Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

PEWARNAAN SEDERHANA

Disusun oleh :
Kelompok 5 (Gel. 3)
JOHANES SKAIT KFERLUKA

0090840126

LEDY DIANA

0120840154

LENNY TRI SELVIANI

0120840156

LIDWINA S.K.P FONATABA

0120840158

LIS AMITASARI

0120840160

LUTTER KOGOYA

0120840162

MEIRANTY DWI PUSPA NINGRUM

0120840179

MUHAMMAD SYAIFULLAH M. MAADA

0120840188

MUSA BARANA LANDE

0120840191

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS CENDERAWASIH
JAYAPURA - PAPUA

DAFTAR ISI

BAB 1
PENDAHULUAN............................................................................................ 1
1.1

Latar belakang.................................................................................... 1

1.2

Tujuan.............................................................................................. 2

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA..................................................................................... 3

BAB 3
METODOLOGI............................................................................................. 10
3.1

Waktu dan tempat.............................................................................. 10

3.2

Alat dan bahan.................................................................................. 10

3.3

Cara kerja........................................................................................ 12

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN..........................................................................14
4.1

Hasil.............................................................................................. 14

4.2

Pembahasan..................................................................................... 15

BAB 5
PENUTUP................................................................................................... 17
5.1 Kesimpulan........................................................................................... 17
5.2 Saran................................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 18

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Pewarnaan sederhana merupakan tekhnik pewarnaan yang paling banyak digunakan.
Melihat dan mengamati bakteri dalam keadaan hidup sangat sulit,larena selain bakteri itu
tidak berwarna juga tranparan dan sangat kecil. Untuk mengatasi hal tersebut maka
dikembangkan suatu tekhnik pewarnaan sel bakteri, sehingga sel dapat terlihat jelas dan
mudah diamat. Oleh karena itu tekhnik pewarnaan sel bakteri ini merupakan salah satu cara
yang paling utama dalam penelitian-penelitian mikrobiologi.
Prinsip dasar dari pewarnaan ini adalah adanya ikatan ion antara komponen selular dari
bakteri dengan senyawa aktif dari pewarna yang disebut kromogen. Terjadi ikatan ion karena
adanya muatan listrik baik pada komponen seluler maupun pada pewarna. Berdasarkan
adanya muatan ini maka dapat dibedakan asam dan pewarna basa.
Pewarna asam dapat terjadi karena bila senyawa pewarna bermuatan negatif. Dalam
kondisi pH mendekati netral dinding sel bakteri cenderung bermuatan negatif, sehingga
pewarna asam yang bermuatan negatif akan ditolak oleh dinding sel, maka sel tidak
berwarna. Pewarna asam ini disebut pewarna negatif. Contoh pewarna asam misalnya: tinta
cina, larutan nigrosin, asam pikrat, eosin, dll.
Pewarna basa bisa terjadi bila senyawa pewarna bersifat positif, sehingga akan diikat
oleh dinding sel bakteri dan sel bakteri ini jadi berwarna dan terlihat. Contoh dari pewarna
basa misalnya metilen biru, kristal violet, safranin, dan lain-lain. Teknik pewarnaa asam basa
ini hanya menggunaka satu jenis senyawa pewarna, teknik ini disebut pewarna sederhana.
Pewarnaan sederhana ini diperlukan untuk mengamati morfologi, baik bentuknya maupun
susunan sel. Teknik pewarnaan yang lain adalah pewarnaan diferensial, yang menggunakan
senyawa pewarna yang lebih dari satu jenis. Diperlukan untuk mengelompokkan bakteri
misalnya, bakteri gram positif dan gram negatif atau bakteri tahan asam dan tidak tahan
asam. Juga diperlukan untuk mengamati struktur bakteri seperti flagela, kapsula, spora, dan
nukleus.

Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan sifatsifat yang khas, termasuk bakteri. Bakteri yang hidup hampir tidak berwarna dan
1

kontras dengan air, dimana sel-sel bakteri tersebut disuspensikan. Salah satu cara
untuk melihat dan mengamati bentuk sel bakteri dalam keadaan hidup sangat sulit,
sehingga untuk diidentifikasi ialah dengan metode pengecatan atau pewarnaan sel
bekteri, sehingga sel dapat terlihat jelas dan mudah diamati. Hal tersebut juga
berfungsi untuk mengetahui sifat fisiologisnya yaitu mengetahui reaksi dinding sel
bakteri melalui serangkaian pengecatan. Oleh karena itu teknik pewarnaan sel bakteri
ini merupakan salahsatu cara yang paling utama dalam penelitian-penelitian
mikrobiologi.
Mikroba sulit dilihat dengan cahaya karena tidak mengadsorbsi atau membiaskan
cahaya. Alasan inilah yang menyebabkan zat warna digunakan untuk mewarnai
mikroorganisme. Zat warna mengadsorbsi dan membiaskan cahaya sehingga kontras
mikroba dengan

sekelilingnya

dapat ditingkatkan. Penggunaan

zat warna

memungkinkan pengamatan strukur seperti spora, flagela, dan bahan inklusi yng
mengandung zat pati dan granula fosfat (Entjang, 2003) Melihat dan mengamati
bakteri dalam keadaan hidup sangat sulit, kerena selain bakteri itu tidak berwarna
juga transparan dan sangat kecil. Untuk mengatasi hal tersebut maka dikembangkan
suatu teknik pewarnaan sel bekteri, sehingga sel dapat terlihat jelas dan mudah
diamati. Olek karena itu teknik pewarnaan sel bakteri ini merupakan salahsatu cara
yang paling utama dalam penelitian-penelitian mikrobiologi

1.2 Tujuan

Mahasiswa mampu membuat sediaan untuk pewarnaan sederhana


Melakukan proses pewarnaan sederhana
Mengamati bentuk bakteri pada preparat di bawah mikroskop

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Nama bakteri berasal dari bahasa yunani bacterion yang berarti batang atau
tongkat. Saat ini nama tersebut digunakan untuk menyebut sekelompok
mikroorganisme bersel tunggal yang tubuhnya bersifat prokariotik yaitu terdiri atas
sel yang tidak mempunyai pembungkus inti. Bakteri berukuran sangat kecil sehingga
hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop. Jumlah bakteri di alam adalah
yang terbanyak dari semua organisme. Bakteri-bakteri ini tersebar (berada di manamana) di tanah, air dan dapat ditemukan dalam bentuk simbiosis dengan organisme
lain. Banyak bentuk bakteri patogen yang bisa ditemukan di sekitar kita.

Pada umumnya ukuran tubuh bakteri sangat kecil, sehingga hanya dapat dilihat
dengan menggunakan mikroskop yaitu dengan perbesaran 1000X atau lebih. Satuan
ukuran tubuh bakteri adalah mikrometer atau mikron. Satu mikron sama dengan
1/1.000 milimeter. Lebar tubuh bakteri pada umumnya berkisar antara 1-2 mikron
sedangkan panjangnya 2-5 mikron.
Ciri khusus sel bakteri akan terungkap bila perbandingan antara luas permukaan
terhadap volumenya dihitung. Pada bakteri, nilai perbandingan ini sangat tinggi bila
dibandingkan dengan mikroorganisme yang lebih besar. Dari segi praktis, hal ini
berarti bahwa isi suatu sel bakteri menjadi terbuka terhadap batas permukaan antara
dinding sel dan nutrien disekitarnya. Sifat inilah yang merupakan salah satu penyebab
tingginya laju metabolisme dan pertumbuhan bakteri.

2.1

Bentuk-Bentuk Bakteri

Beberapa bentuk dasar bakteri yaitu bulat (coccus), batang atau silinder
(bacillus) dan spiral yaitu bentuk batang melengkung atau melingkar-lingkar.

1. Kokus (Coccus)

Kokus adalah bakteri yang mempunyai bentuk bulat seperti bola-bola kecil.
Kelompok ini ada yang bergerombol dan yang bergandeng-gandengan membentuk
koloni. Berdasarkan jumlah koloni, kokus dapat dibedakan menjadi beberapa
kelompok, yaitu:

a. Monokokus (monococcus), bila kokus hidup menyendiri.

b. Diplokokus (diplococcus), bila kokus membentuk koloni terdiri dari dua


kokus.

c. Streptokokus (streptococcus), bila koloni berbentuk seperti rantai.

d. Stafilokokus (staphylococcus), bila koloni bakteri kokus membentuk untaian


seperti buah anggur.

e. Tetrakokus (tetracoccus), bila koloni terdiri dari empat kokus.

