Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dermatitis kontak merupakan inflamasi non-infeksi pada kulit yang diakibatkan
oleh senyawa yang kontak dengan kulit tersebut (Hayakawa, 2000). Klasifikasi
dermatitis secara umum berdasarkan sumber agen penyebab dermatitis, yaitu
dermatitis eksogen dan dermatitis endogen. Salah satu jenis dermatitis eksogen adalah
dermatitis kontak. (Buxton, 2005).
Ciri umum dari dermatitis kontak ini adalah adanya eritema, edema, papul,
vesikel, krusta (Freedberg, 2003). Secara umum dermatitis kontak dibagi menjadi
dua, yaitu dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergi. Beberapa pustaka lain
memasukkan jenis dermatitis lain ke dalam kelompok dermatitis kontak. Jenis
dermatitis tersebut seperti fototoksik dermatitis, fotoalergi dermatitis, sindrom
urtikaria kontak dan dermatitis tipe kontak sistemik (Hayakawa, 2000 ; Buxton,
2005). Dermatitis kontak alergi (DKA) disebabkan oleh alergen sebagai peranan
terbesarnya. Urushiol (dari racun tanaman oak/ivy/sumac), garam nikel (pada
perhiasan) dan parfum (pada kosmetik) merupakan contoh alergen yang mampu
mengakibatkan dermatitis kontak alergi (Keefner, 2004). Dermatitis kontak iritan
yang terjadi setelah pemaparan pertama kali disebut DKI akut yang biasanya
disebabkan oleh iritan yang kuat, seperti asam kuat. Sedangkan dermatitis kontak
iritan yang terjadi setelah pemaparan berulang disebut DKI kronis yang biasanya
disebabkan oleh iritan lemah (Hayakawa, 2000). Pada tempat kerja, DKI biasanya
terjadi akibat suatu kecelakaan kerja atau karena kecerobohan sehingga tidak
menggunakan pelindung (Ket dan Leok, 2002). DKI yang terdapat pada bayi biasa
dikenal sebagai diaper dermatitis (Anonim, 2008).
Penderita dermatitis kontak iritan lebih banyak dibandingkan dengan dermatitis
kontak alergi yaitu sebanyak 80%, sedangkan dermatitis kontak alergi hanya 10-20%.

Hal ini disebabkan dermatitis kontak alergi hanya mengenai orang yang kulitnya
hipersensitif. Diperkirakan insidensi dermatitis kontak alergi adalah 0,21% dari
populasi penduduk. Secara umum dermatitis kontak alergi bila dilihat dari jenis
kelamin, prevalensi pada wanita adalah dua kali lipat dibanding laki-laki (Keefner,
2004).
Menurut predileksi, dermatitis kontak baik iritan maupun alergi paling sering di
tangan, karena tangan merupakan organ tubuh yang paling sering digunakan untuk
melakukan pekerjaan sehari-hari contohnya penggunaan detergen. Oleh karena itu
disarankan untuk tetap menggunakan detergen pada awal pemakaian dan untuk tidak
mudah tergiur dengan iklan detergen lain (Suria Djuanda, 2008).
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah kosep dasar dari penyakit dermatitis kontak ?
2. Bagaimanakah Asuhan Keperawatan pada penyakit dermatitis kontak ?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui dan memahami asuhan keperawatan sistemsensori pada klien
dengan masalah glaukoma

1
2

1.3.2 Tujuan Khusus


Untuk mengetahui konsep dasar Dermatitis Kontak
Mendiskripsikan pengkajian keperawatan sistem integumen padaklien dengan

masalah Dermatitis Kontak


Mendiskripsikan diagnosa keperawatan sistemintegumen pada klien dengan masalah

Dermatitis Kontak
Mendiskripsikan intervensi keperawatan sistemIntegumen pada klien dengan masalah
Dermatitis Kontak

