Anda di halaman 1dari 23

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Usaha dibidang pertanian sejalan dengan bertambahnya waktu muncul

permasalahan yang cukup berarti yaitu serangan organisme pengganggu tanaman


(OPT). Awalnya petani telah melakukan upaya pengendalian OPT secara fisik
dan mekanik, namun dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi,
dikembangkanlah

pengendalian

hama

yang

dipandang

lebih

efektif yaitu dengan menggunakan pestisida. Pestisida yang banyak digunakan


biasanya

merupakan

bahan

kimia

toksikan yang

unik, karena

dalam

penggunaannya, pestisida ditambahkan atau dimasukkan secara sengaja ke dalam


lingkungan dengan tujuan untuk membunuh beberapa bentuk kehidupan. Idealnya
pestisida hanya bekerja secara spesifik pada organisme sasaran yang dikehendaki
saja dan tidak pada organisme lain yang bukan sasaran.
Pestisida adalah zat atau senyawa kimia, zat pengatur dan peransang
tumbuh, bahan lain serta organisme renik atau virus yang digunakan antara lain
untuk melindungi (melakukan perlindungan) tanaman dari gangguan OPT.
Senyawa pestisida hasil industri umumnya merupakan senyawa yang relative
murni yang dikenal dengan istilah bahan teknis yang terdiri dari senyawa bahan
aktif dan beberapa senyawa lain. Penggunaan pestisida juga telah dirasakan
manfaatnya yaitu untuk meningkatkan hasil produksi, akan tetapi hal ini akan
membuat tingkat ketergantungan kita sangat tinggi terhadap pestisida
Bahan teknis pada umumnya tidak digunakan secara langsung untuk
pengendalian

OPT

karena

relative

sulit

mengaplikasikanya,

cenderung

menimbulkan peracunan dan harganya sangat mahal. Senyawa yang relatif murni
ini pada umumnya tidak dapat melekat dengan baik atau menyebar merata pada
permukaan sasaran, serta dapat menimbulkan kerusakan dalam penyimpanan baik
dari segi keamanan maupun ketahanannya. Untuk membatasi hal-hal seperti
disebutkan diatas, maka pestisida digunakan dalam bentuk campuran atau

senyawa pestisida dengan bahan lain (formulan) yang dikemudian dikenal sebagai
formulasi pestisida. Formulasi pestisida yang dipasarkan terdiri atas bahan pokok
yang disebut bahan aktif (active ingredient) yang merupakan bahan utama
pembunuh organisme pengganggu dan bahan ramuan (inert ingredient).

1.2

Tujuan
Untuk mengetahui formulasi, nama dagang dan semua hal penting yang

ada di dalam tabel

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Petani sayuran di Indonesia sebagian besar menggunakan pestisida sintetik


untuk mencegah serangan hama dan penyakit tanaman. Pestisida tersebut
digunakan 1-7 hari setelah hari pertama masa tanam di lapangan dan dilanjutkan
setiap 3-4 hari sekali. Selain itu, petani melakukan strategi lain berupa
peningkatan konsentrasi, frekuensi penggunaan pestisida, serta kombinasi merek
pestisida untuk menekan serangan hama dan penyakit tanaman. Pola aplikasi
pestisida seperti demikian tentu akan meningkatkan residu pestisida dalam produk
sayuran yang dihasilkan (Saepudin dkk., 2012).
Penggunaannya dengan tidak memperhatikan kaidah-kaidah dasar
penggunaan pestisida secara tepat jenis, tepat sasaran, tepat dosis/konsentrasi,
tepat cara dan waktu aplikasi dapat membahayakan lingkungan dan konsumen.
Penggunaan pestisida yang tidak tepat waktu, interval waktu aplikasi yang pendek
dan terlalu dekat waktu panen akan menyebabkan tertinggalnya residu pestisida
pada bahan makanan yang dapat membahayakan kesehatan manusia yang
mengkonsumsi bahan makanan tersebut. Residu pestisida adalah zat tertentu yang
terkandung dalam hasil pertanian bahan pangan atau pakan hewan, baik sebagai
akibat langsung maupun tidak langsung dari penggunaan pestisida (Tuhumury
dkk., 2012).
Menurut