2. Basil (Bacillus)

Basil dari bacillus, merupakan bakteri yang mempunyai bentuk tongkat pendek
atau batang kecil dan silindris. Sebagian bakteri berbentuk basil. Basil dapat
bergandeng-gandengan panjang, bergandengan dua-dua, atau terlepas satu sama lain.

3. Spiril (Spirilum)

Spiril merupakan bakteri yang berbentuk bengkok atau berbengkok-bengkok


seperti spiral. Bakteri yang berbentuk spiral sangat sedikit jenisnya. Golongan ini
merupakan golongan yang paling kecil jika dibandingkan dengan golongan basil dan
golongan kokus.

Gambar 1. Bentuk-Bentuk Bakteri

2.2

Pewarnaan Bakteri

Bakteri yang hidup hampir tidak berwarna dan kontras dengan air, dimana selsel bakteri tersebut disuspensikan. Salah satu cara untuk mengamati bentuk sel
bakteri sehingga mudah untuk diidentifikasi ialah dengan metode pengecatan atau
pewarnaan. Hal tersebut juga berfungsi untuk mengetahui sifat fisiologisnya yaitu
mengetahui reaksi dinding sel bakteri melalui serangkaian pengecatan.

Berbagai macam tipe morfologi bakteri (kokus, basil, spirilum, dan sebagainya)
dapat dibedakan dengan menggunakan pewarna sederhana. Istilah pewarna
sederhana dapat diartikan dalam mewarnai sel-sel bakteri hanya digunakan satu
macam zat warna saja. Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarna-pewarna
sederhana karena sitoplasmanya bersifat basofilik (suka akan basa) sedangkan zat-zat
warna yang digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkalin
(komponen kromoforiknya bermuatan positif). Faktor-faktor yang mempengaruhi
pewarnaan bakteri yaitu fiksasi, peluntur warna, substrat, intensifikasi pewarnaan dan
penggunaan zat warna penutup. Suatu preparat yang sudah meresap suatu zat warna,
kemudian dicuci dengan asam encer maka semua zat warna terhapus. sebaliknya
terdapat juga preparat yang tahan terhadap asam encer. Bakteri-bakteri seperti ini
dinamakan bakteri tahan asam, dan hal ini merupakan ciri yang khas bagi suatu
spesies.

Teknik pewarnaan warna pada bakteri dapat dibedakan menjadi empat macam
yaitu pengecatan sederhana, pengecatan negatif, pengecatan diferensial dan
pengecatan struktural. Pemberian warna pada bakteri atau jasad- jasad renik lain
dengan menggunakan larutan tunggal suatu pewarna pada lapisan tipis, atau olesan,
yang sudah difiksasi, dinamakan pewarnaan sederhana. Prosedur pewarnaan yang
menampilkan perbedaan diantara sel-sel microbe atau bagian-bagian sel microbe
disebut teknik pewarnaan diferensial. Sedangkan pengecatan struktural hanya

mewarnai satu bagian dari sel sehingga dapat membedakan bagian-bagian dari sel.
Termasuk dalam pengecatan ini adalah pengecatan endospora, flagella dan
pengecatan kapsul.

Mikroba sulit dilihat dengan cahaya karena tidak mengadsorbsi atau


membiaskan cahaya. Alasan inilah yang menyebabkan zat warna digunakan untuk
mewarnai mikroorganisme. Zat warna mengadsorbsi dan membiaskan cahaya
sehingga kontras mikroba dengan sekelilingnya dapat ditingkatkan. Penggunaan zat
warna memungkinkan pengamatan strukur seperti spora, flagela, dan bahan inklusi
yng mengandung zat pati dan granula fosfat.
Melihat dan mengamati bakteri dalam keadaan hidup sangat sulit, kerena selain
bakteri itu tidak berwarna juga transparan dan sangat kecil. Untuk mengatasi hal
tersebut maka dikembangkan suatu teknik pewarnaan sel bekteri, sehingga sel dapat
terlihat jelas dan mudah diamati. Olek karena itu teknik pewarnaan sel bakteri ini
merupakan

salahsatu

cara

yang

paling

utama

dalam

penelitian-penelitian

mikrobiologi.

