Anda di halaman 1dari 21

Referat

TENOSYNOVITIS DEQUERVAIN

Oleh:
Rivia Krishartanty

04084811416067

Pembimbing :
dr. Yenny Fitrizar

DEPARTEMEN KESEHATAN REHABILITASI MEDIK


RUMAH SAKIT DR. MOH. HOESIN PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2015

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan segenap syukur penulis panjatkan atas


selesainya referat berjudul Tenosynovitis dequervain. Terima kasih pada Allah
SWT atas rahmat dan ridho-Nya yang tiada henti diberikan. Salawat beriring
salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para
sahabatnya.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Pembimbing dr. Yenny
Fitrizar yang telah memberikan bimbingan selama proses penyusunan referat ini.
Penulis menyadari bahwa dalam referat ini masih sangat banyak terdapat
kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan
untuk perbaikan. Penulis berharap semoga referat ini dapat memberikan manfaat
dan dapat menjadi sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan. Amin ya
rabbal alamiin.

Palembang,

September 2015

Penulis

DAFTAR ISI
Judul ................................................................................................................................
Kata Pengantar ..............................................................................................................
Daftar Isi ............................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Defenisi..................................................................................................................
2.2 Epidemiologi..........................................................................................................
2.3 Etiologi...................................................................................................................
2.4 Anatomi dan fisiologi..............................................................................................
2.5 Patofisiologi............................................................................................................
2.6 Diagnosis.................................................................................................................
2.7 Diagnosis Banding................................................................................................
2.8 Pengobatan............................................................................................................
2.9 Prognosis...............................................................................................................
BAB III KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan .........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


De Quervain syndrome juga dikenal sebagai washerwoman's sprain, radial
styloid tenosynovitis, De Quervain sindrom, de Quervain's stenosing tenosynovitis
or mother's wrist and mommy thumb. Sejarah dari tennosynovitis De Quervain
pertama kali ditemukan oleh seorang ahli bedah Swiss, Fritz de Quervain (18681940).1 Penyakit ini dideskripsikan untuk yang pertama kalinya oleh Fritz de
Quervain pada tahun 1895. Awalnya, Fritz de Quervain mendeskripsikan penyakit
ini dengan apa yang kita kenal sebagai tenovaginitis yaitu proliferasi jaringan
fibrosa retinakulum otot-otot ekstensor dan tendon sheath dari otot ekstensor
polisis brevis dan otot abduktor polisis longus. Beberapa tahun kemudian, terjadi
stenosis tenosynovitis dari kedua tendon tersebut (kompartemen dorsal pertama)
hingga kemudian penyakit ini dikenal dengan nama de Quervains tenosynovitis.
2,3

De Quervain syndrome merupakan penyakit dengan nyeri pada daerah


prosesus stiloideus akibat inflamasi kronik pembungkus tendon otot abduktor
polisis longus dan ekstensor polisis brevis setinggi radius distal dan jepitan pada
kedua tendon tersebut.De Quervain syndrome atau tenosinovitis stenosans ini
merupakan tendovaginitis kronik yang disertai penyempitan sarung tendon. Sering
juga ditemukan penebalan tendon. Lokasi de Quervain syndrome ini adalah pada
kompartemen dorsal pertama pada pergelangan tangan. Kompartemen dorsal
pertama pada pergelangan tangan termasuk di dalamnya adalah tendon otot
abduktor polisis longus (APL) dan tendon otot ekstensor polisis brevis (EPB).
Penderita dengan kondisi yang seperti ini biasanya datang dengan nyeri pada
aspek dorsolateral dari pergelangan tangannya dengan nyeri yang berasal dari arah
ibu jari dan/atau lengan bawah bagian lateral. 4,5