1.4 Manfaat Penulisan


1. Bagi Mahasiswa

Bagi mahasiswa kedepannya sebagai perawat bisa mengaplikasikan ilmu tersebut


atau menerapkannya dalam memberikan asuhan keperawatan pada sistem
integumen dengan baik dan benar.
2. Bagi Profesi Keperawatan
Bagi profesi keperawatan dapat menerapkan asuhan keperawatan sistem
integumen untuk lebih baik lagi.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Dermatitis Kontak


Dermatitis kontak adalah dermatitis yang disebabkan oleh bahan atau substansi
yang menempel pada kulit.(Adhi Djuanda,2005). Dermatitis yang muncul dipicu
alergen (penyebab alergi) tertentu seperti racun yang terdapat pada tanaman
merambat atau detergen. Indikasi dan gejala antara kulit memerah dan gatal.
Dermatitis kontak adalah suatu inflamasi pada kulit yang dapat disertai dengan
adanya edema interseluler pada epidermis karena kulit berinteraksi dengan bahanbahan kimia yang berkontak dengan kulit. Berdasarkan penyebabnya, dermatitis
kontak ini dibagi menjadi dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergi
(Belsito, 2005).
2.2 Klasifikasi Dermatitis Kontak
Dermatitis kontak berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi :
1. Dermatitis kontak iritan.
2. Dermatitis kontak alergi.
2.2.1 Dermatitis Kontak Iritan
1. Pengertian
Dermatitis kontak iritan merupakan respon inflamasi yang tidak berkaitan dengan
reaksi imun dikarenakan paparan langsung dari agen bahan iritan dengan kulit.
2. Etiologi
Bahan iritan yang menjadi penyebab dermatitis kontak adalah bahan yang pada
kebanyakan orang dapat mengakibatkan kerusakan sel bila dioleskan pada kulit pada
waktu tertentu dan untuk jangka waktu tertentu. Bahan iritan dapat diklasifikasikan
menjadi:
a.
b.
c.
d.

Iritan kuat.
Rangsangan mekanik: serbuk kaca/ serat, wol.
Bahan kimia: air, sabun.
Bahan biologik: dermatitis popok.
Terdapat empat mekanisme yang berhubungan dengan terjadinya dermatitis
kontak iritan, yaitu meliputi:

a. Hilangnya lapisan lipid di superfisial dan substansi yang mengikat air.


b. Kerusakan dari membran sel.

c. Denaturasi keratin pada epidermis.


d. Secara langsung timbulkan efek sitotoksik.
3. Manifestasi Klinis
Dermatitis kontak iritan memiliki manifestasi klinis yang dapat dibagi dalam
beberapa kategori, berdasarkan bahan iritan dan pola paparan. Setidaknya ada 10 tipe
klinis dari dermatitis kontak iritan yang telah dijelaskan.
a. Reaksi iritasi : muncul sebagai reaksi monomorfik akut yang meliputi bersisik,
eritema derajat rendah, vesikel, atau erosi and selalu berlokasi di punggung tangan
dan jari. Hal ini sering terjadi pada individu yang bekerja di lingkungan yang lembap.
Reaksi iritasi ini berakhir atau berkembang menjadi dermatitis iritan kumulatif.
b. Dermatitis kontak iritan akut : biasanya timbul akibat paparan bahan kimia asam atau
basa kuat, atau paparan singkat serial bahan kimia, atau kontak fisik. Sebagian kasus
dermatitis kontak iritan akut merupakan akibat kecelakaan kerja. Kelainan kulit yang
timbul dapat berupa eritema, edema, vesikel, dapat disertai eksudasi, pembentuka
bula dan nekrosis jaringan pada kasus yang berat.
c. Iritasi akut tertunda : merupakan reaksi akut tanpa tanda yang terlihat akibat reaksi
inflamasi hingga 8 sampai 24 jam. Setelah gejala klinis timbul, maka tampilan
klinisnya sama dengan dermatitis kontak iritan akut.
d. Dermatitis gesekan : iritasi mekanik dapat timbul akibat mikrotrauma dan gesekan
yang berulang. Tipe ini biasanya menimbulkan kulit kering, hiperkeratotik pada kulit
yang terabrasi, dan membuat kulit lebih rentan terhadap terjadinya iritasi.
e. Dermatitis kontak iritan kronik kumulatif : merupakan jenis dermatitis kontak yang
paling sering ditemukan. Jenis ini akibat adanya paparan berulang pada kulit, dimana
bahan kimia yang terpapar sering lebih dari satu jenis dan bersifat lemah karena
dengan paparan tunggal tidak akan mampu timbulkan dermatitis iritan. Bahan iritan
ini biasanya berupa sabun, deterjen, surfaktan, pelarut organik dan minyak. Awalnya,
dermatitis kontak kumulatif dapat muncul rasa gatal, nyeri, dan terdapat kulit kering
pada beberapa tempat, kemudian eritema, hiperkeratosis, dan fisur dapat timbul.
Gejala tidak segera timbul setelah paparan, tetapi muncul setelah beberapa hari, bulan
atau bahkan tahun.

