Anda di halaman 1dari 7

PENGUKURAN ARUS PUNCAK REAKSI REDOKS Fe(CN)64-/Fe(CN)63DENGAN METODE VOLTAMETRI SIKLIK

Titis Wahyu Utami1, Budi Riza Putra2


Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut
Pertanian Bogor 16680, Indonesia
2
Divisi Kimia Analitik, Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor 16680, Indonesia
Alamat korespondensi: titisutami27@gmail.com

ABSTRAK
Metode voltametri siklik dapat digunakan untuk mengukur besarnya arus
puncak sebagai fungsi dari potensial. Instrumen yang digunakan adalah
potensiostat yang terdiri dari tiga elekrode, yairu elektrode kerja pasta karbon,
elektrode pembanding Ag/AgCl, dan elektrode tambahan platina. Elektrolit
pendukung yang digunakan ada dua macam, yaitu KCl 1 M dan KNO3 1 M.
Penentuan jendela potensial dilakukan sebelum pengukuran pengaruh laju payar
dan konsentrasi terhadap arus puncak yang dihasilkan. Hasil pengukuran
menunjukkan jendela potensial yang dapat digunakan adalah -0,5 1,5 V.
Peningkatan laju payar dan konsentrasi akan meningkatkan arus puncak yang
sesuai dengan persamaan Randles-Savcik. Larutan KCl 1 M merupakan elektrolit
pendukung yang mampu mengalirkan arus listrik lebih baik daripada larutan
KNO3 1 M.
Kata Kunci : arus puncak, elektrolit pendukung, laju payar, voltametri siklik.
PENDAHULUAN
Metode voltametri merupakan metode elektroanalisis pengukuran analit
berdasarkan pengukuran arus sebagai fungsi potensial. Hasil pengukuran berupa
kurva berbentuk voltamogram yang menunjukkan hubungan antara potensial
dengan arus. Kelebihan metode ini adalah sensitifitasnya tinggi, limit deteksi yang
rendah, dan memiliki daerah linear yang lebar (Mulyani et al. 2012). Metode
voltametri dapat digunakan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis
kualitatif berdasarkan informasi potensial setengah gelombang, sedangkan analisis
kuantitatif berdasarkan arus yang dihasilkan pada masing-masing proses
pemayaran.
Sel votametri terdiri dari tiga elektrode,yaitu elektrode kerja, elektrode
pembanding, dan elektrode tambahan. Elektrode kerja berfungsi sebagai tempat
terjadinya reaksi redoks dari analit yang bergantung dari potensial yang diberikan.
Elektrode pembanding merupakan elektrode yang nilai potensialnya dibuat tetap
selama pengukuran dan nilainya tidak bergantung pada jenis dan komposisi
larutan yang digunakan. Elektrode tambahan digunakan untuk mengalirkan arus
antara elektrode kerja dan elektrode tambahan. Potensial akan terukur di antara
elektrode kerja dan elektrode pembanding, sedangkan arus akan terukur diantara
elektrode kerja dan elektrode tambahan (Skoog et al. 2013). Ketika terjadi reaksi
reduksi atau oksidasi dari analit yang elektroaktif pada permukaan elektrode kerja
akan menghasilkan tiga kemungkinan arus yang terukur, yaitu arus difusi, arus
migrasi, dan arus konveksi. Namun arus yang dharapkan terjadi adalah arus difusi,

