Anda di halaman 1dari 114

Bab I

PENDAHULUAN
Dasar-dasar Perencanaan :
Berdasarkan SNI Tata cara perencanaan konstruksi kayu Indonesia. Untuk tahanan acuan
digunakan tabel 1:
Kode Modulus
Kuat
Kuat Tarik Kuat tekan
Kuat
Kuat tekan
Kayu Elastisitas
Lentur
Sejajar
sejajar
geser
Tegak
Lentur
Fb
serat
serat
Fv
lurus serat
Ew
Ft
Fc
Fc
E26
25000
66
60
46
6,6
24
E25
24000
62
58
45
6,5
23
E24
23000
59
56
45
6,4
22
E23
22000
56
53
43
6,2
21
E22
21000
54
50
41
6,1
20
E21
20000
50
47
40
5,9
19
E20
19000
47
44
39
5,8
18
E19
18000
44
42
37
5,6
17
E18
17000
42
39
35
5,4
16
E17
16000
38
36
34
5,4
15
E16
15000
35
33
33
5,2
14
E15
14000
32
31
31
5,1
13
E14
13000
30
28
30
4,9
12
E13
12000
27
25
28
4,8
11
E12
11000
23
22
27
4,6
11
E11
10000
20
19
25
4,5
10
E10
9000
18
17
24
4,3
9
Berdasarkan SNI 03-3527-1994, Nilai rasio tahanan ditentukan dengan tabel :
Kelas Mutu
Nilai rasio tahanan
A
0,80
B
0,63
C
0,50
Berdasarkan SNI Kombinasi pembebanan dalam perencanaan adalah sebagai berikut :
No
Kombinasi pembebanan
1
1,4D
2
1,2D + 1,6L + 0,5(La atau H)
3
1,2D + 1,6(La atau H) + (0,5L atau 0,8W)
4
1,2D+1,3W+0,5L+0,5(La atau H)
5
1,2D1,0E+0,5L
6
0,9D(1,3W atau 1,0 E)
Bentang rencana (L) = 9 m
Jarak kuda-kuda (Jk) = 3 m
Panjang bangunan
= 21 m
Sudut ()
= 35o
Kode mutu kayu
= E19
Kelas mutu kayu
=A
Atap dari
: genteng

2m

2m

2m

m
1,24

2m

Plapon dari : eternit


Alat sambung baut dengan kuat lentur baut (Fyb) = 320 N/mm2 dan diameter baut ( ) 12,7 mm.
Bangunan tersebut akan dibangun di lokasi yang jauh dari pantai. Dengan tipe kuda-kuda seperti
gambar di bawah ini:

Dari gambar tipe kuda-kuda diatas dapat di buat kuda-kuda dengan bentuk seperti dibawah ini:
Perhitungan:
1
tinggi atap=tan L=tan 35 4,5 m=4,62 m
2
1 2
L
2

4,619 2+ 82

(tinggi atap)2+
sisi miring kudakuda=

15

17

14

Jumlah batang = 37

29

13

21

22
2

23

24
3

18

28
26

12
11

16

25
4

31
30

27

5Page

1 6

32
7

33

19
34
8

35

20
36 37
9
10

Jumlah titik buhul = 20

P
Q

M
L

T
A

Perhitungan panjang Batang:


Batang 11 dan 20 adalah 1,24 m
Batang 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18 dan 19 adalah 2 m
Batang 1 dan 10 adalah :
sisimiring kudakuda Btg 11
Btg 11 1/2 L
=
Btg 1=
1/2 L
Btg 1
sisi miringkudakuda
Btg 1=

Batang 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 adalah :
(Btg 11+Btg 12)1/2 L
sisimiring kudakuda Btg 11+ Btg 12
=
Btg 2=
Btg 1
1/2 L
Btg 1+ Btg 2
sisimiring kudakuda
Btg 2=

1,24 8
=1,08 m
9,24

(1,24+ 2) 8
1,074=1,73 m
9,24

Batang 21 dan 37 :
tinggi kudakuda Btg 21
tinggi kudakuda Btg 1
=
Btg 21=
1/2 L
Btg 1
1/2 L
Btg 21=

4,62 1,07
=0,62 m
8

Batang 22 dan 36 :
Btg 22= Btg 212+ Btg 22= 0,622 +1,732=1,84 m
Page 2

Batang 23 dan 35 :
tinggi kudakuda ( Btg 1+ Btg 2)
tinggi kudakuda
Btg 23
=
Btg 23=
1/2 L
Btg 1+ Btg 2
1 /2 L
Btg 23=

4,62 (1,07+1,73)
=1,62m
8

Batang 24 dan 34 :
Btg 24= Btg 232 + Btg 32= 1,622 +1,732=2,37 m

Batang 25 dan 33 :
tinggi kudakuda
Btg 25
=
1/2 L
Btg 1+ Btg 2+ Btg 3
Btg 25=

tinggi kudakuda (Btg 1+Btg 2+ Btg 3)


1/2 L

Btg 25=

4,62 (1,07+1,73+1,73)
=2,62m
8

Batang 26 dan 32 :
B tg 26= Btg 252 + Btg 4 2= 2,622+ 1,732=3,14 m

Batang 27 dan 31 :
tinggi kudakuda
Btg 27
=
1/2 L
Btg 1+ Btg 2+ Btg 3+ Btg 4
Btg 27=

tinggi kudakuda (Btg 1+ Btg 2+ Btg 3+ Btg 4)


1/ 2 L

Btg 27=

4,62 (1,07+1,73+1,73+1,73)
=3,62 m
8

Batang 28 dan 30 :
Btg 28= Btg 272 + Btg 52= 3,622+ 1,732=4,01 m

Batang 29 adalah 4,62 m


Nama Batang
1,10
2,3,4,5,6,7,8,9
11,20
12,13,14,15,16,17,18,1
9
21,37

Panjang Batang (m)


1,08
1,73
1,24
2
0,62
Page 3

22,36
23,35
24,34
25,33
26,32
27,31
28,30
29

1,84
1,62
2,37
2,62
3,14
3,62
4,01
4,62

Bab II

PERENCANAAN GORDING
Menentukan dimensi gording:
Diasumsikan akan digunakan balok 10/16

b=100 mm

I x=

1
1
. b . d3 = 100 1603=34133333,333 m m4
12
12

d= 160 mm

I y=

1
1
3
3
4
.d . b = 160 100 =13333333,333 mm
12
12

1
1
2
2
3
S x = . b . d = 100 160 =426666,667 m m
6
6
b

1
1
S y = .d . b2= 160 1002=266666,667 m m3
6
6
A=b . d=100 160=16000 m m2=0,016 m 2
Page 4

Pembebanan pada gording :


Beban mati ( D )
Berdasarkan Peraturan pembebanan Indonesia untuk Gedung, berat bahan untuk atap
dari genteng dengan reng dan rusuk = 50 kg/m2
Beban genteng dengan reng dan rusuk yang bekerja pada gording :

q atapgenteng =50 kg /m jarak antar gording


q atapgenteng =50 kg /m2 2 m=100 kg /m
Berdasarkan tabel 2.1 untuk kode kayu E15 maka Ew = 14000 Mpa = 14000 N/mm2.
0,7
Berdasarkan tabel 2.2 maka Ew =16000 G
14000=16000 G
G=

14000
16000

10
7

0,7

=0,826

G adalah berat jenis kayu pada kadar air (m) 15%

Page 5

G=

Gb
0,826(10,133 Gb)=Gb
(10,133 Gb)

0,8260,110 Gb=G b 0,826=G b+ 0,109858G b


0,826=1,110 Gb Gb=

0,826
=0,744
1,110

Gm
(1+ 0,265a Gm )

, dimana a=

G b=

m=15
( 30m
30 )

15
= =0,5
( 3015
)
30
30

a=
0,744=

Gm
Gm
=
(1+0,265(0,5)G m ) (1+ 0,133G m )

0,744+ 0,099Gm =Gm 0,744=Gb 0,099 Gm


0,744=0,901 Gm Gm=
15
100
1000

0,744
=0,826
0,901

1+

G m=

1000(1+

m
)
100

Gm=0,826 0,826=

1150

=0,826 1150=949,9 kg /m3


Berat gording= Luas penampang gording
Berat gording=965,844 kg/m3 (0,10 m 0,16 m)=15,454 kg /m
q D =q atapgenteng + berat gording=100+15,454=115,454 kg /m
Beban mati (qD) diuraikan kedua arah:

Page 6

qDx

qDy

Sumbu y
q Dy =q D cos =115,454 cos 30=99,986 kg /m
Sumbu x
q Dx =q D sin =115,454 sin30=57,727 kg /m
Beban Hidup di atap ( La )
Berdasarkan Peraturan pembebanan Indonesia untuk Gedung, beban hidup terpusat
pada atap adalah 100 kg. PL = 100 kg
Beban mati (La) diuraikan kedua arah:

PLax

PLay

Sumbu y
PLay =P L cos =100 cos 30=86,603 kg
Sumbu x
PLax =P L sin =100 sin 30=50 kg
Beban Hujan ( H )
2
Beban merata untuk air hujan = W ah=400,8 =400,8 ( 30 )=16 kg /m
2

q H =W ah jarak antar gording=16 kg /m 2 m=32 kg /m


Beban hujan (H) diuraikan kedua arah:

Page 7

qHx

qHy

Sumbu y
q Hy =q H cos =32 cos 30=27,713 kg /m
Sumbu x
q Hx =q H sin =32 sin 30=16 kg /m

Beban angin ( W )
Karena bangunan tersebut jauh dari pantai, berdasarkan Peraturan pembebanan
Indonesia untuk Gedung, tekanan tiup minimumnya adalah 25 kg/m2.
Diasumsikan:
tekanan angin adalah (W) 30 kg/m2.
Bangunan tertutup

+0,02 - 0,4

-0,4

+0,9

bid//angin

-0,4

65o

Koefisien angintekan=C=0,02 0,4=0,02 ( 30 ) 0,4=0,2


angintekan :C W =0,2 30 kg /m2=6 kg /m2
qW 1=angintekan Jarak antar gording
6 kg /m2 2 m=12 kg/m

Page 8

anginhisap :C W =0,4 30 kg/m =12 kg/m

qW 2=anginhisap Jarak antar gording


12 kg / m2 2 m=24 kg/ m
y

Beban angin hanya bekerja tegak lurus terhadap sumbu x


Angin tekan
Sumbu y
qWy =q w1=12kg / m
qWx =0
Angin hisap
qWy =q w2 =24 kg/m
qWx =0
Karena, beban mati > beban angin hisap, maka untuk perencanaan gording beban
hisap tidak di perhitungkan.
Perhitungan gaya-gaya dalam
Akibat beban mati (D):

Page 9

qDx

Jadi Mx timbul akibat beban qy


Dan My timbul akibat beban qx

qDy

Momen

1
1
2
2
M Dx = q Dy Jk = 99,149 3 =112,484 kg m
8
8
1
1
2
2
M Dy = q Dx Jk = 57,244 3 =64,943 kg m
8
8

geser

1
1
V Dx = q Dy Jk = 99,149 3=149,979 kg
2
2
1
1
V Dy = q Dx Jk = 57,244 3=86,590 kg
2
2

Akibat beban Hidup di atap (La)

Page 10

PLa

Page 11

Momen

1
1
M Lax = P Lay Jk= 86,603 3=64,952 kg m
4
4
1
1
M Lay = P Lax Jk= 50 3=37,500 kg m
4
4

geser

1
1
V Lax = PLay = 86,603=43,301 kg
2
2
1
1
V Lay = PLax = 50=25 kg
2
2

Akibat beban hujan (H)

qHx

Jadi Mx timbul akibat beban qy


Dan My timbul akibat beban qx

qHy

momen

1
1
2
2
M Hx = q Hy Jk = 27,713 3 =31,177 kg m
8
8
1
1
2
2
M Hy = q Hx Jk = 16 3 =18 kg m
8
8

geser
Page 12

1
1
V Hx = q Hy Jk = 27,713 3=41,569 kg
2
2
1
1
V Hy = q Hx Jk = 16 3=24 kg
2
2

Akibat beban Angin (W1)

qWy

Jadi Mx timbul akibat beban qy


Dan My timbul akibat beban qx

momen
M Wy =0

Page 13

1
1
M Wx = q W 1 x Jk 2= 12 3 2=13,5 kg m
8
8

geser
V Wy =0
1
1
V Wx = q W 1 y Jk = 12 3=18 kg
2
2
Kombinasi Pembebanan pada gording :
1) 1,4 D
M ux=1,4 M Dx =112,484 kg m 1,4=157,477 kg m
M uy=1,4 M Dy =64,943 kg m 1,4=90,920 kg m
V ux =1,4 V Dx =149,979 kg m1,4=209,970 kg
V uy =1,4 V Dy =86,590 kg m 1,4=121,226 kg
3) 1,2 D + 1,6 (La atau H)+(0,5 L atau 0,8 W)
Untuk momen, Karena momen yang timbul akibat La lebih besar dari H, maka
yang digunakan dalam kombinasi pembebanan adalah momen akibat La.
Sedangkan untuk L atau W, karena L=0 maka yang digunakan adalah momen
akibat W.
M ux=1,2 M Dx +1,6 M Lax +0,8 M Wx
M ux=1,2 ( 112,484 ) +1,6 ( 64,952 )+ 0,8(13,5)=249,704 kg m
M uy=1,2 M Dy +1,6 M Lay +0,8 M Wy
M uy=1,2 ( 64,943 ) +1,6 ( 37,5 ) +0,8( 0)=137,931 kg m
Untuk geser, karena gaya geser yang timbul akibat La lebih besar dari H maka
yang digunakan adalah gaya geser akibat La. Sedangkan untuk L atau W, karena
L=0 maka yang digunakan adalah momen akibat W.
V ux =1,2V Dx +1,6 V Lax +0,8 V Wx
V ux =1,2 ( 149,979 ) +1,6 ( 43,301 )+ 0,8(18)=263,656 kg
V uy =1,2V Dy + 1,6V Lay +0,8 V Wy
V uy =1,2 ( 86,590 )+ 1,6 (25 )+ 0,8(0)=143,908 kg
Page 14

6) 0,9D (1,3 W atau 1,0 E)


Karena tidak terdapat beban gempa maka, yang digunakan adalah momen dan
gaya geser akibat beban angin (W).
M ux=0,9 M Dx +1,3 M Wx
M ux=0,9 ( 112,484 ) +1,3(13,5)=118,785 kg m
M uy=0,9 M Dy +1,3 M Wy
M uy=0,9 (64,943 )+1,3 (0)=58,448 kg m
V ux =0,9 V Dx +1,3 V Wx
V ux =0,9 ( 149,979 )+ 1,3(18)=158,381 kg
V uy =0,9 V Dy +1,3 V Wy
V uy =0,9 ( 86,590 ) +1,3(0)=77,931 kg
Berdasarkan kombinasi pembebanan diatas, momen yang terjadi pada kombinasi 3
memiliki nilai terbesar, maka Mu dan Vu yang digunakan adalah Mu dan Vu pada
kombinasi 3.
Mux = 249,704 kg m
Vux= 263,656 kg
Muy= 137,931 kg m
Vuy= 143,908 kg

Kontrol tahanan lentur dan geser lentur serta lendutan


Kontrol momen lentur
Untuk balok kayu yang terlentur terhadap sumbu kuat dan sumbu lemahnya, maka harus
direncanakan untuk memenuhi ketentuan sebagai berikut :
M ux
M uy
+
1,0
b M 'x b M ' y
d/b = 16/10 = 1,6 ,karena d/b 2 maka tidak diperlukan pengekang lateral
sumbu kuat (x-x)
M ' x =C L . S x . F bx
C L=

1+ b

2 cb

1+ b 2 b

2c b
cb

Page 15

b=

s M e
Iy
M e =2,40 E ' y05
b M x
Ie

E ' y 05=0,69. E ' w


Berdasarkan tabel 2.1 untuk kode kayu E15 , maka Ew = 14000.
Berdasarkan tabel 2.3 untuk kelas mutu kayu B, maka rasio tahanan = 0,63.
Berdasarkan tabel 3.1 dan 3.2 untuk balok kayu dengan luas penampang lebih besarl dari
125 mm x 125 mm dan T38o , maka Cm=1 dan Ct=1
Sedangkan untuk Cpt dan Crt ditetapkan berdasarkan spesifikasi pemasok (dianggap
adalah 1).
E
( w . rasio tahanan).C m .C t . C pt . Crt
E ' w =
E ' w =(14000 0,63)1 1 1 1
E ' w =8820 N/mm2
E' y 05=0,69. E ' w =0,69 8820
E' y 05=6085,8 N /mm2

I y =13333333,333 m m4
Ie
l(panjang gording)=3000 mm

l 3000
=
=18,75
d 160

Berdasarkan tabel 3.3, untuk l/d14,3 maka :


I e=1,63. I u+ 3.d
I e=1,63 3000+3 160=5370 mm

M e =2,40. E ' y 05

Iy
13333333,333
=2,40 6085,8
=36265474,860 N mm
Ie
5370

M x =S x . F bx
S x =426666,667 mm

Berdasarkan tabel 2.1 untuk kode kayu E15 , maka Fb = 32.


