Anda di halaman 1dari 5

Gangguan rasa nyaman akibat nyeri

a. Pengertian Nyeri

Nyeri

adalah

pengalaman

sensori

dan

emosional

yang

tidak

menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang actual atau potensial (smatzler
& Bare, 2002)
Nyeri adalah suatu sensori subyektif dan pengalaman emosional yang
tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan yang actual atau
potensial atau yang dirasakan dalam kejadian-kejadian dimana terjadi kerusakan
IASP (potter & Perry, 2006)
Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan tidak menyenangkan bersifat
sangat subyektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala
atau tingkatannya, dan hanya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau
mengevaluasi rasa nyeri yang dialami (A.Aziz Alimul, 2012)
Jadi, nyeri adalah suatu sensori subjektif dan pengalaman emosional yang
tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang actual atau potensial
yang bersifat sangat subjektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang
dalam hal skala atau tingkatannya.
b. Klasifikasi Nyeri

Klasifikasi nyeri secar umum dibagi menjadi dua, yakni nyeri akut dan
kronis. Nyeri akut merupakan nyeri yan timbul secara mendadak dan cepat
menghilang, yang tidak melebihi 6 bulan dan ditandai adanya peningkatan
tegangan otot. Nyeri kronis merupakan nyeri yang timbul secara perlahan-lahan,
biasanya berlangsung dalam waktu cukup lama, yaitu melebihi dari 6 bulan. Yang
termasuk dalam kategori nyeri kronis adalah nyeri terminal, sindrom nyeri kronis,
dan nyeri psikosomatis.
c. Skala Nyeri
1) A pain intensity scale (for adult)
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Tidak Nyeri

Ringan

Sedang

0 = Tidak nyeri
1 = Seperti gatal, tersetrum atau nyut-nyut
2 = seperti melilit atau terpukul

Parah

Separah-parahnya

3 = Seperti Perih
4 = Seperti keram
5 = Seperti tertekan atau tergesek
6 = Seperti terbakar atau ditusuk-tusuk
7-9 = Sangat nyeri tetapi dapat dikontrol oleh pasien dengan aktivitas yang
bisa dilakukan
10 = Sangat nyeri dan tidak dapat dikontrol oleh pasien.

Keterangan : 1 - 3 = Nyeri ringan


4 - 6 = Nyeri sedang
7 9 = Nyeri berat
10 = Sangat nyeri
d. Pengukuran Nyeri

Pengukuran nyeri dapat dilihat dari tanda-tanda krakteristik yan


ditimbulkan, yaitu:
1) Nyeri ringan umumnya memiliki gejala yang tidak dapat terdeteksi
2) Nyeri sedang atau moderet memiliki karakteristik : Peningkatan
frekuensi Pernafasan, peningkatan tekanan darah, peningkatan
kekuatan otot dilapisan pupil
3) Nyeri berat memiliki karakteristik : muka pucat, otot mengeras,
penurunan frekuensi nafas dan tekanan darah, kelelahan dan
keletihan.
e. Efek yang ditimbulkan oleh nyeri
1) Tanda dan gejala fisik
Tanda fisiologis dapat menunjukkan nyeri pada klien yang
berupaya untuk tidak mengeluh atau mengakui ketidaknyamanan.
Sangat penting untuk mengkaji tanda-tanda vital dan pemeriksaan
fisik termasuk mengobservasi keterlibatan saraf otonom. Saat
awitan nyeri akut, denyut jantung, tekanan darah, dan frekuensi
pernafasan meningkat.
2) Efek Perilaku
Pasien yang mengalami nyeri menunjukkan ekspresi wajah
dan gerakan tubuh yang khas dan berespon secara vocal serta
mengalami kerusakan dalam interaksi social. Pasien seringkali
meringis,

mengernyitkan

dahi,

menggigit

bibir,

gelisah,

imobilisasi, mengalami ketegangan otot, menghindari percakapan,


menghindari kontak social dan hanya focus pada aktivitas
menghilangkan nyeri.
3) Pengaruh Pada Aktivitas Sehari-hari

Pasien yang mengalami nyeri setiap hari kurang mampu


berpartisipasi dalam aktivitas rutin, seperti mengalami kesulitan
dalam melakukan tindakan hygiene normal dan dapat
menggangguaktifitas social dan hubungan seksual.
f. Penanganan Nyeri
1) Farmakologi
a. Analgesik narkotik
Analgesik narkotik terdiri dari berbagai derivate opium
seperti morfin dan kodein. Narkotik dapat memberikan efek
penurunan nyeri dan kegembiraan karena obat ini mengadakan
ikatan dengan reseptor opiate dan mengaktifkan penekan nyeri
endogen pada susunan saraf pusat (Tamsuri 2007). Namun,
menggunakan obat ini menimbulkan efek menekan pusat
pernafasan di medulla batang otak sehingga perlu pengkajian
secara teratur terhadap perubahan dalam status pernafasan jika
menggunakan analgesic jenis ini (Smeltzer & Bare, 2001)
b. Analgesik Non Narkotik
Analgesik non narkotik seperti aspirin, asetaminofen,
dan ibuprofen selain memiliki efek anti nyeri juga memiliki
efek anti inflamasi dan anti piretik. Obat golongan ini
menyebabkan penurunan nyeri dengan menghambat produksi
prostalgladin dari jaringan yang mengalami trauma atau inflasi
(Smeltzer & Bare, 2001). Efek samping yang paling umum
terjadi adalah gangguan pencernaan seperti adanya ulkus
gaster dan perdarahan gaster.
2) Non Farmatologi
a. Relaksasi Progresif
Relaksasi merupakan kebebasan mental dan fisik dari
ketegangan stress. Teknik relaksasi memberikan individu
control diri ketika terjadi rasa tidak nyaman atau nyeri,
stress fisik, dan emosi pada nyeri (Potter & Perry, 2006)
b. Stimulasi Kutaneus Plasebo