Penyebab utama dari de Quervain syndrome adalah overuse oleh karena


gerakan yg berulang-ulang dalam waktu yg lama pada tangan terutama yg
menggunakan ibu jari seperti mencubit, memeras, memelintir, menekan dan
menggenggam. Uniknya sebagian besar kasus ini terjadi pada wanita. Selain itu
tak menutup kemungkinan reumatoid artritis dan cidera langsung pada tangan
juga menyebabkan de Quervain syndrome. 3
Penatalaksanaan de Quervain syndrome biasanya dengan istirahat,
berendam air hangat dan obat- obat anti peradangan non steroid (NSAID), kadang
suntikan kortikosterid membantu pada 80 % - 90 % kasus. Operasi kadang kala
dibutuhkan. 6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
De Quervains syndrome merupakan penyakit dengan nyeri pada daerah
prosesus stiloideus akibat inflamasi kronik pembungkus tendon otot abduktor
polisis longus dan ekstensor polisis brevis setinggi radius distal dan jepitan pada
kedua tendon tersebut. 4,5 De Quervains syndrome atau tenosinovitis stenosans ini
merupakan tendovaginitis kronik yang disertai penyempitan sarung tendon. Sering
juga ditemukan penebalan tendon. 5
Lokasi de Quervains syndrome ini adalah pada kompartemen dorsal pertama
pada pergelangan tangan. Kompartemen dorsal pertama pada pergelangan tangan
termasuk di dalamnya adalah tendon otot abduktor polisis longus (APL) dan
tendon otot ekstensor polisis brevis (EPB). Pasien dengan kondisi yang seperti ini
biasanya datang dengan nyeri pada aspek dorsolateral dari pergelangan tangannya
dengan nyeri yang berasal dari arah ibu jari dan / atau lengan bawah bagian
lateral. Kondisi seperti ini mempunyai respon yang baik terhadap penanganan non
bedah. 3

Gambar 1. Kompartemen dorsal pertama pergelangan tangan pada daerah tepi


lateral dari snuffbox.

Gambar 2. Tampak kompartemen dorsal pertama pada daerah stiloid radius


menonjol.

2.2 Epidemiologi
Angka kejadian di USA untuk penyakit ini relatif, terutama di antara
orang-orang yang menunjukkan aktivitas yang menggunakan tangan berulang-

ulang, seperti pekerja pemasangan bagian-bagian mesin tertentu dan sekretaris.

Mortalitas tidak berhubungan dengan kondisi penyakit ini. Beberapa morbiditas


yang dilaporkan mungkin terjadi pada pasien dengan riwayat nyeri progresif di
mana berhubungan dengan aktivitas yang memerlukan penggunaan tangan yang
terkena. De Quervains syndrome lebih banyak diderita oleh orang dewasa
dibanding pada anak-anak. 3
Hingga saat ini belum ditemukan adanya korelasi yang nyata antara
insiden de Quervains syndrome dengan sejumlah ras tertentu. Meskipun penyakit
seperti ini sering dijumpai pada pria dan wanita, tetapi de Quervains syndrome
menunjukkan jumlah yang signifikan di mana lebih banyak terjadi pada wanita
dibandingkan pada pria. Beberapa sumber bahkan memperlihatkan rasio yang
sangat tinggi pada wanita dibandingkan pada pria, yaitu 8 : 1. Menariknya,
banyak wanita yang menderita de Quervains syndrome selama kehamilannya atau
selama periode postpartum. 3
2.3 Etiologi
Trauma minor yang berulang-ulang umumnya memberikan kontribusi
terhadap perkembangan penyakit de Quervains syndrome. Aktivitas-aktivitas
yang mungkin menyebabkan trauma ulangan pada pergelangan tangan termasuk
faktor pekerjaan, tugas-tugas sekretaris, olahraga golf, atau permainan olahraga
yang menggunakan raket. 3

Gambar 3. Tugas-tugas dari seorang sekretaris yang dapat menyebabkan


trauma ulangan pada pergelangan tangan
8

Faktor-faktor lain yang mungkin dapat memberikan kontribusi terjadinya de


Quervains syndrome antara lain : 3,6,7
1.

Trauma akut pada tangan terutama ibu jari.

2.

Berhubungan dengan rheumatoid arthritis.

Penyebab yang pasti tidak diketahui, tetapi inflamasi tendon yang terjadi
berhubungan dengan gesekan yang berlebihan / berkepanjangan antara tendon dan
pembungkusnya, terjadi misalnya pada wanita yang pekerjaannya memeras kain.
4,7

2.4 Anatomi dan Fisiologi


Tendon adalah penghubung antara tulang dan otot. Tendon ada yang
dibungkus dengan pembungkus tendon (tendon sheath), ada pula yang tidak dan
langsung melekat pada tulang. 8,9