Raini

(2007),

Pestisida

merupakan

senyawa

untuk

mengendalikan hama Jenis hama yang paling sering ditemukan adalah serangga
dan beberapa di antaranya sebagai vektor penyakit. Penyakit-penyakit yang
penularannya melalui vektor antara lain malaria, onkosersiasis. filariasis, demam
kuning, riketsia, meningitis, tifus. dan pes. Penggunaan pestisida dalam menopang
peningkatan produk pertanian maupun perkebunan telah banyak membantu untuk
meningkatkan produksi pertanian. Namun demikian penggunaan pestisida ini juga
memberikan dampak negatif baik terhadap manusia, biota maupun lingkungan
(Manuaba, 2009).
Akhir-akhir ini disadari, bahwa pemakaian pestisida sintetis ibarat pisau
bermata dua dibalik manfaatnya yang besar bagi peningkatan produksi pertanian

tersembunyi bahaya yang mengerikan.estisida nabati merupakan salah satu alternatif


yang dapat digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman, karena
pestisida ini mudah terurai dan tidak merusak lingkungan. Usaha penggunaan bahan
nabati dapat dimulai dari bahan tumbuhan yang kita kenal mengandung bahan
beracun, misalnya mengandung rasa gatal, pahit, bau spesifik tidak disukai hewan.
Usaha pengendalian dengan bahan-bahan nabati seperti ini aman terhadap lingkungan
karena bahan-bahan tersebut tidak bersifat asing bagi lingkungan dan cepat terurai
menjadi bahan yang tidak berbahaya (Hassanuddin, 2008).

Pestisda tidak dimaksudkan untuk menaikkan produksi tanaman, tidak


pula untuk menyuburkan tanaman. Produksi tanaman yang diperlakukan dengan
pestisida lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak diberi pestisda, hal tersebut
merupakan konsekuensi logis. Ada beberapa bahan aktif pestisda memiliki efek
fitotonik (menghijaukan tanaman) seperti beberapa senyawa triazone, namun
efek-efek ini harus dianggap sebagai efek samping saja, bukan tujuan utama
penggunaan pestisida (Djojosumarto, 2008).
Menurut

Sudarmo

(2007),

Pestisida

sebelum

digunakan

harus

diformulasikan terlebih dahulu. Pestisida dalam bentuk murni biasanya diproduksi


oleh pabrik bahan dasar, kemudian dapat diformulasi sendiri atau dikirim ke
formulator lain. Beberapa formulator pestisda yang sering dijumpai yaitu cairan
emulsi, butiran (granulars), debu (dust), tepung (powder), oli (oil), fumigansia.
Cara kerjanya pestisida sendiri hingga saat meliputi Pestisida kontak artinya
bahan ini memiliki daya pmembunuh langsung ketika bahan kontak langsung
dengan badan atau bagian badan hama sasaran, Pestisida sistematik artinya bahan
yang dapat membunuh hama sasaran setelah hama tersebut mengisap air sap dan
memakan jaringan tanaman, Pestisida lambung (racun perut) artinya hama akan
terbunuh jika racun tersebut termakan hama sasaran, Pestisida fumigan (racun
dalam bentuk gas) artinya hama sasaran terbunuh jika badan atau sebagain badan
tersusupi uap atau gas bahan racun tersebut (Tarigan dkk., 2007).

BAB 3. METODE PRAKTIKUM

3.1

Waktu dan Tempat


Praktikum Pestisda Pertanain ini dilaksanakan pada hari senin tanggal 21

September 2014 pukul 11.00 hingga selesai dan bertempat di Laboratorium Hama
dan Penyakit Gedung Jurusan HPT lantai 2 Fakultas Pertanian Universitas Jember
3.2

Alat dan Bahan

3.2.1

Alat

1. Penggaris
2. Kertas A4
3. Bulpoint
3.2.2

Bahan

1. Beberapa macam pestisida (insektisida, fungisida, herbisida dan bakterisida

3.3

Cara Kerja

1. Menyiapkan Alat dan Bahan.


2. Mengambil 18 contoh dari beberapa macam insektisidayang terdiri atas 5
Insektisda, 5 Herbisida, 5 Fungisida, dan 3 Bakterisida.
3. Mencatat informasi yang tertera pada tabel pestisda tersebut.

