah kelompok mikroba yang dapat hidup pada pH

8,4

9,5 (Brooks dkk, 1994).

3.1.1 Morfologi Kapang


Pada pengamatan morfologi kapang, media yang telah digores dan disimpan
selama 7 hari, kemudian kapang diamati . Setelah beberapa hari diinkubasi dalam

suhu kamar, slide dapat diamati dengan menggunakan mikroskop pada perbesaran
rendah sampai tinggi, lalu diidentifikasi. Hasil pengamatan yang didapat
menggunakan mikroskop dengan perbesaran 1000 x yaitu terlihat hifa yang
membentuk miselium semu. Pada bakteri ini terdapat bagian-bagian yaitu sporangium
yang berbentuk bulat yang berisi spora. Sporangium akan pecah bila spora telah
matang. Sporangiofor adalah hifa yang tumbuh tegak lurus substrat yang berfungsi
sebagai batang.

3.2 Percobaan untuk Bakteri


3.2.1 Pengaruh Suhu Pertumbuhan
Suhu adalah faktor terpenting yang mempengaruhi pertumbuhan, multiplikasi
dan kelangsungan dari semua organisme hidup. Suhu yang rendah umumnya
memperlambat metabolisme seluler, sedangkan suhu yang lebih tinggi meningkatkan
taraf kegiatan sel. (Koes irianto, 2006).
Pertumbuhan mikroba memerlukan kisaran suhu tertentu. Kisaran suhu
pertumbuhan dibagi menjadi suhu minimum, suhu optimum, dan suhu maksimum.
Suhu minimum adalah suhu terendah tetapi mikroba masih dapat hidup. Suhu
optimum adalah suhu paling baik untuk pertumbuhan mikroba. Suhu maksimum
adalah suhu tertinggi untuk kehidupan mikroba. Berdasarkan kisaran suhu
pertumbuhannya, mikroba dapat dikelompokkan menjadi mikroba psikrofil (kriofil),
mesofil, dan termofil. Psikrofil adalah kelompok mikroba yang dapat tumbuh pada
suhu 0-30o C dengan suhu optimum sekitar 15oC.
Pada pengujian ini digunakan 3 media cair, yaitu media NB dengan
penambahan bakteri Staphylococcus aureus. Diinokulasikan satu jarum ose kultur
bakteri pada ketiga tabung NB yang di dalamnya telah terdapat tabung durham.
Kemudian diinkubasikan pada suhu 30

dan 55

yaitu di dalam incubator

selama 2 hari, dan pada suhu 5 di dalam refri selama 7 hari.

Pada suhu 5 , terlihat warna media agak keruh dan terdapat sedikit
gelembung-gelembung udara pada tabung durham. Hal ini menandakan bahwa pada
suhu 5 bakteri masih dapat tumbuh.
Pada suhu 30

terlihat warna media sangat keruh, terdapat endapan putih,

dan terdapat banyak gelembung udara pada tabung durham yang menunjukkan
adanya pertumbuhan bakteri. Kekeruhan di sini menunjukkan adanya pertumbuhan
bakteri (Gupte, 1990). Hal ini sesuai teori yang menyatakan bahwa S. aureus tumbuh
dengan baik pada temperatur optimum 30-37oC dan pH 6-7 (Gupte, 1990; Bremer
et.al, 2004).
Pada suhu 55C warna media keruh, tidak ada endapan, dan tidak terlihat
gelembung-gelembung udara pada tabung durham yang menandakan bahwa pada
suhu 55

bakteri Staphylococcus aureus tidak dapat tumbuh. Bakteri

Staphylococcus aureus tumbuh dengan baik pada suhu 30

dan tidak tumbuh

pada suhu 55 , termasuk ke dalam golongan bekteri mesofit.


