Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PENDAHULUAN

PASIEN DENGAN TUMOR OTAK

1. DEFINISI
Tumor otak adalah tumor jinak pada selaput otak atau salah satu otak
(Rosa Mariono, MA, Standard Asuhan Keperawatan, St. Carolus, 2000)
Tumor otak adalah lesi intra kranial yang menempati ruang dalam tulang
tengkorak (buku ajar patofisiologi)
Tumor otak adalah suatu lesi ekspansif yang bersifat jinak (benigna)
ataupun ganas (maligna) membentuk massa dalam ruang tengkorak kepala (intra
cranial) atau di sumsum tulang belakang (medulla spinalis). Neoplasma pada
jaringan otak dan selaputnya dapat berupa tumor primer maupun metastase.
Apabila sel-sel tumor berasal dari jaringan otak itu sendiri disebut tumor otak
primer dan bila berasal dari organ-organ lain (metastase) seperti kanker paru,
payudara, prostate, ginjal, dan lain-lain disebut tumor otak sekunder. (Mayer.
SA,2002).
2. EPIDEMIOLOGI
Penderita tumor otak lebih banyak pada laki-laki (60,74 persen) dibanding
perempuan (39,26 persen) dengan kelompok usia terbanyak 51 sampai 60 tahun
(31,85 persen); selebihnya terdiri dari berbagai kelompok usia yang bervariasi
dari 3 bulan sampai usia 50 tahun. Dari 135 penderita tumor otak, hanya 100
penderita (74,1 persen) yang dioperasi dan lainnya (26,9 persen) tidak dilakukan
operasi karena berbagai alasan, seperti; inoperable atau tumor metastase
(sekunder).
Lokasi tumor terbanyak berada di lobus parietalis (18,2 persen),
sedangkan tumor-tumor lainnya tersebar di beberapa lobus otak, suprasellar,
medulla spinalis, cerebellum, brainstem, cerebellopontine angle dan multiple.
Dari hasil pemeriksaan Patologi Anatomi (PA), jenis tumor terbanyak yang
dijumpai adalah Meningioma (39,26 persen), sisanya terdiri dari berbagai jenis
tumor dan lain-lain yang tak dapat ditentukan.

Tumor Otak

Page 1

3. PENYEBAB
Penyebab tumor hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti,
walaupun telah banyak penyelidikan yang dilakukan. Adapun faktor-faktor yang
perlu ditinjau, yaitu :
a. Herediter
Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali
pada meningioma, astrositoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada
anggota-anggota sekeluarga. Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-Weber
yang dapat dianggap sebagai manifestasi pertumbuhan baru, memperlihatkan
faktor familial yang jelas. Selain jenis-jenis neoplasma tersebut tidak ada
bukti-buakti yang kuat untuk memikirkan adanya faktor-faktor hereditas yang
kuat pada neoplasma.
b. Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest)
Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan
yang mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh. Tetapi
ada kalanya sebagian dari bangunan embrional tertinggal dalam tubuh,
menjadi ganas dan merusak bangunan di sekitarnya. Perkembangan abnormal
itu dapat terjadi pada kraniofaringioma, teratoma intrakranial dan kordoma.
c. Radiasi
Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat
mengalami perubahan degenerasi, namun belum ada bukti radiasi dapat
memicu terjadinya suatu glioma. Pernah dilaporkan bahwa meningioma
terjadi setelah timbulnya suatu radiasi.
d. Virus
Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar
yang dilakukan dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi virus dalam
proses terjadinya neoplasma, tetapi hingga saat ini belum ditemukan
hubungan antara infeksi virus dengan perkembangan tumor pada sistem saraf
pusat.
e. Substansi-substansi Karsinogenik
Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan.
Kini telah diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik seperti
methylcholanthrone, nitroso-ethyl-urea. Ini berdasarkan percobaan yang
dilakukan pada hewan.
f. Trauma
Trauma yang berulang menyebabkan terjadinya meningioma (neoplasma
Tumor Otak

Page 2

selaput otak). Pengaruh trauma pada patogenesis neoplasma susunan saraf


pusat belum diketahui.
4. JENIS-JENIS TUMOR OTAK
a. Glioma
Ini adalah tumor otak yang paling sering dijumpai. Sekurang-kurangnya
60% dari tumor otak adalah glioma.timbul pada jaringan otak, dan
mempenetrasi jaringan otak sekitarnya.tumor ini terdiri dari sel-sel glia dan
serabut-serabut glia. Terutama pada yang cepat berkembang. Sangat banyak
pembuluh darahnya (rete mirabilae) dan bisa timbul daerah nekrosis yang
akhirnya membentuk kista. Kadang-kadang didapati pengapuran.
Jenis-jenis glioma adalah :
1) Astrositoma
Terutama terdapat pada serebelum anak-anak. Selalu membentuk kista.
Astrositoma pada hemisfer lebih sering pada orang dewasa
2) Oligodendroglioma
Pertumbuhan lambat, tak ada nekrosis, tak banyak pembuluh darah, tapi
sering ada pengapuran. Terutama terdapat pada hemisfer dewasa.
Perdarahan spontan pada tumor bisa terjadi. Metastasis via likuor bisa
terjadi.

Gambar 1. Tumor otak glioma


3) Ependimoma
Berasal dari sel epindim, paada dinding ventrikulus otak. Terdapat pada
anak dan dewasa. Ada pembentukan kista. Metastasis via likuor bisa
terjadi
4) Glioblastoma

Tumor Otak

Page 3

Terutama pada otak besar orang dewasa. Timbul cepat dan difus, banyak
pembuluh darah. Kadang-kadang tumbuh kehemisfer lain (tumor kupukupu). Ini adalah jenis glioma yang sering didapati, terutama terdapat
pada umur 45-55 tahun.
5) Meduloblastoma
Terdapat terutama pada serebelum anak 8-9 tahun. Metastasis sering via
likuor.
b. Meningioma serebri
Berasal dari sel araknoidal. Lebih kurang 15% dari seluruh tumor otak.
Tumor ini tidak banyak menginfiltasi durameter. Falks serebri, tentorium,
sinus-sinus dan tulang, terutama bila tumor ini berkembang seperti plak
(enplaque). Pertumbuhan umumnya lambat, jadi lama baru memberi gejala
pembendungan likuor dan jarang mempengaruhi psike. Sering ada
diskongruuensi besar tumor dengan luas gejala klinik. Demikianlah bisa
terjadi meningioma yang sangat besar dikonveksitas, hanya memberikan
gejala neurologik yang sangat sedikit. Sebaliknya meningioma yang kecil,
tapi letaknya basal, oleh pembendungan vena, menyebabkan gejala
neurologik yang luas.

