Anda di halaman 1dari 11

3.

Perawatan Kelainan Periodontal pada Pasien Penyakit Tertentu


Pasien dengan penyakit tertentu mempunyai pertahanan tubuh yang kurang
baik sebagai hasil dari dasar immunodefisiensi atau pengadaan obat akibat penyakit
tersebut. Pasien dengan penyakit tertentu sangat rentan terkena infeksi, bahkan
infeksi kecil saat perawatan periodontal dapat membahayakan hidupnya.
Berikut adalah beberapa penyakit yang harus diperhatikan sebelum dilakukan
perawatan periodontal.
3.1 Hipertensi

Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskuler yang paling umum. Pada


awalnya hipertensi pada pasien dapat asimptomatis (tanpa gejala). Jika tidak
diidentifikasi dan didiagnosa, hipertensi dapat berlangsung lama dan meningkat
dalam keadaan yang lebih parah tingkatannya, mengarah pada akhirnya pada
penyakit coronary artery, angina, myocardial infarction, gagal jantung congestive,
peristiwa cerebrovascular atau gagal ginjal. Dokter gigi dapat memainkan peran
vital dalam mendeteksi hipertensi dan perawatannya dari pasien dengan penyakit
hipertensi. Kunjungan ke dokter gigi yang pertama kali harus termasuk pembacaan
dua tekanan darah dijangka waktu setidaknya 10 menit terpisah, yang dirata
ratakan dan digunakan sebagai dasar. Sebelum dokter mengarahkan pasien pada
dokter umum karena peningkatan tekanan darah, pembacaan harus dilakukannya
minimalnya dua kali pertemuan, kecuali pengukurannya sangat tinggi ( yaitu tekanan
systolic > 180 mm Hg atau tekanan diastolic > 100 mm Hg).
Perawatan gigi untuk pasien hipertensi secara umum aman selama stress
diminimalkan. Jika pasien baru baru ini menerima terapi antihipertensif, konsultasi
dengan dokter dapat menjamin mengenai status medis terbaru, medikasi, rencana
perawatan periodontal dan manajemen pasien. Banyak dokter tidak mengetahui
tentang prosedur spesifik perawatan periodontal. Dokter gigi harus
menginformasikan dokter mengenai perkiraan tingkat stress, lamanya prosedur dan
kompleksitas. Pertemuan perawatan gigi pada pagi hari telah disarankan untuk
pasien hipertensif. Akan tetapi, bukti terbaru mengindikasikan bahwa tekanan darah
secara umum meningkat ketika bangun dan memuncak di pertengahan pagi. Level
tekanan darah rendah terjadi di sore hari; karena itu sore hari perawatan gigi dapat
dilakukan.
Tidak ada perawatan periodontal rutin yang harus diberikan pada pasien yang
hipertensif dan tidak dalam manajemen medis. Untuk pasien dengan tekanan darah
systolic lebih besar daripada 180 mm Hg atau tekanan darah diastolic lebih besar
daripada 110 mm Hg, perlakuan harus dibatasi pada perawatan emergensi hingga
hipertensi dikendalikan. Analgesik diberikan untuk rasa sakit dan antibiotik untuk
infeksi. Pada infeksi akut dapat dilakukan operasi dan drainase, meskipun bidang
operasi harus dibatasi karena pendarahan berlebih dapat dilihat dengan peningkatan
tekanan darah.

