Anda di halaman 1dari 21

ANALISIS KASUS PENANAMAN MODAL ASING

(PMA) ATAS PENJUALAN


PENJUALAN SAHAM INDOSAT DAN
TELKOMSEL
Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pasar Modal dan
Manajemen Portofolio
Yang diampu oleh Suyanto, S.E., Ak.

Disusun oleh
1. ANDESI RATNA S

12.1.02.01.0245

2. DEVINTA PUTRI EKA RS

12.1.02.01.0254

KELAS 4F
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI
2015

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan
ridhonya penulis

dapat menyelesaikan makalah tentang Analisis Kasus

Penjualan Saham Indosat dan Telkomsel kepada Perusahaan Asing. Sehingga


tepat pada waktunya.
Dalam menyelesaikan makalah ini tentunya penulis banyak menemui
halangan dan rintangan tetapi dengan bantuan dari teman-teman maka halangan
dan rintangan tersebut dapat dilalui oleh penulis dengan baik. Untuk itu
sepatutnya penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Suyanto, S.E., Ak. selaku dosen mata kuliah Pasar Modal dan Manajemen
Portofolio yang telah berkenan memberikan bimbingan kepada penulis untuk
menyelesaikan makalah ini.
2. Ibunda dan Ayahanda yang telah memberikan bantuan kepada penulis dan
memberi dukungan penuh yang tak ternilai harganya,yang tak bisa penulis
sebutkan satu persatu dan tak dapat penulis berikan apa-apa kecuali
permohonan doa kepada ALLAH SWT semoga amal kebaikan yang telah
diberikan mendapat balasan dari ALLAH SWT.
3. Teman-teman yang telah bersedia memberikan dukungan dan motivasi kepada
penulis.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyadari bahwa masih jauh dari
sempurna. Untuk itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang bersifat
membangun dari berbagai pihak untuk kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membaca
khususnya Mahasiswa Universitas Nusantara PGRI Kediri.

Kediri, 10 Oktober 2015

Penulis

ii

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................

KATA PENGANTAR ..................................................................................

ii

DAFTAR ISI ................................................................................................ iii


BAB I

: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ........................................................

BAB II : PEMBAHASAN
A. Analisis Kasus ......................................................................

BAB III : PENUTUP


A. Kesimpulan .........................................................................

B. Saran ...................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 10


LAMPIRAN-LAMPIRAN

iii

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pada tahun 1967 Indosat didirikan sebagai perusahaan penanaman
modal asing pertama di Indonesia yang menyediakan layanan telekomunikasi
internasional melalui satelit internasional. Indosat berkembang menjadi
perusahaan telekomunikasi internasional pertama yang dibeli dan dimiliki
100% oleh Pemerintah Indonesia. Lalu menjadi perusahaan public yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan New York Stock Exchange. Pemerintah
Indonesia dan publik masing-masing memiliki 65% saham dan 35% saham. PT
Indosat juga mengambil alih saham mayoritas Satelindo, operator selular dan
SLI di Indonesia dan mendirikan PT Indosat Multimedia Mobile (IM3) sebagai
pelopor jaringan GPRS dan layanan multimedia di Indonesia.
Pemerintah Indonesia menjual 8,10% saham di Indosat kepada public
dan pada tahun 2002 menjual 41,94% saham atau 434,25 juta lembar saham
pemerintah

kepada

Singapore

Technologies

Telemedia

Pte.

Ltd.

(STT)/Temasek dengan nilai Rp. 5,62 triliun. Pemerintah Indonesia pada saat
itu dianggap menjual terlalu murah, hanya Rp 5,63 truliun untuk 41,94 persen
saham Indosat ke STT dengan alasan sedang butuh uang untuk menambal
APBN. Selanjutnya pemerintah Indonesia memiliki 15,00% saham, STT
memiliki 41,94% saham dan publik memiliki 43,06% saham Indosat.
Dalam kasus privatisasi PT Indosat Tbk dan PT Telekomunikasi
Seluler (Telkomsel) yang mendapat persetujuan DPR RI adalah penjualan
sebagian saham PT Indosat Tbk dan PT Telkomsel Tbk kepada pihak luar.
Sebesar 35 persen saham Telkomsel dibeli oleh Singapore Telecom (Singtel)
dan sebagian saham Indosat yaitu sebesar 41,94 persen saham dibeli oleh
Singapore Technologies Telemedia (STT). Akan tetapi dalam kenyataannya
kedua perusahaan Singapore yang telah membeli saham PT Telkomsel Tbk dan
PT Indosat Tbk adalah perusahaan-perusahaan yang ada dibawah satu

