Anda di halaman 1dari 18

Nilai

LAPORAN PRAKTIKUM
MESIN PERALATAN PENGOLAHAN PANGAN
(Mesin Pengolahan Pangan Inovatif : Ohmic Heater dan Pengukuran
Konduktivitas Listrik pada Bahan Pangan)
Oleh

Nama

: Yosua Andreas

NPM

: 240110120062

Hari, Tanggal Praktikum

: Rabu, 1 April 2015

Waktu

: 15.00-16.00 WIB

Asisten

: Gallerie Tjandra
Dwi Rahayu
Chyntia L.S

LABORATORIUM PASCA PANEN DAN TEKNOLOGI PROSES


DEPARTMEN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Ada berbagai macam bentuk proses penanganan bahan pangan, salah satu

diantaranya adalah proses pemanasan ohmic. Pemanasan ohmic biasa disebut pula
sebagai joule heating, electrical resistance heating, direct electrical heating,
electroconductive heating, merupakan proses pemanasan yang disuplai dengan
melewatkan arus listrik Alternating Current (AC) pada bahan pangan.
Pemanasan ohmic dilakukan pada bahan pangan yang memiliki
kemampuan untuk menghantarkan listrik. Besarnya kemampuan bahan sebagai
penghantar listrik dinyatakan sebagai nilai konduktivitas listrik bahan. Dalam
melakukan pemanasan ohmic, parameter penentu pemanasan pada bahan pangan
tertentu harus dikontrol agar mencapai laju pemanasan yang dikehendaki. Salah
satu cara mengendalikan laju pemanasan adalah dengan mengatur formulai
larutan elektrolit pada bahan pangan.
Untuk dapat mengatur formulasi tersebut, diperlukan pengetahuan
mengenai konduktivitas listrik dari bahan. Oleh karena itu, pada praktikum ini,
praktikan melakukan pengukuran konduktivitas listrik pada beberapa bahan
pangan cair.
1.2

Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:

1.2.1

Tujuan Instruksional Umum (TIU)


Mahasiswa dapat mempelajari pengoperasian mesin pengolahan pangan
inovatif : Static Ohmic Heater

1.2.2

Tujuan Instruksional Khusus (TIK)


Mahasiswa dapat menentukan besar konduktivitas listrik pada bahan
makanan cair

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Konduktivitas Bahan
Sifat konduktivitas bahan adalah kemampuan suatu bahan untuk

menghantarkan listrik. Pada zat padat kemampuan ini terbagi atas 3 macam yakni:
1. Konduktor adalah bahan yang dapat menghantarkan listrik dengan mudah
2. Isolator adalah bahan yang sulit untuk menghantarkan listrik
3. Semikonduktor.
1.

Bersifat Konduktor
Ialah bahan - bahan yang mudah mengalirkan arus listrik jika dihubungkan

dengan sumber tegangan. Misalnya : tembaga, besi, emas, dll.


Dari bahan - bahan yang paling bagus untuk mengalirkan arus listrik adalah
emas,karena pada bahan konduktor mempunyai banyak sekali elektron bebas,
yang paling banyak elektron bebasnya adalah emas.
2.

Bersifat Isolator
Bahan - bahan yang bersifat isolator ialah bahan - bahan yang akan

menghambat arus listrik bila dihubungkan dengan sumber tegangan. Misalnya :


gelas, kaca, karet, kayu, dll. Bahan ini tidak dapat menghantarkan listrik karena
dalam bahan yang bersifat isolator seluruh lintasan elektronnya memiliki ikatan
yang kuat dengan intinya atau dengan kata lain pada bahan isolator tidak
mempunyai elektron bebas sehingga walau diberi tegangan listrik tidak akan
membuat elektron - elektronnya bergerak.
3.

Bersifat Semikonduktor
Bahan - bahan yang bersifat semikonduktor ialah bahan - bahan yang pada

kondisi tertentu akan bersifat sebagai isolator dan pada kondisi lain akan bersifat
sebagai konduktor. Misalnya : germaniun, silicon, dll. Bahan - bahan
semikonduktor dapat bersifat isolator dan bersifat konduktor karena bahan -bahan
tersebut akan bersifat isolator jika dalam temperatur yang rendah.
Semikonduktor sangat berguna dalam bidang elektronik, karena konduktansinya
yang dapat diubah-ubah dengan menyuntikkan materi lain (biasa disebut
pendonor elektron).

