Anda di halaman 1dari 50

KARYA TULIS ILMIAH

GAMBARAN PENGGUNAAN OBAT INSULIN


ASPART DAN INSULIN GLARGINE PADA PASIEN
DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RSUP SANGLAH
DENPASAR

NI KADEK MARINA

AKADEMI FARMASI SARASWATI


DENPASAR
2015
KARYA TULIS ILMIAH

GAMBARAN PENGGUNAAN OBAT INSULIN


ASPART DAN INSULIN GLARGINE PADA PASIEN
DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RSUP SANGLAH
DENPASAR

NI KADEK MARINA
121031

AKADEMI FARMASI SARASWATI


DENPASAR
2015
GAMBARAN PENGGUNAAN OBAT INSULIN
ASPART DAN INSULIN GLARGINE PADA PASIEN

DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RSUP SANGLAH


DENPASAR

Karya Tulis Ilmiah ini untuk Memenuhi Syarat Kelulusan


Pada Program Studi Diploma III Farmasi
Akademi Farmasi Saraswati Denpasar

NI KADEK MARINA
NIM: 121031

AKADEMI FARMASI SARASWATI


DENPASAR
2015
Lembar Pengesahan

KARYA TULIS ILMIAH INI TELAH DISETUJUI


PADA TANGGAL 24 Agustus 2015

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. I Gede Made Saskara Edi,M.Psi.,Apt.

Ni Nyoman Udayani,S.Farm.,M.Sc.Apt

Mengetahui

Direktur
Akademi Farmasi Saraswati
Denpasar

Ketua Program Studi


Diploma III Farmasi
Akademi Farmasi SaraswatiDenpasar

Drs. I Gede Made Saskara Edi,M.Psi.,Apt. Kadek Duwi Cahyadi, S.Farm., Msi., Apt.

PENETAPAN PANITIA PENGUJI

Karya Tulis Ilmiah ini Telah Diuji Pada


Tanggal 21 Agustus 2015

Panitia Penguji Karya Tulis Ilmiah Berdasarkan


SK Direktur Akademi Farmasi Saraswati
No: 521/AKFAR/E.10/VIII/2015
Tanggal 13 Agustus 2015

Ketua
Anggota

: Drs. I Gede Made Saskara Edi, M.Psi., Apt.


: Ni Nyoman Wahyu Udayani, S.Farm., M.Sc., Apt.
Kadek Duwi Cahyadi, S.Farm., Msi., Apt.

SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama

: Ni Kadek Marina

NIM

: 121031

Program Studi

:Diploma III

Tempat/Tanggal Lahir :Bedulu, 21 Maret 1994


Alamat

: Jl. Anyelir No 40 H, Denpasar

Telepon

: 085739432918

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa saya tidak menjiplak setengah atau


sepenuhnya karya tulis ilmiah orang lain.
Demikian pernyataan ini saya buat untuk dapat dipergunakan sebagaimana
mestinya, dan apabila di kemudian hari ternyata tidak benar, maka saya bersedia
dituntut sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

Denpasar, Agustus 2015


Yang Membuat Pernyataan,

(Ni Kadek Marina)

KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat
dan karunia-Nya, Karya tulis ilmiah dengan judul Gambaran Penggunaan Obat
Insulin Aspart Dan Insulin Glargine Pada Pasein Diabetes Melitus tipe 2 Di
RSUP Sanglah Denpasar telah dapat diselesaikan.
Karya tulis ilmiah ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar
Ahli Madya Farmasi di Akademi Farmasi Saraswati Denpasar. Penulis menyadari
bahwa karya tulis ilmiah ini bukanlah merupakan karya ilmiah yang sempurna
dan tidak luput dari kekurangan dan kelemahan. Untuk itu, kritik dan saran dari
para pembaca sangat diharapkan dan diterima dengan tangan terbuka sebagai
pengembangan dan penyempurnaan tulisan ini.
Selama proses penyusunan karya tulis ilmiah ini, penulis mendapat banyak
dukungan, bantuan, dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu peneliti
mengucapkan terima kasih kepada :
1.

Bapak Drs. I Gede Made Saskara Edi, M.Psi., Apt. selaku Direktur Akademi
Farmasi Saraswati Denpasar dan selaku Dosen Pembimbing I yang telah
memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis dalam menyelesaikan
Karya Tulis Ilmiah ini.

2. Bapak Kadek Duwi Cahyadi, S.Farm., Msi., Apt., selaku Ketua Program Studi
Diploma III Farmasi Akademi Farmasi Saraswati Denpasar.
3.

Ibu Ni Nyoman Wahyu Udayani, S.Farm., M.Sc., Apt.

selaku Dosen

Pembimbing II yang telah membantu memberikan arahan dan bimbingan


kepada penulis dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
4. Direktur Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar yang telah memberikan
izin melakukan penelitian.
5. Seluruh staf yang bertugas di Instalasi Rekam Medik Rumah Sakit Umum
pusat Sanglah Denpasar yang telah memberikan izin dan bantuan selama
melakukan penelitian.

6. Ayah, Ibu, Kakak, Adik dan seluruh keluarga besar saya yang selama ini
banyak membantu baik materi maupun moril
7. Semua teman-temen seperjuangan Akademi Farmasi Saraswati Denpasar atas
pertolongan dan perhatiannya selama ini, sehingga kita semua dapat
menyelesaikan karya tulis ilmiah tepat pada waktunya.
8. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah
membantu dalam menyelesaikan usulan penelitian ini dan dorongan kerjasama
serta bantuannya selama penyusunan karya tulis ilmiah ini semoga bantuan
dan bimbingan yang telah diberikan mendapat karunia dari Tuhan Yang Maha
Esa.
Karya tulis ilmiah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu dimohon
masukannya baik berupa saran serta kritik membangun tentunya sangat
diharapkan untuk penyempurnaan dan perbaikan di masa mendatang.

Denpasar,
Penulis

2015

ABSTRAK

Diabetes melitus merupakan suatu penyakit metabolik yang ditandai dengan


hiperglikemia atau peningkatan kadar gula darah yang kronis dan bervariasi. Hal
ini dapat disebabkan karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya.
Selain itu, etiologi dari DM sangat kompleks, baik gaya hidup yang tidak sehat,
lingkungan, genetik, dan lainnya. Kasus diabetes yang paling banyak dijumpai
adalah diabetes melitus tipe 2 yang umumnya mempunyai latar belakang kelainan
resistensi insulin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran
penggunaan obat insulin aspart dan insulin glargine pada pasien Diabetes Melitus
tipe 2 di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar.
Penelitian ini bersifat deskriptif menggunakan data sekunder dengan cara
melakukan pembacaan pada rekam medis pasien di RSUP Sanglah Denpasar.
Awalnya dicari jumlah kasus diabetes melitus tipe 2 dari tahun 2014 secara
komputerisasi di ruang rekam medis dan mencatat nomor rekam medis kemudian
nomor rekam medis tersebut dicari di buku rekam medis pasien. Selanjutnya
dilakukan pemilihan sampel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi.
Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan didapat bahwa Karakteristik
penderita diabetes melitus tipe 2 dengan terapi Insulin aspart dan insulin glargin di
Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar terbanyak pada usia 56-65 tahun 19
orang (47,5%), jenis kelamin terbesar adalah laki-laki sebanyak 28 orang
(70,00%), kejadian komplikasi terbesar adalah non komplikasi sebanyak 26 orang
(65,00%), sedangkan rata-rata persentase penurunan kadar gula darah sewaktu
sebanyak 47,88% dari total sampel penelitian sebanyak 40 orang. Penurunan
kadar gula darah paling tinggi pada pasien nomor 6 sebanyak 65,62% dan yang
paling rendah pada nomor 26 sebanyak 30,06%.
Kata kunci : Diabetes melitus tipe 2, penggunaan insulin aspart dan insulin
glargine.

