Anda di halaman 1dari 16

RABU, 16 MARET 2011

Makalah Kanker Otak


Nama : PW. Karang Davensi
NIM : 04.08.1906
Kelas : A/K/P/VI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam beberapa jurnal di Amerika dan
Inggris tersebut, diungkapkan bahaya telepon genggam memang terbukti berbahaya
untuk otak, terutama anak-anak.
Sebanyak 13 negara telah mendapatkan laporan studi tersebut. Studi yang dipelopori dan
didanai oleh Telecom itu sudah berjalan selama bertahun-tahun sejak dimulainya tahun
1999. Tujuannya adalah untuk membuktikan adakah pengaruhnya antara ponsel dan
tumor otak.
Dalam laporan Powerwatch and the Radiation Research Trust di Inggris
dan EMR Policy Institute di Amerika itu, para peneliti mengatakan bahwa gelombang
radiasi yang terpancar dari ponsel memang jadi faktor pemicu tumor otak, terutama anakanak dan orang dewasa yang rentan terkena penyakit.
Penelitian tentang pengaruh radiasi ponsel terhadap kesehatan manusia adalah
studi terlama dan terbesar yang pernah saya jalani yang melibatkan 4 miliar partisipan,
ujar Lloyd Morgan, pimpinan studi yang juga anggota Bioelectromagnetics Society,
seperti dikutip dari Huffington Post, Rabu 02 September 2009.
Lamanya studi itu dikarenakan tumor tidak tumbuh dalam waktu singkat, butuh
waktu bertahun-tahun hingga seseorang terbukti memiliki tumor.
Ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa telepon genggam memang faktor
penyebab tumor otak. Masyarakat dan publik harus tahu hal ini. Bahkan tidak hanya
tumor otak, kanker mata, kelenjar ludah, kanker testis dan leukimia pun menjadi ancaman
selanjutnya dari ponsel, ujar Morgan.
Para ilmuwan dari berbagai universitas dan institusi kesehatan yang berkumpul
dalam seminar Cellphones and Brain Tumors: 15 Reasons for Concern pun akhirnya

setuju bahwa ponsel memang terbukti memicu tumor otak dan sebaiknya seseorang
mengurangi intensitas yang berhubungan dengan ponsel, tidak berlama-lama menelepon
dan menjauhkannya ketika sedang tidur.
Namun saat ini, di zaman serba teknologi dan cepat ini, ponsel sudah menjadi barang
wajib yang harus dimiliki setiap orang, bahkan anak-anak sekalipun

1.2. TUJUAN
1. Untuk mengetahui apa itu tumor otak
2. Mengetahui apa penyebabnya
3. Mengetahui cara pngobatannya

BAB II
DASAR TEORI/LANDASAN TEORI

Meski dilihat dari angka kejadiannya, jumlah penderita kanker otak masih rendah,
yakni hanya enam per 100.000 dari pasien tumor/kanker per tahun, namun tetap saja
penyakit tersebut menjadi momok bagi sebagian besar orang. Pasalnya, walaupun
misalnya tumor yang menyerang adalah jenis tumor jinak, bila menyerang otak tingkat
bahaya yang ditimbulkan itu umumnya lebih besar daripada tumor yang menyerang
bagian tubuh lain.
Tumbuhnya sel-sel tubuh yang tidak normal ini memang menakutkan. Penyebab
pasti dari kanker ini belum diketahui secara tepat, tapi berbagai faktor telah diketahui
dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker. Faktor risiko pencetus tumor otak ini bisa
karena riwayat keluarga, radiasi, zat kimia, pola makan, obat-obatan tertentu dan rokok.
Penyakit ini bisa muncul tanpa gejala yang bermakna, namun sering pula ditandai
dengan gejala-gejala seperti pusing kepala, muntah, gangguan penglihatan, kesadaran,
pendengaran, berjalan dan saraf. Sayangnya, sejauh ini belum ada pengobatan yang pasti,
namun seiring dengan kemajuan teknologi kedokteran dan farmasi berbagai upaya
dilakukan semaksimal mungkin untuk mengusir penyakit tersebut.
Terapi obat-obatan telah digunakan dalam pengobatan beberapa jenis kanker.
Selain itu, kasus-kasus lain mungkin ditangani dengan operasi, radioterapi, maupun
kemoterapi. Tindakan operasi termasuk yang sering dilakukan, khususnya pada penderita
tumor otak.
Riset terhadap pengobatan kanker pun terus berlangsung. Ikan hiu yang diketahui telah
menjelajah lautan sekitar 400 juta tahun lalu diketahui morfologinya tidak pernah
berubah. Konon, di tubuh ikan ini, sel kanker tidak bisa tumbuh, karena seluruh
tulangnya adalah tulang rawan. Benarkah demikian?
Dalam catatan buku tradisional Cina mengenai khasiat makanan pengobatan,
makan sirip ikan hiu dipercaya dapat mencegah penuaan kulit dan gelatin yang
terkandung di dalam sirip ikan hiu dipercaya pula dapat meningkatkan vitalitas. Yang
pasti, katanya sirip ikan hiu ini memang lezat. Meski hasil penelitian itu dibantah oleh
ahli nutrisi dari Universitas Taiwan, Prof. Chang Hung-min yang mengatakan, sebutir
telur ayam pun lebih bergizi dibandingkan semangkuk sup sirip hiu, namun penelitipeneliti lain mengungkapkan hasil yang positip.
Peneliti dari Indonesia yang juga Kepala Pusat Studi Satwa Primata Lembaga
Penelitian Institut Pertanian Bogor, Drh Dondin Sajuthi Ph D mengakui esktrak tulang
rawan ikan hiu dapat menghambat pertumbuhan pembuluh darah baru. Hal itu ia
buktikan lewat penelitiannya.