Gambar 1. Dermatitis kontak iritan akibat mencuci pakaian.


4. Patofisiologi Dermatitis Kontak Iritan
Pada dermatitis kontak iritan kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang
disebabkan oleh bahan iritan melalui kerja kimiawi maupun fisik. Bahan iritan
merusak lapisan tanduk, dalam beberapa menit atau beberapa jam bahan-bahan iritan
tersebut akan berdifusi melalui membran untuk merusak lisosom, mitokondria dan
komponen-komponen inti sel. Dengan rusaknya membran lipid keratinosit maka
fosfolipase akan diaktifkan dan membebaskan asam arakidonik akan membebaskan
prostaglandin dan leukotrin yang akan menyebabkan dilatasi pembuluh darah dan
transudasi dari faktor sirkulasi dari komplemen dan system kinin. Juga akan menarik
neutrofil dan limfosit serta mengaktifkan sel mast yang akan membebaskan histamin,
prostaglandin dan leukotrin. PAF akan mengaktivasi platelets yang akan
menyebabkan perubahan vaskuler. Diacil gliserida akan merangsang ekspresi gen dan
sintesis protein.
Pada dermatitis kontak iritan terjadi kerusakan keratisonit dan keluarnya
mediator- mediator. Sehingga perbedaan mekanismenya dengan dermatis kontak
alergik sangat tipis yaitu dermatitis kontak iritan tidak melalui fase sensitisasi.
2.3 Dermatitis Kontak Alergi
1. Pengertian
Dermatitis kontak alergi adalah reaksi hipersensitifitas tipe IV akibat pajanan
kulit dengan bahan-bahan yang bersifat sensitizer (alergen), reaksi imunologi tipe IV
ini merupakan reaksi hipersensitifitas tipe lambat.
2. Etiologi
Penyebab dermatitis kontak alergi adalah bahan kimia sederhana dengan berat
molekulumumnya rendah (< 1.000 dalton), merupakan alergen yang belum diproses,

disebut hapten, bersifat lipofilik, sangat reaktif, dapat menembus stratum korneum
sehingga mencapai sel epidermis dibawahnya (sel hidup).
3. Manifestasi klinis
Pada umumnya penderita mengeluh gatal. Kelainan kulit yang timbul bergantung
pada keparahan dermatitis dan lokalisasinya. Wujud kelainan kulit yang timbul dibagi
menjadi:
a. Fase akut
Dimulai dengan bercak eritematosa yang berbatas jelas kemudian diikuti edema,
papulovesikel, vesikel atau bula. Vesikel atau bula ini dapat pecah sehingga menjadi
erosi dan terdapat eksudasi (basah), bila menjadikering akan timbul krusta.
b. Fase kronis
Kulit terlihat kering, berskuama, papul, likenifikasi dan mungkinterbentuk fisur,
batasannya tidak jelas, dapat pula terjadi hiperpigmentasi.Di bawah ini merupakan
salah satu contoh gambaran klinis dermatitis kontakalergi.

