Anda di halaman 1dari 5

SPASMOFILIA

PENDAHULUAN
Spasmofilia merupakan istilah yang sangat popular pada permulaan abad 20 dan
masih sering digunakan , di mana keadaan ini merujuk pada suatu keadaan
terdapatnya gejala subjektif yang samar-samar berupa nyeri perut, nyeri kepala,
kelelahan, gugup, vertigo, kesemutan, berdebar, sesak, tercekik, muntah,
kehilangan berat badan, nyeri punggung dan nyeri haid yang disertai tandatanda tetani laten dengan atau tanpa memperlihatkan telani hiperventilasi.
Tetani laten adalah suatu keadaan di mana saraf sargat peka terhadap keadaan
iskemik (tanda Trousseau, spasme karpal), perkusi saraf (tanda Chvostek),
stimulasi listrik (tanda Erb), atau alkalosis (spasme karpal) dan tanda-tanda ini
sangat umum didapat pada, orang-orang yang mengalami tetani oleh sebab
apapun.

Dalam kamus kedokteran, spasmofilia diartikan sebagai


suatu keadaan di mana saraf motorik memperlihatkan
sensitivitas yang abnormal terhadap rangsangan
mekanik atau listrik dan penderita menunjukkan
kemudahan untuk mendapatkan spasme, tetani dan
kejang. Spasmofilia atau tetani laten, telah lama dikenal sebagai gangguan
neurovegetatif yang ditandai suatu keadaan hiperiritatif neuromuskuler disertai
tanda klinis, listrik dan humoral yang khas. Di sini keadaan

hiperiritatif neuromuskuler
merupakan sifat dasar
spasmofilia. Pada keadaan spasmofilia ditemukan hipokalsemi
sebagai inti gangguan pada susunan saraf, walaupun pada keadaan tetani laten
yang idiopati kadar kalsium dalam darah hampir selalu normal sehingga bentuk
ini dinamakan juga spasmofilia.
Keadaan hiperiritatif susunan saraf pada spasmofilia sangat mencolok, hal ini
tampak bahwa kekuatan listrik galvanik terkecil masih memberikan suatu reaksi.
Spasmofilia yang merupakan suatu keadaan hiperiritabel neuromuskuler dan
memberikan beragam gambaran klinis dapat dideteksi dengan baik oleh alat
elektromiografi.
Pada pemeriksaan elektromiografi stimulus atau rangsangan akan menimbulkan
suatu potensial berupa gelombang listrik. Intensitas rangsangan supra maksimal
yang berbeda dapat memberi gelombang potensial listrik yang berbeda pula.
Penderita tertentu dapat sangat peka terhadap stimulasi listrik dan hal ini
berkaitan dengan keadaan spasmofilia atau tetani laten.
PATOFISIOLOGI
Hipokalsemia yang sering terjadi pada spasmofilia atau tetani laten terjadi akibat
kelainan sistem regulasi homeostatik konsentrasi kalsium darah. Di dalam darah,
45% total kalsium darah terikat dengan albumin, 10% sebagai ion kompleks dan

45% sisanya dalam bentuk ion. Fraksi ion yang diatur oleh hormon paratiroid dan
vitamin D ini ternyata sangat berpengaruh terhadap fungsi neuromuskuler dan
neuropsikiatrik. Secara fisiologis dan klinis, hipokalsemi sering terjadi karena
kekurangan hormon paratiroid, vitamin D, metabolit aktifnya atau respon yang
abnormal dari tulang, usus dan ginjal (target organ). Gejala dan tanda akan
limbul bila konsentrasi ion kalsium dalam darah di bawah 4 mg/dl atau 2 meg/l,
dan ini kira-kira kurang dari 8 mg/dl total kalsium. Pada hipokalsemi yang kronik,
sering didapatkan kadar kalsium darah sekitar 5-6 mg/dl dan ini biasanya
asimptomatik.
Rangsangan neuromuskuler diatur menurut hukum LOEB di mana ada
keseimbangan antara ion K, Na, OH di satu pihak dengan ion Ca, Mg, H di lain
pihak. Penurunan kadar kalsium atau jumlah kalsium total dalam darah akan
menuju ke arah hipereksitasi dalam arti praktis hanya perlu pemeriksaan
hipokalsemi yang merupakan tanda pokok.
Tempat asal aktivitas tetani masih diselidiki, yang jelas bahwa tempatnya
bukanlah pada otot itu sendiri dan diduga jaringan saraf yang berperan dalam
aktivitas tetani adalah pusat spinal, motor end plate atau motorneuron di kornu
anterior, sedangkan para psikolog menganggap bahwa hiperiritabel
neuromuskuler merupakan suatu fenomena perifer yang meliputi motorneuron
sampai motor end plate.
Konsentrasi kalsium pada cairan serebrospinalis ternyata tetap konstan pada
keadaan hipokalsemi dan hiperkalsemi, di sini mungkin faktor lain berperanan
penting dalam mengatur jumlah kalsium pada jaringan otak. Perubahan kadar
kalsium ternyata tidak menunjukkan perubahan pada elektroensefalografi.
Keluhan neurologi atau neuromuskuler paling sering sebagai manifestasi dari
keadaan hipokalsemi kronis yang tidak diobati.
GAMBARAN KLINIS
Gejala klinis yang sering dikeluhkan sangat bervariasi dan tidak khas misalnya,
spasme laring, spasme karpopedal, epilepsi, migren psikotik, nyeri perut, nyeri
kepala, kelelahan, ketakutan, emosi labil, vertigo, nyeri haid, kram otot, dan
lainnya.
Serangan yang khas biasanya didahului oleh perasaan tingling pada ekstremitas
terutama tangan dan daerah mulut disertai oleh parestesi di bibir dan lidah.
Perasaan tingling ini bertambah nyata dan menyebar ke proksimal sampai
daerah muka, beberapa saat kemudian timbul rasa tegang dan spasme pada
otot-otot mulut, tangan dan tungkai bawah. Keadaan spasme ini juga meluas
sampai ke muka bahkan ke bagian tubuh lainnya.
Kontraksi tonik pada otot-otot distal lengan dan otot-otot interosel menyebabkan
gambaran spasme karpopedal di mana jari-jari dalam keadaan fleksi pada
persendian metakarpofalangeal dan ekstensi pada sendi interfalangeal. Jari-jari
dalam keadaan aduksi dan ibu jari dalam keadaan aduksi dan ekstensi
sedangkan pada kaki dijumpai plantar fleksi dipergelangan kaki dan aduksi jarijari kaki.
Pada rangsangan yang lebih hebat, otot-otot yang spasme menjadi lebih luas,
pada ekstrimitas atas siku menjadi fleksi; dan bahu mengalami aduksi. Pada
tungkai terjadi fleksi sendi lutut dan aduksi paha. Otot-otot kepala juga
mcngalarni spasme dengan trismus dan retraksi pada sudut mulut (risus

