Anda di halaman 1dari 10

Kata pengantar

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME atas limpahan rahmat dan
karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Komunikasi
Intrapersonal ini dengan lancar.
Penulis harap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, dalam
hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai Komunikasi Intrapersonal seperti Sensasi
dan Persepsi, khususnya bagi penulis. Memang makalah ini masih jauh dari sempurna, maka
penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih
baik.

BAB 1
a. Latarbelakang
Komunikasi intrapersonal adalah penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam
diri komunikator sendiri. Komunikasi intrapersonal merupakan keterlibatan internal secara
aktif dari individu dalam pemrosesan simbolik dari pesan-pesan. Seorang individu menjadi
pengirim sekaligus penerima pesan, memberikan umpan balik bagi dirinya sendiri dalam
proses internal yang berkelanjutan. Komunikasi intrapersonal dapat menjadi pemicu bentuk
komunikasi yang lainnya. Pengetahuan mengenai diri pribadi melalui proses-proses
psikologis seperti persepsi dan kesadaran (awareness) terjadi saat berlangsungnya
komunikasi intrapribadi oleh komunikator.
Untuk memahami apa yang terjadi ketika orang saling berkomunikasi, maka seseorang
perlu untuk mengenal diri mereka sendiri dan orang lain. Karena pemahaman ini diperoleh
melalui proses persepsi. Maka pada dasarnya letak persepsi adalah pada orang yang
mempersepsikan, bukan pada suatu ungkapan ataupun obyek.Aktivitas dari komunikasi
intrapribadi yang kita lakukan sehari-hari dalam upaya memahami diri pribadi diantaranya
adalah; berdo'a, bersyukur, instrospeksi diri dengan meninjau perbuatan kita dan reaksi hati
nurani kita, mendayagunakan kehendak bebas, dan berimajinasi secara kreatif .Pemahaman
diri pribadi ini berkembang sejalan dengan perubahan perubahan yang terjadi dalam hidup
kita. Kita tidak terlahir dengan pemahaman akan siapa diri kita, tetapi prilaku kita selama ini
memainkan peranan penting bagaimana kita membangun pemahaman diri pribadi ini
b. Tujuan
Untuk memberikan pemahaman kepada para pembaca mengenai komunikasi pada diri
sendiri yang sering terjadi di tengah tengah kehidupan masyarakat.

BAB III PEMBAHASAN


Pengertian komunikasi intrapersonal ( diri sendiri )
Komunikasi intrapersonal adalah penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri
komunikator sendiri. Seorang individu menjadi pengirim sekaligus penerima pesan
memberikan umpan balik bagi dirinya sendiri Komunikasi intrapersonal bertujuan untuk
melakukan prediksi, evaluasi dan penguatan/ pelemahan. Sebagai contoh, pada saat kita
berkomunikasi dengan orang lain, timbul perbincangan dengan diri kita untuk prediksi
bagaimana rasanya berkomunikasi dengan orang itu, akan nyamankah berbincang
dengannya? Sewaktu dan setelah berbincang dengan orang itu, kita kembali akan
mengevaluasi bagaimana proses perbincangan tadi, nyamankah berbincang dengannya. Jika
kita merasa nyaman dalam berkomunikasi dengan orang lain (komunikasi interpersonal)
maka prediksinya kita akan mengulang kembali berkomunikasi dengannya. Inilah yang
disebut sebagai proses penguatan. Namun akan terjadi proses pelemahan jika terjadi evaluasi
negatif terhadap proses komunikasi dengan orang tersebut
Proses terjadinya komunikasi intrapersonal
Dalam komunikasi intrapersonal, akan dijelaskan bagaimana orang menerima informasi,
mengolahnya, menyimpannya dan menghasilkannya kembali. Proses pengolahan informasi,
yang di sini kita sebut komunikasi intrapersonal meliputi sensasi, persepsi, perhatian.
A. Sensasi
Tahap paling awal dalam penerimaan informasi ialah sensasi. Sensasi berasal dari kata
sense, artinya alat penginderaan, yang menghubungkan organisme dalam lingkungannya.
bila alat-alat indera mengubah informasi menjadi implus-implus saraf-dengan bahasa
yang dipahami oleh (komputer) otak-maka terjadilah proses sensasi, kata Dennis Coon
(1997:79). Sensasi adalah pengalaman elementer yang segera, yang tidak memerlukan
penguraian verbal, simbolis, atau konseptual, dan terutama sekali berhubungan dengan
kegiatan alat indera, tulis Benyamin B. Wolman (1973:343).
Melalui alat indera, manusia dapat memahami kualitas fisik lingkungannya. Lebih dari
itu, melalui alat inderalah manusia memperoleh pengetahuan dan semua kemampuan untuk
berinteraksi dengan dunianya. Tanpa alat indera manusia sama, bahkan mungkin lebih dari

rumput-rumputan, karena rumput juga dapat mengindera cahaya dan humuditas (Lefrancois,
1974:39). Dan benar juga anggapan filsuf lain, Berkeley, bahwa andaikan kita tidak
mempunyai alat indera, dunia ini tidak akan ada. Anda tidak tahu ada harum rambut yang
baru disemprot hairspray, bila tidak ada indera pencium.
Kita mengenal lima alat indera atau pancaindera. Psikolog menyebut sembilan alat
indera : penglihatan, pendengaran, kinestesis, vestibular, perabaan, temperatur, rasa sakit,
perasa, dan penciuman. Sumber informasi boleh berasal dari dunia luar (eksternal) atau dari
dalam diri individu sendiri (internal). Informasi dari luar diindera oleh eksteroseptor
(misalnya, telinga atau mata). Informasi dari dalam indera oleh interoseptor (misalnya,
sistem peredaran darah). Selain itu, gerakan tubuh kita sendiri di indera oleh proprioseptor
(misalnya, organ vestibular).
Apa saja yang menyentuh alat indera- dari dalam atau dari luar disebut stimuli. Saat ini
anda sedang membaca tulisan saya (stimuli eksternal), padahal fikiran anda sedang diganggu
oleh perjanjian hutang yang habis waktu hari ini (stimuli internal). Anda serentak menerima
dua macam stimuli. Alat penerimaan anda segera mengubah stimuli ini menjadi energi saraf
untuk disampaikan ke otak melalui proses transduksi. Agar dapat diterima pada alat indera
anda, stimuli harus cukup kuat. Batas minimal intensitas stimuli disebut ambang mutlak
(absolute threshold). Mata, misalnya, hanya dapat menangkap stimuli yang mempunyai
panjang gelombang cahaya anta 380 sampai 780 nanometer. Telinga manusia hanya dapat
mendeteksi frekuensi gelombang suara yang berkisar antara 20 sampai 20.000 hertz. Manusia
akan sanggup menerima temperatur 10C sampai 45C. dibawah 10C ia akan menggigil degan
perasaan dingin yang mencekam. Diatas 48C, ia akan meringis kepanasan.
A. Persepsi
Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang
diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah
memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli). Hubungan sensasi dengan
persepsi sudah jelas. Sensasi adalah bagian dari persepsi. Walaupun begitu, menafsirkan
makna informasi inderawi tidak hanya melibatkan sensasi, tetapi juga atensi, ekspetasi,
motivasi, dan memory (Desiderato, 1976:129).

Faktor yang mempengaruhi persepsi :

Perhatian (attention)
Perhatian adalah proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol

dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah. Perhatian terjadi bila kita
mengkonsentrasikan diri pada salah satu alat indera kita, dan mengesampikan masukanmasukan melalui alat indera yang lain.

Faktor eksternal penarik perhatian


Apa yang kita perhatikan ditentukan oleh faktor-faktor situasional dan personal. Faktor

situasional disebut sebagai determinan perhatian yang bersifat eksternal yang menarik
perhatian (attention getter). Stimuli diperhatikan karena mempunyai sifat-sifat lanjutan yang
menonjol, antara lain: gerakan intensitas stimuli, kebaruan, dan perulangan.
Gerakan. Seperti organisme yang lain, manusia secara visual tertarik pada objek-objek
yang bergerak. Kita senang melihat huruf-huruf dalam display yang bergerak menampilkan
nama barang yang diiklankan. Pada tempat yang yang dipenuhi benda-benda mati, kita akan
tertarik hanya kepada tikus kecil yang bergerak.
Intensitas Stimuli. Kita aka memperhatikan stimuli yang lebih menonjol dari stimuli yang
lain. Warna merah pada latarbelakang putih, tubuh jangkung ditengah-tengah orang pendek,
suara keras dimalam sepi, iklan setengah halaman dalam surat kabar, atau tawaran pedagang
yang paling nyaring di pasar malam, sukar lolos dari perhatian kita.
Kebaruan (Novelty). Hal-hal yang baru, yang luar biasa, yang berbeda, akan menarik
perhatian. Beberapa eksperimen juga membuktikan stimuli yang luar biasa lebih mudah
dipelajari atau diingat. Karena alasan inilah maka orang mengejar novel yang baru terbit, film
yang baru beredar, atau kendaraan yang memiliki rancangan mutakhir (karena itu pula
mengapa umumnya istri muda lebih disenangi dari istri pertama). Pemasang iklan sering
memanipulasikan unsur kebaruan ini dengan menonjolkan yang luar biasa dari barang atau
jasa yang ditawarkannya. Media massa juga tidak henti-hentinya menyajikan programprogram baru. Tanpa hal-hal yang baru, stimuli menjadi menonton, membosankan, dan lepas
dari perhatian.
Perulangan. Hal-hal yang disajikan berkali-kali, bila disertai dengan sedikit variasi, akan
menarik perhatian. Disini, unsur familiarity (yang sudah kita kenal) berpadu dengan unsur
nevelty ( yang abru kita kenal). Perulangan juga mengandung unsur sugesti: mempengaruhi
bawah sadar kita. Bukan hanya pemasang iklan, yang mempopulerkan produk dengan
mengulang-ulang jingles atau slogan-slogan, tetapi juga kaum politisi memanfaatkan

prinsip perulangan. Emil Dofivat (1968), tokoh aliran publisistik Jerman, bahkan menyebut
perulangan sebagai satu diantara tiga prinsip penting dalam menaklukan massa.

Faktor Internal Penaruh Perhatian


Faktor-faktor biologis. Dalam keadaan lapar, seluruh pikiran didominasi oleh

makanan. Karena itu, bagi orang lapar, yang paling menarik perhatiannya adalah makanan.
Yang kenyang akan menaruh perhatian pada hal-hal yang lain. Anak muda yang baru saja
menonton film porno, akan cepat melihat stimuli seksual disekitarnya.
Faktor-faktor Sosiopsikologis. Berikan sebuah foto yang menggambarkan kerumunan
orang banyak disebuah jalan sempit. Tanyakan apa yang mereka lihat. Setiap orang akan
melaporkan hal yang berbeda. Tetapi seorang pun tidak akan dapat melaporkan berapa orang
terdapat pada gambar itu, kecuali kalau sebelum melihat foto mereka memperoleh pertanyaan
itu. Bila kita ditugaskan untuk meneliti beberapa orang mahasiswi berada dikelas, kita tidak
dapat menjawab berapa orang di antara mereka yang berbaju merah.
Motif sosiogenesis, sikap, kebiasaan, dan kemauan mempengaruhi apa yang kita
perhatikan. Dalam perjalanan naik gunung, geolog akan memperhatikan batuan; ahli zoologi,
binatang; seniman, warna dan bentuk; orang yang bercinta, entahlah (Lefranncois, 1974:56).
Menurut sebuah anekdot, bila anda ingin mengetahui dari suku mana kawan anda berasal,
bawalah mereka berjalan-jalan. Tanyakan berapa perempatan yang telah dilewati. Yang dpat
menajwab pertanyaan ini pastilah orang Padang (umumnya mereka pedagang kaki lima).
Tanyakan berapa pagar tanaman hidup yang telah dilihatnya. Yang dapat menajwab pasti
orang Sunda (karena mereka menyenangi sayur-sayuran). Tanyakan berapa kuburan keramat
yang ada. Hanya orang Jawa yang bisa menjawab. Tentu saja anekdot bukanlah proposi
ilmiah. Tetapi anekdot ini menggambarkan bagaimana latar belakang kebudayaan,
pengalaman, dan pendidikan, menentukan apa yang kita perhatikan.

Faktor-faktor fungsional yang menentukan persepsi


Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masalalu dan hal-hal lain yang
termasuk apa yang kita sebut sebagai faktor-faktor personal. Yang menentukan persepsi
bukan lawan jenis atau bentuk stimuli, tetapi karakteristik orang yang memberikan respons
pada stimuli itu. Dalam suatu eksperimen Levine, Chein, dan Murphy memperlihatkan
gambar-gambar yang tidak jelas kepada dua kelompok mahasiswa. Gambar tersebut lebih
sering ditanggapi sebagai makanan oelh kelompok mahasiswa yang lapar daripada oleh
kelompok mahasiswa yang kenyang. Persepi berbeda ini tidak disebabkan oleh stimuli,
karena gambar yang disajikan sama pada kedua kelompok. Jelas perbedaan itu bermula pada
konsisi biologis mahasiswa.
Kerangka Rujukan (Frame of Reference)
Faktor-faktor fungsional yang mempengaruhi persepsi lazim disebut sebagai kerangka
rujukan. Mula-mula konsep ini berasal dari penelitian psikofisik yang berkaitan dengan
persepsi objek. Para psikolog sosial menerapkan konsep ini untuk menjelaskan persepsi
sosial.
Dalam kegiatan komunikasi, kerangka rujukan mempengaruhi bagaimana orang
memberi makna pada pesan yang diterimanya. Berbicara tentang flour albus, adnexitis,
dysmenorhhae, atau kanker cerviks dimuka ahli komunikasi, tidak ada menimbulkan
pengertian apa apa.
Faktor-faktor Struktural yang menentukan Persepsi
Faktor-faktor structural berasal semata-mara dari sifar stimuli fisik dan ekfek-efek saraf yang
ditimbulkanny pada system saraf individu. Para psikolog Gestalat, seperti Kohler,
Wartheimer, dan Koffka, merumuskan prinsip-prinsip persepsi yang bersifat structural.
Prinsip-prinsip ini kemundian terkenal dengan nama teori Gestalt. Menurut teori Gestalt,
mempersepsi sesuatu, kita mempersepsikannya sebagai suatu keseluruhan. Dengan kata lain,
kita tidak melihat bagian-bagiannya. Jika kia ingin memahami suatu peristiwa, kita tidak
dapat meneliti fakta-fakta yang terpisah; kita harus memandangnya dalam hubungan
keseluruhan

Contoh komunikasi intrapersonal


Disebuah tempat dipinggiran kota ada seorang ibu bernama Ibu Nini. Ibu Nini merupakan
ibu baru, beliau memiliki anak berusia 2 minggu. Suatu hari Bu Nini bertemu dengan teman
lamanya. Mereka saling bertukar kabar hingga percakapan mereka sampai pada masalah
tentang menyusui. Teman Ibu Nini tersebut mengatakan bahwa menyusui itu sakit dan akan
membuat payudara kendur, tidak ramping lagi dan lain-lain. Setelah pertemuan itu Bu Nini
sempat berfikir bahwa apa yang disampaikan temannya ada benarnya.
Suatu hari di kelurahan diadakan sebuah sosialisasi tentang pentingnya ASI Eksklusif yang
disampaikan oleh bidan di daerah setempat. Bu Nini tertarik untuk mengikuti sosialisasi
tersebut dan akhirnya beliau pun ikut hadir. Setelah menghadiri sosialisasi tersebut Bu Nini
berbicara dengan dirinya sendiri mengenai kebimbangannya dalam menyusui. Lalu Bu Nini
berfikir dalam hatinya, kata temanku meyusi itu menyakitkan, bisa membuat payudaraku
tidak kencang lagi, bagaimana dengan penampilanku nanti. Iya sih, menyusui memang
menyakitkan, tapi kemarin bidan sudah menjelaskan semua hal tentang pentingnya ASI
eksklusif. Kalo dipikir-pikir apa yang disampaikan bu bidan memang benar adanya.
Menurutku menyusui memang kewajiban seorang ibu. Ya..aku harus memberikan ASI
eksklusif untuk anakku.

BAB III
KESIMPULAN
Komunikasi interpersonal adalah termasuk pesan pengiriman dan penerimaan pesan antara
dua atau lebih individu. Hal ini dapat mencakup semua aspek komunikasi seperti
mendengarkan, membujuk, menegaskan, komunikasi nonverbal , dan banyak lagi. Sebuah
konsep utama komunikasi interpersonal terlihat pada tindakan komunikatif ketika ada
individu yang terlibat tidak seperti bidang komunikasi seperti interaksi kelompok, dimana
mungkin ada sejumlah besar individu yang terlibat dalam tindak komunikatif.
Konsep diri dan Persepsi interpersonal sangat dibutuhkan untuk pencapaian dalam kelancaran
komunikasi. Orang yang lancar dalam berkomunikasi berarti orang tersebut mempunyai
keahlian dalam berkomunikasi. Persepsi interpersonal besar pengaruhnya bukan saja pada
komunikasi interpersonal, tetapi juga pada hubungan interpersonal. Karena itu kecermatan
persepsi interpersonal akan sangat berguna untuk meningkatkan kualitas komunikasi
interpersonal kita.
Orang yang mempunyai keahlian komunikasi maka komunikasi orang tersebut akan berjalan
efektif. Kita harus memupuk keahlian kita dalam komunikasi interpersonal melalui konsep
diri. Konsep diri seperti yang telah tertuang diatas sangat penting dilakukan agar kita ahli
dalam berkomunikasi. Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan interpersonal yang
baik.

DAFTAR PUSTKA
Joseph A.
Devito, 1997 Komunikasi antarmanusia, profesional book, Jakarta
Jalaludin Rahmat, 2007, psikolog komunikasi

Anda mungkin juga menyukai