Gambar 2. Dermatitis kontak alergi karena nikel pada jam tangan

4. Patofisiologi Dermatitis Alergi


Dermatitis kontak alergik termasuk reaksi tipe IV ialah hipersenitivitas tipe
lambat. Patogenesisnya melalui dua fase yaitu fase indukdi (fase sensitisasi) dan fase
elisitasi.
Fase induksi ialah saat kontak pertama alergen dengan kulit sampai limfosit
mengenal dan memberikan respon, memerlukan 2-3 minggu. Fase elesitasin ialah saat
terjadi pajanan ulang dengan alergen yang sama atau serupa sampai timbul gejala
klinis.
Pada fase induksi, hapten (proten tak lengkap) berfenetrasi ke dalam kulit dan
berikatan dengan protein barier membentuk anti gen yang lengkap. Anti gen ini

ditangkap dan diproses lebih dahulu oleh magkrofak dan sel Langerhans, kemudian
memacu reaksi limfoisit T yang belum tersensitasi di kulit, sehingga terjadi sensitasi
limposit T, melalui saluran limfe, limfosit yang telah tersensitasi berimigrasi ke darah
parakortikal kelenjar getah bening regional untuk berdiferensiasi dan berfoliferasi
membentuk sel T efektor yang tersensitasi secara spesifik dan sel memori. Kemudian
sel-sel tersebut masuk ke dalam sirkulasi, sebagian kembali ke kulit dan sistem
limfoid, tersebar di seluruh tubuh, menyebabkan keadaan sensetivitas yang sama di
seluruh kulit tubuh.
Pada fase elisitasi, terjadi kontak ulang dengan hapten yang sama atau serupa.
Sel efektor yang telah tersensitisasi mengeluarkan limfokin yang mampu menarik
berbagai sel radang sehingga terjadi gejala klinis.
5. Penatalaksanaan dan Pencegahan
a. Penatalaksanaan dan pencegahan DKA (Dermatitis Kontak Alergi) :
1) Upaya pencegahan terulangnya kontak kembali dengan alergen penyebab dan
menekan kulit yang timbul.
2) Kortikosteroid dapat diberikan dalam jangka pendek untuk mengatasi
peradanagn pada DKA akut yang ditandai dengan eritema, edema, vesikel, bula,
eksudatif (madidans), misalnya mengkonsumsi prednison 30 mg/hari. Sedangkan
kelainan kulinya cukup dikompres dengan larutan garam faal atau larutan air
salisil 1: 1000.
3) Untuk DKA ringan atau DKA akut yang telah mereda (setelah mendapat
pengobatan kortikosteroid sistemik), cukup diberikan kortikosteroid atau
makrolaktam (tacrolimus) secara topikal.
b. Penatalaksanaan dan pencegahan DKI (Dermatitis Kontak Iritan) :
1) Menghindari pajanan bahan iritan, baik yang bersifat mekanik, fisis maupun
kimiawi serta menyingkirkan faktor yang memperberat. Bila dapat dilaksanakan
dengan sempurna, dan tidak terjadi komplikasi, maka DKI akan sembuh sendiri,
cukup dengan pelembab untuk memperbaiki kulit yang kering.
2) Apabila diperlukan, untuk mengatasi peradangan dapat diberikan kortikosteroid
topikal seperti hidrokortison atau untuk kelainan yang kronis dapat diawali
dengan kortikosteroid yang lebih kuat.
3) Pemakaian alat pelindung diri yang adekuat, diperlukan bagi mereka yang
bekerja dengan bahan iritan.