sardonikus) mata agak tertutup (blefarospasme) dan bila otot-otot bulber kena
terutama laring maka terjadi laringospasme dengan stridor. Spasme pada otototot tubuh dan leher rnemberi gambaran opistotonus serta sering didapatkan
kejang tonik klonik.
Dalam bentuk yang laten dapat memberi gambaran hiperiritabel neuromuskuler
dalam beberapa bentuk yaitu bentuk viseral berupa gangguan digestif dengan
kolik lambung dan muntah, bentuk neurologis berupa serangan tetani dengan
kejang epilepsi dan penurunan kesadaran, sakit kepala, sedangkan bentuk lain
berupa bentuk neuropsikotik.
ETIOLOGI
Meskipun pengaruh faktor-faktor psikik sangat jelas, namun tidak dapat
dianggap sebagai suatu penyakit neurotik atau neurastenik. Dengan
ditemukannya hipokalsemia dan hipomagnesia pada para penderita spasmofilia
harus difikirkan adanya suatu gangguan metabolik dari kation-kation tersebut
pada susunan saraf sebagai inti gangguannya.
Hipokalsemi dapat disebabkan oleh keadaan-keadaan defisiensi vitamin D,
defisiensi hormon paratiroid, pankreatitis akut, hiperfostatemia, defisiensi
magnesium, sekresi berIebih hormon adrenokortikal, keganasan, sindrom
nefrotik, obat-obatan, transfusi darah, kehilangan kalsium melalui urin, kondisi
alkalosis (alkali, hiperventilasi, obstruksi saluran cerna), kebutuhan kalsium yang
meningkat dan sepsis.
PEMERIKSAAN
Selain pemeriksaan elektromiografi pada penderita spasmofilia, dapat diperiksa
lebih dahulu tanda fisik yang berhubungan dengan hiperiritabel sistem
neuromuskuler.
Pemeriksaan tersel)ut antara lain: tanda Erbs (arus galvanik), tanda Hoffman
(mekanik, elektris, tanda Kashida (termik), tanda Pool (tegangan), tanda
Schlesinger (tegangan), tanda Schultze (ketukan), tanda Lust (ketukan) dan
tanda Hochisngers.
Salah satu tanda yang penting adalah tanda Chvostek yang ditimbulkan melalui
ketukan pada bagian lunak dari pertengahan garis ujung telinga ke ujung mulut
tepat di bawah apophyse zygomaticus. Reaksi positif terdiri atas kontraksi
muskulus orbikularis oris yang terutama nyata pada bagian tengah bibir. Bila
tanda ini meragukan sebaiknya dilakukan dahulu hiperventilasi. Tanda Chvostek
ini dikenal ada 3 tingkatan yaitu :
1. bila reaksinya hanya di bibir
2. bila reaksinya menjalar ke ujung hidung
3. bila seluruh muka ikut berkontraksi
Tanda lain yang tak kalah pentingnya adalah tanda Trousseau, kompresi lengan
atas, baik dengan cara meremas atau mengikat dengan torniket atau manset
tensimeter, di mana mula-mula timbul rasa kesemutan pada distal ekstremitas,
kemudian timbul kejang pada jari-jari dan tangan yang membentuk suatu konus.
Modifikasi tehnik ini dengan tehnik Von Bonsdorff di mana manset tensimeter
diperrtahankan selama 10 menit kemudian dibuka dan dilakukan hiperventilasi
akan mengakibatkan spasme yang khas (spasme karpopedal) yang lebih cepat
pada lengan yang iskemik dibanding dengan lengan yang lain.
ELEKTROMIOGRAFI

