Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science

“ILMU ALAMIAH DASAR” “KARAKTERISTIC MAKHLUK HIDUP” Manusia yang Bersifat Unik Kuriositas / Rasa Ingin Tahu

• • • • • •

“FASE PERKEMBANGAN PEMIKIRAN MANUSIA” “KEBENARAN DAN PRINSIP ILMU PENGETAHUAN” “METODE ILMIAH” “PROSES SAINS” “ANATOMI SAINS” “NILAI SAINS” Nilai Sains Sikap Ilmiah Ciri Orang Kreatif Hubungan Manusia, Sains, dan Teknologi

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science

ILMU ALAMIAH DASAR
Pengertian Ilmu Alamiah Dasar Ilmu alamiah dasar adalah kumpulan pengetahuan tentang konsep-konsep dasar dalam bidang ilmu pengetahuan alam dan teknologi Manusia. Ilmu alamiah atau sering disebut ilmu pengetahuan alam (natural science) merupakan pengetahuan yang mengkaji tentang gejalagejala dalam alam semesta, termasuk di muka bumi ini, sehingga terbentuk konsep dan prinsip dan hanya mengkaji konsep-konsep dan prinsip-prinsip dasar yang esensial saja. A. Manusia yang Bersifat Unik Ciri-ciri manusia: a. b. c. d. e. f. g. Organ tubuhnya kompleks dan sangat khusus, terutama otaknya Mengadakan metabolisme atau pertukaran zat, (ada yang masuk dan keluar) Memberikan tanggapan terhadap rangsangan dari dalam dan luar Memiliki potensi untuk berkembang biak Tumbuh dan bergerak Berinteraksi dengan lingkungannya Sampai pada saatnya mengalami kematian

Manusia adalah makhluk yang lemah dibanding makhluk lain namun dengan akal budi yang dimilikinya dan kemauan yang sangat kuat maka manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan begitu dapat hidup dengan lebih baik lagi. Akal budi dan kemauannya yang sangat kuat itulah sifat unik dari manusia. B. Kuriositas atau Rasa Ingin Tahu dan Akal Budi Rasa ingin tahu makhluk lain lebih didasarkan oleh naluri (instinct) /idle curiosity naluri ini didasarkan pada upaya mempertahankan kelestarian hidup dan sifatnya tetap sepanjang zaman. Manusia juga mempunyai naluri seperti tumbuhan dan hewan tetapi ia mempunyai akal budi yang terus berkembang serta rasa ingin tahu yang tidak terpuaskan. Sesuatu masalah yang telah dapat dipecahkan maka akan timbul masalah lain yang menunggu pemecahannya, manusia setelah tahu apanya maka ingin tahu bagaimana dan mengapa. Contoh : tempat tinggal manusia purba sampai manusia modern, contoh lain seperti penyakit setelah ditemukan obat suatu penyakit ada penyakit lain lagi yang dicoba untuk dicari obatnya (HIV AIDS)

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science

FASE PERKEMBANGAN PEMIKIRAN MANUSIA
FASE TEOLOGI ATAU METAFISIKA (Yunani Kuno, Romawi, Abad Pertengahan) Keingintahuan Manusia terhadap suatu Objek, Fakta, Realita, atau Kenyataan Dijawab Melalui MITOS. (MITOS ....... - 6SM), (LOGOS : 3SM - 6M)

Mitos adalah cerita yang di buat – buat atau dongeng yang pada umumnya mengangkat tokoh kuno, seperti dewa atau manusia perkasa yang ada kaitannya dengan apa yang terjadi di alam. Secara garis besar dapat dibedakan 3 macam mitos, yaitu mitos sebenarnya, cerita rakyat, dan legenda.Mitos yang merupakan cerita rakyat adalah usaha manusia mengisahkan peristiwa penting yang menyangkut kehidupan masyarakat, biasanya juga disampaikan dari mulut ke mulut sehingga sulit diperiksa kebenarannya. Mitos sebagai legenda, dikemukakan tentang seorang tokoh yang dikaitkan dengan terjadinya suatu daerah. Mitos yang dapat diterima dan dipercayai kebenarannya (masa prasejarah) Kajian manusia pada masa Yunani Kuno. Perkembangan ilmu pengetahuan pada dasarnya mengikuti perkembangan pemikiran dari para filsuf di mana induk dari pengetahuannya pun berasal dari filsafat. Puncak pemahaman tentang kejadian-kejadian di muka bumi, yang merupakan suatu cikal bakal dari ilmu pengetahuan, terjadi pada masa Yunani kuno. Kebudayaan Yunani pada masa itu dengan mitologi tentang dewa-dewa yang dimilikinya, memunculkan sifat ingin tahu dan rasa penasaran untuk mengetahui rahasia alam. Diawali dengan usaha-usaha untuk mengenali gejala-gejala alam yang terjadi dimuka bumi, maka filsuf-filsuf Yunani kuno mengembangkan filsafat alam, suatu kajian pemikiran mengenai sebab-sebab hadirnya atau asal usul alam semesta. Thales (abad ke 6 SM) salah seorang yang termasuk dalam filsuf-filsuf pertama Yunani mencoba mencari arkhe (asas atau prinsip) alam semesta. Menurutnya prinsip dari semuanya di alam ini berasal dari air dan semuanya akan kembali menjadi air. Dapat dikatakan ciri khas dari pemikiran pada masa Yunani kuno ini adalah melihat segala sesuatu sebagai satu kebenaran, sebab itu para filsuf akan memikirkan alam. Orang Yunani tidak memandang ilmu secara spesifik melainkan ilmu universal. Cara berpikir serta pengetahuan yang mendasar dan universal dibarengi kecerdasan yang dimilikinya memudahkan Aristoteles (murid Plato yang hidup pada tahun 384SM-322SM dan belajar di

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science akademi milik Plato) menguasai sampai mendalam hampir segala ilmu yang diketahui pada masanya. Aristoteles adalah ahli dalam ilmu alam, hukum, etik dan lain-lain. Kajian manusia pada masa Romawi. Dengan makin meluasnya wilayah kerajaan Romawi, keinginan memperoleh pengetahuan teoritis makin beralih kepada ilmu-ilmu khusus yang lebih berguna bagi penghidupan sehari-hari. Kepercayaaan akan agama rakyat menyusut. Orang makin mencari hasil praktis yang berguna untuk meningkatkan kesenangan hidup sebagai akibat perbudakan dan kondisi sosial yang menekan. Ilmu yang berkembang pada masa itu adalah etika, suatu ajaran tentang martabat hidup di dunia, maupun pengetahuan khusus yang sifatnya praktis. Dalam periode ini misalnya berdirilah sekolah Epikuros yang didirikan oleh Epikuros (341 SM-217SM). Berbeda dengan Aristoteles, Epikuros tidak mempunyai perhatian terhadap penyelidikan ilmiah. Ia hanya mempergunakan pengetahuan yang diperolehnya sebagai alat membebaskan manusia dari ketakutan agama, yaitu rasa takut terhadap dewa-dewa yang ditanam dalam diri manusia oleh agama Yunani kuno. Menurutnya ketakutan akan dewa-dewa itulah yang menjadi penghalang besar untuk memperoleh kesenangan hidup. Ia mengembangkan fisika praktis untuk membebaskan manusia dari kepercayaan akan dewadewa. Ia mencoba menjelaskan bahwa segala yang terjadi bersifat kausalitas dan mekanis. Tidak perlu dewa-dewa diikutsertakan dalam peredaran alam ini. Setelah periode Aristoteles dapat dikatakan filsafat Yunani kehilangan masa keemasannya dan dan jatuh pada penelaahan yang sifatnya spasial dan kehilangan sifatnya untuk menelaah sesuatu secara mendasar. Kajian Manusia pada Abad Pertengahan. Setelah kelahirannya, agama Kristen mulai menyebar dan memberi warna dalam perkembangan pemikiran tentang manusia. Thomas Aquinas adalah seorang pendeta yang meletakkan pemikiran-pemikiran Yunani kuno dalam baju gereja dan ajaran Kristen. Abad pertengahan merupakan abad kegelapan bagi perkembangan pengetahuan di Barat karena dominasi yang sangat kuat dari pihak gereja. Dogma gereja menjadi suatu yang harus dipatuhi, serta menjadi kunci mutlak agar dapat memperoleh keselamatan dan kesejahteraan hidup. Akibat kondisi yang dogmatis, alam pemikiran menjadi terbelengu karena harus mengikuti ajaran-ajaran atau "hukum Tuhan". Sesuai dengan ajaran Kristen, manusia

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science dipandang sebagai mahluk Tuhan yang harus "patuh dan tunduk" dengan gereja sebagai perwakilan Tuhan di muka bumi. ANCILLA THEOLOGIAE (ABAD KEGELAPAN BAGI ILMU PENGETAHUAN). FASE FILSAFAT Keingintahuan Manusia terhadap suatu Objek, Fakta, Realita, atau Kenyataan Dijawab Melalui RASIO. Manusia Menggunakan Paham RASIONALISME Dalam Membangun Pengetahuan yang Benar Melalui PENALARAN DEDUKTIF Penalaran Deduktif adalah Proses Berpikir untuk Menarik Kesimpulan yang Bersifat Khusus dengan Berdasar kepada Pernyataan yang Bersifat Umum Melalui Pola SILOGISME Contoh SILOGISME: Premis Mayor Premis Minor Konklusi : : : Semua Logam dapat menghantarkan Listrik Tembaga adalah Logam Tembaga dapat menghantarkan Listrik