Ketika merawat pasien hipertensif, dokter seharusnya tidak menggunakan


anastesi local yang mengandung konsentrasi epinephrine lebih besar dari 1:100.000,
seharusnya vasopressor digunakan untuk mengendalikan pendarahan lokal. Anestesia
lokal tanpa epinephrine dapat digunakan untuk prosedur singkat (<30 menit). Pada
pasien dengan penyakit hipertensif, bagaimanapun, adalah penting untuk
meminimalkan sakit dengan memberikan anestesia lokal utama untuk menghindari
peningkatan dalam sekresi epinephrine endogenous. Jika pasien hipertensif
menunjukan kegelisahan, penggunaan sedasi sadar dalam hubungannya dengan
prosedur periodontal dapat dijamin.
Pengobatan antihipertensif dapat menyebabkan berbagai efek samping.
Postural hypotension umumnya sering terjadi dan dapat diminimalkan dengan
merubah posisi duduk pada dental chair. Depresi adalah efek samping yang tidak
disadari yang banyak terjadi pada pasien. Nausea, sedasi, oral drayness, reaksi
lichenoid drug dan pertumbuhan gingival yang berlebih berhubungan dengan kelas
tertentu dari agen antihipertensif.
3.2 Diabetes
Pasien diabetes memerlukan tindakan pencegahan sebelum terapi periodontal.
Jika dokter mendeteksi tanda tanda intraoral dari kendali diabetes yang tidak
terdiagnosis atau tidak terkontrol, cacatan medik menyeluruh perlu diindikasikan.
Tanda tanda umum dari diabetes termasuk polydipsia, polyuria dan polyphagia.
Jika pasien mempunyai tanda tanda dan gejala ini dapat dilakukan pemeriksaan
penunjang dengan studi laboratorium dan konsultasi dokter perlu diindikasikan.
Kemungkingan berhasilnya terapi periodontal sangatlah tergantung dari gejala-gejala
yang tidak terdiagnosa atau pengendalian diabetes yang kurang baik.
Jika pasien dicurigai mempunyai diabetes tidak terdiagnosis, prosedur berikut
harus dilakukan:
1. Konsultasikan dengan dokter prenyakit dalam.
2. Analisis tes laboratorium membuat puasa glukosa darah dan glukosa kasual.
3. Aturan dari infeksi akut orofacial atau infeksi gigi akut; jika ada segera bawa
ke UGD.
4. Menetapkan kemungkinan terbaik kesehatan oral melalui debridement non
bedah pada plak dan calculus sesuai instruksi perawatan kebersihan mulut.
Batasi perawatan lebih lanjut sampai hasil diagnosa menunjukkan kestabilan
pada glycemin.
Jika pasien diketahui mengidap diabetes, penting untuk mengetahui kestabilan
gula darah sebelum memulai perawatan periodontal. Puasa glukosa dan tes glukosa
kasual memberikan gambaran dari tingkat konsentrasi glukosa darah pada saat darah
ditarik, tes ini mengungkapkan tidak ada apa-apa tentang kendali glycemic jangka
panjang. Tes primer digunakan untuk menilai kendali beragam dalam individidual
diabetik diketahui adalah glycosylated atau pengujian glycosylated hemoglobin (Hb).
Dua tes berbeda tersedia, uji Hb A1 dan HbA1c; HbA1c lebih sering digunakan.

Pengujian ini menggambarkan konsentrasi glukosa darah terhadap 6 hingga 8


minggu sebelumnya dan dapat memberikan indikasi respon potensial pada terapi
periodontal. Pasien dengan diabetes yang relatif terkendali baik (Hb A1c < 8%)
biasanya merespon hampir mendekati layaknya individu nondiabetes. Pasien yang
dengan pengendalian kurang baik (Hb A1c > 10%) sering mempunyai respon yang
buruk pada perawatan, dengan lebih banyak komplikasi paska operasi dan sedikit
hasil perubahan jangka panjang.
Infeksi periodontal dapat memperburuk kendali glycemic dan harus ditangani
serius. Pasien diabetes dengan periodontitis harus diberikan penangganan kebersihan
mulut, mekanisme debridement untuk menghilangkan faktor dalam dan perawatan
berkala. Jika memungkinkan, Hb A1c harus kurang dari 10% harus sebelum
perawatan operasi bedah dilakukan. Pemberian Antibiotic sistemik tidak perlu
dilakukan secara rutin, meskipun bukti terbaru mengindikasikan bahwa pemberian
antibiotik tetracyline saat melakukan scaling dan root planning dapat secara positif
mengendalikan glycemic. Jika pasien mempunyai tingkat gula darah yang tidak baik
sedangkan operasi sangat diperlukan, pemberian antibiotik prophylactic boleh
dilakukan; penisilin adalah obat yang paling sering digunakan dalam hal ini.
Evaluasi rutin setelah terapi aktif diperlukan untuk memantau hasil perawatan dan
pencegahan kekambuhan periodontitis.
Selain itu, hampir semua pasien diabetes menggunakan glucometers untuk
memantau kadar gula darah mereka. Alat ini menggunakan darah kapiler dari ujung
jari untuk memberikan informasi glukosa darah dalam sedetik. Pasien diabetik harus
ditanyakan apakah mereka mempunyai glucometers dan seberapa sering mereka
menggunakannya. Karena alat ini memberikan penilaian glukosa darah sangat cepat,
dan menguntungkan dalam bidang dokter gigi. Panduan berikut harus diamati:
1. Anjurkan pasien untuk membawa glucometer saat mengunjungi dokter gigi.
2. Pasien harus mengecek glukosa darah sebelum prosedur perawatan yang
panjang untuk mendapatkan level dasar. Pasien dengan level glukosa darah
dibawah atau lebih rendah dari tingkat normal sebelum perawatan dapat
menjadi intraoperatively hypoglycemic. Disarankan untuk membuat pasien
mengkonsumsi sebagian karbohidrat sebelum perawatan awal. Sebagai
contoh, jika prosedur diperkirakan berlangsung selama 2 jam dan
praperlakuan level glukosa adalah 70 mg/dl (lebih rendah dari tingkat
normal), berikan 4 oz jus praoperasi guna membantu mencegah hypoglycemia
selama perawatan. Jika hasil gula darah sangatl tinggi, dokter harus
menentukan apakah pasien mengontrol kadar gula darah dengan baik akhirakhir ini. Ini dapat dilakukan dengan menanyakan pasien secara detail dan
dengan mengambil hasil nilai HbA1c paling terbaru. Jika kendali glycemic
kurang baik selama beberapa bulan sebelumnya, prosedur perlu ditunda
hingga kadar gula darah lebih baik. Jika kadar gula darah terlihat normal dan
tingginya kadar gula darah karena beberapa asupan makanan sesaat
sebelumnya, prosedur operasi dapat dilanjutkan.