ABSTRACT

Diabetes mellitus is a metabolic disease characterized by hiperglikemia or


elevated levels of blood sugar chronic and varied .This could be caused because of
an abnormality of the secretion of insulin , insulin work or both .Besides , the
etiology of dm very complex , good life style that is not healthy , environment ,
genetic , and other .Cases of diabetes most many units is diabetes mellitus type 2
which generally has background abnormality of insulin resistance .The purpose of
this research is to know the description medicinal use insulin aspart and insulin
glargine in patients diabetes mellitus type 2 in public hospital sanglah center
denpasar.
This research is descriptive of use of secondary data by way of doing the
reading on record in medical patients rsup sanglah denpasar .Originally sought the
number of cases of diabetes mellitus type 2 of the year 2014 in computerized in
the medical record and recorded record number of medical and medical record
number of the book sought in patients medical record .The sampling done in
accordance with the criteria for inclusion and exclusion
Of the results of research has been done obtained that acquired characteristics
diabetics mellitus type 2 with insulin aspart therapy and insulin glargin in a public
hospital sanglah central denpasar with the highest proportion at the age of 56-65
years 19 people ( 47.5 % ) , largest sex is a male as many as 28 people ( 70,00 % )
, the incident complication largest non complication as many as 26 people ( 65,00
% ) , the average frequency of decreases of blood sugar levels when as many as
47,88 % of research a total of some 40 people .A fall in blood sugar levels most
high on patient number 6 as many as 65,62 % and most low on no. 26 as many as
30,06 % .
Keywords: Diabetes mellitus type 2 , the use of insulin aspart and insulin
glargine .

DAFTAR ISI

11

HALAMAN JUDUL....................................................................................i
HALAMAN PERSYARATAN....................................................................ii
HALAMAN PENGESAHAN......................................................................iii
PENETAPAN PANITIA PENGUJI............................................................iv
SURAT PERNYATAAN..............................................................................v
KATA PENGANTAR ..................................................................................vi
ABSTRAK....................................................................................................viii
DAFTAR ISI ................................................................................................xi
DAFTAR TABEL.........................................................................................xii
DAFTAR LAMPIRAN................................................................................xiii
DAFTAR SINGKATAN DAN ISTILAH...................................................xiv
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................1
1.1 Latar Belakang..........................................................................1
1.2 Perumusan Masalah..................................................................2
1.3 Tujuan Penelitian......................................................................3
1.4 Manfaat Penelitian....................................................................3
1.4.1 Manfaat Praktis................................................................3
1.4.2 Manfaat Teoritis...............................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................4
2.1 Diabetes Melitus.......................................................................4
2.1.1 Definisi diabetes melitus..................................................4
2.1.2 Klasifikasi diabetes mellitus............................................4
2.1.3 Diabetes mellitus tipe 2....................................................5
2.1.4 Manifestasi klinis.............................................................5
2.1.5 Faktor risiko diabetes melitus..........................................6
2.1.6 Penyebab diabetes melitus...............................................8
2.1.7 Gejala diabetes mellitus...................................................9
2.2 Insulin......................................................................................9
2.2.1 Definisi insulin.................................................................9
2.2.2 Pemberian Insulin............................................................10
2.2.2.1 Insulin kerja cepat (rapid acting).........................10
2.2.2.2 Insulin kerja pendek (short acting)......................11
2.2.2.3 Insuli kerja menengah (intermediate acting).......11
2.2.2.4 Insulin kerja panjang (long acting)......................11
2.2.2.5 Insulin kerja campur............................................11
2.2.2.6 Insulin basal analog..............................................12
2.2.3 Dosis, cara pemberian dan lama pemberian....................12
2.2.4 Farmakologi insulin.........................................................13
2.2.5 Efek samping...................................................................13
2.2.6 Resistensi Insulin.............................................................14
BAB III METODE PENELITIAN............................................................16
3.1 Rancangan penelitian................................................................16
3.1.1 Jenis penelitian................................................................16

12

3.1.2 Populasi dan sampel........................................................16


3.1.2.1 Populasi................................................................16
3.1.2.2 Sampel..................................................................16
3.1.2.3 Teknik sampling...................................................17
3.2 Alur kerja penelitian..................................................................18
3.3 Definisi oprasional....................................................................19
3.4 Ruang lingkup penelitian..........................................................19
3.4.1 Ruang lingkup tempat......................................................19
3.4.2 Ruang lingkup waktu.......................................................19
3.4.3 Jadwal penelitian..............................................................19
3.5 Teknik pengumpulan data.........................................................20
3.6 Instrumen Penelitian.................................................................20
3.7 Pengolahan data dan analisis data.............................................20
3.7.1 Pengolahan data..............................................................20
3.7.2 Analisis data....................................................................20
BAB IV HASIL PENELITIAN..................................................................21
BAB V PEMBAHASAN............................................................................22
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN...........................................................25
6.1Simpulan....................................................................................25
6.2 Saran.........................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................26
LAMPIRAN-LAMPIRAN..........................................................................28
DAFTAR RIWAYAT HIDUP......................................................................37

DAFTAR TABEL

13

Tabel 2.1 Macam-macam Insulin dan cara kerja...........................................10


Tabel 3.1 Jadwal Kegiatan penelitian............................................................19
Tabel 4.1 Karakteristik jenis kelamin penderita DM tipe 2 dengan terapi
isulin aspart dan insulin glargine di RSUP Sanglah......................27
Tabel 4.2 Karakteristik usia penderita DM tipe 2 dengan terapi insulin aspart
dan insulin glargine di RSUP Sanglah .........................................21
Tabel 4.3 Karakteristik diagnosa penderita DM tipe 2 dengan
terapi insulin aspart dan insulin glargine di RSUP Sanglah.........21

DAFTAR LAMPIRAN

14

Lampiran 1. Karakteristik subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin.......28


Lampiran 2. Karakteristik subjek penelitian berdasarkan umur....................29
Lampiran 3. Karakteristik subjek penelitian berdasarkan kejadian
Komplikasi................................................................................30
Lampiran 4. Ethical clearance...31
Lampiran 5. Data rekam medik.....................................................................32

DAFTAR SINGKATAN DAN ISTILAH

15

Aterosklerosis

: Suatu proses penebalan dan pengerasan dinding pembuluh


darah arteri berukuran sedang dan besar yang berlangsung
secara progresif sebagai akibat dari timbunan lemak (plak)
pada lapisan dalam pembuluh darah, yang dapat
membatasi atau menghambat aliran darah.

DM

: Diabetes melitus

GDM

: Gestasional diabetes melitus

Glycosuria

: Istilah yang digunakan jika air seni mengandung kadar


gula yang tinggi

Hiperglikemia

: Keadaan dimana kadar gula darah dalam darah lebih


tinggi dari nilai normal

Hipoglikemia

: Keadaan yang terjadi ketika kadar gula di dalam darah


berada dibawah kadar normal

IDDM

: Insulin dependent diabetes melitus

Ketoasidosis

: Salah satu komplikasi akut diabetes mellitus yang terjadi


disebabkan karena kadar glukosa pada darah sangat tinggi.

NIDDM

: Non insulin dependent diabetes melitus

Obesitas

: Suatu kondisi kronis di mana terjadinya penumpukan


lemak di dalam tubuh sehingga melebihi batas yang baik
untuk kesehatan

Polidipsi

: Timbul rasa haus

Polifagi

: Rasa lapar yang semakin besar

Poliuria

: Pengeluaran urin

Resistensi insulin

: Kondisi dimana tubuh menjadi resistensi (menolak/tidak


merespon) terhadap insulin, khusunya pada fungsinya
untuk menjaga kadar gula di dalam tubuh tetap berada
pada kadar normal

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Diabetes melitus (DM) merupakan suatu penyakit metabolik yang ditandai
dengan hiperglikemia atau peningkatan kadar gula darah yang kronis dan
bervariasi. Hal ini dapat disebabkan karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin
atau keduanya. Selain itu, etiologi dari DM sangat kompleks, baik gaya hidup
yang tidak sehat, lingkungan, genetik, dan lainnya (Nazulis, 2011).
Berdasarkan data IDF (International Diabetes Federation) tahun 2005,
diketahui pada tahun 2003, Indonesia masih menduduki posisi ke 5 dengan jumlah
penduduk penderita DM terbesar di bawah Amerika. Namun terjadi peningkatan
pada tahun 2005 sehingga Indonesia bergeser ke posisi ke 3. Diperkirakan akan
terjadi lonjakan pada tahun 2010 sebesar 50 % dan dua kali lipat pada tahun 2025
(Nazulis, 2011).
Kasus diabetes yang paling banyak dijumpai adalah diabetes melitus tipe 2
yang umumnya mempunyai latar belakang kelainan resistensi insulin. Pada tahap
awal resistensi insulin masih belum menyebabkan diabetes secara klinis. Pada saat
tersebut sel beta pankreas masih dapat mengkompensasi keadaan ini, terjadi
hiperinsulinemia dan glukosa darah masih normal atau baru sedikit meningkat.
Kemudian setelah terjadi kegagalan sel beta pankreas, baru akan terjadi diabetes
melitus secara klinis, yang ditandai dengan terjadinya peningkatan kadar glukosa
darah. Dalam patogenesis DM tipe 2 terdapat beberapa keadaan yang berperan
yaitu resistensi insulin dan disfungsi sel -pankreas. Resistensi insulin adalah
keadaan dimana insulin tidak dapat bekerja optimal pada sel-sel targetnya seperti
sel otot, sel lemak dan sel hepar. Pada fase tertentu dari perjalanan penyakit DM
tipe 2, kadar glukosa darah mulai meningkat walaupun dikompensasi dengan
hiperinsulinemia, disamping itu juga terjadi peningkatan asam lemak bebas dalam
darah(Feliasari,2014).
Terapi insulin diupayakan mampu meniru pola sekresi insulin yang fisiologis.
Defisiensi insulin mungkin berupa defisiensi insulin basal, insulin prandial atau
keduanya. Defisiensi insulin basal menyebabkan timbulnya hiperglikemia setelah
makan. Tetapi insulin untuk substitusi ditujukan untuk melakukan koreksi

