Anda di halaman 1dari 32

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sehat tidak hanya dititikberatkan pada fisik semata, kesehatan mental dan jiwa
adalah sama pentingnya agar seseorang bisa hidup secara produktif. Kesehatan
fisik tentu saja akan mengacu pada keuangan masyarakat.
Langkah besar bangsa Indonesia dalam meluruskan kembali arah Pembangunan
Nasional pada tiga dasawarsa ini menuntut reformasi total kebijakan
pembangunan dalam segala bidang. Dalam bidang kesehatan, tuntutan reformasi
tersebut muncul karena masih adanya kesenjangan hasil pembangunan kesehatan,
derajat kesehatan masyarakat yang masih tertinggal dengan negaranegara lain,
dan kurangnya kemandirian dalam pembangunan kesehatan. Dalam rangka
mewujudkan hal ini, kemudian dirumuskan Milennium Development Goals yaitu
Deklarasi Milenium hasil kesepakatan kepala negara dan perwakilan dari 189
negara Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang mulai dijalankan pada September
2000, berupa delapan butir tujuan untuk dicapai pada tahun 2015. Targetnya
adalah tercapai kesejahteraan rakyat dan pembangunan masyarakat pada 2015
(Wikipedia, 2014).
Milennium Development Goals memiliki delapan tujuan umum. Delapan tujuan
umum, seperti kemiskinan, kesehatan, atau perbaikan posisi perempuan.Namun,
dalam setiap tujuan terkandung target-target yang spesifik dan terukur.Melihat
komitmen dari berbagai bangsa tersebut, pembangunan kesehatan di Indonesia
juga menitikberatkan sasaran terhadap acuan yang digarap pada MDGs. Sehingga

visi Indonesia 2015 dengan misi yang dirumuskan dalam empat komponen misi
pembangunan, telah merumuskan tujuan kebijakan pembangunan kesehatan
melalui paket program MDGs. Sehingga dalam makalah ini kami mengangkat
topik mengenai menuju Indonesia sehat 2015/ Millenium Development Goals
yang akan membahas secara rinci mengenai sasaran, waktu dan target yang
terukur mengenai delapan paket rumusan pembangunan (Bappenas, 2008).

I.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
1. Mengetahui visi misi pembangunan kesehatan
2. Mengetahui delapan rumusan MDGs yang merupakan tujuan pokok
pembangunan kesehatan.

II.

PEMBAHASAN

Gambaran masyarakat di Indonesia di masa depan yang ingin dicapai melalui


pembangunan kesehatan adalah masyarakat, bangsa dan Negara yang ditandai
oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat,
memiliki kemampuan untuk mengjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu
secara adil dan merata, serta memiliki derajat yang setinggi-tingginya di seluruh
republik Indonesia. Gambaran masyarakat di Indonesia di masa depan atau visi
yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan tersebut dirumuskan sebagai
Indonesia Sehat 2015.
Dengan adanya rumusan visi tersebut, maka lingkungan yang diharapkan pada
masa depan adalah lingkungan yang kondusif bagi terwujudnya keadaan sehat
yaitu lingkungan yang bebas dari polusi, tersedianya air bersih, sanitasi
lingkungan yang memadai, perumahan dan pemukiman yang sehat, perencanaan
kawasan yang berwawasan kesehatan, serta terwujudnya kehidupan masyarakat
yang saling tolong menolong dengan memelihara nilai-nilai budaya bangsa.
Perilaku masyarakat Indonesia sehat 2015 adalah perilaku proaktif untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah terjadinya resiko penyakit,
melindungi diri dari ancaman penyakit serta berpartisipasi akif dalam gerakan
kesehatan masyarakat. Selanjutnya masyarakat mempunyai kemampuan untuk
menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu.Layanan yang tersedia adalah
layanan yang berhasil guna dan berdaya guna yang tersebar secara merata di

Indonesia.Dengan demikian terwujudnya derajat kesehatan masyarakat yang


optimal yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan
ekonomis.
Untuk dapat mewujudkan visi Indonesia Sehat 2015, ditetapkan empat misi
pembangunan kesehatan sebagai berikut:
(1). Menggerakkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan.
Keberhasilan pembangunan kesehatan tidak semata-mata ditentukan oleh hasil
kerja keras sektor kesehatan, tetapi sangat dipengaruhi oleh hasil kerja keras serta
kontribusi positif berbagai sektor pembangunan lainnya.Untuk optimalisasi hasil
kontribusi positif tersebut, harus dapat diupayakan masuknya wawasan kesehatan
sebagai asas pokok program pembangunan. Dengan kata lain untuk dapat
terwujunya Indonesia Sehat 2015, para penanggungjawab program pembangunan
harus

memasukkan

pertimbangan-pertimbangan

kesehatan

dalam

semua

kebijakan pembangunannya. Program pembangunan yang tidak berkontribusi


positif terhadap kesehatan, seyogyanya tidak diselenggarakan.Untuk dapat
terlaksananya pembangunan yang berwawsasankesehatan, adalah seluruh tugas
yang berelemen dari sistem kesehatan untuk berperan sebagai penggerak utama
pembangunan nasional berwawasan.
(2). Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat.
Kesehatan adalah tanggungjawab bersama dari setiap individu, masyarakat,
pemerintah dan swasta. Apapun peran yang dimainkan pemerintah, tanpa
kesadaran individu dan masyarakat untuk secara mandiri menjaga kesehatan
mereka, hanya sedikit yang dapat dicapai.Perilaku yang sehat dan kemampuan
masyarakat untuk memilih dan mendapat pelayanan kesehatan yang bermutu