Berdasarkan tabel 2.3 untuk kelas mutu kayu B, maka rasio tahanan = 0,63.
Berdasarkan tabel 3.1 dan 3.2 untuk balok kayu dengan luas penampang lebih besar dari
125 mm x 125 mm, T38o dan Fb/CF =32/1, maka Cm=1 dan Ct=1

Page 16

Sedangkan untuk Cpt dan Crt ditetapkan berdasarkan spesifikasi pemasok (dianggap
adalah 1).
F
( b . rasio tahanan). C m . C t .C pt .C rt
F bx =

Fbx =(32 0,63) 11 1 1=20,160 N /mm

M x =S x . F bx =426666,667 20,160=8601600 N mm
Berdasarkan tabel 2.6 dan 2.7 untuk kombinasi pembebanan no 3, maka di dapat:
= 0,80
s = 0,85
b = 0,85
b=

s M e
0,85 36265474,860
=5,270
=
b M x 0,80 0,85 8601600

1+ b
C L=

2 cb

1+ b 2 b 1+5,270
=

2c b
c b 2 0,95

1+5,270
5,270

2 0,95
0,95

C L =0,989
M ' x =C L . S x . F bx =0,989 426666,667 20,160=8503430,775 N mm
'

M x =866,813 kg m

Sumbu lemah (y-y)


'

M y =C L . S y . F by

1+ b 2 b

2c b
cb

C L=

1+ b

2 cb

b=

s M e
Ix
M e =2,40 E ' y 05
b M y
Ie

E ' y 05=0,69. E ' w


Berdasarkan tabel 2.1 untuk kode kayu E15 , maka Ew = 14000.
Berdasarkan tabel 2.3 untuk kelas mutu kayu B, maka rasio tahanan = 0,63.
Berdasarkan tabel 3.1 dan 3.2 untuk balok kayu dengan luas penampang lebih kecil dari
125 mm x 125 mm dan T38o , maka Cm=1 dan Ct=1
Page 17

Sedangkan untuk Cpt dan Crt ditetapkan berdasarkan spesifikasi pemasok (dianggap
adalah 1).
E
( w . rasio tahanan).C m .C t . C pt . Crt
E ' w =
E ' w =(14000 0,63)1 1 1 1
E ' w =8820 N/mm2
E' y 05=0,69. E ' w =0,69 8820
E' y 05=6085,8 N /mm2
I x =34133333,333m m

Ie
l(panjang gording)=3000 mm

l 3000
=
=30
b 100

Berdasarkan tabel 3.3, untuk l/b14,3 maka :


I e=1,63. I u+ 3.b
I e=1,63 3000+3 100=5190 mm

M e =2,40. E ' y 05

Ix
34133333,333
=2,40 6085,8
=96059486,705 N mm
Ie
5190

M y =S y . F by
S y =266666,667 mm3
Berdasarkan tabel 2.1 untuk kode kayu E15 , maka Fb = 32.
Berdasarkan tabel 2.3 untuk kelas mutu kayu B, maka rasio tahanan = 0,63.
Berdasarkan tabel 3.1 dan 3.2 untuk balok kayu dengan luas penampang lebih kecil dari
125 mm x 125 mm, T38o dan Fb/CF =32/1, maka Cm=1 dan Ct=1
Sedangkan untuk Cpt dan Crt ditetapkan berdasarkan spesifikasi pemasok (dianggap
adalah 1).
F
( b . rasio tahanan). C m . C t .C pt .C rt
F by =
Fby =(32 0,63) 1 11 1=20,160 N /mm2

Page 18

M y =S y . F by=266666,667 20,160=5376000 N mm
Berdasarkan tabel 2.6 dan 2.7 untuk kombinasi pembebanan no 3, maka di dapat:
= 0,80
s = 0,85
b = 0,85
b=

s M e
0,85 96059486,705
=22,335
=
b M y 0,80 0,85 5376000

C L=

1+ b

2 cb

1+ b 2 b 1+22,335
=

2c b
cb
2 0,95

1+22,335
22,335

2 0,95
0,95

C L =0,998
M ' y =C L . S y . Fby=0,998 266666,667 20,160=5363461,210 N mm
M ' y =546,734 kg m
M ux
M uy
M ux
M uy
+
1,0
+
b M 'x b M ' y
b M 'x b M ' y

249,704
137,931
+
0,80 0,85 866,813 0,80 0,85 546,734
0,424+0,371=0,795

Berarti telah memenuhi syarat

M ux
M uy
+
1,0
b M 'x b M ' y

Gording tersebut tahan terhadap momen lentur


Kontrol geser lentur
V ' ux v V ' dan V 'uy v V '
2
V '= . F ' v . b . d
3
Berdasarkan tabel 2.1 untuk kode kayu E15 , maka Fv = 5,1.
Berdasarkan tabel 2.3 untuk kelas mutu kayu B, maka rasio tahanan = 0,63.
Page 19

Berdasarkan tabel 3.1 dan 3.2 untuk balok kayu dengan luas penampang lebih kecil dari
125 mm x 125 mm, T38o dan Fb/CF =32/1, maka Cm=1 dan Ct=1
Sedangkan untuk Cpt dan Crt ditetapkan berdasarkan spesifikasi pemasok (dianggap
adalah 1).
F ' v =F v . rasio tahanan .C m . Ct . C pt . C rt
F ' v =(5,1 0,63)1 1 1 1=3,213 N /m m2
2
2
V ' = . F ' v . b . d= . 3,8024 100 160=34272 N =3493,578 Kg
3
3
Berdasarkan tabel 2.6 dan 2.7 untuk kombinasi pembebanan no 3, maka di dapat:
= 0,80
v = 0,85
v V ' =0,8 0,85 3493,578 Kg=2096,147 kg
V ux v V '
263,656 kg 2096,147 kg
V uy v V

'

143,908 2096,147 kg

Struktur tersebut aman terhadap geser lentur


Kontrol lendutan
Lendutan struktur bangunan akibat berat sendiri dan muatan tetap dibatasi
untuk gording , f max 1/200.l
f max= f x 2 +f y 2
Berat sendiri dan muatan tetap adalah beban mati :
q Dy =99,986 kg /m
q Dx =57,727 kg /m
'

E w =8820 N /m m =889082568,807 kg /m

I x =34133333,333 mm4 =0,000034133 m4


4

I y =13333333,333 mm =0,000013333m

Page 20

l=3 m

q y .l 4
5
5
99,986 3 4
f x=

384 E' w . I x
384 889082568,807 0,000034133

)(

f x =0,00347 m
q x .l 4
5
f y=

384 E' w . I y

5
57,727 3 4

384 889082568,807 0,000013333

f y =0,00514 m
f max= f x 2 +f y 2= 0,00347 2+ 0,00 5142= 0,00003=0,006 m

1
1
.l=
3=0,015 m
200
200
f max 1/200. l
0,006 0,015
Jadi struktur tersebut aman terhadap lendutan
Page 21

Bab III

PERENCANAAN KUDA-KUDA
Pembebanan pada kuda-kuda:
Beban mati ( D )
Berdasarkan Peraturan pembebanan Indonesia untuk Gedung, berat bahan untuk atap dari
genteng dengan reng dan rusuk = 50 kg/m2, Berat eternit (dengan ketebalan maksimum 4
mm) = 11 kg/m2 dan berat penggantung = 7 kg/m2. Dimensi gording yang digunakan
diasumsikan adalah 8/12
Beban genteng dengan reng dan rusuk yang bekerja pada gording :
PDa =50 kg/m 2 jarak antar gording jarak antar kudakuda
2

PDa =50 kg/m 2 m3 m=300 kg

PDa3
PDa3

PDa3
PDa3

PDa3
PDa3

PDa3
PDa2

PDa2
PDa1

PDa1

Beban gording = 5,779 kg/m


PDb =q gording jarak antar kudakuda
PDb =5,779 kg/m 3 m=17,337 kg

PDb

PDb

PDb
PDb

PDb
PDb

PDb
PDb

PDb
PDb

PDb
Page 22

Berat kuda-kuda:
P
Q

M
L

T
A

Titik simpul atas : A, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T


Titik simpul bawah : B, C, D, E, F, G, H, I, J

12 cm

8 cm

Pkudakuda= Luas penampang kudakuda panjang batang kudakuda

Luas penampang kudakuda=802,7 kg /m 3 (0,08 m 0,12 m)


7,70592kg /m

LKudakuda=1/2( jumlah panjang batang yang di pikul oleh titik buhul)


Berat sambungan dianggap 10% dari berat kuda-kuda.

Page 23

PDc11
PDc10

PDc10

PDc9

PDc9
PDc8

PDc8
PDc7
PDc1

PDc7
PDc1

PDc2

PDc3

PDc4

PDc5

PDc6

PDc5

PDc4

PDc3

PDc2

PDd3

PDd2

Berat plafon dan penggantung :


Berat plafon dan penggantung=( 11+7 ) =18 kg/m 2
PDd =18 kg /mm2 jarak titik buhul bawah jarak antar kudakuda
PDd =18 kg /m2 1,67 m 3 m=90,18 kg

PDd2
PDd1

PDd3

PDd3

24
PDd3 Page
PDd3

PDd3

PDd3

PDd1

Beban mati pada titik A dan G:

Beban mati pada titik simpul atas :

Beban mati pada titik simpul bawah :


PDc
PDd
PD=(PDc+ PDd)
(kg)
(kg)
(kg)
17,494
75,87
93,362
35,290
93,42
128,710
43,092
93,42
136,512
52,118
93,42
145,538
82,104
93,42
175,524
52,118
93,42
145,538
43,092
93,42
136,512
35,290
93,42
128,710
17,494
75,87
93,362

Titik
simpul
B
C
D
E
F
G
H
I
J

Nama
beban
PD12
PD13
PD14
PD15
PD16
PD17
PD18
PD19
PD20

PD6
PD7

PD5

PD8

PD4
PD3

PD9
P10

PD2
PD1

PD11

Page 25
PD12

PD13

PD14

PD15

PD16

PD17

PD18

PD19

PD20

Beban Hidup di atap ( La )


Berdasarkan Peraturan pembebanan Indonesia untuk Gedung, beban hidup terpusat pada
atap adalah 100 kg. PL = 100 kg

PLa
PLa

PLa

PLa

PLa
PLa

PLa
PLa

PLa
PLa

PLa

Beban Hujan ( H )
2
Beban merata untuk air hujan = W ah=400,8 =400,8 ( 30 )=16 kg /m

PH =W ah jarak antar gording jarak antar kudakuda


PH 1=16 kg /m2 1,38 m 3 m=66,24 kg
PH 2=16 kg / m2 1,62 m 3 m=77,76 kg
PH 3=16 kg/ m2 2 m3 m=96 kg

PH3
PH3

PH3

PH3

PH3
PH3

PH3
PH2

PH2
PH1

PH1

Page 26

Beban angin ( W )
Karena bangunan tersebut jauh dari pantai, berdasarkan Peraturan pembebanan Indonesia
untuk Gedung, tekanan tiup minimumnya adalah 25 kg/m2.
Jika diasumsikan:
tekanan angin adalah (W) 30 kg/m2.
C bangunan tertutup
+0,02 - 0,4
-0,4

+0,9

bid//angin

-0,4

65o
Koefisien angin tekan=C=0,02 0,4=0,02 ( 30 ) 0,4=0,2
Koefisien angin hisap = 0,4
Beban angin terbagi ke dua arah:
Pw-tekan-y
Pw-tekan

Pw-hisap-y
Pw-hisap

Pw-tekan-x

Pw-hisap-x

Angin tekan

Angin hisap

angintekan : C W =0,2 30 kg /m2=6 kg /m2


PWtekan=angintekan Jarak antar gording jarak antar kudakuda
Nama
Beban

Pw-tekan
(kg)

Sumbu x

Sumbu y

PW-tekan-x = Pw-tekan . sin 300

PW-tekan-y = Pw-tekan . cos 300

(kg)

(kg)

Pw1-tekan
Pw2-tekan
Pw3-tekan

11,16
29,16
36

9,66
25,25
31,18

5,58
14,58
18,00

anginhisap : C W =0,4 30 kg/m2=12 kg


PW 2=angin hisap Jarak antar gording jarak antar kudakuda
2

12 kg / m 2 m 3 m=72 kg
Nama
Beban

Pw-hisap
(kg)

Sumbu x

Sumbu y

PW-hisap-x = Pw-hisap . sin 300

PW-hisap-y = Pw-hisap . cos 300

(kg)

(kg)

Page 27

-22,32
-58,32
-72

Pw1-hisap
Pw2-hisap
Pw3-hiap

-19,33
-50,51
-62,35

-11,16
-29,16
-36,00

Angin tiup kanan :


Pw3-tekan-y
Pw3-hisap-y
Pw3-tekan-y
Pw3-hisap-x Pw3-tekan-x
Pw3-tekan-y
Pw3-hisap-y
Pw3-hisap-x
Pw3-tekan-x
Pw3-hisap-y
Pw3-tekan-y
Pw3-hisap-y
Pw3-hisap-x
Pw3-tekan-x
Pw2-tekan-y
Pw2-hisap-y
Pw3-hisap-x
Pw1-tekan-y
Pw1-hisap-y
Pw3-tekan-x
Pw2-hisap-x

Pw2-tekan-x
Pw1-tekan-x

Pw1-hisap-x

Angin tiup kiri :


Pw3-tekan-y
Pw3-tekan-y
Pw3-hisap-y
Pw3-tekan-xPw3-hisap-x
Pw3-hisap-y
Pw3-tekan-y
Pw3-tekan-x
Pw3-hisap-y
Pw3-hisap-x
Pw3-hisap-y
Pw3-tekan-y
Pw3-tekan-x
Pw3-hisap-x
Pw2-hisap-y
Pw2-tekan-y
Pw3-tekan-x
Pw1-hisap-y
Pw1-tekan-y
Pw3-hisap-x
Pw2-hisap-x
Pw1-hisap-x

Pw2-tekan-x
Pw1-tekan-x

Kombinasi Pembebanan

1,4 PD
P
1
2
3
4
5
6
7

PD
(kg)

P = 1,4PD
(kg)

247,991
318,429
387,107
396,133
405,670
390,320
405,670

347,188
445,800
541,949
554,586
567,937
546,447
567,937
Page 28

8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

396,133
387,107
318,429
247,991
93,362
128,710
136,512
145,538
175,524
145,538
136,512
128,710
93,362

554,586
541,949
445,800
347,188
130,707
180,193
191,117
203,754
245,734
203,754
191,117
180,193
130,707

1,2 D + 1,6 (La atau H)+(0,5 L atau 0,8 W)


Pada bagian titik buhul bawah beban yang bekerja pada perencanaan ini adalah
hanya akibat beban mati saja. Sehingga pada bagian titik buhul bawah kombinasi
yang di gunakan adalah kombinasi 1 saja.
Karena, La lebih besar dari H, maka yang digunakan dalam kombinasi pembebanan
adalah La.
Karena L tidak ada maka yang digunakan adalah beban akibat W.
PW-y adalah besar gaya akibat angin yang searah sumbu y (baik angin hisap maupun
angin tekan).
Akibat angin tiup kiri:
PD
PLa
PW-y
P=1,2PD+1,6PH+0,8Pw-y
P
(kg)
(kg)
(kg)
(kg)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

247,991
318,429
387,107
396,133
405,670
390,320
405,670
396,133
387,107
318,429
247,991
93,362
128,710
136,512
145,538
175,524
145,538
136,512
128,710
93,362

100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
-

Akibat angin tiup kanan:


PD
PLa
P
(kg)
(kg)
1

247,991

100

5,58
14,58
18,00
18,00
18,00
-18,00
-36,00
-36,00
-36,00
-29,16
-11,16
-

462,053
553,778
638,928
649,760
661,203
613,983
618,003
606,560
595,728
518,786
448,661
112,034
154,452
163,815
174,646
210,629
174,646
163,815
154,452
112,034

PW-y
(kg)

P=1,2PD+1,6PH+0,8Pw-y
(kg)

-11,16

448,661

Page 29

2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

318,429
387,107
396,133
405,670
390,320
405,670
396,133
387,107
318,429
247,991
93,362
128,710
136,512
145,538
175,524
145,538
136,512
128,710
93,362

100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
-

-29,16
-36,00
-36,00
-36,00
-18,00
18,00
18,00
18,00
14,58
5,58
-

518,786
595,728
606,560
618,003
613,983
661,203
649,760
638,928
553,778
462,053
112,034
154,452
163,815
174,646
210,629
174,646
163,815
154,452
112,034

0,9D (1,3 W atau 1,0 E)


Karena E tidak ada maka yang digunakan adalah beban W. Dan karena angin hisap
negatif, maka yang digunakan adalah Pw akibat angin tekan saja.
PW-y adalah besar gaya akibat angin yang searah sumbu y (baik angin hisap maupun
angin tekan).
Akibat angin tiup kiri :
PD
PW-y
P
(kg)
(kg)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

247,991
318,429
387,107
396,133
405,670
390,320
405,670
396,133
387,107
318,429
247,991
93,362
128,710
136,512
145,538
175,524
145,538
136,512
128,710
93,362

5,58
14,58
18,00
18,00
18,00
-18,00
-36,00
-36,00
-36,00
-29,16
-11,16
-

P=0,9PD+1,3Pw-y
(kg)
230,446
305,540
371,796
379,920
388,503
351,288
318,303
309,720
301,596
248,678
208,684
84,026
115,839
122,861
130,985
157,972
130,985
122,861
115,839
84,026

Page 30

Akibat angin tiup kanan :


PD
PW-y
P
(kg)
(kg)

P
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1
0
1
1

P=0,9PD+1,3Pw-y
(kg)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

247,991
318,429
387,107
396,133
405,670
390,320
405,670
396,133
387,107
318,429
247,991
93,362
128,710
136,512
145,538
175,524
145,538

5,58
14,58
18,00
18,00
18,00
-18,00
-36,00
-36,00
-36,00
-29,16
-11,16
-

208,684
248,678
301,596
309,720
318,303
351,288
388,503
379,920
371,796
305,540
230,446
84,026
115,839
122,861
130,985
157,972
130,985

PD
(kg)

PW-y
(kg)

P=0,9PD+1,3Pw-y
(kg)

18
19
20

136,512
128,710
93,362

122,861
115,839
84,026

1
347,18
8
445,80
0
541,94
9
554,58
6
567,93
7
546,44
7
567,93
7
554,58
6
541,94
9
445,80
0
347,18
8

3-a.tiup_kiri

Kombinasi
3-a.tiup_kanan 6-a.tiup_kiri

6-a.tiup_kanan

462,053

448,661

230,446

208,684

553,778

518,786

305,540

248,678

638,928

595,728

371,796

301,596

649,760

606,560

379,920

309,720

661,203

618,003

388,503

318,303

613,983

613,983

351,288

351,288

618,003

661,203

318,303

388,503

606,560

649,760

309,720

379,920

595,728

638,928

301,596

371,796

518,786

553,778

248,678

305,540

448,661

462,053

208,684

230,446

Page 31

1
2
1
3
1
4
1
5
1
6
1
7
1
8
1
9
2
0

130,70
7
180,19
3
191,11
7
203,75
4
245,73
4
203,75
4
191,11
7
180,19
3
130,70
7
7118,6
45

112,034

112,034

84,026

84,026

154,452

154,452

115,839

115,839

163,815

163,815

122,861

122,861

174,646

174,646

130,985

130,985

210,629

210,629

157,972

157,972

174,646

174,646

130,985

130,985

163,815

163,815

122,861

122,861

154,452

154,452

115,839

115,839

112,034

112,034

84,026

84,026

7787,968

7787,968

4479,864

4479,864

Dari perbandingan jumlah beban dari kombinasi pada tabel di atas, beban yang paling
besar terdapat pada kombinasi ke 3. Sehingga P yang di gunakan adalah P pada
kombinasi ke 3.
P6
P5
P7
Pw3-tekan-xPw3-hisap-x

P4
Pw3-tekan-x

P8

Pw3-hisap-x

P3
Pw3-tekan-x

P9

Pw3-hisap-x
P10

P2
P1 Pw3-tekan-x

P11
Pw3-hisap-x
Pw2-hisap-x
Pw1-hisap-x

Pw2-tekan-x
Pw1-tekan-x
P12

P13

P14

P15

P16
P6

P17

P18

P19

P20

Gambar pembebanan
3-a.tiup kiri :
P5 akibat kombinasi
P7
Pw3-hisap-x Pw3-tekan-x
P4
Pw3-hisap-x

P8

Pw3-tekan-x

P3
Pw3-hisap-x

P9

Pw3-tekan-x
P10

P2
P1 Pw3-hisap-x

P11
Pw3-tekan-x

Pw2-hisap-x

Pw2-tekan-x
Pw1-tekan-x

Pw1-hisap-x

Page 32
P12

P13

P14

P15

P16

P17

P18

P19

P20

Gambar pembebanan akibat kombo3-a.tiup kanan

Perhitungan gaya dalam :


15

16
17

14
13
12
11
1

21

22
2

23

24
3

28
26

25
4

29
30

27
5

18

31
33

32

19
34

35

20
36 37
9
10

L = 16 m
Jumlah batang (m) = 37
Jumlah titik buhul (j) = 20
jika m=2. j3 , maka rangka batang tersebut termasuk rangka batang statis tertentu
dalam.
37= ( 2 20 )3 37=37

(statis tertentu dalam)

Perhitungan untuk kombinasi 3 dengan angin tiup kiri.