Menurut Brooks (2001) berkaitan dengan efeknya pada pertumbuhan bakteri,
temperatur yang ekstrim (temperatur tinggi) akan membunuh bakteri. Teori tersebut
menjelaskan mengapa pada suhu 55C atau hingga 100oC tidak terdapat kekeruhan
yang berarti tidak terdapat pertumbuhan S. aureus. Hal inilah yang mendasari
dipakainya suhu tinggi untuk proses sterilisasi.
3.2.2 Pemecahan Laktosa dan Pembentukan Gas
Pada data hasil pengamatan table 2 dapat dilihat bahwa bakteri
Staphylococcus aureus pada media LB dan BGLBB tidak menghasilkan oksigen dan
warna media tidak mengalami perubahan. Hal tersebut menunjukkan bahwa
Staphylococcus aureus yang diinokulasikan pada kedua tabung tidak mampu
memfermentasi dan mengoksidasi karbohidrat. Staphylococcus aureus yang mampu

memfermentasi dan mengoksidasi karbohidrat dapat menghasilkan asam dengan


ditandai perubahan warna menjadi kuning dan adanya gelembung gas yang
terperangkap dalam tabung durham pada media yang kaya akan laktosa tersebut baik
pada LB maupun BGLBB.
3.2.3 Uji Katalase
Pada pengaruh uji katalase, pembentukan gelembung udara pada uji katalase
dapat terlihat dengan jelas maupun sulit terlihat dengan jelas, karena tidak semua
bakteri dapat menghasilkan banyak gelembung udara. Percobaan dengan uji katalase
dapat diulangi jika ragu-ragu dengan hasil yang diperoleh apabila bakteri tersebut
menghasilkan gelembung udara sangat sedikit sehingga sulit untuk diamati.
Terbentuknya gelembung udara ketika bakteri diinokulasikan perlu diamati dengan
seksama sehingga dapat terlihat perbedaan antara gelembung udara yang dihasilkan
oleh bakteri atau gelembung udara yang dihasilkan akibat adanya pergerakan kawat
ose. Gelembung udara terbentuk apabila bakteri tersebut memiliki enzim katalase
yang dapat mengubah H2O2 menjadi air dan oksigen dengan reaksi yang terjadi pada
uji katalase dapat dilihat pada gambar 1.
2 H 2O 2

katalase

2 H 2O

O2

Gambar 1 Reaksi uji katalase dengan bakteri yang mengandung enzim katalase
(Hadioetomo, 1993)
Hasil percobaan menunjukkan bahwa bakteri Y (Staphylococcus aureus) tidak
memiliki enzim katalase.
3.2.4 Pengujian Pengaruh pH
Kebanyakan mikroorganisme dapat tumbuh pada kisaran pH sebesar 3
4. Kebanyakan bakteri mempunyai pH optimum sekitar pH 6,5
pH 4

7,5. Dibawah

5 dan diatas 8,5 tidak dapat tumbuh dengan baik. Nilai pH untuk

pertumbuhan mikroba mempunyai hubungan dengan suhu pertumbuhan. Jika suhu


naik, pH optimum untuk pertumbuhan juga naik (Abubakar,1994).
Pada pengamatan pengaruh pH terhadap pertumbuhan bakteri, media yang
digunakan adalah PDB dengan pH 3, pH 5, pH 7, dan pH 9. pH 3 ini mewakili
kondisi lingkungan asam kuat, pH 5 mewakili kondisi asam lemah, pH 7 mewakili
kondisi netral sedangkan pH 9 mewakili kondisi lingkungan yang basa. Setelah
suspensi kapang digores pada media cair PDB, media cair ini disimpan pada suhu
30C setelah 2 hari kemudian dilakukan pengamatan selama 1 minggu. Kemudian
diinokulasikan bakteri Staphylococcus aureus ke dalam masing-masing tabung PDB
sesuai dengan pH. Kemudian diinkubasikan 48 jam atau 2 hari.
Dari hasil pengamatan, Staphylococcus aureus tidak tumbuh pada pH 3,
ditandai dengan tidak adanya gelembung udara pada tabung durham. Pada pH 5
terdapat sedikit gelembung udara pada tabung durham. Pada pH 7 dan pH 9 bakteri
Staphylococcus aureus dapat tumbuh dengan baik. Ditandai dengan gelembung udara
lebih banyak dari pada pH 5. Berdasarkan pH-nya mikroba dapat dikelompokkan
menjadi 3 yaitu mikroba asidofil adalah kelompok mikroba yang dapat hidup tumbuh
baik pada pH 6,0 8,0 pada pH 2,0