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

perusahaan induk yaitu Temasek Holding Group Ltd Singapura. PT Indosat


dimiliki Asia Mobile Holdings (AMH) yang 75 persen sahamnya dimiliki STT
dan 25 persen Qtel, sementara PT Telkomsel dimiliki lewat SingTel. Keduanya
memiliki pangsa pasar sampai 82 persen, yang dianggap berpotensi untuk
mengatur harga dan menimbulkan monopoli serta persaingan yang tidak sehat.
Kemudian Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) memvonis
Temasek telah melanggar larangan monopoli. Raksasa asal Singapura itu
dinyatakan bersalah karena terjadi pemilikan silang dengan memiliki Indosat
dan Telkomsel. Padahal ketika divestasi dilakukan, pemerintah tidak
mengingatkan Temasek akan larangan tersebut. Akibatnya, Temasek
diharuskan melepas kepemilikannya di Indosat atau Telkomsel. Di tengah
pertikaian hukum kedua pihak, Temasek mengejutkan publik dengan
pengumuman bahwa telah menjual seluruh sahamnya di Indosat kepada Qatar
Telecom (Qtel) dengan keuntungan tiga kali lipat jauh daripada saat
membelinya. Pasar sama sekali tidak mengendus adanya penjualan besarbesaran ini. Terlebih beberapa kali STT menegaskan tidak akan menjual
Indosat meski sudah divonis KPPU melakukan monopoli dengan memiliki
Indosat dan Telkomsel. Dalam hal ini KPPU menganggap STT sengaja
mempermainkan hukum dan perekonomian Indonesia.
Pada tahun 2008 Saham Indosat secara tidak langsung diakuisisi oleh
Qatar Telecom (Qtel) sejumlah 40,81%. Pemerintah Indonesia dan publik
memiliki sisa saham masing-masing 14,29% dan 44,90%. Pada tahun 2009
Qtel membeli saham seri B sebanyak 24,19% dari publik sehingga menjadi
pemegang saham mayoritas Indosat dengan kepemilikan sebesar 65%.
Selanjutnya Indosat dimiliki oleh Qatar Telecom (Qtel) (65%), Pemerintah
Indonesia (14,29%) dan publik (20,71%).
Total kepemilikan saham indosat yang dimiliki oleh Qtel secara tidak
langsung yaitu melalui ICLM dan ICLS adalah 40,8% sehingga untuk
memenuhi ketentuan Perpres 111 Tahun 2007 maka Qtel hanya dizinkan
membeli saham sekitar 24% melalui tender offer.
Permasalahan yang muncul pada kasus ini adalah pada saat Qtel

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

mengakuisisi saham Indosat, maka Qtel sesuai dengan peraturan Bapepam dan
LK Nomor IX.H.1, wajib untuk melakukan penawaran tender. Disisi lain
penawaran tender tersebut menjadi masalah setelah Bapepam dan LK
menyatakan batas maksimal pembelian saham indosat oleh Qtel pada saat
penawaran tender tidak boleh melebihi pemilikan modal saham sebesar 65%.
Padahal sebelumnya di pasar modal pada hakikatnya tidak membatasi
pembelian saham perusahaan terbuka oleh investor asing yang terdapat dalam
SK Menteri Keuangan Nomor: 45/KMK.01/1997 Tentang Pembelian Saham
Oleh Pemodal Asing Melalui Pasar Modal.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

