Anda di halaman 1dari 9

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu proses yang sangat penting yang harus dilalui oleh setiap
manusia. Pendidikan mengajarkan manusia tentang berbagai hal. Pendidikan bertujuan
bagaimana memanusiakan manusia menjadi manusia yang beradab. Namun proses
pendidikan bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilalui. Manusia membutuhkan sarana
dan prasarana sebagai penunjang dalam proses pembelajarannya. Pembelajaran
merupakan suatu proses, cara, ataupun perbuatan yang menjadikan orang atau makhluk
hidup belajar
Adapun pendidikan Pendidikan secara formal memerlukan ruangan kelas beserta
kelengkapan kelas sebagai penunjang. Kelas yang bersih, ruangan yang nyaman
merupakan faktor penting yang mempengaruhi daya serap otak siswa dalam belajar
didalam kelas. Hal ini masuk ke dalam pembahasan dalam pengelolaan kelas.
Pengelolaan

kelas

bisa

diartikan

sebagai

kegiatan

untuk

menciptakan

dan

mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar yang didalamnya
mencakup pengaturan siswa dan fasilitas
Dalam kurikulum 2013 banyak sekali peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh siswa
sendiri maupun guru dalam mewujudkan ruangan kelas yang nyaman dan sesuai aturan.
Namun berkaitan dengan itu, aturan-aturan tentang hal tersebut mendapat banyak
hambatan. Hambatan pun berasal dari pengajar, siswa maupun pegawai administrasi
pendidikan. Berkaitan dengan hambatan inilah yang melatarbelakangi kami membuat
makalah ini sehingga timbul atau muncul solusi-solusi yang mungkin bisa diterapkan
untuk sempurnanya pendidikan diindonesia pada khususnya kelak di masa depan.
1.2 rumusan masalah
a. Apa saja masalah-masalah pada pelaksanaan pengelolaan kelas dalam penerapan
kurikulum 2013?
b. Apa saja solusi atas permasalahan-permasalahan tersebut dengan menggunakan
pendekatan pengelolaan kelas?
c. Bagaimana contoh/ilustrasi kondisi-kondisi di kelas yang sesuai dengan masingmasing model pengelolaan kelas?
d. Bagaimana bentuk kelas idaman yang sesuai dengan keinginan penulis?

1.3 tujuan

a. Apa saja masalah-masalah pada pelaksanaan pengelolaan kelas dalam penerapan


kurikulum 2013?
b. Apa saja solusi atas permasalahan-permasalahan tersebut dengan menggunakan
pendekatan pengelolaan kelas?
c. Bagaimana contoh/ilustrasi kondisi-kondisi di kelas yang sesuai dengan masingmasing model pengelolaan kelas?
d. Bagaimana bentuk kelas idaman yang sesuai dengan keinginan penulis?

BAB 2
PEMBAHASAN
Pengelolaan kelas dipandang sebagai salah satu aspek penyelenggaraan sistem
pembelajaran yang mendasar, di antaranya mengelola tingkah laku siswa dalam kelas,
menciptakan iklim sosio emosional dan mengelola proses kelompok (Sobari, 2010). Dalam
pengelolaan kelas harus dilaksanakan dengan prosedur tertentu, yang mana prosedur ini
merupakan langkah yang dilalui guru dalam kegiatan belajar mengajar, paling tidak akan
mengarahkan proses pengelolaan kelas yang lebih terarah dan teratur. Untuk itu terdapat dua
prosedur pengelolaan kelas, yaitu prosedur bersifat Preventif (pencegahan), dan prosedur
yang bersifat Kuratif (penyembuhan).
1) Prosedur Preventif (pencegahan)
Merupakan mencegah suatu tindakan sebelum adanya penyimpangan khususnya
didalam kelas agar tidak mengganggu proses belajar mengajar. Preventif merupakan

upaya sedini mungkin yang dilakukan oleh guru untuk mencegah terjadinya gangguan
dalam pembelajaran (Johar, 2001). Keterampilan dalam hal ini berhungan dengan
kompetensi guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran serta aktivitas
yang berkaitan dengan keterampilan.
2) Prosedur Refresif (Penyembuhan)