1|G 4 4 1 2 00 1 6

sedangkan arus migrasi dan konveksi diharapkan seminimal mungkin (Rokhmatur


2007).
Pengukuran arus sebagai fungsi potensial menggunakan metode voltametri
siklik, yaitu teknik analisis yang mampu memberikan informasi mengenai
termodinamika proses oksidasi-reduksi dan kinetika transfer elektron yang terjadi
di permukaan elektrode. Potensial diberikan dalam suatu siklus antara dua nilai
beda potensial, pada awal pengukuran potensial meningkat hingga pada titik
maksimum kemudian turun secara linear dengan nilai kemiringan yang sama
hingga kembali ke potensial semula (Rokhmatur 2007). Variabel penting dalam
voltamogram tersebut adalah puncak potensial katodik (E pc), puncak potensial
anodik (Epa), puncak arus katodik (ipc), dan puncak arus anodik (ipa) (Skoog et al.
2013).
Elektrode pasta karbon merupakan elektrode kerja yang terbuat dari bubuk
grafit dan perekat parafin. Elektrode ini memiliki kelebihan ramah lingkungan,
kisaran aplikasi potensial yang cukup luas, arus potensial yang rendah, ekonomis,
lembam, dan sesuai untuk berbagai macam pengukuran dan deteksi (Tlacuatl et
al. 2009). Selain itu elektrode ini juga mudah untuk diperbarui dan
dimodifikasi pada permukaannya (Rokhmatur 2007). Elektrode ini dapat
digunakan untuk pengukuran reaksi redoks dari Fe(CN)64-/Fe(CN)63- dengan
metode voltametri siklik. Percobaan ini bertujuan mengukur kinerja elektrode
pasta karbon pada reaksi redoks Fe(CN)64-/Fe(CN)63- dengan adanya pengaruh
laju payar dan konsentrasi.
METODE PERCOBAAN
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah potensiostat EA160, E-coder, kabel
penghubung lengkap penjepit buaya, komputer dengan perangkat lunak Echem
dan OriginPro, elektrode kerja pasta karbon, elektrode pembanding Ag/AgCl,
elektrode pembatu platina, sel pengukuran, dan peralatan gelas. Bahan yang
digunakan adalah larutan K3Fe(CN)6 0,1 M dalam KNO3 1 M, K3Fe(CN)6 0,1 M
dalam KCl 1 M, air deinonisasi, serbuk grafit, parafin cair, kertas minyak, tabung
kaca, kawat tembaga, dan lem lilin.
Prosedur Percobaan
Pembuatan elektrode pasta karbon
Sebanyak 100 mg serbuk grafit ditimbang dan dicampur dengan 0,4 mL
parafin di dalam mortar. Kemudian diaduk selama 30 menit hingga homogen.
Pasta karbon tersebut kemudian dimasukkan kedalam ruang kosong sepanjang 3
mm dalam tabung kaca berdiameter 2,5 mm yang telah dipasang kawat tembaga.
Kawat tersebut direkatkan pada tabung kaca menggunakan lem lilin. Pasta karbon
dimasukkan ke ujung tabung tersebut hingga penuh dan padat (tanpa rongga).
Permukaan elektrode kemudian digosok pada kertas minyak hingga rata.
Penentuan jendela potensial
Larutan K3Fe(CN)6 0,1 M dalam KNO3 1 M dimasukkan dalam sel
pengukuran. Elektrode kerja pasta karbon dihubungkan ke penjepit buaya
berwarna hijau, elektrode pembanding Ag/AgCl ke penjepit buaya berwarna
kuning, dan elektrode tambahan platina ke penjepit buaya berwarna merah.

