Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Iodometri merupakan titrasi tidak langsung dan digunakan untuk menetapkan
senyawa-senyawa yang mempunyai potensial oksidasi lebih besar dari sistem iodium-iodida
atau senyawa-senyawa yang bersifat oksidator seperti CuSO 4.5H2O. Pada iodometri, sampel
bersifat oksidator direduksi dengan kalium iodida berlebih dan akan menghasilkan iodium
yang selanjutnya dititrasi dengan larutan baku tiosulfat. Banyaknya volume tiosulfat yang
digunakan sebagai titran setara dengan iod yang dihasilkan dan setara dengan banyaknya
sampel. Melalui titrasi tak langsung ini, semua oksidator yang akan ditetapkan kadarnya
direaksikan terlebih dahulu dengan ion iodide berlebih (I -) sehingga I2 dapat dibebaskan.
Selanjutnya I2 yang dibebaskan ini dititrasi dengan larutan baku sekunder Na 2S2O3 dengan
indikator amilum.
1.2 Maksud dan Tujuan
Mengetahui dan memahami cara penetapan kadar suatu senyawa secara volumetri.
1.3 Prinsip Percobaan
Metode Iodometri Penentuan kadar Vitamin C secara volumetri dengan metode
iodimetri berdasarkan reaksi oksidasi reduksi antara sampel sebagai reduktor dengan larutan
baku I2 0,1N sebagai oksidator dalam suasana asam dengan menggunakan indikator larutan
kanji dengan titik akhir ditandai dengan perubahan warna larutan dari bening menjadi biru.
Metode Iodimetri Penentuan kadar CuSO4 secara volumetri dengan metode iodometri
berdasarkanreaksi oksidasi reduksi dimana sampel yang bersifat oksidator yang direduksi
dahulu dengan KI, lalu I2 yang dibebaskan ditentukan jumlahnya dengan cara titrasi
menggunakan larutan baku Na2S2O3 0,1 N dalam suasana asam, dengan menggunakan
indikator larutan kanji dimana titik akhir titrasi titrasi ditandai dengan perubahan warna
larutan dari biru menjadi bening.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Iodometri


Iodometri adalah analisa titrimetrik yang secara tidak langsung untuk zat yang
bersifat oksidator seperti besi III, tembaga II, dimana zat ini akan mengoksidasi iodida yang
ditambahkan membentuk iodin. Iodine yang terbentuk akan ditentukan dengan menggunakan
larutan baku tiosulfat.
Iodometri merupakan analisa titrimetrik secara tidak langsung untuk zat yang bersifat
oksidator seperti besi III / Fe(III), tembaga II / Cu (II).
Titrasi iodometri dapat digunakan untukmenetapkan senyawa-senyawa yang
mempunyai potensial oksidasi yang lebihbesar daripada sistem iodium-iodida atau
senyawa-senyawa yang bersifat oksidator seperti CuSO4.%H2O. Pada metode iodometri
ini,sampel yang bersifat Oksidator akan direduksi oleh KI (kalium iodida)secara berlebih dan
akan menghasilkan I2 (Iodium) yang selanjutnya akan di ttrasi oleh Na 2S2O3 ( natrium
thiosulfat).Banyakknya volume Na2S2O3 ( natrium thiosulfat) yang digunakan sebagai titran
itu setara dengan I2 (iodium) yang dihasilkan dan setara dengan kadar sampel. Larutan
standard yang digunakan dalam metode iodometri adalah Na2S2O3( natrium thiosulfat).
Garam ini biasanya berbentuk dalam bentuk pentahidrat atau Na2S2O3.5H2OLarutan tidak
boleh distandaarisasi dengan cara penimbangan secara langsung,tetapi harus distandarisasi
dengan standard primer.Karena Na2S2O3.5H2O tidak stabil dalam jangka penyimpanan yang
lama.
Oksidator + KI
I2 + Na2S2O3

I2 + 2e
NaI + Na2S4O6

Pada titrasi iodometri, analit yang dipakai adalah oksidator yang dapat bereaksi
dengan I- (iodide) untuk menghasilkan I2. I2 yang terbentuk secara kuantitatif dapat dititrasi
dengan larutan tiosulfat. Dari pengertian diatas maka titrasi iodometri adalah dapat
dikategorikan sebagai titrasi kembali. Iodida adalah reduktor lemah dan dengan mudah akan
teroksidasi jika direaksikandengan oksidator kuat. Iodida tidak dipakai sebagai titrant karena
faktor kecepatanreaksi dan kurangnya jenis indikator yang dapat dipakai untuk iodida. Oleh
sebab itutitrasi kembali merupakan proses titrasi yang sangat baik untuk titrasi
yangmelibatkan iodida. Senyawaan iodida umumnya KI ditambahkan secara berlebih pada
larutan

oksidator

sehingga

terbentuk

I2.

