Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

KEBUTUHAN DASAR MANUSIA II


ASUHAN KEPERAWATAN DIARE
Dwi Rahayu Ns, M.Kep

TK IB

Oleh:
ANGGA HEPPY

FAJAR NORMANING TYAS

ASMAUL QUSNA

IMROATUS SHOLIHAH

ATIKA WIDYA PUTRI

KHOIRIATUL NAILAH

DEDI SUKARNO

MEIDINA ANGGRAENI

DELLA EKA

PUTRI EKA

DEWI AGUSTIN

WISNU MUSTIKA RATIH

ERVIN NORMA

YOGA HARLIAN

AKADEMI KEPERAWATAN DHARMA HUSADA KEDIRI


2014/2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Penyakit diare sering disebut dengan Gastroenteritis, yang masih merupakan masalah
masyarakat indonesia. Dan diare merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada
anak di negara berkembang.
Gastroenteritis atau diare diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau
bentuk tinja yang encer dengan frekwensi yang lebih banyak dari biasanya (Mansjoer Arief
dkk, 1999)
Diperkirakan angka kesakitan berkisar antara 150-430 per seribu penduduk
setahunnya. Dengan uapaya yang sekaranag telah dilaksanakan, angka kematian di RS dapat
ditekan menjadi kurang dari 3%. Dengan demikian di Indonesia diperkirakan ditemukan
penderita diare sekitar 60 juta kejadian setiap tahunnya. Sebagian besar antara 70-80% dari
penderita adalah anak dibawah umur 5 tahun (kurang lebih 40 juta kejadian). Sebagian dari
penderita (1-2%) akan jatuh kedalam dehidrasi dan apabila tidak segera ditanggulangi dengan
benar akan berakibat buruk. Untuk itu saya tertarik membuat Asuhan Keperawatan Kepada
Ny.S umur 78 tahun.
1.2 Rumusan Masalah
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Apa pengertian dari diare?


Apa penyebab diare
Apa saja macam-macam diare?
Bagaimana cara menangani diare?
Apa diagnosa dari diare?
Bagaimana asuhan keperawatan diare?

1.3 Tujuan
a. Menetapkan dan mengembangkan pola pikir secara ilmiah kedalam proses asuhan
Keperawatan nyata serta mendapatkan pengalaman dalam memecahkan masalah pada
Ny.S dengan Gastroenteritis atau diare
b. Untuk mengetahui gambaran tentang kasus Gastroenteritis yang dialami oleh pasien
Ny.S.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian

Gastroenteritis atau diare diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau
bentuk tinja yang encer dengan frekwensi yang lebih banyak dari biasanya (Mansjoer Arief
dkk, 1999)
Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah lambung dan intestinal yang disebabkan
oleh bakteri yang bermacam-macam, virus dan parasit yang patogen (Whaley dan wangs,
1995)
2.2 Etiologi
Penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor yaitu :
a) Faktor infeksi
Infeksi internal adalah infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab
utama diare meliputi :
1) Infeksi Bakteri : vibrio E.coli Salmonella, Shigella, Campyio bacter, Aeromonas
2) Infeksi virus : Enteriviru ( virus echo, coxsacle, poliomyelitis ), Adenovirus,
Astrovirus, dll
3) Infeksi parasit : Cacing (ascaris, trichuris, oxyguris) Protozoa (entamoeba
histoticia, trimonas hominis), Jamur (candida albacus)
Infeksi parental adalah infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti otitis media akut
(OMA), Bronco pneumonia, dan sebagainya.
b) Faktor Malabsorbsi
1) Malabsorbsi karbohidrat
2) Malabsorbsi Lema
c) Faktor Makanan
Makanan yang tidak bersih, basi, beracun dan alergi terhadap makanan.
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare.
1) Gangguan asmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan mengakibatkan
tekanan asmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit
kedalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk
mengeluarkan sehingga timbul diare.
2) Gangguan sekresi
Akibat adanya rangsangan toksin pada dinding uterus sehingga akan terjadi
peningkatan sekresi, air dan elektrolit kedalam rongga usus dan selanjutnya timbul diare
karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
3) Gangguan motilitas usus
2

Hiperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap


makanan sehingga timbul diare. Bila peristaltik menurun akan menyebabkan bakteri tumbuh
berlebihan, sehingga timbul diare juga.
2.3 Penggolongan Diare
2.3.1 Diare Akut
Adalah diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat dalam beberapa jam
sampai 7 atau 14 hari.
a) Penularan
1) Transmisi orang keorang melalui aerosolisasi
2) Tangan yang terkontaminasi (clostridium diffale)
b) Penyebab
1) Faktor penyebab yang mempengaruhi adalah penetrasi yang merusak sel mukosa
2) Faktor penjamu adalah kemampuan pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme
c) Manifestasi klinis
Pasien sering mengalami muntah, nyeri perut akibat diare akibat infeksi dan menyebabkan
pasien merasa haus, lidah kering, turgor kulit menurun karena kekurangan cairan.
2.3.2 Diare Kronik
Adalah diare yang berlangsung lebih dari 3 minggu bagi orang dewasa dan 2 minggu bagi
bayi dan anak.
Patofisiologi
Dipengaruhi dua hal pokok yaitu konsistensi feses dan motilitas usus gangguan proses
mekanik dan enzimatik disertai gangguan mukosa akan mempengaruhi pertukaran air dan
elektrolit sehingga mempengaruhi konsistensi feses yang terbentuk

2.4 Cara Menangani Diare


Prinsip pengobatan diare adalah menggantikan cairan yang hilang melalui tinja dengan
atau tanpa muntah, dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat
lain (gula,air tajin, tepung beras dan sebagainya).
1) Obat anti sekres
a) Asetosal, dosis 25 mg/th,dengan dosis minimum 30 mg
b) Klorpromazin, dosis 0,5-1 mg/kg BB/hr
2) Obat spasmolitik

Seperti papaverin, ekstrak beladona, opinum loperamid, tidak untuk mengatasi diare
akut lagi.
3) Antibiotik
Tidak diberikan bila tidak ada penyebab yang jelas, bula penyebab kolera, diberikan
tetrasiklin 25-50 mg/kg BB/hr. Juga diberikan bila terdapat penyakipenyerta seperti : OMA,
faringitis, bronkitis, atau bronkopneumonia ( Ngastiyah, 1997 : 149)
Medik
Dasar pengobatan diare adalah pemberian cairan, dietetik (cara pemberian makanan) dan
obat-obatan.
Pemberian cairan
Pemberian cairan pada pasien diare dengan mempertahankan derajat dehidrasi dan keadaan
umum.
1) Cairan per oral
Pada pasien dengan dehidrasi ringan dan sedang cairan diberikan per oral beberapa cairan
yang berisikan NaCL,NaHCO3,KCL dan Glukosa. Untuk diare akut dan kolera pada anak
diatas umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan/sedang, kadar Natrium 50-60 mEg/1 formula
lengkap sering disebut oralit. Sebagai pengobatan sementara yang dibuat sendiri (formula
tidak lengkap) hanya air gula dan garam (NaCL dan sukrosa) atau air tajin yang diberi garam
dan gula.
2) Cairan parental
Pada umumnya digunakan cairan Ringel laktat (RL) yang pemberiannya bergantung pada
berat ringannya dehidrasi, yang diperhitungkan dengan kehilangan cairan sesuai umur dan
berat badannya (Ngastiyah, 1997 : 146)

BAB III
STUDY KASUS DAN PEMBAHASAN
3.1

STUDY KASUS

Seorang perempuan berumur 78 tahun datang ke UGD dengan keluhan buang air besar lebih
dari 5 hari dengan konsistensi cair sejak kemarin, disertai dengan muntah. Pasien tidak
mampu mengkonsumsi makanan per oral. Tanda-tanda vital TD 90/60 mmHg, suhu 38,6 C.
Frekuensi nafas 30 x/menit . turgor kulit kembali dengan lambat, pasien lemah
3.1.1

PENGKAJIAN

MRS

: 09 Mei 2011

No Ruangan

Jam : 18.00 WIB

:5

Pengkajian tanggal : 10 Mei 2011

Jam : 16.00 WIB

A.Identitas Pasien
Nama pasien

: Ny. S

Jenis kelamin

: Perempuan

Umur

: 78 Tahun

Alamat

: Ds.Waru kulon pucuk

Agama

: islam

Pekerjaa

: Swasta

Suku bangsa

: Jawa

Diagnosa medic : Gastroenteritis


Data
Etiologi
DS : klien mengatan BAB lebih Gangguan

Masalah Keperawatan
Output yang berlebihan

dari 5 hari dengan konsistensi keseimbangan cairan


cair
DO : Turgor kulit menurun
DS : klien mengatakan bahwa Gangguan
klien BAB berkali-kali

pola Infeksi bakteri

eliminasi BAB

DO :klien tampak lemas, mata


cowong.

3.3 DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Gangguan keseimbangan cairan b/d output yang berlebihan
2. Gangguan eliminasi BAB : diare b/d infeksi bakteri
3.4 INTERVENSI
No

Tujuan dan KH

Intervensi

.
5

Rasional

Dx
1

Setelah

Dilakukan
1.

pantau tanda kekurangan


1.

Tindakan

Keperawatan cairan
2.
observasi/catat hasil
2.
2x24 Jam dengan Tujuan :
intake output cairan
volume
cairan
dan
3.
anjurkan klien untuk
3.
elektrolit dalam tubuh
4.
banyak minum
seimbang
(kurangnya
4. jelaskan pada ibu tanda
5.
cairan
dan
elektrolit kekurangan cairan
5.
berikan terapi sesuai
terpenuhi)
advis :
Dengan KH :
Infus RL 15 tpm
Turgor kulit cepat

Menentukan
selanjutnya
Mengetahui

intervensi
keseimbangan

cairan
Mengurangi kehilangan cairan
Meningkatkan partisipasi
dalam perawatan
mengganti cairan yang keluar
dan mengatasi diare

kembali.
Mata kembali normal
Membran mukosa basah
Intake output seimbang
2

Setelah

Dilakukan
1. Mengobservasi TTV 1. kehilangan cairan yang aktif
2.
Jelaskan pada pasien
Tindakan
Keperawatan
secar terus menerus akan
tentang penyebab dari
2x24 Jam dengan Tujuan :
mempengaruhi TTV
diarenya
2
Klien dapat mengetahui
Konsistensi BAB lembek,
3. Pantau leukosit setiap
penyebab dari diarenya.
frekwensi 1 kali perhari
hari
3
Berguna untuk mengetahui
dengan KH :
4. Kaji pola eliminasi klien
penyembuhan infeksi
Tanda vital dalam batas setiap hari
4 Untuk mengetahui konsistensi
5. Kolaborasi
normal (N: 120-60 x/mnt,
dan frekuensi BAB
- Konsul ahli gizi untuk
5 Metode makan dan kebutuhan
S; 36-37,50 c, RR : < 40
memberikan diet sesuai
kalori
didasarkan
pada
x/mnt )
kebutuhan klien.
Leukosit : 4000 11.000
kebutuhan.
Antibiotik: cefotaxime
Hitung jenis leukosit : 13x1 amp (500mg/ml)
3/2-6/50-70/20-80/2-8
3.5 IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Nama pasien
: Ny. S
No.ruangan
:5
Umur
: 78 tahun
TGL/
JAM
Selasa, 10/5
11
16.00

NO.
Dx
1,2,3

IMPLEMENTASI

RESPON PS

Mengkaji keluhan pasien DS : Klien mengatakan


Mengobservasi TTV
bahwa BAB
berkalisetiap 8 jam
kali, muntah, dan perut
kembung.
6

TTD

DO

Turgor

kulit

menurun, mulut kering,


mata
1
16.15

Menentukan tanda-tanda

cowong,

dan

menahan kesakitan
TD = 80/50 mmHg, S =

kekurangan cairan
390 C, N= 112, tampak
Memasang infus RL 15
lemah ,RR 22x/mnt
tpm
1,2

DS : klien mengatakan

16.25

akan
banyak
DO

Memberikan obat:

21.00

1,2

1,3

Rabu11/5/11
06.30

minum
:Turgor

amp
Menganjurkan

untuk DS : expesi wajah klien


sedikit rileks
klien banyak minum
DO
:
keluarga
memberikan

2,3

Menganjurkan

akan
banyak

klien minum agar klien tidak

untuk istirahat
dehidrasi
Mengobservasi TTV
Mengganti infus RL 15
1,3

08.50

tpm
Mengkaji pola eliminasi
klien

11.30

kulit

berkurang,
mukosa
Injeksi Novalgin 1 amp
mulut
kering,disertai
Injeksi Ulsikur 1 amp
Injeksi Cefotaxime 1 muntah.

kooperatif,dan

07.30

yang

DS : DO : Ny. S keluarga
kooperatif

1,2

Memberikan obat:

3,2

Injeksi Novalgin 1 amp


380, N = 100x/mnt, RR =
Injeksi Ulsikur 1 amp
Injeksi Cefotaxime 1 20x/mnt

14.00

amp
Observasi/catat

1,2,3

DS : DO : TD = 100/70, S =

DS : hasil DO

intake output cairan

kooperatif
7

Keluarga

Kamis,

Menganjurkan

12/5/11
06.00

dalam porsi sedikit tapi


3

sering.

06.30
Menyuruh
1,3
08.00

2,3

DS : Klien mengatakan
akan makan dalam porsi

kecil tapi sering.


pasien DO
:
Keluarga

banyak minum agar tidak kooperatif


dehidrasi
DS : pasien mengatakan
Jelaskan pada keluarga
akan minum sesering
tanda-tanda kekurangan
mungkin
cairan
DO : Ny. S keluarga
kooperatif

08.30

Memberikan obat:

10.00

makan

DS : Injeksi Dexa 1 amp


DO : Ny. S keluarga
Injeksi Ulsikur 1 amp
Injeksi Cefotaxime 1 kooperatif
amp
DS : DO : TD = 100/70, S =
Mengopservasi TTV
Mengganti cairan infus 370, N = 100x/mnt, RR =
+ drip Neurobio
Menganjurkan

22x/mnt
makan

dalam porsi dikit tapi


sering

DS : klien mengatakan
akan makan dalam porsi
kecil tapi sering.
DO

keluarga

kooperatif
Mengopservasi

tanda

tanda dehidrasi

DS : DO

: Turgor kulis

sedikit

membaik

mukusa mulut lembab,


muntah berkurang,diare
Memberikan obat

berkurang.

DS :pasien mengatakan
Injeksi Ulsikur 1 amp
Injeksi Cefotaxime 1 nyeri saat disuntik
DO : Obat masuk tidak
amp
ada tanda alergi

DS : -

Observasi leukosit

DO

Leukosit

8600/mm3
Hitung jenis leukosit : 13/2-6/50-70/20-80/2-8
3.6 EVALUASI KEPERAWATAN
No
.
Dx

Hari/tgl

Catatan Perkembangan

TTD

1.

Selasa

S : Kien mengatakan bahwa masih merasa lemas

10/5/2011

O:-

Klien masih tampak lemas

Aktifitas klien masih dibantu keluarganya


A : Masalah belum teratasi
2.

P : Intervensi 1-4 dilanjutkan


S : Klien mengatakan bahwa perutnya masih tersa
sakit
O:-

3.

Kien tampak menyeringai kesaklitan

Klien terus memegangi perutnya


Skala nyeri 3
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi 1,3,4,5 dan 6 dilanjutkan
S : klien mengatakan bahwa klien BAB berkalikali,sudah mulai berkurang 2x/hari, masih merasa
mual tapi tidak sampai muntah.
O : - klien BAB 2x/hari
- Turgor kulit kembali < 1 detik
- Mata tidak cowong
- Klien merasa mual sehingga tidak
menghabiskan porsi makannya
- Klien tidak muntah
A : Masalah gangguan pola eliminasi BAB
teratasi sebagian
P : Pertahankan intervensi 1-4 dilanjutkan
Kaji intak output cairan setiap 8 jam
Pantau tanda-tanda dehidrasi

1.

Rabu

S : Klien mengatakan bahwa merasa lebih sehat

11/5/2011

O:-

Klien tampak lebih sehat

Klien

lebih

mandiri

dalam

aktifitasnya
Turgor kulit < 1 detik kembali
Mata tidak cowong
Mukosa mulut tidak kering
2.

A : Masalah teratasi
10

melakukan

P : Intervensi dihentikan
S : Kien mengatakan bahwa sakit perutnya sedikit
3.

berkurang
O : Klien menyeringai menahan sakit, skala nyeri
2
A : Masalah tertasi sebagian
P : Intervensi dilanjutkan

S : Klien mengatakan bahwa BAB sudah lembek


1-2/hari mual sudah berkurang, tidak muntah lagi.
O : - Klien BAB 1-2x/hari, konsistensi sedikit
lunak
Klien menghabiskan makanannya
Klien tidak muntah
Turgor kulit kembali < 1 detik
Mata tidak cowong
Mukosa mulut tidak kering
Klien minum 1000cc/hari
A : Masalah teratasi sebagaian
P : Intervensi 1-4 dilanjutkan
1.

Kamis

S: Klien mengatakan bahwa perutnya sudah tidak

12/5/2011

sakit
O : - Skala nyeri 0
Klien tidak menyeringai kesakitan
A : Masalah teratasi
P : Intervensi dihentikan
S : Klien mengatakan bahwa sudah tidak merasa

2.

mual dan muntah, konsistensi BAB lunak.


O : - Klien BAB dengan konsistensi lunak
Klien tidak merasa mual dan muntah
Klien menghabiskan porsi makannya dan minum
kurang lebih 1500cc/hari
Jumlah leukosit normal
A : Masalah teratasi
P : Intervensi dihentikan

11

3.2 Pemberian Cairan Parenteral


Pelaksanaan pemberian terapi cairan dapat dilakukan secara oral atau parenteral.
Pemberian secara oral dapat dilakukan untuk dehidrasi ringan sampai sedang dapat
menggunakan pipa nasogastrik, walaupun pada dehidrasi ringan dan sedang, bila diare profus
dengan pengeluaran air tinja yang hebat ( > 100 ml/kg/hari ) atau mutah hebat ( severe
vomiting ) dimana penderita tak dapat minum samasekali, atau kembung yang sangat hebat
( violent meteorism ) sehingga rehidrasi oral tetap akan terjadi defisit maka dapat dilakukan
rehidrasi panenteral walaupun sebenarnya rehidrasi parenteral dilakukan hanya untuk
dehidrasi berat dengan gangguan sirkulasi.
a. Dehidrasi Ringan Sedang
Tahap rehidrasi
Mengganti defisit. Rehidrasi pada dehidrasi ringan dan sedang dapat dilakukan dengan
pemberian oralit sesuai dengan defisit yang terjadi :
Dehidrasi ringan ( 5% ) : 50 ml/kg ( 4 6 jam pada bayi)
( 3% ) : 30 ml/kg ( 4 6 jam pada anak besar )
Dehidrasi sedang ( 5 10% ) : 50 100 ml /kg ( 4 6 jam pad bayi )
( 6% ) : 60 ml/kg ( 4 6 jam pada anak besar )
Tahap rumatan
Dalam tahap rumatan ini meliputi untuk memenuhi kebutuhan cairan rumatan dan
kebutuhan perubahan cairan rumatan yang disebabkan oleh kehilangan cairan yang
sedang berjalan ( ongoing losses )

Kebutuhan Rumatan.
Terdapat beberapa model untuk menghitung kebutuhan cairan rumatan : berdasarkan
berat badan, luas permukaan, atau pengeluaran kalori yang seperti kita ketahui bahwa 1
12

ml air diperlukan setiap 24 jam bagi setiap kalori yang dikeluarkan dan bahwa kebutuhan
metabolik menentukan penggunaannya dari cadangan tubuh. Kalori yang dikonsumsi
setiap kesatuan berat badan, atau tingkat metabolik menurun dengan bertambah besarnya
dan usia anak ( Tabel 1,2 )
Tabel 1. Kebutuhan Rumatan Kalori dan air per kesatuan berat badan.

Rumatan

Berat badan

K cal / kg / 24jam

ml air/kg/24jam

10 kg pertama

100

100

10 kg ke-dua

50

50

Setiap kg penambahan BB

20

20

Untuk mengganti kehilangan cairan yang sedang berjalan ( ongoing losses ) karena
diare : 10 ml/kg bb (untuk diare infantile) dan 25 ml/kg bb (untuk kholera) untuk setiap diare
cair yang terjadi disamping pemberian makanan dan minuman sebagaimana biasanya
sebelum diare. Oralit merupakan cairan elektrolitglukosa yang sangat esensial dalam
pencegahan dan rehidrasi penderita dengan dehidrasi ringansedang.
Tabel 2. Perubahan dari Kebutuhan Rumatan ( ongoing abnormal losses ).
Faktor

Perubahan dari kebutuhan

Panas

12 % per 0 celcius

Hiperventilasi

10 60 ml/100 Kcal

Keringat

10 25 ml/100 K cal

Diare

10 ml-25 ml/100 K cal

13

Secara sederhana, rehidrasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :


1. Upaya rehidrasi oral ( URO ).
Usia

Dehidrasi ringan

Tanpa dehidrasi jam

3 jam pertama

Berikutnya ongoing losses


10-25 ml/kg setiap diare

( defisit 50 ml/kg )

bayi s/d 1th

1,5 gelas

0,5 gelas

1 th 5 th

3 gelas

1 gelas

> 5 th

6 gelas

2 gelas

2. Terapi cairan standar ( Iso-hiponatremi )

Derajat Dehidrasi

Kebutuhan cairan

Jenis cairan

Cara
pemberian

Berat ( 10 % )

+ 30 ml/kg/jam

NaCl 0,9%

Gangguan sirkulasi

Sedang ( 6-9% )

IV/1 jam

RL

+ 70 ml/kg/jam

14

NaCl 0,9%

IV/3 jam

RL

IG/3 jam

Darrow

( oralit )

lama

Ringan ( 5% )

Tanpa dehidrasi

+ 50 ml/kg/3jam

Darrow

IV/3 jam

Oralit

IG / Oral

10-20 ml/kg

Oralit /

oral

Setiap diare

Cairan rumah tangga

IV : intra vena, IG : intragastrik

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Setelah melakukan Asuhan keperawatan pada Ny. S dengan didapatkan kesimpulan
bahwa dalam pengkajian telah dilakukan anamnesa yang meliputi data subjektif dan obyektif.
Dari pengkajian tersebut diambil suatu diagnosa dan masalah berdasarkan data yang
menunjang untuk diambil suatu diagnosa. Setelah melakukan pengkajian pada Ny. S
didapatkan diagnosa bahwa Ny. S dengan masalah gangguan keseimbangan cairan dan
resiko kerusakan integritas kulit.
Intervensi yang diberikan disesuaikan dengan ketentuan yang ada, sedangkan dalam
penerapannya disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Evaluasi dilakukan setelah
implementasi dilakukan. Dalam evaluasi Ny. S masalah belum teratasi, dehidrasi dapat
ditangani, resiko kerusakan integritas kulit yang lebih parah karena turgor kulit kembali
dengan lambat.

4.2 Saran
15

Dalam pembuatan makalah ini tidak lepas dari kesalahan. Maka dari itu saya
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna penyempurnaa penulisan
askep yang akan datang. Terima kasih

DAFTAR PUSTAKA
Arief, Mansjoer. 2000. Kapita Selekta Jilid II Edisi 3. Media Aesculapius : Jakarta
http://asuhankeperawatangastroenteritis.blogspot.com/2012/03/asuhan-keperawatan-pada-nys-dengan.html
Dongoes , Mariliynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC : Jakart
Carpenito-moyet, Lynda juall. 2007, Buku Saku Diagnosis Keperawatan, Jakarta
https://koaskamar13.wordpress.com/managemen-diare-pada-bayi-dan-anak/

16