Selain Rasionalisme, Manusia membangun Paham Empirisme dalam Membangun Pengetahuan yang Benar Melalui Penalaran INDUKTIF Penalaran Induktif adalah Proses Berpikir untuk Menarik Kesimpulan yang Bersifat Umum dengan Berdasar kepada Hasil Pengamatan terhadap Fakta-fakta yang Bersifat Khusus. Contoh Penalaran Induktif: Fakta 1 Fakta 2 Fakta 3 Kesimpulan : Jarum terbuat dari besi dapat ditarik oleh magnet : Paku terbuat dari besi dapat ditarik oleh magnet : Baut terbuat dari besi dapat ditarik oleh magnet : Semua benda yang terbuat dari besi dapat ditarik oleh magnet

Namun demikian ada beberapa kritik yang menjadi salah satu serangan paling kuat terhadap cara berfikir ini. Penalaran induktif bukan merupakan prediksi yang benar-benar akurat. Induktif bisa dihasilkan karena pengulangan-pengulangan secara terus menerus. Contoh: Fakta 1 Fakta 2 Fakta 3 Kesimpulan : Setiap hari matahari terbit dari arah timur. : Sepanjang tahun matahari terbit dari arah timur. : Sampai sekarang matahari belum pernah terbit dari bukan arah timur. : Matahari selalu akan terbit dari arah timur.

Karena setiap hari matahari selalu saja terbit dari timur (walaupun mengalami

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science pergeseran sedikit kearah utara atau selatan), hal ini tidaklah menjadikan kesimpulan bahwa matahari selalu terbit dari timur merupakan sebuah kebenaran mutlak. Tidak menutup kemungkinan suatu saat matahari bisa terbit dari barat, utara atau selatan. Disini terdapat satu bukti rasional bahwa penalaran induktif bisa jadi menghasilkan kesimpulan yang berbahaya dan salah kaprah. Pengetahuan kita yang bersumber dari penalaran atau pemikiran induktif bisa jadi salah. Penalaran induksi seringkali dikaitkan dengan sebuah korelasi atau hubungan baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap dua buah kejadian yang berbeda. Hasil-hasil kesimpulan secara induksi juga dikaitkan dengan kausalitas sebuah kejadian. Fakta 1 Fakta 2 Fakta 3 Kesimpulan : Jam A berdering setiap 1 jam sekali. : Jam B tidak bordering setiap 1 jam sekali. : Setiap jam A bordering, jam B tidak bordering. : Jam A menyebabkan jam B tidak bordering.

Apakah bisa diambil kesimpulan bahwa jam A mengakibatkan jam B berdering?. Jelas tidak, karena kondisi fakta 1 tidak dapat di koherensikan dengan fakta 2 disebabkan korelasi hubungan kejadiannya pun berbeda, sehingga kesimpulan yang diperoleh hanya berdasarkan pada fakta 3 yang bertaut dengan fakta 1 dan 2. Penalaran Induktif memang membantu kita dalam memahami, memprediksi, dan mengontrol sesuatu. Namun tidak semua hal bisa dipercaya dengan melakukan penalaran induktif. Penalaran induktif sekarang ini masih sering digunakan sebagai salah satu pengetahuan yang “ilmiah” dalam persoalan-persoalan kehidupan. Baik itu kesehatan, biologi, psikologi dan sebagainya. Contoh nyata dari aplikasi penalaran induktif adalah penelitianpenelitian yang bersifat statistikal yang mendasarkan pada sampel-sampel. FASE ILMIAH (Kajian Manusia pada Masa Renaissance) Manusia dalam Membangun Pengetahuan atau Memecahkan Masalah Menggunakan POLA PIKIR ILMIAH, yaitu Sintesis antara Deduktif dan Induktif. Pandangan abad pertengahan itu berubah secara mendasar pada abad ke enambelas dan tujuh belas. Revolusi ilmiah dimulai ketika Copernicus mematahkan pandangan geosentrik gereja yang telah diterima menjadi dogma selama lebih dari seribu tahun. Setelah Copernicus, bumi tidak lagi menjadi pusat alam tetapi hanya sebagian kecil di ujung galaksi.

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science Tokoh lain yang berperan mengubah corak berpikir manusia pada abad itu adalah Galileo Galilei. Galileo adalah orang yang pertama memadukan percobaan ilmiah dengan bahasa matematika untuk merumuskan hukum-hukum alam yang ditemukannya. Selanjutnya Galileo menetapkan postulat bahwa agar para ilmuwan dapat menggambarkan alam secara sistematis maka mereka harus membatasi diri untuk mempelajari sifat-sifat esensial benda material yang dapat diukur dan dikuantifikasi. Dengan postulat ini dapat dikatakan bahwa semua aspek seperti perasaan estetik, etik, nilai, perasaan, motif, kehendak, jiwa yang tidak dapat dikuantifikasi menjadi "mati". Francis Bacon selanjutnya merumuskan teori tentang prosedur penelitian ilmiah dimana penelitian harus berlandaskan fakta maupun data serta berdasarkan percobaan untuk mengambil kesimpulan yang tepat. Metoda ini disebut metoda empirisinduktif. Dengan metoda ilmiah ini tujuan ilmu menjadi berubah. Ilmu pada jaman kuno memiliki tujuan untuk mencapai kearifan, dengan memahami tatanan alam dan kehidupan yang harmonis dengan alam; ilmu dicari "demi keagungan Tuhan". Dengan prinsip metoda ilmiah dari Bacon, tujuan ilmu berubah menjadi pengetahuan yang dapat digunakan untuk menguasai dan mengendalikan alam. Melalui metoda penelitian empiris alam secara paksa diteliti dan dikendalikan. Puncak revolusi ilmiah terjadi sejak Rene Descartes mengungkapkan filsafatnya Cogito Ergo Sum (Saya berpikir maka saya ada). Pernyataan ini merupakan kesimpulan dari filsafatnya. Menurutnya esensi hakikat manusia terletak pada pikirannya, dan hanya bendabenda yang ditangkap dengan jelaslah yang dapat dikatakan benar. Konsepsi yang demikian disebutnya sebagai "intuisi". Dia menegaskan bahwa tidak ada jalan menuju pengetahuan yang benar kecuali dengan intuisi yang jelas dan deduksi lah yang diperlukan. Dengan pendapatnya mengenai Cogito Ergo Sum, Descartes tidak lain menegaskan bahwa akal dan materi merupakan dua hal yang terpisah dan berbeda secara mendasar. Dengan demikian ada dua alam yang terpisah yaitu alam pikiran res cogitans dan res extensa atau alam luas. Pada abad-abad berikutnya, para ilmuwan mengembangkan teori-teori mereka sesuai dengan pemisahan Descartes ini. Ilmu-ilmu kemanusiaan memusatkan pada res cogitans dan ilmuilmu alam memusatkan pada res extensa. Bagi Descartes, alam semesta adalah sebuah mesin dan tidak lebih dari sebuah mesin. Alam semesta bekerja sesuai dengan hukum-hukum mekanik, dan segala sesuatu dalam alam materi dapat diterangkan dalam tatanan dan gerakangerakan dari bagian-bagiannya. Gambaran alam mekanik ini telah menjadi paradigma ilmu

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science pada masa setelah Descartes. Paradigma ilmu ini menuntun semua pengamatan ilmiah dan perumusan semua teori tentang alam. Seluruh teori pada abad tujuh belas, delapan belas dan sembilan belas termasuk teori Fisika Newton yang termasyhur tidak lain adalah perkembangan dari pemikiran Descartes. Teori fisika klasik yang dikembangkan Isaac Newton pada dasarnya adalah penggabungan dari metode deduksi dari Descartes dan metode induksi-analitis dari Francis Bacon. Newton dalam bukunya Principia menekankan bahwa eksperimen tanpa interpretasi sistematis maupun deduksi dari prinsip pertama yang tanpa bukti eksperimen sebenarnya sama-sama tidak akan sampai pada teori yang dapat dipercaya. Pada abad delapan belas sampai sembilan belas mekanika Newton telah digunakan dengan keberhasilan yang luar biasa. Teori Newton mampu menjelaskan gerak planet bulan dan komet hingga ke rincianrincian terkecil. Dengan penetapan yang kuat pada pandangan yang mekanistik ini, fisika Newton tampak menjadi dasar dari semua ilmu. Teori Newton tentang alam semesta dan kepercayaan pendekatan rasional pada masalah-masalah manusia menyebar dengan cukup pesat sehingga era itu disebut dengan era pencerahan. Konsep-konsep mekanistik Descartes serta konsep Newton ternyata juga mempengaruhi para ilmuwan yang tertarik tentang masalah manusia. Dengan metoda ilmiah suatu pengetahuan dapat diklasifikasikan menjadi ilmu bila memilki kriteria empirik, obsevable dan terukur. Usaha untuk memperoleh pemahaman tentang manusia akhirnya harus direduksi hanya pada aspek-aspek yang terukur saja. Ilmu Psikologi, sesuai dengan namanya, yang semestinya mempelajari tentang Psyche (jiwa) direduksi menjadi ilmu yang terbatas mempelajari tingkah laku dan pengalaman manusia. Ilmu Psikologi dapat diterima menjadi suatu disiplin ilmu tersendiri sejak Wilhelm Wund mendirikan laboratorium Psikologi pertama di Leipzig University, jerman pada tahun 1859 dan mengembangkan penelitianpenelitian psikologi melalui metoda eksperimental yang terukur dan teramati. Dengan masuknya psikologi sebagai bagian dari ilmu modern jiwa yang non materiil, menjadi terbuang dari kajian ilmu psikologi modern saat ini. Psikiater R.D Laing secara ekstrim menyebutkan ; "Matilah pemandangan, suara, rasa, sentuhan dan bau dan bersama itu mati pulalah perasaan estetik dan etik, nilai, kualitas, bentuk; semua perasaan, motif, kehendak, jiwa, kesadaran, dan roh.