Dokter
Henry
Brem
dan
dr
Allen
K
Sills
dari Johns Hopkins Universitymelaporkan salah satu senyawa yang berasal dari ikan hiu
Squalus, terbukti dapat menghambat pertumbuhan pembuluh darah baru yang
menyalurkan makanan ke tumor otak. Dengan menggunakan sel pembuluh darah sistem
saraf pusat sapi, kedua peneliti ini meneteskan squalamine. Setelah dua hari,
pertumbuhan sel pembuluh darah turun hingga 83 persen.
Selain ikan hiu, tulang rawan sapi juga disebut-sebut mampu menghambat
pertumbuhan pembuluh darah baru. Tentang hasilnya, Dr Greg Harper dari Council for
Scientific and Indutrial Research Organization telah membuktikannya.
Pengobatan ala barat pun semakin mendapatkan titik cerah dengan mulai
ditemukannya obat-obatan yang diduga dapat membawa manfaat dalam pengobatan
kanker otak. Berbagai penelitian memang masih harus dilakukan untuk menemukan obat
yang mempunyai efektivitas tinggi. Tapi kita boleh berharap bahwa harapan akan
semakin terbuka bagi pengobatan kanker otak. (cy)

BAB III
PEMBAHASAN

A. Definisi

Tumor otak adalah suatu pertumbuhan jaringan yang abnormal di dalam otak. Yang
terdiri atas Tumor otak benigna dan maligna. Tumor otak benigna adalah pertumbuhan
jaringan abnormal di dalam otak, tetapi tidak ganas, sedangkan tumor otak maligna
adalah kanker di dalam otak yang berpotensi menyusup dan menghancurkan jaringan di
sebelahnya atau yang telah menyebar (metastase) ke otak dari bagian tubuh lainnya
melalui aliran darah.
B.

C.

Epidemiologi
Dimana tumor otak primer tersebut kira-kira 41% adalah glioma, 17% meningioma,
13% adenoma hipofisis dan 12% neurilemoma. Pada orang dewasa 60% terletak
supratentorial sedang pada anak 70% terletak infratentorial. Pada anak yang paling sering
ditemukan adalah tumor serebellum yaitu meduloblastoma dan astrositoma, sedangkan
pada dewasa adalah glioblastoma multiforme.

Klasifikasi
Klasifikasi Samuels (1986) berdasarkan atas lokasi tumor, yaitu :
1. Tumor supratentorial
a) Hemisfer otak :
Glioma : glioblastoma multiforme, astrositoma, oligodendroglioma,
meningioma, tumor metastasis
b) Tumor struktur median : adenoma hipofisis, tumor glandula
pinealis, kraniofaringioma
2. Tumor infratentorial
Dewasa :
a) Schwannoma akustikus (neurilemmoma, neurinoma akustik)
b) Tumor metastasis
c) Meningioma
d) Hemangioblastoma (Von Hippel Lindau)
Anak-anak :
a) Astrositoma serebelaris
b) Medulloblastoma
c) Ependimoma
d) Glioma batang otak.3
D. Etiologi

