Anda di halaman 1dari 50

PENDAHULUAN

Pemeriksaan fisik merupakan penilaian terhadap tubuh untuk menentukan


status kesehatan. Tekniknya meliputi Inspeksi, Palpasi (merasakan dengan
menggunakan tangan dan atau jari), perkusi (mengetuk dengan jari), Auskultasi
(mendengarkan), mencium. Pengkajian kesehatan yang lengkap meliputi
mendapatkan informasi tentang riwayat kesehatan dan gaya hidup, hasil lab yang
berhubungan, dan screening test.
Teknik pemeriksaan itu sebagai sumber data yang dapat menentukan diagnosa dan
rencana tindakan.
Pemeriksaan fisik yang komprehensif memungkinkan tenaga kesehatan
untuk mendapatkan informasi yang berhubungan sebelum masalah terjadi.
Pemeriksaan fisik yang lengkap biasanya dimulai dengan head to toe,
bagaimanapun prosedur yang tepat akan bervariasi sesuai dengan kebutuhan orang
yang diperiksa dan pemeriksa.
Pemeriksaan fisik yang komprehensif memberikan kesempatan bagi
tenaga perawat kesehatan profesional untuk memperoleh data dasar tentang
kondisi kesehatan individu yang sangat penting untuk menetukan tindakan
keperawatan selanjutnya.
Sehubungan dengan hal tersebut , maka pada kesempatan ini penulis
mencoba untuk menguraikan secara lebih rinci mengenai pemeriksaan fisik lanjut
system pernafasan, pemeriksaan diagnostik, serta diagnosa keperawatan yang
sering ditemukan pada klien dengan gangguan system pernafasan.

PENGKAJIAN KEPERAWATAN LANJUT


SISTIM PERNAFASAN
I. Anatomi Fisiologi
Organ-organ pernapasan :
Hidung/naso/nasal
Hidung mempunyai dua lobang (kavum nasi), dipisahkan oleh sekat yaitu
septum nasi.
Bagian dari hidung :
1. Bagian luar dinding terdiri dari kulit
1. Bagian tengah terdiri dari otot dan tulang rawan
2. Bagian dalam terdiri dari selaput lender yang berlipat-lipat (konka nasalis),
yang berjumlah 3 buah :
a. Konka nasalis inferior
b. Konka nasalis media
c. Konka nasalis superior

Fungsi hidung, terdiri dari :


1. Bekerja sebagai saluran udara pernapasan
2. Penyaring udara pernapasan
3. Menghangatkan udara pernapasan oleh mukosa
4. Membunuh kuman yang masuk bersama leukosit yang terdapat dalam
selaput lender mukosa hidung.
Pharing
Merupakan tempat persimpangan antara jalan napas jalan makanan. Terdapat
di bawah dasar tengkorak, belakang rongga hidung dan mulut sebelah depan
ruas tulang leher.
Rongga tekak dibagi dalam 3 bagian :
1. Naso faring
2. Oro faring
3. Laringo faring
Laring
Merupakan saluran udara dan sebagai pembentukan suara terletak di depan
faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk trakea dibawahnya.
Terdiri dari lima tulang rawan :
1. Kartilago tiroid (1 buah) depan jakun (adams aple)
2. Kartilago ariteanois (2 buah)
3. Kartilogo krikois (1 buah)
4. Kartilago efiglotis (1 buah)
Trakea
Merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16 20 cincin yang
terdiri dari tulang-tulang rawan berbentuk huruf C. Panjang trakea 9 11 cm
dan di belakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh otot polos. Selsel bersilia gunanya untuk mengeluarkan benda-benda asing yang masuk
bersama-sama dengan udara pernapasan.
3

Bronkus
Lanjutan dari rakea ada dua buah yang terdapat pada ketinggian vertebra
torakalis ke IV dan V yaitu bronkus. Bronkus bercabang-cabang disebut
bronkiolus dan pada bagian ini tidak terdapat cincin lagi, pada ujungujungnya terdapat gelembung hawa atau alveoli.
Paru-paru
Sebagian besar terdiri dari alveoli yang terdiri dari sel-sel epitel
dan endotel, luasnya sekitar 90 m2 pada lapisan ini terjadi pertukaran udara
antara O2 dan CO2. Banyaknya gelembung

sekiar 700.000.000 bauh.

Terdapat dua buah paru-paru, yairtu paru dektra dan paru sinistra.
Gambar A : Skema susunan pernapasan memperlihatkan hubungan paruparu dengan organ saluran pernapasan atas.
Gambar B : Lembar-lembar pleura dan cavitas pleuralis.

Letak paru-paru :
Pada rongga dada datarannya menghadap ke tengah rongga dada / cavum
mediastinum. Bagian tengah terdapat tampuk paru-paru atau hilus.
Selaput paru-paru :
1. Pleura viseralis
2. Pleura parietalis
Antara kedua pleura ini terdapat rongga (kavum) yang disebut kavum
pleura, permukaannya dilapisi oleh cairan yang disebut eksudat,
berguna menghindari gesekan antara paru-paru dan dinding dada pada
waktu bernapas.
MEKANISME PERGERAKAN PERNAPASAN
Proses terjadinya pernapasan :
1. Inspirasi (menarik napas)
2. Ekspirasi (menghembuskan napas)
Keduanya berlangsung secara teratur.
Pernapasan berarti melakukan inspirasi dan ekspirasi secara
bergantian, teratur, berirama, dan terus-menerus. Bernapas merupakan
gerakan reflek yang terjadi pada otot-otot pernapasan yang diatur oleh
pusat pernapasan yang terletak di dalam sumsum penyambung (medulla
oblongata), untuk pengaturan napas juga dipengaruhi oleh korteks serebri.
INSPIRASI
Inspirasi, terjadi bila muskulus diapragma telah mendapat
rangsangan dari nervus prenikum lalu mengkerut datar. Muskulus
interkostalis yang letaknya miring, setelah mendapat rangsangan kemudian
mengerut dan tulang iga (kosta) menjadi datar. Dengan demikina jarak
aorta sternum dan vertebra semakin luas dan melebar. Rongga dada
membesar maka pleura akan tertarik, dengan demikian menarik paru-paru
maka tekanan udara di dalamnya berkurang dan masuklah udara dari luar.
Pada inspirasi terjadi pembesaran rongga dada ke arah :
5

1. Vertikal (atas-bawah), yang dilakukan oleh kontraksi otot


diaphragma
2. Anteroposterior dan lateral (transversal), Terutama akibat kontraksi
M. intercostalis externus.

Pengembangan dan pengempisan rangka dada selama ekspiras dan


inspirasi menggambarkan kontraksi diafragma, elevasi rangka iga, dan
fungsi otot interkostalis.
Vertikal
Otot diaphragma dipersarsfi

N. phrenicus. Bila berkontraksi, bentuk

asalnya yang seperti kubah akan menjadi mendatar sehingga tekanan


abdominal meninggi dan dinding perut menonjol ke luar. Pernapasan ini
kadang-kadang disebut juga tipe pernapasan perut (abdominal respiration).
Transversal
Kontraksi M. intercostalis externus yang mengakibatkan pelebaran rongga
dada ke kiri/kanan dan depan/belakang terjadi karena struktur otot ini
terhadap tulang-tulang iga dan sternum. Mekanisme melebarnya rongga
dada adalah sebagai berikut;

1. Tulang-tulang iga yang berperan terutama iga ke-2 sampai iga ke-l0.
Tiap pasang tulang iga merupakan sebuah cincin yang mengarah
miring (oblique) dari belakang ke bawah muka. Pergerakan bagian
ujung depan mengakibatkan sternum terangkat (pelabaran diameter
anteroposterior).
2. Bersamaan dengan itu terdapat pula pargerakan tulang-tulang lain
karena kedudukan sumbu (axis)-nya ke arah lateral, yang menambah
diameter transversal rongga dada.
Kenyataan bahwa otot-otot intercostalis externus ini yang berperan dapat
dibuktikan dengan pemasangan elektroda permukaan pada otot tersebut.
Akan terlihat aksi potensial.
Otot tambahan lnspirasi
Disamping kedua otot tersebut, pada inspirasi dapat bekerja pula otot
pernapasan lainnya yang biasa disebut otot-otot pernapasan tambahan
(accesorius), yaitu :
M. scalenus (posterior-media-anterior)
M. sternocleidomastoideus
M. pectoralis
M. serratus anterior
M. trapezuis
M. latissimus dorsi
M. levator costarum
Peran Otot Scalanus dalam inspirasi
Karena pada waktu inspirasi iga-iga turus terangkat, tentu harus ada titik
yang tetap yaitu tulang iga ke-1 dan hal ini dipertahankan oleh otot
scalenus. Hal ini terbukti dari kenyataan bahwa keaktifan listrik dari otot
ini hanya terjadi pada waktu inspirasi.

Sternocleidomastoideus dan inspirasi yang kuat.


