Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG
Pertumbuhan janin terhambat (PJT) kini merupakan suatu enritas penyakit
yang membutuhkan perhatian bagi kalangan luas, mengingat dampak yang
ditimbulkan jangka pendek berupa risiko kematian 6 - 10 kali lebih tinggi jika
dibandingkan dengan bayi normal. Dalam jangka panjang terdapat dampak berupa
hipertensi, arteriosklerosis, stroke, diabetes, obesitas, resistensi insulin, kanker, dan
sebagainyaa. Hal tersebut terkenal dengan Barker hipotesis yaitu penyakit pada orang
dewasa telah terprogram sejak dalam uterus.1
Semakin meningkatnya kualitas pelayanan antenatal dan intrapartum serta
penatalaksanaan prematuritas, asfiksia, dan infeksi maka angka kematian perinatal
semakin berkurang, terutama di negara maju. Namun insidensi PJT sebagai penyebab
kematian perinatal cenderung meningkat. Menurut Hellen Kay (2000), sepertiga dari
seluruh kasus bayi dengan berat badan lahir dibawah 2500 gram mengalami PJT,
dimana hampir 4-8% bayi yang lahir ini berasal dari negara berkembang dan 6-30%
bayi yang lahir dikategorikan dengan PJT.3
Kini WHO menganjurkan agar kita memperhatikan masalah ini karena akan
memberikan beban ganda. Di Jakarta dalam suatu survei ditemukan bahwa pada
golongan ekonomi rendah, prevalensi PJT lebih tinggi (14 %) jika dibandingkan
dengan golongan ekonomi menengah keatas (5 %).1
Bayi dengan berat badan lahir rendah yang kecil masa kehamilan (KMK)
sering ditandai mengalami hambatan pertumbuhan janin. Istilah retardasi
pertumbuhan janin sudah tidak terpakai, karena retardasi menyiratkan fungsi
mental yang abnormal, yang bukan merupakan maksud sebenarnya. Di perkirakan
sebanyak 3 hingga 10 persen janin mengalami hambatan pertumbuhan.2
PJT merupakan 10% komplikasi dari seluruh kehamilan. Dimana hal ini
berhubungan dengan angka kematian perinatal yaitu 6 sampai 10 kali lebih tinggi
dibanding bayi dengan pertumbuhan yang normal dan merupakan penyebab kedua
terpenting kematian perinatal setelah persalinan prematuritas. Penyebab PJT adalah
multifaktorial. Secara luas, defisiensi asupan gizi maternal dan perfusi uteroplasenta
yang tidak adekuat adalah salah satu penyebab terbanyak dari PJT.6

Oleh karena itu, perlunya pengetahuan mengenai pertumbuhan janin terhambat


agar dapat memberikan penanganan yang tepat serta mampu menghindari dari
keadaan tersebut. Referat ini membahas mengenai pengertian, etiologi, manifestasi
klinis dan penatalaksanaan dari pertumbuhan janin terhambat.

1.2

RUMUSAN MASALAH
1. Apakah yang dimaksud dengan pertumbuhan janin terhambat?
2. Bagaimanakah etiologi, klasifikasi, tanda dan gejala, diagnosa, penatalaksanaan
dan pencegahan pertumbuhan janin terhambat ?

1.3 TUJUAN PENULISAN


1. Untuk mengetahui mengenai pertumbuhan janin terhambat
2. Untuk mengetahui etiologi, klasifikasi, tanda dan

gejala,

diagnosa,

penatalaksanaan dan pencegahan pertumbuhan janin terhambat


1.4

MANFAAT PENULISAN
Sebagai pengetahuan mengenai pertumbuhan janin terhambat dan juga menambah
pengetahuan

mengenai

etiologi,

klasifikasi,

tanda

dan

penatalaksanaan dan pencegahan pertumbuhan janin terhambat.

gejala,

diagnosa,

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

DEFINISI
Definisi menurut WHO (1969), janin yang mengalami pertumbuhan yang
terhambat adalah janin yang mengalami kegagalan dalam mencapai berat standard
atau ukuran standard yang sesuai dengan usia kehamilannya.
Janin yang tidak berkembang atau biasa disebut pertumbuhan janin terhambat
(PJT) adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu kondisi
dimana berat janin tidak sesuai dengan masa kehamilan. Kondisi ini dapat diketahui
apabila berat janin berada dibawah kisaran normal berat janin yang ditentukan.
Selain itu, tanda yang paling mudah ditemukan adalah tidak seimbangnya besar
rahim dengan usia kehamilan.5
Pertumbuhan janin terhambat ditentukan bila janin kurang dari 10% dari berat
yang harus dicapai pada usia kehamilan tertentu. Biasanya perkembangan yang
terhambat diketahui setelah 2 minggu tidak ada pertumbuhan. Dahulu PJT disebut
sebagai intra uterine growth retardation (IUGR), tetapi istilah retardation kiranya
tidak tepat. Tidak semua PJT adalah hiposik atau patologik karena 25-60% yang
berkaitan dengan konstitusi dan besar orang tua.1

