Anda di halaman 1dari 15

Makalah Perilaku Hidup Bersih dan

Sehat

Afika Indah Pratiwi


D.IV Kep. Gigi

Poltekkes Kemenkes Makassar


2014/2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.

Latar Belakang

Rumah Sakit merupakan salah satu tatanan institusi kesehatan yang perkembangannya sangat pesat
sebagai sarana pelayanan kesehatan, maka di Rumah Sakit terjadi interaksi antara penderita, petugas
dan keluarganya serta lingkungan Rumah Sakit yang cukup kompleks dan akan memberikan andil
terhadap citra Rumah Sakit di Masyrakat. Perubahan cara pandang arah pembangunan kesehatan
menuju paradigma kesehatan menjadi kebijakan semua tatanan kesehatan termasuk Rumah Sakit
dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Promosi Kesehatan di Rumah Sakit atau lebih di kenal dengan istilah penyuluhan kesehatan
masyarakat Rumah Sakit disingkat PKRS merupakan salah satu bentuk pelayanan yang sejalan
mendukung arah pembangunan kesehatan. Promosi kesehatan di Rumah Sakit berdasarkan arus
pasien meliputi lingkup promosi kesehatan di luar Rumah Sakit dan promosi Rumah Sakit itu sendiri.
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat keluarga di Rumah Sakit dapat meningkatkan mutu layanan Rumah
Sakit melalui pencegahan dan pengendalian infeksi (Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan
RI,2007)
Salah satu kunci keberhasilan dari pelaksanaan promosi kesehatan Rumah Sakit (PKRS) adalah
penampilan kepribadian petugas untuk menjalin hubungan antar manusia dalam melakukan interaksi
sosial baik dengan klien atau keluarga.
Masyarakat yang menerima pelayanan medis dan kesehatan di Rumah Sakit diharapkan kepada risiko
terinfeksi kecuali kalau dilakukan kewaspadaan untuk mencegah terjadinya infeksi. Infeksi Rumah
Sakit (Nosokomial) merupakan masalah yang penting diseluruh dunia dan terus meningkat.
Umpamanya tingkat infeksi nosokomial berkisar dari 1% di berapa Negara di Eropa dan Amerika
sampai lebih dari 40% di Asia, Amerika latin dan Afrika Sahara (panduan pencegahan infeksi untuk
fasilitas pelayanan kesehatan dengan sumber daya terbatas)

Menurut Data survei Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Instansi Kesehatan setiap provinsi
tahun 2004 menunjukkan masih di bawah 50% dari instansi kesehatan di provinsi yang sudah baik
pelaksanaan PHBS-nya (DepKes, 2004). Perlunya pembinaan PHBS di Rumah Sakit sangat
diperlukan sebagai salah satu upaya untuk mencegah penularan penyakit dan mewujudkan Instansi
Kesehatan Sehat. Untuk melaksanakan hal tersebut diatas promosi kesehatan di Rumah Sakit (PKRS)
sangat diperlukan. PKRS berusaha mengembangkan pengertian pasien, keluarga, dan pengunjung
Rumah Sakit tentang penyakit dan pencegahannya. Selain itu, promosi
Sedyaningsih (2011), kasus infeksi nosokomial atau infeksi yang terjadi ketika pasien dirawat di
Rumah Sakit di seluruh dunia rata-rata sembilan persen dari 1,4 juta pasien rawat inap. Meski di
Indonesia, data akurat tentang angka kejadian infeksi nosokomial di Rumah Sakit belum ada, tetapi,
kasus ini menjadi masalah serius. "Infeksi nosokomial persoalan serius yang bisa menyebabkan
langsung maupun tidak langsung kematian pasien. Kasus infeksi ini terjadi karena masih rendahnya
standar pelayanan Rumah Sakit atau puskesmas (Kemenkes, 2011) Universitas Sumatera Utara
kesehatan di Rumah Sakit juga berusaha menggugah kesadaran dan minat pasien, keluarga, dan
pengunjung Rumah Sakit untuk berperan secara positif dalam usaha penyembuhan dan pencegahan
penyakit. Oleh karena itu, promosi kesehatan di Rumah Sakit merupakan bagian yang tidak terpisah
dari program pelayanan kesehatan di Rumah Sakit (Kemenkes RI, 2010).
Metode promosi kesehatan seperti kegiatan penyuluhan, penyebaran leaflet, pembuatan poster-poster
terbukti cukup berpengaruh terhadap perubahan perilaku seseorang dalam menjaga kesehatan pribadi
dan lingkungannya. Penelitian Suci Hati (2008) di Patumbak, Deli Serdang menunjukkan ada
pengaruh strategi promosi kesehatan terhadap tingkat PHBS pada tatanan rumah tangga. Faktor yang
paling berpengaruh dalam penelitian ini adalah pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini
menunjukkan, jika sebuah kelompok diberdayakan dengan baik, akan lebih memudahkan tujuan
pencapaian dari promosi kesehatan tersebut
Di Rumah Sakit PHBS dilakukan dengan cara membuang sampah pada tempatnya serta tidak
meludah dilantai (Karkhi, 2011). Strategi promosi kesehatan di Rumah Sakit atau PKRS seperti telah

