Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari organisme hidup yang berukuran sangat
kecil sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang melainkan dengan bantuan
mikroskop. Organisme yang sangat kecil ini disebut sebagai mikroorganisme, atau
kadang-kadang disebut sebagai mikroba, ataupun jasad renik (Anonymous. 2008).

Dalam sejarah kehidupan, mikroorganisme telah banyak sekali memberikan peran


sebagai bukti keberadaannya. Mulai dari pembentukan minyak bumi di dasar-dasar
samudra sampai proses pembuatan tempe, semuanya merupakan pekerjaan
mikroorganisme. Bukan Cuma itu, sekarang mikroorganisme telah digunakan dalam
pembuatan antibiotika. Pada tahun 1928 ditemukannya antibiotika terjadi secara 'tidak
sengaja' ketika Alexander Fleming, lupa membersihkan sediaan bakteri pada cawan
petri dan meninggalkannya di rak cuci sepanjang akhir pekan. Ketika cawan petri
tersebut akan dibersihkan, ia melihat sebagian kapang telah tumbuh di media dan
bagian di sekitar kapang 'bersih' dari bakteri yang sebelumnya memenuhi media.
Karena tertarik dengan kenyataan ini, ia melakukan penelitian lebih lanjut terhadap
kapang
tersebut,
yang
ternyata
adalah Penicillium
chrysogenum syn. P.
notatum (kapang berwarna biru muda ini mudah ditemukan pada roti yang dibiarkan
lembap beberapa hari). Ia lalu mendapat hasil positif dalam pengujian
pengaruh ekstrak kapang itu terhadap bakteri koleksinya. Dari ekstrak itu ia diakui
menemukan antibiotik alami pertama. Antibiotika adalah senyawa kimia yang dibuat
untuk melawan bibit penyakit, khususnya kuman. Ada beragam jenis kuman, ada
kuman yang besar, ada yang kecil, dengan sifat yang beragam pula.Kuman cenderung
bersarang di organ tertentu di tubuh yang ditumpanginya. Ada yang suka di otak, di
paru-paru, di usus, saraf, ginjal, lambung, kulit, atau tenggorok, dan lainnya Di organorgan tempat bersarangnya itu, kuman tertentu menimbulkan infeksi.
Pemakaian antibiotika di negara-negara sedang berkembang sering tidak terkontrol dan
cenderung serampangan. Antibiotika yang bisa dibeli bebas, ketidaktahuan pemakaian,
dan tidak dipakai sampai tuntas, menimbulkan generasi kuman yang menjadi kebal
(resisten) terhadap antibiotika yang digunakan secara tidak tepat dan serampangan itu.
Pemakaian antibiotika yang tidak dihabiskan, atau menebusnya setengah resep,
misalnya.Semakin sering dan banyak disalahgunakan suatu antibiotika, semakin cepat
menimbulkan kekebalan kuman yang biasa ditumpasnya.
Di Indonesia belum ada data resmi tentang penggunaan antibiotika. Sehingga banyak
pihak saat ini tidak khawatir dan sepertinya tidak bermasalah. Tetapi berdasarkan
tingkat pendidikan atau pengetahuan masyarakat serta fakta yang ditemui sehari-hari,
tampaknya pemakaian antibiotika di Indonesia jauh banyak dan lebih mencemaskan
dan secara tidak langsung mencegah tubuh kita agar tidak terinfeksi bakteri jahat.
Cara pembuatan antibiotik bisa bermacam-macam. Salah satu caranya adalah
pembuatan antibiotik menggunakan jamur, salah satu jamur yang dapat digunakan untk
menbuat ati biotik adalah jamur Penicillium. Salah satu antibiotik adalah penisilin yang
berasal dari jamur Penicilium chyrogenum. Pada dasarnya, jamur bersifat heterotrof,
yang membutuhkan senyawa organik untuk digunakan di dalam kehidupannya.
Pertumbuhan Penicillium untuk menghasilkan penisilin memerlukan medium yang
terdiri dari sumber karbon, nitrogen, mineral, dan prekursor. Jamur tidak mampu
melakukan fiksasi CO2 seperti bakteri, sehingga sumber karbon harus tersedia dari luar
tubuhnya, seperti dari glukosa atau sukrosa (Makfoeld,1993). Pemilihan medium yang
1 | Pembuatan Penisilin dari Jamur Penicillium chyrsogenum dengan Subtrat Molase