P6

P5
P7
Pw3-tekan-xPw3-hisap-x

P4
Pw3-tekan-x

P8

Pw3-hisap-x

P9
Pw3-hisap-xP10

P3
Pw3-tekan-x

P2
P1 Pw3-tekan-x

P11
Pw3-hisap-x
Pw2-hisap-x
Pw1-hisap-x

Pw2-tekan-x
Pw1-tekan-x
Ah
Av

P12

P13

P14

P15

P16

Reaksi perletakan :
MK =0

P17

P18

P19

P20

Kv

Av .16P 1 .16( P2+ P 12 ) .14,92( P3 + P13 ) .13,19( P 4 + P14 ) .11,46 ( P5+ P 15) .9,73
( P 6+ P 16 ) .8( P7 + P17 ) .6,27( P8 + P18 ) .4,54( P9 + P19 ) .2,81( P10+ P 20) .1,08=0

Page 33

Av =

63101,44 kg m
=3943,84 kg ()
16 m

V =0
A v + K v P=0
K v = P A v =7787,9683943,84=3844,128 kg ()
H =0
P
P
( w 3hisapx) 4=0
( w 3tekanx)4 + Pw 1hisapx + Pw 2hisap x +
A h+ P w 1tekan x + P w2tekan x +
A h + 478,88 kg=0
A h=478,88 kg ()
Perhitungan gaya-gaya dalam :
Diasumsikan s11 dan s1 adalah batang tarik

P1
Pw1-tekan-x
Ah

V =0

S11

A v P 1+ s 11. sin=0
S1

Av

s 11=

A v + P1 3943,84+ 462,053
=
=6963,58 kg
sin
0,5

Asumsi salah, s11 adalah batang tekan

H =0
s 1 Ah + Pw 1tekanx s 11. cos =0
s 1= AhP w 1tekan x + s 11. cos =478,889,66+6058,31
s 1=6527,53 kg
Sin = 0,62/1,24= 0,5
Cos = 1,08/1,24= 0,87

asumsi benar, s1 adalah batang tarik

Diasumsikan s21 dan s2 adalah batang tarik

V =0

S21
S1

S2

s 21P12=0
s 21=P12 =112,04 kg

P12

Page 34

H =0
s 2s 1=0
s 1=s 2=6527,53 kg
Asumsi benar, s21 dan s2 adalah batang tarik
Diasumsikan s12 dan s22 adalah batang tarik
P2

s 11. sin 1s 21P 2+ s 12. sin 2 s 22. c os=0

Pw2-tekan-x 2

s 12.sin 2s 22. cos=s 11. sin 1 +s 21+ P2 =2815,97 ............p

S11

V =0

S12

S21

S22 ers1

H =0
s 11. cos 1+ s 22. sin + s 12. cos 2+ P w 2tekan x =0
s 12.cos 2 + s 22. sin=s 11. cos 1Pw 2tekanx =6083,56 ......pers2
s 12.sin 2s 22. cos=2815,97

x sin = 0,94

s 12.cos 2 + s 22. sin=6083,56


Sin 1 = 0,62/1,24 = 0,5

x cos = 0,34

Cos 1 = 1,08/1,24 = 0,87

s 12.0,47s 22.0,3196=2647,02

Sin 2 = 1/2 = 0,5

s 12.0,30+ s 22.0,3196=2068,41

Cos 2 = 1,73/2 = 0,87

s 12.0,77=4715,43

Sin = 1,73/1,84 = 0,94

s 12=

Cos = 0,62/1,84 = 0,34

4715,43
=6157,52 kg
0,77

Asumsi salah, s12 adalah batang tekan

H =0
s 11. cos 1+ s 22. sin s 12. cos 2 + Pw 2tekanx =0
s 22. sin=s 11. cos 1Pw 2tekanx +s 12.cos 2=726,52
s 22=

726,52 726,52
=
=772,90
sin
0,94

Asumsi salah, s22 adalah batang tekan


Diasumsikan s23 dan s3 adalah batang tarik
S23
S22

V =0

S2

P13

S3

Page 35

s 23P13 s 22. sin =0


s 23=P13 +s 22. sin=154,452+772,90.0,34=417,24 kg
H =0
s 3+s 22.coss 2=0
s 3=s 2s 22. cos=6527,53726,526=5801,01 kg
Asumsi benar, s23 dan s3 adalah batang tarik
Sin = 0,62/1,84 = 0,34
Cos = 1,73/1,84 = 0,94

Diasumsikan s13 dan s24 adalah batang tarik


P3

S13

s 12.sin 1s 23P3 + s 13. sin 2s 24. cos=0

Pw3-tekan-x 2

s 13.sin 2s 24. cos=s 12. sin 1+ s 23+ P3 =2022,60 ............p

S12

S23

V =0

S24

ers1

H =0
s 12.cos 1 + s 24. sin + s 13.cos 2 + Pw 3tekanx =0
s 13.cos 2 + s 24. sin=s 12. cos 1 P w 3tekanx =5388,23 ......pers2
s 13.sin 2s 24. cos=2022,60
s 13.cos 2 + s 24. sin=5388,23
Sin 1 =1/2 = 0,5
Cos 1 = 1,73/2 = 0,87

s 13.0,37s 24.0,5037=1476,45

Sin 2 = 1/2 = 0,5

s 13.0,60+ s 24.0,5037=3717,88

Cos 2 = 1,73/2 = 0,87

s 13.0,97=5194,33

Sin = 1,73/2,37 = 0,73


Cos = 1,62/2,37 = 0,69

s 13=

5194,33
=5381,09 kg
0,97

Asumsi salah, s13 adalah batang tekan

H =0

Page 36

x sin = 0,73
x cos = 0,69

s 12.cos 1 + s 24. sins 13. cos 2+ P w 3tekan x =0


s 24. sin=s 12.cos 1P w3 tekan x + s 13. cos 2=706,68
s 24=

706,68 706,68
=
=968,04 kg
sin
0,73

Asumsi salah, s24 adalah batang tekan

Diasumsikan s25 dan s4 adalah batang tarik


V =0
S25

S24

s 25P14s 24. sin =0


S3

S4

P14

s 25=P14 + s 24. sin=163,82+ 968,04.0,69=831,77 kg


H =0

s 4+ s 24. coss 3=0


s 4=s 3s 24. cos=5801,01706,67=5094,34 kg
Asumsi benar, s25 dan s4 adalah batang tarik
Sin = 1,62/2,37 = 0,69
Cos = 1,73/2,37 = 0,73
Diasumsikan s14 dan s26 adalah batang tarik
P4
Pw3-tekan-x 2

S13

S25

V =0

S14

s 13.sin 1s 25P 4 +s 14. sin 2s 26. cos=0


s 14.sin 2s 26. cos=s 13. sin 1+ s 25+ P 4=1209,02 ............p
S26 ers1

H =0
s 13.cos 1 + s 26. sin + s 14.cos 2 + Pw 3tekanx =0
s 14.cos 2 + s 26. sin=s 13. cos 1 P w 3tekanx =4712,73 ......pers2
s 14.sin 2s 26. cos=1209,02

x sin = 0,55

s 14.cos 2 + s 26. sin=4712,73


Sin 1 =1/2 = 0,5
Cos 1 = 1,73/2 = 0,87

x cos = 0,84

s 14.0,275s 26.0,462=664,97

Page 37

Sin 2 = 1/2 = 0,5

s 14.0,731+ s 26.0,462=3958,70

Cos 2 = 1,73/2 = 0,87

s 14.1,006=4596,10

Sin = 1,73/3,14 = 0,55

s 14=

Cos = 2,62/3,14 = 0,84

4596,10
=4568,69 kg
1,006

Asumsi salah, s14 adalah batang tekan

H =0

s 13.cos 1 + s 26. sins 14. cos 2+ P w 3tekan x =0


s 26. sin=s 13.cos 1P w3 tekan x + s 14. cos 2=737,968
s 26=

737,968 737,968
=
=1341,76 kg
sin
0,55

Asumsi salah, s26 adalah batang tekan


Diasumsikan s27 dan s5 adalah batang tarik

V =0

S27

S26

s 27P15s 26. sin =0


S4

S5

s 27=P15 + s 26. sin=174,646+ 1127,08=1301,72 kg


H =0

P15

s 5+s 26. coss 4=0


s 5=s 4s 26. cos=5094,34737,97=4356,37 kg
Asumsi benar s27 dan s5 adalah batang tarik
Sin = 2,62/3,14 = 0,84
Cos = 1,73/3,14 = 0,55

Diasumsikan s15 dan s28 adalah batang tarik


P5
Pw3-tekan-x 2

S14

S27

V =0

S15

s 14.sin 1s 27P 5+ s 15. sin 2 s 28. cos=0


s 15.sin 2s 28. cos=s 14. sin 1+ s 27+ P5 =321,442 ............p
S28 ers1

Page 38

H =0
s 14.cos 1 + s 28. sin + s 15.cos 2 + Pw 3tekanx =0
s 15.cos 2 + s 28. sin=s 14. cos 1 P w 3tekanx =4005,94 ......pers2
s 15.sin 2s 28. cos=321,442

x sin = 0,44

s 15.cos 2 +s 28. sin=4005,94


Sin 1 =1/2 = 0,5

x cos = 0,90

Cos 1 = 1,73/2 = 0,87

s 15.0,22s 28.0,4356=141,43

Sin 2 = 1/2 = 0,5

s 15.0,783+ s 28.0,4356=4005,94

Cos 2 = 1,73/2 = 0,87

s 15.1,003=4147,37

Sin = 1,73/4,01 = 0,44

s 15=

Cos = 3,62/4,01 = 0,90

4147,37
=4134,97 kg
1,003

Asumsi salah, s15 adalah batang tekan

H =0
s 14.cos 1 + s 28. sins 15. cos 2+ P w 3tekan x =0
s 28. sin=s 14.cos 1P w3 tekan x + s 15. cos 2=408,52
s 28=

408,52 408,52
=
=928,45 kg
sin
0,44

Asumsi salah, s28 adalah batang tekan


Diasumsikan s29 dan s16 adalah batang tarik

H =0

P6
Pw3-hisap-x
Pw3-tekan-x

s 15.cos 1 + Pw 3tekanx + Pw 3hisap x + s 16. cos 2=0


s 16.cos 2=s 15. cos 1 P w 3tekanx Pw 3hisap x =3690,97

2 S16

S15 1

S29

s 16=

3690,97 3690,97
=
=4242,50 kg
cos 2
0,87

Asumsi salah, s16 adalah batang tekan

V =0
s 15.sin 1+ s 16. sin 2P6s 29=0
s 29=s 15. cos 1 + s 16. cos 2P6=3574,76
Asumsi benar, s29 adalah batang tarik
Sin 1 =1/2 = 0,5

Page 39

Cos 1 = 1,73/2 = 0,87


Sin 2 = 1/2 = 0,5
Cos 2 = 1,73/2 = 0,87
Diasumsikan s20 dan s10 adalah batang tarik
S20

V =0

P11

K v P11 + s 20. sin 1=0


S10

Pw1-hisap-x

s 20=
Kv

K v + P 11 3844,128+ 448,661
=
=6790,94 kg
sin
0,5

Asumsi salah, s20 adalah batang tekan

H =0
s 10+ Pw 1hisap x + s 20. cos 1=0
s 10=Pw 1hisap x + s 20. cos 1=19,33+5908,12=5970,48

kg

asumsi benar, s10 adalah batang tarik


Sin 1 = 0,62/1,24= 0,5
Cos 1= 1,08/1,24= 0,87
Diasumsikan s9 dan s37 adalah batang tarik

V =0

S37

s 37P20=0
S9

S10

s 37=P20=112,04 kg

P20

H =0

s 9+ s 10=0
s 9=s 10=5970,48 kg
Asumsi benar, s21 dan s2 adalah batang tarik
Diasumsikan s19 dan s36 adalah batang tarik

V =0

P10
S19

s 20.sin 1s 37P 10+ s 19. sin 2s 36. cos=0


Pw2-hisap-x

S36

S37

1 S20

s 19.sin 2s 36. cos=s 20. sin 1+ s 37+ P10 =2764,65 ............pe


rs1

H =0
s 20. cos 1s 36. sins 19. cos 2+ P w 2hisapx =0
s 19.cos 2 + s 36. sin=s 20. cos 1 + Pw 2hisap x =5857,61 ......pers2
Page 40

s 19.sin 2s 36. cos=2764,65

x sin = 0,94

s 19.cos 2 + s 36. sin=5857,61


Sin 1 = 0,62/1,24 = 0,5

x cos = 0,34

Cos 1 = 1,08/1,24 = 0,87

s 19.0,47s 36.0,3196=2598,77

Sin 2 = 1/2 = 0,5

s 19.0,30+ s 36.0,3196=1991,59

Cos 2 = 1,73/2 = 0,87

s 19.0,77=4590,36

Sin = 1,73/1,84 = 0,94

s 19=

Cos = 0,62/1,84 = 0,34

4590,36
=5961,51kg
0,77

Asumsi salah, s19 adalah batang tekan

H =0
s 20. cos 1s 36. sin + s 19.cos 2 + Pw 2hisap x =0
s 36. sin=s 20.cos 1 + s 19. cos 2 + Pw 2hisap x =671,10
s 36=

671,10 671,10
=
=713,94 kg
sin
0,94

Asumsi salah, s36 adalah batang tekan


Diasumsikan s8 dan s35 adalah batang tarik
S35
S8

V =0

S36
S9

s 35P19s 36. sin =0


s 35=P19 +s 36. sin=154,452+713,94.0,34=397,20 kg

P19

H =0

s 8s 36.cos + s 9=0

s 8=s 9s 36.cos =5970,48671,11=5299,37 kg


Asumsi benar, s35 dan s8 adalah batang tarik
Sin = 0,62/1,84 = 0,34
Cos = 1,73/1,84 = 0,94
Diasumsikan s18 dan s34 adalah batang tarik

V =0

P9
S18

s 19.sin 1s 35P 9+ s 18. sin 2 s 34. cos=0


Pw3-hisap-x

S34

S35

1 S19

s 18.sin 2s 34. cos =s 19. sin 1 + s 35+ P9 =1987,83 ............per


s1

Page 41

H =0
s 19. cos 1s 34. sins 18. cos 2+ P w3 hisapx =0
s 18.cos 2 + s 34.sin =s 19.cos 1 + Pw 3hisap x =5125,16 ......pers2
s 18.sin 2s 34. cos=1987,83
s 18.cos 2 + s 34. sin=5125,16
Sin 1 = 1/2 = 0,5
Cos 1 = 1,73/2 = 0,87

s 18.0,37s 34.0,3196=1451,12

Sin 2 = 1/2 = 0,5

s 18.0,60+ s 34.0,3196=3536,36

Cos 2 = 1,73/2 = 0,87

s 18.0,97=4987,48

x sin = 0,73
x cos = 0,69

Sin = 1,73/2,37 = 0,73

s 18=

Cos = 1,62/2,37 = 0,69

4987,48
=5141,74 kg
0,97

Asumsi salah, s18 adalah batang tekan

H =0
s 19. cos 1s 34. sin +s 18.cos 2 + Pw 3hisap x =0
s 34. sin=s 19.cos 1 + s 18.cos 2 + Pw 3hisap x =646,63
s 34=

646,63 646,63
=
=885,80 kg
sin
0,73

Asumsi salah, s34 adalah batang tekan


Diasumsikan s7 dan s33 adalah batang tarik
S33
S7

H =0

V =0

S34
S8

s 33P18s 34. sin =0


s 33=P18 +s 34. sin=163,815+885,80.0,69=775,02 kg

P18

s 7s 34.cos + s 8=0

s 7=s 8s 34.cos=5299,37885,80.0,73=4582,74 kg
Asumsi benar, s33 dan s7 adalah batang tarik
Sin = 1,62/2,37 = 0,69
Cos = 1,73/2,37 = 0,73
Diasumsikan s17 dan s32 adalah batang tarik

Page 42

V =0

P8
S17

s 18.sin 1s 33P 9+ s 17. sin 2 s 32. cos=0


Pw3-hisap-x

s 17.sin 2s 32. cos =s 18. sin 1 + s 33+ P8 =1189,29 ............per

S32

S33

s1

1 S18

H =0
s 18. cos 1s 32. sins 17. cos 2+ P w3 hisapx =0
s 17.cos 2 + s 32. sin=s 18.cos 1 + Pw 3hisap x =4411,96 ......pers2
s 17.sin 2s 32. cos=1189,29

x sin = 0,55

s 17.cos 2 + s 32. sin=4411,96


Sin 1 = 1/2 = 0,5

x cos = 0,84

Cos 1 = 1,73/2 = 0,87

s 17.0,275s 32.0,3196=654,12

Sin 2 = 1/2 = 0,5

s 17.0,731+ s 32.0,3196=3706,05

Cos 2 = 1,73/2 = 0,87

s 17.1,006=4360,17

Sin = 1,73/3,14 = 0,55

s 17=

Cos = 2,62/3,14 = 0,84

4360,17
=4334,17 kg
1,006

Asumsi salah, s17 adalah batang tekan

H =0
s 18. cos 1s 32. sin +s 17.cos 2 + Pw 3hisap x =0
s 32. sin=s 18.cos 1 + s 17.cos 2 + Pw 3hisap x =641,24
s 32=

641,24 641,24
=
=1165,90 kg
sin
0,55

Asumsi salah, s32 adalah batang tekan

Diasumsikan s6 dan s31 adalah batang tarik


S31
S6

H =0

V =0

S32
S7

s 31P17s 32. sin=0


s 31=P17+ s 32. sin=174,646+1165,90.0,84=1154,01 kg

P17

s 6s 32. cos+ s 7=0


Page 43

s 6=s 7s 32.cos=4582,74641,25=3941,50 kg
Asumsi benar, s31 dan s6 adalah batang tarik
Sin = 2,62/3,14 = 0,84
Cos = 1,73/3,14 = 0,55
Diasumsikan s30 adalah batang tarik
P7
S16

V =0

s 17.sin 1s 31P7s 16. sin 2s 30.cos=0


Pw3-hisap-x

s 30.cos=s 17. sin 1s 31P7s 16. sin 2=1726,18 kg

S30

S31

1 S17

Asumsi salah, s30 adalah batang tekan.

Perhitungan untuk kombinasi 3 dengan angin tiup kanan.


