Anda di halaman 1dari 3

(1)MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK MENJADI JEMAAT MISSIONER

(Pdt. S.Th. Kaihatu, M.Th ~ Ketua Umum Majelis Sinode GPIB)

Catatan Awal :
Istilah Jemaat yang kita gunakan dalam kenyataan sebetulnya mempunyai makna yang
lebih dari satu. Pertama, istilah ini bisa berarti pribadi dalam sebuah persekutuan.
Sebetulnya istilah yang tepat adalah 'warga jemaat'. Akan tetapi jarang sekali kita bicara
tentang pribadi ini lepas dari persekutuan. Kata-kata seperti 'menurut jemaat, pelayanan
kita masih kurang memadai' sebetulnya menunjuk pada pribadi sebagai representasi
persekutuan. Itulah sebabnya mengapa 'pandangan jemaat' ditanggapi dengan serius
oleh Majelis Jemaat. Kedua, istilah ini bisa menunjuk pada sebuah Jemaat lokal. Jemaat
lokal ini adalah sebuah persekutuan umat atau paroki. Dari sana datang istilah parokhial.
Ini adalah sebuah persekutuan yang terorganisir. Pikiran dalam istilah ini terbalik dari
yang pertama, yakni persekutuan yang hidup karena didalamnya ada orang-orang. Ketiga
istilah ini juga bisa Gereja secara keseluruhan dalam pengertian gabungan Jemaat-Jemaat
lokal. Disini, pemahaman lebih pada institusi dengan aturan-aturan yang ada didalamnya.
Dalam lingkup kita pemahamannya lebih Sinodal. Uniknya pemahaman tentang Gereja ini
selalu mengikut-sertakan Gereja-Gereja lain juga. Karena itu kalau bicara Gereja, maka
semangatnya selalu oikumenis. Tiga kenyataan ini, -pribadi, persekutuan, institusi-
penting kita sadari sejak awal, karena pada satu sisi sering digunakan secara bergantian
dalam arti yang sama tetapi juga karena dalam pelayanan, baik itu khotbah, pelayanan
sakramen, maupun pembinaan kedalam dan pengutusan keluar, kita selalu menekankan
pada orang per orang. Bukan pada organisasi atau institusi secara ideologis. Namun
karena dalam pemakaian istilah 'Gereja' terasa lebih netral, maka kita akan lebih banyak
menggunakan istilah 'Gereja'.

Gereja : Pemahaman Esensial

Istilah Gereja yang kita gunakan sekarang, sebenarnya berasal dari istilah Portugis
(igreja). Istilah ini adalah terjemahan dari bahasa Yunani (Ekklesia). Masih ada satu lain
yang juga digunakan untuk menunjuk pada istilah gereja, yakni kuriakon. Kita akan
mencoba meneliti kedua istilah ini satu berikut satu.
Istilah 'ekklesia' berasal dari dua kata Yunani, ek (memanggil) dan kaleo (keluar). Jadi
ekklesia artinya, “memanggil keluar”. Istilah ini sebenarnya berasal dari latar belakang
militer yang dalam dunia militer dipahami sebagai 'mereka yang dipanggil keluar'.
Mereka yang dipanggil keluar ini, menerima tugas yang intinya hanya dua. Yang pertama
agar 'mempertahankan' daerah tertentu, atau yang kedua, 'memenangkan' daerah
tertentu istilah ini merupakan padanan dari istilah Ibrani (qahal), yang menunjuk pada
sebuah persekutuan orang-orang, jelasnya sebuah umat. Kita tahu dari Kejadian 12,
bahwa panggilan Allah terhadap Abraham adalah untuk 'keluar' sebab Tuhan Allah
menginginkan Abraham dan keturunannya untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa.
Ada beberapa nilai disini.