2|G 4 4 1 2 00 1 6

Kemudian ketiga elektrode tersebut dicelupkan ke dalam larutan dalam sel


pengukuran. Potensiostat dipastikan telah menyala dan program Echem dibuka
dan telah dipilih teknik voltametri siklik. Teknik pengukuran diatur sehingga laju
alir menjadi 100 mV/s, jendela potensial yang digunakan 1 V dan dilakukan
pengukuran tiga kali ulangan. Kemudian tombol start ditekan. Langkah-langkah
tersebut diulangi untuk larutan K3Fe(CN)6 0,1 dalam KCl 1 M,
Pengaruh laju payar terhadap arus puncak
Teknik pengukuran diatur dan laju payar divariasikan pada 50 mV/s,
100mV/s, 150 mV/s, 200 mV/s, dan 250 mV/s pada jendela potensial yang telah
ditentukan pada langkah sebelumnya. Pengukuran dilakukan sebanyak tiga kali
ulangan.
Pengaruh konsentrasi analat terhadap arus puncak
Larutan K3Fe(CN)6 0,1 M dalam KNO3 1 M diencerkan menjadi
konsentrasi 0,08 M, 0,06 M, 0,04 M, dan 0,02 M menggunakan elektrolit KNO 3 1
M. Sedangkan larutan K3Fe(CN)6 0,1 M dalam KCl 1 M diencerkan menjadi
konsentrasi 0,08 M, 0,06 M, 0,04 M, dan 0,02 M menggunakan elektrolit KCl 1
M. Pengukuran dilakukan pada potensial dan laju payar yang telah disesuikan
sebelumnya. Pengukuran dilakukan sebanyak tiga kal ulangan untuk masingmasing larutan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Metode voltametri siklik digunakan pada percobaan ini untuk mengukur
arus sebagai fungsi potensial pada reaksi redoks Fe(CN) 63-/ Fe(CN)64-.
Pengukuran dilakukan menggunakan potensiostat dengan tiga elektrode, yaitu
elektrode kerja pasta karbon, elektrode pembanding Ag/AgCl, dan elektrode
pendukung Platina. Elektrolit pendukung yang digunakan ada dua, yaitu KCl 1 M
dan KNO3 1 M. Larutan elektrolit pendukung ini tidak bereaksi dengan elektrode
kerja pada potensial yang digunakan dan dapat mengurangi efek migrasi serta
menurunkan hambatan pada larutan (Skoog et al. 2013). Untuk memastikan
larutan elektrolit pendukung tersebut tidak bereaksi dengan dengan elektrode
kerja, dilakukan pengukuran larutan elektrolit pendukung tersebut sebelum
adanya penambahan analit. Larutan elektrolit yang baik akan menghasilkan
voltamogram tanpa puncak oksidasi dan puncak reduksi. Hal ini sesuai dengan
hasil percobaan yang telah dilakukan (Gambar 4 dan Gambar 6). Arus puncak
oksidasi menunjukkan arus yang muncul ketika Fe(CN) 64- telah berubah menjadi
Fe(CN)63-, sedangkan arus reduksi merupakan kebalikannya.
Penentuan jendela potensial dilakukan sebelum pengukuran untuk
mengetahui kisaran kerja dari elektrode pada pengukuran analit. Penentuan
jendela potensial menggunakan larutan K3 Fe(CN)6 0,08 M dalam KNO3 1 M pada
laju payar 100 mV/s. Hasil percobaan menunjukkan jendela potensial yang baik
untuk pengukuran analit tersebut adalah -0,5 V hingga 1,5 V (Gambar 1). Hal ini
ditunjukkan oleh voltamogram yang berbentuk siklik sempurna (tidak terputus)
dan menunjukkan puncak arus oksidasi dan reduksi tertinggi. Jendela potensial ini
kemudian digunakan untuk penentuan pengaruh konsentrasi dan laju payar
terhadap arus puncak untuk dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis
kualitatif dilakukan dengan penentuan potensial setengah gelombang dan analisis
kuantitatif dengan penentuan arus puncak. Laju payar dan konsentrasi analat