P6
P7
P5
Pw3-tekan-xPw3-hisap-x

P8
Pw3-tekan-x

P4

Pw3-hisap-x

P9
Pw3-tekan-x

P3

Pw3-hisap-x
P2

P10
P11Pw3-tekan-x

P1
Pw3-hisap-x

Pw2-tekan-x

Pw2-hisap-x
Pw1-hisap-x

Pw1-tekan-x

Ah
Kv

P20

P19

P18

P17

P16

P15

P14

P13

P12
Av

Reaksi perletakan :
MA=0
Kv .16P 11 .16( P20 + P10 ) .14,92( P9 + P19 ) .13,19( P8 + P18 ) .11,46( P7 + P17 ) .9,73
( P 6+ P 16 ) .8( P5 + P15 ) .6,27( P4 + P 14) .4,54( P3 + P13 ) .2,81( P2 + P12 ) .1,08=0
Kv=

63101,44 kg m
=3943,84 kg ()
16 m

V =0

Page 44

A v + K v P=0
A v =P K v =7787,9683943,84=3844,128 kg ()
H =0
P
P
( w 3hisapx) 4=0
( w 3tekanx)4 + Pw 1hisapx + Pw 2hisap x +
Ah + P w1tekan x + Pw 2tekan x +
A h+ 478,88 kg=0
A h=478,88 kg ()
Perhitungan gaya-gaya dalam :
Diasumsikan s11 dan s1 adalah batang tarik

P11

V =0

S20

K v P11 + s 20. sin=0

Pw1-tekan-x
S10

Kv

s 20=

K v + P 1 3943,84+ 448,661
=
=6990,36 kg
sin
0,5

Asumsi salah, s20 adalah batang tekan

H =0
s 10+ Pw 1tekanx s 20. cos=0
s 10=Pw 1tekanx + s 20. cos =9,66+6081,62
s 10=6071,96 kg
Sin = 0,62/1,24= 0,5
Cos = 1,08/1,24= 0,87

asumsi benar, s10 adalah batang tarik

Diasumsikan s21 dan s2 adalah batang tarik

V =0

S37
S10

S9

s 37P19=0
s 37=P19=112,04 kg

P20

H =0
s 9s 10=0

Page 45

s 10=s 9=6071,96 kg
Asumsi benar, s37 dan s9 adalah batang tarik
Diasumsikan s19 dan s36 adalah batang tarik
P10

s 20.sin 1s 37P 10+ s 19. sin 2s 36. cos=0

Pw2-tekan-x 2

s 19.sin 2s 36. cos=s 20. sin 1+ s 37+ P10=2829,01 ...........p

S20

V =0

S19

S37

S36 ers1

H =0
s 20.cos 1 + s 36. sin + s 19.cos 2 + Pw 2tekanx =0
s 19.cos 2 + s 36. sin=s 20. cos 1 Pw 2tekanx =6106,87 ......pers2
s 19.sin 2s 36. cos=2829,01

x sin = 0,94

s 19.cos 2 + s 36. sin=6106,87


Sin 1 = 0,62/1,24 = 0,5

x cos = 0,34

Cos 1 = 1,08/1,24 = 0,87

s 19.0,47s 36.0,3196=2659,27

Sin 2 = 1/2 = 0,5

s 19.0,30+ s 36.0,3196=2076,34

Cos 2 = 1,73/2 = 0,87

s 19.0,77=4735,61

Sin = 1,73/1,84 = 0,94

s 19=

Cos = 0,62/1,84 = 0,34

4735,61
=6150,15 kg
0,77

Asumsi salah, s19 adalah batang tekan

H =0
s 20.cos 1 + s 36. sins 19. cos 2+ P w 2tekan x =0
s 36. sin=s 20.cos 1P w 2tekan x + s 19. cos 2=756,24
s 36=

756,24 756,24
=
=804,51 kg
sin
0,94

Asumsi salah, s36 adalah batang tekan

Diasumsikan s35 dan s8 adalah batang tarik

V =0

S35

S36

s 35P19 s 36. sin =0


S9

S8

Page 46
P19

s 35=P19 +s 36. sin=154,452+273,54=427,99 kg


H =0
s 8+s 36.cos s 9=0
s 8=s 9s 36.cos =6071,96756,24=5315,72 kg
Asumsi benar, s35 dan s8 adalah batang tarik
Sin = 0,62/1,84 = 0,34
Cos = 1,73/1,84 = 0,94
P9

S18

Diasumsikan s18 dan s34 adalah batang tarik

V =0
Pw3-tekan-x 2

s 19.sin 1s 35P 9+ s 18. sin 2 s 34. cos=0

S19

S35

S34

s 18.sin 2s 34. cos =s 19. sin 1 + s 35+ P9 =2008,16 ............pe

rs1

H =0
s 19.cos 1 + s 34. sin +s 18.cos 2 + Pw 3tekanx =0
s 18.cos 2 + s 34. sin=s 19.cos 1 P w 3tekanx =5381,81
....pers2

s 18.sin 2s 34. cos=2022,60

x sin = 0,73

s 18.cos 2 + s 34. sin=5381,81


Sin 1 =1/2 = 0,5
Cos 1 = 1,73/2 = 0,87

s 18.0,37s 34.0,5037=1476,45

Sin 2 = 1/2 = 0,5

s 18.0,60+ s 34.0,5037=3713,45

Cos 2 = 1,73/2 = 0,87

s 18.0,97=5189,9

x cos = 0,69

Sin = 1,73/2,37 = 0,73


Cos = 1,62/2,37 = 0,69

s 18=

5189,9
=5350,42 kg
0,97

Asumsi salah, s18 adalah batang tekan

H =0
s 19.cos 1 + s 34. sins 18. cos 2+ P w3 teka nx =0
s 34. sin=s 19.cos 1P w3 tekan x + s 18. cos 2=726,96

Page 47

..

s 34=

726,96 726,96
=
=995,84 kg
sin
0,73

Asumsi salah, s34 adalah batang tekan


Diasumsikan s33 dan s7 adalah batang tarik
V =0
S33
S34

s 33P18s 34. sin =0


S8

S7

P18

s 33=P18 +s 34. sin=163,82+687,13=850,95 kg


H =0

s 7+s 34.cos s 8=0


s 7=s 8s 34.cos=5315,72726,97=4588,75 kg
Asumsi benar, s33 dan s7 adalah batang tarik
Sin = 1,62/2,37 = 0,69
Cos = 1,73/2,37 = 0,73

Diasumsikan s17 dan s32 adalah batang tarik


P8
Pw3-tekan-x 2

S18

S33

V =0

S17

s 18.sin 1s 33P8 + s 17. sin 2 s 32. cos=0


s 17.sin 2s 32. cos=s 18. sin 1 + s 33+ P8 =1774,5 ............per
S32 s1

H =0
s 18.cos 1 + s 32. sin +s 17.cos 2 + Pw 3tekanx =0
s 17.cos 2 + s 32. sin=s 18.cos 1 P w 3tekanx =4686,05 ......pers2
s 17.sin 2s 32. cos=1774,5

x sin = 0,55

s 17.cos 2 +s 32. sin=4686,05


Sin 1 =1/2 = 0,5

x cos = 0,84

Cos 1 = 1,73/2 = 0,87

s 17.0,275s 32.0,462=975,975

Sin 2 = 1/2 = 0,5

s 17.0,731+ s 32.0,462=3936,282

Cos 2 = 1,73/2 = 0,87

s 17.1,006=4912,257

Sin = 1,73/3,14 = 0,55

Page 48

s 17=

Cos = 2,62/3,14 = 0,84

4912,257
=4882,96 kg
1,006

Asumsi salah, s17 adalah batang tekan

H =0
s 18.cos 1 + s 32. sins 17. cos 2+ P w3 tekan x =0
s 32. sin=s 18.cos 1P w3 tekan x + s 17. cos 2=437,88
s 32=

437,88 437,88
=
=796,15 kg
sin
0,55

Asumsi salah, s32 adalah batang tekan


Diasumsikan s31 dan s6 adalah batang tarik

V =0

S31

S32

s 31P17s 32. sin=0


S7

S6

s 31=P17+ s 32. sin=174,646+668,766=843,41 kg


H =0

P17

s 6+ s 32. coss 7=0


s 6=s 7s 32.cos=4588,75437,88=4150,87 kg
Asumsi benar s31 dan s6 adalah batang tarik
Sin = 2,62/3,14 = 0,84
Cos = 1,73/3,14 = 0,55
Diasumsikan s16 dan s30 adalah batang tarik
P7
Pw3-tekan-x 2

S17

S31

V =0

S16

s 17.sin 1s 31P7 + s 16. sin 2s 30. cos=0


s 16. sin 2s 30. cos=s 17. sin 1+ s 31+ P7=936,87 ............pe
S30 rs1

H =0
s 17.cos 1 + s 30. sin +s 16.cos 2 + Pw 3tekanx =0
s 16.cos 2 + s 30. sin=s 17.cos 1 P w 3tekanx =4279,36 ......pers2
s 16.sin 2s 30. cos=936,87

x sin = 0,44

s 16.cos 2 + s 30. sin=4279,36

x cos = 0,90

Sin 1 =1/2 = 0,5

Page 49

Cos 1 = 1,73/2 = 0,87

s 16.0,220s 30.0,4356=412,23

Sin 2 = 1/2 = 0,5

s 16.0,783+ s 30.0,4356=3851,43

Cos 2 = 1,73/2 = 0,87

s 16.1,003=4263,66

Sin = 1,73/4,01 = 0,44

s 16=

Cos = 3,62/4,01 = 0,90

4263,66
=4250,91 kg
1,003

Asumsi salah, s16 adalah batang tekan

H =0
s 17.cos 1 + s 30. sins 16. cos 2+ P w3 tekan x =0
s 30. sin=s 17.cos 1P w3 tekan x + s 16. cos 2=581,07
s 30=

581,07 581,07
=
=1320,62 kg
sin
0,44

Asumsi salah, s30 adalah batang tekan


Diasumsikan s29 dan s15 adalah batang tarik

H =0

P6

s 16.cos 1 + Pw 3tekanx + Pw 3hisap x + s 15. cos 2=0

Pw3-hisap-x
Pw3-tekan-x

s 15.cos 2=s 16. cos 1 P w 3tekanx Pw 3hisap x =3791,83


2 S15

S16 1

s 15=

3791,83 3791,83
=
=4358,43 kg
sin 2
0,87

Asumsi salah, s15 adalah batang tekan

S29

V =0
s 15.sin 1+ s 16. sin 2P6s 29=0
s 29=s 15. sin 1 + s 16.sin 2P6 =3690,69
Asumsi benar, s29 adalah batang tarik
Sin 1 =1/2 = 0,5
Cos 1 = 1,73/2 = 0,87
Sin 2 = 1/2 = 0,5
Cos 2 = 1,73/2 = 0,87
Diasumsikan s11 dan s1 adalah batang tarik
S11

S1

P1

Pw1-hisap-x

V =0

A v P 11 +s 11. sin 1=0

Ah
Av

Page 50

s 11=

A v + P1 3844,128+448,661
=
=6790,94 kg
sin
0,5

Asumsi salah, s20 adalah batang tekan

H =0
s 1 Ah+ Pw 1hisapx + s 11. cos 1=0
s 1=Pw 1hisapx + s 11. cos 1 Ah=19,33+5908,12478,88
s 1=5448,57
Sin 1 = 0,62/1,24= 0,5
Cos 1= 1,08/1,24= 0,87

asumsi benar, s1 adalah batang tarik

Diasumsikan s21 dan s2 adalah batang tarik

V =0

S21

s 21P12=0
S2

S1

s 21=P12=112,04 kg

P12

H =0

s 2+ s 1=0

s 2=s 1=5448,57 kg
Asumsi benar, s21 dan s2 adalah batang tarik
Diasumsikan s12 dan s22 adalah batang tarik

V =0

P2
S12

s 11. sin 1s 21P 2+ s 12. sin 2 s 22. cos=0


Pw2-hisap-x

S22

S21

1 S11

s 12.sin 2s 22. cos=s 11. sin 1 +s 21+ P2 =2764,65 ............per


s1

H =0
s 11. cos 1s 22. sin s 12. cos 2 + Pw 2hisapx =0
s 12.cos 2 + s 22. sin=s 11. cos 1+ P w 2hisapx =5857,61 ......pers2
s 12.sin 2s 22. cos=2764,65
s 12.cos 2 + s 22. sin=5857,61
Sin 1 = 0,62/1,24 = 0,5
Cos 1 = 1,08/1,24 = 0,87

s 12.0,47s 22.0,3196=2598,77

Sin 2 = 1/2 = 0,5

s 12.0,30+ s 22.0,3196=1991,59
Page 51

x sin = 0,94
x cos = 0,34

s 12.0,77=4590,36

Cos 2 = 1,73/2 = 0,87


Sin = 1,73/1,84 = 0,94

s 12=

Cos = 0,62/1,84 = 0,34

4590,36
=5961,51 kg
0,77

Asumsi salah, s12 adalah batang tekan

H =0
s 11. cos 1s 22. sin + s 12. cos 2+ P w 2hi sapx =0
s 22. sin=s 11. cos 1+ s 12. cos 2+ P w 2hisapx =671,10
s 22=

671,10 671,10
=
=713,94 kg
sin
0,94

Asumsi salah, s22 adalah batang tekan


Diasumsikan s23 dan s3 adalah batang tarik
S23
V =0
S22
S3

S2

s 23P13 s 22. sin =0


s 23=P13 +s 22. sin=154,46+242,74=397,20 kg

P13

H =0
s 3s 22.cos + s 2=0

s 3=s 2s 22. cos=5448,57671,11=4777,47 kg


Asumsi benar, s23 dan s3 adalah batang tarik
Sin = 0,62/1,84 = 0,34
Cos = 1,73/1,84 = 0,94
Diasumsikan s13 dan s24 adalah batang tarik

V =0

P3
S13

s 12.sin 1s 35P 9+ s 18. sin 2 s 34. cos=0


Pw3-hisap-x

S24

S23

1 S12

s 18.sin 2s 34. cos =s 19. sin 1 + s 35+ P9 =1987,83 ............per


s1

H =0
s 12. cos 1s 24. sins 13. cos 2+ P w 3hisapx =0
s 13.cos 2 + s 24. sin=s 12. cos 1 + Pw 3hisap x =5125,16 ......pers2
s 13.sin 2s 24. cos=1987,83

x sin = 0,73

s 13.cos 2 + s 24. sin=5125,16

x cos = 0,69

Page 52

Sin 1 = 1/2 = 0,5


Cos 1 = 1,73/2 = 0,87

s 13.0,37s 24.0,3196=1451,12

Sin 2 = 1/2 = 0,5

s 13.0,60+ s 24.0,3196=3536,36

Cos 2 = 1,73/2 = 0,87

s 13.0,97=4987,48

Sin = 1,73/2,37 = 0,73

s 13=

Cos = 1,62/2,37 = 0,69

4987,48
=5141,74 kg
0,97

Asumsi salah, s13 adalah batang tekan

H =0
s 12. cos 1s 24. sin + s 13.cos 2 + Pw 3hisap x =0
s 24. sin=s 12.cos 1 + s 13.cos 2 + Pw 3hisap x =646,63
s 24=

646,63 646,63
=
=885,80 kg
sin
0,73

Asumsi salah, s24 adalah batang tekan

Diasumsikan s4 dan s25 adalah batang tarik


S25
S4

V =0

S24
S3

s 25P14 s 24. sin =0


s 25=P14 + s 24. sin=163,815+ 885,80.0,69=775,02 kg

P14

H =0

s 4s 24. cos +s 3=0

s 4=s 3s 24. cos=4777,47646,64=4130,83 kg


Asumsi benar, s25 dan s4 adalah batang tarik
Sin = 1,62/2,37 = 0,69
Cos = 1,73/2,37 = 0,73
Diasumsikan s17 dan s32 adalah batang tarik

V =0

P4
S14

s 13.sin 1s 25P 4 +s 14. sin 2s 26. cos=0


Pw3-hisap-x

S26

S25

1 S13

s 14.sin 2s 26. cos=s 13. sin 1+ s 25+ P 4=1189,29 ............per


s1

Page 53

H =0
s 13. cos 1s 26. sins 14. cos 2+ P w 3hisapx =0
s 14.cos 2 + s 26. sin=s 13. cos 1 + Pw 3hisap x =4411,96 ......pers2
s 14.sin 2s 26. cos=1189,29
s 14.cos 2 + s 26. sin=4411,96
Sin 1 = 1/2 = 0,5
Cos 1 = 1,73/2 = 0,87

s 14.0,275s 26.0,3196=654,12

Sin 2 = 1/2 = 0,5

s 14.0,731+ s 26.0,3196=3706,05

Cos 2 = 1,73/2 = 0,87

s 14.1,006=4360,17

x sin = 0,55
x cos = 0,84

Sin = 1,73/3,14 = 0,55

s 14=

Cos = 2,62/3,14 = 0,84

4360,17
=4334,17 kg
1,006

Asumsi salah, s14 adalah batang tekan

H =0
s 13. cos 1s 26. sin + s 14.cos 2 + Pw 3hisap x =0
s 26. sin=s 13.cos 1 + s 14.cos 2 + Pw 3hisap x =641,24
s 26=

641,24 641,24
=
=1165,90 kg
sin
0,55

Asumsi salah, s26 adalah batang tekan


Diasumsikan s5 dan s27 adalah batang tarik
S27
S5

H =0

V =0

S26
S4

s 27P15s 26. sin =0


s 27=P15 + s 26. sin=174,65+ 979,36=1154,01 kg

P15

s 5s 26. cos + s 4=0

s 5=s 4s 26. cos=4130,83641,245=3489,56 kg


Asumsi benar, s27 dan s5 adalah batang tarik
Sin = 2,62/3,14 = 0,84
Cos = 1,73/3,14 = 0,55

Page 54

Diasumsikan s30 adalah batang tarik


P5
S15

s 17.sin 1s 27P 5s 16.sin 2s 30. cos=0


Pw3-hisap-x

S28

V =0

S27

1 S14

Nama
batang

s 28.cos=s 14. sin 1s 27P7 s 15. sin 2=1822,74 kg


Asumsi salah, s28 adalah batang tekan.