BAB II
PEMBAHASAN

A. Analisis Kasus Penjualan Saham PT. Indosat dan PT. Telkomsel kepada
SingTel dan Qtel.
PT. Indosat dan PT. Telkomsel merupakan provider telekomunikasi
terbesar di Indonesia. Kedua perusahaan tersebut memiliki cakupan pasar
sekitar 80 persen dibandingkan dengan provider telekomunikasi yang lain
sehingga bisa dikatakan bahwa kedua perusahaan tersebut merupakan
perusahaan vital karena berhubungan langsung dengan hajat hidup orang
banyak. Bila mengacu pada pasal 33 ayat 2, kepemilikan saham yang begitu
besar ini jelas akan mengurangi peran pemerintah dalam mengalokasikan
sumber daya publik pada masyarakat karena semakin besar pemegang saham
membeli saham suatu perusahaan, maka akan semakin besar pula intervensi
yang dapat ia lakukan dalam menentukan kebijakan perusahaan tersebut.
Sedangkan dampak negatif yang diberikan dari dilakukannya
privatisasi ini adalah adanya tanda-tanda bahwa monopoli pasar yang
dilakukan oleh perusahaan induk dari Singtel dan STT Singapura yaitu PT
Temasek Singapura. Kondisi monopoli pasar pada saat itu merupakan kondisi
yang tidak diinginkan dalam suatu lingkungan industri yang dapat merusak
iklim bisnis di Indonesia. Walaupun tidak menguasai seluruh saham kedua
perusahaan tersebut, tetapi lebih dari sepertiga sahamnya dikuasai dan secara
langsung Temasek mempunyai kewenangan yang sangat besar dalam
mengatur kebijaksanaan, strategi dan profit yang didapat oleh kedua
perusahaan telekomunikasi Indonesia tersebut. Selain itu pemerintah akan
mengalami kesulitan untuk mengintervensi dan mengatur perusahanperusahaan ini secara langsung, karena selain berhadapan dengan Temasek,
pemerintah juga akan berhadapan dengan hukum internasional.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Kasus diatas mengakibatkan perusahaan telekomunikasi besar di


negeri ini menjadi milik perusahaan asing, baik sebagian ataupun
keseluruhan, sehingga secara otomatis, devisa yang dihasilkan dari industri
telekomunikasi di negeri ini, yang nilainya sangatlah besar akan mengalir ke
negara-negara yang perusahaannya memiliki saham di perusahan-perusahaan
telekomunikasi Indonesia tersebut. Selain dari sisi ekonomi, resource dan
infrastruktur telekomunikasi adalah suatu hal yang sangat penting bagi suatu
bangsa, yang akan sangat mendukung keamanan dan integritas bangsa
tersebut. Bagaimana jadinya jika hal yang begitu penting itu dikuasai dan
dikontrol oleh pihak asing. Belum lagi dengan infrastruktur telekomunikasi
asing yang diperbolehkan beroperasi di wilayah Indonesia. Akibatnya pihakpihak asing bisa saja dengan mudah mencuri informasi-informasi penting
bangsa dan negara kita, yang dengan informasi itu maka melemahkan tingkat
keamanan, kedaulatan, kesatuan negara kita. Belum lagi keuntungan yang
didapat jika dihitung bahwa banyak pembelian prasarana telekomunikasi
harus lewat Singapura, tidak dibeli di Indonesia. Singapura memang miskin
sumber daya alam, tetapi akalnya hebat, bisa memanfaatkan mitra untuk
keuntungan mereka tanpa risi.
Namun yang menjadi kejanggalan disini adalah ketika KPPU turun
tangan menangani kasus ini. Dengan menggunakan berbagai studi ilmiah,
KPPU melihat adanya indikasi bahwa Temasek telah dengan sengaja
melakukan monopoli di pasar Indonesia dan menilai penjualan saham Indosat
kepada Qtel yang dilakukan STT tersebut sengaja mempermainkan hukum
dan perekonomian Indonesia. KPPU merupakan lembaga terhormat yang di
dalamnya terdapat pribadi-pribadi cerdas dengan reputasi mengagumkan.
Tapi antara tahun 2001 dan 2002 ketika baik Telkom menjual saham
Telkomsel ke Singtel maupun ketika Pemerintah menjual saham Indosat
kepada STT, KPPU sudah eksis atau setidaknya UU No. 5 Tahun 1999
tentang Larangan Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat sudah
diterbitkan. Kemana KPPU pada waktu itu? Mengapa penyelidikan baru