3. Jika prosedur berlangsung beberapa jam, sangatlah penting untuk mengecek


level glukosa selama perawatan untuk memastikan bahwa pasien tidak
mengalami hypoglycemic.
4. Setelah perawatan, glukosa darah dapat dicek lagi untuk menilai fluktuasi dari
waktu ke waktu.
5. Kapanpun pasien merasakan gejala hypoglycemia, glukosa darah harus dicek
segera. Ini dapat mencegah awal dari hypoglycemia akut, keadaan gawat
medis.
Komplikasi gigi yang paling umum terjadi pada pasien diabetes yang
mengkonsumsi insulin adalah simptomatis glukosa darah rendah atau hypoglycemia.
Hypoglycemia juga disebabkan karena penggunaan sejumlah obat. Pada pasien yang
diberikan sedasi sadar, tanda-tanda munculnya hypoglycemia dapat diatasi.
Hypoglycemia biasanya tidak muncul hingga kadar gula darah dibawah 60 mg/dl.
Akan tetapi, pada pasien dengan pengendalian glycemic yang kurang baik
hyperglycemia (level glukosa darah tinggi), penurunan tingkat glukosa darah yang
cepat dapat memicu tanda dan gejala hypoglycemia walaupun tingkat gula darah
diatas 60 mg/dl.
Hypoglycemia lebih umum terjadi pada pasien dengan kendali glycemic yang
baik. Dalam menjadwalkan perawatan gigi, lebih baik dijadwalkan sebelum atau
setelah puncak efek dari insulin. Hal ini memerlukan pengetahuan
pharmacodynamics dari obat yang digunakan oleh pasien diabetes.
Beberapa klasifikasi insulin, yakni reaksi cepat, reaksi singkat, reaksi
menengah maupun reaksi lama. Kategorinya beragam dalam gejala awal, puncak dan
durasi aktivitas. Penting bagi dokter untuk menetapkan dengan tepat insulin jenis apa
yang harus gunakan, tingkat dosis, dosis per hari dan lamanya. Perawatan
periodontal sering memakan waktu untuk menghindari aktivitas insulin puncak.
Banyak pasien diabetes menggunakan beragam injeksi setiap hari, sehingga
menyulitkan, dan tidak memungkinkan untuk menghindari aktivitas insulin puncak.
Lakukan pemeriksaan kadar gula darah dengan glucometer, cek lagi selama
perawatan yang berlangsung lama dan cek lagi pada setelah perawatan berakhir
karena dapat memberikan pemahaman lebih baik dari pharmacodynamic insulin
pasien dan membantu mencegah hypoglycemia.
Jika hypoglycemia terjadi selama perawatan gigi, perawatan harus segera
dihentikan. Jika glucometer tersedia, cek glukosa darah. Lakukan langkah-langkah
perawatan berikut.
1. Berikan sekitar 15 g dari oral carbohydrate pada pasien:

4 hingga 6 oz jus atau soda

Permen dengan 15 g kadar gula


2. Jika pasien tidak mampu untuk makan atau minum dengan mulut atau jika
pasien dalam keadaan bius.
Berikan 25 hingga 30 ml 50% dextrose secara intravenous (yang
menyediakan 12.5 pada 15.0 g dextrose), atau
Berikan 1 mg glucagon secara intravenous atau

Berikan 1 mg glucagon intramuscular atau secara subcutaneous (jika tidak


ada secara intravenous).
Kejadian fatal dari hyperglycemia sangatlah langka pada perawatan gigi.
Mereka secara umum membutuhkan waktu berharihari hingga berminggu-minggu
untuk berkembang. Akan tetapi, glucometer dapat digunakan mencegah
kemungkinan kritis hyperglycemic seperti diabetic ketoacidosis, penyakit yang
mengancam kehidupan.
Karena terapi periodontal dapat membuat pasien tidak mampu untuk makan
beberapa waktu, penyesuaian dosis insulin atau obat mulut lainnya harus
diperhatikan. Sangatlah penting untuk makan sebelum dilakukan perawatan.
Penggunaan insulin tanpa makan menjadi penyebab utama hypoglycemia. Jika pasien
tidak diizinkan untuk makan sebelum perawatan, dosis insulin yang digunakan perlu
dikurangi. Sebagai panduan umum, pasien diabetes dengan kadar gula yang
terkendalai dan melakukan perawatan gigi rutin dapat menggunakan dosis insulin
yang normal sebelum perawatan selama pasien mengkonsumsi makanan secara
teratur. Jika perawatan berlangsung lama, dosis insulinnya dapat dikurangi.
Demikian juga, jika pasien akan mempunyai batasan makanan setelah perawatan,
dosis insulin atau sulfonylurea dosis dapat dikurangi.
Konsultasi dengan dokter penyakit dalam sangatlah bijaksana dan
memungkinkan para dokter untuk meninjau ajuan rencana perawatan dan
menentukan modifikasi diperlukan. Ketika operasi bedah periodontal dilakukan,
sebaiknya mengurangi ukuran dari bidang operasi sehingga pasien akan menjadi
nyaman untuk makan lagi dengan normal sesegera mungkin.

3.3 Leukimia
Perubahan perawatan periodontal bagi pasien dengan leukimia berdasarkan
pada peningkatan kerentanan infeksi perdarahan dan efek dari kemoterapi. Langkah
perawatan untuk pasien leukimia adalah sebagaimana berikut:
1. Rujuk pasien untuk melakukan evaluasi medis dan perawatan. Kerjasama
yang baik dengan dokter terkait sangat diperlukan.
2. Sebelum kemoterapi, rencana perawatan periodontal lengkap harus
dikembangkan dengan dokter terkait.
Pantau hasil tes laboratorium hematology setiap hari; lamanya waktu
pendarahan, lamanya waktu koagulasi, PT, dan jumlah trombosit.
Sediakan cakupan antibiotik sebelum perawatan periodontal karena infeksi
merupakan kekhawatiran utama.
Lakukan pencabutan gigi yang tidak tertolong lagi, gigi yang sudah tidak
bisa dikontrol perawatannya, gigi yang berpotensial terinfeksi setidaknya
10 hari sebelum memulai kemoterapi, jika kondisi sistemik mengizinkan.
Periodontal debridement (scaling dan root planing) harus dilakukan dan
perawatan kebersihan mulut dilakukan jika kondisi pasien memungkinkan.
Pembersihan dua kali sehari dengan chlorhexidine gluconate kadar 0.12%

3.

4.

5.

6.

direkomendasikan setelah prosedur perawatan kebersihan mulut.


