Anda di halaman 1dari 28

Gangguan Tidur (Insomnia)

Lusye Diana Jacob


Mahasiswi FakultasKedokteranTahun 2012Universitas Kristen KridaWacana, Jakarta
NIM: 102012058, Email: lusydiana.jc18@yahoo.com

Pendahuluan
Insomnia adalah salah satu bentuk dari gangguan tidur. Gangguan tidur seringkali
menjadi keluhan pasien baik oleh karena gangguan fisik maupun oleh karena masalah emosional.
Insomnia adalah kesulitan untuk mulai masuk tidur, atau mempertahankan tetap tidur atau sulit
tidur kembali apabila terbangun. Ianya dianggap sebagai masalah yang bermakna dan kronis oleh
10% pasien rawat jalan. Gangguan tidur berkaitan dengan angka kesakitan (fisik) , fungsi seharihari, kecelakaan bahkan kematian oleh kecelakaan lalu lintas. Banyak dana yang dihabiskan
untuk gangguan yang berhubungan atau akibat dari gangguan tidur. Secara umumnya diketahui
kebutuhan tidur normal antara 6-9 jam sehari. Tetapi dalam kenyataan ada orang dengan
kebutuhan tidur yang singkat misalnya kurang dari 6 jam sehari (short sleepers), sebaliknya ada
orang dengan kebutuhan tidur yang lebih lama yaitu lebih dari 9 jam (long sleepers). Kita bisa
menilai kecukupan masa tidur itu dari kebugaran pada waktu bangun pagi segar secara fisik. Bila
benar-benar kurang tidur maka pada siang hari akan kelihatan mengantuk, lelah, gangguan
konsentrasi dan juga mudah tersinggung (moody).
Untuk menyembuhkan insomnia, maka terlebih dahulu harus dikenali penyebabnya.
Artinya, kalau disebabkan penyakit tertentu, maka untuk mengobatinya maka penyakitnya yang
harus disembuhkan terlebih dahulu.

PEMBAHASAN

Fisiologi Tidur
Semua makhluk hidup mempunyai irama kehidupan yang sesuai dengan beredarnya
waktu dalam siklus 24 jam. Irama yang seiring dengan rotasi bola dunia disebut sebagai
irama sirkadian.tidur tidak dapat diartikan sebagai manifestasi proses deaktivasi sistem Saraf
Pusat. Saat tidur, susunan saraf pusat masih bekerja dimana neuron-neuron di substansia
retikularis ventral batang otak melakukan sinkronisasi. Bagian susunan saraf pusat yang
mengadakan kegiatan sinkronisasi terletak pada substansia ventrikulo retikularis batang otak
yang disebut sebagai pusat tidur (sleep center). Bagian susunan saraf pusat yang
menghilangkan sinkronisasi/desinkronisasi terdapat pada bagian rostral batang otak disebut
sebagai pusat penggugah (arousal center).1

Gambar 1. Fisiologi tidur .1

Banyak fenomena terjadi dalam tidur. Memang ada fase tidur tenang akan tetapi ada pula
fase tidur aktif. Akhir-akhir ini dicoba dibuat definisi tentang tidur sebagai berikut : tidur
adalah suatu keadaan organisme yang regular, recurrent, reversible, dalam keadaan mana
ambang rangsang terhadap stimuli dan luar lebih tinggi jika dibandingkan dengan pada
keadaan jaga. Mengapa manusia membutuhkan tidur? Dahulu, jawabnya antara lain untuk
menghindarkan diri dari musuh (manusia purba mempunyai banyak musuh malam hari
sedangkan panca indranya relatif buruk fungsinya waktu malam). Dengan perkataan lain,
siang hari manusia dapat berfungsi lebih efektif. Itu menurut teori evolusi. Jawaban lain,
tidur diperlukan untuk penghematan energi; tak ada satu pun mahluk hidup yang dapat

bertahan dalam keadaan stres terus menerus, dan tidur merupakan periode tanpa aktivitas
sehingga tubuh terhindar dari tuntutan sehari-hari. Selain periode istirahat, selanjutnya tidur
pun merupakan periode pemulihan. Penelitian-penelitian yang dilakukan kemudian, turut
menunjang teori tensebut 1
Tidur ditandai oleh menurunnya kesadaran secara reversibel, biasanya disertai posisi
berbaring dan tak bergerak. Aserinsky dan Kleitmen (1953) di University of Chicago
menemukan bahwa biasanya pada orang yang sedang tidur bola matanya bergerak perlahanlahan, tetapi kadang-kadang bola matanya bergerak dengan cepat pula. Keadaan tidur ini
berturut-turut dinamakan tidur tanpa gerak mata cepat (NREM sleep atau non-rapid eye
movement sleep) dan tidur dengan gerak mata cepat (REM sleep atau rapid eye
movement sleep). 1
Sekurang-kurangnya ada 4 tingkat pada tidur itu, yaitu mulai dari tidur ringan sampai
tidur nyenyak yang semuanya dapat diamati dengan baik pada elektroensefalografi (EEG)
dan hubungannya dengan tidur REM dapat dilihat bila pada waktu yang sama ditempelkan
pula elektrode di samping mata. Fase awal tidur didahului oleh fase NREM yang terdiri dari
4 stadium, lalu diikuti oleh fase REM. Keadaan tidur normal antara fase NREM dan REM
terjadi secara bergantian antara 4-7 kali siklus semalam. Bayi baru lahir total tidur 16- 20
jam/hari, anak-anak 10-12 jam/hari, kemudian menurun 9-10 jam/hari pada umur diatas 10
tahun dan kira-kira 7-7,5 jam/hari pada orang dewasa. 1
Tipe NREM dibagi dalam 4 stadium yaitu:
1. Tidur stadium Satu.
Fase ini merupakan antara fase terjaga dan fase awal tidur. Fase ini didapatkan kelopak
mata tertutup, tonus otot berkurang dan tampak gerakan bola mata kekanan dan kekiri.
Fase ini hanya berlangsung 3-5 menit dan mudah sekali dibangunkan. Gambaran EEG
biasanya terdiri dari gelombang campuran alfa, betha dan kadang gelombang theta
dengan amplitudo yang rendah. Tidak didapatkan adanya gelombang sleep spindle dan
kompleks K
2. Tidur stadium dua
Pada fase ini didapatkan bola mata berhenti bergerak, tonus otot masih berkurang, tidur
lebih dalam dari pada fase pertama. Gambaran EEG terdiri dari gelombang theta simetris.
Terlihat adanya gelombang sleep spindle, gelombang verteks dan komplek K

