Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH

KOMBINASI BISNIS DAN KONSOLIDASI

Disusun Oleh :
-RINI OKTARIA
-FAJAR KHALIF MUHAMMAD

Dosen Pengajar :
ARISTA HAKIKI, SE., M. Acc., Ak, CA

PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI (PPAk)


UNIVERSITAS SRIWIJAYA
TAHUN AJARAN 2015 / 2016

BAB. I
PENDAHULUAN
Pada perkembangan saat ini perkembangan penggabungan usaha (business
combination) dunia usaha semakin lama semakin berkembang dan persaingan dalam jenis
produk, mutu produk, maupun pemasarannya semakin ramai dan ketat sehingga
seringkali timbul persaingan yang tidak sehat dan saling mengalahkan.Untuk mengatasi
adanya saling merugikan antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lainnya,
perlu kiranya diadakaan suatu bentuk kerjasama melalui penggabungan usaha antara dua
atau lebih perusahaan dengan perusahaan yang lain lebih baik yang sejenis maupun yang
tidak sejenis.
Berdasarkan pernyataan standar akuntasi keuangan penggabungan usaha adalah
penyertaan dua atau lebih perusahaan yang terpisah menjadi satu entitas ekonomi karena
satu perusahaan menyatu dengan (uniting with) perusahaan lain atau memperoleh kendali
(control) atas aktiva dan operasi perusahaan lain. Maka dapat disimpulkan penggabungan
usaha merupakan usaha pengembangan atau perluasan perusahaan dengan cara
menyatukan perusahaan yang satu atau lebih perusahaan lain menjadi satu kesatuan
ekonomi.
Kebijakan bisnis kombinasi menjadi fenomena yang teramati sejak akhir 1980-an
dimana dibagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu ;
1. Era Klasik periode 1890 1904, berdasarkan posisi Sherman Act. Kombinasi
tersebut pada umumnya dilakukan melalui perusahaan holding dengan tujuan integrasi
vertical atas keseluruhan operasi dari perolehan material sampai ke penjualan produk.
2.

Periode akhir PD -1 sampai dengan 1920-an.Kombinasi pada umumnya akuisisi


sedikit demi sedikit untuk tujuan ekspansi operasi melalui perusahaan yang diakuisisi.

3. Periode dari akhir PD 2 sampai setelah 1960-an. Kombinasi ini juga dilakukan
melalui akuisisi sedikit demi sedikit dengan tujuan memperkuat posisi kompetitif,
diversifikasi ke area baru, atau untuk menjaga keterbaruan terkait perubahan teknologi.

Semakin berkembangnya dunia dan teknologi sehingga mengakibatkan


pertimbangan organisasi bisnis untuk melakukan kombinasi bisnis dikarenakan faktor
konsekensi pajak, pertumbuhan dan diversifikasi, pertimbangan fiskal, tekanan kompetisi,
dan profit serta pensiun. Disamping itu, penggabungan bisnis ini erat kaitannya dengan
laporan konsolidasi yang menimbulkan banyak ketertarikan para investor, banker, pekerja
dan manager sehingga laporan dimana harus disajikan secara relevansi berterima umum
tidak hanya pemakai luar tetapi bisa digunakan managemen untuk kontrol dan koordinasi.
Dalam praktek penerapan pelaporan keuangan konsolidasi banyak perusahaan besar
dinegara ini menggunakan pelaporan tersebut dikarenakan supaya bisa dimengerti oleh
berbagai pihak dan diakui secara global. Dalam hal ini study kasusnya tentang PT.
Jamsostek (persero) untuk kaitannya dengan kombinasi bisnis yaitu berbagai macam
perusahaan yang telah bergabung membeli dan menanamkan sahamnya pada perusahaaan
ini sehingga diwajibkan pelaporan keuangan konsolidasi sehingga mampu memberikan
relevansi atas semua pihak yang terkait maupun yang tidak berkepentingan.
Jaminan sosial tenaga kerja (jamsostek) ini merupakan fungsi Negara dimana
telah tercantum dalam undang undang dasar sebuah Negara pada umumnya berbunyi
ingin mensejahterakan warganya, mencerdaskan serta melindunginya.Dimana Negara
telah mengelola sumber daya alam serta mengambil pajak dari warganya tentu
mempunyai tanggung jawab yang lebih pada warganya, dan Negara tidak bias lepas dari
tanggung jawab mensejahterakan karyawannya. Salah satu wujud kongkret yang bias
dinikmati oleh warganya adalah sebuah sistem jaminan sosial bagi setiap warganya,
dalam bentuk pendididkan gratis, biaya kesehatan gratis, adanya saran transportasi yang
mudah dan gratis, serta tersedianya perumahan yang murah serta berbagai subsidi harga
pada kebutuhan kebutuhan vital seperti bahan bakar serta listrik dan air.
PT. Jamsostek merupakan perusahaan perseroan terbatas dimana salah satu
BUMN yang didirikan oleh pemerintah dengan operasional kegiatan sebagai perusahaan
jasa terutama jasa asuransi keselamatan kerja bagi tenaga kerja, agar tercipta keamanan
dan keselamatan kerja disaat pergi menuju lokasi kerja hingga selesai sampai di tempat
kerja hingga kembali lagi ketempat tinggalnya sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.
33 Tahun 1977 tentang program jamsostek. Sehingga setiap tenaga kerja berhak menjadi

