Anda di halaman 1dari 14

ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF ABSES

1. Konsep Penyakit
1.1. Pengertian
Abses (Latin: abscessus) merupakan kumpulan nanah (netrofil yang telah mati)
yang terakumulasi di sebuah kavitas jaringan karena adanya proses infeksi (biasanya
oleh bakteri atau parasit) atau karena adanya benda asing (misalnya serpihan, luka
peluru, atau jarum suntik). Proses ini merupakan reaksi perlindungan oleh jaringan
untuk mencegah penyebaran/perluasan infeksi ke bagian tubuh yang lain. Abses adalah
infeksi kulit dan subkutis dengan gejala berupa kantong berisi nanah. (Siregar, 2004).
Abses adalah pengumpulan nanah yang terlokalisir sebagai akibat dari infeksi
yang melibatkan organisme piogenik, nanah merupakan suatu campuran dari jaringan
nekrotik, bakteri, dan sel darah putih yang sudah mati yang dicairkan oleh enzim
autolitik. (Morison, 2003)
Abses (misalnya bisul) biasanya merupakan titik mata, yang kemudian pecah;
rongga abses kolaps dan terjadi obliterasi karena fibrosis, meninggalkan jaringan parut
yang kecil. (Underwood, 2000)
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa abses adalah suatu infeksi kulit
yang disebabkan oleh bakteri / parasit atau karena adanya benda asing (misalnya luka
peluru maupun jarum suntik) dan mengandung nanah yang merupakan campuran dari
jaringan nekrotik, bakteri, dan sel darah putih yang sudah mati yang dicairkan oleh
enzim autolitik.
1.2. Jenis jenis Abses
a) Abses Ginjal
Abses ginjal yaitu peradangan ginjal akibat infeksi. Ditandai dengan
pembentukan sejumlah bercak kecil bernanah atau abses yang lebih besar yang
disebabkan oleh infeksi yang menjalar ke jaringan ginjal melalui aliran darah.
b) Abses Perimandibular
Bila abses menyebar sampai di bawah otot-otot pengunyahan, maka akan
timbul bengkak-bengkak yang keras, di mana nanah akan sukar menembus otot untuk
keluar, sehingga untuk mengeluarkan nanah tersebut harus dibantu dengan operasi
pembukaan abses.

Program Pendidikan Profesi Ners STIKES Yarsi Mataram 2012-2013

c) Abses Rahang gigi


Radang kronis, yang terbungkus dengan terbentuknya nanah pada ujung akar
gigi atau geraham. Menyebar ke bawah selaput tulang (sub-periostal) atau di bawah
selaput lendir mulut (submucosal) atau ke bawah kulit (sub-cutaneus). Nanah bisa
keluar dari saluran pada permukaan gusi atau kulit mulut (fistel). Perawatannya bisa
dilakukan dengan mencabut gigi yang menjadi sumber penyakitnya atau perawatan
akar dari gigi tersebut.
d) Abses Sumsum Rahang
Bila nanah menyebar ke rongga-rongga tulang, maka sumsum tulang akan
terkena radang (osteomyelitis). Bagian-bagian dari tulang tersebut dapat mati dan
kontradiksi dengan tubuh. Dalam hal ini nanah akan keluar dari beberapa tempat
(multiple fitsel).
e) Abses dingin (cold abcess)
Pada abses ini, karena sedikitnya radang, maka abses ini merupakan abses
menahun yang terbentuk secara perlahan-lahan. Biasanya terjadi pada penderita
tuberkulosis tulang, persendian atau kelenjar limfa akibat perkijuan yang luas.
f) Abses hati
Abses ini akibat komplikasi disentri amuba (Latin: Entamoeba histolytica),
yang sesungguhnya bukan abses, karena rongga ini tidak berisi nanah, melainkan
jaringan nekrotik yang disebabkan oleh amuba. Jenis abses ini dapat dikenali dengan
ditemukannya amuba pada dinding abses dengan pemeriksaan histopatologis dari
jaringan.
g) Abses (Lat. abscessus)
Rongga abnormal yang berada di bagian tubuh, ketidaknormalan di bagian
tubuh, disebabkan karena pengumpulan nanah di tempat rongga itu akibat proses
radang yang kemudian membentuk nanah. Dinding rongga abses biasanya terdiri atas
sel yang telah cedera, tetapi masih hidup. Isi abses yang berupa nanah tersebut terdiri
atas sel darah putih dan jaringan yang nekrotik dan mencair. Abses biasanya
disebabkan oleh kuman patogen misalnya: bisul.