3. Tidur stadium tiga


Fase ini tidur lebih dalam dari fase sebelumnya. Gambaran EEG terdapat lebih banyak
gelombang delta simetris antara 25%-50% serta tampak gelombang sleep spindle.
4. Tidur stadium empat
Merupakan tidur yang dalam serta sukar dibangunkan. Gambaran EEG didominasi oleh
gelombang delta sampai 50% tampak gelombang sleep spindle.
Fase tidur NREM, ini biasanya berlangsung antara 70 menit sampai 100 menit,
setelah itu akan masuk ke fase REM. Pada waktu REM jam pertama prosesnya
berlangsung lebih cepat dan menjadi lebih insten dan panjang saat menjelang pagi atau
bangun. Pola tidur REM ditandai adanya gerakan bola mata yang cepat, tonus otot yang
sangat rendah, apabila dibangunkan hampir semua organ akan dapat menceritakan
mimpinya, denyut nadi bertambah dan pada laki-laki terjadi eraksi penis, tonus otot
menunjukkan relaksasi yang dalam. Pola tidur REM berubah sepanjang kehidupan
seseorang seperti periode neonatal bahwa tidur REM mewakili 50% dari waktu total
tidur. Periode neonatal ini pada EEG-nya masuk ke fase REM tanpa melalui stadium 1
sampai 4. Pada usia 4 bulan pola berubah sehingga persentasi total tidur REM berkurang
sampai 40% hal ini sesuai dengan kematangan sel-sel otak, kemudian akan masuk
keperiode awall tidur yang didahului oleh fase NREM kemudian fase REM pada dewasa
muda dengan distribusi fase tidur sebagai berikut:- NREM (75%) yaitu stadium 1: 5%;
stadium 2 : 45%; stadium 3 : 12%; stadium 4 : 13% - REM; 25 %.1
Tidur REM, yang lamanya 20-25% dari lamanya tidur semalam orang dewasa
muda, ada hubungannya dengan mimpi. Ada sarjana yang menganggap bahwa tidur REM
itu merupakan bentuk kesadaran tersendiri. Jumlah tidur NREM sebagian besar dapat
dikurangi tanpa kerugian pada organisme. Akan tetapi sejumlah tidur REM harus ada
setiap malam.1

Gambar 2. Pola Siklus tidur.2


Pola siklus tidur dan bangun adalah bangun sepanjang hari saat cahaya terang dan tidur
sepanjang malam saat gelap. Jadi faktor kunci adalah adanya perubahan gelap dan terang.
Stimulasi cahaya terang akan masuk melalui mata dan mempengaruhi suatu bagian di
hipotalamus yang disebut nucleus supra chiasmatic (NSC). NSC akan mengeluarkan
neurotransmiter yang mempengaruhi pengeluaran berbagai hormon pengatur temperatur badan,
kortisol, growth hormone, dan lain-lain yang memegang peranan untuk bangun tidur. NSC
bekerja seperti jam, meregulasi segala kegiatan bangun tidur. Jika pagi hari cahaya terang
masuk, NSC segera mengeluarkan hormon yang menstimulasi peningkatan temperatur badan,
kortisol dan GH sehingga orang terbangun. Jila malam tiba, NSC merangsang pengeluaran
hormon melatonin sehingga orang mengantuk dan tidur. Melatonin adalah hormon yang
diproduksi oleh glandula pineal. Saat hari mulai gelap, melatonin dikeluarkan dalam darah dan
akan mempengaruhi terjadinya relaksasi serta penurunan temperatur badan dan kortisol. Kadar
melatonin dalam darah mulai meningkat pada jam 9 malam, terus meningkat sepanjang malam
dan menghilang pada jam 9 pagi. 2
Peranan Neurotransmiter
Keadaan jaga atau bangun sangat dipengaruhi oleh sistim ARAS (Ascending
Reticulary Activity System). Bila aktifitas ARAS ini meningkat orang tersebut dalam
keadaan tidur. Aktifitas ARAS menurun, orang tersebut akan dalam keadaan tidur.

Aktifitas ARAS ini sangat dipengaruhi oleh aktifitas neurotransmiter seperti sistem
serotoninergik, noradrenergik, kholonergik, histaminergik.2
Sistem serotonergik
Hasil serotonergik sangat dipengaruhi oleh hasil metabolisma asam amino
trypthopan. Dengan bertambahnya jumlah tryptopan, maka jumlah serotonin yang
terbentuk juga meningkat akan menyebabkan keadaan mengantuk/tidur. Bila serotonin
dari tryptopan terhambat pembentukannya, maka terjadikeadaan tidak bisa tidur/jaga.
Menurut beberapa peneliti lokasi yang terbanyak sistem serotogenik ini terletak pada
nukleus raphe dorsalis di batang otak, yang mana terdapat hubungan aktifitas serotonis
dinukleus raphe dorsalis dengan tidur REM.2
Sistem Adrenergik
Neuron-neuron yang terbanyak mengandung norepineprin terletak di badan
selnukleus cereleus di batang otak. Kerusakan sel neuron pada lokus cereleus sangat
mempengaruhi penurunan atau hilangnya REM tidur. Obat-obatan yang mempengaruhi
peningkatan aktifitas neuron noradrenergic akan menyebabkan penurunan yang jelas pada
tidur REM dan peningkatan keadaan jaga.2

Sistem Kholinergik
Sitaram et al (1976) membuktikan dengan pemberian prostigimin intra vena dapat

mempengaruhi episode tidur REM. Stimulasi jalur kholihergik ini, mengakibatkan


aktifitas gambaran EEG seperti dalam keadaan jaga. Gangguan aktifitas kholinergik
sentral yang berhubungan dengan perubahan tidur ini terlihat pada orang depresi,
sehingga terjadi pemendekan latensi tidur REM. Pada obat antikolinergik (scopolamine)
yang menghambat pengeluaran kholinergik dari lokus sereleus maka tamapk gangguan
pada fase awal dan penurunan REM.2

Sistem histaminergik
Pengaruh histamin sangat sedikit mempengaruhi tidur.2

Sistem hormon
Pengaruh hormon terhadap siklus tidur dipengaruhi oleh beberapa hormone

seperti ACTH, GH, TSH, dan LH. Hormon hormon ini masing-masing disekresi secara
teratur oleh kelenjar pituitary anterior melalui hipotalamus patway. Sistem ini secara
teratur mempengaruhi pengeluaran neurotransmitter norepinefrin, dopamin, serotonin
yang bertugas menagtur mekanisme tidur dan bangun.2

Gangguan tidur itu dapat berupa: insomnia (sukar tidur, biasanya karena sebab psikologi);
berjalan sewaktu tidur (somnambulisme); mimpi buruk (nightmare) atau pavor nocturnus,
sering pada anak-anak dan biasanya hilang dengan sendirinya; dan narkolepsi (serangan tidur
bersamaan dengan kataplexi, kelumpuhan tidur atau halusinasi
Anamnesis
Anamnesis merupakan wawancara medis yang merupakan tahap awal dari rangkaian
pemeriksaan pasien, baik secara langsung pada pasien atau secara tidak langsung. Tujuan dari
anamnesis adalah mendapatkan informasi menyeluruh dari pasien yang bersangkutan. Informasi
yang dimaksud adalah bagian yang terpenting untuk mengetahui identitas pasien yang lengkap,
riwayat medis, riwayat social lingkungan dan riwayat pemakaian obat.
Data anamnesis terdiri atas beberapa kelompok data penting:3

Identitas pasien
Keluhan utama
Riwayat penyakit sekarang
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat kesehatan keluarga
Riwayat pribadi, sosial-ekonomi-budaya
Riwayat medis Sebuah riwayat medis digunakan untuk menilai risiko mengembangkan
insomnia

dan

untuk

mengidentifikasi

kemungkinan

penyebab.

