Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOKIMIA

(Uji
Identifikasi
Karbohidrat)

DISUSUN OLEH KELOMPOK D1

10060310105
10060310106
10060310107
10060310108
10060310109

Siti Aminah
Irma Yunita Aryani
Selly Nurul Ulfah
Haniva Humanisya
Tara Verina

ASISTEN KELOMPOK:
Adi Supriyadi, S. Farm.

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT B


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MIPA
UNISBA
2011

I.

Tujuan

Dapat memahami metode identifikasi karbohidrat.


Dapat mengetahui berbagai hasil dari identifikasi karbohidrat.
Dapat melakukan percobaan sesuai Standard Operasional
Procedur.

II.

Teori Dasar
Karbohidrat sangat akrab dengan kehidupan manusia. Karena ia
adalah sumber energi utama manusia. Contoh makanan sehari-hari yang
mengandung karbohidrat adalah pada tepung, gandum, jagung, beras,
kentang, sayur-sayuran dan lain sebagainya. Penting bagi kita untuk lebih
banyak mengetahui tentang karbohidrat beserta reaksi-reaksinya, karena
ia sangat penting bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya 1).
Karbohidrat tersebar luas baik dalam jaringan hewan maupun jaringan
tumbuh-tumbuhan. Dalam tumbuh-tumbuhan, karbohidrat dihasilkan oleh
fotosintesis dan mencakup selulosa serta pati. Pada jaringan hewan,
karbohidrat dalam bentuk glukosa dan glikogen.

(http://www.scribd.com/doc/23764027/Uji-Kulaitatif-Untuk-IdentifikasiKarbohidrat-I-Dan-II)
Karbohidrat merupakan senyawa-senyawa aldehida atau keton yang
mempunyai gugus hidroksil. Senyawa-senyawa ini menyusun sebagian
besar bahan organik di dunia karena peran multipelnya pada semua
bentuk kehidupan. Karbohidrat merupakan golongan senyawa yang terdiri
dari

unsur-unsur

C,

H,

dan

O,

serta

mempunyai

rumus

umum

(CH2O)n. Karbohidrat dapat bertindak sebagai sumber energi, bahan


bakar, dan zat antara metabolisme. Misalnya pada pati yang terdapat di
tumbuhan dan glikogen di hewan adalah polisakarida yang dapat
dimobilisasi untuk menghasilkan glukosa (bahan bakar utama untuk
pembentukan energi). Gula ribosa dan deoksiribosa pembentuk sebagian
kerangka struktur RNA dan DNA. Fleksibilitas cincin kedua gula ini penting
pada penyimpanan dan ekspresi informasi genetika.
Adapun berbagai macam karbohidrat yang terdapat dalam makanan
diantaranya adalah amilum atau pati dan sukrosa (gula tebu). Karbohidrat

(glukosa) dibentuk dari karbondioksida dan air dengan bantuan cahaya


matahari dan klorofil dalam daun. Selanjutnya glukosa yang dihasilkan
diubah menjadi amilum dan disimpan pada buah atau umbi.
Karbohidrat atau sakarida terdapat gugus hidroksil (-OH), gugus
aldehid atau gugus keton. Maka dapat didefinisikan bahwa karbohidrat
sebagai

senyawa

polihidroksialdehida

atau

polihidroksiketon,

atau

senyawa yang dihidrolisis dari keduanya.


Ditinjau dari gugus fungsi yang diikat:
1. Aldosa: karbohidrat yang mengikat gugus aldehid. Contoh: glukosa,
galaktosa.
2. Ketosa: karbohdrat yang mengikat gugus keton. Contoh: fruktosa.
(http://biologi.blogsome.com/2011/02/07/karbohidrat-dan-uji-karbohidrat/)
Berdasarkan