murah dan berkualitas bagi industri sangat penting karena dapat menekan biaya
produksi yang dikeluarkan. Oleh karena itu, digunakan subtrat molase sebagai medium
produksi penisilin. Sekaligus di dalam upaya untuk memanfaatkan limbah cair agar
dapat menghasilkan produk yang lebih berguna.

1.2

Rumusan Masalah
Bagaimana cara menggunakan subtrat molase sebagai media pertumbuhan jamur
Penicillium chrysogenum agar dapat menekan biaya produksi yang lebih murah dan
caracara yang ekonomis.

1.3

Tujuan Penulis
Mengetahui cara pengolahan subtrat molase dalam proses pembuatan penisilin dari
jamur Penicillium chrysogenum.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sifat sifat Penicillium chrysogenum
Penicillium chrysogenum adalah jamur tergolong ke dalam Eumycetes atau fungi sejati
dan terdiri atas empat kelas, yaitu Phycomyces, Ascomycetes, Basidiomycetes, dan
Deuteromycetes (Fungi Imperfecti). Penicillium dan Aspergillus merupakan anggota
kelas Deuteromycetes. Penicillium memiliki ujung konidiofor yang tidak melebar,
melainkan bercabang-cabang dengan deretan konidium. Kelompok ini meliputi genus
yang membentuk konidium dengan struktur yang disebut penisilus (Rahayu dkk.,
1989).
Penicillium chrysogenum merupakan jamur yang sangat penting di dalam
industri fermentasi untuk menghasilkan penisilin. Klasifikasi dari Penicillium
chrysogenum adalah sebagai berikut:
Kerajaan : Fungi
Filum : Ascomycota
Kelas : Eurotiomycetes
Bangsa : Eurotiales
Suku : Trichocomaceae
Marga : Penicillium
Spesies : Penicillium chrysogenum
Ciri-ciri spesifik Penicillium adalah hifa bersekat atau bersepta, miselium bercabang,
biasanya tidak berwarna, konidiofora bersekat dan muncul di atas permukaan, berasal
dari hifa di bawah permukaan, bercabang atau tidak barcabang, kepala yang membawa
spora berbentuk seperti sapu dengan sterigmata muncul di dalam kelompok, konidium
membetuk rantai karena muncul satu per satu dari sterigmata. Konidium pada waktu
masih muda berwarna hijau, kemudian berubah menjadi kebiruan atau kecoklatan
(Fardiaz, 1992). Morfologi sel dari Penicilium chrysogenum dapat dilihat pada ambar.
2 | Pembuatan Penisilin dari Jamur Penicillium chyrsogenum dengan Subtrat Molase

Koloni Penicillium chrysogenum tumbuh baik pada medium Czapeks Dox, berdiameter
sekitar 4 cm dalam waktu 10 hari pada suhu 25oC memiliki permukaan seperti kapas,
dan berwarna hijau kekuningan atau hijau agak biru pucat, jika telah tua akan berwarna
semakin gelap (Gandjar dkk., 1999). Menurut Pitt dan Hocking (1979), koloni
Penicillium chrysogenum tumbuh cepat di atas medium standar pada suhu 25oC,
Penicillium chrysogenum bersifat mesofilik, tumbuh pada suhu yang minimum pada
suhu 4oC, optimum pada suhu 23oC, dan maksimum pada suhu 37oC. Derajat keasaman
(pH) optimum untuk pertumbuhan Penicillium chrysogenum antara 4-6.