peserta jamsostek dan perusahaan pemberi kerja wajib memenuhi fasilitas untuk
karyawannya ini.
Data peserta jamsostek di Indonesia mencapai hampir 95 juta orang atau
dipersentase kan sebesar 7,9 % yang menjadi anggota jamsostek. PT. Jamsostek (persero)
ini didirikan dengan modal 600 Milyar rupiah dengan masing masing lembar saham
bernilai Rp. 1.000.000,- dan terdapat 600.000 yang dibuat oleh akta notaries Fauzi Iwan,
SH, M. kn. , No. 25 tanggal 28 Agustus 2008.

BAB. II
TINJAUAN PUSTAKA
2.2.1. Perbedaan Conceptual Framework PT JAMSOSTEK (Persero), PT ASKES
(Persero) dan BPJS
Terdapat 17 (tujuh belas) karakter yang membedakan PT. Jamsostek (persero), PT.
Askes (Persero) dan BPJS. Perbedaan karakter tersebut membedakan karakter

penyelenggaraan program-program jaminan sosial oleh BPJS di era SJSN dari


penyelenggaraan oleh Persero di era pra SJSN (1992- 2013).

No
1.

Pembeda
Pengertian

PT. Jamsostek

PT. ASKES

BPJS

PT Jamsostek adalah

PT. Askes adalah

BPJS adalah badan

badan hukum yang

BUMN yang

hukum yang dibentuk

merupakan

ditugaskan khusus oleh untuk

persekutuan modal,

pemerintah untuk

didirikan berdasarkan menyelenggarakan

menyelenggarakan
program jaminan

perjanjian, melakukan jaminan pemeliharaan sosial.


kegiatan usaha dengan kesehatan bagi PNS,
modal dasar yang

Penerima Pensiun PNS

seluruhnya terbagi

dan TNI/POLRI,

dalam saham.

Veteran, Perintis
Kemerdekaan beserta
keluarganya dan Badan
Usaha lainnya.

2.

Pendirian/

didirikan atas usulan

Berdasarkan

BPJS dibentuk dengan

Pembentukan

Menteri BUMN

Keputusan Menteri

Undang-Undang, yaitu

kepada Presiden

Kesehatan RI

UU SJSN dan UU

setelah dikaji oleh

Nomor1241/Menkes/X BPJS.

Menteri Teknis dan

I/2004 PT Askes

Menteri Keuangan,

(Persero) ditunjuk

kemudian didaftarkan sebagai penyelenggara


pada notaris dan diberi Program Jaminan Kese
keabsahan oleh

hatan Bagi Masyarakat

Kementerian Hukum

Miskin(PJKMM).

dan HAM

3.

Status Badan

Status badan hukum

Status badan hukum

Status badan hukum

Hukum

Jamsostek berlaku

PT. Askes berlaku pada BPJS berlaku pada

pada tanggal

tanggal diterbitkannya

tanggal

diterbitkannya

Keputusan Menteri

diundangkannya

Keputusan Menteri

Hukum & HAM

UU BPJS, yaitu 25

Hukum & HAM

mengenai pengesahan

November 2011,

mengenai pengesahan badan hukum

dengan masa

badan hukum

peralihan dua tahun

perseroan.

perseroan.

untuk pembubaran
Jamsostek dan
penyiapan
operasional BPJS.

4.

Dasar Hukum Ketentuan hukum

Ketentuan hukum

Ketentuan hukum

organisasi Persero

organisasi Persero

organisasi BPJS

berdasarkan pada UU berdasarkan pada UU

berdasarkan pada

No. 19 Tahun 2003

No. 19 Tahun 2003

UU No. 40 Tahun

Tentang BUMN dan

Tentang BUMN dan

2004 Tentang SJSN

UU No. 40 Tahun 2007 UU No. 40 Tahun 2007 dan UU No. 24


Tentang Perseroan

Tentang Perseroan

Tahun 2011 Tentang

Terbatas.

Terbatas.

BPJS beserta
peraturan
pelaksanaannya.

5.

Maksud dan

Persero menyediakan Melaksanakan dan

BPJS

Tujuan

barang dan/atau jasa

menunjang kebijakan

menyelenggarakan

yang bermutu tinggi

dan program

program jaminan

dan berdaya saing kuat,Pemerintah di bidang

sosial untuk

serta mengejar

ekonomi

memenuhi

keuntungan guna

dan pembangunan

sebesarbesarnya

meningkatkan nilai

nasional pada

kepentingan

perusahaan.

umumnya, khususnya

peserta.

di bidang asuransi
sosial.