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Pestida Insektisda
Nama Dagang : Centa-Fur 3 GR

Dosis : 10-20 Kg/ha

Jenis F/I/H/B : Insektisda

Nama Sasaran : Wereng Coklat

Formulasi : 3 GR

Nilaparvata Lugens, Penggerek batang

Bahan Aktif : Karbofuran 3%

Scturpophaga incertulas

Warna : Ungu

Tanaman : Padi

Penggunaan : Ditabur

Cara Kerja : Sistemik

Nama Pemegang Pendaftaran : PT


Centa Brasindo Abadi
No. Pendaftaran : RI 2056/8-2004/T
Nama Dagang : Tamaran

Dosis : Anggur 1,5 3 ml/l (500-700

Jenis F/I/H/B : Insektisida

l/ha), bawang merah 1,5-3 m/l (300-600

Formulasi : 200 LC

l/ha), kacang hijau 1,5-3 m/l (500 l/ha)

Bahan Aktif : Metamidofor 205 g/l

Nama Sasaran : Ulat grayak spodoptera

Warna : bening

exigua (anggur), kutu daun (cabai)

Penggunaan : semprot

Myzus persicae, agromyza sp.

Nama Pemegang Pendaftaran : Bayer

Tanaman : Anggur, cabai, jeruk

No. Pendaftaran : RI 127/9-91/T


Nama Dagang : ALTAG

Cara Kerja : Sistemik dan kontak


Dosis : 0,5 - 1 ml (cabai), 1 - 2 ml/l

Jenis F/I/H/B : Insektisida

(kedelai)

Formulasi : 15 EC

Nama Sasaran : ulat grayak Spodoptera

Bahan Aktif : Alfametrin 15 g/l

litura

Warna : kuning

Tanaman : Cabai, kedelai

Penggunaan : disemprot

Cara Kerja : Kontak

Nama Pemegang Pendaftaran : PT.


Indagro
No. Pendaftaran : RI 186/8-2003/T
Nama Dagang : AppLaiud

Dosis : 1 Kg/ha

Jenis F/I/H/B : Insektisda

Nama Sasaran : Wereng coklat

Formulasi : 10 WP

Nilapavarta Lugens, wereng hijau

Bahan Aktif : Buprofezin 10 %

Nephotettix Spp.

Warna : Putih

Tanaman : padi, kedelai

Penggunaan : Disuspensi/disemprot

Cara Kerja : kontak

Nama Pemegang Pendaftaran : PT


Kosmos Jaya
No. Pendaftaran : RI 688/11-97/T
Nama Dagang : Profile 430 EC

Dosis : 1 2 ml/l

Jenis F/I/H/B : Insektisida

Nama Sasaran : Hama grayak

Formulasi : 430 EC

Spodoptera litura sp.

Bahan Aktif : Profenofos 430 g/l

Tanaman : kedelai

Warna : kuning

Cara Kerja : kontak

Penggunaan : disemprot
Nama Pemegang Pendaftaran : PT
Mekar Warna Sari
No. Pendaftaran : RI 1306/7-98/T
Herbisida
Nama Dagang : Lindomin 865 AS

Dosis : 0,5 - 1/ha dan volume air 400-

Jenis F/I/H/B : herbisida

600 l/ha (padi), 1 2 l/ha dan volume

Formulasi : 865 AS

air 500 l/ha (tebu)

Bahan Aktif : 2,4-D dimentil amina 865

Nama Sasaran : Gulma berdaun lebar

g/l

Lidernia sp (padi), gulma berdaun

Warna : Coklat tua

sempit Echinochloa colonum (tebu),

Penggunaan : Disemprot

Digitaria Ciliaris (Jagung)