jumlah

monomer

penyusunnya,

karbohidrat

dibedakan

menjadi :
a. Monosakarida
Monosakarida merupakan senyawa karbohidrat yang paling sederhana
karena molekulnuya hanya terdiri dari beberapa atom C dan tidak dapat
diuraikan dengan cara hidrolisis menjadi karbohidrat yang lain. Rumus umum
monosakarida adalah (CH2O)n. Umumnya senyawa monosakarida adalah
aldehid atau keton yang mempunyai dua atau lebih gugus hidroksil. Beberapa
molekul karbohidrat ada yang mengandung unsur nitrogen dan sulfur. Jika
gugus karbonil pada ujung rantai monosakarida adalah turunan aldehid maka
monosakarida ini disebut aldosa, contoh aldosa yaitu glukosa dan galaktosa.
Jika gugus karbonil pada ujung rantai monosakarida adalah turunan keton
maka monosakarida ini disebut ketosa, contoh ketosa yaitu fruktosa.
Monosakarida yang paling kecil adalah gliseraldehid dan dihidroksiaseton.
b. Disakarida (Oligosakarida)
Disakarida merupakan karbohidrat yang terbentuk dari dua sampai
sepuluh molekul monosakarida yang berikatan melalui gugus OH dengan
melepas molekul air. Sedangakan oligosakarida merupakan karbohidrat yang
jika dihidrolisis akan terurai menghasilkan 3 10 monosakarida, misalnya
dekstrin dan maltopentosa. Yang termasuk kelompok ini adalah disakarida,
trisakarida, Dan seterusnya. Disakarida terdiri dari 2 monosakarida yang
terikat dengan O-Glikosidik. Tiga senyawa disakarida utama yang penting dan
melimpah ruah di alam yaitu sukrosa, laktosa dan maltosa. Ketiga senyawa ini

memiliki rumus molekul yang sama (C12H22O11) dengan struktur molekul


berbeda.

Sukrosa atau gula pasir dibuat dari tetes tebu. Sukrosa lebih manis dari
glukosa, tetapi kurang manis dibandingkan dengan fruktosa, sangat
mudah larut dalam air. Gula ini dipakai untuk membuat sirup, gula-gula
dan pemanis makanan. Jika senyawa ini dihidrolisis akan dihasilkan satu

molekul glukosa dan satu molekul fruktosa.


Laktosa disebut gula susu karena terdapat banyak dalam air susu.
Biasanya diperoleh dari air susu. Gula ini merupakan gula yang paling
sukar larut dalam air dan paling tidak manis. Enzim dalam bakteri tertentu
akan mengubah laktosa menjadi asam laktat, hal ini terjadi bila susu
berubah menjadi masam. Laktosa dipakai untuk membuat makanan bayi
dan diet spesial. Jika dihidrolisis akan dihasilkan 1 molekul glukosa dan 1

molekul galaktosa.
Maltosa disebut sebagai gula mout, banyak terdapat pada jelai yang
sedang berkecambah. Senyawa ini merupakan hasil hidrolisis parsial dari
pati. Dibandingkan dngan sukrosa zat ini lebih sukar larut dan kurang
manis. Senyawa ini dipergunakan untuk penyusun makanan bayi, susu
bubuk, dan bahan makanan lainnya. Jika dihidrolisis akan dihasilkan 2

molekul glukosa.
c. Polisakarida
Polisakarida merupakam karbohidrat yang terbenyuk dari banyak sakarida
sebagai monomer. Rumus umum polisakarida, yaitu (C 6H10O5)n. Contoh
polisakarida adalah selulosa, glikogen, dan amilum (pati). Pati merupakan
polisakarida yang tersusun oleh glukosa. Dipandang dari strukturnya, butirbutir pati terdiri dari dua bagian, bagian amilosa yang merupakan rantai lurus
polimer glukosa, dan bagian amilopektin yang terdiri dari rantai bercabang
polimer glukosa jika dihidrolisis sempurna akan dihasilkan molekul-molekul
glukosa.
Untuk uji kualitatif pada karohidrat digunakan beberapa pereaksi :
1. Uji Molisch
Sukrosa yaitu gabungan glukosa dan fruktosa, sedangkan maltosa
yaitu gabungan glukosa dan glukosa. - naftol memiliki rumus molekul
C10H8O, massa molar nya 144g/mol.

Uji molisch

adalah untuk

membuktikan adanya karbohidrat . uji ini efektif untuk berbagai senyawa


yang dapat didehidrasi menjadi furfural atau substansi furfural oleh asam
sulfat pekat. Senyawa furfural akan membentuk kompleks dengan -naftol

yang dikandung pereaksi molisch dengan memberikan warna ungu pada


larutan.

http://nikkugi.wordpress.com/2010/11/19/uji-identifikasi-

karbohidrat/)
2. Uji Benedict
Uji benedict merupakan uji untuk membuktikan adanya gula
pereduksi. Gula pereduksi adalah gula yang mengalami reaksi hidrolisis
dan

bisa

diurai

menjadi

sedikitnya

dua

buah

monosakarida.