terhadap defisiensi yang terjadi. Terapi insulin dapat diberikan secara tunggal
(satu macam) berupa insulin kerja cepat (rapid insulin), kerja pendek (short
acting), kerja menengah (intermediate acting), kerja panjang (long acting), atau
insulin campuran tetap (premixed insulin). Pemberian dapat pula secara kombinasi
antara jenis insulin kerja cepat (rapid insulin) dengan insulin kerja pendek (short
acting), kerja menengah (intermediate acting), kerja panjang (long acting), atau
insulin campuran tetap (premixed insulin). Pemberian dapat pula secara kombinasi
antara jenis insulin kerja cepat atau insulin kerja pendek (Feliasari, 2014).
Pada survei awal yang telah di lakukan, Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP)
Sanglah Denpasar merupakan salah satu rumah sakit yang menggunakan terapi
kombinasi insulin dan dengan jumlah pasien diabetes melitus tipe 2 yang cukup
banyak. Karena RSUP Sanglah merupakan rumah sakit pemerintah terbesar di
Bali yang banyak menerima rujukan dari rumah sakit lainnya di Bali. Oleh karena
itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai gambaran penggunaan
obat insulin aspart dan insulin glargine pada pasien Diabetes Melitus tipe 2 di
RSUP Sanglah Denpasar.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, rumusan masalah pada
penelitian ini adalah Bagaimanakah gambaran penggunaan obat insulin aspart
dan insulin glargine pada pasien Diabetes Melitus tipe 2 di RSUP Sanglah
Denpasar?.
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran
penggunaan obat insulin aspart dan insulin glargine pada pasien Diabetes Melitus
tipe 2 di RSUP Sanglah Denpasar.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1Manfaat Praktis
Penulis sebagai Tenaga Teknis Kefarmasian dapat mengetahui gambaran
penggunaan obat insulin aspart dan insulin glargine pada pasien diabetes melitus
tipe 2 di RSUP Sanglah Denpasar.
1.4.2

Manfaat teoritis

Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai suatu bahan acuan pada
penelitian-penelitian selanjutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Diabetes Melitus
2.1.1 Definisi Diabetes Melitus
Diabetes melitus adalah suatu sindroma klinik yang ditandai oleh poliuri,
polidipsi, dan polifagi, disertai peningkatan kadar glulosa darah atau
hiperglikemia (glukosa puasa 126 mg/dL atau postprandial 200 mg/dL atau
glukosa sewaktu 200 mg/dL). Bila diabetes melitus tidak segera di atasi akan
terjadi gangguan metabolisme lemak dan protein, dan resiko timbulnya gangguan
mikrovaskular atau makrovaskular meningkat (Gunawan dkk, 2007).
2.1.2 Klasifikasi Diabetes Melitus
Ada beberapa klasifikasi dari diabetes melitus, yang paling utama adalah
Diabetes Melitus tipe 1 yaitu insulin dependent diabetes melitus (IDDM), diabetes

melitus tipe 2 yaitu non insulin dependent diabetes melitus (NIDDM), diabetes
yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya dan diabetes melitus
gestational (GDM) (Gunawan dkk, 2007).
A. Dibetes Melitus Tipe 1 (IDDM)
Adanya gangguan produksi insulin akibat penyakit autoimun atau
idiopatik. Tipe ini sering disebut insulin dependent diabetes melitus karena
pasien mutlak membutuhkan insulin.
B. Diabetes Melitus Tipe 2 (NIDDM)
Diabetes melitus tipe 2 akibat resistensi insulin atau gangguan sekresi insulin.
Pada tipe 2 ini tidak selalu dibutuhkan insulin, kadang-kadang cukup dengan
diet dan antidiabetik oral. Karenanya tipe ini juga disebut non insulin
dependent diabetes melitus
C. Diabetes Melitus Tipe Gestasional
Diabetes Melitus tipe ini terjadi selama masa kehamilan, dimana
intoleransi glukosa didapat pertama kali pada masa kehamilan, biasanya pada
trimester

kedua

dan

ketiga.

DM

gestasional

berhubungan

dengan

meningkatnya komplikasi perinatal. Penderita DM gestasional memiliki risiko


lebih besar untuk menderita DM yang menetap dalam jangka waktu 5-10
tahun setelah melahirkan.
D. Diabetes Tipe Lain
DM tipe ini terjadi karena etiologi lain, misalnya pada defek genetik
fungsi sel beta, defek genetic kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas,
penyakit metabolik endokrin lain, iatrogenik, infeksi virus, penyakit autoimun
dan kelainan genetik lain.
2.1.3 Diabetes melitus tipe 2
Diabetes melitus tipe 2 adalalah gangguan metabolisme yang secara genetik
dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi
karbohidrat, jika telah berkembang penuh secara klinis maka diabetes melitus
ditandai dengan hiperglikemia puasa dan postprandial, aterosklerosis dan penyakit
vaskular mikroangiopati (Fatimah, 2015).

2.1.4 Manifestasi klinis


Manifestasi klinis diabetes melitus dikaitkan dengan konsekuensi metabolik
defisiensi

insulin.

Pasien-pasien

dengan

defisiensi

insulin

tidak

dapat

mempertahankan kadar glukosa plasma puasa yang normal, atau toleransi glukosa
setelah karbohidrat. Jika hiperglikemianya berat dan melebihi ambang ginjal
untuk zat ini, akan mengakibatkan dieresis osmotic yang meningkatkan
pengeluaran urine (poliuria), dan timbul rasa haus (polidipsia). Karena glukosa
hilang bersama urine, maka pasien mengalami keseimbangan kalori negatife dan
berat badan berkurang. Rasa lapar yang semakin besar (polifagia) mungkin akan
timbul sebagai akibat kehilangan kalori (Price & Wilson, 2012).
Pasien dengan diabetes melitus mungkin sama sekali tidak memperlihatkan
gejala apapun dan diagnosa hanya dibuat berdasarkan pemeriksaan darah di
laboratorium dan melakukan tes toleransi glukosa. Pada hiperglikemia yang lebih
berat pasien tersebut mungkin menderita polidipsia, poliuria, dan lemah. Biasanya
mereka tidak mengalami ketoasidosis karena pasien ini tidak defisiensi insulin
secara absolut namun hanya relatif. Sejumlah insulin tetap disekresi dan masi
cukup untuk menghambat ketoasidosis. Hiperglikemia berat dan pasien tidak
berespons terhadap terapi diet atau terhadap obat-obat hipoglikemia oral, mungkin
diperlukan terapi insulin untuk menormalkan kadar glukosanya, pasien ini
biasanya memperlihatkan kehilangan sensitivitas perifer terhadap insulin. Kadar
insulin pada pasien sendiri mungkin berkurang, normal atau malahan tinggi, tetapi
tetap tidak memadai untuk mempertahankan kadar glukosa darah normal,
penderita juga resistensi terhadap insulin (Price & Wilson, 2012).
2.1.5 Faktor Risiko Diabetes Melitus
Seorang yang mengidap penyakit diabetes akan memiliki penderitaan yang
lebih berat jika semakin banyak faktor risiko yang menyertainya. Para ahli
mengklasfikasikan faktor risiko pemicu timbulnya diabetes melitus menjadi faktor
yang dapat dikontrol dan faktor yang tidak dapat dikontrol (Haltomi,2012).