sangat menentukan keberhasilan pembangunan kesehatan.Oleh karena itu, salah


satu upaya kesehatan pokok atau misi sektor kesehatan adalah mendorong
kemandirian masyarakat untuk hidup sehat.
(3).Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata,
dan terjangkau.
Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan
terjangkau mengandung makna bahwa salah satu tanggungjawab sektor kesehatan
adalah menjamin tersedianya pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan
terjangkau oleh masyarakat.Penyelenggaraan pelayanan kesehatan tidak sematamata berada di tangan pemerintah, melainkan mengikutsertakan sebesar-besarnya
peran aktif segenap anggota masyarakat dan berbagai potensi swasta.
(4).Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat
beserta lingkungannya.
Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat
beserta lingkungannya mengandung makna bahwa tugas utama sektor kesehatan
adalah memelihara dan meningkatkan kesehatan segenap warga negaranya, yakni
setiap individu, keluarga dan masyarakat Indonesia, tanpa meninggakan upaya
menyembuhkan

penyakit

atau

memulihkan

kesehatan

penderita.

Untuk

terselenggaranya tugas ini penyelenggaraan upaya kesehatan yang harus


diutamakan adalah yang bersifat promotif dan preventif yang didukung oleh
upaya kuratif dan rehabilitatif.Agar dapat memelihara dan meningkatkan
kesehatan individu, keluarga dan masyarakat diperlukan pula terciptanya
lingkungan yang sehat, dan oleh karena itu tugas-tugas penyehatan lingkungan
harus pula lebih diprioritaskan.

(Syafrudin, 2009)

Kemudian mengenai tujuan kebijakan pembangunan nasional terekam secara rinci


dalam suatu paket program MDGs. Sasaran pembangunan milenium (Millennium
Development Goals atau MDGs) adalah Deklarasi Milenium hasil kesepakatan
kepala negara dan perwakilan dari 189 negara Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB)
yang mulai dijalankan pada September 2000, berupa delapan butir tujuan untuk
dicapai pada tahun 2015.
Targetnya adalah tercapai kesejahteraan rakyat dan pembangunan masyarakat
pada 2015.Target ini merupakan tantangan utama dalam pembangunan di seluruh
dunia yang terurai dalam Deklarasi Milenium, dan diadopsi oleh 189 negara serta
ditandatangani oleh 147 kepala pemerintahan dan kepala negara pada saat
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium di New York pada bulan September
2000 tersebut.Pemerintah Indonesia turut menghadiri Pertemuan Puncak
Milenium di New York tersebut dan menandatangani Deklarasi Milenium
itu.Deklarasi berisi komitmen negara masing-masing dan komunitas internasional
untuk mencapai 8 buah sasaran pembangunan dalam Milenium ini (MDG),
sebagai satu paket tujuan yang terukur untuk pembangunan dan pengentasan
kemiskinan. Penandatanganan deklarasi ini merupakan komitmen dari pemimpinpemimpin dunia untuk mengurangi lebih dari separuh orang-orang yang
menderita akibat kelaparan, menjamin semua anak untuk menyelesaikan
pendidikan dasarnya, mengentaskan kesenjangan jender pada semua tingkat
pendidikan, mengurangi kematian anak balita hingga 2/3 , dan mengurangi hingga
separuh jumlah orang yang tidak memiliki akses air bersih pada tahun 2015.

Deklarasi Millennium PBB yang ditandatangani pada September 2000 menyetujui


agar semua negara:
1. Memberantas kemiskinan dan kelaparan ekstrem

Target 1A: Menurunkan proporsi penduduk yang hidup di bawah garis


kemiskinan menjadi setengahnya antara 1990-2015.
Menggunakan garis kemiskinan nasional, angka kemiskinan Indonesia
pada 1990 adalah 15,1%. Dasar penghitungan berubah pada 1996,
sehingga sebenarnya data setelah itu tidak bisa begitu saja dibandingkan
dengan

data-data

dari

tahun-tahun

sebelumnya.

Seandainya

kita

menggunakan dasar penghitungan saat ini, angka pada 1990 akan sedikit
lebih tinggi dari 15,1%. Namun, karena belum ada perhitungan ulang,
laporan ini menggunakan angka 15,1%. Pada 2006, terjadi peningkatan
kemiskinan yang kemudian sedikit menurun pada 2008 menjadi 15,4%.
Mencermati berbagai kecenderungan akhir-akhir ini, seharusnya masih
mungkin untuk mengurangi kemiskinan menjadi 7,5% pada 2015.
Sementara, menggunakan garis kemiskinan 1 dollar per hari, situasi
sepenuhnya berbeda. Berbasiskan ukuran tersebut, Indonesia telah
mencapai target karena berhasil mengurangi tingkat kemiskinan dari 21%
(1990) menjadi 7,5% pada 2006. Dua indikator lain memberikan informasi
pelengkap. Indikator yang lebih rumit adalah rasio kesenjangan
kemiskinan (poverty gap ratio) yang mengukur perbedaan antara
penghasilan rata-rata penduduk miskin dengan garis kemiskinan. Pada
1990 rasio-nya adalah 2,7% dan 2,8% pada 2008, menunjukkan bahwa

situasi penduduk miskin belum banyak mengalami perubahan. Indikator


yang lebih sederhana adalah indikator penyebaran penghasilan: total
jumlah konsumsi penduduk termiskin secara nasional adalah 20%. Ini pun
belum banyak berubah.Antara tahun 1990 dan 2008, angkanya berada
pada sekitar 9%.