Gambar 2. Tumor otak Meningioma serebri


c. Tumor Hipofisis
Adenoma dan kraniofaringioma adalah tumor ektra serebral
d. Epidermoid = kolesteatoma

Tumor Otak

Page 4

Tumor ini mempunyai kapsul yang berisi massa yang berkilat seperti
mutiara. Tak ada pembuluh darah, dan sebagian bisa nekrotis. Bisa didapati
ektradural, subdural, intraserebral dan intraventikular
e. Kondroma
bisa didapati ektradural, paraselar atau pada angulus pontoserebelaris sebagai
bagian kondromatosa umum. Kondrosarkoma bisa didapat juga pada
konveksitas.
f. Kordoma
Timbul dari sisa embrional korda dorsalis. Terutama terdapat di daerah
sakrum. Walaupun bisa juga intraserebral berupa khordoma klivus.
5. PATOFISIOLOGI
Tumor otak menyebabkan gangguan neurologik progresif. Gangguan
neurologik pada tumor otak biasanya dianggap disebabkan oleh dua faktor :
gangguan fokal disebebkan oleh tumor dan kenaikan tekanan intrakranial.
Gangguan fokal terjadi apabila terdapat penekanan pada jaringan otak, dan
infiltrasi atau invasi langsung pada parenkim otak dengan kerusakan jaringan
neuron.
Perubahan suplai darah akibat tekanan yang ditimbulkan tumor yang bertumbuh
menyebabkan nekrosis jaringan otak. Gangguan suplai darah arteri pada
umumnya bermanifestasi sebagai kehilangan fungsi secara akut dan mungkin
dapat dikacaukan dengan gangguan serebrovaskuler primer.
Serangan kejang sebagai gejala perubahan kepekaan neuron dihubungkan
dengan kompesi invasi dan perubahan suplai darah ke jaringan otak. Beberapa
tumor membentuk kista yang juga menekan parenkim otak sekitarnya sehingga
memperberat ganggguan neurologist fokal.
Peningkatan tekanan intrakranial dapat diakibatkan oleh beberapa faktor :
bertambahnya massa dalam tengkorak, terbentuknya edema sekitar tumor, dan
perubahan sirkulasi cairan serebrospinal.

Tumor Otak

Page 5

Beberapa tumor dapat menyebabkan perdarahan. Obstruksi vena dan


edema yang disebabkan oleh kerusakan sawar darah otak, semuanya
menimbulkan

kenaikan

volume

intracranial

dan

meningkatkan

tekanan

intracranial. Obstruksi sirkulasi cairan serebrospinal dari ventrikel lateral ke


ruangan subaraknoid menimbulkan hidrosefalus.
Peningkatan tekanan intrakranial akan membahayakan jiwa. Mekanisme
kompensasi memerlukan waktu lama untuk menjadi efektif dan oleh karena itu
tak berguna apabila tekanan intrakranial timbul cepat.
Mekanisme kompensasi ini antara lain bekerja menurunkan volume darah
intrakranial, volume cairan serebrospinal, kandungan cairan intrasel dan
mengurangi sel-sel parenkim, kenaikan tekanan yang tidak diobati mengakibatkan
herniasi unkus atau serebelum yang timbul bilagirus medialis lobus temporalis
bergeser ke inferior melalui insisura tentorial oleh massa dalam hemisfer otak.
Herniasi menekan mesensenfalon, menyebabkan hilangnya kesadaran dan
menekan saraf otak ketiga. Kompresi medula oblogata dan henti pernafasan
terjadi dengan cepa.
Perubahan fisiologi lain terjadi akibat peningkatan intracranial yang cepat
adalah bradikardia progresif, hipertensi sistemik (pelebaran tekanan nadi), dan
gangguan pernafasan.

6. TANDA DAN GEJALA


Tumor otak merupakan penyakit yang sukar terdiagnosa secara dini,
karena pada awalnya menunjukkan berbagai gejala yang menyesatkan dan
meragukan tapi umumnya berjalan progresif.
Manifestasi klinis tumor otak dapat berupa:
a. Gejala serebral umum
Dapat berupa perubahan mental yang ringan (Psikomotor asthenia), yang
dapat dirasakan oleh keluarga dekat penderita berupa: mudah tersinggung,
emosi, labil, pelupa, perlambatan aktivitas mental dan sosial, kehilangan
Tumor Otak

Page 6

inisiatif dan spontanitas, mungkin diketemukan ansietas dan depresi. Gejala


ini berjalan progresif dan dapat dijumpai pada 2/3 kasus
1) Nyeri Kepala
Diperkirakan 1% penyebab nyeri kepala adalah tumor otak dan 30%
gejala awal tumor otak adalah nyeri kepala. Sedangkan gejala lanjut
diketemukan 70% kasus. Sifat nyeri kepala bervariasi dari ringan dan
episodik sampai berat dan berdenyut, umumnya bertambah berat pada
malam hari dan pada saat bangun tidur pagi serta pada keadaan dimana
terjadi peninggian tekanan tinggi intrakranial. Adanya nyeri kepala
dengan psikomotor asthenia perlu dicurigai tumor otak.
2) Muntah
Terdapat pada 30% kasus dan umumnya meyertai nyeri kepala. Lebih
sering dijumpai pada tumor di fossa posterior, umumnya muntah bersifat
proyektif dan tak disertai dengan mual.
3) Kejang
Bangkitan kejang dapat merupakan gejala awal dari tumor otak pada
25% kasus, dan lebih

dari 35% kasus pada stadium lanjut.