1. Faktor yang tidak dapat dikontrol.


a. Keturunan atau genetik
Seseorang memiliki risiko berat untuk terserang diabetes melitus jika salah
satu orang tua atau kedua orang tuanya menderita penyakit tersebut. Diabetes tipe
2 lebih terkait dengan faktor riwayat keluarga bila dibandingkan tipe 1. Anak
dengan ayah penderita DM tipe 1 memiliki kemungkinan terkena diabetes 1:17.
Namun bila kedua orang tua menderita DM tipe 1 maka kemungkinan menderita
DM adalah 1:4-10. Pada DM tipe 2 seorang anak memiliki kemungkinan 1:7
untuk menderita. Pada DM tipe 2 seorang anak memiliki kemungkinan menderita
1:7 untuk menderita diabetes melitus bila salah satu orang tuanya menderita
diabetes melitus pada usia kurang dari lima puluh tahun (<50thn) dan 1:13 bila
salah satu orang tuanya menderita diabetes melitus pada usia lebih dari lima
puluh tahun (>50thn). Namun bila kedua orang tuanya menderita DM tipe 2 anak
kemungkinan menderita DM adalah 1:2.
b. Usia
Diabetes melitus dapat terjadi pada semua kelompok umur terutama di atas 40
tahun karena risiko terkena DM akan meningkat dengan bertambahnya usia. DM
tipe 1 biasanya terjadi pada usia muda yaitu pada usia < 40 tahun, sedangkan DM
tipe 2 biasa terjadi pada usia 40 tahun.
Karakteristik umur menurut DepKes RI (2009)
Masa balita

= 0-5 tahun

Masa kanak-kanak

= 6-11 tahun

Masa remaja awal

= 12-16 tahun

Masa remaja akhir

= 17-25 tahun

Masa dewasa awal

= 26-35 tahun

Masa dewasa akhir

= 36-45 tahun

Masa lansia awal

= 46-55 tahun

Masa lansia akhir

= 56-65 tahun

Masa manula

= 65 - sampai atas

c. Ras atau Etnis

Beberapa ras tertentu, seperti suku Indian di Amerika, hispanik, non-hispanik


kulit hitam dan orang Amerika Latin, mempunyai risiko lebih besar terkena
diabetes melitus tipe 2. Suku-suku ini mempunyai risiko terkena diabetes melitus
2-4 kali lebih tinggi dari pada non-hispanik kulit putih. Kebanyakan dari ras-ras
tersebut dulunya adalah pemburu dan petani. Saat ini jumlah makanan banyak dan
gerak badan semakin berkurang yang menyebabkan banyak penduduk mengalami
obesitas sampai diabetes melitus dan tekanan darah tinggi.
2. Faktor yang dapat dikontrol
a. Obesitas
Kegemukan adalah faktor resiko yang paling penting untuk diperhatikan,
sebab meningkatnyanya angka kejadian DM tipe 2 berkaitan dengan obesitas.
Delapan dari sepuluh penderita DM tipe 2 adalah orang-orang yang memiliki
kelebihan berat badan. Konsumsi kalori lebih dari yang dibutuhkan tubuh
menyebabkan kalori ekstra akan disimpan dalam bentuk lemak. Lemak ini akan
memblokir kerja insulin sehingga glukosa tidak dapat diangkut ke dalam sel dan
menumpuk dalam peredaran darah. Karena sel-sel lemak seperti ini akan
menghasilkan beberapa zat yang digolongkan sebagai adipositokin yang
jumlahnya lebih banyaknya daripada tidak obesitas. Akibat za-zat ini
menyebabkan resistensi terhadap insulin. Beberapa adipositokin yang jahat,
terdapat pula yang bersifat baik, yaitu adiponektin. Seseorang dengan BMI (Body
Mass Index) 30 kg/m2 akan 30 kali lebih mudah terkena diabetes dari pada
seseorang dengan BMI normal (22 kg/m2). Bila BMI 35 kg/m2 , kemungkinan
mengidap diabetes menjadi 90 kali lipat.
b. Kurang gerak badan atau olahraga
Olah raga atau aktifitas fisik membantu kita untuk mengontrol berat badan.
Glukosa darah dibakar menjadi energi dan sel-sel tubuh menjadi lebih sensitive
terhadap insulin. Peredaran darah lebih baik dan risiko terjadinya DM tipe 2 akan
turun sampai 50%. Biasanya 70-90 % glukosa darah diserap otot.
c. Pola makan

Asupan makanan berenergi tinggi dan rendah serat terutama melalui makanan
yang berenergi tinggi atau kaya karbohidrat dan serat yang rendah dapat
mengganggu stimulasi sel-sel beta pankreas memproduksi insulin.
d. Infeksi
Virus yang dapat memicu DM adalah rubela, mumps, dan human coxsackie
virus. Melalui mekanisme infeksi sitolitik dalam sel beta, virus ini menyebabkan
destruksi atau perusakan sel. Bisa juga virus ini menyerang melalui reaksi
autoimunitas yang menyebabkan hilangnya autoimun dalam sel beta. Diabetes
melitus akibat bakteri masih belum bisa dideteksi. Namun, para ahli kesehatan
menduga bakteri cukup berperan menyebabkan diabetes melitus.
2.1.6 Penyebab Diabetes Melitus
Kekurangan hormon insulin yang berfungsi memungkinkan glukosa masuk
ke dalam sel untuk dimetabolisir (dibakar) dan demikian dimanfaatkan sebagai
sumber energi. Akibatnya glukosa bertumpuk di dalam darah (hiperglikemia) dan
akhirnya diekskresikan lewat kemih tanpa digunakan (glycosuria). Karena itu,
produksi kemih sangat meningkat dan penderita sering merasa sangat haus dan
merasa lelah. Penyebab lainnya adalah menurunya kepekaan reseptor sel bagi
insulin (resistensi insulin) yang diakibatkan oleh makan terlalu banyak dan
kegemukan (Tjay & Rahrdja, 2007).
2.1.7 Gejala Diabetes Melitus
Penyakit Diabetes Melitus ditandai gejala 3P, yaitu poliuria (banyak
berkemih), polidipsia (banyak minum), polifagia (banyak makan). Di samping
naiknya kadar gula darah, diabetes bercirikan adanya gula dalam kemih
(glycosuria) dan banyak berkemih karena glukosa yang diekskresikan mengikat
banyak air. Akibatnya timbul rasa sangat haus, kehilangan energi, turunnya berat
badan serta rasa letih (Tjay & Rahrdja, 2007).
2.2 Insulin
2.2.1 Definisi Insulin

10

Insulin adalah hormon alami yang dikeluarkan oleh pankreas. Insulin


dibutuhkan oleh sel tubuh untuk mengubah dan menggunakan glukosa darah (gula
darah), dari glukosa, sel membuat energi yang dibutuhkan untuk menjalankan
fungsinya. Pasien diabetes melitus (kencing manis) tidak memiliki kemampuan
untuk mengambil dan menggunakan gula darah, sehingga kadar gula darah
meningkat. Pada diabetes melitus tipe I, pankreas tidak dapat memporduksi
insulin. Sehingga pemberian insulin diperlukan. Pada diabetes tipe 2, pasien
memproduksi insulin, tetapi sel tubuh tidak merespon insulin dengan normal.
Namun demikian, insulin juga digunakan pada diabetes tipe 2 untuk mengatasi
resistensi sel terhadap insulin. Dengan peningkatan pengambilan glukosa oleh sel
dan menurunnya kadar gula darah, akan mencegah dan mengurangi komplikasi
lebih lanjut dari diabetes, seperti kerusakan pembuluh darah (Rismayanthi, 2011)

2.2.2 Pemberian Insulin


Tabel 2.1 Macam-macam insulin dan cara kerja
Jenis Insulin
Kerja cepat (rapid acting)
(aspart, glulisine, dan
lispro)
Kerja pendek
(regular/soluble)
Kerja menengah
Semilente
NPH
IZS lente type
Insulin basal
Glargine
Detemir
Kerja panjang
Ultralente type
Insulin campuran
Cepat-menengah

Awitan
(Jam)
0,150,35

Puncak Kerja
(Jam)
1-3

Lama Kerja
(Jam)
3-5

0,5-1

2-4

5-8

1-2
2-4
3-4

4-10
4-12
6-15

8-16
12-24
18-24

2-4
1-2

Tidak ada
6-12

24
20-24

4-8

12-24

20-30

0,5

1-12

16-24

11

Pendek-menengah

0,5
1-12
16-24
(Sumber: UKK Endokrinologi Anak dan Remaja, 2009)

2.2.2.1 Insulin kerja cepat (rapid acting)


Insulin mempunyai kecenderungan membentuk agregat dalam bentuk dimer
dan heksamer yang akan memperlambat absorbsi dan lama awitan kerjanya.
Insulin lispro, aspart, dan glulisine tidak membentuk agregat dimer maupun
heksamer, sehingga dapat digunakan sebagai insulin kerja cepat. Ketiganya
merupakan analog insulin kerja pendek (insulin regular) yang dibuat secara
biosintetik. Pada insulin lispro, urutan asam amino 28 (prolin) dan 29 (lisin) dari
rantai B insulin dilakukan penukaran menjadi 28 untuk lisin dan 29 untuk prolin.
Sedangkan pada insulin aspart, asam amino prolin diposisi ke-28 rantai B insulin
diganti dengan asam aspartat. Insulin glulisine merupakan insulin kerja cepat
terbaru dengan modifikasi urutan asam amino ke-3 (lisin) dan ke-29 (glutamat)
dari rantai B insulin secara simultan (UKK Endokrinologi Anak dan Remaja,
2009).

