Anda di halaman 1dari 13

BAB IV

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK)

STUDI LARAP DAERAH IRIGASI SIBANTENG


1. Latar Belakang

Dalam rangka mendukung pemantapan ketahanan pangan nasional,


Pemerintah Indonesia telah melaksanakan serangkaian usaha secara
terus menerus yang bertitik tolak pada sektor pertanian. Usaha tersebut
berupa pembangunan di bidang pengairan guna menunjang
peningkatan produksi pangan.
Daerah Irigasi Sibanteng terletak di Kecamatan Leuwisadeng,
Kabupaten Bogor. Lahan pertanian yang dikelola oleh masyarakat
setempat masih mengandalkan sumber air dari hujan yang disebut
sawah tadah hujan. Pada saat ini telah dilaksanakan beberapa upaya
oleh masyarakat setempat guna memperoleh sumber air untuk
pemenuhan irigasi secara tradisional namun belum optimal. Untuk itu
perlu peningkatan cara pemenuhan irigasi yaitu dari sawah tadah
hujan menjadi sawah dengan irigasi teknis. Sumber air utama di daerah
Kecamatan Leuwisadeng berupa Sungai Citempuan yang akan dialirkan
melalui terowongan air. Pekerjaan detail desain terdahulu mengenai
terowongan air Citempuan sudah ada dan dapat digunakan untuk
peningkatan pemenuhan irigasi dari sawah tadah hujan menjadi sawah
dengan irigasi teknis.
Berkaitan dengan hal tersebut maka pihak Balai Besar Wilayah Sungai
Ciliwung Cisadane yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan dan
pengembangan daerah irigasi yang tercakup dalam wilayah kerjanya
berinisiatif untuk melaksanakan kegiatan Studi Larap Daerah Irigasi
Sibanteng untuk mendukung proses pelaksanaan konstruksi kegiatan
peningkatan Daerah Irigasi Sibanteng.
Perencanaan LARAP adalah bertujuan untuk memberikan gambaran
yang nyata (sebagai akibat pemukiman kembali serta memberi
alternatif dalam menentukan langkah kebijaksanaan yang hendak
ditempuh) guna memulihkan produktifitas ekonomi dan sosial
penduduk yang dipindahkan.
Dengan adanya rencana tersebut, maka diperlukan lahan yang akan
digunakan sebagai lokasi pekerjaan. Sedangkan lahan tersebut saat ini
dihuni dan dimiliki oleh masyarakat setempat untuk menyangga
kelangsungan hidupnya. Pekerjaan ini memerlukan lahan sebagai
daerah, sehingga perlu adanya pembebasan tanah dan pemindahan
penduduk yang ada dalam areal tersebut.
Dengan adanya hal tersebut maka sebelum pembangunan dimulai
maka diperlukan Kegiatan Perencanaan Land Aquicition Resettlement
Action Plan (larap), agar masyarakat yang terkena proyek tidak
dirugikan dan dapat memperoleh kembali pendapatan dan mata
41

pencaharian yang hilang.

2. Maksud dan Tujuan

Untuk mewujudkan hal tersebut, Satuan Kerja Balai Besar Wilayah


Sungai Ciliwung Cisadane melaksanakan kegiatan Studi Larap Daerah
Irigasi Sibanteng pada tahun anggaran 2015
Maksud dari kegiatan ini adalah melakukan Studi Larap Daerah Irigasi
Sibanteng dengan cara melakukan tindak lanjut dan kajian detail
terhadap desain terdahulu dengan melakukan perhitungan dan
penggambaran terhadap dampak pembangunan Sarana irigasi terhadap
pembebasan tanah agar masyarakat yang terkena proyek tidak
dirugikan dan dapat memperoleh kembali pendapatan dan mata
pencaharian yang hilang.