5,0, mikroba mesofil (neutrofil) adalah

kelompok mikroba yang dapat hidup pada pH 5,5

adalah kelompok mikroba yang dapat hidup pada pH 8,4

8,0, dan mikroba alkafil

9,5 (Brooks dkk,

1994).
Nilai pH atau keasaman makanan dipengaruhi oleh asam yang terdapat pada
makanan tersebut. Ada di dalam makanan mungkin secara alamiah, seperti buahbuahan asam, atau terbentuk selama fermentasi, misalnya yoghurt, pikel, sayur asin,
dan sebagainya. Nilai pH minimum untuk pertumbuhan mikroorganisme kadangkadang dipengaruhi oleh jenis asam yang terdapat dalam makanan tersebut. Sebagai
contoh, beberapa Laktobasilum dapat tumbuh pada pH yang lebih rendah jika asam
yang terdapat pada makanan tersebut berupa asam asetat atau asam laktat.

3.3 Percobaan Untuk Khamir


Pertumbuhan merupakan proses perubahan bentuk yang semula kecil
kemudian menjadi besar. Pertumbuhan menyangkut pertambahan volume dari
individu itu sendiri. Pertumbuhan pada umumnya tergantung pada kondisi bahan
makanan dan juga lingkungan. Apabila kondisi makanan dan lingkungan cocok untuk
mikroorganisme tersebut, maka mikroorganisme akan tumbuh dengan waktu yang
relatif singkat dan sempurna (Budiyanto 2012).
Selain media pertumbuhan, aktivitas mikroba dipengaruhi oleh faktor-faktor
lingkungannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri adalah zat
makanan, pH, air, oksigen, dan senyawa penghambat pertumbuhan (Fardiaz 1992).
Khamir mudah dibedakan dari bakteri karena ukurannya yang lebih besar dan
morfologinya yang berbeda. Sel khamir mempunya ukuran yang bervariasi, yaitu
dengan panjang 1-5 milimikron sampai dengan 20-50 milimikron, dan lebar 1-10
milimikron. Sedangkan bakteri berukuran 0,5-1,0 x 2.0-5,0 milimikron. (Fardiaz
1992).
Khamir adalah fungi uniselular yang menepati habitat air dan lembab,
termasuk getah pohon dari jaringan hewan. Khamir bereproduksi secara aseksual,
dengan cara pembelahan sel sederhana atau dengan cara pelepasan sel tunas dari sel
induk. Beberapa fungi dapat tumbuh sebagai sel tunggal atau sebagai miselium
filament, tergantung pada ketersediaan zat-zat hara yang ada (Cambell, 2003).
Dalam kultur yang sama, ukuran dan bentuk sel khamir mungkin berbeda
karena pengaruh umur sel dan lingkungan selama pertumbuhan. Sel yang muda
mungkin berbeda bentuk dari yang tua karena adanya proses ontogeny, yaitu
perkembangan individu sel (Fardiaz, 1992).
Kemampuan mikroorganisme untuk tumbuh dan tetap hidup merupakan hal
yang penting dalam ekosistem pangan. Suatu pengetahuan dan pengertian tentang
faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan tersebut sangat penting untuk
mengendalikan hubungan antara mikroorganisme-makanan-manusia. Beberapa faktor

utama yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme meliputi suplai zat gizi,


