Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN
Kista ovarium adalah sebuah kantung berisi cairan yang tumbuh di dalam ovarium.
Berdasarkan sifatnya kista ovarium diklasifikasikan sebagai kista ovarium non-neoplastik dan
kista ovarium neoplastik. Yang termasuk kista ovarium non-neoplastik yaitu kista folikel, kista
korpus luteum, kista lutein, kista inklusi germinal, kista endometrium, dan kista SteinLeventhal, sedangkan yang termasuk kista ovarium neoplastik yaitu, kistadenoma ovarii
serosum, kistadenoma ovarii musinosum, kista endometroid, kista dermoid. 1,2 Pada anak-anak
jika terjadi torsio pada kista ovariumnya sering menyebabkan nyeri akut abdomen. Sehingga
perlu penanganan bedah sejak dini untuk mencegah kerusakan adnexa lebih lanjut.
Keganasan ginekologi menyumbang sekitar 3% dari semua jenis kanker pada anakanak. Prevalensi torsio kista ovarium sekitar 2,7% dari semua kasus nyeri akut abdomen pada
anak-anak. Kista ovarium seringkali muncul tanpa gejala, terutama jika ukuran kista masih
kecil.3 Kista yang jinak akan memberikan rasa tidak nyaman ketika kista semakin membesar,
sedangkan pada kista yang ganas seringkali muncul keluhan sebagai hasil metastasis ke
jaringan sekitar.4 Faktor resiko kista ovarium antara lain adalah faktor hormonal, faktor genetik,
atau mempunyai riwayat keluarga dengan kanker ovarium atau kanker payudara, faktor
lingkungan, serta gaya hidup yang tidak sehat.3 Kista ovarium sering tidak menunjukkan gejala
dan tanda sehingga menyebabkan keterlambatan diagnosis. Sebagian besar gejala dan tanda
adalah akibat dari pertumbuhan dan komplikasi dari kista tersebut. Penyebab terjadinya kista
ovarium yaitu terjadinya gangguan pembentukan hormon pada hipotalamus, hipofise, atau
indung telur itu sendiri.2,5Akut abdomen merupakan gejala yang sering ditemui akibat
komplikasi-komplikasi dari kista berupa putaran tangkai (torsi), infeksi, robekan dinding, dan
perubahan keganasan.
Untuk membantu menegakkan diagnosis kista ovarium dapat dilakukan ultrasonografi
(USG) dan laparoskopi diagnostik, sedangkan diagnosis definitif hanya dapat diperoleh melalui
analisis histologik yang didapatkan melalui insisi jaringan kista.2 Penanganan kista ovarium
yang terlambat dapat menyebabkan kista ovarium berkembang menjadi kanker ovarium yang
merupakan penyebab kematian terbesar dari semua kanker ginekologi dan disebut juga silent
killer.3 Pada kista ovarium, perubahan keganasan menjadi kanker ovarium ditemukan pada
1,5% kista dermoid, 5-10% kistadenoma musinosum, dan 30-35% kistadenoma ovarii serosum.
Tahun 2008, majalah Times di Inggris mengemukakan fakta bahwa dari 7000 pasien yang
terdiagnosis kanker ovarium, 5000 dinyatakan meninggal.6,7

Pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis kista ovarium yaitu dengan ultrasonografi


(abdomen atau transvaginal), kolposkopi screening, dan pemeriksaan darah (tumor marker). 4
Kista ovarium merupakan temuan jarang pada anak usia muda. Pada remaja dengan massa
ovarium, kista ovarium fisiologis yang paling umum, sedangkan neoplasma ovarium relatif
jarang terjadi. Meskipun jarang pada anak-anak dan remaja, kista ovarium raksasa yang lebih
besar dari 15 cm diameter dapat ditemui. Jumlah massa ovarium dari semua neoplasma sekitar
1% pada anak-anak dan remaja, dan 75% sampai 85% dari lesi tersebut jinak.7
Penatalaksanaan kista ovarium sesuai dengan jenis dan besarnya kista. Penanganan
konservatif dilakukan pada kista dengan ukuran <3cm, tidak menimbulkan gejala, dan tidak
dicurigai adanya keganasan. Dalam kasus kista ovarium yang sedang berkembang, terusmenerus, atau gejala, atau ketika keganasan diduga, operasi diperlukan. Tujuan terapi bedah
pertama, pengangkatan neoplasma dan penilaian tingkatan yang tepat, dan kedua, pelestarian
kesuburan.3,4,7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian kista ovarium
Kista ovarium adalah kantong berisi cairan seperti balon, yang berada di dalam atau di
permukaan ovarium (indung telur). Sedangkan torsio kista ovarium adalah terpuntirnya
kista ovarium yang melibatkan tuba sehingga menyebabkan gangguan pada tangkai
vaskularnya dan mengganggu suplai darah. Kista dan ovarium (dan sering diikuti
sebagian tuba) mengalami nekrosis. .Kista ovarium terpuntir merupakan penyebab nyeri
abdomen bagian bawah yang jarang namun signifikan pada wanita. Presentasi klinisnya sering
tidak spesifik dengan temuan fisik tidak khas, biasanya menimbulkan keterlambatan
diagnosis dan penanganan bedah.
B. Anatomi fisiologi
Terletak di belakang ligamentum latum, di belakang dan bawah tuba fallopi. Ovarium
adalah badan oval yang mempunyai panjang 3 cm. Ovarium dan tuba fallopi disebut
adneksa.
Pada saat pubertas (usia antara 12-14 tahun) ovum mulai matang. Selama periode yang
dikenal dengan fase folikular. Sebuah ovum membesar seperti sejenis kista yang
dikenal sebagai folikel de graaf sampai

mencapai permukaan ovarium, kemudian

ruptur, ovum dikeluarkan kedala rongga peritoneal. Periode pelepasan ovum matang
ini disebut ovulasi.