Sejarah

ini

mempertimbangkan banyak faktor:


-

Masalah kesehatan yang baru atau sedang berlangsung (termasuk penyakit seperti arthritis)
Nyeri luka
Penggunaan suplemen, dan obat-obatan, termasuk kafein, tembakau, dan alkohol
Perubahan kebiasaan kerja atau rekreasi (misalnya, perjalanan, rutinitas latihan, perubahan

shift di tempat kerja)


Stres atau tekanan emosional lainnya.3
Riwayat tidur Riwayat tidur yang membantu menilai kebiasaan tidur. Sebuah diary tidur
atau sleep log sering digunakan untuk merekam kebiasaan tidur. Riwayat tidur juga
biasanya mencakup pertanyaan tentang gejala-gejala yang mungkin terkait dengan
insomnia. Dokter mungkin bertanya tentang berfungsi siang hari, kelelahan, gangguan

konsentrasi dan perhatian, tidur siang, dan gejala umum lain insomnia.2 Kebiasaan
dievaluasi dalam sejarah tidur adalah sebagai berikut:3
-

Frekuensi dan durasi insomnia.


Tidur dan waktu terbangun selama seminggu dan akhir pekan.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk tertidur, seberapa sering terbangun di malam

hari terjadi, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk tidur kembali.
Apakah mendengkur dan sebagaimana keras dan apakah sering.
Setiap gejala bangun terengah-engah atau merasa kehabisan napas.
Kelelahan sepanjang hari
Seberapa sering "tertidur" atau mengalami kesulitan untuk tetap terjaga selama tugas-tugas

rutin, terutama mengemudi.


Khawatir tentang jatuh tertidur, tinggal tidur, atau mendapatkan cukup tidur
Diet (cair dan padat)
Obat-obatan yang dikonsumsi sebelum tidur
Rutinitas menjelang saat tidur
Tingkat kebisingan, pencahayaan, dan suhu
Gangguan (misalnya, televisi)
Sebuah Sleep Log dapat membantu untuk diagnosa gangguan tidur. Cara tersbut adalah
cara yang paling efisien bagi pasien dan dokter untuk mengevaluasi pasien yang sulit tidur.
Setiap pasien yang mengalami gangguan medis gangguan tidur, diharapkan mempunya
sleep log. Kemungkinan besar, dokter akan meminta pasien untuk mengisi sleep log untuk
jangka waktu beberapa minggu; sudah menyelesaikannya log ini dapat mempercepat
diagnosis dan pengobatan. Kebanyakan ahli merekomendasikan untuk mempertahankan
sleep log selama 2-4 minggu berturut-turut. Sleep log tersebut diharapkan untuk dibawa ke
dokter atau spesialis tidur pada saat konsultasi.3
Dari hasil anamnesis pada skenario ini, di dapatkan pasien laki-laki yang berumur
45 tahun mengalami sulit tidur. Pemeriksaan tanda-tanda vital normal. Dengan gejalagejala yang ditunjukkan dan dari hasil pemeriksaan fisik diduga bahwa anak tersebut
mengalami insomnia dengan beberapa prosedur pemeriksaan.

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan bertujuan untuk menyingkirkan masalah-masalah medis lainnya
yang mungkin menyebabkan insomnia. Anda juga mungkin perlu melakukan tes darah untuk
memeriksa jika adanya masalah tiroid atau kondisi lain yang dapat menyebabkan masalah tidur.3

1.

Status mental

Deskripsi umum tentang:

Penampilan

Deskripsikan apa yang nampak: sikap, cara berpakaian, dandanan, postur tubuh, rambut,
jenggot, kumis, kebersihan diri, tampak lebih tua atau muda atau sesuai umurnya.

Kesadaran

Adakah terlihat terganggu, atau tidak tampak terganggu.

Perilaku dan aktivitas psikomotor

Dinilai selama sebelum,semasa dan sesudah wawancara.

Sikap terhadap pemeriksa

Menilai sikapnya adakah: kooperatif, indeferen, apatis, curiga, antisosial, bermusuhan,


pasif, aktif, ambivalen, tegang, seduktif, dan lain-lain.

Kualitas bicara

Menilai cara berbicara dan adakah terdapat gangguan bicara.4


Pemeriksaan Penunjang
-

Pemeriksaan Laboratorium
Tes darah digunakan untuk mendeteksi masalah tiroid atau kondisi lain yang dapat

menyebabkan masalah tidur.4


-

Pemeriksaan Imaging
Tes diagnostik lainnya dapat dilakukan sebagai bagian dari evaluasi untuk insomnia,

meskipun mungkin tidak diperlukan pada semua pasien dengan insomnia.4


Polysomnography adalah pengujian yang dilakukan di pusat-pusat tidur jika kondisi
seperti sleep apnea yang diduga. Pada tes ini, orang akan diminta untuk menghabiskan malam
penuh di pusat tidur sambil di monitor denyut jantung, gelombang otak, respirations, gerakan,

kadar oksigen, dan parameter lain saat mereka sedang tidur. Data tersebut kemudian dianalisa
oleh dokter khusus terlatih untuk mendiagnosa atau mengesampingkan apnea tidur.4
Actigraphy adalah tes lain yang lebih objektif yang mungkin dilakukan dalam situasi
tertentu tetapi tidak secara rutin bagian dari evaluasi untuk insomnia. Actigraph adalah sebuah
detektor gerakan gerakan indera seseorang saat tidur dan terjaga. Hal ini dipakai mirip dengan
jam tangan selama berhari-hari ke minggu, dan data pergerakan dicatat dan dianalisa untuk
menentukan pola tidur dan gerakan. Tes ini mungkin berguna dalam kasus gangguan insomnia
primer, gangguan irama sirkadian, atau kesalahpahaman tidur negara.4
Diagnosa
Working Diagnosa
Definisi insomnia adalah suatu kondisi tidur yang tidak memuaskan secara kuantitas
dan/atau kualitas, yang berlangsung untuk satu kurun waktu tertentu. Taraf penyimpanagan yang
sesungguhnya dari apa yang lazim dianggap sebagai tidur nrmal secara umum sebaiknya tidak
secara primer dianggap sebagai diagnosis insomnia, oleh karena beberapa individu (yang disebut
juga sebagai penidur singkat (short sleeper)) membutuhkan tidur hanya sedikit dan tidak
mengaggap dirinya menderita insomnia. Sebaliknya terdapat sejumlah orang yang sering
menderita insomnia karena kualitas tidur yang buruk, sedangkan kuantitas tidurnya seara
subjektif dan/atau objektif berada dalam batas-batas normal.5
Diantara penderita insomnia, kesulitan masuk tidur adalah keluhan yang paling umum,
kemudian diikuti oleh sulit mempertahankan tidur dan bangun terlalu dini. Namun demikian,
biasanya pasien melaporkan kombinasi dari ketiga keluhan ini. Yang khas, insomnia berkembang
pada waktu terjadi peningkatan stres kehidupan dan cenderung lebih umum terdapat pada wanita,
orang yang lebih tua dan pada orang yang secara psikologis terganggu dan orang yang
sosioekonominya kurang beruntung. Jika insomnia dialami berulang-ulang, dapat menigkatkan
kekhawatiran tidak bisa tidur dan suatu preokupasi dengan segala konsekuensinya, hal ini
menimbulkan lingkaran kemelut yang tidak terselesaikan.5
Individu dengan insomnia, mengatakan dirinya merasa tegang, cemas, khawatir, atau
depresif pad asaat tidur, dan merasa seolah-olah pikirannya melayang-layang. Mereka biasanya