1.3

Etiologi
Menurut Siregar (2004) suatu infeksi bakteri bisa menyebabkan abses melalui
beberapa cara:

Program Pendidikan Profesi Ners STIKES Yarsi Mataram 2012-2013

a) Bakteri masuk ke bawah kulit akibat luka yang berasal dari tusukan jarum
yang tidak steril
b) Bakteri menyebar dari suatu infeksi di bagian tubuh yang lain
c) Bakteri yang dalam keadaan normal hidup di dalam tubuh manusia dan tidak
menimbulkan gangguan, kadang bisa menyebabkan terbentuknya abses.
Peluang terbentuknya suatu abses akan meningkat jika :
a) Terdapat kotoran atau benda asing di daerah tempat terjadinya infeksi
b) Daerah yang terinfeksi mendapatkan aliran darah yang kurang
c) Terdapat gangguan sistem kekebalan
Bakteri tersering penyebab abses adalah Staphylococus Aureus
1.4 Patofisiologi
Jika bakteri masuk ke dalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi suatu
infeksi. Sebagian sel mati dan hancur, meninggalkan rongga yang berisi jaringan dan
sel-sel yang terinfeksi. Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalam
melawan infeksi, bergerak kedalam rongga tersebut, dan setelah menelan bakteri, sel
darah putih akan mati, sel darah putih yang mati inilah yang membentuk nanah yang
mengisi rongga tersebut.
Akibat penimbunan nanah ini, maka jaringan di sekitarnya akan terdorong.
Jaringan pada akhirnya tumbuh di sekeliling abses dan menjadi dinding pembatas.
Abses dalam hal ini merupakan mekanisme tubuh mencegah penyebaran infeksi lebih
lanjut. Jika suatu abses pecah di dalam tubuh, maka infeksi bisa menyebar kedalam
tubuh maupun dibawah permukaan kulit, tergantung kepada lokasi abses. (Utama,
2001)

1.5 Manifestasi Klinis


Abses bisa terbentuk diseluruh bagian tubuh, termasuk paru-paru, mulut,
rektum, dan otot. Abses yang sering ditemukan didalam kulit atau tepat dibawah kulit
terutama jika timbul diwajah.

Program Pendidikan Profesi Ners STIKES Yarsi Mataram 2012-2013

Menurut Smeltzer & Bare (2001), gejala dari abses tergantung kepada lokasi
dan pengaruhnya terhadap fungsi suatu organ saraf. Gejalanya bisa berupa:
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Nyeri
Nyeri tekan
Teraba hangat
Pembengakakan
Kemerahan
Demam

Suatu abses yang terbentuk tepat dibawah kulit biasanya tampak sebagai benjolan. Adapun
lokasi abses antara lain ketiak, telinga, dan tungkai bawah. Jika abses akan pecah, maka
daerah pusat benjolan akan lebih putih karena kulit diatasnya menipis. Suatu abses di dalam
tubuh, sebelum menimbulkan gejala seringkali terlebih tumbuh lebih besar. Paling sering,
abses akan menimbulkan Nyer tekan dengan massa yang berwarna merah, hangat pada
permukaan abses , dan lembut.

Abses yang progresif, akan timbul "titik" pada kepala abses sehingga Anda dapat
melihat materi dalam dan kemudian secara spontan akan terbuka (pecah).

Sebagian besar akan terus bertambah buruk tanpa perawatan. Infeksi dapat menyebar
ke jaringan di bawah kulit dan bahkan ke aliran darah.

Jika infeksi menyebar ke jaringan yang lebih dalam, Anda mungkin mengalami
demam dan mulai merasa sakit. Abses dalam mungkin lebih menyebarkan infeksi
keseluruh tubuh.

1.6 Komplikasi
Komplikasi mayor dari abses adalah penyebaran abses ke jaringan sekitar atau
jaringan yang jauh dan kematian jaringan setempat yang ekstensif (gangren). Pada
sebagian besar bagian tubuh, abses jarang dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga
tindakan medis secepatnya diindikasikan ketika terdapat kecurigaan akan adanya abses.
Suatu abses dapat menimbulkan konsekuensi yang fatal. Meskipun jarang, apabila
abses tersebut mendesak struktur yang vital, misalnya abses leher dalam yang dapat
menekan trakea. (Siregar, 2004)

1.7 Penatalaksanaan Medis


Menurut Morison (2003), Abses luka biasanya tidak membutuhkan penanganan
menggunakan antibiotik. Namun demikian, kondisi tersebut butuh ditangani dengan
intervensi bedah dan debridement.