Tujuan utama dari kegiatan ini adalah mendapatkan data dan analisa
secara akurat terkait status lahan guna mendesain sarana irigasi sebagai
penghasil bahan pangan semaksimal mungkin sehingga dapat
meningkatkan ketahanan pangan kita sehingga swasembada pangan
dapat kembali terwujud.
3. Sasaran
Terciptanya suatu Studi Larap Daerah Irigasi Sibanteng yang secara
teknis dan ekonomis dapat dipertanggungjawabkan sehingga menjadi
panduan dalam pelaksanaan kegiatan konstruksi sesuai dengan kondisi
lapangan terkini
4. Sumber Pendanaan
Untuk Pelaksanaan kegiatan ini diperlukan biaya kurang lebih sebesar Rp.
782.281.000,- (Tujuh Ratus Delapan Puluh Dua Juta Dua Ratus
Delapan Puluh Satu Ribu Rupiah) termasuk PPN dibiayai APBN Tahun
Anggaran 2015.
5. Nama dan
Pekerjaan Studi Larap Daerah Irigasi Sibanteng berada di bawah
Organisasi Pejabat
tanggung jawab PPK Perencanaan dan Program, Balai Besar Wilayah
Pembuat Komitmen
Sungai Ciliwung Cisadane, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air,
Kementerian Pekerjaan Umum
6. Lingkup
Pekerjaan,
Lokasi Kegiatan,
Serta Data &
Serta Alih
Pengetahuan

Data Penunjang3
I. Lingkup pekerjaan
Lingkup pekerjaan ini adalah mencakup sebagai berikut :
1. Pekerjaan persiapan dan pengumpulan data sekunder
2. Pengukuran topografi dan penggambaran
3. Pemilihan Lokasi Pembangunan Infrastruktur
4. Survei sosial ekonomi, Konsultasi dan Partisipasi Masyarakat
terkena dampak.
5. Penyusunan matriks hak atas tanah & kompensasi.
6. Kerangka Kelembagaan untuk Pelaksanaan Rencana Pemukiman
Kembali penduduk terkena dampak
7. Penyusunan sistem pemantauan dan evaluasi
8. Perencanaan Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum disusun
dalam bentuk dokumen perencanaan Pengadaan Tanah
9. Mengadakan PKM (Pertemuan Konsultasi Masyarakat) dan
Fasilitasi Persiapan Pantia Pembebasan Tanah (P2T)
Adapun uraian ruang lingkup pekerjaan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Pekerjaan persiapan dan pengumpulan data sekunder :

Data penunjang terdiri dari data yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan.
42

Meliputi :
a) Persiapan administrasi dan teknis;
b) Mobilisasi personil dan peralatan kantor;
c) Penyusunan Laporan Rencana Mutu Kontrak (RMK) sesuai
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 4 tahun 2009 tentang
Sistem Manajemen Mutu;
d) Survey pendahuluan, sudah termasuk di dalamnya orientasi
lapangan dan perintisan pengukuran serta dokumentasi yang
termasuk di dalam rencana pengembangan DI Sibanteng;
e) pengumpulan data sekunder terkait yang diperlukan (seperti :peta
topografi atau peta rupa bumi, rencana tata ruang lokasi
pekerjaan, data kependudukan, data kepemilikan lahan, studistudi terdahulu terkait pekerjaan irigasi sibanteng dan data lainnya
yang dapat menunjang kegiatan ini;
f) Menganalisa Detail Desain Daerah Irigasi Sibanteng untuk
mendapatkan data luas atau areal yang akan dilaksanakan
maupun lokasi rencana bangunan irigasi yang akan dibangun.
g) Penyusunan Laporan Pendahuluan, minimal sudah menyajikan
hasil survey pendahuluan termasuk gambaran / potret DI
Sibanteng, rencana / rintisan pengukuran lapangan, ketersediaan
data sekunder, serta rencana kerja dan metodologi pelaksanaan
pekerjaan.
2. Pengukuran topografi dan penggambaran :
Survey ini bertujuan untuk memetakan kepemilikan lahan (Peta
Ricikan). Lokasi pengukuran pekerjaan ini pada rencana
pengembangan Daerah Irigasi Sibanteng, termasuk pada daerah irigasi
beserta bangunan- bangunan irigasi yang merupakan fasilitas dari
sistem irigasi tersebut, dengan lingkup pekerjaan sebagai berikut :
a). Pengukuran.
1) Pengukuran Menggunakan Alat Total Station
Dalam pelaksanaan pekerjaan ini menggunakan alat Total
Station sebanyak 2 (dua) unit.
Hasil pengukuran Total Station harus dibandingkan dengan
GPS pada setiap BM pada saat pengukuran sebagai angka
koreksi / pembanding.
2) Rintisan dan pemasangan BM dan CP.
Maksud dari pekerjaan ini ialah menentukan jalur-jalur
pengukuran serta memasang Bench Mark (BM) sebanyak
20 (Dua Puluh) buah dan Control Point (CP) Sebanyak 40
(Empat Puluh) buah pada jalur tersebut, sehingga
memudahkan pengukuran.
Titik referensi yang digunakan ditentukan bersama direksi
pekerjaan.
BM dan CP dipasang sebelum pengukuran dilaksanakan;
BM dan CP tersebut dipasang pada tempat yang aman, stabil
serta mudah ditemukan, ukuran CP dan BM sesuai Standar
Dan Spesifikasi Kementerian Pekerjaan Umum;
Pengukuran situasi trase dan arel daerah irigasi untuk