Ovarium memiliki tiga fungsi :


1)

Memproduksi ovum

Hormon gonodotropi dari kelenjar hipofisis bagian anterior mengendalikan (melalui


aliran darah) produksi hormon ovarium. Hormon perangsang folikel (FSH) penting
untuk awal pertumbuhan folikel de graaf, hipofisis mengendalikan pertumbuhan ini
melalui Lutenizing Hormon (LH) dan sekresi luteotrofin dari korpus lutenum.
2)

Memproduksi hormon estrogen, dikeluarkan oleh ovarium dari mulai anak-

anak sampai sesudah menopause (hormon folikuler) karena terus dihasilkan oleh
sejumlah besar folikel ovarium dan seperti hormon beredar dalam aliran darah. Estrogen
penting untuk pengembangan organ kelamin wanita dan menyebabkan perubahan anak
gadis pada masa pubertas dan penting untuk tetap adanya sifat fisik dan mental yang
menandakan wanita normal.
3)

Memproduksi hormon progesterone, disekresi oleh luteum dan melanjutkan

pekerjaan yang dimulai oleh estrogen terhadap endometrium yaitu menyebabkan


endometrium menjadi tebal, lembut dan siap untuk penerimaan ovum yang telah
dibuahi.

C. Epidemiologi
Torsio kista ovarium dapat terjadi pada berbagai usia, namun umumnya terjadi pada
awal usia reproduksi. Keganasan ginekologi menyumbang sekitar 3% dari semua jenis
kanker pada anak-anak. Prevalensi torsio kista ovarium sekitar 2,7% dari semua kasus
nyeri akut abdomen pada anak-anak. Kista dermoid atau tumor sel germinal merupakan
jenis kista yang paling sering terjadi pada usia muda di bawah 20 tahun . Hampir 17%
kasus ditemukan pada wanita premenarche dan postmenopause.
D. Klasifikasi Tumor Ovarium
Klasifikasi tumor ovarium dibagi menjadi :
a. Kistik tumor ovarium non neoplastik:

Kista folikel

Kista ini berasal dari folikel de Graaf yang tidak sampai berovulasi, namun tumbuh
terus menjadi kista folikel, atau dari beberapa folikel primer yang setelah bertumbuh
dibawah pengaruh estrogen tidak mengalami proses atresia yang lazim, melainkan
membesar menjadi kista.

Kista Korpus luteum

Dalam keadaan normal korpus luteum lambat laun mengecil dan menjadi korpus
albikans. Kadang-kadang korpus luteum mempertahan diri, perdarahan yang sering
terjadi didalamnya menyebabkan terjadinya kista, berisi cairan yang berwarna merah
cokelat karena darah tua.

Kista inklusi germinal

Kista ini terjadi karena invaginasi dan isolasi bagian-bagian kecil dari epitel
germinativum pada permukaan ovarium. Kista ini lebih banyak terdapat pada wanita
yang lanjut umurnya, dan besarnya jarang melebihi diameter 1 cm. Kista ini biasanya
secara kebetulan ditemukan pada pemeriksaan histologik ovarium yang diangkat waktu
operasi. Kista terletak di bawah permukaan ovarium, dindingnya terdiri atas satu
lapisan epitel kubik atau torak rendah, dan isinya cairan jernih dan serous.

Kista teka lutein

Disebabkan karena meningkatnya kadar HCG terdapat pada mola hidatidosa. Kista
biasanya bilateral dan bisa menjadi sebesar ukuran tinju. Pada pemeriksaan
mikroskopik terlihat luteinisasi sel-sel teka. Sel-sel granulosa dapat pula menunjukkan
luteinisasi, akan tetapi seringkali sel-sel menghilang karena atresia. Tumbuhnya kista
ini ialah akibat pengaruh hormon koriogonadotropin yang berlebihan, dan dengan
hilangnya mola atau koriokarsinoma, ovarium mengecil spontan.

b) Tumor ovarium neoplastik

Kistoma ovarii simpleks

Kista ini mempunyai permukaan rata dan halus, biasanya bertangkai, seringkali
billateral, dan dapat menjadi besar

Kistadenoma musinosum

Asal tumor ini belum diketahui pasti namun diperkirakan berasal dari suatu teratoma
dimana dalam pertumbuhannya satu elemen mengalahkan elemen-elemen lain. Bentuk
kista multilokular dan biasanya unilateral, dapat tumbuh menjadi sangat besar.
Gambaran klinis terdapat perdarahan dalam kista dan perubahan degeneratif sehingga
timbul perleketan kista dengan omentum, usus-usus, dan peritoneum parietale. Selain
itu, bisa terjadi ileus karena perleketan dan produksi musin yang terus bertambah

akibat pseudomiksoma peritonei. Penatalaksanaan dengan pengangkatan


kista in tito tanpa pungsi terlebih dulu dengan atau tanpa salpingoooforektomi tergantung besarnya kista.

Kistadenoma serosum

Para penulis berpaendapat bahwa kista ini berasal dari epitel permukaan
ovarium (germinal epithelium). Bentuk kista umumnya unilokular, tapi
jika multilokular perlu dicurigai adanya keganasan. Kista ini dapat
membesar, tetapi tidak sebesar kista musinosum. Selain teraba massa
intraabdominal juga dapat timbul asites. Penatalaksanaan umumnya sama
dengan kistadenoma ovarii musinosum.

Kista endometroid

Kista ini biasanya unilateral dengan permukaan licin, pada dinding


dalamterdapat satu lapisan sel-sel, yang menyerupai lapisan epitel
endometrium. Tumor ini mungkin padat atau kistik, tetapi kadang-kadang
membentuk suatu massa yang menonjol dari dinding kista endometriotik
yang terisi cairan cokelat.

Kista dermoid

Kista dermoid adalah teratoma kistik jinak dengan struktur ektodermal


berdiferensiasi sempurna dan lebih menonjol dari pada mesoderm dan
entoderm. Bentuk cairan kista ini seperti mentega. Kandungannya tidak
hanya berupa cairan tapi juga ada partikel lain seperti rambut, gigi,
tulang, atau sisa-sisa kulit. Dinding kista keabu-abuan dan agak tipis,
konsistensi sebagian kistik kenyal dan sebagian lagi padat. Dapat
menjadi ganas, seperti karsinoma epidermoid.
berasal dari sel telur

Kista ini diduga

melalui proses parthenogenesis. Gambaran

klinis adalah nyeri mendadak di perut bagian bawah karena torsi


tangkai kista dermoid. Dinding kista dapat ruptur sehingga isi kista
keluar di rongga peritoneum. Penatalaksanaan dengan pengangkatan
kista dermoid bersama seluruh ovarium.
E. Etiologi
-

Perubahan anatomis yang mempengaruhi berat dan ukuran ovarium


dapat mengubah posisi tuba fallopi dan menimbulkan puntiran.