Kombinasi 3-a.tiup kiri


Tekan (-)
(kg)

s1
s2
s3
s4
s5
s6
s7
s8
s9
s10
s11
s12
s13
s14
s15
s16
s17
s18
s19
s20
s21
s22
s23
s24
s25
s26
s27
s28
s29
s30

Tarik (+)
(kg)

Kombinasi 3-a.tiup
kanan
Tekan (-)
Tarik (+)
(kg)
(kg)

6527,53
6527,53
5801,01
5094,34
4356,37
3941,50
4582,74
5299,37
5970,48
5970,48

5448,57
5448,57
4777,47
4130,83
3489,56
4150,87
4588,75
5315,72
6071,96
6071,96

6963,58
6157,52
5381,09
4568,69
4134,97
4242,50
4334,17
5141,74
5961,51
6790,94

6790,94
5961,51
5141,74
4334,17
4358,43
4250,91
4882,96
5350,42
6150,15
6990,36
112,04

772,90

112,04
713,94

417,24
968,04

397,20
885,80

831,77
1341,76

775,02
1165,90

1301,72
928,45

1154,01
1822,74

3574,76
1726,18

3690,69
1320,62

Page 55

s31
s32
s33
s34
s35
s36
s37

1154,01

843,41

1165,90

796,15
775,02

850,95

885,80

995,84
397,20

427,99

713,94

804,51
112,04

112,04

Dari tabel di atas dipilih lagi gaya dalam terbesar dari kedua kombinasi tersebut, yaitu :
Nama
batang
s1
s2
s3
s4
s5
s6
s7
s8
s9
s10
s11
s12
s13
s14
s15
s16
s17
s18
s19
s20
s21
s22
s23
s24
s25
s26
s27
s28
s29
s30
s31
s32
s33
s34
s35
s36
s37

Gaya dalam
Tekan (-)
Tarik (+)
(kg)
(kg)

Gaya dalam
Tekan (-)
Tarik (+)
(KN)
(KN)

6527,53
6527,53
5801,01
5094,34
4356,37
4150,87
4588,75
5315,72
6071,96
6071,96
6963,58
6157,52
5381,09
4568,69
4358,43
4250,91
4882,96
5350,42
6150,15
6990,36

64,04
64,04
56,91
49,98
42,74
40,72
45,02
52,15
59,57
59,57
68,31
60,41
52,79
44,82
42,76
41,70
47,90
52,49
60,33
68,58

112,04
772,9

1,10
7,58

417,24
968,04

4,09
9,50

831,77
1341,76

8,16
13,16

1301,72
1822,74

12,77
17,88

3690,69
1726,18

36,21
16,93

1154,01
1165,9

11,32
11,44

850,95
995,84

8,35
9,77

427,99
804,51

4,20
7,89

112,04

Kontrol komponen struktur tekan dan tarik


Page 56

1,10

Dari tabel gaya dalam akibat kombinasi 3 diatas, dipilih gaya-gaya terbesar untuk kontrol
terhadap gaya tarik dan tekan sebagai berikut:
Untuk gaya tarik :
Karena dalam mengontrol kuat tarik, panjang dari batang yang akan dikontrol tidak
mempengaruhi kemampuan batang menerima tarik, maka dipilih Nu terbesar dari batang
yang menerima tarik, yaitu :
Batang 1 dengan, Nu = 6527,53 kg = 64,03 KN dengan panjang batang 1,08 m
Untuk gaya tekan :
Karena dalam mengontrol kuat tekan, panjang dari batang yang akan dikontrol
mempengaruhi kemampuan batang menerima tekan, maka dipilih Pu terbesar dari
masing-masing batang yang memiliki panjang berbeda, yaitu :
Batang yang menerima
Panjang
Batang yang
Gaya Tekan (-)
Gaya Tekan
tekan
batang (m) mewakilkan
(kg)
(-) (KN)
12,13,14,15,16,17,18,19
11,20
22,36
24,34
26,32
28,30

2
1,24
1,84
2,37
3,14
4,01

12
20
36
34
26
28

6157,52
6990,36
804,51
995,84
1341,74
1822,74

60,405
68,575
7,892
9,769
13,163
17,881

Komponen struktur tarik


Ketentuan untuk perencanaan komponen struktur tarik adalah :
T u t T '
Berdasarkan tabel 2.1 untuk kode kayu E15 , maka Ft = 31MPa = 31N/mm2 .
Berdasarkan tabel 2.3 untuk kelas mutu kayu B, maka rasio tahanan = 0,63.
Berdasarkan tabel 3.1 dan 3.2 untuk balok kayu dengan luas penampang lebih kecil dari
125 mm x 125 mm, T38o dan Fb/CF =32/1, maka Cm=1 dan Ct=1
Sedangkan untuk Cpt dan Crt ditetapkan berdasarkan spesifikasi pemasok (dianggap
adalah 1).
F
( t . rasio ta h anan) .C m .C t . C pt . Crt
F t =
Ft =(31 0,63)1 1 1 1=19,53 N /m m 2
A n= A g( Alubang baut atau Acuatan )
1

A
atau Acuatan ) = . h b=40 80=3200 m m
Dianggap ( lubang baut
3
A g=b d=80 120=9600 mm 2
A n= A g ( A lubang baut atau A cuatan ) =96003200=6400 m m2
Page 57

T ' =F t A n=19,53 6400=124992 N =124,992 KN


Berdasarkan tabel 2.6 dan 2.7 untuk kombinasi pembebanan no 3, maka di dapat:
= 0,80
t = 0,80
t T ' =0,8 0,8 124,992 KN =79,99 KN
'

T u =64,03 KN < t T =79,99 KN


Jadi komponen struktur tersebut aman terhadap tarik.
Komponen struktur tekan
Ketentuan untuk perencanaan komponen struktur tekan adalah :
Pu c P '
Untuk batang 20 dengan panjang 1,24 m
Kontrol kelangsingan kolom:
Kekangan ujungnya adalah jepit-jepit
Dimana jari-jari girasi (r) untuk penampang persegi adalah : 0,2887.b dengan b < d
8 < 12
r=0,2887 80=23,096 mm
K e.l
K .l 0,5 1240
175 e =
=26,844
r
r
23,096

maka, kelangsingan kolom memenuhi

syarat
P' =C p P ' o
1+ c
Cp=

2c

1+ c 2 c

2c
c

s Pe
E ' 05 A
c=
Pe =
2
c P 'o
Ke. l

(r)
'

E y 05=6085,8 N /mm

A=b d=80 120=9600m m2


Pe =

3,142 6085,8 9600


=21479973,22 N
( 26,844 )2

Page 58

Berdasarkan tabel 2.1 untuk kode kayu E15 , maka Fc = 31.


Berdasarkan tabel 2.3 untuk kelas mutu kayu B, maka rasio
tahanan = 0,63.
Berdasarkan tabel 3.1 dan 3.2 untuk balok kayu dengan luas
penampang lebih besar dari 125 mm x 125 mm, T38o dan Fb/CF
=32/1, maka Cm=1 dan Ct=1
Sedangkan untuk Cpt dan Crt ditetapkan berdasarkan spesifikasi
pemasok (dianggap adalah 1).
F
( c .rasio tahanan). Cm . Ct . C pt . C rt
F c =

Fbx =(31 0,63) 11 1 1=19,53 N /mm

P' o= A . F c =9600 19,53=170614,08 N


Berdasarkan tabel 2.6 dan 2.7 untuk kombinasi pembebanan no 3, maka di dapat:
= 0,80
c = 0,90
s = 0,85
c=

s Pe
0,85 21479973,22
=
=148,630
c P ' o 0,8 0,9 170614,08

Untuk batang kayu masif, maka c = 0,80


1+148,630
1+148,630 2 148,630
Cp=

=93,518 ( 93,518 )2185,787


0,8
2( 0,8)
2(0,8)

C p =0,999
P' =C p P ' o =0,999 170614,08=170383,568 N=170,384 KN
'

c P =0,8 0,9 170,384=122,676 KN


Untuk batang 36 dengan panjang 1,84 m
Kontrol kelangsingan kolom:
Kekangan ujungnya adalah jepit-jepit
Dimana jari-jari girasi (r) untuk penampang persegi adalah : 0,2887.b dengan b < d
8 < 12
r=0,2887 80=23,096 mm
K e. l
K .l 0,5 1840
175 e =
=39,834
r
r
23,096
syarat
Page 59

maka, kelangsingan kolom memenuhi

P' =C p P ' o
Cp=
c=

1+ c

2c

1+ c 2 c

2c
c

s Pe
2 E ' 05 A
Pe =
c P 'o
Ke . l 2

(r)

E' y 05=6085,8 N /mm 2


A=b d=80 120=9600m m

Pe =

3,14 6085,8 9600


=14475634,13 N
( 39,834 )2

Berdasarkan tabel 2.1 untuk kode kayu E15 , maka Fc = 31.


Berdasarkan tabel 2.3 untuk kelas mutu kayu B, maka rasio
tahanan = 0,63.
Berdasarkan tabel 3.1 dan 3.2 untuk balok kayu dengan luas
penampang lebih besar dari 125 mm x 125 mm, T38o dan Fb/CF
=32/1, maka Cm=1 dan Ct=1
Sedangkan untuk Cpt dan Crt ditetapkan berdasarkan spesifikasi
pemasok (dianggap adalah 1).
F
( c .rasio tahanan). Cm . Ct . C pt . C rt
F c =
Fbx =(31 0,63) 11 1 1=19,53 N /mm2
P' o= A . F c =9600 19,53=170614,08 N
Berdasarkan tabel 2.6 dan 2.7 untuk kombinasi pembebanan no 3, maka di dapat:
= 0,80
c = 0,90
s = 0,85
c=

s Pe
0,85 14475634,13
=
=100,163
c P ' o 0,8 0,9 170614,08

Untuk batang kayu masif, maka c = 0,80

Page 60

Cp=

1+100,163

2( 0,8)

1+100,163 2 100,163

=63,227 ( 63,227 )2125,204


0,8
2(0,8)

C p =0,998
'

P =C p P ' o =0,998 170614,08=170271,361 N=170,271 KN


c P' =0,8 0,9 170,271=122,595 KN

Untuk batang 12 dengan panjang 2 m


Kontrol kelangsingan kolom:
Kekangan ujungnya adalah jepit-jepit
Dimana jari-jari girasi (r) untuk penampang persegi adalah : 0,2887.b dengan b < d
8 < 12
r=0,2887 80=23,096 mm
K e.l
K .l 0,5 2000
175 e =
=43,298
r
r
23,096

maka, kelangsingan kolom memenuhi

syarat
P' =C p P ' o
1+ c
Cp=

2c

1+ c 2 c

2c
c

s Pe
E ' 05 A
c=
Pe =
2
c P 'o
Ke. l

(r)
'

E y 05=6085,8 N /mm

A=b d=80 120=9600m m2


3,142 6085,8 9600
Pe =
=13317583,4 N
( 86,595 )2
Berdasarkan tabel 2.1 untuk kode kayu E15 , maka Fc = 31.
Berdasarkan tabel 2.3 untuk kelas mutu kayu B, maka rasio
tahanan = 0,63.
Berdasarkan tabel 3.1 dan 3.2 untuk balok kayu dengan luas
penampang lebih besar dari 125 mm x 125 mm, T38o dan Fb/CF
=32/1, maka Cm=1 dan Ct=1
Sedangkan untuk Cpt dan Crt ditetapkan berdasarkan spesifikasi
pemasok (dianggap adalah 1).
Page 61

F
( c .rasio tahanan). Cm . Ct . C pt . C rt
F c =
Fbx =(31 0,63) 11 1 1=19,53 N /mm2
P' o= A . F c =9600 19,53=170614,08 N
Berdasarkan tabel 2.6 dan 2.7 untuk kombinasi pembebanan no 3, maka di dapat:
= 0,80
c = 0,90
s = 0,85
c=

s Pe
0,85 13317583,4
=
=92,150
c P ' o 0,8 0,9 170614,08

Untuk batang kayu masif, maka c = 0,80


1+ 92,150
1+ 92,150 2 92,150
Cp=

=58,219 (58,219 )2 115,118=0,998


0,8
2(0,8)
2(0,8)

P' =C p P ' o =0,998 170614,08=170241,365 N=170,241 KN


c P' =0,8 0,9 170,241=122,547 KN
Untuk batang 34 dengan panjang 2,37 m
Kontrol kelangsingan kolom:
Kekangan ujungnya adalah jepit-jepit
Dimana jari-jari girasi (r) untuk penampang persegi adalah : 0,2887.b dengan b < d
8 < 12
r=0,2887 80=23,096 mm
K e.l
K .l 0,5 2000
175 e =
=51,308
r
r
23,096
syarat
P' =C p P ' o
1+ c
Cp=

2c

1+ c 2 c

2c
c

Page 62

maka, kelangsingan kolom memenuhi

P
E ' 05 A
c = s e Pe =
2
c P 'o
Ke . l

(r)

E' y 05=6085,8 N /mm 2


A=b d=80 120=9600m m2
Pe =

3,142 6085,8 9600


=11238467 N
(51,308 )2

Berdasarkan tabel 2.1 untuk kode kayu E15 , maka Fc = 31.


Berdasarkan tabel 2.3 untuk kelas mutu kayu B, maka rasio
tahanan = 0,63.
Berdasarkan tabel 3.1 dan 3.2 untuk balok kayu dengan luas
penampang lebih besar dari 125 mm x 125 mm, T38o dan Fb/CF
=32/1, maka Cm=1 dan Ct=1
Sedangkan untuk Cpt dan Crt ditetapkan berdasarkan spesifikasi
pemasok (dianggap adalah 1).
F
( c .rasio tahanan). Cm . Ct . C pt . C rt
F c =
Fbx =(31 0,63) 11 1 1=19,53 N /mm2
P' o= A . F c =9600 19,53=170614,08 N
Berdasarkan tabel 2.6 dan 2.7 untuk kombinasi pembebanan no 3, maka di dapat:
= 0,80
c = 0,90
s = 0,85
c=

s Pe
0,85 11238467
=
=77,764
c P ' o 0,8 0,9 170614,08

Untuk batang kayu masif, maka c = 0,80


1+77,764
1+ 77,764 2 77,764
Cp=

=49,228 ( 49,228 )297,205=0,997


0,8
2(0,8)
2(0,8)

P' =C p P ' o =0,997 170614,08=170171,880 N =170,172 KN


'

c P =0,8 0,9 170,172=122,524 KN

Page 63

Untuk batang 26 dengan panjang 3,14m


Kontrol kelangsingan kolom:
Kekangan ujungnya adalah jepit-jepit
Dimana jari-jari girasi (r) untuk penampang persegi adalah : 0,2887.b dengan b < d
10 < 16
r=0,2887 80=23,096 mm
K e.l
K .l 0,5 3140
175 e =
=67,977
r
r
23,096

maka, kelangsingan kolom memenuhi

syarat
P' =C p P ' o
1+ c
Cp=

2c

1+ c 2 c

2c
c

s Pe
E ' 05 A
c=
Pe =
2
c P 'o
Ke. l

(r)

E' 05=6085,8 N /mm2


A=b d=80 120=9600m m2
Pe =

3,142 6085,8 9600


=8482537,197 N
( 67,977 )2

Berdasarkan tabel 2.1 untuk kode kayu E15 , maka Fc = 31.


Berdasarkan tabel 2.3 untuk kelas mutu kayu B, maka rasio
tahanan = 0,63.
Berdasarkan tabel 3.1 dan 3.2 untuk balok kayu dengan luas
penampang lebih besar dari 125 mm x 125 mm, T38o dan Fb/CF
=32/1, maka Cm=1 dan Ct=1
Sedangkan untuk Cpt dan Crt ditetapkan berdasarkan spesifikasi
pemasok (dianggap adalah 1).
F
( c .rasio tahanan). Cm . Ct . C pt . C rt
F c =
Fbx =(31 0,63) 11 1 1=19,53 N /mm2
P' o= A . F c =9600 19,53=170614,08 N
Berdasarkan tabel 2.6 dan 2.7 untuk kombinasi pembebanan no 3, maka di dapat:
= 0,80
Page 64

c = 0,90
s = 0,85
c=

s Pe
0,85 8482357,197
=
=58,694
c P ' o 0,8 0,9 170614,08

Untuk batang kayu masif, maka c = 0,80


1+58,694
1+ 58,694 2 58,694
Cp=

=37,309 ( 37,309 )273,368=0,997


0,8
2(0,8)
2(0,8)

P' =C p P ' o =0,997 170614,08=170026,740 N =170,027 KN


'

c P =0,8 0,9 170,027=122,419 KN


Untuk batang 28 dengan panjang 4,01m
Kontrol kelangsingan kolom:
Kekangan ujungnya adalah jepit-jepit
Dimana jari-jari girasi (r) untuk penampang persegi adalah : 0,2887.b dengan b < d
10 < 16
r=0,2887 80=23,096 mm
K e.l
K .l 0,5 4010
175 e =
=86,812
r
r
23,096

maka, kelangsingan kolom memenuhi

syarat
'

P =C p P ' o
1+ c
Cp=

2c

1+ c 2 c

2c
c

s Pe
E ' 05 A
c=
Pe =
2
c P 'o
Ke. l

(r)

E' 05=6085,8 N /mm2


A=b d=80 120=9600m m
Pe =

3,142 6085,8 9600


=6642186,234 N
( 86,812 )2

Berdasarkan tabel 2.1 untuk kode kayu E15 , maka Fc = 31.


Berdasarkan tabel 2.3 untuk kelas mutu kayu B, maka rasio
tahanan = 0,63.

Page 65

Berdasarkan tabel 3.1 dan 3.2 untuk balok kayu dengan luas
penampang lebih besar dari 125 mm x 125 mm, T38o dan Fb/CF
=32/1, maka Cm=1 dan Ct=1
Sedangkan untuk Cpt dan Crt ditetapkan berdasarkan spesifikasi
pemasok (dianggap adalah 1).
F
( c .rasio tahanan). Cm . Ct . C pt . C rt
F c =
Fbx =(31 0,63) 11 1 1=19,53 N /mm2
P' o= A . F c =9600 19,53=170614,08 N
Berdasarkan tabel 2.6 dan 2.7 untuk kombinasi pembebanan no 3, maka di dapat:
= 0,80
c = 0,90
s = 0,85
c=

s Pe
0,85 6642186,234
=
=45,960
c P ' o 0,8 0,9 170614,08

Untuk batang kayu masif, maka c = 0,80


1+ 45,960
1+45,960 2 45,960
Cp=

=29,350 ( 29,350 )2 57,450=0,996


0,8
2(0,8)
2(0,8)

P' =C p P ' o =0,996 170614,08=169861, 876 N=169,862 KN


'

c P =0,8 0,9 169,862=122,301 KN


Nama batang

Panjang batang

Pu

cP

Pu cP

12
20
36
34
26
28

2
1,24
1,84
2,37
3,14
4,01

60,405
68,575
7,892
9,769
13,163
17,881

122,676
122,595
122,547
122,524
122,419
122,301

Ok
Ok
Ok
Ok
Ok
Ok

Jadi komponen struktur tersebut aman terhadap gaya tekan.

Page 66

Bab IV

PERENCANAAN SAMBUNGAN
D

B
E

Gambar potongan-potongan sambungan


Page 67

Dari besar gaya-gaya yang ada pada setiap sambungan akan dipilih gaya terbesar yang terjadi
pada setiap sambungan pada gambar potongan.
Sambungan pada potongan A :

Page 68

60 mm
60 mm
60 mm
60 mm

60 mm

60 mm

30 mm

200 mm

Page 69

Berdasarkan SNI Tata Cara perencanaan konstruksi kayu Indonesia, dalam sambungan
takikan (gigi) tunggal harus memenuhi beberapa persyaratan seperti :
Dalamnya gigi (tm) 1/3 h
1/3h = 4 cm
Dalam gigi yang digunakan 3 cm

....jadi memenuhi syarat.

Panjang kayu muka (lm) 1,5 h dan lm

60 mm

200 mm

Panjang lm yang digunakan 200 mm


....jadi memenuhi syarat.
Berdasarkan SNI Tata Cara perencanaan konstruksi kayu Indonesia, dalam sambungan
baut untuk beban sejajar arah serat harus memenuhi beberapa persyaratan seperti
:
60 mm
1. Jarak tepi (bopt)
lm/D6 1,5 D dan lm/D>6 yang terbesar antara1,5D atau jarak antar
baris alat pengencang tegak lurus serat.
80/12,4 = 6,299 1,5D =19,05 mm atau jarak anatar baris = 30 mm
Jarak tepi yang digunakan 30 mm
.....Jadi memenuhi persyaratan.
2. Jarak ujung (aopt)
Untuk komponen tekan = 4D
4D= 50,8 mm
Jarak ujung yang digunakan 60 mm

.....Jadi memenuhi persyaratan.