43

membantu memetakan kepemilikan lahan (Peta Ricikan).


Membuat dokumentasi pada setiap potongan melintang
untuk membantu mengklarifikasi hasil penggambaran;
Patok-patok ukur dibuat dari kayu dolken dengan diameter
5-8 Cm, atau pangkal bambu yang keras, pada bagian atas
patok dicat dengan warna merah dan ditandai dengan paku;
Perhitungan data hasil survey pengukuran topografi;
Penggambaran dan pemetaan hasil survey pengukuran
topografi, dengan ketentuan :
- penggambaran peta indeks, skala : 1 : 20.000;
- penggambaran peta situasi trase , skala 1 : 2.000;
- Skala merupakan hasil acuan terhadap standar atau
sesuai persetujuan Direksi Pekerjaan apabila diperlukan
sebagai penyesuaian terhadap pekerjaan tersebut;
Deskripsi BM beserta Dimensi yang harus dipasang seperti
gambar dibawah ini:

Deskripsi CP beserta Dimensi yang harus di pasang seperti


gambar dibawah ini:

44

Format pelaporan deskripsi BM dan CP :

b) Detail Penggambaran
45

1) Penggambaran peta situasi.


Penggambaran kerangka poligon
Detail lapangan digambar
Kontur dibuat dengan cara interpolasi.
Interval kontur ialah 1 m untuk daerah datar dan 2 m
untuk daerah yang curam.
Tiap lembar peta harus overlap 3 cm.
Pada tiap lembar peta dicantumkan keterangan detail
menurut legenda yang lazim dipergunakan pada peta
situasi (hitam putih). Skala peta ialah 1 : 2.000.
2) Penggambaran peta petunjuk.
Penggambaran peta petunjuk dibuat untuk mengetahui
keadaan daerah yang diukur secara garis besar.
Peta petunjuk dibuat dengan skala 1 : 20.000.
Pada peta petunjuk ini digambarkan letak lembar-lembar
peta situasi skala 1 : 2.000.
3) Hasil Pekerjaan Survey Pengukuran Topografi
Gambar hasil pengukuran dibuat dalam bentuk Autocad dan
print out menggunakan kertas A3 dan A1, meliputi :
Peta indeks, skala 1 : 20.000;
Peta situasi trase dan areal, skala 1 : 2.000;
Kalkir gambar-gambar tersebut;
Hasil gambar setelah disetujui oleh direksi kemudian dicetak
(hard copy) dijilid rapi kemudin diberi sampul. Soft copy
diserahkan dalam bentuk DVD.
Buku ukur;
Laporan Survey Topografi, berisi:
- Prosedur pelaksanaan pekerjaan;
- Peta indeks;
- Deskripsi BM dan CP;
- Tipikal dari masing-masing gambar yang akan disajikan
pada album gambar.
3. Pemilihan Lokasi dan Infrastruktur :
a) Identifikasi lokasi, kualitas tempat, dan keutuhan pembangunan
b) Merencanakan tataruang, desain dan infrastruktur sosial
c) Identifikasi pilihan-pilihan alternatif, apabila diperlukan
(misalnya, relokasi mandiri oleh penduduk terkena dampak,
migrasi terencana ke tempat yang lebbih jauh)
d) Menentukan cara-cara menjaga tetap ada pendapatan dan
pekerjaan
e) Menentukan tindakan - tindakan dalam melaksanakan,
mengusahakan agar dapat berintegrasi dengan masyarakat tuan
rumah
4. Survey Sosial Ekonomi, Konsultasi dan Partisipasi Masyarakat Terkena
Dampak
a) Identifikasi pihak-pihak yang berkepentingan terhadap proyek
b) Menentukan bentuk mekanisme partisipasi