Karateristiknya tidak bisa larut atau bereaksi secara langsung dengan


Benedict, contohnya semua golongan monosakarida, sedangkan gula non
pereduksi

struktur

gulanya

berbentuk

siklik

yang

berarti

bahwa

hemiasetal dan hemiketalnya tidak berada dalam kesetimbangannya,


contohnya fruktosa dan sukrosa. Dengan prinsip berdasarkan reduksi Cu 2+
menjadi Cu+ yang mengendap sebagai Cu2O berwarna merah bata. Untuk
menghindari pengendapan CuCO3 pada larutan natrium karbonat (reagen
Benedict), maka ditambahkan asam sitrat. Larutan tembaga alkalis dapat
direduksi

oleh

karbohidrat

yang

mempunyai

gugus

aldehid

atau

monoketon bebas, sehingga sukrosa yang tidak mengandung aldehid atau


keton bebas tidak dapat mereduksi larutan Benedict.
3. Uji Barfoed
Uji Barfoed adalah uji untuk membedakan monosakarida
dan disakarida dengan mengkontrol kondisi pH dan waktu pemanasan.
Pada percobaan ini, karbohidrat direduksi pada suasana asam.
Disakarida juga akan memberikan hasil positif bila di didihkan
cukup lama hingga terjadi hidrolisis 1). I on Cu 2+ dari pereaksi
Barfoed dalam suasana asam akan direduksi lebih cepat oleh
gula

reduksi

monosakarida

dari

pada

disakarida

dan

menghasilkan Cu2O (kupro oksida) berwarna merah bata. Hal inilah yang
mendasari uji Barfoed.
(http://filzahazny.wordpress.com/2009/07/10/karbohidrat/)
4. Uji Seliwanof
Reaksi Seliwanof berdasarkan konversi fruktosa menjadi asam
levulinat dan hidroksimetilfurfural oleh asam hidroklorida panas, yang
selanjutnya terjadi reaksi positif dengan uji Seliwanof. Glukosa dan
karbohidrat lain dalam jumlah banyak dapat juga member warna sama.
5. Uji Pati-Iodium
Pati dan iodium membentuk ikatan kompleks berwarna biru. Ikatan
antara pati dan iodium belum diketahui dengan jelas. Ada teori yang

menyebutkan bahwa terbentuk kompleks adsorpsi pati-iodium, ada teori


lain

juga

yang

meyebutkan

bahwa

pati-iodium

membentuk

suatu

senyawa. Iodium merupakan padatan kristalin abu tua dengan uap ungu.
Titik leleh: 114C. B.Pt: 184C. Iodium sedikit, sedikit larut dalam air,
tetapi larut dengan sangat leluasa dalam pelarut organik. Karena itu
Iodium merupakan padatan bertitik leleh rendah. Kristalinitas memberikan
susunan molekul yang teratur. Strukturnya digambarkan sebagai kubus
terpusat permukaan ini adalah kubus molekul iodium dengan molekul
yang lain berada pada pusat tiap muka.Orientasi molekul iodium dengan
struktur ini sungguh sulit untukdigambarkan. Iodium digunakan untuk
menguji apakah suatu makanan mengandung karbohidrat atau tidak.
Amilum salah satu kabohidrat terdiri atas dua macam polisakarida yang
kedua-duanya adalah polimer dari glukosa yaitu amilosa (kirakira 20-28%)
dan

sisanya

amilopektin.

Amilosa adalah dari 250-300 unit D-glukosa yang terikat dengan ikatan
1,4-glikosidik, jadi molekulnya merupakan rantai terbuka. Molekul amilo
pektin lebih besar dari pada molekul amilosa karena terdiri atas lebih dari
1000

III.Alat dan
III. 1.
III. 2.
-

unit

Bahan
Alat
Tabung reaksi
Penangas air
Batang pengaduk
Pipet tetes
Gelas ukur
Bahan
-naftanol
95% etil alcohol
Sukrosa
Glukosa
Arabinosa
Maltosa
Natrium sitrat
Na3CO3 anhidrat
Air
Tembaga sulfat
H 2O
Galaktosa
Fruktosa
Kristal tembaga asetat
Asam laktat 8,5 %

glukosa.