I2

yang

terbentuk

adalah

ekuivalen

dengan jumlah oksidator yang akan ditentukan. Jumlah I2 ditentukan dengan menitrasi I2
dengan larutan standar tiosulfat (umumnya yang dipakai adalah Na 2S2O3) dengan indikator
amilum. Perubahan warnanya dari biru tua kompleks amilum-I 2 sampai warna ini tepat
hilang. Reaksi yang terjadi pada titrasi iodometri untuk penentuan iodat adalah
sebagai berikut: IO3- + 5 I- + 6H+ -> 3I2 + H2OI2 + 2 S2O32- -> 2I- + S4O62- Penambahan
amilum sebaiknya dilakukan saat menjelang akhir titrasi, dimana hal ini ditandai dengan
warna larutan menjadi kuning muda (dari orange sampai coklat akibat terdapatnya I2 dalam
jumlah banyak), alasannya kompleks amilum-I2 terdisosiasi sangat lambat akibatnya maka
banyak I2 yang akan terabsorbsi oleh amilum jika amilum ditambahkan pada awal titrasi,
alasan kedua adalah biasanya iodometri dilakukan pada media asam kuat sehingga akan
menghindari terjadinya hidrolisis amilum. Titrasi harus dilakukan dengan cepat untuk
meminimalisasi terjadinya oksidasi iodide oleh udara bebas. Pengocokan pada saat
melakukan titrasi iodometri sangat diwajibkan untuk menghindari penumpukan tiosulfat
padaareatertentu, penumpukkan konsentrasi tiosulfat dapat menyebabkan terjadinya dekomp
osisitiosulfat untuk menghasilkan belerang. Terbentuknya reaksi ini dapat diamati dengan
adanya belerang dan larutan menjadi bersifat koloid (tampak keruh oleh kehadiran S).

2S2O3+ 2H+

H2SO3 + S

Pada pemeriksaan metode iodometri perlu dijaga kestabilan pH (pondus


hydrogen).Larutan harus dijaga pada pH kurang dari 8.Karena jika pH lebih dari 8 atau
dalam suasana alkalis I2akan bereaksi dengan Hidroksida(OH-) membentuk Iodida dan
hyphoiodit yang selanjutnya terurai menjadi Iodida dan Iodidat yang dapat mengoksidasi
thiosulfat menjadi sulfat.Sehingga reaksi berjalan tidak kuantitatif.
Indikator pada metode ini menggunakan amylum 1%.Amylum ini memiliki sifat
sukar larut dalam air serta tidak stabil dalam suspensi air membentuk senyawa kompleks
yang sukar larut dalam air jika bereaksi dengan iodium.Sehingga penanbahan amylum
sebagai Indikator tidak boleh ditambahkan pada awal reaksi.penambahan amylum sebagai
indicator sebaiknya diberikan menjelang titik akhir titrasi (pada saat larutan berwarna kuning
pucat).

Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna biru menjadi larutan bening(dari
warna biru sampai warna biru hilang.Jadi penambahan amilum yang dilakukan saat
mendekati titik akhir titrasi dimaksudkan agar amilum tidak membungkus iod karena
akan menyebabkan amilum sukar dititrasi untuk kembali ke senyawa semula. Proses
titrasi harus dilakukan sesegera mungkin, hal ini disebabkan sifat I 2 yang mudah menuap.
Pada titik akhir titrasi iod yang terikat juga hilang bereaksi dengan titran sehingga warna biru
mendadak hilang dan perubahannya sangat jelas.