46

c) Mengembangkan manajemen partisipasi untuk pengadaan tanah


dan pemukiman kembali
d) Identifikasi lembaga-lembaga masyarakat
e) Mempertimbangkan menggunakan LSM sebagai sarana untuk
meningkatkan partisipasi.
5. Penyusunan Matriks Hak Atas Tanah & Kompensasi
a) Identifikasi strategi perbaikan pendapatan
b) Menyiapkan rencana menciptakan pekerjaan termasuk ketentuanketentuan untuk pelatihan kembali
c) Mengidentifikasi kesempatan-kesempatan kerja, termasuk
ketentuan bekerja mandiri.
6.

Kerangka Kelembagaan untuk Pelaksanaan Rencana Pemukiman


Kembali penduduk terkena dampak
a) Identifikasi biaya-biaya pengadaan tanah dan pemukiman kembali
b) Menyiapkan jadwal dan alokasi penganggaran
c) Menentukan sumber-sumber pendanaan dan proses persetujuan

7.

Penyusunan Sistem Pemantauan dan Evaluasi


a) Menyusun sistem Pemantauan dan Evaluasi
b) Menyiapkan rencana pemantauan dan pelaporan
c) Menentukan apabila ada partisipasi LSM/penduduk yang terkena
dampak dalam pemantauan dan evaluasi
d) Merencanakan evaluasi dampak pemukiman kembali yang
independen

8.

Perencanaan Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum disusun


dalam bentuk dokumen perencanaan Pengadaan Tanah, yang paling
sedikit memuat:
a) maksud dan tujuan rencana pembangunan;
b) kesesuaian dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Rencana
Pembangunan Nasional dan Daerah;
c) letak tanah;
d) luas tanah yang dibutuhkan;
e) gambaran umum status tanah;
f) perkiraan waktu pelaksanaan Pengadaan Tanah;
g) perkiraan jangka waktu pelaksanaan pembangunan;
h) perkiraan nilai tanah; dan
i) rencana penganggaran

9.

Mengadakan PKM (Pertemuan Konsultasi Masyarakat) dan Fasilitasi


Persiapan Pantia Pembebasan Tanah (P2T):
Pertemuan Konsultasi Masyarakat dibutuhkan sebagai sosialisasi dari
dampak dan manfaat dilaksanakannya pekerjaan ini dan sekaligus
menampung masukan dan saran dari masyarakat sebagai masukan
dalam pekerjaan LARAP ini. PKM dilaksanakan sebanyak 2 kali setelah
laporan pendahuluan dan setelah draft final report. Serta
47

Mengadakan Fasilitasi Persiapan Pantia Pembebasan Tanah (P2T)


sebanyak 4 kali berupa pertemuan dengan seluruh pihak yang
terkena dampak beserta instansi yang terlibat.
II. Lokasi Kegiatan
Lokasi pekerjaan ini di Areal Daerah Irigasi Sibanteng dan Rencana
Saluran yang sudah ada maupun yang akan dikembangkan.
III. Data dan Fasilitas Penunjang
1. Penyediaan oleh Pengguna Jasa
A. Laporan dan Data :
Kumpulan laporan dan data yang dapat digunakan untuk
perencanaan dan detail desain meliputi : studi dan perencanaan
terdahulu yang berkaitan.
B. Staf Pengawas/Pendamping :