mengeluh tak cukup tidur, banyak masalah pribadi, gangguan kesehatan dan bahkan khawatir
menyebabkan kematian. Sering mereka mengatasinya dengan minum obat atau alkohol. Pada
waktu pagi mereka mengeluh lelah fisik dan mental, pada siang hari mereka secara khas merasa
depresif, cemas, tegang mudah tersinggung dan ada peokupasi dengan diri sendiri.5
Pada anak sering terasa adanya kesulitan tidur, padahal ia hanya mengalami kesulitan
dalam rutinitas tidur (jadi bukan pada gangguan tidur yangsebenarnya).5
Pedoman diagnostik. Berikut adalah gambaran klinis esensial untuk diagnosis pasti:5
-

Keluhan sulit masuk tidur, mempertahankan tidur atau kualitas tidur yang buruk;

Gangguan tidur terjadi minimal 3 kali dalam seminggu selama minimal sebulan;

Adanya preokupasi akan tidak bisa tidur dan kekhawatiran berlebihan parihal akibatnya
pada malam dan sepanjang hari;

Tidak puas secara kuantitas dan kualitas dari tidurnya, yang keduanya menyebabkan
berbagai gangguan dalam fungsi sosial atau pekerjaan.5

Klasifikasi Insomnia
Insomnia Primer
Insomnia primer ini mempunyai faktor penyebab yang jelas. insomnia atau susah tidur ini
dapat mempengaruhi sekitar 3 dari 10 orang yang menderita insomnia. Pola tidur, kebiasaan
sebelum tidur dan lingkungan tempat tidur seringkali menjadi penyebab dari jenis insomnia
primerini.5
Insomnia Sekunder
Insomnia sekunder biasanya terjadi akibat efek dari hal lain, misalnya kondisi medis.
Masalah psikologi seperti perasaan bersedih, depresi dan dementia dapat menyebabkan
terjadinya insomnia sekunder ini pada 5 dari 10 orang. Selain itu masalah fisik seperti penyakit
arthritis, diabetes dan rasa nyeri juga dapat menyebabkan terjadinya insomnia sekunder ini dan
biasanya mempengaruhi 1 dari 10 orang yang menderita insomnia atau susah tidur. Insomnia

sekunder juga dapat disebabkan oleh efek samping dari obat-obatan yang diminum untuk suatu
penyakit tertentu, penggunaan obat-obatan yang terlarang ataupun penyalahgunaan alkohol.
Faktor ini dapat mempengaruhi 1-2 dari 10 orang yang menderita insomnia.5
Secara internasional insomnia masuk dalam 3 sistem diagnostik yaitu International code
of diagnosis (ICD) 10, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) IV dan
International Classification of Sleep Disorders (ISD).5
Dalam ICD 10, insomnia dibagi menjadi 2 yaitu:5

Organik
Non organik
- Dyssomnias (gangguan pada lama, kualitas dan waktu tidur)
- Parasomnias (ada episode abnormal yang muncul selama tidur seperti mimpu buruk,
berjalan sambil tidur, dll)

Dalam ICD 10 tidak dibedakan antara insomnia primer atau sekunder. Insomnia disini adalah
insomnia kronik yang sudah diderita paling sedikit 1 bulan dan sudah menyebabkan gangguan
fungsi dan sosial.5
Dalam DSM IV, gangguan tidur (insomnia) dibagi menjadi 4 tipe yaitu:5
1.
2.
3.
4.

Gangguan tidur yang berkorelasi dengan gangguan mental lain


Gangguan tidur yang disebabkan oleh kondisi medis umum
Gangguan tidur yang diinduksi oleh bahan-bahan atau keadaan tertentu
Gangguan tidur primer (gangguan tidur tidak berhubungan sama sekali dengan kondisi
mental, penyakit, ataupun obat-obatan.) Gangguan ini menetap dan diderita minimal 1
bulan.

Berdasarkan International Classification of Sleep Disordes yang direvisi, insomnia


diklasifikasikan menjadi:5
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Acute insomnia
Psychophysiologic insomnia
Paradoxical insomnia (sleep-state misperception)
Idiopathic insomnia
Insomnia due to mental disorder
Inadequate sleep hygiene
Behavioral insomnia of childhood

h. Insomnia due to drug or substance


i. Insomnia due to medical condition
j. Insomnia not due to substance or known physiologic condition, unspecified

(nonorganic)
k. Physiologic insomnia, unspecified (organic) .2
Differential Diagnosis
Tidur dan ritme sirkadian Disorder
Definisi :
Menggambarkan ritme sirkadian sekitar 24-jam siklus yang dihasilkan oleh suatu organisme.
Kebanyakan sistem fisiologis menunjukkan variasi sirkadian. Sistem dengan variasi yang paling
menonjol adalah siklus tidur-bangun, suhu, dan sistem endokrin. Gangguan ritme sirkadian
merupakan sekelompok gangguan tidur yang melibatkan kelainan dalam waktu dari siklus tidurbangun. Kelainan ini dapat dikategorikan menjadi 2 kelompok utama: gangguan sementara
(misalnya, jet lag; mengubah jadwal tidur karena bekerja, tanggung jawab sosial, penyakit) dan
gangguan kronis. Kronis yang paling umum gangguan tidur ditunda-fase sindrom (DSPS),
lanjutan fase tidur-sindrom (ASPS), dan tidak teratur siklus tidur-bangun.7
Etiologi :
Fase tidur yang tertunda ritme sirkadian jenis gangguan tidur ditandai dengan keterlambatan
siklus tidur-bangun yang berhubungan dengan tuntutan masyarakat. Hal ini sering disebabkan
oleh stressor psikososial (peristiwa di lingkungan seseorang yang menyebabkan stres atau
ketidaknyamanan), terutama bagi remaja. Yang tertunda siklus tidur-bangun mengarah pada
kurang tidur kronis dan biasanya terlambat tidur jam. Individu dengan tipe ini sering mengalami
kesulitan mengubah pola tidur mereka untuk suatu lebih awal dan lebih dapat diterima secara
sosial waktu. Sebenarnya mereka tidur, setelah dimulai, adalah normal. Ini adalah waktu tidur
dan bangun mereka itu terus-menerus tertunda.
Jet lag ritme sirkadian jenis gangguan tidur yang dicirikan oleh gangguan yang timbul dari
ketidaksesuaian antara seseorang sirkadian siklus dan siklus yang dibutuhkan oleh zona waktu
yang berbeda, Semakin banyak zona waktu yang bepergian, semakin besar gangguan. Orang-