Otot pernapasan tambahan yang penting yaitu M sternocleidomastoideus,
yang dibuktikan dengan adanya keaktifan istrik pada inspirasi yang kuat
(usaha & dyspneu).
EKSPIRASI
Ekspirasi pada pernapasan biasa merupakan proses pasif, yaitu
relaksasi otot-otot pernapasan yang bekerja pada inspirasi. Pada suatu saat
otot-otot akan kendor lagi, (diapragma akan menjadi cekung, muskulus
intercostalis miring lagi) dan dengan demikian rongga dada menjadi kecil
kembali, maka udara didorong ke luar. Jadi proses respirasi ini terjadi
karena adanya perbedaan tekanan antara rongga pleura dan paru-paru.
Selama pernapasan normal dan tenang, hampir semua kontraksi otot
pernapasan hanya terjadi selama inspirasi, sedangkan ekspirasi adalah
proses hampir seluruhnya pasif akibat elastisitas paru (elastic recoil) dan
struktur rangka dada. Karena elastisitasnya, dinding rongga dada kembali
ke posisi semula pada akhir ekspirasi.
Ekspirasi Kuat
Pada ekspirasi kuat dipergunakan pula otot-otot ekspirasi:
M. intercostalis internus
M. serratus posterior minor
Triangular muscle of sternum
Peranan Otot Dinding Perut dalam Ekspirasi yang Sangat Kuat
Sebagai otot ekspirasi tambahan adalah otot-otot dinding perut yaitu M.
obliquus abdominalis internus et externus dan M. rectus abdominalis,
terutama pada ekspirasi sangat kuat (bersin, batuk, dan mengedan). Otototot perut ini bekerja dengan dua jalan:
1. Meninggikan tekanan intra-abdominal sehingga perut menekan
diafragma ke atas.

2. Menarik iga-iga terbawah ke medial dan ke bawah.


Pada pernapasan biasa otot-otot perut ini tidak menunjukkan aktivitas
listrik.
Fisiologi pernapasan :
Pernapasan paru-paru (pernapasan pulmoner) merupakan pertukaran oksigen
dan karbondioksida yang terjadi pada paru-paru.
Empat proses yang berhubungan dengan pernapasan pulmoner :
1. Ventilasi pulmoner, yaitu pertukaran udara dalam alveoli dengan udara luar.
2. Arus darah melalui paru-paru
3. Distribusi arus darah dan arus udara
4. Difusi gas yang menembus membrane pemisah alveoli dan kapiler.
Karbondioksida lebih mudah berdifusi dari pada oksigen.
Pernapasan jaringan atau pernapasan internal
Darah yang telah banyak mengandung oksigen (oxihemoglobin) mengitari
seluruh tubuh masuk ke dalam jaringan dan akhirnya mencapai kapiler, darah
mengeluarkan oksigen ke dalam jaringan dan mengambil karbon dioksida
untuk dibawa ke paru-paru dan di paru-paru terjadi pernapasan eksterna.
Daya muat paru-paru
Daya muat dalam paru-paru 4500 5000 ml udara. Sedangkan udara yang
dihirup dan dihembuskan pada pernapasan biasa sekitar 500 ml atau 10 % nya,
dan disebut udara pasang surut/ velume tidal paru.
Kecepatan pernapasan
Pada wanita lebih tinggi dari pada pria, pernapasan secara normal ekspirasi
akan menyusul inspirasi kemudian istirahat, Inspirasi Ekspirasi Istirahat.
Pada bayi yang sakit adakalanya urutannya terbalik, Inspirasi Istirahat
ekpsirasi.
Kecepatan normal setiap menit :
9

Dewasa

: 16 18 kali/menit

Anak-anak

: 24 kali/menit

Bayi

: 30 kali/menit

Kebutuhan tubuh terhadap oksigen


Manusia perlu oksiogen, kalau tidak mendapatkan oksigen selama lebih
dari 4 menit akan mengakibatkan kerusakan pada otak yang tidak dapat
diperbaiki,

dan biasanya

dapat

menimbulkan

kematian.

(Pearce,

1993;223).
PRINSIP MEKANIK PERNAPASAN
Silat Elastis Paru-Paru & Thorax
Sifat elastis paru-paru juga thorax (sedikit), berperan penting pada
keluar masuknya udara pernapasan atau yang lebih tepat disebut sebagai
ventilasi paru-peru. Sifat elastis keduanya itu dapat dilihat dari percobaan
pada binatang, yaitu apabila kita membuka rongga dada binatang
percobaan sehingga ruang pleura berhubungan denqan udara luar, akan
terlihat sekaligus 3 peristiwa :
1. Udara luar akan masuk ke ruang pleura sehingga terjadi apa yang
disebut pneumothorax terbuka.
2. Paru-paru akan kolaps (menciut) di mana volume paru-paru akan
kurang dari volume residual
3. Dinding thorax akan sedikit terkuak ke luar (membuka).

Peristiwa-peristiwa

ini

disebabkan

karena

paru-paru

dan

thorax

mempunyai 5 sifat dasar dari strukturnya :


1. Paru-paru merupakan kantung elastik
2. Thorax (rongga dada) merupakan struktur elastis yang tertutup.
4. Volume thorax dapat diubah dengan otot-otot thorax dan diaphragma
2. Thorax terisi padat dengan berbagai organ.
10

3. Volume relaksasi thorax lebih besar dari volume relaksasi paru-paru


Paru-paru sebagai Kantung Elastik
Ini berarti volume paru-paru tergantung dari perbedaan tekanan di dalam
dan di luar paru-paru. Bila kantong demikian ditiup (diisi) sedikit-sedikit
akan didapat hubungan antara volume dan tekanan transmural yang
merupakan perbedaan antara tekanan alveolus dan tekanan ruang pleura.
TEKANAN INTRAPULMONAL
Balance point dari kekuatan-kekuatan elastik tersebut terjadi di
akhir ekspirasi di mana otot-otot respirasi sedang berelaksasi Karena paruparu tertarik (terentangkan) dan thorax tertekan (compressed), kedua
struktur tersebut berusaha untuk saling memisahkan diri. Akibatnya terjadi
tekanan negatif di antaranya (rongga pleura) = intrapleural = intrathorax
pressure sebesar kira-kira 6 cmH 2O (tekanan atmosfir = 0). Hal ini terjadi
pada orang dewasa saat pause expiratoir.
Sebaliknya pada bayi yang baru ahir, volume relaksasi paru kurang
lebih sama dengan volume ruang thorax sehingga pada expiratory pause
tidak ada tegangan baik pada dinding paru-paru ataupun thorax. Tekanan
intrapleural tidak (-), tapi negatif pada waktu inspirasi. Keadaan ini akan
berakhir karena pada anak, pertumbuhan thorax ebih cepat tumbuh dari
pada paru-paru.
Pengukuran tekanan intrapleural bisa dilakukan dengan canula
yang dihubungkan dengan manometer pada rongga pleura atau dengan
mengukur tekanan intraoesophageal melalui mulut.
1. Pada inspirasi dalam dengan thorax (paru-paru) lebih berkembang,
tekanan intrapleural sekitar - 30 mmHg.
2. Pada ekspirasi kuat dengan glottis tertutup (mengedan, batuk, atau
bersin) tekanan intrapleural 110 mmHg dalam 1-2 detik bisa
dicapai/dipertahankan.
PERUBAHAN TEKANAN & VOLUME PARU
11

Perubahan Tekanan dan Volume pada Waktu Inspirasi


Penambahan volume paru-paru pada inspirasi menegangkan
jaringan elastis paru-paru yang menyebabkan paru-paru mencoba
melepaskan diri dari dinding thorax. Akibatnya tekanan intrapleura
menurun sementara volume paru-paru bertambah.
Tentang tekanan di dalam paru-paru (intrapulmonale = intraalveoler
pressure) dapat dijelaskan sebagai berikut :
Sebelum inspirasi dimulai, jalan-jalan udara terbuka, tapi udara yang
bergerak masuk belum banyak karena tekanan di dalam paru-paru =
tekanan atmosfir. Tepat pada saat inspirasi dimulai, di mana paru-paru
mengembang, gas yang ada di dalamnya menjiadi jarang (rarefied) dan
tekanan dalam paru-paru turun Tekanan ini turun sampai 2 3 cmH 2O
pada inspirasi norma. Bila jalan udara tersumbat, tekanan serendah - 110
cmH2O ( - 80 mmHg ) bisa terjadi saat usaha inspirasi maksimal.
Volume Aliran Udara pada Inspirasi
Berkurangnya tekanan di dalam alveoli menyebabkan udara masuk
ke paru-paru Kecepatan masuknya udara ini tergantung dari perbedaan
tekanan dari mulut ke alveoli (the trans-airway pressure) dan tergantung
dari resistensi jalan udara ini terhadap aliran udara tersebut.
Pada permutaan inspirasi, semua usaha otot (kontraksi) terutama
ditujukan untuk menambah luas paru-paru (volume), sehingga waktu
inspirasi seterusnya kekuatan otot ini diperlukan untuk mengimbangi
bertambahnya tekanan elastik paru-paru dan kekurangan regangan thorax
(volume dada). Peristiwa ini dapat dibuktikan dengan elektromyografi dari
otot-otot inspirasi di mana terlihat penambahan aktivitas listrik otot secara
progresif pada inspirasi. Akibatnya aliran udara tercepat ada di tengahtengah siklus inspirasi.
Perubahan Tekanan dan Volume pada Ekspirasi.
12