3|G 4 4 1 2 00 1 6

tersebut memengaruhi arus puncak yang dihasilkan berdasarkan persamaan


Randles- Savcik yang telah diketahui sebelumnya.
Hasil percobaan menunjukkan perubahan laju payar dapat memengaruhi
tingginya arus puncak yang dihasilkan, semakin meningkatnya laju payar yang
digunakan akan semakin meningkatkan arus puncak oksidasi dan menurunkan
arus puncak reduksi (Gambar 2). Puncak arus oksidasi dan reduksi tertinggi
terdapat pada laju payar 125 mV/s. Hubungan antara laju payar dengan arus
puncak oksidasi dan reduksi pada konsentrasi tetap akan menghasilkan persamaan
regresi linear yang setara dengan persamaan dari Randles-Savcik (Gambar 3).
Penentuan pengaruh perubahan konsentrasi terhadap arus puncak oksidasi
dan reduksi juga didasarkan pada persamaan Randles-Savcik. Pengukuran
dilakukan pada larutan K3 Fe(CN)6 pada konsentrasi 0,02, 0,04, 0,06, dan 0,08 M
dalam larutan KNO3 1 M dan larutan KCl 1 M. Peningkatan arus mengakibatkan
peningkatan arus puncak oksidasi dan diikuti oleh penurunan arus puncak reduksi
yang mengindikasikan adanya peningkatan arus puncak. Arus puncak tertinggi
terdapat pada konsentrasi K3 Fe(CN)6 0,08 M baik dalam larutan KNO3 1 M
maupun dalam larutan KCl 1 M (Gambar 4 dan Gambar 6). Namun dalam larutan
KCl 1 M arus puncak yang dihasilkan lebih tinggi daripada dalam larutan KNO3 1
M. Hal ini menunjukkan bahwa larutan KCl 1 M merupakan elektrolit pendukung
yang mampu mengalirkan arus listrik lebih baik daripada larutan KNO3 1 M.
Hubungan antara konsentrasi dengan dengan arus puncak oksidasi dan reduksi
menghasilkan persamaan regresi linear yang setara dengan persamaan RandlesSavcik (Gambar 5 dan Gambar 7). Berdasarkan kurva tersebut diketahui bahwa
peningkatan konsentrasi akan meningkatkan arus puncak oksidasi dan reduksi
yang sesuai dengan persamaan Randles-Savcik.
SIMPULAN
Arus sebagai fungsi potensial dari reaksi redoks Fe(CN)63-/ Fe(CN)64dapat ditentukan dengan metode voltametri siklik menggunakan elektrode kerja
pasta karbon. Larutan elektrolit pendukung tidak menghasilkan puncak-oksidasi
dan reduksi tetapi hanya membantu mengalirkan arus listrik. KCl merupakan
elektrolit pendukung yang baik daripada KNO3. Jendela potensial ditentukan
sebelum pengukuran pengaruh laju payar dan konsentrasi. Semakin tinggi laju
payar dan konsentrasi akan meningkatkan arus puncak yang dihasilkan yang
sesuai dengan persamaan Randles-Savcik.
DAFTAR PUSTAKA
Mulyani R, Buchari, Noviandri, Ciptati. 2012. Studi voltametri siklik sodium
dedocyl benzen sulfonat dalam berbagai elektroda dan elektrolit
pendukung. Teknologi Pengelolaan Limbah. 15(1): 51-56.
Rokhmaturrokhman. 2007. Studi awal pemanfaatan puncak oksidasi dan produk
reduksi p-nitrofenol untuk analisis p-nitrofenol[skripsi]. Bandung(ID):
Institut Teknologi Bandung.
Skoog DA, Holler FJ, West DM, Crouch SR. 2013. Fundamental of Analytical
Chemistry Ninth Edition: Brooks/Cole.
Tlacuatl GZ, Arellano JJC, Robbledo-Manso A. 2009. Electrochemical
characterization of carbon paste electrodes modified with natural zeolite.
Chem. Eng. Comm. 196: 11781188.

4|G 4 4 1 2 00 1 6

LAMPIRAN

Gambar 1 Voltamogram penentuan jendela potensial larutan K3[Fe(CN)6] 0,08 M dalam KNO3 1 M.

Gambar 2 Voltamogram pengaruh laju payar terhadap arus puncak K3[Fe(CN)6] 0,08 M dalam KCl 1 M.

Tabel 1 Pengukuran arus puncak oksidasi dan reduksi K3[Fe(CN)6] 0,08 M pada berbagai
laju payar
v (mV/s)
Epa (V)
Ipa (mA)
Epc (V)
Ipc (mA)
v1/2
50
0,4580
4,94E-05
0,2660
-7,03E-05
7,0711
80
0,5040
6,39E-05
0,3260
-7,74E-05
8,9443
100
0,4880
7,62E-05
0,2860
-9,61E-05
10,0000
125
0,5000
7,67E-05
0,3000
-8,99E-05
11,1803
0,00E+00