Nama Pemegang Pendaftaran : PT

Tanaman : Padi sawah, tebu, jagung

Nufarm Indonesia

Cara Kerja : Sistemik

No. Pendaftaran : RI 867/11-2000/T


Nama Dagang : Bravoxone

Dosis : 1 2 l/ha

Jenis F/I/H/B : Herbisida

Nama Sasaran : Gulma berdaun lebar,

Formulasi : 276 SK

teki

Bahan Aktif : Parakuat diklorida 276 g/l Tanaman : kakao, padi sawah
Warna : Hijau tua

Cara Kerja : kontak

Penggunaan : Disemprot
Nama Pemegang Pendaftaran : PT
Kresna Bumi Tama Sejati
No. Pendaftaran : RI 2174/10-2004/T
Nama Dagang : Ti-Gold 10 WP

Dosis : 60g/ha

Jenis F/I/H/B : Herbisida

Nama Sasaran : gulma berdaun lebar

Formulasi : 10 WP

dan teki Scirpus Juncoides

Bahan Aktif : etil pirazosulfron 10 %

Tanaman : Padi sawah

Warna : Putih

Cara Kerja : Sistemik

Penggunaan : Disemprot
Nama Pemegang Pendaftaran : PT Bina
Guna Kimia
No. Pendaftaran : RI 2135/4-2009/T
Nama Dagang : Ole-ole 865 SL

Dosis : 1,5 1,875 l/ha

Jenis F/I/H/B : Herbisida

Nama Sasaran : Gulma berdaun lebar

Formulasi : 865 SL

Ageratum Conycoides, Molugo

Bahan Aktif : 2,4-D dimentil amina 865

pentaphylla, Synedrella nodiflora

g/l

Tanaman -

Warna : Coklat

Cara Kerja : kontak

Penggunaan : Disemprot
Nama Pemegang Pendaftaran : Abadi
Jaya
No. Pendaftaran : RI 2964/11-2007/T
Nama Dagang : Money 865 SL

Dosis : 1 2 l/ha

Jenis F/I/H/B : Herbisida

Nama Sasaran : Gulma berdaun lebar

Formulasi : 865 SL

Monochoria Vaginalis, Morsilea

Bahan Aktif : 2,4-D dimentil amina 865

Crenata, Gulma berdaun sempit

g/l

Paspalum Conjugatum

Warna : Coklat muda

Tanaman Padi Sawah

Penggunaan : Disemprot

Cara Kerja : Sistemik

Nama Pemegang Pendaftaran : PT


Sinar General Indonesia
No. Pendaftaran : RI 0103120114151

Pestisida Fungisida
Nama Dagang : Dithame M-45 80 WP

Dosis : 1,5 3 g/l (apel), 1-2 Kg/ha

Jenis F/I/H/B : Fungisida

(bawang), 1,18 kg/ha (cabai)

Formulasi : WP

Nama Sasaran : Marsonia Coronaria

Bahan Aktif : Mankozeb 80 %

(apel), Alternaria alii (bawang),

Warna : Kuning keabu-abuan

Cescospora capsici (cabai)

Penggunaan : Disemprot

Tanaman : apel, bawang, cabai

Nama Pemegang Pendaftaran : PT Dow

Cara Kerja : sistemik

Agrosciences Indonesia
No. Pendaftaran : RI 5193/3-2006/T
Nama Dagang : Acrobat 50 WP

Dosis : 80,6 Kg/ha (kentang), 0,5 1

Jenis F/I/H/B : Fungisida

g/l (tomat), 1 - 1,25 (tembakau), 2,4 g/l

Formulasi : Mx 80 WP

(cabai)

Bahan Aktif : Karbendazim 6,2 %,

Nama Sasaran : phytoptora infestans

Mankozeb 73,8 %

(tomat, kentang), phytoptora nicotiane

Warna :

(tembakau), cercospora capsia (cabai)

Penggunaan :