Target 1B: Menyediakan seutuhnya Pekerjaan yang produktif dan layak,


terutama untuk perempuan dan kaum muda.
Untuk mengukur kemajuan pencapaian target ini, empat buah indikator
digunakan; yaitu: (i) pertumbuhan PDB per proporsi jumlah pekerja/
produktivitas pekerja, (ii) rasio pekerja terhadap populasi, (iii) proporsi
pekerja yang hidup dengan kurang dari $1 per-hari/ pekerja miskin dan
(iv) proporsi pekerja yang memiliki rekening pribadi dan anggota keluarga
bekerja terhadap jumlah pekerja total/ pekerja rentan. Kemajuan
pencapaian target ini diindikasikan dengan semakin tingginya rasio, yang
artinya semakin tingginya angkatan kerja yang mendapatkan pekerjaan.
Data terakhir terkait pekerja miskin di Indonesia adalah 8,2% (2006), dan
belum beranjak jauh dari pencapaian tahun 2002. Pekerja renran di
Indonesia mengalami sedikit penurunan semenjak tahun 2003, meskipun
mayoritas pekerja (62%) masih tergolong sebagai pekerja yang rentan.
Produktivitas pekerja juga mengalami peningkatan yang cukup baik,
dimana rata-rata per-tahunnya mencapai 4,3% dalam periode tahun 2000
hingga 2007.

Menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi


setengahnya antara tahun 1990 dan 2015. Indikator pertama adalah

prevalensi anak usia di bawah lima tahun (balita) dengan berat badan
kurang. Angka saat ini adalah 28% dan nampaknya akan meningkat.
Dengan angka ini, jelas kita tidak (akan) mencapai target. Indikator kedua
adalah proporsi penduduk yang mengkonsumsi kebutuhan minimum per
harinya. Dengan menggunakan perhitungan FAO, tampaknya Indonesia
masih berada di jalur yang benar untuk mencapai target MDGs ini.

2. Mewujudkan pendidikan dasar untuk semua

Target 2A: Memastikan bahwa pada 2015 semua anak di manapun, laki
laki maupun perempuan akan bisa menyelesaikan pendidikan dasar secara
penuh.
Terdapat dua indikator yang relevan. Pertama, untuk tingkat partisipasi di
sekolah dasar, Indonesia telah mencapai angka 94,7%. Berdasarkan
kondisi ini, kita dapat mencapai target 100% pada 2015.Indikator kedua

berkaitan dengan kelulusan, yaitu proporsi anak yang memulai kelas 1 dan
berhasil mencapai kelas 5 sekolah dasar.Untuk Indonesia, proporsi tahun
2004/2005 adalah 81%.Namun, sekolah dasar berjenjang hingga kelas
enam.Karena itu, untuk Indonesia lebih pas melihat pencapaian hingga
kelas enam.Jumlahnya adalah 77% dengan kecenderungan terus
meningkat.Artinya, kita bisa mencapai target yang ditetapkan.Data
kelulusan yang digunakan dalam laporan ini berasal dari Departemen
Pendidikan Nasional berdasarkan data pendaftaran sekolah.Berbeda
dengan Susenas (2004), yang menghitung angka yang jauh lebih besar,
yaitu sekitar 95%.

3. Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan

Target 3A: Menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan


dasar dan lanjutan, lebih baik pada 2005, dan di semua jenjang pendidikan
paling lambat tahun 2015 .
Yang menjadi indikator utama adalah rasio anak perempuan terhadap anak
laki-laki di pendidikan dasar, lanjutan dan tinggi. Disini Indonesia
tampaknya sudah mencapai target, dengan rasio 100% di sekolah dasar,
99,4% di sekolah lanjutan pertama, 100,0% di sekolah lanjutan atas, dan
102,5% di pendidikan tinggi.
Indikator kedua adalah rasio melek huruf perempuan terhadap laki-laki
untuk usia 15-24 tahun. Disini pun, tampaknya kita telah mencapai target
dengan rasio 99,9%.

Indikator ketiga adalah sumbangan perempuan dalam kerja berupah di


sektor non-pertanian.Disini kita masih jauh dari kesetaraan.Nilainya saat
ini hanya 33%.
Indikator keempat adalah proporsi perempuan di dalam parlemen, dimana
proporsinya saat ini hanya 11,3%.

4. Menurunkan angka kematian anak

Target 4A: Menurunkan angka kematian balita sebesar dua pertiganya


antara 1990 dan 2015
Karena itu, indikator utama tujuan ini adalah angka kematian anak di
bawah lima tahun (balita). Target MDGs adalah untuk mengurangi dua
pertiga angka tahun 1990. Saat itu, jumlahnya 97 kematian per 1.000
kelahiran hidup.Target saat ini adalah 32 kematian per 1.000 kelahiran
hidup.Dengan demikian, Indonesia cukup berhasil.
Indikator kedua adalah proporsi anak usia satu tahun yang mendapat
imunisasi campak. Angka ini telah meningkat,menjadi 72% untuk bayi dan
76% untuk anak dibawah 23 bulan pada 2006, namun perlu lebih
ditingkatkan lagi.

5. Meningkatkan kesehatan ibu

Target 5A: Menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga perempatnya


antara 1990 dan2015.
Data tersedia yang terdekat dengan tahun 1990 berasal dari tahun
1995.Berdasarkan datadata tersebut, target yang harus dicapai adalah 97.

Melihat kecenderungan saat ini, Indonesia tidak akan mencapai target.


Indikator kedua yaitu proporsi persalinan yang ditolong oleh tenaga
kesehatan terlatih, saat ini menunjukkan angka 73%.

Target 5B: Mencapai dan menyediakan akses kesehatan reproduksi untuk


semua pada 2015
Penggunaan kontrasepsi oleh wanita usia 15-49 tahun meningkat menjadi
61.0%. Perawatan antenatal juga mengalami peningkatan.Akan tetapi,
dengan keterbatasan data, sulit untuk mengukur sejauh mana pencapaian
target akses untuk kesehatan reproduksi.