Program Pendidikan Profesi Ners STIKES Yarsi Mataram 2012-2013

Suatu abses harus diamati dengan teliti untuk mengidentifikasi penyebabnya,


terutama apabila disebabkan oleh benda asing, karena benda asing tersebut harus
diambil. Apabila tidak disebabkan oleh benda asing, biasanya hanya perlu dipotong dan
diambil absesnya, bersamaan dengan pemberian obat analgetik dan antibiotik.
Drainase abses dengan menggunakan pembedahan diindikasikan apabila abses
telah berkembang dari peradangan serosa yang keras menjadi tahap nanah yang lebih
lunak. Drain dibuat dengan tujuan mengeluarkan cairan abses yang senantiasa
diproduksi bakteri.
Apabila menimbulkan risiko tinggi, misalnya pada area-area yang kritis,
tindakan pembedahan dapat ditunda atau dikerjakan sebagai tindakan terakhir yang
perlu dilakukan. Memberikan kompres hangat dan meninggikan posisi anggota gerak
dapat dilakukan untuk membantu penanganan abses kulit.
Karena sering kali abses disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus,
antibiotik antistafilokokus seperti flucloxacillin atau dicloxacillin sering digunakan.
Dengan adanya kemunculan Staphylococcus aureus resisten Methicillin (MRSA) yang
didapat melalui komunitas, antibiotik biasa tersebut menjadi tidak efektif. Untuk
menangani MRSA yang didapat melalui komunitas, digunakan antibiotik lain:
clindamycin, trimethoprim-sulfamethoxazole, dan doxycycline.
Adapun hal yang perlu diperhatikan bahwa penanganan hanya dengan
menggunakan antibiotik tanpa drainase pembedahan jarang merupakan tindakan yang
efektif. Hal tersebut terjadi karena antibiotik sering tidak mampu masuk ke dalam
abses, selain itu antibiotik tersebut seringkali tidak dapat bekerja dalam pH yang
rendah.

1.8 Pathway
Bakteri Gram Positif
(Staphylococcus aureus Streptococcus mutans)

Program Pendidikan Profesi Ners STIKES Yarsi Mataram 2012-2013

Mengeluarkan enzim hyaluronidase dan enzim koagulase


merusak jembatan antar sel
transpor nutrisi antar sel terganggu
Jaringan rusak/mati/nekrosis
Media bakteri yang baik

Jaringan terinfeksi
Peradangan
Sel darah putih mati
Demam
Jaringan menjadi abses
& berisi PUS

Pembedahan

MK 3: Gangguan
Thermoregulator
(Pre Operasi)

Pecah

Reaksi Peradangan
(Rubor, Kalor,Tumor,Dolor,Fungsiolaesea)
MK 1 : Nyeri
(Pre

Resiko Penyebaran
Infeksi
(MK 2: Pre dan Post
Operasi)

Luka Insisi
MK 1 : Nyeri
(Post Operasi)

Sumber : (Hardjatmo Tjokro Negoro, PHD dan Hendra Utama, 2001)

2. Konsep Asuhan Keperawatan


2.1 Pengkajian Keperawatan

Program Pendidikan Profesi Ners STIKES Yarsi Mataram 2012-2013

Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu
proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk
mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien (Nursalam, 2001, hal.17).
Menurut Smeltzer & Bare (2001), Pada pengkajian keperawatan, khususnya
sistem integumen, kulit bisa memberikan sejumlah informasi mengenai status
kesehatan seseorang dan merupakan subjek untuk menderita lesi atau terlepas. Pada
pemeriksaan fisik dari ujung rambut sampai ujung kaki, kulit merupakan hal yang
menjelaskan pada seluruh pemeriksaan bila bagian tubuh yang spesisifik diperiksa.
Pemeriksaan spesifik mencakup warna, turgor, suhu, kelembaban, dan lesi atau parut.
Hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
a) Riwayat Kesehatan
Hal hal yang perlu dikaji di antaranya adalah :
1) Abses di kulit atau dibawah kulit sangat mudah dikenali, sedangkan abses
dalam seringkali sulit ditemukan.
2) Riwayat trauma, seperti tertusuk jarum yang tidak steril atau terkena
peluru.
3) Riwayat infeksi ( suhu tinggi ) sebelumnya yang secara cepat
menunjukkan rasa sakit diikuti adanya eksudat tetapi tidak bisa
dikeluarkan.
b) Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik ditemukan :
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Luka terbuka atau tertutup


