Anda di halaman 1dari 22

TUGAS MEKANIKA BATUAN

Laporan Ekskursi Bendungan Jati Gede, Kabupaten


Sumedang,
Provinsi Jawa Barat

Rizky Adhim Prasetya


07212189

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI KEBUMIAN DAN ENERGI
UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Pembangunan Waduk Jatigede
Sungai Cimanuk termasuk sungai besar di Jawa Barat. Hulu sungai
ini terletak

di kaki Gunung Papandayan

Kabupaten Garut pada

ketinggian +2.622 m, panjangnya sekitar 180 km. Tak hanya melewati


Kabupaten Garut namun juga tiga kabupaten lainnya di Jawa Barat
yaitu Kabupaten Sumedang, Majalengka, Indramayu, Kuningan, dan
Cirebon.
Besar debit Sungai Cimanuk yang terukur di Bendung Rentang
adalah Qmax=1.004 m3/det dan Qmin= 4 m3/det

dengan ratio= 251.

Potensi air Sungai Cimanuk sebesar 4,3 milyar m 3 dan hanya dapat
dimanfaatkan 28%-nya saja. Tentu saja potensi debit yang ada
belumlah terpakai secara optimal.
Dalam rangka mengembangkan sumber daya DAS Sungai Cimanuk,
telah dibangun beberapa infrastruktur bangunan keairan seperti
Bendung Rentang yang mampu mengairi 90.000 ha sawah. Sayangnya,
keberadaan air di Bendung Rentang ini sangat bergantung pada kondisi
debit Sungai Cimanuk sehingga apabila musim kemarau datang, debit
air yang ada selalu defisit untuk kebutuhan irigasi. Untuk itulah
keberadaan Bendungan Jatigede diharapkan mampu memberikan
layanan pasokan air untuk irigasi.
Beberapa alasan lain pembangunan Bendungan Jatigede yaitu di
daerah hilir Sungai Cimanuk tepatnya di daerah Pantura Ciayu
Indramayu pada musim kemarau sering mengalami krisis kekurangan
air baku. Hal inilah yang coba dipecahkan dengan adanya mega
tampungan air untuk menjamin ketersediaan air yang dapat diolah
menjadi air baku.
Berbeda pada musim hujan, air yang mengalir di daerah hilir Sungai
Cimanuk sangat banyak. Air yang akan menuju Laut Jawa ini sering
meluap sehingga menyebabkan banjir di daerah Indramayu dan
sekitarnya. Bendungan Jatigede inilah yang akan difungsikan sebagai
pengendali banjir untuk daerah tersebut.

Dengan daya tampung air sebesar 1.063 juta m3 (pada kondisi


muka air banjir)

dapat menyuplai tenaga listrik sebesar 110 Mega

Watt. Pasokan listrik ini merupakan pasokan listrik tambahan untuk


Pulau Jawa. Selama ini pasokan utama listrik Pulau Jawa disuplai oleh
Bendungan Cirata, Saguling dan Bendungan Jatiluhur. Bendungan
Jatigede

direncanakan

menjadi

bendungan

terbesar

ke-dua

di

Indonesia setelah Bendungan Jatiluhur.


Keunggulan lain adanya waduk, dilihat dari segi perekonomian
dapat

dijadikan

tempat

rekreasi

pariwisata.

Pariwisata

dapat

mendatangkan pemasukan kas pemerintah daerah. Kesempatan ini


dapat digunakan dengan baik oleh masyarakat untuk membuka
lapangan

usaha

di

sekitar

waduk

sehingga

dapat

menjamin

kesejahteraan masyarakat sekitar.


1.2

Lokasi Bendungan Jatigede

Bendungan Jatigede terletak di Desa Cijeungjing, Kecamatan


Jatigede, Kabupaten Sumedang, Propinsi Jawa Barat. Bendungan
Jatigede membendung aliran Sungai Cimanuk. Pada bagian hulu
daerah aliran sungai (DAS) Bendungan Jatigede dibatasi oleh gununggunung antara lain Gunung Guntur, Gunung Kendang, Gunung
Papandayan, Gunung Kasang, Gunung Cikuray dan Gunung Putri.
Sungai Cimanuk memiliki beberapa anak sungai antara lain Sungai
Cimanuk Hulu, Sungai Cibodas, Sungai Cikamiri, Sungai Ciojar, Sungai
Cipancar, Sungai Cialing, Sungai Cicacaban dan Sungai Cinambo.