2.2.1 Macam-Macam Pewarnaan

Secara garis besar teknik pewarnaan bakteri dapat dikategorikan sebagai berikut :

1. Pewarnaan Sederhana

Menggunakan satu macam zat warna (biru metilen/air fukhsin) tujuan hanya
untuk melihat bentuk sel. Pewarnaan sederhana, merupakan pewarna yang paling
umum digunakan. Berbagai macam tipe morfologi bakteri (kokus, basil, spirilum, dan
sebagainya) dapat dibedakan dengan menggunakan pewarna sederhana, yaitu
mewarnai sel-sel bakteri hanya digunakan satu macam zat warna saja. Kebanyakan
bakteri mudah bereaksi dengan pewarnapewarna sederhana karena sitoplasmanya

bersifat basofilik (suka akan basa) sedangkan zat-zat warna yang digunakan untuk
pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkalin (komponen kromoforiknya
bermuatan positif).

Zat warna yang dipakai hanya terdiri dari satu zat yang dilarutkan dalam bahan
pelarut. Pewarnaan Sederhana merupakan satu cara yang cepat untuk melihat
morfologi bakteri secara umum. Beberapa contoh zat warna yang banyak digunakan
adalah biru metilen (30-60 detik), ungu kristal (10 detik) dan fukhsin-karbol (5 detik).

2. Pewarnaan Differensial

Pewarnaan bakteri yang menggunakan lebih dari satu zat warna seperti pewarnaan
gram dan pewarnaan tahan asam.

a) Pewarnaan Gram

Pewarnaan Gram atau metode Gram adalah suatu metode untuk membedakan
spesies bakteri menjadi dua kelompok besar, yakni gram-positif dan gram-negatif,
berdasarkan sifat kimia dan fisik dinding sel mereka. Metode ini diberi nama
berdasarkan penemunya,ilmuwan Denmark Hans Christian Gram (18531938) yang
mengembangkan teknik ini pada tahun 1884 untuk membedakan antara pneumokokus
dan bakteri Klebsiella pneumoniae.

Dengan metode pewarnaan Gram, bakteri dapat dikelompokkan menjadi dua,


yaitu bakteri Gram positif dan Gram negatif berdasarkan reaksi atau sifat bakteri
terhadap cat tersebut. Reaksi atau sifat bakteri tersebut ditentukan oleh komposisi
dinding selnya. Oleh karena itu, pengecatan Gram tidak bisa dilakukan pada
8

mikroorganisme yang tidak mempunyai dinding sel seperti Mycoplasma sp. Contoh
bakteri yang tergolong bakteri tahan asam, yaitu dari genus Mycobacterium dan
beberapa spesies tertentu dari genus Nocardia. Bakteri-bakteri dari kedua genus ini
diketahui memiliki sejumlah besar zat lipodial (berlemak) di dalam dinding selnya
sehingga menyebabkan dinding sel tersebut relatif tidak permeabel terhadap zat-zat
warna yang umum sehingga sel bakteri tersebut tidak terwarnai oleh metode
pewarnaan biasa, seperti pewarnaan sederhana atau Gram. Dalam pewarnaan gram
diperlukan empat reagen yaitu :

1) Zat warna utama (Violet Kristal)

2) Mordan (Larutan Iodin) yaitu senyawa yang digunakan untuk mengintensifkan


warna utama.

3) Pencuci atau peluntur zat warna (Alcohol atau Aseton) yaitu solven organic
yang digunakan untuk melunturkan zat warna utama.

4) Zat warna kedua atau cat penutup (Safranin) digunakan untuk mewarnai
kembali sel-sel yang telah kehilangan cat utama setelah perlakuan dengan alcohol.

b) Pewarnaan Tahan Asam

Pewarnaan ini ditujukan terhadap bakteri yang mengandung lemak dalam


konsentrasi tinggi sehingga sukar menyerap zat warna, namun jika bakteri diberi zat
warna khusus misalnya karbolfukhsin melalui proses pemanasan, maka akan
menyerap zat warna dan akan tahan diikat tanpa mampu dilunturkan oleh peluntur

yang kuat sekalipun seperti asam-alkohol. Karena itu bakteri ini disebut bakteri tahan
asam (BTA).