Mengenali potensi pendarahan yang disebabkan oleh thrombocypenia.
Lakukan penekanan dan agen hemostatis topis sebagai indikator.
Selama tahap akut leukimia, pasien harus menerima hanya perawatan
periodontal yang bersifat darurat. Sumber infeksi potensial harus dihilangkan
untuk mencegah penyebaran sistemik. Terapi antibiotik sering menjadi pilihan
dalam perawatan.
Oral ulceration dan mucositis diperlakukan secara palliative dengan obat
seperti viscous lidocaine. Antibiotik sistemik dapat diindikasikan untuk
mencegah infeksi sekunder.
Oral candidiasis umum terjadi pada pasien leukimia dan dapat ditangani
dengan nystatin suspensions (100.00 U/ml empat kali sehari) atau
clotrimazole vainal suppositories (10 mg empat atau lima kali sehari).
Bagi pasien dengan leukimia kronis dan mereka yang dalam remisi, scaling
dan rgoot planing dapat dilakukan tanpa komplikasi, tetapi terapi periodontal
harus dihindari jika memungkinkan.
Jumlah trombosit dan lamanya waktu pendarahan harus diukur pada hari
prosedur. Jika rendah, tunda pengadaan dan minta pasien pergi ke dokter
terkait.

3.4 Hepatitis
Hingga sekarang, enam virus khusus penyebab viral hepatitis telah dikenali:
Hepatitis virus A, B, C, D dan E dan G. Selain itu, deoxyribo nucleic acid (DNA)
beruntai tunggal diketahui sebagai virus transfusion-transmitted baru-baru ini yang
telah dikenali dalam kasus akut dan hepatitis kronis, perannya sebagai agen etiologic
masih belum ditentukan. Bentuk dari viral hepatitis berbeda dalam virologinya,
epidemologi dan prophylaxi. Karena mayoritas dari infeksi hepatitis tidak
terdiagnosa, dokter harus waspada akan grup resiko tinggi, seperti pasien dialisis
ginjal, pekerja perawatan kesehatan, pasien immunosuppresed, pasien yang
menerima beragam transfusi darah, pasien yang telah menerima beragam transfusi
darah, homoseksual, pengguna narkoba, dan pasien kelembagaan.
Hepatitis A Virus (HAV) dan hepatitis E virus (HEV) adalah infeksi terbatas
yang tidak ada kaitannya dengan penyakit liver kronis. Virus ini umumnya ditularkan
memalui fecal-oral. Transmisi HAV di Amerika biasanya berjangkit kedekatan
dindividu se-rumah, seksual, atau kontak pusat perawatan. Sebaliknya, HEV
ditularkan melalui fecal, yakni air minum. Saat ini, vaksinasi yang ada hanya untuk
infeksi HAV tetapi bukan infeksi HEV.
Infeksi hepatitis B virus (HBV) menimbulkan penyakit liver kronis dan
keadaan carrier kronis. Infeksi HBV kronis berkembang sekitar 5% hingga 10% pada
individual yang terjangkit, dimana lebih tinggi diantara bayi dan anak-anak. Karena
ditransmisikan secara khusus melalui rute hematogenous, HBV mendapatkan
perhatian utama bagi para pekerja perawatan kesehatan, tingkat tertinggi dari infeksi