6.

Tata Kelola

Tata kelola Persero

Tata kelola Persero

Tata kelola BPJS

diatur dalam anggaran diatur dalam anggaran

diatur dalam UU

dasar di dalam akta

dasar di dalam akta

BPJS.

pendirian PT.

pendirian PT. ASKES

Jamsostek
7.

Organ Tubuh

PT Jamsostek terdiri

PT. ASKES terdiri atas Organ BPJS terdiri

dari Rapat Umum

RUPS, Komisaris, dan

dari Dewan

Pemegang Saham,

Direksi. RUPS

Pengawas dan

Komisaris, dan

mengangkat dan

Direksi.

Direksi.

memberhentikan
Komisaris dan Direksi
dengan mengacu pada
mekanisme seleksi
yang ditentukan dalam
Peraturan Pemerintah.

8.

Kewenangan

Persero tidak memiliki Persero tidak memiliki BPJS selaku badan

Publik

kewenangan publik.

kewenangan publik.

hukum publik
memiliki kekuasaan
dan kewenangan
untuk mengatur
publik melalui
kewenangan
membuat peraturanperaturan yang
mengikat publik.

BPJS berwewenang
mengawasi dan
menjatuhkan sanksi
kepada peserta.

9.

Modal

Modal Persero berasal Modal Persero berasal

BPJS mendapatkan

dari kekayaan negara dari kekayaan negara

modal awal dari

yang dipisahkan

yang dipisahkan

Pemerintah, yang

terbagi atas saham

terbagi atas saham

merupakan

yang seluruh atau

yang seluruh atau

kekayaan negara

paling sedikit 51%

paling sedikit 51%

yang dipisahkan

dimiliki oleh negara.

dimiliki oleh negara.

dan tidak terbagi

Penyertaan modal

Penyertaan modal

atas saham. Modal

negara adalah dalam

negara adalah dalam

awal bagi BPJS

rangka pendirian, atau rangka pendirian, atau

Ketenagakerjaan

penyertaan pada

ditetapkan masing-

penyertaan pada

BUMN. Modal Persero BUMN. Modal Persero masing paling


bersumber dari APBN, bersumber dari APBN, banyak
kapitasi dan sumber

kapitasi dan sumber

Rp2.000.000.000.0

lain.

lain.

00,00 (dua trilyun


rupiah) yang
bersumber dari
Anggaran
Pendapatan dan
Belanja Negara.

10.

Saham

Persero terbagi dalam Persero terbagi dalam

BPJS tidak

saham yang seluruhnya saham yang seluruhnya mengenal istilah


atau paling sedikit 51% atau paling sedikit 51% saham.
dimiliki oleh Negara. dimiliki oleh Negara

11.

Pengelolaan

Pemisahan aset

Pemisahan aset

BPJS mengelola

Asset

jaminan sosial dari aset jaminan sosial dari aset aset jaminan sosial
badan penyelenggara

badan penyelenggara

yang terdiri dari

tidak dikenal dalam

tidak dikenal dalam

aset Dana Jaminan

Persero.

Persero.

Sosial (DJS) dan


aset BPJS. UU
BPJS mewajibkan
BPJS memisahkan
aset BPJS dan aset
DJS. Aset DJS
bukan merupakan
aset BPJS.

12.

Cadangan Dana Jamsostek membentuk PT. Askes membentuk

Badan

cadangan usaha adalah dana cadangan wajib

Penyelenggara

pelaksanaan tanggung dan cadangan lainnya.

Jaminan Sosial

jawab persero bila

wajib membentuk

terjadi kerugian usaha

cadangan teknis

atau untuk memenuhi

sesuai dengan

kebutuhan perseroan.

standar praktek

Perseroan membentuk

aktuaria yang lazim

cadangan wajib dan

dan berlaku umum.

cadangan lainnya.
13.

Surplus

Perseroan membagi

Perseroan membagi

BPJS wajib

seluruh laba bersih

seluruh laba bersih

menggunakan hasil

setelah dikurangi

setelah dikurangi

pengelolaan aset

penyisihan untuk

penyisihan untuk

jaminan sosial

cadangan kepada

cadangan kepada

untuk

pemegang saham

pemegang saham

pengembangan

sebagai dividen,

sebagai dividen,

program bagi

kecuali ditentukan lain kecuali ditentukan lain sebesar- besarnya

oleh Rapat Umum

oleh Rapat Umum

kepentingan

Pemegang Saham

Pemegang Saham

peserta. Surplus

(RUPS). Penggunaan (RUPS). Penggunaan

digunakan untuk

surplus ditetapkan oleh surplus ditetapkan oleh menambah aset


RUPS.

RUPS.

bersih BPJS
dan/atau
memperkuat aset
Dana Jaminan
Sosial.

14.

Pemailitan

Persero dapat

Persero dapat

BPJS tidak dapat

dipailitkan

dipailitkan

dipailitkan
berdasarkan
ketentuan aturan
perundangundangan

15.