2.2

PERTUMBUHAN JANIN NORMAL INTRAUTERIN


Pertumbuhan janin intrauterine merupakan suatu perubahan yang terjadi
sebagai akibat bertambahnya ukuran janin dan peningkatan fungsi sistem organ yang
berlangsung selama kehamilan.
Proses pertumbuhan janin dibagi menjadi 3 fase pertumbuhan sel yang berturutan,
yaitu :2
1. Fase hiperplasia, terjadi pada 16 minggu pertama kehamilan. Pada fase ini ditandai
dengan jumlah sel bertambah dengan cepat.
2. Fase hiperplasia dan hipertrofi, terjadi pada usia kehamilan 16-32 minggu. Pada
fase ini terjadi peningkatan jumlah dan ukuran sel.
3. Fase hipertrofi sel, terjadi mulai usia kehamilan 32 minggu sampai aterm. Pada fase
inilah sebagian besar penimbunan lemak dan glikogen janin terjadi.
Laju Pertumbuhan janin yang sesuai selama tiga fase pertumbuhan sel ini
adalah 5 g/hari pada usia 15 minggu, 15-20 g/hari pada minggu ke-24, dan 30-35
g/hari pada usia gestasi 34 minggu.
3

2.3

KLASIFIKASI
Terjadinya PJT dapat dikalsifikasikan ke dalam tiga kelompok :2,3
1. PJT tipe-1 (simetris, proporsional)
Pada PJT tipe-1 dijumpai tubuh janin secara keseluruhan berukuran kecil akibat
berkurangnya potensi pertumbuhan janin dan berkurangnya proliferasi seluler ke
semua organ janin. PJT tipe-1 ditandai dengan berat badan, lingkar kepala dan
panjang badan yang berada dibawah oersentil ke-10. PJT simetris ini terjadi
selama kehamilan trimester ke-1 dan trimester ke-2 dan angka kejadiannya kirakira 20-30% dari seluruh bayi PJT.
Gangguan terjadi pada fase Hiperplasia, di mana total jumlah sel kurang, ini
biasanya disebabkan oleh gangguan kromosom atau infeksi kongenital misalnya
TORCH. Proses patologis berada di organ dalam sampai kepala.
2. PJT tipe-2 (asimetris, disproporsional)
PJT tipe-2 ini terjadi karena janin kurang mendapatkan nutrisi dan energi,
sehingga

sebagian

besar

energi

digunakan

secara

langsung

untuk

mempertahankan pertumbuhan organ vital (seperti otak dan jantung). Hambatan


pertumbuhan asimetris dikemukanan sebagai akibat dari pengutamaan alokasi
oksigen dan nutrisi ke otak, yang memungkinkan otak dan kepala tetap tumbuh
normal yang disebut brain sparing. Karena efek brain sparing, janin-janin yang
asimetris

dianggap

lebih

terlindung

dari

seluruh

efek

penghambatan

pertumbuhan. PJT asimetris ini umumnya terjadi akibat insufisiensi plasenta. PJT
asimetris mempunyai ukuran kepala normal tetapi lingkar perut kecil. PJT tipe-2
memiliki berat badan yang kurang dari persentil-10. PJT asimetris terjadi pada
trimester terakhir, yang disebabkan karena terjadinya penurunan kecepatan
pertumbuhan. Angka kejadiannya kira-kira 70-80 % dari seluruh bayi PJT.
Gangguan terjadi pada fase Hipertrofi, di mana jumlah total sel normal tetapi
ukurannya lebih kecil. Biasanya gangguan ini disebabkan oleh faktor maternal
atau faktor plasenta.
3. PJT Kombinasi
Terjadi pada kehamilan 20 28 minggu yaitu gangguan potensi tubuh kombinasi
antara gangguan hiperplasia dan hipertrofi sel, misalnya dapat terjadi pada
malnutrisi ibu, kecanduan obat atau keracunan. Bayi mungkin mengalami
pemendekan skeletal, sedikit pengurangan dari masa jaringan lunak. Jika
manutrisi terjadi dalam jangka waktu lama dan parah, janin kemungkinan akan
4

kehilangan kemampuan untuk konpensasi sehingga terjadi peralihan dari PJT


kombinasi menjadi PJT tipe simetris.
Perbedaan antara PJT simetris dan asimetris3
Simetris

Asimetris

Insidensi 20-30 %
Terjadi pada trimester ke-1 & ke-2
Kecil secara simetris
Menghambat seslular embrionik
Menurunnya jumlah & ukuran sel
Rasio kepala/abdomen dan femur/abdomen

Insidensi 70-80%
Terjadi pada trimester ke-3
Kepala lebih besar dai abdomen
Menghambat hipertrofi selular
Menurunnya ukuran sel
Rasio kepala/abdomen dan femur/abdomen

yang normal
Penyakit genetik, infeksi
Komplikasi neonatus, prognosis buruk

yang meningkat
Insufisiensi pembuluh darah plasenta
Biasanya keadaan neonatur agak buruk dan
membaik bila komplikasi dihindari atau
diterapi secara adekuat.

2.4

ETIOLOGI
Etiologi dalam gangguan pertumbuhan janin dibagi menjadi 3 kategori :2,3,6
1. Faktor Ibu

Berat badan sebelum hamil dan status nutrisi yang kurang

Berat badan yang kurang selama kehamilan

Nutrisi yang kurang/malnutrisi

Pengguna obat-obatan, alkoholik, merokok

Gangguan vaskular (hipertensi, diabetes mellitus, penyakit ginjal, penyakit


kollagen)

Hipoksia persisten (penyakit paru, penyakit jantung, anemia)

Malformasi uterus atau adanya massa

2. Faktor Uterus dan Plasenta

Hipoksia Kronik

Kehamilan Multiple

Malformasi Uterus

3. Faktor Janin

Genetik (kelainan kromosom, kelainan kongenital)


5

Infeksi

Intaruteri

(Cytomegalovirus,

Malaria,

Parvovirus,

Rubella,

Toxoplasmosis, Herpes virus, HIV)


Penyebab PJT berdasarkan klasifikasi PJT :2,6
1.