Konduktor adalah zat yang memiliki dayahantar kalor baik. Contoh bahan yang
bersifat konduktor adalah besi, baja, tembaga, aluminium, dan lain-lain. Dalam
kehidupan sehari-hari, dapat kamu jumpai peralatan rumah tangga yang prinsip
kerjanya memanfaatkan konsep perpindahan kalor secara konduksi, antara lain:
setrika listrik, solder, dan lain-lain.
Tabel 1. Nilai Konduktivitas listrik beberapa bahan cair (S cm -1)
Conductor

T (K)

Penyebab konduksi ionik

Konduktivitas

drinking

298

disosiasi garam dan asam karbonat

listrik (S cm -1)
10-2000

water
distilled

273

kontaminasi garam, disosiasi H2O

0.06-10

273

dan asam karbonat


low-self dissosiation

0.056

water
ultrapure

water
Sumber : Paper Basics of Conductivity, 2004
Tabel 2. Nilai konduktivitas listrik pada material (S/m)

Sumber : highschoolchemistryguide.org
2.2

Konduktivitimeter

Conductivity meter adalah alat untuk mengukur nilai konduktivitas listrik


(specific/electric conductivity) suatu larutan atau cairan. Nilai konduktivitas listrik
sebuah zat cair menjadi referensi atas jumlah ion serta konsentrasi padatan (Total
Dissolved Solid / TDS) yang terlarut di dalamnya. Pengukuran jumlah ion di
dalam suatu cairan menjadi penting untuk beberapa kasus. Salah satu contoh
adalah untuk memonitor kualitas air boiler. Hal ini terkait pengaruh konsentrasi
ion-ion mineral terhadap terjadinya korosi pada pipa boiler (galvanic corrosion).

Gambar 1. Portable Conductivity Meter


Konsentrasi ion di dalam larutan berbanding lurus dengan daya hantar
listriknya. Semakin banyak ion mineral yang terlarut, maka akan semakin besar
kemampuan larutan tersebut untuk menghantarkan listrik. Sifat kimia inilah yang
digunakan sebagai prinsip kerja conductivity meter.
Sebuah sistem conductivity meter tersusun atas dua elektrode, yang
dirangkaikan dengan sumber tegangan serta sebuah ampere meter. Elektrodeelektrode tersebut diatur sehingga memiliki jarak tertentu antara keduanya
(biasanya 1 cm). Pada saat pengukuran, kedua elektrode ini dicelupkan ke dalam
sampel larutan dan diberi tegangan dengan besar tertentu. Nilai arus listrik yang
dibaca oleh ampere meter, digunakan lebih lanjut untuk menghitung nilai
konduktivitas listrik larutan.

2.3

Konsentrasi Larutan
Konsentrasi larutan menyatakan secara kuantitatif komposisi zat terlarut

dan pelarut di dalam larutan. Konsentrasi umumnya dinyatakan dalam


perbandingan jumlah zat terlarut dengan jumlah total zat dalam larutan, atau
dalam perbandingan jumlah zat terlarut dengan jumlah pelarut. Contoh beberapa
satuan konsentrasi adalah molar, molal, dan bagian per juta (part per million,
ppm). Sementara itu, secara kualitatif, komposisi larutan dapat dinyatakan sebagai
encer (berkonsentrasi rendah) atau pekat (berkonsentrasi tinggi).

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1

Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah :
1. Juicer untuk mengestrak jus.
2. Waterbath untuk memanaskan sampel.
3. Konduktivitimeter digunakan untuk mengukur besar konduktivitas listrik
pada bahan makanan cair.
4. Wadah plastik sebagai tempat bahan makanan cair.
Bahan yang dipakai pada praktikum ini adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

3.2

Larutan garam 0.3%; 0.5%; 0.7% b/v @200 ml.


Larutan CMC 0.1%; 0.2; 0.3% b/v @200 ml.
Larutan jeruk 10%; 20%; 30% v/v @200 ml.
Susu segar 100% @50 ml.
Susu Ready to Drink 100% @50 ml.
Pocari sweat 100% @50 ml.
Aquades digunakan untuk membersihkan konduktivitimeter dari larutan.
Tisu untuk membersihkan benda kerja.
Prosedur Percobaan
Langkah-langkah yang dilakukan pada praktikum ini adalah :

1. Mengukur suhu dan konduktivitas bahan dengan konduktivitimeter.


Pengukuran konduktivitas dilakukan pada suhu ruangan (25C) dan suhu
50C. Oleh karena itu letakkan sampel di waterbath yang bersuhu 50C
selama beberapa saat sebelum pengukuran.
2. Membersihkan alat dengan menggunakan aquades sebelum
menggunakannya kembali untuk larutan yang berbeda.

BAB IV
HASIL PERCOBAAN
4.1

Data Hasil Pengukuran dalam tabel

Tabel 1. Hasil Pengukuran Konduktivitas Pada Setiap Bahan


Kond.
No

1
2
3

Bahan

Larutan
CMC
Larutan
Jeruk
Larutan
Garam
Susu
Segar

Listrik

(0C)

Listrik

(0C)

[ 250C]
28,8
27,8
27,6
28,2
29,1
27,8
31,3
29,1
27,8
28,2

( S/m )
1,550
2,77
3,56
0,628
0,947
1,266
12,85
15,45
17,09

[ 500C]
31,3
31,5
31,1
34
33
32,7
37,4
37,1
36,5

100%

(S/m)
1,480
2,31
3,05
0,647
0,836
1,203
9,86
14,33
19,45
5,07
5,06
Rata-rata

5,59

32,6

100%

5,05
4,67
4,73
Rata-rata

4,94

32,9

100%

4,7
2,35
2,44
Rata-rata

2,58

36,1

0,1 %
0,2%
0,3%
10%
20%
30%
0,04%
0,06%
0,08%

Susu
5

Ready to
Drink

Pocari
Sweat

Konduktivitas Listrik (S/m)


Suhu
Kond.
Suhu

2,395

4.2

Data Hasil Pengukuran dalam Grafik

27,6
29,7
28,1
2,91
27,6

Grafik perbandingan konsentrasi larutan dan konduktivitas listrik larutan CMC (25C)
3.5
3
2.5
2
1.5
1
0.5
0
1.0000000000000002E-3 2.0000000000000005E-3 3.0000000000000005E-3

Gambar 1. Grafik perbandingan konsentrasi larutan (X) dan konduktivitas listrik


larutan CMC (Y) 25C

Grafik perbandingan konsentrasi larutan dan konduktivitas listrik larutan jeruk 25C
1.4
1.2
1
0.8
0.6
0.4
0.2
0
0.1

0.2

0.30000000000000004

Gambar 2. Grafik perbandingan konsentrasi larutan (X) dan konduktivitas listrik


larutan jeruk (Y) 25C

Grafik perbandingan konsentrasi larutan dan konduktivitas listrik larutan garam 25C
25
20
15
10
5
0
4.0000000000000008E-2 6.0000000000000005E-2 8.0000000000000016E-2

Gambar 3. Grafik perbandingan konsentrasi larutan (X) dan konduktivitas listrik


larutan garam (Y) 25C

Grafik perbandingan konsentrasi larutan dan konduktivitas listrik larutan CMC 50C
4
3.5
3
2.5
2
1.5
1
0.5
0
1.0000000000000002E-3 2.0000000000000005E-3 3.0000000000000005E-3

Gambar 4. Grafik perbandingan konsentrasi larutan (X) dan konduktivitas listrik


larutan CMC (Y) 50C

Grafik perbandingan konsentrasi larutan dan konduktivitas listrik larutan jeruk 50C
1.4
1.2
1
0.8
0.6
0.4
0.2
0
0.1

0.2

0.30000000000000004

Gambar 5. Grafik perbandingan konsentrasi larutan (X) dan konduktivitas listrik


larutan jeruk (Y) 50C

Grafik perbandingan konsentrasi larutan dan konduktivitas listrik larutan garam 50C
18
16
14
12
10
8
6
4
2
0
0.1

0.2

0.30000000000000004

Gambar 6. Grafik perbandingan konsentrasi larutan (X) dan konduktivitas listrik


larutan garam (Y) 50C

Grafik perbandingan suhu larutan dan konduktivitas listrik larutan CMC 25C
3.5
3
2.5
2
1.5
1
0.5
0
28.2

27.8

27.1

Gambar 7. Grafik perbandingan suhu (X) dan konduktivitas listrik larutan CMC
(Y) 25C

Grafik perbandingan suhu larutan dan konduktivitas listrik larutan jeruk 25C
1.4
1.2
1
0.8
0.6
0.4
0.2
0
28.2

29.1

27.8

Gambar 8. Grafik perbandingan suhu (X) dan konduktivitas listrik larutan jeruk
(Y) 25C

Grafik perbandingan suhu larutan dan konduktivitas listrik larutan garam 25C
25
20
15
10
5
0
31.3

29.1

27.8

Gambar 9. Grafik perbandingan suhu (X) dan konduktivitas listrik larutan garam
(Y) 25C

Grafik perbandingan suhu larutan dan konduktivitas listrik larutan CMC 50C
4
3.5
3
2.5
2
1.5
1
0.5
0
31.3

31.5

31.1

Gambar 10. Grafik perbandingan suhu (X) dan konduktivitas listrik larutan CMC
(Y) 50C

Grafik perbandingan suhu larutan dan konduktivitas listrik larutan jeruk 50C
1.4
1.2
1
0.8
0.6
0.4
0.2
0
34

33

32.700000000000003

Gambar 11. Grafik perbandingan suhu (X) dan konduktivitas listrik larutan jeruk
(Y) 50C

Grafik perbandingan suhu larutan dan konduktivitas listrik larutan garam 50C
18
16
14
12
10
8
6
4
2
0
37.4

37.1

36.5

Gambar 12. Grafik perbandingan suhu (X) dan konduktivitas listrik larutan garam
(Y) 50C

BAB V
PEMBAHASAN
Pada praktikum ini, praktikan melakukan pengukuran nilai konduktivitas
listrik pada bahan pangan cair. Nilai konduktivitas ini diukur dengan
menggunakan konduktivitimeter. Pengukuran ini juga dilakukan pada suatu bahan
pangan cair yang sudah dilarutkan. Adapun tiap bahan memiliki konsentrasi yang
berbeda. Tiap konsentrasi pada bahan pangan memiliki nilai konduktivitas listrik
yang berbeda juga.
Dalam tiap kelompok pada praktikum ini, diberikan larutan yang berbedabeda. Pada kelompok ini, pengukuran dilakukan pada larutan garam yang sudah
dipanaskan pada suhu 25C dan 50C. Larutan garam ini masing-masing memiliki
konsentarsi 0.04%, 0.06%, dan 0.08%. Pada pengukuran ini, nilai konduktivitas
listrik pada larutan yang dipanaskan pada suhu 25C yaitu 9.86 S/m (0.04%),
14.33 S/m (0.06%), dan 19.45 S/m (0.08%). Sedangkan larutan yang sudah
dipanaskan hingga suhu 50C memiliki nilai konduktivitas 12.85 S/m (0.04%) ,
15.45 S/m (0.06%), dan 17.09 S/m (0.08%). Nilai konduktivitas listrik yang
dihasilkan pada pengukuran ini melebihi 10 S/m, dimana bahan pangan tidak akan
panas, namun apabila nilainya lebih rendah dari 0.01 S/m maka arus tidak
mengalir sama sekali. Pada literatur diketahui bahwa nilai konduktivitas pada
larutan yang mengandung garam (seperti air laut) yaitu 4.8 S/m, sedangkan pada
hasil pengukuran diperoleh hasil lebih dari 4.8 S/m. Hal ini disebabkan karena
kekurangtelitian praktikan dalam menggunakan alat ukur dan juga dapat
disebabkan karena kondisi alat yang tidak stabil. Adapun faktor lain yang
menyebabkan hal tersebut karena terdapat perbedaan suhu dan konsentrasi
larutan.
Faktor suhu dan konsentarsi larutan berpengaruh terhadap nilai
konduktivitas listrik suatu bahan. Semakin besar nilai konsentrasi larutan tersebut
maka nilai konduktivitas listriknya semakin besar. Hal ini disebabkan karena
semakin banyaknya material atau zat pelarut dalam larutan tersebut sehingga
kandungan energi listriknya semakin besar. Sedangkan suhu suatu larutan apabila

suhunya semakin rendah atau semakin tinggi, tidak terlalu berpengaruh terhadap
nilai konduktivitas listrik suatu larutan.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1

Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari praktikum ini adalah :
1. Apabila nilai konduktivitas listrik bahan lebih dari 10 S/m maka bahan
pangan tidak akan panas, sedangkan apabila kurang dari 0.01 S/m maka
bahan tidak mengalirkan arus sama sekali.
2. Kemurnian suatu larutan dapat mempengaruhi kemampuan bahan dalam
mengalirkan arus listrik.
3. Suhu dan konsentrasi larutan berpengaruh terhadap nilai konduktivitas
larutan suatu bahan.
4. Semakin tinggi nilai konsentrasi larutan suatu bahan maka nilai
konduktivitas listriknya semakin besar.

6.2

Saran
Saran-saran yang dapat diberikan pada praktikum ini adalah :
1. Sebaiknya praktikan memahami terlebih dahulu materi praktikum
serbelum memulai praktikum.
2. Sebaiknya praktikan lebih cermat dalam mengukur menggunakan
konduktivitimeter.

DAFTAR PUSTAKA

Desrosier, W. Fellow. 1988. Teknologi Pengawetan Pangan. Universitas


Indonesia. Jakarta.
Haliday, Resnick. 1991. Fisika Jilid 2. Erlangga. Jakarta.
Widyasanti,Asri, STP.,M.Eng. 2015. Penuntun Praktikum Mesin Peralatan
Pengolahan Pangan. Laboratorium Pasca Panen dan Teknologi Proses
:Universitas Padjadjaran.