3
5
2
1
4

Keterangan :
Konidium
Sterigmata
Metulla
Cabang (penisilus)
Konidiofor

Gambar morfologi Penicillium chrysogenum (Sumber: Volk, 2003)

2.2

Medium Fermentasi
Medium fermentasi adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran nutrisi atau zatzat hara yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme di permukaan atau di
dalam medium. Selain itu, medium dapat dipergunakan pula untuk isolasi, perbanyakan
kultur, pengujian sifat-sifat biologis dan perhitungan jumlah mikroorganisme. Zat hara
yang digunakan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhan, sintesis sel, keperluan energi
dalam metabolisme, dan pergerakan. Lazimnya, medium biakan berisi sumber energi,
air,
zat hara sebagai sumber karbon, nitrogen, sulfur, fosfat, oksigen, serta hidrogen
(Waluyo,2004). Sumber enerji digunakan untuk kegiatan biosintesis sel, transport
nutrien ke dalam sel, dan motalitas memerlukan energi. Energi ini dapat diperoleh dari
cahaya matahari atau dari oksidasi senyawa kimia. Terlepas dari sumber energi yang
digunakan, mikrobia akan mengubah energi yang diperoleh menjadi senyawa pembawa
energi yaitu ATP yang dipakai untuk kegiatan sel (Suharni et al., 2008). Semua aktivitas
metabolisme terjadi dalam substrat yang mengandung air bebas. Oleh karena itu, air
sangat vital artinya bagi kehidupan mikroorganisme. Aktivitas air suatu medium dapat
dihitung dengan menentukan nilai kelembaban relatif. Tiap jenis mikrobia mempunyai
kelembaban optimum tertentu, pada umumnya khamir dan bakterimembutuhkan
kelembaban yang lebih tinggi dibanding jamur (Hidayat et al., 2006). Unsur karbon
terdapat dalam semua makromolekul penyusun sel, misalnya protein, karbohidrat, asam
nukleat, dan lipid. Semua molekul yang mengandung karbohidrat ini terlibat dalam
proses metabolisme. Karbon merupakan unsur yang paling penting, berdasarkan berat
mikrobia sekitar 50% berat mikrobia adalah karbon sedangkan konsentrasi nitrogen 315% (Hidayat et al, 2006). Oleh karena, itu karbon merupakan bahan paling besar pada
medium kultur.

3 | Pembuatan Penisilin dari Jamur Penicillium chyrsogenum dengan Subtrat Molase

2.3

Molase
Molase merupakan produk sampingan dari industri pengolahan gula tebu yang masih
mengandung gula dan asam-asam organik. Molase yang hasil dari industri gula tebu di
Indonesia dikenal dengan nama tetes tebu. Molase atau tetes tebu merupakan sirup gula
yang tidak mengkristal dari hasil proses kritalisasi pada pabrik gula. Molase masih
memiliki beberapa nutrisi penting sukrosa, nitrogen, dan vitamin, serta bersifat agak
asam (pH sekitar 5,5 - 5,6). Kandungan sukrosa dalam molase cukup tinggi, berkisar
48-55%. Molase dapat digunakan sebagai sumber karbon yang lebih murah daripada
gula tebu untuk proses produksi penisilin. Menurut Anonim (1998), sumber karbon
yang dikandung molase lebih sedikit, tetapi lebih kompleks daripada gula tebu, yaitu
mengandung sekitar 35% sukrosa, 7%dextrosa, dan 13% levulosa.
Kualitas molase sangat bervariasi, tergantung dua hal, yaitu :
1. Cara pemurniannya. Kotoran- kotoran akan ikut tercampur ke dalam tetes tebu jika
proses pemurniannya kurang sempurna.
2. Lokasi penanaman tebu. Kualitas tebu sangat bermacam-macam, tergantung dari
lokasi penanaman dan iklim.
Komposisi molase dapat dilihat secara lengkap pada tabel berikut.
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Komponen
Air
Sukrosa
Dextrosa
Levulosa
Subtrat tereduksi lain
Karbohidrat lain
Abu
Komponen bernitrogen
Asam-asam tak bernitrogen
Lilin, steroid,fosfolipid
Impuritas