Tipe simetris
a.

Pertambahan berat badan maternal yang jelek.


Wanita dengan berat badan rendah atau peningkatan berat badan salam
kehamilan kurang/peningkatan berat badan terhenti setelah kehamilan 28
minggu akan mempunyai resiko mengalami retardasi pertumbuhan janin.
Akan tetapi pada wanita yang mempunyai tubuh besar dan penambahan
berat badan kurang / dibawah rata-rata tanpa penyakit maternal mungkin
tidak disertai retardasi pertumbuhan janin yang nyata.
Pada perempuan dengan indeks masa tubuh (IMT) rata-rata atau rendah,
sedikit penambahan berat badan selama kehamilan dapat menyebabkan
hambatan pertumbuhan janin. Kekurangan penambahan berat badan pada
trimester kedua berdampak pada penurunan berat badan lahir. Seperti yang
diperkirakan, gangguan pola makan menyebabkan peningkatan hambatan
pertumbuhan janin hingga sembilan kali lipat

b.

Infeksi janin (virus, bakteri, protozoa)


Infeksi tersebut; virus rubella, cytomegalovirus, hepatitis A dan B,
(berkaitan dengan persalinan preterm), toksoplasmosis, malaria. Mekanisme
pengaruh setiap infeksi terhadap pertumbuhan janin berbeda satu sama lain.
Cytomegalovirus menyebabkan sitolisis langsung dan penghilangan sel-sel
fungsional. Infeksi rubella menyebabkan insufisiensi vaskular dengan cara
merusak endotelium pembuluh darah kecil, dan juga mengurangi
pembelahan sel.

c.

Malformasi kongenital
Semakin berat malformasi semakin besar pula bayi kemungkinan
mengalami retardasi pertumbuhan. Hal ini terutama terbukti pada janin
dengan abnormalitas kromosom atau yang mengalami malformasi
kardiovaskular serius.

d.

Kelainan kromosom
Janin-janin dengan trisomi autosomal memiliki plasenta dengan penurunan
jumlah arteri yang borotot kecil di batang vili tersier. Tergantung pada
6

bagian mana yang mengalami kelebihan, mungkin akan terkait dengan


hambatan. Contoh, pada trisomi 21, hambatan pertumbuhan janin umumnya
masih ringan. Baik pemendekan ukuran femur maupun hipoplasia aneploidi
ini.
e.
2.

Sindrom dwarf

Tipe asimetris
a.

Penyakit vaskuler
Penyakit vaskuler kronis umumnya menyebabkan hambatan pertumbuhan,
terutama jika kehamilan disertai dengan komplikasi preeklamsia yang
tumpang tindih. Preeklampsia dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan
janindan merupakan indikator keparahan penyakit vaskular kronik, terutama
apabila awitannya terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu.

b.

Penyakit ginjal kronis


Insufisiensi ginjal kronik sering dikaitkan dengan hipertensi dan penyakit
vaskular yang mendasarinya. Nefropati kronik biasanya disertai dengan
pertumbuhan janin terhambat.

c.

Hipoksia kronis
Beberapa kondisi yang terkait dengan hipoksia uteroplasenta antara lain
preeklampsia, hipertensi kronik, asma, merokok, dan menetap di dataran
tinggi. Ibu yang tinggal di dataran tinggi bayi yang dilahirkan mempunyai
berat badan rendah dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan oleh ibu yang
tinggal di dataran yang lebih rendah. Dan ibu dengan penyakit jantung
sianotik akan mengalami pertumbuhan janin yang terhambat.

d.

Anemia maternal
Pada sebagian besar kasus, anemia pada ibu tidak menyebabkan
pertumbuhan janin terhambat. Pengecualian meliputi penyakit sickle-cell
dan beberapa anemia bawaan lainnya.

e.

Abnormalitas plasenta dan tali pusat


Sejumlah kelainan plasenta mungkin menyebabkan pertumbuhan janin
terhambat. Kegagalan pertumbuhan dalam kasus-kasus ini dianggap terjadi
karena insufisiensi uteroplasenta.
7

f.

Solutio plasenta lokal yang kronis, infark yang luas, korioangioma dapat
menyebabkan retardasi pertumbuhan.

g.

Janin multipel
Kehamilan dengan dua janin atau lebih kemungkinan besar dipersulit
dengan pertumbuhan yang melambat pada satu janin atau lebih
dibandingkan dengan bayi tunggal yang normal.

h.

Kehamilan preterm

i.

Kehamilan ekstrauteri
Jika plasenta berimplantasi di luar uterus, janin umumnya mengalami
peningkatan resiko hambatan pertumbuhan.

3.

Kombinasi tipe simetris dan asimetris


a.