Organ / jaringan terinfeksi
Massa eksudat dengan bermata
Peradangan dan berwarna pink hingga kemerahan
Abses superficial dengan ukuran bervariasi
Rasa sakit dan bila dipalpasi akan terasa fluktuaktif.

c) Pemeriksaan laboratorium dan diagnostik


1) Hasil pemeriksaan leukosit menunjukan peningkatan jumlah sel darah
putih.
2) Untuk menentukan ukuran dan lokasi abses dilakukan pemeriksaan
rontgen, USG, CT, Scan, atau MRI.
2.2 Diagnosa Keperawatan

Program Pendidikan Profesi Ners STIKES Yarsi Mataram 2012-2013

Tahap selanjutnya yang harus dilakukan setelah memperoleh data melalui


pengkajian adalah merumuskan diagnosa. Pengertian dari diagnosa keperawatan itu
sendiri

adalah

sebuah

pernyataan

singkat

dalam

pertimbangan

perawat

menggambarkan respon klien pada masalah kesehatan aktual dan resiko (Nursalam,
2001. Hal : 35 ).
Menurut Herdman (2007), diagnosa keperawatan untuk abses adalah :
a) Pre operasi
1) Nyeri Akut berhubungan dengan agen injuri biologi
2) Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
b) Post Operasi
1) Nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan
2) Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan luka terbuka
3) Kerusakan Intergritas kulit berhubungan dengan trauma jaringan.
2.3 Perencanaan Keperawatan
Berdasarkan diagnosa keperawatan dengan menetapkan tujuan, kriteria
hasil, dan menentukan rencana tindakan yang akan dilakukan :
a) Pre operasi
1) Nyeri berhubungan dengan reaksi peradangan.
Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan


gangguan rasa nyaman nyeri teratasi.

Kriteria Hasil

Klien

mengungkapkan

berkurang,

klien

dapat

secara

verbal

rileks,

rasa

klien

nyeri
mampu

mendemonstrasikan keterampilan relaksasi dan aktivitas


sesuai dengan kemampuannya, TTV dalam batas normal;
TD : 120 / 80 mmHg, Nadi : 80 x / menit, pernapasan : 20 x
/ menit.
Intervensi
1) Observasi TTV

Rasional
1) Sebagai data awal untuk melihat keadaan

2) Kaji lokasi, intensitas, dan lokasi nyeri.

umum klien
2) Sebagai data dasar mengetahui seberapa
hebat nyeri yang dirasakan klien sehingga
mempermudah intervensi selanjutnya

3) Observasi

reaksi

ketidaknyamanan.

non

verbal

dari 3) Reaksi non verba menandakan nyeri yang


dirasakan klien hebat

Program Pendidikan Profesi Ners STIKES Yarsi Mataram 2012-2013

4) Dorong menggunakan teknik manajemen


4) Untuk mengurangi ras nyeri yang dirasakan

relaksasi.

klien dengan non farmakologis


5) Kolaborasikan

obat

analgetik

sesuai
5) Mempercepat penyembuhan terhadap nyeri

indikasi.

2) Gangguan thermoregulator berhubungan dengan proses peradangan


Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan


Hipertermi dapat teratasi.
: Suhu tubuh dalam batas normal (36 0 C 37 0C).

Kriteria hasil

Intervensi
1) Observasi TTV, terutama suhu tubuh klien.
2) Anjurkan klien untuk banyak minum,
minimal 8 gelas / hari.
3) Lakukan kompres hangat.
4)

1) Untuk

data

Rasional
awal dan

intervensi
2) Untuk
mencegah

memudahkan

dehidrasi

akibat

penguapan tubuh dari demam


3) Membantu vasodilatasi pembuluh darah

Kolaborasi dalam pemberian antipiretik.

sehingga mempercepat hilangnya demam


4) Mempercepat penurunan demam

b) Post Operasi
1) Nyeri berhubungan dengan luka insisi akibat pembedahan.
Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan


gangguan rasa nyaman nyeri teratasi.