BENDUNGAN JATIGEDE

Gambar 1.1 Lokasi Bendungan Jatigede


Sumber mata air Sungai Cimanuk berasal dari Gunung Papandayan
yang terletak di wilayah Kabupaten Garut. Sungai tersebut mengalir ke
arah

utara

melewati

Kabupaten

Garut,

Sumedang,

Majalengka,

Cirebon, Indramayu dan berakhir di Laut Jawa. Sungai Cimanuk


memiliki panjang sungai lebih kurang 130 km dengan catcment area
sebesar 3.600 km2. Curah hujan tahunan DAS Cimanuk berkisar
diantara 1900 mm hingga 4200 mm dengan curah hujan rerata
sebesar 2400 mm.
1.3

Tujuan Pembangunan Proyek Bendungan Jatigede

Bendungan Jatigede dibangun dalam rangka memanfaatkan sumber


daya air yang berasal dari aliran Sungai Cimanuk. Pada musim hujan
air yang mengalir di Sungai Cimanuk cukup banyak, sebagian besar air
sungai terbuang ke Laut Jawa dan seringkali mengakibatkan banjir di
area Indramayu dan sekitarnya. Sedangkan pada musim kemarau air
permukaan sangat terbatas sehingga tidak mencukupi keperluan irigasi
90.000 ha lahan pertanian.
Pada bagian hilir lokasi pembangunan Bendungan Jatigede terdapat
Bendung Gerak Rentang yang juga berfungsi sebagai pengatur
distribusi air. Namun kapasitas operasinya hanya mampu mengairi
30.000 ha lahan pertanian.
Selain

bertujuan

pembangunan

Waduk

untuk

memenuhi

Jatigede

juga

kebutuhan

bertujuan

air

irigasi,

sebagai

sumber

pembangkit listrik tenaga air (PLTA) 110 MW, sumber air baku dengan
rencana produksi 3.500 liter/detik dan sebagai daerah pariwisata.
1.4

Ruang Lingkup Proyek Jatigede

Kegiatan proyek pembangunan bendungan ini meliputi civil work


dan hydromechanical work. Civil work meliputi 10 pekerjaan utama,
antara lain:
1. Preparatory and General Works
2. Diversion Tunnel
3. Grouting Gallery
4. Access Gallery
5. Coffer Dam Embankment
6. Main Dam
7. Spillway
8. Irrigation Outlet
9. Service Road
10.First Stage of Headrace and Gate Shaft
Sedangkan hyrdro-mechanical work meliputi 5 pekerjaan utama,
antara lain:
1. Preparatory and General Work
2. Diversion Gates
3. Spillway Gates
4. Irrigation Outlet
5. Power Gates
Area lokasi proyek melingkupi Dam Area, Disposal Area, Building
Facilities Area, Borrow Area dan Quarry Area. Dam area adalah area
untuk

pembangunan

tubuh

bendungan

dan

bangunan

kelengkapannya. Disposal area adalah area pembuangan material


galian. Building facilities area adalah area untuk bangunan-bangunan
pendukung seperti kantor, mess, mesjid, batching plant, sement
plant dan lain-lain. Borrow area adalah area lokasi sebagai sumber
bahan material tanah dan Quarry Area adalah area lokasi sebagai
sumber bahan material batuan.

Gambar 1.2 Area Proyek Bendungan Jatigede


1.5

Data Teknis Bendungan Jatigede


Data teknis bendungan merupakan data-data perencanaan dalam

membuat desain bendungan.


1.5.1 Data Hidrologi:
Luas DAS

: 1462 km2

Volume aliran air tahunan : 2,5 x 109 m3


1.5.2 Data Waduk:
Muka air banjir maksimum

: El. +262

Muka air operasi maksimum (FSL)

: El. +260

Muka air operasi minimum (MOL)

: El. +230

Luas permukaan waduk (El. +262)

: 41,22 km2

Volume total (gross) (El. +260)

: 980 x 106 m3

Volume efektif (antara El. +221 dan El. +260)

: 877 x 106 m3

1.5.3 Data Bendungan:


Tipe

: Urugan batu, inti tegak

Elevasi mercu bendungan : El. +265


Panjang bendungan

: 1715 m

Lebar mercu bendungan

: 12 m

Tinggi bendungan maksimum : 110 m


Volume timbunan

: 6,7 x 106 m3

1.5.4 Data Bangunan Pelimpah (Spillway)


Lokasi

: Di tubuh bendungan

Tipe

: Tipe chute dengan 4 pintu radial

Lebar puncak

: 52 m (4 x 13,0 m), El. +247

Dimensi radial gates

: 4 bh (W=13,0 m ; H=14,5 m)