Obat-obat teratogenik
Sejumlah obat dan bahan kimia dapat memberi dampat buruk terhadap
pertumbuhan janin. Beberapa bersifat teratogenik dan berpengaruh pada
pertumbuhan janin sebelum organogenesis lengkap. Beberapa memengaruhi
atau terus memengaruhi janis setelah embriogenesis janin berakhir pada 8
minggu.
Beberapa obat imunosupresan antirejeksi (antirejection imunosupressant)
yang digunakan untuk terapi transplantasi organ terlibat sebagai salah satu
penyebab PJT. Selain itu, rokok, opiat dan obat-obatan terkait, alkohol, serta
kokain dapat menyebabkan PJT. Wanita perokok cenderung makan lebih
sedikit karena itu ibu akan kekurangan substrat didalam darahnya, selain itu
merokok menyebabkan pelepasan epinefrin dan norepinefrin yang
menyebabkan vasokonstriksi yang berkepanjangan sehingga terjadi
pengurangan jumlah pengaliran darah ke dalam ruang intervillus. Konsumsi
kafein selama kehamilan baru-baru ini dikaitkan dengan PJT. Pertumbuhan
janin yang melambat mungkin berhubungan dengan ekspresi enzim
fenotripik yang memperlambat metabolisme kafein.

b.
2.5

Malnutrisi berat

MORTALITAS DAN MORBIDITAS


Angka kesakitan dan kematian perinatal cukup besar pada pertumbuhan janin
terhambat. Kematian janin akibat asfiksia saat lahir, aspirasi mekonium dan
8

hipoglikemia serta hipotermia neonatal meningkat, demikian pula prevalensi


timbulnya kelainan neurologis. Hal ini terjadi pada bayi aterm ataupun preterm. Usia
kehamilan kurang dari 32 minggu memiliki resiko kematian yang tinggi akibat
pertumbuhan janin terhambat.2
Bayi dengan hambatan pertumbuhan akibat faktor virus kongenital, kromosom,
atau konstitusional dari ibu akan tetap berperawakan kecil sepanjang hidupnya. Bayibayi dengan hambatan pertumbuhan in utero akibat insufisiensi plasenta sering akan
mengejar pertumbuhannya kembali setelah lahir dan mendekati potensial
pertumbuhan herediternya jika hidup di lingkungan yang optimal.2
2.6

PATOLOGI
Pada kelainan sirkulasi uteroplasenta akibat dari perkembangan plasenta yang
abnorrnal, pasokan oksigen, masukan nutrisi, dan pengeluaran hasil metabolik
menjadi abnormal. Janin menjadi kekurangan oksigen dan nutrisi pada trimester
akhir sehingga timbul PJT yang asimetrik yaitu lingkar perut yang jauh lebih kecil
daripada lingkar kepala. Pada keadaan yang parah mungkin akan terjadi kerusakan
tingkat seluler berupa kelainan nukleus dan mitokondria.1
Pada keadaan hipoksia, produksi radikal bebas di plasenta menjadi sangat
banyak dan antioksidan yang relatif kurang (misalnya: preeklampsia) akan menjadi
lebih parah. Soothiil dan kawan-kawan (1987) telah melakukan pemeriksaan gas
darah pada PJT yang parah dan menemukan asidosis dan hiperkapnia, hipoglikemia,
dan eritroblastosis. Kematian pada jenis asimetrik lebih parah jika dibandingkan
dengan simetrik.1
Penyebab PJT simetrik ialah faktor janin atau lingkungan uterus yang kronik
(diabetes, hipertensi). Faktor janin ialah kelainan genetik (aneuplodi), umumnya
trisomi 21, 13, dan 18. Secara keseluruhan PJT kenyataannya hanya 20 % saja yang
asimetrik pada penelitian terhadap 8.722 di Amerika.1

2.7

MANIFESTASI KLINIS
Bayi-bayi yang dilahirkan dengan PJT biasanya tampak kurus, pucat,
dan berkulit keriput. Tali pusat umumnya tampak rapuh dan layu
dibanding pada bayi normal yang tampak tebal dan kuat. PJT muncul
sebagai akibat dari berhentinya pertumbuhan jaringan atau sel. Hal ini
9

terjadi saat janin tidak mendapatkan nutrisi dan oksigenasi yang cukup
untuk perkembangan dan pertumbuhan organ dan jaringan, atau karena
infeksi. Meski pada sejumlah janin, ukuran kecil untuk masa kehamilan
bisa

diakibatkan

karena

faktor

genetik

(kedua

orangtua

kecil),

kebanyakan kasus PJT atau Kecil Masa Kehamilan (KMK) dikarenakan


karena faktor-faktor lain.

PJT dapat terjadi kapanpun dalam kehamilan. PJT yang muncul sangat dini
sering berhubungan dengan kelainan kromosom dan penyakit ibu. Sementara, PJT
yang muncul terlambat (>32 minggu) biasanya berhubungan dengan problem lain.
Pada kasus PJT, pertumbuhan seluruh tubuh dan organ janin menjadi terbatas.
Ketika aliran darah ke plasenta tidak cukup, janin akan menerima hanya sejumlah
kecil oksigen, ini dapat berakibat denyut jantung janin menjadi abnormal, dan janin
berisiko tinggi mengalami kematian. Bayi-bayi yang dilahirkan dengan PJT akan
mengalami keadaan berikut :

Penurunan level oksigenasi

Nilai APGAR rendah (suatu penilaian untuk menolong identifikasi adaptasi bayi
segera setelah lahir)

Aspirasi mekonium (tertelannya faeces/tinja bayi pertama di dalam kandungan)


yang dapat berakibat sindrom gawat nafas

2.8

Hipoglikemi (kadar gula rendah)

Kesulitan mempertahankan suhu tubuh janin

Polisitemia (kebanyakan sel darah merah)

DIAGNOSIS
Penentuan awal usia kehamilan, perhatikan penambahan berat badan ibu dan
pengukuran pertumbuhan fundus uterus secara seksama selama kehamilan akan
mengidentifikasi banyak kasus pertumbuhan janin yang abnormal pada perempuan
berisiko rendah. Faktor-faktor risiko termasuk pertumbuhan janin terhambat
sebelumnya meningkatkan kemungkinan terulang kembali. Secara khusus, tingkat
kekambuhan atau rekurensi diyakini hampir 20%. Pada perempuan dengan faktor
10

risiko, harus dipertimbangkan untuk evaluasi sonografik secara berkesinambungan.