Malformasi kongenital dan pemanjangan tuba fallopi dapat ditemukan


pada sebagian pasien prepubertas muda.

Tumor ovarium baik jinak maupun ganas, yang terlibat dalam 50-60%
kasus torsi. Massa yang terlibat lebih besar dari 4-6 cm. Tumor
dermoid yang paling umum. Tumor ganas jauh lebih kecil
kemungkinannya untuk menghasilkan torsi dari tumor jinak. Hal ini
karena adanya perlekatan kanker yang memperbaiki ovarium ke
jaringan sekitarnya.

Pasien dengan riwayat pembedahan pelvis (terutama ligase tuba)


memiliki risiko lebih tinggi terhadap kista terpuntir.

F. Patofisiologi
Ovarium tidak akan berfungsi secara normal jika tubuh wanita tidak
menghasilkan hormon hipofisis dalam jumlah yang tepat. Fungsi ovarium
yang abnormal kadang menyebabkan penimbunan folikel yang terbentuk
secara tidak sempurna didalam ovarium, folikel tersebut gagal mengalami
pematangan dan gagal melepaskan sel telur, terbentuk secara tidak
sempurna didalam ovarium karena itu terbentuk kista didalam ovarium.
Kista ovarium terpuntir secara klasik terjadi unilateral pada ovarium yang
membesar patologis. Ireguleritas ovarium menimbulkan fulcrum di sekitar
tuba yang terlibat. Proses tersebut dapat berlangsung pada ovarium saja
tapi lebih sering mempengaruhi kedua ovarium dan tuba (adnexa
terpuntir). Hampir 60 % torsi terjadi pada sisi kanan.
Berbagai factor mempengaruhi perjalanan kista ovarium terpuntir.
Kista ovarium terpuntir normalnya paling sering terjadi pada usia muda,

dimana abnormalitas perkembangan misalnya tuba yang panjang atau


ketiadaan mesosalfing mungkin berperan. Faktanya, kurang dari setengah
terpuntirnya ovarium pada pasien anak melibatkan kista, teratoma atau
massa lainnya.
G. Diagnosis
a. Anamnesis
Pasien datang dengan onset mendadak, berat, nyeri abdomen bagian
bawah unilateral yang memburuk secara intermiten dalam beberapa
jam. Hampir 25% pasien mengalami nyeri bilateral kuadran bawah
yang dideskripsikan sebagai nyeri tajam atau lebih jarang berupa kram.
Mual muntah terjadi pada hampir 70% pasien, menyerupai nyeri
yang berasal dari traktus gastrointestinal dan menyulitkan diagnosis.
Riwayat penyakit yang sama sebelumnya mungkin membantu
sehubungan dengan adanya torsi yang membaik secara spontan.
Demam mungkin merupakan temuan akhir bila ovarium mengalami
nekrosis. Onset selama latihan fisik atau gerakan aktif lainnya umum
terjadi.
b. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik, sebagaimana anamnesis biasanya tidak spesifik dan
sangat bervariasi. Massa adnexa kenyak, unilateral, dilaporkan pada
50-90%. Bagaimanapun, tidak adanya temuan ini tidak menyingkirkan
diagnosis.
Nyeri tekan umum ditemukan, tetapi cukup ringan pada 30%
pasien. Oleh karena itu, tidak adanya nyeri tekan tidak dapat
digunakan untuk menyingkirkan torsio kista ovarium. Nyeri lepas dan
muscle rigidity dapat ditemukan dan sering sulit dibedakan dari abses
pelvis atau apendisitis.
Temuan massa ovarium mungkin mengarahkan, namun bias
menyesatkan asal sumber nyeri. Karena massa yang terlihat biasanya
non-neoplasma atau kista hemoragik, yang memang menimbulkan
nyeri pada lokasi dan dengan kualitas yang sama.
c. Pemeriksaan Penunjang

USG adalah modalitas pencitraan utama untuk pasien yang dicurigai


mengalami torsio kista ovarium. Pembesaran ovarium sekunder
terhadap kerusakan drainase vena dan limfatik adalah temuan paling
umum pada torsio kista ovarium.

Computed tomography dapat menggambarkan pembesaran ovarium


dan massa adneksa, tapi tidak dapat mengevaluasi ada tidaknya aliran
darah ke ovarium yang terlibat. CT dapan berguna dalam
menyingkirkan penyebab lain nyeri abdomen bawah bila diagnosis
tidak dapat ditentukan. CT dapat menyingkirkan adanya massa pelvis.

H. Penatalaksanaan
Prinsip penatalaksanaan pada kista ovarium bergantung pada tingkat
keganasannya, dimana hal tersebut dibedakan menjadi kista non neoplastic
dan kista neoplastic. Pada pasien dengan kista nonneoplastik biasanya
tidak dilakukan operasi sedangkan pada kista neoplastic dilakukan
tindakan operasi. Namun hal tersebut harus dipastikan terlebih dahulu
melalui proses observasi dan pemeriksaan lebih lanjut.
Pada pasien yang memiliki kista dengan ukuran kurang dari 5 cm
dan tidak menimbulkan keluhan, sebaiknya dilakukan observasi selama 2
sampai 3 bulan karena biasanya kista tersebut tergolong non neoplastic.
Sebagian besar kista non neoplatik akan mengalami pengecilan secara
spontan dan pada akhirnya akan menghilang. Apabila selama observasi
ditemukan bahwa ukuran kista semakin bertambah maka kemungkinan
kista tersebut termasuk kelompok kista neoplastic dan tindakan operasi
merupakan salah satu pilihan dalam penatalaksanaanya. Pada kista yang
berukuran

besar

dan

menimbulkan

komplikasi

harus

dilakukan

pengangkatan ovarium yang disertai dengan pengangkatan tuba (salpingoooforektomi).