Kriteria Hasil

Klien

berkurang,

mengungkapkan
klien

dapat

secara

verbal

rileks,

rasa

klien

nyeri
mampu

mendemonstrasikan keterampilan relaksasi dan aktivitas


sesuai dengan kemampuannya, TTV dalam batas normal;
TD : 120 / 80 mmHg, Nadi : 80 x / menit, pernapasan : 20 x
/ menit.
Intervensi
1) Observasi TTV

Rasional
1) Sebagai data awal untuk melihat keadaan

2) Kaji lokasi, intensitas, dan lokasi nyeri.

umum klien
2) Sebagai data dasar mengetahui seberapa
hebat nyeri yang dirasakan klien sehingga

Program Pendidikan Profesi Ners STIKES Yarsi Mataram 2012-2013

mempermudah intervensi selanjutnya


3) Observasi

reaksi

non

verbal

dari

3) Reaksi non verba menandakan nyeri yang

ketidaknyamanan.

dirasakan klien hebat

4) Dorong menggunakan teknik manajemen

4) Untuk mengurangi ras nyeri yang dirasakan

relaksasi.

klien dengan non farmakologis

5) Kolaborasikan

obat

analgetik

sesuai

5) Mempercepat penyembuhan terhadap nyeri

indikasi.
2.4 Pelaksanaan Keperawatan
Pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan untuk
membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Tujuan dari pelaksanaan yaitu
mencapai tujuan yang telah ditetapkan, peningkatan kesehatan, pencegahan
penyakit, pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping. ( Nursalam, 2001. Hal.
63).
Pelaksanaan Keperawatan untuk abses adalah Drainase abses dengan
menggunakan pembedahan diindikasikan apabila abses telah berkembang dari
peradangan serosa yang keras menjadi tahap nanah yang lebih lunak, Karena sering
kali abses disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus, antibiotik antistafilokokus
seperti flucloxacillin atau dicloxacillin sering digunakan, kompres hangat bisa
membantu

mempercepat

penyembuhan

serta

mengurangi

peradangan

dan

pembengkakan.
2.5 Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang
menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan, dan
pelaksanaan sudah berhasil ( Nursalam, 2001). Evaluasi Keperawatan pada klien
dengan abses adalah :
a)
b)
c)
d)

Klien melaporkan rasa nyeri berkurang


Rasa nyaman klien terpenuhi
Daerah abses tidak terdapat pus
Tidak ditemukan adanya tanda tanda infeksi ( pembengkakan,

demam,kemerahan )
e) Tidak terjadi komplikasi.

Program Pendidikan Profesi Ners STIKES Yarsi Mataram 2012-2013

BAB II
LAPORAN KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF ABSES REGIO WRIST SINISTRA
PADA Tn. M DI RUANG POLI BEDAH (OK MINOR) RSU PROVINSI NTB

1.1 Pengkajian
a) Identitas
1) Indentitas klien
Nama
Umur
Agama
Pendidikan
Pekerjaan
Suku/Bangsa
No. RM

: Tn. M
: 60 Th
: Islam
: SMP
: Buruh
: Sasak/Indonesia
: 03 66 49

2) Identitas Penanggung Jawab


Nama
Umur
Agama
Pendidikan
Pekerjaan
Suku/Bangsa
Hub. Dg. Klien

: Tn. M
: 35 Th
: Islam
: SMA
: Wiraswasta
: Sasak/Indonesia
: Anak

b) Keluhan Utama
Klien mengeluh ada benjolan di pergelangan tangan kirinya dan terasa nyeri,(P: nyeri terasa
akibat benjolan dan peradangan, Q: nyeri terasa tajam dan berdenyut, R: nyeri terasa pada

Program Pendidikan Profesi Ners STIKES Yarsi Mataram 2012-2013

pergelangan tangan kirinya, S: Klien mengatakan nyeri terasa pada angka 6 di skala 0-10, T:
Nyeri terasa ketika di tekan dan mendapatkan gesekan)
c) Riwayat Kesehatan saat ini
Klien mengatakan ada benjolan kemerahan sejak 2 minggu yang lalu pada pergelangan tangan
kirinya, benjolan semakin membesar dan semakin terasa nyeri, klien mengatakan semakin
disentuh rasanya semakin sakit.
d) Pre Operasi
S: Klien mengeluh Nyeri (P: nyeri terasa akibat benjolan dan peradangan, Q: nyeri terasa
tajam dan berdenyut, R: nyeri terasa pada pergelangan tangan kirinya, S: Klien mengatakan
nyeri terasa pada angka 6 di skala 0-10, T: Nyeri terasa ketika di tekan dan mendapatkan
gesekan)
O: terdapat benjolan berwarna kemerahan di sekitarnya pada pergelangan tangan kiri klien,
berukuran 1 cm x 1 cm dengan ada titik di puncaknya, nyeri tekan , klien tampak meringis
dan terasa hangat disekitar benjolan.
A: MK: Nyeri berhubungan dengan reaksi peradangan ditandai dengan terdapat benjolan
kemerahan di pergelangan tangan klien, ukuran benjolan 1 cm x 1 cm dengan ada titik di
puncaknya, nyeri tekan , klien tampak meringis dan terasa hangat disekitar benjolan.
P:

Observasi TTV
R/ Sebagai data awal untuk melihat keadaan umum klien
- Kaji lokasi, intensitas, dan lokasi nyeri.
R/ Sebagai data dasar mengetahui seberapa hebat nyeri yang dirasakan

klien sehingga mempermudah intervensi selanjutnya


Observasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan.
R/ Reaksi non verbal menandakan nyeri yang dirasakan klien hebat
Dorong menggunakan teknik manajemen relaksasi.
R/ Untuk mengurangi ras nyeri yang dirasakan klien dengan non
farmakologis
Kolaborasikan obat analgetik sesuai indikasi.
R/ mempercepat meringankan nyeri

I:
-

Mengobservasi TTV
TD: 110/80 mmHg, N : 86x/menit, RR: 20x/Menit, Suhu: 37,20 C
Mengkaji Intensitas Nyeri

Klien mengatakan terasa nyeri,(P: nyeri terasa akibat benjolan dan


peradangan, Q: nyeri terasa tajam dan berdenyut, R: nyeri terasa pada
pergelangan tangan kirinya, S: Klien mengatakan nyeri terasa pada angka 6 di
skala 0-10, T: Nyeri terasa ketika di tekan dan mendapatkan gesekan)

Mendorong menggunakan Tehnik relaksasi dan destraksi dengan tehnik nafas


dalam dan membaca.

Program Pendidikan Profesi Ners STIKES Yarsi Mataram 2012-2013

Klien mengikuti apa yang Ners Muda anjurkan dan juga membaca

koran.
Kolaborasi dalam pemberian analgetik sesuai indikasi
Klien mendapatkan Asam Mefenamat 3 x 1 Cefadroxil 2 x 1

S: klien mengatakan masih terasa nyeri


O: klien tampak meringis, masih ada benjolan kemerahan,
A: masalah keperawatan Nyeri belum teratasi
P: Intervensi dilanjutkan

E:

e) Post Operasi
S: Klien mengeluh ada Luka pada pergelangan tangan kiri klien,
O: terdapat luka berwarna kemerahan di sekitarnya pada pergelangan tangan kiri klien,
berukuran 2 cm x 2 cm dengan terbungkus oleh kasa dan perban
A: MK: Resiko penyebaran Infeksi berhubungan dengan luka insisi pada pergelangan tangan
klien ditandai dengan luka masih kemerahan disekitarnya.
P: - Observasi TTV

R/ Sebagai data awal untuk melihat keadaan umum klien


Kaji kebersihan luka.
R/ Sebagai data dasar mengetahui seberapa hebat nyeri yang dirasakan
klien sehingga mempermudah intervensi selanjutnya.
Dorong menggunakan teknik aseptik dalam merawat Luka.
R/ Untuk mengurangi Resiko infeksi
Anjurkan kepada klien untuk menjaga luka agar tidak terkena air
R/ Menjaga agar tidak terjadi infeksi sekunder
Kolaborasikan obat antibiotik sesuai indikasi.
R/ mencegah infeksi sistemik

I:
-

Mengobservasi TTV
TD: 110/80 mmHg, N : 88 x/menit, RR: 22 x/Menit, Suhu: 37,20 C
Mengkaji kebersihan luka

Luka bersih terbungkus perban dengan rapi

Mendorong menggunakan Tehnik Aseptik dalam perawatan luka dan kontrol


setiap 2 hari sekali
Klien mengikuti apa yang Ners Muda dan mengatakan akan rajin

kontrol
Kolaborasi dalam pemberian antibiotik sesuai indikasi
Klien mendapatkan Cefadroxil 2 x 1

Program Pendidikan Profesi Ners STIKES Yarsi Mataram 2012-2013

E:
-

S: klien mengatakan masih terasa nyeri


O: klien tampak meringis, masih ada luka terbungkus rapi dengan perban

namun masih kemerahan disekitarnya,


A: masalah keperawatan resiko penyebaran infeksi belum teratasi
P: Intervensi dilanjutkan dirumah

Program Pendidikan Profesi Ners STIKES Yarsi Mataram 2012-2013

Anda mungkin juga menyukai