Diperkirakan 2% penyebab bangkitan kejang adalah tumor otak. Perlu


dicurigai penyebab bangkitan kejang adalah tumor otak bila bagkitan
kejang pertama kali pada usia lebih dari 25 tahun, mengalami post iktal
paralisis, mengalami status epilepsi, resisten terhadap obat-obat epilepsi,
bangkitan disertai dengan gejala TTIK lain, bangkitan kejang ditemui
pada 70% tumor otak dikorteks, 50% pasen dengan astrositoma, 40%
pada pasen meningioma, dan 25% pada glioblastoma.
4) Gejala Tekanan Tinggi Intrakranial
Berupa keluhan nyeri kepala di daerah frontal dan oksipital yang timbul
pada pagi hari dan malam hari, muntah proyektil dan enurunan
kesadaran. Pada pemeriksaan diketemukan papil udem. Keadaan ini perlu
tindakan segera karena setiap saat dapat timbul ancaman herniasi. Selain
itu dapat dijumpai parese N.VI akibat teregangnya N.VI oleh TTIK.
Tumor-tumor yang sering memberikan gejala TTIK tanpa gejala-gejala

Tumor Otak

Page 7

fokal maupun lateralisasi adalah meduloblatoma, spendimoma dari


ventrikel III, haemangioblastoma serebelum dan craniopharingioma.
b. Gejala spesifik tumor otak yang berhubungan dengan lokasi:
1) Lobus frontal
Menimbulkan gejala perubahan kepribadian, bila tumor menekan jaras
motorik menimbulkan hemiparese kontra lateral, kejang fokal, bila
menekan permukaan media dapat menyebabkan inkontinentia, bila tumor
terletak pada basis frontal menimbulkan sindrom foster kennedy, dan
pada lobus dominan menimbulkan gejala afasia
2) Lobus parietal
Dapat menimbulkan gejala modalitas sensori kortikal hemianopsi
homonym dan Bila terletak dekat area motorik dapat timbul kejang fokal
dan pada girus angularis menimbulkan gejala sindrom gerstmanns
3) Lobus temporal
Akan menimbulkan gejala hemianopsi, bangkitan psikomotor, yang
didahului dengan aura atau halusinasi, bila letak tumor lebih dalam
menimbulkan gejala afasia dan hemiparese, dan pada tumor yang terletak
sekitar basal ganglia dapat diketemukan gejala choreoathetosis,
parkinsonism.
4) Lobus oksipital
Menimbulkan bangkitan kejang yang dahului dengan gangguan
penglihatan dan gangguan penglihatan yang permulaan bersifat
quadranopia berkembang menjadi hemianopsia, objeckagnosia
5) Tumor di ventrikel ke III
Tumor

biasanya

bertangkai

sehingga

pada

pergerakan

kepala

menimbulkan obstruksi dari cairan serebrospinal dan terjadi peninggian


tekanan intrakranial mendadak, pasen tiba-tiba nyeri kepala, penglihatan
kabur, dan penurunan kesadaran
6) Tumor di cerebello pontin angie
Tersering berasal dari n viii yaitu acustic neurinoma, dapat dibedakan
dengan tumor jenis lain karena gejala awalnya berupa gangguan fungsi

Tumor Otak

Page 8

pendengaran, dan gejala lain timbul bila tumor telah membesar dan
keluar dari daerah pontin angel
7) Tumor Hipotalamus
Menyebabkan gejala TTIK akibat oklusi dari foramen Monroe dan
gangguan

fungsi

hipotalamus

menyebabkan

gejala:

gangguan

perkembangan seksuil pada anak-anak, amenorrhoe,dwarfism, gangguan


cairan dan elektrolit, bangkitan
8) Tumor di cerebelum
Umumnya didapat gangguan berjalan dan gejala TTIK akan cepat erjadi
disertai dengan papil udem dan nyeri kepala khas didaerah oksipital yang
menjalar keleher dan spasme dari otot-otot servikal
9) Tumor fosa posterior
Diketemukan gangguan berjalan, nyeri kepala dan muntah disertai
dengan

nystacmus,

biasanya

merupakan

gejala

awal

dari

medulloblastoma

7. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. CT scan dan MRI
Memperlihatkan semua tumor intrakranial dan menjadi prosedur
investigasi awal ketika penderita menunjukkan gejala yang progresif atau
tanda-tanda penyakit otak yang difus atau fokal, atau salah satu tanda spesifik
dari sindrom atau gejala-gejala tumor. Kadang sulit membedakan tumor dari
abses ataupun proses lainnya.
CT Scan merupakan alat diagnostik yang penting dalam evaluasi pasen
yang diduga menderita tumor otak. Sensitifitas CT Scan untuk mendeteksi
tumor yang berpenampang kurang dari 1 cm dan terletak pada basis kranil.
Gambaran CT Scan pada tumor otak, umumnya tampak sebagai lesi abnormal
berupa massa yang mendorong struktur otak disekitarnya.
Biasanya tumor otak dikelilingi jaringan udem yang terlihat jelas karena
densitasnya lebih rendah. Adanya kalsifikasi, perdarahan atau invasi mudah
Tumor Otak

Page 9

dibedakan dengan jaringan sekitarnya karena sifatnya yang hiperdens.


Beberapa jenis tumor akan terlihat lebih nyata bila pada waktu pemeriksaan
CT Scan disertai dengan pemberian zat kontras.
b. Foto polos dada
Dilakukan untuk mengetahui apakah tumornya berasal dari suatu
metastasis yang akan memberikan gambaran nodul tunggal ataupun multiple
pada otak.
c. Pemeriksaan cairan serebrospinal
Dilakukan untuk melihat adanya sel-sel tumor dan juga marker tumor.
Tetapi pemeriksaan ini tidak rutin dilakukan terutama pada pasien dengan
massa di otak yang besar. Umumnya diagnosis histologik ditegakkan melalui
pemeriksaan patologi anatomi, sebagai cara yang tepat untuk membedakan
tumor dengan proses-proses infeksi (abses cerebri).
d. Biopsi stereotaktik
Dapat digunakan untuk mendiagnosis kedudukan tumor yang dalam dan
untuk memberikan dasar-dasar pengobatan dan informasi prognosis.
e. Angiografi Serebral
Memberikan gambaran pembuluh darah serebral dan letak tumor serebral.
f. Elektroensefalogram (EEG)
Mendeteksi gelombang otak abnormal pada daerah yang ditempati tumor
dan dapat memungkinkan untuk mengevaluasi lobus temporal pada waktu
kejang. (Nn:2013)
8. PENATALAKSANAAN MEDIS
a. Medis
Faktor faktor prognostik sebagai pertimbangan penatalaksanaan medis :
1)
2)
3)
4)
5)

Usia
General Health
Ukuran Tumor
Lokasi Tumor
Jenis Tumor

Untuk tumor otak ada tiga metode utama yang digunakan dalam
penatalaksaannya, yaitu :
Tumor Otak