Plasebo merupakan zat tanpa kegiatan farmakologik dalam


bentuk yang dikenal oleh klien sebagai obat seperti kapsul,
cairan injeksi, dan sebagainya. Placebo umumnya terdiri
dari larutan gula, larutan salin normal, atau air biasa
(Tamsuri, 2007)
c. Teknik Distraksi
Distraksi merupakan metode untuk menghilangkan nyeri
denan cara mengalihkan perhatian pasien pada hal-hal yang
lain sehingga pasien akan lupa terhadap nyeri yang dialami.
(Priharto, 1996)
g. Faktor-faktor yan mempengaruhi nyeri
1) Usia
Usia merupakan variable penting yang memengaruhi nyeri,
khususnya pada anak-anak dan lansia. Anak kecil mempunyai
kesulitan memahami nyeri dan prosedur yang dilakukan perawat
yang menyebabkan nyeri. Anak-anak juga mengalami kesulitan
secara verbal dalam mengungkapkan dan mengekspresikan nyeri.
Sedangkan pasien yang berusia lanjut, memiliki resiko tinggi
mengalami situasi yang membuat mereka merasakan nyeri akibat
adanya komplikasi penyakit dan degenerative.
2) Jenis Kelamin
Beberapa kebudayaan yang mempenaruhi jenis kelamin misalnya
menganggap bahwa seorang anak laki-laki harus berani tidak boleh
menangis, sedangkan anak perempuan boleh menanis dalam situasi
yang sama. Namun secara umum, pria dan wanita tidak berbeda
secara bermakna dalam berespon terhadap nyeri.
3) Kebudayaan
Beberapa kebudayaan yakin bahwa memperlihatkan nyeri adalah
sesuatu alamiah. Kebudayaan lain cenderung untuk melatih
perilaku yang tertutup (introvert). Sosialisasi budaya menentukan
perilaku psikologis seseorang. Dengan demikian hal ini dapat
memengaruhi pengeluaran fisiologis opiabuh endogen sehingga
terjadilah persepsi nyeri.
4) Makna Nyeri
Individu akan mempersepsikan nyeri berbeda-beda apabila nyeri
tersebut memberi kesan ancaman, suatu kehilangan, hukuman dan

tantanan. Makna nyeri mempengarihi pengalaman nyeri dan cara


seseorang beradaptasi terhadap nyeri.
5) Perhatian
Tingkat seorang pasien memfokuskan perhatiannya pada nyeri
dapat mempengaruhi persepsi nyeri. Perhatian yang meningkat
dihubungkan dengan nyeri yang meningkat sedangkan upaya
pengalihan (distraksi) dihubungkan dengan respon nyeri yang
menurun.
6) Ansietas
Ansietas sering kali meningkatkan persepsi nyeri tetapi nyeri juga
dapat menimbulkan suatu perasaan ansietas. Apabila rasa cemas
tidak mendapat perhatian dapat menimbulkan suatu masalah
penatalaksanaan nyeri yang serius.
7) Keletihan
Rasa kelelahan menyebabkan sensasi nyeri semakin intensif dan
menurunkan kemampuan koping sehingga meningkatkan persepsi
nyeri
8) Pengalaman sebelumnya
Setiap individu belajar dari pengalaman nyeri sebelumnya namun
tidak selalu berarti bahwa individu tersebut akan menerima nyeri
dengan lebih mudah di waktu yang akan dating.
9) Gaya Koping
Individu yang memiliki lokus kendali internal mempersepsikan diri
mereka sebagai individu yang dapat mengendalikan lingkungan
mereka dan hasil akhir suatu peristiwa seperti nyeri. Sebaliknya,
individu yang memiliki lokus kendali eksternal mempersepsikan
factor lain di dalam lingkungan mereka seperti perawat sebagai
individu yang bertanggung jawab terhadap hasil akhir suatu
peristiwa.
10) Dukungan Keluarga dan Sosial
Kehadiran orang-orang terdekat pasien dan bagaimana sikap
mereka terhadap pasien mempengaruhi respon nyeri pasien dengan
nyeri memerlukan dukungan bantuan dan perlindungan walaupun
nyeri tetap dirasakan namun kehadiran orang yang dicintai akan
meminimalkan kesepian dan ketakutan. (Potter & Perry, 2006)