(Sedyaningsih, 2012)
6. Memerangi HIVdan AIDS, malaria serta penyakit lainnya

Target 6A: Menghentikan dan mulai membalikkan tren penyebaran HIV


dan AIDS pada 2015

Prevalensi saat ini adalah 5,6 per 100.000 orang di tingkat nasional namun
pada saat ini tidak ada indikasi bahwa kita telah menghentikan laju
penyebaran HIV dan AIDS. Meskipun demikian, kita semestinya bisa
melakukannya.Hampir semua data yang ada berikut ini, terkait dengan
kelompok-kelompok berisiko tinggi.
Prevalensi HIVPara pengguna napza jarum suntik 2003: Jawa Barat,
43%. PSK perempuan 2003: Jakarta, 6%; Tanah Papua 17%. PSK laki-laki
2004: Jakarta, 4%. Narapidana 2003: Jakarta, 20%.
Tes Melakukan tes selama 12 bulan terakhir dan mengetahui hasilnya,
2004-2005: PSK perempuan, 15%; pelanggan pekerja seks, 3%; pengguna
napza jarum suntik 18%; laki-laki yang berhubungan seks dengan lakilaki, 15%.
PengetahuanProporsi kelompok yang tahu bagaimana mencegah infeksi
dan menolak kesalahpengertian utama 2004: PSK, 24%; pelanggan
pekerja seks, 24%; laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki,
43%; pengguna napza jarum suntik,7%.

Target 6B: Tersedianya akses universal untuk perawatn terhadap


HIV/AIDS bagi yang memerlukan, pada 2010

Target 6C: Menghentikan dan mulai membalikkan kecenderungan


persebaran malaria dan penyakit-penyakit utama lainnya pada 2015
Malaria Tingkat kejadian hingga 18.6 juta kasus per tahun.Jumlah ini
mungkin sudah turun.

Tuberkulosis (TBC)Prevalensi: 262 per 100.000 atau setara dengan


582.000 kasus setiap tahunnya. Deteksi kasus: 76%. Angka keberhasilan
pengobatan DOTS: lebih dari 91%.

(Sedyaningsih, 2012)
7. Memastikan kelestarian lingkungan

Target 7A: Memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan ke


dalam kebijakan dan program negaraserta mengakhiri kerusakan sumber
daya alam
Indikator pertama adalah proporsi lahan berupa tutupan hutan. Berdasar
citra satelit, jumlahnya sekitar 49,9%, atau bahkan mungkin sudah lebih
rendah dari angka tersebut. Namun citra Landsat merupakan citra satelit
dengan resolusi rendah dan mungkin tidak terlalu sesuai untuk melacak
perubahan.

Indikator

lain

adalah

rasio

kawasan

lindung

untuk

mempertahankan keragaman hayati. Pada 2006 rasio tersebut adalah


29,5% meskipun sebagian dari jumlah tersebut telah dirambah. Sejauh ini,
angka terkini tentang emisi karbon dioksida per kapita adalah 1,34

sedangkan konsumsi bahan-bahan perusak lapisan ozon masih pada


tingkat 6.544 metrik-ton. Proporsi rumah tangga yang menggunakan bahan
bakar padat pada 2004 adalah 47,5%.

Target 7B: Mengurangi laju hilangnya keragaman hayati, dan mencapai


pengurangan yang signifikan pada 2010
Belum ada data terbaru mengenai hal ini

Target 7C: Menurunkan separuh proporsi penduduk yang tidak memiliki


akses yang berkelanjutan terhadap air minum yang aman dan sanitasi dasar
pada 2015
Pada tahun 2006, 57,2% penduduk memiliki akses terhadap air minum
yang aman dan meskipun masih ada jarak, kita hampir berhasil untuk
mencapai target 67%. Untuk sanitasi kita nampaknya telah melampaui
target 65%, karena telah mencapai cakupan sebesar 69.3%, meskipun
banyak dari pencapaian ini berkualitas rendah.

Target 7D: Pada 2020 telah mencapai perbaikan signifikan dalam


kehidupan (setidaknya) 100 juta penghuni kawasan kumuh
Meskipun 84% rumah tangga telah memiliki hak penguasaan yang aman,
baik dengan memiliki ataupun menyewa, namun jumlah komunitas kumuh
yang memiliki akses terbatas pada layanan dan keamanan semakin
meningkat.

(Sedyaningsih, 2012)

8. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan

Mengembangkan lebih jauh lagi perdagangan terbuka dan sistem


keuangan yang berdasarkan aturan, dapat diterka dan tidak ada
diskriminasi. Termasuk komitmen terhadap pemerintahan yang baik,
pembangungan dan pengurangan tingkat kemiskinan secara nasional
dan internasional.

Membantu

kebutuhan-kebutuhan

khusus

negara-negara

kurang

berkembang, dan kebutuhan khusus dari negara-negara terpencil dan


kepulauan-kepulauan kecil. Ini termasuk pembebasan-tarif dan -kuota
untuk ekspor mereka; meningkatkan pembebasan hutang untuk negara
miskin yang berhutang besar; pembatalan hutang bilateral resmi; dan

menambah

bantuan

pembangunan

resmi

untuk

negara

yang

berkomitmen untuk mengurangi kemiskinan.

Secara komprehensif mengusahakan persetujuan mengenai masalah


utang negara-negara berkembang.

Menghadapi secara komprehensif dengan negara berkembang dengan


masalah hutang melalui pertimbangan nasional dan internasional untuk
membuat hutang lebih dapat ditanggung dalam jangka panjang.

Mengembangkan usaha produktif yang layak dijalankan untuk kaum


muda.