Page 10

1. Surgery
Terapi Pre-Surgery :
1) Steroid adalah Menghilangkan swelling, contoh dexamethasone
2) Anticonvulsant adalah Untuk mencegah dan mengontrol kejang, seperti
carbamazepine
3) Shunt adalah Digunakan untuk mengalirkan cairan cerebrospinal
Pembedahan merupakan pilihan utama untuk mengangkat tumor.
Pembedahan pada tumor otak bertujuan untuk melakukan dekompresi
dengan cara mereduksi efek massa sebagai upaya menyelamatkan nyawa
serta memperoleh efek paliasi. Dengan pengambilan massa tumor
sebanyak mungkin diharapkan pula jaringan hipoksik akan terikut serta
sehingga akan diperoleh efek radiasi yang optimal. Diperolehnya banyak
jaringan tumor akan memudahkan evaluasi histopatologik, sehingga
diagnosis patologi anatomi diharapkan akan menjadi lebih sempurna.
Namun pada tindakan pengangkatan tumor jarang sekali menghilangkan
gejala-gelaja yang ada pada penderita.
2. Radioterapi
Radioterapi
penatalaksanaan

merupakan
proses

salah

satu

keganasan.

modalitas

Berbagai

penting

penelitian

klinis

dalam
telah

membuktikan bahwa modalitas terapi pembedahan akan memberikan hasil


yang lebih optimal jika diberikan kombinasi terapi dengan kemoterapi dan
radioterapi.
Sebagian besar tumor otak bersifat radioresponsif (moderately sensitive),
sehingga pada tumor dengan ukuran terbatas pemberian dosis tinggi radiasi
diharapkan dapat mengeradikasi semua sel tumor. Namun demikian
pemberian dosis ini dibatasi oleh toleransi jaringan sehat disekitarnya.
Semakin sedikit jaringan sehat yang terkena maka makin tinggi dosis yang
diberikan. Guna menyiasati hal ini maka diperlukan metode serta teknik
pemberian radiasi dengan tingkat presisi yang tinggi.
Glioma dapat diterapi dengan radioterapi yang diarahkan pada tumor
sementara metastasis diterapi dengan radiasi seluruh otak. Radioterapi juga
digunakan dalam tata laksana beberapa tumor jinak, misalnya adenoma
hipofisis.
3. Kemoterapi

Tumor Otak

Page 11

Pada kemoterapi dapat menggunakan powerfull drugs, bisa menggunakan


satu atau dikombinasikan. Tindakan ini dilakukan dengan tujuan untuk
membunuh sel tumor pada klien. Diberikan secara oral, IV, atau bisa juga
secara shunt. Tindakan ini diberikan dalam siklus, satu siklus terdiri dari
treatment intensif dalam waktu yang singkat, diikuti waktu istirahat dan
pemulihan. Saat siklus dua sampai empat telah lengkap dilakukan, pasien
dianjurkan untuk istirahat dan dilihat apakah tumor berespon terhadap terapi
yang dilakukan ataukah tidak. (Febri : 2012)
b. Diet
Pengobatan tumor otak tidak hanya memerlukan dokter yang ahli dan obat
yang mujarak tetapi juga makanan yang sehat. Berikut beberapa kandungan
makanan yang disarankan beserta alasannya:
1) Omega-3 yang dapat ditemukan di ikan (salmon, tuna dan tenggiri)
bermanfaat dalam menguransi resistensi tumor pada terapi. Omega-3 juga
membantu mempertahankan dan menaikan daya tahan tubuh dalam
menghadapi proses pengobatan tumor otak seperti kemotrapi.
2) Omega-9 yang ada di minyak zaitun pun dapat meningkatkan sistem
kekebalan tubuh sekaligus mengurangi pembengkakan dan menguransi sakit
saat pengobatan tumor otak.
3) Serat dari roti gandum, sereal, buah segar, sayur dan suku kacang-kacangan
membantu Anda mengatur tingkat gula. Sel kanker cenderung mengkonsumsi
gula 10-15 kali lipat daripada sel normal sehingga semakin meradang. Agar
bisa mengatur gula dengan baik, disarankan mengkonsumsi 4-5 porsi sayur
dan 1-2 porsi buah segar. Selain mengatur kadar gula, serat dapat menurunkan
peluang sembelit.
4) Folic acid yang dikenal sebagai vitamin B9 atau Bc bisa mencegah
menyebarnya sehinga bisa membantu pengobatan tumor otak atau bagian
lainnya. Vitamin B9 dapat ditemukan di sayuran dengan daun hijau tua
(bayam, asparagus dan daun selada), kacang polong, kuning telur dan biji
bunga matahari.
5) Antioksidan memang dikenal sebagai salah satu senjata untuk membantu
pengobatan tumor otak. Antioksidan dapat di temukan di keluarga beri
(strawberi, rasberi dan blueberi), anggur, tomat, brokoli, jeruk, persik, apricot,
bawang putih, gandum, telur, ayam, kedelai dan ikan.
Tumor Otak

Page 12

6) Makanan yang harus dihindari penderita kanker dan tumor otak adalah Gula
dan karbohindrat harus dihindari karena mereka merupakan makanan utama
sel kanker. Pada saat pengobatan brain tumor and cancer, sel-sel kanker yang
ada di dalam tubuh akan mengkonsumsi 10-15 kali lipat gula. Gula yang
dikonsumsi akan menjadi energy para sel kanker yang mempercepat
perkembangan mereka. (Nn:2012)
9. PERAWATAN POST OPERASI
Tujuan penatalaksanaan unit gawat darurat pada injury kepala pasien yang
post-operative adalah sama sepeti pre-operativ, yakni: optimisasi physiologic.
Prinsip kontrol tekanan intracranial dan optimisasi perfusi tekanan cerebral seperti
halnya pemeliharaan oxygenation yang cukup dari perfusi darah :
a. Ventilasi
Hyperventilation bukanlah suatu therapy yang tidak berbahaya (disebabkan
alkalosis, hypokalemia, vasoconstricsi dengan ischemia) dan bagaimanapun
secara relatif tidak efektif dalam pengerutan pembuluh darah cerebral
setelah beberapa jam. Normocapnia harus dirawat sedapat mungkin.
Drainase CSF dari suatu kateter/pipa ventricular dalam saluran tubuh lebih
disukai untuk mereduksi/mengurangi ICP ( dan optimisasi pada tekanan
perfusion cerebral) untuk metabolically deranging therapies seperti
hyperventilation dan diuresis.
b. Fluids/cairan
Walaupun penggantian cairan bukan sebagian besar diantaranya intracranial
sebagai intra-abdominal atau perawatan intrathoracic post operasi trauma
kepala penatalaksanaan cairan adalah komplikasi perawatan pada kontrol
hipertensi intracranial seperti diuresis dan hyperventilation kedua-duanya
yang mana cenderung menyebabkan berkurangnya volume dan metabolisme
alkalosis. Solusinya Isotonik IV harus digunakan dalam semua kasus.
Jumlah volume Darah yang bagus tidak hanya meningkatkan kapasitas
oksigen tetapi juga menyebabkan unsur selularnya tidak pecah ( seperti
albumin) ke dalam molekul lebih kecil yang berdifusi ke membran alveolar
dalam paru-paru dan dari intravascular ke ruang extravascular yang
membawa cairan pada paru-paru dan edema cerebral. Pasien dengan
berbagai trauma, laserasi kulit kepala, perdarahan subdural, dan injury
sering kehilangan sejumlah darah dalam jumlah yang besar pada saat itu
Tumor Otak