Tanaman : tomat, kentang, tembakau,

Nama Pemegang Pendaftaran :

cabai

No. Pendaftaran :
Nama Dagang : Deisane

Cara Kerja : sistemik


Dosis : 1-2 g/l

Jenis F/I/H/B : Fungisida

Nama Sasaran : jamur/ hawar pelapah

Formulasi : Mx 80 WP

Tanaman : cabai, padi sawah, tomat

Bahan Aktif : : Karbendazim 6,2 %,

Cara Kerja : sistemik & kontak

Mankozeb 73,8 %
Warna : kuning
Penggunaan : disemprot dan dikocor
Nama Pemegang Pemdaftaran : PT

Dupint Agricultural Product Indonesia


No. Pendaftaran : RI 328/4-2007/T
Nama Dagang : Fujiwan

Dosis : 2 ml/air atau 500 l/ha

Jenis F/I/H/B : Fungisida

Nama Sasaran : penyakit blas

Formulasi : 400 BC

Tanaman : padi, kedelai, bawang merah

Bahan Aktif : 2 iliclenemalanat 400 g/l

Cara Kerja : sistemik

Warna : Coklat pucat


Penggunaan : disemprot
Nama Pemegang Pemdaftaran : PT
Indagro Inc.
No. Pendaftaran : RI 711/6-2002/T
Nama Dagang : Topsin

Dosis : 1-2 g/ha

Jenis F/I/H/B : Fungisida

Nama Sasaran : Penyakit embun

Formulasi : 70 WP

tepung, bercak ungu

Bahan Aktif : metil tiofanat 70 %

Tanaman : apel, cabai

Warna : Putih kecoklatan

Cara Kerja : sistemik

Penggunaan : disuspensikan
Nama Pemegang Pemdaftaran : PT
Petrokimia Kayaku
No. Pendaftaran : RI 500/4-2009/T

Bakterisida
Nama Dagang : Agrepi 20 WP

Dosis : 1-2 g/l (tomat), 2-2,5 g/l

Jenis F/I/H/B : Bakterisida

(tembakau)

Formulasi : WP

Nama Sasaran : bakteri Pseudomonas

Bahan Aktif : Streptomisin sulfat 20 %

solaneaum, bakteri Erusinia

Warna : putih keabu0abuan

canotovora

Penggunaan : disuspensikan

Tanaman : tomat dan tembakau

Nama Pemegang Pendaftaran : PT

Cara Kerja : sistemik

Martalin Mandiri
No. Pendaftaran : RI 654/8-2003/T
Nama Dagang : Kasumin

Dosis : 1 2 %

Jenis F/I/H/B : Bakterisida

Nama Sasaran : Penyakit layu bakteri

Formulasi : 5/75 WP

Pseudomonas soloneceaum

Bahan Aktif : Kasugami hidroklorida

Tanaman : kedelai, jahe

5,7 %, tembaga oksiklorida 75,6 %

Cara Kerja : sistemik

Warna : hijau
Penggunaan : Disemprot
Nama Pemegang Pendaftaran : PT
Indagro Inc.
No. Pendaftaran : RI 1230/2-97/T
Nama Dagang : Plantomyan 75 SP

Dosis : 1 g/lt

Jenis F/I/H/B : Bakterisida

Nama Sasaran : bakteri pada hawar

Formulasi : 75 SP

daun, layu daun

Bahan Aktif : Sterptpmycin sulfate

Tanaman : tomat, padi, tembakau

6,87%

Cara Kerja : sistemik

Warna : Hijau
Penggunaan : disemprot
Nama Pemegang Pendaftaran : PT Safe
Chemical Indonesia
No. Pendaftaran : RI 2303/12-2006/T