QPMF

: 11000 m3/detik

1.5.5 Data Intake Irigasi:


Lokasi

: Di bawah spillway

Elevasi lantai depan

: El. +221

Tipe bangunan

: conduit, beton bertulang

Dimensi conduit

: b = 3,9m; h = 4,1m;L = 400m

1.5.6 Data Terowongan Pengelak (Diversion Tunnel)


Lokasi

: Di bawah spillway

Elevasi inlet

: El. +164

Tipe

: circular, beton bertulang

Debit rencana (Q100)

: 3200 m3/detik

Dimensi terowongan

: D = 10m; L = 546m

1.5.7 Data PLTA:


Lokasi

: Sebelah kanan bendungan utama

Lantai inlet

: El. +221

Terowongan penyalur air

: D = 4,5m; L = 3095m

Tinggi terjun

: 170m

Tipe turbin

: Francis

Kapasitas terpasang

: 2 x 55 MW = 110 MW

Produksi rata-rata

: 690 GWH/tahun

BAB II
TEORI DASAR
2.1

Waduk
Waduk ini masih dalam proses pengerjaan, tediri dari lempung kedap air

yang tentunya baik menampung air. Terdapat sebuah terowongan sebagai


penyambung tunnel yang berukuran diameter 5 m panjang 150 m. Fungsi dari
terowongan ini adalah menyaring air. Kemudian pada sisi bagian kanan terdapat
penanganan tanggul pasca longsor. Hal tersebut dilakukan dengan cara sistem
bor file yaitu mengebor tanah agar tidak merembes. Penanganan dan pekerjaan
di waduk ini harus diselesaikan sebelum digenangi air. Karena apabila air sudah
masuk dan waduk sudah menampung air, patahan atau penanganan longsor
sudah tidak bisa dikerjakan lagi. Elevasi air yang akan ditampung di waduk ini
adalah 100 m-260 m dari permukaan laut. Dan 0,5 m elevasi untuk mengontrol
air.

2.2

Bendungan

Bendungan ini terdiri dari 2 tipe bendungan


1.

Bendungan tipe urugan

Urugan ini menggunakan batu dan material khusus di bagian tengah. Formasi
nya yaitu btu besar dibagian luar dan mengecil ke bagian tengah dan di tengah
menggunakan material campuran yang bersifat rapuh namun keras dimana

berfungsi sebagai penyerap air yang datang dari bagian waduk. Bendungan tipe
urugan ini tidak sekuat bendungan beton. Hal ini dikarenakan apabila air waduk
sudah melebihi batas elevasi +260,0 m maka dikhawatirkan bendungan urugan
ini akan spil dan menyebabkan kejebolan bendungan urugan. Untuk
mengantisipasi hal itu maka digunakan pindu radial di bagian bendungan beton
untuk mengontrol air yang ada.
2.

Bendungan beton

Bendungan beton terdiri dari 4 buah celah dengan 1 pintu radial dan 1 buah
terowongan kecil di bagian bawah pintu. Air baku sehari hari akan dialirkan
melalui terowongan kecil di bawah tersebut namun ketika volume air waduk
penuh maka pintu radial akan dibuka untuk menghindari jebolnya bendungan
sehingga volume air akan mengalir dari ke 4 celah diatas.
o Spill way

Spill way atau bangunan pelimpah adalah bagunan yang digunakan untuk
melimpahkan air dari waduk. Hal ini dilakukan untuk menghindari banjir dan
jebolnya bendungan. Spill way merupakan bendungan beton yang sudah saya
jelaskan di sebelumnya.
Bangunan ini terdiri dari 4 bagian yaitu :

Pintu radial gate, berbentuk setengah lingkaran yang dapat ditutup dan
dibuka dengan sistem hidrolik sesuai kebutuhan dari ruang kontrol

Jalan air

Plung pool sebagai peredam energi air

Badan 1 spill way dan badan spill way 2

Di dalam terowongan spill way masih terdapat pipa pipa yang tertanam di
permukaan beton hingga ke dasar beton atau elevasi 0 m. Yang digunakan
sebagai pipa untuk menginjeksikan semen yang diperlukan untuk mengisi ruang
ruang, celah atau patahan di bawah permukaan beton agar beton semakin kuat
dan stabil.
Kemudian diatas celah celah beton tersebut telah dipasang alat penangkal petir
yang fungsinya jelas sebagai penangkal petir. Jika tidak dipasang bisa terjadi
kerusakan dan matinya aliran listrik, mesin mesin di areal karena rentannya
terkena petir.
o Terowongan pengelak