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science

FASE ILMIAH PARADIGMA POSITIVISTIK
FAKTA ATAU KENYATAAN Menurut : • • Positivistik berpandangan bahwa sesuatu yang nyata bila ada korespondensi antara yang hal yang satu dengan lainnya. Fenomenologik memiliki dua arah perkembangan mengenai pengertian kenyataan ini. Pertama, menjurus ke arah teori korespondensi yaitu adanya korespondensi antara ide dengan fenomena. Kedua, menjurus ke arah koherensi moralitas, kesesuaian antara fenomena dengan sistem nilai. • • • • • • Rasionalistik menganggap suatu sebagai nyata, bila ada koherensi antara empirik dengan skema rasional, dan Realisme-metafisik berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila ada koherensi antara empiris dengan obyektif. Pragmatisme memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi Realita adalah sesuatu yang terjadi dan sudah direncanakan Kenyataan adalah sesuatu yang terjadi dan tidak terencana Fakta adalah keterangan-keterangan yang diperoleh dari sebuah kenyataan

KEBENARAN (TRUTH) Kebenaran yang dicari-cari dalam setiap kesempatan sebenarnya adalah "Kebenaran Mutlak". Kebenaran mutlak artinya adalah kebenaran yang sudah tidak dapat disalahkan lagi. Kebenaran yang tidak dapat disalahkan adalah kebenaran yang menjumpai pembuktian yang mengatasi pernyataannya. Dengan demikian sebenarnya sepertinya kebenaran mutlak adalah kebenaran dengan fakta yang tidak dapat disangkal lagi. Seperti api adalah panas, es adalah dingin, batu adalah keras, air adalah lunak, dan sebagainya adalah kebenaran mutlak juga. Namun mengapa kita ini mengatakan masih mencari kebenaran? Ini karena dalam hati kita ingin membuktikan benarkah ucapan-ucapan yang demikian patut dibenarkan atau dinobatkan sebagai kebenaran mutlak. Keinginan kita untuk membuktikan hal-hal diatas inilah yang dapat dikatakan sebagai mencari kebenaran. Kegunaannya adalah jika kita telah membuktikannya dan menemukan 67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science kebenaran itu maka kita telah mempunyai tujuan hidup. Sehingga dalam menjalani kehidupan ini kita menjadi punya tujuan dan arah yang pasti. Untuk memulainya, harus kita tentukan dulu apakah yang akan kita cari kebenarannya. Kemudian jalan pembuktiannya kita lakukan. Kebenaran yang kita temukan sering bersifat subyektif, apa yang kita nilai benar, belum tentu dinilai benar oleh orang lain. Demikian pula kebenaran yang akan kita buktikan belum tentu sama dengan kebenaran yang dicari orang lain. Kesimpulannya, kebenaran itu sifatnya subyektif atau individual. Seperti kenikmatan es krim belum tentu disukai oleh orang yang tidak menyukai rasa manis. A Primer on Postmodernism dari Stanley J. Grenz menyatakan bahwa ditolaknya kebenaran yang obyektif merupakan tipikal kondisi manusia era Pascamodern seperti yang ada saat ini. Di sini kebenaran hanyalah merupakan masalah penafsiran. Namun hal ini tidak sepenuhnya karena kebenaran pada manusia memang adalah sesuatu yang bersifat (sangat) relatif. Melainkan juga karena kita memang lebih mudah mengatasnamakan kebenaran itu untuk pembenaran persepsi, pemahaman, penghayatan, maupun tindakan yang bersangkut paut dengan intensi diri sendiri dari pada yang ada pada posisi orang yang lain. Apalagi bila kebenaran itu dimunculkan oleh kita yang telah lebih dulu menilai diri sendiri sebagai yang benar. Akibatnya, kebenaran orang lain tidak lagi penting dan berarti. Kebenaran tidak lagi dimungkinkan untuk berbunyi dalam suara yang berbeda. Obyektivitas dari kebenaran menjadi meniadakan, karena kebenaran telah semata-mata menjadi pembenaran dari si benar. Bukankah kenyataan ini merupakan kebenaran yang bersifat manusiawi? Bila pertanyaan terakhir ini dijawab dengan "ya", maka bagi yang menjawab "tidak" timbul adanya konflik kebenaran, dan sebaliknya pun akan sama. Oleh karena itu, tidak penting lagi dipertanyakan kebenaran manakah yang paling benar atau yang sesungguhnya benar, karena untuk menentukan hal ini pun tetap saja akan memunculkan konflik kebenaran yang lain. Kita memang (cenderung) mengartikan kebenaran semudah menyatakan kebenaran tersebut dengan mengatasnamakan kebenaran itu sendiri. Bahkan juga untuk pembenaran terhadap proses "penghancuran" yang terjadi terhadap orang lain, dengan mengumbar amarah dan kebencian sekalipun. Kebenaran bisa menjadi dasar pembenaran terhadap peniadaan kebenaran yang lain. Kebenaran bisa dibungkam dan sekaligus diteriakkan dengan lantang, yang itu sama saja artinya dengan kebenaran hanyalah omong kosong dari mereka yang

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science merasa memilikinya. Dengan mengatasnamakan kebenaran, kita seringkali merasa bahwa ada legitimasi dan mandat yang didapatkan dari kebenaran itu sendiri untuk kita mampu "menghakimi" kebenaran orang lain. Apalagi bila kita juga merasa ada kekuatan dan kekuasaan yang ada pada kita untuk berbicara atas nama kebenaran tersebut. Maka, kebenaran orang lain tidak lagi dapat didudukkan pada tempatnya sebagai bagian dari ke-relatif-an atau pun alternatif dari kebenaran itu sendiri, melainkan dirasakan sebagai gangguan yang mengusik keleluasaan dan mungkin juga sebagai ancaman yang membahayakan kebenaran tersebut. Untuk itu bukan hanya dapat tetapi juga perlu ditiadakan.
A.