Gambar 4. Tendon dari otot abduktor polisis longus dan otot ekstensor polisis
brevis.
Pergelangan tangan bagian dorsal yang terdiri dari otot-otot ekstensor dibungkus
oleh sebuah retinakulum ekstensor yang berjalan melalui tulang-tulang karpal.
Retinakulum ini terdiri dari jaringan fibrosa. Bagian medial dari retinakulum ini
melekat pada os pisiform dan os hamate sementara bagian lateralnya melekat pada

bagian distal dari os radius. Ada enam kompartemen jaringan fibrosa yang melalui
otot-otot ekstensor ini. Kompartemen ini dipisahkan satu sama lain oleh jaringan
fibrosa. Setiap kompartemen dibungkus oleh tendon sheath yang berisi cairan
sinovial dan semuanya dibungkus oleh retinakulum tadi. 8,9,10

Gambar 5. Retinakulum otot-otot ekstensor, tendon sheath, dan potongan


transversal tendon sheath
Struktur kompartemen dari radial ke ulnar adalah kompartemen pertama
yang terdiri dari tendon otot ekstensor polisis brevis dan tendon otot abduktor
polisis longus, kompartemen kedua yang terdiri dari tendon otot ekstensor karpi
radialis brevis dan tendon otot ekstensor karpi radialis longus, kompartemen
ketiga yaitu tendon otot ekstensor polisis longus, kompartemen keempat yaitu
tendon otot ekstensor digitorum dan otot ekstensor indicis, kompartemen kelima
adalah tendon otot ekstensor digiti minimi, dan kompartemen keenam adalah
tendon otot ekstensor karpi ulnaris.

8,9,10

10

Gambar 6. Kompartemen pertama sampai kompartemen keenam.


De Quervains syndrome adalah stenosis pada tendon sheath kompartemen dorsal
pertama pergelangan tangan. Kompartemen ini terdiri dari tendon otot abduktor
polisis longus dan otot ekstensor polisis brevis. 1,3,10,11

Gambar 7. Kompartemen dorsal pertama


Tendon pada otot ekstensor polisis brevis berfungsi pada pergerakan
ekstensi polluks, sedangkan tendon pada otot abduktor polisis longus berfungsi
sebagai pergerakan abduksi pada polluks. 8,9,10

11

Di antara kedua tendon ini berjalan cabang dari nervus radialis sebagai
sensoriknya sehingga jika terjadi stenosis pada kompartemen ini akan merangsang
terjadinya nyeri oleh iritasi pada nervus radialis. 8,9

2.5 Patofisiologi
Kompartemen dorsal pertama pada pergelangan tangan termasuk
pembungkus tendon yang menutupi tendon otot abduktor polisis longus dan
tendon otot ekstensor polisis brevis pada tepi lateral. Inflamasi pada daerah ini
umumnya terlihat pada pasien yang menggunakan tangan dan ibu jarinya untuk
kegiatan-kegiatan yang repetitif. Karena itu, de Quervains syndrome dapat terjadi
sebagai hasil dari mikrotrauma kumulatif (repetitif). 3,7
Pada trauma minor yang bersifat repetitif atau penggunaan berlebih pada
jari-jari tangan (overuse) menyebabkan malfungsi dari tendon sheath. Tendon
sheath yang memproduksi cairan sinovial mulai menurun produksi dan kualitas
cairannya. Akibatnya, pada penggunaan jari-jari selanjutnya terjadi pergesekan
otot dengan tendon sheath karena cairan sinovial yang berkurang tadi berfungsi
sebagai lubrikasi. Sehingga terjadi proliferasi jaringan ikat fibrosa yang tampak
sebagai inflamasi dari tendon sheath. Proliferasi ini menyebabkan pergerakan
tendon menjadi terbatas karena jaringan ikat ini memenuhi hampir seluruh tendon
sheath. Terjadilah stenosis atau penyempitan pada tendon sheath tersebut dan hal
ini akan mempengaruhi pergerakan dari kedua otot tadi. Pada kasus-kasus lanjut
akan terjadi perlengketan tendon dengan tendon sheath. Pergesekan otot-otot ini
merangsang nervus yang ada pada kedua otot tadi sehingga terjadi perangsangan
nyeri pada ibu jari bila digerakkan yang sering merupakan keluhan utama pada
penderita penyakit ini.