Page 13

mereka tiba di ruang op di ICU. Transfusi diberikan kepada pasien dengan


hematocrit yang rendah pada level kritis (pada umumnya di bawah 25%)
terutama

ketika

disertai

dengan

hypotension,

tachycardia,

dan

berkurangnya urin output.


c. Nutrisi
Dukungan nuitrisi harus segera setelah trauma kepala craniotomy ketika
pasien bowel sounds. Pemberian makanan Enteral itu baik tidak hanya
untuk mencegah perdarahan tetapi juga nutrisi diatur melalui rute ini jadi
lebih siap diserap dan metabolisme tanpa resiko dari hepatitis, sepsis, dan
komplikasi lain yang berhubungan dengan total parenteral nutrition ( TPN).,
seandainya bowel berbunyi adalah suatu pengembalian lambat, TPN yang
pertama dapat dimulai dalam duapuluh empat jam setelah suatu operasi
trauma kepala
10. PENGKAJIAN
a. Data Subjektif
1) Identitas Pasien dan Penanggung Jawab
a) Nama
b) Jenis kelamin
c) Usia
d) Status
e) Agama
f) Alamat
g) Pekerjaan
h) Pendidikan
i) Bahasa
j) Suku bangsa
k) Dx Medis
l) Sumber biaya
2) Riwayat keluarga
a) Genogram
b) Keterangan genogram
3) Status kesehatan
a) Status kesehatan saat ini
Tumor Otak

Page 14

- Keluhan Utama (saat MRS dan saat ini)


- Alasan MRS dan perjalanan penyakit saat ini
- Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya
b) Status kesehatan masa lalu
- Penyakit yang pernah dialami
- Pernah dirawat
- Alergi
- Kebiasaan (merokok/kopi/alcohol atau lain lain yang merugikan
kesehatan)
c) Riwayat penyakit keluarga
d) Diagnosa Medis dan Therapi
4) Dikaji berdasarkan 14 kebutuhan dasar menurut Virginia Handerson, yaitu :
a) Bernafas
Dikaji apakah pasien mengalami gangguan pernafasan, sesak, atau batuk,
serta ukur respirasi rate.
b) Makan
Dikaji apakah klien menghabiskan porsi makan yang telah disediakan RS,
apakah pasien mengalami mual atau muntah ataupun kedua-duanya.

c) Minum
Dikaji kebiasaan minum pasien sebelum dan saat berada di RS, apakah ada
perubahan (lebih banyak minum atau lebih sedikit dari biasanya).
d) Eliminasi (BAB / BAK)
Dikaji pola buang air kecil dan buang air besar.
e) Gerak dan aktifitas
Dikaji apakah pasien mengalami gangguan/keluhan dalam melakukan
aktivitasnya saat menderita suatu penyakit (dalam hal ini adalah setelah
didiagnosa mengalami alergi) atau saat menjalani perawatan di RS.
f) Rasa Nyaman
Dikaji kondisi pasien yang berhubungan dengan gejala-gejala penyakitnya,
misalnya pasien merasa nyeri di perut bagian kanan atas (dikaji dengan

Tumor Otak

Page 15

PQRST : faktor penyebabnya, kualitas/kuantitasnya, lokasi, lamanya dan


skala nyeri)
g) Kebersihan Diri
Dikaji kebersihan pasien saat dirawat di RS
h) Rasa Aman
Dikaji apakah pasien merasa cemas akan setiap tindakan keperawatan
yang diberikan kepadanya, dan apakah pasien merasa lebih aman saat
ditemani keluarganya selama di RS.
i) Sosial dan komunikasi
Dikaji bagaimana interaksi pasien terhadap keluarga, petugas RS dan
lingkungan sekitar (termasuk terhadap pasien lainnya).
j) Pengetahuan
Dikaji tingkat pengetahuan pasien tentang penyakitnya yang diderita saat
ini dan terapi yang akan diberikan untuk kesembuhannya.
k) Rekreasi
Dikaji apakah pasien memiliki hobi ataupun kegiatan lain yang ia senangi.
l) Spiritual
Dikaji bagaimana pendapat pasien tentang penyakitnya, apakah pasien
menerima penyakitnya adalah karena murni oleh penyakit medis ataupun
sebaliknya.
b. Data Objektif
1) Pemeriksaan fisik
a) Keadaan umum
-

Tingkat kesadaran CCS


b) Tanda-tanda vital
c) Keadaan fisik

Kepala dan leher

Dada

Payudara dan ketiak

Abdomen

Genitalia

Integument

Ekstremitas

Tumor Otak

Page 16

Pemeriksaan neurologist
Pengkajian saraf kranial
1. Olfaktori(penciuman )
2. Optic (penglihatan )
3. Okulomotor(gerak ekstraokular mata,dilatasi pupil)
4. Troklear(gerak bola mata ke atas ke bawah)
5. Trigeminal(sensori kulit wajah,pergerakan otot rahang)
6. Abdusens(gerakan bola mata menyamping)
7. Fasial(ekspresi fasial dan pengecapan)
8. Auditori(pendengaran)
9. Glosofaringeal(pengecapan,kemampuan menelan,gerak lidah)
10. Vagus(sensasi faring,gerakan pita suara)
11. Aksesori(gerakan kepala dan bahu)
12. Hipoglosal(posisi lidah)
d) Pemeriksaan ROM AKTIF & PASIF
c. Pemeriksaan Penunjang
1) Arterigrafi atau Ventricolugram ; untuk mendeteksi kondisi patologi pada
sistem ventrikel dan cisterna.
2) CT SCAN ; Dasar dalam menentukan diagnosa.
3) Radiogram ; Memberikan informasi yang sangat berharga mengenai
struktur, penebalan dan klasifikasi; posisi kelenjar pinelal yang mengapur;
dan posisi selatursika.
4) Elektroensefalogram (EEG) ; Memberi informasi mengenai perubahan
kepekaan neuron.
5) Ekoensefalogram ; Memberi informasi mengenai pergeseran kandungan
intra serebral.
6) Sidik otak radioaktif ; Memperlihatkan daerah-daerah akumulasi abnormal
dari zat radioaktif. Tumor otak mengakibatkan kerusakan sawar darah otak
yang menyebabkan akumulasi abnormal zat radioaktif

10. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Tumor Otak

Page 17

1) Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis (peningkatan TIK)


2) Nausea berhubungan dengan tumor otak, peningkatan tekanan intrakranial
3) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
mual, muntah dan anoreksia
4) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskular
5) Cemas berhubungan dengan ancaman kematian
6) Defisit perawatan diri berhubungan dengan hambatan mobilitas fisik
7) Resiko gangguan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan peningkatan
tekanan intrakranial.
8) Risiko kerusakan integritas kulit dengan faktor resiko imobilisasi fisik.
9) Resiko cidera faktor resiko faktor fisik (gangguan mobilitas) adanya kejang,
perubahan status mental dan penurunan tingkat kesadaran

11.