Pembubaran

Perseroan dapat

Perseroan dapat

BPJS hanya dapat

digabung atau dilebur digabung atau dilebur

dibubarkan dengan

sehingga

sehingga

Undang-Undang

mengakibatkan

mengakibatkan

perseroan yang

perseroan yang

menggabungkan atau menggabungkan atau

16.

meleburkan diri

meleburkan diri

berakhir karena

berakhir karena

hukum.

hukum.

Restrukturisasi Persero dapat

Persero dapat

BPJS tidak dapat

dan privatisasi diprivatisasi kecuali

diprivatisasi kecuali

direstrukturisasi

Persero yang bidang

Persero yang bidang

atau diprivatisasi.

usahanya hanya boleh usahanya hanya boleh

Bila terjadi

dikelola oleh BUMN

gangguan kesehatan

dikelola oleh BUMN

berdasarkan ketentuan berdasarkan ketentuan

keuangan BPJS,

peraturan

Pemerintah dapat

peraturan

10

perundangundangan.

perundangundangan

melakukan
tindakan-tindakan
khusus guna
menjamin
terpeliharanya
kesehatan keuangan
BPJS.

17.

Pengawasan

Pemeriksaan Laporan Pemeriksaan Laporan

Pengawasan BPJS

dan

Keuangan Persero

dilakukan oleh

pemeriksaan

dilakukan oleh auditor dilakukan oleh auditor

DJSN, dan lembaga

eksternal yang

eksternal yang

pengawas

ditetapkan oleh

ditetapkan oleh

independen, yaitu

Menteri

Menteri

Otoritas Jasa

Keuangan Persero

Keuangan (OJK)
dan Badan
Pemeriksa
Keuangan (BPK).
2.2.2. Investasi Pada Entitas Lain (Aset Keuangan, Entitas Asosiasi, Ventura Bersama,
dan Entitas Anak )
Sesuai dengan PSAK 15 yang membahas Investasi pada entitas lain dimana
diterapkan oleh seluruh entitas yang merupakan investor dengan pengendalian bersama
atau pengaruh signifikan atas investee. Pengaruh signifikan adalah kekuasaan untuk
berpartisipasi dalam keputusan kebijakan keuangan dan operasional suatu aktivitas
ekonomi, tetapi tidak mengendalikan atau mengendalikan bersama atas kebijakan
tersebut. Perusahan dapat berpengaruh signifikan mengendalikan jika memiliki hak suara
20% dianggap memiliki pengaruh signifikan, kecuali dapat dibuktikan sebaliknya hak
suara <20% dianggap tidak memiliki pengaruh signifikan, kecuali dapat dibuktikan
sebaliknya, ini merupakan pengukuran pendekatan secara kuantitatif sedangkan
perhitungan kualitatifnya dapat nilai keterwakilan dalam dewan direksi dan komisaris

11

atau setaranya, partisipasi proses pembuatan kebijakan, termasuk dividen dan distribusi
lain,transaksi material investor dengan investee, pertukaran personel manajerial, serta
penyediaan informasi teknis pokok.
Perusahaan Asosiasi adalah suatu perusahaan yang investornya mempunyai pengaruh
yang signifikan dan bukan merupakan anak perusahaan maupun joint venture dari
investornya. Perlakuan akuntansi pada perusahaan asosiasi yaitu menggunakan :
-

Metode ekuitas (Equity method) adalah metode akuntansi yang mencatat investasi pada
mulanya sebesar biaya perolehan (cost) dan selanjutnya disesuaikan untuk perubahan
dalam bagian pemilikan investor atas aset bersih investee yang terjadi setelah perolehan.
Laporan laba rugi investor merefleksikan bagian laba atau rugi investor atas hasil usaha
investee. Laporan keuangan konsolidasi harus di pertanggung jawabkan apabila investor

mempunyai pengaruh signifikan.


Metode biaya (Cost method) adalah metode akuntansi yang mencatat investasi dicatat
sebesar biaya perolehan. Penghasilan baru diakui oleh investor apabila investee
mendistribusikan laba bersih (kecuali dividen saham) yang berasal dari laba setelah
tanggal perolehan dan investor tidak mempunyai pengaruh signifikan.
Investasi dalam perusahaan asosiasi yang dipertanggung jawabkan dengan metode
ekuitas, harus diklasifikasikan sebagai aset jangka panjang dan diungkapkan sebagai pos
terpisah dalam neraca. Bagian investor atas pos luar biasa atau pos masa lalu yang berasal
dari investee harus diungkapkan secara terpisah.
Aset keuangan adalah asset nonwujud yang memiliki nilai dikarenakan klaim kontrak,
misalnya deposito bank, obligasi, dan saham. Aset keuangan biasanya likuid daripada
asset wujud, seperti tanah atau real estate dan dipasarkan di pasar keuangan.
Menurut International Financial reporting Standard (IFRS) asset keuangan diantaranya :

Uang tunai atau setara dengan uang tunai.