Pengguna jasa akan mengangkat petugas atau wakilnya yang


bertindak sebagai pengawas atau pendamping dalam rangka
pelaksanaan jasa konsultansi.
C.Pengguna

jasa tidak menyediakan fasilitas yang akan


digunakan oleh Penyedia Jasa.

2.

Penyediaan oleh Penyedia Jasa


Penyedia jasa harus menyediakan dan memelihara semua fasilitas
dan peralatan yang dipergunakan untuk kelancaran pelaksanaan
pekerjaan, sebagai berikut :

1. Sewa kendaraan bermotor roda empat sebanyak 1 (satu) unit,


yang akan digunakan sebagai penunjang kegiatan dengan
spesifikasi teknis sebagai berikut : minibus kapasitas 6 (orang)
s.d 8 (orang) termasuk pengemudi.

2. Sewa kendaraan bermotor roda dua sebanyak 4 (empat) unit,


yang akan digunakan sebagai penunjang kegiatan.

3. Sewa komputer + printer sebanyak 1 (satu) unit untuk


mendukung pelaksanaan pekerjaan.

4. Pengadaan bahan habis pakai (ATK) sebanyak 1 (satu) set


setiap bulan yang digunakan sebagai penunjang kegiatan.

5. Pengadaan bahan computer supply sebanyak 1 (satu) set


setiap bulan yang digunakan sebagai penunjang kegiatan.

6. Pengadaan biaya telepon/fax/hp sebanyak 1 (satu) set setiap


bulan yang digunakan sebagai penunjang kegiatan.

7. Sewa komputer cad sebanyak 1 (satu) unit untuk mendukung

48

pelaksanaan pekerjaan.

8. Sewa plotter sebanyak 1 (satu) unit untuk mendukung


pelaksanaan pekerjaan.

9. Sewa alat dokumentasi handycam sebanyak 1 (satu) unit dan


hasil dokumentasi (pembelian DVD Video Handycam)
sebanyak 1 (satu) set yang digunakan sebagai penunjang
kegiatan.

10. Sewa alat dokumentasi Camera sebanyak 1 (satu) unit dan


hasil dokumentasi (cuci cetak foto) sebanyak 1 (satu) set
setiap bulan yang digunakan sebagai penunjang kegiatan.

11. Sewa alat topografi (Total station ) sebanyak 2 (dua) unit


yang digunakan sebagai penunjang kegiatan.

12. Sewa GPS sebanyak 2 (dua) unit yang digunakan sebagai


penunjang kegiatan.

13. Sewa handy talky sebanyak 4 (empat) unit yang digunakan


sebagai penunjang kegiatan

14. Pengadaan data sekunder yang digunakan sebagai penunjang


kegiatan.
7. Metodologi

1.

Standar teknis yang digunakan dalam perencanaan adalah sesuai


dengan SKSNI yang terdapat dalam Daftar Standar Bidang
Konstruksi dan Bangunan yang diterbitkan oleh Badan Penelitian
dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum;
2. Peraturan perundangan yang digunakan dalam penyusunan
dokumen tender sesuai dengan Undang-undang Jasa Konstruksi No.
18 Tahun 1999 serta Peraturan-peraturan sertifikat keahlian (SKA)
minimal sebagai Ahli Pemula/Pratama di bidang Sumber Daya Air
dari Asosiasi Profesi yang terakreditasi di LPJKN;
3. Perencanaan didasarkan kepada hasil studi yang ada,yang mengacu
pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2012
Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan
Umum.