waktu, suhu, air, pH dan tersedianya oksigen (Brooks, 1994 )
3.3.1 Pembentukan Pseudomiselium
Pembentukan pseudomiselium khamir diamati dengan cara suspensi khamir
diambil dengan mengunakan jarum ose dan digoreskan pada media APDA yang
kemudian ditutup dengan cover glass. Lalu diinkubasi pada suhu 30C selama 7
hari. Setelah diinkubasi, langsung diamati diamati di bawah mikroskop untuk
melihat adanya struktur pseudomiselium sempurna dan pseudomiselium tidak
sempurna. Jika khamir bereproduksi aseksual secara pertunasan, pada suatu saat
terdapat kecenderungan tunas-tunas tersebut akan menempel dengan tunas yang lain
pada sel induk dan akhirnya akan membentuk suatu rantai sel yang panjang yang
disebut dengan pseudomiselium (Burdon & Robert, 1964).
Pada hasil pengamatan yang didapat pembentukan tunas pada khamir hanya
terlihat sedikit karena jaraknya yang terlalu berdekatan satu sama lain sehingga sulit
untuk membedakan mana yang bertunas dan yang tidak bertunas. Berikut ini adalah
hasil pengamatan pseudomiselium khamir dengan menggunakan mikroskop
perbesaran 400 x.

tunas yang menempel

3.3.2

Fermentasi Khamir

Media adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat hara (nutrient) yang
berguna untuk membiakkan mikroba. Dengan menggunakan bermacam-macam
media dapat dilakukan isolasi, perbanyakan, pengujian sifat-sifat fisiologis dan
perhitungan juimlah mikroba. (schlegel,1994). Sedangkan menurut

Sumarsih, S.

(2003). Media berfungsi untuk menumbuhkan mikroba, isolasi, memperbanyak


jumlah, menguji sifat sifat fisiologis dan perhitungan jumlah mikroba, dimana
dalam proses pembuatannya harus disterilisasi dan menerapka metode aseptis untuk
menghindari kontaminasi pada media.
Lactose Broth digunakan sebagai media untuk mendeteksi kehadiran koliform
dalam air, makanan, dan produk susu, sebagai kaldu pemerkaya (pre-enrichment
broth) untuk Salmonellae dan dalam mempelajari fermentasi laktosa oleh bakteri
pada umumnya. Pepton dan ekstrak beef menyediakan nutrien esensial untuk
memetabolisme bakteri. Laktosa menyediakan sumber karbohidrat yang dapat
difermentasi untuk organisme koliform. Pertumbuhan dengan pembentukan gas
adalah presumptive test untuk koliform.Lactose broth dibuat dengan komposisi 0,3%
ekstrak beef; 0,5% pepton; dan 0,5% laktosa (Anonim 2008).
Pada fermentasi khamir dengan media LB, khamir tidak dapat tumbuh
ditandai dengan tidak adanya gas atau endapan pada khamir yang diinokulasikan pada
media LB yang telah disimpan selama 7 hari.
Pada fermentasi khamir yang diinoukaliskan pada sari buah tanpa gula
terdapat gas dan endapan yang menandakan tumbuhnya khamir atau kontaminan
khamir. Begitupula pada fermentasi khamir yang diinokulasikan pada sari buah
dengan gula 10% terdapat gas dan banyak endapan. Hal tersebut dikarenakan khamir
mampu tumbuh dalam kondisi media yang pekat, terlebih media tersebut merupakan
media yang mengandung gula.
3.3.3

Ketahanan Terhadap Gula dan Garam

Dalam praktikum yang dilakukan pada media SB dengan berbagai konsentrasi


yaitu konsentrasi 5%, 20%, dan 40% menunjukkan bahwa meskipun semakin tinggi
konsentrasi larutan tetapi tidak ada perbedaan pada ketiga larutan dengan kosentrsi
berbeda tersebut. Tidak terlihat endapan maupun kekeruhan yang berbeda dari ketiga
konsentrasi yang berbeda tersebut.. Endapan menandakan adanya kontamian atau
pertumbuhan khamir. Perlakuan dilakukan selam tujuh hari dalam suhu ruang. Hasil
praktikum tersebut mengalami penyimpangan karena seharusnya semakin tinggi