Ekspirasi dimulai bila otot inspirasi berelaksasi, sehingga serabut


elastik paru-paru memendek. Akibatnya tekanan intrapulmonal naik 2 3
cmH2O dan gas keluar dari paru-paru.
Paru-paru terus mengerut sampai kekuatan elastisnya dilawan oleh
kekuatan elastik thorax. Tekanan intrapleural naik secara cepat bila otot
inspirasi berelaksasi.
Pada waktu ekspirasi cepat, yaitu di mana otot-otot ekspirasi aktif,
tekanan intrapleural ini bisa melebihi tekanan atmosir. Bila saluran udara
terhalang (dihalangi oteh glotis) tekanan intrapleurat bisa naik sampai +
135 cmH2O (+100 mmHg) pada waktu ekspirasi maksimal (mengedan,
batuk).
Volume Aliran Udara pada Ekspirasi
Aliran udara ini tersebar pada fase permulaan ekspirasi karena
tahanan elastik paru-paru terbesar pada saat itu dan regangan thorax
terkecil. Oleh karena aktivitas otot-otot inspirasi tidak serentak berhenti
pada akhir Inspirasi, perlu waktu untuk aliran udara tesebut mencapai
maksimum.
Selama ekspirasi ini berlangsung terus, kekuatan-kekuatan yang
bertentangan dari daya elastik paru-paru dalam thorax menjadi seimbang
secara pelan-pelan, aliran udara keluar paru-paru pun berkurang sebanding
dengan tegangan daya elastis tadi.
PERTUKARAN & TRANSPORT GAS PERNAPASAN
Ventilasi Paru-Paru
Telah disinggung bahwa ventilasi atau minute volume adalah jumlah udara
yang keluar masuk paru-paru selama 1 menit, jadi;
V = VT X f
Dimana :

13

VT = tidal volume

= 500 ml

f = frekuensi

= 12 x/menit

V = ventilasi

= 500 X 12
= 6000 ml

Harga tersebut merupakan harga rata-rata untuk orang dewasa pada


keadaan istirahat. Tentu pada waktu bekerja VT ini disesuaikan dengan
keperluan peningkatan metabolisme, misalnya pada kerja berat dapat
mencapai 120 liter /menit.
Dead Space / Rongga Mati (VD)
Tidak semua udara yang masuk saluran pernapasan masuk alveoli
di mana pertukaran gas sebenamya terjadi. Gas yang berada di trachea,
bronchi, can bronchioli (nonrespiratorius) tidak ikut dalam proses
pertukaran gas. Hal ini disebut dead space (V D = 150 ml), dan lebih tepat
lagi bila disebut anatomical dead space. Karena tidak semua gas yang
masuk ke alveoli/bronchus respiratorius ikut dalam proses pertukaran gas
(misalnya kapiler di alveolus itu tidak berfungsi), maka rongga ini akan
lebih besar lagi, selalu bervariasi, dan disebut physiological dead space.
Ventilasi Alveolus:
Sebelum inspirasi mulai, rongga mayi terisi oleh gas dari alveoli dengan
susunan :
O2

= 14 %

CO2

= 56 %

N2

= 78,4 %

Udara luar mengandung :


O2

= 20,98 %

CO2

= 0,004 %

N2

= 78,06 %

14

Karena tidal volume = 500 ml, maka kemungkinan (500 150) 360 ml
udara luar sampai pada alveoli dalam satu kali inspirasi, sehingga ventitasi
alveoli adalah :
VA = VT VD Per inspirasi
VA = f ( VT VD )
Ventilasi alveolus per menit = 12 x 350 = 4,2 l/menit
Distribusi Gas dalam Paru-paru
Seperti kita ketahui petukaran gas yang masuk paru-paru terjadi di
alveolus. Ternyata karena alveoli ini cukup kecil dan banyak di paru-paru
(permukaan total alveoli = 90 m2, kapiler alveoli = 70 m2 = 440 x luas
permukaan badan). Gas tersebut akan mencapai keseimbangan di
dalamnya hanya dengan cara sederhana yaitu difusi. Dalam proses ini
bagian gas pernapasan seperti O2, CO2 dan N2 berdifusi seoah-olah
masing-masing berada tersendiri, yakni aaan berdifusi dari daerah tinggi
ke daerah yang rendah konsentrasinya. Sehingga gas tadi akan sedikit dan
udara alveolus tadi mengembang hingga O2 = 14 %, CO2 = 5,6 %, uap air
dan N2 sisanya.
Difusi dan Membran Paru-Paru
Telah disebutkan bahwa antara udara inspirasi dengan udara
alveolus terjadi difusi sampai tercapai keseimbangan. Akan tetapi
pergerakan O2 dari alveoli ke aliran darah dulu dikira sebagai proses yang
amat kompleks. Disebutkan antara lain bahwa epitel paru-paru secara aktif
menyertai sekresi O2 ke dalam darah. Hal ini terjadi pada ikan tertentu.
Krogh kemudian mencoba untuk meneliti dan membuktikan bahwa
proses difusi cukup menerangkan secara memuaskan pergerakan gas
menembus membran paru-paru pada mamalia. Difusi ini menembus
lapisan-lapisan secara berturut-turut :
- Membran alveolus
- Cairan interstitial
15

- Membran kapiler
- Plasma Dinding eritrosit
Gerakan O2 ke dalam Eritrosit
Karena koefisien solute kurang dari 1, maka umumnya semua gas
pernapasan akan berdifusi lebih lambat dalam cairan daripada dalam gas.
Jadi penghalang terbesar difusi O2 dan CO2 adalah membran paru-paru
ditambah waktu untuk menembus membran eritrosit dan melengkapi
reaksi-reaksi kimia. Tetapi seluruh waktu ini masih lebih cepat daripada
waktu dalam kapiler.
Darah yang Sampai di Paru-Paru & Jaringan
Pada waktu darah masuk kapiler (alveoli), O2 berdifusi dari alveoli
ke plasma lalu ke eritrosit (reservoir O 2) sehingga PO2 darah naik. Isi O2
pada eritrosit berbeda dengan PO2 darah + plasma, tetapi keduanya
berhubungan. Hanya dalam waktu 0,3 detik reservoir O 2 (eritrosit) terisi
dimana PO2 darah ini = PO2 alveoli (PO2 = 40 mmHg; PO2 = 46 mmHg).
Efisiensi Kerja Pernapasan
Efisiensi otot-otot pernapasan adalah rendah, yakni kurang lebih 5
10 % dan energi yang dipakai diubah menjadi energi kerja. Bahkan bila
total konsumsi O2 pada waktu istirahat = 300 ml/menit, hanya 4 8 ml
saja digunakan untuk usaha pernapasan. Pada hiperventilasi terjadi
ketidakseimbangan penambahan konsumsi O2 otot-otot pernapasan. Telah
dihitung bahwa pada ventilasi paru-paru = 120 liter/menit, otot-otot
pernapasan memerlukan lebih dari 1 liter O2/menit.
Seseorang yang fungsi mekanis paru-parunya terganggu oleh suatu
penyakit, memperlihatkan kenaikan konsumsi O2 dari otot-otot pernapasan
pada pernapasan tenang. Lebih-lebih kenaikan konsumsi O2 ini akan
sangat terlihat pada waktu ventilasi bertambah sehingga pada ventilasi 20
l/menit saja konsumsi O2 otot-otot pernapasan bisa mencapai 200 ml/menit
16

pada organ tersebut. Oleh kerena kenaikan konsumsi O 2 pernapasan tidak


sebanding dengan kenaikan ventilasi, bahkan pada orang normal, tentu
pada satu titik keadaan akan dicapai di mana penambahan O2 yang
didatangkan dengan penambahan ventilasi akan terpakai oleh otot
pernapasan. Sehingga di atas titik ini, penambahan ventilasi selanjutnya
tidak akan berguna pada organisme tersebut.
Titik kritis ini terjadi pada kurang lebih 140 1/menit pada orang
normal, sedangkan pada penderita emphysema tercapai pada ventilasi
lebih rendah, yaitu tidak lebih dan 20 1/menit.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Difusi Gas-Gas Melalui
Membran Paru-Paru ;
1. Tekanan partial gas
PO2 = V naik PO2 naik beda tekanan untuk difusi
PCO2 = vena PO2 + kecepatan aliran kapiler.
2.

Luas membran paru-paru; 750 juta alveoli = 50 m2

3.

Sifat tebal dan panjang membran yaitu Edema dan Fibrosis

4.