2.2.2.2 Insulin kerja pendek (short acting)


Insulin jenis ini tersedia dalam bentuk larutan jernih, dikenal sebagai insulin
regular. Biasanya digunakan untuk mengatasi keadaan akut seperti ketoasidosis,
penderita baru, dan tindakan bedah. Kadang-kadang juga digunakan sebagai
pengobatan bolus (15-20 menit) sebelum makan, atau kombinasi dengan insulin
kerja menengah pada regimen 2 kali sehari (UKK Endokrinologi Anak dan
Remaja, 2009).
2.2.2.3 Insulin kerja menengah (intermediate acting)
Insulin jenis ini tersedia dalam bentuk suspensi sehingga terlihat keruh.
Mengingat lama kerjanya maka lebih sesuai bila digunakan dalam regimen dua
kali sehari dan sebelum tidur pada regimen basal-bolus. Sebelum digunakan,
insulin ini harus dibuat merata konsentrasinya dengan cara menggulung-gulung di
kedua telapak tangan.
Dua sediaan insulin kerja menengah yang saat ini tersedia adalah:

12

a. Isophane atau insulin NPH (Neutral Protamine Hagedorn).


b. Insulin Crystalline zinc-acetate (insulin lente).
Insulin isophane paling sering digunakan pada anak, terutama karena
memungkinkan untuk digabung dengan insulin regular dalam satu syringe tanpa
adanya interaksi (insulin reguler bila dicampur dengan insulin lente dalam satu
syringe, akan terjadi reaksi sehingga mengurangi efek kerja insulin jangka pendek
(UKK Endokrinologi Anak dan Remaja, 2009).
2.2.2.4 Insulin kerja panjang (long acting)
Insulin kerja panjang tradisional (ultralente) mempunyai masa kerja lebih dari
24 jam, sehingga dapat digunakan dalam regimen basal-bolus (UKK
Endokrinologi Anak dan Remaja, 2009).
2.2.2.5 Insulin kerja campuran
Saat ini di Indonesia terdapat beberapa sediaan insulin campuran yang
mempunyai pola kerja bifasik; terdiri dari kombinasi insulin kerja cepat dan
menengah, atau kerja pendek dan menengah yang sudah dikemas pabrik. Sediaan
yang ada adalah kombinasi 30/70 artinya terdiri dari 30% insulin kerja cepat atau
pendek, dan 70% insulin kerja menengah. Insulin campuran memberikan
kemudahan bagi penderita. Pemakaian sediaan ini dianjurkan bagi penderita yang
mempunyai kontrol metabolik yang baik (UKK Endokrinologi Anak dan Remaja,
2009).
2.2.2.6 Insulin Basal Analog
Insulin basal analog merupakan insulin jenis baru yang mempunyai kerja
panjang sampai dengan 24 jam. Di Indonesia saat ini sudah tersedia insulin
glargine dan detemir; keduanya mempunyai profil kerja yang lebih terduga
dengan variasi harian yang lebih stabil dibandingkan insulin NPH. Mengingat
sifat kerjanya yang tidak mempunyai kadar puncak dengan lama kerja hingga 24
jam, maka glargine dan detemir direkomendasikan sebagai insulin basal. Insulin
glargine dan detemir juga mengurangi risiko terjadinya hipoglikemia noktural
berat (UKK Endokrinologi Anak dan Remaja, 2009).
2.2.3 Dosis, Cara pemberian dan Lama Pemberian

13

Respon individual terhadap terapi insulin cukup beragam, oleh sebab itu jenis
sediaan insulin mana yang diberikan kepada seorang pasien. Berapa dosis dan
frekuensi penyuntikannya ditentukan secara individual, bahkan seringkali
memerlukan penyesuaian dosis terlebih dahulu. Umumnya pada tahap awal
diberikan sediaan insulin dengan kerja sedang, kemudian ditambahkan insulin
dengan kerja singkat untuk mengatasi hiperglikemia setelah makan insulin kerja
singkat diberikan sebelum makan, sedangkan insulin kerja sedang umumnya
diberikan satu atau dua kali sehari dalam bentuk suntikan subkutan. Semua botol
yang memuat sediaan insulin eksogen ditandai dengan huruf yang menyatakan
tipe insulin di dalamnya contoh: regular = R dan Ultralente = U, karena tidak
mudah bagi pasien untuk mencampurnya sendiri, maka tersedia sediaan campuran
tetap dari kedua jenis insulin regular (R) dan insulin kerja sedang (NPH), kecuali
dinyatakan lain penyuntikan dilakukan subkutan (di bawah kulit). Bersihkan kulit
pada area yang akan disuntik dengan kapas beralkohol. Cubit atau jepit kulit
dengan jari-jari dengan jarak sekitar 7-9 inchi, masukkan jarum suntuk perlahanlahan di bawah kulit dengan sudut 45-90 derajat. Injeksikan insulin (misalnya
tetap di paha atau di lengan) tetapi di tempat yang berbeda, paling tidak 1 inchi
jaraknya dari tempat suntikan sebelumnya. Jangan menyuntik di tempat yang
sama lebih dari satu kali sebulan atau satu kali dua bulan sampai habis, tarik jarum
suntik, tekan kulit perlahan (jangan digosok). Jika akan menyuntik lagi, suntik
pada area yang sama. Jenis jarum suntik yang digunakan harus disesuaikan
dengan tipe insulin yang dipakai berdasarkan kekuatannya. Ada dua macam
sediaan insulin yang tersedia yaitu U-100 dan U-500 untuk insulin U-100 harus
digunakan jarum suntik U-100, demikian pula untuk U-500. Jarum suntik yang
digunakan umumnya sekali pakai (disposable). Jangan menggunakan jarum suntik
bekas, disamping lokasi suntikan lebih sakit juga meningkatkan risiko infeksi.
Untuk mengurangi terjadinya iritasi lokal pada daerah penyuntikan yang sering
terjadi bila insulin dingin disuntikkan, dianjurkan untuk mengguling-gulingkan
alat suntik dan botol insulin di antara telapak tangan atau menempatkan botol
insulin pada suhu kamar, sebelum digunakan. Botol insulin sebaiknya dikocok

14

perlahan ke atas dan ke bawah sebelum digunakan (Pelayanan Informasi Obat,


2007).
2.2.4 Farmakologi Insulin
Absorpsi insulin dipengaruhi oleh beberapa hal absorpsi paling cepat terjadi
pada daerah abdomen, diikuti oleh daerah lengan, paha bagian atas, dan bokong.
Bila disuntikkan secara intramuscular dalam maka absorpsi akan terjadi lebih
cepat dan masa kerja lebih singkat. Kegiatan jasmani yang dilakukan segera
setelah penyuntikan akan mempercepat onset kerja dan juga mempersingkat masa
kerja. Waktu paruh insulin pada orang normal sekitar 5-6 menit, tetapi memanjang
pada penderita diabetes yang membentuk antibodi terhadap insulin. Insulin
dimetabolisme terutama di hati, ginjal dan otot. Gangguan fungsi ginjal yang berat
akan mempengaruhi kadar insulin di dalam darah (Pelayanan Informasi Obat,
2007).
2.2.5 Efek Samping
Efek samping terpenting yang dapat terjadi berupa hipoglikemia, reaksi
alergi, resistensi, lipodistrofi dan gangguan penglihatan (Tjay & Rahrdja, 2007).
a. Hipoglikemia biasanya terjadi karena over dose atau tidak/ terlalu lambat
makan sesudah injeksi.
b. Reaksi alergi di kulit pada tempat injeksi adakalanya terjadi dan
kebanyakan ditimbulkan oleh zat-zat tambahan. Alergi untuk insulin
jarang terjadi dan umumnya bersifat lokal (eksantema, gatal dan
pengerasan di tempat injeksi, antara lain karena iritasi kulit, teknik injeksi
kurang tepat, atau infeksi kuman).
c. Resistensi insulin terdapat bila kebutuhan insulin melebihi 200UI/hari.
Keadaan ini dapat disebabkan oleh pembentukan antibodies yang
mengikat sebagian insulin. Resistensi terutama dapat timbul pada pasien
dengan overweight, mungkin akibat berkurangnya reseptor insulin atau
penurunan kepekaannya.