HBV ditemukan diantara dokter gigi dan operasi mulut. Luka percutaneous atau
permucosal dengan instrumen kontaminasi atau jarum adalah media paling umum
penularan infeksi bagi dokter gigi. HBV vaksin direkomendasikan untuk semua
pekerja pelayanan kesehatan.
Hepatitis D virus (HDV) adalah virus defective yang memerlukan kehadiran
dari HBV untuk kelangsungan hidupnya, replikasi dan infeksi. Material genetik
HDV dipakai dalam pelapisan antigen permukaan HBV. Maka, pencegahan infeksi
HDV sama halnya dengan pencegahan untuk HBV dan tergantung sepenuhnya pada
vaksinasi HBV. Setelah antibody terhadap HBV meningkat pada level protektif,
pasien juga terlindungi terhadap infeksi HDV.
Hepatitis C virus (HCV) adalah mungkin paling serius dari semua infeksi
hepatitis karena tingkat infeksi kronis. Hanya 15% pasien tertular dengan HCV pulih
sepenuhnya 85% berkembang menjadi infeksi kronis HCV, yang secara dramatis
meningkatkan resiko untuk cirrchosis, hepatocellular carcinoma dan gagal ginjal.
Bahkan, infeksi HCV adalah penyebab utama dari transplansi ginjal di Amerika.
Sayangnya, tidak ada vaksin tersedia untuk HCV. Karena HCV ditularkan secara
khusus melalui rute percutaneous atau permucosal, para pekerja bidang kesehatan
beresiko dari luka dengan alat yang terkontaminasi.
Hepatitis G virus (HGV) adalah ribonucleic acid (RNA) virus dan
epidemologinya dan virologi adalah tidak sepenuhnya dipahami. HCG jarang terjadi
sebagaimana infeksi solitary, biasanya nampak sebagai co-infection dengan hepatitis
A, B atau C. HGV diketahui ditularkan melalui darah dan telah sering dikaitkan
dengan transfuse darah.
Panduan berikut adalah ditawarkan untuk merawat pasien hepatitis:
1. Jika pasien tanpa melihat jenisnya, adalah positif mengidap hepatitis, jangan
lakukan perawatan periodontal kecuali situasinya darurat. Dalam kasus
darurat, ikuti protocol untuk pasien positif untuk hepatitis B surface antigen
(HbsAG)
2. Bagi pasien dengan riwayat penyakit hepatitis, konsultasikan dengan
dokternya untuk menentukan tipe hepatitis, aliran dan lamanya penyakit,
mode transmisi dan penyakit liver kronis lainnya atau keadaan viral carrier.
3. Untuk pasien rehabilitasi HAV atau HEV, lakukan perawatan periodontal
rutin.
4. Untuk pasien dalam rehabilitasi HBV dan HDV, konsultasikan dengan dokter
pasien dan sediakan HbsAg dan anti-HBs (antibody pada antigen permukaan
HBV) hasil tes laboratorium.
Jika HbsAg dan anti-HBs tes adalah negatif tetapi HBV diperkirakan ada,
lakukan penentuan lain dari HBS.
Pasien yang positif HbsAg adalah mungkin infektif (kronis carrier); tingkatan
infeksi diukur oleh penentuan HbsAg.
Pasien yang anti-HBs positif dapat dirawat secara rutin (mereka mempunyai
antibodi pada HbsAg)
Pasien yang HBsAg negatif dapat dirawat secara rutin.

5. Untuk pasien HCV, konsultasikan dengan dokternya untuk menentukan resiko


pasien untuk transmisibilitas dan status terbaru dari penyakit liver kronis.
6. Jika pasien dengan hepatitis aktif, positif-HbsAg status (HBV carrier) atau
status positive-HCV carrier memerluan perawatan darurat, gunakan tindakan
pencegahan berikut:
Konsultasikan dokter pasien mengenai statusnya.
Jika pendarahan kemungkinan terjadi selama atau setelah perawatan,
ukur waktu PT dan pendarahan. Hepatitis dapat merubah koagulasi;
lakukan perubahan perawatan yang sesuai.
Semua personel yang malukan kontak dengan pasien harus
menggunakan pengamanan penuh, termasuk masker, sarung tangan,
kaca mata atau pelindung mata, dan baju yang tersedia.
Gunakan sebanyak mungkin pelindung yang sekali pakai, mencakup
penanganan ringan, penanganan penggambar dan bracket trays,
pelindung kepala juga harus digunakan
Semua alat-alat yang sekali pakai (sebagai contoh, gauze/ram kawat,
floss, saliva ejectors, masker, baju, sarung tangan, gaun) harus
ditempatkan dalam satu keranjang sampah. Setelah perawatan, semua
item ini dan semua pelindung yang tersedia harus dimasukan kantong,
dilabelkan dan dibuang, mengikuti panduan sesuai untuk limbah
biohazardous
Teknik aseptik harus diikuti setiap saat. Meminimalkan produksi
aerosol dengan tidak menggunakan ultrasonic instrumentation, semprot
udara, atau high speed handpieces; ingat bahwa saliva mengandung
distilasi virus. Pembersihan dengan chlorhexidine gluconate selama 30
detik adalah sangat direkomendasikan.
Ketika prosedur dilengkapi, semua peralatan harus digosok dan
disterilkan. Jika item tidak dapat disterilkan atau dibuang, jangan
digunakan lagi.
Jika percutaenous atau luka permucosal terjadi selama perawatan dental dari
HBV carrier, Centers for Disease Control and Prevention (CD) merekomendasikan
langkah-langkah penangganan pada pasien hepatitis B immune globulin (HBIG).
Vaksin HBV harus juga diadakan jika pasien belum mendapatkannya. Sayangnya,
postexposure prophylaxis dengan immune globulin atau agen antiviral umumnya
tidak efektif jika luka percutaneous terjadi selama perawatan pada pasien hepatitis C
carrier.