Meskipun frekuensi pemeriksaan bervariasi sesuai indikasi, pemeriksaan awal yang
dilanjutkan dengan pemeriksaan kedua pada 32 sampai 34 minggu, atau jika terdapat
indikasi lain secara klinis, akan mengidentifikasi banyak kasus pertumbuhan janin
terhambat. Meskipun demikian, diagnosis pasti umumnya tidak bisa dibuat sampai
kelahiran janin. Namun demikian, terdapat tekhnik klinis sederhana maupun
teknologi yang lebih kompleks yang terbukti bermanfaat.
1. Faktor Ibu
Penetapan usia gestasi secara dini, perhatian pada penambahan berat badan ibu
serta pengukuran pertumbuhan fundus uteri dengan cermat selama kehamilan
akan menolong identifikasi kasus pertumbuhan janin terhambat. Kemudian
identifikasi tentang riwayat pertumbuhan janin terhambat pada kehamilan
sebelumnya.1,2
2. Tinggi Fundus Uteri
Pengukuran tinggi fundus uteri yang dilakukan secara serial dan cermat selama
kehamilan adalah metode penapisan yang sederhana, aman, tidak mahal dan
cukup akurat untuk mendeteksi janin yang kecil untuk masa kehamilan.
Kekurangannya adalah ketidaktepatan. Jansen dan Larsen menemukan bahwa
pengukuran simfisis-fundus membantu mengidentifikasikan hanya 40 % bayi.
Sehingga bayi yang kecil untuk masa kehamilan dapat terlewatkan atau
terdiagnosis berlebihan. Meskipun demikian, hasil-hasil ini tidak mengurangi
pentingnya pengukuran fundus yang dilakukan secara cermat sebagai cara
penapisan sederhana.2
Cara pengukuran menggunakan sebuah tali pengukur yang di kalibrasi dalam
sentimeter dan dipasang pada lengkung abdomen dari tepi atas simfisis sampai ke
tepi atas fundus uteri yang diidentifikasi dengan palpasi atau perkusi. Antara usia
gestasi 18 sampai 30 minggu, tinggi fundus uteri dalam sentimeter bertepatan
dengan minggu gestasi. Bila ukurannya lebih dari 2 sampai 3 cm dari tinggi
fundus seharusnya, pertumbuhan janin yang tidak sesuai dapat dicurigai.2
TFU akan sesuai dengan jumalh minggu usia kehamilan pada usia kehamilan 22
minggu sampai 32 minggu dengan syarat kandung kemih dalam keadaan kosong.
Jika diperoleh hasil pengukuran tinggi fundus < 3 cm lebih rendah dari yang
diharapkan pada usia kehamilan kurang dari 34 minggu, maka perlu dicurigai
adanya PJT. Namun pengukuran ini tidak dapat dilakukan bila usia kehamilan
lebih dari 35 minggu.3
11

3. Pengukuran Ultrasonografi
Semua kehamilan harus mendapatkan pemeriksaan ultrasonik secara rutin dengan
tujuan dapat membantu mendiagnosis pertumbuhan janin terhambat. Sebaiknya
kepastian PJT dapat dibuat apabila terdapat data USG sebelum 20 minggu
sehingga pada kehamilan 32 - 34 minggu dapat ditentukan secara lebih tepat.
Pemeriksaan Ultrasonografi yang rutin pada usia gestasi 16 sampai 20 minggu
untuk menetapkan usia kehamilan dan menyingkirkan anomali yang tampak,
diikuti oleh pemeriksaan pada minggu ke 32 sampai 34 untuk mengevaluasi
pertumbuhan janin. Metode Ultrasonografi optimal untuk memperkirakan ukuran
janin dan adanya pertumbuhan janin terhambat. Menggabungkan ukuran kepala,
abdomen dan femur secara teoritis akan meningkatkan akurasi peramalan ukuran
janin.1,2
Hasil dari ultrasonografi yang ditemukan pada PJT :
1. Diameter Biparietale
Memiliki variasi fisiologi yang sangat tinggi dengan semakin bertambahnya
usia kehamilan, sehingga bukan merupakan penentu yang ideal. Hal ini
disebabkan oleh lambatnya penurunan pertumbuhan tulang tengkorak karena
malnutrisi dan adanya berubah bentuk tengkorak oleh kekuatan luar
(oligohidramnion, presentasi bokong). Campbell (1972), mengenali dua pola
teknik pemeriksaan. Pada pola low-profile, pertumbuhan kepala terus rendah
disepanjang kehamilan dan keadaan ini berkaitan dengan anomali kongenital,
infeksi serta abnormalitas kromosom, sedangkan pada pola late-flattening
ditandai dengan pertumbuhan kepala janin yang sebelumnya normal diikuti
dengan perlambatan pada trimester ketiga. Pola ini berkaitan dengan faktor
maternal dan plasental seperti hipertensi.1,2
2. Rasio Lingkar Kepala Terhadap Lingkar Abdomen
Normalnya lingkar kepala lebih besar dari lingkar abdomen sampai
kehamilan mencapai usia kurang dari 32 minggu. Pada usia kehamilan antara
32 dan 36 minggu, kedua sirkumferensia tersebut sama besarnya. Setelah usia
36 minggu, sirkumferensia abdomen biasanya melampaui sirkumferensia
kepala. Lingkar perut (AC), diukur melewati hati. Merupakan parameter yang
paling baik dengan sensitivitas mencapai 82 % dan berguna secara klinik
untuk menggambarkan status nutrisi janin. Teknik ini dapat digunakan untuk