Dalam kerja sama dengan pihak "pharmaceutical", menyediakan akses


obat penting yang terjangkau dalam negara berkembang

Dalam

kerjasama

dengan

pihak

swasta,

membangun

adanya

penyerapan keuntungan dari teknologi-teknologi baru, terutama


teknologi informasi dan komunikasi.
(Peter Stalker, 2008)
Waktu untuk mencapai sasaran-sasaran Millennium Development Goals (MDG)
tinggal tiga tahun lagi. Dari delapan goals yang ditetapkan, lima goals yaitu MDG
1, 4, 5, 6 dan 7 terkait erat dengan kesehatan.MDG merupakan hasil kesepakatan
lebih dari 180 Kepala Negara dan Pemerintah Anggota PBB tahun
2000.Kesepakatan untuk mencapai MDG bertujuan meningkatkan kesejahteraan
umat manusia. Untuk Indonesia, sasaran MDG

tertuang dalam Rencana

Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 dan Renstra


Kementerian Kesehatan 2010-2014 (Endang Rahayu Sedyaningsih, 2012).

Untuk mencapai sasaran-sasaran MDG perlu kerja keras dan kerja cerdas,
meninggalkan cara kerja yang business as usual. Harus ada inovasi dan terobosan
serta fokus pada kegiatan prioritas. Implementasi kebijakan ini hanya mungkin
terjadi bila didukung seluruh jajaran lintas sektor, pemerintah daerah, seluruh
masyarakat, dan stakeholders lainnya.
Walaupun target MDG-1 yaitu menurunkan prevalensi gizi kurang pada anak
balita dalam posisi on track, namun beberapa provinsi masih menunjukkan
prevalensi gizi buruk dan gizi kurang di atas angka nasional. Di samping itu ada
masalah stunting prevalensinya mencapai 35,8% (Endang Rahayu Sedyaningsih,
2012).
Strategi terkait MDG-4 untuk menurunkan angka kematian balita 2/3 dari kondisi
tahun 1990 dalam posisi on track.Harus disadari adanya disparitas angka kematian
anak baik antar Provinsi maupun Kabupaten/Kota, pada anak yang dilahirkan dari
keluarga yang memiliki sosio-ekonomi yang rendah serta mereka yang tinggal di
pedesaan.Kesenjangan ini terkait dengan; kemudahan masyarakat mendapatkan
pelayanan kesehatan yang berkualitas; keterbukaan daerah terhadap pembangunan
ekonomi; ketersediaan sumber daya, serta; kebijakan masing-masing daerah.Hal
yang perlu menjadi perhatian adalah angka kematian neonatal cenderung stagnan.
Faktor infeksi dan masalah gizi sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup
anak. Riskesdas 2007 menunjukkan, penyebab kematian balita sebesar 36%
adalah masalah neonatal (Asfiksia, Berat Badan Lahir Rendah dan Infeksi), 17,2%
karena Diare dan 13,2% oleh Pneumonia (Endang Rahayu Sedyaningsih, 2012).

Terkait MDGS-5 yaitu Menurunkan Angka Kematian Ibu, masih diperlukan


kerja keras dan kerja cerdas untuk menurunkan AKI menjadi 102 per 100.000
Kelahiran Hidup (Endang Rahayu Sedyaningsih, 2012).
Untuk mengatasi masalah ini, Kementerian Kesehatan melakukan langkahlangkah yaitu Meningkatkan pengetahuan dan peran aktif

keluarga dan

masyarakat melalui penerapan Buku KIA; Program Perencanaan Persalinan dan


Pencegahan Komplikasi (P4K); Program rumah tunggu; Program kemitraan bidan
dan dukun; Peningkatan persalinan oleh tenaga kesehatan dan persalinan di
fasilitas kesehatan, serta Mengatasi masalah emergensi melalui Puskesmas
PONED dan Rumah sakit PONEK (Endang Rahayu Sedyaningsih, 2012).
Sejak tahun 2011 diluncurkan Program Jaminan Persalinan (Jampersal) untuk
percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir (neonatal).Program
ini diperuntukkan bagi ibu hamil yang tidak memiliki jaminan persalinan (Endang
Rahayu Sedyaningsih, 2012).
Terkait MDG-6 untuk HIV-AIDS, TB dan Malaria masih dalam posisi off
track.Kemenkes masih menghadapi kendala khususnya Pengendalian penyebaran
dan penurunan jumlah kasus HIV-AIDS; Penggunaan kondom pada kelompok
risiko tinggi; Peningkatan pengetahuan tentang HIV-AIDS. Dalam kata lain,
pengetahuan masyarakat tentang HIV-AIDS masih

rendah. Strategi yang

dilakukan untuk mencapai target MDG 6 adalah Peningkatan sosialisasi;


Peningkatan akses pengobatan HIV-AIDS; Implementasi program, PMTCT;
Pengurangan dampak buruk pada penyalahguna NAPZA suntik atau Penasun
(Endang Rahayu Sedyaningsih, 2012).

Sementara terkait Pengendalian Malaria, dalam posisi on track karena angka


kejadian malaria per 1000 penduduk menunjukkan kecenderungan menurun.
Sedangkan untuk Pengendalian TB, sasaran menurunkan kasus baru tuberkulosis
justru sudah tercapai (Endang Rahayu Sedyaningsih, 2012).
Terkait target MDG-7 yaitu Akses Air Bersih Pada Rumah Tangga, Menkes
menyatakan masih dalam posisi off track. Pencapaian MDG-7 ini sangat penting
bagi kesehatan masyarakat, karena kualitas air dan sanitasi merupakan faktor
risiko berbagai penyakit menular (Endang Rahayu Sedyaningsih, 2012).
Setiap negara yang berkomitmen dan menandatangani perjanjian diharapkan
membuat laporan MDGs. Pemerintah Indonesia melaksanakannya dibawah
koordinasi Bappenas dibantu dengan Kelompok Kerja PBB dan telah
menyelesaikan laporan MDG pertamanya yang ditulis dalam bahasa Indonesia
dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk menunjukkan rasa
kepemilikan pemerintah Indonesia atas laporan tersebut. Laporan Sasaran
Pembangunan Milenium ini menjabarkan upaya awal pemerintah untuk
menginventarisasi situasi pembangunan manusia yang terkait dengan pencapaian
sasaran MDGs, mengukur, dan menganalisa kemajuan seiring dengan upaya
menjadikan