8. Jangka Waktu Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan adalah selama 6 (enam) bulan terhitung
penyelesaian
sejak tanggal diterbitkannya Surat Perintah Mulai Kerja.
Kegiatan
9. Tenaga ahli
Seluruh personil yang ditugaskan oleh konsultan didalam pelaksanaan
pekerjaan ini harus mampu pada bidang tugasnya masing-masing serta
harus sesuai dengan yang diusulkan oleh konsultan yang bersangkutan.
Personil yang ditugaskan harus memenuhi persyaratan keahlian seperti
tersebut dibawah ini:

49

I. Tenaga Profesional
Tenaga Proffesional untuk mendukung pekerjaan ini sebanyak 23 Man
Month, terdiri dari :
a. Ketua Tim (Team Leader) ( 1 Orang)
Ketua Tim disyaratkan seorang Sarjana Strata 2 (S2) Jurusan Teknik
Sipil atau Teknik Pengairan, lulusan perguruan tinggi negeri atau
perguruan tinggi swasta yang telah telah diakreditasi oleh instansi
yang berwenang, berpengalaman dalam pelaksanaan pekerjaan di
bidang LARAP sekurang-kurangnya 4 (empat) tahun, memiliki
sertifikat keahlian (SKA) di bidang Teknik Sipil atau Sumber Daya
Air dari Asosiasi Profesi yang terakreditasi di LPJKN.
b. Tenaga Ahli Geodesi / GIS ( 1 Orang)
Ahli Geodesi / GIS disyaratkan seorang Sarjana Strata 1 (SI) Jurusan
Teknik Geodesi lulusan perguruan tinggi negeri atau perguruan
tinggi swasta yang telah diakreditasi oleh instansi yang berwenang,
berpengalaman melaksanakan pekerjaan analisa topografi di bidang
LARAP sekurang-kurangnya 4 (empat) tahun, memiliki sertifikat
keahlian (SKA) di bidangnya dari Asosiasi Profesi yang terakreditasi
di LPJKN.
c. Tenaga Ahli Penilai Aset / Tanah ( 1 Orang)
Ahli Penilai Aset / Tanah disyaratkan seorang Sarjana Strata 1 (SI)
Jurusan Ekonomi/ Teknik Sipil / Hukum lulusan perguruan tinggi
negeri atau perguruan tinggi swasta yang telah diakreditasi oleh
instansi yang berwenang, berpengalaman melaksanakan pekerjaan
pemetaan di bidang LARAP sekurang-kurangnya 4 (empat) tahun,
memiliki sertifikat keahlian (SKA) di bidang penilaian aset dari
Asosiasi Profesi yang terakreditasi di LPJKN
d. Tenaga Ahli Hukum Pertanahan ( 1 Orang)
Tenaga Ahli Hukum Pertanahan disyaratkan seorang Sarjana Strata
1 (SI) Jurusan Hukum lulusan perguruan tinggi negeri atau
perguruan tinggi swasta yang telah diakreditasi oleh instansi yang
berwenang, berpengalaman melaksanakan pekerjaan analisa
topografi di bidang Teknik Persungaian sekurang-kurangnya 4
(empat) tahun, memiliki sertifikat keahlian (SKA) di bidangnya dari
Asosiasi Profesi yang terakreditasi di LPJKN.
e. Tenaga Ahli Perencanaan Wilayah Kota / Tata Ruang ( 1 Orang)
Ahli Perencanaan Wilayah Kota / Tata Ruang disyaratkan seorang
Sarjana Strata 1 (SI) Jurusan Teknik PWK atau Arsitektur lulusan
perguruan tinggi negeri atau perguruan tinggi swasta yang telah
diakreditasi oleh instansi yang berwenang, berpengalaman
melaksanakan pekerjaan perencanaan relokasi di bidang LARAP
sekurang-kurangnya 4 (empat) tahun, memiliki sertifikat keahlian
(SKA) di bidangnya dari Asosiasi Profesi yang terakreditasi di LPJKN.
f. Tenaga Ahli Sosial ( 1 Orang)
Tenaga Ahli Sosial yang disyaratkan adalah Sarjana Sosial/Sarjana
Komunikasi Strata 1 (S1) lulusan perguruan tinggi negeri atau
perguruan tinggi swasta yang telah diakreditasi oleh instansi yang
berwenang, yang berpengalaman melaksanakan pekerjaan di bidang
LARAP sekurang-kurangnya 4 (empat) tahun.
Tenaga Pendukung yang diperlukan untuk melaksanakan tugas
pekerjaan ini antara lain sebagai berikut :
50

II. Tenaga Teknisi


Tenaga Teknisi untuk mendukung pekerjaan ini sebanyak 48 Man
Month, terdiri dari :
a.
b.
c.
d.

