Anda di halaman 1dari 7

ABSES PERITONSILER BILATERAL

KOMPLIKASI DARI TONSILITIS AKUT


Point kunci

Abses peritonsiler berpotenis mengancam kehidupan dengan menginfeksi leher bagian dalam
pada orang dewasa yang diakibatkan oleh komplikasi tonsillitis akut
Pembengakan bilateral langit-langit dengan garis tengah uvula dapat mengindikasi terjadinya
abses peritonsiler bilateral.
Contrast-enhanced computed tomography dapat dipertimbangkan sebagai penilaian pada
pasien dengan tanda dan gejala yang dicurigai abses peritonsiler bilateral.
Pasien dengan suspek abses peritonseler bilateral memerlukan penilaian otolaringologik
dengan segera.

Perempuan usia 24 tahun datang ke departemen gawatdarurat dengan riwayat selama tiga
hari nyeri tenggorokan yang semakin memburuk dengan nyeri menelan dan demam. pasien telah
dilihat oleh dokter layanan primer sehari sebelum datang dengan keluhan nyeri tenggorokan dan
demam dan telah diberikan obat amoxicillin. Tidak ada riwayat tonislitis berulang, abses
peritonsiler dan alergi obat.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan suhu 39,8C, nadi 90 x/menit, respirasi 24 x/menit,
dan tekanan darah 110/70 mmHg. Pasien berbicara dengan suara yang redup tanpa stridor kuat
atau respiratory distress. Pemeriksan rongga mulut dan orofaring terlihat moderet trismus dengan
penuh saliva, pembesaran yang simetris dan terdapat inflamasi pada tonsil,dan udem bilateral
dengan penonjolan langit langit pada garis tengah uvula ( gambar 1). Terdapat pula
limfadenopati submandibular bilateral.

Gambar 1 : rongga mulut dan orofaring pada perempuan usia 24 tahun


dengan nyeri tenggorokan yang semakin memburuk, odinofagia dan demam, terlihat
penuh saliva dan udem bilateral; dan bengkak pada langit-langit dengan (panah) dengan
garis tengah pada uvula (bintang)
1

Pemeriksaan darah lengkap menunjukan jumlah leukosit 17.6 (normal 4.511.0) 10 9/L
dengan peningkatan jumlah neutrophil absolut 15.7 (normal 1.88.1) 109/L. jumlah limfosit
absolut dan jumlah monosit dalam batas normal. C-reactive protein level 3926.8 (normal < 47.6)
nmol/L. Tes monospot tidak dilakukan. Ketika pasien datang ke departemen kegawatdaruratan
pasien diberikan cairan intravena dan amxicillin-asam clavulanic IV dengan diagnosis sementara
abses peritonsiler.
Contrast-enhanced computed tomography leher menunjukan masa hipodens bilateral
dengan pinggir yang menipis meninggi di kutub superior peritonsiler dengan ukuran 2.6 1.8 cm
dan 0.8 0.8 cm, berturut-turut ( gambar 2A). Konsistensi dengan abses peritonsiler bilateral.
Pasien menjalani aspirasi jarum oleh spesialis otolaringologi; terdapat 10 ml material purulent
dari sisi kiri dan 3 ml dari sisi kanan. Kultur dari aspirasi didapatkan pertumbuhan Acinetobacter
baumannii, yang resisten terhadap ampislin dan rentan terhadap ampicillinsulbactam. Pasien
dibekali amoxicillin asam clavulanic selama 14 hari. Pasien dikatakan sembuh dan tidak ada
tanda rekuren selam 6 minggu.

Gambar 2 : Contrast-enhanced computed tomographic scan pada kepala


meperlihatkan garis tengah uvula (bintang) dan masa hipodens bilateral (panah) dengan
pinggir tipis yang meninggi (A) di kutub superior daerah peritonsiler dan (B)
memperpanjang bawah daerah peritonsiler dengan terlihat multilokular

Diskusi
Meskipun tonsillitis akut selalu berjalan relative jinak. Komplikasi mungkin dapat terjadi
(kotak 1). Ini dapat menjadi mengancam hidup jika penatalaksanaan terlambat atau tidak
adekuat. Pada keadaan tertentu terjadi saluran nafas yang berbahaya dapat terjadi dari epiglottis
atau laring yang udem; leher bagian dalam berupa abses pada ruang peritonsiler, parafaringeal
atau retofaringeal dan mediastinitis. Komplikasi lain yang berhubungan dengan inflamasi
berulang, septicemia atau pengobatan infeksi faring oleh group A streptococcal -hemolytic
dapat juga menjadi penyebab tingginya mobiditas dan mortalitas.
Kotak 1 : komplikasi tonsillitis akut

abses bilateral atau unilateral


abses parafaringela
abses retofaringeal
mediastinitis ( turun nekrosisi mediastinitis )
edema epligotis, laring atau keduanya
bakterimea dengan metastasis, sepsis atau keduanya
thrombosis vena intracranial
thrombosis aretri karotis
Lemierre syndrome ( tromboflebitis vena jugular interna )
pseudoaneuris internal atau eksternal arteri karotis
nonsupertif sekuele infeksi group A streptococcal ( demam rematik, glomerulusnefritis
akut atau guttate psoriasis )
inflamasi tortikolis, Grisel syndrome atau keduanya