pencapaian-pencapaian

ini

menjadi

kenyataan,

sekaligus

mengidenifikasi dan meninjau kembali kebijakan-kebijakan dan program-program


pemerintah yang dibutuhkan untuk memenuhi sasaran-sasaran ini. Dengan tujuan
utama mengurangi jumlah orang dengan pendapatan dibawah upah minimum
regional antara tahun 1990 dan 2015, Laporan ini menunjukkan bahwa Indonesia

berada dalam jalur untuk mencapai tujuan tersebut. Namun, pencapaiannya lintas
provinsi tidak seimbang (Bappenas, 2008).
Kini MDGs telah menjadi referensi penting pembangunan di Indonesia, mulai dari
tahap perencanaan seperti yang tercantum pada Rencana Pembangunan Jangka
Menengah (RPJM) hingga pelaksanaannya.Walaupun mengalami kendala, namun
pemerintah memiliki komitmen untuk mencapai sasaran-sasaran ini dan
dibutuhkan kerja keras serta kerjasama dengan seluruh pihak, termasuk
masyarakat madani, pihak swasta, dan lembaga donor. Pencapaian MDGs di
Indonesia akan dijadikan dasar untuk perjanjian kerjasama dan implementasinya
di masa depan. Hal ini termasuk kampanye untuk perjanjian tukar guling hutang
untuk negara berkembang sejalan dengan Deklarasi Jakarta mengenai MDGs di
daerah Asia dan Pasifik (Bappenas, 2008).
Untuk mewujudkan tercapainya target MDGs, terutama di bidang kesehatan,
dirumuskanlah INDONESIA SEHAT 2015. Sasaran pembangunan kesehatan
menuju Indonesia sehat 2015 adalah :
a. Perilaku hidup sehat.
Meningkatnya secara bermakna jumlah ibu hamil yang memeriksakan diri
dan melahirkan ditolonh oleh tenaga kesehatan, jumlah bayi yang
memperoleh imunisasi lengkap, jumlah yang memperoleh ASI eksklusif,
jumlah anak balita yang ditimbang setiap bulan, jumlah pasangan usia subur
(PUS), peserta keluarga berencana (KB), jumlah penduduk dengan makan
dengan gizi seimbang, jumlah penduduk yang memperoleh air bersih, jumlah
penduduk buang air besar dijamban, jumlah pemukiman bebas vector dan

rodent, jumlah rumah yang mempunyai syarat kesehatan, jumlah penduduk


berolahraga, dan istirahat teratur, jumlah keluarga dengan komunikasi internal
dan eksternal, jumlah keluarga yang menjalankan ajaran agama dengan baik,
jumlah penduduk yang tidak merokok dan tidak minum-minuman keras,
jumlah penduduk yang tidak berhubungan seks diluar nikah serta jumlah
penduduk yang menjadi peserta JPKM.
b.

Lingkungan sehat
Meningkatnya secara bermakna jumlah wilayah/kawasa sehat, tempat-tempat
umu sehat, tempat pariwisata sehat, tempat kerja sehat, rumah dan banguna
sehat, sarana sanitasi, sarana air minum,sarana pembungan limbah, serta
berbagai standard an peraturan perundang-undangan yang mendukung
terwujudnya lingkungan sehat.

c. Upaya kesehatan
Meningkatkan secara bermakna jumlah sarana kesehatan yang bermutu,
jangkauan dan cakupan pelayanan kesehatan, penggunaan obat generik dalam
pelayanan kesehatan, penggunaan obat secara rasional, memanfaatkan
pelayanan promotif dan preventif, biaya kesehatan yang dikelola secara
efisien, serta ketersediaan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan.
d. Manajemen pembangunan kesehatan
Meningkatnya secara bermakna sistem informasi pembangunan kesehatan,
kemampuan

daerah

dalam

pelaksanaan

desentralisasi,

pembangunan

kesehatan, kepemimpinan dan manajemen kesehatan, peraturan perundangundangan yang mendukung pembangunan kesehatan, kerjasama lintas
program dan sektor.

e. Derajat kesehatan
Meningkatnya secara bermakna umur harapan hidup, menurunya angka
kematian ibu dan bayi, menurunnya angka kesakitan beberapa penyakit
penting, menurunya angka kecacatan dan ketergantungan serta meningkatnya
status gizi masyarakat, menurunya angka infertilitas. (Syafrudin, 2009)
Untuk dapat mencapai tujuan pembangunan kesehatan dan melandaskan pada
dasar-dasar tersebut diatas, maka penyelenggaraan tersebut diatas, maka
penyelenggaraan upaya kesehatan perlu memperhatikan kebijakan umum yang
dikelompokkan sebagai berikut:
a. Meningkatkan kerjasama lintas sektor
Untuk optimalisasi hasil pembangunan berwawasan kesehatan, kerjasama
lintas sektor merupakan hal yang utama, dan karena itu perlu digalang serta
mantapkan secara seksama, sosialisasi masalah-masalah kesehatan kepada
sektor lain perlu dilakukan secara intensif dan berkala. Kerjasama lintas
sektor haus mencakup pada tahap perencanaan, pelaksanaan dan penilaian
serta melandaskan dengan seksama pada dasar-dasar pembangunan
kesehatan.
b. Peningkatan perilaku, pemberdayaan masyarakat dan kemitraan swasta
Masyarakat dan swasta perlu berperan aktif dalam penyelenggaraan upaya
kesehatan. Dalam kaitan ini perilaku hidup manusia sejak usia dini melalui
berbagai kegiatan-kegiatan penyuluhan dan pendidikan kesehatan, sehingga