15

d. Lipodistrofi terganggunya pertumbuhan lemak subkutan di tempat injeksi,


jarang terjadi dan bersifat ringan.
e. Gangguan penglihatan dapat terjadi akibat terlalu cepatnya penurunan gula
darah, yang dapat menimbulkan terganggunya keseimbangan osmotis
antara lensa dan cairan mata.
2.2.6 Resistensi Insulin
Ini adalah peristiwa pada mana sel-sel menjadi kurang peka bagi insulin
dengan efek berkurangnya penyebaran glukosa dari darah. Lagi pula sel-beta di
pankreas distimulir agar produksinya ditingkatkan. Akhirnya sel-beta tidak
mampu mempertahankan peningkatan insulin ini dan terlalu sedikit glukosa
memasuki sel. Akibatnya kadar glukosa darah naik dan lambat laun terjadilah
diabetes melitus. Penyebab lain adalah berkurangnya jumlah reseptor yang harus
mengikat insulin atau tidak bekerja semestinya. Di dalam sel glukosa dibakar
untuk menghasilkan kalori dan kelebihannya terutama ditimbun sebagai glikogen
dalam sel otot atau sebagai lemak dalam sel-lemak, yang karenanya sangat
membesar. Bila pemasukan glukosa berlangsung terus-menerus akibat makan
terlalu banyak, maka tumbuhnya sel-sel lemak akhirnya mengakibatkan
overweight dan obesitas. Efek lainnya adalah reseptor insulin berkurang
jumlahnya atau menurun fungsinya dan peningkatan insulin di persulit (Tjay &
Rahrdja, 2007). Resistensi insulin bisa terjadi akibat beberapa sebab, antara lain :
1. Obesitas, orang gemuk membutuhkan lebih banyak insulin dari pada orang
normal
2. Gangguan jantung (infark, dekompensasi)
3. Obat-obatan, misalnya kortikosteroid, diuretika tiazida (di atas 25 mg/hari)
dan Betablockers
4. Kekurangan krom, yang perlu bagi kerja baik insulin dan metabolisme
glukosa normal.

16

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian
3.1.1 Jenis penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan menggunakan
rancangan deskriptif. Penelitian ini menggunakan data rekam medis bersifat
retrospektif yang diambil pada unit catatan rekam medis di RSUP Sanglah
Denpasar.
3.1.2 Populasi dan sampel
3.1.2.1 Populasi
Populasi merupakan keseluruhan sumber data yang diperlukan dalam suatu
penelitian. Sebagai populasi penelitian adalah semua pasien rawat inap di RSUP
Sanglah yang menderita diabetes melitus tipe 2 tahun 2014.
3.1.2.2 Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi yang mewakili suatu populasi. Sampel
penelitian adalah pasien data rekam medik di RSUP Sanglah yang menderita
diabetes melitus tipe 2 yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi
kriteria eksklusi tahun 2014.
1. Kriteria Inklusi

17

a. Pasien dengan diagnosa diabetes melitus tipe 2 yang mendapatkan terapi


pengobatan diabetes melitus tipe 2.
b. Pasien diabetes melitus tipe 2 yang berumur 35 tahun
2. Kriteria Eksklusi
a. Data pasien yang kurang lengkap
b. Pasien yang meninggal selama masa pengobatan

3.4.2.3 Teknik sampling


Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampling
Pasien diabetes melitus tipe 2
non probabilitas, yaitu teknik pengambilan sampel yang ditemukan atau
ditentukan sendiri oleh peneliti atau menurut pertimbangan pakar. Dengan cara

penarikan sampel dilakukan dengan memilih subjek berdasarkan kriteria spesifik


nosa diabetes melitus tipe 2 yang Pasien
mendapatkan
yang tidak
terapi
menerima
pengobatan
pengobatan
diabetesdiabetes
melitus melitus
tipe 2. tipe 2
yang ditetapkan peneliti.
itus tipe 2 yang berumur 35 tahun.
Data pasien yang kurang lengkap
Pasien yang meninggal selama masa pengobatan

Sampel

Pengambilan data

Pengolahan data

Hasil penelitian berdasarkan:


Karakteristik subyek penelitian
Karakteristik subyek penelitian
Karakteristik
subyek
penelitian
3.2 Alur
Kerja Penelitian
Karakteristik subyek penelitian

berdasarkan
berdasarkan
berdasarkan
berdasarkan

Kesimpulan dan Saran

jenis kelamin penderita DM tipe 2


jenis usia penderita DM tipe 2
penggunaan obat penderita DM tipe 2
hasil diagnosa penderita DM tipe 2

18

Inklusi

Eksklusi

Gambar 3.2 Alur Kerja Penelitian

3.3 Definisi Operasional (DO)


Definisi operasional dalam penelitian ini meliputi:
1. Diabetes Melitus tipe 2 merupakan penyakit gangguan metabolik yang di
tandai dengan kenaikan gula darah.
2. Pasien merupakan seseorang dengan diagnosa Diabetes Melitus tipe 2
yang dirawat inap atau menerima perawatan medis di RSUP Sanglah
Denpasar.

19

3. Rekam medik adalah catatan atau berkas yang berisikan sebuah rekaman
mengenai hasil pengobatan pasien. Catatan tersebut berupa identitas pasien
seperti nama, umur, jenis kelamin, keluhan, data laboratorium, obat, dosis.
4. Gula darah sewaktu (GDS) adalah hasil pengukuran kadar glukosa darah
sewaktu-waktu atau kapan saja tanpa melakukan persiapan puasa.
5. Insulin adalah obat yang paling efektif untuk menerapi pasien diabetes
melitus tipe 2.
3.4 Ruang Lingkup Penelitian
3.4.1 Ruang lingkup tempat
Penelitian ini dilakukan di ruang rekam medis RSUP Sanglah Denpasar
dengan surat ijin dan pengambilan data terlampir (rekam medis).
3.4.2

Ruang lingkup waktu

Waktu penelitian dilakukan pada bulan April 2015 dengan mengambil data
rekam medis pasien diabetes melitus tipe 2 pada tahun 2014
3.4.3

Jadwal penelitian
Tabel 3.1 Jadwal Kegiatan Penelitian

No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
3.5

Kegiatan

2015
Bulan ke
2 3 4

Perijinan
Penyusunan proposal
Pelaksanaan penelitian
Mengolah dan menganalisis data
Menyusun laporan
Sidang KTI
Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan menggunakan data

sekunder dengan cara melakukan pembacaan pada rekam medis pasien di RSUP
Sanglah Denpasar. Awalnya dicari jumlah kasus diabetes melitus tipe 2 pada tahun
2014 secara komputerisasi di ruang rekam medis dan mencatat nomor rekam
medis kemudian nomor rekam medis tersebut dicari di buku rekam medis pasien.
Selanjutnya dilakukan pemilihan sampel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan
eksklusi. Data yang didapatkan kemudian dimasukkan ke dalam tabel yang

20

meliputi nama, umur, jenis kelamin, keluhan, diagnosa, data laboratorium, obat,
dan dosis.
3.6
Instrumen penelitian
Alat yang digunakan dalam pengumpulan data yakni buku catatan rekam
medis, dan buku pengambilan data pasien di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP)
Sanglah Denpasar tahun 2014.
3.7
Pengolahan dan analisis data
3.7.1 Pengolahan data
Pada tahap awal dicari secara komputerisasi di ruang rekam medis, dilihat
dan dicatat nomor rekam medis dari keseluruhan penderita diabetes melitus tipe 2
rawat inap. Kemudian buku rekam medis pasien, dicari berdasarkan nomor rekam
medis tersebut. Selanjutnya dilakukan pemilihan sampel yang sesuai dengan
kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang didapatkan kemudian dimasukkan ke
dalam tabel yang meliputi nama, umur, jenis kelamin, diagnose, keluhan, data
laboratorium, obat, dan dosis.
3.7.2 Analisis data
Untuk mengetahui penggunaan obat insulin aspart dan insulin glargine
pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Instalasi Rawat Inap RSUP Sanglah
Denpasar pada tahun 2014, maka langkah-langkah yang harus dilakukan adalah
1. Mengelompokkan jumlah pasien berdasarkan umur
2. Membuat hasil penelitian
3. Membuat tabel dari data yang diperoleh.