Ratio ventilasi perfusi


Veritilasi alveoler normal = 4 liter/menit di mana curah jantung = 5

liter/menit, sehingga ratio ventilasi-perfusi secara keseluruhan = 0,8


(optimal).
Tetapi ventilasi dan perfusi tidak seragam di seluruh paru paru. Untuk
orang normal ketidakseragaman ini kecil, meskipun hal itu berefek pula
pada PO2 level pada darah arteri, hanya 95 mmHg sampai 100 mmHg
untuk gas alveoli.
Rasio ini berarti secara klinik karena pada keadaan trombus atau
emphysema bisa terjadi underperfusi di daerah tertentu meskipun ratio
ventilasi-perfusi secara keseluruhan cukup.

17

Transport O2
Transport O2 = 98,5 %. O2 yang berdifusi dari alveolus ke plasma
terikat masuk ke daerah eritrosit yaitu dengan hemoglobin. Hanya
sebagian kecil saja larut dalam plasma dan terbawa ke jaringan perifer.
Karena koefisien kelarutan O2 dalam cairan seperti plasma hanya sebesar
2,44 ml O2/100 ml per tekanan atmosis (760 mmHg), hanya 0,3 ml O 2
larut pada 100 ml plasma dengan tekanari O 2 = 95 mmHg pada darah
arteri.
Hemoglobin dalam molekul protein (68.000) bisa mengikat 4
molekut O2 masing-masing. Karena kadar Hb normal = 15 gr % (15 gr/100
ml), maka 1 gr Hb bisa mengikat 134 ml dan oxygen capacity adalah (15 x
134) ml/100 ml darah = 20 vol %. Bila metabolisme naik maka PO 2
jaringan turun, PCO dan CH+ naik sehingga ekstraksi O2 lebih besar.
Transport CO2 :
CO2 diangkut oleh darah dalam 3 bentuk :
1. Sebagai bikarbonat (HCO3-) = 43 vol %
2. Kombinasi dengan protein (carbamino):
2 vol % carbamino Hb
1 vol % carbamino plasma protein
3. Sebagai larutan biasa = 2,4 vol %
CO2 yang masuk ke darah kapiler membentuk tiga bentuk yaitu ;
65 % bicarbonat
27 % carbamino compound
8 % sebagai larutan.
PENGATURAN PERNAPASAN
Pernapasan & Sirkulasi
Pernapasan dan sirkulasi sangat erat hubungannya sehingga pusat
keduanya sangat berdekatan yaitu pada medula oblongata. Tetapi secara
fungsional pusat tadi berbeda. Pusat peredaran darah berfungsi semata-

18

mata regulasi, artinya bila hubungan dengan pusat terputus, jantung masih
tetap bekerja, ini berarti sirkulasi tidak berhenti. Jadi jantung merupakan
organ otonom yang mampu mengautoregulasi. Sedangkan jika pusat
pernapasan dirusak, maka pernapasan akan berhenti. Jadi selain regulasi,
pusat pernapasan berfungsi memelihara agar proses pernapasan tidak
berhenti.
Lokalisasi Pusat Pernapasan
Lokalisasi pusat pernapasan dipelajari dengan cara :
1. Memotong batang otak dan medula oblongata pada berbagai
ketinggian
2. Melihat efek berbagai rangsang listrik secara lokal
3. Merekam perubahan potensial aksi dengan ultramikro elektroda
Pemotongan batang otak dan medula oblongata dilakukan pada
empat tempat, sehingga orang mengira babwa di daerah antara
pemotongan itu terdapat berbagai central yang saling mempengaruhi.
1. Pernotongan di atas pons, menyebabkan cerebrum, cerebelum, dan
batang otak tengah terisolir. Pernapasan masih tidak terganggu.
2. Pemotongan di atas 1/3 bagian dari pons, pernapasaan menjadi lebih
lambat dan dalam. Bila N.vagus ikut dipotong maka terjadi
penghentian pernapasan pada stadium inspirasi (apneusis)
3. Pemotongan antara pons dan medula oblongata, pernapasan menjadi
tidak teratur baik frekuensi maupun volumenya. Pemotongan N.vagus
hanya berpengaruh sedikit.
4. Pemotongan medula oblongata bagian bawah, terjadi penghentian
pernapasan pada keadaan akhir inspirasi (apneu).
Secara fungsional (tidak pernah secara anatomi) pada pusat pernapasan ini
dibedakan menjadi pusat ekspirasi dan insprasi.
Pneumotaxic centre rupanya berpengaruh menahan atau inhibisi dari
penghentian pusat pernapasan, sedangkan Aneutic centre berfungsi
stimulasi.
19

Selain itu, berjalan juga impuls dari pusat pernapasan ke kedua pusat yang
lebih tinggi itu.
Hubungan Pusat Pernapasan & Paru-Paru
Hubungan antara pusat pernapasan dengan penifer (paru-paru)
dilakukan dengan jalan efferent dan afferent. Neuron motorik otot-otot
pernapasan diantara V1 tertinggi adalah diaphragma yang dipersarafi N.
phrenicus (dari segmen C 3 - 5).
Terdapat tiga buah syaraf afferent penting, yaitu:
1. N. vagus, menghubungkan pusat pernapasan dengan resepto-resepor
regangan di jaringan paru-paru.
2. Melalul N. glossopharyngeus dan N. vagus, pusat pernapasan
dihubungkan dengan chemoreceptor di perifer. Chemoreceptor ini
berperan penting pada pengaturan secara kimia dari pernapasan.
3. Pusat pernapasan berhubungan dengan chemoreceptor central yang
terletak sebelah ventral bagian atas medula spinalis yang berfungsi
pada pusat pernapasan secara kimia.

20

II. Pengkajian
A. Observasi
Observasi penampilan umum klien sebelum memulai pemeriksaan
system pernafasan yang lebih rinci, temukan adanya tanda-tanda berikut
ini : (Ali : 1994)
1. Dispne
Perhatikan apakah terdapat tanda-tanda dispne pada waktu
istirahat, respirasi rate yang abnormal, penggunaan otot- otot bantu
pernafasan, pola nafas abnormal : pernafasan Cheyne Stokes, pernafasan
Kussmaul, hyperventilasi, pernafasan biot, pernafasan apnestik.
2. Sianosis sentral, Amati adanya sianosis sentral pada lidah atau mukosa
Sianosis sentral dapat terjadi akibat penyakit paru yang cukup
berat untuk menimbulkan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi.
3. Batuk, amati bagaimana sifat batuknya, apakah produktif atau tidak
produktif produktif.
4. Sputum
Obsevasi jumlah dan jenis sputum (purulen, mukoid, atau
mukopurulen). Volume sputum yang besar dan purulen menunjukan
kemungkinan bronkiektasis. Sekresi yang berbusa dan merah muda dari
trachea menunjukan adanya edema paru. Sputum yang berwarna gelap dan
berbau menunjukkan adanya abses paru. Hemoptisis menunjukan tanda
penyakit paru yang gawat.
5. Stridor
Stridor adalah bunyi serak kasar atau bunyi mengi yang paling
keras pada inspirasi. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya obstruksi
laring, trahkea atau jalan nafas yang besar oleh benda asing, tumor atau
inflamasi. Ini adalah tanda yang memerlukan perhatian yang mendesak.
6. Suara serak
Dengarkan suara serak akibat adanya kelumpuhan saraf laringeus
rekuren yang berkaitan dengan karsinoma paru atau karsinoma laring.
Tetapi penyebab paling sering adalah laryngitis.
21

Dibawah ini merupakan penuntun yang dipat digunakan saat


melakukan observasi pada pengkajian system pernafasan. (Matassarin :1997)
1. Bagaimana frekwensi, kedalaman, dan pola nafas? Adakah penggunaan
otot Bantu nafas?
2. Apakah ada indikasi sianosis sentral yang memungkinkan adanya
hipoksemia dan penyakit jantung?
3. Apakah ada distensi vena jugularis?, apakah ada edema perifer atau tanda
lain dari kelainan jantung?
4. Apakah palpasi dada menyebabkan nyeri?, bagaimana kesimetrisan
pergerakan rongga dada?
5. Bagaimana bunyi nafas di lapang paru, apakah bersih atau ada ronchi,
wheezing atau crackles?, apakah bunyi paru sama dikedua belah paru.
6. Periksa sputum atau hemaptoe, jika ada berapa jumlahnya, warna dan
kosistensinya dan keasamaannya.
B. Interview
Interview dilakukan melalui pendekatan langsung maupun tidak
langsung kepada klien atau kedua-duanyanya. Tujuan pengumpulan data
melalui interview adalah untuk mengumpulkan data serta untuk
mengetahui keterkaitannya. Adapun data yang perlu dikaji melalui
interview pada pengkajian system pernafasan lanjut adalah sebagai
berikut:
1. Biodata
Biodata yang perlu diketahui pada pengkajian system
pernafasan yaitu : nama, usia, jenis kelamin, pendidikan serta
pekerjaan. Angka kejadian beberapa gangguan system pernafasan
sering berhubungan usia, jenis pekerjaan dan tingkat pendidikan
rendah.
2. Riwayat kesehatan :
a. Keluhan utama yang biasa ditemukan pada gangguan system
pernafasan adalah sesak napas, batuk, sputum produktif,
22