menjadi bagian dari norma hidup dan budaya masyarakat dalam rangka
meningkatkan kesadaran dan kemandirian untuk hidup sehat. Peran
masyarakat dalam pembangunan kesehatan terutama melalui penerapan
konsep pembangunan kesehatan masyarakat tetap didorong atau bahkan
dikembangkan untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan serta kesinambungan
upaya kesehatan.
c. Peningkatan kesehatan lingkungan
Kesehatan lingkungan perlu diselenggarakan untuk mewujudkan kualitas
lingkungan, lingkungan yang sehat, yaitu keadaan lingkungan yang bebas dari
resiko yang membahayakan kesehatan dan keselamatan hidup manusia.Upaya
ini perlu untuk meningkatkan kemauan dan kemampuan pemerintah dan
masyarakat dalam merencanakan pembangunan berwawasan kesehatan.
Kesehatan lingkungan pemukiman, tempat kerja dan tempat-tempat umum
serta tempat pariwisata ditingkatkan melalui penyediaan serta pengawasan
mutu air yang memenuhi persyaratan terutama perpipaan, penerbitan tempat
pembuangan sampah, penyediaan sarana pembuangan air limbah serta
berbagai sarana sanitasi lingkunan lainnya. Kualitas air, udara dan tanah
ditingkatkan untuk menjamin hidup sehat dan produktif sehingga masyarakat
terhindar dari keadaan yang dapat menimbulkan bahaya kesehatan. Untuk itu
diperlukan peningkatan dan perbaikan peraturan perundang-undangan,
pendidikan lingkungan sehat sejak dari usia muda serta pembakuan standar
lingkungan.
d. Peningkatan upaya kesehatan

Penyelenggaraan upaya kesehatan dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu,


dan berkesinambungan, melalui upaya peningkatan kesehatan, pencegahan
penyakit, penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan serta upaya
khusus melalui pelayanan kemanusiaan dan darurat atau krisis.Selanjutnya,
pemerataan dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan perlu terus menerus
diupayakan.Dalam rangka mempertahankan status kesehatan masyarakat
selama krisis ekonomi, upaya kesehatan diprioritaskan untuk mengatasi
dampak krisis disamping tetap mempertahankan peningkatan pembangunan
kesehatan.Perhatian khusus dalam mengatasi dampak krisis diberikan kepada
kelompok berisiko dari keluarga-keluarga miskin agar derajat kesehatannya
tidak memburuk dan tetap hidup produktif.Pemerintah bertanggungjawab
terhadap

biaya

pelayanan

kesehatan

untuk

penduduk

miskin.

Setelah melewati krisis ekonomi status kesehatan masyarakat diusahakan


ditingkatkan melaui pencegahan dan pengurangan morbiditas, mortalitas dan
kecacatan dalam masyarakat terutama pada bayi, anak balita, dan wanita
hamil, melahirkan dan masa nifas, melalui upaya peningkatan (promosi)
hidup sehat, pencegahan dan pemberantasan penyakit menular dan serta
pengobatan penyakit dan rehabilitasi. Prioritas utama diberikan kepada
penanggulangan penyakit menular dan wabah cenderung meningkat.
e. Peningkatan sumber daya kesehatan
Peningkatan tenaga kesehatan harus menunjang seluruh upaya pembangunan
kesehatan dan diarahkan untuk menciptakan tenaga kesehatan yang ahli dan
terampil sesuai pengembangan ilmu dan tekhnologi, beriamn dan bertakwa
kepada tuhan yang maha esa, seta berpegang teguh pada pengabdian bangsa

dan Negara dan etika prfesi.Pengembangan tenaga kesehatan bertujuan untuk


meningkatkan pemberdayaan atau daya guna tenaga dan penyediaan jumlah
serta mutu tenaga kesehatan dari masyarakat dan pemerintah yang mampu
melaksanakan pembangunan kesehatan.Dalam perencanaan tenaga kesehatan
perlu diutamakan penentuan kebutuhan tenaga di berbagai Negara diluar
negri dalam rangka globalisasi. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat
(JPKM), yakni cara pelayanan kesehatan melaui pembayaran secara praupaya
dikembangkan

terus

untuk

menjamin

terselenggaranya

pemeliharaan

kesehatan yang lebih merata dan bermutu dengan raga yang terkendali. JPKM
diselenggarakan sebagai upaya bersama antara masyarakat, swasta, dan
pemerintah untuk memenuhi kebutuhan biaya pelayanan kesehatan yang terus
meningkat.Tarif pelayanan kesehatan perlu disesuaikan atas dasar nilai jasa
dan barang yang diterima oleh anggot masyarakat yang memperoleh
pelayanan. Masyarakat yang tidak mampu akan dibantu melalui system
JPKM yang disubsidi oleh pemerintah bersamaan dengan itu dikembangkan
pula asuransi sebagai pelengkap / pendamping JPKM. Pengembangan
asuransi kesehatan berada dibawah pembinaan pemerintah dan asosiasi
peransuran. Secara bertahap puskesmas dan rumah sakit milik pemerintah
akan dikelola secara swadana.
f. Peningkatan kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan
Kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan perlu makin ditingkatkan
terutama melalui peningkatan secara strategis dalam kerja sama antara sektor
kesehatan dan sektor lain yang terkait, dan antara berbagai program kesehatan
serta antara para pelaku dalam pembangunan kesehatan sendiri. Manajemen

upaya kesehatan yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengendalian


dan penilaian diselengarakan secara sistematik untuk menjamin upaya
kesehatan yang terpadu dan menyeluruh. Manajemen terebut didukung oleh
sistem informasi yang handal guna menghasilkan pengambilan keputusan dan
cara kerja yang efisien. Sistem informasi tersebut dikembangkan secara
komprehensif diberbagai tingkat administrasi kesehatan sebagai bagian dari
pengembangan administrasi modern. Organisasi departemen kesehatan perlu
disesuaikan kembali dengan fungsi fungsi : regulasi, perencanaan nasional,
pembinaan dan pengawasan.
g. Peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan
Penelitian dan pengembangan dibidang kesehatan akan terus dikembangkan
secara terarah dan bertahap dalam rangka menunjang upaya kesehatan,
utamanya

untuk

mendukung

perumusan

kebijaksanaan,

membantu

memecahkan masalah kesehatan dan mengatasi kendala didalam pelaksanaan


program kesehatan. Penelitian dan pengembangan kesehatan akan terus
dikembangkan melalui jaringan kemitraan dan di desentralisasikan sehingga
menjadi

bagian

Pengembangan

penting

ilmu

dari

pengetahuan

pembanguna
dan

kesehatan

teknologi

daerah.

didorong

untuk

meningkatkan pelayanan kesehatan, gizi, pendayagunan obat, pengembangan


obat

asli

Indonesia,

lingkungan.Penelitian

pemberantasan

yang

berkaitan

penyakit
dengan

dan

perbaikan

ekonomi

kesehatan

dikembangkan unutuk mengoptimalkan pemanfaatan pebiayaan kesehatan


dari pemerintah dan swasta, serta meningkatkan kontribusi pemerintah dalam
pembiayaan kesehatan yang masih terbatas.

h. Peningkatan lingkungan sosial budaya


Selain berpengaruh positif globalisai juga menimbulkan perubahan sosial dan
budaya masyarakat yang dapat berpengaruh negatif terhadap pembangunan
kesehatan.Untuk itu sangat diperlukan peningkatan kesehatan sosial dan
budaya masyarakat melalui penungkatan sosio-ekonomi masyarakat, sehingga
dapat mengambil manfaat yang sebesar besarnya sekaligus meminimalkan
dampak negatif dari globalisasi. (Syafrudin, 2009)

III.

KESIMPULAN

Tujuan pembangunan milenium merupakan agenda serius untuk mengurangi


kemiskinan dan meningkatkan tingkat kehidupan yang disetujui oleh para
pemimpin dunia pada Millennium Summit(pertemuan tingkat tinggi Millenium)
pada bulan September 2000.
Dalam mencapai sasaran pembangunan milenium (millennium development
goals/MDGs) yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pemerintah
Indonesia, berbeda dengan Indonesia Sehat 2010, sasaran MDGs ada indikatornya
serta kapan harus dicapai. Sasaran MDGs ini bisa dijadikan slogan Indonesia
Sehat di tahun 2015 sebagai pengganti slogan sebelumnya.Dalam visi ini
Indonesia mempunyai delapan sasaran MDGs salah satunya yaitu mengurangi
angka kematian bayi dan ibu pada saat persalinan. Maksud dari visi tersebut yaitu
kehamilan dan persalinan di Indonesia berlangsung aman serta bayi yang akan
dilahirkan hidup sehat, dengan misinya menurunkan kesakitan dan kematian
maternal dan neonatal melalui pemantapan sistem kesehatan di dalam menghadapi
persalinan yang aman.
Sasaran MDGs yang lain yaitu menurunkan angka kelaparan (kurang gizi)
menjadi setengahnya (50 persen) di tahun 2015 dibanding tahun 1996. Kemudian

menurunkan angka kematian bayi dan balita, juga menjadi setengahnya dibanding
tahun 1996. Lalu menurunkan angka kematian ibu sebanyak 75 persen,
mengendalikan penularan penyakit menular, khususnya TBC dan HIV, sehingga
pada tahun 2015 nanti jumlahnya tidak meningkat lagi tetapi justru menurun.
DAFTAR PUSTAKA

Bappenas.2008. Laporan Millenium Development Goals (MDG)


Indonesia.Diakses tanggal 20 Juli 2015.

http://www.bappenas.go.id/files/1913/5229/9628/laporanpencapaian-tujuan-pembangunan-milenium-di-indonesia2011__20130517105523__3790__0.pdf

Millennium Development Goals 2000-2015. Diakses tanggal 20 Juli 2015.


https://www.google.com/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=0CC
sQFjAB&url=http%3A%2F%2Fapard.gov.in%2FCNRMPPTS
%2FMDG.pptx&ei=NDX4VJOiNMa_uAS6uoK4BQ&usg=AFQjCNE4a
Di4c_tOCyzMYVr4PxGYA07Psw&sig2=FfSLdyhlJqoNcZVItwaCw&bvm=bv.87519884,d.c2E
Sedyaningsih, Rahayu Endang. 2012. Capai Target MDGs Demi Terwujudnya
Derajat Kesehatan Masyarakat Yang Tinggi. Diakses tanggal 21 Juli 2015.
http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/1802-capai-targetmdgs-demi-terwujudnya-derajat-kesehatan-masyarakat-yang-tinggi.html
Stalker Peter. 2008. Lets Speak Out for MDGs..Diakses tanggal 20 Juli 2015 .
http://www.id.undp.org/content/dam/indonesia/docs/MDG/Let
%20Speak%20Out%20for%20MDGs%20-%20ID.pdf

Syafrudin, SKM. 2009. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Trans Info Media : Jakarta.
UNV. 2011. Tujuan Pembangunan Milenium. Diakses tanggal 20 Juli 2015.
http://www.undp.or.id/unv/id/resources_mdg.html
Wikipedia.2015. Sasaran Pembangunan Milenium.Diakses tanggal 20 Juli
2015.http://id.wikipedia.org/wiki/Sasaran_Pembangunan_Milenium