Turpin dan Kugelberg adalah orang yang pertama kali meneliti tentang
elektromiografi pada penderita tetani.
Spasme pada tetani selain disertai aksi potensial yang repetitif dan ireguler pada
motor unit, dan pada saat tetani selalu motor unit potensial akan melepaskan
muatan secara spontan berkekuatan 5-15 Hz.
Gambaran elektromiografi pada spasmofilia merupakan gambaran yang khas
dari manifestasi neuromuskuler perifer dan dimulai dengan adanya fibrilasi dan
fasikulasi serta bersamaan dengan meningkatnya frekuensi akan terlihat
twitching otot.
Gambaran khas tersebut berupa gambaran-gambaran doublets, triplets, bahkan
multiplets, pada monitor yang merupakan potensial aksi yang repetitif di mana
gelombang yang belakangan cenderung mempunyai amplitudo yang lebih besar.
Gambaran ini diduga ada hubungannya dengan tempat di kornu anterior dan
beberapa peneliti menduga hal ini sebagai suatu fenomena perifer yang meliputi
motor neuron sampai motor end plate, walaupun secara keseluruhan belum jelas
benar mekanismenya.
Gambaran elektromiografi yang khas ini tidak pada keadaan hiperiritabel
lainnya.
Derajat spasmofilia dapat dibagi dalam beberapa tingkat dengan melihal
gambaran elektromlografi yang dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan
Trousseau dan hiperventilasi yaitu ringan, sedang, berat dan sangat berat.
+ ringan : 2-6 potensial repetitif yang berlangsung selama masa lebih dari 2
menit setelah hiperventilasi.
++ sedang : banyak kelompok potensial repetitif yang berlangsung lebih dari 2
menit setelah hiperveutilasl atau 2-6 potensial repetitif selama masa lebih dari 2
menit setelah iskemik.
+++ berat : tetani yang nyata setelah hiperventilasi atau lebih dari 6 kelompok
potensial repetitif permenit selama sekurang - kurangnya 2 menit setelah
iskemik 10 menit.
++++ sangat berat : tetani yang nyata atau kelompok potensial repetitif yang
terjadi selama fase iskemik
Gambar spasmofilia
DIAGNOSIS SPASMOFILIA
Diagnosis spasmofilia dapat ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik
neurologis dan laboratoris, pemeriksaan penunjang elektromiografi.
Pada anamnesis, didapatkan penderita dengan keluhan-keluhan nyeri kepala,
nyeri perut, nyeri haid, kram otot, epilepsi, migren, vertigo, ketakutan emosi
yang labil, kesemutan, bahkan pada penderita dengan gejala-gejala psikotik.
Dari pemeriksaan fisik neurologis sangat mungkin timbul tanda-tanda
hiperiritabel neuromuskuler. Di samping tanda-tanda Erbs, Hoffman, Weiss, Lust
dan lain-lain, yang sangat penting adaah tanda fasial dari Chvostek, tanda
Trousseau, serta pemeriksaan hiperventilasi.
Pemeriksaan laboratoris terutarna ditunjukkan pada pemeriksaan ion-ion
kalsium, magnesium serta pemeriksaan lain misalnya kalium, fosfat dan analisa
gas darah.

Yang paling penting adalah pemeriksaan elektromiografi di mana gambaran


doublets, triplets dan multiplets yang merupakan manifestasi hiperiritabel saraf
dan sensitivitas saraf adalah khas untuk spasmofilia.
PENGOBATAN
Pada keadaan akut dapat diberikan kalsium, terutama kalsium glukonas 10%
sebanyak 10-20 mililiter intravena atau secara oral diberikan kalsium laktat 12
gram/hari atau kalsium glukonas 16 gram/hari. Bila hipokalsemi sangat berat
dapat diberikan 100 milliliter kalsium glukonas 10% dalam 1 liter dektrose 5%
secara lambat, lebih dari 4 jam.
Bila masih belum dapat mengatasi tetani, dapat diberikan magnesium karena
tetani sering berhubungan dengan hipomagnesia dengan dosis 2 mililiter
magnesium sulfat 50% secara intra muskuler.
Di samping hal tersebut di atas, dapat diberikan juga hidroklortiazid (HCT)
dengan dosis 50-100 miligram/hari, vitamin D, koreksi pH darah bila ada
alkalosis dan hormon paratirold.
Sebagai tambahan dapat diberikan obat-obat penenang. Tizanidine, bekerja
sebagai miotonolitik untuk mengatasi spasme dan juga berefek analgesik.

Anda mungkin juga menyukai