dijelaskan diatas, berusaha mengembangkan pengertian pasien, keluarga, dan pengunjung Rumah
Sakit tentang penyakit dan pencegahannya. Selain itu, promosi kesehatan di Rumah Sakit juga
berusaha menggugah kesadaran dan minat pasien, keluarga, dan pengunjung Rumah Sakit untuk
berperan secara positif dalam usaha penyembuhan dan pencegahan penyakit. Dengan melaksanakan
promosi kesehatan di Rumah Sakit, berarti keluarga pasien Universitas Sumatera Utara
ataupun pengunjung telah diajak berperan serta secara aktif dan diberdayakan untuk meningkatkan
PHBS-nya.
Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik adalah Rumah Sakit umum milik pemerintah pusat yang
secara teknis berada dibawah Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan RI,
merupakan pusat rujukan kesehatan regional untuk wilayah sumatera bagian utara dan bagian tengah
yang meliputi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Provinsi Sumatera Utara, Provinsi Riau dan
Provinsi Sumatera Barat (Profil RSUP HAM, 2010). Untuk melaksanakan pelayanan promosi
kesehatan di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik di Medan memiliki Instalasi Penyuluhan
Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) yaitu instalasi yang memiliki program kegiatan berupa promosi
kesehatan melalui penyuluhan terhadap pasien, penjaga pasien dan pengunjung pasien di rawat jalan
dan rawat inap.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Staf Instalasi PKRS RSUP H. Adam Malik, Instalasi PKRS
memiliki 8 orang petugas yang bertugas memfasilitasi dan mengkoordinir kegiatan penyuluhan untuk
keluarga pasien/pengunjung Rumah Sakit baik di rawat inap maupun rawat jalan. Setiap 1- 2 orang
petugas PKRS bertugas menjadi Fasilitator dalam pelaksanaan penyuluhan. Adapun yang memberikan
penyuluhan adalah dokter, apoteker dan ahli gizi yang terkait dengan materi penyuluhan.
Berdasarkan survey yang dilakukan oleh peneliti, kegiatan yang dilakukan staf Instalasi PKRS lebih
banyak melakukan penyuluhan dengan mengumpulkan keluarga pasien pada satu ruangan di Rawat
Inap, Rawat Jalan dan Apotik. Kegiatan Universitas Sumatera Utara