Kebenaran Ilmu Pengetahuan Di dalam Ilmu Pengetahuan, kebenaran ada banyak macam, diantaranya: 1. Kebenaran Koherensi Kebenaran koherensi yaitu adanya kesesuaian atau keharmonisan antara sesuatu yang lain dengan sesuatu yang memiliki hirarki yang lebih tinggi dari sesuatu unsur tersebut, baik berupa skema, sistem, atau pun nilai. Suatu Pernyataan Memiliki Kebenaran Koherensi Jika Pernyataan tersebut Berkesesuaian dengan Pernyataan yang Benar Sebelumnya. Teori ini dianut oleh kaum rasionalitas seperti Leibniz, Spinoza, Descartes, Heggel, dan lainnya. Kebenaran ditemukan dalam relasi antara proposisi baru dengan proposisi yang sudah ada. Suatu pengetahuan, teori, pernyataan, proposisi atau hipotesis dianggap benar kalau sejalan dengan pengetahuan, teori, proposisi atau hipotesis lainnya, yaitu kalau proposisi itu meneguhkan dan konsisten dengan proposisi sebelumnya yang dianggap benar. Matematika dan ilmu-ilmu pasti sangat menekankan teori kebenaran ini. Contohnya, pengetahuan “lilin akan mencair kalau dimasukkan ke dalam air yang sedang mendidih”. Bagi kaum empiris (kebenaran persesuaian), untuk mengetahui kebenaran pengetahuan ini perlu diadakan percobaan dengan memasukkan lilin ke dalam air yang sedang mendidih untuk mengetahui apakah pernyataan itu sesuai dengan kenyataan atau tidak. Tetapi bagi kaum rasionalitas, untuk mengetahui kebenaran pernyataan ini cukup mecek apakah pernyataan ini sejalan dengan pernyataan lainnya, atau apakah pernyataan ini meneguhkan pernyataan lainnya. Ternyata, pernyataan ini benar karena lilin termasuk bahan parafin dan parafin selalu mencair pada suhu 600 C. 67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science Karena air mendidih pada suhu 1000 C, lilin dengan sendirinya mencair kalau dimasukkan ke dalam air yang sedang mendidih. Pernyataan ini benar karena meneguhkan pernyataan lain bahwa lilin adalah bahan parafin yang selalu mencair pada suhu 600 C dan sejalan dengan pengetahuan lain bahwa iar mendidih pada suhu 1000 C. Dengan kata lain, “lilin akan mencair kalau dimasukkan ke dalam air yang sedang mendidih”, hanya merupakan konsekuensi logis dari pernyataan-pernyataan lain tersebut. 2. Kebenaran Korespondensi Suatu Pernyataan Memiliki Kebenaran Korespondensi Jika Pernyataan tersebut Berkesesuaian dengan Faktanya. Berfikir benar korespondensi adalah berfikir tentang sesuatu itu terbukti relevan dengan sesuatu lain. Korespondensi relevan dibuktikan adanya kejadian sejalan atau berlawanan arah antara fakta dengan fakta yang diharapkan, antara fakta dengan belief yang diyakini, yang sifatnya spesifik. Teori ini pertama kali dimunculkan oleh Aristoteles. Menurut Aristoteles kebenaran adalah soal kesesuaian antara apa yang diklaim sebagai diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya. Benar dan salah adalah soal sesuai tidaknya apa yang dikatakan dengan kenyataan sebagaimana adanya. Kebenaran terletak pada kesesuaian antara subyek dan obyek yaitu apa yang diketahui subyek dan realitas sebagaimana adanya. Oleh karenanya ini disebut pula kebenaran empiris, karena kebenaran suatu pernyataan, proposisi atau teori ditentukan oleh apakah pernyataan, proposisi atau teori itu didukung oleh fakta atau tidak. Contohnya “ bumi ini bulat” adalah suatu pernyataan benar, karena dalam kenyataannya pernyataan ini didukung sesuai dengan kenyataan. Kebenaran terjadi pada pengetahuan. Pengetahuan terbukti benar dan menjadi benar oleh kenyataan yang sesuai dengan apa yang diungkapkan pernyataan itu. Intinya realitas adalah hal yang pokok dari kegiatan ilmiah. Ada tiga hal pokok yang perlu digarisbawahi dalam teori ini. Pertama, teori ini sangat menekankan aliran empirisme yang mengutamakan pengalaman dan pengamatan indrawi sebagai sumber utama pengetahuan manusia. Kedua, teori ini juga cenderung menegaskan dualitas antara subyek dan obyek, antara si pengenal dan yang dikenal. Bagi teori ini yang paling berperan bagi kebenaran pengetahuan manusia adalah obyek. Subyek atau akal

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science budi manusia hanya mengolah lebih jauh apa yang diberikan oleh obyek. Ketiga, konsekuensi dari hal di atas teori ini sangat menekankan bukti (eviden) bagi kebenaran suatu pengetahuan. Tetapi bukti ini bukan diberikan secara apriori oleh akal budi, bukan pula hasil imajinasi, tetapi apa yang diberikan dan disodorkan oleh obyek yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia. Jadi pengamatan atau penangkapan fenomena yang ada menjadi penentu dalam teori ini.
3. Kebenaran Pragmatis

Suatu Pernyataan Memiliki Kebenaran Pragmatis Jika Pernyataan tersebut Berkesesuaian dengan Fungsinya. Yang benar adalah yang konkret, yang individual dan yang spesifik dan memiliki kegunaan praktis. Teori ini dikembangkan oleh filsuf pragmatis dari Amerika Serikat seperti Charles, S. P dan William James. Bagi kaum pragmatis kebenaran adalah sama artinya dengan kegunaan. Ide, konsep, pengetahuan, atau hipotesis yang benar adalah ide yang berguna. Ide yang benar adalah ide yang paling mampu memungkinkan seseorang (berdasarkan ide itu) melakukan sesuatu secara paling berhasil dan tepat guna. Berhasil dan berguna adalah kriteria utama untuk menentukan apakah suatu ide itu benar atau tidak. Contoh, ide bahwa kemacetan jalan-jalan besar di Jakarta disebabkan terlalu banyak kendaraan pribadi yang ditumpangi oleh satu orang. Maka penyelesaiannya “mewajibkan jalan pribadi ditumpahi oleh tiga orang atau lebih”. Ide tadi benar apabila ide tersebut berguna dan berhasil memecahkan persoalan kemacetan. Kebenaran yang ditekankan oleh kaum pragmatis adalah kebenaran yang menyangkut “pengetahuan bagaimana” (know how). Suatu ide yang benar adalah ide yang memungkinkan kita berhasil memperbaiki atau menciptakan sesuatu. Kaum pragmatis sebenarnya tidak menolak teori kebenaran dari kaum rasionalis maupun teori kebenaran kaum empiris. Hanya saja, bagi kaum pragmatis suatu kebenaran apriori hanya benar kalau kebenaran itu berguna dalam penerapannya yang memungkinkan manusia bertindak secara efektif. Kebenaran bagi kaum pragmatis juga berarti suatu sifat yang baik. Maksudnya, suatu ide atau teori tidak pernah benar kalau tidak baik untuk sesuatu. Dengan kebenaran, manusia dibantu untuk melakukan

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science sesuatu supaya berhasil. Singkatnya, kita tidak hanya membutuhkan “pengetahuan bahwa” dan “pengetahuan mengapa” tetapi juga “pengetahuan bagaimana”. 4. Kebenaran Proposisi Suatu Pernyataan Memiliki Kebenaran Proposisi Jika Pernyataan tersebut menunjukkan Proposisi yang Benar secara Formal dan Materiil. Proposisi adalah suatu pernyataan yang berisi banyak konsep kompleks, yang merentang dari yang subyektif individual sampai yang obyektif. Suatu kebenaran dapat diperoleh bila proposisiproposisinya benar . 5. Kebenaran Performatif Suatu Pernyataan Memiliki Kebenaran Performatif Jika Pernyataan tersebut dapat di aktualkan dalam Tindakan. Ketika pemikiran manusia menyatukan segalanya dalam tampilan aktual dan menyatukan apapun yang ada dibaliknya, baik yang praktis yang teoritik, maupun yang filosofik, orang mengetengahkan kebenaran tampilan aktual. Sesuatu benar bila memang dapat di aktualkan dalam tindakan. Teori ini dianut oleh filsuf Frank Ramsey, John Austin dan Peter Strawson. Para filsuf ini hendak menentang teori klasik bahwa “benar” dan “salah” adalah ungkapan yang hanya menyatakan sesuatu (deskriptif). Proposisi yang benar berarti proposisi itu menyatakan sesuatu yang dianggap benar, demikian sebaliknya. Namun, justru inilah yang ingin ditolak oleh filsuf-filsuf ini. Menurut teori ini suatu pernyataan dianggap benar kalau pernyataan itu menciptakan realitas. Pernyataan yang benar bukanlah pernyataan yang mengungkapkan realitas tapi justru dengan pernyataan itu terciptanya suatu realitas sebagaimana yang diungkapkan dalam pernyataan itu. Contohnya, “Dengan ini saya mengangkat anda menjadi dosen pengasuh matakuliah Falsafah Sains”. Dengan pernyataan ini tercipta suatu realitas baru, realitas anda sebagai dosen Falsafah Sains. 6. Kebenaran Struktural Paradigmatik Suatu Pernyataan Memiliki Kebenaran Struktural Paradigmatik Jika Pernyataan tersebut Merupakan Rekonstruksi Rasional Menjadi Suatu Paradigma. Sesungguhnya kebenaran struktural paradigmatik ini merupakan perkembangan dari

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science kebenaran korespondensi. Sampai sekarang analisis regresi, analisis faktor, dan analisis statistik lanjut lainnya masih dimaknai pada korespondensi unsur satu dengan lainnya. Padahal semestinya keseluruhan struktural tata hubungan itu yang dimaknai, karena akan mampu memberi eksplanasi atau inferensi yang lebih menyeluruh. Dengan demikian, sifat dasar kebenaran ilmiah selalu mempunyai paling kurang tiga sifat dasar, yaitu : struktur yang rasional-logis, isi empiris, dan dapat diterapkan (pragmatis). Kebenaran ilmiah yang rasional-logis adalah bahwa kebenaran dapat dicapai berdasarkan kesimpulan yang logis atau rasional dari proposisi atau premis tertentu. Karena kebenaran ilmiah bersifat rasional, semua orang yang rasional, yaitu yang dapat menggunakan akal budinya secara baik, dapat memahami kebenaran ilmiah ini. Oleh karenanya kebenaran ilmiah kemudian dianggap sebagai kebenaran yang universal. Satu hal yang perlu dicatat bahwa perlu dibedakan sifat rasional dengan sifat masuk akal (reasonable). Sifat rasional terutama berlaku bagi kebenaran ilmiah. Sifat “masuk akal” ini terutama berlaku bagi kebenaran tertentu yang berada di luar lingkup pengetahuan. Contohnya tindakan marah menangis, dan semacamnya dapat sangat masuk akal walaupun mungkin tidak rasional. Sifat empiris dari kebenaran ilmiah mengatakan bahwa bagaimanapun juga kebenaran ilmiah perlu diuji dengan kenyataan yang ada. Bahkan, dapat dikatakan bahwa sebagian besar pengetahuan dan kebenaran ilmiah berkaitan dengan kenyataan empiris dalam dunia ini. Sifat pragmatis terutama hendak menggabungkan kedua sifat kebenaran lainnya, artinya kalau suatu pernyataan benar secara logis dan empiris maka pernyataan tersebut juga harus berguna dalam kehidupan manusia, yaitu membantu manusia memecahkan berbagai persoalan dalam hidup manusia. Kebenaran adalah milik semua orang, tidak peduli status maupun keberadaan lain apa pun yang melekat pada dirinya. Namun disadari serta diakui ataupun tidak oleh kita, pada kenyataannya kebenaran tidak selalu berpihak pada orang yang merasa dan menyebut dirinya benar, serta tidak juga menjadikan benar orang yang meng-klaim dirinya sebagai pemegang kebenaran tersebut.