Rentang (%berat)
17-25
30-40
4-9
5-21
1-5
2-5
7-15
2-6
2-8
0,1-1
0,05-0,15

Rata-rata (%berat)
20
35
7
4
3
4
12
4,5
5
0,4
0,1

2.4 Molase Sebagai Sumber C


Molase atau tetes tebu merupakan bahan baku utama untuk proses pembuatan
alkohol dan spiritus. Molase merupakan sirup gula yang tidak mengkristal dari hasil
proses kristalisasi pada pabrik gula. Molase merupakan hasil samping dari industri gula
yang berwarna coklat karena proses karamelisasi yang biasanya disebut motherliquor.
Kandungan yang ada pada molase ini banyak sekali antara lain mengandung senyawa
nitrogen, vitamin, dan senyawa-senyawa lain. Molase mempunyai pH 5,5-6,5 bersifat
agak asam yang disebabkan karena adanya asam organik bebas serta kondisi operasi
pemrosesan gula (Anonim, 1998).
2.5 Amonium Nitrat NH4NO3 sebagai Sumber N
Nitrogen adalah nutrien penting dalam sistem biologik. Nitrogen mengisi sekitar
12% protoplasma bakteri dan 5-6% protoplasma kapang (Jeni dan Rahayu, 1993).
Fungsi dari nitrogen adalah sebagai penyusun protein asam-asam nukleat dan koenzim.
Pada organisme yang sedang tumbuh, protein tersebut berguna untuk penyusunan
senyawa-senyawa biomolekuler yang berperan dalam proses biokimia dan
4 | Pembuatan Penisilin dari Jamur Penicillium chyrsogenum dengan Subtrat Molase

pembentukan sel-sel baru (Pirselova et al., 1993). Menurut Schlegel dan Schmidt
(1984), sumber nitrogen yang lazim digunakan untuk pertumbuhan mikroorganisme
adalah garam-garam amonium. Mikroorganisme umumnya memerlukan asam-asam
amino sebagai sumber nitrogen. Pada sistem biologi, senyawa nitrogen organik dapat
ditransformasikan menjadi nitrogen dalam bentuk amonium dan dioksidasikan menjadi
nitrogen dalam bentuk nitrit dan nitrat. Secara skematis proses pembentukan nitrogen
menjadi nitrat dapat dilihat sebagai berikut :

N organik N amonium N nitrit N nitrat


Proses pembentukan nitrogen menjadi nitrat
(sumber: Schlegel dan Schmidt, 1984).

2.6 Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi penisilin


Komponen penyusun medium untuk produksi penisilin harus lengkap, sesuai dengan
kebutuhan mikroorganisme untuk membetuk biomassa sel dan produk berupa metabolit.
Gula dapat dimanfaatkan oleh jamur sebagai sumber karbon untuk memproduksi
penisilin. Menurut Suharni dkk. (2001), produksi penisilin yang maksimal diperoleh
pada kadar gula sekitar 6%, sedangkan menurut Makfoeld (1993), produksi penisilin
yang maksimal diperoleh pada kadar gula sekitar 4-5%.