Penyebab tumor hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti, walaupun telah
banyak penyelidikan yang dilakukan. Adapun faktor-faktor yang perlu ditinjau, yaitu:
1. Herediter
Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali pada
meningioma, astrositoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada anggota-anggota
sekeluarga. Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-Weber yang dapat dianggap sebagai
manifestasi pertumbuhan baru, memperlihatkan faktor familial yang jelas. Selain jenisjenis neoplasma tersebut tidak ada bukti-buakti yang kuat untuk memikirkan adanya
faktor-faktor hereditas yang kuat pada neoplasma.
2. Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest)
Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan yang
mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh. Tetapi ada kalanya
sebagian dari bangunan embrional tertinggal dalam tubuh, menjadi ganas dan merusak
bangunan di sekitarnya. Perkembangan abnormal itu dapat terjadi pada kraniofaringioma,
teratoma intrakranial dan kordoma.
3. Radiasi
Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat mengalami
perubahan degenerasi, namun belum ada bukti radiasi dapat memicu terjadinya suatu
glioma. Pernah dilaporkan bahwa meningioma terjadi setelah timbulnya suatu radiasi.
4. Virus
Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar yang
dilakukan dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi virus dalam proses terjadinya
neoplasma, tetapi hingga saat ini belum ditemukan hubungan antara infeksi virus dengan
perkembangan tumor pada sistem saraf pusat.
5. Substansi-substansi Karsinogenik
Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan. Kini telah
diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik seperti methylcholanthrone, nitroso-ethylurea. Ini berdasarkan percobaan yang dilakukan pada hewan
E. Patofisiologi
Gangguan neurologik pada tumor otak biasanya dianggap disebabkan oleh dua faktor:
gangguan fokal akibat tumor dan kenaikan tekanan intrakranial. Gangguan fokal terjadi
apabila terdapat penekanan pada jaringan otak, dan infiltrasi atau invasi langsung pada
parenkim otak dengan kerusakan jaringan neural. Perubahan suplai darah akibat tekanan

tumor yang tumbuh menyebabkan nekrosis jaringan otak. Gangguan suplai darah arteri
pada umumnya bermanifestasi sebagai hilangnya fungsi secara akut dan mungkin dapat
dikacaukan dengan gangguan serebrovaskuler primer. Serangan kejang sebagai
manifestasi perubahan kepekaan neuron dihubungkan dengan kompresi, invasi, dan
perubahan suplai darah ke jaringan otak. Peningkatan ICP disebabkan oleh :
bertambahnya massadalam tengkorak, terbentuknya edema sekitar tumor, dan perubahah
sirkulasi
cairan
serebrospinal.
Pertumbuhan
tumor
akan
menyebabkan
bertambahnya massa karena tumor akan mendesak ruang yang relatif tetap pada ruangan
tengkorak yang kaku. Tumor ganas menimbulkan edema dalam jaringan otak sekitarnya.
Mekanisme belum begitu dipahami, tetapi diduga disebabkan oleh selisih osmotik yang
menyebabkan perdarahan. Obstruksi vena dan edema akibat kerusakan sawar darah otak,
semua menimbulkan peningkatan volume intrakranial dan ICP. Obstruksi sirkulasi CSF
dari ventrikel lateralis ke ruang subarachnoid menimbulkan hidrosefalus.
Peningkatan ICP akan membahayakan jiwa bila terjadi cepat akibat salah satu
penyebab yang telah dibicarakan sebelumnya. Mekanisme kompensasi memerlukan
waktu berhari-hari atau berbulan-bulan untuk menjadi efektif sehingga tidak berguna bila
tekanan intracranial timbul cepat. Mekanisme kompensasi ini bekerja menurunkan
volume darah intracranial, volume CSF, kandungan cairan intrasel, dan mengurangi selsel parenkim. Peningkatan tekanan yang tidak diobati mengakibatkan terjadinya herniasi
unkus atau serebelum. Herniasi unkus timbul bila girus medialis lobus temporalis tergeres
ke inferior melalui incisura tentorial olehmassa dalam hemisfer otak. Herniasi menekan
mesencephalon menyebakan hilangnya kesadaran dan menekan saraf otak ketiga.
Kompresi medulla oblongata dan henti napas terjadi dengan cepat. Perubahan fisiologi
lain yang terjadi akibat peningkatan ICP yang cepat adalah bradikardi progesif, hipertensi
sistemik, dan gagal napas.5
F.