RENCANA KEPERAWATAN

NANDA
Dx.1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis (peningkatan TIK)
NOC
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 3 jam pasien tidak mengalami
nyeri, dibuktikan dengan kriteria hasil:

Tumor Otak

Page 18

a.

Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu


menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari
bantuan)

b.

Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan


manajemen nyeri

c.

Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda


nyeri)

d.

Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

e.

Tanda vital dalam rentang normal

f.

Tidak mengalami gangguan tidur

NIC
Rencana intervensi yang akan dilakukan:
1.

Monitor vital setiap 2 jam


R/ vital sign menggambarkan keadaan umum pasien secara umum. Kenaikan
salah satu diantaranya menjadikan kewaspadaan.

2.

Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,


karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
R/ tingkat intensitas nyeri dan frekuensi menunjukkan skala nyeri yang
nantinya akan menggambarkan bagaimana keadaan nyeri yang dirasakan oleh
pasien. Skala nyeri dapat menggambarkan progres nyeri dari waktu ke waktu.

3.

Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan


R/ reaksi nonverbal yang ditunjukkan oleh pasien mungkin menggambarkan
perasaan nyeri yang tidak terucapkan oleh pasien.

4.

Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,


pencahayaan dan kebisingan
R/ factor yang mempengaruhi nyeri bukan hanya dari dalam diri pasien tapi
mungkin

juga

berasal

dari

lingkungan.

Lingkungan

yang

tenang

meningkatkan kenyamanan bagi pasien sehingga tingkat nyeri berkurang.


5.

Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dalam, relaksasi, distraksi,


kompres hangat/ dingin
R/ metode nonfarmakologi lebih diutamakan terlebih dahulu untuk
memanajemen nyeri sebelum

Tumor Otak

Page 19

6.

Tingkatkan istirahat
R/ dengan memperbanyak istirahat, respon pasien terhadap nyeri akan
teralihkan dan nyeri akan menurun

7.

Kolaborasi: Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri: ...


R/ analgetik diberikan sebagai metode untuk penurun nyeri saat metode
nonfarmakologi tidak dapat mengantisipasi nyeri lagi.

NANDA
Dx.2. Nausea berhubungan dengan tumor otak, peningkatan tekanan intrakranial
NOC
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 3 jam pasien menunjukkan
perasaan mual berkurang, dibuktikan dengan kriteria hasil:
a. Dapat memvervalisasi penyebab mual
b. Dapat memanajemen mual dengan teknik nonfarmakologi
NIC
Rencana intervensi yang akan dilakukan:
1. Dorong untuk memonitor adanya nausea.
R/ dengan memonitor adanya mual sejak awal maka pencegahan akan
terjadinya mual dilakukan dengan segera sehingga tidak sampai menimbulkan
muntah
2. Dorong strategi belajar yang digunakan untuk memanajemen nausea.
R/ dengan mempelajari manajemen mual maka apabila suatu saat mual datang,
pasien dapat mengantisipasinya sendiri.
3. Identifikasi faktor yang mungkin terhadap nausea.
R/ mempermudah menentukan apa saja yang mungkin dapat menyebabkan
4.

mual sehingga hal tersebut dapat dihindari.


Identifikasi strategi yang mungkin untuk menghilangkan nausea.
R/ strategi relaksasi atau distraksi mungkin dapat memanajemen mual apabila

suatu saat mual terjadi


5. Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologi.
R/ dengan mengajarkan teknik distraksi pada pasien sebagai usaha
mengalihkan perhatian dari rasa mual.
6. Anjurkan istirahat dan tidur yang adekuat untuk memfasilitasi hilangnya
nausea.
Tumor Otak

Page 20

R/ dengan istirahat atau tidur perasaan mual mungkin akan menghilang dengan
sendirinya.
NANDA
Dx.3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan mual, muntah dan anoreksia
NOC
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 24 jam pasien menunjukkan
nutrisi kurang teratasi dengan indikator:
a. Mendapat nutrisi yang adekuat
b. Klien tidak mengalami kehilangan BB lebih lanjut
c. Membran mukosa lembab
d. Kulit tidak kering
NIC
Rencana intervensi yang akan dilakukan:
1. Kaji adanya alergi makanan
R/ menghindari makanan yang mungkin akan menyebabkan alergi bagi klien
sehingga klien tidak mempunyai keinginan untuk makan.
2. Monitor adanya penurunan BB
R/ membantu dalam mengidentifikasi malnutrisi protein kalori, khususnya
bila BB dan pengukuran BMI kurang dari normal.
3. Berikan perawaatan oral
R/ kebersihan oral menhilangkan bakteri penumbuh bau mulut dan
eningkatkan rangsangan /nafsu makan
4. Dorong masukan nutrisi dengan jumlah sedikit tapi sering
R/ masukan nutrisi dengan jumlah sedikit tapi sering biasanya ditoleransi
klien dengan baik
5. Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori tinggi protein

Tumor Otak

Page 21

R/ kebutuhan jaringan metabolik ditingkatkan begitu juga cairan untuk


menghilangkan produk sisa suplemen dapat memainkan peranan penting
dalam mempertahankan masukan kalori dan protein yang adekuat.
6. Atur posisi semi fowler atau fowler tinggi selama makan
R/ dengan posisi makan yang nyaman maka klien akan lebih tertarik untuk
makan makanan yang disediakan.
7. Informasikan pada klien dan keluarga tentang manfaat nutrisi yang adekuat
R/ bekerjasama dan berdiskusi dengan keluarga

akan lebih memberikan

pemahaman akan pentingnya keluarga meningkatkan pemasukan nutrisi yang


adekuat untuk klien.
8. Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan
R/ tindakan atau pengobatan yang akan dilakukan menurunkan nafsu makan
klien, sehingga bisa didahulukan makan dulu kemudian baru diberi
pengobatan atau tindakan.
9. Monitor turgor kulit, monitor kekeringan, rambut kusam, total protein, Hb
dan kadar Ht
R/ turgor kulit serta kelembaban mencerminkan keadaan cairan dan nutrisi
yang ada pada anak. Hb dan Ht mencerminkan bagaimana keadaan klien
melalui hasil labolatorium darah.
10. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan klien
R/ keperluan nutrisi anak akan terpenuhi dengan perhitungan dari tim gizi.
11. Pertahankan terapi IV line
R/ pemasukan nutrisi melalui terapi IV line merupakan salah satu intervensi
yang dapat digunakan agar nutrisi tetap adekuat apabila klien tidak bisa
makan dengan per oral dan tidak terpasang NGT/TPN.