Laktosa
Resorsinol
Hcl encer
Pati
Toluen
KI
Iodium
NaOH
Pereaksi Molisch
Larutan karbohidrat
Asam sulfat pekat
1% amilum
Selulosa (kapas)
Reagen Benedict
Reagen Barfoed
Pereaksi Seliwanof
Larutan pati 1%

IV.Prosedur Kerja
Pada uji molisch, digunakan enam macam karbohidrat yaitu glukosa
, sukrosa, maltosa, arabinosa, amilum dan selulosa,

masing-masing

sebanyak 1 mL, lalu masing-masing karbohidrat tersebut dimasukkan


kedalam tabung reaksi yang berbeda-beda. Kemudian ke dalam masingmasing larutan karbohidrat tersebut ditambahkan pereaksi molisch
sebanyak 3 tetes, setelah itu dikocok pelan-pelan, kemudian ditambahkan
1 mL asam sulfat pekat melalui dinding tabung, terakhir amati reaksi yang
terjadi.
Pada

uji

Benedict,

digunakan

dua

macam

karbohidrat

yaitu

galaktosa dan fruktosa. Disediakan dua buah tabung reaksi yang masingmasing tabung telah di isi dengan 2mL reagen Benedict dan pada masingmasing tabung tersebut ditetesi 3 tetes galaktosa dan fruktosa. Kemudian,
kedua tabung reaksi yang berisi larutan disimpan di dalam penangas air
mendidih selama tiga menit. Kedua tabung dibiarkan dingin sambil
memperhatikan perubahan warna dan ada atau tidak nya endapan.
Pada uji Barfoed, digunakan dua macam karbohidrat

yaitu

monosakarida berupa fruktosa dan monosakarida berupa laktosa. Kedalam


dua tabung reaksi yang berbeda dimasukkan 1 mL reagen barfoed,
kemudian ke dalam masing-masing tabung tersebut dimasukkan 1 mL
fruktosa dan 1 mL laktosa. setelah itu disimpan di dalam penangas air
mendidih selama 11 menit, kemudian dibiarkan dingin pada air panas
mengalir selama 2 menit untuk melihat ada atau tidak nya perubahan
setelah didinginkan.

Pada uji Seliwanof, digunakan dua macam karbohidrat yang sama


seperti pada uji barfoed yaitu fruktosa dan laktosa, pengujiannya , namun
pada pengujian ini tabung reaksi di simpan di dalam penangas air
mendidih selama 60 detik dan perhatikan perubahan warna yang terjadi.
Untuk uji pati-iodium, 3 mL larutan pati 1% ditambahkan ke dalam 3
tabung reaksi, lalu ditambahkan 2 tetes air kedalm tabung I, setelah itu
ditambahkan 2 tetes 6N HCl ke dalam tabung II, selanjutnya 2 tetes NaOH
6N ke dalam tabung III, kemudian setiap tabung reaksi ditambahkan 1
tetes 0,01 M larutan iodium, amati yang terjadi dan setelah itu tabung
dipanaskan hingga terjadi reaksi, lalu catat perubahan warna yang terjadi.
V.Data Pengamatan
a. Uji Molisch
Pada awal pengamatan : Glukosa, Amilum, Maltosa, Sukrosa,
Arabinosa,

Selulosa

berwarna,

berbentuk

sedangkan

larutan

pereaksi

berbentuk larutan orange tua.


Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Uji Molisch
Karbohid

Pereaksi

rat

Hasil

Pengamatan

Setelah

Reaksi
Positif

Ditambahkan
Glukosa

Reagen

Pereaksi
terbentuk

gumpalan

Maltosa

Molisch
Reagen

putih dibawah tabung


terbentuk gumpalan

Sukrosa

Molisch
Reagen

putih
terbentuk

gumpalan

Arabinosa

Molisch
Reagen

putih dibawah tabung


terbentuk gumpalan

Amilum

Molisch
Reagen

putih dibawah tabung


terbentuk gumpalan

Selulosa

Molisch
Reagen

putih diatas tabung


terbentuk gumpalan

Molisch
putih diatas tabung
Keterangan : (+) menghasilkan lapisan cincin berwarna ungu

tak

molisch

Gambar saat uji molisch setelah ditambah


naftol

Gambar saat uji molisch setelah ditambah


naftol dan asam sulfat

b. Uji Benedict
Tabel 4.2 Hasil Pengamatan Uji Benedict
Karbohid

Pereaks

Perubahan

Warna

rat

Saat Dipanaskan

Setelah

Reaksi

Dingin

Positif

Menghasilkan
Galaktosa

Reagen

biruhijaubiru

Endapan
merah
bata

Fruktosa

Benedict
Reagen

kecoklatan
birukuningorangem

(sedikit)
merah

Benedict erah bata


(banyak)
Keterangan : (+) menghasilkan endapan berwarna merah

bata

Gambar hasil dari uji benedict terhadap


fruktosa

Gambar hasil dari uji benedict terhadap


galaktosa

c. Uji Barfoed
Pada awal pengamatan : Fruktosa dan Laktosa berbentuk larutan
tak berwarna, sedangkan pereaksi barfoed berbentuk larutan biru
tua.
Tabel 4.3 Hasil Pengamatan Uji Barfoed
Karbohi