BAB IV
HASIL PENELITIAN
Dari data yang diperoleh melalui rekam medis di rumah sakit umum pusat
sanglah denpasar periode tahun 2014, pasien yang dirawat inap dengan diagnosa
diabetes melitus tipe 2 ditemukan sebanyak 40 orang diambil sebagai sampel
penelitian.
Tabel 4.1. Karakteristik jenis kelamin penderita DM tipe 2 dengan terapi isulin
aspart dan insulin glargine di RSUP Sanglah Denpasar.
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan

Jumlah
28
12

Persentase (%)
70,00
30,00

22

Total

40

100,00

Tabel 4.2. Karakteristik usia penderita DM tipe 2 dengan terapi insulin aspart dan
insulin glargine di RSUP Sanglah Denpasar.
Usia
35-45 tahun
46-55 tahun
56-65 tahun
65 tahun
Total

Jumlah
5
11
19
5
40

Persentase (%)
12,50
27,50
47,50
12,50
100,00

Tabel 4.3. Karakteristik diagnosa penderita DM tipe 2 dengan terapi insulin aspart
dan insulin glargine di RSUP Sanglah Denpasar.
Diagnosa
DM tipe 2 komplikasi
DM tipe 2 non komplikasi
Total

Jumlah
14
26
40

Persentase (%)
35,00
65,00
100,00

BAB V
PEMBAHASAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan obat insulin
aspart dan insulin glargine pada pasien diabetes melitus tipe 2 di RSUP Sanglah
Denpasar. Hal ini disebabkan karena kombinasi insulin aspart dengan glargine
merupakan terapi terbanyak yang digunakan pada pasien diabetes melitus tipe 2 di
RSUP Sanglah Denpasar. Dari data yang diperoleh diketahui bahwa pasien yang
memenuhi criteria inklusi sebanyak 40 pasien.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa diabetes melitus tipe 2 lebih banyak
diderita oleh laki-laki sebanyak 28 orang (70,00%) dari total sampel penelitian 40
pasien. Hal ini sejalan dengan penelitian dari Khohtimah tahun 2013 bahwa
menurut jenis kelamin lebih banyak pada laki-laki yaitu sejumlah 22 (62,9%) dari

23

pada perempuan yaitu sejumlah 13 (37,1%). Jenis kelamin laki-laki memiliki


risiko DM meningkat lebih cepat. Pada penelitian ini yang menderia DM lebih
banyak laki-laki dari pada prempuan. Hal ini dapat terjadi karena kebiasaan lakilaki yang suka mengkonsumsi makanan-makanan yang mengandung gula, dan
jajan-jajanan siap saji, sehingga dapat menyebabkan peningkatan kadar gula
darah,selain itu juga akibat pola makan yang tidak baik dan dapat menyebabkan
obesitas. Presentase timbunan lemak disekitar perut pada laki-laki yang dapat
menurunkan sensitifitas kerja insulin pada otot dan hati. Sehingga dapat
menimbulkan peningkatan kadar glukosa dalam tubuh.
Hasil penelitian dalam karakteristik usia pada penderita diabetes melitus tipe
2 menunjukan bahwa pada usia 56-65 tahun sebanyak 19 pasien (47,50%),
sedangkan pada usia 46-55 tahun sebanyak 11 pasien (27,50%). Hal ini sejalan
dengan penelitian dari Feliasari tahun 2014 bahwa penderita diabetes melitus tipe
2 terbanyak berusia diantara 45-64 tahun sejumlah 66 orang (79,5%), dari jumlah
subjek penelitian sebanyak 83 pasien. Usia diatas 45 tahun merupakan salah satu
faktor risiko terjadinya diabetes melitus tipe 2. Ini menunjukkan bahwa pada
kisaran usia tersebut metabolisme tubuh mulai menurun dan banyaknya
masyarakat yang tidak memperhatikan pola makan serta kurangnya melakukan
aktivitas fisik seperti olahraga. Sehingga banyak terjadi pada masa lansia awal dan
lansia akhir.
Hasil penelitian dalam karakteristik diagnosa penderita diabetes melitus tipe 2
menunjukkan bahwa kelompok diabetes melitus tipe 2 non komplikasi lebih
banyak dibandingkan kelompok diabetes melitus tipe 2 dengan komplikasi. Dari
hasil penelitian yang terdapat pada tabel 4.3 menunjukan bahwa penderita
diabetes melitus tipe 2 terbanyak pada non komplikasi sebanyak 26 orang (65%).
Hal ini sejalan dengan penelitian Wulandari dan Martini bahwa kejadian
komplikasi penderita diabetes melitus tipe 2 menunjukan bahwa kelompok non
komplikasi sebanyak 51 orang (73,9%) dari total sampel penelitian 69 pasien. Hal
ini menggambarkan bahwa keadaan penderita diabetes melitus tipe 2 di Rumah
Sakit Umum Pusat Denpasar masih cukup terkontrol karena cenderung sedikitnya

24

keluhan penderita diabetes melitus tipe 2 terhadap komplikasi. Namun, yang perlu
diperhatikan adalah upaya penanganan yang dilakukan untuk penderita diabetes
melitus tipe 2 pada umumnya dan khususnya pada penderita diabetes melitus tipe
2 non komplikasi agar dapat menghambat terjadinya komplikasi di waktu yang
akan mendatang.
Berdasarkan hasil penelitian, penyakit komplikasi berupa hipertensi paling
banyak ditemukan pada pasien DM tipe 2 sebesar 35,00%. Hasil penelitian ini
sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ayuningtyas pada tahun 2010
dimana penyakit hipertensi merupakan penyakit komplikasi terbanyak pada pasien
DM tipe 2 yaitu sebesar 92,3%. Penyakit DM dengan kadar gula yang tinggi dapat
merusak organ dan jaringan pembuluh darah serta dapat terbentuknya
aterosklerosis, hal tersebut menyebabkan arteri menyempit dan sulit mengembang
sehingga dapat memicu terjadinya hipertensi (Hongdiyanto. A, dkk., 2014).
Berdasarkan hasil laboratorium, untuk penurunan kadar gula darah terbesar
yakni, pada nomor 6 sebesar 65,62% dimana kadar gula darah sewaktu awal 480
dan gula darah sewaktu akhir 165. Sedangkan penurunan kadar gula darah
sewaktu terendah pada nomor 26 sebesar 30,06% dimana kadar gula darah
sewaktu awal 652 dan gula darah sewaktu akhir 456. Ini menunjukan bahwa
terapi kombinasi insulin aspart dan insulin glargine yang diberikan kepada pasien
nomor 6 mampu menurunkan kadar gula darah sewaktu pasien yang dirawat di
Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah selama 7 hari. Terapi insulin yang diberikan
secara kombinasi disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan respon individu
tersebut terhadap insulin. Insulin merupakan terapi yang paling efektif dalam
pengelolaan DM tipe 2. Insulin aspart merupakan analog dari insulin yang bekerja
cepat (rapid acting) yang memungkinkan penggantian insulin pada waktu makan
secara lebih fisiologis karena awitan kerjanya yang cepat dan puncak kerjanya
yang segera tercapai (Nolte, 2010).

Sedangkan pada pasien nomor 26 yang

dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah selama 7 hari mengalami


penurunan kadar gula darah sewaktu paling rendah dianatara 40 pasien lainnya.