Gambaran klinik
Gejala klinik pada tumor intrakranial dibagi dalam 3 kategori, yaitu :
1. Gejala Klinik Umum
Gejala umum timbul karena peningkatan tekanan intrakranial atau akibat infiltrasi
difus dari tumor. Gejala yang paling sering adalah sakit kepala, perubahan status mental,
kejang, nyeri kepala hebat, papil edema, mual dan muntah. Tumor maligna (ganas)
menyebabkan gejala yang lebih progresif daripada tumor benigna (jinak). Tumor pada
lobus temporal depan dan frontal dapat berkembang menjadi tumor dengan ukuran yang
sangat besar tanpa menyebabkan defisit neurologis, dan pada mulanya hanya
memberikan gejala-gejala yang umum. Tumor pada fossa posterior atau pada lobus

parietal dan oksipital lebih sering memberikan gejala fokal dulu baru kemudian
memberikan gejala umum.
Nyeri Kepala
Merupakan gejala awal pada 20% penderita dengan tumor otak yang kemudian
berkembang menjadi 60%. Nyerinya tumpul dan intermitten. Nyeri kepala berat juga
sering diperhebat oleh perubahan posisi, batuk, maneuver valsava dan aktivitas fisik.
Muntah ditemukan bersama nyeri kepala pada 50% penderita. Nyeri kepala ipsilateral
pada tumor supratentorial sebanyak 80 % dan terutama pada bagian frontal. Tumor pada
fossa posterior memberikan nyeri alih ke oksiput dan leher.
Perubahan Status Mental
Gangguan konsentrasi, cepat lupa, perubahan kepribadian, perubahan mood dan
berkurangnya inisiatif adalah gejala-gejala umum pada penderita dengan tumor lobus
frontal atau temporal. Gejala ini bertambah buruk dan jika tidak ditangani dapat
menyebabkan terjadinya somnolen hingga koma.
Seizure
Adalah gejala utama dari tumor yang perkembangannya lambat seperti astrositoma,
oligodendroglioma dan meningioma. Paling sering terjadi pada tumor di lobus frontal
baru kemudian tumor pada lobus parietal dan temporal.
Edema Papil
Gejala umum yang tidak berlangsung lama pada tumor otak, sebab dengan teknik
neuroimaging tumor dapat segera dideteksi. Edema papil pada awalnya tidak
menimbulkan gejala hilangnya kemampuan untuk melihat, tetapi edema papil yang
berkelanjutan dapat menyebabkan perluasan bintik buta, penyempitan lapangan pandang
perifer dan menyebabkan penglihatan kabur yang tidak menetap.
Muntah
Muntah sering mengindikasikan tumor yang luas dengan efek darimassa tumor
tersebut juga mengindikasikan adanya pergeseran otak. Muntah berulang pada pagi dan
malam hari, dimana muntah yang proyektil tanpa didahului mual menambah kecurigaan
adanya massa intrakranial.
2. Gejala Klinik Lokal
Manifestasi lokal terjadi pada tumor yeng menyebabkan destruksi parenkim, infark
atau edema. Juga akibat pelepasan faktor-faktor ke daerah sekitar tumor (contohnya :
peroksidase, ion hydrogen, enzim proteolitik dan sitokin), semuanya dapat menyebabkan
disfungsi fokal yang reversibel.

Tumor Kortikal
Tumor lobus frontal menyebabkan terjadinya kejang umum yang diikuti paralisis posiktal. Meningioma kompleks atau parasagital dan glioma frontal khusus berkaitan dengan
kejang. Tanda lokal tumor frontal antara lain disartri, kelumpuhan kontralateral, dan
afasia jika hemisfer dominant dipengaruhi. Anosmia unilateral menunjukkan adanya
tumor bulbus olfaktorius.
Tumor Lobus Temporalis
Gejala tumor lobus temporalis antara lain disfungsi traktus kortikospinal kontralateral,
defisit lapangan pandang homonim, perubahan kepribadian, disfungsi memori dan kejang
parsial kompleks. Tumor hemisfer dominan menyebabkan afasia, gangguan sensoris dan
berkurangnya konsentrasi yang merupakan gejala utama tumor lobus parietal. Adapun
gejala yang lain diantaranya disfungsi traktus kortikospinal kontralateral, hemianopsia/
quadrianopsia inferior homonim kontralateral dan simple motor atau kejang sensoris.
Tumor Lobus Oksipital
Tumor lobus oksipital sering menyebabkan hemianopsia homonym yang kongruen.
Kejang fokal lobus oksipital sering ditandai dengan persepsi kontralateral episodic
terhadap cahaya senter, warna atau pada bentuk geometri.
Tumor pada Ventrikel Tiga dan Regio Pineal
Tumor di dalam atau yang dekat dengan ventrikel tiga menghambat ventrikel atau
aquaduktus dan menyebabkan hidrosepalus. Perubahan posisi dapat meningkatkan
tekanan ventrikel sehingga terjadi sakit kepala berat pada daerah frontal dan verteks,
muntah dan kadang-kadang pingsan. Hal ini juga menyebabkan gangguan ingatan,
diabetes insipidus, amenorea, galaktorea dan gangguan pengecapan dan pengaturan suhu.
Tumor Batang Otak
Terutama ditandai oleh disfungsi saraf kranialis, defek lapangan pandang, nistagmus,
ataksia dan kelemahan ekstremitas. Kompresi pada ventrikel empat menyebabkan
hidrosepalus obstruktif dan menimbulkan gejala-gejala umum.
Tumor Serebellar
Muntah berulang dan sakit kepala di bagian oksiput merupakan gejala yang sering
ditemukan pada tumor serebellar. Pusing, vertigo dan nistagmus mungkin menonjol.