Instrumen ekuitas lembaga lain.
Hak kontrak untuk menerima uang tunai atau asset keuangan lainnya dari lembaga lain
atau bertukar asset keuangan atau kewajiban keuangan dengan lembaga lain sesuai syarat
yang bias menguntungkan lembaga tersebut.
Kontrak yang akan atau bisa diselesaikan dengan instrumen ekuitas lembaga dan bukan
merupakan non-derivatif yang karena itu lembaga tersebut wajib atau mungkin
diwajibkan menerima sejumlah instrumen ekuitas lembaga,atau derivatif yang akan atau
12

bias diselesaikan dengan cara selain pertukaran uang tunai atau asset keuangan lainnya
dalam jumlah tetap dengan instrument ekuitas lembaga dalam jumlah tetap.
Ventura Bersama (joint venture) adalah suatu strategi bisnis yang relatif banyak
dipergunakan oleh perusahaan perusahaan untuk membentuk kerjasama Hal ini
dikarenakan faktor tingginya risiko, jumlah investasi yang diperlukanberagamnya sumber
daya, contohnya dibentuknya ventura bersama antara perusahaan pemilik lahan dengan
perusahaan pengembangan perumahan komersil, untuk kemudian berbagi pendapatan
(revenue sharing) dan laba (profit laba).
Entitas Anak adalah suatu entitas termasuk entitas bukan perseroan terbatas seperti
persekutuan dikendalikan oleh entitas lain, sedangkan entitas induk adalah suatu entitas
yang mempunyai satu atau lebih entitas anak.

1.

Aset BPJS Ketenagakerjaan


Aset BPJS bersumber dari:
a.

Modal awal dari Pemerintah, yang merupakan kekayaan Negara yang dipisahkan dan
tidak terbagi atas saham;

b.

Hasil pengalihan aset BUMN yang menyelenggarakan program jaminan sosial;

c.

Hasil pengembangan aset BPJS

d.

Dana operasional yang diambil dari Dana Jaminan Sosial;

e.

Sumber lain yang sah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.


Modal awal dari Pemerintah untuk BPJS Ketenagakerjaan ditetapkan masingmasing paling banyak Rp2.000.000.000.000,00 (dua triliun rupiah) yang bersumber dari
APBN. Pemerintah merealisasikan ketentuan ini sebesar 25% pada tahun 2014.

2.

Aset Dana Jaminan Sosial


BPJS dilarang menyubsidi silang antarprogram dengan membayarkan manfaat
suatu program dari dana program lain. BPJS wajib menyimpan Dana Jaminan Sosial pada
bank kustodian yang berbadan hukum BUMN (Badan Usaha Milik Negara).

13

Aset Dana Jaminan Sosial (DJS) bersumber dari:


a.

Iuran jaminan sosial, termasuk bantuan iuran;

b.

Hasil pengembangan Dana Jaminan Sosial;

c.

Hasil pengalihan aset program jaminan sosial yang menjadi hak peserta dari BUMN yang
menyelenggarakan program jaminan sosial;

d.

Sumber lain yang sah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.


Aset Dana Jaminan Sosial digunakan untuk:

a.

Pembayaran manfaat atau pembiayaan layanan jaminan sosial;

b.

Biaya operasional penyelenggaraan program jaminan sosial;

c.

Investasi dalam instrumen investasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

3.

Transfer Aset Dari Persero Ke BPJS


Mulai 1 Januari 2014, seluruh aset yang dikelola oleh PT Askes (Persero) dan aset
PT Jamsostek (Persero) dialihkan kepada BPJS. Pemisahan pengelolaan aset diberlakukan
pada pengalihan aset PT Jamsostek (Persero). Pemisahan ini sesuai dengan ketentuan tata
kelola dana jaminan sosial oleh BPJS. Aset BUMN dialihkan menjadi aset BPJS. Aset
lembaga PT Jamsostek (Persero) dialihkan menjadi aset BPJS Ketenagakerjaan.
Demikian pula halnya dengan aset program JPK-Jamsostek yang menjadi hak peserta
JPKJamsostek, dialihkan dari PT Jamsostek menjadi aset Dana Jaminan Sosial
Kesehatan.

4.

Ke BPJS Ketenagakerjaan
BPJS Ketenagakerjaan menerima pengalihan aset lembaga PT Jamsostek
(Persero) dan aset tiga Program Jamsostek selain aset Program JPK Jamsostek. Tiga aset
Program Jamsostek lainnya, yaitu program jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua,
dan jaminan kematian dialihkan menjadi aset Dana Jaminan Sosial Ketenagakerjaan.
Pemisahan pengelolaan aset ketiga program tersebut langsung diberlakukaan sejak
pengalihan, dengan ketentuan sebagai berikut:
a.

Aset program jaminan kecelakaan kerja Jamsostek dialihkan menjadi

14

b.