Pereak

Perubahan

Perubahan

Setelah

Reaksi

drat

si

Warna

Warna

Didingin

Positif

Fruktosa

Reagen

Campurkan
Biru muda

Dipanaskan
Biru

kan
Tetap ada

mudabiru

endapan

tua

(setelah

berwarna

menit)

Saat di

Barfoed

Saat

merah

endapan
merah

bata

(setelah
Laktosa

Reagen
Barfoed

Biru muda

menit)
Biru

Tetap

mudabiru

berwarna

muda

biru
muda

Keterangan : (+) menghasilkan endapan berwarna merah


(-) tidak menghasilkan endapan berwarna merah

Gambar uji barfoed terhadap fruktosa


saat dipanaskan

Gambar uji barfoed terhadap fruktosa


setelah dipanaskan

Gambar uji barfoed terhadap laktosa

d. Uji Seliwanof :
Tabel 4.4 Hasil Pengamatan Uji Seliwanof
Karbohid

Pereaks

Perubahan

Warna

rat

Saat di Campurkan

Perubahan
Warna

Reaksi
Saat

Positif

Fruktosa

Reagen

Bening

agak

Seliwano

kekuningan

Dipanaskan
bening
agak

kekuningan

merah
tipisorangeme

Laktosa

Reagen

rah bata
beningmerah

Bening

Seliwano

pucat

f
Keterangan : (+) Berubah warna menjadi warna merah
Laktosa dan Fruktosa berubah warna pada waktu lebih dari 60
detik, tetapi laktosa lebih lama berubah.

Gambar uji selliwanof terhadap fruktosa dan


laktosa sebelum dipanaskan

Gambar uji selliwanof terhadap fruktosa setelah


dipanaskan

e. Uji Pati - Iodium


Pada awal pengamatan : Iodium berwarna kuning keorangean,
sedangkan HCl 6N, NaOH 6N, Aquadest, dan Pati tidak berwarna.
Tabel 4.5 Hasil Pengamatan Uji Pati - Iodium
Karbohi

Pereak

Perubaha

Ditambah

Perubahan

drat

si

kan

Saat Dipanaskan

Warna

Saat

di

Warna

Iodium

Pati

Air

reaksi

ada

i
Positi

Campurka
n
Tidak

Reaks

f
Timbul

Biru tak berwarna

warna biru

agak keruh

diantara
Pati

Pati

NaOH

Tidak

6N

reaksi

HCl 6N

Tidak
reaksi

ada

ada

pati
Timbul

Birutak

warna biru

dan

diantara

dibanding yang lain

pati
Timbul

Birutak

warna biru

agak keruh

berwarna

lebih

keruh

berwarna

diantara
pati

Gambar

saat

uji

pati-iod

sebelum dipanaskan

Gambar uji pati-iod saat dipanaskan

VI.Pembahasan
Pada uji Molisch, terjadi reaksi positif glukosa,sukrosa, amilum,
arabinosa,selulosa, maltosa yang menghasilkan warna cincin ungu, yang

menunjukkan uji molisch ini spesifik untuk karbohidrat. Pereaksi molisch


terdiri dari -naftol dalam alkohol yang akan bereaksi dengan furfural
membentuk senyawa kompleks berwarna ungu yang disebabkan oleh
adanya dehidrasi dari asam sulfat pekat terhadap karbohidrat. Tujuan
pemberian asam sulfat adalah untuk menghidrolisis ikatan pada sakarida
dan untuk menghilangkan molekul air pada sampel karbohidrat. Sehingga
apabila asam sulfat yang diberikan berlebih, kemungkinan tidak dihasilkan
reaksi positif ungu tetapi warna cokelat samapai hitam karena sakaridanya
rusak. Tujuan diberikan -naftol sebelum asam sulfat yaitu agar reaksi
berjalan baik yaitu -naftol sebagai Iindikator pewarna

terbentuknya

senyawa kompleks berwarna ungu. Jika diberikan asam sulfat lebih awal
maka tidak akan terlihat pembentukan senyawa kompleksnya karena
reaksi ini berlangsung cepat. Saat penambahan pereaksi molisch, yang
terbentuk adalah gumpalan warna putih, yaitu -naftol yang terperangkap
oleh sakaridanya. Dan warna yang dihasilkan berbeda beda disebabkan
oleh perbedaan kadar sakarida dalam tiap tabung semakin besar kadar
sakarida maka semakin pekat.