10

11

BAB II
LAPORAN KASUS
A. IDENTITAS
Nama

: Nn. J.M

Umur

: 11 Tahun

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: Pelajar

Alamat

: Tatelu

Bangsa

: Indonesia

Agama

: Kristen Protestan

TTL

: 4 juni 2004

Masuk RS

: 23 Juni 2014

B. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama
Nyeri perut bagian bawah
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Seorang anak perempuan usia 11 tahun masuk rumah sakit dengan
keluhan adanya perut bagian bawah, nyeri hilang timbul sering dialami
penderita kurang lebih 3 bulan SMRS. Penderita juga mengeluh adanya
benjolan di perut bagian bawah. Penderita mengaku awalnya benjolan
kecil lama kelamaan membesar. BAB dan BAK normal, penurunan
berat badan (-), menarche (-), riwayat urut 3 kali. Pasien kemudian
dirujuk dari RSU Walanda Maramis ke RSUP prof. Kandou.
3. Riwayat penyakit dahulu:
Sakit seperti ini sebelumnya disangkal.
4. Riwayat penyakit keluarga:
12

Tidak ada keluarga yang sakit seperti ini


5. Riwayat pribadi dan sosial:
Riwayat kehamilan :
Pasien merupakan anak pertama dari dua bersaudara dan merupakan
kehamilan yang diinginkan, ibu penderita melakukan pemeriksaan
antenatal (ANC) secara teratur di RS Lembean. Ibu mendapat imunisasi
Tetanus Tixoid (TT) sebanyak dua kali. Tekanan darah rata dikatakan
normal. Selama hamil ibu tidak menderita kelainan atau gangguan. Pada
saat persalinan ibu tidak mengalami demam maupun kejang.
Riwayat persalinan:
Pasien lahir cukup bulan di RS Lembean secara spontan letak belakang
di tolong oleh dokter, dengan berat lahir 3200 gram, panjang badan lahir
46 cm, dan apgar score tidak diketahui (langsung menangis).

Keadaan Sosial, Ekonomi, Kebiasaan dan Lingkungan


Penderita tinggal di rumah permanen beratap seng, lantai semen, dinding
beton. Rumah di huni oleh 4 orang yang terdiri dari 2 orang dewasa, dan 2
orang anak. WC dan kamar mandi di dalam rumah.

C. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum

: Cukup

Kesadaran

: Compos Mentis

Tekanan Darah

: 100/70 mmHg

Nadi

: 82 x/menit

Pernapasan

: 20 x/menit

Suhu Badan

: 36,5o C

Gizi

: Cukup

Kepala

: Simetris

13

Mata

: Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-

Telinga

: Sekret -/-

Hidung

: Sekret -/-

Tenggorokan

: T1 - T1, hiperemis (-)

Leher

: Pembesaran KGB (-)

Dada

: Bentuk simetris normal

Jantung

: Bunyi jantung I dan II normal, bising (-)

Paru-paru

: Rhonki -/-, wheezing -/-

Abdomen

: Inspeksi

: terlihat benjolan di perut kanan

bawah
Auskultasi

: BU (+) N

Perkusi

: Tympani

Palpasi

Teraba benjolan uk. 12x10cm, padat, Nyeri


tekan (-)
Alat kelamin

: Alat kelamin wanita normal

Anggota gerak

: Oedema (-), varises tidak ada

Refleks

: Refleks fisiologis (+), refleks patologis (-)

Tampak adanya benjolan pada perut bagian bawah


Gambar 1.1

14

D. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
Hematologi
Kimia Klinik
MCH = 27
Creatinin = 0.7 mg/dL
MCHC = 32
Ureum = 16 mg/dL
MCV = 84
Creatinin = 0,4 mg/dL
Leukosit = 7.590 (/mm3)
Albumin = 4.54 g/dL
6
3
Eritrosit = 5,23 (10 /mm )
Globulin = 2.8 g/dL
Hemoglobin = 14,0
(g/dL)
SGOT/SGPT=25U/L/17U/L
Hematokrit = 43,9 (%)

Calsium = 10,10 mg/dL


Trombosit = 337 (103/mm3)

2. CT Scan Abdomen

3. USG

15

E. Resume Masuk
Seorang anak perempuan usia 11 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan
adanya nyeri pada perut bagian bawah, nyeri hilang timbul sering dialami
penderita kurang lebih 3 bulan SMRS. Penderita juga mengeluh adanya
benjolan di perut bagian bawah. Penderita mengaku awalnya benjolan
kecil lama kelamaan membesar. BAB dan BAK normal, penurunan berat
badan (-), menarche (-), riwayat urut 3 kali. Pasien kemudian dirujuk dari
RSU Walanda Maramis ke RSUP prof. Kandou.
F. Diagnosis
Diagnosis pre operatif : Tumor intraabdominal suspek kista ovarium
Diagnosis post operatif : Torsio kista ovarium dextra
G. Laporan Operasi
- Pasien dibaringkan terlentang diatas meja operasi, kemudian dilakukan
-

general anastesi.
Kemudian dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik pada daerah
abdomen dan sekitarnya dengan betadine, lalu ditutup dengan doek
steril kecuali lapangan operasi. Dilakukan insisi secara transversal 2

jari dibawah umbilicus


Peritonium dibuka tampak kista ovarium ukuran diameter 22 cm,
Dilakukan eksplorasi tampak kista memuntir 3x putaran. Dipastikan
dilakukan salpingoovacetomy dextra (SOD). Eksplorasi organ lain
tidak ada kelainan.
16

Kontrol perdarahan, lalu dijahit lapis demi lapis.


Operasi selesai.
Jaringan kista dilakukan pemeriksaan PA.