Penggunaan indikator ini untuk

memperjelas perubahan warna larutan yang terjadi pada saat titik akhir titrasi. Sensitivitas
warnanya tergantung pada pelarut yang digunakan. Kompleks iodium-amilum memiliki
kelarutan yang kecil dalam air, sehingga umumnya ditambahkan pada titik akhir titrasi. Jika
larutan iodium dalam KI pada suasana netral dititrasi dengan natrium thiosulfat, maka :

I3- + 2S2O32-

3I- + S4O62-

S2O32- + I3-

S2O3I- + 2I-

2S2O3I- + I-

S4O62- + I3-

S2O3I- + S2O32-

S4O62- + I-

Natrium tiosulfat (Na2S2O3.5H2O)dapat dengan mudah diperoleh dalam keadaan


kemurnian yang tinggi, namun selalu ada saja sedikit ketidakpastian dari kandungan air yang
tepat, karenaNa2S2O3.5H2O meiliki sifat flouresen atau melapuk-lekang dari garam itu dan
tidak stabil dalam penyimpanan jangka lama.Oleh karena itu, zat ini tidak memenuhi syarat
untuk dijadikan sebagai larutan baku standar primer. Natrium tiosulfat(Na2S2O3.5H2O)
merupakan suatu zat pereduksi, dengan persamaan reaksi sebagai berikut :
2S2O32-

S4O62- + 2e-

Pembakuan larutan natrium tiosulfat ( Na2S2O3.5H2O) dapat dapat dilakukan dengan


menggunakan kalium iodat, kalium kromat, tembaga dan iod sebagai larutan standar
5

primer, atau dengan kalium permanganat atau serium (IV) sulfat sebagai larutan standar
sekundernya.

Namun pada percobaan ini senyawa yang digunakan dalam proses

pembakuan natrium tiosulfat( Na2S2O3.5H2O) adalah kalium iodat (KIO3) standar.


Larutan natrium thiosulfat ( Na2S2O3.5H2O) sebelum digunakan sebagai larutan
standar dalam proses iodometri ini harus distandarkan terlebih dahulu oleh kalium
iodat(KIO3) yang merupakan standar primer.

Larutan kalium iodat(KIO3)

iniharus

ditambahkan dengan asam sulfat pekat, warna larutan menjadi bening. Dan setelah
ditambahkan dengan kalium iodide(I2), larutan berubah menjadi coklat kehitaman. Fungsi
penambahan asam sulfat pekat (H2SO4 PA) dalam larutan tersebut adalah memberikan
suasana asam, sebab larutan yang terdiri dari kalium iodat (KIO3) dan klium iodide (KI)
berada dalam kondisi netral atau memiliki keasaman rendah.
Reaksinya adalah sebagai berikut :
IO3- + 5I- + 6H+

3I2 + 3H2O

Penentuan Kadar Cu2+ dengan Larutan Baku Na2S2O3


Pada penentuan kadar Cu dengan larutan baku Na 2S2O3 akan terjadi beberapa
perubahan warna larutan sebelum titik akhir titrasi. Tembaga murni dapat digunakan sebagai
standar primer untuk natrium thiosulfat dan direkomendasikan jika thiosulfat harus
digunakan untuk menetapkan tembaga. Potensial standar pasangan Cu(II) Cu(I) adalah
+0,15 V dan karena itu iod merupakan pengoksidasi yang lebih baik dari pada ion Cu(II).
Tetapi bila ion iodida ditambahkan ke dalam larutan Cu(II) akan terbentuk endapan Cu(I).
2Cu2+ + 4I-

2CuI(s) + I2

Penentuan kadar Cu2+ dalam larutan dengan bantuan larutan natrium tiosulfat yang
dilakukan mengencerkan 5 mL sampel garam hingga 100 mL dan mengambil 10 mL hasil
pengenceran tersebut untuk ditambahkan dengan larutan KI 10% dan menitrasi dengan
6

larutan baku natrium tiosulfat hingga larutan yang semula berwarna coklat tua menjadi
larutan yang berwarna kuning muda. Kemudian larutan tersebut ditambahkan dengan 2 mL
larutan amilum 1 % menghasilkan larutan yang semula berwarna kuning muda menjadi biru
tua, Penambahan indikator amilum 1% ini dimaksudkan agar memperjelas perubahan warna
yang terjadi pada larutan tersebut. kemudian larutan tersebut dititrasi kembali dengan larutan
natrium tiosulfat hingga warna biru pada larutan tepat hilang. Untuk lebih memperjelas
terjadinya reaksi tersebut, ke dalam larutan ditambahkan amilum.Bertemunya I 2 dengan
amilum ini akan menyebabakan larutan berwarna biru kehitaman.Selanjutnya titrasi
dilanjutkan kembali hingga warna biru hilang dan menjadi putih keruh.