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science
B. Prinsip Ilmu Pengetahuan

1. Prinsip Kausalitas, yang menyatakan bahwa setiap kejadian memiliki penyebab, dan dalam situasi yang identik penyebab sama akan menghasilkan akibat yang sama pula. 2. Prinsip Pengukuran Eksak, yang menyatakan bahwa hasil-hasil penelitian harus dapat dinyatakan secara kuantitatif atau secara matematis. 3. Prinsip Keragaman Prediktif, yang menyatakan bahwa suatu kelompok kejadian akan menunjukkan derajad keterkaitan yang sama pada masa lampau, sekarang, maupun masa yang akan datang. 4. Prinsip Obyektivitas, yang menyatakan bahwa para peneliti tidak boleh memihak kepada data sebelumnya. Fakta-fakta yang dikemukakan harus dapat diamati atau dialami tepat sama oleh semua manusia normal. 5. Prinsip Empirisme, yang menyatakan bahwa kesan sensori yang diterima adalah benar dan pengujian kebenaran didasarkan atas fakta-fakta yang dialami. 6. Prinsip Persimoni, yang menyatakan bahwa di dalam hal sesuatu yang sama, akan dipilih penjelasan yang paling sederhana atau singkat sebagai penjelasan yang sahih. 7. Prinsip Isolasi atau segregasi, yang menyatakan bahwa gejala yang diteliti harus dapat diisolasi sehingga dapat diteliti secara terpisah sebagaimana adanya. 8. Prinsip Kontrol, yang menyatakan bahwa pengontrolan atau pengendalian terhadap variabel-variabel yang tidak diteliti adalah hal yang sangat penting, sehingga penelitian serupa dapat dilakukan pada waktu yang lain.

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science

METODE ILMIAH
Metode Ilmiah adalah karakteristik spesial yang dimiliki oleh sains yang diperoleh manusia dari setiap pengalaman inderalia (empiris) dan digagas oleh kelompok positifisme. Metode Pemecahan Masalah yang Berintikan Perpaduan atau Sintesis antara Cara Berpikir Deduktif dan Induktif, dan Menjamin Perwujudan Kebenaran: Koherensi, Korespondensi, dan Pragmatis. Kemampuan-kemampuan Kemampuan-kemampuan yang manusia, antara lain :
1. Kognitif

diperlukan oleh

: rasa, pikiran dan pengetahuan : cipta atau keterampilan : karsa, nilai, atau sikap

2. Psikomotor 3. Afektif

SEJARAH PERKEMBANGAN METODE ILMIAH
1. Zaman Sebelum Masehi

Di dalam buku kedokteran Mesir kuno, yakni the Edwin Smith papyrus, (kira-2 1600 SM) disebutkan bahwa beberapa komponen dasar metode ilmiah telah dilakukan seperti pengujian (examination), diagnosa, treatment dan prognosis terhadap suatu penyakit; Di Babilonia, sebagaimana termaktub dalam buku The Ebers papyrus (kira-2 1550 SM) juga sudah terdapat upaya pembuktian secara empirik.
2. Yunani Kuno (500 SM)

Beberapa Komponen Dasar Metode Ilmiah Telah Dilakukan Pada Masa Ini. Bahkan Geometri Telah Dijadikan Ukuran Untuk Membuat Sepatu Di Di Yunani Pada Masa Itu. Masalah didefinisikan sebagai kumpulan dari pengalaman-pengalaman ilmiah saat manusia menghadapi masalah. Secara sadar atau tidak sadar, pikiran akan memanggil semua pengalaman-pengalaman yang dapat diubah dengan fakta-fakta yang mendukung kuat. SYARAT-SYARAT METODE ILMIAH : 1) Obyektif : pengetahuan itu sesuai dengan obyeknya,atau didukung metodik fakta empiris. 2) Metodik : pengetahuan ilmiah itu diperoleh dengan menggunakan cara-cara tertentu yang teratur dan terkontrol.

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science 3) Sistematik : pengetahuan ilmiah itu tersusun dalam suatu sistem,tidak berdiri sendiri,satu dengan yang lain saling berkaitan,saling menjelaskan,sehingga seluruhnya merupakan satu kesatuan yang utuh. 4) Berlaku Umum/Universal : pengetahuan itu tidak hanya berlaku atau dapat diamati oleh seseorang atau beberapa orang saja,tetapi semua orang dengan cara eksperimentasi yang sama akan memperoleh hasil yang sama atau konsisten.

KONSEP METODE ILMIAH Masalah

Kumpulan Pengetahuan Ilmiah Rumusan Masalah

Kerangka Berfikir

Penalaran Deduktif Paragmadigmatik Rumusan Hypotesis Penalaran Deduktif Diterima Kesimpulan Menguji Ditolak

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science SIKLUS EINSTEIN Dalam Perkembangannya, Sains Senantiasa Berawal pada Fakta dan Berakhir pada Fakta (Siklus Fakta ke Fakta).

HAKEKAT PENELITIAN Cara Ilmiah Untuk Mendapatkan Data/Informasi Sebagaimana Adanya Dan Bukan Sebagaimana Seharusnya, Dengan Tujuan Dan Kegunaan Tertentu Metode Penelitian Zaman dahulu : - Coba-Coba (Trial & Error ?) - Pengalaman (Sendiri > , Orang Lain <) - Naluri → Perkembangan lambat Zaman Modern : - coba-coba (dioptimumkan) - pengalaman (sendiri < + orang lain >) - spekulasi - Metode Ilmiah (scientific approach) → Perkembangan cepat

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science

Tujuan Penelitian  Penemuan Sebelumnya belum pernah diketahui  Pembuktian Membuktikan keraguan terhadap informasi/ pengetahuan tertentu  Pengembangan Memperdalam dan memperluas pengetahuan yang sudah ada Kegunaan Penelitian  Memahami Masalah Peneliti memperjelas suatu masalah/informasi yang tidak diketahui dan selanjutnya menjadi tahu  Memecahkan Masalah Peneliti meminimalkan/menghilangkan masalah  Mengantisipasi Masalah Peneliti mengupayakan agar masalah tidak terjadi

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science

PROSES SAINS
Pengetahuan sains diperoleh melalui proses logico-empiricism, pengetahuan yang diperoleh secara intuitif harus diperiksa/ diturunkan secara logis dari hukum alam yang sudah teruji dan dibuktikan dengan observasi/eksperimen. Dalam makna generiknya, sains selalu dikaitkan dengan upaya manusia untuk mencari tahu tentang suatu fenomena. Cara mencari tahu ini tidak lepas dari proses interpretasi manusia terhadap fenomena tersebut. Dari pemahaman inilah dibentuk sebuah sistem pengetahuan yang meliputi obyek pengetahuan, metode, dan model interpretasi. Pada dasarnya, inti dari suatu sistem pengetahuan adalah aktivitas representasi di mana pengamat (saintis) menginterpretasi gejala-gejala alam yang kemudian dimodelkan ke dalam bahasa sains (yang dalam sains moderen menggunakan model matematik). Satu hal yang perlu dicermati disini. Suatu obyek pengetahuan hanya dapat eksis melalui representasi. Proses interpretasi dan representasi ini tidaklah terjadi begitu saja secara obyektif di mana saintis dengan serta merta "menemukan" sesuatu seakan-akan obyek pengetahuan itu sudah ada sebelumnya. Obyek pengetahuan itu adalah hasil konstruksi interpretatif saintis melalui bahasa sementara bahasa itu sendiri memiliki keterbatasan. Obyek pengetahuan itu menjadi seakan-akan nyata karena dia berhubungan langsung dengan sesuatu yang sifatnya konkrit di mana metodologi ilmiah (logika-empirisme) memungkinkan terjadinya perulangan realitas (regularitas) melalui praktek simulasi, manipulasi, dan kontrol.