2.4 Komplikasi
1. Kerusakan integritas kulit
2. Gangguan Konsep diri
3. Infeksi sekunder
4. Gangguan rasa nyaman
2.5 Pemeriksaan Penunjang
a. Biopsi kulit
Biopsi kulit adalah pemeriksaan dengan cara mengambil contoh jaringan dari
kulit yang terdapat lesi. Biopsi kulit digunakan untuk menentukan apakah ada
keganasan atau infeksi yang disebabkan oleh bakteri dan jamur.
b. Uji kultur dan sensitivitas
Uji ini perlu dilakukan untuk mengetahui adanya virus, bakteri, dan jamur pada
kulit.Kegunaan lain adalah untuk mengetahui apakah mikroorganisme tersebut
resisten pada obat-obat tertentu. Cara pengambilan bahan untuk uji kultur adalah
dengan mengambil eksudat pada lesi kulit.
c. Uji tempel
Uji ini dilakukan pada klien yang diduga menderita alergi. Untuk mengetahui
apakah lesi tersebut ada kaitannya dengan factor imunologis. Untuk mengidentifikasi
respon alergi Uji ini menggunakan bahan kimia yang ditempelkan pada kulit,
selanjutnya dilihat bagaimana reaksi local yang ditimbulkan. Apabila ditemukan
kelainan pada kulit, maka hasilnya positif.
2.6 WOC (Web Of Caution)
Sabun, detergen, zat kimia
Iritan primer
Mengiritasi kulit
MK : Kerusakan integritas kulit
Peradangan kulit (Lesi)

MK : Resiko infeksiMK :Gangguan Citra tubuh

BAB 3
TINJAUAN KASUS

DEPARTEMEN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH


STIKES HANG TUAH SURABAYA

A. Pengkajian Keperawatan Medikal Bedah


Waktu pengkajian : 16-03-2015
Waktu MRS :09.30 WIB
Ruang/ kelas : Poli kulit

No RM :22-xx-xx
Diagnosa Medis : Dermatitis kontak

1. Identitas
Nama
:Tn. K
Suku Bangsa
:Indonesia
Jenis Kelamin
:laki-laki
Pendidikan
:SMA

Umur
Pekerjaan
Agama
Pgg jwb

:21 tahun
:Pegawai swasta
:islam
: istri

Status

:menikah

Alamat

: surabaya

2. Keluhan Utama
Kulit pasien mengelupas di ujung jari-jari kedua tangan dan telapak kaki
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang dengan keluhan kulit mengelupas di ujung jari-jari kedua tangan dan
telapak kaki, Pasien juga mengeluh perih pada ujung jari-jari kedua tangannya.
Keluhan ini dirasakan sejak 3 bulan yang lalu bersamaan dengan munculnya
kemerahan dan pengelupasan kulit. Keluhan kulit terasa lebih tebal ada, gatal tidak
ada. Keluhan ini sudah dirasakan sejak 3 bulan yang lalu. Awalnya kulit dikatakan
terlihat kemerahan dan bintik-bintik merah, kemudian kulit pasien seperti bersisik dan
mengelupas. Keluhan ini dikatakan muncul setelah pasien mencuci dengan detergen.
Keluhan dikatakan sempat berkurang setelah pasien berhenti mencuci tangan, namun
kemudian muncul kembali beberapa minggu setelah pasien kembali mencuci
menggunakan detergen dengan tangannya.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien pernah mengalami sakit yang sama di lokasi yang sama setelah mencuci
dengan tangan menggunakan deterjen. Pasien tidak menderita asma dan tidak pernah
mengalami gatal-gatal atau kemerahan sebelumnya.
Riwayat Kesehatan Keluarga:
Pada keluarga tidak ada yang memiliki keluhan serupa dengan klien.
Riwayat alergi: Tidak ada alergi makanan maupun obat
3. Observasi dan Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum :Baik
Kesadaran
:Compos mentis
Tanda-Tanda vital
TD
:120/90 MmHg
Nadi :84x/menit
RR
:20x/menit