3. Spasi dalam baris alat pengencang (sopt)


Syarat : 4D = 50,8 mm
Spasi dalam baris yang digunakan 60 mm

....Jadi memenuhi persyaratan.

4. Jarak antar baris alat pengencang


Syarat : 1,5D < 127 mm 1,5D = 19,05 mm
Jarak antar baris yang digunakan 60 mm ....Jadi memenuhi persyaratan.
Faktor koreksi aksi kelompok
Untuk sambungan sejajar arah serat
n
1
C g= a i
n f i=1
r

ai=

[(

m(1m2 n )
i

1+ REA mn ) ( 1+m )1+m2 n


i

][ ]
1+ R EA
1m

m=u u 21
u=1+

s 1
1
+
2 E Am E As

]
Page 70

30 mm
60 mm
30 mm

30

A
E

min

A
E

R EA=
=0,246 D 1,5 ( KN /mm)=0,246 12,71,5 =11,138 KN /mm
2

E ' w =8820 N /mm =8,820 KN /mm

EA m =E ' w luas penampang kayu utama=8,820 80 120=84672 KN


EA s =E ' w luas penampang kayu sekunder=8,820 40 120=42336 KN
EA mak =84672 KN
EA min =42336 KN
Spasi baris antar alat pengencang untuk beban sejajar arah serat direncanakan adalah
60mm.
ni yang direncanakan adalah 3.
nr yang direncanakan adalah 2 baris.
nf = (ni x nr) = (3 x 2)= 6
A
E

min

A
E

mak

R EA=
u=1+

m=u u 21=1,012 1,01221=0,86


ai=

[(

s 1
1
60
1
1
+
=1+ 11,138
+
=1,012
2 E Am E As
2 84672 42336

2 ni

m(1m )
1+ REA mn ) ( 1+m )1+m2 n
i

][ ]
1+ R EA
1m

Page 71

ai =

][

0,86 (10,86 2 3)
1+ 0,5
= [ 0,276 ][ 10,714 ]
3
2 3
10,86
( 1+ 0,5 0,86 ) ( 1+0,86 ) 1+ 0,86

ai=2,956
nr

C g=

1
1
a = 2 2,956=0,985
n f i=1 i 6

Untuk sambungan dengan sudut 30o


n
1
C g= a i
n f i=1
r

ai =

[(

2 ni

m(1m )
1+ REA m n ) ( 1+m )1+m 2 n
i

][ ]
1+ R EA
1m

m=u u 21
u=1+

s 1
1
+
2 E Am E As

A
E

min

A
E

R EA=
=0,246 D 1,5 ( KN /mm)=0,246 12,71,5 =11,138 KN /mm
E ' w =8820 N /mm2=8,820 KN /mm2
EA m =E ' w luas penampang kayu utama=8,820 80 120=84672 KN
EA s =E ' w luas penampang kayu sekunder=8,820 40 120=42336 KN
EA mak =84672 KN
EA min =42336 KN
Spasi baris antar alat pengencang untuk beban sejajar arah serat direncanakan adalah
60mm.
ni yang direncanakan adalah 2
nr yang direncanakan adalah 2 baris.
nf = (ni x nr) = (2 x 2) = 4
Page 72

A
E

min

A
E

mak

R EA=
u=1+

s 1
1
60
1
1
+
=1+ 11,138
+
=1,012
2 E Am E As
2 84672 42336

m=u u 21=1,012 1,01221=0,86


ai =

[(

ai =

2 ni

m(1m )
ni

1+ REA m ) ( 1+m )1+m

2 ni

][

1+ R EA
1m

0,86 (10,86 2 2)
2

( 1+ 0,5 0,86 ) ( 1+0,86 ) 1+ 0,86

2 2

][

1+ 0,5
=[ 0,186 ][ 10,714 ]
10,86

ai=1,993
nr

C g=

1
1
a i= 2 1,992=0,996

n f i=1
4

Faktor koreksi geometrik.


Jarak ujung yang digunakan dalam perencanaan (a) = 60 mm
Untuk a = aopt maka C = 1
Sambungan Baut :
Ketentuan perencanaan sambungan untuk sambungan baut adalah sebagai berikut:
Z u c Z '
Direncanakan untuk tahanan lateral acuan satu baut (Z) pada sambungan dengan dua
irisan yang menyambung tiga komponen. Dengan ukuran kayu sekunder 4/12 dengan
kode mutu dan kelas kayu yang sama dengan kayu utama.
Fyb= 320 Mpa = 320 N/mm2
D = 12,7 mm
Untuk sambungan sudut sejajar serat, Fe||
Zu = 68,31 KN
Fe|| = 77,25 G = 77,25 x 0,826 = 63,809
Page 73

tm=80 mm
ts = 40 mm
K o=1+

0
=1
3600

( )

Re =

F em
=1
F es

Rt =

t m 80 mm
=
=2
t s 40 mm

k 3 =(1 ) +

2(1+ R e ) 2 F yb (2+ R e ) D 2
+
2
Re
3 F em t s

k 3 =(1 ) +

2(1+ 1) 2 320( 2+ 1) 12,72


+
=1,239
1
3 63,809 40 2

Persamaan yang digunakan


Untuk moda kelelehan, Im ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
0,83 D t m F em 0,83 12,7 80 63,809
Z=
=
=53830,033 N
Ko
1

Untuk moda kelelehan, Is ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
1,66 D t s F es 1,66 12,7 40 63,809
Z=
=
=53830,033 N
Ko
1

Untuk moda kelelehan, IIIs ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
2,08 k 3 Dt s F em 2,08 1,239 12,7 40 63,809
Z=
=
=27844,472 N
(2+ Re ) K o
( 2+1 ) 1

Untuk moda kelelehan, IV ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
2,08 D2 2 F em F yb 2,08 12, 72 2 63,809 320
Z=
=
=27682,899 N
Ko
1
3(1+ R e )
3 (1+ 1)

Dari perhitungan Z diatas, dipilih hasil yang terkecil, yaitu:


Z = 27682,899 N = 27,682 KN
Berdasarkan tabel 2.6 dan 2.7 untuk kombinasi pembebanan no 3, maka di dapat:
= 0,80
c = 0,65
c Z ' = c ( Z .C g .C . nf )=0,8 0,65 ( 27,682 0,985 1 6 ) =85,072 KN

jadi Zu <

c Z ' , maka sambungan tersebut aman.

Page 74

Sambungan untuk sudut ,


Nu = 68,31

Fe ( = 30o)

Fe =

F e F e
2

Fe si n + F e cos

63,809 45,114
=57,834
63,809 0, 52+ 45,114 0,86 72

tm=80 mm
ts = 40 mm
K o=1+

0
=1
3600

( )

Re =

F em
=1
F es

Rt =

t m 80 mm
=
=2
t s 40 mm

k 3 =(1 ) +

2(1+ R e ) 2 F yb (2+ R e ) D 2
+
Re
3 F em t s2

2(1+ 1) 2 320( 2+ 1) 12,72


k 3 =(1 ) +
+
=1,262
1
3 57,834 402
Persamaan yang digunakan
Untuk moda kelelehan, Im ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
0,83 D t m F em 0,83 12,7 80 57,834
Z=
=
=48770,543 N
Ko
1

Untuk moda kelelehan, Is ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
1,66 D t s F es 1,66 12,7 40 57,834
Z=
=
=48770,543 N
Ko
1

Untuk moda kelelehan, IIIs ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
2,08 k 3 Dt s F em 2,08 1,26212,7 40 57,834
Z=
=
=25706,821 N
(2+ Re ) K o
( 2+1 ) 1

Untuk moda kelelehan, IV ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
2,08 D2 2 F em F yb 2,08 12, 72 2 57,834 320
Z=
=
=26349,843 N
Ko
1
3(1+ R e )
3(1+1)

Dari perhitungan Z diatas, dipilih hasil yang terkecil, yaitu :


Z = 25706,821 N = 25,707 KN

Direncanakan untuk sambungan takikan akan digunakan sambungan takikan tunggal


dengan ketentuan:
Page 75

Ketentuan perencanaan sambungan untuk takikan gigi tunggal adalah sebagai berikut:
l b F 'v
N u cos v m
l
1+0,5 m
em
Berdasarkan tabel 2.6 dan 2.7 untuk kombinasi pembebanan no 3, maka di dapat:
= 0,80
v = 0,75
b=80 mm
Berdasarkan tabel 2.1 untuk kode kayu E15 , maka Fv = 5,1.
Berdasarkan tabel 2.3 untuk kelas mutu kayu B, maka rasio tahanan = 0,63.
Berdasarkan tabel 3.1 dan 3.2 untuk balok kayu dengan luas penampang lebih kecil dari
125 mm x 125 mm, T38o dan Fb/CF =32/1, maka Cm=1 dan Ct=1
Sedangkan untuk Cpt dan Crt ditetapkan berdasarkan spesifikasi pemasok (dianggap
adalah 1).
F ' v =F v . rasio tahanan .C m . Ct . C pt . C rt
2

F ' v =(5,1 0,63)1 1 1 1=3,213 N /m m

e m=0,5 t m +0,5 hnet hnet =ht m=12030=90 mm


e m=0,5 ( 30 ) +0,5 ( 90 )=15+ 45=60 mm

lm b F ' v
200 80 3,213
51408
=0,8 0,75
=0,6
=16855,082 N
lm
200
1,83
1+ 0,25
1+0,25
60
em
lm b F ' v
=16,855 KN
lm
1+0,25
em

N u cos v

lm b F ' v
=( 68,31 cos 30 )16,855=42,303 KN
lm
1+0,25
em

N u cos s isa=42,303 KN

Z u =N u(sisa )=

42,303
=48,848 KN
cos 30

Page 76

c Z ' = c ( Z .C g .C . nf )=0,8 0,65 ( 25,707 0,996 1 4 )=53,257 KN

jadi Zu <

'

c Z , maka sambungan tersebut aman.

Sambungan pada potongan B :

Page 77

3
1

180 mm

60 mm

60 mm

30 mm

Page 78

60 mm
100 mm

Pu = 1,16 KN

Berdasarkan SNI Tata Cara perencanaan konstruksi kayu Indonesia, dalam sambungan
takikan (gigi) tunggal harus memenuhi beberapa persyaratan seperti :
Dalamnya gigi (tm) 1/3 h
1/3h = 4 cm
Dalam gigi yang digunakan 3 cm

30 mm
....jadi
memenuhi syarat.

60 mm

30 mm

Panjang kayu muka (lm) 1,5 h dan lm


1,5h= 180 mm
Panjang lm yang digunakan 180 mm

200 mm

....jadi memenuhi syarat.

Berdasarkan SNI Tata Cara perencanaan konstruksi kayu Indonesia, dalam sambungan
baut untuk beban sejajar arah serat harus memenuhi beberapa persyaratan seperti :
Jarak tepi (bopt)
lm/D6 1,5 D dan lm/D>6 yang terbesar antara1,5D atau jarak antar
baris alat pengencang tegak lurus serat.
80/12,4 = 6,299 1,5D =19,05 mm atau jarak anatar baris = 30 mm
Jarak tepi yang digunakan 30 mm
.....Jadi memenuhi persyaratan.
Jarak ujung (aopt)
Untuk komponen tekan = 4D
4D= 50,8 mm
Jarak ujung yang digunakan 100 mm

.....Jadi memenuhi persyaratan.

Spasi dalam baris alat pengencang (sopt)


Syarat : 4D = 50,8 mm
Spasi dalam baris yang digunakan 60 mm

....Jadi memenuhi persyaratan.

Jarak antar baris alat pengencang


Syarat : 1,5D < 127 mm 1,5D = 19,05 mm
Jarak antar baris yang digunakan 60 mm ....Jadi memenuhi persyaratan.
Faktor koreksi aksi kelompok
Untuk sambungan sejajar arah serat
n
1
C g= a i
n f i=1
r

ai=

[(

2 ni

m(1m )
ni

1+ REA m ) ( 1+m )1+m

2 ni

][

1+ R EA
1m

m=u u 21
u=1+

s 1
1
+
2 E Am E As

]
Page 79

A
E

min

A
E

R EA=
=0,246 D 1,5 ( KN /mm)=0,246 12,71,5 =11,138 KN /mm
2

E ' w =8820 N /mm =8,820 KN /mm

EA m =E ' w luas penampang kayu utama=8,820 80 120=84672 KN


EA s =E ' w luas penampang kayu sekunder=8,820 40 120=42336 KN
EA mak =84672 KN
EA min =42336 KN
Spasi baris antar alat pengencang untuk beban sejajar arah serat direncanakan adalah
60mm.
ni yang direncanakan adalah 3.
nr yang direncanakan adalah 2 baris.
nf = (ni x nr) = (3 x 2)= 6
A
E

min

A
E

mak

R EA=
u=1+

s 1
1
60
1
1
+
=1+ 11,138
+
=1,012
2 E Am E As
2 84672 42336

m=u u 21=1,012 1,01221=0,86


ai=

[(
[

m(1m2 n )
i

ni

1+ REA m ) ( 1+m )1+m

2 ni

][

1+ R EA
1m

][

0,86 (10,86 2 3)
1+ 0,5
ai=
= [ 0,276 ][ 10,714 ]
3
2 3
10,86
( 1+ 0,5 0,86 ) ( 1+0,86 ) 1+ 0,86

Page 80

ai=2,956
nr

1
1
C g= a i= 2 2,956=0,985
n f i=1
6
Untuk sambungan tegak lurus arah serat
Karena hanya digunakan 1 baut maka Cg = 1
Faktor koreksi geometrik.
Untuk sambungan sejajar arah serat
Jarak ujung yang digunakan dalam perencanaan (a) = 60 mm
Untuk a = aopt maka C = 1
Untuk sambungan tegak lurus arah serat
Karena hanya digunakan 1 baut maka C = 1
Untuk sambungan dengan sudut 2
cos 2=

0,62
=0,337 Nu=7,58 KN
1,84

N u cos 2=7,58 0,337=2,554 KN


Direncanakan untuk sambungan takikan akan digunakan sambungan takikan tunggal
dengan ketentuan:
Ketentuan perencanaan sambungan untuk takikan gigi tunggal adalah sebagai berikut:
lm b F ' v
N u cos v
lm
1+0,5
em
Berdasarkan tabel 2.6 dan 2.7 untuk kombinasi pembebanan no 3, maka di dapat:
= 0,80
v = 0,75
b=80 mm
Berdasarkan tabel 2.1 untuk kode kayu E15 , maka Fv = 5,1.
Berdasarkan tabel 2.3 untuk kelas mutu kayu B, maka rasio tahanan = 0,63.
Berdasarkan tabel 3.1 dan 3.2 untuk balok kayu dengan luas penampang lebih kecil dari
125 mm x 125 mm, T38o dan Fb/CF =32/1, maka Cm=1 dan Ct=1
Sedangkan untuk Cpt dan Crt ditetapkan berdasarkan spesifikasi pemasok (dianggap
adalah 1).
Page 81

F ' v =F v . rasio tahanan .C m . Ct . C pt . C rt


F ' v =(5,1 0,63)1 1 1 1=3,213 N /m m2

e m=0,5 t m +0,5 hnet hnet =ht m=12030=90 mm


e m=0,5 ( 30 ) +0,5 ( 90 )=15+ 45=60 mm
v

lm b F ' v
180 80 3,213
46267,2
=0,8 0,75
=0,6
=15863,04 N
lm
180
1,75
1+ 0,25
1+0,25
60
em
lm b F ' v
=15,863 KN
lm
1+0,25
em

jadi N u cos < v

lm b F ' v
,maka sambungan aman.
lm
1+0,5
em

Untuk sambungan sudut sejajar serat, Fe||


Zu = 68,31 KN
Fe|| = 77,25 G = 77,25 x 0,826 = 63,809
tm=80 mm
ts = 40 mm
0
K o=1+
=1
3600

( )

Re =

F em
=1
F es

Rt =

t m 80 mm
=
=2
t s 40 mm

2(1+ R e ) 2 F yb (2+ R e ) D 2
k 3 =(1 ) +
+
Re
3 F em t s2

2(1+ 1) 2 320( 2+ 1) 12,72


k 3 =(1 ) +
+
=1,239
1
3 63,809 40 2

Persamaan yang digunakan


Page 82

Untuk moda kelelehan, Im ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
0,83 D t m F em 0,83 12,7 80 63,809
Z=
=
=53830,033 N
Ko
1

Untuk moda kelelehan, Is ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
1,66 D t s F es 1,66 12,7 40 63,809
Z=
=
=53830,033 N
Ko
1

Untuk moda kelelehan, IIIs ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
2,08 k 3 Dt s F em 2,08 1,239 12,7 40 63,809
Z=
=
=27844,472 N
(2+ Re ) K o
( 2+1 ) 1

Untuk moda kelelehan, IV ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
2,08 D2 2 F em F yb 2,08 12, 72 2 63,809 320
Z=
=
=27682,899 N
Ko
1
3(1+ R e )
3 (1+ 1)

Dari perhitungan Z diatas, dipilih hasil yang terkecil, yaitu:


Z = 27682,899 N = 27,682 KN
Berdasarkan tabel 2.6 dan 2.7 untuk kombinasi pembebanan no 3, maka di dapat:
= 0,80
c = 0,65
'
c Z = c ( Z .C g .C . nf )=0,8 0,65 ( 27,682 0,985 1 6 ) =85,072 KN
c Z ' , maka sambungan tersebut aman.

jadi Zu <

Untuk sambungan dengan sudut 1


cos 1=

Fe =

0,62
1,08
=0,5 sin 1=
=0,867 Zu=1,16 KN
1,24
1,24
F e F e
2

Fe si n + F e cos

63,809 45,114
=57,834
63,809 0, 52+ 45,114 0,86 72

tm=80 mm
ts = 40 mm
K o=1+

0
=1
3600

( )

Re =

F em
=1
F es

Rt =

t m 80 mm
=
=2
t s 40 mm

Page 83

2(1+ R e ) 2 F yb (2+ R e ) D 2
k 3 =(1 ) +
+
Re
3 F em t s2
k 3 =(1 ) +

2(1+ 1) 2 320( 2+ 1) 12,72


+
=1,262
1
3 57,834 402

Persamaan yang digunakan


Untuk moda kelelehan, Im ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
0,83 D t m F em 0,83 12,7 80 57,834
Z=
=
=48770,543 N
Ko
1

Untuk moda kelelehan, Is ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
1,66 D t s F es 1,66 12,7 40 57,834
Z=
=
=48770,543 N
Ko
1

Untuk moda kelelehan, IIIs ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
2,08 k 3 Dt s F em 2,08 1,26212,7 40 57,834
Z=
=
=25701,961 N
(2+ Re ) K o
( 2+1 ) 1

Untuk moda kelelehan, IV ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
2,08 D2 2 F em F yb 2,08 12, 72 2 57,834 320
Z=
=
=26349,843 N
Ko
1
3(1+ R e )
3(1+1)

Dari perhitungan Z diatas, dipilih hasil yang terkecil, yaitu:


Z = 25701,961 N = 25,702 KN
Berdasarkan tabel 2.6 dan 2.7 untuk kombinasi pembebanan no 3, maka di dapat:
= 0,80
c = 0,65
'
c Z = c ( Z .C g .C . nf )=0,8 0,65 ( 25,702 1 1 1 )=13,365 KN

jadi Zu <

'

c Z , maka sambungan tersebut aman.