NANDA
Dx.4. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskular
NOC
Tumor Otak

Page 22

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam gangguan mobilitas


fisik teratasi dengan kriteria hasil:
a.

Klien meningkat dalam aktivitas fisik

b.

Mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas

c.

Memverbalisasikan perasaan dalam meningkatkan kekuatan dan


kemampuan berpindah

d.

Memperagakan penggunaan alat Bantu untuk mobilisasi (walker)

NIC
Rencana intervensi yang akan dilakukan:
1. Monitoring vital sign sebelm/sesudah latihan dan lihat respon pasien saat
latihan
R/ Vital sign yang dipantau secara rutin sebelum dan sesudah melakukan
aktivitas memberikan gambaran bagaimana kompensasi tubuh terhadap
aktivitas yang dilakukan.
2. Ajarkan pasien tentang teknik ambulasi
R/ mengajarkan pasien teknik ambulasi yang benar akan meningkatkan
kemandirian pasien dalam ambulasi secara bertahap sesuai kemampuannya.
3. Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi
R/ Dengan mengkaji kemampuan pasien dalam ambulasi terlebih dahulu
maka tipe bantuan yang kita berikan akan bisa ditentukan dan ditingkatkan
secara bertahap.
4. Bantu klien untuk menggunakan tongkat saat berjalan dan cegah terhadap
cedera
R/ Dengan memberikan bantuan berupa tongkat kepada pasien yang tidak
mampu sepenuhnya dalam berpindah maka kemandirian pasien akan bisa
ditingkatkan.
5. Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs secara mandiri sesuai
kemampuan
R/ Melatih pasien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs akan membantu dalam
peningkatan kemampuan pasien secara bertahap.

Tumor Otak

Page 23

6. Dampingi dan Bantu pasien saat mobilisasi dan bantu penuhi kebutuhan
ADLs pasien.
R/ Dengan mendampingi pasien dalam melakukan ADLs maka kemungkinan
yang tidak diinginkan seperti resiko jatuh dapat diatasi dan diminimalkan.
7. Berikan alat bantu jika klien memerlukan.
R/ Dengan memberikan alat bantu pada pasien sesuai keperluan makan
kemandirian pasien dalam pemenuhan ADLs akan terlihat.
8. Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi dan berikan bantuan jika
diperlukan
R/ Perubahan posisi pasien dengan bantuan atau mandiri oleh pasien
mencegah terjadinya penekanan terlalu lama pada salah satu bagian tertentu
tubuh pasien.
9. Kolaborasi: dengan ahli terapi fisik tentang rencana ambulasi sesuai dengan
kebutuhan
R/ Dengan mengkolaborasikan terapi fisik yang akan dilakukan maka
peningkatan kemampuan pasien dalam peningkatan ADLs akan lebih mudah
tercapai.
NANDA
Dx.5. Cemas berhubungan dengan ancaman kematian
NOC
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 24 jam pasien menunjukkan
penurunan tingkat kecemasan, dibuktikan dengan kriteria hasil:
a. Pasien mengenal perasaannya
b. Menyatakan cemas berkurang
NIC
Rencana intervensi yang akan dilakukan:
1. Bantu klien mengekspresikan perasaan marah, kehilangan dan takut.
Tumor Otak

Page 24

R/ cemas yang berkelanjutan dapat memperburuk kondisi klien.


2. Kaji tanda verbal dan non verbal kecemasan.
R/ reaksi verbal/non verbal menunjukkan rasa agitasi, marah, dan gelisah.
3. Menyarankan orang terdekat untuk mendampingi selama tindakan.
R/ keberadaan orang terdekat dapat membuat tenang.
4. Berikan lingkungan yang tenang dan aman.
R/ mengurangi rangsangan eksternal yang tidak perlu.
5. Melakukan tindakan yang tidak memicu kecemasan terlebih dahulu.
R/ memberikan waktu kepada klien untuk beradaptasi terhadap perawat.

NANDA
Dx.7. Resiko gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan
peningkatan tekanan intrakranial
NOC
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 24 jam pasien menunjukkan
keefektifan perfusi jaringan serebral, dibuktikan dengan kriteria hasil:
a. Tanda-tanda vital dalam batas normal
b. Rasa sakit kepala berkurang
c. Kesadaran meningkat
d. Adanya peningkatan kognitif dan tidak ada atau hilangnya tanda-tanda
tekanan intrakranial yang meningkat
NIC
Rencana intervensi yang akan dilakukan:
1. Pasien bed rest total dengan posisi tidur terlentang tanpa bantal.
R/ Perubahan pada tekanan intakranial akan dapat meyebabkan resiko untuk
terjadinya herniasi otak.
Tumor Otak