Terowongan pengelak ini memiliki 2 tipe penyangga yaitu :


a.
Untuk rock mass type 3 atau fair rock berupa shotcrete t=10 cm dengan
wiremesh besama sama dengan rockbolt
b.
Untuk rock mass type 4 atau poor rock berupa shotcrete t=10 cm dengan
wiremesh, rockbolt dan steel rib. Rockbolt d=25 mm,l=6 m dipasang pada jarak
kurang dari 2 m. Steel rib menggunakan profile WF 250.250.9.14 dipasang pada
jarak 1,0 m pada bagian atas dan dinding terowongan.
Metoda penggalian yang dilakukan adalah peledakan dan sistem pengisian void
yang dilakukan adalah grouting. Sistem lining yaitu pengecoran per blok / per
segmen dengan jarak 12 meter
o PLTA

Terowongan PLTA ini memiliki 1 tipe proteksi yaitu Untuk rock mass type 4 atau
poor rock berupa shotcrete t=10 cm dengan wiremesh, rockbolt dan lattice
grider. Rockbolt d=25 mm,l=6 m dipasang pada jarak kurang dari 2 m. Lattice
grider menggunakan besi tulangan berdiameter 25 mm dipasang pada jarak 1,5
m pada bagian atas dan dinding terowongan.
Metoda penggalian yang dilakukan adalah peledakan dan sistem pengisian void
yang dilakukan adalah grouting. Sistem lining yaitu pengecoran per blok / per
segmen dengan jarak 6 meter

2.3

Penjelasan Umum

2.3.1 Grouting
Grouting

adalah

salah

satu

perbaikan

pondasi

bendungan

yang

merupakan pekerjaan masukan bahan yang masih dalam keadaan cair untuk
perbaikan tanah, dengan cara tekanan, sehingga bahan tersebut akan mengisi
semua retak-retak dan lubang-lubang, kemudian setelah beberapa saat bahan
tersebut akan mengeras, dan menjadi satu kesatuan dengan tanah yang ada.
2.3.2 Jenis Grouting
Tipe grouting berdasarkan fungsinya antara lain:
1 Curtain Grouting : Untuk mengurangi rembesan air lewat bawah pondasi
dan abutment bendungan, serta mengurangi gaya tekan ke atas
2 Blanket Grouting : Untuk mengurangi gaya tekan ke atas.

3 Consolidation Grouting : Untuk menutup lubang, celah, rekahan yang ada


di bawah pondasi bendungan sehingga menjadi lebih kuat dan menambah
modulus deformasi batuan.

Menurut Warner (2005), Grouting dapat dibedakan menjadi


6 tipe, yaitu: a. Sementasi Penembusan (Permeation
Grouting)
Grouting

penembusan

(permeation

Grouting)

disebut

juga

Grouting penetrasi (penetration Grouting), yang meliputi pengisian


retakan, rekahan atau kerusakan pada batuan, rongga pada sistem
pori-pori tanah serta media porous lainnya. Tujuan
Grouting penembusan adalah untuk mengisi ruang pori (rongga),
tanpa merubah formasi serta konfigurasi maupun volume rongga.
Grouting jenis ini dapat dilakukan untuk tujuan penguatan formasi,
menghentikan aliran air yang melaluinya,
maupun

kombinasi

keduanya.

Grouting

penembusan

dapat

meningkatkan kohesi tanah.

b. Sementasi Pemadatan (Compaction Grouting)


Grouting pemadatan dilakukan dengan cara menginjeksi material
Grouting sangat kaku (stiff) pada tekanan tinggi ke dalam tanah.
Grouting

pemadatan

merupakan

mekanisme

perbaikan

yang

bertujuan untuk meningkatkan daya dukung tanah. Karena volume


struktur pori tanah berkurang, maka permeabilitasnya juga akan
berkurang.