Epidemiologi abses peritonsiler


Abses peritonsiler adalah kumpulan pus didalam ruangan antara tonsil dan muskulus
konstriktor superior, banyak kejadian dari abses peritonsiler adalah polimikroba, dengan
organisme campuran aerob dan anaerob.yang paling umum adalah aerob berupa Streptococcus
pyogenes dan Streptococcus viridans, walaupun Fusobacterium dan Bacteroides yang paling
umum terjadi pada anaerob. Tipe abses peritonsiler terjadi pada remaja dan dewasa muda.
Peritonsiler abses merupakan salah satu yang paling sering terjadi pada tonsillitis akut. Terdapat
sekitar 45000 kejadian setiap tahun di United States dan Puerto Rico. Kejadian tersebut biasanya
unilateral, dan klinisi membuktikan presentasi bilateral jarang terjadi. Sebenarnya frekuensi dari
abses peritonsiler bilateral tidak diketahui; tetapi, itu dapat dilihat dari taksiran dari 1,9 % sampai
24 % dalam penjelasan laporan tonsilektomi ( juga di ketahui sebagai abses tonsilektomi akut.
Yang mana tidak terduga abses kontralateral telah ditemukan selama oprasi.
Pada tinjauan literatur, kami menemukan laporan pada 10 pasien (Appendix 1, available
at www.cmaj.ca /lookup /suppl /doi: 10.1503 /cmaj.100066/-/DC1) dengan perjalanan klinis
mirip dengan pasien kami. Seperti pasien kami, pasien ini memiliki klinis yang jelas dengan
abses peritonsiler bilateral ( dalam kontras tak terduga abses peritonsiler ditemukan pada saat
peritonsiler tonsilektomi yang diduga abses peritonsiler unilateral). Berarti usia 22,7 (jarak 9-32)
3

tahun. Semua kecuali pasien yang memiliki penonjolan langit-langit bilateral dengan presentasi
garis tengah pada uvula. Enam kejadian didiagnosis oleh contrast-enhanced CT, dua oleh jarum
aspirasi, dan dua oleh insisi dan drainase. Penatalaksanaan awal memasukan jarum aspirasi
dalam empat kejadian, empat insisi dan drainase dan tonsilektomi qunsy ( pemindahan tonsil
untuk drainase abses ). Setelah dikeluarkan lima pasien menjalani tonsilektomi elektif, empat
telah di follow up ( dua sebelumnya telah menjalani tonsilektomi quinsy ), dan kemudian satu
pasien tidak dilaporkan.
Diagnosis abses peritonsiler
Diagnosis abses peritonsiler biasanya dibuat berdasarkan riwayat dan pemeriksaan fisik.
Pada unilateral atau bilateral abses, pasien dapat memperlihatkan dengan suara yang meredam,
odinofagia yang progresif, disfagia, otalgia, trismus, saliva yang penuh pada mulut, dan demam.
Pada abses unilateral. Intraoral klasik ditemukan penonjolan pada tonsil anterior dan berdekatan
langit-langit dengan kontralateral pada uvula.
Pasien dengan abases peritonsiler bilateral menunjukan suatu diagnostic yang dilemma,
karena tidak menunjukan tanda klasik asimetris pada abses peritonsilaer unilateral. Seperti
asimetris pada tonsil dan langit-langit, dan deviasi pada uvula. Garis tengah pada uvula
menunjukan tidak mengeluarkan kemungkinan abses pertonsiler. Garis tengah uvula dengan
penonjolan langit-langit tampak menjadi tanda kunci pada abses peritonsiler bilateral. Dapat
terlihat pada pasien kami dan dalam kasus pada literature. Meskipun persentasi ini tidak biasa
pada abses peritonsiler secara umum, ciri lain dari pemerksaan fisik pada pasien kami dapat
disarankan suatu penyakit dibutuhkan diagnosis kerja lebih lanjut. Persentasi dari trismus dan
suara yang meredam dan juga mengenai kedepanya yang memerlukan ketelitian kerja untu
scenario kasus yang salah.
Diagnosis banding abses peritonsiler bilateral
Pemeriksaan intraoral pada akut tonsillitis yang berat dan infeksi mononukleus dapat
seperti abses peritonsiler. Kondisi lain yang kurang umum dapat menjadi kebingungan dengan
abses peritosniler, seperti terlihat limfoma dengan pembesaran bilateral dan tonsil besar atau
tumor kelenjar saliva pada langit-langit.
Contrast-enhanced CT dapat menolong perbedaan abses peritonsiler bilateral dari
penyakit lain dan dapat dipertimbangkan, tidak hanya untuk mengkonfirmsi diagnosis, dapat
juga menyingkirkan komplikasi, perluasan kedalam ruangan leher atau penyakit lain. Karena
abses peritonsiler bilateral tidak spesifik, bukti untuk spesifik diagnosis ini terutama berdasarkan
laporan kasus. Namun aturan CT dalam mendiagnosis abses di daerah kepala dan leher tidak
dapat di pungkiri. Dalam keterangan dapat dibuktikan pada CT dalam menilai abses peritonsiler
bilateral. Orang dapat menyimpulkan bahwa itu sangat layak untuk digunakan tekologi yang
serupa untuk abses peritonsiler bilateral.
Penatalaksanaan
Abses peritonsiler adalah spesifik infeksi pada ruangan dalam leher. Itu sangat penting
didiagnosis dan diobati abses peritonsiler dengan cepat, dan dengan adekuat, sebagian untuk
4