Suhu :360C
Antropometri
TB
:167 cm
BB SMRS
:55 Kg
BB MRS
:55 Kg

4. B1 Pernafasan (Breath)
Bentuk Dada : Normo chest
Pergerakan
: Simetris
Otot bantu nafas tambahan :
Tidak ada
Jika ada, jelaskan: Tidak ada
Irama nafas : Reguler
Kelainan
: Tidak ada
Pola nafas
: Reguler
Taktil/Vocal fremitus: Tidak ada
Suara nafas
: Vesikuler

Suara nafas tambahan: Tidak ada


Sesak nafas
: Tidak ada
Batuk
: Tidak ada
Sputum
: Tidak ada
Warna
:Tidak ada
Ekskresi
: Tidak ada
Sianosis
: Tidak ada
jika ada, lokasi
:Tidak ada
Kemampuan akativitas: Normal

Masalah Keperawatan: Tidak terdapat masalah keperawatan


5. B2 Kardiovaskuler (Blood)
Ictus cordis

:ICS 5 linea midclavicula

sinistra
Irama jantung : Reguler
Nyeri dada
: Tidak ada
Jika ya, jelaskan :
PQRST
: Tidak ada
Bunyi jantung : S1 S2 Tunggal

Bunyi jantung tambahan: CRT


:<2 detik
Akral
: Hangat
Oedema
: Tidak ada
Jika ya, jelaskan
: Tidak ada
Hepatomegali
: Tidak ada
Perdarahan
: Tidak ada

Masalah Keperawatan: Tidak terdapat masalah keperawatan


6. B3 Persarafan (Brain)
GCS
Eye
:4
Verbal
:5
Motorik
:6
Total
:15
Refleks Fisiologis
Biceps
:(+)

Triceps
: (+)
Patella
: (+)
Refleks Patologis
Kaku Kuduk : (-)
Bruzinski I
: (-)
Bruzinski II : (-)
Kernig
: (-)

Nervus Kranial
NI
:pasien dapat mencium benda yang baunya mudah dikenal
NII
:pasien dapat melihat dengan normal
NIII :pupil pasien normal terhadap cahaya
NIV :pasien dapat melihat objek <60cm sejajar midline mata
NV
: pasien dapat mengunyah dengan baik, pasien dapat mengedipkan mata
dengan baik

NVI
NVII
NVIII
NIX
NX
NXI
NXII

:pasien dapat melirik ke kiri dan kanan tanpa menengok


: pasien dapat merasakan sensasi rasa terhadap asam,manis,asin dan pahit
:pasien dapat berjalan lurus dengan seimbang
:pasien dapat mengecap pada 1/3 posterior lidah
:pasien dapat menelan dengan baik
:pasien dapat mengangkat dengan bahu dan pemeriksa berusaha menahan
:pergerakan lidah pasien saat bicara dan menelan normal

Nyeri Kepala
: tidak ada
Jika ya, jelaskan
: tidak ada
Paralisis
: tidak ada
Penciuman
:Tajam
Bentuk Hidung
:simetris
Septum
:tepat di tengah
Polip
:tidak ada
Kelainan
:tidak ada
Wajah dan penglihatan
Mata
: simetris
Kelainan
:tidak ada
Pupil
:isokor
Refleks
:normal
Konjungtiva
: tidak anemis
Gangguan
:tidak ada

Skelera
: ikterik
Gangguan
:tidak ada
Visus
:normal
Pendengaran
Telinga
: normal
Kelainan
:tidak ada
Kebersihan :bersih
Gangguan
:tidak ada
Alat bantu
:tidak ada
Lidah
Kebersihan :bersih
Uvula
:normal
Palatum
: normal
kesulitan telan:tidak ada
Afasia
:tidak ada