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

dilakukan setelah Temasek sudah 5 tahun menguasai saham Indosat dan


Telkomsel. Kalau ini terjadi, wibawa lembaga hukum kita akan makin
merosot sampai ke dasar, khususnya pada masalah bisnis dan industri
internasional karena keputusannya tidak bergigi. KPPU pun sama karena
keputusan akhir mentah, sasarannya bisa berkelit.
Dalam kasus ini tampak jelas terjadi ketidak kosistenan dan
lambannya pemerintah dalam penegakan hukum di Indonesia Hal ini
didasarkan pada kenyataan bahwa pemerintah belum melakukan harmonisasi
hukum yang komprehensif terhadap peraturan perundang-undangan investasi
dengan perjanjian-perjanjian internasional di bidang investasi. Apalagi
mengenai batas maksimal pembelian saham Indosat oleh Qtel pada saat
tender offer. Pada saat itu Bapepam dan LK menyatakan batas maksimal
pembelian saham Indosat oleh Qtel pada saat penawaran tender tidak boleh
melebihi pemilikan modal saham sebesar 65%. Dikeluarkannya Pepres 36
Tahun 2010 yang menggantikan Pepres 111 Tahun 2007, menurut penulis
merupakan salah satu akibat mengemukanya kasus akuisisi Indosat oleh Qtel.
Dalam salah satu ketentuan aturan Pepres 36 Tahun 2010 dinyatakan bahwa
dalam hal terjadi akuisisi maka presentase kepemilikan modal asing dalam
suatu perusahaan tidak boleh melebihi surat persetujuan yang diberikan pada
perusahaan tersebut. Tentunya dalam hal ini pemerintah akan melihat batasan
presentase dalam peraturan yang berlaku.
Qtel yang bermaksud membeli sekitar 34% saham Indosat yang
berada di tangan publik hanya diizinkan membeli sekitar 24% saham Indosat
berdasarkan Pepres 111 Tahun 2007 (peraturan di bidang penanaman modal
langsung yang berlaku pada saat akuisisi tersebut terjadi) membatasi
kepemilikan modal asing dalam perusahaan yang bergerak di bidang
telekomunikasi, diantaranya maksimal 65%. Total kepemilikan saham Indosat
yang dimiliki oleh Qtel secara tidak langsung yaitu melalui ICLM dan ICLS
adalah 40,8% sehingga untuk memenuhi ketentuan Pepres 111 Tahun 2007
meka Qtel hanya diizinkan membeli saham sekitar 24% melalui tender offer,

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

dalam hal ini pemerintah menganggap Qtel, ICLM dan ICLS adalah satu
yaitu Qtel karena memang ICLM dan ICLS dimiliki Qtel, sehingga
kepemilikan Indosat baik langsung atau tidak langsung oleh Qtel maksimal
65%. Adapun pertimbangan pemerintah adalah dikarenakan ICLS dan ICLM
merupakan perusahaan asing dengan kata lain Indosat merupakan perusahaan
pemodal asing ditambah lagi Qtel yang bermaksud memiliki Indosat sehingga
pemerintah melihat Qtel sebagai perusahaan asing berkedudukan sebagai
pemodal asing dan pemegang saham pengendali. Dalam hal ini pemerintah
berusaha menegakkan aturan bahwa maksimal kepemilikan asing baik secara
total adalah 65% tanpa mempedulikan berapa masing-masing presentase
kepemilikan saham asing dari total 65% tersebut.
Jika dilihat dari sudut pandang keadilan, apabila dikaitkan dengan
ketidakpastian hukum yang mengatur pembatasan pengambilalihan saham
mayoritas oleh investor asing melalui investasi portofolio dalam pasar modal
yang digambarkan oleh kasus akuisisi PT. Indosat oleh Qtel, maka akan
mengakibatkan investor asing merasa tidak diperlakukan secara adil karena
keputusan yang diambil oleh pemerintah melalui surat Bapepam-LK yang
membatasi Qtel untuk mengambilalih saham Indosat sampai dengan 65% dari
jumlah saham Indosat dianggap tidak memiliki dasar hukum oleh investor
asing, sehingga mengakibatkan berkurangnya kepercayaan investor asing
akan aturan hukum yang mengatur investasi asing melalui pasar modal.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Tidak dipungkiri bahwa rasa nasionalisme yang anti asing sangat
dominan dalam issue-issue seperti ini. Sangat wajar bahwa setiap warga
negara akan memiliki rasa nasionalisme, kecintaan terhadap bangsa dan
negara ini. Tapi rupanya para pengambil keputusan di negara Indonesia
memiliki pertimbangan lain. Apakah karena terdesak oleh kebutuhan untuk
mengisi kas negara sehingga harus menjual aset negara yang berharga. Dan
kenapa kepada investor dari luar negeri bukan dari dalam negeri. Kasus-kasus
seperti ini memang sangat merugikan negara bahkan dunia memandang
negara Indonesia sebagai negara yang tidak memiliki komitmen dalam
mengatur perusahaan dalam negeri apalagi diluar negeri.
Namun pemerintah juga telah berusaha mengantisipasi upaya-upaya
pemodal asing untuk menghindari perlakuan pembatasan kepemilikan modal
asing yang diatur dalam peraturan perundang-undangan di bidang penanaman
modal dengan cara melakukannya melalui pasar modal, walaupun demikian
secara objektif upaya pemerintah tersebut terhalang oleh adanya pembedaan
atau pengkotak-kotakan bidang penanaman modal antara penanaman modal
asing langsung, penanaman modal asing tidak langsung, dan penanaman
modal asing melalui pasar modal.
Pada prinsipnya memang sulit untuk membatasi pembelian saham
oleh pemodal asing melalui pasar modal terlebih lagi apabila hal tersebut
terjadi pada pasar sekunder. Hal itu dikarenakan sistem perdagangan di bursa
berupa sistem perdagangan tanpa warkat dengan penyelesaian berupa
pemindahbukuan. Konsekuensi sistem perdagangan demikian maka sejumlah
saham dalam minggu pertama dapat saja dimiliki oleh pemodal nasional dan
pada minggu kedua dapat beralih kepada pemodal asing.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