Pada uji Benedict larutan tembaga alkalis akan direduksi oleh gula
yang mempunyai gugus aldehid atau keton bebas dengan membentuk
kuproksida yang berwarna. Fungsi dari CuSO 4 adalah sebagai oksidator
yang bersifat basa lemah, fungsi Na-sitrat adalah sebagai zat pencegah
pembentukan

Cu(OH)2.

Gula

pereduksi

beraksi

dengan

pereaksi

menghasilkan endapan merah bata (Cu2O). Pada gula pereduksi terdapat


gugus aldehid dan OH laktol. OH laktol adalah OH yang terikat pada atom
C pertama yang menentukan karbohidrat sebagai gula pereduksi atau
bukan. Sekalipun aldosa atau ketosa berada dalam bentuk sikliknya,
namun bentuk ini berada dalam kesetimbangannya dengan sejumlah kecil
aldehida atau keton rantai terbuka, sehingga gugus aldehida atau keton
ini dapat mereduksi berbagai macam oksidator

. Pada gula pereduksi

struktur adalah linier dengan adanya elektron bebas yang berupa gugus
aldehid atau keton bebas pada ujung-ujungnya. Keton akan lebih reaktif
daripada aldehid karena keton memiliki daya reduksi yang lebih kuat dari
aldehid. Pada percobaan yang dilakukan, galaktosa dan fruktosa yang
merupakan karbohidrat jenis monosakarida menunjukkan reaksi yang
positif terhadap pereaksi Benedict. Dengan adanya endapan merah bata
yang banyak pada fruktosa dan endapan merah bata yang sedikit pada
galaktosa. Hal ini menunjukkan bahwa karbohidrat jenis galaktosa dan
fruktosa merupakan gula pereduksi. Berdasarkan literatur lain, fruktosa
(ketosa) aan dikonversi menjadi glukosa (aldosa) berdasarkan reaksi
dibawah ini :

Uji Barfoed menggunakan prinsip oksidasi dan reduksi yang terjadi


oleh gula yang memiliki gugus aldehida atau keton. Pada Reaksi yang
membedakan uji barfoed dengan uji benedict adalah uji ini berlangsung
pada keadaan asam (acidic) atau pH rendah dan dalam waktu tertentu
sedangkan uji benedict berlangsung pada keadaan basa (alkaline) atau pH
tinggi. Uji barfoed menggunakan reagen barfoed yang terdiri dari tembaga
asetat dan asam asetat glacial sebagai pereaksi.
Pada uji Barfoed terdeteksi bahwa monosakarida dapat membentuk
endapan merah bata karena terbentuk hasil Cu2O berdasarkan reaksi :
O
R C H
CH3COOH
glukosa monosakarida
bata

+ Cu 2+ asetat

O
R C OH +

Cu 2O

endapan merah

Pada percobaan ini, laktosa tidak menghasilkan endapan merah bata


sehingga dikatakan bahwa ia negatif mengandung karbohidrat, ini
mungkin disebabkan karena pemanasan yang dilakukan kurang lama
sehingga

tidak

dihasilkan

endapan

merah

sedikitpun

atau

karena

diketahui bahwa disakarida merupakan agen pereduksi yang lemah,


mereka tidak membentuk ion kupri pada reagen barfoed yang ada dalam
keadaan asam, sedangkan monosakarida merupakan agen pereduksi yang
kuat dan mampu membentuk ion kupri dalam reagen barfoed dalam
keadaan asam karena itu uji barfoed ini digunakan untuk membedakan
disakarida

pereduksi

dengan

monosakarida

pereduksi

dalam

suatu

sample. Dan saat pembentukan endapan Cu2O pada laktosa ini tidak
menghasilkan uji positif dikarenakan laktosa mrupakan termasuk dalam
aldosa yang dalam hidrolisisnya memerluka asam yang kuat, tidak seperti
ketosa yang asam lemah pun dapat terhodrolisis cepat. Pada proses
pengujian, larutan dipanaskan, pemanasan terhadap sampel membantu
asam asetat glacial menghidrolisis disakarida menjadi monosakarida yang
kemudian akan mereduksi reagen, karena itu perbedaan waktu yang ada
menjadi