1,3,11

Pembungkus fibrosa dari tendon abduktor polisis

longus dan ekstensor polisis brevis menebal dan melewati puncak dari prosesus
stiloideus radius. 4,6,7

2.6 Diagnosis
Kelainan ini sering ditemukan pada wanita umur pertengahan. Gejala yang
timbul berupa nyeri bila menggunakan tangan dan menggerakkan kedua otot
12

tersebut yaitu bila menggerakkan ibu jari, khususnya tendon otot abduktor polisis
longus dan otot ekstensor polisis brevis. Perlu ditanyakan juga kepada pasien
riwayat terjadinya nyeri. Sebagian pasien akan mengungkapkan riwayat terjadinya
nyeri dengan trauma akut pada ibu jari mereka dan sebagian lainnya tidak
menyadari keluhan ini sampai terjadi nyeri yang lambat laun makin menghebat.
Untuk itu perlu ditanyakan kepada pasien apa pekerjaan mereka karena hal
tersebut akan memberikan kontribusi sebagai onset dari gejala tersebut khususnya
pada pekerjaan yang menggunakan jari-jari tangan. Riwayat penyakit lain seperti
pada rheumatoid arthritis dapat menyebabkan pula deformitas dan kesulitan
menggerakkan ibu jari. Pada kasus-kasus dini, nyeri ini belum disertai edema
yang tampak secara nyata (inspeksi), tapi pada kasus-kasus lanjut tampak edema
terutama pada sisi radial dari polluks. 3,10,11
Pada pemeriksaan fisik, terdapat nyeri tekan pada daerah prosesus
stiloideus radius, kadang-kadang dapat dilihat atau dapat teraba nodul akibat
penebalan pembungkus fibrosa pada sedikit proksimal prosesus stiloideus radius,
serta rasa nyeri pada adduksi pasif dari pergelangan tangan dan ibu jari. Bila
tangan dan seluruh jari-jari dilakukan deviasi ulnar, penderita merasa nyeri oleh
karena jepitan kedua tendo di atas dan disebut uji Finkelstein positif. 4,5,6,7

Gambar 8. Tampak inflamasi pada tendon sheath dari kompartemen dorsal


pertama
Tanda-tanda klasik yang ditemukan pada de Quervains syndrome adalah
tes Finkelstein positif. Cara melakukannya adalah dengan menyuruh pasien untuk
mengepalkan tanganya di mana ibu jari diletakkan di bagian dalam dari jari-jari

13

lainnya. Si pemeriksa kemudian melakukan deviasi ulnar pasif pada pergelangan


tangan si pasien yang dicurigai di mana dapat menimbulkan keluhan utama berupa
nyeri pergelangan tangan daerah dorsolateral. 3,16

Gambar 9. Daerah yang nyeri pada de Quervains syndrome


Lakukan tes Finskelstein secara bilateral untuk membandingkan dengan bagian
yang tidak terkena. Hati-hati memeriksa the first carpometacarpal (CMC) joint
sebab bagian ini dapat menyebabkan tes Finskelstein positif palsu. 6Selain dengan
tes Finkelstein harus diperhatikan pula sensorik dari ibu jari, refleks otot-otot, dan
epikondilitis lateral pada tennis elbow untuk melihat sensasi nyeri apakah primer
atau merupakan referred pain. 3,12,13

Gambar 10. Tes Finkelstein, si pemeriksa melakukan deviasi ulnar pasif pada
pergelangan tangan pasien

14

Gambar 11. Tes Finkelstein


Pemeriksaan laboratorium tidak ada yang spesifik untuk menunjang
diagnosis penyakit ini. Kadang dilakukan pemeriksaan serum untuk melihat
adanya faktor rheumatoid untuk mengetahui penyebab penyakit ini, tetapi hal ini
juga tidak spesifik karena beberapa penyakit lain juga menghasilkan faktor
rheumatoid di dalam darahnya. 3,10,14
Pemeriksaan radiologik secara umum juga tidak ada yang secara spesifik
menunjang untuk mendiagnosis penyakit ini. Akan tetapi, penemuan terbaru
dalam delapan orang pasien yang dilakukan ultrasonografi dengan transduser 13
MHz resolusi tinggi diambil potongan aksial dan koronal didapatkan adanya
penebalan dan edema pada tendon sheath. Pada pemeriksaan dengan MRI terlihat
adanya penebalan pada tendon sheath tendon otot ekstensor polisis brevis dan otot
abduktor polisis longus. Pemeriksaan radiologis lainnya hanya dipakai untuk
kasus-kasus trauma akut atau diduga nyeri oleh karena fraktur atau osteonekrosis.
3,10