17

H. Penatalaksanaan
IVFD D5 NS 12gtt/mnt
Ceftriaxone inj. 2x1
Ketorolac inj. 3x1/2 amp
Ranitidin 2x1/2 amp
I. FOLLOW-UP
23 juni 2015
S : Nyeri pada perut bagian bawah
O : KU : Cukup, Kes : CM
TD : 110/70 mmHg

N: 80x/m

R: 20x/m

Abdomen
Inspeksi : Terlihat benjolan ukuran 12 x 10 cm.
Auskultasi : BU (+) normal
Palpasi : NT (+),Konsistensi kenyal batas tegas.
Perkusi : Tympani
Hasil Lab 23-06-2014

18

S: 36,5 OC

Hematologi

Kimia Klinik

MCH = 27

Creatinin = 0.7 mg/dL

MCHC = 32

Ureum = 16 mg/dL

MCV = 84

Creatinin = 0,4 mg/dL

Leukosit = 7.590 (/mm3)

Albumin = 4.54 g/dL

Eritrosit = 5,23 (106/mm3)

Globulin = 2.8 g/dL

Hemoglobin = 14,0(g/dL)

SGOT/SGPT=25U/L/17U/L

Hematokrit = 43,9 (%)

Calsium = 10,10 mg/dL


Trombosit = 337 (103/mm3)
Natrium = 139 mmol/L
Kalium = 4.50 mmol/L
Chloride = 107.0 mmol/L

A: Tumor intraabdomen susp. Kista Ovarium


P: - Pro CT Scan
- D5 NS 14 gtt/mnt

24 juni 2015
S : Nyeri hilang timbul di bagian perut kanan bawah
O : KU : Cukup, Kes : CM
TD : 100/70 mmHg

N: 86x/m

R: 20x/m

S: 36,5 OC

Abdomen
Inspeksi : benjolan ukuran 12 x 10 cm di region suprapubik.
Auskultasi : BU (+) normal
Palpasi : Konsistensi kenyal batas tegas, NT (+), DM (-).
Perkusi : Tympani
A : Tumor intraabdomen susp. Kista Ovarium
P:-

Rencana CT Scan abdomen dengan kontras


MRS
RL 12 gtt/mnt

19

Ketorolac inj. Jika nyeri

25 Juni 2015
S : Nyeri perut bagian bawah jika ditekan, nyeri hilang timbul
O : KU : Cukup, Kes : CM
TD : 100/70 mmHg

N: 92x/m

R: 20x/m

S: 36,3 OC

Abdomen
Inspeksi : benjolan ukuran 12x 10 cm di regio suprapubik.
Auskultasi : BU (+) normal
Palpasi : Konsistensi kenyal batas tegas, NT (-), DM (-).
Perkusi : Tympani
A : Tumor intraabdomen susp. Kista Ovarium
P:-

Rencana CT Scan abdomen dengan kontras


Ceftriaxone 2x1 inj.
Ranitidin 2x1 inj.
Ketorolac inj.

26 juni 2015
S : Demam (-), Nyeri perut bagian bawah hilang timbul
O : KU : Cukup, Kes : CM
TD : 110/80 mmHg

N: 92x/m

R: 20x/m

Abdomen
Inspeksi : benjolan ukuran 12 x 10 cm
Auskultasi : BU (+) normal
Palpasi : Konsistensi kenyal batas tegas, NT (-), DM (-).
Perkusi : Tympani
A : Tumor intraabdomen susp. Kista Ovarium
P:-

Menunggu CT Scan abdomen dengan kontras


IVFD NaCl 0,9% 12 gtt/mnt
Ketorolac inj.

27 juni 2015
20

S: 36,5 OC

S : Keluhan (-)
O : KU : Cukup, Kes : CM
TD : 120/80 mmHg

N: 82x/m

R: 20x/m

S: 36,8 OC

Abdomen
Inspeksi : Benjolan uk. 12x10cm,
Auskultasi : BU (+) N
Palpasi : NT (-),konsistensi kenyal, mobile, tdk melekat dengan jaringan
sekitar.
Perkusi : Tympani
A : Tumor intraabdominal susp.kista ovarium
P :-

Pro CT-Scan abdomen dengan kontras


D5 NS 14 gtt/mnt

28 juni 2015
-

S : Keluhan (-)
O : KU : Cukup, Kes : CM
TD : 100/70 mmHg N: 88x/m
R: 20x/m
S: 36,8 OC
Abdomen
Inspeksi : Benjolan uk. 12x10cm
Auskultasi : BU (+) N
Palpasi : NT (-), Konsistensi kenyal batas tegas, DM (-).
Perkusi : Tympani

A : Tumor intraabdominal susp.kista ovarium


P :

- R/ CT-Scan abdomen dengan kontras


- D5 NS 14 gtt/mnt

29 juni 2015
-

S : Keluhan (-)
O : KU : Cukup, Kes : CM
TD : 110/80 mmHg N: 82x/m
Abdomen
Inspeksi : Benjolan uk. 12x10cm,
Auskultasi : BU (+) N
Palpasi : NT (-),fixed
Perkusi : Tympani

R: 20x/m

A : Tumor intraabdominal susp.kista ovarium

21

S: 36,8 OC

P :

- R/ CT-Scan abdomen dengan kontras


- D5 NS 14 gtt/mnt

30 juni 2015
S : Keluhan (-)
O : KU : Cukup, Kes : CM
TD : 120/80 mmHg N: 82x/m
Abdomen
Inspeksi : Benjolan uk. 12x10cm,
Auskultasi : BU (+) N
Palpasi : NT (-),fixed
Perkusi : Tympani

R: 20x/m

S: 36,8 OC

A : Tumor intraabdominal susp.kista ovarium


P : Pro CT-Scan abdomen dengan kontras
D5 NS 14 gtt/mnt
01 juli 2015
S : Keluhan (-)
O : KU : Cukup, Kes : CM
TD : 110/80 mmHg N: 86x/m
Abdomen
Inspeksi : Benjolan uk. 12x10cm,
Auskultasi : BU (+) N
Palpasi : NT (-),fixed
Perkusi : Tympani

R: 20x/m

S: 36,5 OC

A : Tumor intraabdominal susp.kista ovarium


P : - D5 NS 14 gtt/mnt

2 juli 2015
S : Keluhan (-)
O : KU : Cukup, Kes : CM
TD : 100/80 mmHg N: 86x/m
Abdomen
Inspeksi : Benjolan uk. 12x10cm,
Auskultasi : BU (+) N