Aset Dana Jaminan Sosial Kecelakaan Kerja;

c.

Aset program jaminan hari tua Jamsostek dialihkan menjadi aset Dana Jaminan Sosial
Hari Tua;

d.

Aset program jaminan kematian Jamsostek dialihkan menjadi aset Dana Jaminan Sosial
Kematian.

e.

Aset dan liabilitas dana peningkatan kesejahteraan peserta yang bersumber dari alokasi
laba PT Jamsostek (Persero) beralih menjadi aset dan liabilitas BPJS Ketenagakerjaan.

2.2.3. Kombinasi Bisnis


Kombinasi adalah suatu transaksi atau peristiwa lain dimana pihak pengakuisisi
memperoleh pengendalian atas satu atau l ebih bisnis. Bisnis adalah suatu rangkaian
terpadu dari kegiatan dan aset yang mampu diadakan dan dikelola dengan tujuan
memberikan hasil dalam bentuk dividen, biaya yang lebih rendah, atau manfaat ekonomi
lainnya secara langsung kepada investor atau pemilik, anggota, atau peserta lainnya.
Menurut PSAK 22 Kombinasi Bisnis adalah penyatuan dua atau lebih perusahaan
(entitas) yang terpisah menjadi satu entitas pelaporan, dengan menggunakan metode
pembelian atau akuisisi. Aktivitas selain kombinasi bisnis yaitu :
-

Kombinasi bisnis membentuk ventur a bersama (Joint Venture)


Kombinasi bisnis antara entitas yang berbeda dibawah pengendalian yang sama

(Restrukturisasi Internal)
Kombinasi bisnis antara entitas bersama (Mutual Entities)
Kombinasi bisnis melalui kontrak dan tanpa pengakuan kepemilikan (Ownership Interest)
Pengendalian suatu keadaan ketika entitas induk memiliki secara langsung atau tidak
langsung melalui entitas anak lebih dari setengah (>50%) kekuasaan suara suatu entitas
sehingga dapat mengendalikan , kecuali dapat ditunjukkan secara jelas bahwa
kepemilikan tersebut tidak diikuti dengan pengendalian.
Pengakuisisian adalah perusahaan yang bergabung (Combining Entity) yang memperoleh
pengendalian atas entitas tergabung lain. Maka dapat didefinikan pengakuisisian
merupakan suatu kekuasaan untuk menentukan kebijakan keuangan dan operasi suatu
badan usaha (entitas) agar dapat menikmati manfaat dari kegiatan perusahaan. Pihak
pengakuisisi adalah orang yang mendapatkan pengendalian atas pihak yang diakuisisi

15

secara badan hokum gunanya untuk mengalihkan imbalan, memperoleh asset dan
mengambil alih liabilities pihak akuisisi pada tanggal penutupan. Pada tanggal akuisisi,
pihak pengakuisisi mengakui, secara terpisah dari goodwill, aset teridentifikasi yang
diperoleh, liabilitas yang diambil-alih, dan kepentingan nonpengendali pihak yang
diakuisisi.
Tanggal akuisisi dalam akuntasi gunanya :
-

Melaporkan hasil usaha perusahaan yang diakuisisi dalam laporan Laba Rugi

Komprehensif sejak tanggal akuisisi.


Melaporkan asset dan liabilities peruhaan yang diakuisisi berdasarkan nilai wajarnya

berdasarkan tanggal.
Tanggal pengakuisisi secara hukum mengalihkan imbalan, memperoleh aset, dan

mengambil-alih liabilitas pihak yang diakuisisi, yaitu tanggal penutupan.


Dapat terjadi sebelum atau sesudah tanggal penutupan.
Harus mempertimbangkan semua fakta dan keadaan
Pengendalian dapat diperoleh tanpa adanya pengalihan imbalan, termasuk:
Pihak yang yang diakuisisi membeli kembali sahamnya sehingga pengakuisisi

memperoleh pengendalian
Hilangnya hak veto yang sebelumnya menghalangi pengakuisisi untuk mengendalikan.
Pengakuisisi dan yang diakuisisi sepakat untuk mengkombinasikan bisnisnya dengan
kontrak semata.
Contoh penggabungan dua bisnis bersama-sama dalam satu kesepakatan gabungan
(stapling arrangement) atau pembentukan perusahaan yang tercatat di dua bursa (dual
listed corporation)
Pengakuan sesuai PSAK ini, memunculkan kepentingan non pengendali yang dominan
atau seluruhnya. Pengukuran dalam kombinasi bisnis ini meliputi :
Jika proses kombinasi bisnis belum selesai pada akhir periode pelaporan pihak
pengakuisisi melaporkan jumlah sementara untuk pos-pos (items) yang proses
akuntansinya belum selesai.
Pihak pengakuisisi menyesuaikan secara retrospektif jumlah sementara yang diakui pada
tanggal akuisisi untuk mencerminkan informasi baru yang diperoleh tentang fakta dan
keadaan yang ada pada tanggal akusisi dan berdampak pada pengukuran yang diakui.
Pihak pengakuisisi mengakui aset atau liabilitas tambahan jika informasi baru diperoleh
mengenai fakta dan keadaan yang ada pada tanggal akuisisi
16