Sambungan pada potongan C :

Page 84

3
1

180 mm

30 mm

Page 85

60 mm

100 mm

Pu = 8,16 KN

30 mm

Berdasarkan SNI Tata Cara


perencanaan konstruksi kayu Indonesia, dalam sambungan
60 mm
mm
takikan (gigi) tunggal harus memenuhi30beberapa
persyaratan seperti :

Dalamnya gigi (tm)


1/3 h
1/3h = 4 cm
Dalam gigi yang digunakan 3 cm

....jadi memenuhi syarat.

Panjang kayu muka (lm) 1,5 h dan lm


1,5h= 180 mm
Panjang lm yang digunakan 180 mm

200 mm

....jadi memenuhi syarat.

Berdasarkan SNI Tata Cara perencanaan konstruksi kayu Indonesia, dalam sambungan
baut untuk beban sejajar arah serat harus memenuhi beberapa persyaratan seperti :
Jarak tepi (bopt)
lm/D6 1,5 D dan lm/D>6 yang terbesar antara1,5D atau jarak antar
baris alat pengencang tegak lurus serat.
80/12,4 = 6,299 1,5D =19,05 mm atau jarak anatar baris = 30 mm
Jarak tepi yang digunakan 30 mm
.....Jadi memenuhi persyaratan.
Jarak ujung (aopt)
Untuk komponen tekan = 4D
4D= 50,8 mm
Jarak ujung yang digunakan 100 mm

.....Jadi memenuhi persyaratan.

Spasi dalam baris alat pengencang (sopt)


Syarat : 4D = 50,8 mm
Spasi dalam baris yang digunakan 60 mm

....Jadi memenuhi persyaratan.

Jarak antar baris alat pengencang


Syarat : 1,5D < 127 mm 1,5D = 19,05 mm
Jarak antar baris yang digunakan 60 mm ....Jadi memenuhi persyaratan.
Faktor koreksi aksi kelompok
Untuk sambungan sejajar arah serat
n
1
C g= a i
n f i=1
r

ai=

[(

2 ni

m(1m )
ni

1+ REA m ) ( 1+m )1+m

2 ni

][

1+ R EA
1m

m=u u 21
u=1+

s 1
1
+
2 E Am E As

]
Page 86

A
E

min

A
E

R EA=
=0,246 D 1,5 ( KN /mm)=0,246 12,71,5 =11,138 KN /mm
2

E ' w =8820 N /mm =8,820 KN /mm

EA m =E ' w luas penampang kayu utama=8,820 80 120=84672 KN


EA s =E ' w luas penampang kayu sekunder=8,820 40 120=42336 KN
EA mak =84672 KN
EA min =42336 KN
Spasi baris antar alat pengencang untuk beban sejajar arah serat direncanakan adalah
60mm.
ni yang direncanakan adalah 2.
nr yang direncanakan adalah 2 baris.
nf = (ni x nr) = (2 x 2)= 4
A
E

min

A
E

mak

R EA=
u=1+

s 1
1
60
1
1
+
=1+ 11,138
+
=1,012
2 E Am E As
2 84672 42336

m=u u 21=1,012 1,01221=0,86


ai=

[(
[

m(1m2 n )
i

ni

1+ REA m ) ( 1+m )1+m

2 ni

][

1+ R EA
1m

][

0,86 (10,86 2 2)
1+ 0,5
ai=
=[ 0,186 ][ 10,714 ]
2
2 2
10,86
( 1+ 0,5 0,86 ) ( 1+0,86 ) 1+ 0,86

Page 87

ai=1,992
nr

1
1
C g= a i= 2 1,992=0,996
n f i=1
4
Untuk sambungan tegak lurus arah serat
Karena hanya digunakan 1 baut maka Cg = 1
Faktor koreksi geometrik.
Untuk sambungan sejajar arah serat
Jarak ujung yang digunakan dalam perencanaan (a) = 60 mm
Untuk a = aopt maka C = 1
Untuk sambungan tegak lurus arah serat
Karena hanya digunakan 1 baut maka C = 1
Untuk sambungan dengan sudut 2
cos 2=

2,62
=0,834 Nu=13,16 KN
3,14

N u cos 2=13,16 0,834=10,981 KN


Direncanakan untuk sambungan takikan akan digunakan sambungan takikan tunggal
dengan ketentuan:
Ketentuan perencanaan sambungan untuk takikan gigi tunggal adalah sebagai berikut:
lm b F ' v
N u cos v
lm
1+0,5
em
Berdasarkan tabel 2.6 dan 2.7 untuk kombinasi pembebanan no 3, maka di dapat:
= 0,80
v = 0,75
b=80 mm
Berdasarkan tabel 2.1 untuk kode kayu E15 , maka Fv = 5,1.
Berdasarkan tabel 2.3 untuk kelas mutu kayu B, maka rasio tahanan = 0,63.
Berdasarkan tabel 3.1 dan 3.2 untuk balok kayu dengan luas penampang lebih kecil dari
125 mm x 125 mm, T38o dan Fb/CF =32/1, maka Cm=1 dan Ct=1
Sedangkan untuk Cpt dan Crt ditetapkan berdasarkan spesifikasi pemasok (dianggap
adalah 1).
Page 88

F ' v =F v . rasio tahanan .C m . Ct . C pt . C rt


F ' v =(5,1 0,63)1 1 1 1=3,213 N /m m2
e m=0,5 t m +0,5 hnet hnet =ht m=12030=90 mm
e m=0,5 ( 30 ) +0,5 ( 90 )=15+ 45=60 mm
v

lm b F ' v
180 80 3,213
46267,2
=0,8 0,75
=0,6
=15863,04 N
lm
180
1,75
1+ 0,25
1+0,25
60
em
lm b F ' v
=15,863 KN
lm
1+0,25
em

jadi N u cos < v

lm b F ' v
,maka sambungan aman.
lm
1+0,5
em

Untuk sambungan sudut sejajar serat, Fe||


Zu = 52,79 KN
Fe|| = 77,25 G = 77,25 x 0,826 = 63,809
tm=80 mm
ts = 40 mm
0
K o=1+
=1
3600

( )

Re =

F em
=1
F es

Rt =

t m 80 mm
=
=2
t s 40 mm

2(1+ R e ) 2 F yb (2+ R e ) D 2
k 3 =(1 ) +
+
Re
3 F em t s2

2(1+ 1) 2 320( 2+ 1) 12,72


k 3 =(1 ) +
+
=1,239
1
3 63,809 40 2
Persamaan yang digunakan
Untuk moda kelelehan, Im ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
Page 89

Z=

0,83 D t m F em 0,83 12,7 80 63,809


=
=53830,033 N
Ko
1

Untuk moda kelelehan, Is ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
1,66 D t s F es 1,66 12,7 40 63,809
Z=
=
=53830,033 N
Ko
1

Untuk moda kelelehan, IIIs ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
2,08 k 3 Dt s F em 2,08 1,239 12,7 40 63,809
Z=
=
=27844,472 N
(2+ Re ) K o
( 2+1 ) 1

Untuk moda kelelehan, IV ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
2,08 D2 2 F em F yb 2,08 12, 72 2 63,809 320
Z=
=
=27682,899 N
Ko
1
3(1+ R e )
3 (1+ 1)

Dari perhitungan Z diatas, dipilih hasil yang terkecil, yaitu:


Z = 27682,899 N = 27,682 KN
Berdasarkan tabel 2.6 dan 2.7 untuk kombinasi pembebanan no 3, maka di dapat:
= 0,80
c = 0,65
c Z ' = c ( Z .C g .C . nf )=0,8 0,65 ( 27,682 0,996 1 4 )=57,348 KN
'

c Z , maka sambungan tersebut aman.

jadi Zu <

Untuk sambungan dengan sudut 1


1
1,73
cos 1= =0,5 sin 1=
=0,867 Zu=8,16 KN
2
2

Fe =

F e F e
2

Fe si n + F e cos

63,809 45,114
=57,834
2
2
63,809 0, 5 + 45,114 0,86 7

tm=80 mm
ts = 40 mm
K o=1+

( 3600 )=1
0

Re =

F em
=1
F es

Rt =

t m 80 mm
=
=2
t s 40 mm

Page 90

2(1+ R e ) 2 F yb (2+ R e ) D 2
k 3 =(1 ) +
+
Re
3 F em t s2
k 3 =(1 ) +

2(1+ 1) 2 320( 2+ 1) 12,72


+
=1,262
1
3 57,834 402

Persamaan yang digunakan


Untuk moda kelelehan, Im ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
0,83 D t m F em 0,83 12,7 80 57,834
Z=
=
=48770,543 N
Ko
1

Untuk moda kelelehan, Is ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
1,66 D t s F es 1,66 12,7 40 57,834
Z=
=
=48770,543 N
Ko
1

Untuk moda kelelehan, IIIs ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
2,08 k 3 Dt s F em 2,08 1,26212,7 40 57,834
Z=
=
=25701,961 N
(2+ Re ) K o
( 2+1 ) 1

Untuk moda kelelehan, IV ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
2,08 D2 2 F em F yb 2,08 12, 72 2 57,834 320
Z=
=
=26349,843 N
Ko
1
3(1+ R e )
3(1+1)

Dari perhitungan Z diatas, dipilih hasil yang terkecil, yaitu:


Z = 25701,961 N = 25,702 KN
Berdasarkan tabel 2.6 dan 2.7 untuk kombinasi pembebanan no 3, maka di dapat:
= 0,80
c = 0,65
c Z ' = c ( Z .C g .C . nf )=0,8 0,65 ( 25,702 1 1 1 )=13,365 KN

jadi Zu <

'

c Z , maka sambungan tersebut aman.

Sambungan pada potongan D :

Page 91

1 1
200 mm

200 mm

30 mm

30 mm

60 mm
100 mm

60 mm100 mm

Pu = 41,70 KN
Pu = 42,76 KN
30 mm
30 mm

60 mm

Pu =30,21 KN

Page 92

30 mm
30 mm60 mm

Berdasarkan SNI Tata Cara perencanaan konstruksi kayu Indonesia, dalam sambungan
takikan (gigi) tunggal harus memenuhi beberapa persyaratan seperti :
Dalamnya gigi (tm) 1/3 h
1/3h = 4 cm
Dalam gigi yang digunakan 3 cm

....jadi memenuhi syarat.

Panjang kayu muka (lm) 1,5 h dan lm


1,5h= 180 mm
Panjang lm yang digunakan 200 mm

200 mm

....jadi memenuhi syarat.

Berdasarkan SNI Tata Cara perencanaan konstruksi kayu Indonesia, dalam sambungan
baut untuk beban sejajar arah serat harus memenuhi beberapa persyaratan seperti :
Jarak tepi (bopt)
lm/D6 1,5 D dan lm/D>6 yang terbesar antara1,5D atau jarak antar
baris alat pengencang tegak lurus serat.
80/12,4 = 6,299 1,5D =19,05 mm atau jarak anatar baris = 30 mm
Jarak tepi yang digunakan 30 mm
.....Jadi memenuhi persyaratan.
Jarak ujung (aopt)
Untuk komponen tekan = 4D
4D= 50,8 mm
Jarak ujung yang digunakan 100 mm

.....Jadi memenuhi persyaratan.

Spasi dalam baris alat pengencang (sopt)


Syarat : 4D = 50,8 mm
Spasi dalam baris yang digunakan 60 mm

....Jadi memenuhi persyaratan.

Jarak antar baris alat pengencang


Syarat : 1,5D < 127 mm 1,5D = 19,05 mm
Jarak antar baris yang digunakan 60 mm ....Jadi memenuhi persyaratan.
Faktor koreksi aksi kelompok
Untuk sambungan sejajar arah serat
n
1
C g= a i
n f i=1
r

ai=

[(

m(1m2 n )
i

1+ REA mn ) ( 1+m )1+m2 n


i

][ ]
1+ R EA
1m

m=u u 21
u=1+

s 1
1
+
2 E Am E As

]
Page 93

A
E

min

A
E

R EA=
=0,246 D 1,5 ( KN /mm)=0,246 12,71,5 =11,138 KN /mm
2

E ' w =8820 N /mm =8,820 KN /mm

EA m =E ' w luas penampang kayu utama=8,820 80 120=84672 KN


EA s =E ' w luas penampang kayu sekunder=8,820 40 120=42336 KN
EA mak =84672 KN
EA min =42336 KN
Spasi baris antar alat pengencang untuk beban sejajar arah serat direncanakan adalah
60mm.
ni yang direncanakan adalah 2.
nr yang direncanakan adalah 2 baris.
nf = (ni x nr) = (2 x 2)= 4
A
E

min

A
E

mak

R EA=
u=1+

m=u u 21=1,012 1,01221=0,86


ai=

[(

s 1
1
60
1
1
+
=1+ 11,138
+
=1,012
2 E Am E As
2 84672 42336

2 ni

m(1m )
1+ REA mn ) ( 1+m )1+m2 n
i

][ ]
1+ R EA
1m

Page 94

ai =

][

0,86 (10,86 2 2)
1+ 0,5
=[ 0,186 ][ 10,714 ]
2
2 2
10,86
( 1+ 0,5 0,86 ) ( 1+0,86 ) 1+ 0,86

ai=1,992
nr

C g=

1
1
a = 2 1,992=0,996
n f i=1 i 4

Untuk sambungan tegak lurus arah serat


Karena hanya digunakan 1 baut maka Cg = 1
Faktor koreksi geometrik.
Untuk sambungan sejajar arah serat
Jarak ujung yang digunakan dalam perencanaan (a) = 60 mm
Untuk a = aopt maka C = 1
Untuk sambungan tegak lurus arah serat
Karena hanya digunakan 1 baut maka C = 1
Sambungan Untuk sudut 1
Nu = 42,76

Fe ( = 60o)

Fe =

F e F e
2

Fe si n + F e cos

63,809 45,114
=70,118
2
2
63,809 0, 867 +45,114 0, 5

tm=80 mm
ts = 40 mm
K o=1+

0
=1
0
360

( )

Re =

F em
=1
F es

Rt =

t m 80 mm
=
=2
t s 40 mm

2(1+ R e ) 2 F yb (2+ R e ) D 2
k 3 =(1 ) +
+
Re
3 F em t s2

Page 95

k 3 =(1 ) +

2(1+ 1) 2 320(2+ 1)12,72


+
=1,218
1
3 70,118 402

Persamaan yang digunakan


Untuk moda kelelehan, Im ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
0,83 D t m F em 0,83 12,7 80 70,118
Z=
=
=59129,107 N
Ko
1

Untuk moda kelelehan, Is ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
1,66 D t s F es 1,66 12,7 40 70,118
Z=
=
=59129,107 N
Ko
1

Untuk moda kelelehan, IIIs ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
2,08 k 3 Dt s F em 2,08 1,218 12,7 40 70,118
Z=
=
=30083,571 N
(2+ Re ) K o
( 2+1 ) 1

Untuk moda kelelehan, IV ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
2,08 D2 2 F em F yb 2,08 12, 72 2 70,118 320
Z=
=
=29013,485 N
Ko
1
3(1+ R e )
3(1+1)

Dari perhitungan Z diatas, dipilih hasil yang terkecil, yaitu :


Z = 29013,485 N = 29,013 KN

Direncanakan untuk sambungan takikan akan digunakan sambungan takikan tunggal


dengan ketentuan:
Ketentuan perencanaan sambungan untuk takikan gigi tunggal adalah sebagai berikut:
l b F 'v
N u cos v m
l
1+0,5 m
em
Berdasarkan tabel 2.6 dan 2.7 untuk kombinasi pembebanan no 3, maka di dapat:
= 0,80
v = 0,75
b=80 mm
Berdasarkan tabel 2.1 untuk kode kayu E15 , maka Fv = 5,1.
Berdasarkan tabel 2.3 untuk kelas mutu kayu B, maka rasio tahanan = 0,63.
Berdasarkan tabel 3.1 dan 3.2 untuk balok kayu dengan luas penampang lebih kecil dari
125 mm x 125 mm, T38o dan Fb/CF =32/1, maka Cm=1 dan Ct=1
Sedangkan untuk Cpt dan Crt ditetapkan berdasarkan spesifikasi pemasok (dianggap
adalah 1).
F ' v =F v . rasio tahanan .C m . Ct . C pt . C rt

Page 96

F ' v =(5,1 0,63)1 1 1 1=3,213 N /m m

e m=0,5 t m +0,5 hnet hnet =ht m=12030=90 mm


e m=0,5 ( 30 ) +0,5 ( 90 )=15+ 45=60 mm

lm b F ' v
200 80 3,213
51408
=0,8 0,75
=0,6
=16855,082 N
lm
200
1,83
1+ 0,25
1+0,25
60
em
lm b F ' v
=16,855 KN
lm
1+0,25
em

N u cos v

lm b F ' v
=( 42,76 cos 60 )16,855=4,525 KN
lm
1+0,25
em

N u cos sisa=4,525 KN

Z u =N u(sisa )=

4,525
=9,05 KN
cos 60

'

c Z = c ( Z .C g .C . nf )=0,8 0,65 ( 29,013 1 1 1 )=53,257 KN

jadi Zu <

c Z ' , maka sambungan tersebut aman.

Untuk sambungan sudut sejajar serat, Fe||


Zu = 42,76 KN
Fe|| = 77,25 G = 77,25 x 0,826 = 63,809
tm=80 mm
ts = 40 mm
0
K o=1+
=1
3600

( )

Re =

F em
=1
F es

Page 97

Rt =

t m 80 mm
=
=2
t s 40 mm

2(1+ R e ) 2 F yb (2+ R e ) D 2
k 3 =(1 ) +
+
2
Re
3 F em t s

2(1+ 1) 2 320( 2+ 1) 12,72


k 3 =(1 ) +
+
=1,239
1
3 63,809 40 2

Persamaan yang digunakan


Untuk moda kelelehan, Im ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
0,83 D t m F em 0,83 12,7 80 63,809
Z=
=
=53830,033 N
Ko
1

Untuk moda kelelehan, Is ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
1,66 D t s F es 1,66 12,7 40 63,809
Z=
=
=53830,033 N
Ko
1

Untuk moda kelelehan, IIIs ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
2,08 k 3 Dt s F em 2,08 1,239 12,7 40 63,809
Z=
=
=27844,472 N
(2+ Re ) K o
( 2+1 ) 1

Untuk moda kelelehan, IV ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
2,08 D2 2 F em F yb 2,08 12, 72 2 63,809 320
Z=
=
=27682,899 N
Ko
1
3(1+ R e )
3 (1+ 1)

Dari perhitungan Z diatas, dipilih hasil yang terkecil, yaitu:


Z = 27682,899 N = 27,682 KN
Berdasarkan tabel 2.6 dan 2.7 untuk kombinasi pembebanan no 3, maka di dapat:
= 0,80
c = 0,65
c Z ' = c ( Z .C g .C . nf )=0,8 0,65 ( 27,682 0,996 1 4 )=57,348 KN

jadi Zu <

'

c Z , maka sambungan tersebut aman.