3. Gejala Lokal yang Menyesatkan (False Localizing Features)


Gejala lokal yang menyesatkan ini melibatkan neuroaksis kecil dari lokasi tumor yang
sebenarnya. Sering disebabkan oleh peningkatan tekanan intrakranial, pergeseran dari

struktur-struktur intrakranial atau iskemi. Kelumpuhan nervus VI berkembang ketika


terjadi peningkatan tekanan intrakranial yang menyebabkan kompresi saraf. Tumor lobus
frontal yang difus atau tumor pada korpus kallosum menyebabkan ataksia (frontal
ataksia). 2
G.

Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis pada penderita yang dicurigai menderita tumor otak
yaitu melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik neurologik yang teliti, adapun
pemeriksaan penunjang yang dapat membantu yaitu CT-Scan dan MRI. Dari anamnesis
kita dapat mengetahui gejala-gejala yang dirasakan oleh penderita yang mungkin sesuai
dengan gejala-gejala yang telah diuraikan di atas. Misalnya ada tidaknya nyeri kepala,
muntah dan kejang. Sedangkan melalui pemeriksaan fisik neurologik mungkin ditemukan
adanya gejala seperti edema papil dan deficit lapangan pandang.
Pemeriksaan Penunjang
CT scan dan MRI memperlihatkan semua tumor intrakranial dan menjadi prosedur
investigasi awal ketika penderita menunjukkan gejala yang progresif atau tanda-tanda
penyakit otak yang difus atau fokal, atau salah satu tanda spesifik dari sindrom atau
gejala-gejala tumor. Kadang sulit membedakan tumor dari abses ataupun proses lainnya.

Foto polos dada dan pemeriksaan lainnya juga perlu dilakukan untuk mengetahui
apakah tumornya berasal dari suatu metastasis yang akan memberikan gambaran nodul
tunggal ataupun multiple pada otak.
Pemeriksaan cairan serebrospinal juga dapat dilakukan untuk melihat adanya sel-sel
tumor dan juga marker tumor. Tetapi pemeriksaan ini tidak rutin dilakukan terutama pada
pasien dengan massa di otak yang besar. Umumnya diagnosis histologik ditegakkan
melalui pemeriksaan patologi anatomi, sebagai cara yang tepat untuk membedakan tumor
dengan proses-proses infeksi (abses cerebri).2
Biopsi dilakukan untuk menentukan jenis tumor dan sifatnya (ganas atau jinak).
Kadang pemeriksaan mikroskopik dari cairan serebrospinal yang diperoleh melalui
pungsi
lumbal,
bisa
menunjukkan
adanya
sel-sel
kanker.
Jika terdapat peningkatan tekanan di dalam tengkorak, maka tidak dapat dilakukan pungsi
lumbal karena perubahan tekanan yang tiba-tiba bisa menyebabkan herniasi.
Pada herniasi, tekanan yang meningkat di dalam tengkorak mendorong jaringan otak ke
bawah melalui lubang sempit di dasar tengkorak, sehingga menekan otak bagian bawah
(batang otak). Sebagai akibatnya, fungsi yang dikendalikan oleh batang otak (pernafasan,

denyut jantung dan tekanan darah) akan mengalami gangguan. Jika tidak segera diatasi,
herniasi bisa menyebabkan koma dan kematian.4
H.