B. Saran
Saat ini, yang bisa kita lakukan adalah menerima kenyataan bahwa
semua itu sudah terjadi. Kita masih memiliki pilihan untuk masa depan. Jika
memang menginginkan Indosat atau Telkomsel kembali menjadi milik
Pemerintah atau setidaknya dimiliki oleh pemodal dalam negeri, akan jauh
lebih elegan jika peminat tersebut mengajukan tawaran langsung kepada STT
atau QTel. Kita bisa melakukan jauh lebih banyak hal demi kemajuan negeri
ini atau dunia telekomunikasi pada khususnya dibandingkan dengan
membangun opini publik, membuat berita di koran, membuat seminar,
workshop atau kegiatan lain yang ujung-ujungnya adalah memaksa salah satu
(atau salah dua) dari STT atau QTel untuk melepaskan sahamnya.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

DAFTAR PUSTAKA

http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol19449/kppu-kecewa-sttjual-indosathttp://www.antaranews.com/print/122034/qtel-hanya-boleh-membeli224-persen-saham-indosat-lagi
http://finance.detik.com/read/2008/06/07/214208/952177/6/usaha/stt
-jual-seluruh-saham-di-indosat-ke-qatar-telecom
http://unisosdem.org/article_detail.php?aid=7040&coid=2&caid=19&gi
d=3

10

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

KPPU Kecewa STT Jual


Indosat
Singapore Technologies Telemedia Pte Ltd (STT) membuat kejutan.
Perusahaan telekomunikasi asal Negeri Singapura itu secara diamdiam
diam telah menjual 40,8% sahamnya di PT Indosat Tbk ke Qatar
Telecom QSC (Qtel) melalui akusisi Asia Mobile Holdings Pte Ltd
(AMH). Kesepakatan itu terjadi pada 6 Juni 2008, dimana Qtel
bersedia membayar mahal saham Indosat yakni sebesar S$2,4
miliar (AS$1,8 miliar) atau setara dengan Rp16,8 triliun.
Ketika memenangi divestasi Indosat Desember 2002, STT membeli
41,94% saham Pemerintah Indonesia. Kala itu harga per lembar
saham dinilai Rp12.950 (sebelum stock split 1:5
:5 pada Maret 2004).
Dari penjualan tersebut, pemerintah meraup dana Rp 5,62 triliun.
Jika dihitung-hitung,
hitung, STT melalui AMH telah meraup gain Rp7,97
triliun dari total gain 185,14% atau Rp10,63 triliun dalamlima tahun.
Bila diasumsikan dividen Indosat Rp18
Rp187,9
7,9 per saham atau 50% dari
laba bersih 2007 selama lima tahun, STT meraup dividen sekitar
Rp2,07 triliun.
Keputusan STT menjual perusahaan berkode ISAT tersebut
dianggap melecehkan wibawa Komisi Pengawas Persaingan Usaha
(KPPU) dan putusan Pengadilan Ne
Negeri
geri (PN) Jakarta Pusat.
Sekedar mengingatkan, salah satuputusan
satu
KPPU memerintahkan
Temasek Holdings Pte Ltd dan kelompok usahanya (termasuk STT)
untuk melepas kepemilikan sahamnya, ser
serta
ta melepaskan hak suara
dan hak untuk mengangkat direksi dan komisaris pada salah satu
perusahaan yang akan dilepas (PT Telkomsel atau Indosat).
Ada dua syarat pelepasan kepemilikan saham tersebut. Pertama
untuk masing-masing
masing pembeli dibatasi maksimal 5% dari total
saham yang dilepas. Kedua, pembeli tak boleh terasosiasi dengan
Temasek maupun pembeli lain dalam bentuk apa pun. Putusan itu