Pencipta Meng-Aku Alam Mengobservasi Manusia Meng-Kita Manusia

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science Proses Science terdiri atas : A. Pengelompokkan Membagi benda dalam suatu variable tertentu. Contohnya: Dalam sebuah bioskop kita membagi banyaknya pengunjung dalam dua (2) kelompok yakni kelompok perempuan dan kelompok laki-laki B. Klasifikasi Suatu benda dibedakan berdasarkan nilainya. Contohnya: Dalam Sebuah bioskop, pengunjung dibedakan atas banyaknya pengunjung yang berkulit hitam dan berkulit putih. C. Menghitung Mengukur data yang didapatkan dari pengelompokkan maupun pengklasifikasian yang dilakukan sebelumnya D. Penyajian Data Data yang telah diperoleh, diperlihatkan ataupun disajikan dalam bentuk table, grafik ataupun diagram. E. Analisis Data/objek Menganalisa data maupun objek yang berhubungan dengannya F. Sintesis Proses dimana kita menggunakan setiap objek yang terkait enjadi suatu pernyataan. G. Prediksi Menduga masa depan dengan melihat informasi yang diperoleh dari masa sekarang. H. Inver Lawan dari prediksi, dimana kita menduga masa lalu yang didapatkan dari informasi masa depan. I. Hipotesis Menyajikan informasi dan menduga hasil yang diperoleh dengan melihat data-data yang telah dihasilkan sebelumnya. J. Interpretasi Memaknai dan menyajikan data sehidup-hidupnya sehingga mudah dimengerti. K. Menarik kesimpulan

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science Mengambil kesimpulan dari berbagai fakta yang telah didapatkan. L. Evaluasi Memberikan penilaian terhadap kesimpulan yang telah ditarik. M. Aplikasi Menerapkan hasil yang telah diraih ke dalam kehidupan sehari-hari N. Komunikasi Menjelaskan kepada masyarakat umum mengenai penerapan aplikasi yang telah kita lakukan.

Langkah-Langkah Metode Ilmiah : Perumusan masalah yang dimaksudkan dengan dengan masalah merupakan pertanyaan apa,mengapa atau bagaimana tentang suatu obyek yang diteliti. Masalah ini harus jelas batas-batasnya serta dikenal faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penyusunan hipotesis merupakan jawaban sementara atau dugaan jawaban pertanyaan yang diajukan,materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berfikir yang dikembangkan. Pengujian hipotesis merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang telah diajukan untuk dapat memperlihatkan apakah fakta-fakta tersebut mendukung hipotesis atau tidak. Penarikan kesimpulan Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya.

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science

ANATOMI SAINS
Elemen-Elemen Anatomi Sains, antara lain:
1. Fakta

Fakta dalam (bahasa Latin: factus) ialah segala sesuatu yang tertangkap oleh indra manusia. Dalam istilah keilmuan fakta adalah suatu hasil observasi yang obyektif dan dapat dilakukan verifikasi oleh siapapun. Contohnya adalah ketika kita melihat seorang guru yang sedang mengajar muridmuridnya, atau melihat suatu peristiwa heroik seorang yang berhasil melumpuhkan sekawanan penjahat secara sendirian, atau mendengar suatu berita kemenangan Islam di suatu negeri, atau mungkin kita sendiri yang mendapat hadiah langsung dari seorang presiden, dan lain-lain. 2. Konsep Konsep adalah abstrak, entitas mental yang universal yang menunjuk pada kategori atau kelas dari suatu entitas, kejadian atau hubungan. Suatu konsep adalah elemen dari proposisi seperti kata adalah elemen dari kalimat. Konsep adalah abstrak di mana mereka menghilangkan perbedaan dari segala sesuatu dalam ekstensi, memperlakukan seolah-olah mereka identik. Konsep adalah universal di mana mereka bisa diterapkan secara merata untuk setiap ekstensinya. Konsep adalah pembawa arti. Suatu konsep tunggal bisa dinyatakan dengan bahasa apa pun. Contohnya pada konsep awalnya (1975-an), Hawking, menggunakan relativitas umum, memang berpendapat bahwa lubang hitam adalah monsternya galaksi, yang akan menyedot materi dalam galaksi hingga mengalir berspiral menuju ke lubang hitam. gerak spiral ini menghasilkan panas luar biasa tinggi dan memancarkan foton sinar-X. Materi yang masuk ke lubang hitam akan musnah. 3. Prinsip Prinsip adalah suatu pernyataan fundamental atau kebenaran umum maupun individual yang dijadikan oleh seseorang/ kelompok sebagai sebuah pedoman untuk berpikir atau bertindak. Sebuah prinsip merupakan roh dari sebuah perkembangan ataupun perubahan,

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science dan merupakan akumulasi dari pengalaman ataupun pemaknaan oleh sebuah obyek atau subyek tertentu. Contohnya pada Prinsip Pascal menyatakan bahwa tekanan yang diberikan pada cairan dalam suatu tempat tertutup akan diteruskan sama besar ke setiap bagian fluida dan dinding wadah. 4. Asas Asas adalah suatu dalil umum yang dinyatakan dengan istilah-istilah umum tanpa menyarankan cara-cara khusus mengenai pelaksanaannya yang dapat diterapkan pada suatu rangkaian perbuatan untuk menjadi petunjuk yang tepat bagi perbuatan-perbuatan tersebut. Contohnya pada Asas Bernoulli adalah tekanan fluida di tempat yang kecepatannya tinggi lebih kecil daripada di tempat yang kecepatannya lebih rendah . Jadi semakin besar kecepatan fluida dalam suatu pipa maka tekanannya makin kecil dan sebaliknya makin kecil kecepatan fluida dalam suatu pipa maka semakin besar tekanannya.
5. Hukum

Hukum adalah keseluruhan syarat-syarat yang dengan ini kehendak bebas dari orang yang satu dapat menyesuaikan diri kehendak bebas dari orang lain, menuruti peraturan hukum tentang kemerdekaan. Contohnya pada Hukum Bernoulli untuk fluida yang mengalir pada suatu tempat maka jumlah usaha, energi kinetik, energi potensial fluida persatuan volume fluida tersebut mempunyai nilai yang tetap pada setiap titik. Jadi jumlah dari tekanan, energi kinetik persatuan volume, dan energi potensial persatuan volume mempunyai nilai yang sama pada setiap titik sepanjang suatu garis arus.
6. Teori

Kata teori memiliki arti yang berbeda-beda pada bidang-bidang pengetahuan yang berbeda pula tergantung pada metodologi dan konteks diskusi. Secara umum, teori merupakan analisis hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain pada sekumpulan fakta-fakta . Kata teori memiliki arti yang berbeda-beda pada bidang-bidang pengetahuan yang berbeda pula tergantung pada metodologi dan konteks diskusi. Secara

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science umum, teori merupakan analisis hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain pada sekumpulan fakta-fakta Contohnya pada Relativitas umum (bahasa Inggris: general relativity) adalah sebuah teori geometri mengenai gravitasi yang diperkenalkan oleh Albert Einstein pada 1916. Teori ini merupakan penjelasan gravitasi termutakhir dalam fisika modern. Ia menyatukan teori Einstein sebelumnya, relativitas khusus, dengan hukum gravitasi Newton. Hal ini dilakukan dengan melihat gravitasi bukan sebagai gaya, tetapi lebih sebagai manifestasi dari kelengkungan ruang dan waktu. Utamanya, kelengkungan ruang waktu berhubungan langsung dengan momentum empat (energi massa dan momentum linear) dari materi atau radiasi apa saja yang ada.

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science

NILAI SAINS
Pernyataan-pernyataan bahwa sains telah menghadirkan kemajuan kehidupan sehingga tidak perlu direvisi, sains tidak ada sangkut pautnya dengan keyakinan apalagi agama, bahwa sains berlaku universal melampaui batas-batas keyakinan, budaya, agama dan bangsa merupakan pernyataan-pernyataan yang kebenarannya prematur. Ungkapan-ungkapan lain yang semakna hanya menunjukkan bahwa hasil cerapan terhadap perkembangan sains itu sama sekali tanpa diikuti sikap kritis, nilai sikap yang menjadi diktum utama dalam sains itu sendiri. Mengembangkan nilai-nilai dan budaya Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi pada dasarnya adalah melakukan transformasi dari masyarakat berbudaya tradisional menjadi masyarakat yang berpikir analitis kritis dan berketerampilan Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi dengan tetap menjunjung/memelihara nilai-nilai agama, keimanan, dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, serta nilai-nilai luhur budaya bangsa NILAI SOSIAL SAINS Nilai Etika Manusia sebagai makhluk yang berakal budi tidak henti-hentinya mengembangkan pengetahuannya. Akibatnya teknologi berkembang sangat cepat dan tidak terbendung seperti tampak dalam teknologi persenjataan, computer informasi, kedokteran, biologi dan pangan. Kemajuan teknologi tersebut bila tidak disertai dengan nilai etika akan menghancurkan hidup manusia sendiri seperti terbukti dengan perang Irak, pemanasan global, daya tahan manusia yang semakin rendah, pemiskinan sebagian penduduk dunia, makin cepat habisnya sumber alam, rusaknya ekologi, dan ketidakadilan. Pertanyaan yang secara etis dan kritis harus diajukan adalah, apakah teknologi yang kita kembangkan sungguh demi kebahagiaan manusia secara menyeluruh? “Nilai kemanusiaan” sebagai salah satu nilai etika perlu ditaati dalam mengembangkan teknologi. Memasuki abad ke 21, berarti menapaki abad global. Akibat perkembangan tehnologi informasi dan transportasi, dunia Inteernasional pada abad ini mengalami sebuah perubahan besar, yang dikenal dengan era global. Dalam era demikian, situasi dunia menjadi amat transparan, jendela internasional, terdapat hampir disetiap rumah. Apa yang terjadi di salah satu sudut bumi dalam waktu singkat dapat ditangkap dari beerbagai belahan dunia, pintu