orang yang sering bepergian dan lintas banyak zona waktu ketika mereka melakukan perjalanan
yang paling rentan terhadap jenis ini.
Pergeseran jenis pekerjaan dari gangguan tidur ritme sirkadian dibedakan dengan gangguan
karena konflik antara seseorang siklus sirkadian endogen dan siklus yang dibutuhkan oleh kerja
shift. Individu yang bekerja shift malam sering mengalami masalah ini, terutama orang-orang
yang beralih ke jadwal tidur normal pada hari libur. Orang-orang yang bekerja shift berputar
pengalaman masalah ini karena perubahan jadwal tidur-bangun mereka alami. Gangguan yang
disebabkan

oleh

kerja

shift

mengakibatkan

jadwal

sirkadian

tidak

konsisten

dan

ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan secara konsisten.


Gejala :
Gejala umum ditemukan pada orang dengan gangguan ritme sirkadian terkait dengan tidurbangun siklus dapat mencakup sebagai berikut:

Kesulitan memulai tidur

Kesulitan mempertahankan tidur

Nonrestorative tidur

Kantuk di siang hari

Miskin konsentrasi

Gangguan kinerja, termasuk penurunan kemampuan kognitif

Miskin koordinasi psikomotorik

Headaches

Kelainan Gastrointestinal

Sindroma Tidur Apneu

Definisi :
Tidur Apneu merupakan sekumpulan gangguan tidur yang serius, dimana penderita yang sedang
tidur berulang-ulang mengalami henti nafas (apneu) dalam waktu yang cukup lama sehingga
menyebabkan berkurangnya jumlah oksigen di dalam darah dan otak dan menyebabkan
bertambahnya jumlah karbondioksida.
Etiologi :
Terdapat 2 jenis tidur apneu:
1. Tidur apneu obstruktif, disebabkan oleh adanya penyumbatan di dalam tenggorokan
atau saluran udara bagian atas
2. Tidur apneu sentralis, disebabkan oleh adanya kelainan fungsi di dalam otak yang
mengatur pernafasan.

Pada tidur apneu obstruktif, kadang rendahnya oksigen dan tingginya karbondioksida yang
berlangsung lama, bisa menyebabkan berkurangnya kepekaan otak terhadap kelainan tersebut,
sehingga terjadilah tidur apneu sentralis.
Tidur apneu obstruktif biasanya terjadi pada pria gemuk, terutama yang tidurnya
terlentang. Kelainan ini lebih jarang ditemukan pada wanita. Kegemukan, disertai dengan
penuaan jaringan tubuh dan faktor lainnya, kemungkinan menyebabkan menyempitnya saluran
udara bagian atas.
Gejala klinis :
Tanda-tanda dan gejala tidur obstruktif dan pusat apneas tumpang tindih, kadang-kadang
membuat tipe apnea tidur lebih sulit untuk menentukan. Tanda-tanda yang paling umum dan
gejala tidur obstruktif dan pusat apneas meliputi:

Kantuk di siang hari yang berlebihan (hipersomnia)

Keras mendengkur, yang biasanya lebih menonjol dalam apnea tidur obstruktif

Amati episode penghentian pernapasan saat tidur

Tiba-tiba terbangun disertai sesak napas, yang lebih mungkin apnea tidur menunjukkan

pusat

Terbangun dengan mulut kering atau sakit tenggorokan

Pagi sakit kepala

Kesulitan untuk tetap tidur (insomnia)

Etiologi
Insomnia dapat disebabkan oleh berbagai penyebab yang berbeda. Penyebab dapat dibagi
menjadi faktor situasional, kondisi medis atau psikiatris, atau gangguan tidur primer.
Insomnia juga dapat diklasifikasikan berdasarkan lama gejala yaitu, transient, jangka
pendek atau kronis. Insomnia transient biasanya berlangsung kurang dari tujuh hari,
insomnia jangka pendek biasanya berlangsung selama sekitar satu sampai tiga minggu, dan
insomnia kronis berlangsung selama lebih dari tiga minggu. Banyak penyebab insomnia
transien dan jangka pendek adalah sama dan beberapa termasuk:3
-

Jet lag
Perubahan shift kerja
Bisingan berlebihan atau tidak menyenangkan
Suhu kamar yang kurang nyaman (terlalu panas atau terlalu dingin)
Situasi Stres dalam kehidupan (persiapan ujian, kehilangan yang dicintai, perceraian,

pengangguran, atau perpisahan dengan seseorang)


- Adanya penyakit medis atau bedah akut; atau rawat inap
- Penarikan dari obat, alkohol, obat penenang, atau obat perangsang
Gejala fisik yang tidak terkendali (sakit, demam, masalah pernapasan, hidung tersumbat,
batuk, diare, dll) juga dapat menyebabkan seseorang untuk menderita insomnia.
Mengontrol gejala ini dan penyebab mereka dapat menghasilkan resolusi insomnia.6
Penyebab Insomnia kronis atau Jangka Panjang Mayoritas penyebab insomnia kronis
atau jangka panjang biasanya dikaitkan dengan kondisi jiwa atau fisiologis yang mendasari
(medis).
Penyebab Psikologi Insomnia Masalah yang paling umum yang dapat menyebabkan
insomnia meliputi: 6

Cemas
Depresi
Stres (mental, emosional, situasional, dll)
Skizofrenia, dan / atau
Mania (gangguan bipolar)

Insomnia dapat merupakan indikator depresi. Banyak orang akan menderita insomnia
selama fase akut dari penyakit mental. Seperti yang disebutkan sebelumnya, depresi dan
kecemasan yang berkaitan erat dengan insomnia. Dari semua penyebab medis dan
psikologis sekunder insomnia lain, kecemasan dan depresi adalah yang paling umum.6
Penyebab Fisiologis Insomnia Penyebab fisiologis mulai dari gangguan ritme sirkadian
(gangguan jam biologis), ketidakseimbangan tidur-bangun, ke berbagai kondisi medis.
Berikut ini adalah kondisi medis yang paling umum yang memicu insomnia:3
-

Sindrom sakit kronis


Sindrom kelelahan kronis
Gagal jantung kongestif
Angina pada malam hari (nyeri dada) dari penyakit jantung
Penyakit refluks asam (GERD)
Penyakit paru obstruktif kronis (COPD)
Nocturnal asma (asma dengan gejala pernapasan malam waktu)
Obstructive sleep apnea
Penyakit degeneratif, seperti penyakit Parkinson dan penyakit Alzheimer (Sering,

insomnia merupakan faktor penentu untuk penempatan panti jompo.)