BAB III
PEMBAHASAN
Jamur bersifat heterotrof, yang membutuhkan senyawa organik untuk digunakan di dalam
kehidupannya. Pertumbuhan Penicillium untuk menghasilkan penisilin memerlukan medium
yang terdiri dari sumber karbon, nitrogen, mineral, dan prekursor. Jamur tidak mampu
melakukan fiksasi CO2 seperti bakteri, sehingga sumber karbon harus tersedia dari luar
tubuhnya, seperti dari glukosa atau sukrosa. Sifat-sifat dari Penicillium chrysogenum tumbuh
cepat di atas medium standar pada suhu 25oC, Penicillium chrysogenum bersifat mesofilik,
tumbuh pada suhu yang minimum pada suhu 4 oC, optimum pada suhu 23oC, dan maksimum
pada suhu 37oC. Derajat keasaman (pH) optimum untuk pertumbuhan Penicillium
chrysogenum antara 4-6. Secara umum di dalam produksi penisilin diperlukan sumber karbon
sebanyak 6% dan aktivitas tertinggi dihasilkan pada kadar gula tebu sebesar 6%.
Pada molase, digunakan sebagai sumber karbon yang lebih murah daripada gula tebu untuk
proses produksi penisilin. Menurut Anonim (1998), sumber karbon yang dikandung molase
lebih sedikit, tetapi lebih kompleks daripada gula tebu, yaitu mengandung sekitar 35% sukrosa,
7% dextrosa, dan 13% levulosa, sehingga konsentrasi variasi molase yang digunakan pada
penelitian Andreas (2012) tahap pertama sebesar 5, 6, 7 ,dan 8% dengan waktu inkubasi selama
14 hari. Molase merupakan bahan baku utama yang diperlukan untuk produksi antibiotik.
Molase ini larutan berair terdiri dari bahan yang diperlukan untuk proliferasi mikroorganisme
yang berisi sumber karbon dari gula laktosa dan glukosa. Bahan-bahan ini dibutuhkan sebagai
sumber makanan bagi organisme. Nitrogen adalah senyawa lain yang diperlukan dalam siklus
metabolisme organisme. Untuk alasan ini, garam amonia biasanya digunakan. Selain itu, jejak
unsur yang dibutuhkan untuk pertumbuhan yang tepat dari antibiotik yang memproduksi
organisme disertakan. Ini adalah komponen seperti fosfor, belerang, magnesium, seng, besi,
dan tembaga diperkenalkan melalui garam larut dalam air. Untuk mencegah berbusa selama
5 | Pembuatan Penisilin dari Jamur Penicillium chyrsogenum dengan Subtrat Molase

fermentasi, agen anti-busa seperti minyak lemak babi, octadecanol, dan silikon digunakan.

Untuk alasan ini, proses fermentasi ini dikembangkan dengan mengisolasi mikroorganisme
yang diinginkan, mendorong pertumbuhannya, menyempurnakan dan mengisolasi produk
antibiotik akhir adalah penting bahwa kondisi steril dipertahankan selama proses manufaktur,
karena kontaminasi oleh mikroba asing akan merusak fermentasi.
Pertama sebelum fermentasi dapat dimulai, organisme yang memproduksi antibiotik yang
diinginkan harus diisolasi dan jumlahnya harus meningkat berkali-kali. Untuk melakukan hal
ini, bibit awal dari sampel sebelumnya diisolasi di laboratorium. Untuk menumbuhkan bibit
awal, sampel organisme tersebut dipindahkan ke medium molase yang mengandung. Bibit
kemudian dimasukkan ke dalam labu goyang bersama dengan makanan dan nutrisi lainnya
yang diperlukan untuk pertumbuhan. Hal ini menciptakan suspensi, yang dapat ditransfer ke
tangki benih untuk pertumbuhan lebih lanjut.
Kemudian tank-tank benih yang dirancang untuk menyediakan lingkungan yang ideal bagi
mikroorganisme tumbuh. Semua mikroorganisme tertentu akan perlu untuk bertahan hidup dan
berkembang, termasuk air hangat dan makanan karbohidrat seperti gula laktosa atau glukosa.
Selain itu, mereka mengandung sumber karbon lainnya yang diperlukan, seperti asam asetat,
alkohol, atau hidrokarbon, dan sumber nitrogen seperti garam amonia. Faktor pertumbuhan
seperti vitamin, asam amino, dan nutrisi minor melengkapi komposisi isi biji tangki. Tank-tank
benih dilengkapi dengan mixer, yang menjaga media pertumbuhan bergerak, dan pompa untuk
memberikan disterilkan, udara disaring. Setelah sekitar jam 24-28, bahan dalam tangki benih
dipindahkan ke tangki fermentasi utama.
Tangki fermentasi pada dasarnya adalah tangki mampu menampung sekitar 30.000 galon. Itu
diisi dengan media pertumbuhan yang sama yaitu molase.