8,00E-05

-2,00E-050,0000

6,00E-05

-4,00E-05

4,00E-05
y = 7E-06x + 2E-07
R = 0,931

2,00E-05

Ipc (mA)

ipa (mA)

1,00E-04

5,0000

10,0000 15,0000

y = -6E-06x - 3E-05
R = 0,735

-6,00E-05
-8,00E-05

0,00E+00
0,0000

5,0000
(a)

10,0000 15,0000
v1/2

-1,00E-04
-1,20E-04

(b)
v1/2

Gambar 3 Pengaruh laju payar terhadap arus puncak oksidasi(a) dan reduksi (b) K3[Fe(CN)6] 0,08 M dalam KCl 1 M.

5|G 4 4 1 2 00 1 6

Gambar 4 Voltamogram pengaruh konsentrasi terhadap arus puncak K3[Fe(CN)6] dalam KCl 1 M.

Tabel 2 Pengukuran arus puncak oksidasi dan reduksi K3[Fe(CN)6] dalam KCl 1 M pada berbagai
konsentrasi dengan laju payar 100 mV/s
Konsentrasi (M)
Epa (V)
Ipa (mA)
Epc (V)
Ipc (mA)
0,00
0,02

1,498
0,624

1,27E-05
8,31E-05

-0,48
0,376

-1,46E-05
-9,99E-05

0,04
0,06
0,08

0,644
0,844
0,340

1,47E-04
8,65E-05
2,41E-04

0,354
-0,108
-0,030

-1,91E-04
-1,25E-04
-3,28E-04

3,00E-04

0,00E+00
-5,00E-05 0,00

2,00E-04

0,02

0,04

0,06

0,08

0,10

-1,00E-04

1,50E-04

Ipc (mA)

Ipa (mA)

2,50E-04

1,00E-04

-1,50E-04

y = 0,002x + 2E-05
-2,00E-04
R = 0,723
(a)
(b)
5,00E-05
Gambar 5 Pengaruh konsentrasi terhadap arus puncak oksidasi (a) -2,50E-04
dan reduksi (b) K3[Fe(CN)6] dalam KCl 1 M pada laju
0,00E+00
payar 100 mV/s
y = -0,003x - 2E-05
-3,00E-04
0,00 0,02 0,04 0,06 0,08 0,10
R = 0,776

-3,50E-04

Konsentrasi (M)

Konsentrasi (M)

Gambar 6 Voltamogram pengaruh konsentrasi terhadap arus puncak K3[Fe(CN)6] dalam KNO3 1 M.

Tabel 3 Pengukuran arus puncak oksidasi dan reduksi K3[Fe(CN)6] dalam KNO3 1 M pada
berbagai konsentrasi dengan laju payar 100 mV/s
Konsentrasi (M)
Epa (V)
Ipa (mA)
Epc (V)
Ipc (mA)
0,00
0,02
0,04
0,06
0,08

0,994
0,630
0,648
0,720
0,710

2,44E-06
6,22E-05
1,05E-04
1,25E-04
1,56E-04

-0,498
0,354
0,308
0,270
0,264

-8,42E-06
-7,61E-05
-1,44E-04
-1,80E-04
-2,18E-04

6|G 4 4 1 2 00 1 6

2,00E-04

0,00E+00
-5,00E-05

1,00E-04
y = 0,001x + 2E-05
R = 0,960

5,00E-05
0,00E+00

ipc (mA)

ipa (mA)

1,50E-04

-1,00E-04

0,00

0,02

0,04

0,06

0,08

0,10

y = -0,002x - 2E-05
R = 0,976

-1,50E-04
-2,00E-04

0,00

0,02

0,04

0,06

0,08

0,10
-2,50E-04

Konsentrasi (M)

Konsentrasi (M)

(a)
(b)
Gambar 7 Pengaruh konsentrasi terhadap arus puncak oksidasi (a) dan reduksi (b) K3[Fe(CN)6] dalam KNO3 1 M pada laju
payar 100 mV/s

7|G 4 4 1 2 00 1 6