Terapi
Jika memungkinkan, maka tumor diangkat melalui pembedahan. Pembedahan kadang
menyebabkan kerusakan otak yang bisa menimbulkan kelumpuhan parsial, perubahan
rasa, kelemahan dan gangguan intelektual. Tetapi pembedahan harus dilakukan jika
pertumbuhannya mengancam struktur otak yang penting. Meskipun pengangkatan tumor
tidak dapat menyembuhkan kanker, tetapi bisa mengurangi ukuran tumor, meringankan
gejala dan membantu menentukan jenis tumor serta pengobatan lainnya.
Beberapa tumor jinak harus diangkat melalui pembedahan karena mereka terus tumbuh di
dalam rongga sempit dan bisa menyebabkan kerusakan yang lebih parah atau kematian.
Meningioma, schwannoma dan ependimoma biasanya diangkat melalui pembedahan.
Setelah pembedahan kadang dilakukan terapi penyinaran untuk menghancurkan sel-sel
tumor yangt ersisa. Tumor ganas diobati dengan pembedahan, terapi penyinaran dan
kemoterapi. Terapi penyinaran dimulai setelah sebanyak mungkin bagian tumor diangkat
melalui pembedahan. Terapi penyinaran tidak dapat menyembuhkan tumor, tetapi
membantu memperkecil ukuran tumor sehingga tumor dapat dikendalikan.
Kemoterapi digunakan untuk mengobati beberapa jenis kanker otak.
Kanker otak primer maupun kanker otak metastatik memberikan respon yang baik
terhadap
kemoterapi.
Jika terjadi peningkatan tekanan di dalam otak, diberikan suntikan mannitol dan
kortikosteroid
untuk
mengurangi
tekanan
dan
mencegah
herniasi.
Pengobatan
kanker
metastatik
tergantung
kepada
sumber
kankernya.
Sering dilakukan terapi penyinaran. Jika penyebarannya hanya satu area, maka bisa
dilakukanpembedahan.
Pemilihan jenis terapi pada tumor otak tergantung pada beberapa faktor, antara lain
kondisi umum penderita, tersedianya alat yang lengkap, pengertian penderita dan
keluarganya, luasnya metastasis. adapun terapi yang dilakukan, meliputi terapi steroid,
pembedahan, radioterapi dan kemoterapi.
Terapi Steroid
Steroid secara dramatis mengurangi edema sekeliling tumor intrakranial, namun tidak
berefek langsung terhadap tumor.
Pembedahan

Pembedahan adalah pengobatan yang paling umum untuk tumor otak. Tujuannya
adalah untuk mengangkat sebanyak tumornya dan meminimalisir sebisa mungkin
peluang
kehilangan
fungsi
otak.
Operasi untuk membuka tulang tengkorak disebut kraniotomi. Hal ini dilakukan dengan
anestesi umum. Sebelum operasi dimulai, rambut kepala dicukur. Ahli bedah kemudian
membuat sayatan di kulit kepala menggunakan sejenis gergaji khusus untuk mengangkat
sepotong tulang dari tengkorak. Setelah menghapus sebagian atau seluruh tumor, ahli
bedah menutup kembali bukaan tersebut dengan potongan tulang tadi, sepotong metal
atau bahan. Ahli bedah kemudian menutup sayatan di kulit kepala. Beberapa ahli bedah
dapat menggunakan saluran yang ditempatkan di bawah kulit kepala selama satu atau dua
hari setelah operasi untuk meminimalkan akumulasi darah atau cairan.
Efek samping yang mungkin timbul pasca operasi pembedahan tumor otak adalah sakit
kepala atau rasa tidak nyaman selama beberapa hari pertama setelah operasi. Dalam hal
ini
dapat
diberikan
obat
sakit
kepala.
Masalah lain yang kurang umum yang dapat terjadi adalah menumpuknya cairan
cerebrospinal di otak yang mengakibatkan pembengkakan otak (edema). Biasanya pasien
diberikan steroid untuk meringankan pembengkakan. Sebuah operasi kedua mungkin
diperlukan untuk mengalirkan cairan. Dokter bedah dapat menempatkan sebuah tabung,
panjang dan tipis (shunt) dalam ventrikel otak. Tabung ini diletakkan di bawah kulit ke
bagian lain dari tubuh, biasanya perut. Kelebihan cairan dari otak dialirkan ke perut.
Kadang-kadang
cairan
dialirkan
ke
jantung
sebagai
gantinya.
Infeksi adalah masalah lain yang dapat berkembang setelah operasi (diobati dengan
antibiotic).
Operasi otak dapat merusak jaringan normal. kerusakan otak bisa menjadi masalah
serius. Pasien mungkin memiliki masalah berpikir, melihat, atau berbicara. Pasien juga
mungkin mengalami perubahan kepribadian atau kejang. Sebagian besar masalah ini
berkurang dengan berlalunya waktu. Tetapi kadang-kadang kerusakan otak bisa
permanen. Pasien mungkin memerlukan terapi fisik, terapi bicara, atau terapi kerja.
Radiosurgery stereotactic adalah tehnik "knifeless" yang lebih baru untuk
menghancurkan tumor otak tanpa membuka tengkorak. CT scan atau MRI digunakan
untuk menentukan lokasi yang tepat dari tumor di otak. Energi radiasi tingkat tinggi
diarahkan ke tumornya dari berbagai sudut untuk menghancurkan tumornya. Alatnya
bervariasi, mulai dari penggunaan pisau gamma, atau akselerator linier dengan foton,
ataupun
sinar
proton.