4.2

Pembahasan
Berdasarkan hasil yaang diperoleh, pestisida terbagi menajadi empat

golongan yakni insektisida, herbsisida, fungisida, dan bakterisida. Merk dagang


yang termasuk kedalam golongan insektisida meliputi Canta-fur 3GR, Tamaron,
Altag, Applaud, Profile 430. Untuk yang termasuk kedalam golongan herbisida
meliputi meliputi Lindomin, Bravoxone, Ti-Gold 10 WP, Ole-ole 865 SL, Noney
865 SL. Pestisida yang termasuk kedalam fungisida yakni meliputi Dithane M 45
WP, Acrobat 50 WP, Deisene, Fujiwan, Topsin, serta pestisida yang termasuk

kedalam golongan bakterisida yaitu Agrepi, Kasimin, dan Plantumyan 75 SP. Cara
kerja merk dagang kesemua digolongkan yakni secara kontak, sistemik, dan
kontak-sistemik. Pestisida untuk golongan insektisida yang cara kerjanya secara
kontak yakni Altag, Applaud, Profile 430, untuk yang secara sistemik adalah
untuk Centa-fur 3GR memiliki cara kerja sistemik sedangkan Tamaron memiliki
cara kerja sistemik dan kontak. Golongan Herbisida yang cara kerjnya secara
kontak antara lain yaitu Lindomin, Ti-Gold 10 WP, dan Money 865 SL, sedangkan
Bravoxone dan Ole-ole 865 SL memiliki cara kerja secara kontak. Golongan
Fungisida yang memiliki cara kerja secarra sistemik meliputi Dithane M 45 WP,
Acrobat 50 WP, Fujiwan, dan Topsin sedangkan Deisene cara kerjanya sistemik
dan kontak, namun pada golongan ini tidak ditemukan merk dagang yang
memiliki cara kerja kontak. Khusus golongan bakterisida kesemua merk dagang
cara kerjanya adalah secara sistemik. Formulasi yang ada pada merk dagang
pestisida tersebut meliputi emulsi pekat (EC), serbuk basah (WP), serbuk larut air
(WSP, SP) dan Granuler (GR). Merk dagang pestisda yang termasuk kedalam
formulasi emulsi pekat (EC) yakni Lindomin, Bravoxone, Ole-Ole 865, Money
865 SL, Tamaron, Altag, Profile 430 EC, dan Fujiwan. Untuk merk dagang yang
termasuk kedalam formulasi serbuk basah (WP) diantaranya Ti-Gold 10 WP,
Applaud 45 WP, Acrobat 45 WP, Deisene, Agrepi, dan Kasimin, sedangkan untuk
formulasi granula (GR) yaitu Centa-fur 3GR, sedangkan yang termasuk kedalam
formulasi serbuk larut air (WSP, SP) yaitu Plantumyan.
Menurut cara kerjanya, Pestisda dibagi menjadi dua yaitu pestisida kontak
dan pestisida sistemik. Pestisida sistematik merupakan psetisda yang bahanbahannya dapat membunuh hama sasaran setelah hama tersebut mengisap air sap
dan memakan jaringan tanaman. Kelebihan dari pestisida ini tidak hilang karena
disiram, namun kelemahannya, ada bagian tanaman yang dimakan hama agar
pestisida ini bekerja. Pestisida ini untuk mencegah tanaman dari serangan hama.
pestisida kontak langsung (Contact pesticide) merupkan pestisida yang reaksinya
akan bekerja bila bersentuhan langsung dengan hama, baik ketika makan ataupun
sedang berjalan.

Penggunaan pestisda biasanya dalam campuran dengan bahan yang lain.