haemoptisis, stridor dan nyeri dada. Stridor terjadi pada


penyempitan partial jalan nafas bagian atas. Nyeri dada biasa
terjadi pada kasus pleuritis, nyeri tersebut dirasakan tajam dan
menusuk, berlokasi pada satu sisi dan nyeri meningkat dengan
adanya pergerakan dada atau nafas dalam.
b. Riwayat kesehatan sekarang : merupakan penjelasan keluhan
utama yang meliputi Provocative/Palliative (P), Quality/Quantity
(Q), Region/Radiation (R), Scale/Severe (S), Time (T)
c. Riwayat kesehatan dahulu :
Pada riwayat kesehatan terdahulu harus dikaji tentang
riwayat penyakit, trauma, injury saluran nafas atas dan dada seperti
fraktur tulang iga, alergi, penggunaan antibiotic dan obat-obatan
untuk pengobatan paru seperti bronchodilator, steroid, dan spesifik
terapi seperti pil, cairan atau inhalasi.
d. Riwayat kesehatan keluarga :
Pada saat pengkajian riwayat kesehatan keluarga harus
titanyakan tentang penyakit keturunan atau penyakit yang
menyebar diantara anggota keluarga seperti asma, cystik fibrosis,
emfisema, COPD, Ca. paru, TBC atau alergi. Buat daftar usia dan
penyebab kematian pada anggota keluarga.
e. Riwayat psikososial :
1) Pekerjaan : identifikasi adanya agen dari lingkungan yang
mungkin berkontribusi terhadap kondisi klien. Identifikasi
lingkungan meliputi: lingkungan kerja atau hobi yang
memungkinkan terjadinya paparan dari debu, asbestos,
berilium, silica, atau polutan yang lain.
2) Geografik : perjalanan yang dilakukan baru-baru ini kedaerahdaerah dimana terdapat penyakit infeksi pernafasan seperti
tuberkulosa (TBC), flu burung.

23

3) Lingkungan : Kondisi tempat tinggal yang buruk dan


lingkungan yang padat/sesak dapat meningkatkan
kemungkinan terpapar penyakit infeksi menular.
4) Kebiasaan sehari-hari : riwayat merokok baik jenis dan
jumlahnya, minum alcohol yang dapat menyebabkan depresi
reflek batuk sehingga beresiko terjadinya aspirasi, adiksi
narkoba yang dapat menyebabkan over dosis dan gagal nafas.
Penggunaan jarum suntik secara bergantian pada pemakai
narkoba akan menyebabkan pneumoni kranii dan TBC.
5) Latihan/olahraga : Timbulnya batuk selama olahraga
6) Nutrisi : penyakit pernafasan kronik dapat menurunkan
kapasitas paru dan meningkatkan kerja paru serta system
kariovaskuler. Penambahan beban kerja ini dapat meningkatkan
kebutuhan kalori dan dapat terjadi kehilangan berat badan.
Pengaruh sekunder lainnya adalah anoreksia yang disebabkan
oleh obat-obatan, kelelahan.
f. Review of system : tanyakan pada klien manivestasi lain yang
berhubungan dengan system pernafasan tentang adanya, flu, pilek,
batuk, produksi seputum, nyeri dada, kesulitan bernafas, keluar
cairan/sekret, oedem dependent, pembengkakan sinus, kelelahan,
disorientasi, perubahan kepribadian, tachycardia
3. Pemeriksaan Fisik System Pernafasan
a. Inspeksi :
1) Kepala dan leher :
Bau nafas, sputum, pursed lips breathing, cyanosis bibir,
adanya penggunaan otot-otot pernafasan seperti fleksi otot
sternocleidomastoides. Diaphoresis, pernafdasan cuping hidung,
jejas pada daerah leher, deviasi trachea, peningkatan JVP (oedema
pareu dan tension pneumothorak).
24

Gb.1 Inspeksi leher

Sumber : http://www.medicine.ucsd.edu/clinicalmed/lung
2) Bentuk dan ukuran dada : ukuran diameter anterior posterior dan
tranversal, dapat ditemukan
a) barel chest pada klien emfisema yang ditandai dengan
peningkatan diameter anterior posterior
Gb. 2 Barrel Chest

Sumber : http://www.medicine.ucsd.edu/clinicalmed/lung

25

b) funnel chest : dada menjorok kedalam pada bagian bawah


sternum pada klien.
c) Pigeon chest (pectus carinatum) : dada tampak menyerupai
dada burung yang dapat disebabkan oleh ricketsia, yang
ditandai oleh ada depresi dua bagian yaitu bagian bawah serta
sternum yang menonjol.
Catat pergerakan dada yang dapat terlihat seperti adanya
ketidak simetrisan pada dinding dada yang biasa terjadi pada
klien dengan trauma dada atau flail chest. Lihat juga adanya
jejas, tumor dan hematome serta penggunaan otot-otot bantu
pernafasan , retraksi interkoste serta jenis pernafasan (perut
atau dada).
Gb. 3 Pigeon chest (pectus carinatum)

Sumber : http://www.medicine.ucsd.edu/clinicalmed/lung
3) Kaji jenis pernafasan abnormal, meliputi:
a) cheynestoke
b) kussmaul
c) hyperventilasi
d) tachipnoe
26

e) dyspnoe
f) hypoventilasi (bradipnoe)
g) orthopnea
h) apnea
b. Palpasi
1)

Trachea
Palpasi adanya massa, crepitasi, penyipangan trachea dari
garis tengah (deviasi trachea)

2)

Dada
Palpasi kesimetrisan pengembangan dada, tektur kulit,
pulsasi, krepitasi, empisema subcutis massa, kehilangan
kelenturan (tenderness), nyeri, bengkak. Tactile fremmitus atau
vocal fremmitus adalah fibrasi pada dinding dada yang
dihasilkan oleh vocalisasi. Peningkatan fremitus terjadi karena
adanya cairan atau massa seperti pada pneumonia, tumor dan di
atas effuse pleura sedangkan penurunan fremitus terjadi pada
effuse pleura atau atelektasis.

c.

Perkusi
Perkusi dilakukan untuk mengkaji adanya suara resonan,
hyperesonance, dullness, tymphani, dan flat.

27

Gb. 4 Perkusi Paru

Sumber : http://www.medicine.ucsd.edu/clinicalmed/lung
d.

Auskultasi
Dengarkan adanya perubahan bunyi pernafasan berupa
penurunan atau hilang. Disamping itu kaji juga adanya bunyi
wheezing, rales, dan ronchi. Wheezing terjadi pada pasien dengan
obstruksi jalan napas yang disebabkan oleh benda asing atau tumor,
PPOK. Rales dibagi menjadi 3 bagian yaitu fine, medium, coarse.
Fine rales terjadi pada fibrosis interstisial (asbestosis,
edema intertisial (permulaan edema paru), terendamnya anveolus
(pneumonia), kehilangan volume paru (atelektasis) dan permulaan
fase CHF.
Medium rales terjadi pada klien dengan edema pulmonal, inflamasi
brohial (bronchitis dan bronchiolitis).
Coarse rales terjadi pada klien yang bronchusnya berisi
cairan.
Ronchi terjadi karena lewatnya udara melalui saluran yang berisi
cairan, ronchi kadang terdengar pada kondisi penyakit yang
menyebabkan peningkatan produksi mucus seperti pada pneumonia,

28

bronchitis, brochoektasis. Ronchi terdengar pada saat ekspirasi dan


lebih jelas pada saat batuk.
Fleural friction rub diakibatkan karena adanya inflamani
pleura yang berhubungan dengan penyakit infeksi pada pleura,
seperti pada pleuritis, pneumonia atau kematian jaringan pleura
(infark). Bunyi ini disebabkan oleh pergesekan permukaan dua
bagian pleura (visceral dan parietal) yang mengalami inflamasi, juga
dapat didengar pada dinding dada yang mengalami fraktur.
Gb. 5 Auskultasi paru

Sumber : http://www.medicine.ucsd.edu/clinicalmed/lung
4. Pemeriksaan penunjang
Diagnostic tes digunakan untuk mengkaji stats fungsional dari
system pernafasan meliputi:
a. Test fungsi paru
Tes fungsi paru akan memberikan informasi tentang kondisi klien
terkait dengan volume paru, kerja paru, mekanik/pergerakan paru dan
kemampuan difusi paru. Test ini dilakukan di laboratorium akan tetapi
dapat juga dilakukan diluar laboratorium dengan memodifikasi test
ventilasi yang meliputi test kekuatan pengeluaran paru (volume),