Page 98

Sambungan pada potongan E :

Page 99

Pu = 9,50 KN
Pu = 56,91 KN

Pu = 8,16 KN

Pu = 49,98 KN

Page 100
30 mm
180 mm

100 mm
60 mm

100 mm
60 mm

Berdasarkan SNI Tata Cara perencanaan konstruksi kayu Indonesia, dalam sambungan
takikan (gigi) tunggal harus memenuhi beberapa persyaratan seperti :
Dalamnya gigi (tm) 1/3 h
1/3h = 4 cm
Dalam gigi yang digunakan 3 cm

....jadi memenuhi syarat.

Panjang kayu muka (lm) 1,5 h dan lm


1,5h= 180 mm
Panjang lm yang digunakan 180 mm

200 mm

....jadi memenuhi syarat.

Berdasarkan SNI Tata Cara perencanaan konstruksi kayu Indonesia, dalam sambungan
baut untuk beban sejajar arah serat harus memenuhi beberapa persyaratan seperti :
Jarak tepi (bopt)
lm/D6 1,5 D dan lm/D>6 yang terbesar antara1,5D atau jarak antar
baris alat pengencang tegak lurus serat.
80/12,4 = 6,299 1,5D =19,05 mm atau jarak anatar baris = 30 mm
Jarak tepi yang digunakan 30 mm
.....Jadi memenuhi persyaratan.
Jarak ujung (aopt)
Untuk komponen tekan = 4D
4D= 50,8 mm
Jarak ujung yang digunakan 100 mm

.....Jadi memenuhi persyaratan.

Spasi dalam baris alat pengencang (sopt)


Syarat : 4D = 50,8 mm
Spasi dalam baris yang digunakan 60 mm

....Jadi memenuhi persyaratan.

Jarak antar baris alat pengencang


Syarat : 1,5D < 127 mm 1,5D = 19,05 mm
Jarak antar baris yang digunakan 60 mm ....Jadi memenuhi persyaratan.
Faktor koreksi aksi kelompok
Untuk sambungan sejajar arah serat
n
1
C g= a i
n f i=1
r

ai=

[(

2 ni

m(1m )
ni

1+ REA m ) ( 1+m )1+m

2 ni

][

1+ R EA
1m

m=u u 21
u=1+

s 1
1
+
2 E Am E As

]
Page 101

A
E

min

A
E

R EA=
=0,246 D 1,5 ( KN /mm)=0,246 12,71,5 =11,138 KN /mm
2

E ' w =8820 N /mm =8,820 KN /mm

EA m =E ' w luas penampang kayu utama=8,820 80 120=84672 KN


EA s =E ' w luas penampang kayu sekunder=8,820 40 120=42336 KN
EA mak =84672 KN
EA min =42336 KN
Spasi baris antar alat pengencang untuk beban sejajar arah serat direncanakan adalah
60mm.
ni yang direncanakan adalah 2.
nr yang direncanakan adalah 2 baris.
nf = (ni x nr) = (2 x 2)= 4
A
E

min

A
E

mak

R EA=
u=1+

m=u u 21=1,012 1,01221=0,86


ai=

[(

s 1
1
60
1
1
+
=1+ 11,138
+
=1,012
2 E Am E As
2 84672 42336

2 ni

m(1m )
1+ REA mn ) ( 1+m )1+m2 n
i

][ ]
1+ R EA
1m

Page 102

ai =

][

0,86 (10,86 2 2)
1+ 0,5
=[ 0,186 ][ 10,714 ]
2
2 2
10,86
( 1+ 0,5 0,86 ) ( 1+0,86 ) 1+ 0,86

ai=1,992
nr

C g=

1
1
a = 2 1,992=0,996
n f i=1 i 4

Untuk sambungan tegak lurus arah serat


Karena hanya digunakan 1 baut maka Cg = 1
Faktor koreksi geometrik.
Untuk sambungan sejajar arah serat
Jarak ujung yang digunakan dalam perencanaan (a) = 60 mm
Untuk a = aopt maka C = 1
Untuk sambungan tegak lurus arah serat
Karena hanya digunakan 1 baut maka C = 1
Untuk sambungan dengan sudut 1
cos 2=

1,62
=0,683 Nu=9,50 KN
2,37

N u cos 2=9,50 0,683=6,488 KN


Direncanakan untuk sambungan takikan akan digunakan sambungan takikan tunggal
dengan ketentuan:
Ketentuan perencanaan sambungan untuk takikan gigi tunggal adalah sebagai berikut:
l b F 'v
N u c os v m
l
1+ 0,5 m
em
Berdasarkan tabel 2.6 dan 2.7 untuk kombinasi pembebanan no 3, maka di dapat:
= 0,80
v = 0,75
b=80 mm
Berdasarkan tabel 2.1 untuk kode kayu E15 , maka Fv = 5,1.
Page 103

Berdasarkan tabel 2.3 untuk kelas mutu kayu B, maka rasio tahanan = 0,63.
Berdasarkan tabel 3.1 dan 3.2 untuk balok kayu dengan luas penampang lebih kecil dari
125 mm x 125 mm, T38o dan Fb/CF =32/1, maka Cm=1 dan Ct=1
Sedangkan untuk Cpt dan Crt ditetapkan berdasarkan spesifikasi pemasok (dianggap
adalah 1).
F ' v =F v . rasio tahanan .C m . Ct . C pt . C rt
F ' v =(5,1 0,63)1 1 1 1=3,213 N /m m2

e m=0,5 t m +0,5 hnet hnet =ht m=12030=90 mm


e m=0,5 ( 30 ) +0,5 ( 90 )=15+ 45=60 mm
v

lm b F ' v
180 80 3,213
46267,2
=0,8 0,75
=0,6
=15863,04 N
lm
180
1,75
1+
0,25
1+0,25
60
em
lm b F ' v
=15,863 KN
lm
1+0,25
em

jadi N u cos < v

lm b F ' v
,maka sambungan aman.
lm
1+0,5
em

Untuk sambungan sudut sejajar serat, Fe||


Zu = 56,91 KN
Fe|| = 77,25 G = 77,25 x 0,826 = 63,809
tm=80 mm
ts = 40 mm
0
K o=1+
=1
3600

( )

Re =

F em
=1
F es

Rt =

t m 80 mm
=
=2
t s 40 mm

2(1+ R e ) 2 F yb (2+ R e ) D 2
k 3 =(1 ) +
+
Re
3 F em t s2

Page 104

k 3 =(1 ) +

2(1+ 1) 2 320( 2+ 1) 12,72


+
=1,239
1
3 63,809 40 2

Persamaan yang digunakan


Untuk moda kelelehan, Im ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
0,83 D t m F em 0,83 12,7 80 63,809
Z=
=
=53830,033 N
Ko
1

Untuk moda kelelehan, Is ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
1,66 D t s F es 1,66 12,7 40 63,809
Z=
=
=53830,033 N
Ko
1

Untuk moda kelelehan, IIIs ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
2,08 k 3 Dt s F em 2,08 1,239 12,7 40 63,809
Z=
=
=27844,472 N
(2+ Re ) K o
( 2+1 ) 1

Untuk moda kelelehan, IV ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
2,08 D2 2 F em F yb 2,08 12, 72 2 63,809 320
Z=
=
=27682,899 N
Ko
1
3(1+ R e )
3 (1+ 1)

Dari perhitungan Z diatas, dipilih hasil yang terkecil, yaitu:


Z = 27682,899 N = 27,682 KN
Berdasarkan tabel 2.6 dan 2.7 untuk kombinasi pembebanan no 3, maka di dapat:
= 0,80
c = 0,65
c Z ' = c ( Z .C g .C . nf )=0,8 0,65 ( 27,682 0,996 1 4 )=57,348 KN
c Z ' , maka sambungan tersebut aman.

jadi Zu <

Untuk sudut tegak lurus serat, Fe


Zu = 8,16 KN
Fe = 212 G1,45D-0,5 = 212(0,826)1,45(12,7)-0,5 = 45,114

tm=80 mm
ts = 40 mm
K o=1+

( 3600 )=1
0

Re =

F em
=1
F es

Rt =

t m 80 mm
=
=2
t s 40 mm

Page 105

2(1+ R e ) 2 F yb (2+ R e ) D 2
k 3 =(1 ) +
+
Re
3 F em t s2
k 3 =(1 ) +

2(1+ 1) 2 320( 2+ 1) 12,72


+
=1,331
1
3 45,114 40 2

Persamaan yang digunakan


Untuk moda kelelehan, Im ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
0,83 D t m F em 0,83 12,7 80 45,114
Z=
=
=38043,427 N
Ko
1

Untuk moda kelelehan, Is ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
1,66 D t s F es 1,66 12,7 40 45,114
Z=
=
=38043,427 N
Ko
1

Untuk moda kelelehan, IIIs ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
2,08 k 3 Dt s F em 2,08 1,33112,7 40 45,114
Z=
=
=21137,215 N
(2+ Re ) K o
( 2+1 ) 1

Untuk moda kelelehan, IV ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
2,08 D2 2 F em F yb 2,08 12, 72 2 45,114 320
Z=
=
=23272,286 N
Ko
1
3(1+ R e )
3 (1+1)

Dari perhitungan Z diatas, dipilih hasil yang terkecil, yaitu:


Z = 21137,215 N = 21,137 KN
Berdasarkan tabel 2.6 dan 2.7 untuk kombinasi pembebanan no 3, maka di dapat:
= 0,80
c = 0,65
c Z ' = c ( Z .C g .C . nf )=0,8 0,65 ( 21,137 1 1 1 )=10,991 KN

jadi Zu <

c Z ' , maka sambungan tersebut aman.

Sambungan pada potongan F :

Page 106

30 mm
Pu = 40,72KN

60 mm 340
30 mm mm

1
1
Pu = 30,21 KN

Pu = 17,88 KN

Pu = 16,93 KN

Page 107
Pu = 42,74 KN

Berdasarkan SNI Tata Cara perencanaan konstruksi kayu Indonesia, dalam sambungan
takikan (gigi) tunggal harus memenuhi beberapa persyaratan seperti :
Dalamnya gigi (tm) 1/3 h
1/3h = 4 cm
Dalam gigi yang digunakan 3 cm
....jadi memenuhi syarat.
Panjang kayu muka (lm) 1,5 h dan lm 200 mm
1,5h= 180 mm
Panjang lm yang digunakan 340 mm

memenuhi syarat lm > 1,5 h

Berdasarkan SNI Tata Cara perencanaan konstruksi kayu Indonesia, dalam sambungan
baut untuk beban sejajar arah serat harus memenuhi beberapa persyaratan seperti :
Jarak tepi (bopt)
lm/D6 1,5 D dan lm/D>6 yang terbesar antara1,5D atau jarak antar
baris alat pengencang tegak lurus serat.
80/12,4 = 6,299 1,5D =19,05 mm atau jarak anatar baris = 30 mm
Jarak tepi yang digunakan 30 mm
.....Jadi memenuhi persyaratan.
Jarak ujung (aopt)
Untuk komponen tekan = 4D
4D= 50,8 mm
Jarak ujung yang digunakan 100 mm

.....Jadi memenuhi persyaratan.

Spasi dalam baris alat pengencang (sopt)


Syarat : 4D = 50,8 mm
Spasi dalam baris yang digunakan 60 mm

30 mm

....Jadi memenuhi persyaratan.

Jarak antar baris alat pengencang


Syarat : 1,5D < 127 mm 1,5D = 19,05 mm
Jarak antar baris yang digunakan 60 mm ....Jadi memenuhi persyaratan.
Faktor koreksi aksi kelompok
Untuk sambungan sejajar arah serat
n
1
C g= a i
n f i=1
r

ai=

[(

2 ni

m(1m )
ni

1+ REA m ) ( 1+m )1+m

2 ni

][

1+ R EA
1m

m=u u 21
u=1+

s 1
1
+
2 E Am E As

]
Page 108

A
E

min

A
E

R EA=
=0,246 D 1,5 ( KN /mm)=0,246 12,71,5 =11,138 KN /mm
2

E ' w =8820 N /mm =8,820 KN /mm

EA m =E ' w luas penampang kayu utama=8,820 80 120=84672 KN


EA s =E ' w luas penampang kayu sekunder=8,820 40 120=42336 KN
EA mak =84672 KN
EA min =42336 KN
Spasi baris antar alat pengencang untuk beban sejajar arah serat direncanakan adalah
60mm.
ni yang direncanakan adalah 2.
nr yang direncanakan adalah 2 baris.
nf = (ni x nr) = (2 x 2)= 4
A
E

min

A
E

mak

R EA=
u=1+

s 1
1
60
1
1
+
=1+ 11,138
+
=1,012
2 E Am E As
2 84672 42336

m=u u 21=1,012 1,01221=0,86


ai=

[(

2 ni

m(1m )
1+ REA mn ) ( 1+m )1+m2 n
i

][ ]
1+ R EA
1m

30 mm

Page 109

ai =

][

0,86 (10,86 2 2)
1+ 0,5
=[ 0,186 ][ 10,714 ]
2
2 2
10,86
( 1+ 0,5 0,86 ) ( 1+0,86 ) 1+ 0,86

ai=1,992

100 mm60 mm

100 mm
60 mm

nr

1
1
C g= a i= 2 1,992=0,996
n f i=1
4
Untuk sambungan tegak lurus arah serat
Karena hanya digunakan 1 baut maka Cg = 1
Faktor koreksi geometrik.
Untuk sambungan sejajar arah serat
Jarak ujung yang digunakan dalam perencanaan (a) = 60 mm
Untuk a = aopt maka C = 1
Untuk sambungan tegak lurus arah serat
Karena hanya digunakan 1 baut maka C = 1
Untuk sambungan dengan sudut 1
cos 2=

3,62
=0,903 Nu=17,88 KN
4,01

N u cos 2=17,88 0,903=16,146 KN


Direncanakan untuk sambungan takikan akan digunakan sambungan takikan tunggal
dengan ketentuan:
Ketentuan perencanaan sambungan untuk takikan gigi tunggal adalah sebagai berikut:
l b F 'v
N u cos v m
l
1+0,5 m
em
Berdasarkan tabel 2.6 dan 2.7 untuk kombinasi pembebanan no 3, maka di dapat:
= 0,80
v = 0,75
b=80 mm
Berdasarkan tabel 2.1 untuk kode kayu E15 , maka Fv = 5,1.
Berdasarkan tabel 2.3 untuk kelas mutu kayu B, maka rasio tahanan = 0,63.

Page 110

Berdasarkan tabel 3.1 dan 3.2 untuk balok kayu dengan luas penampang lebih kecil dari
125 mm x 125 mm, T38o dan Fb/CF =32/1, maka Cm=1 dan Ct=1
Sedangkan untuk Cpt dan Crt ditetapkan berdasarkan spesifikasi pemasok (dianggap
adalah 1).
F ' v =F v . rasio tahanan .C m . Ct . C pt . C rt
F ' v =(5,1 0,63)1 1 1 1=3,213 N /m m2

e m=0,5 t m +0,5 hn et hnet =ht m=12030=90 mm


e m=0,5 ( 30 ) +0,5 ( 90 )=15+ 45=60 mm
v

lm b F ' v
340 80 3,213
87393,6
=0,8 0,75
=0,6
=21703,709 N
lm
340
2,416
1+ 0,25
1+0,25
60
em
lm b F ' v
=21,704 KN
lm
1+0,25
em

jadi N u cos < v

lm b F ' v
,maka sambungan aman.
lm
1+0,5
em

Untuk sambungan sudut sejajar serat, Fe||


Zu = 42,74 KN
Fe|| = 77,25 G = 77,25 x 0,826 = 63,809
tm=80 mm
ts = 40 mm
0
K o=1+
=1
3600

( )

Re =

F em
=1
F es

Rt =

t m 80 mm
=
=2
t s 40 mm

k 3 =(1 ) +

2(1+ R e ) 2 F yb (2+ R e ) D
+
2
Re
3 F em t s

Page 111

k 3 =(1 ) +

2(1+ 1) 2 320( 2+ 1) 12,72


+
=1,239
1
3 63,809 40 2

Persamaan yang digunakan


Untuk moda kelelehan, Im ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
0,83 D t m F em 0,83 12,7 80 63,809
Z=
=
=53830,033 N
Ko
1

Untuk moda kelelehan, Is ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
1,66 D t s F es 1,66 12,7 40 63,809
Z=
=
=53830,033 N
Ko
1

Untuk moda kelelehan, IIIs ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
2,08 k 3 Dt s F em 2,08 1,239 12,7 40 63,809
Z=
=
=27844,472 N
(2+ Re ) K o
( 2+1 ) 1

Untuk moda kelelehan, IV ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
2,08 D2 2 F em F yb 2,08 12, 72 2 63,809 320
Z=
=
=27682,899 N
Ko
1
3(1+ R e )
3 (1+ 1)

Dari perhitungan Z diatas, dipilih hasil yang terkecil, yaitu:


Z = 27682,899 N = 27,682 KN
Berdasarkan tabel 2.6 dan 2.7 untuk kombinasi pembebanan no 3, maka di dapat:
= 0,80
c = 0,65
c Z ' = c ( Z .C g .C . nf )=0,8 0,65 ( 27,682 0,996 1 4 )=57,348 KN
'

c Z , maka sambungan tersebut aman.

jadi Zu <

Untuk sudut tegak lurus serat, Fe


Zu = 30,21 KN (khusus untuk sambungan pada titik ini, diameter baut yg
digunakan adalah 2,5 mm
Fe = 212 G1,45D-0,5 = 212(0,826)1,45(25)-0,5 = 32,154

tm=80 mm
ts = 40 mm
K o=1+
Re =

0
=1
3600

( )

F em
=1
F es

Page 112

Rt =

t m 80 mm
=
=2
t s 40 mm

2(1+ R e ) 2 F yb (2+ R e ) D 2
k 3 =(1 ) +
+
2
Re
3 F em t s

2(1+ 1) 2 320( 2+ 1) 252


k 3 =(1 ) +
+
=2,431
1
3 45,114 40 2
Persamaan yang digunakan
Untuk moda kelelehan, Im ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
0,83 D t m F em 0,83 25 80 32,154
Z=
=
=53376,216 N
Ko
1

Untuk moda kelelehan, Is ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
1,66 D t s F es 1,66 25 40 32,154
Z=
=
=53376,216 N
Ko
1

Untuk moda kelelehan, IIIs ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
2,08 k 3 Dt s F em 2,08 1,331 25 40 32,154
Z=
=
=54206,454 N
(2+ Re ) K o
( 2+1 ) 1

Untuk moda kelelehan, IV ; maka tahanan lateral (Z) seperti persamaan berikut:
2,08 D2 2 F em F yb 2,08 2 52 2 32,154 320
Z=
=
=76133,808 N
Ko
1
3(1+ R e )
3 (1+1)

Dari perhitungan Z diatas, dipilih hasil yang terkecil, yaitu:


Z = 53376,216 N = 53,376 KN
Berdasarkan tabel 2.6 dan 2.7 untuk kombinasi pembebanan no 3, maka di dapat:
= 0,80
c = 0,65
c Z ' = c ( Z .C g .C . nf )=0,8 0,65 ( 53,376 1 1 1 )=32,0256 KN

jadi Zu <

'

c Z , maka sambungan tersebut aman.

Page 113