22

R: 20x/m

S: 36,3 OC

Palpasi : NT (-),fixed
Perkusi : Tympani
A : Tumor intraabdominal susp.kista ovarium
P : - D5 NS 14 gtt/mnt
3 juli 2015
S : Keluhan (-)
O : KU : Cukup, Kes : CM
TD : 100/70 mmHg N: 92x/m
R: 20x/m
Abdomen
Inspeksi : Benjolan uk. 12x10cm
Auskultasi : BU (+) N
Palpasi : NT (-),Benjolan uk. 12x10cm, fixed
Perkusi : Tympani

S: 36,4 OC

A : Tumor intraabdominal susp.kista ovarium


P : - R/ Laparatomi
- D5 NS 12 gtt/mnt
- Cek DL, Na, K, Cl, Ur, Kr, GDS, PT, APTT.

4 juli 2015
S : Keluhan (-)
O : KU : Cukup, Kes : CM
TD : 100/70 mmHg N: 92x/m
R: 20x/m
Abdomen
Inspeksi : Benjolan uk. 12x10cm
Auskultasi : BU (+) N
Palpasi : NT (-),Benjolan uk. 12x10cm, fixed
Perkusi : Tympani
A : Tumor intraabdominal susp.kista ovarium
P : - R/ Laparatomi
- D5 NS 12 gtt/mnt
- Cek DL, Na, K, Cl, Ur, Kr, GDS, PT, APTT.

23

S: 36,4 OC

5 juli 2015
S : Keluhan (-)
O : KU : Cukup, Kes : CM
TD : 120/80 mmHg N: 82x/m
R: 20x/m
Abdomen
Inspeksi : Benjolan uk. 12x10cm
Auskultasi : BU (+) N
Palpasi : NT (-),Benjolan uk. 12x10cm, fixed
Perkusi : Tympani

S: 36,8 OC

A : Tumor intraabdominal susp.kista ovarium


P : - R/Laparatomi
- D5 NS 12 gtt/mnt

6 juli 2015
S : Keluhan (-)
O : KU : Cukup, Kes : CM
TD : 120/80 mmHg N: 82x/m
R: 20x/m
Abdomen
Inspeksi : Benjolan uk. 12x10cm
Auskultasi : BU (+) N
Palpasi : NT (-),Benjolan uk. 12x10cm, fixed
Perkusi : Tympani

S: 36,8 OC

A : Tumor intraabdominal susp.kista ovarium


P : - R/Laparatomi eksplorasi besok
- D5 NS 12 gtt/mnt
Keadaan Post Operasi:
Perdarahan

: 50 cc

T: 100/70 mmHg

N: 88x/ menit

R: 20 x/ menit

Penanganan Post Operasi:


-

IVFD D5 NS 10 gtt/mnt
Ceftriaxone inj. 2x1
Ketorolac inj. 3x1/2 amp
Ranitidin inj. 2x1/2 amp
24

S: 36,5C

Cek DL post operasi

Hematologi 07/7/2015
-

Leukosit = 17680
Eritrosit = 4, 42
Hemoglobin = 12,6
Hematokrit = 36,4
Trombosit = 375000
MCH= 29
MCHC=35
MCV=82

8 juli 2015
S : nyeri luka operasi
O : KU : Cukup, Kes : CM
TD : 90/60 mmHg
N: 100x/m
R: 22x/m
Abdomen
Inspeksi : datar Luka operasi terawat
Auskultasi : BU (+) N
Palpasi : lemas
Perkusi : Tympani

S: 36,7 OC

A : Post Laparatomi e.c. torsi kista ovarium dextra


-

IVFD D5 NS 10 gtt/mnt
Ceftriaxone inj. 2x1
Ketorolac inj. 3x1/2 amp
Ranitidin inj. 2x1/2 amp
Rawat luka

9 juli 2015
S : nyeri luka operasi
O : KU : Cukup, Kes : CM
TD : 100/70 mmHg N: 92x/m
R: 22x/m
Abdomen
Inspeksi : datar Luka operasi terawat
Auskultasi : BU (+) N
Palpasi : lemas
Perkusi : Tympani
A : Post Laparatomi e.c. torsi kista ovarium dextra
-

IVFD D5 NS 10 gtt/mnt
Ceftriaxone inj. 2x1

25

S: 36,2 OC

Ketorolac inj. 3x1/2 amp


Ranitidin inj. 2x1/2 amp
Rawat luka

9 juli 2015
S : Nyeri luka operasi menurun
O : KU : Cukup, Kes : CM
TD : 100/70 mmHg N: 92x/m
R: 22x/m
Abdomen
Inspeksi : datar luka operasi terawat
Auskultasi : BU (+) N
Palpasi : lemas
Perkusi : Tympani

S: 36,2 OC

A : Post Laparatomi e.c. torsi kista ovarium dextra


-

IVFD D5 NS 10 gtt/mnt
Ceftriaxone inj. 2x1 gr
Ketorolac inj. 3x1/2 amp
Ranitidin inj. 2x1/2 amp
Rawat luka

10 juli 2015
S : (-)
O : KU : Cukup, Kes : CM
TD : 100/70 mmHg N: 92x/m
R: 22x/m
Abdomen
Inspeksi : datar Luka operasi terawat
Auskultasi : BU (+) N
Palpasi : lemas
Perkusi : Tympani

S: 36,2 OC

A : Post Laparatomi e.c. torsi kista ovarium dextra


-

IVFD D5 NS 10 gtt/mnt
Ceftriaxone inj. 2x1
Ketorolac inj. 3x1/2 amp
Ranitidin inj. 2x1/2 amp
Rawat luka

11 juli 2015
S : (-)
O : KU : Cukup, Kes : CM
TD : 100/70 mmHg N: 92x/m
Abdomen

R: 22x/m

26

S: 36,7 OC

Inspeksi : datar, region intraumbilicus: luka terawat, kering, darah (-), Pus
(-)
Auskultasi : BU (+) N
Palpasi : lemas
Perkusi : Tympani