mencegah obstruksi pernapasan, sebagian untuk menghindari perforasi abses kedalam ruang
parafaringeal dengan tersebar sepanjang pembuluh leher ke mediastinum atau dasar tengkorak.
Dalam penanganan infeksi leher bagian dalam, pertama dan paling penting dalam mengobati
abses peritonsiler adalah penangan langsung dari jalan nafas. Antibiotik secara empiris harus
segera dimulai.
Sewaktu-waktu abses telah dibentuk, terapi antibiotic saja dapat tidak adekuat dan bedah
drainase dapat diperlukan. Tida terdapat consensus yang ideal mengenai prosedur bedah pada
abses peritonsiler, insisi dan drainase dan tonsilektomi quinsy yang betul-betul dipertimbangkan
untuk menejemen pada abses peritonsiler akut. Berdasarkan bukti pada terapi abses peritonsiler
dilaporkan bahwa banyak tipe ditemukan tiga jalan sangat efektif untuk terapi abses peritonsiler
unilateral. Dan nilai kekambuhan setelah dilakunan prosedur ini rendah. Pelajaran terdahulu
cenderung untuk menekankan keselamatan pada tonsilektomi quinsy dan merupakan jenis yang
pasti untuk terapi abses peritonsiler. pelajaran secara empiris nanti kemajuan pada aspirasi jarum
atau insisi dan prosedur drainase. Pada decade baru aspirasi jarum telah menjadi favorit karena
bisa menjadi diagnosis dan terapi, dan memberikan bantuan segera dari gejala dengan laporan
95% sukses.
Dalam pandangan terbukti dalam keberhasilan aspirasi jarum dalam terapi abses
peritonsiler unilateral, satu menyimpulkan bahwa masuk akal untuk menggunakan teknis serupa
untuk abses peritonsiler bilateral dalam keadaan terkontrol. Karena resiko komplikasi dapat
menjadi tinggi dengan abses peritonsiler bilateral dibandingkan dengan penyakit unilateral.
Sewaktu observasi dengan penutupan jalan nafas aspirasi jarum sangat penting. Jika tidak ada
perbaikan, ulangi aspirasi, insisi dan drainase, bahkan tonsilektomi dapat dilakukan.
Tonsilektomi quinsy telah menjadi indikasi sebelumnya untuk pasien yang tidak berespon
terhadap terapi antibiotic secara intravena, aspirasi jarum, insisi dan drainase pada abses
peritonsiler. Itu juga dapat menilai klinis untuk penatalaksanaaan akut komplikasi yang parah
pada abses peritonsiler.jika sleep apneu atau obstruksi jalan nafas terjadi dalam abses peritonsiler
bilateral, tonsilektomi quinsy dapat perlu dipertimbangkan.
Meskipun pada pasien kami ditemukan pertumbuhan A. baumannii pada kultur, kami
tidak yakin bahwa organisme ini merupakan penyebabnya. Bakteri penyebab sebenarnya
mungkin tipe campuran dari streptococci atau anaerob. Kami memilih amoxicillin asam
clavulanic untuk menutupi group A -hemolytic streptococci, yang merupakan organisme yang
paling sering menjadi penyebab. Namun kami berfikir prosedur drainse bersifat mengobati.
Abses peritonsiler jarang terjadi, oleh karena itu tidak mungkin dapat dikembangkan
untuk menganalisis pilihan pengobatan. Pengobatan dengan kombinasi aspirasi jarum dan terapi
antibiotic telah sukses pada pasien kami, dengann tanpa komplikasi yang lebih lanjut.

JURNAL READING

ABSES PERITONSILER BILATERAL


KOMPLIKASI DARI TONSILITIS AKUT

Disusun oleh :
Regina Septiani 1102010234

Pembimbing :
dr. Zimacatra. Sp. THT

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI KEPANITERAAN


ILMU PENYAKIT TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROK
RSUD SOREANG BANDUNG
2015