Periode pengukuran berakhir segera setelah pihak pengakuisisi menerima informasi yang
dicari tentang fakta dan keadaan yang ada pada tanggal akuisisi atau mempelajari bahwa
informasi lebih tidak dapat diperoleh.
Periode pengukuran tidak boleh melebihi satu tahun dari tanggal akuisisi.
2.2.4. Kombinasi Bisnis Entitas Sepengendali
Pengendalian (control) adalah kemampuan untuk mengatur kebijakan financial dan
operasional dari suatu perusahaan untuk mendapatkan manfaat dari kegiatan perusahaan
tersebut. Transaksi kombinasi bisnis entitas sepengendali adalah kombinasi bisnis yang
semua entitas atau bisnis yang bergabung, pada akhirnya dikendalikan oleh pihak yang
sama (baik sebelum maupun sesudah kombinasi) dan pengendaliannya tidak bersifat
sementara. Pengendalian pengalihan yang dilakukan dalam rangka reorganisasi entitas
entitas yang berada dalam suatu kelompok usaha secara keseluruhan ataupun bagi entitas
individu dalam kelompok usaha tersebut.
Beberapa transaksi kombinasi bisnis entitas sepengendali diantaranya seperti entitas
induk yang memindahkan sebagian asset neto dari entitas anak yang dimilikinya menjadi
asset entitas induk yang bersangkutan, atau entitas induk yang mengalihkan sebagian hak
kepemilikannya dalam suatu entitas anak ke entitas anak lain yang dimiliki oleh entitas
induk mengakibatkan perubahan bentuk hokum kepemilikan entitas, bagi segi entitas
anak ataupun perubahan kepemilikan asset neto.
2.2.5. Laporan Keuangan Konsilidasi dan Laporan Keuangan Tersendiri
Laporan keuangan konsolidasi adalah laporan keuangan dari satu grup perusahaan yang
tidak dimiliki, baik secara langsung maupun tidak langsung oleh induk perusahaan.
Laporan Keuangan tersendiri adalah laporan keuangan yang disajikan oleh entitas induk
(investor yang memiliki pengendalian atas entitas anak) yang mencantat investasi pada
entitas anak, entitas asosiasi dan ventura bersama berdasarkan biaya perolehan atau
sesuai dengan PSAK 55: Instrumen keuangan: Pengakuan dan Pengukuran. Dalam
penyajian

laporan keuangan konsolidasi diperlukan adanya pengendalian dari induk

perusahaan dimana diungkapkan kegiatan khusus dari anak perusahaan tersebut. Setiap
investasi dalam penyajiannya entitas induk menyajikan sendiri laporan keuangannya baik

17

mencatat investasi anak, ventura bersama dan entitas asosiasi sesuai standar akuntansi
kategori investasi, sedangkan pada anak peusahaan perlakuan investasinya diberlakukan
pada konsolidasi yaitu sesuai dengan metode biaya dan devidennya sesuai dengan yang
telah ditetapkan atau diakui oleh induk perusahaan
Laporan Aset Netto dan Perubahan Aset netto
Per 31 Desember 2014
Dana Jaminan Nasional Program JHT

18

Laporan Posisi Keuangan


Per 31 Desember 2014
Dana Jaminan Nasional Program JKM

19

Laporan Arus Kas


Per 31 Desember 2014
20

Dana Jaminan Nasional Program JKK dan JKM

Laporan Konsolidasi
Per 31 Desember 2014
BPJS Ketenagakerjaan, Entitas Anak, dan Entitas Bertujuan Khusus
21

22

Laporan Keuangan Knsoidasi PT.Jamsosek (Persero)

23

24

25

Laporan PT. Askes (Persero) Dan Entitas Anak

Keterkaitan Penerapan Kombinasi Bisnis dan Konsolidasi

26

BAB III
PENUTUP
1.1.

Kesimpulan
Berdasarkan pada hasil pembahasan sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut:

1.

Transformasi badan usaha milik negara JAMSOSTEK menjadi BPJS Ketenagakerjaan


secara langsung juga mengubah orientasi dan tujuan organisasi, yakni dari organisasi
yang

berorientasi

kepada pemerintah,

pada

laba

sekarang

namun
berubah

seluruh
menjadi

dividen tidak
organsiasi

lagi

nirlaba

dibayarkan
atau

tidak

berorientasi laba dimana pengelolaan dananya dilakukan secara terpisah dan transparan
ke dalam 2 kelompok besar yaitu Aset BPJS Ketenagakerjaan dan Dana Program
BPJS Ketenagakerjaan. Perubahan orientasi dan tujuan organisasi mengakibatkan
berubahnya kerangka konseptual dalam pelaporan keuangan, yakni menggunakan PSAK
No: 45 mengenai pelaporan keuangan organisasi nirlaba.
2.