Surveyor Topografi (2 Orang)


Surveyor Sosial Ekonomi (4 Orang)
Tenaga Lokal Survey Topografi (4 Orang)
Tenaga Lokal Survey Sosial Ekonomi (8 Orang)

III. Tenaga Penunjang


Tenaga Penunjang untuk mendukung pekerjaan ini sebanyak 24 Man
Month, terdiri dari :
a. Tenaga Administrasi/ Keuangan (1 orang)
b. Operator Draftman/CAD (1 orang)
c. Operator Komputer (1 orang)
d. Office Boy (1 orang)
10. Keluaran (laporan,
dokumen,
presentasi)

1. Laporan Utama
Jenis laporan yang harus diserahkan kepada Pengguna Jasa adalah:
a. Laporan Rencana Mutu Kontrak (RMK), berisi:
Informasi organisasi Pengguna dan Penyedia Jasa;
Jadwal dan prosedur pelaksanaan;
Prosedur instruksi kerja berikut pengawasan mutu kerja.
Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya 14 (empat hari)
setelah diterbitkannya SPMK, sebanyak 5 (lima) buku.
b. Laporan Pendahuluan (Inception Report), minimal berisi:
Hasil survey pendahuluan termasuk gambaran / potret
kondisi Daerah Irigasi Sibanteng beserta bangunan bangunan air yang ada;
Rencana / rintisan pengukuran lapangan, ketersediaan data
sekunder;
serta rencana kerja dan metodologi pelaksanaan pekerjaan.
Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan
sejak SPMK diterbitkan, sebanyak 5 (lima) buku.
c. Laporan bulanan, berisi :
Kemajuan pelaksanaan pekerjaan setiap bulan;
Rencana kerja periode selanjutnya;
Hambatan yang ditemukan dan pemecahanan masalah.
Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya pada setiap
bulannya, masing-masing sebanyak 5 (lima) buku.
d. Laporan Sisipan (Interim Report), berisi:
Kemajuan pelaksanaan pekerjaan pada periode pertengahan
waktu pelaksanaan Kontrak;
Hasil-hasil pekerjaan yang telah diselesaikan sesuai dengan
jadwal kegiatan.
Laporan sudah harus diserahkan selambat-lambatnya 3 (tiga)
bulan sejak SPMK diterbitkan, sebanyak 5 (lima) buku.
e. Laporan Akhir Sementara (Draft Final Report), berisi:
Kemajuan pelaksanaan pekerjaan secara keseluruhan;
Seluruh hasil pekerjaan sementara sesuai dengan ruang
51

lingkup pekerjaan yang tercantum di dalam Kontrak.