Formulasi pestisida yang dipasarkan terdiri dari bahan pokok yang disebut bahan
aktif yang merupakan bahan utama pembunuh organisme penggangu tanaman dan
bahan ramuan, bahan pembantu yaitu bahan yang ditambahkan ke dalam pestisida
dalam proses formulasinya agar mudah diaplikasikan untuk memperbaiki efikasi
pestisda tersebut, dan bahan pembawa yaitu digunakan untuk menurunkan
kensentrasi produk. Berdasarkan bentuk formulasi Berdasarkan bentuk formulasi,
pestisida dikelompokkan menjadi :
1. Butiran (G/granul), formulasi yang menyerupai debu tetapi lebih besar,
biasanya pestisida dengan formulasi bentuk ini dapat langsung diaplikasikan tanpa
harus diiarutkan terlebih dahuludan juga bahan aktifnya rendah berkisar 2%.
2. Powder (tepung), merupakan sediaan berbentuk tepung siap pakai tidak
perlu dicampur dengan air dengan bahan aktif yang rendah digunakan dengan cara
dihembuskan.
3. EC (Emulsifiable concentrates)/Emulsi pekat. Pestisida dengan
formulasi berbentuk EC ini akan membentuk emulsi (seperti susu) pada larutan
semprot. Larutan jadi ini tidak memerlukan pengadukan yang terus menerus. Pada
umumnya insektisida memiliki formulasi bentuk EC. Kelebihan formulasi ini
yakni mengurangi residu yang tampak pada sasaran, sedangkan kelemahannya
jika konsetrasinya tinggi mudah overdoses.
4. Serbuk Basah (Wettable Powder), formulasi pestisda yang kering
dengan kandungan bahan aktif yang cukup tinggi. WP merupakan sediaan
berbentuk tepung dengan kadar bahan aktif relative tinggi 50-80 %. Kelebihan
formulasi ini relative mudah, resiko fitotksik lebih rendah dan kurang diserap oleh
kulit. Kelemahannya adalah menimbulkan debu
5. Serbuk larut air(Water Soluble Powder/WSP, Soluble Powder/SP),
Bentuk formulasi kering berbentuk tepung, jika dicampur dengan air akan
membentuk larutan.
6. Seed Dressing (SD), merupakan formulasi khusus berbentuk tepung
atau cairan yang digunakan dalam perawatan benih.
7. Umpan Bait (B) atau Readi Mix Bit (RMB)

Bahan yang telah dicampur dengan racun yang digunakan sebagai umpan,
mudah untuk mengendalikaan burung atau tikus. Jumlah aktifnya sangat rendah.
RMB umpan yang siap pakai, sedangkan B masih harus dicampur sendiri waktu
aplikasinya.
Cara kerja suatu pestisida berpengaruh terhadap bagaimana pestisida
tersebut menyerang. Cara kerja suatu pestisda terdapat dua yaitu secara sistemik,
dan kontak. Pestisida baik yang herbisida, fungisida, insektisda, dan bakterisida
memiliki cara kerja yang berbeda-beda untuk setiap merk dagangnya seperti
contoh dibawah ini :
A. Golongan Herbisida
a. Lindomin

Herbisida yang diproduksi oleh PT Nufarm Indonesia dan memiliki bahan


aktif 2,4-D dimentil amina ini memiliki cara kerja sistemik yang artinya herbisida
ini akan menyerang bagian dalam atau jaringan dari tanaman pengganggu/OPT
tersebut
b. Bravoxone

Pestisida yang diproduksi oleh PT Kresna Bumu Tama Sejati dengan


bahan aktif Parakuat diklorida ini memiliki cara kerja secara yang artinya
pestisida langsung bereaksi ketika bersentuhan langsung dengan gulma yang ada.
c. Ole-ole 865 SL

Pestisida yang diproduksi oleh Abadi Jaya dengan bahan aktifnya yaitu
aktif 2,4-D dimentil amina ini memiliki cara kerja sama dengan Bravoxone yaitu
sistemik yang artinya herbisida ini akan menyerang ketika bersentuhan langsung
dengan gulma yang ada
B. Golongan insektisida

a. Centa-Fur 3 GR

Cara kerja dari centa-fur yang mana diproduksi oleh PT Centa Brasindo
Abadi dengan bahan aktif Karbofuran 3 % ini secara sistemik yang artinya
membunuh OPT dalam sehingga menyebabkan kematian secara perlahan.
b. Tamaron