penyuluhan ini sering tidak mendapat dukungan dari petugas di ruangan dengan alasan kegiatan
tersebut khususnya penyuluhan di rawat inap mengganggu kegiatan pelayanan di ruangan. Menurut
keterangan petugas di ruangan, materi penyuluhan monoton dan tidak ada inovasi yang dilakukan
untuk memperbaiki metode yang ada sehingga tidak mendapat dukungan dari pihak pengelola
ruangan. Misalnya materi penyuluhan hanya berisikan tentang penyakit-penyakit saja sedangkan
materi khusus tentang PHBS itu sendiri selama menjaga pasien di rumah sakit tidak pernah diberikan.
Adanya anggapan bahwa program-program atau kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Instalasi
PKRS tidak masuk keruang tunggu keluarga yang menjaga pasien, hal ini disebabkan programprogram Instalasi PKRS telah dilaksanakan selama bertahun-tahun, namun perubahan perilaku pasien
dalam PHBSnya tidak cukup kelihatan. Hasil pengamatan peneliti selama memberikan pelayanan di
ruangan rawat inap terpadu A dan B, banyak keluarga pasien/pengunjung yang tidak melaksanakan
PHBS sesuai standar seperti membuang sampah dan meludah sembarangan, merokok di dalam
ruangan dan tidak menggunakan fasilitas yang tersedia di Rumah Sakit sesuai fungsinya sehingga
kebersihan lingkungan Rumah Sakit tidak terjaga dengan baik khususnya pada sore dan malam hari.
Perilaku ini tentu akan meningkatkan angka kejadian infeksi nosokomial. Data infeksi nosokomial di
RSUP H. Adam Malik di Medan tahun 2011 menunjukkan ada 249 kasus infeksi nosokomial dari
61.123 pasien atau sekitar 0,4%. Dilihat dari angka ini, sebenarnya kejadian prevalensi infeksi
nosokomial di RSUP H. Adam Malik di Universitas Sumatera Utara
Medan rendah, namun dari keterangan petugas Komite Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi
Rumah Sakit yang bertugas melakukan survey infeksi nosokomial, angka yang sebenarnya jauh lebih
tinggi, dikarenakan pelaporan dari tiap ruangan tidak akurat (Komite PPIRS, 2012).
Kesadaran akan perilaku hidup bersih dan sehat yang rendah dapat berakibat meningkatnya angka
kejadian infeksi nosokomial. Untuk memperbaiki tingkat PHBS ini diperlukan program kerja yang
baik oleh PKRS. Selama ini belum pernah dilakukan evaluasi terhadap kegiatan/program yang
dilaksanakan PKRS terhadap peningkatan PHBS keluarga pasien di Rumah Sakit. Penelitian tentang
hal ini juga belum pernah dilakukan.

Tidak jarang istilah PHBS terdengar di masyarakat. Jika dilihat dari kepanjangannya yakni Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat, tentu kita langsung mengetahui apa itu PHBS, singkat kata mengenai
perilaku seseorang menyangkut kebersihan yang dapat mempengaruhi kesehatannya. Banyak penyakit
dapat dihindari dengan PHBS, mulai dari Diare, DBD, flu burung, atau pun flu babi yang akhir-akhir
ini marak. Salah satu faktor yang mendukung PHBS adalah kesehatan lingkungan. Dua istilah penting
dalam kesehatan lingkungan yang harus dipahami dan diinterpretasikan sama oleh seluruh tenaga
kesehatan yang terlibat agar kegiatan yang dilakukan dapat berhasil dengan baik. Lingkungan
diartikan sebagai akumulasi dari kondisi fisik, social, budaya, ekonomi dan politik yang memengaruhi
kehidupan dari komunitas tersebut. Sedangkan kesehatan dari suatu komunitas bergantung pada
integritas lingkungan fisik, nilai kemanusiaan dalam hubungan social, ketersediaan sumber yang
diperlukan dalam mempertahankan hidup dan penaggulangan penyakit, mengatasi gangguan
kesehatan secara wajar, pekerjaan dan pendidikan yang dapat tercapai, pelestarian kebudayaan dan
toleransi terhadap perbedaan jenis, akses dari garis keturunan serta rasa ingin berkuasa dan memiliki
harapan.
Kesehatan lingkungan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam pelaksanaan perawatan
komunitas. Maka guna tercapainya keberhasilan intervensi perawatan komunitas perlu adanya
pembahasan khusus mengenai PHBS kesehatan lingkungan.
2. Tujuan

Mengetahui pengertian dan komponen lingkungan

Mengetahui pengertian Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

Mengetahui pengertian kesehatan lingkungan

Mengetahui permasalahan kesehatan lingkungan di negara berkembang

Mengetahui kegiatan tenaga kesehatan guna mengatasi permasalahan kesehatan lingkungan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. LINGKUNGAN
Pengertian lingkungan berbeda-beda menurut disiplin berbagai disiplin ilmu. Menurut ahli cuaca dan
iklim lingkungan berarti atmosfer, ahli sedangkan menurut ahli teknologi lingkungan, maka
lingkungan berarti atmosfer dengan ruangannya. Ahli ekologi berpendapat bahwa lingkungan sama
artinya dengan habitat hewan dan tumbuhan.
Menurut Haryoto K. (1985), lingkungan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang ada di sekitar
manusia. Secara lebnih rinci, lingkungan dibagi menjadi beberapa komponen yaitu sebagai berikut :
1. Lingkungan fisik, meliputi tanah, air, dan udara serta hasil interaksi diantara factor factor
tersebut.
2. Lingkungan Biologi, yang termasuk ke dalam lingkungan ini adalah semua organisme hidup seperti
binatang dan tumbuh tumbuhan, serta mikroorganisme lain.
3. Lingkungan sosial. Lingkungan social dimaksud adalah semua interaksi antara manusia, yang
meliputi factor budaya, ekonomi, dan psiko-sosial.
2. PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT
Sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan social yang memungkinkan setiap orang hidup
produktif secara social dan ekonomi. (UU Kesehatan RI No. 23 tahun 1992)
Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan sekaligus merupakan investasi sumber daya manusia,
serta memiliki kontribusi yang besar untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Indikator Kesehatan
A. Indikator Positif