Kelebihan dari prosedur knifeless ini adalah memperkecil kemungkinan komplikasi pada
pasien dan memperpendek waktu pemulihan. Kekurangannya adalah tidak adanya sample
jaringan tumor yang dapat diteliti lebih lanjut oleh ahli patologi, serta pembengkakan
otak
yang
dapat
terjadi
setelah
radioterapi.
Kadang-kadang operasi tidak dimungkinkan. Jika tumor terjadi di batang otak
(brainstem) atau daerah-daerah tertentu lainnya, ahli bedah tidak mungkin dapat
mengangkat tumor tanpa merusak jaringan otak normal. Dalam hal ini pasien dapat
menerima
radioterapi
atau
perawatan
lainnya.
Radioterapi
Tumor diterapi melalui radioterapi konvensional dengan radiasi total sebesar 50006000 cGy tiap fraksi dalam beberapa arah. Kegunaan dari radioterapi hiperfraksi ini
didasarkan pada alasan bahwa sel-sel normal lebih mampu memperbaiki kerusakan
subletal dibandingkan sel-sel tumor dengan dosis tersebut. Radioterapi akan lebih efisien
jika dikombinasikan dengan kemoterapi intensif.
Kemoterapi
Jika tumor tersebut tidak dapat disembuhkan dengan pembedahan, kemoterapi tetap
diperlukan sebagai terapi tambahan dengan metode yang beragam. Pada tumor-tumor
tertentu seperti meduloblastoma dan astrositoma stadium tinggi yang meluas ke batang
otak, terapi tambahan berupa kemoterapi dan regimen radioterapi dapat membantu
sebagai terapi paliatif.
I.

Prognosis
Meskipun diobati, hanya sekitar 25% penderita kanker otak yang bertahan hidup setelah 2
tahun. Prognosis yang lebih baik ditemukan pada astrositoma dan oligodendroglioma,
dimana kanker biasanya tidak kambuh dalam waktu 3-5 tahun setelah pengobatan.
Sekitar 50% penderita meduloblastoma yang diobati bertahan hidup lebih dari 5 tahun.
Pengobatan untuk kanker otak lebih efektif dilakukan pada:
- penderita yang berusia dibawah 45 tahun
- penderita astrositoma anaplastik
- penderita yang sebagian atau hampir seluruh tumornya telah diangkat melalui
pembedahan.

Berdasarkan data di Negara-negara maju, dengan diagnosis dini dan juga penanganan
yang tepat melalui pembedahan dilanjutkan dengan radioterapi, angka ketahanan hidup 5
tahun (5 years survival) berkisar 50-60% dan angka ketahanan hidup 10 tahaun (10 years
survival) berkisar 30-40%. Terapi tumor otak di Indonesia secara umum prognosisnya
masih buruk, berdasarkan tindakan operatif yang dilakukan pada beberapa rumah sakit di
Jakarta. 2
Meskipun diobati, hanya sekitar 25% penderita kanker otak yang bertahan hidup
setelah 2 tahun. Prognosis yang lebih baik ditemukan pada astrositoma dan
oligodendroglioma, dimana kanker biasanya tidak kambuh dalam waktu 3-5 tahun setelah
pengobatan. Sekitar 50% penderita meduloblastoma yang diobati bertahan hidup lebih
dari 5 tahun. Pengobatan untuk kanker otak lebih efektif dilakukan pada:
penderita yang berusia dibawah 45 tahun
- penderita astrositoma anaplastik
- penderita yang sebagian atau hampir seluruh tumornya telah diangkat
melalui
pembedahan.