Tindakan yang dilakukan guru setelah datangnya masalah sebagai respon untuk
mengatasi masalah itu sendiri.
2.1 Permasalahan Pada Pelaksanaan Pengelolaan Kelas Dalam Penerapan Kurikulum
2013
Dalam kurikulum 2013 banyak sekali permasalahan-permasalahan dalam pengelolaan
kelas, diantaranya:
1) Pada saat siswa berdiskusi dengan kelompoknya untuk membahas suatu materi,
guru yang akan memberikan pengarahan atau penjelasan tidak terlalu dihiraukan.
Sehingga hanya beberapa orang siswa yang mendengarkan guru tersebut, guru
kesulitan mengatur siswa pada saat mereka telah berdiskusi.
2) Dalam kurikulum 2013 guru dituntut untuk menyesuaikan tempat duduk siswa
sesuai dengan karakteristik dan tujuan pembelajaran sedangkan tidak semua
sekolah memiliki fasilitas yang sama. Misalnya luas ruangan, jumlah tempat
duduk, serta kelengkapan lainnya.
3) Volume dan intonasi suara guru dalam proses pembelajaran harus dapat didengar
baik oleh semua peserta didik.
2.2 Solusi Permasalahan Pada Pelaksanaan Pengelolaan Kelas Dalam Penerapan
Kurikulum 2013
1) Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah secara
preventif, yaitu guru melakukan pencegahan dengan memberikan instruksi untuk
tetap kondusif, berdiskusi dengan serius, dan tidak mengeluarkan suara yang keras
saat berdiskusi. Hal ini dapat dilakukan sebelum siswa melakukan diskusi. Selain
itu guru juga dapat menegur langsung siswa yang tidak serius saat berdiskusi.
2) Yang menjadi solusi masalah tersebut, sebagai tindakan preventif menurut
kelompok kami adalah seorang guru harus mengetahui dahulu meninjau seperti
apa kondisi sekolah atau ruangan yang akan digunakan sehingga bisa
menyesuaikan materi yang akan disampaikan dengan kondisi dari ruangannya,
tidak terpaku pada pada aturan yang jika dipaksakan akan menyebabkan suasana
belajar menjadi tidak kondusif. Selain itu juga sebagai tindakan refresif seorang
guru bisa memanfaatkan media lain yang sesuai dengan materi.

3) Solusi menurut kami sebagai wujud dari upaya refresif adalah seorang guru
tersebut berusaha berbicara dengan lantang dan baik sehingga bisa jelas didengar
oleh siswa dengan baik. Tetapi jika memeang tidak bisa karena sudah memang
begitu adanya, seorang guru harus agan dan tbisa memposisikan diri
menyesuaikan tempat atau posisi duduk siswa, sehingga semua siswa bisa
mendengar apa yang dikatakan guru dengan baik. Solusi lain adalah dengan
menggunakan bantuan media seperti pengeras suara.
2.3 Contoh/Ilustrasi Kondisi-Kondisi di Kelas Yang Sesuai Dengan Masing-Masing
Model Pengelolaan Kelas
1) Permasalah pertama dapat diilustrasikan saat guru akan memulai diskusi guru
memberikan instruksi untuk tidak ribur atau mengeluarkan suara keras saat
berdiskusi sehingga sauna kelas tetap kondusif saat diskusi telah berjalan. Instruksi
tersebut dapat berupa nanti saat berdiskusi diberikan ksempatan untuk kalian
berbicara dengan teman, tetapi yang dibicarakan adalah tentang masalah yang akan
didiskusikan. Nanti bapak/ibu akan memberikan pengarahan tambahan saat kalian
berdiskusi jadi tetap tenang agar bisa didengarkan dengan baik. Selian dengan
pengarahan tersebut guru dapat langsung mengawasi siswa saat berdiskusi dan
menegur langsung siswa yang tidak serius berdiskusi agar kelas tetap kondusif.
2) Disini dicontohkan ketika siswa melakukan praktikum. Susunan bangku harus
sesuai dengan aturan praktikum. Misalnya praktikum untuk bahan-bahan kimia
berbahaya. Aturan yang benar adalah harus memakai meja yang permanen dan
dilengkapi dengan wastafel. Namun banyak sekolah yang memilki ruangan dan
tempat duduk yang tidak sesuai.banyak sekolah menggabungkan ruangan
praktikum biologi dengan ruangan praktikum untuk kimia. Untuk mengatasi hal ini
jika diilustrasikan, meja kursi yang awalnya berderet ke belakang dan jika bergeser
sedikit saja sering ke senggol oleh teman di belakang atau didepan. Posisi ini bisa
diubah dengan berderet di pinggir-pinggir menghadap tembok. Dengan begitu
kemungkinan untuk tersenggol oleh siswa kecil.
3) Ilustrasi dari solusi permasalahan ke tiga adalah ketika seorang guru menjelaskan
dan siswa tidak dapat mendengar dengan baik maka saat itu seorang guru harus
bisa mengambil posisi. Seorang guru tidak bisa hanya berdiam saja didepan untuk
menjelaskan materi. Seorang guru harus memastikan semua siswa mendengar apa
yang dijelaskan dan memastikan siswa tidak main-main dan mengabaikan