Status Gizi
Tingkat Pendapatan
B. Indikator Negatif
Mortalitas (Angka Kematian)
Morbiditas (Angka Kesakitan)
Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah respon seseorang (organism) terhadap stimulus yang
berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan
(Simons-Morton et al.,1995). Perubahan-perubahan perilaku kesehatan dalam diri seseorang dapat
diketahui melalui persepsi. Persepsi adalah pengalaman yang dihasilkan melalui panca indera. Dalam
aspek biologis perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme atau mahluk hidup yang
bersangkutan. (Notoatmodjo, 2005).
Dasar orang berperilaku dipengaruhi oleh
NILAI
SIKAP
PENDIDIKAN/PENGETAHUAN
PHBS (Perilaku Hidup Bersih Sehat) adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran,
sehingga keluarga beserta semua yang ada di dalamnya dapat menolong dirinya sendiri di bidang
kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat.
PHBS itu jumlahnya banyak sekali, bisa ratusan. Misalnya tentang Gizi: makan beraneka ragam
makanan, minum Tablet Tambah Darah, mengkonsumsi garam beryodium, memberi bayi dan balita
Kapsul Vitamin A. Tentang kesehatan lingkungan seperti membuang sampah pada tempatnya,
membersihkan lingkungan.

3. KESEHATAN LINGKUNGAN
Pengertian Kesehatan Lingkungan
Kesehatan lingkungan adalah suatu kondisi atau keadaan lingkungan yang optimum sehingga
berpengaruh positif terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimum pula (Notoatmodjo S.,2003)
Kesehatan lingkungan adalah hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan yang berakibat
atau mempengaruhi derajat kesehatan manusia (Walter R. L)
Kesehatan lingkungan adalah suatu keseimbangan ekologi yang harus ada diantara manusia dan
lingkungannya agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia (World Health Organization Expert
Commite)
Kesehatan lingkungan adalah ilmu yang mempelajari hubungan interaktif antara komunitas dengan
perubahan yang memiliki potensi bahaya/menimbulkan gangguan kesehatan/penyakit, serta mencari
upaya penanggulangannya (Susanna D. Dkk).
Komponen PHBS kesehatan lingkungan
1) PHBS Rumah Tangga
2) PHBS di Sekolah
3) PHBS di Tempat Kerja
4) PHBS di Tempat-tempat Umum
5) PHBS di Institusi Kesehatan
Indikator PHBS kesehatan lingkungan
I.

Perumahan bersih dan sehat

Rumah merupakan salah satu persyaratan bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu sebagian besar
waktu kehidupan manusia dihabiskan di rumah. Persyaratan rumah sehat menjadi sangat penting.

Beberapa faktor-faktor yang ikut berpengaruh dalam pembangunan rumah antara lain adalah sebagian
berikut:
o

Faktor lingkungan

Tingkat kemampuan ekonomi masyarakat

Tekhnologi yang dimiliki masyarakat

Kebijakan pemerintah

II.

Penyediaan air bersih

Air merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Didalam tubuh
manusia sendiri, sebagaian besar terdiri dari air. Pada orang dewasa mengandung air sekitar 5560%,,anak-anak sekitar 65% dan pada bayi 80%. Menurut WHO, di negara maju, tiap orang
memerlukan air sekitar 60-120 liter per hari. Sedangkan di negara berkembang seperti Indonesia, tiap
orang memerlukan air sekitar 30-60 liter per hari.
III.

Pembuangan kotoran manusia (Tinja)

Permasalahan pembuangan kotoran manusia (tinja) semakin meningkat dengan adanya pertambahan
penduduk yang tidak sebanding dengan area pemukiman. Ditinjau dari segi ilmu kesehatan
masyarakat, masalah pembuangan tinja merupakan yang urgen untuk diatasi, karena tinja dapat
menyebabkan penyakit, antara lain typoid, disentri, kolera dll.
IV.