12

mendeteksi retardasi pertumbuhan janin, disamping itu dapat pula dibedakan


pola pertumbuhan yang simetris ataupun yang asimetris. 1,2
3. Pengukuran Cairan Amnion
Cairan amnion merupakan petanda kesejahteraan janin. Jumlah cairan amnion
yang normal merupakan indikasi fungsi sirkulasi janin relatif baik. Bila
terdapat oligohidramnion, patut dicurigai perburukan fungsi janin. Chauhan
dkk (2007) menemukan oligohidramnion pada kurang dari 10% kehamilan
yang dicurigai mengalami PJT, tapi kelompok perempuan ini berpeluang dua
kali lebih besar untuk melahirkan secara caesar akibat pola denyut jantung
janin yang tidak stabil. Satu penjelasan untuk oligohidramnio adalah
kekurangan produksi urin janin akibat hipoksia dan penurunan aliran darah
4.

ginjal.1,2
Berat Janin
Berbagai rumus yang berbeda berdasarkan hasil pengukuran diameter janin,
sikumferensia dan daerah dari semua bagian tubuh dapat digunakan untuk
mengukur taksiran berat janin yang dapat pula digunakan untuk mendeteksi
adanya retardasi pertumbuhan.1,2
Taksiran berat badan janin (TBJ) yang paling banyak digunakan yakni
pengukuran

berdasarkan

ukuran

diameter

biparietal

(BPD),

heas

sirkumference (HC), abdominal sirkumference (SC) dan femur lenght (FL).


Beberapa parameter lain dari USG untuk mendiagnosis PJT adalah dengan
rasio berbagai variasi pengukuran seperti lingkar kepala dibagi lingkar perut
(HC/AC) normal sama dengan 1.0 sebelum usia 32 minggu, mendekati 1.0
pada usia kehamilan 32 minggu sampai 34 minggu dan kurang dari 1.0
5.

setelah usiang kehamilan 34 minggu.3


Derajat Plasenta
Plasenta derajat III berhubungan dengan hampir 60% janin dengan
Derajat

PJT.

plasenta ditentukan berdasarkan lempeng korion. Derajat I memiliki

lempeng korion yang halus, biasanya terdapat pada kehamilan 30-32 minggu
dan dapat bertahan hingga aterm. Derajat II memiliki densitas berbentuk
koma dan derajat III memiliki indentasi lempeng korion.2
4. Velosimetri Dopler
Velosimetri Doppler arteri umbilikalis abnormal ditandai dengan tidak ada atau
berbaliknya aliran akhir diastolik yang menunjukkan tahanan yang meninggi,
secara unik telah dikaitkan dengan hambatan pertumbuhan janin. Penggunaan
velosimetri doppler dalam penatalaksanaan pertumbuhan janin terhambat telah
13

direkomendasikan sebagai kemungkinan pendukung untuk teknik pemeriksaan


janin lainnya seperti uji non-stres atau profil biofisik.2
2.9

KOMPLIKASI
Komplikasi pada PJT dapat terjadi pada janin dan ibu :

1.

Janin
Antenatal : gagal nafas dan kematian janin
Intranatal : hipoksia dan asidosis
Setelah lahir :
a. Langsung

Asfiksia

Hipoglikemi

Aspirasi mekonium

DIC

Hipotermi

Perdarahan pada paru

Polisitemia

Hiperviskositas sindrom

Gangguan gastrointestinal

b. Tidak langsung
Pada simetris PJT keterlambatan perkembangan dimulai dari lambat dari
sejak kelahiran, sedangkan asimetris PJT dimulai sejak bayi lahir di mana
terdapat kegagalan neurologi dan intelektualitas. Tapi prognosis terburuk
ialah PJT yang disebabkan oleh infeksi kongenital dan kelainan kromosom.
2. Ibu