I2 + amilum

I2-amilum + 2S2O32-

I2-amilum

2I- + amilum + S4O6-

Hal yang perlu diperhatikan setelah penambahan amilum adalah adanya sifat adsorpsi
pada permukaan endapan tembaga(I) iodida. Sifat ini menyebabkan terjadinya penyerapan
iodium dan apabila iodium ini dihilangkan dengan cara titrasi, maka titik akhir titrasi akan
tercapai terlalu cepat. Oleh karena itu, sebelum titik akhir titrasi tercapai, yaitu pada saat
warna larutan yang dititrasi dengan Na2S2O3akan berubah dari biru menjadi bening,
dilakukan penambahan kalium tiosianat KCNS.

2.2 Titrasi Iodometri


Dalam iodometri digunakan larutan tiosulfat untuk mentitrasi iodium yang
dibebaskan. Larutan natrium tiosulfat merupakan standar sekunder dan dapat distandarisasi
dengan kalium dikromat atau kalium iodidat. Dalam suatu titrasi, bila larutan titran dibuat
dari zat yang kemurniannya tidak pasti, perlu dilakukan pembakuan. Untuk pembakuan
tersebut digunakan zat baku yang disebut larutan baku primer, yaitu larutan yang
konsentrasinya dapat diketahui dengan cara penimbangan zat secara seksama yang digunakan
untuk standarisasi suatu larutan karena zatnya relatif stabil. Selain itu, pembakuan juga bisa
dilakukan dengan menggunakan larutan baku sekunder, yaitu larutan yang konsentrasinya
7

dapat diketahui dengan cara dibakukan oleh larutan baku primer, karena sifatnya yang labil,
mudah terurai, dan higroskopis (Khopkar, 1990).
Syarat-syarat larutan baku primer yaitu :

Mudah diperoleh dalam bentuk murni


Mudahdikeringkan
Stabil
Memiliki massa molar yang besar
Reaksi dengan zat yang dibakukan harus stoikiometri sehingga dicapai
dasar perhitungan

Larutan standar yang digunakan dalam kebanyakan proses iodometri adalah natrium
tiosulfat. Garam ini biasanya berbentuk sabagai pentahidrat Na 2S2O3.5H2O. larutan tidak
boleh distandarisasi dengan penimbangan secara langsung, tetapi harus distandarisasi dengan
standar primer, larutan natrium tiosulfat tidak stabil untuk waktu yang lama. Tembaga murni
dapat digunakan sebagi standar primer untuk natrium tiosulfat ( Day & Underwood, 2002 )
Sumber sumber kesalahan pada Titrasi Iodometri:

Penguapan I2
Oksidasi udara
Absopsi I2 oleh endapan

Ada dua proses metode titrasi iodometri, yaitu :


1) Proses Iodometrik langsung
Pada Iodometri langsung sering menggunakan zat pereduksi yang cukup kuat
seperti tiosulfat, Arsen (III), Stibium (III), Antimon (II), Sulfida, sulfite, Timah (II),
Ferasianida.

Kekuatan

reduksi

yang

dimiliki

oleh

beberapa

dari substansi ini tergantung pada konsentrasi ion hidrogen, dan reaksi dengan iodine.
Dalam proses iodometri langsung ini reaksi antara iodium dan thiosulfat dapat
berlangsung sempurna. Kelebihan ion Iodida yang ditambahkan pada pereaksi
oksidasi yang ditentukan, dengan pembebasan iodium, kelebihan ini dapat dititrasi
dengan Natrium Tiosulfat. Menurut cara ini suatu zat reduksi dititrasi secara langsung
oleh iodium, misal pada titrasi Na2S2O3 oleh I2.

2Na2S2O3 + I2 2NaI + Na2S4O6

Indikator yang digunakan pada reaksi ini, yaitu larutan kanji. Apabila larutan
thiosulfat ditambahkan pada larutan iodin, hasil akhirnya berupa perubahan
penampakan dari tak berwarna menjadi berwarna biru. Tetapi apabila larutan iodine
ditambahkan kedalam larutan thiosulfat maka hasil akhirnya berupa perubahan
penampakan menjadi berwarna biru.
2) Proses Tak Langsung atau Iodometrik
Dalam ion iodida sebagai pereduksi diubah menjadi iodium-iodium yang
terbentuk

dititrasi,

dengan

larutan

standar

Na2S2O3.