Masalah Keperawatan: tidak terdapat masalah keperawatan


7. B4 Perkemihan (Blader)
Kebersihan

:bersih

Warna

Ekskresi

:tidak ada

Eliminasi urine MRS frek : -

Kandung Kemih

: tidak ada distensi

Jumlah

: tidak ada

Nyeri Tekan

:tidak ada

Warna

:tidak ada

Eliminasi urine SMRS frek: 4x/hari

Alat bantu

:tidak ada

Jumlah

Gangguan

: tidak ada

: 400cc

:kuning jernih

Masalah Keperawatan: Tidak terdapat masalah keperawatan


8. B5 Pencernaan (Bowel)
Mulut
Membra mukosa

:bersih
:lembab

Gigi/gigi palsu: tidak ada


Faring
:normal

Diit (makan&minum) SMRS:normal


Diit di RS diit
:normal
Frekuensi
:3x/hari
Nafsu makan
:baik
Muntah

: tidak ada

Mual
:Jenis
:nasi
NGT
:Porsi
:1 porsi
Frekuensi Minum
: 6x/hari
Jumlah
:2000 cc/hari
Jenis
: air mineral
Abdomen
Bentuk perut
: simetris
Peristaltik
:normal

Kelainan Abdomen :tidak ada


Hepatomegali
:tidak ada
Splenomegali
:tidak ada
Nyeri abdomen
: tidak ada nyeri
Rectum dan anus
Hemoroid
: tidak ada
Eliminasi alvi SMRS
Frekuensi
: 1x/hari
Warna
: kecoklatan
Konsistensi
: lembek
Eliminasi alvi MRS
Frekuensi
:Warna
:Konsistensi
:Colostomi
:-

>35x/menit
Masalah Keperawatan: tidak terdapat masalah keperawatan
9. B6 Muskuluskeletal & Integumen (Bone)
Rambut dan kulit kepala
Skabies
:tidak ada
Warna kulit :sawo matang
Kuku
: bersih
Turgor kulit :kasar
ROM
: tidak terbatas
Jika terbatas, pada sendi: Kekuatan Otot : 55555
55555

Deformitas
Fraktur
Lain-lain

55555
55555
: tidak ada
: tidak ada
: kulit telapak tangan
mengelupas dan
kemerahan

Masalah Keperawatan: Kerusakan integritas kulit


10. Endokrin
Pembesaran KGB

:tidak ada

Hipoglikemia :tidak ada

Hiperglikemia

:tidak ada

DM

: tidak ada

Masalah Keperawatan: tidak terdapat masalah keperawatan


11. Seksual Reproduksi
Menstruasi terakhir : Masalah menstrusi : Pap smear terakhir
:Pemeriksaan payudara/ testis sendiri tiap bulan : -

Masalah seksual yang berhubungan dengan penyakit : Masalah Keperawatan: (Jika ada, sebutkan)tidak ada masalah keperawatan
12. Kemampuan Perawatan Diri
Aktivitas
Mandi
Berpakaian/ dandan
Toileting/ eliminasi
Mobilitas di tempattidur
Alat bantu berupa
Berjalan
NiakTangga
Berbelanja
Memasak
Pemeliharaanrumah
Berpindah

SMRS
1
1
1
1
1
1
1

Keterangan
Skor 1 : Mandiri
2 : Alat bantu
3 : Dibantu orang lain dan alat
4 : Tergantung/ tdk mampu
Masalah Keperawatan: Tidak terdapat masalah keperawatan

MRS
3
1
3
1
1
1
1

13. Pemeriksaan Penunjang


Laboratorium
Tgl pemeriksaan : No
1
2 dst

JenisPemeriksaan

Hasil (satuan)

Nilai Normal (satuan)

Photo : Lain-lain : Terapi/ Tindakan Lain-lain: uji tempel


Tgl:16-03-2015
No
1.

NamaObat
hidrocortison

Dosis
0,1 %

Indikasi
Untuk melebabkan kulit

Surabaya, 16-03-2015

Ttd perawat

B. Analisa Data (Diagnosa Keperawatan)


No
1.