Pertama, kumpulan orang-orang itu terbentuk karena panggilan sang Kaisar yang adalah
sang Tuan (Yun. Kurios)
Kedua, kepada mereka yang berkumpul itu diberikan tugas, entah untuk
mempertahankan sesuatu yang milik kurios, atau merebut sesuatu agar menjadi milik
kurios.
Ketiga, kumpulan orang-orang ini lalu berproses untuk mengerjakan tugas dari sang
kurios.

Gereja abad-abad pertama melihat dirinya seperti ini. Adalah Tuhan yang memanggil,
adalah Tuhan yang mengutus untuk memenangkan untuk Tuhan atau mempertahankan
milik Tuhan, dan adalah persekutuan yang berproses dalam pelayanan dan kesaksiannya
untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Tuhan. Sehingga ketika istilah Ekklesia
digunakan untuk yang namanya Gereja, maka hal itu dihayati dan tidak menjadi soal
sama sekali.

Istilah Kuriakon, berasal dari akar kata kurios, yang berarti 'Tuan'. Padanan dari dengan
bahasa Ibrani 'Adon'. Kurios menunjuk kepada orang yang punya kekuasaan sehingga
dihadapannya orang lain mesti membungkuk tanda hormat. Dengan kata lain istilah
'kuriakon' lebih berisikan tekanan pada kekuasaan, kekuatan dan kekayaan. Istilah ini
digunakan untuk menunjuk pada barang, atau benda, milik seorang tuan. Misalnya saja
sekawanan domba milik seorang tuan, bangunan milik seorang tuan, dan sebagainya.
Ada beberapa nilai disini.

Pertama, milik sang tuan.


Kedua, itu berarti diatasnya ada wibawa sang tuan.
Ketiga, bahwa sang tuan bisa mendelegasikan penyelenggaraan dan pemeliharaan bagi
beberapa hamba.
Keempat, hamba-hamba itu harus menyelenggarakan segala sesuatu milik sang tuan
sesuai dengan kehendak sang tuan.

Gereja abad pertama melihat dirinya seperti ini. Milik Kristus yang atasnya Kristus yang
berwibawa, yang pemeliharaannya didelegasikan kepada sejumlah hamba Kristus, dan
para hamba itu harus menyelenggarakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak
Kristus. Jadi ketika istilah ini digunakan untuk Gereja, juga tidak ada persoalan sama
sekali.
Kalau kita simpulkan esensi dua istilah tadi, untuk melihat makna, dengan mana Gereja
memahami dirinya, maka kita bisa mengatakan bahwa : Gereja adalah suatu persekutuan
yang terbentuk karena kehendak Tuhan, berkumpul karena kehendak Tuhan, ditempat
yang ditentukan Tuhan, dan karenanya Gereja adalah milik Tuhan. Sebagai milik Tuhan,
Gereja diutus kedalam dunia untuk memenangkan dunia ini untuk Tuhan atau
mempertahankan apa yang punya Tuhan agar jangan diambil oleh kuasa-kuasa dunia ini.
Dan karena itu segala sesuatu yang terjadi di Gereja ada dalam wibawa Tuhan, dan harus
dilaksanakan sesuai dengan kehendak Tuhan.
Pemahaman esensi yang seperti ini menjadi lebih nyata, kalau kita menggumuli
pemahaman tentang eksistensi Gereja.

Gereja : Pemahaman Eksistensial

Pertanyaan populer tentang eksistensi Gereja adalah, mengapa ada Gereja, dan kapan
ada Gereja. Pertanyaan ini telah berkali-kali dijawab secara keliru, karena memang tidak
theologis. Jawaban bahwa Gereja ada karena penjajahan, dan dimulai dengan tibanya
penjajah, adalah jawaban yang hanya menyentuh kulit permasalahan. Pergumulan
tentang eksistensi Gereja sebenarnya harus bertolak dari kenyataan-kenyataan Alkitab.
Ditilik dari kenyataan Alkitab, maka kita paling tidak mempunyai dua pijakan. Pijakan
pertama tentang adanya umat milik Allah adalah dalam panggilan Abraham, yang
merupakan cikal bakal kehadiran umat Allah atau yang dalam bahasa Ibraninya ‘qahal
Adonai’. Dalam panggilan itu, jelas Tuhan Allah ingin membentuk suatu umat milikNya
sendiri, yang melaluinya dunia akan diberkati. Lewat pasang surut sejarah yang panjang,
maka umat milik Allah ini kemudian muncul lagi pada peristiwa Pentakosta, yang
kemudian menjadi nyata dalam nama yang diberikan kepada sekelompok orang sebagai
‘Kristen’. Tapi segera kita menyadari satu hal.