- Tumor otak, stroke, atau trauma ke otak.
Epidemiologi
Insomnia adalah sangat umum dan terjadi pada 30% sampai 50% dari populasi umum. Sekitar
10% dari populasi menderita kronis (jangka panjang) insomnia. Insomnia mempengaruhi orangorang dari segala usia termasuk anak-anak, meskipun lebih sering terjadi pada orang dewasa dan
frekuensi meningkat dengan usia. Secara umum, perempuan lebih sering terkena daripada pria.
Penting untuk membuat perbedaan antara insomnia dan terminologi lain yang serupa; pendeknya
durasi tidur dan kurang tidur

Short durasi tidur mungkin saja normal dalam beberapa individu yang mungkin
memerlukan sedikit waktu untuk tidur siang hari tanpa merasa gangguan, gejala utama
dalam definisi insomnia.

Pada insomnia, cukup waktu dan kesempatan untuk tidur tersedia, sedangkan pada
kurang tidur, kurang tidur adalah karena kurangnya kesempatan atau waktu untuk tidur
karena sukarela atau sengaja menghindari tidur.7

Patofisiologi
Insomnia adalah keadaan dimana Anda mulai mengeluh dengan sulitnya tidur di
malam hari, atau Anda sering terbangun di tengah malam. Banyak disebutkan bahwa
stress sering dikaitkan dengan insomnia. Stres menyebabkan insomnia. Setiap
permasalahan kehidupan yang manimpa pada diri seseorang (stresor psikososial) dapat
mengakibatkan gangguan fungsi/faal organ tubuh, reaksi yang dialami oleh tubuh ini
dikatakan stres Hal itu terjadi karena sistem saraf Anda sedang dipersiapkan untuk selalu
berpikir bahkan saat Anda sedang tidur. Saat stress terjadi tubuh akan berespon terhadap
stress tersebut. Hipotalamus-Pituitari- Aksis (HPA) adalah sekelompok sumbu yang
berperan dalam memberi respon terhadap stress, yang mana melibatkan otak hipofisis
dan kelenjar adrenal. Pertama, hipotalamus (bagian sentral otak) akan melepaskan
senyawa yang disebut corticotrophin releasing factor (CRF). CRF kemudian perjalanan
ke kelenjar hipofisis, di mana akan memicu pelepasan hormon, adrenocorticotrophic
(ACTH). ACTH dilepaskan ke dalam aliran darah dan menyebabkan korteks kelenjar
adrenal untuk melepaskan hormon stres, terutama kortisol, yang merupakan hormon
kortikosteroid. Kortisol meningkatkan ketersediaan pasokan bahan bakar tubuh
(karbohidrat, lemak, dan glukosa), yang diperlukan untuk merespon stres. Namun, jika
kadar kortisol tetap tinggi dalam jangka waktu terlalu lama, maka otot akan rusak,
terjadinya penurunan respons terhadap peradangan, dan penurunan sistem imun
(pertahanan) . Kortikosteroid juga dapat menyebabkan retensi cairan dan tekanan darah
tinggi. Oleh karena itu, penting bahwa respon terhadap kortikosteroid secara hati-hati
dikendalikan (dimodulasi). Kontrol ini biasanya dilakukan dengan mekanisme umpan
balik yang meningkatkan kadar kortisol makan kembali ke hipotalamus dan hipofisis
mematikan produksi ACTH. Selain itu, sangat tinggi tingkat kortisol dapat menyebabkan
depresi dan psikosis, yang menghilang ketika kembali ke tingkat normal.
Karena adanya hubungan ini dapat disimpulkan bahwa peningkatan stress akan
mendahului peningkatan insomnia. Bila Anda stress sistem yang dapat membuat Anda

seharusnya tertidur akan menjauh dari Anda. penyebab insomnia terkait erat dengan
lelah, konsentrasi terganggu, memori terganggu, sakit kepala, mudah marah dan
mengantuk di siang hari.7
Pusat-pusat tidur di Otak

Irama tidur - jaga yang merupakan pola tingkah laku agaknya berhubungan
dengan interaksi di dalam sistim aktivasi reticular. Perangsangan daerah formasio
retikularis akan menyebabkan kondisi jaga/waspada pada hewan di laboratorium.
Sedangkan perusakan pada daerah itu menyebabkan hewan mengalami kondisi koma
menetap. Kita mengetahui bahwa sistim aktivas retikular bekerjanya diatur oleh kontrol
dan nukleus raphe dan locus coeruleus. Di mana sel-sel dan nucleus raphe mensekresi
serotonin dan locus coeruleus mensekresi epinephrine. Jika nukleus raphe dirusak atau
sekresinya dihambat, dapat menimbulkan kondisi tidak tidur/berkurangnya jam tidur pada
hewan percobaan yang mirip dengan kejadian insomnia. Sedangkan bila locus coeruleus
yang dirusak, akan terjadi penurunan atau hilangnya tidur REM, sedangkan tidur non
REM tak berubah. Sistim limbik, yang kita kenal sebagai pusat emosi, agaknya juga
berhubungan dengan kewaspadaan/jaga. Mungkin hal inilah yang menyebabkan mengapa
kondisi ansietas dan gangguan emosi lainnnya dapat mengganggu tidur, dan
menyebabkan insomnia.8

Meskipun efek insomnia dialami sebagian besar dalam tempo yang singkat,
beberapa orang baru menyadari setelah insomnia yang mereka derita parah. Oleh sebab
itu diperlukan informasi tentang insomnia secara detail. Berikut tipe insomnia:
1. Transient insomnia
Durasi insomnia ini hanya satu atau beberapa hari. Biasanya disebabkan oleh stres baru,
situasi dramatis yang mengguncang hidup si penderita
Jika Anda mengalami insomnia sekilas, hanya beberapa hari, dipastikan Anda mengalami
jenis insomnia ini.
Kafein, rokok, dan obat-obatan tertentu dapat mengurangi insomnia jenis ini. Tapi
usahakan untuk menghindarinya karena menimbulkan kecanduan.
2. Short term insomnia
Jenis insomnia ini agak lama durasinya diibandingkan jenis yang pertama. Antara 1
hingga 3 minggu.
Untuk kaum perempuan, insomnia ini sering dialami ketika ada perubahan
hormonal di dalam tubuh mereka. Selama menstruasi, hormon progesteron mengalami
penurunan sehingga efek insomnia jenis ini akan timbul.
Insomnia ini juga dialami oleh mereka yang berada di pekerjaan yang menekan.Terlalu
terang ruang tidur Anda juga bisa menyebabkan short term insomnia. Hal ini dikarenakan
hormon melatonin yang dihasilkan oleh otak bagian tengah mengalami gangguan
3. Chronic insomnia
Jika Anda mengalami kesulitan tidur setiap hari dalam satu bulan atau lebih, bisa
dipastikan Anda mengalami jenis insomnia kronis. Seluruh kegiatan dan pekerjaan Anda
akan serta merta terganggu. Kesehatan si penderita juga akan turun drastis
4. Primary chronic insomnia
Insomnia ini terjadi ketika gejala yang ditunjukkan tidak sesuai dengan kondisi fisik dan
mental penderita