29

kapasitas paru, dan pengukuran ventilasi paru maksimal. Perubahan


kemampuan fungsi paru terjadi pada pasien astma

b. Oksimetri
Oksimetri merupakan metoda yang aman dan sederhana dalam
pengkajian oksigenasi. Keuntungan dari prosedur ini adalah
pengambilan data dapat dilakukan dengan cara non invasive dan terus
menerus. Sebelumnya metode umum untuk mengkaji status oksigenasi
menggunakan analisa gas darah.
Oksimetri pada dasarnya dipakai dalam pembedahan tetapi sekarang
sudah meluas pada pelayanan akut. Fakta sekarang pulse oksimetri
dapat dikatakan sebagai vital sign yang ke lima.
Oksimeter dipasang pada jaringan atau ditempel pada ujung jari
tangan, jari kaki pada daun telinga. Oksimeter dapat memberikan
informasi presentasi Hb yang berikatan dengan oksigen (SaO2).
Oksimetri masih memiliki keterbatasan dan masih perlu
dikembangkan secara teknologi. Pergerakan pada tempat sensor dapat
30

merubah absorbsi cahaya , pergerakan dapat mempengaruhi


kemampuan oksimetri dalam mendeteksi kadar O2 yang diikat oleh
Hb.
Hipotensi, hipotermi dan vasokontriksi dapat mengurangi
aliran darah ke sensor. Untuk mengatasi masalah ini kehangatan jari
harus dipelihara. Sensor seharus tidak ditempatkan pada daerah blood
pressure cap terpasang, baju yang menekan, arteri line atau
pemasangan kateter invasive. Sensor seharusnya tidak diplester pada
jari klien. Oksimeter tidak dapat membaca dengan akurat pada Klien
dengan gagal jantung kanan dan pada pasien yang dipasang PEEP.
Pembacaan oksimeter akan tidak akurat pada kuku yang di Cat
Hiperbilirubin, dan warna kulit yang gelap dan cahaya yang terang.
Perbandingan saturasi oksigen dengan tekanan partial oksigen.
Kalau saturasi oksigen 50 % dan PaO2 25 mmHg menunjukan
hipoksemia yang dapat mengacam kehidupan.
Saturasi O2 dengan PaO2 40 mmHg menunjukan pasien mengalami
hipoksimia moderat. Sedangkan jika SaO2 90% PaO2 55 mmHg
menunjukan pasien mengalami hipoksia ringan.
Gb. 6 Pulse Oxymetri

Sumber : http://www.medicine.ucsd.edu/clinicalmed/lung

31

c. Capnografi
Capnografi merupakan prosedur non invasife yang digunakan
untuk mengukur konsentrasi CO2 yang dikeluarkan pada saat klien
terpasang ventilator. Jumlah CO2 yang ditemukan pada ekspirasi, end
tidal CO2 (ETCO2) memiliki hubungan yang sangat dekat dengan
PaCO2 arteri pada pasien dengan fungsi kardiorespiratori dan
mertabolisme normal .
Gradien atau kemiringan normal PaCO2 dan ETCO2 memiliki
kemiringan sekitar 5 mm. PaCO2 meningkat pada pasien hipoventilasi
dan menurun pada hiperventilasi.
d. Analisa Gas Darah
AGD arteri digunakan untuk mengukur Ph, PaO2, PaCO2,
bicarbonate HCO3- dan SatO2. PaO2 merefleksikan efesiensi pertukaran
gas, sedangkan PaCO2 merefleksikan efektifitas ventilasi alveolar.
AGDsangat esensial untuk mengkaji klien dengan gangguan
pulmonary dan nonpulmonary akut, yang membutuhkan jalan nafas
buatan dan ketergantungan pada ventilasi mekanik atau klien yang
mengalami penyakit pernafasan kronik.
PH, menunjukan derajat keasaman darah, nilai normalnya 7,35
7,45. PH kurang dari 7,35 menujukan asidosis, sedangan lebih dari
7,45 menunjukan alkalosis. PH harus dijaga dalam rentang batas
normal untuk memelihara fungsi enzim dan metabolisma normal pada
tubuh, jika tubuh menjadi asam kontraksi kardiak akan menurun dan
secara normal pada fungsi vascular akan menurunkan katekolamin,
sedangkan pada kondisi alkalosis oksigenasi jaringan dan fungsi
neuromuscular akan terganggu.
Evaluasi PaO2 dilakukan pertama karena menunjukan
keseriusan hipoksemia. Hypoksemia merefleksikan PaO2 tetapi tidak
menunjukan status oksigensai jaringan. Nilai normalnya 80 100
mmHg. Hipoksemina ringan terjadi jika PaO2 < 80 mmHg pada udara
32

kamar, Hipoksemia berat terjadi jika PaO2 < 40mmHg. Batas nilai
normal menurun sesuai dengan penambahan usia sekitar 1 mmHg per
tahun pada usia diatas 60 th.
PaCO2 nilai normalnya 35-45 mmHg. PaCO2 menunjukkan
efisiensi ventilasi alveolar. Hipoventilasi alveolar atau gagal nafas
didiagnosa pada saat PaCO2 > 50 mmHg. Hiperventilasi alveolar
dengan PaCO2 < 30 mmHg dapat menyebabkan over breathing. PaCO2
sangat penting mengingat PaCO2 menunjukkan derajat keasaman. CO2
normalnya berikatan dengan air untuk membentuk asam karbonat
sehingga jika PaCO2 tinggi darah menjadi asam, sedangkan PaCO2
rendah menyebabkan darah alkalosis. Paru-paru dapat melakukan
kompensasi terhadap perubahan abnormalitas pH dalam waktu 15 -60
menit.
HCO3- nilai normalnya 22 -26 mEq/Lt. HCO3- adalah basa dan
merupakan cerminan dari komponen metabolic keseimbangan asam
basa dan diatur oleh ginjal. Ketika HCO3- meningkat dalam darah
maka darah menjadi basa. Tubuh menjadi asidosis jika HCO3- < 22
mEq/lt.
Kompensasi untuk membantu mempertahankan homeostasis
dan pH normal tubuh. Sistem renal dan pernafasan yang sehat dapat
melakukan kompensasi sebagian atau komplet yang berefek terhadap
naik turunnya pH. Adanya kompensasi dapat dilihat dari kadar PaCO2
dan HCO3- . Kompensasi dapat terjadi jika PaCO2 dan HCO3- nilainya
berlawanan. Partial kompensasi terjadi jika ada bukti kompensasi
tetapi pH abnormal. Kompensasi komplet ditunjukkan jika pH, PaCO2
dan HCO3- normal. Tidak terkompensasi jika salah satu komponen dari
PaCO2 dan HCO3- tidak normal dan yang lainnya normal.
e. Scan Ventilasi dan Perfusi Paru
Digunakan untuk mengetahui emboli pulmonal , infark
pulmonal, fibrosis emfisema dan bronchiektasis.

33

CT scan

CT stands for computerized tomography. In this procedure, a thin X-ray beam is rotated
around the area of the body to be visualized. Using very complicated mathematical
processes called algorithms, the computer is able to generate a 3-D image of a section
through the body. CT scans are very detailed and provide excellent information for the
physician.

Thyroid cancer - CT scan

This CT scan of the upper chest (thorax) shows a malignant thyroid tumor (cancer). The
dark area around the trachea (marked by the white U-shaped tip of the respiratory tube) is
an area where normal tissue has been eroded and died (necrosis) as a result of tumor
growth.

34

Pulmonary nodule, solitary - CT scan

This CT scan shows a single lesion (pulmonary nodule) in the left lung. This nodule is
seen as the light circle in the upper portion of the dark area on the left side of the
picture. A normal lung would look completely black in a CT scan.

Lung mass, right upper lobe - CT scan

This is a CT scan of the upper lungs. This individual has a mass in upper part of the right
lung (left side of picture).

35

f. Tes untuk evaluasi struktur anatomi yaitu dengan foto thorak, USG,
Fluoroscopy, CT Scan Bronchoscopy, MRI, Galium Scan, Alveolar
lavage, Endoscopy torakotomi, pulmonary angiography.
1) Photo thorak
Photo thorak memberikan informasi yang tidak dapat
diketahui melalui pemeriksaan fisik, dan sering mengilustrasikan
kelainan respiratory. Hasil torak foto menunjukkan struktur tulang.
Columna vertebra terlihat vertical ditengah torak. Kedua
hemidiapragma normalnya tampak melingkar halus dan tajam.
Hemidiapragma kanan terlihat lebih tinggi dari pada kiri.
Perbatasan antara lingkar iga dan diapragma disebut sudut
kostophrenic normalnya jelas kelihatan dan memiliki sudut.
Jaringan jantung padat dan jelas kelihatan putih tetapi intensitasnya
tidak seputih struktur tulang. Bayangan jantung normalnya
memiliki batasan yang jelas dan umumnya cenderung miring kekiri
dari torak.
Observasi lebih dekat menunjukan trackea berada ditenga
atas dada juga diatas tulang cervical dan thorakal, percabangan
trachea berada pada thoraxic ke 4 ke kanan dan ke kiri dan menjadi
percabangan utama bronchus. Pembuluh darah pulmoner, bronchi
dan kelenjar limfe terletak pada hilum sisi kiri dan kanan ditengah
thorak. Jaringan paru tampak hitam pada foto hasil rontgent.
Struktur penmbuluh darah paru terlihat putih dan tipis.
Tujuan thorax foto adalah mendeteksi perubahan struktur anatomi
jantung dan paru, mendeteksi adanya gangguan paru akut akibat
gangguan jantung, mendeteksi adanya efusi perikard serta
melakukan evaluasi letak kanul dan kateter yang terpasang.
Tanggung jawab perawat dalam pelaksanaan thorax foto
yaitu menjelaskan prosedur dan alasan pemeriksaan,

penderita

diposisikan untuk mengambil foto pd posisi tegak, mendampingi


pasien. Usahakan tidak ada yang meghalangi lempeng foto.
36

Prosedur:
- Tidak perlu pembatasan makanan dan cairan
- Foto dada PA dan lateral kiri untuk mengetahui kondisi dan
ukuran jantung
- lepaskan perhiasan dileher, turunkan baju sampai ke pinggang
dan pakaikan baji kertas/kain
- anjurkan posisi klien tegak dan menarik nafas dalam dan
menahannya saat difoto.
Pneumothorax - chest X-ray

Pneumothorax occurs when air leaks from inside of the lung to the space between the
lung and the chest wall. The lung then collapses. The dark side of the chest (right side of
the picture) is filled with air that is outside of the lung tissue.