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science gerbang antar Negara semakin teerbuka, sekat sekat budaya semakin hilang dan ujung ujungnya akan terbentuk apa yang disebut Jhon Neisbitt sebagai Gaya Hidup Global. Nilai Estetika (Budaya) Pemahaman populer tentang sains biasanya berkisar di seputar kisah-kisah hebat para jenius saintis dan hasil temuan-temuan mereka yang biasanya dirangkum dalam formulasi bahasa matematis. Dalam makna generiknya, sains harus dipahami sebagai upaya manusia untuk mencari tahu tentang suatu fenomena. Jelas, upaya mencari tahu ini tidak akan pernah lepas dari proses penafsiran manusia terhadap fenomena tersebut. Dari sinilah muncul sistem pengetahuan yang terdiri dari objek pengetahuan, metode dan model penafsirannya. Dalam proses mencari tahu itu, aktivitas utama ialah aktivitas representasi yaitu saintis menafsirkan gejala-gejala alam yang kemudian dimodelkan dalam bahasa sains (bahasa yang sekarang dianggap paling komprehensif untuk ini adalah matematika). Dengan demikian, eksistensi sebuah objek pengetahuan sangat bergantung terhadap tafsiran dan wakilan (representasi). Proses untuk menghadirkan eksistensi objek pengetahuan ini tidaklah terjadi begitu saja secara objektif, seolah-olah saintis menemukan sesuatu sedemikian rupa sehingga seakan-akan objek pengetahuan itu sudah ada sebelumnya. Objek pengetahuan itu adalah hasil konstruksi tafsir saintis. Dan aktivitas penafsiran merupakan aktivitas budaya yang selalu terpengaruh oleh faktor kognitif dan faktor sosial. Dalam ungkapan ringkas Andre Linde (kosmolog Rusia), “Ketika para saintis memulai pekerjaan mereka, mereka secara setengah sadar terpengaruh oleh tradisi budaya mereka”. Dengan demikian, nyatalah bahwa objek pengetahuan sebagai fakta dapat diciptakan oleh manusia sehingga tidak menutup kemungkinan fakta dapat berada di tempat yang tidak tepat. Ini berarti bahwa fakta dapat salah! Ini juga berimplikasi bahwa eksistensi fakta-fakta (objek pengetahuan) itu sangat bergantung pada suatu pandangan dunia yang dianut oleh saintis. Thomas Kuhn dalam The Structure of Scientific Revolution (1962) menyebut pandangan ini sebagai paradigma.

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science Nilai Edukasi/Pedologikal Dengan bersikap ilmiah yaitu secara istilah sikap dalam bahasa Inggris disebut “Attitude” sedangkan istilah attitude sendiri berasal dari bahasa latin yakni “Aptus” yang berarti keadaan siap secara mental yang bersifat untuk melakukan kegiatan. Triandis mendefenisikan sikap sebagai : “ An attitude ia an idea charged with emotion which predis poses a class of actions to aparcitular class of social situation” . Rumusan di atas diartikan bahwa sikap mengandung tiga komponen yaitu komponen kognitif, komponen afektif dan komponen tingkah laku. NILAI AGAMA SAINS (MORAL) Secara umum, etika menuntut kejujuran dan dalam Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi ini berarti kejujuran ilmiah (scientific honesty). Mengubah, menambah, dan mengurangi data demi kepentingan tertentu termasuk dalam ketidakjujuran ilmiah. Mengubah dan menambah data dengan rekaan sendiri dapat dimaksudkan agar kurvanya memperlihatkan kecenderungan yang diinginkan. Mungkin penelitinya sendiri yang menginginkan agar hasil penelitiannya sesuai dengan teori yang sudah mapan. Mungkin penaja (sponsor) peneliti itu yang ingin menonjolkan citra produk industrinya. Mereka-reka data semacam itu merupakan the sin of commission. Sebaliknya membuang sebagian data yang “memperburuk” hasil penelitian adalah the sin commission. Penghapusan data yang “jelek” itu mungkin dimaksudkan oleh penelitinya agar analisis datanya memperlihatkan keterandalan (realibility) yang lebih baik. Lebih jahat lagi kalau dosa komisi itu dilakukan untuk menyembunyikan efek samping yang negatif dari produk yang diteliti. Ketidakjujuran ilmiah semacam ini pernah dilakukan peneliti yang di taja pabrik penyedap rasa (monosodium glutamate) di Thailand.

NILAI EKONOMI SAINS Ekonomi adalah kebutuhan manusia, maka sipa yang dapat menguasai perekonomian, dialah yang memegang kekuasaan. Pada saat mata pencaharian utama manusia masih menyangkut soal tanah, kaum feudal lah yang memegang kekuasaan. Sedangkan ketika industri memegang peranan penting dalam ekonomi maka kaum kapitalis lah yang memegang peranan utama dalam penyediaan segala kebutuhan manusia. Sekarang kaum kapitalis industrialis telah banyak mengembangkan usahanya hingga melampaui batas negaranya yang 67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science disebut Multi National Corporation ( MNC ). Kadang – kadang perusahaan perusahaan multinasional ini di negara – negara berkembang ikut serta menentukan politik pemerintahan. Perusahaan besar semacam itu tidak mungkin berkembang tanpa dukungan teknologi Walaupun sebagian penduduk dunia masih hidup di bawah garis kemiskinan namun sebagian besar sudah dapat merasakan manfaat di pergunakannya teknologi modern, karena kebutuhan hidupnya dapat dengan mudah diperoleh dengan harga yang relative lebih murah. Cara pembayarannya pun dapat dilakukan dengan tunai atau kredit. SIKAP ILMIAH Sikap selalu berkenaan dengan suatu obyek dan sikap terhadap obyek ini disertai dengan perasaan positif atau negatif. Secara umum dapat disimpulkan bahwa sikap adalah suatu kesiapan yang senantiasa cenderung untuk berprilaku atau bereaksi dengan cara tertentu bilamana diperhadapkan dengan suatu masalah atau obyek. Menurut Baharuddin (1982:34), ”Sikap ilmiah pada dasarnya adalah sikap yang diperlihatkan oleh para Ilmuwan saat mereka melakukan kegiatan sebagai seorang ilmuwan. Dengan perkataan lain kecendrungan individu untuk bertindak atau berprilaku dalam memecahkan suatu masalah secara sistematis melalui langkah-langkah ilmiah. Beberapa sikap ilmiah dikemukakan oleh Mukayat Brotowidjoyo (1985 :31-34) yang biasa dilakukan para ahli dalam menyelesaikan masalah berdasarkan metode ilmiah, antara lain : 1) Sikap Ingin Tahu Apabila menghadapi suatu masalah yang baru dikenalnya, maka ia berusaha mengetahuinya; senang mengajukan pertanyaan tentang obyek dan peristiwa; kebiasaan menggunakan alat indera 2) Sikap Kritis sebanyak mungkin untuk menyelidiki suatu masalah; memperlihatkan gairah dan kesungguhan dalam menyelesaikan eksperimen. Tidak langsung begitu saja menerima kesimpulan tanpa ada bukti yang kuat, kebiasaan menggunakan bukti – bukti pada waktu menarik kesimpulan; Tidak merasa paling benar yang harus diikuti oleh orang lain; bersedia mengubah pendapatnya berdasarkan buktibukti yang kuat. 3) Sikap Obyektif

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science Melihat sesuatu sebagaimana adanya obyek itu, menjauhkan bias pribadi dan tidak dikuasai oleh pikirannya sendiri. Dengan kata lain mereka dapat mengatakan secara jujur dan menjauhkan kepentingan dirinya sebagai subjek. 4) Sikap Ingin Menemukan Selalu memberikan saran-saran untuk eksperimen baru; kebiasaan menggunakan eksperimen-eksperimen dengan cara yang baik dan konstruktif; selalu memberikan konsultasi yang baru dari pengamatan yang dilakukannya. 5) Sikap Menghargai Karya Orang Lain Tidak akan mengakui dan memandang karya orang lain sebagai karyanya, menerima kebenaran ilmiah walaupun ditemukan oleh orang atau bangsa lain. 6) Sikap Tekun Tidak bosan mengadakan penyelidikan, bersedia mengulangi eksperimen yang hasilnya meragukan’ tidak akan berhenti melakukan kegiatan –kegiatan apabila belum selesai; terhadap hal-hal yang ingin diketahuinya ia berusaha bekerja dengan teliti. 7) Sikap Terbuka Bersedia mendengarkan argumen orang lain sekalipun berbeda dengan apa yang di ketahuinya.bukan menerima kritikan dan respon negatif terhadap pendapatnya. Lebih rinci Diederich mengidentifikasikan komponen sikap ilmiah sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Selalu meragukan sesuatu. Percaya akan kemungkinan penyelesaian masalah. Selalu menginginkan adanya verifikasi eksprimen Tekun Suka pada sesuatu yang baru. Mudah mengubah pendapat atau opini. Loyal terhadap kebenaran. Objektif Enggan mempercayai takhyul.