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

kemudian diperkuat oleh PN Jakarta Pusat. Bedanya, PN Jakarta


Pusat memerintahkan saham yang harus dilepas maksimal 10%.
Ketua KPPU Syamsul Maarif menyatakan penjualan tersebut
menimbulkan kesan kuat bahwa STT tidak menghormati putusan PN
Jakarta Pusat dan KPPU. Kami menyesalkan transaksi yang
dilakukan oleh STT dan Qatar (Qtel -red), ungkapnya saat menjadi
pembicara dalam forum jurnalis KPPU, di kantor KPPU,Jakarta,
Senin (9/6).
Syamsul menduga, Temasek dan STT sengaja mempermainkan
hukum dan perekonomian Indonesia. Pasalnya, kata dia, kelompok
usaha dari Singha Pura(Kota Singa) itu paham betul kalau objek
transaksi (Indosat) masih disengketakan oleh pengadilan Indonesia.
Apalagi mereka ikut kasasi ke MA (Mahkamah Agung -red),
tegasnya.
Meski begitu, Syamsul tidak mau buru-buru menilai sah atau
tidaknya transaksi penjualan tersebut. Ia menyerahkan keabsahan
transaksi itu ke MA yang kini sedang memeroses perkara kasasi
Temasek dkk. Namun, KPPU tetap akan memasukan isu penjualan
itu dalam kontra memori kasasi yang akan diserahkan ke pengadilan
pada 13 Juni 2008. Hormatilah proses hukum yang ada. Hindarilah
tindakan bahwa pelaku usaha memanfaatkan celah-celah hukum,
kata Syamsul.
Lantas bagaimana dengan memori kasasi STT di MA? Kami tetap
melanjutkan, tegas kuasa hukum STT, Lucas. Ia menilai
pemberitaan media saat ini simpang siur. Menurutnya, tidak akan
ada pengaruh apa pun di Indosat terhadap penjualan itu. Yang
menjadi pemegang saham di Indosat itu kan tidak berubah. Tetap
AMH. Dia (STT -red) itu menjual di holding company, sambung
Lucas yang menilai penjulan itu merupakan strategi bisnis yang
dianggap paling tepat oleh STT.
Sama halnya dengan Lucas, Presiden dan CEO STT Lee Theng Kiat
mengatakan, transaksi ini tidak akan berpengaruh pada kepemilikan
saham STT dan QTel di Asia Mobile. Begitu pula, pada investasi
STT dan QTel melalui AMH di pasar lain. STT tidak akan lagi
memiliki keterkaitan dengan Indosat," ujarnya dalam siaran pers
bersama STT dan Qtel, Sabtu (7/6).

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Kuasa hukum Temasek, Perry Cornelius meminta agar STT tidak