5. Secondary chronic insomnia


Kondisi ini dialami oleh mereka yang mengalami depresi dan kelaianan gangguan
emosional dan fisik.
Dari data penelitian, 10% dari orang dewasa berpotensi mengalami insomnia jenis ini.8

Penatalaksanaan
Non Farmakologis
1. Pendekatan hubungan antara pasien dan dokter, tujuannya:
Untuk mencari penyebab dasarnya danpengobatan yang adekuat
Sangat efektif untuk pasien gangguan tidur kronik
o Untuk mencegah komplikasi sekunder yang diakibatkan oleh penggunaan obat

hipnotik,alkohol, gangguan mental


Untuk mengubah kebiasaan tidur yang jelek

2. Konseling dan Psikotherapi


Psikotherapi sangat membantu pada pasien dengan gangguan psikiatri seperti
(depressi, obsessi, kompulsi), gangguan tidur kronik. Dengan psikoterapi ini kita dapat
membantu mengatasi masalah-masalah gangguan tidur yang dihadapi oleh penderita
tanpa penggunaan obat hipnotik.
3. Sleep hygiene terdiri dari:
a. Tidur dan bangunlah secara reguler/kebiasaan
b. Hindari tidur pada siang hari/sambilan
c. Jangan mengkonsumsi kafein pada malam hari
d. Jangan menggunakan obat-obat stimulan seperti decongestan
e. Lakukan latihan/olahraga yang ringan sebelum tidur
f. Hindari makan pada saat mau tidur, tapi jangan tidur dengan perut
kosong
g. Segera bangun dari tempat bila tidak dapat tidur (15-30 menit)
h. Hindari rasa cemas atau frustasi
i. Buat suasana ruang tidur yang sejuk, sepi, aman dan enak6,8

Medikamentosa
Dalam mengobati gejala gangguan tidur, selain dilakukan pengobatan secara
kausal, juga dapat diberikan obat golongan sedatif hipnotik. Pada dasarnya semua obat
yang mempunyai kemampuan hipnotik merupakan penekanan aktifitas dari reticular
activating system (ARAS) diotak. Hal tersebut didapatkan pada berbagai obat yang
menekan susunan saraf pusat, mulai dari obat anti anxietas dan beberapa obat anti depres.
Obat hipnotik selain penekanan aktivitas susunan saraf pusat yang dipaksakan dari proses
fisiologis, juga mempunyai efek kelemahan yang dirasakan efeknya pada hari berikutnya
(long acting) sehingga mengganggu aktifitas sehari-hari. Begitu pula bila pemakain obat
jangka panjang dapat menimbulkan over dosis dan ketergantungan obat.
Sebelum mempergunakan obat hipnotik, harus terlebih dahulu ditentukan jenis
gangguan tidur misalnya, apakah gangguan pada fase latensi panjang (NREM) gangguan
pendek, bangun terlalu dini, cemas sepanjang hari, kurang tidur pada malam hari, adanya
perubahan jadwal kerja/kegiatan atau akibat gangguan penyakit primernya. Walaupun
obat hipnotik tidak ditunjukkan dalam penggunaan gangguan tidur kronik, tapi dapat
dipergunakan hanya untuk sementara, sambil dicari penyebab yang mendasari. Dengan
pemakaian obat yang rasional, obat hipnotik hanya untuk mengkoreksi dari problema
gangguan tidur sedini mungkin tanpa menilai kondisi primernya dan harus berhati-hati
pada pemakaian obat hipnotik untuk jangka panjang karena akan menyebabkan
terselubungnya kondisi yang mendasarinya serta akan berlanjut tanpa penyelesaian yang
memuaskan.
Jadi yang terpenting dalam penggunaan obat hipnotik adalah mengidentifikasi dari
problem gangguan tidur sedini mungkin tanpa menilai kondisi primernya danharus
berhati-hati pada pemakain obat hipnotik untuk jangka panjang karena akan
menyebabkan terselubungnya kondisi yang mendasarinya serta akan berlanjut tanpa
penyelesaian yang memuaskan. Jadi yang terpenting dalam penggunaan obat hipnotik
adalah mengidentifikasi penyebab yang mendasarinya atau obat hipnotik adalah sebagai
pengobatan tambahan. Pemilihan obat hipnotik sebaiknya diberikan jenis obat yang
bereaksi cepat (short action) dgnmembatasi penggunaannya sependek mungkin yang
dapat mengembalikan pola tidur yang normal.

Lamanya pengobatan harus dibatasi 1-3 hari untuk transient insomnia, dan tidak
lebih dari 2 minggu untuk short term insomnia. Untuk long term insomnia dapat
dilakukan evaluasi kembali untuk mencari latar belakang penyebab gangguan tidur yang
sebenarnya. Bila penggunaan jangka panjang sebaiknya obat tersebut dihentikan secara
berlahan-lahan untuk menghindarkan withdraw terapi.
Antara obat yang di gunakan utk pesakit insomnia adalah :
1. Benzodiazepines:
Merupakan obat golongan hinotik-sedatif. Efektif digunakan untuk mengobati masalah
tidur seperti berjalan dalam tidur dan malam teror. Namun, obat ini dapat menyebabkan
Anda merasa mengantuk pada siang hari dan juga dapat menyebabkan ketergantungan,
yang berarti anda dapat selalu perlu obat tidur
2. Non-Benzodiazepine
Yang termasuk golongan ini adalah seperti zolpidem, zaleplon, zopiclone dan
ecszopiclone. Obat-obat masih baru dalam golongan hipnotik-sedatif. Mekanisma
kerjanya hampir sama dengan golongan benzodiazepein yaitu bekerja pada resepto
GABA
3. Alkohol
Alkohol juga sering digunakan sebagai terapi pilihan individu untuk menginduksi tidur.
Namun, penggunaan alkohol akan menyebabkan insomnia. Pada penggunaan jangka
panjang akan disertai dengan pengurangan tidur REM
4. Antidepressants:
Beberapa antidepresan turut mengandungi efek sedatif yang kuat sebagi contoh
amitriptiline, doxepin, mirtazapin dan tradazon. Namun karena mempunyai jalur kerja
yang lebar, efek sampingnya meningkat. Insomnia adalah gejala umum dari depresi.
Dengan demikian, beberapa obat antidepresan, seperti trazodone (Desyrel), sangat efektif
dalam mengobati kesulitan tidur dan kecemasan yang disebabkan oleh depresi.
5. Melatonin

Hormon dan suplemen melatonin efektif pada beberapa tipe insomnia. Melatonin telah
digunakn dalam pil pembantu tidur, zopiclone. Manfaat dari melatonin adalah mampu
mengobati insomnia tanpa mengubah corak tidur seseorang dan.
6. Antihistamin
Antihistamn difenhidramin digunakan meluas. Mereka umumnya bekerja baik, tetapi
dapat menyebabkan pusing keesokan harinya. Mereka cukup aman untuk dijual tanpa
resep. Namun, jika anda sedang mengambil obat lain yang juga mengandung
antihistamin, kelebihan dosis bisa terjadi.
7. Herbal
Bahan-bahan seperti valerian (untuk relaksasi otot), melatonin untuk gangguan irama
sirkadian seperti jet lag. Chamomile, dan kava kava (untuk mengurangi kecemasan)
banyak dipakai untuk terapi insomnia.9
Pencegahan