3.5 HIV dan AIDS


Karena awal dari epidemik AIDS, sejumlah luka oral telah dikaitkan dengan
infeksi HIV.
Sebagaimana dengan hepatits, tidak semua pasien terinfeksi HIV mengetahui
bahwa mereka tertular ketika mereka ke dokter gigi untuk perawatan gigi. Selain itu,

individual dengan infeksi HIV tidak akan mengakui status mereka pada riwayat
medis. Karena itu, setiap pasien menerima perawatan medis harus dikelola sebagai
potensi orang yang terinfeksi menggunakan tindakan pencegahan universal untuk
semua terapi.
Rencana perawatan periodontal ekstensif harus dipertimbangkan dalam
memandang pada sistemik kesehatan pasien, prognosis dan masa hidup. Variasi
tinggi dalam kemajuan dari penyakit HIV eksis diantara individual dan seleksi dari
rencana perawatan sesuai tergantung pada keadaan kesehatan pasien secara
menyeluruh. Meskipun ada nampak sedikit kontraindikasi pada perawatan gigi
secara rutin untuk banyak pasien terinfeksi HIV, rencana perawatan periodontal
dipengaruhi oleh sistemik kesehatan pasien dan infeksi oral yang menyerupai
penyakit penyakit. Kewaspadaan dari gangguan oral diasosiasikan dengan infeksi
HIV dapat membuat dokter untuk mengenali penyakit tanpa diagnosis sebelumnya
atau untuk memodifikasi protokol perlakuan secara benar.

3.6 Tuberculosis
Pasien dengan tuberculosis hanya boleh menerima perawatan darurat saja,
sesuai panduan diuraikan dalam bagian hepatitis. Jika pasien telah menjalani
kemoterapi, dokter yang menanggani pasien harus dikonsultasikan mengenai
infektivitas dan hasil dari kultur sputum untuk Myobacterium tuberculosis. Ketika
pembersihan medis telah diberikan dan kultur sputum dihasilkan adalah negatif,
pasien ini dapat diperlakukan secara normal. Pasien manapun yang memberikan
riwayat dari lanjutan medis kurang baik (sebagai contoh, kekurangan radiografik
dada tahunan) atau menunjukan tanda atau gejala indikatif dari tuberculosis harus
diarahkan untuk evaluasi. Perawatan sesuai dari tuberculosis memerlukan lanjutan
harus termasuk radiografik dada, kultur sputum dan tinjauan dari gejala pasien oleh
dokter setidaknya setiap 12 bulan.

3.7 Penyakit Ginjal


Penyebab umum dari gagal ginjal adalah glomerulonephritis, pyelonephritis,
penyakit kista ginjal, penyakit renovaskular, drug nephropathy, obstructive uropathy
dan hipertensi. Gagal ginjal dapat menimbulkan ketidakseimbangan elektrolit akut,
cardiac arrhythimias, pulmonary congestion, CHF dan pendarahan jangka panjang.
Karena langkah-langkah perawatan gigi pada pasien dengan penyakit ginjal perlu
dirubah, konsultasi dengan dokter yang bersangkutan sangatlah diperlukan untuk
menentukan tingkat penyakit ginjal, regimen untuk manajemen medis dan perubahan
dalam terapi periodontal. Pasien penderita gagal ginjal kronis mempunyai penyakit
yang terus menerus yang pada akhirnya memerlukan transplansi ginjal atau dialisis.
Disarankan untuk melakukan perawatan sebelum, ketimbang setelah transplant atau
dialisis. Modifikasi perawatan berikutnya bisa digunakan:
1. Konsultasi dengan dokter yang menanggani si pasien.