BAB IV
PENUTUP

4.1. KESIMPULAN
Tumor otak adalah suatu pertumbuhan jaringan yang abnormal di dalam otak. Yang
terdiri atas Tumor otak benigna dan maligna. Tumor otak benigna adalah pertumbuhan
jaringan abnormal di dalam otak, tetapi tidak ganas, sedangkan tumor otak maligna
adalah kanker di dalam otak yang berpotensi menyusup dan menghancurkan jaringan di
sebelahnya atau yang telah menyebar (metastase) ke otak dari bagian tubuh lainnya
melalui aliran darah.
Tumor disebabkan oleh mutasi DNA di dalam sel. Akumulasi dari mutasi-mutasi
tersebut menyebabkan munculnya tumor. Sebenarnya sel kita memiliki mekanisme
perbaikan DNA (DNA repair) dan mekanisme lainnya yang menyebabkan sel merusak
dirinya dengan apoptosis jika kerusakan DNA sudah terlalu berat. Apoptosis adalah
proses aktif kematian sel yang ditandai dengan pembelahan DNA kromosom, kondensasi
kromatin, serta fragmentasi nukleus dan sel itu sendiri. Mutasi yang menekan gen untuk
mekanisme tersebut biasanya dapat memicu terjadinya kanker.
Pengobatan tumor otak tergantung kepada lokasi dan jenisnya.Pemilihan jenis terapi
pada tumor otak tergantung pada beberapa faktor, antara lain kondisi umum penderita,
tersedianya alat yang lengkap, pengertian penderita dan keluarganya, luasnya metastasis.
adapun terapi yang dilakukan, meliputi terapi steroid, pembedahan, radioterapi dan
kemoterapi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Informasi tentang Tumor Otak dalam http://www.medicastore.com dikutip tanggal 13


November 2004
2. Adams and Victors, Intracranial Neoplasms and Paraneoplastic Disorders inManual of
Neurology edisi 7, McGraw Hill, New York, 2002 : 258 263
3. Adams and Victors, Intracranial Neoplasms and Paraneoplastic Disorders inPrinciples
of Neurology edisi 7, McGraw Hill, New York, 2001 : 676 721
4.
Syaiful
Saanin,
dr,
Tumor
Intrakranial
dalamhttp://www.angelfire.com/nc/neurosurgery/Pendahuluan.html, dikutip tanggal 13
November 2004
5. Harsono, Tumor Otak dalam Buku Ajar Neurologi Klinis edisi I, Gajah Mada
University Press, Yogyakarta, 1999 : 201 207
6. What you need to Know about Brain Tumor at http://www.cancer.gov
7. Mahar, M., Proses Neoplasmatik di Susunan Saraf dalam Neurologi Klinis
Dasar edisi 5, Dian Rakyat, Jakarta, 2000 : 390 402
8. Meyer, J.S., Gilroy J., Tumors of the Central Nervous System in Medical
Neurology edisi 2, McMillan Publishing C. Inc, New York, 1995 : 611 629
9. Bradley, Walter G., Neuro-Oncology in Pocket Companion to Neurology in Clinical
Practice edisi 3, Butterworth, Boston 2000 : 239 267
10. Howard L.W., Lawrence P. L., Malignancy and the Nervous System
inNeurology edisi 5, Williams & Wilkins, Philadelphia, : 139 - 142
11. Facts About Brain Tumors at http://www.braintumor.org, dikutip tanggal 13
November 2004
12. John R.M., Howard K.W, A ,B, Cs of Brain Tumors From Their Biology to Their
Treatments at http://www.brain-surgery.com, dikutip tanggal 13 November 2004
13. 13.Pinzon, Rizaldi dkk. 2003. Karakteristik Klinis dan Radiologis Tumor Otak di RS.
Dr. Sardjito Yogyakarta. FK UGM, Yogyakarta.
14.Ashadi. 2009. Gejala, Diagnosis dan Terapi Tumor Otak.
Sindereng.
(Sindereng. Blogspot.com, 30 September 2009)
15.______. 2009. Tumor Otak. Referat. (referat.blogspot.com, 30 September 2009)
16.______. 2009. Tumor Otak. Medicastore. (www.medicastore.com, 30 September
2009)
17.Price, Sylvia Anderson. 2006. Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. EGC, Jakarta.