A : Post Laparatomi e.c. torsi kista ovarium dextra H-IV


-

Cefixime caps 2x1 tab


Asam Mefenamat 3x250mg
B Comp 3x1 tab
Diet makan biasa
Rawat luka

12 juli 2015
S : keluhan (-)
O : KU : Cukup, Kes : CM
TD : 100/60 mmHg

N: 92x/m

R: 20x/m

Abd :Inspeksi: datar, luka operasi terawat


Auskultasi: BU(+) Normal
Palpasi: Lemas
Perkusi: Timpani
A : Post laparotomy e.c kista ovarium dextra
P: -

Cefixime tab 2x1


Paracetamol tab 3x1
Rawat luka
Boleh rawat jalan control poli bedah

27

S: 36,7 OC

28

BAB III
DISKUSI

Pada kasus torsio kista ovarium ini, diagnosis ditegakkan berdasarkan


anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis
ditemukan penderita datang ke rumah sakit dengan keluhan utama nyeri perut
bagian bawah. Nyeri perut dirasakan hilang timbul 3 bulan SMRS, sebagian besar
kepustakaan menyebutkan bahwa nyeri akut abdomen bagian bawah yang hilang
timbul merupakan gejala yang paling sering timbul pada kista ovarium terutama
pada anak-anak yang mengalami kista ovarium, dan terpuntirnya kista ovarium
menyebabkan rasa nyeri pada perut bagian bawah. Pasien juga mengaku adanya
riwayat pijat (+), Dinding abdomen pada anak-anak cenderung lebih tipis
dibanding orang dewasa sehingga dapat diduga riwayat pijat menjadi salah satu
penyebab kista terpuntir. BAB/BAK normal, dan tidak didapatkan penurunan
berat badan. Sesuai dengan kepustakaan juga dikatakan bahwa sebagian besar
kista ovarium tidak menimbulkan gejala. Tetapi adapula kista yang berkembang
menjadi besar dan menimbulkan nyeri yang tajam. 1,6,9,10
Gejala-gejala berikut mungkin muncul jika terdapat kista ovarium:
-

Perut terasa penuh, berat, kembung

Tekanan pada dubur dan kandung kemih (sulit buang air kecil)

Nyeri panggul yang menetap atau kambuhan yang dapat menyebar


ke punggung bawah dan paha

Mual, ingin muntah

Gejala-gejala berikut memberikan petunjuk diperlukan penanganan segera:


-

Nyeri perut yang tajam dan tiba-tiba

Nyeri bersamaan dengan demam

Gejala klinis yang dapat ditemukan pada penderita dengan kista ovarium
dalam kasus ini berupa perut yang semakin membesar dan nyeri pada daerah
perut. Beberapa gejala tersebut sesuai dengan kepustakaan yang ada.

29

Pada pemeriksaan fisik terlihat benjolan di perut bagian bawah, Massa


kistik yang teraba padat.
Penegakan diagnosis kista ovarium dapat dilakukan dengan pemeriksaan: 2,9,11
Ultrasonografi (USG)
Gambaran ini dapat dicetak dan dianalisis oleh dokter untuk memastikan
keberadaan kista, membantu mengenali lokasinya dan menentukan apakah isi
kista cairan atau padat. Kista berisi cairan cenderung lebih jinak, kista berisi
material padat memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Akan terlihat sebagai struktur kistik yang bulat (kadang-kadang oval) dan
terlihat sangat echolucent dengan dinding dinding yang tipis/tegas/licin, dan di
tepi belakang kista nampak bayangan echo yang lebih putih dari dinding
depannya.
Kista ini dapat bersifat unillokuler (tidak bersepta) atau multilokuler
(bersepta-septa). Kadang-kadang terlihat bintik-bintik echo yang halus-halus
(internal echoes) di dalam kista yang berasal dari elemen-elemen darah di dalam
kista.
Kista sederhana yang berukuran 6 cm harus dipantau dengan
ultrasonografi. Kista yang besar dapat terlihat pada film polos abdomen sebagai
massa jaringan lunak yang berasal dari luar pelvis. 11 Pada pemeriksaan USG untuk
pasien ini ditemukan massa kistik unilateral, bersepta dan memberikan kesan kista
ovarium multilokuler.
Penanganan kista ovarium dibedakan menjadi penanganan konservatif
dan operatif. Pada kista dengan diameter kurang dari 5 cm dan tidak bergejala,
diambil sikap menunggu selama 2-3 bulan dan dilakukan pemeriksaan
ginekologik berulang. Bila ditemukan membesar, maka kemungkinan besar kista
bersifat neoplastik dan dapat dipertimbangkan penanganan operatif. Pada kista
yang besar atau mengalami komplikasi dilakukan salpingo-ooforektomi,
Dari laparatomi didapatkan massa kistik terpuntir dengan ukuran
12x10,5 cm pada ovarium kanan, permukaan licin dan tidak terdapat perlekatan
dengan jaringan sekitar, permukaan luar licin, warna keabuan. Jaringan yang
diambil dari massa yang dikeluarkan dikirim ke laboratorium Patologi Anatomi

30

untuk dilakukan pemeriksaan. Hasil pemeriksaan didapatkan

Kista Dermoid

radang kronis. Kista ovarium terpuntir dapat terjadi pada berbagai usia, namun
umumnya terjadi pada awal usia reproduksi. Dimana pada kasus ini pasien
berumur 11 tahun. Temuan ini juga sesuai dengan kepustakaan bahwa massa
ovarium yang paling sering terkait dengan torsio adalah kista dermoid. Torsio
kista ovarium lebih umum disisi kanan karena kolon sigmoid membatasi mobilitas
ovarium kiri.
Pada penderita yang dilakukan adalah salpingo-ooforektomi dekstra.
Salpingo-ooforektomi dekstra yaitu pengakatan ovarium kanan dengan tuba,
dilakukan salphingo-ooforektomi dekstra karena kista berasal dari ovarium kanan.
1.

Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita kista ovarium antara lain

torsi, ruptur, supurasi dan perubahan ke arah keganasan.6,10,11


o Torsi
Merupakan komplikasi yang paling sering terjadi, terutama pada kista
dengan ukuran sedang. Salah satu penyebab terpenting terjadinya torsi
adalah gerakan dari kista yang dipengaruhi oleh gerakan peristaltik usus.
o Ruptur Kista
Dapat terjadi secara spontan atau akibat trauma. Gejala yang timbul dapat
berupa nyeri dan muntah. Bila terjadi ruptur, batas-batas dari kista akan
sukar untuk ditentukan.
o Supurasi Kista
Supurasi kista dapat terjadi setelah torsi atau dapat pula terjadi secara
hematogen atau limfogen. Kista yang sering mengalami supurasi adalah
kista dermoid.
o Perubahan ke arah keganasan
Pada kista jenis serosum kemungkinan untuk terjadinya perubahan ke
arah keganasan yaitu 30-35 %.
2.

Prognosis

31

Prognosis dari kista ovarium tergantung dari beberapa hal: stadium, jenis,
histologis, derajat diferensiasi kista, residu kista, umur penderita, ukuran kista.
Kista yang timbul pada wanita usia reproduktif umumnya baik dan tidak
menimbulkan dampak. Kista yang timbul pada wanita menopause tidak boleh
diabaikan karena merupakan gejala dari adanya tumor patologis maupun ganas.12
Prognosis dari pasien ini adalah dubia ad malam karena meskipun
penatalaksanaan kista ovarium telah dilakukan sesuai prosedur yang benar,
banyak faktor resiko yang dapat memperburuk keadaan pasien. Pada ovarium kiri
yang masih ada dapat tumbuh kista. Luka operasi juga dapat menimbulkan infeksi
jika pasien tidak merawatnya dengan baik dan pasien jarang kontrol ke dokter.
Asupan nutrisi yang kurang baik juga akan menghambat penyembuhan luka
operasi.

32

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
-

Kista adalah kantong berisi cairan, kista seperti balon berisi air, dapat
tumbuh di mana saja dan jenisnya bermacam-macam. Kista yang berada di
dalam atau permukaan ovarium (indung telur) disebut kista ovarium atau
tumor ovarium. Sebagian besar kista terbentuk karena perubahan kadar
hormon yang terjadi selama siklus haid, produksi dan pelepasan sel telur
dari ovarium.

Sampai sekarang ini penyebab dari Kista Ovarium belum sepenuhnya


dimengerti, tetapi beberapa teori menyebutkan adanya gangguan dalam
pembentukan estrogen dan dalam mekanisme umpan balik ovariumhipotalamus.

Sebagian besar kista ovarium tidak menimbulkan gejala, atau hanya sedikit
nyeri yang tidak berbahaya. Tetapi adapula kista yang berkembang
menjadi besar dan menimpulkan nyeri yang tajam.

Penegakan diagnosis untuk kista ovarium dapat dilakukan dengan


pemeriksaan Ultrasonografi (USG) , Laparoskopi dan MRI.

Pengobatan yang dilakukan bergantung pada umur, jenis dan ukuran kista
dan gejala-gejala yang diderita. Jika kistanya tidak menimbulkan gejala,
biasanya cuma dimonitor 1-2 bulan, karena jika kista fungsional, akan
hilang dengan sendirinya setelah 1 atau 2 siklus haid. Jika kistanya
membesar, maka dilakukan tindakan pembedahan. Jenis dan luasnya
pembedahan tergantung beberapa faktor: ukuran dan jenis kista, usia,
gejala dan keinginan memiliki anak.

B. Saran
-

Perlu dilakukan skrining awal pada wanita-wanita yang berisiko untuk


terjadinya kista ovarium agar dapat dilakukan penanganan yang lebih awal
sehingga komplikasi terjadinya keganasan dapat dihindari khususnya
kepada anak-anak dan remaja.

33

DAFTAR PUSTAKA
1. Helm, C.W., et al. Ovarian Cyst. [online]. 2008 Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/255865-overview#showall
2. Sutoto, M.S.J. Tumor Jinak Pada Alat Genital. Dalam: Wiknjosastro, H.
Buku Ilmu Kandungan. Edisi Kedua. Cetakan Keenam. Jakarta: PT. Bina
Pustaka Prawirohardjo. 2009:13-14.
3. F. Gary Cunningham, F. Gant N.(et al), alih bahasa, Andry Hartono, Y.
Joko S. Obstetri William. Edisi 21. Cetakan pertama. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC. 2005. p1036-1037.
4. Sanfillippo, JS. Rock, JA. Surgery of Benign Disease of the Ovary. In: The
Lindes Operative Gynecology, Rock JA, Thompson JD editors. LippincotRaven Publishers, Philadelphia, 2005: p625-44
5. Mansjoer, A., et al. Tumor Ovarium Neoplastik Jinak. Dalam: Mansjoer, A.,
et al. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga. Jilid 1. Jakarta: Fakultas
Kedokteran UI. 2009.
6. Crompton, S. Ovarian Cancer: the silent killer. [online]. 2009. Available
from:
http://www.timesonline.co.uk/tol/life_and_style/health/article3744321.ece
7. Patel N, Dupuis G, Wild R. Giant Ovarian Cyst in an Adolescent With
PCOS.

[online].

2013.

Available

from:

http://www.pediatricsconsultant360.com/article/giant-ovarian-cystadolescent-pcos
8. Sihombing, M., et al. Angka Ketahanan Hidup Penderita Kanker Ovarium
di RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Majalah Kedokteran Indonesia.
2007.
9. Marrinan, G. Ovarian Cysts, Radiology, ObstetricGynecologic. [online].
2007. Available from: http://www.emedicine./com
10. Staf,

C.M.

Ovarian

Cysts.

[online].

2007.

Available

from:

http://www.mayoclinic./com
11. Patel, P.R. Obstetri dan Ginekologi. Dalam: Patel, P.R. Radiologi. Edisi
Kedua. Jakarta: Erlangga Medical Series. 2007.

34

12. The Patient Education Institute. X-Plain Ovarian Cysts. The Patient
Education Institute.2011: p3

35

DAFTAR GAMBAR

36

Anda mungkin juga menyukai