Terjadi perubahan pada persyaratan peserta. Dimana PT. Jamsostek cakupan peserta wajib
kepada semua pekerja Indonesia di sektor formal, sedangkan BPJS Ketenagakerjaan,
cakupan peserta wajib kepada semua pekerja Indonesia baik sektor formal maupun
informal dan orang asing yang bekerja di Indonesia minimal 6 bulan

3.

Terjadi

perubahan

bertanggungjawab

pelaporan
kepada

pertanggungjawaban.

Menteri

BUMN,

Dimana

sedangkan

BPJS

PT.

Jamsostek

Ketenagakerjaan

bertanggungjawab kepada Presiden RI


4.

Terjadinya perubahan perlakuan terhadap aset perusahaan dalam hal ini BPJS
Ketenagakerjaan melakukan pemisahan aset sesuai dengan Pasal 40 ayat (2) UU BPJS.
UU BPJS ini mewajibkan BPJS memisahkan aset BPJS dan aset Dana Jaminan Sosial.

27

Selain itu Pasal 40 ayat (3) UU BPJS menegaskan bahwa aset Dana Jaminan Sosial bukan
merupakan aset BPJS. Penegasan ini untuk memastikan bahwa Dana Jaminan Sosial
merupakan dana amanat milik seluruh peserta yang tidak merupakan aset BPJS. Hal ini
secara jelas menunjukkan bahwa BPJS tidak bisa menggunakan aset Dana Jaminan Sosial
yang berasal dari masyarakat apapun tujuan dan alasannya.
5.

Selain perubahan orientasi, BPJS Ketenagakerjaan juga menggandeng seluruh Rumah


Sakit Pemerintah dengan membentuk Badan Layanan Umum (BLU) yang diperlakukan
sebagai unit pelayanan (anak usaha). Setiap akhir periode semua laporan keuangan dari
BLU Rumah Sakit Pemerintah akan dikonsolidasi dengan laporan keuangan BPJS
Ketenagakerjaan. Hal ini secara implisit menunjukkan hubungan antara induk dan anak
seperti pada PSAK No. 45.

28

DAFTAR PUSTAKA
Hendrawan, Ronny. 2009. Analisis Penerapan PSAK No. 45 Tentang Pelaporan Keuangan Organisasi
Nirlaba Pada Rumah Sakit Berstatus Badan Layanan Umum. Fakultas Ekonomi.
Universitas Diponogoro.
Pertiwi, Tria. 2013. Akuntansi Rumah Sakit Sebagai Badan Layanan Umum (BLU). Diakses tanggal
1 September 2015. http://triachia.blogspot.com/2013/12/akuntansi-rumah-sakit-sebagaibadan.html
Putri, Eka Asih. 2014. Paham SJSN Sistem Jaminan Sosial Nasional. Seri Buku Saku Satu. Cetakan I.
CV Komunitas Pejaten Mediatama. Kantor Perwakilan Indonesia. ISBN : 978-602-886613-2
.......................... 2014. Paham BPJS Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Seri Buku Saku Dua.
Cetakan I. CV Komunitas Pejaten Mediatama. Kantor Perwakilan Indonesia. ISBN : 978602-8866-13-2.
......................... 2014. Paham Transformasi Jaminan Sosial Indonesia. Seri Buku Saku Tiga. Cetakan
I. CV Komunitas Pejaten Mediatama. Kantor Perwakilan Indonesia. ISBN : 978-6028866-14-9.
Warta Jams. 2013. Bertransformasi untuk Memberikan Layanan & Manfaat yang Lebih Baik. Buletin
Jamsostek, Vol.01.
Undang-Undang:
UU No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja
UU No. 19 Tahun 2003 Tentang BUMN
UU No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
UU No. 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
Internet:

29

1.

http://erika0391989.wordpress.com/2012/02/08/a-conceptual-framework-for-financialaccounting-and-reporting/

2.

http://eprints.dinus.ac.id/14585/1/BLU_RSUD__pelatihan_penyusunan_laporan_keuangan_rumah_sakit.pdf

3.

http://www.jamsosindonesia.com/cetak/printout/387

4.

http://financeacountingtraining.blogspot.comm

5.

http://henrich27.blogspot.com/2013/05/conceptual-framework-for-financial.html

6.

http://www.scribd.com/doc/230377260/transformasi-pt-jamsostek-persero-menjadibadan-penyelenggara-jaminan-sosial-bpjs-ketenagakerjaan-di-kantor-cabang-darmosurabaya-Studi-Pada-Imp#scribd

7.

www.iaiglobal.ac.id

8. http://wwwwds.worldbank.org/external/default/WDSContentServer/WDSP/IB/2012/09/07/00033303
7_20120907005347/Rendered/INDEX/728860BRI0INDO0box370049B00PUBLIC00.txt

30