2.7 Diagnosis Banding


Yang merupakan diagnosis banding de Quervains syndrome adalah
sebagai berikut : 3,10,11
1. Carpal Tunnel Syndrome, di mana pada penyakit ini dirasakan nyeri pada ibu
jari tangan. Nyeri ini tidak hanya dirasakan pada ibu jari tangan, akan tetapi
dapat ke seluruh pergelangan tangan bahkan dapat sampai ke lengan. Carpal
Tunnel Syndrome adalah kumpulan gejala yang disebabkan oleh kompresi

15

pada nervus medianus akibat inflamasi pada pergelangan tangan. Penyebab


inflamasi dapat karena suatu infeksi, trauma, atau penggunaan berlebihan
pada pergelangan tangan (overuse). Gejala lain pada penyakit ini adalah
adanya rasa panas dan kelemahan pada otot-otot pergelangan tangan.
2. Osteoarthritis pada persendian di pergelangan tangan.
3. Kienbock disease yaitu osteonekrosis pada os lunate.
4. Degenerative arthritis pada sendi radioscaphoid, cervical radiculopathy
terutama pada segmen C5 atau C6.
5. Cheiralgia paresthetica atau neuropati pada sensorik dari nervus radial.
6. Fraktur scaphoid yang tampak sebagai nyeri pada daerah snuff box pada
kompartemen dorsal pertama.
7. Intersection syndrome di mana tenosynovitis terjadi pada tendon dari
kompartemen dorsal pertama (tendon otot ekstensor polisis brevis dan otot
abduktor polisis longus) sampai ke tendon dari kompartemen dorsal kedua
(otot ekstensor karpi radialis longus dan otot ekstensor karpi radialis brevis)
dengan gejala nyeri dan inflamasi pada bagian distal pada daerah dorsolateral
dari lengan bawah. Nyeri pada penyakit ini lebih kurang di daerah lateral
dibandingkan pada de Quervains syndrome.

2.8 Pengobatan
Terapi de Quervain syndrome pada prisipnya adalah untuk mengurangi nyeri yang
diakibatkan oleh adanya inflamasi. Terapinya sendiri dibagi menjadi dua yakni
penatalaksanaan konservatif dan tindakan pembedahan. Tindakan pembedahan
sangat jarang dilakukan.11 Sedangkan untuk penatalaksanaan konservatif diuraikan
sebagai berikut:
1. Medikamentosa
Pemberian obat anti-inflamasi non-steroid sering diberikan kepada penderita
untuk mengurangi nyeri. Kadang juga diberikan injeksi kortikosteroid untuk
mengatasi inflamasi yang terjadi.3,5,
2.

Rehabilitasi Medik

16

a. Fisioterapi :Dengan memberikan modalitas terapi berupa terapi dingin


pada fase akut dan dapat pula dimodifikasi dengan stimulasi listrik TENS
untuk mengurangi nyeri dan terapi panas SWD yang juga digunakan untuk
mengurangi nyeri serta mengurangi inflamasi yang terjadi pada fase
kronik
b. Ortotik-Prostetik: Dengan memberikan splint untuk mengistirahatkan ibu
jari dan pergelangan tangan.

Gambar 12. Splint yang digunakan sebagai terapi konservatif


Splint tidak diperkenankan dipakai sepanjang hari secara terus menerus,
penderita perlu membuka splint minimal 2 kali dalam sehari. Saat splint dilepas,
penderita dapat melakukan latihan-latihan sebagai berikut :

17

Gambar 13. Rangkaian latihan pergelangan tangan


a. Opposition stretch: letakkan tangan anda di atas meja, angkat pergelangan
tangan. Kemudian ujung ibu jari menyentuh ujung jari kelingking. Tahan posisi
tersebut selama kurang lebih 6 detik. Ulangi 10 kali.
b. Wrist stretch: dengan tangan yang lain, Bantu tangan sisi yang lain untuk
menahan dalam posisi fleksi selama 15-30 detik. Kemudia dengan cara yang
sama, tahan dalam posisi ekstensi dalam rentang waktu yang sama. Lakukakan
masing-masing 3 kali untuk tiap tangan. Sendi siku tetap dalam kondisi lurus.
c. Wrist flexion: genggam sebuah sabun dalam posisi tangan supinasi. Lakukan
gerakan fleksi pada sendi pergelangan tangan secara perlahan. Lakukan 10 kali.
Beban dapat secara perlahan ditingkatkan.