3.0

Preeklampsia

Penyakit jantung

Malnutrisi

PENATALAKSANAAN
14

Langkah pertama dalam menangani PJT adalah mengenali pasien-pasien yang


mempunyai resiko tinggi untuk mengandung janin kecil. Langkah kedua adalah
membedakan janin PJT atau malnutrisi dengan janin yang kecil tetapi sehat. Langkah
ketiga adalah menciptakan metode adekuat untuk pengawasan janin pada pasienpasien PJT dan melakukan persalinan di bawah kondisi optimal.
Untuk mengenali pasien-pasien dengan resiko tinggi untuk mengandung janin kecil,
diperlukan riwayat obstetrik yang terinci seperti hipertensi kronik, penyakit ginjal ibu
dan riwayat mengandung bayi kecil pada kehamilan sebelumnya. Selain itu
diperlukan pemeriksaan USG. Pada USG harus dilakukan taksiran usia gestasi untuk
menegakkan taksiran usia gestasi secara klinis. Kemudian ukuran-ukuran yang
didapatkan pada pemeriksaan tersebut disesuaikan dengan usia gestasinya.
Pertumbuhan janin yang suboptimal menunjukkan bahwa pasien tersebut
mengandung janin PJT.
Tatalaksana kehamilan dengan PJT bertujuan, karena tidak ada terapi yang paling
efektif sejauh ini adalah untuk melahirkan bayi yang sudah cukup usia dalam kondisi
terbaiknya dan meminimalisasi risiko pada ibu. Tatalaksana yang harus dilakukan
adalah :
1. PJT Pada Kehamilan Mendekati Aterm
Pelahiran segera adalah yang terbaik untuk janin aterm atau mendekati aterm
yang diduga mengalami hambatan pertumbuhan. Bahkan, kebanyakan dokter
menganjurkan pelahiran pada usia kehamilan 34 minggu atau lebih jika secara
klinis terjadi oligohidramnion yang signifikan. Jika pola denyut jantung janin
meyakinkan, dapat dicoba pelahiran pervaginam. Beberapa dari janin tersebut
tidak dapat melalui proses persalinan, oleh karena itu, dilakukan pelahiran
perabdominal. Intervensi harus dicegah pada kondisi diagnosis yang belum pasti
hingga kematangan paru-paru janin terjamin.2
2. PJT Pada Kehamilan Sebelum Aterm
Jika PJT terdiagnosis pada janin sebelum 34 minggu, serta volume cairan
amnion dan hasil pengamatan janin normal, dianjurkan untuk dilakukan
observasi.

Pemeriksaan

untuk

mendeteksi

toksoplasmosis,

rubella,

cytomegalovirus, herpes, dan infeksi lainnya dianjurkan, namun prosedur ini


belum terbukti bermanfaat.2
Selama janin terus bertumbuh dan kesehatan janin tetap normal, kehamilan dapat
terus dilanjutkan hingga janin matur. Dalam beberapa kasus, amniosintesis dapat
15

berguna untuk menilai kematangan paru. walaupun oligohidramnion yang terus


berlanjut merupakan petunjuk bahwa kemungkinan besar terjadi kegagalan
pertumbuhan janin, harus disadari bahwa volume cairan amnion yang normal
tidak menyingkirkan diagnosis PJT.2
Pematangan paru harus dilakukan pada janin prematur. Pengawasan ketat selama
melahirkan harus dilakukan untuk mencegah komplikasi setelah melahirkan.
Operasi caesar dilakukan apabila terjadi distress janin serta perawatan intensif
neonatal care segera setelah dilahirkan sebaiknya dilakukan. Kemungkinan
kejadian distress janin selama melahirkan meningkat pada PJT karena umumnya
PJT banyak disebabkan oleh insufisiensi plasenta yang diperparah dengan proses
melahirkan.8
Pada PJT pada kehamilan sebelum aterm, tidak ada tatalaksana khusus yang
dapat memperbaiki kondisi. Misalnya, tidak ada bukti tirah baring mampu
mempercepat pertumbuhan atau memperbaiki prognosis. Suplementasi nutrisi,
upaya penambahan volume plasma, terapi oksigen, obat0obatan anti hipertensi,
heparin dan aspirin, semuanya telah terbukti tidak efektif.2
3. Proses Melahirkan
PJT umumnya disebabkan insufisiensi plasenta karena gangguan perfusi pada
ibu, ablasi plasenta fungsional atau keduanya. Jika ada, kedua kondisi ini
cenderung diperberat oleh proses persalinan. Sama pentingnya, berkurangnya
volume cairan amnion meningkatkan kemungkinan kompresi tali pusat ketika
masa persalinan. Karena alasan-alasan inilah, seorang perempuan dengan janin
yang diduga mengalami PJT seharusnya melakukan pemantauan intra partum
risiko tinggi. Karena hal ini dan alasan lainnya, insiden pelahiran caesar
meningkat.2
3.1

PENCEGAHAN
Pencegahan PJT idealnya dimulai sebelum konsepsi terjadi dengan mengoptimalkan
kondisi kesehatan ibu, pengobatan, dan gizi yang baik. Penghentian kebiasaan
merokok sangat dianjurkan. Faktor-faktor risiko lainnya mengacu pada kondisi ibu,
seperti profilaksis antimalaria bagi perempuan yang tinggal di daerah endemik dan
koreksi defisiensi besi.2
Pada kehamilan-kehamilan risiko terjadi PJT, misalnya pada perempuan hipertensi
atau dengan riwayat PJT sebelumnya, profilaksis dengan aspirin dosis rendah pada
awal kehamilan telah terbukti mengurangi PJT sebesar 10%.2
16