Teknik pewarnaan ini dapat digunakan untuk mendiagnosa keberadaan bakteri


penyebab tuberkulosis yaitu Mycobacterium tuberculosis. Ada beberapa cara
pewarnaan tahan asam, namun yang paling banyak adalah cara menurut ZiehlNeelsen.

3. Pewarnaan Khusus untuk Melihat Struktur Tertentu

a) Pewarnaan Spora
Spora bakteri (endospora) tidak dapat diwarnai dengan pewarnaan biasa, diperlukan
teknik pewarnaan khusus. Pewarnaan Klein adalah pewarnaan spora yang paling
banyak digunakan. Endospora sulit diwarnai dengan metode Gram. Untuk pewarnaan
endspores, perlu dilakukan pemanasan supaya cat malachite hijau bisa masuk ke
dalam spora, seperti halnya pada pewarnaan Basil Tahan Asam dimana cat carbol
fuschsin harus dipanaskan untuk bisa menembus lapisan lilin asam mycolic dari
Mycobacterium.

b) Pewarnaan Flagel
Pewarnaan flagel dengan memberi suspense koloid garam asam tanat yang tidak
stabil, sehingga terbentuk presipitat tebal pada dinding sel dan flagel.

c) Pewarnaan Kapsul

Pewarnaan ini menggunakan larutan Kristal violet panas, lalu larutan tembaga sulfat
sebagai pembilasan menghasilkan warna biru pucat pada kapsul, karena jika
10

pembilasan dengan air dapat melarutkan kapsul. Garam tembaga juga memberi warna
pada latar belakang. Yang berwana biru gelap.

4. Pewarnaan Khusus untuk Melihat Komponen Lain dari Bakteri

Pewarnaan Neisser (granula volutin).

Pewarnaan Yodium (granula glikogen).

5. Pewarnaan Negatif

Pewarnaan negatif, metode ini bukan untuk mewarnai bakteri tetapi mewarnai
latar belakangnya menjadi hitam gelap. Pada pewarnaan ini mikroorganisme
kelihatan transparan (tembus pandang). Teknik ini berguna untuk menentukan
morfologi dan ukuran sel. Pada pewarnaan ini olesan tidak mengalami pemanasan
atau perlakuan yang keras dengan bahan-bahan kimia, maka terjadinya penyusutan
dan salah satu bentuk agar kurang sehingga penentuan sel dapat diperoleh dengan
lebih tepat. Metode ini menggunakan cat nigrosin atau tinta cina.

Pewarnaan

negatif

memerlukan

pewarna

asam

seperti

eosin

atau

negrosin.pewarna asam memiliki negatif charge kromogen,tidak akan menembus atau


berpenetrasi ke dalam sel karena negative charge pada permukaan bakteri. oleh
karena itu, sel tidak berwarna mudah dilihat dengan latar belakang berwarna.

11

BAB 3
METODOLOGI
3.1 Waktu dan tempat

Praktikum pewarnaan positif ini dilakukan pada hari Sabtu tanggal 3 Oktober
2015 pukul 12.00-14.00 WIT, bertempat di Laboratorium Biologi Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Universitas Cenderawasih (FMIPA UNCEN).
3.2 Alat dan bahan

Alat dan Bahan


1. Mikroskop Cahaya

Gambar

2. Cawan Petri

3. Object glass

4. Jarum inokulum / ose

12

5. Tinta Cina

6. Alkohol 70%

7. Aquadest

8. Buncen Burner

3.3 Cara kerja

Pewarnaan Positif :
Bersihkan object glass dengan kapas

13

Jika perlu tulislah kode atau nama bakteri pada sudut object glass
Jika menggunakan biakan padat, maka biakan dipindahkan dengan
jarum inoculum, satu ulasan saja kemudian diberi akuades dan
disebarkan supaya sel merata.
Keringkan ulasan tersebu sambil memfiksasinya dengan api bunsel
dilewatkan 2-3 kali.
Setelah benar-benar kering dan tersebar selanjutnya ditetesi dengan
pewarna (dapat digunakan Methilen blue, safranin, Crystal Violet) dan
tunggu kurang lebih 30 detik.
Cuci dengan akuades kemudian keringkan dengan kertas tissue.
Periksa dengan mikroskop (perbesaran 100x10).