mencabut memori kasasinya di MA. Tujuan keberatan ke PN atas
putusan KPPU kan untuk membuktikan bahwa tidak ada
pelanggaran atas Pasal 27 UU No.5/1999 sebagaimana yang
dituduhkan KPPU, ujarnya lewat pesan singkat kepadahukumonline.
Kami taat hukum
Tiga hari menjelang transaksi tersebut, Qtel lantas menggelar jumpa
pers di Balairung Hotel Ritz Carlton, Senin (9/6). Perusahaan plat
merah asal Qatar itu diwakili oleh Kepala Dewan Direktur Syeh
Abdullah Al-Thani (Chairman of the Board of Director), Chief
Executive
Officer (CEO)
Nasser
Marafih,
serta
Kepala
Pengembangan Bisnis Jeremy Sell (Head of Business
Development).
Menurut Sell, Qtel menggunakan dana milik perusahaan murni.
Struktur kepemilikan saham perusahaan ini antara lain 55% saham
milik negara Qatardan 45% punya publik.
Jajaran petinggi Qtel sadar bahwa masih ada proses hukum soal
saham Indosat. Perkara ini sedang dalam tahap banding ke
Pengadilan Tinggi. Tentu kami awas soal isu ini ketika kami terlibat
dalam transaksi ini, tutur Abdullah.
Apapun putusan banding akan kami taati, sambung Sell. Meski
demikian, Sell merasa tak perlu lagi ada ganjalan. Menurutnya,
transaksi ini bebas syarat. Lagipula, Sell tidak memperoleh perintah
dari pengadilan mana pun untuk menghentikan transaksi ini.
Sayang, Sell ogah mengomentari kekecewaan KPPU. Menurutnya,
pembelian saham di atas 10% -dalam hal ini mencapai 40,8%,
perusahaannya akan selalu berkonsultasi dengan otoritas pengawas
pasar modal. Yakni Bapepam-LK. Kami tak mau komentar soal
pernyataan dari pihak lain. Yang jelas kami tak akan berspekulasi
untuk transaksi sebesar ini, tandasnya.
Sell juga tak mau menjelaskan lebih lanjut langkah lanjutan
untuk tender offer. Menurutnya, tahap ini sedang dalam proses
klarifikasi dengan Bapepam-LK. Kami tetap patuh pada aturan
Bapepam-LK. Kami akan segera membuat pernyataan jika proses
tersebut sudah jelas. Saat ini terlalu prematur untuk berkomentar.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Konsultan hukum Qtel untuk transaksi pembelian saham Indosat ini,


Wahyuni Bahar, tak bersedia memberikan keterangan apapun.
Terpisah, Ketua Presidium FSP BUMN Bersatu Arif Poyuono
berujar, hengkangnya STT dari sektor telekomunikasi bisa menjadi
preseden buruk bagi dunia bisnis di Tanah Air. Ini adalah contoh
buruk pelakukan pemerintah terhadap investor asing. Jika
menengok ke belakang, STT adalah salah satu investor pertama
yang masuk ke Indonesia pasca krisis moneter 1997, katanya
melalui siaran pers yang diterbitkan tanggal 9 Juni 2008.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Qtel Hanya Boleh Membeli


22,4 Persen Saham Indosat
Lagi
Jakarta (ANTARA News) - Kepala Bapepam LK (Badan Pengawas Pasar Modal
dan Lembaga Keuangan) Fuad Rahmani mengatakan, Qatar Telecom (Qtel)
hanya boleh membeli kembali saham Indosat sebanyak 22,4 persen.
"Qtel hanya akan membeli saham Indosat yang ada di publik sebesar 24,2
persen dari total 44,9 persen saham publik yang bisa mengikuti tender offer,"
kata Fuad Rahmani didampingi Menkominfo Muhammad Nuh dalam jumpa
pers
soal
Qtel
di
kantor
Depkominfo
di
Jakarta,
Senin.
Dalam catatan Bapepam LK, jelas Fuad, dari 100 persen saham Indosat,
sebanyak 40,8 persen dimiliki oleh Qtel yang dibeli dari STT (Singapore
Technology Telemedia), sehingga ada 59,2 persen saham Indosat yang
dimiliki
oleh
yang
lain.
Dari 59,2 persen saham tersebut, sebanyak 14,2 persen saham seri A (saham
dwi warna) Indosat dimiliki oleh pemerintah dan sisanya sekitar 44,9 persen
merupakan
saham
yang
dimiliki
oleh
publik.
Fuad mengatakan, karena pemerintah mempunyai saham seri A maka
pemerintah dianggap pemegang saham pengendali sehingga pemerintah tidak
boleh
ikut
dalammandatory
tender
offer.
Sesuai dengan peraturan pasar modal, karena Qtel saat ini mempunyai
saham di atas 45 persen, maka Qtel harus melakukan mandatory tender
offer untuk
membeli
saham
Indosat
lagi.
"Jadi yang berhak ikut mandatory tender offer adalah 44,9 persen saham
publik
yang
mestinya
dibeli
oleh
Qtel,"
katanya.
Akan tetapi karena ada aturan Perpres No. 77 tahun 2007 junto Perpres
111/2007 tentang DNI (Daftar Negatif Investasi) dimana Qtel hanya boleh
memiliki saham pada perusahaan telekomunikasi seluler sebanyak maksimal
65 persen, maka Qtel hanya boleh membeli maksimal 24,2 persen saham
Indosat
pada mandatory
tender
offer.
"Qtel hanya boleh membeli yaitu 65 persen (saham maksimal) dikurangi 40,8
persen (saham yang telah dimiliki Qtel) sehingga hanya sebesar 24,2 persen.
Hal
ini
perlu
penjatahan
penjualan,"
jelas
Fuad.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Dalam hitungan sementara Bapepam, pembelian sebanyak 24,2 persen


saham Indosat oleh Qtel dengan harga per saham Rp7.388,- maka akan lebih
dari sebesar Rp8 triliun uang masuk dan akan menambah likuiditas pasar
modal. (*)