25

Pada pasien nomor 26 pemeriksaan gula darah sewaktu awal terlalu tinggi
652 dibandingkan dengan pasien nomor 6 pemeriksaan gula darah sewaktu awal
480. Ini yang menyebabkan terjadinya perbedaan persentase penurunan kadar gula
darah antara pasien nomor 6 dan pasien nomor 26. Kemungkinan pada pasien
nomor 26 kurangnya pengontrolan dalam pola makan dan pola hidup sehingga
menyebabkan gula darah sewaktu awalnya menjadi besar. Sehingga pasien nomor
26 hanya mendapatkan persentase penurunan kadar gula darah sewaktu sebesar
30,06% dari pasien nomor 6 yang mendapatkan persentase penurunan kadar gula
darah sewaktu sebesar 65,62%.
Dari semua hasil capaian penurunan kadar gula darah sewaktu diabetes
melitus tipe 2 secara umum berada dalam kriteria baik. Adapun tujuan dari
capaian target pengobatan diabetes melitus antara lain tujuan jangka pendek
menghilangkan keluhan dan tanda diabetes melitus , mempertahankan rasa
nyaman, dan mencapai target pengendalian glukosa darah. Tujuan jangka panjang
untuk

mencegah

dan

mengambat

progesivitas

penyulit

mikroangiopati,

makroangiopati, dan neuropati. Tujuan akhir pengelolaan adalah turunnya


morbiditas dan mortalitas diabetes melitus.

BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN
6.1 Simpulan
Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan dapat di simpulkan bahwa
karakteristik penderita diabetes melitus tipe 2 dengan terapi insulin aspart dan
insulin glargin di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar terbanyak pada
usia 56-65 tahun 19 orang (47,5%), jenis kelamin terbesar adalah laki-laki
sebanyak 28 orang (70,00%), hasil diagnosa terbesar adalah non komplikasi
sebanyak 26 orang (65,00%), penurunan kadar gula darah paling tinggi pada

26

pasien nomor 6 sebanyak 65,62% dan yang paling rendah pada nomor 26
sebanyak 30,06% dari total sampel penelitian sebanyak 40 orang.
6.2 Saran
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai gambaran penggunaan
obat insulin aspart dan insulin glargin dengan metode pengambilan data
secara prospektif.
2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan
wawasan tentang gambaran penggunaan obat insulin aspart dan insulin
glargine pada pasien diabetes melitus tipe 2 di RSUP Sanglah Denpasar.

DAFTAR PUSTAKA
Ayuningtyas, M.F. 2010, Evaluasi Drug Therapy Problems Obat Hipoglikemia
Kombinasi Pada Pasien Geriatri Diabetes Melitus Tipe 2 di Instalasi
Rawat Jalan RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Januari-Juni 2009,
Yogyakarta, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.
DepartemenKesehatan RI. 2007. Pelayanan Informasi obat.Jakarta
Fatimah, R.N. 2015, Diabetes Melitus Tipe 2, Jurnal Majority, Vol. 4 No. 5:9101.

27

Feliasari, A. 2014, Profil Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan Terapi


Insulin Di Poli Rawat Jalan RSUD Dr. Soedarso Pontianak, Pontianak,
Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura.

Gunawan, S., dkk. 2007. Farmakologi dan Terapi, Edisi 5, Fakultas KedokteranUniversitas Indonesia: Jakarta
Heltomi, M. 2012. ProfilKlinis Dan LaboratoriumPenderita Diabetes Melitus
Tipe II Di InstalasiPenyakitDalamRsud Dr. H. AbdoelMoeloekProvinsi
Lampung PeriodeJuni Desember 2010.
Hongdiyanto, A., Yamlean, P.V.Y. dan Supriati, H.S, 2014, Evaluasi Kerasionalan
Pengobatan Diabetes Melitus Tipe 2 Pada Pasien Rawat Inap di RSUP
Prof. Dr. R.D Kandou Manado Tahun 2013, Vol. 3 No. 2 Mei 2014
ISSN:2302-2493.
IkatanSarjanaFarmasi Indonesia.2009.
(vol.44).Jakarta: ISFI.

InformasiSpesialiteObat

Indonesia

Khotimah, K. 2013, Gambaran Faktor Risiko Diabetes Melitus Tipe 2 Di Klinik


Dr. Martha ungaran, Program Studi Kesehatan Masyarakat, Stikes Ngudi
Waluyo, Ungaran.

Rismayanthi, C. 2011. Terapi Insulin Sebagai Alternatif Pengobatan Bagi


Penderita Diabetes
Ndraha, S. 2014. Diabetes Melitus Tipe 2 dan Tatalaksana Terkini, Vol.27, No.2.

28

Nolte, M.S. dan Karam, J.H. 2010, Hormon Pankreas dan Obat Antidiabetes
dalam Katzung, B.G., Farmakologi Dasar dan Klinik, Edisi 10, Penerbit
Buku Kedokteran, Jakarta, 704-726.
Price, S., & Wilson, L. 2012.Patofisiologi :KonsepKlinik, Proses-proses
penyakit, Edisi 6 vol 2, Jakarta:BukuKedokteran
Tjay, T., & Rahrdja, K. 2007. Obat-Obat Penting: Khasiat, penggunaan dan Efek
Sampingnya,Edisi 6, PT. Elex Media Komputindo:Jakarta
UKK Endokrinologi Anak dan Remaja, Ikatan Dokter Anak Indonesia Word
Diabetes Foundation, 2009. Konsensus Nasional Pengelolaan Diabetes
Mellitus tipe 1. Badan penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia, jakarta.

29

LAMPIRAN

Lampiran 1. Karakteristik Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin

30

Jenis kelamin

laki-laki

28%

perempuan

72%

31

Lampiran 2. Karakteristik Subjek Penelitian Berdasarkan Umur

50

47

45
40
35
30

27

25

Column3

20
15

12

12

10
5
0

dewasa akhir

lansia awal

lansia akhir

manula

32

Lampiran 3. Karakteristik Subjek Penelitian Berdasarkan Diagnosa

Diagnosa

11%
komplikasi

non komplikasi

89%

33

Lampiran 4. Ethical Clearance

34

Lampiran 5. Data Rekam Medik


Pasien

Umur

Jenis

Diagnosa

GDS

35

(Tahun)

Kelamin

Awal

Akhir

Selisih

Persentase
(%)

42

DM tipe 2

364

155

209

57,41

47

DM tipe 2

299

188

111

37,12

65

DM tipe 2 dan hipertensi

452

236

216

47,78

51

DM tipe 2

375

209

166

44,26

55

DM tipe 2 dan hipertensi

314

199

115

36,62

54

DM tipe 2

480

165

315

65,62

58

DM tipe 2

370

154

216

58,37

65

DM tipe 2

289

154

135

46,71

60

DM tipe 2

305

183

122

40,00

10

59

DM tipe 2

476

254

222

46,63

11

59

DM tipe 2 dan hipertensi

470

205

265

56,38

12

54

DM tipe 2 dan hipertensi

298

146

152

51,00

13

70

DM tipe 2 dan hipertensi

385

176

209

54,28

14

47

DM tipe 2 dan hipertensi

310

159

151

48,70

15

63

DM tipe 2 dan hipertensi

478

204

274

57,32

16

36

DM tipe 2

275

140

135

49,09

17

54

DM tipe 2 dan hipertensi

355

198

157

44,22

18

84

DM tipe 2

340

125

215

63,23

19

61

DM tipe 2

435

198

237

54,48

36

20

59

DM tipe 2

297

167

130

43,77

21

56

DM tipe 2

245

135

110

44,89

22

69

DM tipe 2

354

231

123

34,74

23

47

DM tipe 2

447

225

222

49,66

24

57

DM tipe 2 dan hipertensi

240

112

128

53,33

25

56

DM tipe 2 dan hipertensi

375

215

160

42,66

26

37

DM tipe 2

652

456

196

30,06

27

66

DM tipe 2

265

143

122

46,03

28

80

DM tipe 2

275

140

135

49,09

29

59

DM tipe 2

240

122

118

49,16

30

58

DM tipe 2

398

242

156

39,19

31

57

DM tipe 2

269

143

126

46,84

32

39

DM tipe 2

345

198

147

42,60

33

62

DM tipe 2

264

156

108

40,90

34

64

DM tipe 2

310

169

141

45,48

35

46

DM tipe 2 dan hipertensi

275

140

135

49,09

36

48

DM tipe 2 dan hipertensi

345

163

182

52,75

37

58

DM tipe 2

358

203

155

43,29

38

43

DM tipe 2 dan hipertensi

329

164

165

50,15

39

58

DM tipe 2 dan hipertensi

245

132

113

46,12

37

40

51

DM tipe 2

347

152

195

56,19