Pestisda yang diproduksi oleh Bayer dengan bahan aktif metamidafor 205
g/l ini memiliki cara kerja secara kontak dan sistemik yang artinya pestisda ini
beraksi setelah serangga bersentuhan langsung dengan tanaman yang sudah diberi
pestisida dan kemudian membunuh OPT tersebut dari dalam secara perlahanlahan.
c. Profile 430 EC
Pestisda yang diproduksi oleh Bayer dengan bahan aktif Profenofos 430
g/l ini memiliki cara kerja secara kontak yang artinya insektisida ini akan bereaksi
jika bersentuhan langsung dengan serangga

C. Golongan Fungisida

a. Acrobat 50 WP

Fungisida yang diproduksi olej PT Basf Indonesia dengan bahan aktifnya


dimtomoft 50%, ini memiliki cara kerja yang sama dengan sistemik yang artinya
herbisida ini akan menyerang bagian dalam atau jaringan dari tanaman penggangu
tersebut.
b. Topsin

Fungisida yang diproduksi oleh PT Petrokimia Kayaku dengan bahan


aktifnya metil tiofanat 70%, ini memiliki cara kerja yang sama dengan sistemik
yang artinya herbisida ini akan menyerang bagian dalam atau jaringan dari jamur
tersebut.
c. Fujiwan

Fungisida yang diproduksi olej PT Indagro Inc. dengan bahan aktifnya


Iudenemalonat 400 g/l, ini memiliki cara kerja yang sama dengan sistemik yang
artinya herbisida ini akan menyerang bagian dalam atau jaringan dari tanaman
penggangu tersebut.
D. Golongan bakterisida
a. Plantumyan 75 SP
Bakterisida yang diproduksi oleh Safe Chemichal Indonesia ini memiliki
cara kerja secara sistemik yang artinya bakterisida ini akan menyerang bakteri dari
dalam tubuhnya sehingga ajan menyebabkan kematian secara perlahan.

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.1

Kesimpulan
- Terdapat 4 jenis pestisida yang diketahui dari merk dagang pestisisda
tersebut yaitu herbisida, insektisida, fungisida, dan bakterisida.
- Hanya ada dua cara kerja pestisida dari merk dagang pestisisda yaitu
secara kontak yakni pestisida yang reaksinya akan bekerja bila
bersentuhan langsung dengan hama dan sistemik yakni yang bahanbahannya dapat membunuh hama sasaran setelah hama tersebut mengisap
air sap dan memakan jaringan tanaman.
- Formulasi yang ada pada merk dagang meliputi emulsi pekat (EC),
serbuk basah (WP), serbuk larut air (WSP, SP) dan Granuler (GR).

5.2

Saran
Sebaiknya jika sudah waktunya dimulai praktikum harap segera dimulai

agar tidak memakan banyak waktu dan dalam pelaksanaan praktikum agar diberi
tambahan waktu agar praktikan bisa menyelesaikan pengambilan data dari apa
yang dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Djojosumarto, Panut. 2008. Pestisida & Aplikasi. Jakarta : PT Agromedia Pustaka


Hasanuddin, F. Hamzah, dan Dahlan. Aplikasi Pestisida Nabati Pada Pertanaman
Jagung. Agrisistem, 4 (1) : 11-18
Manuaba, P. I. B. 2009. Cemaran Pestisida Karbamat dalam Air Danau Buyan
Buleleng Bali. Kimia, 3 (1) : 47-54
Saepuddin, D. I. Astuti. Pengembangan Model Penerimaan Biopestisida.
Sosioteknologi, 27 : 178-193
Raini, Mariana. 2007. Toksikologi Pestisida Dan Penanganan Akibat Keracunan
Pestisida. Media Litbang Kesehatan, 17 (3) : 10-18
Sudarmo, Subiyakto. 2007. Pestisida. Yogyakarta : Kanisius
Tarigan, Ir. S. dan Wiryanta, Wahyu. 2007. Bertanam Cabai Hibrida. Jakarta : PT
Agromedia Pustaka.
Tuhumury, G.N.C., J. A. Leatemia, R.Y. Rumthe dan J.V. Hasinu. 2012. Residu
Pestisida Produk Sayuran Segar Di Kota Ambon. Agrologia, (1), 2 : 99-105