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

STT Jual Seluruh Saham di Indosat


ke Qatar Telecom
Irna Gustia - detikfinance
Sabtu, 07/06/2008 21:42 WIB
Jakarta -Secara mengejutkan Singapore Technologies Telemedia Pte
Ltd (ST Telemedia) menjual seluruh sahamnya sebesar 40% di Indosat
kepada Qatar Telecom QSC (Qtel). STT atau Temasek kini tidak lagi
berurusan
dengan
Indosat.
Operasi pembelian yang sangat rapi ini dilakukan Qtel dan STT pada 6
Juni 2008. Pasar sama sekali tidak mengendus akan ada penjualan besarbesaran ini. Terlebih beberapa kali STT menegaskan tidak akan menjual
Indosat meski sudah divonis KPPU melakukan monopoli dengan
memiliki
Indosat
dan
Telkomsel.
Dalam siaran pers yang diterima detikFinance, Sabtu (7/6/2008) Qtel
mengumumkan telah membeli 40,8% saham Indosat melalui akuisisi
Asia Mobile Holdings Pte0. Ltd (AMH). Dalam struktur STT, AMH
adalah pemilik Indonesia Communications Limietd (ICL) yang tercatat
sebagai
pemegang
saham
Indosat.
Qtel melakukan perjanjian pembelian tertanggal 6 Juni 2008 dengan STT
untuk membayar tunai sebanyak 2,4 miliar dolar Singapura atau US$ 1,8
miliar atau Rp 16,740 triliun dengan kurs 9.300/US$.
Qtel adalah perusahaan telekomunikasi terbesar di Timur Tengah yang
jaringannya tersebar di Asia Pasifik, Amerika dan Eropa. Dalam
pernyataannya pemimpin Qtel Group Sheikh Abdullah Al Thani
mengatakan sangat senang dengan pembelian saham Indosat ini.
"Transaksi ini merupakan komitmen kami di Indonesia dalam
pengembangan infrastruktur telekomunikasi," kata Sheikh Abdullah Al
Thani.
Dengan adanya transaksi ini, Qtel kini memiliki 44 juta konsumen yang
tersebar di 16 negara. "Ke depan kami akan bekerja sama dengan
manajemen dan karyawan Indosat untuk menjalin kerja sama yang baik.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Indosat

akan

menjadi

keluarga

dari

Qtel,"

katanya.

Pembelian Indosat lanjut Thani merupakan representasi yang signifikan


dan investasi yang luar biasa dalam Qtel Group. "Kami akan
menanamkan investasi yang signifikan di Indosat untuk mendukung
pertumbuhan dan pencapaian yang maksimal," ujar Thani.
Sementara Dirut (CEO) Qtel, Nasser Marafih mengatakan investasi ini
merupakan bagian dari strategi Qtel untuk tumbuh lebih besar. Apalagi
Indonesia adalah salah satu negara yang sangat penting dengan jumlah
penduduk
yang
besar.
President and Chief Executive Officer of ST Telemedia Lee Theng Kiat
mengatakan Qtel adalah perusahaan yang sangat kuat dengan manajemen
yang
memiliki
visi
ke
depan.
"Saya yakin kami telah membuat fondasi Indosat dalam lima tahun
dengan cukup kuat sehingga Qtel bisa melanjutkannya," kata Lee.
Lee menegaskan transaksi ini tidak akan mempengaruhi STT atau
investasi AHM. STT juga tidak lagi terlibat dengan Indosat seperti dalam
kasus KPPU. Setelah melepas Indosat, nantinya AHM akan tetap
memiliki StarHub Ltd yang merupakan perusahaan telekomunikasi
terbesar kedua di Singapura, selain memiliki anak usaha di Kamboja dan
Laos.
(ir/ir)

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com