Laporan diserahkan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sebelum
masa Kontrak berakhir atau 1 (satu) hari sebelum
dilaksanakannya diskusi Konsep Laporan Akhir, sebanyak 5
(lima) buku.
f. Laporan Akhir (Final Report) :
Laporan Akhir berisi hasil akhir pelaksanaan pekerjaan yang
meliputi seluruh ruang lingkup pekerjaan sebagaimana
tercantum di dalam Kontrak dan merupakan penyempurnaan
draft final report yang sudah mendapat berbagai masukan dari
Pengguna Jasa pada saat pembahasan/diskusi. Laporan Akhir
harus sudah diserahkan selambat-lambatnya bersamaan dengan
pengajuan pembayaran angsuran terakhir. Laporan yang
diserahkan yaitu : Laporan Utama sebanyak 5 (lima) buku.
2. Dokumen yang harus diserahkan
Selengkapnya, dokumen yang harus diserahkan kepada Pengguna
Jasa dan di perbanyak sesuai dokumen aslinya adalah :
a. Laporan Rencana Mutu Kontrak (RMK), sebanyak 5 (lima)
rangkap;
b. Laporan Pendahuluan (Inception Report), sebanyak 5 (lima)
rangkap;
c. Laporan Bulanan (per periode), sebanyak 5 (lima) rangkap;
d. Laporan Sisipan (Interim Report), sebanyak 5 (lima) rangkap;
e. Laporan Akhir Sementara (Drat Final Report), sebanyak 5
(lima) rangkap;
f. Laporan Akhir (Final Report), sebanyak 5 (lima) rangkap;
g. Laporan Pendukung berupa:
1) laporan Topografi, sebanyak 5 (lima) rangkap
2) laporan Perencanaan Lanscape, sebanyak 5 (lima) rangkap
3) Laporan Dokumen Rencana Pembebasan Lahan, sebanyak 5
(lima) rangkap
4) Laporan Pertemuan Konsultasi Masyarakat, sebanyak 5
(lima) rangkap
5) Laporan Hasil Survey Sosek, sebanyak 5 (lima) rangkap
6) Laporan Analisa Kepemilikan Tanah, sebanyak 5 (lima)
rangkap
7) Laporan Rencana Resettlement, sebanyak 5 (lima) rangkap
h. Gambar perencanaan detail desain perbanyak sesuai dokumen
aslinya :
1) Kalkir ukuran A1, sebanyak 1 (satu) rangkap
2) Kalkir ukuran A3, sebanyak 1 (satu) rangkap
3) Cetakan gambar ukuran A1, sebanyak 5 (lima) rangkap
4) Cetakan gambar ukuran A3, sebanyak 5 (lima) rangkap
5) Back up data dalam bentuk DVD, sebanyak 5 (lima) set
3.

Diskusi / Presentasi
Konsultan harus mengadakan diskusi/presentasi kepada
Pengguna Jasa atau wakilnya yang ditunjuk. Pokok permasalahan
yang dibahas adalah mengenai pekerjaan yang telah diselesaikan
(progress report) sekaligus menyampaikan alternatif pilihan guna
memperoleh persetujuan, permasalahan/ hambatan yang
ditemukan/ dihadapi, serta pengajuan program kerja selanjutnya.

52

Diskusi/presentasi tersebut dilaksanakan dengan tahapan sebagai


berikut :
Diskusi pertama
Membahas bahan Laporan Rencana
Mutu Kontrak yang berisi penyusunan
program kerja, jadwal penugasan
personil, mobilisasi personil, serta
rencana kerja secara keseluruhan.
Diskusi kedua
Membahas
bahan
Laporan
Pendahuluan yang berisi hasil survey
pendahuluan
(inventarisasi
dan
identifikasi awal), kriteria survey, metode
pendekatan yang akan digunakan dalam
analisis, penyusunan program kerja,
jadwal penugasan personil, mobilisasi
personil, serta rencana kerja selanjutnya.
Diskusi ketiga
Membahas
kegiatan pekerjaan yang
telah dan akan dilakukan, serta
memberikan gambaran awal tentang
perencanaan bangunan yang dilakukan.
Diskusi keempat
Dilaksanakan pada saat Konsultan telah
selesai menganalisa data dan menyusun
Laporan Akhir Sementara (draft final
report).
Diskusi PKM
PKM dilaksanakan sebanyak 2 kali
setelah laporan pendahuluan dan setelah
draft final report.
Diskusi Fasilitasi
Fasilitasi Persiapan Panitia Pembebasan
Tanah (P2T) dilaksanakan sebanyak 4
kali.
Diskusi/ presentasi tersebut dilaksanakan di hadapan Pengguna Jasa,
Direksi Pekerjaan serta Instansi terkait yang dipandang perlu

53

Anda mungkin juga menyukai