Meskipun

begitu,

Grouting

pemadatan

tidak

dapat

sepenuhnya mencegah terjadinya rembesan. Grouting pemadatan


mampu meningkatkan beban tanah untuk mengompakkan atau
memadatkannya.

c. Sementasi Rekahan (Fracture Grouting)

Grouting rekahan dilakukan pada rekahan hidrolik yang terdapat


pada tanah dengan fluida suspensi atau material Grouting slurry,
untuk menghasilkan hubungan antar lensa Grouting dan memberikan
penguatan kembali (reinforcement). Umumnya Grouting rekahan
digunakan pada tanah dengan permeabilitas rendah.
Grouting rekahan dapat dilakukan pada beberapa jenis tanah dan
kedalam, terutama sangat baik pada material lempung.
d. Sementasi Campuran/ Jet (Mixing/ Jet Grouting)
Grouting jet dilakukan dengan cara mengikis tanah menggunakan
jet bertekanan tinggi dan injeksi serentak ke dalam tanah yang
terganggu dengan jet monitor. Grouting tipe ini juga dapat digunakan
untuk melakukan penyemenan di sekeliling tiang atau pondasi.
e. Sementasi Isi (Fill Grouting)

Semua rongga yang dihasilkan secara alami maupun buatan, kadangkadang membutuhkan suatu pengisian atau penutupan. Pada jaman
dahulu, pengisian dilakukan menggunakan peralatan yang sama dengan
alat Grouting tipe lainnya. Saat ini, Grouting isi dilakukan menggunakan
peralatan khusus dengan campuran concrete atau mortar.
f. Sementasi Vakum (Vacuum Grouting)
Umumnya pekerjaan Grouting dilakukan dengan cara mendorong
material
Grouting ke dalam formasi dengan tekanan tinggi. Akan tetapi, pada
kondisi tertentu hasilnya tidak memuaskan. Oleh karena itu, vakum
digunakan untuk menyedot material Grouting masuk ke dalam bagian

yang mengalami kerusakan. Kerusakan tersebut harus diisolasi dari


tekanan barometrik terlebih dahulu, sehingga dengan kondisi yang
vakum, material Grouting akan tersedot dan tertarik ke dalam
kerusakan tersebut.

2.3.3 Tujuan dilakukan Grouting

1 Untuk memperkuat formasi dari lapisan tanah dan sekaligus menjadikan


lapisan tanah tersebut menjadi padat, sehingga mampu untuk mendukung
beban bangunan yang direncanakan. Seperti sudah dijelaskan di atas tanah
selalu mempunyai lubang-lubang, retak-retak, celah-celah. Rongga ini harus
diisi dengan bahan pengisi yang kuat, sehingga lapisan tanah dibawah
rencana bangunan akan menjadi bagian dari pondasi yang kuat.

sehingga aliran air semakin panjang, karena aliran semakin panjang maka air
akan mengalami
kehilangan energi.

2 Untuk menahan aliran air, misalnya pada bangunan dam, agar air tidak
mengalir melalui bawah bangunan dam. Air yang mengalir di bawah
bangunan dam secara bertahun-tahun akan membawa partikel tanah, yang
akan mengakibatkan terjadinya rongga-rongga di bawah bangunan, dan hal
ini dapat membahayakan kestabilan dam tersebut, grouting pada dam ini
biasa disebut Tirai sementasi , guna tirai sementasi ini untuk menghambat
laju air,
3 Untuk menahan aliran air tanah agar tidak masuk ke dalam suatu kegiatan
bangunan yang sedang berjalan. Bangunan di bawah permukaan tanah
apabila lokasi nya dibawah permukaan air tanah, akan selalu terganggu oleh
adanya air tanah yang masuk dari dinding galian.Namun biasanya masih
dapat diatasi dengan pompa.

2.3.4 Bahan Grouting


Bahan- bahan yang dapat digunakan untuk grouting antara lain:
1

Campuran semen dan air

Campuran semen, abu batu dan air

Campuran semen, clay dan air

Campuran semen,clay, pasir dan air

Asphalt

Campuran clay dan air

Campuran bahan kimia

2.3.5 Sifat-sifat Groting

Sifat-sifat grouting antara lain:


- Terdiri dari satu komponen
- Workability dan kekuatan tinggi
- Tahan beban impact dan beban bergerak
- Tidak terjadi penyusutan dan segregasi
- Ekonomis
Situasi Bendungan Jati Gede
Bendungan Jati Gede terdapat di kabupaten Sumedang Jawa Barat dan
pada saat ini masih dalam proses pembangunan konstruksi. Berikut ini adalah
gambaran lokasi Bendungan Jati Gede pada saat ini:

Gambar 2.1 Lokasi sungai Cimanuk Cisanggarung


Manfaat Bendungan Jati Gede

Gambar 2.3 Manfaat Waduk Jatigede

Peta Daerah Genangan Bendungan

Gambar 2.4 Peta Daerah Genangan Bendungan

Data Teknis Bendungan Jati


Gede
a. Hidrologi
Luas Catchment Area

: 1.462
km2

Volume run-off tahunan

: 2,5 x 109
m3

b. Waduk
Muka Air (MA) banjir max

: El +262

MA operasi max (FSL)

: El +260

MA operasi min (MOL)

: El +230

Luas permukaan waduk (El +262)

: 41,22 km2

Volume gross (El +260)

: 980 x 106 m3

Volume efektif (antara El +221 dan


+260)

: 877 x 106 m3

c. Bendungan
Tipe

: Urugan batu, inti tegak

Elevasi mercu bendungan

: El +265

Panjang bendungan

: 1.715 m

Lebar mercu bendungan

: 12 m

Tinggi bendungan maksimum

: 110 m

Volume timbunan

: 6,7 x 106 m3

d. Spillway
Lokasi

: at the dam body

Tipe

: Gated spillway with chute


way

Crest

: Lebar 50 m, El. +247

Dimensi radial gates

: 4 bh (W=13; H=14,5m)

: 4,468 m3 /det (PMF = 11.000


m3 /det)

outflow

e. Intake Irigasi

Lokasi

: Di bawah spillway

Irrigation inlet appron

: El +204

Tipe

: Reinforced concrete conduit

Dimensi condoit

: D=4,5 m; L=400 m

Terowongan Pengelak
Lokasi

: under the spillway

Inlet level

: El +164

Tipe

: Circular lined reinforced concrete

Debit rencana (Q100)

: 3.200 m3 /det

Dimensi terowongan

: D=10 m; L=556 m

g. PLTA
Lokasi

: Right abutment

Power Inlet appron

: El +210

Headrace tunnel

: D=4,5 m; L=3.095 m

Design head

: 170 m

Tipe turbin

: Francis

Kapasitas terpasang

: 2 x 55 GWH =110 MW

Produksi rata-rata

: 690 GWH/tahun

Jenis Grouting Bendungan Jati Gede


Untuk jenis grouting yang digunakan di Bendungan Jatigede dijelaskan
sebagai berikut:

1 Grouting perlu dilakukan untuk menutup rekahan (crack) pada


pondasi

batuan

dan

harus

meningkatkan

kekedapan

(water

tightness).
2 Grouting tirai (curtain grouting) berfungsi sebagai zone kedap air
dan diletakkan pada tengah impervious core atau dibagian hulu
impervious facing (membrane).
3 Grouting selimut (blanket grouting) berfungsi menahan rembesan
pada permukaan pondasi yang retak-retak.
4 Bila

grouting

tidak

dapat

dilakukan,

dapat

diganti

dengan

impervious blanket pada bagian hulu dan atau pembuatan drain


dibagian hilir.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasul peninjauan yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan


sebagai berikut:

1 Site Investigation merupakan suatu pekerjaan penting saat dilakukan perencanaan,


terlebih dengan kondisi geologi pegunungan tidak menentu sehingga diperlukan adanya
survey mengenai kondisi geologi secara detail sebelum dilaksanakannya proses
perencanaan. Penggunaan metode grouting dalam perbaikan tanah (Soil Treatment)
merupakan metode perbaikan tanah yang efektif untuk dilakukan pada daerah yang
memiliki kondisi geologi buruk.
2 Dalam pembangunan Bendungan Jatigede perbaikan tanah dengan menggunakan
grouting menjadi suatu pekerjaan yang tak terduga (unpredictable works) yang harus
diantisipasi untuk biaya, mutu, dan waktu dari pelaksanaan proyek ini.
Dari peninjauan yang telah dilakukan dan mengacu pada data yang diperoleh, maka ada
beberapa saran yang dikemukakan oleh penulis diantaranya :

1 Dalam melaksanakan site investigation, penting untuk melakukan geology survey untuk
mengetahui kondisi tanah di lokasi pembangunan.
2 Harus ada peningkatan kapasitas pekerjaan, karena pekerjaan grouting merupakan
pekerjaan yang berada pada jalur keritis, sehingga diperlukan perubahan metode atau
penambahan kapasitas produksi.

Daftar Pustaka

1.http://pustaka.pu.go.id/new/infrastrukturbendungan-detail.asp?id=323
2.https://id.wikipedia.org/wiki/Waduk_Jatigede
3. http://sda.pu.go.id/index.php/galeri-foto/5bendungan/detail/44-bendungan-jatigede?
tmpl=component