Beberapa penyebab dari PJT tidak dapat dicegah. Bagaimanapun juga, faktor seperti
diet, istirahat, dan olahraga rutin dapat dikontrol. Untuk mencegah komplikasi yang
serius selama kehamilan, sebaiknya seorang ibu hamil mengikuti nasihat dari
dokternya; makan makanan yang bergizi tinggi; tidak merokok, minum alkohol dan
menggunakan narkotik; mengurangi stress; berolahraga teratur; serta istirahat dan
tidur yang cukup. Suplementasi dari protein, vitamin, mineral, serta minyak ikan juga
baik dikonsumsi. Selain itu pencegahan dari anemia serta pencegahan dan
tatalaksana dari penyakit kronik pada ibu maupun infeksi yang terjadi harus baik. 5,7
Hal-hal yang harus diperhatikan untuk mencegah PJT pada janin untuk setiap ibu
hamil sebagai berikut :
1. Usahakan hidup sehat.
Konsumsilah makanan bergizi seimbang. Untuk kuantitas, makanlah seperti biasa
ditambah ekstra 300 kalori/hari.
2. Hindari stress selama kehamilan.
Stress merupakan salah satu faktor pencetus hipertensi.
3. Hindari makanan obat-obatan yang tidak dianjurkan selama kehamilan.
Setiap akan mengkonsumsi obat, pastikan sepengetahuan/resep dokter kandungan.

4. Olah raga teratur.


Olah raga (senam hamil) dapat membuat tubuh bugar, dan mampu memberi
keseimbangan oksigenasi, maupun berat badan.
5. Hindari alkohol, rokok, dan narkoba.
6. Periksakan kehamilan secara rutin.
Pada saat kehamilan, pemeriksaan rutin sangat penting dilakukan agar kondisi ibu
dan janin dapat selalu terpantau. Termasuk, jika ada kondisi PJT, dapat diketahui
sedini mungkin. Setiap ibu hamil dianjurkan melakukan pemeriksaan setiap 4
minggu sampai dengan usia kehamilan 28 minggu. Kemudian, dari minggu ke 2836, pemeriksaan dilakukan setidaknya setiap 2 minggu sekali. Selanjutnya,
lakukan pemeriksaan setiap 1 minggu sampai dengan usia kelahiran atau 40
minggu. Semakin besar usia kehamilan, semakin mungkin pula terjadi hambatan
atau gangguan. Jadi, pemeriksaan harus dilakukan lebih sering seiring dengan
bertambahnya usia kehamilan.5,7
17

18

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Pertumbuhan janin terhambat (PJT) adalah sebuah istilah yang digunakan untuk
menggambarkan suatu kondisi dimana berat janin tidak sesuai dengan masa
kehamilan. Pertumbuhan janin terhambat ditentukan bila janin kurang dari 10% dari
berat yang harus dicapai pada usia kehamilan tertentu. Biasanya perkembangan yang
terhambat diketahui setelah 2 minggu tidak ada pertumbuhan.
Etiologinya dapat berasal dari faktor ibu, uterus dan plasenta, maupun dari janin
itu sendiri. PJT diklasifikasikan menjadi tipe simetris, asimetris, dan kombinasi
keduanya. Bayi-bayi yang dilahirkan dengan PJT biasanya tampak kurus, pucat, dan
berkulit keriput. Tali pusat umumnya tampak rapuh dam layu dibanding pada bayi
normal yang tampak tebal dan kuat. PJT muncul sebagai akibat dari berhentinya
pertumbuhan jaringan atau sel.
Diagnosis PJT dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa, riwayat penyakit ibu
(faktor resiko), pemeriksaan fisik (TFU yang tidak sesuai dengan usia kehamilan), dan
pemeriksaan penunjang (USG, Velosimetri Dopler).
Dengan penatalaksanaan yang baik, mulai dari pemeriksaan secara teratur,
setidaknya dapat mengurangi kejadian PJT. Beberapa penyebab dari PJT tidak dapat
dicegah. Faktor seperti diet, istirahat, dan olahraga rutin dapat dikontrol. Menghindari
cara hidup berisiko tinggi (rokok, alkohol, stress), makan makanan bergizi, dan
lakukan kontrol kehamilan (prenatal care) secara teratur dapat menekan risiko
munculnya PJT.

19

DAFTAR PUSTAKA
1. Winknjosastro, Gulardi H. 2009. Pertumbuhan Janin Terhambat dalam Ilmu
Kebidanan Sarwono Prawirohardjo Edisi Keempat. Jakarta : PT Bina
Pustaka. Hal 696-700.
2. Cunningham dkk. 2013. Gangguan Pertumbuhan Janin dalam Williams
Obstetri Edisi 23 Volume 2. Jakarta : EGC. Halaman 888-900.
3. Susilawati, Dessy. 2009. Volume dan Fungsi Sekresi Ginjal Pada
Pertumbuhan Janin Terhambat dan Normal Dengan Pemeriksaan
Ultrasonografi. Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUSU.
4. Castro Lony et al. 2003. Intrauterine Growth Restriction Is Accompanied By
Decreased Renal Volume In The Human Fetus. Am J Obstet Gynecol, 188:
1320-325.
5. Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT). Dalam http://www.klikdokter.com.
Diakses tanggal 29 Desember 2014
6. Midewiferoom.
Pertumbuhan
Janin

Terhambat.

Available

at

http://midwiferoom.blog.com/2008/11/22/pertumbuhan-janin-terhambat/
7. Waspadai
Pertumbuhan
Janin
Terlambat
(PJT).
Dalam
http://www.kafebalita.com. Diakses tanggal 29 Desember 2014.
8. Lausman, Andrea. 2012. Screening, Diagnosis, and Management of
Intrauterine Growth Restriction. Journal Obstet Gynaecol. Vol 1. Hal 17
28.

20