konsentrasi media SB maka semakin banyak khamir yang akan tumbuh. Hal tersebut
dikarenakan khamir mampu tumbuh dalam kondisi media yang pekat, terlebih media
tersebut merupakan media yang mengandung gula. Penyimpangan tersebut
dimungkinkan karena adanya kesalahan dalam pengamatan maupun kesalahan dalam
melakukan praktikum karena pengamatan pertumbuhan mikroba dibutuhkan
ketelatenan yang baik dan kehati-hatian dalam melakukan prosedur praktikum selain
itu dimungkinkan waktu tujuh hari kurang cukup untuk tumbuhnaya kontaminan atau
pertumbuhan khamir pada media SB dengan berbagai konsentrasi tersebut.
Khamir dapat tumbuh dalam suatu substrat atau medium berisikan konsentrasi
gula yang dapat menghambat pertumbuhan kebanyakan bakteri; inilah sebabnya
mengapa selai, manisan dapat rusak oleh kapang tetapi tidak oleh bakteri. Demikian
pula khamir umumnya dapat bertahan terhadap keadaan yang lebih asam daripada
kebanyakan kebanyakan mikroba yang lain. Karena. Khamir bersifat fakultatif artinya
khamir dapat dengan hidup baik dalam keadaan aerobik maupun anaerobik. (Jutono,
1980).
Untuk melihat pertumbuhan khamir terhadap ketahanan garam maka dilakukan
pertumbuhan khamir pada media PDB dengan ditambahkan garam NaCl dengan
berbagai konsentrasi. Pada media PDB dengan konsentrasi NaCl 0% dan 1 % terlihat
banyak khamir yang tumbuh. Tetapi setelah konsentrasi NaCl ditingkatkan yaitu pada
konsentrasi 5% khamir tidak dapat tumbuh. Begitupula dengan konsentrasi NaCl
10% dan 15% tidak terlihat pertumbuhan khamir, hal tersebut karena NaCl
merupakan garam.
Garam memberi sejumlah pengaruh bila ditambahkan pada media untuk
perkembangbiakan mikroorganisme. Garam akan berperan sebagai penghambat
selektif pada mikroorganisme. Pertumbuhan mikroorganisme akan terpengaruh walau
dengan kadar garam yang rendah sekalipun (sampai 6%). Hal ini disebabkan garam
akan meningkatkan tekanan osmotik substrat yang menyebabkan terjadinya penarikan
air dari dalam bahan pangan sehingga mikroorganisme tidak dapat tumbuh, ionisasi
garam juga akan menghasilkan ion khlor yang bersifat racun bagi mikroorganisme.
(Anonim 2009)

3.3.4 Pengaruh pH Khamir


Pada pengamatan pengaruh pH terhadap pertumbuhan khamir,

media yang

digunakan adalah PDB dengan pH 3, pH 5, Ph 7, dan pH 8. pH 3 ini mewakili


kondisi lingkungan asam kuat, pH 5 mewakili kondisi asam lemah, pH 7 mewakili
kondisi netral sedangkan pH 8 mewakili kondisi lingkungan yang basa. Setelah
suspensi khamir digores pada media cair PDB, media cair ini disimpan pada suhu
30C dan disimpan selama satu minggu kemudian dilakukan pengamatan setelah 1
minggu. Hasil pengamatan yang didapat setelah satu minggu yaitu pada berbagai pH
Khamir dapat tumbuh dengan baik, pada pH 3,5,7,8.
Kebanyakan mikroba dapat tumbuh pada kisaran sebesar pH 3 4 unit pH atau
kisaran 1000 10000 kali konsentrasi ion hydrogen. Kebanyakan khamir mempunyai
pH optimum sekisar pH 4-5 dan tumbuh pada kisaran pH 2.5 8 dan kapang
mempunyai pH optimum antara 5 dan 7 dan dapat tumbuh pada kisaran pH 3 8.5.
Dalam fermentasi, control pH penting sekali dilakukan karena pH yang optimum
harus tetap dipertahankan (Ninis dan Mohammad, 2009).