Pewarnaan Negatif
Ambil dua object glass, teteskan nigrosin atau tinta cina di ujung
kanan salah satu object glass

14

Biakan diambil lalu diulaskan atau diteteskan dalam tetesan nigrosin


tadi, lalu dicampurkan.
Tempelkan sisi object glass yang lain kemudian gesekkan ke samping
kiri
Biarkan preparat mongering di udara, jangan difiksasi atau dipanaskan
di atas api.

15

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1

Pewarnaan Positif

4
4.1.2

Pewarnan Negatif

4
2

1
3

16

Keterangan gambar :
1.
2.
3.
4.

Streptobasil
Diplobasil
Basil atau monobasil
Kokus

4.2 Pembahasan

Pewarnaan Positif
Pewarnaan

positif

bertujuan

untuk

melihat

morfologi

sel

dengan

menggunakan satu macam zat warna yaitu karbol fuksin, kristal violet,atau methylene
blue. Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarna sederhana karena
sitoplasmanya bersifat basofilik sedangkan zat-zat warna yang digunakan untuk
pewarnaan sederhana umumya bersifat alkalin (komponen kromoforiknya bermuatan
positif). Pada hasil pengamatan dijumpai beberapa jenis bakteri berbentuk basil
berdasarkan jumlahnya.
Pewarnaan Negatif
Pewarnaan negatif, metode ini bertujuan untuk mengamati morfologi
organisme yang sukar diwarnai oleh pewarna. Pada pewarnaan ini bukan untuk
mewarnai bakteri tetapi mewarnai latar belakangnya menjadi hitam gelap. Jadi
mikroorganisme kelihatan transparan (tembus pandang). Teknik ini berguna untuk
menentukan morfologi dan ukuran sel. Pada pewarnaan ini olesan tidak mengalami
pemanasan atau perlakuan yang keras dengan bahan-bahan kimia, maka terjadinya
penyusutan dan salah satu bentuk agar kurang sehingga penentuan sel dapat diperoleh
dengan lebih tepat. Metode ini menggunakan cat nigrosin atau tinta cina
Pewarna asam memiliki negative charge kromogen, tidak akan menembus atau
berpenetrasi ke dalam sel karena negative charge pada permukaan bakteri. Oleh
karena itu, sel tidak berwarna mudah dilihat dengan latar belakang berwarna.

17

BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan

Pembuatan sediaan dilakukan dengan cara yang berbeda tergantung dari jenis
pewarnaannya. Untuk pewarnaan sederhana positif, zat warna yang digunakan adalah
Methylen Blue, sedangkan untuk pewarnaan sederhana negatif menggunakan zat

warna Nigrosin atau Tinta Cina


Hasil pengamatan menunjukkan beberapa jenis bakteri dengan perbedaan morfologi
ada yang berupa bakteri tunggal (mono), berpasangan (diplo) maupun bergerombol
(strepto)

5.2 Saran

Diharapkan bagi seluruh mahasiswa agar selama kegiatan praktikum ini berlangsung,

Mahasiswa harus menggunakan perlengkapan praktikum dengan baik.


Diharapkan pula bagi semua mahasiswa, bahwa selama kegiatan praktikum ini
berlangsung, agar semua mahasiswa bersungguh-sungguh dalam melakukan
praktikum.

18

DAFTAR PUSTAKA

http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/196611031991012YANTI_HAMDIYATI/Pertumbuhan _pada_mikroorganisme_I.pdf

http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/196805091994031KUSNADI/BUKU_COMMON_TEXT_MIKROBIOLOGI,_Kusnadi,dkk/BAB_3_str
uktur_sel_bakteri.pdf

http://eprints.ung.ac.id/3357/5/2013-1-48401-821310022-bab2-30072013070923.pdf
Dwidjoseputro. 2005. Dasar-DasarMikrobiologi. Djambatan: Jakarta
Waluyo,lud. 2010. Buku Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Umum. UMM. Malang
Widjoseputro, D., 1989. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Malang : Djambatan

19