Data (Symptom)
DS :
Pasien mengatakan

Penyebab (Etiologi)
Zat kimia

Masalah (Problem)
Kerusakan integritas
kulit

kulit mengelupas dan


kemerahan
DO :
Kerusakan pada
lapisan kulit (dermis)
DS :
Pasien mengatakan
kulit bersisik dan

2.

mengelupas
DO :
Kulit pasien tampak

Pertahanan primer tidak

Risiko infeksi

adekuat

tebal
DS : DO : pasien tampak
malu dengan
tangannya
Trauma atau cedera

Gangguan citra tubuh

3.
Prioritas Masalah
No
1.
2.
3.

MasalahKeperawatan
Kerusakan integritas kulit
Risiko infeksi
Gangguan citra tubuh

Tanggal
ditemukan
teratasi
16-03-2015
16-03-2015
16-03-2015
16-03-2015
16-03-2015
16-03-2015

Paraf

C. Intervensi Keperawatan
N

DiagnosaKeperaw

TujuandanKriteriaH

o
1.

atan
asil
Kerusakan integritas Tujuan :
Menunjukkan
kulit b.d zat kimia
indikator berikut
(sebutkan 1-5 :
gangguan ekstrem,
berat, sedang, ringan
atau tidak ada
gangguan).
Kriteria Hasil :
Keutuhan struktural
dan fungsi fisiologis
kulit dan membran
mukosa.

Intervensi

1. Mempersiapk 4. Untuk
an,

keefektifan

memberikan,

obat.

dan
mengevaluasi
keefektifan
obat resep
dan nonresep.
2. Mencegah
komplikasi
luka dan

penyembuha
n luka.
3. Memberikan

Risiko infeksi b.d


Pertahanan primer
tidak ade kuat

Tujuan :
Faktor risiko infeksi
akan hilang,
dibuktikan oleh
pengendalian risiko
komunitas.
Kriteria Hasil :
Resistansi alami dan

5. Untuk
meningkat
kan proses
penyembuh
an luka.

meningkatka
n

2.

Rasional

menejemen

6. Untuk
mencegah
dan
mengobati

gatal.
pruirutis.
7. Untuk
4. Mengumpulk
mempertah
an dan
ankan
menganalisis
integritas
data pasien
kulit dan
membran

dapatan yang bekerja

mukosa.

tepat terhadap antigen


internal maupun
eksternal.

1. Melakukan
skring
kesehatan
terhadap
pasien.

1. Untuk
mendeteks
i risiko
atau
masalah

kesehatan
dengan
3.

memnfaat
kan
riwayat
kesehatan,

Tujuan :
Menunjukkan citra
tubuh, yang

pemeriksa
2. Melakukan

dibuktikan oleh

perlindunga

indikator (sebutkan 1-

n infeksi.

Gangguan citra

5 : tidak pernah,

tubuh b.d trauma

jarang, kadang-

atau cidera

kadang, sering atau


selalu ditampilkan).
Kriteria Hasil :
Gangguan citra tubuh
berkurang yang

an
kesehatan,
dll.
2. Untuk
mencegah
an

3. Melakukan
perawatan
luka.

mendeteks
i dini
infeksi
pada

dibuktikan oleh selalu

pasen

menunjukkan adaptasi

yang

dengan ketunadayaan

berisiko.
3. Untuk

fisik, penyesuaian
psikososial)

mencegah
terjadinya
komplikas
1. Memberikan
edukasi
tentang
peingkatan
citra tubuh.

i pada
luka dan
memfasilit
asi proses
penyembu
han luka.
1. Unutk
meningkat

2. Menstiimula

kan

si untuk

presepsi

peningkatan

sadar dan

koping.

tak sadar
pasien
serta sikap
terhadap
tubuh
pasien.
2. Untuk
membantu
pasien
beradaptas
i dengan
presepsi
stresor,
perubahan
atau
ancaman.

DAFTAR PUSTAKA