Jadi cara iodometri digunakan untuk menentukan zat pengoksidasi, misal pada
penentuan suatu zat oksidator ini (H2O2). Pada oksidator ini ditambahkan larutan KI
dan asam hingga akan terbentuk iodium yang kemudian dititrasi dengan larutan.
Na2S2O3. H2O2 + 2HCl I2 + 2KCl + 2H2O.

Banyak agen pengoksidasi yang kuat dapat dianalisa dengan menambahkan kalium
iodida berlebih dan menitrasi iodin yang dibebaskan. Karena banyak agen
pengoksidasi membutuhkan suatu larutan asam untuk bereaksi dengan iodin, natrium
tiosulfat biasanya dipergunakan sebagai titrannya, dalam keadaan pH 3-4. Titrasi
dengan arsenik (III) (di atas) membutuhkan sebuah larutan yang sedikit alkalin.

BAB III
PENUTUP
9

3.1 Kesimpulan
Iodometri adalah analisa titrimetrik yang secara tidak langsung untuk zat yang
bersifat oksidator seperti besi III, tembaga II. Zatzat ini akan mengoksidasi iodida yang
ditambahkan membentuk iodium.
Iodium yang terbentuk ditentukan dengan menggunakan larutan baku natrium
tiosulfat. Cara iodometri dapat digunakan untuk menentukan kadar iodium dalam garam.
Pada oksidator/ garam ini ditambahkan larutan KI dan H 2SO4 sebagai asam sehingga akan
terbentuk iodium yang kemudian dititrasi dengan Na2S2O3 dan dapat ditentukan kadarnya.
Namun, sebelumnya, larutan Na2S2O3 ini harus dibakukan atau distandarisasi terlebih dahulu.
Pembakuan larutan natrium tiosulfat dapat dapat dilakukan dengan menggunakan
kalium iodat, kalium kromat, tembaga dan iod sebagai larutan standar primer, atau dengan
kalium permanganate. Namun pada percobaan ini senyawa yang digunakan dalam proses
pembakuan natrium tiosulfat adalah kalium iodat standar. Larutan thiosulfat sebelum
digunakan sebagai larutan standar dalam proses iodometri ini harus distandarkan terlebih
dahulu oleh kalium iodat yang merupakan standar primer. Larutan kalium iodat ini
ditambahkan dengan asam sulfat pekat, warna larutan menjadi bening. Dan setelah
ditambahkan dengan kalium iodida, larutan berubah menjadi kuning kecoklatan. Fungsi
penambahan asam sulfat pekat dalam larutan tersebut adalah memberikan suasana asam,
sebab larutan yang terdiri dari kalium iodat dan klium iodida berada dalam kondisi netral
atau memiliki keasaman rendah. Reaksinya adalah sebagai berikut :
IO3- + 5I- + 6H+ 3I2 + 3H2O
Untuk senyawa yang memiliki potensial reduksi yang rendah dapat direaksikan secara
sempurna dalam suasana asam. Indikator yang digunakan dalam metode ini adalah indikator
kanji (amilum) yang dapat membentuk senyawa absorpsi dengan iodium yang dititrasi
dengan larutan Natrium Tiosulfat. Penambahan amilum yang dilakukan saat mendekati titik
akhir titrasi dimaksudkan agar amilum tidak membungkus iod karena akan menyebabkan
amilum sukar dititrasi untuk kembali ke senyawa semula. Proses titrasi harus dilakukan
10

sesegera mungkin, hal ini disebabkan sifat I2 yang mudah menguap. Pada titik akhir titrasi
iod yang terikat juga hilang bereaksi dengan titran sehingga warna biru mendadak hilang
dan perubahannya sangat jelas. Titik akhir titrasi iodometri ialah apabila warna biru telah
hilang.

DAFTAR PUSTAKA

11

Day R.A, Jr dan A. L Underwood, Jr. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. EdisiKeenam.
Penerjemah Iis Sopyan, Jakarta: Erlangga.Khophar, S. M. 2002. Konsep Dasar Kimia
Analitik. Jakarta : UIRivai, Harizul.1995.
Asas Pemeriksaan kimia. Jakarta : UI-PressSholahuddin, Arif, Bambang Suharto dan
Abdul Hamid. 2007. PanduanPraktikum Kimia Analisis. Banjarmasin: FKIP UNLAM.

12