18

3. Edukasi
1) Sebaiknya pergelangan tangan diistirahatkan untuk sementara waktu dan
penderita menghindari kegiatan seperi mencuci, menulis, dll yang dapat
memperberat kerja otot pergelangan tangan.
2) Penderita diedukasi untuk sering melakukan kompres dingin pada bagian
pergelangan tangan kanannya di rumah.
4. Intervensi bedah diperlukan jika terapi konservatif tidak efektif lagi terutama
pada kasus-kasus lanjut di mana telah terjadi perlengketan pada tendon sheath.

2.9 Prognosis
Prognosis penyakit ini umumnya baik. Pada kasus-kasus dini, biasanya
berespon dengan baik pada terapi konservatif. Sedangkan pada kasus-kasus lanjut
dan tidak memberikan respon yang baik dengan terapi konservatif, dilakukan
tindakan bedah untuk dekompresi pada kompartemen dorsal pertama dari
pergelangan tangan. Umumnya berlangsung dengan baik, morbiditas dapat terjadi
jika terjadi komplikasi pasca operasi misalnya adhesi tendo atau subluksasi volar
tendon.

3,10,11

Pasien dengan de Quervains syndrome perlu untuk menghindari

aktivitas-aktivitas repetitif tertentu dari pergelangan tangan atau dari ibu jari
hingga pengobatan yang adekuat tercapai. 3

19

BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
Dari informasi yang telah didapatkan dapat diambil kesimpulan bahwa De
Quervain

Syndrome

menimbulkan

permasalahan

nyeri,

oedem,

spasme,

keterbatasan Luas Gerak Sendi (LGS), penurunan kekuatan otot, Penurunan


kemampuan fungsional. Dalam hal ini digunakan modalitas Ultrasound (US),
Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) dan terapi latihan sehingga
mampu memperbaiki dari fungsi yang terganggu, selain terapi rehabilitasi,
pengobatan tenosynovitis dequervain dapat menggunakan obat-obatan, tetapi
lebih disarankan menggunakan terapi rehabilitasi seperti splint dengan
mengistirahatkan sejenak pada tempat yang terkena, setelah itu dilanjutkan
dengan latihan pergelangan tangan.

20

DAFTAR PUSTAKA
1. Polsdorfer,

R,

de

Quervains

Tenosynovitis,

available

at

http://healthlibrary.epnet.com, last reviewed November 2011.


2. NN,
Biography
of
Fritz
de
Quervain,
available

at

http://www.whonamedit.com/doctor.cfm, 1994-2001.
3. Foye,
PM,
de
Quervains
Tenosynovitis,

at

available

http://www.emedicine.com/pmr/topic36.htm, last updated October 13,


2005.
4. Rasjad, C, Penyakit de Quervain (Tenovaginitis Stenosans) dalam
Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi, Penerbit Bintang Lamumpatue, Ujung
Pandang, 1998. halaman : 228
5. Sjamsuhidajat, R. , Tenosinovitis Stenosans dalam Buku-Ajar Ilmu
Bedah, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1998. halaman : 1246.
6. Duckworth, T. , De Quervains Teno-Vaginitis in Lectura Notes On
Orthopaedics And Fractures, Second Edition, P G Publishing Pte Ltd,
Singapore, 1985. page : 249.
7. Bunnel, S. , Stenosing Tenosynovitis at Radiostyloid Process (de
Quervains Disease) in Surgery of The Hand, Third Edition, Pitman
Medical Publishing Co., LTD, London, 1992. page 774-5.
8. Chase, RA, Anatomy in Atlas of Hand Surgery, Stanford University
School of Medicine, W.B. Saunders Company, California, 1973. page : 320.
9. Weinsten, SL et all, The Wrist and Hand in Tureks Orthopaedics, Fifth
Edition, JB Lippincott Company, Philadelphia, 1992. page : 428-30.
10. Gulf,
MD,
de
Quervains
Disease,
available

at

http://www.gulfmd.com/deQuervainsdisease.grd.drt..
11. Natarajan, M, Wrist and Hand in Text Book of Orthopaedics, MN
Orthopaedic Hospital, Tamil Nadu, India, 1985. page : 163-6.

21

Anda mungkin juga menyukai