37

Tuberculosis, advanced - chest X-rays

Tuberculosis is an infectious disease that causes inflammation, the formation of


tubercules and other growths within tissue, and can cause tissue death. These chest X-rays
show advanced pulmonary tuberculosis. There are multiple light areas (opacities) of
varying size that run together (coalesce). Arrows indicate the location of cavities within
these light areas. The X-ray on the left clearly shows that the opacities are located in the
upper area of the lungs toward the back. The appearance is typical for chronic pulmonary
tuberculosis but may also occur with chronic pulmonary histiocytosis and chronic
pulmonary coccidioidomycosis. Pulmonary tuberculosis is making a comeback with new
resistant strains that are difficult to treat. Pulmonary tuberculosis is the most common
form of the disease, but other organs can be infected

Lung cancer, frontal chest X-ray

38

A CXR in a patient with central cancer of the right lung. Notice the white mass in the
middle portion of the right lung (seen on the left side of the picture).

2) USG
USG digunakan untuk menegakan diagnosa di berbagai
bagian tubuh. USG sangat membantu dengan akurat dalam
mendeteksi jumlah dan lokasi cairan pleura sebanyak 50 ml atau
kurang. Dibandingkan dengan foto thorax yang dapat mendeteksi
bila cairan dipleura minimal 500 ml. jika teknik ini
dikombinasikan dengan thoracentesis, USG dapat menentukan
lokasi terbaik untuk penususkan jarum ketempat cairan itu berada.
3)

Fluoroscopy
Fluoroscopy digunakan unutk mengobserbvasi struktur
dalam. Flouroscopuy penggunaanya tidak rutin tetapi lebih sering
pada situasi yang membutuhkan obsrvasi thorak yang kontinu.
Kegunaan flouoroscopy yaitu : mengobservasi diafragma selama
inspirasi dan ekspirasi, mendeteksi pergerakan mediastinum saat
nafas dalam, mengkaji jantung, pembuluh darah dan struktur
terkait. Mengidentifikasi kelainan oesofagus dan adanya masa pada
mediastinum.

4) Brochoscopy
Bronchoscopy adalah pemeriksaan daerah brochial dengan
menggunakan bronchoscop. Bronchoscopy untuk pemeriksaan
diagnostik, pemeriksaan jaringan, evaluasi lanjut terhadap
pengangkatan tumor , pengambilan spesimen untuk diagnosis dan
evaluasi area perdarahan. Untuk tujuan therapeutik bronchoscopy
dilakukan untuk pengangkatan benda asing dari tubuh,
mengeluarkan sekret yang berlebihan, therapi atelektasis post
operatif dan pengangkatan lesi.

39

Prosedur
Berikan penjelasan kepada pasien dan keluarga untuk
mendap[atkan inform consent. Intruksikan pasien untuk puasa
enam jam sebelum melakukan bronchoscopy. Jelaskan pada pasien
bahwa setelah dilakukan prosedur akan timbul gejala sulit menelan
sementara. Anjurkan kepada pasien apabila menggunakan gigi
palsu, kontak lensa atau alat protesis lainnya agar dilepaskan.
Berikan pakaian atau gaun steril. Pemberian anastesi lokal dan
sedatif intara vena untuk menekan refleks batuk dan mengurangi
kecemasan. Anastesi lokal juga disemprotkan pada tenggorakan.
Selama prosedur klien diposisikan supine dengan kepala
hyperektensi. Perawat mengukur tanda-tanda vital kemudian
menyakinkan pasien dan membantu dokter jika diperlukan.
Setelah prosedur tanda-tanda vital dimonitor. Kaji adanya
distress pernafasan meliputi dispne, perubahan respirasi rate,
penggunaan otot-otot pernafasan dan perubahan atau hilanggnya
gerak pernafasan. Sekret diinspeksi untuk melihat adanya
hemoptisis. Pasien dipuasakan hingga refleks batu dan menelan
klembali normal, bioasanya satu samapai dua jam. Sekali pasien
dapat menelan berikan air minum sedikit demi sedikit. Suara paru
dimonitor selama 24 jam. Adanya suara yang tidak simetris atau
abnormal supaya segera dilaporkan, karena pnemothorak dapat
muncul setelah bronchoscopy
5) Endoscopy thoracothomy
Endoscopy thorachotomy adalah prosedur diagnostik
sebagai alternatif untuk biopsy paru terbuka dan untuk melihat
gangguan permukaan pleura.

40

Sebelum dilakukan prosedur ini jelaskan kepada pasien


pentinmgnya dilakukan tinadakan tersebut utnuk memperoleh
inform consent. Endoscopy thoracothomy merupakan tindakan
pembedahan yang memerlukan anasthesi umum.. Jelaskan bahwa
akan terpasang chestube yang akan diperlukan untuk memfasilitasi
batuk dan nafas dalam.
Secara umum akan dibuat tiga incisi kecil pada dinding
dada pada bagian tengah, sebuah alat yang dilengkapi dengan
kamera dan video proyektor dimasukan pada incisi pertama untuk
melihat jaringan kemudian dilakukan manipulasi dan biopsi pada
oncisi yang lain. Sebuah alat seperti selang dimasukan untuk menin
gklatkan ekspansi paru. Keuntungan prosedur ini adalah anasthesi
dilakukan singkat, nyeri minimal, dan rawat inap sebentar.
6) Pulmonary Angiografi
Pulmonary angiografi adalah prosedur yang digunakan
untuk memeriksa struktur vaskularisasi secara spesifik. Prosedur
ini dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan kongenital pada
cabang vaskular paru, kelainan sirkulasi vena pulmonal, adanya
kelainan pada arteri atau vena pulmonal (hypertensi arteri
pulmonal), destruksi akibat efek emfisema, melihat kemajuan dari
reseksi karsinoma bronkhogenik, adanya lesi periferal paru dan
adanya tromboemboli di paruy.
Prosedur dilakukan dengan menginjeksikan zat kontras ke
sistem vaskulkar paru melalui kateter. Selama dilakukan prosedur
ini kateter dapat dilakukan pada ateri perifer atau langsung ke arteri
pulmonal pada salah satau cabangnya. Pada saat zat kontras
diinjeksikan dilakukan pengambilan foto.
Setelah dilakukan prosedur ini maka daerah dimana
dimasukannya kateter baik pada arteri perifer maupun sentral
penting untuk dilakukan observasi untuk mengkaji adanya infeksi,
41

hematoma, atau reaksi lokal terhada zat kontras (peningkatan


distress pernafasan, hypotensi, stridor dan adanya reaksi
anafilaksis.
g. Thoracentesis
Tharacentesis adalah pengambilan atau udara yang ditemukan pada
rongga pleura, tindakan thorasentesis akan menghilangkan akumulasi
cairan atau udara pada pleural yang menyebabkan kompresi paru dan
distress pernafasan. Pemeriksaan diagnosis ini sangat diperlukan untuk
menentukan penyebab adanyta infeksi atau emphiema. Cairan
dikumpulkan dan dikirimkan kelaboratorium untuk diperiksa spesifik
grafitasinya, adanya glukosa, protein, PH, kultur, dan uji sensitifitas serta
sitologi. Pendokumentasian terhadap warna dan konsistensi dari cairan
pleura juga dilakukan.
Prosedur dilakukan dengan tetap membrikan informed consent dan
menjelaskan pentingnya tindakan ini ke pasien. Pasien dalam posisi sit
upright. Pada posisi ini cairtan pleura akan terakumulasi pada basis thorak.
Posisi selain ini adalah posisi recumbent diman lengan diletaka di bawah
kepala. Instruksikan pasien untuk memepertahankan posisinya selama
proisedur. Jarum dimasukan ke ronga pleura melewati poleura visceral
atau parenkhim paru selama prosedur ini monitir tanad vital, observasi
adanya dispnea, kesulitan bernafas, mual, atau nyeri
Setelah prosedur ini berikan posisi berlawanan selama 1 jam untuk
memfasilitasi ekspansi paru. Pengkajian tanda-tanda vital, RR, karakter
dan bunyi nafas selalu dilakukan. Kaji adanya pneumothorak jika timbul
takhgipnea, dispnea, sianosis, retraksi atau hilangnya bunyi nafas. Cairan
yang diambil jumlahnya di catat. Foto thorak dilakukan untuk
mengevaluasi ekspansi paru atau untuk melihat adanya pneumothorak,
pada prosedur ini emphisema sub kutan dapat terjadsi karena udara pada
rongga pleura masuk ke jaringan sub kutan jaringan akan teraba seperti
kertas atau krepitus saat dipalpasi.