10) Menyukai penjelasan ilmiah. 11) Selalu berusaha melengkapi pengetahuan yang dimilikinya. 12) Tidak tergesa-gesa mengambil keputusan. 13) Dapat membedakan antara hipotesis dan solusi. 14) Menyadari perlunya asumsi.

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science 15) Pendapatnya bersifat fundamental. 16) Menghargai struktur teoritis 17) Menghargai kuantifikasi 18) Dapat menerima pengertian keboleh jadian dan, 19) Dapat menerima pengertian generalisasi CIRI-CIRI KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk cirri-ciri aptitude maupun non aptitude, baik dalam karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada, yang semuanya itu relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya. Seseorang dikatakan kreatif tentu ada indikator-indikator yang menyebabkan seseorang itu disebut kreatif. Indikator yang sebagai ciri dari kreativitas dapat diamati dalam dua aspek yakni aspek aptitute dan nonaptitute. Ciri-ciri aptitute adalah ciri-ciri yang berhubungan dengan kognisi atau proses berpikir, sedangkan ciri-ciri nonaptitute adalah ciriciri yang lebih berkaitan dengan sikap atau perasaan. Berdasarkan hasil penelitian yang menunjukan indikator kreativitas dikemukan oleh (Munandar, S. C. U, 1992) sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Dorongan ingin tahu besar Sering mengajukan pertanyaan yang baik Memberikan banyak gagasan atau usul terhadap suatu masalah Bebas dalam menyatakan pendapat Mempunyai rasa keindahan Menonjol dalam salah satu bidang seni Mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya, tidak mudah terpengaruh oleh orang lain. Rasa humor tinggi Daya imajinasi kuat sebagainya; dalam pemecahan masalah menggunakan cara-cara orisinal, yang jarang diperlihatkan anak-anak lain) 11. Dapat bekerja sendiri 12. Senang mencoba hal-hal baru 67

10. Keaslian (orisinalitas) tinggi (tampak dalam ungkapan gagasan, karangan, dan

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science 13. Kemampuan mengembangkan atau memerinci suatu gagasan (kemampuan elaborasi) Dari uraian mengenai ciri-ciri kreativitas diatas maka dapat dipahami bahwa seseorang dikatakan kreatif apabila dalam interaksinya dengan lingkungan ciri-ciri dari kreativitas mendominasi dalam aktivitas kehidupannya, dan melakukan segalanya dengan cara-cara yang unik. Semua ciri-ciri tersebut secara konstruktif dapat dimunculkan dalam diri setiap individu, sebab setiap individu memiliki potensi kreatif. Treffinger (1980) dalam Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001 mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang tidak memiliki kreatifitas, hal ini memberikan makna bahwa setiap orang memiliki potensi kreatif dalam dirinya. HUBUNGAN SAINS DAN TEKNOLOGI Sains dan Teknologi adalah institusi manusiawi; artinya Sains dan Teknologi adalah karya yang dilahirkan manusia. Maka tanpa adanya manusia kedua karya tersebut juga tidak akan ada. Namun ada beda fundamental antara kedua institusi tersebut. Perbedaannya terletak pada sumbernya. Sains itu sendiri secara umum didefinisikan sebagai pengetahuan (knowledge) yang didapatkan dengan cara sistematis tentang struktur dan perilaku dari segala fenomena yang ada di jagad raya dan isinya, baik fenomena alam maupun sosial. Sementara itu, teknologi merupakan aplikasi dari sains sebagai respons atas tuntutan manusia akan kehidupan yang lebih baik. Perkembangan sains dan tekonologi yang semakin canggih dan pesa dewasa ini, sejatinya harus berbanding lurus dengan kualitas sumber daya manusia (SDM). Sebab sains lahir dari kaum ilmuwan yang akhirnya berpengaruh pada kemajuan teknologi. Kendati dalam perkembangannya, adakalanya teknologi memicu adanya perkembangan sains. Kedua-duanya mempunyai hubungan ikat yang sangat erat dan saling menguntungkan. Manusia, Sains, dan Teknologi Dalam setiap kebudayaan selalu terdapat ilmu pengetahuan atau sains dan teknologi, yang digunakan sebagai acuan untuk menginterpretasikan dan memahami lingkungan beserta isinya, serta digunakan sebagai alat untuk mengeksploitasi, mengolah dan memanfaatkannya untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan manusia. Sains dan tekhnologi dapat berkembang melalui kreativitas penemuan (discovery), penciptaan (invention), melalui berbagai bentuk

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science inovasi dan rekayasa. Kegunaan nyata ilmu pengetahuan alam dan teknologi bagi manusia sangat tergantung dari nilai, moral, norma dan hukum yang mendasarinya. ilmu pengetahuan alam dan teknologi tanpa nilai sangat berbahaya dan manusia tanpa ilmu pengetahuan alam dan teknologi mencerminkan keterbelakangan. Dalam konteks di atas, hubungan antara sains, teknologi, dan masyarakat menjadi penting, sebab seperti kita ketahui, teknologi lahir karena adanya kebutuhan manusia untuk mempermudah segala aktivitas dan kegiatannya. Contohnya, manusia menciptakan televisi untuk memperoleh wawasan, pengetahuan dan informasi sebanyak mungkin. Manusia juga membuat telepon, alat-alat transportasi dan beragam produk kemudahan dalam berinteraksi antar sesama. Tingkatan teknologi berdasarkan penerapannya dapat dibagi sebagai berikut : 1) Teknologi Tinggi ( Hi – tech ). Suatu jenis teknologi mutakhir yang dikembangkan dari hasil penerapan ilmu pengetahuan terbaru. Contoh : computer, laser, bioteknologi, satelit komunikasi dan sebagainya. Ciri – ciri teknologi ini adalah padat modal, didukung rasiolitas riset dan pengembangannya, biaya perawatan tinggi, ketrampilan operatornya tinggi dan masyarakat penggunanya ilmiah. 2) Teknologi Madya. Suatu jenis teknologi yang dapat dikembangkan dan didukung masyarakat yang lebih sederhana dan dapat digunakan dengan biaya dan kegunaan yang paling menguntungkan. Ciri teknologi madya adalah tidak memerlukan modal yang terlalu besar dan tidak memerlukan pengetahuan baru, karena telah bersifat rutin. Penerapan teknologi maday ini bersifat setengah padat modal da padat karya, unsur – unsur yang mendukung industrinya biasanya dapat diperoleh di dalam negeri dan keterampilan pekerjanya tidak terlalu tinggi. 3) Teknologi Tepat Guna. Teknologi ini dicirikan dengan skala modal kecil, peralatan yang digunakan sederhana dan pelaksanaannya bersifat padat karya. Biasanya dilakukan di negara – negara berkembang, karena dapat membantu perekonomian pedesaan, mengurangi urbanisasi dan menciptakan tradisi teknologi dari tingkat paling sederhana. Dengan kemajuan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi terutama di bidang teknologi informasi dan teknologi transportasi yang dicapai manusia pada ujung pertengahan kedua abad ke XX, memungkinkan arus informasi menjadi serba cepat: apa dan oleh siapa dari

67

Ummi Qalsum, ICP Physics’09, Final Task of Basic Natural Science seluruh muka bumi (bahkan sebagian jagat raya) - menembus ke seluruh lapisan masyarakat dengan bebas tanpa membedakan siapa dia si penerima. Tanpa mengenal batas jarak dan waktu, negara, ras, kelas ekonomi, ideologi atau faktor lainnya yang dapat menghambat bertukar pikiran. Berikut ini akan dijelaskan mengenai pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi terhadap beberapa pola kemasyarakatan. Akan tetapi, bukan berarti kecanggihan teknologi itu melulu mendatangkan kemanfaatan dan dampak positif saja. Tak sedikit yang justru merugikan manusia jika tidak digunakan dengan tepat. Sekadar ilustrasi, reaksi nuklir amat berguna dalam produksi isotop, yaitu untuk berbagai keperluan baik di bidang kesehatan maupun pertanian, juga dapat difungsikan sebagai pembangkit tenaga listrik. Namun, reaksi nuklir tersebut dapat pula dipakai sebagai senjata pemusnah masal, seperti yang terjadi di Hirosima dan Nagasaki. Oleh karena itu, di sini diperlukan kesiapan pengguna teknologi untuk memahami serta mengaplikasikan aneka produk teknologi dengan baik dan benar, agar fungsi dari adanya teknologi, akan membantu kehidupan manusia, dapat tercapai. Dampak Negatif Atas Penyalahgunaan Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di satu sisi dapat membantu atau mempermudah kinerja manusia dalam menjalankan usaha atau kreativitas dan aktivitas, akan tetapi disisi lain dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menghancurkan moral atau akhlak manusia, karena manusia tidak bisa mengambil nilai manfaat dari teknologi yang digunakan atau manusia menyalahgunakan ilmu pengetahuan dan teknologi itu untuk kepentingan

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful