Anda di halaman 1dari 6

TUGAS

FIMOSIS & PARAFIMOSIS

Disusun oleh :

Eny Rizqiani
01.210.6147

Pembimbing :

Prof.DR.dr.H.Rifki Muslim, Sp.B, Sp.U

BAGIAN ILMU BEDAH


RS ISLAM SULTAN AGUNG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNISSULA
2014

FIMOSIS
1. Pengertian
Fimosis (phimosis) merupakan kondisi dimana kulit yang melingkupi kepala penis
(glans penis) tidak bisa ditarik ke belakang untuk membuka seluruh bagian kepala penis
(kulup, prepuce, preputium, foreskin,) Preputium terdiri dari dua lapis, bagian dalam dan luar,
sehingga dapat ditarik ke depan dan belakang pada batang penis. Pada fimosis, lapis bagian
dalam preputium melekat pada glans penis.Kadangkala perlekatan cukup luas sehingga hanya
bagian lubang untuk berkemih (meatus urethra externus) yang terbuka.Fimosis (phimosis)
bisa merupakan kelainan bawaan sejak lahir (kongenital) maupun didapat.
Fimosis adalah prepusium penis tidak yang tidak dapat diretraksi (ditarik) ke
proksimal sampai ke korona galndis. Hingga usia 3-4 tahun penis tumbuh dan berkembang
dan debris yang dihasilkan oleh epitel prepusium (smegma) mengumpul di dalam prepusium
dan perlahan-lahan memisahkan prepusium dari glans penis. Ereksi penis yang terjadi secara
berkala membuat prepusium terdilatasi perlahan-lahan sehinga prepusium menjadi retraktil
dan dapat ditarik ke proksimal.
Fimosis adalah penyempitan atau perlengketan kulup penis sehingga kepala penis
tidak bisa terbuka sepenuhnya. Fimosis dapat menyebabkan penumpukan smegma (kotoran
hasil sekresi kelenjar kulup) di sekitar kepala penis.Penumpukan smegma tersebut dapat
mendukung penyebaran berbagai bakteri penyebab peradangan.Jika fimosis menyebabkan
kesulitan buang air kecil sehingga urin tertahan di saluran kencing (uretra) maka dapat terjadi
infeksi uretra.Sebagian besar anak laki-laki yang baru lahir memiliki fimosis fisiologis.
Namun, fimosis ini biasanya akan menghilang sendiri setelah anak berusia tiga tahun. Jika di
usia enam atau tujuh tahun fimosis masih ada sehingga menyebabkan masalah, maka
dibutuhkan penanganan.
2. Etiologi
Fimosis pada bayi laki-laki yang baru lahir terjadi karena ruang di antara kutup dan
penis tidak berkembang dengan baik.Kondisi ini menyebabkan kulup menjadi melekat pada
kepala penis sehingga sulit ditarik ke arah pangkal.Penyebabnya bisa dari bawaan dari lahir,
atau didapat, misalnya karena infeksi atau benturan.

3. Penyebab Fimosis
Kebanyakan kasus, fimosis adalah bawaan lahir.Pada kasus yang lebih jarang, fimosis terjadi
karena kulup kehilangan kemampuan peregangan, misalnya karena peradangan atau luka
akibat pembukaan paksa kepala penis.Pembentukan jaringan parut dari bekas luka itu
mencegah peregangan kulup.
4. Macam-macam Fimosis
a)

Fimosis kongenital (fimosis fisiologis) timbul sejak lahir sebenarnya merupakan

kondisi normal pada anak-anak, bahkan sampai masa remaja.Kulit preputium selalu melekat
erat pada glans penis dan tidak dapat ditarik ke belakang pada saat lahir, namun seiring
bertambahnya usia serta diproduksinya hormon dan faktor pertumbuhan, terjadi proses
keratinisasi lapisan epitel dan deskuamasi antara glans penis dan lapis bagian dalam
preputium sehingga akhirnya kulit preputium terpisah dari glans penis.
b)

Fimosis didapat (fimosis patologik, fimosis yang sebenarnya, true phimosis) timbul

kemudian setelah lahir. Hal ini berkaitan dengan kebersihan (higiene) alat kelamin yang
buruk, peradangan kronik glans penis dan kulit preputium (balanoposthitis kronik), atau
penarikan berlebihan kulit preputium (forceful retraction) pada fimosis kongenital yang akan
menyebabkan pembentukkan jaringan ikat (fibrosis) dekat bagian kulit preputium yang
membuka.
5. Tanda dan Gejala
a)

Kulit penis anak tidak bisa ditarik ke arah pangkal ketika akan dibersihkan.

b)

Anak mengejan saat buang air kecil karena muara saluran kencing diujung tertutup.
Biasanya ia menangis dan pada ujung penisnya tampak menggembung.

c)

Air seni yang tidak lancar, kadang-kadang menetes dan memancar dengan arah yang
tidak dapat diduga.

d)

Kalau sampai timbul infeksi, maka si anak akan mengangis setiap buang air kecil dan
dapat pula disertai demam.

e)

Kadang-kadang keluhan dapat berupa ujung kemaluan menggembung saat mulai


miksi yang kemudian menghilang setelah berkemih. Hal tersebut disebabkan oleh
karena urin yang keluar terlebih dahulu tertahan dalam ruangan yang dibatasi oleh
kulit pada ujung penis sebelum keluar melalui muaranya yang sempit.

f)

Iritasi pada penis

g)

Fimosis kongenital seringkali menimbulkan fenomena ballooning, yakni kulit


preputium mengembang saat berkemih karena desakan pancaran air seni tidak
diimbangi besarnya lubang di ujung preputium. Fenomena ini akan hilang dengan
sendirinya, dan tanpa adanya fimosis patologik, tidak selalu menunjukkan adanya
hambatan (obstruksi) air seni. Selama tidak terdapat hambatan aliran air seni, buang
air kecil berdarah (hematuria), atau nyeri preputium, fimosis bukan merupakan kasus
gawat darurat.

h)

Jika fimosis menyebabkan hambatan aliran air seni, diperlukan tindakan sirkumsisi
(membuang sebagian atau seluruh bagian kulit preputium) atau teknik bedah plastik
lainnya seperti preputioplasty (memperlebar bukaan kulit preputium tanpa
memotongnya). Indikasi medis utama dilakukannya tindakan sirkumsisi pada anakanak adalah fimosis patologik.

6.Komplikasi
a) Ketidaknyamanan / nyeri saat berkemih.
b) Akumulasi sekret dan smegma di bawah prepusium yang kemudian terkena infeksi
sekunder dan akhirnya terbentuk jaringan parut.
c) Pada kasus yang berat dapat menimbulkan retensi urin.
d) Penarikan prepusium secara paksadapat berakibat kontriksi dengan rasa nyeri dan
pembengkakan glans penis yang disebut parafimosis.
e) Pembengkakan/radang pada ujung kemaluan yang disebut balinitis.
f) Timbul infeksi pada saluran air seni (ureter) kiri dan kanan, kemudian menimbulkan
kerusakan pada ginjal.
g) Fimosis merupakan salah satu faktor resiko terjadinya kanker penis.
7.Penatalaksanaan
Ada tiga cara untuk mengatasi fimosis yaitu:
a)

Sunat

Banyak dokter yang menyarankan sunat untuk menghilangkan masalah fimosis secara
permanen.Rekomendasi ini diberikan terutama bila fimosis menimbulkan kesulitan buang air
kecil atau peradangan di kepala penis (balanitis). Sunat dapat dilakukan dengan anestesi
umum ataupun local
b)

Obat

Terapi obat dapat diberikan dengan salep yang meningkatkan elastisitas kulup.Pemberian

salep kortikoid (0,05-0,1%) dua kali sehari selama 20-30 hari, harus dilakukan secara teratur
dalam jangka waktu tertentu agar efektif.
c)

Peregangan

Terapi peregangan dilakukan dengan peregangan bertahap kulup yang dilakukan setelah
mandi air hangat selama lima sampai sepuluh menit setiap hari. Peregangan ini harus
dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari luka yang menyebabkan pembentukan parut.
GAMBAR UNTUK FIMOSIS

PARAFIMOSIS
Parafimosis merupakan kasus gawat darurat yang merupakan kondisi dimana kulit
preputium setelah ditarik ke belakang batang penis sampai di sulkus koronarius tidak dapat
dikembalikan ke posisi semula ke depan batang penis. Kulit preptium yang tidak bisa kembali
ke depan batang penis akan menjepit penis sehingga menimbulkan bendungan aliran darah
yang disebabkan gangguan aliran balik vena superfisial sedangkan aliran arteri tetap berjalan
normal. Hal ini menyebabkan edema glans penis dan dirasakan nyeri.Jika dibiarkan bagian
penis disebelah distal jeratan makin membengkak yang akhirnya bisa mengalami nekrosis
glans penis.

1.

Definisi
Parafimosis adalah prepusium penis yang diretraksi sampai disulkus koronarius
tidak dapat dikembalikan pada keadaan semula dan timbul jeratan pada penis dibelakang
sulkus koronarius.

2.

Etiologi
Menarik (retraksi) prepusium ke proksimal biasanya dilakukan pada saat
bersenggama/masturbasi atau sehabis pemasangan kateter.

3.

Patogenesis
Parafimosis merupakan kasus gawat darurat. Upaya untuk menarik kulit
preputium ke belakang batang penis, terutama yang berlebihan namun gagal untuk
mengembalikannya lagi ke depan manakala sedang membersihkan glans penis atau saat
memasang selanguntuk berkemih (kateter), dapat menyebabkan parafimosis. Kulit
preptium yang tidak bias kembali ke depan batang penis akan menjepit penis sehingga
menimbulkan bendungan aliran darah dan pembengkakan (edema) glans penis dan
preputium, bahkan kematian jaringan penis dapat terjadi akibat hambatan aliran darah
pembuluh nadi yang menuju glans penis.

4.

Tata Laksana
Prepusium diusahakan untuk dikembalikan secara manual dengan teknik memijat
glans selama 3-5 menit diharapkan edema berkurang dan secara perlahan-lahan
prepusium dikembalikan pada tempatnya.Jika usaha ini tidak berhasil, dilakukan dorsum
insisi pada jeratan sehingga prepusium dapat dikembalikan pada tempatnya. Setelah
edema dan proses inflamasi menghilang, pasien dianjurkan untuk menjalani sirkumsisi.
Walaupun demikian, setelah parafimosis diatasi secara darurat, selanjutnya diperlukan
tindakan sirkumsisi secara berencana oleh karena kondisi parafimosis tersebut dapat
berulang atau kambuh.

Anda mungkin juga menyukai