Penanganan sampah

Sampah erat kaitannya dengan kesehatan masyarakat, karena dari sampah tersebut dapat hidup
berbagai mikroorganisme penyebab penyakit(bakteri patogen). Selain itu tempat bersarangnya
berbagai serangga sebagai penyebar penyakit(vektor). Oleh karena itu sampah harus dikelola dengan
baik sehingga tidak berdampak buruk pada masyarakat.
V.

Penanganan air limbah

Air limbah adalah air buangan yang berasal dari rumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum
lainnya. Pada umumnya mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan kesehatan
manusia serta mengganggu lingkungan hidup. Secara garis besar, air limbah dapat dibagi menjadi:
Domestic wastes water ( berasal rumah tangga)
Industrial wastes water (berasal dari industri)
Municipal waste water (berasal dari Kotapraja)
4. Kegiatan PHBS Kesehatan Lingkungan
Kegiatan yang dilakukan tenaga kesehatan menurut Occupational Health and Safety Administration
(OSHA) dan Nuclear Regulation Commision (NRC) adalah:

Pembuatan standar kualitas air dan udara

Pemeriksaan dan pemantauan kesehatan

Evaluasi terhadap bahaya lingkungan

Penerimaan informasi tentang kesehatan yang terkait dengan lingkungan

Penyaringan terhadap bahan-bahan kimia baru

Pemeliharaan data dasar

Menetapkan, mengevaluasi dan mengusahakan agar peraturan-peraturan yang telah dibuat


dapat ditepati.

Adapun kegiatan kegiatan PHBS kesehatan lingkungan di setiap komponen, yaitu :


A. Kegiatan PHBS di lingkungan rumah tangga
1. Menggunakan air bersih
2. Menggunakan jamban sehat

3. Memberantas jentik di rumah


4. Melakukan aktivitas fisik setiap hari
5. Tidak merokok
B. Kegiatan PHBS di lingkungan sekolah
1) Mencuci tangan dengan air bersih mengalir dan sabun
2) Menjaga kebersihan dan kesehatan kantin sekolah
3) Menggunakan jamban yang bersih & sehat
4) Olahraga yang teratur dan terukur
5) Memberantas jentik nyamuk
6) Tidak merokok
7) Membuang sampah pada tempatnya
C. Kegiatan PHBS di lingkungan kerja
1) Mengadakan kawasan tanpa asap rokok
2) Bebas jentik
3) Jamban Sehat
4) Kesehatan dan keselamatan kerja
5) Olah raga teratur
D. Kegiatan PHBS di lingkungan umum
1. Menggunakan jamban sehat
2. Memberantas jentik nyamuk

3. Menggunakan Air Bersih


E. Kegiatan PHBS di institusi kesehatan
1) Menggunakan air bersih
2) Menggunakan jamban yang bersih & sehat
3) Membuang sampah pada tempatnya
4) Tidak merokok
5) Tidak meludah sembarangan
6) Memberantas jentik nyamuk

BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
PHBS (Perilaku Hidup Bersih Sehat) adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran,
sehingga keluarga beserta semua yang ada di dalamnya dapat menolong dirinya sendiri di bidang
kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat.
Kesehatan lingkungan adalah hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan yang berakibat
atau mempengaruhi derajat kesehatan manusia
PHBS kesehatan lingkungan adalah perilaku kesehatan yang menciptakan hubungan antara manusia
dan lingkungannya yang berakibat mempengaruhi derajat kesehatan manusia.
Indikator kesehatan lingkungan :

Perumahan bersih dan sehat

Penyediaan air bersih

Penanganan air limbah

Penanganan sampah

Pembuangan kotoran manusia (Tinja)

PHBS Kesehatan Lingkungan di Indonesia masih diirasakan belum memenuhi kebutuhan sanitasi
dasar, yaitu sanitasi minimal yang diperlukan agar dapat memenuhi criteria kesehatan pemukiman.

DAFTAR PUSTAKA
http://abahjack.com/rmah-sehat-dalam-lingkungan-yang-sehat.html#more-13
http://www.asho-aceh.org/artikel/Training%20module-HEALTH%20PLAN/PHBS.ppt.
Mukono.2000. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan. Surabaya
Soemirat, Juli.2004. Kesehatan Lingkungan.Yogyakarta : Gajah Mada University Pres
Sumijatun, et al.2005. Konsep Dasar Keperawatan Komunitas. Jakarta : EGC
http://adilaadhyastha.blogspot.com/2014/01/makalah-perilaku-hidup-bersih-dan-sehat.html