6 | Pembuatan Penisilin dari Jamur Penicillium chyrsogenum dengan Subtrat Molase

Kemudian antibiotika akan ditemukan dalam tangki benih dan juga menyediakan lingkungan
untuk pertumbuhan. Selama proses ini, mereka mengeluarkan jumlah besar antibiotik yang
diinginkan. Tank-tank didinginkan untuk menjaga suhu antara 73-81 F (23-27,2 C). Aliran
berkelanjutan dari udara disterilkan dipompa ke dalamnya. Untuk alasan ini, anti-foaming agen
akan ditambahkan secara berkala. Karena kontrol pH sangat penting untuk pertumbuhan yang
optimal, asam atau basa ditambahkan ke tangki yang diperlukan.
Pada isolasi dan pemurnian dilakukan tiga sampai lima hari, jumlah maksimum antibiotik akan
telah diproduksi dan proses isolasi dapat dimulai. Molase diproses oleh berbagai metode
pemurnian untuk mengisolasi antibiotik minyak yang larut seperti penisilin, metode yang
digunakan adalah ekstraksi pelarut . Dalam metode ini, molase diperlakukan dengan pelarut
organik seperti butil asetat atau metil isobutil keton, yang secara khusus dapat melarutkan
antibiotik. Kemudian antibiotik dilarutkan kembali dengan menggunakan berbagai cara kimia
organik. Pada akhir langkah ini, produsen biasanya dibiarkan dengan bentuk bubuk murni dari
antibiotik, yang dapat disempurnakan ke dalam jenis produk yang berbeda.
Kemudian pada proses pengilangan produk antibiotik dapat diambil dalam berbagai bentuk dan
bisa dijual dalam jarum suntik, dalam bentuk pil, atau kapsul gel, atau dapat dijual sebagai
bubuk, yang dimasukkan ke dalam salep topikal tergantung pada bentuk akhir. langkah-langkah
pemurnian berbagai antibiotik dapat diambil setelah isolasi awal.

BAB IV
7 | Pembuatan Penisilin dari Jamur Penicillium chyrsogenum dengan Subtrat Molase

PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dalam hasil pembahasan yang diperoleh maka subtrat molase yang digunakan
sebagai media pertumbuhan dapat digunakan baik dalam pertumbuhan Penicillium
chrysogenum. Maka kesimpulannya molase yang berasal dari limbah pabrik dapat
digunakan baik dalam penghasil penisilin. Penggunaan subtrat jauh lebih baik
dengan waktu produksi penisilin yang lebih cepat karena mengandung unsur unsur
yang membangun cepat pertumbuhan jamur. Dari mempercepatnya waktu produksi
maka akan lebih efektif dan dapat memperoleh produksi yang lebih besar per hari
nya. Dan Pengolahan limbah pabrik sangat mendukung untuk dilakukannya produksi
penisilin dengan bantuan subtrat tersebut. Dari segi waktu produksi yang cepat maka
nilai ekonomis nya pun bertambah besar.

4.2 Kritik

4.3 SARAN

4.4 DAFTAR PUSTAKA


8 | Pembuatan Penisilin dari Jamur Penicillium chyrsogenum dengan Subtrat Molase

Buku farmakologi dan Terapi, edisi 4, Bagian farmakologi Fakultas Kedokteran


Universitas Indonesia 1995.
https://id.wikipedia.org/wiki/Antibiotika
https://crocodilusdaratensis.wordpress.com/2009/12/12/sejarah-perkembanganmikrobiologi/
https://usahamart.wordpress.com/2012/02/23/membuat-antibiotik
http://e-journal.uajy.ac.id/919/

9 | Pembuatan Penisilin dari Jamur Penicillium chyrsogenum dengan Subtrat Molase