penjelasan guru. Untuk itu, seorang guru ketika menjelaskan harus berkeliling
sampai dibelakang. Pokoknya seorang guru tidak berdiam diri hanya pada satu
tempat.
2.4 bentuk kelas idaman yang sesuai dengan keinginan penulis
a.
b.
c.
d.
e.

Ukuran kelas 8 x 7 meter dengan 2 sisi


Susunan bangkunya berbentuk U untuk 25 siswa
Menggunaka 4 lampu neon sebagai penerang
Guru menjelaskan berada di tengah-tengah
Menggunakan papan layar yang bisa ditulis oleh guru melalui suatu alat yang
langsung terlihat pada papan layar di depan, sehingga guru tidak perlu capek

berpindah untuk menulis di papan


f. Di dalam kelas terdapat 2 AC sehingga ruangan menjadi sejuk yang membuat siswa
g.
h.
i.
j.
k.

menjadi betah di dalam ruangan.


Pewangi ruangan otomatis
Peredam suara di tembok untuk mengurangi gema
Menyiapkan LCD untuk kebutuhan pembelajaran
Tersedia koneksi internet
Setiap siswa lengkapi masing-masing 1 laptop

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini adalah permasalahan pengelolaan kelas dalam
penerapan kurikulum 2013 yang kami tulis ada 3, yaitu kurangnya perhatian siswa
kepada guru saat menjelaskan, dituntutnya aturan duduk sesuai dengan kebutuhan
materi, dan dituntutnya suara guru yang jelas sehingga didengar baik oleh siswa.
Solusinya secara berurutan adalah guru menginstruksikan siswa untuk tetap tenang
selama proses pembelajaran sebagai tindakan preventif, guru terlebih dahulu meninjau
ruangan kelas yang akan digunakan sehingga bisa mengatur kelas sedemikian hingga,
sehingga pembelajaran berjalan seperti yang diharapkan.yang terakhir adalah guru
melihat situasi dan tidak berdiam diri pada satu tempat untuk menjelaskan. Ruangan
atau kelas idaman menurut kelompok kami yaitu ruangan yang memperhatikan
keindahan, kenyamanan dan keamanan bagi siswa maupun guru.
3.2 Saran
Untuk lebih memahami tentang pengelolaan kelas, pembaca bisa membaca dari
sumber-sumber lain sebagai pembanding dan atau bisa juga membaca dari bacaan yang
tertera di dalam daftar pustaka.

DAFTAR PUSTAKA
Sobari, Dolli. 2010. Pendekatan Dalam Pengelolaan Kelas. Palembang: IAIN Raden Fatah.
Permana, Johan. 2001. Bahan Training Of Trainers (TOT) Nasional Pelatihan Supervisi
Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah Basic Education Project (BEP).
Bandung: Departemen Agama Republik Indonesia.

Strategi Belajar Mengajar

Anggota Kelompok
Arham Juaini

(1313041034)

Dewa Putu Surya Dwipayana

(1313041039)

Hasby Wahid Harris

(1313041040)

Dewa Putu Sukma

(1313041049)

Aninditha Sophian

(1313043001)

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
2014