42

h. Biopsi spesimen dari biopsai dapat diambil dari babarapa jaringan organ
pernafasan untuk dipereksa. Biopsi pada struktur thorakobronkhial dapat
dilakukan selama bronkhoskopi, . Tujuan biopsi untuk melihat adanya
jaringan terhadap proses pathologi, struktur atau pengkajian sitilogi.
1) Biopsi Pleura
Dilakukan dengan tindakan pembedahan melalui insisi thorakotomi
atau selama thorakosentesis. Prosedur ini relatif aman, prosedur
diagnostik yang sederhana serta dapat menentukanb penyebab dari
efusi pleura. Cairan pleura dilakukan uji mikroskopik selular dan
kultur, jika ditemukan adanya bakteri maka perlu dilakukan biopsi
spesimen sebelum therapi. Pada prosedur ini pasien diberikan
penjelasan terkait dengan tujuan. Posisi pada biopsi sama dengan
thorakocentesis. Setelah prosedur ini dilakukan maka perlu dikaji
adanya injury nervus intercostal, pneumotorak dan haemotorak.
Komplikasi lain yang perlu dikaji meliputi adanya pucat, dispneu,
diaporesis dan adanya nyeri hebat. Prosedur inio biasanya diikuti foto
torak untuk melihat adanya hematorak yang diindikasikan adanya
peningkatan cairan pleura yang membutuhkan torakocentesis segera.
2) Biopsi paru
Biopsi paru dapat dilakukan bersamaan denga biopsi pleura
melalui tindakan pembedahan dengan atau tanpa endoskopi
menggunakan jarum yang didisain untuk mengambil jaringan paru.
Jaringan diperikssa untuk menemukan adanya kelainan struktur seluler
paru dan bakteri. Tindakan ini paling sering dilakukan untuk
mengidentifikasi adanya tumor paru atau perubahan parenchim paru
(Sarcoidosis)

43

i. Sputum
Obsevasi jumlah dan jenis sputum (purulen, mukoid, atau
mukopurulen). Volume sputum yang besar dan purulen (kuning atau
hijau ) menunjukkkan kemungkinan bronkiektasis. Sekresi yang berbusa
dan merah muda dari trachea menunjukan adanya edema paru. Sputum
yang berwarna gelap dan berbau busuk menunjukkan adanya abses paru
dengan organisme anaerobik. Sejumlah kecil sputum purulen seringkali
disertai darah (hemoptisis) menunjukkan kemungkinan pneumonia lobaris.
Hemoptisis (batuk darah) dapat merupakan penyakit paru yang gawat dan
harus selalu diselidiki. Paling baik adalah berdasarkan penilaian pasien
mengenai rasa dari sputumnya, yang berbau busuk pada keadaan seperti
bronkiektasis atau abses paru.
Pemeriksaan sputum dilakukan untuk mengetahui adanya bakteri,
jamur, atau adanya sel yang dapat menentukan therapy untuk mengatasi
infeksi tersebut. Pemeriksaan sputum meliputi warna, jumlah dan kwalitas,
adanya darah, partikel makanan atau unsur yang tidak biasa ada dalam
sputum.Pemeriksaan sputum sebaiknya dilakukan sebulum mendapatkan
therapy antibiotik . Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui jenis bakteri
serta pemeriksaan sitologi. Pemeriksaa sputum sebaiknya dilakukan pada
pagi hari karena sputum mengalami konsentrasi dalam satu hari. Sputum
diperiksa untuk menentukan jenis bakteri, kultur bakteri dan uji
sensitifitas. Jenis bakteri negative atau positif akan menentukan jenis
antibiotika yang sesuai.

44

III. Diagnosa Keperawatan


Diagnosa keperawatan yang dapat ditemukan pada klien dengan gangguan
system pernafasan yaitu :
1. Tidak efektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan ketidakmampuan
pengeluaran sekret, akumulasi sekret, sekresi sekret yang berlebihan,
trauma dada, tindakkan pembedahan, nyeri dan edema. Ditandai dengan :
sesak, abnormal AGD, gaurgling, stridor, ronchi, wheezing batuk tidak
produktif.
2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan ketidak seimbangan
perfusi ventilasi. Penurunan fungsi paru, perubahan hasil AGD. Ditandai
dengan dyspneu, Pigeon chest, hiperventilasi atau hipoventilasi, adanya
PCH, rales, stridor, sianosis, retraksi intercosta, abnormal AGD,
hipoksemia, perkusi paru dullness/tympani/ hipersonor, pergerakan
difragma tidak simetris, penurunan kesadaran, frekuensi nafas meningkat
atau menurun.
3. Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan tidak adequatnya
ventilasi dan oksigenasi jaringan, nyeri, gangguan neuromuscular,
penyakit paru kronik. Ditandai dengan : sesak, hipoventilasi, adanya
trauma dada, pernafasan abdominal, pursed lips breathing,
frekuensi/kedalaman nafas abnormal, wheezing, ronkhi.
4. Intoleran aktivitas berhubungan dengan nyeri, kelelahan, tidak adequatnya
oksigenasi.
5. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan pengeluaran sputum
berlebihan, batuk terus menerus, penyakit paru kronik, mual dan muntah.
6. Perubahan membrane mukosa mulut berhubungan dengan bernafas
melalui mulut, pemasangan intubasi, penyakit dan status koma.
7. Cemas berhubungan dengan kongesti paru, penyakit paru kronik, sesak
dan nyeri
45

8.

Nyeri berhubungan degan proses inflamasi, penyakit paru akut atau


pleuritis, pneumonia, dan status terminal atau kanker.

9. Syndroma deficit perawatan diri berhubungan dengan kelelahan, hipoksia,


penurunan kesadaran, penyakit paru kronik dan kerusakan pertukaran gas.
10. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi.

46

DAFTAR PUSTAKA

Berck, Matassarin. (1997). Medical Surgical Nursing. Philadelphia: WB


Sunders Company.
http://www.medinfo.ufl.edu/years/bcs/96/clist/resp
http://www.erjournals.com/cgu/content/abstact
http://www.en.wikipedia.org/wiki/respiratory/examination
http://www.medicine.ucsd.edu/clinicalmed/lung
http://www.webteach.mc.uky.edu/nursing/nur869/webquets/labs
Lucman and Sorensens. 1993. Medical Surgical Nursing A Psychophysiologic
Approach, Tokyo. WB Saunders Company.
Martin. (2000). Clinical Nursing Skill Basic to Advance skill. New Jersey:
Practice Hall Health.
Ollivieri. (1991).Fundamentals of Nursing : Conceps Process and Practise.
California : Addisson-Wesley.
Talley, OConnor. (1993). Clinical Examination : A Guide Physical Diagnosis.
(Ali, Penerjemah. Sydney : Mc Lennan & Petty. (Sumber asli diterbitkan
1994)

47

KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kami panjatkan kehadirat Alloh SWT, atas rahmat dan
karunia-Nya akhirnya kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah dengan
tema Pengkajian Lanjut Sistem Pernafasan.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah
Pengkajian Keperawatan Medikal Bedah Lanjut pada Magister Ilmu Keperawatan
Kekhususan Keperawatan Medikal Bedah Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas
Indonesia.
Isi makalah ini membahas tentang pengkajian lanjut keperawatan medikal
bedah dikhususkan kepada system pernafasan meliputi anatomi dan fisiologi,
riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik , pemeriksaan diagnostik serta diagnosa
keperawatan.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu kritik dan saran sangat kami harapkan guna perbaikan
makalah ini serta pembuatan makalah dimasa yang akan datang.
Tidak lupa pada kesempatan ini kami ucapkan banyak terimaksih kepada
Ibu Amelia Kurniati, SKp, MN selaku Koordinator Mata Kuliah Pengkajian
KMB Lanjut serta kepada seluruh rekan-rekan yang telah membantu dalam
pembuatan makalah ini.
Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita

Jakarta, 11 September 2006


Penulis

48

Kelompok V

49

PENGKAJIAN KEPERAWATAN LANJUT


SISTIM PERNAFASAN

Disusun Oleh : Kelompok V


1.
2.
3.
4.
5.

Hendi Rohaendi
Hikmat Rudyana
Nandang Ahmad Waluya
Purwo Suwignjo
Wasisto Utomo

MAGISTER ILMU KEPERAWATAN


KEKHUSUSAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA

50