Bahwa panggilan Abraham maupun peristiwa Pentakosta ada dalam suatu kerangka
besar Sejarah Kerajaan Allah, yang mulai dari Firdaus yang hilang, menuju ke Firdaus
yang dipulihkan, dari Kejadian ke Wahyu Yohanes.
Kenyataan-kenyataan Alkitabiah ini menunjukkan bahwa Gereja ada karena kehendak
Allah. Gereja hadir karena dirancangkan oleh Allah sendiri, jauh sebelumnya. Allah ingin
menyelamatkan dunia yang jatuh dalam dosa. Dan dalam kerangka itu Gereja dihadirkan
sebagai salah satu alat Allah untuk menyampaikan keselamatan yang dari Allah kepada
dunia. Inilah dasar eksistensi gereja, yang tidak boleh dilihat diluar Sejarah Suci atau
Sejarah Kerajaan Allah.
Sejarah kerajaan Allah, sekalipun mencakup sejarah manusia dan lebih dari sekedar
sejarah manusia, namun mengikut-sertakan manusia juga. Ketika manusia ikut serta,
maka manusia membawa serta tabiat ‘keberdosaannya’. Inilah sebabnya kita temukan
banyak peristiwa yang dari penilaian Alkitab sendiri, salah. Akan tetapi rencana Tuhan
untuk menghadirkan gereja tidak bisa dihalangi oleh ke-berdosaan manusia. Bahkan
ketika proses hadirnya dalam sejarah, mengalami tantangan dan hambatan sekalipun
rencana Tuhan Allah tetap berjalan. Dalam kerangka inilah, khusus untuk Indonesia, kita
bertemu dengan kehadiran Gereja yang berbarengan dengan penjajahan. Tapi segera
harus dikatakan, bahwa tidak seluruhnya demikian.
Namun khusus untuk Indonesia, kita harus menyadari satu kenyataan penting dari proses
sejarah. Bahwa Gereja hadir ‘lewat’ budaya Eropa Barat, yang telah sangat dipengaruhi
sistim berpikir dan budaya Yunani Romawi. Dengan demikian tidak terjadi ‘pemindahan
sepotong kawasan Timur tengah’ lengkap dengan budayanya ke Indonesia. Hasilnya
adalah orang-orang Kristen yang cenderung rasional dan tidak emosional, serta tidak
memiliki keterikatan kepada kota suci atau Bait Suci tertentu di Yerusalem. Dalam
sejarah modern, ternyata proses sejarah yang seperti ini sangat membantu pemribumian
theologia Kristen, juga hubungan interaktif antara orang Kristen dan non Kristen di
Indonesia.
Kalau kita menyimpulkan proses sejarah hadirnya Gereja di Indonesia, maka kita harus
mengatakan bahwa Gereja hadir sebagai bagian dari rencana dan kehendak Tuhan.
Rencana dan kehendak Tuhan itu berlaku dalam sejarah manusia. Kekurangan dan
kelemahan manusia memberi warna pada Gereja juga. Akan tetapi pada akhirnya apapun
unsur manusiawinya, Tuhan Allah selalu mengarahkan agar Gereja hadir dan menjadi
bagian dari alat Tuhan untuk mewujudkan rencana Tuhan menyelamatkan dunia. Dan
dengan simpulan yang seperti ini, kita lalu bisa melihat Fungsi Gereja.