Lakukan kesibukan sepanjang hari atau olahraga ringan siang dan sore hari
Jangan minum kopi atau teh kental, terutama pada sore hari dan malam hari.
Usahakan makan malam harus kenyang agar badan cukup rileks untuk beristirahat
Minumlah segelas susu hangat atau susu campur madu sebelum tidur
Mandi dengan air hangat sebelum tidur dan jangan tidur siang
Jika Anda tetap tidak dapat tidur, cobalah meminum antihistamin seperti promethazine
atau dimenhydrinate setengah jam sebelum tidur. Obat-obatan ini kurang menyebabkan

ketagihan dibandingkan obat lain yang lebih keras


Bangun dan baca buku dan dengarkan musik yang bersifat menenangkan.10

Komplikasi

Gangguan fungsi mental


Insomnia dapat mempengaruhi konsentrasi dan memori, dan dapat mempengaruhi
kemampuan seseorang untuk melakukan tugas-tugas sehari-hari.Beberapa ahli
melaporkan bahwa kurang tidur dalam mengganggu kemampuan otak untuk
memproses informasi. Dua sampai tiga jam tidur setiap malam selama satu minggu
terganggu secara signifikan kinerja dan suasana hati. Beberapa studi telah melaporkan
masalah dalam menghafal meskipun orang lain tidak menemukan perbedaan dalam
skor tes antara orang-orang dengan tidur sementara kerugian dan orang-orang dengan
penuh tidur.11
Kecelakaan
Insomnia membahayakan keselamatan publik dengan ikut untuk lalu lintas dan
kecelakaan industri. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa kelelahan
memainkan peran utama dalam kecelakaan mobil dan mesin. Sebanyak 100.000
kecelakaan mobil, akuntansi untuk 1.500 kematian, yang disebabkan oleh kantuk.
Perkiraan pada kelelahan sebagai penyebab kecelakaan mobil berkisar antara 1%
menjadi 56%, tergantung pada studi.
Mortalitas Rates

Orang-orang dengan insomnia tidak memiliki tingkat kematian tinggi, yang didukung
bukti-bukti sebelumnya. Orang-orang yang mengambil pil tidur memang memiliki
tingkat ketahanan hidup yang lebih rendah. Insomnia hampir tidak pernah mematikan
kecuali dalam kasus yang jarang terjadi, seperti kelainan genetik yang disebut
insomnia familial fatal. Penyakit otak degeneratif ini adalah progresif dan
mengembangkan individu intractable insomnia, yang akhirnya menjadi fatal.
Stres dan depresi
Perubahan sederhana dalam pola tidur terjaga dapat memiliki efek yang signifikan
pada mood seseorang. Persistent insomnia bahkan memprediksi pembangunan masa
depan gangguan emosional dalam beberapa kasus. Insomnia meningkatkan aktivitas
hormon dan jalur di otak yang menyebabkan stres, dan perubahan dalam pola tidur
telah terbukti secara signifikan mempengaruhi mood. Insomnia berkelanjutan mungkin
tanda kegelisahan dan depresi 10
Penyakit jantung
Satu studi melaporkan bahwa orang dengan insomnia kronis memiliki tanda-tanda
jantung dan aktivitas sistem saraf yang mungkin menempatkan mereka pada risiko
penyakit jantung.
Sakit kepala
Sakit kepala yang terjadi pada malam atau pagi-pagi mungkin berhubungan dengan
gangguan tidur.

Prognosis

Insomnia tidak diobati berpotensi konsekuensi serius, termasuk meningkatnya risiko kecelakaan
kendaraan bermotor, gangguan kinerja sekolah atau pekerjaan, dan tingginya tingkat
ketidakhadiran kerja.

Untungnya, insomnia dapat dirawat dengan sangat efektif pada

kebanyakan pasien. Perawatan menggunakan kombinasi pendekatan biasanya paling efektif.


Pasien yang telah insomnia sekali adalah pada peningkatan risiko berulang insomnia
Untuk insomnia jangka pendek, prognosis sangat baik. Untuk pertama insomnia kronis yang
mendasari faktor penyebab perlu diidentifikasi. Pasien juga perlu didukung dengan
hypnotik dan terapi perilaku. Insomnia yang resisten, sulit untuk ditangani, dapat secara bertahap
diatasi dengan ketekunan dan kesabaran. Bentuk terapi perilaku poros dari manajemen insomnia
seperti ini akan membantu untuk mengubah atau memperkuat pola tidur.7

Kesimpulan
Pasien mengalami gejala tidak bisa tidur di malam hari dan rasa mengantuk di siang hari. Hasil
dari sasaran belajar telah di kaji berdasarkan pemeriksaan yang di jalankan kepada pasien, pasien
mengalami insomnia dan disertai stress akibat beban dari kegiatan sehariannya. Insomnia adalah
suatu gangguan tidur yang dialami oleh penderita dengan gejala-gejala selalu merasa letih dan
lelah sepanjang hari dan secara terus menerus (lebih dari sepuluh hari) mengalami kesulitan
untuk tidur atau selalu terbangun di tengah malam dan tidak dapat kembali tidur 9. Penyebab
insomnia yang utama adalah adanya permasalahan emosional, kognitif, dan fisiologis.

DAFTAR PUSTAKA
1. Maramis WF. Gangguan tidur. Dalam: Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga
University Press; 1994; hal. 102-3.
2. Kaplan, H.I, Sadock BJ. 2010. Kaplan dan Sadock Sinopsis Psikiatri. Ed: Wiguna, I
Made. Tangerang: Bina Rupa Aksara Publisher .h.221-6.
3. Sateia M, Carskadon MA. Insomnia. Dalam: Sleep Medicine. Philadelphia: Hanley &
Belfus Inc.;2002. Hal 153-9.
4. Anonim. Gangguan tidur nonorganik. Dalam: Pedoman Penggolongan dan Diagnosis
Gangguan Jiwa di Indonesia III. Jakarta: Departemen Kesehatan; 1993; hal. 236-9.
5. Tomb, David A. 2004. Buku Saku Psikiatri Ed 6. Jakarta: EGC.h.334-6.
6. Sudoyo. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen
Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.Jakarta.EGC.h.34-7.
7. Fauci, Braunwald., Kasper., Hauser., Longo., Jameson., Loscalzo. 2008. Harrison's
Principles of Internal Medicine 17th Edition.Vol II. United States of America: McGraws
Hill. pp: 2711-2723
8. Priguna Sidharta. Gangguan tidur. Neurologi klinis dalam praktek umum.Indonesia :
Dian rakyat.2009: 178-198
9. Goodman and Gilmans. The Pharmacological basis of therapeutics. 11th ed, 2005: 361398
10. Hughes JR. EEG in clinical practice. 3rd ed, 2004: 55-104
11. Rusdi Maslim. Diagnosis gangguan jiwa.PPDGJ-III.2001:79-96