indikasi

peredaan

terhadap

monosakarida

pereduksi

dan

disakarida pereduksi. Monosakarida pereduksi ditandai dengan terjadinya


endapan merah bata kupro oksida (Cu 2O) pada saat dipanaskan dalam
kurun waktu dua sampai tiga menit, sedangkan disakarida pereduksi
ditandai dengan pembentukan endapan merah bata kupro oksida (Cu 2O)
dalam kurun waktu sepuluh sampai duabelas menit, karena jika larutan
dipanaskan terlalu lama akan menyebabkan disakarida terhidrolisis
menjadi monosakarida, yang akan memberikan hasil uji positif terhadap
test Barfoed. Hasil positif ditandai dengan larutan berwarna biru dan pada
bagian bawah terdapan endapan kemerahan.
Reaksi spesifik lainnya untuk karbohidrat tertentu adalah Uji
Seliwanof. Reaksi seliwanof disebabkan perubahan fruktosa oleh asam
klorida

panas

selanjutnya

menjadi

kondensasi

asam

levulinat

dan

hidroksimetilfurfural

menghasilkan senyawa berikut:

hidroksimetilfurfural,
dengan

resorsinol

Sukrosa yang mudah dihidrolisa menjadi glukosa dan fruktosa, memberi


reaksi positif dengan uji seliwanof. Pada pendidihan lebih lanjut, aldosa
aldosa memberikan warna merah dengan reagen seliwanof karena aldosa
aldosa tersebut diubah oleh HCl menjadi Ketosa. Warna merah bata yang
dihasilkan pada percobaan ini menandakan bahwa larutan gula tersebut
positif mengandung senyawa ketosa. Warna tersebut disebabkan karena
terjadinya

reaksi

kondensasi

resorsinol

dengan

furfural

atau

hidroksimetilfurfural.
Di dalam uji Seliwanof ada pembentukan 4-hidroksimetilfurfural yang
terjadi pada reaksi antara fruktosa, sukrosa, galaktosa, glukosa, dan
arabinosa yang mendasari uji seliwanof. Fruktosa merupakan ketosa, dan
sukrosa terbentuk atas glukosa dan fruktosa, sehingga reaksi dengan
pereaksi Seliwanof akan menghasilkan senyawa berwarna jingga. Warna
jingga yang muncul disebabkan oleh senyawa kompleks. Dalam percobaan
yang dilakukan sukrosa dan fruktosa memberikan warna merah jingga,
sedangkan pada galaktosa, glukosa, dan laktosa memberikan warna
jingga pucat. Hidroksimetilfurfural yang mengalami kondensasi akan
membentuk

senyawa

kompleks.

Reaksi uji Seliwanof :

Uji kimia yang membedakan gula aldosa dan ketosa. Ketosa dibedakan
dari aldosa via gugus fungsi keton/aldehida gula tersebut. Jika gula
tersebut mempunyai gugus keton, ia adalah ketosa. Sebaliknya jika ia
mengandung gugus aldehida, ia adalah aldosa. Uji ini didasarkan pada
fakta bahwa ketika dipanaskan, ketosa lebih cepat terdehidrasi daripada
aldosa.
Reagen uji Seliwanof ini terdiri dari resorsinol dan asam klorida pekat:

Asam reagen ini menghidrolisis polisakarida dan oligosakarida menjadi


gula sederhana.

Ketosa

yang

terhidrasi

kemudian

bereaksi

dengan resorsinol,

menghasilkan zat berwarna merah tua. Aldosa dapat sedikit bereaksi


dan menghasilkan zat berwarna merah muda.

Fruktosa dan laktosa merupakan dua jenis gula yang memberikan uji
positif. Sukrosa menghasilkan uji positif karena ia adalah disakarida yang
terdiri dari furktosa dan glukosa.
Gula ketosa lebih mudah mengalami dehidrasi daripada gula aldosa, hal
ini dikarenakan pada gula ketosa, terdapat dua alkil yang membuatnya
lebih mudah membentuk stuktur berantai tertutup yang disebut dengan
hidroksimetil furfural daripada struktur aldosa yang memiliki gugus
karbonil pada ujung rantainya.
Jika pada tahap awal reaksi telah berlangsung lambat, maka untuk tahap
reaksi selanjutnya juga menjadi lebih lambat. Laktosa walapun termasuk
gula

reduksi,

namun

kemampuan

mereduksinya

lebih

lemah

dari

monomernya, sehingga rekasi dengan asam amino pada tahap 1 juga


berlangsung lebih lambat dari pada penambahan dengan fruktosa,
Gula aldosa :
apabila gugus aktif

(karbonil)nya berikatan dengan

atom

pada pada ujung molekul.