2. Pantau tekanan darah pasien (pasien pada kegagalan ginjal tahap akhir adalah
biasanya hipertensif).
3. Cek hasil laboratorium: partial thromboplastin time (PTT), prothrombin time
(PT), waktu pendarahan dan perhitungan platelet; hematocrit; urea darah
nitrogen (tidak diperlakukan jika < 60 mg/dl); dan serum creatinine (tidak
diperlakukan jika < 1.5 mg/dl).
4. Bersihkan area infeksi oral untuk mencegah infeksi sistemik
Higienitas mulut yang baik harus ditetapkan.
Perawatan periodontal harus dimaksudkan dalam mengeliminasi
peradangan atau infeksi dan memberikan pemeliharaan mudah. Gigi
tidak normal harus diekstraksi jika parameter medis diijinkan.
Kunjungan kembali secara rutin harus dijadwalkan.
5. Obat yang bersifat nephtrotoxic atau yang dimetabolisasi oleh ginjal tidak
boleh diberikan(sebagai contoh, phenacetin, tetracyline, aminoglycoside
antibiotics). Acetaminophen dapat digunakan untuk analgesia dan diazepam
untuk sedasi. Secara umum anestesi lokal seperti lidocaine aman diberikan.
Pasien yang menerima dialysis memerlukan modifikasi dalam langkahlangkah perawatan. Tiga mode dialisis adalah intermittent peritoneal dialysis (IPD),
chronic ambulatory peritoneal dialysis (CAPD) dan hemodialysis. Hanya pasien
hemodialysis yang membutuhkan perhatian khusus. Maka, selain daripada panduan
bagi pasien dengan penyakit ginjal kronis, rekomendasi berikut dibuat bagi mereka
yang menderita hemodialysis:
1. Periksa untuk hepatitis B dan Hepatitis C antigen dan antibody sebelum
perawatan apapun.
2. Sediakan antibotik prophylaxis antibiotic untuk mencegah endarteritis dari
arteriovenous fistula atau shunt. (pasien IPD dan CAPD tidak secara umum
memerlukan antibiotic prophylactic).
3. Pasien menerima heparin anticoagulation pada hari terjadinya hemodialysis.
Karena itu, berikan perawatan periodontal pada hari setelah dialysis, ketika
efek dari heparinisasi telah berkurang. Perawatan hemodialisis secara umum
dilakukan tiga atau empat kali seminggu. (pasien IPD dan CAPD tidak secara
sistemis heparinized; karena itu mereka biasanya tidak mempunyai potensi
masalah pendarahan yang berhubungan dengan hemodialisis).
4. Berhati-hati untuk melindungi hemodialysis shunt atau fistula ketika pasien
di kursi perawatan gigi. Jika shunt atau fistula ditempatkan di tangan, jangan
kejangkan tungkai dan lengan; pembacaan tekanan darah harus dilakukan
dari tangan lainnya. Jangan gunakan tungkai dan lengan untuk injeksi
medikasi. Pasien dengan kaki melangsir harus menghindari duduk dengan
kaki tergantung lebih dari 1 jam. Jika pertemuan berlangsung lebih lama,
biarkan pasien untuk berberjalan beberapa menit, kemudian memulai lagi
terapi.

5. Rujuk pasien pada dokter jika masalah uremic berkembang, seperti uremic
stomatitis. Untuk mencegah penyebaran sistemik, rujuk ke dokter jika infeksi
oral tidak diselesaikan secara tepat.
Bagi pasien transplansi ginjal kemungkinan terkena infeksi tinggi. Pasien
transplansi menggunakan obat imunosupresif yang mengurangi kekebalan tubuh
terhadap infeksi. Selain pada rekomendasi bagi pasien dengan gagal ginjal
kronis,berikut langkah-langkah yang harus dipertimbangkan untuk pasien transplant
ginjal.
1. Hepatis B dan C screening.
2. Penentuan level sistem immune berdasarkan hasil dari terapi obat antirejeksi
3. Prophylactic antibiotics (menggunakan rekomendasi AHA). Tidak semua
pasien transplant memerlukan pengadaan antibiotik, dan konsultasi dokter
diperlukan sebelum menulis resep obat.

3.8 Penyakit Liver


Penyakit liver dapat bertingkat dari kondisi ringan hingga menjadi gagal
ginjal. Penyebab utama dari penyakit liver termasuk keracunan obat, cirhosis, infeksi
viral (sebagai contoh Hepatitis B dan C), neoplasma dan gangguan saluran billiary.
Karena liver adalah tempat produksi untuk sebagian besar faktor pembekuan,
pendarahan yang berlebih selama atau setelah perlakuan periodontal dapat terjadi
pada pasien dengan penyakit liver akut. Banyak obat dimetabolisme pada liver,
maka penyakit liver menganggu metabolisme obat secara normal. Perawatan yang
direkomendasikan untuk pasien dengan penyakit liver, yakni:
1. Konsultasi dengan dokter menyangkut tingkat kerusakan hati, resiko
pendarahan, potensi obat pada perubahan selama terapi periodontal dan
perubahan yang diperlukan dalam terapi periodontal.
2. Screening untuk hepatitis B dan C.
3. Cek nilai lab untuk PT dan PTT.