Page 25

2. Monitor tanda-tanda status neurologis dengan GCS.


R/ Dapat mengurangi kerusakan otak lebih lanjut.
3. Monitor tanda-tanda vital seperti TD, Nadi, Suhu, Respirasi dan hati-hati
pada hipertensi sistolik.
R/ Pada keadaan normal autoregulasi mempertahankan keadaan tekanan
darah sistemik berubah secara fluktuasi. Kegagalan autoreguler akan
menyebabkan kerusakan vaskuler cerebral yang dapat dimanifestasikan
dengan peningkatan sistolik dan diiukuti oleh penurunan tekanan diastolik.
Sedangkan peningkatan suhu dapat menggambarkan perjalanan infeksi.
4. Monitor intake dan output.
R/ hipertermi dapat menyebabkan peningkatan IWL dan meningkatkan resiko
dehidrasi terutama pada pasien yang tidak sadra, nausea yang menurunkan
intake per oral.
5. Bantu pasien untuk membatasi muntah, batuk. Anjurkan pasien untuk
mengeluarkan napas apabila bergerak atau berbalik di tempat tidur.
R/ Aktifitas ini dapat meningkatkan tekanan intrakranial dan intraabdomen.
Mengeluarkan napas sewaktu bergerak atau merubah posisi dapat melindungi
diri dari efek valsava.
6. Kolaborasi: Berikan cairan perinfus dengan perhatian ketat.
R/ Meminimalkan fluktuasi pada beban vaskuler dan tekanan intrakranial,
vetriksi cairan dan cairan dapat menurunkan edema cerebral.
7. Kolaborasi: Monitor AGD bila diperlukan pemberian oksigen
R/ Adanya kemungkinan asidosis disertai dengan pelepasan oksigen pada
tingkat sel dapat menyebabkan terjadinya iskhemik serebral.
8. Kolaborasi: Berikan terapi sesuai advis dokter seperti: Steroid, Aminofel,
Antibiotika.
R/ Terapi yang diberikan dapat menurunkan permeabilitas kapiler.
Menurunkan edema serebri dan Menurunkan metabolik sel / konsumsi dan
kejang.
NANDA
Dx.8. Risiko kerusakan integritas kulit faktor resiko imobilisasi fisik.

Tumor Otak

Page 26

NOC
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 24 jam klien menunjukkan
integritas kulit yang baik, dibuktikan dengan kriteria hasil:
a. Keluarga mengatakan mengerti tentang faktor risiko kerusakan integritas kulit
b. Integritas kulit menjadi suatu kewaspadaan

NIC
Rencana intervensi yang akan dilakukan:
1) Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering.
R/ Kulit yang bersih dan kering akan menjauhkan dari resiko iritasi yang akan
menyebabkan kerusakan integritas kulit.
2) Berikan perawatan kulit yang cermat untuk mencegah kerusakan jaringan
karena kelembaban, dan tekanan.
R/ Dengan perawatan yang rutin diharapkan kulit tetap lembab dan jauh dari
keadaan yang memungkinkan untuk terjadi kerusakan.
3) Kaji kulit setiap 2 jam terutama pada daerah penekanan dan monitor terhadap
area yang tertekan.
R/ daerah penekanan merupakan daerah yang sangat rentan akan terjadinya
lecet atau iritasi.
4) Hindari tidak adanya linen pada tempat tidur.
R/ Dengan memberikan linen pada tempat tidur maka akan memberikan
kelembutan sehingga tidak sampai menyebabkan resiko perlukaan atau iritasi
pada daerah yang tertekan.
5) Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali.
R/ dengan mengubah posisi secara rutin diharapkan titik penekanan pada
daerah tertentu tidak akan menjadi perlukaan atau iritasi yang akan
menyebabkan kerusakan integritas kulit.
6) Monitor kulit akan adanya kemerahan.
R/ tanda kemerahan pada kulit mengindikasikan adanya iritasi dan mungkin
akan menyebabkan infeksi.
7) Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada derah yang tertekan.
R/ Pemberian lotion pada daerah penekanan akan meminimalkan terjadinya
iritasi yang menyebabkan kerusakan integritas kulit.
8) Inspeksi kulit terutama pada tulang-tulang yang menonjol dan titik-titik
tekanan ketika merubah posisi pasien.
Tumor Otak

Page 27

R/ Memonitor secara rutin pada daerah yang tertekan akan meningkatkan


kewaspadaan akan terjadinya iritasi.
9) Kolaborasi: pemberian tinggi protein, mineral dan vitamin
Kolaborasi: Monitor serum albumin dan transferin
R/ Protein tinggi berguna untuk regenerasi kulit serta vitamin dan mineral
tinggi baik untuk metabolisme tubuh pada pasien.
NANDA
Dx.9. Resiko cidera faktor resiko faktor fisik (gangguan mobilitas) adanya kejang,
perubahan status mental dan penurunan tingkat kesadaran
NOC
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 24 jam pasien menunjukkan
tidak terjadi injuri, dibuktikan dengan kriteria hasil:
1. Lingkungan tetap terjaga aman dari bahaya injuri
2. Tidak terjadi injuri pada badan pasien
NIC
Rencana intervensi yang akan dilakukan:
1. Monitor kejang pada tangan, kaki, mulut dan otot-otot muka lainnya.
R/ Gambaran tribalitas sistem saraf pusat memerlukan evaluasi yang sesuai
dengan intervensi yang tepat untuk mencegah terjadinya komplikasi.
2. Persiapkan lingkungan yang aman seperti batasan ranjang, papan pengaman,
dan alat suction selalu berada dekat pasien.
R/ Melindungi pasien bila kejang terjadi.
3. Pertahankan bedrest total selama fase akut.
R/ Mengurangi resiko jatuh / terluka jika vertigo, sincope, dan ataksia terjadi.
Tumor Otak

Page 28

4. Kolaborasi: Berikan terapi sesuai advis seperti; diazepam, phenobarbital, dll.


R/ Untuk mencegah atau mengurangi kejang. Catatan : Phenobarbital dapat
menyebabkan respiratorius depresi dan sedasi.

DAFTAR PUSTAKA

Ackley, BJ and Ladwig, GB. Nursing Diagnosis Handbook: An Evidence-Based


Guide to Planning Care. USA : Mosby, 2012.

Anonymous. Kapita Selekta Kedokteran FKUI. Jakarta: Media Aesculapius, 1999


Baughman C Diane. Keperawatan medical bedah. Jakarta : EGC, 2000.
Brunner and Suddarth. Buku Ajar Keperawatan medikal Bedah Edisi 8. Vol.1.
Jakarta: EGC, 2002.
Brunner and Suddarth. Buku saku keperawatan medikal bedah. Jakarta: EGC,
2000.
Guyton and hall. Buku ajar fsikologi kedokteran. Jakarta: EGC, 2006.

Harsono. Kapita Selekta Neurologi. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta,


2007.

Johnson, Marion et al. Nursing Outcomes Classification (NOC). USA : Mosby,


1997.

Tumor Otak

Page 29

McCloskey, Joanne C, Bulechek, Gloria M. Nursing Intervention Classification


(NIC). USA : Mosby, 1997
Muttaqin, arif. Buku ajar asuhan keperawatan klien dengan gangguan system
persyarafan. Jakarta: Selemba Medika, 2008.
Nanda. Nursing Diagnosis Definitions and Classifications 2009-2011

Noer Staffoeloh et all. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI, 1999.

Price, Sylvia A. Patofisiologi konsep klinis proses-pross penyaki Edisi 4. Jakarta:


EGC, 1995.

Tumor Otak

Page 30