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Pertumubuhan mikroba dapat dipengaruhi oleh Suhu, pH, Aw,
nutrient / media yang digunakan. Apabila suhu naik maka kecepatan
metabolisme naik dan pertumbuhan dipercepat. Sebaliknya apabila suhu
turun, maka kecepatan metabolisme akan menurun dan pertumbuhan
diperlambat. Apabila suhu naik atau turun secara drastis, tingkat pertumbuhan
akan terhenti, kompenen sel menjadi tidak aktif dan rusak, sehingga sel-sel
menjadi mati. Untuk parameter pH, kapang dan khamir jauh lebih suka hidup
atau tumbuh pada pH yang relative rendah, sedangkan bakteri hidup pada
kisaran pH netral dan relative basa. Sedangkan untuk Aw, khamir dan kapang
jauh lebih suka Aw rendah dibandingkan dengan bakteri ynag lebih suka
tumbuh pada madia yang memiliki Aw tinggi. Khamir juga dapat tumbuh pada
media yang memiliki konsentrasi tinggi.
B. Saran
Saran dari praktikum kali ini yaitu praktikan harus teliti dan berhatihati dalam menginokulasikan mikroba agar tidak terkontaminasi selain itu
konidsi saat inokulasi harus steril.

DAFTAR PUSTAKA
AR, Abubakar. 1994. Mikrobiologi Teknik. Unsyiah: Banda Aceh
Anonim.

2008.
Pembuatan
Media
Agar
dan
Streilisasi.
http://makalahdanskripsi.blogspot.com/2008/08/pembuatan-media-agardan-sterilisasi.html. Diakses pada tanggal 8 Juni 2015.

Anonim . 2009. Pembuatan Media Mikroorganisme. http://wikipedia.org/wiki/mediamikroorganisme. Diakses pada tanggal 8 Juni 2015.
Belindch.2009. Pengaruh Factor Suhu dan pH terhadap Pertumbuhan dan
Pertahanan
Hidup
Staphylococcus
aureus
https://belindch.wordpress.com/2009/12/07/pengaruh-faktor-suhu-dan-phterhadap-pertumbuhan-dan-pertahanan-hidup-staphylococcus-aureus/
[Diakses tanggal 08 Juni 2015]
Bremer PJ, et.al. 2004. Staphylococcus aureus. New Zealand: New Zealand Institute
for Crop & Food Research Limited.
Brooks, dkk., 1994. Mikrobiologi Kedokteran Edisi 2 .EGC, Jakarta
Burdon, Kenneth & Robert P. Willams. 1964. Microbiology. New York: The
Macmillan Company.
Campbell., Reece dan Mitcheel. 2003. Biologi. Erlangga, Jakarta.
Fardiaz, Srikandi. 1989. Mikrobiologi Pangan. IPB, Bogor.
Fitrahayatir.
2014.
Makalah
Pertumbuhan
Mikroba.
http://fitrahayatir.blogspot.com/2014/11/makalah-pertumbuhanmikroba.html [Diakses tanggal 06 Juni 2015]
Hadioetomo RS. 1993. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek: Teknik dan Prosedur
Dasar Laboratorium. Jakarta: PT Gramedia Pustaka.
Irianto, koes 2006 Mikrobiologi : EGC
Jutono, S. 1980. Pedoman Praktikum Mikrobiologi Umum. Fakultas Pertanian UGM
Press. Yogyakarta.
Purwoko, Tjahjadi. 2007. Fisiolagi Mikroba. PT. Umi Aksara : Jakarta

Puspitasari, Ninis dan Sidik, Mohammad. 2009. Pengaruh jenis Vitamin B dan
Sumber Nitrogen Dalam Peningkatan Kandungan Protein Kulit Ubi kayu
Melalui Proses Fermentasi. Seminar Tugas Akhir S1 Teknik Kimia.
UNDIP. Semarang.
Schlegel G. Hans. 1994. Mikrobiologi Umum Edisi 6. Yogyakarta: Gadjah Mada,
University Press.
Sumarsih, S. 2003. Mikrobiologi Dasar. Yogyakarta: UPN Veteran.

KAPANG
Pengaruh suhu

Pengaruh pH

KHAMIR
Pertumbuhan Pseudomiselium

Fermentasi Khamir

Pengaruh pH

Ketahanan Gula dan Garam

BAKTERI
Pengaruh suhu

Pengaruh Ph

Pemecahan Laktosa dan Pembentukan Gas

Uji Katalase