Gula ketosa :
apabila gugus karbonil berikatan pada atom C yang lain.
Pada uji pati-iod terbentuk kompleks berwarna biru, ini
disebabkan karena dalam larutan pati, terdapat unit-unit glukosa yang
membentuk rantai heliks karena adanya ikatan dengan konfigurasi pada
tiap unit glukosanya. Bentuk ini menyebabkan pati dapat membentuk
kompleks dengan molekul iodium yang dapat masuk ke dalam spiralnya,
sehingga menyebabkan warna biru tua pada kompleks tersebut. Butir-butir
pati tidak larut dalam air dingin tapi apabila suspensi dalam air
dipanaskan maka akan terjadi suatu larutan koloid yg kental. Larutan
koloid ini apabila diberi larutan iodium akan berwarna biru. Warna biru
tersebut disebabkan oleh molekul amilosa yang terbentuk senyawa.
Alasan lainnya karena terjadi absorbi molekul Iodium yang masuk dalam
aliran spiral amilosa (pati) polisakarida. Apabila dipanaskan, spiral molekul
akan merenggang dan kehilangan daya absorbsinya terhadap Iodin
sehingga ia kembali menjadi tidak berwarna (warna sama seperti warna
sampel awal). Iodium yang dipakai disini berfungsi sebagai indikator suatu
senyawa polisakarida. Bila suatu senyawa/larutan dipanaskan dan diberi I2
menjadi biru, maka senyawa itu adalah polisakarida. Apabila senyawa itu

dipanaskan membentuk koloid, yang jika ditambah I2, warna menjadi


bening (tidak berwarna) hal ini menandakan bahwa polisakarida itu telah
terhidrolisis sempurna menghasilkan glukosa (monosakarida). Kemudian
tabung berisi NaOH terlihat lebih menonjol yaitu keruh sekali karena
terbentuknya NaI.

VII. Kesimpulan
1. Dalam

uji

molisch

terhadap

sampel

glukosa,sukrosa,

amilum,

arabinosa,selulosa, maltosa terjadi reaksi positif warna ungu.


2. Dalam uji benedict, fruktosa dan galaktosa menunjukkan reaksi positif
tetapi fruktosa menghasilkan endapan merah bata yang banyak
sedangkan galaktosa hanya sedikit.
3. Dalam uji barfoed, fruktosa menghasilkan reaksi positif menghasilkan
endapan merah sedangkan laktosa tidak.
4. Dalam uji seliwanof fruktosa menghasilkan reaksi positif warna merah
bata sedangkan laktosa menghasilkan reaksi positif berwarna merah
pucat.
5. Dalam uji pati-iodium, penambahan pereaksi lain seperti NaoH, HCl dan
air menghasilkan hasil yang berbeda.
6. Dalam uji pati-iodium, penambahan pereaksi NaoH menghasilkan
warna yang lebih keruh yaitu terbentuknya NaI.

VIII.Daftar Pustaka
Anonim. 2009. Detik-Detik Ujian Nasional Kimia. Klaten : Intan
Pariwara
Anonim. Uji Kulaitatif Untuk Identifikasi Karbohidrat I dan II.
Diakses

tanggal

18

Oktober

2011

pkl.

20.47

dalam

(http://www.scribd.com/doc/23764027/Uji-Kulaitatif-Untuk-IdentifikasiKarbohidrat-I-Dan-II)
Anonim.2011.Berbagaiujikarbohidrat.pdf.
Oktober

2011

pkl.

Diakses

tanggal

19.08

18

dalam

(http://zonabawah.blogspot.com/2011/09/download-laporan-ujibarfoed.html)
Filzahazny. 2009. Karbohidrat.

Diakses tanggal 10 Oktober 2011

dalam (http://filzahzny.wordpress.com/2009/07/10/karbohidrat/)
Mustahib S.Pd. Si. 2011. Karbohidrat dan Uji Karbohidrat. Diakses
tanggal

18

Oktober

2011

pkl.

19.33

dalam

(http://biologi.blogsome.com/2011/02/07/karbohidrat-dan-uji-karbohidrat/)
Nikkugi. 2010. Uji Identifikasi Karbohidrat. Diakses tanggal 10
Oktober

2011

dalam

(http://nikkugi.wordpress.com/2010/11/19/uji-

identifikasi-karbohidrat/)
Salila, Musrin, S.Pd. M.Si. 2010. Laporan Biokimia Karbohidrat.
Diakses tanggal 11 Oktober 2011 pkl. 20.05 dalam (http://sukseskimia(sukseskimia.blogspot.com/2010/04/laporan-biokimia-karbohidrat.html)
Yukiicettea. 2009. Biochemistrylaporan Biokimia. Diakses tanggal
10

Oktober

2011

(http://yukiicetea.blogspot.com/2009/10/biochemistry-laporanbiokimia.html.jm-1)

dalam